• Tidak ada hasil yang ditemukan

1.

Analisis Sampel

a.

Data Spektrum Instrumen Spektroskopi NIR

Instrumen FOSS NIRSystems 5000 yang digunakan dalam pembuatan model kalibrasi sampel recovery produk A (produk susu yang memiliki total padatan >15%) dengan metode spektroskopi NIR ini menghasilkan data pengukuran berupa data penyerapan (absorbance) radiasi NIR. Data absorbansi diperoleh dengan transformasi log (1/R) data pantulan yang selanjutnya diproses lebih lanjut oleh software bawaan instrumen NIRS menjadi data spektrum. Transformasi tersebut diperlukan karena komposisi kimia sampel linear dengan data absorbansi. Panjang gelombang yang umum digunakan untuk mengevaluasi mutu produk susu adalah 1000-2600 nm (Dryden 2003). Sampel recovery

produk A varian X dan Y dianalisis menggunakan model kalibrasi produk A yang sama. Data absorbansi atau penyerapan spektrum NIR 55 sampel recovery produk A dari kedua varian tersebut memiliki tingkat penyerapan yang berbeda-beda. Hal ini diperlihatkan pada Gambar 12.

Gambar 12. Model spektrum absorbansi (log (1/R)) pada 55 sampel recovery produk A Berdasarkan gambar di atas (Gambar 12) dapat diketahui bahwa sampel recovery

produk A varian X dan Y memiliki bentuk spektrum yang hampir sama, namun tingkat absorbansinya atau serapannya berbeda-beda. Hal ini menunjukkan bahwa setiap sampel

recovery produk A memiliki komposisi kimia yang berbeda-beda seperti kadar lemak, sukrosa, protein, dan total padatan. Menurut Dryden (2003), setiap substansi bahan atau material biologi memiliki spektrum NIR yang spesifik. Apabila dua sampel yang memiliki komposisi kimia dan komposisi fisik berbeda diuji, akan terlihat perbedaan spektrum NIR yang dapat dilihat pada perbedaan puncak-puncak gelombang pada spektrum absorbansi.

35 Setiap komposisi tersebut memiliki spektrum gabungan pantulan NIR yang unik dan beragam yang dihasilkan dari penyebaran, pantulan, dan penyerapan cahaya oleh bahan penyusun komposisi tersebut. Spektrum sampel recovery produk A (Gambar 12) menunjukkan hubungan antara log (1/R) dan panjang gelombang (nm).

Komposisi kimia tertentu akan mengalami penyerapan radiasi sinar inframerah pada panjang gelombang tertentu. Hal ini dapat dilihat adanya puncak-puncak gelombang pada model spektrum absorbansi NIR. Berdasarkan Gambar 12, puncak gelombang absorbansi NIR sampel recovery produk A terjadi pada panjang gelombang 1196 nm, 1450 nm, 1786 nm, dan 1895-1991 nm. Puncak-puncak gelombang tersebut merupakan hasil penyerapan panjang gelombang tertentu oleh kandungan komposisi kimia pada sampel recovery produk A. Semakin tinggi puncak gelombang, maka absorbansi semakin besar dan hal ini menunjukkan semakin tinggi pula kandungan komposisi kimia tersebut dalam suatu bahan (Dryden 2003).

Pada Gambar 12, puncak gelombang spektrum absorbansi NIR sampel recovery

produk A terjadi pertama kali pada panjang gelombang 1196 nm. Pada panjang gelombang 1196 nm terbaca gugus C-H yang merupakan salah satu gugus penyusun lemak dan protein (Kumar et al. 2011). Kadar lemak dan protein merupakan komposisi penyusun sampel

recovery produk A. Berdasarkan hasil analisis menggunakan metode konvensional, lemak merupakan komposisi urutan ketiga yang terdapat pada sampel recovery produk A, sedangkan protein merupakan komposisi urutan keempat. Terbacanya komposisi protein pada komposisi lemak dimungkinkan karena adanya pengaruh protein susu pada penentuan lemak. Protein dapat berada pada membran globula lemak yang melindungi droplet lemak (Tsenkova et al. 2000).

