Penelitian kapasitas perikanan mulai intensif dan terfokus dilakukan secara global sejak FAO mengemukakan keprihatinannya terhadap manajemen kapasitas penangkapan ikan. Pada saat itu, overcapacity telah merupakan isu kegagalan pasar dalam perikanan yang disebabkan oleh terlalu banyak perusahaan perikanan tangkap memasuki industri perikanan dengan input-input yang sangat berlebihan (Vestergaard 2005). Kekuatiran terhadap isu overcapacity telah menggugah para peneliti untuk mengkaji isu tersebut sebagai upaya untuk memecahkan permasalahannya di bidang perikanan.
Studi kapasitas perikanan dengan orientasi output dilakukan oleh Vestergaard et al. (2003) yang mengkaji kapasitas perikanan multispesies di
pemanfaatan kapasitas yang digunakan (capacity utilization, CU). Hasilnya menunjukkan bahwa nilai rata-rata CU armada gillnetberkisar antara 0,85 – 0,95, dan kelebihan kapasitas tertinggi ditemui pada jenis ikan cod dibandingkan jenis lain, dan hasil studi merekomendasikan peningkatan input (kapal penangkap) sebesar 27% pada periode penelitian.
Hasil kajian Kirkley et al. (2003a) mengenai kapasitas dan pengembangan perikanan purse seine di laut lepas Semenanjang Barat Malaysia menunjukkan nilai efisiensi teknis atau CU yang sangat tinggi. Disimpulkan bahwa kebijakan perikanan yang diterapkan di Malaysia bersifat ekonomis dan berkelanjutan. Hasil studi ini mengindikasikan keberhasilan kebijakan pemerintah Malaysia dalam pengembangan perikanan ditinjau dari aspek ekonomi, penyedian lapangan kerja, devisa, dan pencegahan konflik antar nelayan skala kecil dan skala besar.
Kirkley et al. (2003b) melakukan penelitian tentang kapasitas dan pemanfaatannya dalam perikanan bila data terbatas. Mereka menyimpulkan bahwa 10 kapal penangkap yang dikaji dan beroperasi pada saat penelitian telah melebihi kapasitas penangkapannya. Kemudian disarankan bahwa jika ingin mencapai batas kapasitas produksi sebanyak 20 juta pound, maka armada penangkapan harus dikurangi sebanyak 68 persen atau lebih.
Hsu (2003) melakukan studi awal mengenai indikator kapasitas dengan analisis Peak-To-Peak dan DEA. Indikator studi yang digunakan mencakup jumlah nelayan, jumlah kapal,gross tonagekapal, dan pendaratan ikan per spesies per tahun. Hasil kajiannya menunjukkan bahwa indikator studi yang dipakai dapat digunakan sebagai indikator awal untuk mengestimasi kapasitas aktual, dan kecenderungan CU sesuai waktu pada perikanan di Kanada.
Penelitian kapasitas perikanan berorientasi input telah dilakukan oleh beberapa ahli. Zhou Yingqi et al. (2003) melakukan studi yang berkaitan dengan pengukuran kapasitas penangkapan pada perikanan di Cina dan praktek pengendaliannya. Dalam kajian ini, jumlah kapal, jumlah kekuatan mesin dan
gross tonage (GT) digunakan dalam pemantauan dan pengendalian kapasitas penangkapan. Tujuan penelitian adalah ukuran kuantitas kapasitas penangkapan untuk mengendalikan dan mereduksi tekanan terhadap sumberdaya ikan sehingga dicapai pemanfaatan sumberdaya ikan secara berkelanjutan dan meningkatkan
manfaat ekonomi. Mereka menyarankan bahwa kapasitas penangkapan dari armada sebaiknya diestimasi pada tingkat rata-rata, bukan kapasitas individu kapal. Kemudian, untuk mengendalikan dan membatasi peningkatan kapasitas penangkapan maka tingkat stok ikan, kondisi laut, dan faktor lainnya harus dipertimbangkan. Dikemukakan pula bahwa pengembangan teknologi penangkapan dan perubahan stok ikan mempengaruhi keragaman unit pengukuran kapasitas penangkapan, sehingga kapasitas sebaiknya diukur berdasarkan daerah penangkapan atau wilayah.
