• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.8. Tingkat Keeratan Hubungan

Sesuai dengan tujuan ketiga yaitu hendak menganalisis hubungan penerapan budaya organisasi dan motivasi kerja dengan kepuasan kerja karyawan dan dosen tetap pada Fakultas Ekonomi Universitas Pancasila, maka digunakan metode Rank Spearman. Metode ini sangat akurat untuk menghitung

tingkat keeratan hubungan dari masing-masing peubah. Keeratan hubungan tersebut dapat dibagi menjadi tiga, yaitu sebagai berikut:

4.8.1. Hubungan Karakteristik Budaya Organisasi dengan Kepuasan Kerja Penerapan budaya organisasi yang sudah baik juga akan berhubungan terhadap tingkat kepuasan kerja. Dalam penelitian ini diperoleh bahwa terdapat perbedaan persepsi mengenai hubungan antara kesepuluh karakteristik budaya organisasi dengan kepuasan kerja pada dosen maupun karyawan Fakultas Ekonomi Universitas Pancasila.

Tabel 43. Hubungan karakteristik budaya organisasi dengan kepuasan kerja

No Karakteristik Dosen Karyawan

Kor Sig Ket Kor Sig Ket

1 Inisiatif 0,108 0,642 Tidak ada

hubungan 0,475* 0,002 Ada hubungan

2 Toleransi -0,039 0,868 Tidak ada

hubungan 0,433* 0,005 Ada hubungan

3 Pengarahan 0,023 0,923 Tidak ada

hubungan 0,275 0,086

Tidak ada hubungan

4 Integrasi 0,378 0,091 Tidak ada

hubungan 0,321* 0,044 Ada hubungan

5 Dukungan

Institusi 0,577* 0,006 Ada hubungan 0,556* 0,000 Ada hubungan 6 Pengawasan 0,283 0,214 Tidak ada

hubungan 0,206 0,201

Tidak ada hubungan

7 Disiplin 0,214 0,352 Tidak ada

hubungan 0,499* 0,001 Ada hubungan

8 Sistem

Penghargaan 0,223 0,331

Tidak ada

hubungan 0,552* 0,000 Ada hubungan

9 Komitmen 0,195 0,397 Tidak ada

hubungan 0,447* 0,004 Ada hubungan

10 Komunikasi 0,679* 0,001 Ada hubungan -0,085 0,600 Tidak ada hubungan

Keterangan: Kor = Besarnya Korelasi/Hubungan ; Sig = Tingkat Signifikansi; Ket = Keterangan; tanda bintang (*) = ada hubungan

Tabel 43 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan persepsi mengenai hubungan antara karakteristik budaya organisasi dengan kepuasan kerja. Dosen mempersepsikan terdapat hubungan antara budaya organisasi dengan kepuasan kerja hanya pada karakteristik dukungan institusi dan komunikasi, sementara pada karyawan, terdapat hubungan pada karakteristik inisiatif, toleransi, integrasi, dukungan institusi, disiplin, sistem penghargaan dan komitmen. Dengan hasil tersebut maka hipotesis pertama yang menyatakan karakteristik budaya organisasi dengan kepuasan kerja memiliki hubungan positif tidak terbukti.

Hal yang menyangkut budaya organisasi memang seringkali dipersepsikan berbeda oleh setiap individu. Di Fakultas Ekonomi Universitas Pancasila, dosen mempersepsikan hanya dukungan institusi dan komunikasi yang memiliki hubungan dengan kepuasan kerja. Dukungan institusi dapat berupa kursus dan pelatihan bagi dosen juga adanya beasiswa untuk melanjutkan sekolah S2 dan S3 ke luar negeri.

Selain dukungan institusi, berdasarkan persepsi dosen, komunikasi memiliki hubungan yang positif dengan kepuasan kerja. Peran komunikasi dalam suatu organisasi sangat penting (Mangkuprawira dan Hubeis, 2007). Tidak ada seorangpun dalam keseharian tugasnya tanpa berkomunikasi. Baik itu bertema masalah pekerjaan maupun masalah diluar pekerjaan, semua pasti dilakukan lewat komunikasi. Juga baik itu dilakukan melalui jalur vertikal (atasan-bawahan) maupun jalur horizontal (kolega setingkat).

