• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dalam menjalankan kegiatan usahanya yang berkaitan dengan Jasa Pelayanan Kesehatan Masyarakat, Perseroan tidak terlepas dari berbagai risiko usaha. Pelaksanaan kegiatan usaha tersebut dapat menimbulkan dampak negatif bagi kelangsungan usaha Perseroan. Tiga kelompok besar risiko yang dapat mempengaruhi Perseroan adalah (A) Risiko yang berhubungan dengan kegiatan usaha Perseroan, (B) Risiko yang berkaitan dengan Indonesia dan (C) Risiko yang berkaitan dengan kepemilikan saham Perseroan

A. Risiko yang Berhubungan dengan Kegiatan Usaha Perseroan

1. Strategi Perseroan didasarkan pada pencapaian peluang pertumbuhan. Penerapan strategi pertumbuhan ini dapat menimbulkan risiko-risiko tertentu bagi Perseroan.

Untuk meraih peluang pertumbuhan, strategi Perseroan adalah melakukan perluasan operasi di seluruh Indonesia. Risiko yang dapat dihadapi oleh Perseroan dalam melaksanakan strategi tesebut meliputi hal-hal berikut:

a. kesulitan dalam merekrut, melatih dan mempertahankan tenaga medis yang berkualitas;

b. kesulitan dalam memperoleh berbagai ijin atau persetujuan dari Pemerintah atau pemerintah daerah untuk melaksanakan usaha dan membuka rumah sakit baru;

c. strategi pertumbuhan Perseroan sebagian bergantung pada kemampuan Perseroan untuk mengidentifikasi potensi pertumbuhan dan peluang akuisisi. Tidak ada jaminan bahwa Perseroan dapat mengidentifikasi peluang-peluang yang memenuhi kriteria investasi Perseroan. Lebih lanjut, tidak ada jaminan bahwa Perseroan akan dapat mencapai kesepakatan tentang syarat-syarat yang wajar secara komersial sehubungan dengan, dan berhasil meraih, peluang-peluang tersebut;

d. kesulitan untuk mengintegrasikan secara efektif sistem dan teknologi informasi yang baru dengan sistem dan teknologi informasi yang telah digunakan di rumah sakit-rumah sakit Perseroan;

e. pertumbuhan Perseroan juga sebagian bergantung pada kemampuan memperluas layanan dan prosedur medis yang dapat dilakukan oleh para dokter dan tenaga profesional medis lain di rumah sakit Perseroan. Tidak ada jaminan bahwa Perseroan akan mampu merekrut, melatih dan mempertahankan para personil medis yang memenuhi kualifikasi, atau mengadakan peralatan medis yang tepat untuk layanan-layanan tersebut;

f. kemungkinan tidak dapat secara efektif mengelola hubungan dengan lebih banyak pasien, pemasok, kontraktor, pemberi pinjaman serta pihak-pihak lain;

g. kemungkinan tidak berhasil dalam mencari peluang baru di wilayah Indonesia yang belum dilayani oleh Perseroan. Tidak ada jaminan bahwa Perseroan akan berhasil untuk berekspansi ke lokasi-lokasi geografis di mana Perseroan tidak memiliki pengalaman sebelumnya;

h. tidak ada jaminan bahwa tuntutan mendirikan dan mengembangkan usaha tersebut tidak akan berpengaruh negatif terhadap operasi Perseroan saat ini. Anggota manajemen senior Perseroan akan harus terlibat dalam pelaksanaan proyek-proyek tersebut, sehingga dapat mengurangi waktu mereka untuk mengawasi usaha Perseroan saat ini. Lebih lanjut, juga tidak ada jaminan bahwa Perseroan dapat mengalokasikan sumber daya manajemen senior secara memadai dan efisien untuk memenuhi semua tantangan usaha Perseroan yang baru dan yang sudah ada;

i. kemungkinan tidak memiliki cukup dana atau kemampuan untuk memperoleh pendanaan tambahan untuk mengejar peluang pertumbuhan dan akuisisi; dan

