Supervisi berasal dari bahasa Inggris supervision dan merupakan paduan dua perkataan yaitu super dan vision. Hal tersebut juga dikemukakan oleh Arikunto (2004) bahwa super berarti “di atas”, dan vision berarti “melihat”, sehingga secara keseluruhan, supervisi diartikan sebagai “melihat dari atas”. Maka supervisi dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan oleh pejabat yang berkedudukan di atas atau lebih tinggi. Menurut Tobing (2011) dari sudut pandang manajeman supervisi merupakan gabungan seni dan keterampilan dalam memanfaatkan upaya-upaya orang lain untuk menyelesaikan tugas (pekerjaan) yang menjadi tanggung jawab menuju sasaran (yang akhirnya akan dicapai) dan juga sebagai rujukan untuk menilai kinerja merekan.
Satori (2004) menyatakan bahwa istilah supervisi dalam pendidikan yang mengacu pada sistem sekolah yang memiliki misi utama memperbaiki dan meningkatkan mutu akademik, karena dalam literatur supervisi tidak dikenal sebutan ‘academic supervision’, namun yang dimaksud adalah ‘instructional
supervision’ atau educational supervision’. Supervisi pendidikan merupakan istilah yang dimunculkan untuk me-reform atau mereorientasi aktifitas kepengawasan pendidikan kita yang dianggap keliru karena lebih peduli pada penampilan fisik sekolah, pengelolaan dana, dan administrasi kepegawaian guru, bukan pada mutu proses dan hasil pembelajaran.
Supervisi adalah semua usaha yang ditujukan pejabat– pejabat sekolah ke arah persiapan kepemimpinan untuk guru dan staf pendidikan lain dalam rangka perbaikan pengajaran. Supervisi meliputi rangsangan terhadap pertumbuhan profesi dan pengembangan guru, bagian dan revisi tujuan – tujuan pendidikan, materi–materi mengajar serta penilaian pengajaran.
Supervisi pendidikan adalah mengadakan pengawasan, mengamati atau membimbing dan menstimulir kegiatan orang lain dengan maksud untuk perbaikan. Supervisi pendidikan dilaksanakan untuk mengadakan pengawasan terhadap jalannya proses pendidikan. Pelaksanaan supervisi pendidikan di sekolah sebagai salah satu aspek dari kegiatan administrtasi pendidikan.
Sagala (2010) menyatakan konsep kepala sekolah sebagai supervisor menunjukkan adanya perbaikan pengajaran pada sekolah yang dipimpinnya, perbaikan ini tampak setelah dilakukan sentuhan supervisor berupa bantuan mengatasi kesulitan dalam mengajar. Dalam konteks profesi pendidikan, khususnya profesi mengajar, mutu proses dan hasil pembelajaran merupakan refleksi dari kemampuan profesional guru (Satori, 2004).
Depdiknas (PMTK) mengelompokkan supervisi pendidikan menjadi : 1) Supervisi manajerial: merupakan tugas dan wewenang sekolah. Esensinya berupa kegiatan pemantauan, penilaian dan pembinaan terhadap kepala dan seluruh aktivitas sekolah lainnya di dalam mengelola, mengadministrasikan dan melaksanakan seluruh aktivitas sekolah dalam rangka mencapai tujuan sekolah serta memenuhi standar pendidikan nasional, sehingga dapat berjalan dengan efektif dan efisien, 2) Supervisi akademik : berkenaan dengan tugas kepala
sekolah atau pengawas untuk membina guru dalam meningkatkan mutu pembelajarannya, sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar.
Pelaksanaan supervisi yang efektif harus bersifat memberi bantuan atau bimbingan. Bantuan yang diberikan kepada guru adalah bantuan dalam usaha meningkatkan kemampuan guru dalam bidang instruksional bukan bantuan dalam bidang lain. Bantuan yang diberikan kepada guru adalah bantuan yang dapat meningktakan kemampuan guru dalam bidang pengajaran, bukan meningkatkan dalam hal mengenai pangkat, karir atau kesejahteraan sosial, karena itu mencakup administrasi personal. Untuk mengatasi semua permasalahan pendidikan di sekolah, maka para guru memerlukan bantuan dan bimbingan dari kepala sekolah antara lain dalam bentuk kegiatan supervisi (Sagala, 2010).
Supervisi menurut Burton dan Brueckner (dalam Sagala, 2008) adalah suatu teknik pelayanan yang tujuan utamanya mempelajari dan memperbaiki secara bersama-sama faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Sementara itu menurut Neagley dalam Sagala (2008) adalah setiap layanan kepada guru-guru yang bertujuan menghasilkan perbaikan instruksional, layanan belajar, dan pengembangan kurikulum.
