RUMAHTANGGA DAN PENYERAPAN TENAGA KERJA
6.1. Struktur Pendapatan Rumahtangga dan Ketenagakerjaan
Keberhasilan pembangunan ekonomi suatu negara, salah satunya dapat dilihat dari laju pertumbuhan ekonomi yang positif, dimana pertumbuhan ekonomi tersebut merupakan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas yang mampu menciptakan pemerataan dan peningkatan pendapatan masyarakat serta terbukanya kesempatan kerja yang luas bagi masyarakat. Menurut Hess dan Ross (2000), pertumbuhan ekonomi yang tidak berkualitas merupakan bentuk dari
growth without development. Lebih jauh Todaro (2000) menyatakan bahwa pertumbuhan yang tidak berkualitas hanya menciptakan kesenjangan pendapatan antar golongan pendapatan masyarakat, akibatnya kemiskinan yang menjadi faktor penghambat pembangunan sulit untuk dituntaskan.
Berdasarkan landasan pemikiran tersebut, maka pemerintah sudah seharusnya memberikan perhatian lebih terhadap sektor-sektor yang tidak hanya memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi yang jauh lebih penting sektor tersebut dapat meciptakan lapangan pekerjaan yang luas bagi masyarakat dan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat, terutama masyarakat golongan pendapatan rendah.
Pada pembahasan ini akan diuraikan bagaimana struktur pendapatan rumahtangga menurut golongan pendapatan dan wilayah serta struktur ketenagakerjaan di Indonesia berdasarkan tabel input - output Miyazawa Tahun 2008.
6.1.1. Struktur Pendapatan Rumahtangga
Pada Gambar 18 diperoleh informasi bahwa secara keseluruhan rumahtangga di Indonesia sebagian besar merupakan rumahtangga golongan pendapatan rendah yaitu sekitar 46.5 persen, sedangkan rumahtangga golongan pendapatan sedang sekitar 40.0 persen dan hanya sekitar 13.5 persen merupakan rumahtangga berpendapatan tinggi. Rumahtangga pendapatan rendah sebagian besar berada di wilayah perdesaan yaitu sekitar 25.4 persen dari 46.5 persen rumahtangga pendapatan rendah di Indonesia. Sementara itu, rumahtangga pendapatan sedang dan tinggi sebagian besar berada di perkotaan masing-masing sekitar 25.0 persen dan 10.6 persen.
0.0 5.0 10.0 15.0 20.0 25.0 30.0 35.0 40.0 45.0 50.0 Pendapatan Rendah Pendapatan Sedang Pendapatan Tinggi 21.1 25.0 10.6 25.4 15.0 2.9 46.5 40.0 13.5 P ro p o rs i P e n d p a ta n ( % ) Kota Desa Kota + Desa
Sumber : Tabel Input - Output Miyazawa Tahun 2008
Gambar 18. Struktur Pendapatan Rumahtangga Menurut Golongan Pendapatan dan Wilayah di Indonesia Tahun 2008
Adanya kesenjangan pendapatan antar wilayah dan masih besarnya rumahtangga berpendapatan rendah mengindikasikan masih banyaknya rumahtangga miskin yang sangat rentan terhadap goncangan. Jebakan kemiskinan akibat pendapatan rendah, menyebabkan banyaknya rumahtangga miskin tetap berada dalam lingkaran kemiskinan yang permanen.
Pertumbuhan ekonomi tidaklah cukup untuk mengatasi masalah kemiskinan dan kesenjangan pendapatan. Oleh karena itu, disamping terus meningkatkan pertumbuhan ekonomi juga perlu diimbangi dengan intervensi kebijakan yang terarah dan efektif. Implikasinya, pemerintah perlu membuat suatu kebijakan anti kemiskinan yang bersifat bottom-up, menyeluruh dan konsisten diantaranya dengan cara memperluas kesempatan kerja melalui pengembangan sektor – sektor berbasis perdesaan dan mampu menyerap tenaga kerja besar.
Berdasarkan uraian di atas, maka terkait dengan tujuan penelitian ini terdapat permasalahan yang ingin dijawab yaitu seberapa besar pertumbuhan atau peningkatan output sektor-sektor berbasis kehutanan berdampak terhadap peningkatan pendapatan rumahtangga pada berbagai golongan pendapatan, sehingga dapat diketahui peranan sektor-sektor berbasis kehutanan terhadap permasalahan kesenjangan distribusi pendapatan rumahtangga di Indonesia.
