VI. STRATEGI NAFKAH RUMAHTANGGA DI DESA PADABEUNGHAR
6.2 Strategi Nafkah Basis Bukan Modal Alami
6.2.1 Strategi Nafkah Basis Remittance : Rumahtangga Pak Sud
Remittance atau uang kiriman dari perantauan merupakan salah satu pilihan sumber nafkah bagi rumahtangga penduduk Desa Padabeunghar. Pada rumahtangga Pak Suh dan Ma Um merantau dilakukan oleh anggota rumahtangga usia anak dan didukung oleh anggota rumahtangga usia orang tua untuk penyediaan konsumsi. Rumahtangga Pak Sud, merupakan rumahtangga yang menggunakan remittance sebagai sumber nafkah utama rumahtangga. Pak Sud dan istri merupakan tenaga kerja yang termasuk kelompok usia anak dan telah memiliki rumah tinggal sendiri. Strategi nafkah rumahtangga Pak Suh dapat diamati berikut:
Pak Sud adalah seorang penyalur tenaga kerja (supplier) yang bekerja di PT.PP, di Jakarta. Pak Sud bertugas menyediakan tenaga kerja dan menjadi pelaksana pekerjaan terutama bagian finishing atau pekerjaan interior menurut Pak Sud di lapangan. Pak Sud menikah dengan Bu Ac, 33 thn, dan dikaruniai dua orang anak Mira, 12, dan Alan, 3 tahun. Pak Sud tidak memiliki pekerjaan lain di Desa Padabeunghar. Ia tidak memiliki sawah atau kebon. Struktur rumah tangga Pak Sud dapat diamati pada gambar berikut:
Pak Sud Bu Ac
Alan Mira
Pak Sud sudah bekerja di PT. PP sejak tahun 1995. Sejak tahun 1989 Pak Sud bekerja sebagai knek karena diajak teman kemudian beranjak menjadi tukang. Pak Sud bekerja di tempat yang ia tidak tahu nama PT-nya, pak Sud hanya tahu teman di Desa Padabeunghar yang mengajak pergi ke kota. Pekerjaan sebagai supplier tenaga kerja berawal dari perkenalannya dengan bos PT. PP pernah menjadi staf marketing atau salesmen di tempat Pak Sud menjadi tukang. Bos tersebut keluar dari pekerjaan nya dan membuka perusahaan kontaktor baru, yaitu PT. PP.
Pak Sud bekerja untuk pembangunan kantor cabang Bank Permata sekarang. Bank Permata menunjuk PT. PP sebagai kontraktor. PT. PP kemudian menghitung berapa banyak bagian yang harus dikerjakan. Misalnya, menghitung berapa meter partisi yang dibutuhkan, biaya pengecatan, dan pekerjaan-pekerjaan lain. PT. PP mengajukan harga yang harus dibayar oleh Bank Permata atau disebut owner berdasarkan perhitungan tersebut. PT. PP memberikan harga penawaran pada Pak Sud berdasarkan harga penawaran dari owner. Pak Sud menjalankan pekerjaan di owner berdasarkan rincian harga dari PT. PP. Kemudian, Pak Sud mencari pekerja yang ada di mess untuk mengerjakan pekerjaan di owner. Pak Sud mendapatkan pembayaran dari PT. PP sebagai proyek borongan setelah pekerjaan selesai dan membayar pekerja dengan bayaran harian.
Jika pekerja di mess tidak mecukupi kebutuhan tenaga kerja di proyek, Pak Sud akan mencari tenaga kerja baru. Perekrutan pekerja mengandalkan pada pekerja yang pulang atau melalui Bu Ac di Desa Padabeunghar dengan cara menitip pesan pada pekerja yang pulang atau pada Bu Ac untuk mencari pekerja baru dan disuruh ke Jakarta. Pak Sud tidak pernah mencari pekerja dari lu ar Desa Padabeunghar dengan sengaja, kecuali jika pekerja tersebut datang mencari pekerjaan pada Pak Sud atau orang luar yang telah menjadi warga Desa Padabeunghar karena ikatan pernikahan. Pak Sud dapat mempekerjakan siapa saja dengan syarat orang tersebut jujur. Kejujuran sangat diperlukan kerena Pak Sud menangani proyek di tempat kerja yang sedang aktif. Jika pekerja yang ia kerjakan tidak jujur dan terjadi kehilangan, Pak Sud akan menghadapi resiko tuntutan dari perusahaan.