Chávez1 (2003) melakukan studi tentang kapasitas penangkapan armada tuna cakalang di Pasifik Tropis bagian timur, dengan menggunakan input yang terdiri dari parameter populasi, jumlah kapal, daya dukung, biaya dan manfaat penangkapan ikan. Model yang digunakan dalam kondisi (keseimbangan ekonomi TR = TC, mortalitas penangkapan 0.62, dan produksi 132 000 ± 2000 ton) diperoleh estimasi produksi potensil pada kondisi daya dukung maksimum sebesar 74 000 ton.
Inoue and Matsuoka (2003) melakukan kajian tentang distribusi hasil tangkapan per hauling pada perikanan pukat cincin dan trawl: yang berimplikasi bagi pengurangan kapasitas penangkapan. Hasil kajian berdasarkan indikator hasil tangkapan dari purse seine dan trawl di laut lepas (hasil tangkapan maksimum per periode tertentu) menunjukkan bahwa pengurangan kapasitas penangkapan sekitar 30 persen, akan menghasilkan 80–90 persen hasil tangkapan pada saat penelitian tanpa mengurangi kapasitas penangkapan optimal.
Penelitian Kishida and Wada (2003) tentang hubungan antara upaya penangkapan dan kapasitas penangkapan dalam fluktuasi stok ikan. Dalam studinya, kapasitas penangkapan didefinisikan sebagai batas atas upaya penangkapan (kapal*trip) untuk jumlah armada tertentu, dengan menggunakan model stok dinamik sederhana. Disarankan bahwa jumlah kapasitas penangkapan optimal untuk mencapai produksi maksimum dan penerimaan maksimum dalam jangka panjang adalah sebesar 25-50% dari kapasitas penangkapan maksimum pada tingkat keseimbangan bioekonomi.
Penelitian kapasitas perikanan dengan menggunakan pendekatan SPF telah dilakukan oleh Kirkley et al. (1995) dengan menerapkan model SPF untuk
mengkaji efisiensi teknis perikanan Scallop di laut Mid-Atlantic. Dalam kajian tersebut, efisiensi teknis dihitung dan kemudian dibandingkan terhadap penggunaan input, kondisi sumberdaya, kinerja ekonomi, dan regulasi perikanan pada saat itu. Hasil studi menunjukkan bahwa pemilik dan nakoda kapal hanya mengkompensasi sebagian dalam perubahan kondisi sumberdaya melalui penggunaan tenaga kerja dan upaya penangkapan, sedangkan regulasi secara keseluruhan mungkin meningkatkan efisiensi total dalam jangka pendek.
SharmaandLeung (1999) telah mengkaji tingkat determinan efisiensi teknis kapal long-line domestik berbasis di Hawai pada tahun 1993 dengan pendekatan SPF, termasuk model inefisiensi teknis kapal penangkap. Yang dikaji mencakup elastisitas output, marjinal produk input, dan return to scale. Hasil studi menunjukkan efisiensi teknis rata-rata adalah sebesar 84%, dan kapal-kapal
Swordfish yang merupakan target penangkapan bervariasi menurut musim,
setting, dan trip penangkapan cenderung kurang efisien dibandingkan kapal-kapal “tuna”. Kecuali pengalaman nelayan, variabel-variabel seperti ukuran kapal, tingkat pendidikan, dan umur kapal, berpengaruh nyata terhadap efisiensi teknis.
Kirkley et al. (2004) telah mengestimasi kapasitas perikanan secara
stochastic dan deterministik untuk pengurangan kapasitas perikanan melalui pendekatan SPF, selain DEA dengan menggunakan panel data 10 kapal perikanan
scallop di wilayah barat laut Atlantic, USA. Hasil kajian menunjukkan bahwa ukuran output dari pendekatan SPF adalah lebih rendah dibandingkan ukuran
outputpendekatan DEA, tetapi kedua ukuran tersebut tergolong efisien.