Keberhasilan komunikasi di dalam suatu organisasi akan ditentukan oleh kesamaan pemahaman antarorang yang terlibat dalam kegiatan komunikasi. Hasil studi tentang perilaku bisnis di kalangan eksekutif menunjukkan fakta bahwa kemampuan berkomunikasi merupakan unsur pokok di antara berbagai faktor personal yang diperlukan untuk mempromosikan manajemen organisasi atau mengatasi konflik manajemen (Boove dan Thill, 2002).

4.8.2. Hubungan Karakteristik Motivasi Kerja dengan Kepuasan Kerja Motivasi diibaratkan sebagai jantungnya manajemen karyawan. Motivasi merupakan dorongan yang membuat karyawan melakukan sesuatu dengan cara dan untuk mencapai tujuan tertentu (Mangkuprawira dan Hubeis, 2007). Tidak ada keberhasilan mengerjakan sesuatu, seperti mengelola karyawan tanpa adanya motivasi, baik dari manajer maupun karyawan. Di tingkat universitas dapat digambarkan sebagai motivasi dari diri karyawan maupun dosen dalam mengelola kegiatan universitas. Dalam penelitian ini, motivasi kerja tersebut akan berhubungan dengan kepuasan kerja.

Tabel 44 menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara karakteristik motivasi kerja dengan kepuasan kerja di lingkungan Fakultas Ekonomi Universitas Pancasila. Hal ini ditunjukkan dengan

nilai signifikansi di bawah 0,05 untuk karakteristik motivasi kerja. Hal ini membuktikan hipotesis kedua yaitu motivasi kerja dengan kepuasan kerja memiliki hubungan positif, sehingga H2 diterima. Masing-masing karakteristik pada motivasi kerja memiliki hubungan dengan kepuasan kerja berdasarkan persepsi dosen maupun karyawan.

Tabel 44. Hubungan karakteristik motivasi kerja dengan kepuasan kerja

No Karakteristik Dosen Karyawan

Kor Sig Ket Kor Sig Ket

1 Pertumbuhan 0,656* 0,001 Ada hubungan 0,647* 0,000 Ada hubungan

2 Jenis

Pekerjaan 0,583* 0,006 Ada hubungan 0,373* 0,018 Ada hubungan 3 Tanggung

Jawab 0,435* 0,049 Ada hubungan 0,339* 0,032 Ada hubungan 4 Pencapaian 0,544* 0,011 Ada hubungan 0,487* 0,001 Ada hubungan

5 Pengembangan 0,604* 0,004 Ada hubungan 0,804* 0,000 Ada hubungan

6 Pengakuan 0,511* 0,018 Ada hubungan 0,672* 0,000 Ada hubungan

Keterangan: Kor = Besarnya Korelasi/Hubungan ; Sig = Tingkat Signifikansi; Ket = Keterangan; tanda bintang (*) = ada hubungan

Motivasi kerja memang selalu terkait dengan kinerja, seperti pada penelitian Jacobs dan Salomon (1977) diacu Spector (1997), dimana hubungan kepuasan kerja dan kinerja dapat memiliki tingkat keeratan yang lebih tinggi lagi ketika kinerja yang baik dari karyawan dihargai sebagaimana mestinya dimana hal ini membuat karyawan merasa puas sehingga termotivasi untuk terus berusaha meningkatkan kinerjanya. Namun demikian pada penelitian ini dapat dibuktikan bahwa motivasi kerja erat juga kaitannya dengan kepuasan kerja.

