Sekilas Tentang Tanaman Jambu Mete
Jambu mete (Anacardium occidentale) merupakan jenis tanaman buah dari keluarga Anacardiaceae. Hasil utama dari tanaman ini adalah kacang mete. Tanaman ini berasal dari Brasil Tenggara dan dibawa ke India oleh pelaut Portugis sekitar 425 tahun yang lalu, kemudian menyebar ke berbagai negara di Asia dan Afrika, termasuk Indonesia. Di antara sekian banyak negara produsen, Brasil, Kenya, dan India merupakan negara pemasok utama jambu mete dunia. Indonesia tercatat sebagai negara produsen dan konsumen yang ketiga terbesar di dunia.
Di Indonesia jambu mete dikenal dengan berbagai nama. Di Sumatera Barat tanaman ini dikenal dengan sebutan jambu erang/jambu monyet, di Lampung dijuluki gayu, di daerah Jawa Barat dinamakan jambu mede, di Jawa Tengah dan Jawa Timur diberi nama jambu monyet, di Bali dinamakan jambu jipang atau jambu dwipa, dan di Sulawesi Utara disebut sebagai buah yaki.
Jambu mete merupakan tanaman mempunyai banyak manfaat. Selain biji mete (kacang mete) sebagai hasil utama yang dapat dikonsumsi sebagai makanan bergizi tinggi, dari buah semunya dapat dibuat menjadi beberapa hasil olahan seperti sari buah mete, anggur mete, manisan kering, selai, atau buah kalengan. Selain itu bagian kulit kayu jambu mete mengandung cairan yang dapat digunakan untuk bahan tinta, bahan pencelup, atau bahan pewarna. Bagian kulit batang mete berkhasiat sebagai obat kumur atau obat sariawan. Bagian batang pohon mete menghasilkan gum atau blendok untuk bahan perekat. Akar jambu mete dikenal berkhasiat sebagai pencuci perut. Daun yang masih muda dapat dikonsumsi sebagai lalap, sedangkan daun tuanya sebagai obat luka bakar (Abdullah dan Las, 1985).
Beberapa jenis produk bermanfaat yang dapat dihasilkan dari jambu mete, yaitu: (i) kacang mete merupakan makanan bergizi tinggi, (ii) minyak NCSL berasal dari kulit biji merupakan bahan baku industri plastik, cat, dan bahan campuran hard board, (iii) buah semu berguna untuk bahan baku minuman segar,
anggur, dan selai, dan (iv) kulit ari biji mete berguna sebagai bahan pakan ternak. Selama ini produk utama yang dihasilkan dari tanaman jambu mete berupa kacang mete. Namun apabila produk lainnya mampu dikelola dapat memberikan nilai tambah pendapatan, sumber lapangan pekerjaan dan devisa negara.
Dalam sejarah pengembangan tanaman jambu mete di Indonesia, pada awalnya penanaman komoditas ini lebih ditujukan untuk program penghijauan (reboisasi) lahan-lahan kritis. Pergeseran pengembangan jambu mete dari semata-mata sebagai tanaman konservasi menjadi komoditas yang bernilai ekonomi muncul pada Pelita II (1974-1979) seiring dengan harga gelondong mete yang semakin membaik di pasar domestik maupun pasar internasional.
Jambu mete telah meyebar hampir di seluruh propinsi di Indonesia. Namun produktifitasnya sangat beragam. Hal ini terkait dengan kondisi fisik wilayah yang beragam, di samping teknik budidaya yang diterapkan masih belum seragam. Beberapa sentra penanaman jambu mete terdapat di Jawa Tengah (Jepara, Wonogiri), Jawa Timur (Bangkalan, Sampang, Sumenep, Pasuruan, dan Ponorogo), dan Yogyakarta (Gunung Kidul, Bantul, dan Sleman). Di luar Pulau Jawa jambu mete banyak ditanam di Bali (Karangasem), Sulawesi Selatan (Kepulauan Pangkajene, Sidenreng, Soppeng, Wajo, Maros, Sinjai, Bone, dan Barru), Sulawesi Tenggara (Muna), NTB (Sumbawa Besar, Dompu, dan Bima) dan NTT (Sikka dan Flores Timur).
