• Tidak ada hasil yang ditemukan

5. Lembaga Swadaya Masyarakat

5.2. Dugaan Parameter Persamaan Stuktural

5.2.3. Tenaga Kerja Sektor Pertanian

Persamaan dan pendugaan parameter tenaga kerja di sektor pertanian akan dijelaskan pada Tabel 9 berikut.

Tabel 9. Hasil Pendugaan Parameter Tenaga Kerja di Sektor Pertanian Elastisitas Peubah Penjelas Parameter

Dugaan Nilai Peluang SR LR Intersep 15.48181 0.0471 Tingkat Upah -0.00001 0.0401 -0.12017 -0.36091 Populasi Penduduk 0.005296 0.8437

Lag Tenaga Kerja Pertanian 0.667044 0.0010

R2 = 0.55945 F Hitung = 6.35 DW = 2.858137

Dari hasil estimasi parameter yang dilakukan pada persamaan tenaga kerja di sektor pertanian yang ditunjukkan pada Tabel 9 di atas, dapat diketahui bahwa tingkat upah riil memberikan pengaruh yang negarif pada peubah endogen tenaga kerja di sektor pertanian, hal ini bisa dimaklumi bahwa upah riil yang ada adalah bias di perkotaan. Untuk respon elastisitas dari tingkat upah riil yang dihasilkan baik jangka pendek dan jangka panjang semua memiliki respon inelastis terhadap peubah tenaga kerja di sektor pertanian, yaitu masing -masing adalah (-0.12) untuk jangka pendek dan (-0.36) untuk jangka panjang. Dari hasil nilai elastisitas tersebut dapat diartikan bahwa peningkatan upah riil sebesar satu persen maka akan membawa pengaruh penurunan tenaga kerja d i sektor pertanian sebesar 0.12 persen untuk jangka pendek dan 0.36 untuk jangka panjang. Dan dari hasil pendugaan ini juga diketahui bahwa peubah penjelas ini memiliki pengaruh yang nyata dengan nilai peluang sebesar 0.047.

Hasil estimasi untuk peubah populasi penduduk terhadap penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian memiliki pengaruh yang positif dengan nilai parameter dugaan sebesar 0.005296. Hal tersebut bisa diartikan bahwa dengan peningkatan satu juta penduduk maka akan memberikan tambahan tenag a kerja di sektor pertanian sebanyak 5296 orang.

5.2.4. Harga Komoditas Pertanian

Hasil pendugaan parameter pada harga komoditas pertanian dapat dilihat pada Tabel 10 dibawah ini.

Tabel 10. Hasil Pendugaan Parameter Harga Komoditas Pertanian

Elastisitas Peubah Penjelas Parameter

Dugaan Nilai Peluang SR LR Intersep 1.265338 0.1150 Produksi Pertanian -0.00001 0.1032 -0.12934 -0.37567 Inflasi 0.000275 0.1887 0.000942 0.002736 Nilai Tukar -6.4E-6 0.7364

Impor Komoditas Pertanian -0.00002 0.0931 -0.00667 -0.01936 Lag Harga Komoditas Pertanian 0.655699 0.0235

R2 = 0.98385 F Hitung = 158.38 DW = 1.631848

Dari Tabel 10 di atas dapat diketahui bahwa produksi pertanian, nilai tukar dan impor komoditas pertanian memberikan respon yang negatif terhadap harga komoditas pertanian. Sedangkan untuk peubah inflasi memberikan pengaruh yang positif terhadap peningkatan harga komoditas pertanian. Secara keseluruhan tingkat respon elastisitas dari masing-masing peubah penjelas terhadap harga komoditas pertanian memberikan respon inelastis baik jangka panjang maupun jangka pendek.

