Berdasarkan penelitian ini, perlakuan pemberian FSH-LH selama 4 dan 5 hari menghasilkan respon yang cenderung lebih tinggi dari perlakuan selama 3 hari (60 % vs 60 % vs 40 %) (Tabel 7). Hal ini antara lain dapat disebabkan oleh waktu aplikasi yang lama memungkinkan bertemunya awal gelombang folikel baik pada sapi dengan 2 atau 3 tipe gelombang folikel dengan pengaruh gonadotropin.
Tabel 7 Respon superovulasi dengan pemberian FSH-LH selama 3, 4 dan 5 hari.
Donor Corpus luteum Embrio dan oosit
Perlakuan
∑ Respon (%) ∑ Rataan ∑ Rataan
3 hari
Catatan : Angka dengan superskript yang sama dalam kolom yang sama menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan (P>0.05)
Pada aplikasi gonadotropin yang lebih singkat yaitu 3 hari menghasilkan respon yang rendah, dapat disebabkan karena pemberian gonadotropin yang memiliki waktu paruh 150 menit (FSH) dan 40 menit (LH) tidak tepat pada saat awal kemunculan gelombang folikel atau dosis telah menurun meskipun tepat di awal kemunculan gelombang folikel (Anonim 2002; Twaqiramungu et al. 2002).
FSH-LH 10 4 (40) a 27 2.70±4.35 a 25 2.50±4.22 a 4 hari FSH-LH 10 6 (60) a 59 5.90±6.45 a 52 5.20±6.29 a 5 hari FSH-LH 10 6 (60) a 42 4.20±3.94 a 28 2.80±3.08 a
Penyebab lain adalah terdapat sebuah folikel dominan yang menghasilkan inhibin dengan efek menekan perkembangan folikel subordinat sehingga perlakuan tersebut kurang memberikan efek terhadap perkembangan folikel pada ovarium (Adam et al. 1994; Sato et al. 2005).
Jumlah embrio yang ditemukan lebih sedikit dari jumlah CL yang ada, dapat disebabkan oleh kehilangan embrio karena: a). jatuhnya embrio ke dalam rongga perut bila cairan pembilas yang dimasukkan terlalu banyak, b). tertinggalnya embrio di dalam uterus karena pembilasan yang kurang sempurna c). pada uterus yang besar dan menggantung dapat menyebabkan penutupan oleh balon kateter kurang sempurna sehingga cairan pembilas dapat merembes ke sisi lain (Yusuf 1990). Pada perlakuan selama 5 hari, terdapat beberapa donor yang menghasilkan lendir bersama cairan pembilas, hal ini juga menyulitkan penemuan kembali embrio. Produksi lendir dipengaruhi oleh hormon estrogen yang dihasilkan oleh sebagian folikel yang belum terovulasi (Saito 1997).
Beragam variasi dari respon ovarium terhadap perlakuan superovulasi pada sapi berkaitan erat dengan beragamnya status perkembangan folikel pada saat perlakuan (Bo et al. 1995; Rajamahendran 2002; Sato et al. 2005). Respon ovarium lebih rendah apabila superovulasi dilakukan pada saat kehadiran sebuah folikel dominan karena inhibin yang dihasilkan folikel dominan menekan pertumbuhan folikel-folikel subordinat. Sebaliknya respon lebih tinggi jika dilakukan saat keberadaan sejumlah besar folikel kecil/sub ordinat (pool follicles) (Romero et al.1991) yang terjadi pada awal munculnya gelombang folikel.
Pemberian FSH-LH selama 4 hari menunjukkan hasil yang cenderung lebih baik dari dua perlakuan lain, dengan rata-rata 5.90 CL per donor dan 5.20 embrio per donor, meskipun secara statistik tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Hasil yang diperoleh pada perlakuan selama 4 hari dapat disebabkan karena pembagian dosis dalam proporsi yang optimal sesuai dengan waktu paruh FSH dan LH (Anonimous 2002). Faktor lain adalah perlakuan selama 4 hari merupakan waktu optimal yang memungkinkan bertemu awal gelombang folikel dengan pengaruh gonadotropin untuk perkembangan folikel subordinat sampai folikel de Graaf pada semua tipe gelombang folikel (Romero et al. 1991). Pada perlakuan selama 5 hari, terjadi efek stimulasi yang lama terhadap ovarium, sehingga pada
penelitian ini ditemukan beberapa donor memiliki folikel de Graaf yang belum terovulasi, disamping keberadaan CL pada saat panen embrio (hari ke-7) (Gambar 2). Saito (1997) menyatakan bahwa estrogen merupakan hormon steroid yang terdapat dalam cairan folikel, yang keberadaannya pada saat pertumbuhan embrio akan berefek menurunkan kualitas embrio. Lebih lanjut dinyatakan bahwa kegagalan ovulasi menimbulkan tingginya kadar estrogen dalam darah. Faktor lain yang juga dapat memberi pengaruh adalah proporsi FSH dan LH. Pemberian LH harus sesuai dengan fungsi ovarium dan dalam perbandingan yang optimal dengan FSH, kelebihan LH akan mengurangi respon ovarium. Pemberian LH eksogen dapat menghambat fertilisasi karena stimulasi prematur terhadap pematangan ovum sehingga sel telur yang dihasilkan infertil (Donaldson & Ward 1996), hal ini juga dapat terjadi pada perlakuan selama 5 hari.
