• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

5. Rohana Qudus ( 2004 )

2.2 Landasan Teori

2.2.1.10. Standar Profesional Akuntan Publik

Menurut Mulyadi ( 2002 : 34 ), ada lima macam standar professional yang diterbitkan oleh Dewan Standar Profesional Akuntan Publik sebagai aturan mutu pekerjaan akuntan publik, yaitu :

1. Standar Auditing 

Merupakan pedoman audit atas laporan keuangan historis yang terdiri dari  10 standar dan dirinci dalam bentuk Pernyataan Standar Auditing ( PSA ).  PSA berisi ketentuan – ketentuan dan panduan utama yang harus diikuti  oleh akuntan publik dalam melaksanakan perikatan audit. 

2. Standar Atestasi 

Memberikan kerangka untuk fungsi atestasi bagi jasa akuntan publik yang  mencakup tingkat keyakinan tertinggi yang lebih rendah dalam jasa non  audit. Standar atestasi terdiri dari 11 standar dan dirinci dalam bentuk  Pernyataan Standar Atestasi (PSAT). 

3. Standar Jasa Akuntansi dan Review 

Standar ini memberikan kerangka fungsi non atestasi bagi jasa akuntan  publik yang mencakup jasa akuntansi dan review. Standar ini dirinci dalam  bentuk Pernyataan Standar Jasa Akuntansi dan Review (PSAR).  

4. Standar Jasa Konsultasi 

Memberikan  panduan  bagi  akuntan  publik  didalam  penyediaan  jasa  konsultasi bagi masyarakat. Jasa konsultasi pada hakikatnya berbeda dari  jasa atestasi akuntan publik terhadap asersi pihak ketiga. Dalam jasa  atestasi, para praktisi menyajikan suatu kesimpulan mengenai keandalan  suatu  asersi  tertulis  yang  menjadi  tanggung  jawab  pihak  lain,  yaitu  pembuat asersi ( asseres ). Dalam jasa konsultasi, para praktisi menyajikan 

temuan,  kesimpulan  dan  rekomendasi.  Umumnya,  pekerjaan  jasa  konsultasi dilaksanakan untuk kepentingan klien. 

5. Standar Pengendalian Mutu 

Memberikan panduan bagi kantor akuntan publik didalam melaksanakan  pengendalian mutu jasa yang dihasilkan oleh kantornya dengan mematuhi  berbagai standar yang diterbitkan oleh Dewan Standar Profesional Akuntan  Publik dan Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik yang diterbitkan  oleh Kompartemen Akuntan Publik, Ikatan Akuntan Indonesia. 

 

3.2.2 Pengalaman Audit 

2.2.2.1.Pengertian Pengalaman 

Pengalaman audit adalah pengalaman auditor dalam melakukan audit  laporan keuangan baik dari segi lamanya waktu maupun banyaknya penugasan  yang pernah  ditangani.  Libby dan  Frederick  (1990)  dalam  Suraida  (2005)  menemukan  bahwa  semakin  banyak  pengalaman  auditor  semakin  dapat  menghasilkan berbagai macam dugaan dalam menjelaskan temuan audit. 

Menurut Kamus Bahasa Indonesia ( 1984 : 117 ) menyatakan bahwa  pengalaman adalah sesuatu peristiwa yang dialami ( dihayati ). 

Menurut  Anoraga  1995  47  pengalaman  adalah  keseluruhan  pelajaran yang dipetik oleh seseorang dari peristiwa – peristiwa yang dialami  dalam perjalanan hidupnya. Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa  pengalaman  seseorang  sejak  kecil  turut  membentuk  perilaku  orang yang  bersangkutan dalam kehidupan organisasionalnya. Sehingga dapat disimpulkan  bahwa pengalaman suatu kejadian yang telah dialami seseorang selama jangka 