j. kemungkinan mengalami kesulitan untuk mengendalikan biaya ekspansi usaha Perseroan dan menjamin bahwa fungsi manajerial, manajemen risiko, alokasi sumber daya, pengendalian internal dan fungsi kepatuhan dan sistem informasi manajemen Perseroan mampu mengatasi kebutuhan-kebutuhan tambahan yang diakibatkan dari perluasan usaha Perseroan dan akuisisi yang dilakukan oleh Perseroan. Jika Perseroan tidak mampu mengelola risiko-risiko di atas, maka pada akhirnya mereka dapat berdampak negatif pada kegiatan usaha, hasil usaha dan prospek usaha Perseroan.

2. Perseroan dipengaruhi oleh seluruh risiko yang lazim dalam industri kesehatan.

Umumnya rumah sakit tunduk pada peraturan pemerintah mengenai pelayanan medis dan bedah. Peraturan-peraturan ini dapat berdampak signifikan dan mungkin berpengaruh secara material dari segi harga dan ketersediaan layanan tersebut bagi rumah sakit.

Selanjutnya rumah sakit menghadapi risiko persaingan untuk jasa atau produk baru. Risiko kemajuan teknologi adalah risiko yang menyebabkan peningkatan biaya teknologi, pengaruhnya secara material pada hasil keuangan usaha dan menyebabkan layanan medis dan bedah saat ini menjadi usang. Rumah sakit juga dapat mengalami kerugian ketika mengadopsi layanan medis atau bedah baru dan akibatnya pola pendapatan menjadi tidak menentu.

Dalam layanan darurat, Perseroan harus mengirimkan ambulans untuk merespons telepon darurat, baik pasien mampu membayar atau tidak untuk layanan tersebut. Perseroan hanya dapat mentransfer pasien, yang dalam keadaan darurat dan tidak mampu membayar layanan tersebut ke sebuah rumah sakit pemerintah, setelah menstabilkan keadaan pasien tersebut. Perseroan seperti rumah sakit swasta lainnya yang menyediakan layanan darurat, menghadapi risiko pasien tidak mampu membayar layanan yang diterima tersebut. Walaupun penghapusan Perseroan atas piutang usaha yang diasosiasikan dengan ketidakmampuan pasien untuk membayar tidak pernah berjumlah material sebelumnya, tidak ada jaminan bahwa penghapusan tersebut tidak akan menjadi lebih signifikan di masa depan.

Selain itu, rumah sakit dapat dipengaruhi oleh peristiwa dan keadaan termasuk, antara lain, permintaan untuk layanan, kepercayaan dokter terhadap fasilitas, kemampuan manajemen, persaingan dengan rumah sakit lain, upaya oleh para perusahaan asuransi untuk membatasi biaya, keadaan ekonomi, fluktuasi nilai tukar dan biaya-biaya meningkat, serta kemungkinan tidak tersedianya asuransi malapraktik. Selain itu, bencana alam seperti gempa bumi dan banjir dapat memiliki dampak yang signifikan terhadap aksesibilitas dan kelangsungan usaha.

Peristiwa-peristiwa di atas pada akhirnya dapat berdampak negatif terhadap kegiatan usaha, kondisi keuangan, hasil usaha dan prospek usaha Perseroan.

3. Perseroan bergantung pada pemegang saham pengendali Perseroan dan mitra strategis Perseroan sehubungan dengan penyediaan lokasi dan pembangunan gedung rumah sakit.

Perseroan secara historis telah dan akan terus bergantung pada pemegang saham pengendali (secara tidak langsung), yaitu PT Lippo Karawaci Tbk. (“LK”), serta mitra strategis Perseroan, yaitu First REIT dan PT Metropolis Properti Utama (“MPU”), sehubungan dengan penyediaan tanah untuk lokasi dan pembangunan gedung rumah sakit Perseroan.