Puncak gelombang kedua terjadi pada panjang gelombang 1450 nm. Puncak gelombang ini merupakan puncak gelombang dengan intensitas absorbansi tinggi kedua. Menurut Shenk et al. (2008), pada panjang gelombang 1450 nm pati mampu menyerap radiasi sinar inframerah. Pada sampel recovery produk A pati tersebut merujuk pada kadar sukrosa atau kadar gula. Pada panjang gelombang 1450 nm ikatan yang berperan dalam penyerapan radiasi adalah gugus O-H dan C=O. Kedua gugus tersebut merupakan gugus penyusun sukrosa. Hasil ini sesuai dengan hasil analisis menggunakan metode konvensional yang menunjukkan kadar sukrosa pada sampel recovery produk A menempati urutan kedua.

Puncak gelombang spektum absorbansi NIR ketiga terjadi pada panjang gelombang 1786 nm. Menurut Brandão et al. (2010), komponen susu yang dapat terdeteksi pada kisaran panjang gelombang 1780 hingga 1790 nm adalah lemak dan protein. Pada panjang gelombang tersebut gugus yang berperan adalah C-H dan S-H. Lemak dan protein sama- sama mengandung gugus C-H. Protein yang mengandung gugus S-H pada susu sangat sedikit. Oleh sebab itu, pada puncak gelombang ketiga ini komposisi lemak lebih dominan dibandingkan protein. Hasil ini sesuai dengan hasil analisis menggunakan metode konvensional dimana kadar lemak menempati posisi ketiga dalam komposisi sampel

recovery produk A.

Puncak gelombang spektrum absorbansi NIR pada sampel recovery produk A keempat terjadi pada kisaran panjang gelombang 1895-1991 nm. Puncak gelombang terakhir yang tampak ini merupakan puncak gelombang spektrum yang memiliki intensitas absorbansi tertinggi. Hasil ini menunjukkan penyerapan radiasi sinar yang tinggi oleh ikatan kimia penyusun air di dalam sampel recovery produk A. Menurut Kumar et al.

36 (2011), pada panjang gelombang 1940-1950 nm penyerapan didominasi oleh kadar air (H2O). Hal ini dikarenakan pada panjang gelombang tersebut ikatan yang mengalami

vibrasi stretching dan bending didominasi oleh ikatan kombinasi O-H. Gugus O-H di air terbaca pula pada panjang gelombang 1450 nm. Hal ini terjadi karena adanya perubahan vibrasi stretching yang menyebabkan molekul H2O menjadi isolinear dan adanya

perubahan suhu Shenk et al. (2008). Komposisi kadar air pada sampel recovery tidak dianalisis dengan metode konvensional. Namun, terbacanya spektrum kadar air pada sampel recovery produk A dijadikan dasar untuk perhitungan total padatan. Total padatan yang dihasilkan oleh pengukuran metode spektroskopi NIR merupakan hasil penggabungan antara pengukuran kadar lemak, protein, sukrosa, dan padatan susu bukan lemak (Milk Solid Non Fat, MSNF) dan kadar abu (Wehr & Frank 2004). Total padatan dapat dihitung pula dengan mengurangi 100% dengan kadar air.

Pada panjang gelombang 1895 nm hingga 1991 nm terbaca pula protein. Menurut Kumar et al. (2011), pada panjang gelombang 1940 nm spektrum didominasi oleh penyerapan radiasi oleh komponen air. Adanya gugus protein yang terbaca pada panjang gelombang tersebut mungkin karena adanya protein yang terlarut dalam air (Tsenkova et al. 2000). Pada panjang gelombang 1980 nm hingga 1991 nm, gugus N-H dominan menyerap radiasi sinar inframerah. Gugus tersebut menunjukkan keberadaan protein pada sampel

recovery produk A.

b.