Jambu mete mempunyai puluhan varitas, di antaranya ada yang berkulit putih, merah, merah muda, kuning, hijau kekuningan dan hijau. Beberapa pustaka telah menyajikan indikasi pewilayahan yang cocok untuk pengembangan komoditas jambu mete. Meskipun demikian, sebagian besar dari indikasi kecocokan tersebut disajikan dalam bentuk deskriptif, sehingga terkadang menyulitkan untuk melakukan evaluasi secara obyektif untuk wilayah yang luas (Prihatman, 2000).
Secara umum jambu mete tumbuh pada lahan dengan temperatur 25-35oC, dengan curah hujan berkisar antara 500 sampai 2.500 mm th-1 dan kelembaban udara sedikitnya antara 20-25%. Sedangkan tanahnya membutuhkan persyaratan kedalaman minimum 50 cm, konsistensi gembur, permeabilitas sedang, drainase agak cepat, tingkat kesuburan sedang, dan tekstur berkisar dari liat, lempung,
lempung berpasir, liat berdebu, pasir berlempung, debu, lempung liat berdebu sampai lempung berdebu. Reaksi tanah (pH) berkisar antara 4,5 - 8,5, dengan pH optimum antara 5,5 – 7,0 (Djaenudin et al., 2000).
Sebagai komoditas perdagangan, kontribusi jambu mete terhadap total ekspor komoditas perkebunan mengalami peningkatan yang cukup pesat dari tahun ke tahun. Hal ini terlihat dari nilai ekspor yang terus bergerak naik, dari 29.666 ton dengan nilai US$ 19.152.000 pada tahun 1997 menjadi 59.372 ton dengan nilai US$ 58.187.000 pada tahun 2004 (Ditjen Perkebunan, 2006). Pada tahun 1997 sampai 2007, peningkatan volume ekspor rata-rata sebesar 19,20% per tahun (Ditjenbun, 2009).
Pengembangan jambu mete juga telah menunjukkan peranan yang cukup penting dalam penyerapan tenaga kerja. Pada tahun 1998 dalam pengembangan jambu mete (on farm) telah terserap 216 ribu tenaga kerja, dan pada tahun 2002 penyerapan tenaga kerja itu telah meningkat menjadi 220 ribu tenaga kerja.
Pengusahaan jambu mete sebagian besar berupa perkebunan rakyat. Dari total areal seluas 570.409 ha pada tahun 2007, seluas 570.156 ha lahan di antaranya atau hampir seluruhnya (99,96%) merupakan areal rakyat dengan produksi sebesar 146.025 ton (99,86%). Sementara itu, areal perkebunan swasta hanya seluas 123 ha (0,04%) dengan produksi sebesar 217 ton (0,14%).
Angka tingkat produktifitas jambu mete di berbagai daerah di Indonesia sangat bervariasi, namun secara rata-rata angkanya masih rendah, yaitu masih berkisar antara 200 – 300 kg/ha. Sedangkan Lubis (1996) menyebutkan rata-rata produksi mete Indonesia mencapai 400 kg th-1. Angka-angka ini masih jauh di bawah beberapa negara penghasil mete lain seperti India telah mencapai hasil per hektar 800 – 1.100 kg. Beberapa faktor utama yang diperkirakan menjadi penyebab rendahnya produktifitas mete Indonesia antara lain adalah rendahnya mutu genetik bahan tanaman yang digunakan (tidak unggul), kurangnya perawatan tanaman, adanya gangguan hama dan penyakit, dan kondisi lahan yang tidak mendukung. Hal ini bisa dipahami mengingat sejarah pengembangannya di Indonesia, jambu mete pada awalnya ditanam sebagai tanaman konservasi pada lahan-lahan kritis dan berlereng sehingga penanamannya tidak teratur, sangat rapat dan sama sekali mengabaikan aspek produkifitas.