Peubah produksi pertanian memberikan respon elastisitas sebesar (-0.13) dalam jangka pendek dan (-0.38) dalam jangka panjang, hal ini berarti dengan

peningkatan produksi pertanian sebanyak satu persen maka akan berakibat menurunnya harga komoditas pertanian sebesar 0.13 persen dalam jangka pendek dan 0.38 persen untuk jangka panjang. Peubah produksi pertanian dalam persamaan ini memiliki pengaruh yang nyata terhadap harga komoditas pertanian dengan nilai peluang 0.1 jauh dibawah 0.25 sebagai nilai toleransi.

Sementara itu untuk impor komoditas pertanian juga memiliki pengaruh negatif terhadap harga komoditas pertanian dengan nilai elastisitas sebesar (-0.007) untuk jangka pendek dan (-0.019) untuk jangka panjang. Hal ini berarti dengan adanya peningkatan impor komoditas pertanian maka akan menurunkan tingkat harga di dalam negeri sebesar 0.007 persen dalam jangka pendek dan 0.019 dalam jangka panjang. Dari hasil perhitungan elastisitas tersebut dapat diketahui bahwa dengan adanya impor akan memberikan keuntungan pada konsumen, namun disatu sisi akan merugikan produsen. Pada peningkatan satu persen dari nilai impor hal ini masih bisa ditoleransi karena hanya memberikan dampak elastisitas yang kecil terhadap harga, namun apabila perilaku impor komoditas pertanian mengalami peningkatan yang sangat tinggi maka akan merugikan petani selaku produsen, karena harga komoditas pertanian yang dihasilkan akan jatuh.

Sedangkan untuk tingkat inflasi memberikan respon yang positif terhadap peningkatan harga komoditas pertanian masing-masing dengan respon elastisitas sebesar (0.0009) dalam jangka pendek dan (0.003), artinya dengan adanya kenaikan inflasi satu persen maka akan berakibat pada meningkatnya harga komoditas pertanian sebesar 0.0009 persen dalam jangka pendek dan 0.003 persen dalam jangka panjang.

Jika dilihat dari besaran nilai statistik R2 = 0.98, artinya semua peubah penjelas mampu menjelaskan peubah endogennya sebesar 98 persen sedangkan dua persen lagi dijelaskan oleh faktor lain di luar persamaan, dengan nilai statistik F Hitung = 158.38. Dengan kata lain, bahwa persamaan tersebut mampu menjelaskan peubah endogennya dengan baik.

5.2.5. Ekspor Komoditas Pertanian

Hasil pendugaan parameter pada ekspor komoditas pertanian dapat dilihat pada Tabel 11 dibawah ini.

Tabel 11. Hasil Pendugaan Parameter Ekspor Komoditas Pertanian

Elastisitas Peubah Penjelas Parameter

Dugaan Nilai Peluang SR LR Intersep -272.388 0.7027 Nilai Tukar 0.013962 0.4515 Pajak Ekspor -25.5735 0.1031 -0.15245 -0.19821 Harga Pertanian Dunia 0.610861 0.8039

Indeks Harga Ekspor Pertanian -0.10084 0.8460 Harga Komoditas Pertanian 2.841887 0.9883

Produksi Pertanian 0.014488 0.1312 1.317774 1.713317 Lag Ekspor Komoditas Pertanian 0.230864 0.4379

R2 = 0.92888 F Hitung = 20.52 DW = 1.955595

Persamaan perilaku respon ekspor komoditas pertanian tersebut dapat dikatakan cukup baik, dimana nilai koefisien determinasinya R² = 0.93 dan uji statistik F Hitung = 20.52, artinya bahwa peubah penjelas yang ada dalam persamaan mampu menjelaskan peubah endogennya dengan baik dengan tingkat hubungan sebesar 93 persen.

Dari hasil pendugaan parameter yang dilakukan dapat diketahui bahwa respon positif ekspor komoditas pertanian dipengaruhi oleh nilai tukar, harga pertanian dunia, harga komoditas pertanian dan produksi pertanian. Sedangkan

pajak ekspor dan indeks harga ekspor pertanian memberikan respon yang negatif. Secara umum hampir semua peubah penjelas yang ada menunjukkan nilai elastis itas yang kecil atau inelastis dan tidak berpengaruh nyata karena memiliki nilai peluang di atas 0.25, kecuali untuk peubah penjelas produksi pertanian selain memiliki pengaruh nyata terhadap perilaku ekspor komoditas pertanian sebesar 0.13, peubah ini juga memberikan respon yang elastis terhadap perilaku ekspor komoditas pertanian.