6.1.2. Struktur Ketenagakerjaan
Menurut Yudhoyono dan Boediono (2009), permasalahan utama dalam pasar kerja Indonesia yang hingga saat ini belum dapat ditangani sepenuhnya antara lain (1) persentase sektor informal yang relatif tinggi, (2) adanya kesenjangan upah antara sektor formal dengan sektor informal, (3) adanya kecenderungan peningkatan pengangguran terbuka pada kelompok usia muda dan (4) penurunan produktivitas tenaga kerja, terutama di sektor manufaktur.
Upaya mengatasi masalah tersebut bukanlah hal yang mudah mengingat kompleksitas permasalahan ketenagakerjaan terkait dengan banyak aspek. Dengan mempertimbangkan kondisi perekonomian nasional saat ini yang baru berangsur pulih akibat dampak krisis ekonomi global, maka dalam jangka pendek setidaknya
pemerintah harus memprioritaskan penanganan masalah pengangguran yang cenderung meningkat dengan menciptakan lapangan kerja baru. Upaya tersebut harus dilakukan melalui integrasi kebijakan makro-mikro, diantaranya melalui perbaikan iklim investasi di pusat maupun di daerah sehingga kesempatan kerja baru dapat tercipta serta pemihakan kepada perbaikan kesempatan berusaha untuk sektor usaha kecil dan menengah sebagai tiang penyerap tenaga kerja Indonesia selama ini.
Tabel 11. Jumlah Pekerja Menurut Lapangan Usaha, Golongan Pendapatan dan Wilayah di Indonesia Tahun 2008
(ribu orang)
Sektor Pendapatan Rendah Pendapatan Sedang Pendapatan Tinggi
Kota Desa Kota Desa Kota Desa
Pertanian 4 616 26 452 1 390 8 919 333 979
Pertambangan dan
Penggalian 57 257 134 290 195 129
Industri Pengolahan 2 575 1 969 4 486 1 904 1 308 199 Listrik, Gas, Air
Bersih 26 14 56 29 64 19 Bangunan 625 747 1 407 1 491 300 164 Perdagangan, Hotel, Restoran 5 399 2 268 8 343 2 056 2 416 203 Angkutan dan Komunikasi 929 771 1 856 1 036 1 129 294
Keuangan dan Jasa
Perusahaan 161 61 463 148 541 65
Jasa-Jasa 2 879 1 689 2 629 1 260 3 089 1 232
Total 17 267 34 228 20 762 17 133 9 376 3 283
Sumber : Badan Pusat Statistik, 2008a
Pada Tabel 11, secara sektoral terlihat jumlah pekerja di Indonesia pada tahun 2008 sebagian besar bekerja di sektor pertanian, perdagangan dan industri pengolahan. Pada sektor pertanian, jumlah tenaga yang terserap pada tahun 2008 sejumlah 42.7 juta orang dari 102 juta orang atau sekitar 41.8 persen. Sementara di sektor perdagangan, jumlah tenaga kerja yang terserap sejumlah 20.7 juta orang
atau sekitar 20.1 persen. Sedangkan di sektor industri pengolahan, jumlah tenaga kerja yang terserap sejumlah 12.4 juta orang atau sekitar 12.2 persen.
Berdasarkan data tersebut nampak jelas bahwa sektor pertanian sebagian besar merupakan sektor informal dengan skala usaha kecil dan menengah dan berada sebagian besar di wilayah perdesaan. Sama halnya pada sektor perdagangan, hotel dan restoran, khususnya sektor perdagangan dan restoran sebagian besar juga merupakan sektor informal dengan skala usaha kecil dan menengah yang tersebar luas di wilayah perkotaan. Sementara pada sektor industri pengolahan, seperti industri kayu gergajian, industri meubel dan kerajinan, juga merupakan kelompok industri yang sebagian besar berskala kecil dan menengah dan bersifat informal. Sektor-sektor penyerap tenaga kerja besar tersebut harus mendapat perhatian khusus dari pemerintah untuk terus dikembangkan khususnya dalam rangka mengatasi masalah pengangguran.
Terkait dengan pemikiran tersebut, maka dalam penelitian ini mencoba menganalisis bagaimana peranan sektor-sektor berbasis kehutanan terhadap
penyerapan tenaga kerja dalam rangka mengatasi masalah pengangguran di Indonesia apabila terjadi pertumbuhan atau peningkatan output pada
sektor-sektor berbasis kehutanan.
6.2. Dampak Peningkatan Output Sektor Berbasis Kehutanan Terhadap