VIII. Arah Kebijakan Energi Terbarukan Nuklir
2.4. Tinjauan Studi Empiris
2.4.1. Studi Konsep Pertumbuhan Ekonomi dan Energ
Peranan energi dalam pertumbuhan ekonomi secara jelas dipaparkan dalam artikel yang ditulis oleh Stern (2003), Alam (2006), Momete (2007), dan Ramos-Martini dan Ortega-Cerdà (2003). Pada prinsipnya keempat penulis ini memaparkan tentang peranan penting dari energi dalam mendorong pertumbuhan energi suatu negara. Rumusan dari artikel tersebut dijelaskan berikut ini.
Artikel yang ditulis Stern (2003) menjelaskan hubungan antara energi dan pertumbuhan ekonomi dan menjelaskan peranan energi dalam produksi perekonomian. Ketika ilmuan bisnis dan keuangan memberikan perhatian yang signifikan terhadap dampak harga minyak dan harga energi lainnya terhadap aktivitas perekonomian, teori pertumbuhan eknomi Neoklasik tidak memberikan perhatian (perhatian yang kecil) terhadap peranan energi atau sumber-sumber energi natural dalam mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Para ilmuan ekonomi sumberdaya dan ekologi mengkritik teori tersebut, khusunya sehubungan dengan implikasi termodinamika untuk produksi ekonomi dan prospek perekonomian jangka panjang.
Ketika model alternatif menjelaskan bahwa proses pertumbuhan tidak bekerja dalam ekonomi Neoklasik, hasil studi empiris menunjukkan peranan energi dalam proses pertumbuhan. Hasil temuan utama menunjukkan bahwa adalah penggunaan energi per unit output ekonomi menurun, tetapi terjadi pergeseran energi yang besar dari penggunaan secara langsung bahan bakar fosil seperti batubara ke penggunaan bahan bakar yang berkualitas lebih tinggi, khususnya listrik. Ketika pergeseran ini terjadi dalam komposisi penggunaan energi final ditempatkan dalam penggunaan neraca energi dan level aktivitas ekonomi ditemukan masalah ganda. Ketika hal ini dan trend lainnya ditempatkan dalam neraca, prospek pengurangan penggunaan energi dalam aktivitas ekonomi menjadi terbatas (Stern, 2003).
Berangkat dari teori ekonomi Neoklasik, Alam (2006) membangun sebuah alternatif konsep ekonomi yang memasukkan energi bersama-sama dengan kapital, tenaga kerja, dan teknologi sebagai faktor produksi. Dinyatakan bahwa
konstruk ekonomi Neoklasik dibangun berdasarkan tiga faktor produksi: kapital, tenaga kerja dan teknologi. Produksi pada awal setiap periode menggunakan kapital, tenaga kerja dan teknologi dalam tertentu. Kapital pada priode-periode awal merupakan proporsi dari output perekonomian ditentukan oleh priode sebelumnya. Para ilmuan Neoklasik secara umum tidak tegas tentang bagaimana tenaga kerja diproduksi atau direproduksi; mereka mengasumsikan pertumbuhannya eksogen. Teknologi digambarkan sebagai cadangan ketersediaan ilmu pengetahuan untuk suatu perekonomian. Pengetahuan diwujudkan dalam mesin-mesin, keahlian manusia, atau ditempatkan dalam bentuk kode-kode dan tatanan sosial.
Lebih lanjut dinyatakan bahwa kekosongan dari neraca perekonomian Neoklasik adalah tidak dimasukkannya energi sebagai kekuatan primer yang mengendalikan seluruh aktivitas ekonomi. Cukup meyakinkan, energi masuk dalam ekonomi neoklasik sebagai effort dari tenga kerja, tetapi sumberdaya energi telah mengalami penurunan secara tajam selama dua decade terakhir. Energi dari sumberdaya non manusia, seperti batubara, minyak, listrik, pangan atau pupuk, masuk dalam perekonomian hanya sebagai input intermediet, dan masuk dalam neraca pendapatan nasional suatu negara sebagai nilai tambah dalam sektor energi. Cukup sederhana, energi bukan merupakan faktor produksi. Dengan kata lain, ilmu ekonomi Neoklasik membangun ketidakseimbangan antara ekonomi dan ekologi. Ekonomi neoklasik berada dalam kondisi isolasi yang baik sekali dari sifat alamiah dan terbebas dari energi.