waktu  tertentu  dalam  menyelesaikan  tugasnya.  Pengalaman yang  dimiliki  seseorang lebih banyak membantunya dalam mengerjakan sesuatu, karena  pengalaman  akan memberikan  kemahiran  dan ketrampilan  baginya untuk  berbuat  sesuatu (  Saydam, 1996 :  225  ). Selain  itu dengan  pengalaman  seseorang  akan  mudah  untuk mengetahui  bagaimana  menjalankan  tugas,  berkomunikasi dalam organisasi dan sebagainya. Bagi seseorang pengalaman  mempunyai nilai lebih dibandingkan dengan yang tidak berpengalaman, karena  pengalaman kerja yang dimiliki seseorang kadang – kadang lebih dihargai dari  pada tingkat pendidikan yang menjulang tinggi sehingga kombinasi antara  pengalaman serta pendidikan akan membuat seseorang mempunyai kualitas  atau  lebih  professional.  Sebaliknya  dengan  terbatasnya  pengalamn  kerja  mengakibatkan tingkat keahlian dan ketrampilan yang dimiliki semakin rendah,  oleh karena itu pengalaman merupakan modal utama seseorang untuk terjun  dalam bidang tertentu ( Sastrohadiwiryo, 2003 : 163 ). 

 

2.2.3.Kompetensi 

Kompetensi berkaitan dengan pendidikan dan pengalaman memadai yang  dimiliki akuntan publik dalam bidang auditing dan akuntansi. Dalam melaksanakan  audit,  akuntan publik harus bertindak sebagai  seseorang yang ahli  dibidang  akuntansi dan auditing. Definisi kompetensi menurut Mitrani ( 1995 ) dalam  Rahamawati ( 2004 ) adalah sebagai suatu sifat dasar seseorang yang dengan  sendirinya  dengan  pelaksanaan  suatu  pekerjaan  secara  efektif  atau  sangat  berhasil. 

Menurut kamus kompetensi LOMA ( 1998 ) dalam M. Nizarul Alim, et. al. (  2007 ) kompetensi didefinisikan sebagai aspek – aspek pribadi dari seorang  pekerja yang memungkinkan dia untuk mencapai kinerja superior. Aspek – aspek  pribadi ini mencakup sifat, motif – motif, system nilai, sikap, pengetahuan dan  ketrampilan  dimana kompetensi akan  mengarahkan tingkah laku,  sedangkan  tingkah  laku  akan  menghasilkan  kinerja.  Kompetensi  juga  merupakan  pengetahuan,  ketrampilan,  dan  kemampuan  yang  berhubungan  dengan  pekerjaan, serta kemampuan yang dibutuhkan untuk pekerjaan – pekerjaan yang  non‐ rutin. Definisi kompetensi dalam dalam bidang auditing pun sering diukur  dengan pendidikan dan pengalaman ( Mayangsari, 2003 ) 

Adapun  Suraida  2005  menyatakan,  kompetensi  adalah  keahlian  profesional yang dimiliki oleh auditor sebagai hasil dari pendidikan formal, ujian  profesional maupun keikutsertaan dalam pelatihan, seminar, simposium dan lain  – lain seperti : 

1. Untuk luar negeri ( AS ) ujian CPA ( Certified Public Accountant )  2. Dalam Negeri ( Indonesia ) USAP ( Ujian Sertifikat Akuntan Publik )  3. PBB ( Pendidikan Profesi Berkelanjutan ) 

4. Pelatihan – pelatihan intern dan ekstern 

5. Keikutsertaan dalam seminar, simposium dan lain – lain. 

Kompetensi auditor diukur melalui banyaknya ijasah / sertifikat yang  dimiliki  serta  jumlah  banyaknya  keikutsertaan  yang  bersangkutan  dalam  pelatihan – pelatihan, seminar atau simposium. Semakin banyak sertifikat yang  dimiliki  dan  semakin  sering  mengikuti  pelatihan  atau  seminar  simposium 

diharapkan auditor yang bersangkutan akan semakin cakap dalam melaksanakan  tugasnya. 