Coppola et al. (2004) telah mengkaji efisiensi produksi armada perikanan Italia dengan menggunakan SPF, selain DEA. Hasil kajian menunjukkan bahwa sifat acak adalah penting dalam proses penangkapan ikan, sehingga disimpulkan bahwa metode stochastic adalah lebih baik daripada DEA dalam estimasi efisiensi. Dikemukakan pula bahwa risiko yang berkaitan dengan pendekatan DEA bersifat gangguan acak atau random noise, tidak teridentifikasi secara langsung pada fungsi produksi dengan kombinasi inefficiency term. Oleh sebab itu, nilai efisiensi teknis melalui pendekatan SPF menggunakan data bulanan adalah lebih rendah dari pada nilai efisiensi dengan pendekatan DEA. Estimasi efisiensi teknis dengan pendekatan SPF menggunakan volume produksi sebagai
output, sedangkan sebagai input adalah gross tonage, panjang kapal (LOA), kekuatan mesin (PK) sebagai inputtetap; hari melaut dan jumlah nelayan sebagai
input variabel; kelimpahan stok agak sulit diestimasi sehingga variabel tersebut bersama variabel waktu diperlakukan sebagai variabel kategori dengan asumsi bahwa kapal beroperasi dalam waktu yang sama hanya memanfaat stok yang sama. Nilai inefisiensi, γ, adalah bervariasi di mana Model IV bernilai 0,46 dan Model I bernilai 0,78.
Coglanet al. (1998), mengukur efisiensi relatif perusahaan perikanan trawls dasar di “English Channel” secara individual melalui pendekatan SPF dan DEA. Mereka meyimpulkan bahwa dengan data yang sama, pendekatan SPF menghasilkan inefisiensi teknis pada beberapa kapal yang sebelumnya telah dikategorikan efisien.
Dalam studi kapasitas perikanan tangkap di Indonesia, pendekatan DEA telah diterapkan oleh Fauzi dan Anna (2005) di perairan Teluk Jakarta dalam kaitannya dengan pengukuran efisiensi perikanan dari aspek kegiatan produksi maupun nonproduksi. Dari sisi input, kapasitas perikanan sebagai indeks komposit dari berbagai kapital yang digunakan dalam penangkapan telah melebihi yang seharusnya, seperti diindikasikan oleh nilai negatif dari variabel input (potential improvement) pada alat tangkap bubu, muroami dan payang. Dengan demikian dibutuhkan kebijakan pengurangan input (alat tangkap bubu, muroami, dan payang) di Teluk Jakarta.
Sularso (2005) telah menggunakan model DEA dengan pendekatan model Charnes, Cooper, Rhodes dengan orientasi input (CCR-I) untuk menganalisis alternatif pengelolaan perikanan udang di Laut Arafura. Hasil penelitiannya menunjukkan telah terjadi economic overfishing dan inefisiensi atauovercapacity
pada penangkapan udang saat penelitian, sehingga dibutuhkan alternatif pengelolaan perikanan seperti penutupan musim penangkapan (closed season), sistem kuota, dan pengurangan jumlah kapal.
Model DEA dengan pendekatan Banker, Charnes, Cooper (BCC) yang berorientasi input juga diterapkan oleh Efendi (2007) dalam mengkaji perikanan pukat cincin di Pekalongan yang diasumsikan bersifat variable return to scale, VRS. Hasil kajian menunjukkan bahwa perikanan pukat cincin di Pekalongan
berada dalam kondisi inefisiensi (overcapacity) sehingga upaya penangkapan perlu dikurangi sebesar 18,8 persen.