Diantara sejumlah ilmuan ekonomi, Georgescu-Roegen (1972 dan 1976) adalah yang pertama kali memberikan komentar terhadap diabaikannya energi
dalam teori ekonomi. Dia menyatakan bahwa ilmuan ekonomi Marxists dan Neoklasik tersamar dari sifat alamiah; mereka menempatkan aliran sumberdaya dan energi sebagai suatu yang pasti dan terhindar dari pemborosan output perekonomian. Georgescu-Roegen (1976) berargumen bahwa dalam ilmu ekonomi standar tidak dikenal apa yang disebut dengan “terrestrial resources of energy and materials are irrevocably used up and the harmful effects of pollution on the environment accumulate.” Para ahli ekonomi optimis tentang peluang tiada akhir dari pertumbuhan yang mengabaikan sifat alamiah dari kalkulusnya. Mengacu pada pendapatan Georgescu-Roegen dan lainnya, wajah baru dari ilmu ekonomi ekologi dijabarkan dengan cara yang berbeda dengan memasukkan sejumlah batasan terhadap pertumbuhan.
Paper yang ditulis Alam (2006) bertujuan untuk menempatkan sifat-sifat dasar dari suatu perekonomian dengan energi sebagai kekuatan pengendali dibalik seluruh aktivitas ekonomi. Dengan fokus terhadap energi, perekonomian harus dipandang sebagai suatu sistem aliran energi, sebuah kesuksesan dalam mengkonversi energi, yang masuk dalam proses produksi barang dan jasa. Dengan adanya pemikiran ini diharapkan dapat mengubah pemahaman kita tentang tenaga kerja dan kapital sebagai sumber pertumbuhan. Gambaran yang difokuskan pada energi mampu menfasilitasi pemahaman yang lebih baik tentang revolusi industri dan pencetusan dalam pertumbuhan ekonomi telah dihasilkan sejak abad ke-19.
Sebagai resume utama dari artikel ini, Alam (2006) menyatakan bahwa:
Pertama, sketsa perekonomian sebagai suatu sistem energi akan membantu memecahkan perbedaannya dengan pendekatan ekonomi Neoklasik dalam fungsi produksi agregat. Ekonomi berisikan aliran produksi energi dan aktivitas-aktivitas
penggunaan energi. Energi adalah sentral untuk perekonomian tersebut karena mengendalikan seluruh aktivitas ekonomi. Ini menfokuskan pada energi sebagai sumber yang bersifat mendasar, untuk aktivitas konversi dan mengkonversi kembali energi tersebut, dan terakhir untuk aktivitas-aktivitas yang menggunakan energi untuk memproduksi barang dan jasa. Sampai abad ke-19, seluruh perekonomian menggunakan energi yang bersumber dari sumber-sumber organik. Setelah dua dekade berlalu, terjadi transisi sumber energi dari sumber-sumber organik menjadi anorganik, terutama sekali bahan bakar fosil.
Kedua, para ilmuan ekonomi Neoklasik mengabaikan energi dalam perekonomian, yang memisahkan ekonomi dari ekologi atau sumber-sumber energi. Ini ditangkap dalam konsep fungsi produksi, sebuah pemetaan dari faktor- faktor yang hanya memasukkan tenaga kerja dan kapital untuk menghasilkan output, serta teknologi. Sebagai hasilnya, neraca pertumbuhan ekonomi Neoklasik disajikan dalam bentuk pertumbuhan kapital, tenaga kerja, dan teknologi. Energi tidak memainkan peranan dalam pertumbuhan dan sumber-sumber pertumbuhan.
Ketiga, pengabaian energi dalam kerangka pemikiran Neoklasik membuatnya sulit untuk mendefenisikan tenaga kerja dan kapital. Buku teks-buku teks ilmu ekonomi yang ada tidak membantu dan tidak konsisten mendefenisikan ilmu ekonomi. Hal ini tidak mengejutkan ketika tenaga kerja dan kapital memainkan peranan pendukung dalam perekonomian yang hanya dapat dipamahami dalam kaitannya dengan energi. Bersama-sama, mereka menguraikan energi dari sumber-sumber natural, mengkonversi dan mengkonversi kembali sumber-sumber tersebut untuk digunakan dalam aktivitas perekonomian, dan kemudian arah dari aliran penggunaan energi ini untuk memproduksi dan mengkonsumsi barang dan jasa.
Keempat, pengabaian energi dalam fungsi produksi Neoklasik menyimpang dari analisis standar dari pertumbuhan dan sumber-sumber pertumbuhan. Para ilmuan Neoklasik gagal untuk memperkenalkan hal tersebut dalam banyak kasus, pertumbuhan merupakan kecepatan dari aktivitas; jika aktivitas ini menggunakan mesin, jumlahnya dipengaruhi oleh kecepatan mesin. Ini menentukan sebuah arah keterkaitan antara energi dan pertumbuhan: ketika kecepatan selalu tergantung pada penggunaan energi. Ini berarti bahwa pertumbuhan menempatkan penawaran energi sebagai sumber pertumbuhan ekonomi yang sangat diperlukan.