Respon positif yang diberikan oleh peubah produksi pertanian terhadap ekspor komoditas pertanian memiliki nilai elastisitas sebesar (1.31) dalam jangka pendek dan (1.71) dalam jangka panjang. Artinya, dengan adanya penambahan produksi pertanian sebesar satu persen maka akan berakibat pada peningkatan nilai ekspor komoditas pertanian sebesar 1.31 persen dalam jangka pendek dan 1.71 persen dalam jangka panjang. Selain itu harga pertanian dunia juga mendorong ekspor komoditas pertanian, meskipun hanya memberikan respon yang inelastis.

5.2.6. Impor Komoditas Pertanian

Hasil pendugaan parameter pada ekspor komoditas pertanian dapat dilihat pada Tabel 12 dibawah ini.

Tabel 12. Hasil Pendugaan Parameter Impor Komoditas Pertanian

Elastisitas Peubah Penjelas Parameter

Dugaan

Nilai

Peluang SR LR

Intersep 879.4443 0.7843 Nilai Tukar 0.031060 0.7921 Pajak / Tarif Impor 0.033715 0.7794

Harga Pertanian Dunia -0.65963 0.1744 -0.13039 -0.55897 Indeks Harga Impor Pertanian -13.8746 0.4904

Harga Komoditas Pertanian 703.5177 0.0969 2.110645 9.048194 Stok Pangan Nasional -0.41307 0.4465

Lag Impor Pertanian 0.766733 0.0588

Persamaan perilaku respon impor komoditas pertanian tersebut dapat dikatakan cukup baik, dimana nilai koefisien determinasinya R² = 0.85 dan uji statistik F Hitung = 8.78, artinya bahwa peubah penjelas yang ada dalam persamaan mampu menjelaskan peubah endogennya dengan baik dengan tingkat hubungan sebesar 85 persen.

Dari Tabel 12 bisa diketahui bahwa respon positif impor komoditas pertanian dipengaruhi oleh nilai tukar, pajak impor, dan harga komoditas pertanian dalam negeri. Sedangkan untuk harga pertanian dunia, indeks harga impor komoditas pertanian dan stok pangan memberikan respon atau pengaruh yang negatif.

Peubah penjelas harga komoditas pertanian memiliki nilai peluang 0.09 jauh di bawah 0.25 sebagai angka toleransi, selain itu peubah ini memiliki nilai elastisitas sebesar (2.11) untuk jangka pendek dan (9.04) untuk jangka panjang, hal ini berarti bahwa dengan adanya peningkatan harga komoditas pertanian satu persen, maka akan memberikan respon elastis 2.11 persen dalam jangka pendek dan respon elastis sebesar 9.04 persen dalam jangka panjang terhadap perilaku impor komoditas pertanian. Hal ini menunjukkan kuatnya perilaku impor yang dilakukan oleh importir dalam membaca peluang pasar di dalam negeri.

Sementara itu untuk tarif impor yang seharusnya memberikan pengaruh negatif pada perilaku impor ternyata tidak mengurangi nilai impor, hal tersebut diduga akibat margin keuntungan yang masih tinggi yang bisa diperoleh importir. Namun yang menjadi kendala utama dalam mempengaruhi perilaku penurunan nilai impor komoditas pertanian adalah tingginya harga pertanian dunia dan indeks harga komoditas pertanian. Hal tersebut ditunjukkan dengan hasil dugaan

parameter yang negatif pada kedua peubah tersebut, dan khusus untuk peubah indeks harga impor pertanian memiliki nilai elastisitas yang tinggi.

