• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2. Sisi Produksi

2.1.7. Sistem Neraca Sosial Ekonomi

Dampak pertumbuhan ekonomi dan pengeluaran pemerintah terhadap ketimpangan gender di pasar tenaga kerja dapat dianalisis dengan menggunakan Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE). Alat analisis yang sama digunakan oleh Wanjala dan Were (2010) untuk mengkaji dampak investasi terhadap ketimpangan gender di pasar tenaga kerja Kenya.

Daryanto dan Hafizrianda (2010) menjelaskan SNSE sebagai berikut.

Tabel input-output adalah komponen dasar untuk membentuk SNSE. Apabila variabel endogen tabel input-output terdiri dari faktor produksi dan sektor

produksi, maka SNSE melengkapinya dengan menambahkan satu variabel endogen yaitu institusi. Adanya variabel institusi ini menyebabkan SNSE mampu menganalisis distribusi pendapatan ketika variabel eksogen berubah.

a. Kerangka Dasar Sistem Neraca Sosial Ekonomi

Kerangka dasar pembentukan SNSE adalah berbentuk matriks dengan ukuran 4x4, yang berbasis pada neraca-neraca pelaku ekonomi (actors) yang telah dikonsolidasikan. Bentuk dari matriks yang menggambarkan perilaku dari pelaku-pelaku ekonomi dalam bentuk berbagai transaksi tersebut dapat dilihat pada Tabel 8. adalah untuk menunjukkan bagaimana sistem data ini bekerja. Susunan angka-angka yang terlihat pada tabel merupakan suatu sistem neraca, di mana pada setiap angka yang ada pada sel-sel matriks mencerminkan hubungan antara transaksi pada satu neraca dengan transaksi pada neraca yang lainnya. Dalam

Masing-masing neraca tersebut menempati satu lajur baris dan satu lajur kolom. Isian pada setiap lajur baris menjelaskan tentang struktur penerimaan,

sedangkan isian pada setiap lajur kolom menjelaskan tentang struktur pengeluaran. Perpotongan antara suatu neraca dengan neraca yang lainnya memberikan arti tersendiri. Tabel 9 memberikan arti secara singkat mengenai masing-masing perpotongan tersebut.

Neraca SNSE dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu neraca endogen dan neraca eksogen. Neraca endogen terdiri dari neraca (sub-sistem) faktor produksi, neraca institusi kecuali pemerintah, neraca sektor produksi, dan neraca komoditas.

Sedangkan yang dikelompokkan dalam neraca eksogen adalah neraca atau variabel yang dapat dijadikan alat untuk mengatur kebijaksanaan (policy tools) oleh pemerintah atau variabel yang sulit dikontrol (di luar jangkauan model), yang meliputi neraca pemerintah, neraca kapital, pajak tak langsung neto, dan neraca luar negeri.

b. Keterkaitan Antarindustri

Ketika kita berbicara tentang "guncangan sisi permintaan eksogen" untuk ekonomi, kita mengacu kepada perubahan ekspor permintaan, pengeluaran pemerintah, atau investasi permintaan. Dampak guncangan ini memiliki baik

langsung dan efek tidak langsung. Efek langsung adalah yang berkaitan dengan sektor yang secara langsung dipengaruhi oleh shock. Sebagai contoh, peningkatan pengeluaran pemerintah di sektor pertanian memiliki dampak langsung pada sektor pertanian. Selain itu, peningkatan permintaan untuk ekspor pertanian juga memiliki efek tidak langsung yang berasal dari keterkaitan sektor pertanian dengan sektor lain dalam perekonomian, misalnya industri pupuk, bibit, dan industri pengguna output pertanian dalam negeri.

c. Analisis Multiplier

Berdasarkan tabel sebelumnya, distribusi pendapatan dan pengeluaran neraca endogen dapat dijabarkan sebagai berikut:

Pendapatan faktor produksi : Y1 = T13 + X1 ... (2.3) Pendapatan institusi : Y2 = T21 + T 22 + X2 ... (2.4) Pendapatan kegiatan produksi : Y3 = T32 + T33 + X3 ... (2.5) Pengeluaran faktor produksi : Y1 = T21 + L1 ... (2.6) Pengeluaran institusi : Y2 = T22 + T32 + L2 ... (2.7) Pengeluaran kegiatan produksi : Y3 = T13 + T33 + L3 ... (2.8) Persamaan-persamaan di atas dapat ditulis kembali secara singkat sebagai berikut:

Y = T + X ... (2.9) Dalam hal ini Y adalah pendapatan/pengeluaran, T adalah transaksi, dan X adalah neraca eksogen. Matriks T sebagai matriks transaksi antar blok di dalam neraca endogen ditulis sebagai berikut:

... (2.10) Matriks transaksi T menunjukkan adanya transaksi antarneraca seperti T13, T21, T32, dan transaksi dalam neraca sendiri yaitu: T22 dan T33. Transaksi antar neraca ini dapat juga dituangkan dalam bentuk gambar, sebagaimana yang terlihat pada Gambar 11.