Kelima, pengabaian energi dari kerangka pemikiran ekonomi Neoklasik, dan kegagalannya untuk mengubah hubungan antara energi dan pertumbuhan, berarti mereka tidak menguraikan hubungan dinamik antara penggunaan energi yang lebih besar dan perubahan teknis yang berhubungan dengan ketersediaan energi. Pengenalan energi baru seperti kincir air, kincir angin, mesin penyemprot atau peledak menciptakan suatu kekuatan daya dorong untuk membuat alat bagi pertumbuhan yang bermanfaat dan penyediaan energi yang lebih murah menggantikan energi anorganik untuk lahan dan tenaga kerja. Kerangka pemikiran produksi Neoklasik tidak menjelaskan hubungan ini.
Keenam, analisis standar dari sumber-sumber pertumbuhan bermasalah karena mengasumsikan tenaga kerja homogen. Tenaga kerja seharusnya
dipandang memiliki dua fungsi, yaitu penyediaan energi dan pengawasan aliran energi. Apabila proporsi rata-rata tenaga kerja dikombinasikan dengan energi sebagai fungsi dari pertumbuhan ekonomi, tidak dapat diasumsikan bahwa tenaga kerja adalah faktor homogen dalam konteks pertumbuhan.
Terakhir, para ilmuan ekonomi Neoklasik juga mengalami kekosongan pemikiran yang signifikan dalam hal pembedaan antara perekonomian organik dan perkonomian fosil. Tanpa suatu pemahaman tentang regim energi, mereka gagal untuk membangun sebuah apresiasi yang patut dari sumber-sumber tesebut,
waktu dan kecepatan transpormasi ekonomi yang terjadi sejak awal dekade abad ke-19. Malahan mereka mencoba untuk menjelaskan revolusi industri dalam bentuk perubahan teknis yang menstimulasi temuan-temuan ilmiah. Demikian juga, mereka gagal untuk menguraikan keterbatasan penyediaan energi, yang dihasilkan dari bahan bakar fosil, dalam menstimulasi keberhasilan inovasi dan
pertumbuhan kapital dan keahlian. Untuk alasan yang sama, para ilmuan ekonomi Neoklasik tidak menjelaskan ketidakseimbangan pembangunan dari dua perekonomian dengan keterbatasan energi yang berbeda dalam ekologi mereka.
Senada dengan Stern (2003) dan Alam (2006), artikel yang ditulis oleh Momete (2007) memberikan perhatian pada pentingnya energi untuk pertumbuhan ekonomi dan pembangunan manusia, serta dampaknya terhadap pembangunan berkelanjutan. Dengan pendekatan Trinomial dan analisis trend, dapat dinyatakan bahwa konsumsi energi berdampak negatif terhadap lingkungan, dan pada waktu yang sama berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Sehubungan dengan upaya untuk mengidentifikasi dampak energi secara keseluruhan, dapat dinyatakan bahwa konsumsi energi berkorelasi dengan pertumbuhan ekonomi dan emisi CO2. Lebih lanjut dari paper ini dapat
dinyatakan bahwa pembangunan berkelanjutan harus dirasakan sebagai dimensi lain dari pertumbuhan ekonomi yang hanya dapat dicapai dengan produksi dan penggunaan energi berkelanjutan.
Ramos-Martini dan Ortega-Cerdà (2003) melakukan studi yang didasarkan pada pendapat bahwa wujud dari perekonomian thermodinamika membuka sistem lebih jauh dari keseimbangan, dan ilmu ekonomi lingkungan Neoklasik bukanlah cara yang terbaik untuk menggambarkan perilaku sistem seperti itu. Analisis ekonomi standar melakukan pengembangan, pendekatan prediktif dan deterministik, yang mendorong untuk melakukan kebijakan prediktif untuk mengatasi masalah-masalah lingkungan. Hal ini secara aktual menjelaskan hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan konsumsi pada kondisi hipotesis dematerialisasi, yang dikenal dengan kurva lingkungan Kuznet atau kurva yang berbentuk huruf U terbalik. Ini memperlihatkan kepada kita bahwa karakteristik dari sistem ekonomi mengikuti perilaku yang kompleks, suatu analisis ex-post dalam kerangka ilmu ekonomi ekologi yang lebih tepat, yang menggambarkan perekonomian sebagai sistem non-kontinu dan non-prediktif dan yang memperlihatkan kebijakan sebagai mekanisme pengendalian.