Subari (1994) mengemukakan bahwa bantuan yang diberikan supervisor kepada guru yang berkenaan dengan usaha meningkatkan kualitas guru dalam aktivitas belajar-mengajar, meliputi: (a) merumuskan tujuan pengajaran, (b) mencari sumber-sumber pengajaran, (c) memilih buku pengajaran, (d) mempersiapkan pengajaran, (e) memahami metodologi pengajaran, (f) menggunakan alat peraga, dan (g) mengevaluasi hasil belajar murid. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dalam buku kurikulum SMA 1975 menyatakan
bahwa supervisi adalah bantuan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik.
Supervisi bukanlah merupakan kegiatan yang perlu dicemaskan oleh guru. Pada sebagian negara maju, supervisi sudah merupakan suatu kebutuhan yang diperlukan guru. Bila guru membutuhkan bantuan, guru meminta untuk didatangi oleh supervisornya. Guru-guru pada umumnya menyukai kegiatan supervisi.
Kepala sekolah dalam menjalankan tugasnya di sekolah bukan hanya sebagai supervisor semata, lebih dari itu ia adalah administrator atau manajer. Oleh karena itu, ia tidak hanya harus menjalankan fungsi pengawasan (controlling), tetapi juga harus menjalankan fungsi-fungsi administrasi atau manajemen lain seperti fungsi perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pengarahan (actuating), pengkoordinasian (coordinating), dan pengarahan (directing), yang dapat diaplikasikan ke dalam kegiatan manajerial pendidikan di sekolah. Saat menjalankan fungsi pengawasan (controlling) yang diaplikasikan dalam pendidikan menjadi supervisi pendidikan, kepala sekolah bertindak sebagai supervisor yaitu mensupervisi pekerjaan yang dilakukan oleh staf.
Supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah bertujuan untuk meningkatkan kemampuan profesional guru dan meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pengajaran yang baik. Ciri –ciri utama supervisi akademik yaitu: (1) supervisi yang diberikan kepada guru berupa bantuan (bukan perintah) sehingga inisiatif terletak di tangan guru, (2) aspek yang disupervisi harus berdasarkan usul guru. Usul tersebut dikaji bersama kepala sekolah (sebagai supervisor) untuk dijadikan kesepakatan, (3) instrument dan metode observasi
dikembangkan bersama oleh guru dan kepala sekolah., (4) umpan balik diberikan segera setelah pengamatan selesai, (5) mendiskusikan hasil analisis dan data hasil pengamatan dengan mendahulukan interpretasi guru, (6) kegiatan supervisi dilakukan secara tatap muka dan dalam suasana terbuka, (7) kepala sekolah sebagai supervisor lebih banyak mendengarkan dan menjawab pertanyaan guru dari pada memberi pengarahan, (8) kegiatan supervisi paling tidak terdiri dari tiga tahap, yaitu pertemuan awal, pengamatan dan pertemuan umpan balik, (9) pemberian penguatan terhadap perubahan perilaku yang positif sebagai hasil pembinaan, (10) dilakukan secara berkelanjutan.
Supervisi adalah suatu usaha supervisor untuk mendorong, mengkoordinasikan dan membimbing guru – guru agar mereka terus bertambah ahli dalam profesinya. Pada masa lalu kegiatan supervisi berlangsung secara otoriter dan lebih bersifat inspeksi yaitu lebih menekankan pada pengawasan, penilaian dan mencari kelemahan – kelemahan. Konsep supervisi sekarang ini mengandung ide kooperatif dan bekerjasama antara para guru dan supervisor untuk memecahkan problema pengajaran. Kepala sekolah sebagai supervisor menjadi seorang penasehat, pembimbing dan pembantu guru. Konsep supervisi dinilai tepat dimana tidak ada lagi jurang pemisah antara supervisor dan guru – guru, pimpinan dan bawahan karena semuanya sederajat, bekerja bersama dalam memecahkan problema pengajaran.
Berdasarkan uraian di atas, maka diambil kesimpulan bahwa supervisi adalah membina guru dalam meningkatkan mutu proses pembelajaran. Indikator supervisi dalam penelitian ini adalah kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran, yang terdiri dari materi pokok dalam proses pembelajaran,
penyusunan silabus dan RPP, pemilihan strategi/metode/teknik pembelajaran, penggunaan media dan teknologi informasi dalam pembelajaran, menilai proses dan hasil pembelajaran serta penelitian tindakan kelas.