Berdasarkan prinsip etika Profesi Ikatan Akuntan Publik, kompetensi  dapat diperoleh melalui pendidikan dan pengalaman. Kompetensi profesioanal  dapat dibagi menjadi dua fase yang terpisah : 

a. Pencapaian Kompetensi Profesional 

Pencapaian  kompetensi  profesional  pada  awalnya  memerlukan standar  pendidikan umum yang tinggi, dikuti oleh pendidikan khusus, pelatihan dan  ujian profesional dalam subyek – subyek yang relevan, dan pengalaman  kerja.  Hal;  ini  harus  menjadi  pola  pengembangan  yang  normal  untuk  anggota. 

b. Pemeliharaan Kompetensi Profesional 

1. Kompetensi harus dipelihara dan dijaga melalui komitmen untuk belajar  dan melakukan peningkatan proffesional secara berkesinambungan  selama kehidupan profesional anggota. 

2. Pemeliharaan kompetensi profesional memerlukan  kesadaran untuk  terus  mengikuti  perkembangan  profesi  akuntansi,  auditing  dan  peraturan lainnya, baik nasional maupun internasional yang relevan.  3. Anggota  harus  menetapkan  suatu  program  yang  dirancang  untuk 

memastikan  terdapatnya  kendali  mutu  atas  pelaksanaan  jasa  profesional yang konsisten dengan standar nasional dan internasional.  Kompetensi menunjukkan terdapatnya pencapaian dan pemeliharaan  suatu tingkatan pemahaman dan pengetahuan yang memungkinkan seorang  anggota untuk memberikan jasa dengan kemudahan dan kecerdikan. Dalam 

penugasan profesional melebihi kompetensi anggota atau perusahaan, anggota  wajib melakukan konsultasi atau menyerahkan klien kepada pihak lain yang lebih  kompeten. Setiap anggota bertanggung jawab untuk menentukan kompetensi  masing – masing atau menilai apakah pendidikan, pengalaman dan pertimbangan  yang diperlukan memadai untuk tanggung jawab yang harus dipenuhinya (  Mulyadi , 2002 : 58 ) 

 

2.2.4. Independensi

Independensi merupakan standar umum nomor dua dari tiga standar auditing yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia ( IAI ) yang menyatakan bahwa dalam semua yang berhubungan dengan perikatan, independensi dan sikap mental harus dipertahankan oleh auditor.

Dalam buku Standar Profesi Akuntan Publik 2001 seksi 220 PSA No.04 Alinea 2, dijelaskan bahwa independensi itu berarti tidak mudah dipengaruhi, karena ia melaksanakan pekerjaannya untuk kepentingan umum ( dibedakan dalam hal berpraktik sebagai auditor intern ). Dengan demikian, ia tidak dibenarkan memihak kepada kepentingan siapapun, sebab bilamana tidak demikian halnya, bagaimanapun sempurnanya keahlian teknis yang ia miliki, ia akan kehilangan sikap tidak memihak yang justru paling penting untuk mempertahankan kebebasan pendapatnya.

Mulyadi ( 2002 : 26 ) menjelaskan bahwa independensi berarti sikap mental yang bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain dan tidak tergantung pada orang lain. Independensi juga berarti adanya kejujuran

dalam diri auditor dalam mempertimbangkan fakta dan adanya pertimbangan yang objektif tidak memihak dalam diri auditor dalam merumuskan dan menyatakan pendapatnya.

Dalam kode Etik Akuntansi Indonesia juga menetapkan agar akuntan publik menjaga dirinya dan jangan sampai kehilangan persepsi independen masyarakat. Ada dua macam independensi yaitu:

1. Independen dalam fakta (Independence In Fact)

Independen dalam fakta adalah independen dalam diri auditor yaitu kemampuan auditor untuk bersikap bebas, jujur, dan objektif dalam melakukan penugasan audit.

2. Independen dalam penampilan (Independence In Appearance) Independen dalam penampilan adalah independen yang dipandang dari pihak-pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan yang diaudit yang mengetahui hubungan antara auditor dengan kliennya. Adapun pengertian auditor indepeden adalah audior profesional yang menyediakan jasanya kepada masyarakat umum, terutama dalam bidang audit atas laporan keuangan yang dibuat oleh kliennya, menurut Mulyadi (2001: 28).