Perseroan mengandalkan pada para pihak tersebut untuk memperoleh tanah dan membangun bangunan di mana Perseroan akan mengoperasikan rumah sakitnya. Perseroan kemudian membuat perjanjian sewa sehubungan dengan tanah dan bangunan tersebut.

Per 31 Desember 2013, sembilan dari bangunan-bangunan rumah sakit yang dioperasikan oleh Perseroan disewa dari LK dan First REIT. Ke depan, meskipun Perseroan bermaksud untuk memiliki tanah dan membangun sendiri gedung rumah sakit di atasnya, Perseroan akan terus bergantung pada para pihak tersebut, sesuai dengan kesepakatan-kesepakatan antara Perseroan dengan LK dan antara Perseroan dengan MPU.

Walaupun Perseroan telah membuat kesepakatan dengan masing-masing LK dan MPU sehubungan dengan, antara lain, penyediaan lahan, tidak

Penerapan Tata Kelola Perusahaan

yang Baik

terdapat kepastian bahwa para pihak tersebut akan memberikan kesempatan pembebasan lahan yang memenuhi spesifikasi yang ditentukan oleh Perseroan di masa mendatang. Ketidakmampuan LK atau MPU untuk menjamin lokasi tanah yang cocok untuk rumah sakit Perseroan di masa mendatang atau untuk memperoleh dukungan yang diperlukan untuk mengembangkan lokasi tersebut, dapat memberikan dampak yang merugikan terhadap strategi pertumbuhan Perseroan. Pada akhirnya, hal itu akan berpengaruh negatif pada hasil operasi Perseroan.

Selain itu, setiap perubahan usaha atau kondisi keuangan mitra strategis dapat berdampak negatif pada usaha Perseroan.

4. Perseroan mungkin tidak berhasil mengembangkan rumah sakitnya, atau mengakuisisi rumah sakit dan mengintegrasikannya dengan rumah sakit yang ada saat ini di masa depan.

Pengembangan rumah sakit baru Perseroan bergantung pada, antara lain, risiko yang berhubungan dengan pengidentifikasian lokasi yang tepat, pengembangan, pembangunan dan pendanaan. Sedangkan akuisisi rumah sakit bergantung pada risiko pendanaan dan kemampuan Perseroan untuk mengidentifikasikan fasilitas yang tepat dan menegosiasikan persyaratan akuisisi yang menguntungkan.

Perseroan memerlukan lahan yang cukup banyak untuk membangun rumah sakit baru. Tidak ada jaminan bahwa Perseroan akan dapat mengidentifikasikan lokasi untuk rumah sakit baru sesuai dengan kriteria investasi Perseroan. Lokasi yang menarik jumlahnya terbatas dan memerlukan valuasi yang tinggi. Perseroan juga dapat menghadapi masalah sehubungan dengan perolehan hak atas tanah. Perseroan belum tentu mampu mendapatkan lahan tersebut dengan persyaratan atau ketentuan yang wajar.

Pembangunan rumah sakit baru memiliki jangka waktu yang lama dengan berbagai risiko yang meliputi: keterbatasan bahan atau tenaga kerja ahli, masalah teknik, lingkungan atau geologi yang tidak terduga, gangguan cuaca dan peningkatan biaya yang tidak terduga atau litigasi. Semua hal

peningkatan biaya pembangunan. Kesulitan dalam mendapatkan segala ijin, atau kewenangan yang dipersyaratkan dari otoritas terkait, juga dapat meningkatkan biaya atau menunda pembangunan atau pembukaan rumah sakit baru.

Perseroan mungkin menghadapi kesulitan dalam akuisisi, berdasarkan ketentuan yang menguntungkan dan mungkin menghadapi kesulitan Iebih lanjut, dalam mengintegrasikan rumah sakit yang baru diakuisisi ke dalam operasi Perseroan yang sudah ada.