Sedangkan untuk peubah penjelas stok pangan nasional memberikan respon yang negatif terhadap perilaku impor komoditas pertanian, hal ini sejalan dengan teori dan kondisi aktual. Namun peubah stok pangan ini tidak memberikan pengaruh nyata pada perilaku impor komoditas pertanian.

5.2.7. Kemiskinan di Perkotaan

Hasil pendugaan parameter pada kemiskinan di perkotaan dapat dilihat pada Tabel 13 berikut ini.

Tabel 13. Hasil Pendugaan Parameter Kemiskinan di Perkotaan

Elastisitas

Peubah Penjelas Parameter

Dugaan

Nilai

Peluang SR LR

Intersep 4.786854 0.6235

Tingkat Upah -2.72E-6 0.1603 -0.11539 -0.17999 Pertumbuhan Ekonomi -0.17378 0.1186 -0.05722 -0.08924 Belanja Pemerintah di Sektor Jasa -0.00007 0.1934 -2.5E-05 -3.9E-05 Belanja Pemerintah di Sektor Industri 6.484E-7 0.4180

Stok Pangan Nasional -0.00070 0.8641

Inflasi 0.043954 0.1391 0.037978 0.059236 Dummy Krisis Ekonomi 3.087323 0.2123 0.270818 0.422408 Lag Kemiskinan di Perkot aan 0.358871 0.1379

R2 = 0.81869 F Hitung = 5.64 DW = 2.231885

Dari Tabel 13 dapat diduga bahwa respon negatif yang mempengaruhi tingkat kemiskinan di perkotaan dipengaruhi oleh tingkat upah, pertumbuhan ekonomi, belanja pemerintah di sektor jas a dan stok pangan nasional. Sementara itu, ternyata belanja pemerintah di sektor industri tidak mampu memberikan respon yang negatif terhadap kemiskinan di perkotaan. Bersama-sama dengan belanja pemerintah di sektor industri, peubah penjelas inflasi dan krisis ekonomi

memberikan pengaruh yang positif terhadap kemiskinan di perkotaan. Dari hasil perhitungan respon elastisitas tiap-tiap peubah penjelas masing-masing memberikan respon inelastis baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang.

Untuk peubah tingkat upah menghasilkan nilai respon elastisitas sebesar (-0.12) dalam jangka pendek dan (-0.18) untuk jangka panjang. Artinya, dengan peningkatan upah sebesar satu persen maka akan mampu mengurangi tingkat kemiskinan di perkotaan sebesar 0.12 persen dalam jangka pendek dan untuk jangka panjang sebesar 0.18 persen.

Sementara itu dari hasil dugaan parameter pertumbuhan ekonomi yang dikatahui sebesar -0.17378, memberikan intepretasi bahwa dengan pertumbuhan ekonomi sebesar satu persen akan mampu mengurangi tingkat kemiskinan di perkotaan sebesar 0.17378 persen. Sementara itu belanja pemerintah di sektor jasa memiliki dampak yang cukup baik dalam mengurangi kemiskinan di perkotaan. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan sektor jasa layak dikembangkan di perkotaan, dengan dibuktikan dengan nilai respon elastisitas terhadap kemiskinan di perkotaan sebesar (-2.5E-05) dan (-3.9E-05) masing-masing untuk jangka pendek dan jangka panjang.

Peubah stok pangan nasional memberikan respon negatif terhadap kemiskinan di perkotaan, hal ini mengindikasikan bahwa ketahanan dan ketersediaan pangan merupakan salah satu kunci menekan kemiskinan. Untuk peubah penjelas inflasi dan krisis ekonomi sesuai dengan teori dan kondisi aktual yang menunjukkan adanya respon positif terhadap kemiskinan di perkotaan.

5.2.8. Kemiskinan di Pedesaan

Hasil pendugaan parameter pada kemiskinan di pedesaan dapat dilihat pada Tabel 14 berikut ini.