Menurut Arens dan Loebbecke (1996: 89) untuk memelihara dan mempertahankan independensi hal-hal yang paling penting yaitu:

1. Kewajiban Hukum

Hukum dijatuhkan pengadilan jika seorang akuntan publik tidak independen dapat berat akibatnya, termasuk tindakan kriminal

pengadilan telah memberikan banyak insentif bagi auditor agar tetap bersikap independen.

2. Peraturan 101, interpretasi dan ketentuannya

Hal ini membatasi para akuntan publik dalam hubungan keuangan dan bisnis dengan klien. Ini merupakan bantuan yang besar dalam mempertahankan independensi.

3. Standar Auditing yang berlaku umum

Standar umum yang kedua mengharuskan auditor untuk mempertahankan sikap mental independen untuk semua hal yang berkaitan dengan penugasan.

4. Standar Pengendalian Mutu (IAI dan AICPA di Amerika Serikat) Isinya salah satu standar pengendalian mutu mensyaratkan kantor akuntan publik untuk menetapkan kebijakan dan prosedur guna memberikan jaminan yang cukup bahwa semua pegawainya independen.

5. Pendivisian Perusahaan

Terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi yang berkaitan dengan independensi. Pelaporan ketidaksetujuan antara auditor dengan klien, penggantian patner pembatasan jasa manajemen, dan riview sejawat wajib melaksanakan guna mempertinggi independensi.

6. Komite Audit.

bertanggung jawab untuk membantu auditor dalm mempertahankan independensinya dari manajemen. Pada saat ini banyak bank mempunyai komite audit yang disebut dewan-dewan audit.

7. Komunikasi dengan auditor pendahulu.

Persoalan utama komunikasi ini adalah informasi yang dapat membantu auditor pengganti untuk menentukan apakah manajemen klien mempunyai integritas.

8. Menjajaki pendapat mengenai penetapan prinsip akuntansi.

Menetapkan persyaratan yang harus diikuti jika sebuah kantor akuntan publik diminta untuk memberikan pendapat lisan atau tertulis menggunakan prinsip-prinsip akuntansi atau jenis pendapat audit yang harus dikeluarkan untuk suatu transaksi spesifik.

9. Pengesahan auditor oleh pemegang saham.

Pada saat ini semakin banyak perusahaan meminta para pemegang sahamnya untuk mengesahkan sebuah kantor akuntan publik baru atau meneruskan yang sudah ada.

Prinsip independensi dapat hilang atau rusak antara lain oleh beberapa hal berikut:

1. Selama masa pelaksanaan auditnya sampai laporan audit atau selama periode pelaporan keuangan yang diperiksa, ia (termasuk keluarga sedarah garis dan semenda) atau KAP terikat komitmen untuk mengelola sebagian besar aset kliennya atau terikat transaksi

pembelian sebagai asset kliennya.

2. Mempunyai kerjasama kepemilikan usaha lain dengan kliennya atau dengan setiap staf karyawan kunci atau manajemen perusahaan kliennya.

3. Mempunyai hubungan hutang piutang dalam segala bentuk dengan staf karyawan kunci atau manajemen perusahaan klien.

4. Mempunyai hubungan saudara, langsung atau tidak langsung dengan klien.

Atas dasar pembahasan diatas tentang pentingnya independensi akuntan publik diatas tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan menganai pentingnya independensi akuntan publik sebagai berikut:

1. Independensi merupakan syarat yang sangat penting bagi profesi akuntan publik untuk menilai kewajaran informasi yang disajikan oleh manajemen kepada pemakai informasi.

2. Independensi diperlukan oleh akuntan publik untuk memperoleh kepercayaan dari klien dan masyarakat, khusunya para pemakai laporan keuangan.

3. Jika akuntan publik tidak independensi maka pendapat yang diberikan tidak mempunyai arti atau nilai.

4. Independensi merupakan martabat penting akuntan publik yang secara berkesinambungan perlu dipertahankan.

Dokumen terkait