Apabila kecenderungan pengeluaran Aij merupakan pembagian antara pengeluaran sektor j untuk sektor ke i dengan total pengeluaran ke j (Yj), maka:

... (2.11) Maka matriks Aij dapat ditulis kembali sebagai berikut:

... (2.12)

Apabila persamaan sebelumnya dibagi dengan Y diperoleh persamaan-persamaan sebagai berikut:

... (2.13)

... (2.14) ... (2.15) ... (2.16) ... (2.17)

(T32) (T13) T13

(T21)

Sumber: Daryanto dan Hafizrianda (2010)

Gambar 11. Keterkaitan Transaksi dalam SNSE

di mana: adalah merupakan matrix accounting multiplier.

Melalui multiplier tersebut dapat diperoleh berbagai macam jenis multiplier ekonomi yang sangat bermanfaat dalam menentukan seberapa besar hubungan antara aktivitas ekonomi dalam suatu perekonomian secara keseluruhan. Adapun multiplier yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Production multiplier atau gross output multiplier yaitu besaran multiplier yang menunjukkan berapa besar pengaruh dari suatu sektor produksi terhadap perubahan output perekonomian secara keseluruhan

Aktivitas produksi

(T33)

Distribusi pendapatan institusi

(T22)

Distribusi pendapatan factorial (T11)

2. Value added multiplier yaitu besaran multiplier yang menunjukkan berapa besar pengaruh dari suatu sektor dalam blok produksi terhadap perubahan value added.

3. Other sektor linkage multiplier yaitu besaran multiplier yang menunjukkan berapa besar pengaruh dari suatu sektor terhadap perubahan output di sektor-sektor lainnya dalam blok produksi.

4. Induced household income multiplier yaitu besaran multiplier yang menunjukkan berapa besar pengaruh dari suatu sektor dalam blok produksi terhadap perubahan pendapatan rumahtangga dalam blok institusi.

Penjumlahan kolom anak matriks SNSE memiliki nilai yang sama dengan keempat multiplier tersebut. Berdasarkan masing-masing nilai multiplier dapat diketahui bagaimana peran dari suatu sektor produksi misalnya terhadap penciptaan nilai ambah atau pendapatan rumahtangga.

d. Pengganda Tenaga Kerja

Perkiraan jumlah penyerapan tenaga kerja (L) dihitung dengan mengalikan matriks koefisien tenaga kerja (i) dengan matriks PDB per sektor (Y).

Setiap sektor memiliki jumlah penyerapan tenaga kerja yang berbeda-beda karena masing-masing sektor memiliki koefisien tenaga kerja dan pendapatan yang berbeda. Oleh karena itu, jika diuraikan untuk masing-masing sektor maka diperoleh:

... (2.18) ... (2.19) ... (2.20) Dalam bentuk matriks, persamaan-persamaan di atas dapat ditulis sebagai:

... (2.21) Dimana:

L = Matriks jumlah tenaga kerja Y = Output

... (2.22)

Karena , maka:

... (2.23) Dimana:

L = Kebutuhan tenaga kerja yang dipengaruhi permintaan akhir 2.2. Tinjauan Empiris

Khan (1999), melakukan penelitian tentang pertumbuhan sektoral dan pengurangan kemiskinan di Afrika Selatan dengan menggunakan teknik dekomposisi multiplier. Dalam penelitian ini, Khan mencoba untuk menjelaskan bagaimana hubungan antara pertumbuhan sektoral dan pengurangan kemiskinan di Afrika Selatan.

Penelitian ini mencoba untuk mengeksplorasi hubungan antara pertumbuhan sektoral dan pengurangan kemiskinan sama seperti yang dilakukan Thorbecke dan Hong-sang di Indonesia. Secara empiris, ekonomi Afrika selatan lebih maju daripada Indonesia tetapi kemiskinan yang berlangsung lama terjadi pada kelompok masyarakat berwarna kulit hitam yang merupakan penduduk asli.

Oleh karena itu penelitian ini difokuskan pada kebijakan untuk pengentasan kemiskinan, khususnya di antara penduduk asli Afrika .