Data Analisis Metode Konvensional

Selain data spektrum yang dihasilkan oleh instrumen NIRS, data yang diperoleh pada tahap analisis parameter komposisi sampel recovery produk A adalah data analisis menggunakan metode konvensional. Sampel recovery produk A varian X dan Y dianalisis menggunakan metode konvensional untuk masing-masing parameter komposisi. Hasil analisis sampel recovery produk A kedua varian menggunakan metode konvensional dapat dilihat pada Lampiran 4-7. Data metode konvensional ini digunakan untuk pembuatan model kalibrasi.

Data analisis metode konvensional ini selanjutnya dianalisis menggunakan uji t: two sample assuming unequal variances. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui apakah data analisis metode konvensional sampel recovery produk A varian X dan Y dianalisis dapat digabungkan untuk membuat model kalibrasi sampel recovery produk A yang mencakup empat parameter komposisi yaitu total padatan, kadar lemak, sukrosa, dan protein. Uji normalitas menunjukkan sebaran data analisis metode konvensional kedua varian sampel

recovery produk A tersebut normal (Lampiran 8). Selanjutnya dilakukan uji t pada keempat parameter komposisi sampel recovery produk A yang hasilnya ditampilkan pada Tabel 1 dan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 9.

Tabel 1. Hasil uji t data analisis metode konvensional sampel recovery produk A

Parameter n Hasil Uji t

Thitung Ttabel (α;df) P (two-tail)

Total Padatan 55 1.9595 2.0129 0.0561

Lemak 55 0.4545 2.0106 0.6515

Sukrosa 55 1.8471 2.0129 0.0712

37 Berdasarkan Tabel 1, parameter total padatan, kadar lemak, dan sukrosa menunjukkan nilai Thitung ≤ Ttabel dan P (two tail) > 5% pada taraf kepercayaan 95%.

Sementara itu, parameter protein menunjukkan nilai Thitung > Ttabel dan P (two tail) ≤ 5%

pada taraf kepercayaan 95%. Maksud dari 5% adalah tingkat kesalahan yang diizinkan maksimal 5% dengan taraf kepercayaan 95% (Efendi & Miranto 2008). Apabila dilakukan pengujian sebanyak 100 kali, diasumsikan terdapat lima data yang gagal.

Parameter total padatan 55 sampel recovery produk A memiliki nilai Thitung≤ Ttabel

(1.9595 < 2.0129) dan P (two tail) > 0.05 (0.0561 > 0.05). Parameter kadar lemak 55 sampel recovery produk A memiliki nilai Thitung≤ Ttabel (0.4545 < 2.0106) dan P (two tail) >

0.05 (0.6515 > 0.05). Parameter sukrosa 55 sampel recovery produk A memiliki nilai Thitung ≤ Ttabel (1.8471 < 2.0129) dan P (two tail) > 0.05 (0.0712 > 0.05). Hasil tersebut menunjukkan hipotesis awal (H0) diterima, yaitu hasil analisis metode konvensional sampel recovery produk A varian X tidak berbeda nyata dengan hasil analisis metode konvensional sampel recovery produk A varian Y pada parameter total padatan, kadar lemak, dan sukrosa dengan taraf kepercayaan 95%. Hal ini menunjukkan komposisi total padatan, kadar lemak, dan sukrosa sampel recovery produk A varian X hampir sama dengan sampel recovery

produk A varian Y.

Sementara itu, parameter protein memiliki nilai Thitung > Ttabel (4.6754 > 2.0262) dan

P (two tail) ≤ 0.05 (0.0000 < 0.05). Hasil tersebut menunjukkan hipotesis awal (H0) ditolak

dan H1 diterima, yaitu hasil analisis metode konvensional sampel recovery produk A varian

X berbeda nyata dengan hasil analisis metode konvensional sampel recovery produk A varian Y pada parameter protein dengan taraf kepercayaan 95%. Hal ini menjelaskan bahwa komposisi protein sampel recovery produk A varian X berbeda dengan sampel

recovery produk A varian Y.