Tabel 14. Hasil Pendugaan Parameter Kemiskinan di Pedesaan

Elastisitas Peubah Penjelas Parameter

Dugaan Nilai Peluang SR LR Intersep 38.60594 0.2488 Tingkat Upah -0.00003 0.0994 -0.5482 -0.86899 Pertumbuhan Ekonomi -0.62783 0.0314 -0.08903 -0.14113 Belanja Pemerintah di Sektor Pertanian -3.48965 0.2072 -0.5257 -0.83332 Inflasi 0.03122 0.7048

Harga Pertanian -4.93143 0.6499

Produksi Pertanian -8.55E-9 0.0916 -1.2E-05 -1.9E-05 Dummy Krisis Ekonomi 1.128666 0.6869 0.042645 0.067599 Lag Kemiskinan di Pedesaan 0.369147 0.1571

R2 = 0.94638 F Hitung = 22.06 DW = 2.697835

Persamaan perilaku respon kemiskinan di pedesaan tersebut dapat dikatakan cukup baik, dimana nilai koefisien determinasinya R² = 0.95 dan uji statistik F Hitung = 22.06, artinya bahwa peubah penjelas yang ada dalam persamaan mampu menjelaskan peubah endogennya dengan baik dengan tingkat hubungan sebesar 95 persen.

Dari Tabel 14 dapat diketahui bahwa respon negatif kemiskinan di pedesaan dipengaruhi oleh tingkat upah, pertumbuhan ekonomi, belanja pemerintah di sektor pertanian, harga komoditas pertanian dan produksi pertanian. Sedangkan untuk inflasi dan krisis ekonomi memberikan pengaruh positif terhadap kemiskinan di pedesaan.

Seperti yang telah disampaikan di atas bahwa tingkat upah mampu memberikan respon negatif terhadap tingkat kemiskinan di pedesaan. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya respon elastisitas sebesar (-0.55) dan (-0.87)

masing-masing untuk respon elastisitas jangka pendek dan jangka panjang. Artinya, dengan adanya peningkatan tingkat upah sebesar satu persen maka akan memberikan respon pengurangan tingkat kemiskinan di pedesaan sebesar 0.55 persen untuk jangka pendek dan untuk jangka panjang sebesar 0.87 persen. Hal tersebut sama dengan pertumbuhan ekonomi yang juga mampu memberikan respon baik terhadap pengurangan kemiskinan di pedesaan, masing-masing memiliki respon elastisitas jangka pendek dan jangka panjang sebesar (-0.09) dan (-0.14).

Belanja pemerintah di sektor pertanian ternyata mampu memberikan respon yang negatif terhadap kemiskinan di pedesaan, artinya dengan peningkatan belanja pemerintah di sektor pertanian sebesar satu persen, maka akan mampu menurunkan tingkat kemiskinan di pedesaan sebesar 0.53 persen dalam jangka pendek dan 0.83 persen dalam jangka panjang.

Hasil pendugaan parameter peubah penjelas harga komoditas pertanian sebesar -4.93143, artinya dengan peningkatan indeks harga komoditas pertanian sebesar satu level maka akan mampu menurunkan tingkat kemiskinan di pedesaan sebesar 4.9 persen. Untuk peubah produksi pertanian juga memberikan respon yang negatif terhadap tingkat kemiskinan di pedesaan, meskipun nilai respon yang diberikan cukup kecil.

Sementara itu, untuk peubah penjelas inflasi dan krisis ekonomi memberikan respon positif terhadap tingkat kemiskinan di pedesaan, hal ini sesuai dengan teori dan kondisi yang ada. Kedua peubah penjelas ini memberikan respon yang sama terhadap kemiskinan di pedesaan dan di perkotaan.

5.2.9. Stok Pangan Nasional

Hasil pendugaan parameter pada stok pangan nasional dapat dilihat pada Tabel 15 dibawah ini.