Akuisisi dan pengintegrasian dimaksud juga tunduk pada beberapa risiko tambahan seperti:

• Kesulitan mengintegrasikan aset dan operasi rumah sakit yang diakuisisi ke dalam rumah sakit yang sudah ada;

• Tantangan dalam merenovasi dan membangun kembali rumah sakit dan fasilitas yang sudah ada, atau mereposisi rumah sakit yang telah diakuisisi oleh Perseroan atau rumah sakit yang meminta Perseroan untuk mengelolanya untuk mencapai standar operasional yang dipersyaratkan;

• Kehilangan pasien atau dokter penting dan staf medis lainnya setelah akuisisi;

• Pengalihan perhatian manajemen dari kegiatan operasional dan rumah sakit yang sudah ada; • Interupsi atau hilangnya momentum dalam

kegiatan usaha rumah sakit tersebut;

• Kegagalan dalam merealisasikan sinergi dan penghematan biaya yang diharapkan;

• Kesulitan yang muncul dari koordinasi dan konsolidasi fungsi korporasi dan administrasi termasuk integrasi pengendalian internal dan prosedur seperti pelaporan keuangan yang tepat waktu;

• Permasalahan hukum, peraturan, kontrak, ketenagakerjaan atau permasalahan lainnya yang tidak terduga; dan

• Sehubungan dengan rumah sakit yang baru diakuisisi yang berlokasi di pasar yang masih baru, mengalami kesulitan yang muncul karena masalah bahasa, budaya dan geografi.

Perseroan berencana untuk mendanai pengembangan rumah sakit baru dan akuisisi rumah sakit yang sudah ada dengan dana kas internal dan dana dari hasil Penawaran umum,

Kemampuan Perseroan untuk mendapatkan pendanaan eksternal dan biaya untuk perolehan dana tersebut bergantung pada beberapa faktor, termasuk kondisi perekonomian dan pasar modal umumnya, tingkat suku bunga, ketersediaan fasilitas kredit dari bank atau kreditur lainnya, kepercayaan investor pada Perseroan, ketentuan di bidang perpajakan dan pasar modal, batasan yang diberikan oleh Bank Indonesia atau institusi perbankan lainnya dalam memberikan pendanaan kepada perusahaan yang bergerak di industri kesehatan serta kondisi politik.

Tidak terdapat kepastian atas tersedianya dana tambahan tersebut, baik berupa jangka pendek maupun jangka panjang, atau apabila tersedia akan memiliki persyaratan yang menguntungkan Perseroan. Dengan demikian, tidak terdapat kepastian proyek atau akuisisi yang telah dipersiapkan akan berhasil atau terintegrasikan dengan baik.

5. Kemajuan teknologi yang pesat dan tantangan lain yang terkait dengan peralatan medis Perseroan dapat mempengaruhi bisnis Perseroan secara negatif .

Perseroan menggunakan peralatan medis yang canggih dan mahal untuk menyediakan layanannya. Dengan inovasi baru, peralatan medis sering kali cepat usang atau tidak dapat menyediakan layanan yang diperlukan atau diminta oleh pasien. Ini mungkin memerlukan biaya yang signifikan. Dokter dan profesional medis lainnya juga perlu dilatih untuk menggunakan peralatan baru. Dengan tingginya biaya perawatan, jika peralatan tersebut rusak, kemampuan Perseroan untuk menyediakan layanan yang relevan bagi pasiennya mungkin terganggu.

Jika Perseroan tidak dapat mengikuti kemajuan teknologi, dokter dan pasiennya mungkin beralih ke rumah sakit lain yang dapat. Akibatnya keunggulan kompetitif Perseroan akan berkurang dan mengakibatkan kerugian terhadap bisnis, keadaan keuangan, hasil usaha dan prospek Perseroan. 6. Kegagalan teknologi dan tantangan lain yang

terkait dengan sistem informasi Perseroan.

Kinerja sistem dan teknologi informasi Perseroan sangat penting bagi operasi bisnis Perseroan.