Berdasarkan hasil uji t tersebut dapat dikatakan bahwa data analisis metode konvensional parameter total padatan, kadar lemak, dan sukrosa sampel recovery produk A varian X dan varian Y dapat digabungkan dan digunakan untuk dibuat model kalibrasi sampel recovery produk A. Sementara itu, parameter protein sampel recovery produk A varian X dan varian Y tidak dapat digabungkan pada pembuatan model kalibrasi sampel

recovery produk A meskipun memiliki spektrum sampel yang hampir sama. Hal ini dikarenakan produk asal kedua varian sampel recovery produk A tersebut memiliki komposisi protein yang berbeda.

2.

Model Kalibrasi Metode Spektroskopi NIR

Data spektrum NIR masing-masing sampel yang mencakup empat parameter komposisi (kadar lemak, protein, total padatan, dan sukrosa) dan data analisis metode konvensional sampel recovery produk A selanjutnya diolah dengan menggunakan software WinISI yang terdapat pada instrumen NIRS menjadi model kalibrasi. Metode kalibrasi yang digunakan oleh

software WinISI adalah metode PLS (Partial Least Square). Jumlah sampel recovery produk A yang digunakan oleh software WinISI untuk proses kalibrasi tidak semuanya. Dari 55 sampel

recovery produk A yang merupakan gabungan dua varian sampel recovery produk A, 48 sampel yang digunakan untuk kalibrasi parameter total padatan; 46 sampel yang digunakan untuk kalibrasi parameter kadar lemak; 47 sampel yang digunakan untuk kalibrasi parameter sukrosa; dan 42 sampel yang digunakan untuk kalibrasi parameter protein.

Pengolahan data menggunakan metode PLS oleh software WinISI menghasilkan model kalibrasi masing-masing parameter komposisi sampel recovery produk A. Model kalibrasi

38 yang diperoleh untuk parameter total padatan adalah

Y

total padatan

= a + b

1

X

1

+ b

2

X

2

+ ...

+ b

48

X

48

.

Model kalibrasi yang diperoleh untuk parameter kadar lemak adalah

Y

kadar lemak

=

a + l

1

X

1

+ l

2

X

2

+ ... + l

46

X

46

.

Model kalibrasi yang diperoleh untuk parameter sukrosa

adalah

Y

sukrosa

= a + s

1

X

1

+ s

2

X

2

+ ... + s

47

X

47

.

Model kalibrasi yang diperoleh untuk

parameter protein adalah

Y

protein

= a + p

1

X

1

+ p

2

X

2

+ ... + p

42

X

42. Hasil kalibrasi

metode spektroskopi NIR dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Hasil kalibrasi dan validasi internal NIRS sampel recovery produk A Parameter n Mean (%) Kalibrasi Cross Validation SEC (%) R2 SECV (%) 1-VR Total Padatan 48 18.5054 0.1014 0.9998 0.1558 0.9996 Lemak 46 2.2504 0.0375 0.9981 0.0524 0.9962 Sukrosa 47 11.5474 0.1329 0.9992 0.2369 0.9976 Protein 42 1.4036 0.0766 0.9921 0.1281 0.9783

Berdasarkan hasil kalibrasi 48 sampel (Tabel 2), model kalibrasi parameter total padatan sampel recovery produk A memiliki nilai SEC sebesar 0.1014%. Nilai ini memperlihatkan hasil analisis total padatan metode spektroskopi NIR dengan hasil kuantitatif metode konvensional memiliki perbedaan sebesar 0.1014%. Hasil SEC < 1% menunjukkan bahwa model kalibrasi parameter total padatan sampel recovery produk A cukup baik. Nilai R2 parameter total padatan sampel recovery produk A adalah 0.9998. Nilai koefisien determinasi total padatan hampir mendekati 1. Nilai ini menujukkan pendugaan absorbansi total padatan metode spektroskopi NIR 99.98% mendekati hasil analisis metode konvensional.