Pak Sud memiliki kelompok khusus yang biasa bekerja padanya. Kelompok tersebut terdiri dari 12 orang. Semuanya merupakan orang Desa Padabeunghar. Jika Pak Sud memiliki pekerjaan ia akan terlebih dahulu mencari 12 orang tersebut.
Pak Sud mengirimkan uang pada Bu Ac setiap pulang ke Desa Padabeunghar. Uang tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, biaya sekolah anak dan biaya penyelesaian pembangunan rumah yang belum terselesaikan.
Pekerjaan sebagai supplier tenaga kerja menyita waktu Pak Sud. Pak Sud hanya dapat pulang ke rumah dua atau tiga bulan sekali. Waktu pulang ke rumah akan semakin lama jika Pak Sud mengerjakan proyek di luar Jawa. Saat pulang digunakan Pak Sud untuk istirahat, ngobrol dengan tetangga, kondangan, ngobeng, atau babantu. Jika Pak Sud bekerja di perantauan, tugas untuk babantu, ngobeng, kondangan atau ngalongok dilakukan oleh Bu Ac. Bu Ac babantu dengan memberikan uang, rokok atau membantu dengan tenaga. Ngalongok dan kondangan ke tempat di luar Desa Padabeunghar dilakukan Bu Ac dengan ikut rombongan atau menitipkan uang pada tetangga yang pergi kondangan atau ngalongok. Pada saat pembangunan rumah, banyak orang datang untuk membantu. Pak Sud merasakan keuntungan yang diperoleh karena Bu Ac rajin babantu dengan mengirimkan makanan atau rokok.
Meskipun Pak Sud sebagai supplier mendapatkan pendapatan yang melebihi tukang biasa, Pak Sud tetap mendapatkan bantuan kayu dan tanah pekarangan dari mertua pada saat pembangunan rumah. Rumah yang dibangun tahun 1997 itu sampai sekarang belum sepenuhnya selesai. Rumah yang cukup besar (dibandingkan dengan rumah lain di Desa Padabeunghar) dibangun dari hasil bekerja di rantau.
Rumahtangga Pak Sud menggantungkan nafkah sepenuhnya pada hasil merantau. Pak Sud tidak memiliki sawah dan kebon. Rumah Pak Sud yang tela h terpisah dari orang tua menyebabkan Pak Sud harus memenuhi kebutuhan konsumsi sendiri. Meskipun tidak mendapatkan pendapatan dari modal alami, rumahtangga Pak Sud memiliki status sosial tinggi yang dapat dilihat dari bentuk rumah. Ini menunjukkan rumahta ngga tidak membutuhkan penggunaan modal alami jika pendapatan berupa remittance sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup rumahtangga.
Pak Sud tetap bersandar pada kelembagaan lokal di Desa Padabeunghar. Pak sud mengalokasikan tenaga kerja rumahtangga untuk babantu, ngobeng, kondangan, ngalongok dan berhubungan baik dengan tetangga atau saudara. Anggota rumahtangga dialokasikan untuk tetap ada di Desa Padabeunghar menjalankan peranan sosial sebagai anggota komunitas Desa Padabeunghar. Peranan anggota rumahtangga sebagai pembangun modal sosial dipilih karena rumahtangga Pak Sud tidak terlepas dari ikatan dan kelembagaan komunitas Desa Padabeunghar. rumahtangga Pak Sud membutuhkan modal sosial dalam bentuk bantuan saat membangun rumah dan tenaga kerja bangunan untuk bekerja di proyek Pak Sud. Pemilihan alokasi tenaga kerja rumahtangga untuk tinggal di rumah juga dilandasi oleh alasan praktis seperti biaya hidup di perantauan, pengasuhan anak, dan tempat tinggal di perantauan, namun anggota rumahtangga yang ditinggal kemudian berperan sebagai pencari tenaga kerja bangunan dan pembangun modal sosial yang dibutuhkan rumahtangga Pak Sud.