Rendahnya perhatian terhadap perawatan tanaman, termasuk jarangnya dilakukan pemupukan, diduga erat kaitannya dengan adanya persepsi yang berkembang bahwa tanaman mete dapat diusahakan pada sembarang tempat, dan tidak menuntut perawatan tanaman yang intensif. Akibatnya, banyak tanaman mete yang ditanam pada lahan-lahan sangat kurus (marjinal) yang secara teknis tidak dianjurkan. Kondisi lahan di beberapa lokasi pengembangan yang tidak mendukung (kurang sesuai) dan minimnya tingkat perawatan tanaman yang diberikan diperkirakan menjadi sebagian faktor penyebabnya.
Sampai sejauh ini, informasi atau hasil-hasil penelitian pemupukan pada tanaman mete, khususnya di Indonesia, masih sangat sedikit. Hal ini mungkin juga sebagai akibat, atau setidaknya cerminan dari persepsi umum terhadap tanaman mete. Dari referensi yang terbatas, perlakuan pemupukan pada tanaman mete memberikan hasil yang beragam.
Evaluasi Lahan
Dalam mendukung pengembangan tanaman jambu mete di Indonesia, aspek lahan dan iklim sangat penting untuk dipertimbangkan. Sebagaimana komoditas pertanian pada umumnya, jambu mete merupakan tanaman yang memerlukan persyaratan tertentu untuk dapat tumbuh dan berproduksi secara optimal. Karena itu evaluasi lahan sangat perlu dilakukan sebelum diambil keputusan mengembangkan jambu mete dalam suatu wilayah. Salah satunya adalah dengan melakukan penilaian kesesuaian lahan.
Penilaian kesesuaian lahan adalah bagian evaluasi lahan, berupa proses penilaian potensi atau kelas kesesuaian suatu lahan untuk tujuan penggunaan lahan tertentu. Penilaian kelas kesesuaian lahan dilakukan dengan cara membandingkan persyaratan yang diminta oleh tipe penggunaan lahan yang diterapkan dengan karakteristik atau kualitas lahan yang dimiliki oleh lahan yang akan digunakan (FAO, 1976). Dengan cara ini maka akan diketahui potensi dan kelas kesesuaian lahan untuk tipe penggunaan lahan tertentu. Hasil evaluasi kesesuaian lahan dapat digunakan sebagai dasar perencanaan penggunaan tanah yang rasional secara optimal dan lestari. Penggunaan lahan yang tidak sesuai
dengan kemampuannya selain dapat menimbulkan terjadinya kerusakan lahan dan lingkungannya, juga dapat menimbulkan masalah kemiskinan dan masalah-masalah sosial dan ekonomi lainnya (Hardjowigeno dan Widiatmaka, 2007).
Berbagai metode evaluasi lahan telah banyak dikembangkan di Indonesia. Soil Conservation Service, USDA memperkenalkan sistem kemampuan lahan (Klingebiel dan Montmogomerry, 1961). Dalam sistem ini lahan dikelompokkan ke dalam delapan kelas (I sampai VIII) berdasarkan daya dukungnya untuk memproduksi tanaman-tanaman pertanian, kehutanan dan rumput makanan ternak tanpa menimbulkan kerusakan dalam jangka panjang. Selanjutnya FAO (1976) dan Framework of Land Evaluation memperkenalkan sistem klasifikasi kesesuaian lahan (land suitiability classification) untuk jenis penggunaan lahan yang spesifik. Dalam sistem ini, klasifikasi kesesuaian lahan dibagi ke dalam ordo sesuai (S) dan tidak sesuai (N). Ordo S dibagi lagi menjadi sangat sesuai (S1), cukup sesuai (S2) dan sesuai marjinal (S3). Kedua sistem di atas banyak dianut dan dikembangkan di Indonesia, khususnya di sektor pertanian dan kehutanan.
Di dalam kegiatan evaluasi lahan, sering dijumpai perbedaan dalam hasil penilaian kesesuaian lahan tersebut. Hal ini antara lain disebabkan oleh: (1) perbedaan terhadap faktor-faktor yang dinilai yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman, (2) perbedaan pengharkatan dalam penilaian karakteristik lahan, (3) perbedaan dalam sistem yang digunakan dan (4) perbedaan dalam metode pengambilan keputusan, antara lain dengan metode penghambat maksimum atau parametrik (Hardjowigeno dan Widiatmaka, 2007). Di samping itu juga kriteria kesesuaian lahan yang ada masih bersifat umum dan disusun berdasar pengalaman empiris yang belum dikaji berdasarkan data-data penelitian atau dikorelasikan dengan dengan produksi tanamannya.