Tabel 15. Hasil Pendugaan Parameter Stok Pangan Nasional

Elastisitas Peubah Penjelas Parameter

Dugaan

Nilai

Peluang SR LR

Intersep 2382.569 0.4933

Produksi Pertanian 0.012027 0.0872 0.349168 0.61154 Ekspor Komoditas Pertanian -0.55683 0.4718

Impor Komoditas Pertanian 0.15496 0.1911 -0.11593 -0.20305 Populasi Penduduk -8.09259 0.5669

Lag Stok Pangan Nasional 0.429035 0.2073

R2 = 0.90048 F Hitung = 23.52 DW = 1.857055

Persamaan perilaku respon stok pangan nasional tersebut dapat dikatakan cukup baik, dimana nilai koefisien determinasinya R² = 0.90 dan uji statistik F Hitung = 23.52, artinya bahwa peubah penjelas yang ada dalam persamaan mampu menjelaskan peubah endogennya dengan baik dengan tingkat hubungan sebesar 90 persen.

Dari Tabel 15 dapat diketahui bahwa respon positif stok pangan nasional hanya dipengaruhi oleh produksi pertanian. Sementara itu untuk peubah penjelas impor komoditas pertanian yang seharusnya memberikan respon positif ternyata sebaliknya justru memberikan respon positif. Selain impor komoditas pertanian peubah yang lain yang juga memberikan respon negatif adalah ekspor komoditas pertanian dan populasi penduduk.

Produksi pertanian mampu memberikan pengaruh positif terhadap stok pangan nasional dengan nilai dugaan parameter sebesar 0.012, hal ini berarti dengan meningkatnya produksi pertanian senilai satu milyar, maka akan menambah stok pangan nasional sebesar 12 ton. Peubah penjelas ini memiliki

respon inelastis dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang, yaitu masing-masing sebesar (0.35) dan (0.61).

Sementara itu respon negatif yang diperoleh stok pangan nasional juga dipengaruhi oleh populasi penduduk. Sedangkan apabila dilihat dari angka parameter dugaan, maka dengan peningkatan populasi penduduk sebesar satu juta jiwa akan mengakibatkan berkurangnya sto k pangan nasional sebesar 8.09 ribu ton. Apabila stok pangan nasional tidak segera diperbaiki maka akan berakibat kerawan an pangan, hal ini disebabkan Indonesia termasuk dalam kategori negara dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang relatif tinggi.

5.2.10.Belanja Pemerintah di Sektor Pertanian

Hasil pendugaan parameter pada belanja pemerintah di sektor pertanian dapat dilihat pada Tabel 16 dibawah ini.

Tabel 16. Hasil Pendugaan Parameter Belanja Pemerintah di Sektor Pertanian

Elastisitas Peubah Penjelas Parameter

Dugaan

Nilai

Peluang SR LR Intersep 0.433816 0.2101

Inflasi -0.01676 0.0003 -0.0414 -0.36564 Penerimaan Pemerintah -5.55E-7 0.6218

Dummy Krisis Ekonomi -0.07625 0.7277 Lag Belanja Pemerintah di

Sektor Pertanian

0.886760 <.0001

R2 = 0.99121 F Hitung = 394.74 DW = 2.670983

Dari Tabel 16 dapat kita lihat bahwa hanya krisis ekonomi yang memberikan pengaruh paling besar atau respon positif yang cukup tinggi. Sementara itu untuk respon negatif diakibatkan oleh peubah inflasi dan penerimaan pemerintah. Semua peubah yang ada dalam persamaan ini

memberikan respon inelastis terhadap anggaran belanja pemerintah di sektor pertanian.

Pada hasil pendugaan parameter krisis ekonomi, diperoleh nilai dugaan parameternya sebesar -0.07625. Artinya, dengan adanya krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia, mengakibatkan berkurangnya anggaran pemerintah di sektor pertanian sebesar 0.07 milyar rupiah. Hal tersebut cukup ironis, meskipun pengurangan anggaran yang tidak terlalu signifikan, namun akan membawa dampak yang kurang baik pada pemulihan krisis khususnya berkaitan dengan penyelamatan dari kerawanan pangan, mengingat sektor pertanian merupakan penghasil pangan.