Pak Sud membangun hubungan kerja antara pekerja bangunan di Desa Padabeunghar dan mengambil keuntungan dari hubungan kerja tersebut. Hubungan kerja yang dibangun oleh Pak Suh didasarkan pada perasaan sebagai satu komunitas. Pak Sud hanya mengajak tenaga kerja yang berasal dari Desa Padabeunghar untuk proyek yang diperoleh Pak Sud. Pak Sud cukup menitip pesan pada pekerja yang pulang atau pada Bu Ac jika membutuhkan tenaga kerja baru. Hubungan kerja ini tidak dapat terbangun jika Pak Suh bukan anggota komunitas Desa Padabeunghar dan tidak mengalokasikan tenaga kerja rumahtangga untuk membangun modal sosial di Desa Padabeunghar.
Bagi rumahtangga Pak Sud pemenuhan kebutuhan hidup diperoleh dari
remittance. Pak Sud tidak mengalokasikan tenaga kerja rumahtangga untuk mendapatkan lahan garapan di lahan hutan Perhutani atau di lahan kebun karet. Kebutuhan konsumsi yang dapat diperoleh dari hasil pertanian seperti beras, bumbu dan sayur -sayuran diperoleh dari membeli. Bu Ac istri Pak Sud tinggal di Desa Padabeunghar tidak melakukan aktivitas nafkah menggunakan modal alami atau peluang pekerjaan. Bu Ac dialokasikan untuk melakukan aktivitas nafkah membangun dan menggunakan modal sosial. Ini menunjukkan rumahtangga tidak terlepas dari kelembagaan dan ikatan sosial selama tinggal di wilayah Desa Padabeunghar.
6.2.2 Strategi nafkah Basis Modal Sosial: Rumahtangga Bu Ut
Diantara rumahtangga yang tidak menjadikan modal alami sebagai sumber nafkah utama, beberapa rumahtangga hidup dengan mengandalkan strategi nafkah berbasis modal sosial. Rumahtangga Bu Ut merupakan salah satu rumahtangga yang mengandalkan modal sosial sebagai sarana memenuhi kebutuhan hidup.
Rumah tangga Bu Ut memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan membuka warung. Warung merupakan sarana simpan pinjam informal penting di Desa Padabeunghar. Warung merupakan tempat rumahtangga mendapatkan kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi dari hasil sawah dan lahan garapan. Warung membuka peluang rumahtangga untuk mendapatkan barang dan membayar saat memiliki uang, benda yang tidak setiap saat dimiliki rumahtangga petani di Desa Padabeunghar. Warung di Desa Padabeunghar dapat berjalan jika pem ilik warung membuka peluang untuk meminjam dan pemilik warung memiliki hubungan baik dengan pelanggan.
Suami Bu Et bekerja sebagai tukang. Kelembagaan sosial babantu
membuka peluang orang yang bekerja sebagai tukang tetap mendapatkan upah dari orang yang membangun rumah. Suami Bu Ut juga dapat menggunakan hubungan dengan tenaga kerja bangunan lain untuk bekerja di Jakarta sebagai
tukang.
Gambaran strategi nafkah berbasis modal sosial dapat diamati pada strategi nafkah rumahtangga Bu Ut.
Bu Ut, 43 tahun, adalah pemilik warung yang berada di dekat rumah Bi En. Bu Ut memiliki empat orang anak. Dua orang anak terbesar meninggal saat berusia 2 thn dan 9 bulan. Anak ketiga sekarang telah menikah sedangkan anak terkecilnya baru duduk di kelas tiga SMP. Bu Ut sengaja menunda kelahiran anak keempatnya agar ia dapat menabung untuk membangun rumah.
Suami Bu U, 45 tahun, adalah seorang tukang. Jika tidak ada pekerjaan di Desa Padabeunghar, suami Bu Ut akan pergi merantau. Jika tidak ada pekerjaan di perantauan, suami Bu Ut akan bekerja sebagai tukang pada pembangunan rumah di Desa Padabeunghar. Suami Bu Ut mendapatkan upah sebagai tukang sebesar Rp. 35.000,-. Jika bekerja pada saudara atau tetangga suami Bu Ut memberikan potongan upah satu atau dua hari kerja untuk mengganti babantu. Selain mendapat upah, suami Bu Ut mendapatkan kiriman makanan berupa nasi dan lauk -pauk setiap kali bekerja sebagai tukang di Desa Padabeunghar.