Beberapa cara dapat digunakan untuk melakukan penilaikan kesesuaian biofisik lahan untuk suatu komoditas. Cara-cara yang biasa digunakan antara lain adalah dengan metoda matching, scoring, penerapan indeks parametriks dan penerapan klasifikasi kapabilitas. Semua metoda tersebut memerlukan sebuah kriteria yang akurat yang agar dapat mengklasifikasikan kemampuan lahan dan lingkungan dalam mendukung pertumbuhan dan produktifitas suatu komoditas.
Sebuah kriteria yang disusun akan bermanfaat besar jika dapat diterapkan di daerah lain yang belum ada pengembangan komoditas yang sama melalui pedotransfer. Untuk itu sebaiknya merupakan kriteria yang berlaku umum dan disusun berdasarkan sebaran data yang cukup banyak. Untuk itu, penelitian berlakunya kriteria di suatu lokasi, harus dilanjutkan dengan validasi untuk melakukan generalisasi penggunaan kriteria. Setelah sebuah kriteria kesesuaian lahan sudah diyakini validitasnya, maka kriteria tersebut dapat diterapkan penggunaannya di tempat lain.
Dari beberapa referensi yang biasa digunakan untuk evaluasi lahan di Indonesia, kriteria untuk kesesuaian lahan untuk pertumbuhan jambu mete belum terlalu umum. Beberapa peneliti atau institusi telah mempublikasikan kriteria kesesuaian lahan untuk komoditas ini, antara lain adalah Rosman dan Lubis (1996), dan Djaenudin et al. (2000, 2003) yang menerbitkan buku Kriteria Kesesuaian Lahan untuk Komoditas Pertanian. Namun demikian, sebagaimana kriteria untuk komoditas-komoditas lainnya, kriteria tersebut barulah disusun berdasarkan pengamatan visual dan pengalaman empiris, dan belum berdasarkan data penelitian yang mendalam dan ditujukan untuk penyusunan kriteria.
Kualitas dan Karakteristik Lahan
Kriteria kesesuaian lahan disusun berdasarkan tujuan evaluasi dan persyaratan penggunaan lahan dari suatu tipe penggunaan lahan tertentu yang dihubungkan dengan kualitas lahan. Kualitas lahan adalah sifat lahan yang berpengaruh langsung terhadap penggunaan lahan di suatu wilayah. Kualitas ada yang bisa diestimasi atau diukur secara langsung di lapangan, tetapi pada umumnya ditetapkan dari pengertian karaktersitik lahan (FAO, 1976).
Kualitas lahan dapat berperan positif dan negatif terhadap penggunaan lahan tergantung dari sifat-sifatnya. Kualitas lahan yang berperan positif sifatnya menguntungkan bagi suatu penggunaan. Sebaliknya kualitas lahan yang bersifat negatif bersifat merugikan (merupakan kendala), sehingga menjadi faktor penghambat atau pembatas bagi suatu penggunaan lahan tertentu. Setiap kualitas lahan dapat berpengaruh terhadap satu atau lebih jenis penggunaan lahan.
Demikian pula setiap jenis penggunaan lahan tertentu akan dipengaruhi oleh berbagai kualitas lahan.
Karakteristik lahan didefinisikan sebagai sifat tanah yang dapat diukur di lapangan. Kriteria kesesuaian lahan digunakan untuk menilai atau memprediksi potensi atau kelas kesesuaian lahan dari wilayah yang bersangkutan. Persyaratan penggunaan lahan dalam pengertian kualitas lahan meliputi persyaratan tumbuh tanaman, persyaratan pengelolaan dan konservasi lahan. Setiap tipe penggunaan lahan memerlukan persyaratan penggunaan lahan yang berbeda untuk dapat tumbuh dan berproduksi secara optimal.