Sistem informasi Perseroan sangat penting untuk sejumlah bidang kritis operasi Perseroan, meliputi: • akuntansi dan pelaporan keuangan;

• rekening penagihan; • sistem klinis;

• diagnosa dan perawatan pasien, misalnya melalui sistem komunikasi “Tele-medicine ” Perseroan;

• catatan medis dan penyimpanan dokumen; • manajemen persediaan; dan

• negosiasi, penetapan harga dan pengadministrasian kontrak perawatan yang dikelola dan kontrak pasokan.

Kegagalan sistem yang menyebabkan gangguan dalam layanan atau ketersediaan sistem Perseroan, dapat secara merugikan mempengaruhi operasi atau menghalangi pengumpulan pendapatan. Meskipun Perseroan telah menerapkan langkah keamanan jaringan, server Perseroan rentan terhadap virus komputer, pembobolan dan gangguan serupa dari kutak-katik atau gangguan yang tidak sah. Terjadinya salah satu peristiwa ini dapat mengakibatkan interupsi, penundaan, kehilangan atau kerusakan data, penghentian dalam ketersediaan sistem atau kewajiban berdasarkan undang-undang yang berlaku, yang semuanya dapat memiliki efek merugikan material terhadap posisi keuangan dan hasil usaha dan merugikan reputasi bisnis Perseroan.

7. Informasi keuangan historis Perseroan mungkin tidak mewakili hasil usaha seandainya Perseroan adalah sebuah perusahaan independen.

Laporan keuangan historis Perseroan mungkin tidak mencerminkan hasil usaha, kondisi keuangan dan arus kas yang seharusnya telah dicapai oleh Perseroan seandainya Perseroan beroperasi secara independen selama periode tersebut dan pada tanggal-tanggal yang disajikan. Secara khusus, LK secara historis telah memberikan kepada Perseroan pinjaman pemegang saham tanpa bunga sehubungan pembiayaan usaha Perseroan. Per tanggal 31 Desember 2013, Perseroan menyewa sembilan (9) bangunan rumah sakit dari LK. Laporan keuangan historis Perseroan tidak mencerminkan seluruh biaya sehubungan dengan sewa ini, karena bangunan-bangunan tersebut sebelumnya diberikan kepada Perseroan tanpa biaya sewa.

Penerapan Tata Kelola Perusahaan

yang Baik

Untuk ke depannya, Perseroan akan membayar biaya sewa bangunan rumah sakit dimaksud kepada LK terkait dan hal ini akan menyebabkan peningkatan secara material beban biaya sewa. Dengan demikian, laporan keuangan historis Perseroan tidak mencerminkan biaya pendanaan lebih lanjut dan biaya sewa yang meningkat ke depannya.

8. Hasil keuangan Perseroan dapat mengalami kerugian jika Perseroan tidak mampu menarik dan mempertahankan para dokter dan tenaga profesional kesehatan lain.

Kegiatan operasional di rumah sakit Perseroan bergantung pada upaya, kemampuan dan pengalaman para dokter dan staf medis. Perseroan bersaing dengan penyedia layanan kesehatan lain di Indonesia dalam merekrut dan mempertahankan dokter dan tenaga profesional kesehatan lain yang berkualitas. Sementara hukum Indonesia saat ini tidak mengizinkan Perseroan untuk mempekerjakan dokter atau staf medis asing yang tidak memiliki Surat Izin Praktik dari Menteri Kesehatan Republik Indonesia.

Di beberapa rumah sakit Perseroan, perekrutan dan retensi dokter dipengaruhi oleh kebutuhan akan dokter yang memiliki spesialisasi tertentu juga kebutuhan akan perawat saat itu. Perseroan memperkirakan bahwa kekurangan tenaga perawat masih akan terus berlanjut. Perseroan mungkin harus untuk meningkatkan upah dan tunjangan, untuk merekrut dan mempertahankan para perawat, atau menggunakan tenaga medis temporer yang menurut Perseroan lebih mahal. Beberapa tenaga medis keluar karena ketidakmampuan Perseroan untuk menarik atau mempertahankan dokter dan tenaga medis berkualitas lainnya. Ini dapat berdampak negatif terhadap kegiatan usaha, kondisi keuangan, hasil usaha dan prospek Perseroan.