SNSE Afrika Selatan yang digunakan memiliki tiga faktor endogen yaitu faktor produksi, rumahtangga dan kegiatan produksi. Sedangkan faktor eksogennya adalah pengeluaran pemerintah, kapital, dan rest of the world.

Nilai tambah yang dihasilkan dalam kegiatan produktif didistribusikan antara pemilik tanah, pemilik modal, kelompok pekerjaan yang dibagi berdasarkan ras. Pengelompokan berdasarkan ras ini bertujuan untuk menangkap kebijakan masa lalu di mana pekerjaan banyak ditentukan oleh faktor ras. Untuk tujuan mempelajari hubungan antara pertumbuhan dan kemiskinan rumahtangga dipisahkan menjadi tipe pedesaan dan perkotaan. Selanjutnya, dalam wilayah

perkotaan dan pedesaan, rumahtangga diklasifikasikan menjadi tinggi, menengah, dan rendah menurut status ekonomi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemiskinan pangsa pedesaan berpendapatan rendah dan sedang signifikan lebih tinggi dibandingkan empat rumahtangga lainnya. Pada saat yang sama, kelompok berpenghasilan rendah perkotaan merupakan kantong kemiskinan di kawasan perkotaan.

Sektor pertanian dan pertambangan memberikan dampak paling besar terhadap pengurangan kemiskinan total diikuti oleh transportasi dan jasa, dan manufaktur. Pengolahan makanan, tekstil, tenun, kulit dan kayu memiliki dampak pengentasan kemiskinan yang lebih besar dibandingkan kertas, listrik bahan kimia, atau konstruksi. Ini kemungkinan besar merupakan refleksi dari perbedaan di antara sektor-sektor dalam hal keterkaitan ke belakang dan penggunaan tenaga kerja tidak terampil di Afrika Selatan

Pengentasan kemiskinan untuk beberapa sektor industri seperti konstruksi, bahan kimia dan listrik sangat rendah hal ini disebabkan masyarakat miskin Afrika tidak dipekerjakan secara signifikan di sektor ini. Implikasi kebijakannya adalah orang Afrika miskin harus dibawa ke dalam proses industrialisasi secara langsung. Oleh karena itu perlu dilakukan perbaikan kualitas sumberdaya manusia sehingga rekomendasi kebijakan jangka panjang yang diambil adalah pendidikan dan pelatihan kepada penduduk Afrika miskin.

Hafizrianda (2007), melakukan penelitian dengan judul Dampak Pembangunan Sektor Pertanian Terhadap Distribusi Pendapatan dan Perekonomian Regional Provinsi Papua dengan alat analisis SNSE. Ada tiga yang menjadi tujuan berbasis pertanian terhadap distribusi pendapatan di Provinsi Papua, yaitu: 1) menganalisis peranan dari sektor-sektor ekonomi yang berbasis pertanian terhadap distribusi pendapatan di Provinsi Papua, 2) mengukur dan menganalisis besarnya ketimpangan pendapatan antara sektor-sektor ekonomi, rumahtangga dan tenaga kerja di provinsi Papua, 3) menganalisis dampak pembangunan sektor-sektor ekonomi berbasis pertanian terhadap penurunan ketimpangan pendapatan di Propinsi Papua. Alat analisis yang digunakan adalah analisis multiplier SNSE, dekomposisi multiplier SNSE, structural path analysis SNSE, Theil-index dan L-index.

Penelitian ini melakukan pemutahiran Tabel Input Output Papua menjadi tahun 2003, yang kemudian menjadi dasar untuk membangun SNSE Papua.

Neraca SNSE Papua dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu neraca endogen dan eksogen. Neraca endogen terdiri atas blok neraca faktor produksi, blok neraca institusi, dan blok neraca aktivitas produksi. Faktor produksi terdiri atas tenaga kerja dan modal, di mana tenaga kerja didisagregasi menjadi tenaga kerja papua dan nonpapua. Institusi dibagi menjadi dua kelompok yaitu: rumahtangga (rumahtangga desa berpendapatan rendah, rumahtangga desa pendapatan sedang, rumahtangga desa pendapatan tinggi, rumahtangga kota pendapatan rendah, rumahtangga kota pendapatan sedang, dan rumahtangga kota pendapatan tinggi) dan institusi lainnya (swasta dan pemerintah). Sedangkan aktivitas produksi meliputi 20 sektor dengan fokus utama pada sektor-sektor berbasisi pertanian.

Neraca eksogen dipisah menjadi neraca kapital (capital account), neraca pajak tak langsung (indirect tax account), dan neraca rest of the world. Sebagai catatan, masuknya pemerintah ke dalam neraca endogen menyebabkan simulasi pengeluaran pemerintah tidak dapat dilakukan, sehingga simulasi hanya bergantung pada peran swasta saja.