Pemilihan kualitas dan karakteristik lahan yang dibutuhkan untuk evaluasi kesesuaian lahan sangat ditentukan oleh tujuan evaluasi, relevansi, ketersediaan data dan kualitas dari data yang dihasilkan dari penelitian. FAO (1983) secara umum telah menginventarisasi sejumlah 25 kualitas lahan beserta karakteristik lahannya. Sedangkan dalam referensi kriteria kesesuaian lahan yang lain seperti pada CSR/FAO (1983), dan Djaenudin et al. (2000, 2003), baru sebagian kualitas lahan saja dari yang dikemukakan pada FAO (1983). Namun demikian untuk keperluan evaluasi lahan yang lebih spesifik untuk komoditas tertentu perlu dipilih kualitas/karakteristik lahan yang relevan dengan tujuan evaluasi dan ketersediaan data di suatu wilayah. Beberapa kualitas/karakteristik lahan yang relevan dengan kondisi lahan di Indonesia telah dicoba disusun oleh Djaenudin et al. (2000, 2003) dan diterapkan dalam penyusunan kriteria kesesuaian lahan untuk berbagai komoditas pertanian.
METODOLOGI
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan selama 1 (satu) tahun, dimulai pada bulan September 2008. Pengambilan data dilakukan di beberapa lokasi pada wilayah-wilayah yang memiliki keragaman kondisi fisik dan lingkungan yang berbeda. Lokasi-lokasi ini mewakili beberapa wilayah agroekologi yang berbeda, yaitu daerah Jawa Barat (mewakili daerah iklim basah dan relatif subur), Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur (berbahan volkan beriklim kering), dan DI Yogyakarta (mewakili daerah beriklim kering dengan bahan induk batukapur).
Data-data yang berasal dari Kabupaten Flores Timur (Nusa Tenggara Timur) dan Kabupaten Gunung Kidul (DI Yogyakarta) adalah data primer, sedangkan data yang berasal dari Propinsi Jawa Barat dan Nusa Tenggara Barat merupakan data sekunder yang diambil pada saat penelitian terdahulu (Krisnohadi, 2008) dan diolah kembali dalam penyusunan kriteria kesesuaian lahan yang baru.
Bahan dan Peralatan
Bahan-bahan pendukung penelitian terdiri atas data pustaka, peta tanah, peta geologi, peta Rupa Bumi Indonesia dan data-data hasil penelitian terdahulu. Peralatan penelitian yang diperlukan untuk pengambilan data di lapangan adalah: bor tanah tipe Belgia, Buku Munsell Soil Color Chart untuk menetapkan warna tanah, altimeter, alat GPS (Global Positioning System ), pH-meter, meteran, serta beberapa alat kelengkapan lainnya. Seluruh data hasil pengamatan lapang tersebut, baik data parameter biofisik lahan maupun parameter pertumbuhan dan produksi tanaman dicatat dalam formulir pengamatan lapang.
Software Microsoft Excel dan Microsoft Word digunakan untuk penulisan dan pengolahan data-data primer dan sekunder. Sedangkan analisa stastistik menggunakan perangkat lunak Minitab versi 14.
Prosedur Penelitian dan Parameter Pengamatan
Pendekatan
Pengumpulan data di lapangan dilakukan dengan pendekatan survey. Analisis statistik yang digunakan untuk melihat faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produktifitas tanaman adalah analisis multivariat, yaitu analisis faktor dengan menggunakan PCA (principal component analysis).
Penentuan kriteria kesesuaian lahan untuk tanaman jambu mete melalui pendekatan boundary line. Persamaan boundary line dibangun berdasarkan analisis regresi sederhana (simple regression) dengan menggunakan data titik-titik terluar dari sebaran data-data yang diperoleh melalui survey.