Salah satu faktor yang menyebabkan nilai koefisien korelasi yang kuat juga dapat diamati dari nilai rentang kriteria yang tinggi pada hasil rataan skor mengenai jenis pekerjaan dalam dimensi motivasi kerja. Pernyataan ini menggambarkan bahwa baik karyawan maupun dosen sangat menikmati kepuasan dalam menyelesaikan tugas pekerjaan yang diberikan. Hal ini terkait dengan pernyataan kondisi kerja pada dimensi kepuasan kerja dimana karyawan dan dosen merasa nyaman dalam menyelesaikan pekerjaannya sehari-hari dan puas dengan kondisi kerja saat ini karena didukung oleh peralatan kerja yang sangat memadai. Kepuasan karyawan maupun dosen dalam menyelesaikan pekerjaan berhubungan erat dengan kondisi kerja yang nyaman dan dukungan peralatan kerja yang memadai.

4.8.3. Hubungan Karakteristik Budaya Organisasi dengan Motivasi Kerja Berdasarkan hasil perhitungan seperti yang terlihat pada Tabel 45, terdapat perbedaan persepsi mengenai hubungan budaya organisasi di Fakultas Ekonomi Universitas Pancasila dengan motivasi kerja antara dosen dan karyawan. Dosen mempersepsikan terdapat hubungan antara integrasi, dukungan institusi dan disiplin terhadap motivasi kerja, sementara karyawan mempersepsikan ada hubungan antara inisiatif, toleransi, pengarahan, dukungan institusi, disiplin, sistem penghargaan dan komitmen dengan motivasi kerja. Berdasarkan hasil tersebut maka hipotesis yang menyatakan bahwa karakteristik budaya organisasi dengan motivasi kerja memiliki hubungan positif, tidak terbukti.

Tabel 45. Hubungan karakteristik budaya organisasi dengan motivasi kerja

No Karakteristik Dosen Karyawan

Kor Sig Ket Kor Sig Ket

1 Inisiatif 0,336 0,137 Tidak ada

hubungan 0,516* 0,001 Ada hubungan

2 Toleransi 0,348 0,123 Tidak ada

hubungan 0,432* 0,005 Ada hubungan

3 Pengarahan 0,146 0,527 Tidak ada

hubungan 0,429* 0,006 Ada hubungan

4 Integrasi 0,818* 0,000 Ada hubungan 0,264 0,100 Tidak ada hubungan

5 Dukungan

Institusi 0,824* 0,000 Ada hubungan 0,451* 0,003 Ada hubungan 6 Pengawasan 0,395 0,076 Tidak ada

hubungan 0,238 0,139

Tidak ada hubungan

7 Disiplin 0,552* 0,010 Ada hubungan 0,555* 0,000 Ada hubungan

8 Sistem

Penghargaan 0,311 0,170

Tidak ada

hubungan 0,505* 0,001 Ada hubungan

9 Komitmen 0,195 0,396 Tidak ada

hubungan 0,423* 0,007 Ada hubungan

10 Komunikasi 0,322 0,155 Tidak ada

hubungan 0,054 0,740

Tidak ada hubungan

Keterangan: Kor = Besarnya Korelasi/Hubungan ; Sig = Tingkat Signifikansi; Ket = Keterangan; tanda bintang (*) = ada hubungan

Jika dicermati lebih lanjut maka Tabel 45 menunjukkan bahwa ada dua karakteristik budaya organisasi yang dipersepsikan memiliki hubungan dengan motivasi kerja, yaitu: dukungan institusi dan disiplin, baik oleh dosen maupun karyawan. Dukungan institusi tersebut juga dipersepsikan memiliki hubungan yang positif dengan kepuasan kerja. Berdasarkan hasil tersebut maka baik dosen maupun karyawan percaya bahwa kemampuan jajaran manajemen dalam proses

komunikasi, pembimbingan dan dukungan akan mampu meningkatkan motivasi kerja yang berujung pada terciptanya kepuasan kerja.

Motivasi kerja yang meningkat juga dapat berakibat pada keinginan untuk dapat menjalankan seluruh pekerjaan dengan baik dan memacu produktifitas dalam bekerja. Dimana produktifitas adalah rasio output dan input suatu proses produksi dalam periode tertentu (Mangkuprawira dan Hubeis, 2007). Dalam hal ini produktifitas pada pegawai salah satunya dapat dilihat dari kelancaran proses administrasi, sementara pada dosen terkait dengan kelancaran proses kegiatan belajar dan mengajar.