Setelah dilakukan kalibrasi, software selanjutnya melakukan validasi internal yang

disebut “cross validation” pada 1/3 data yang digunakan untuk kalibrasi. Tujuan dari validasi internal adalah untuk membantu menguji kecocokan model kalibrasi dalam kemampuan memprediksi hasil kuantitatif dengan tepat. Validasi internal mampu memperlihatkan bahwa semua sampel spektrum tersebut dapat diidentifikasi atau memenuhi syarat menurut prosedur, tanpa melebihi ambang batas (EMEA 2012). Berdasarkan hasil validasi internal (Tabel 2), model kalibrasi parameter total padatan memiliki nilai SECV sebesar 0.1558%. Nilai ini menunjukkan bahwa perbedaan hasil analisis total padatan metode spektroskopi NIR dengan hasil analisis metode konvensional berdasarkan validasi internal adalah sebesar 0.1558%. Hasil SECV < 1% menunjukkan akurasi prediksi parameter total padatan sampel recovery produk A cukup baik. Nilai 1-VR yang dihasilkan pada parameter total padatan sampel recovery produk A adalah 0.9996. Nilai ini menunjukkan pendugaan absorbansi total padatan metode spektroskopi NIR 99.96% mendekati hasil analisis metode konvensional berdasarkan metode validasi internal.

Model kalibrasi parameter kadar lemak sampel recovery produk A memiliki nilai SEC sebesar 0.0375% (Tabel 2). Nilai ini memperlihatkan hasil analisis kadar lemak metode spektroskopi NIR dengan hasil kuantitatif metode konvensional pada 46 sampel recovery

produk A memiliki perbedaan sebesar 0.0375%. Hasil SEC < 1% menunjukkan model kalibrasi parameter kadar lemak yang dihasilkan cukup baik. Nilai R2 yang dihasilkan parameter kadar lemak sampel recover y produk Aadalah 0.9981. Nilai koefisien determinasi kadar lemak ini hampir mendekati 1. Nilai ini menunjukkan pendugaan absorbansi kadar lemak metode spektroskopi NIR 99.81% mendekati hasil analisis metode konvensional.

39 Berdasarkan hasil validasi internal (Tabel 2), model kalibrasi parameter kadar lemak sampel recovery produk A memiliki nilai SECV sebesar 0.0524%. Hasil ini menunjukkan bahwa validasi internal menghasilkan perbedaan hasil analisis kadar lemak metode spektroskopi NIR dengan hasil analisis metode konvensional sebesar 0.0524%. Hasil SECV < 1% menunjukkan bahwa akurasi prediksi parameter kadar lemak sampel recovery produk A dikatakan cukup baik. Nilai 1-VR yang dihasilkan pada parameter kadar lemak sampel

recovery produk A adalah 0.9962. Hasil ini menunjukkan bahwa nilai pendugaan absorbansi kadar lemak metode spektroskopi NIR 99.62% mendekati hasil analisis metode konvensional dengan metode validasi internal.

Model kalibrasi parameter sukrosa sampel recovery produk A memiliki nilai SEC sebesar 0.1329% (Tabel 2). Hasil ini menunjukkan bahwa hasil analisis sukrosa metode spektroskopi NIR memiliki perbedaan sebesar 0.1329% dengan hasil kuantitatif metode konvensional pada 47 sampel recovery produk A. Hasil SEC < 1% menunjukkan bahwa model kalibrasi parameter sukrosa yang dihasilkan cukup baik. Nilai R2 yang dihasilkan pada parameter sukrosa sampel recovery produk A adalah 0.9992. Nilai koefisien determinasi sukrosa ini hampir mendekati 1. Hal ini menunjukkan bahwa nilai pendugaan absorbansi sukrosa metode spektroskopi NIR 99.92% mendekati hasil analisis metode konvensional.