Bu Ut telah membuka warung selama sembilan tahun. Membuka warung di Desa Padabeunghar harus sabar. Seringkali pembeli tidak membayar apa yang dibeli atau disebut “ngahutang”. Ngahutang sudah sangat biasa dilakukan di Desa Padabeunghar. Dari semua pelanggan Bu Ut hanya tiga orang nenek-nenek yang tidak pernah ngahutang. Ibu-ibu ngahutang jika tidak memiliki uang untuk belanja atau karena uang yang dibawa tidak cukup untuk membayar harga barang yang dijual. Utang-utang tersebut ditulis dalam lembaran kertas yang dibuat Bu Ut dari potongan dus rokok. Jika catatan utang tersebut telah banyak maka catatan tersebut dipindahkan ke dalam buku catatan utang.
Pembayaran utang sangat tergantung dari kesadaran orang yang meminjam. Pembayaran bisa dilakukan pada saat belanja berikutnya, setiap bulan, bahkan setiap tahun. Bagi yang memiliki gaji veteran, pemba yaran utang biasanya dilakukan pada saat gajian (setiap bulan). Bagi istri perantau, pembayaran utang dilakukan setiap kali suami datang merantau. Utang yang sampai tahunan belum di bayar dianggap utang bermasalah. Bu Ut memiliki catatan khusus tentang orang-orang yang susah membayar utang. Orang seperti itu akan marah jika ditagih dan tidak membayar jika dibiarkan. Bahkan Bu Ut memiliki satu orang pembeli yang sejak warung dibuka sampai sekarang belum pernah membayar utang.
Bu Ut akan menagih langganan yang tidak membayar utang jika orang tersebut datang ke warung. Pelanggan yang tidak mau membayar utang tidak kembali belanja ke warung karena merasa malu. Bu Ut akan menagih utang ke rumah pelanggan yang membandel tersebut. Jika setelah ditagih pengutang tidak mau membayar, maka Bu Ut akan menghentikan pemberian utang. Orang yang sudah ditolak meminjam di warung Bu Ut akan pindah ke warung lain dan kembali meminjam di warung tersebut.
Ada delapan warung di Desa Padabeunghar dan hanya satu warung yang tidak memberi kesempatan meminjam. Warung tersebut dimiliki oleh Mang Dadang seorang perantau yang berasal dari Kramat. Warung Mang Dadang paling besar dan lengkap diantara warung-warung lain di Desa Padabeunghar. Pembeli hanya akan membeli ke warung Mang Dadang jika memiliki uang dan barang yang akan dibeli tidak ada di warung Bu Ut atau jika harga yang ditawarkan lebih murah.
Kebiasaan meminjam itu dirasa berat oleh Bu Ut, namun, Bu Ut tidak akan berhenti berjualan. Jika warung tutup mungkin uang yang sudah diutang tidak akan kembali. Bu Ut juga merasakan tambahan pendapatan dari warung. Jika ditambah dengan pendapatan tukang suami Bu Ut, pendapatan itu cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, sekolah anak dan menabung untuk memperbaiki rumah.
Beberapa orang pelanggan menyimpan uang untuk keperluan belanja berikutnya. Seorang guru langganan Bu Ut, biasa menyimpan uang Rp. 10.000,-, 20.000,- atau 50.000,-. dengan cara tidak mengambil uang kembalian belanja. Uang
tersebut disimpan untuk keperluan belanja berikutnya. Orang seperti itu disebut orang baik atau “nu bageur” oleh Bu Ut. Selain itu penyimpanan uang biasanya dilakukan oleh orang yang akan hajatan/membangun rumah. Mereka akan menyimpan uang pada saat ia punya dan menitipkan uang tersebut untuk pembelian barang-barang yang dibutuhkan saat hajatan/membangun rumah. Uang tersebut ditukarkan dengan barang yang dimaksud dengan harga warung Bu Ut. Bu Ut senang jika ada tetangga yang menitipkan uang. Bu Ut akan mendapatkan untung dari pembelian dalam jumlah besar.