Dalam membangun kriteria kesesuaian biofisik lahan untuk tanaman jambu mete dengan mempertimbangkan potensi produksinya, metodologi penelitian ini dilakukan dengan mengadopsi metoda DRIS (Diagnostic Recommended Integrated System) (Walworth et al., 1986), yang disesuaikan untuk keperluan pengembangan kriteria kesesuaian lahan, untuk mencari karakteristik lahan mana yang menjadi pembatas dan paling menentukan produktifitas tanaman,
Tahap pertama untuk melakukan evaluasi menggunakan metoda DRIS ini adalah pembuatan sebuah nilai standar atau norm. Norm ini ditetapkan berdasarkan potensi produksi paling tinggi berdasarkan hasil survey. Dalam metode ini, seluruh data-data hubungan antara nilai karakteristik lahan dengan produksinya diplotkan dalam sebuah grafik. Sebaran atau distribusi titik-titik observasi tersebut akan dibatasi oleh suatu garis batas (boundary line) sebagai suatu model persamaan yang dibangun dari titik-titik terluar. Jika sebuah faktor pembatas dikurangi, misalkan dengan melakukan perbaikan sifat lahan, maka produksi akan meningkat. Hal ini mirip dengan berlakunya hukum minimum dari J.V. Liebig. Sebagai hukum minimim ini disajikan dalam Gambar 1. Garis paling atas merepresentasikan batas kondisi dimana produksi aktual dibatasi oleh variabel yang diplotkan pada absis. Puncak (peak) observasi menunjukkan nilai optimal bagi kombinasi produksi – faktor yang diplotkan pada absis. Sebaliknya, garis paling bawah merepresentasikan respons produksi pada kondisi yang paling tidak optimal.
Gambar 1. Diagram Skematik Respon Tanaman terhadap Sejumlah Faktor Pembatas (Dikutip dari Sumner dan Farina, 1986).
Pengumpulan data
Berdasarkan sumbernya, jenis data yang digunakan merupakan data primer yang diperoleh melalui observasi lapangan dan analisis laboratorium, dan data sekunder yang dikumpulkan hasil-hasil penelitian terdahulu maupun berupa bahan-bahan pendukung pnelitian. Jenis data primer dikumpulkan dari lapangan melalui pendekatan survey lapangan dilakukan di Provinsi Nusa Tenggara Timur dan D. I. Yogyakarta.
Jenis data yang dikumpulkan di lapangan berupa data parameter biofisik lahan, dan parameter pertumbuhan dan produktifitas jambu mete. Data diambil pada contoh tanah/lahan dan tanaman yang mempunyai karakteristik dan tingkatan produksi beragam, dari tingkat produksi yang paling tinggi sampai paling rendah. Sebagian data digunakan untuk penyusunan kriteria kesesuaian biofisik lahan sedangkan sebagian lainnya untuk validasi.
Sedangkan jenis-jenis data sekunder yang dikumpulkan meliputi data parameter biofisik lahan, pertumbuhan dan produksi tanaman hasil penelitian terdahulu yang sama jenisnya dengan data-data primer. Data-data sekunder tersebut berasal dari Provinsi Jawa Barat dan Nusa Tenggara Barat. Di samping
n = No. of limiting factors n - 1 n - 2 n - 3 n - 4 n - 5 Balanced Nutrient Zone of X Excess or Y Insufficiency Zone of Y Excess or X Insufficiency
Nutrient Ratio (X/Y)
n = No. of limiting factors n - 1 n - 2 n - 3 n - 4 n - 5 Balanced Nutrient Zone of X Excess or Y Insufficiency Zone of Y Excess or X Insufficiency
Nutrient Ratio (X/Y) n = No. of limiting factors
n - 1 n - 2 n - 3 n - 4 n - 5 Balanced Nutrient Zone of X Excess or Y Insufficiency Zone of Y Excess or X Insufficiency
Nutrient Ratio (X/Y)
Cr
op
Yi
el
d
itu juga digunakan data sekunder berupa bahan-bahan pendukung penelitian seperti data sosial ekonomi, peta geologi, peta rupa bumi, peta tanah dan peta penggunaan lahan.
Secara lebih terperinci, jenis data yang dikumpulkan dalam kegiatan penelitian ini diuraikan sebagai berikut:
Parameter Sifat Biofisik lahan
Dalam penelitian ini, sifat-sifat biofisik lahan dan lingkungan dari tempat tumbuh jambu mete diekstrak, baik dari data sekunder maupun hasil survai lapangan. Data-data ini berasal dari daerah yang mempunyai kondisi agroekologi yang berbeda-beda. Parameter-parameter sifat biofisik lahan yang dikumpulkan terdiri dari beberapa karakteristik lahan yang mewakili kualitas lahan tertentu, yaitu:
1. Temperatur tanah: elevasi lahan.
2. Ketersediaan air: curah hujan tahunan, jumlah bulan kering per tahun. 3. Media perakaran: tekstur, kedalaman tanah.
4. Retensi hara: kapasitas tukar kation (KTK) tanah, kejenuhan basa, pH tanah, kadar C-organik
5. Hara tersedia: N-total, kadar P-tersedia, kadar K-dapat tukar. 6. Kondisi terrain: kadar batuan di permukaan, dan lereng.