Berdasarkan hasil validasi internal (Tabel 2), model kalibrasi parameter sukrosa sampel

recovery produk A memiliki nilai SECV sebesar 0.2369%. Hasil ini menunjukkan bahwa validasi internal menghasilkan perbedaan hasil analisis sukrosa metode spektroskopi NIR dengan hasil analisis metode konvensional sebesar 0.2369%. Hasil SECV < 1% menunjukkan bahwa akurasi prediksi parameter sukrosa dikatakan cukup baik. Nilai 1-VR yang dihasilkan pada parameter sukrosa sampel recovery produk A adalah 0.9976. Hasil ini menunjukkan bahwa nilai pendugaan absorbansi sukrosa metode spektroskopi NIR 99.76% mendekati hasil analisis metode konvensional berdasarkan validasi internal.

Model kalibrasi parameter protein sampel recovery produk A memiliki nilai SEC sebesar 0.0766% (Tabel 2). Hasil ini memperlihatkan bahwa dari 42 sampel recovery produk A diperoleh perbedaan antara hasil analisis protein metode spektroskopi NIR dengan hasil kuantitatif metode konvensional sebesar 0.0766%. Hasil SEC < 1% menunjukkan bahwa model kalibrasi parameter protein yang dihasilkan cukup baik. Nilai R2 yang dihasilkan pada parameter protein sampel recovery produk A adalah 0.9921. Nilai koefisien determinasi sukrosa ini hampir mendekati 1. Nilai ini menunjukkan pendugaan absorbansi protein metode spektroskopi NIR 99.21% mendekati hasil analisis metode konvensional.

Berdasarkan hasil validasi internal (Tabel 2), model kalibrasi parameter protein sampel

recovery produk A memiliki nilai SECV sebesar 0.1281%. Hasil ini menunjukkan bahwa validasi internal menghasilkan perbedaan hasil analisis protein metode spektroskopi NIR dengan hasil analisis metode konvensional sebesar 0.1281%. Hasil SECV < 1% menunjukkan bahwa akurasi prediksi parameter protein dikatakan cukup baik. Nilai 1-VR yang dihasilkan pada parameter protein sampel recovery produk A adalah 0.9783. Nilai ini menunjukkan pendugaan absorbansi protein NIR 97.83% mendekati hasil analisis metode konvensional berdasarkan validasi internal. Parameter protein sampel recovery produk A memiliki nilai R2 dan 1-VR terendah di antara tiga parameter lainnya. Hal ini disebabkan penggunaan data analisis protein metode konvensional dua varian sampel recovery produk A yang seharusnya tidak digabungkan meskipun spektrumnya hampir sama.

40

3.

Verifikasi Model Kalibrasi Metode Spektroskopi NIR

Model kalibrasi empat parameter komposisi sampel recovery produk A menggunakan metode spektroskopi NIR yang telah terbentuk selanjutnya diverifikasi menggunakan uji t. Verifikasi dilakukan dengan membandingkan data hasil pembacaan instrumen NIR dan hasil analisis metode konvensional menggunakan uji t. Uji verifikasi tersebut dilakukan pada 10 sampel recovery produk A yang terdiri atas 2/3 varian X dan 1/3 varian Y. Data verifikasi model kalibrasi metode spektroskopi NIR dapat dilihat pada Lampiran 10. Hasil uji kenormalan menunjukkan data yang digunakan untuk verifikasi model kalibrasi metode spektroskopi NIR tersebar normal. Hasil uji kenormalan dan uji t terhadap empat parameter yang terdapat dalam model kalibrasi metode spektroskopi NIR dapat dilihat selengkapnya pada Lampiran 11-12.

Tabel 3. Hasil verifikasi model kalibrasi metode spektroskopi NIR menggunakan uji t

Parameter n SD (%) Hasil uji t

NIRS Manual Thitung Ttabel(0.05;9) P (two tail)

Total Padatan 10 6.4456 6.3769 0.4254 2.2622 0.6805 Lemak 10 0.7986 0.8557 -1.4776 0.1736 Sukrosa 10 3.7659 3.9511 2.0097 0.0754 Protein 10 0.5965 0.6194 -0.4137 0.6888 Berdasarkan Tabel 3 dapat diketahui pengujian metode spektroskopi NIR memiliki

ketelitian yang lebih baik dibandingkan dengan metode konvensional/manual (SD NIRS ≤ SD

Manual) pada parameter kadar lemak, sukrosa, dan protein sampel recovery produk A. Parameter total padatan memiliki ketelitian metode konvensional yang lebih baik dibandingkan metode spektroskopi NIR (SD manual ≤ SD NIRS).