Model superovulasi yang dilakukan pada penelitian I ini merupakan superovulasi konvensional, dimana pendekatan superovulasi masih bersifat umum yang hanya berpatokan pada keberadaan CL dalam fase luteal dan perkiraan muncul gelombang folikel sesuai tipe gelombang folikel, tanpa mempertimbangkan keberadaan folikel dominan yang menghasilkan inhibin yang mempunyai efek supresif terhadap folikel lain. Disamping itu pada superovulasi konvensional ini, munculnya gelombang folikel pada setiap individu donor yang dilakukan superovulasi tidak selalu diketahui secara tepat. Apalagi pada kegiatan superovulasi massal yang dimulai serentak pada beberapa donor, dimana donor tersebut memiliki variasi gelombang folikel sesuai dengan tipe gelombang folikel masing-masing, sehingga aplikasi gonadotropin menghasilkan respon ovarium yang bervariasi. Pada donor yang kemunculan gelombang folikelnya tepat saat aplikasi gonatropin akan memberikan respon yang baik, tetapi sebaliknya pada donor yang kemunculan gelombang folikel tidak tepat dengan aplikasi gonadotropin akan memberikan respon rendah atau malah tidak memberikan respon (Rajamahendran 2002).
Superovulasi dalam penelitian I dimulai pada hari ke- 9, berdasarkan pernyataan Dielleman dan Bevers (1993) bahwa superovulasi adalah pemberian gonadotropin yang dimulai pada hari ke-9 untuk sapi dengan panjang siklus birahi 21-23 hari dan pada hari ke-10 untuk sapi dengan panjang siklus birahi 18-20 hari.
Demikian juga Sato et al. (2005) menyatakan bahwa superovulasi dapat dilakukan antara hari ke-8 sampai hari ke-12 siklus birahi. Kelemahan dari superovulasi konvensional adalah pemberian gonadotropin kurang efektif bila masih terdapat folikel dominan dan waktu aplikasi yang tidak bertepatan dengan munculnya gelombang folikel atau aplikasi terlambat karena telah memasuki tahap seleksi folikel dominan berikutnya, sehingga hasil superovulasi tidak optimal (Rocha 2005).
Menurut Saito (1997) ada dua parameter utama yang dapat digunakan untuk menganalisa dan menginterprestasikan hasil superovulasi yaitu tingkat respon ovarium dan tingkat perolehan embrio. Respon ovarium dapat dilihat dari jumlah donor yang ovariumnya terpengaruh oleh perlakuan dengan mengevaluasi perkembangan ovarium berdasarkan jumlah korpus luteum yang terbentuk. Yusuf (1990) menyatakan bahwa banyaknya CL yang berkembang di dalam ovarium sesudah pemberian hormon gonadotropin memberi gambaran tentang keberhasilan superovulasi. Lebih lanjut dinyatakan bahwa semakin banyak CL yang terbentuk, maka semakin tinggi keberhasilan superovulasi.
Pemberian gonadotropin FSH-LH dengan dosis yang sama tetapi dengan lama waktu aplikasi yang berbeda dapat menghasilkan respon donor yang berbeda juga. Perbedaan respon berkaitan erat dengan status ovarium saat dimulainya superovulasi, khususnya kehadiran folikel dominan yang menghasilkan inhibin dan ketepatan saat munculnya awal gelombang folikel (Rocha, 2005). Pada penelitian I, superovulasi dilakukan dengan mengabaikan kehadiran folikel dominan, seperti pada umumnya superovulasi konvensional. Dampak kehadiran sebuah folikel dominan yang menghasilkan inhibin adalah terjadi penekanan terhadap perkembangan folikel-folikel subordinat, sehingga hasil yang diperoleh tidak maksimal .
Penentuan lama waktu aplikasi gonadotropin, disamping pertimbangan farmakodinamik dan farmakokinetik hormon tersebut, juga faktor kemudahan dan efisiensi dalam aplikasinya, baik waktu, tenaga, dan dana. Kajian aplikasi gonadotropin selama 3, 4 dan 5 hari dilakukan untuk mendapatkan waktu yang optimal untuk kegiatan superovulasi tanpa menurunkan tingkat respon dan perolehan embrio.
Berdasarkan hasil penelitian I, superovulasi konvensional dengan pemberian gonadotropin (FSH-LH) selama 4 hari cenderung memberikan hasil yang lebih baik dari perlakuan selama 3 dan 5 hari.
Penelitian II. Introduksi sinkronisasi gelombang folikel (SGF) dan