Warung Bu Ut selalau ramai dijadikan tempat berbincang- bincang ibu-ibu. Ibu- ibu tersebut tidak selalu berbelanja mereka hanya duduk di teras rumah Bu Ut dan berbincang-bincang. Bu Ut selalu senang menerima kehadiran ibu-ibu tetangga untuk berbincang-bincang, selain mendapatkan teman menunggu warung, ibu-ibu tersebut sering membeli makanan kecil dan jajanan anak sewaktu berbincang-bincang. Memebuka warung membutuhkan kedekatan dengan pembeli, jika terlalu perhitungan dan tidak ramah maka pembeli akan pindah ke warung lain.
Bu Ut sebenarnya memiliki empat tempat kebon, namun ia lebih senang berjualan dari pada pergi ke kebon. Suami Bu Ut juga hanya pergi ke kebon untuk mencari kayu bakar atau jika ada buah yang harus dipetik. Kebon diperoleh dari warisan orang tua Bu Ut dan orang tua Suami Bu Ut. Kebon berperan untuk menyediakan kayu bakar dan bahan bangunan yang dibutuhkan untuk membangun atau memperbaiki rumah.
Modal sosial menjadi keuntungan dan juga beban bagi rumahtangga Bu Ut. Kebiasaan meminjam memberi keuntungan dengan menambah pelanggan namun juga merugikan karena mengurangi jumlah uang untuk membeli barang- barang persediaan warung. Jika tidak ada pelanggan, barang-barang yang dijual di warung Bu Ut tidak akan terjual dan warung Bu Ut tidak dapat terus berjualan, namun jika pelanggan yang mengutang bertambah, Bu Ut tidak mendapatkan keuntungan dari barang yang telah dijual.
Sifat hubungan sosial dalam kehidupan sehari-hari dibawa ke dalam hubungan transaksi jual beli di warung. Hubungan simpan pinjam menjadi tidak jelas karena didasari oleh rasa tidak enak, takut menyinggung, yang dipengaruhi dan mempengaruhi hubungan sehari-hari sebagai tetangga atau saudara. Keputusan untuk menghentikan pinjaman yang terus-menerus beresiko menghentikan hubungan pertetanggaan atau persaudaraan.
Hubungan kerja antara tukang dan pengguna jasa tukang lebih jelas. Upah tukang telah disepakati dalam aturan “tahu sama tahu”. Jumlah hari babantu yang berarti bekerja tanpa dibayar pun telah terbentuk melalui kesepakatan umum, yaitu dua atau tiga hari. Ikatan sosial yang lebih nyata terjadi pada hubungan pekerjaan antara suami Bu Ut dengan supplier atau dengan pekerja bangunan lain yang tinggal dalam satu mess. Ikatan kerja tersebut harus tetap dijaga jika ingin
tetap mendapatkan pekerjaan dari supplier, meskipun tidak ada kontrak yang mengikat dan tidak ada sanksi jika memilih pekerjaan di tempat lain.
Bu Ut tetap memilih membuka warung dari pada menggarap kebon milik atau membuka lahan garapan meskipun menghadapi resiko kerugian. Aktivitas nafkah menggunakan modal alami dianggap berat. Bu Ut memilih mendapatkan sedikit keuntungan tetapi dapat tinggal di rumah dan berbincang-bincang dengan ibu-ibu yang datang ke warung. Ini menunjukkan jika ada alternatif untuk memilih sumbe r nafkah, modal alami menjadi pilihan terakhir.
6.2.3 Strategi nafkah Basis Pekerjaan di dalam Desa: Rumahtangga Pak Bd
Salah satu sumber nafkah yang dapat menyebabkan rumahtangga tidak tergantung pada modal alami adalah peluang kerja di dalam desa. Peluang ker ja di dalam desa membuka peluang untuk mendapatkan pendapatan uang dan tetap tinggal di Desa Padabeunghar. Pekerjaan Pak Bd sebagai mandor hutan menyebabkan Pak Bd memperoleh gaji tetap yang diterima setiap bulan. Pendapatan uang tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari- hari.
Gaji menjadi sumber pendapatan utama rumahtangga. Pak Bd memilih tidak membuka lahan garapan di lahan hutan Perhutani atau lahan kebun karet dan menyerahkan penggarapan sawah warisan miliknya pada buruh tani. Pemilihan peluang kerja sebagai sumber nafkah dan mengabaikan modal alami merupakan pola umum pilihan pekerjaan di Desa Padabeunghar.
