Hal senada diungkapkan Pjs Wali Kota Semarang Taviv Supriyanto. Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang terus berupaya komunikasi dengan Apindo agar menjaga kondisi usaha di Kota Semarang tetap kondusif dengan tidak melakukan PHK.
Bila ada kendala, Pemkot Semarang meminta pengusaha menerapkan sistem kerja bergilir sambil menunggu normal kembali usaha. “Kami pun senantiasa memberi kemudahan investasi agar dapat menyerap pengangguran di Kota Semarang,” kata Taviv.
Bagi buruh yang menjadi korban PHK, Pemkot Semarang memberikan bantuan berupa sembako yang dikoordinasikan oleh Dinas Sosial melalui sistem data by name by address. Bantuan tersebut telah disalurkan sejak Maret hingga sekarang.
Menyikapi fenomena PHK massal di masa pandemi, Hotmauli Sidabalok, pengajar isu perburuhan dari Fakultas Hukum Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata menilai, perusahaan tidak bisa begitu saja melakukan PHK. Ada prosedur yang harus dipenuhi perusahaan. Misalnya mulai dari argumentasi kondisi kenapa perusahaan harus melakukan PHK.
“Prinsip perburuhan di Indonesia itu hubungan industrial Pancasila. Jadi harus duduk bersama antara serikat buruh, pengusaha dan pemerintah,” ujarnya menegaskan.
Lantas bagaimana jika ada perusahaan yang melakukan PHK secara sepihak? Peneliti Pusat Studi Wanita Unika Soegijapranata ini mengatakan, persoalan tersebut bisa diajukan ke pengadilan hubungan industrial (PHI). Namun sebelum ke pengadilan hubungan industrial, dia menyarankan para pihak yang berselisih bicara terlebih dahulu secara bipartit, antara perusahaan dan pekerja. Jika tidak ada titik temu, maka berlanjut ke mediasi tripartit dengan melibatkan Dinas Tenaga Kerja.
“Apabila tidak ketemu lagi titik temunya maka Dinas Tenaga Kerja langsung menunjuk mediator, untuk melihat apakah dimungkinkan lagi perusahaan dan pekerja bisa duduk bersama membahas persoalan ini. Mediator itu ada ketentuannya dalam penyelesaian perselisihan hubungan industrial,” katanya menjelaskan mekanisme penyelesaian sengketa industrial.
Jika dalam waktu 30 hari sejak memberikan usulan penunjukan
mediator ini masih tidak tercapai kesepakatan, maka perselisihan bisa diajukan arbitrase atau penyelesaian sengketa di luar peradilan hukum. Jika masih tidak bisa lagi, perselisihan tersebut baru bisa diajukan ke PHI. “Konsepnya, UU perlindungan buruh itu untuk melindungi buruh sebagai pihak yang lemah.”
Oleh karena itu, undang-undang juga mengakomodasi proteksi buruh. Proteksi tersebut berupa kepesertaan jaminan sosial dan pesangon ketika terkena PHK. Berdasarkan UUD 1945 pada Pasal 34 ditetapkan, kalau bukan pekerja maka negara bertanggung jawab penuh memberikan jaminan sosial.
Tapi kalau pekerja, sesuai ketentuan UU Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), ada pembagian persentase iuran yakni pekerja 1 persen dan pemberi kerja 3,7 persen dari gaji.
“Yang lainnya itu negara, maka disebut Jamsostek. Sebab ada uang negara yang dimasukkan sebagai implementasi kalau negara punya tugas dan kewajiban melindungi warganya,” katanya.
DIATUR UU
Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (Kasbi) Jateng bersama Lembaga Bantuan Hukum (LBH) telah menerima laporan sedikitnya delapan perusahaan yang melakukan PHK massal. “Ada PHK yang tanpa diberi pesangon, ada yang diberi pesangon separuh disertai penawaran, tapi ada juga yang diberi pesangon utuh sesuai ketentuan perundang-undangan,” ungkap Koordinator Kasbi Jateng, Mulyono.
Dia menilai ada perusahaan yang memanfaatkan situasi dan kondisi pandemi agar tidak bisa mempekerjakan kembali pekerja. Hal inilah, lanjutnya, yang berimbas terhadap adanya PHK massal dengan beragam model.