Selanjutnya dilakukan uji t untuk mengetahui apakah hasil analisis metode spektroskopi NIR dapat ditetrima. Berdasarkan data pada Tabel 3 dapat diketahui bahwa keempat parameter yang terdapat pada sampel recovery produk A memiliki nilai Thitung ≤ Ttabel atau P (two tail) > 5%. Maksud dari 5% adalah tingkat kesalahan yang diizinkan maksimal 5% dengan taraf kepercayaan 95% (Efendi & Miranto 2008). Apabila dilakukan pengujian sebanyak 100 kali, diasumsikan data yang gagal adalah lima kali. Parameter total padatan pada sampel recovery

produk A memiliki nilai Thitung≤ Ttabel (0.4254 < 2.2622) dan P (two tail) > 0.05 (0.6805 >

0.05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa hipotesis awal (H0) diterima, yaitu hasil analisis total

padatan sampel recovery produk A metode spektroskopi NIR tidak berbeda nyata dengan hasil analisis metode konvensionalnya pada taraf kepercayaan 95%. Meskipun ketelitian metode konvensional lebih baik dibandingkan metode NIR, namun setelah dilakukan uji t diketahui bahwa hasil analisis total padatan menggunakan metode NIR tidak berbeda nyata dengan analisis metode konvensional.

Parameter kadar lemak sampel recovery produk A memiliki nilai Thitung≤ Ttabel (-1.4776

< 2.2622) dan P (two tail) > 0.05 (0.1736 > 0.05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa hipotesis awal (H0) diterima, yaitu hasil analisis kadar lemak sampel recovery produk A metode

spektroskopi NIR tidak berbeda nyata dengan hasil analisis metode konvensionalnya pada taraf kepercayaan 95%. Begitu pula dengan parameter sukrosa yang memiliki nilai Thitung ≤ Ttabel

(2.0097 < 2.2622) dan P (two tail) > 0.05 (0.0754 > 0.05). Parameter protein memiliki nilai Thitung ≤ Ttabel (-0.4137 < 2.2622) dan P (two tail) > 0.05 (0.6888 > 0.05). Hasil tersebut

41 menunjukkan bahwa hipotesis awal (H0) diterima, yaitu hasil analisis sukrosa dan protein

sampel recovery produk A metode spektroskopi NIR tidak berbeda nyata dengan hasil analisis metode konvensionalnya pada taraf kepercayaan 5%.

Berdasarkan hasil uji t tersebut dapat dikatakan model kalibrasi parameter total padatan, kadar lemak, dan sukrosa tidak berbeda nyata dengan hasil analisis metode konvensionalnya pada penentuan komposisi sampel recovery produk A. Model kalibrasi tersebut dikatakan baik dan dapat digunakan untuk mengevaluasi komposisi sampel recovery produk A varian X dan varian Y. Meskipun berdasarkan hasil verifikasi model kalibrasi parameter protein tidak berbeda nyata, namun model kalibrasi parameter protein tersebut hanya dapat digunakan untuk mengevaluasi parameter protein pada salah satu varian sampel recovery produk A. Hal ini disebabkan oleh hasil uji t pada data analisis metode konvensional menunjukkan bahwa parameter protein sampel recovery produk A varian X berbeda dengan varian Y. Berdasarkan banyaknya data yang digunakan, kemungkinan besar model kalibrasi parameter protein sampel

recovery produk A masih dapat digunakan untuk mengevaluasi mutu sampel recovery produk A varian X karena data yang digunakan untuk membuat model kalibrasi dan verifikasi didominasi oleh sampel recovery produk A varian X.

Dokumen terkait