Mengacu pada latar belakang tersebut, Ramos-Martini dan Ortega-Cerdà (2003) menyajikan sejumlah data empiris tentang evolusi intensitas energi untuk negara maju dan negara berkembang. Dalam rangka menguji hipotesis tidak adanya hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan penggunaan energi, disajikan diagram fase intensitas penggunaan energi dari data deret waktu.
Temuan utama dari hasil kajian Ramos-Martini dan Ortega-Cerdà (2003) menyebutkan bahwa dalam kenyataannya perekonomian memperlihatkan perilaku non-linier pada variabel-variabel kunci dan tahapan pembangunan pada level hirarki yang berbeda membentuk hipotesis ‘punctuated equilibrium’ yang bermanfaat pada skala yang lebih tinggi, mengindikasikan suatu sistem
perekonomian yang lebih terbuka pada masa mendatang. Tahapan perilaku intensitas energi menegaskan bahwa hanya dengan mempertimbangkan energi sebagai barang konsumsi dan faktor produksi tidak cukup untuk memahami evolusi perekonomian. Intensitas energi adalah variabel kunci yang dapat digunakan sebagai indikator perubahan struktur sosial ekonomi, struktur keuangan atau hubungan ekonomi-lingkungan. Hal tersebut juga dapat digunakan sebagai indikator dari struktur yang baru. Ketersediaan data dan dukungan teknik analisis konsumsi energi dapat dipandang sebagai persyaratan dan kompleksitas hubungan sistem ekonomi pada masa mendatang.
International Energy Association (IEA) sejak tahun 1993 telah menyediakan proyeksi energi dalam jangka menengah sampai jangka panjang dengan menggunakan World Energy Model (WEM). WEM merupakan konstruk secara matematik skala besar yang dirancang untuk menggambarkan tentang fungsi pasar energi sebagai alat utama yang digunakan untuk menjabarkan secara detail proyeksi sektor per sektor dan wilayah per wilayah untuk kedua referensi skenario dan berbagai skenario kebijakan alternatif. Model yang telah dibangun selama ini dibuat dalam enam modul utama, yaitu: permintaan energi akhir; pembangkit listrik; kilang dan transformasi lain; suplai bahan bakar fosil, emisi CO2, dan investasi seperti pada Gambar 8.
Dari Gambar 8 dapat dinyatakan bahwa asumsi-asumsi eksogen yang utama menekankan pada pertumbuhan ekonomi, demografi, harga bahan bakar fosil internasional, dan perkembangan teknologi. Konsumsi listrik dan harga listrik berhubungan secara dinamis dengan modul permintaan energi final dan pembangkit listrik. Model kilang minyak menproyeksikan keluaran dan
persyaratan kapasitas berdasarkan permintaan minyak global. Permintaan utama bahan bakar fosil berfungsi sebagai input untuk modul penawaran. Neraca energi lengkap dikompilasi di tingkat regional dan emisi CO2 masing-masing daerah
kemudian dihitung menggunakan penurunan faktor-faktor karbon.
Sumber: IEA, 2008
Gambar 8. Gambaran Model Energi Dunia
Dari aspek teknis, parameter dari modul-modul persamaan permintaan diduga dengan menggunakan pendekatan ekonometrika. Untuk memperhitungkan perubahan yang diharapkan secara struktural, kebijakan atau teknologi, penyesuaian parameter-parameter dibuat selama periode pengamatan, menggunakan model dan teknik ekonometrika. Modul permintaan dapat diisolasi dan simulasi dijalankan secara terpisah. Hal ini sangat berguna dalam proses penyesuaian dan analisis sensitivitas yang terkait dengan faktor tertentu.
Dalam WEM, sejumlah asumsi makroekonomi dan kependudukan digunakan sebagai referensi dan skenario kebijakan alternatif. Proyeksi-proyeksi
Modul- Modul Regional Asumsi-Asumsi Eksogen Permintaan Energi Akhir Pembangki Listrik, Kilang Minyak Suplai Energi Fosil
Neraca Energi Regional
dilakukan berdasarkan pada rata-rata harga eceran dari setiap bahan bakar yang digunakan oleh pengguna akhir, pembangkit listrik dan sektor transformasi lainnya. Harga-harga pengguna akhir diturunkan dari asumsi tentang harga internasional bahan bakar fosil. Harga bahan bakar fosil cenderung meningkat dari tahun ke tahun.