Mulyono mengatakan, perusahaan semestinya tidak semena-mena melakukan PHK kepada pekerja lantaran sudah diatur dalam undang-undang. Dia juga mencurigai pengawasan pemerintah.
Menurutnya, ketika di-PHK pada masa pandemi, pekerja cenderung tidak mendapatkan proteksi maksimal yang menjadi tanggung jawab negara. Temuan Kasbi di lapangan menunjukkan, tidak sedikit tenaga kontrak yang tidak diikutkan dalam jaminan sosial, sehingga mereka sangat rentan terdampak.
Oleh karena itu, Mulyono mendesak pemerintah untuk memasukkan skema proteksi baru dalam jaminan sosial yang diperuntukkan bagi pekerja yang mengalami PHK apabila ke depannya terjadi lagi pandemi. “Kami mendorong adanya tunjangan PHK dimasukkan dalam jaminan sosial. Seperti halnya Jaminan Kecelakaan Kerja, tunjangan ini hanya bisa dicairkan dengan kondisi tertentu.”
Menurutnya, tunjangan PHK ini sebagai upaya penanggulangan. Sehingga kebutuhan sosial dan ekonomi pekerja bisa terjamin bilamana mengalami pemecatan. Praktik di lapangan menunjukkan tidak sedikit perusahaan yang menolak memberikan pesangon. Kalaupun ada yang memberikan secara utuh, Kasbi menilai hal itu hanya segelintir.
Dengan adanya tunjangan PHK ini, Mulyono berharap tidak ada lagi pekerja yang mencairkan seluruh manfaat Jaminan Hari Tua (JHT) sebagai bantalan kesulitan keuangan.
“JHT harus diselenggarakan sesuai filosofinya sebagai tabungan masa tua ketika pekerja tidak lagi produktif. Kalau seperti sekarang ini, pekerja yang di-PHK berbondong-bondong mencairkan JHT guna memenuhi kebutuhan harian selama menganggur. Tapi ketika sudah tua nantinya mereka tidak memiliki simpanan,” tuturnya.
Kepala kantor BPJS Ketenagakerjaan Semarang Pemuda Teguh Wiyono sepakat JHT harus dikembalikan filosofinya sesuai amanat UU SJSN (UU No 40/2004), sebagai jaminan hari tua pekerja. Lebih lanjut, filosofi pemanfaatan JHT ini mengalami pergeseran sejak adanya revisi PP Nomor 4 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan JHT menjadi PP Nomor 60 Tahun 2015. Teknisnya diatur lebih
detail dalam Permenaker No 19/2015.
Kedua peraturan itu tidak sesuai dengan filosofi JHT untuk memberi jaminan kepada peserta yang mengalami risiko hari tua. Sebab melalui revisi itu, peserta JHT yang mengalami PHK bisa mencairkan dana JHT tanpa syarat minimal kepesertaan.
Lebih lanjut, filosofi JHT semestinya untuk persiapan hari tua saat para pekerja sudah tidak lagi bekerja. Sehingga ketika berhenti bekerja, mereka mempunyai cadangan uang untuk melanjutkan kehidupan. Entah itu untuk usaha di rumah atau sekedar tabungan pada masa tua.
“Masyarakat pemahamannya berbeda-beda, seolah-olah kalau tidak bekerja lagi, JHT harus diambil karena khawatir tidak bisa cair. Padahal dana JHT yang diendapkan tetap diberikan hasil pengembangannya oleh BP Jamsostek. Apalagi dana pengembangannya jauh lebih besar dibanding tabungan deposito, serta tidak ada biaya administrasi,” kata Teguh menegaskan.
Jekson Simanjuntak. Saat ini Jekson
bekerja sebagai pekerja lepas untuk
MediaJakarta.com. Sebelumnya, bekerja
sebagai news-producer di BeritaSatu.TV (8 tahun) dan TransTV (7 tahun) sebagai jurnalis video.
Selain menjadi jurnalis, ia juga menjabat sebagai Ketua Jurnalis Penyelam Peduli Lingkungan - Eco Diver Journalists (EDJ) sejak 2015. Lalu menjadi Sekjen SIEJ untuk periode 2016-2019 dan juga merupakan pengurus Divisi Kampanye Digital AJI Jakarta sejak 2019.