Selain itu, beberapa dokter termasuk mereka yang berpraktik di rumah sakit Perseroan, menghadapi peningkatan premi asuransi malapraktik dan pembatasan cakupan asuransi. Ketidakmampuan para dokter Perseroan untuk memperoleh perlindungan asuransi yang sesuai dapat

berkurangnya prosedur medis yang dapat dilaksanakan dan menurunnya jumlah pasien yang masuk ke rumah sakit Perseroan, sehingga akhirnya berdampak negatif pada kegiatan usaha, kondisi keuangan, hasil usaha dan prospek usaha.

9. Perubahan atau ketidakpatuhan terhadap peraturan pemerintah sehubungan dengan kesehatan, lingkungan dan aspek lainnya dapat mempengaruhi bisnis Perseroan.

Pelayanan kesehatan merupakan bidang yang tunduk pada peraturan pemerintah yang luas dan perubahan peraturan yang dinamis. Rumah sakit Perseroan, dokter dan profesional medis lainnya tunduk kepada hukum dan peraturan termasuk, namun tidak terbatas pada, perizinan, inspeksi fasilitas, kebijakan-kebijakan penggantian dan kontrol atas pengeluaran tertentu. Juga adanya pemeriksaan berkala oleh pemerintah dan otoritas lainnya yang berwenang untuk memastikan kepatuhan berkelanjutan dengan peraturan dan hukum tersebut. Perseroan diwajibkan untuk memiliki berbagai izin atau persetujuan dari Pemerintah atau pemerintah daerah untuk menjalankan usaha Perseroan termasuk, antara lain, ijin perusahaan umum dan izin operasional rumah sakit.

Perseroan harus memperbarui semua ijin dan persetujuan ketika masa berlakunya berakhir, serta mendapatkan izin dan persetujuan baru bila diperlukan.

Tidak ada jaminan bahwa Perseroan akan mampu menjamin ijin yang diperlukan, yang belum diperoleh dan saat ini sedang dalam proses, atau ijin-ijin yang mungkin diperlukan di masa mendatang, atau bahwa Perseroan tidak akan menerima sanksi yang timbul dari kegagalan memperoleh ijin yang diperlukan. Dikenakannya sanksi berdasarkan hukum dan peraturan yang berlaku secara material dapat mempengaruhi kondisi keuangan dan hasil usaha Perseroan.

Khususnya, Perseroan tunduk pada sejumlah peraturan pemerintah yang mempengaruhi jenis layanan yang disediakan untuk pasiennya. Perubahan apapun di dalam peraturan-peraturan ini dapat berdampak negatif pada usaha Perseroan.

komposisi tempat tidur yang harus disediakan di dalam rumah sakit. Jika Perseroan dipersyaratkan untuk mengalokasikan jumlah yang lebih besar untuk tempat tidur “Kelas 3”, kelas tempat tidur terendah yang ditawarkan, kemampuan Perseroan untuk mengakomodasi pasien yang menempati kelas tempat tidur lainnya dan yang biasanya merupakan sumber penghasilan yang lebih besar, dapat terkena dampak negatif. Hal ini mungkin berdampak negatif terhadap kegiatan usaha, kondisi keuangan, hasil usaha dan prospek usaha Perseroan.

Selain itu, rumah sakit Perseroan mungkin memuat atau menggunakan bahan-bahan, proses atau instalasi tertentu yang diatur sesuai dengan hukum dan peraturan lingkungan, atau mungkin memerlukan izin lingkungan dari pihak berwenang termasuk, namun tidak terbatas pada, limbah medis atau limbah penyakit menular, insinerator dan sejumlah kecil bahan-bahan yang mengandung bahan asbes yang mudah pecah.