Dari parameter-parameter di atas, beberapa data di antaranya diperoleh melalui pengamatan dan pengukuran di lapang, yaitu kemiringan lereng, kedalaman tanah, kadar batuan di permukaan dan elevasi lahan. Dari titik lokasi pengamatan, diambil contoh tanah terganggu secara komposit sampai kedalaman 30 cm di bawah permukaan tanah. Contoh-contoh tanah tersebut kemudian dibawa ke laboratorium untuk dianalisis beberapa sifat kimia dan fisikanya. Sifat-sifat fisik dan kimia tanah yang dianalisis di laboratorium beserta metode analisisnya disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Analisis Laboratorium Sifat Fisik dan Kimia Tanah
No. Sifat Tanah Metoda
1. Tekstur tanah Pipet
2. Kapasitas tukar kation NH4OAc
3. pH tanah pH (H2O)
4. Kadar C-organik Walkley & Black
5. Total N Kjeldahl
6. Kadar P2O5 Bray/Olsen
7. K-dapat tukar NH4OAc
Data-data iklim yang terkait dengan lokasi pengamatan diperoleh dari data sekunder, diambil dari stasiun pengamat iklim yang terdekat dengan lokasi-lokasi penelitian.
Pengamatan Profil Tanah
Karakterisasi lahan dilakukan dengan pengamatan terhadap tubuh tanah (profil tanah) berdasarkan horison-horison dan faktor fisik lingkungannya, disertai dengan pengambilan contoh tanah. Pengamatan tubuh tanah dilakukan terhadap tanah-tanah yang berkembang dari bahan batukapur dan batuan volkan. Sifat-sifat morfologi lahan yang diamati meliputi kedalaman tanah, drainase, keadaan batuan di dalam penampang, serta sifat-sifat horison tanah yang meliputi: tebal dan batas horison, warna, tekstur, struktur, konsistensi, keadaan perakaran dan pH tanah. Deskripsi profil tanah mengacu kepada Guideline for Soil Profile Description (FAO, 1978), Soil Survey Manual (Soil Survey Staff, 1993) dan Penuntun Pengamatan Tanah di Lapang (LPT, 1969). Contoh tanah setiap horison diambil untuk keperluan analisis sifat kimia dan mineralogi tanah fraksi pasir dan liat.
Analisis sifat-sifat fisik, kimia dan mineralogi dari contoh profil tanah bertujuan untuk mempelajari asal bahan induk tanah, perkembangan dan klasifikasi tanah, serta hubungan antara sifat-sifat tanah. Jenis dan metode analisis tanah meliputi penetapan tekstur 4 fraksi cara pipet, pH tanah (H2O) dan KCl 1N), C-organik (Walkley-Black), N-total (Kjeldahl), P dan K total (HCl 25%) dan P tersedia (Bray I atau Olsen), basa-basa dapat tukar (NH4OAc-pH 7.0), KTK tanah (NH4OAc-pH 7.0), Al dan H dapat tukar (KCl 1N), dan besi bebas (dithionit). Analisis mineral fraksi pasir dengan metoda perhitungan garis,
diperlukan untuk penetapan bahan induk, komposisi dan cadangan mineral. Analisis mineral liat menggunakan alat difraksi sinar–X untuk penetapan jenis dan jumlah mineral liat di dalam tanah (Grim, 1968). Pengklasifikasian tanah dilakukan dengan menggunakan sistem klasifikasi Taksonomi Tanah tahun 2006.
Parameter Produktifitas dan Pertumbuhan Jambu Mete
Pengambilan contoh parameter produktifitas dan pertumbuhan jambu mete mengikuti pengamatan parameter sifat biofisik lahan. Parameter-parameter yang diekstrak meliputi :
1. Diameter batang setinggi dada