Pak Bd, 35 tahun, bekerja sebagai mandor Perhutani. Pak Bd menikah dengan Ceu Yy, 32 tahun dan memiliki dua orang anak Angga, 23 bulan dan Gala kelas lima SD. Struktur rumah tangga Pak Bd dapat diamati pada gambar berikut:
Pak Bd mendaftar menjadi mandor hutan selepas SMA. Setiap warga desa yang berbatasan dengan hutan Perhutani mendapat kesempatan mendaftar menjadi mandor
Pak Bd Ceu Yy
Angga Gala
hutan. Di Desa Padabeunghar ada empat orang warga termasuk Pak Bd yang menjadi mandor hutan.
Tugas Pak Bd sebagai mandor tanam adalah melakukan pembibitan pohon yang akan ditanam di lahan huta n. Pak Bd juga bertugas melakukan penanaman pohon. Lokasi pembibitan pohon terletak di depan SD Padabeunghar, tidak menguntungkan bagi Pak Bd, karena Pak Bd harus berjalan 3-11 kilometer ke lokasi penanaman. Pak Bd membayar buruh tani untuk melakukan penanaman dengan menggunakan dana dari program banjar harian, suatu program penanaman lahan hutan yang melibatkan penduduk desa sekitar hutan sebagai tenaga kerja penanaman pohon.
Jika melakukan pembibitan Pak bd akan mengajak Ceu Yy. Ceu Yy akan mengajak ibu-ibu yang lain untuk ikut mengisi tanah di polybag dengan upah Rp. 10,- setiap polybag. Ceu Yayah rata-rata mendapatkan Rp. 28.000, - per hari jika ada pengisian polybag. Ceu Yayah biasanya mendapatkan hasil terkecil karena harus menyiapkan polybag, mengambil polybag ke rumah jika kehabisan dan mengatur penyimpanan polybag.
Pak Bd mengetahui tentang galian C di Blok Cirendang dan sekitar jalan menuju Kiara. Namun Pak Bd memilih untuk tidak menegur orang yang membuat galian C atau melaporkan pembuatan galian C tersebut ke Perhutani KPH Caracas. Pak B d tidak melakukan tugasnya karena didasari oleh alasan “karunya, masih salembur, abdi oge diteunggeul batur nyeri, nya ulah neunggeul batur” --- kasihan masih satu desa, saya juga dipukul orang lain sakit, maka saya tidak akan memukul orang lain.
Pak Bd mendapatkan rokok, uang atau makanan dari mahasiswa atau orang dari luar Desa Padabeunghar yang meminta Pak Bd untuk mengantar ke lahan hutan Perhutani. Program PHBM yang dilaksanakan di Desa Padabeunghar membuat Desa Padabeunghar didatangi oleh LSM dalam dan luar negeri atau mahasiswa yang melakukan penelitian tentang PHBM.
Gaji yang diterima Pak Bd sebagai mandor tanam adalah Rp 700.000, - per bulan. Gaji sebesar itu terasa cukup jika Pak Bd bertugas di Desa Padabeunghar. Pak Bd tidak perlu menyediakan uang untuk dua rumah, dirinya dan Ceu Yy istri yang ditinggal di Desa Padabeunghar. Pak Bd hanya datang sekali atau dua kali ke Caracas untuk pengarahan atau ke Pasawahan untuk koordinasi dengan mandor yang lain sehingga Pak Bd dapat mengurangi biaya transportasi yang menyita anggaran rumahtangga Pak Bd.
Pak Bd pernah bertugas di Ciledug, berjarak sekitar 45 km dari Desa Padabeunghar, sebelum ditempatkan di Desa Padabeunghar. Ceu Yy tetap tinggal di Desa Padabeunghar selama Pak Bd bertugas di Ciledug. Ceu Yy menganggap biaya hidup di Ciledug terlalu besar. Di Ciledug, semua barang harus dibeli sedangkan di Desa Padabeunghar, Ceu Yy dapat memperoleh barang-barang tersebut dengan meminta atau meminjam dari tetangga atau saudara.
Ceu Yy lebih sukatinggal di Desa Padabeunghar. Persaudaraan antar warga Desa Padabeunghar sangat erat. Setiap orang dapat merasakan makanan yang tidak