Undang-undang dan peraturan lingkungan juga membebankan tanggung jawab pada Perseroan untuk menghilangkan atau memulihkan bahan-bahan/zat yang berbahaya atau beracun. Sebagai akibatnya, Perseroan juga harus bertanggung jawab atas denda dan kerugian pemerintah, untuk cedera kepada orang-orang, sumber daya alam dan properti yang berdekatan.

Beban operasional Perseroan bisa lebih tinggi daripada yang diantisipasi dikarenakan biaya untuk pemenuhan kesesuaian dengan hukum dan peraturan lingkungan yang ada sekarang dan di masa depan, hukum dan peraturan kesehatan kerja dan keselamatan.

Perseroan telah membuat aplikasi permohonan untuk Izin Pembuangan Limbah Cair dan Izin Penyimpanan Sementara Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) untuk SiloamHospitals Jambi, Siloam Hospitals Balikpapan, Rumah Sakit Siloam Sriwijaya, Siloam Hospitals Makassar, Siloam Hospitals TB, Siloam Hospitals Bali dan beberapa rumah sakit Perseroan lain yang sudah ada, yaitu Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Siloam Hospitals Surabaya, Siloam Hospitals Lippo Cikarang dan Klinik Utama Jantung Cinere. Selain itu, Perseroan telah mengajukan permohonan untuk Izin Pengolahan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) untuk Siloam Hospitals Makassar, Siloam Hospitals

Bali, Siloam Hospitals Jambi, Siloam Hospitals Balikpapan dan Rumah Sakit Siloam Sriwijaya. Perseroan juga sedang di dalam proses pengajuan (i) laporan Implementasi Izin Lingkungan, dan/ atau (ii) laporan pembuangan limbah cair dan/ atau (iii)laporan yang dipersyaratkan dalam Izin Penyimpanan Sementara Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) untuk periode tahun 2012 dan periode pelaporan pertama tahun 2013 dari Siloam Hospitals Lippo Village, Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Siloam Hospitals Surabaya, Siloam Hospitals Manado, Siloam Hospitals Bali, Siloam Hospitals Makassar, Siloam Hospitals Balikpapan, Klinik Utama Jantung Cinere, Siloam Hospitals Jambi, Siloam Hospitals Lippo Cikarang, Rumah Sakit Siloam Sriwijaya dan MRCCC Siloam Hospitals Semanggi.

Bila penyampaian laporan-laporan ini terlambat, Perseroan dapat dikenakan sanksi administratif, berupa peringatan tertulis sampai penghentian sementara dan pencabutan izin usaha. Izin ini dibutuhkan Perseroan untuk mengoperasikan rumah-rumah sakitnya.

Beban operasional Perseroan bisa lebih tinggi daripada yang diantisipasi, karena biaya untuk memenuhi kesesuaian dengan hukum dan peraturan lingkungan serta kesehatan dan keselamatan kerja yang ada maupun di yang di masa depan. Peristiwa-peristiwa di atas dapat berdampak negatif terhadap kegiatan usaha, kondisi keuangan, hasil operasional dan prospek Perseroan.

Meskipun Perseroan akan mengambil semua langkah untuk mematuhi hukum dan peraturan sehubungan dengan bahan–bahan, proses atau instalasi tersebut, tidak ada jaminan bahwa kewajiban lingkungan tidak akan ada lagi di masa depan, atau bahwa setiap kewajiban lingkungan tersebut tidak akan menjadi penting untuk kegiatan usaha Perseroan.

10. Kepentingan pemegang saham pengendali Perseroan mungkin bertentangan dengan kepentingan pembeli saham publik.

Penerapan Tata Kelola Perusahaan

yang Baik

Pemegang saham pengendali Perseroan memiliki dan akan terus memiliki kekuasaan untuk mengendalikan Perseroan termasuk kekuasaan dalam hal:

• menyetujui setiap penggabungan usaha, konsolidasi atau pembubaran;

• menggunakan pengaruh signifikan terhadap kebijakan dan urusan Perseroan;

Dokumen terkait