Data-data yang diperlukan untuk membangun SNSE Papua adalah hasil pemutahiran tabel input-output Papua tahun 2003, pengeluaran konsumsi penduduk Papua tahun 2002, statistik penduduk Papua tahun 2003, SNSE Indonesia tahun 2002, Survei khusus tabungan dan investasi rumahtangga (SKTIR) tahun 2003, susenas 2003 dan statistik keuangan Papua 2002/2003.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi yang berbasis pertanian mampu memperbaiki distribusi pendapatan di Provinsi Papua.

Hal ini dapat dilihat dari sebagian hasil simulasi yang menunjukkan bahwa sektor berbasis pertanian mampu mengurangi ketimpangan pendapatan dalam perekonomian Papua. Rekomendasi kebijakan yang diberikan adalah redistribusi pendapatan yang dilaksanakan baik secara vertikal maupun horisontal.

Berdasarkan Tabel Input-output 1993-1994, Fontana dan Wobst (2001) membangun sebuah SNSE Bangladesh dengan membagi tenaga kerja berdasarkan gender. SNSE yang dibangun terdiri atas 43 sektor dengan fokus analisis pada 10 sektor pertanian dan 19 sektor industri. Neraca institusi dibagi kedalam dua belas

kelompok sosial-ekonomi untuk mempertajam analisis kesejahteraan rumahtangga dan kemiskinan. Sedangkan faktor produksi terdiri atas sepuluh yaitu modal, tanah dan delapan jenis tenaga kerja yang dipilah berdasarkan tingkat pendidikan dan gender. Dengan dipilahnya tenaga kerja maka SNSE yang dibangun dapat menjadi dasar untuk analisis sensitif gender ketika terjadi perubahan kebijakan.

Tenaga kerja yang dipilah terdiri atas delapan kategori, yaitu: tenaga kerja perempuan tak terdidik, tenaga kerja perempuan berpendidikan rendah, tenaga kerja perempuan berpendidikan sedang, tenaga kerja perempuan berpendidikan tinggi, tenaga kerja laki-laki tak terdidik, tenaga kerja laki-laki berpendidikan rendah, tenaga kerja laki-laki berpendidikan sedang, tenaga kerja laki-laki berpendidikan tinggi. Dikatakan tidak terdidik jika tidak pernah mengikuti pendidikan formal, dikatakan berpendidikan rendah jika lama pendidikan antara 1-5 tahun, dikatakan berpendidikan sedang jika lama sekolah antara 5-10 tahun, dan dikatakan berpendidikan tinggi jika lama sekolah di atas 10 tahun.

Wanjala dan Were (2010) meneliti tentang ketimpangan gender dan pertumbuhan ekonomi di Kenya dengan menggunakan SNSE. Penelitian ini menganalisis dampak investasi dari berbagai sektor terhadap pendapatan tenaga kerja di Kenya. Alat analisis yang digunakan adalah matriks pengganda SNSE, di mana SNSE yang digunakan memilah tenaga kerja berdasarkan gender sehingga diperoleh hasil penelitian yang responsif gender.

Ketimpangan gender memang sudah ada di Kenya, hanya saja implementasi kebijakan yang buta gender dapat melanggengkan ketidaksetaraan gender di Kenya. Reformasi kebijakan Kenya bertujuan untuk meningkatkan peran swasta sehingga diharapkan mampu mengurangi ketimpangan di sektor swasta yang sebagaian besar adalah sektor informal. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana ketimpangan di pasar tenaga kerja Kenya dan struktur ekonomi menjadi penentu terbesar yang menciptakan ketimpangan pendapatan antara laki-laki dan perempuan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sektor pertanian Kenya memberikan dampak peningkatan tertinggi terhadap pendapatan tenaga kerja (terutama tenaga kerja laki-laki terampil, sementara sektor industri tertinggi dalam persentase peningkatan lapangan kerja. Walaupun perempuan banyak diuntungkan oleh

penciptaan tanaga kerja tersebut, tetapi lebih besar terjadi pada sektor informal.

ketimpangan gender di Kenya adalah gambaran dari adanya ketimpangan di pasar tenaga kerja dan struktur sosial ekonomi. Oleh karena itu, kebijakan yang ditujukan mengatasi kendala yang membatasi partisipasi efektif perempuan dalam Kenya pasar tenaga kerja, termasuk meningkatkan produktivitas dan meningkatkan keterampilan perempuan, adalah penting agar perempuan dan laki-laki memiliki kesempatan yang sama dalam menikmati peningkatan kesempatan kerja dan pertumbuhan ekonomi.