Desiniarti (2007) telah menerapkan metode DEA dengan model yang dikembangkan oleh Fare et.al. (2000), Lindebo (2002), dan Kirkleyet al. (2003), untuk mengukur kapasitas perikanan tangkap ikan pelagis kecil di perairan pesisir Sumatera Barat. Hasil penelitian menunjukkan terjadi penurunan tingkat efisiensi perikanan tangkap dari waktu ke waktu, pemanfaatan pelagis kecil telah mengarah keoverfishingdan perikanan tangkap telah mengarah keovercapacity.
Penelitian Olii (2007) menggunakan model DEA untuk menghitung efisiensi dan kapasitas perikanan tangkap dalam rangka pengelolaan armada penangkapan di Provinsi Gorontalo. Hasil penelitian menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan efisiensi pada tahun 1988–1992, namun cenderung menurun pada periode berikutnya. Selanjutnya disimpulkan bahwa alat tangkap yang efisien pada periode penelitian adalah pukat cincin, jaring insang dan pancing.
Walaupun penelitian kapasitas perikanan dengan model SPF dalam perikanan telah dilakukan secara global, namun di Indonesia hampir tidak dijumpai aplikasi model SPF dalam mengukur efisiensi perikanan tangkap. Pendekatan SPF baru diterapkan oleh Suyasa (2007) dalam mengkaji keberlanjutan dan produktivitas perikanan pelagis kecil di pantai Utara Jawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata efisiensi teknis alat tangkap purse seine 0,635, payang 0,638, dan gillnet 0,677. Selanjutnya disimpulkan bahwa hasil tangkapan nelayan dipengaruhi oleh ukuran kapal, lama trip penangkapan, pengalaman nakhoda dan anak buah kapal sebagai nelayan.
Hasil studi empiris sebelumnya mengenai kapasitas dan efisiensi teknis penangkapan masing-masing menggunakan input yang berbeda sebagai variabel bebas. Perbedaan tersebut dapat dipahami melalui rangkuman hasil studi empiris (Tabel 1) yang dilakukan oleh para peneliti dalam kasus penelitian kapasitas perikanan di USA, Malaysia, Inggris, Italia dan Indonesia. Pemilihan variabel tersebut adalah sesuai dengan status perikanan dan tujuan penelitian.
Di Provinsi Maluku, selain Laut Arafura oleh Sularso (2005) dengan menerapkan pendekatan DEA, penelitian kapasitas perikanan dengan pendekatan DEA dan SPF belum pernah dilakukan. Pada hal hasil-hasil penelitian empiris
tentang kapasitas perikanan seperti yang dijelaskan sebelumnya menggambarkan bahwa penelitian kapasitas khususnya bagi wilayah dengan perkembangan perikanan yang pesat seperti Maluku adalah sangat dibutuhkan untuk memperoleh informasi berharga bagi perumusan strategi kebijakan pembangunan perikanan tangkap berkelanjutan. Dengan demikian, penelitian ini dirancang dengan menerapkan pendekatan DEA dan SPF untuk mengevaluasi kapasitas perikanan dan efisiensi penangkapan ikan pelagis kecil di wilayah Provinsi Maluku.
Tabel 1 Variabelinputstudi empiris efisiensi teknis penangkapan ikan
Peneliti Model Kasus Variabelinputdalam studi
efisiensi teknis
Kirkley, SquiresandStrand (1995)
SPF Perikananscallop laut Mid-Atlantic
Kelimpahan sumberdaya ikan, karakteristik kapal dan alat tangkap, trip penangkapan, jumlah nelayan, ketrampilan manajerial SharmaandLeung (1999) SPF Perikananscallop
barat laut Atlantic, USA.
Musim,setting, trip penangkapan, pengalaman nelayan,ukuran kapal, tingkat pendidikan, umur kapal Viswanathan, Omar, Jeon,
Kirkley, Squiresand Susilowati (2002)
SPF Perikanan trawl Malaysia
Pengalaman nakhoda, jumlah anggota keluarga, jumlah nelayan per kapal, nakhoda pemilik kapal, pendidikan formal nakhoda, lokasi pendataran ikan, ethnis nakhoda, penangkapan pada musim puncak, ukuran GRT kapal
Kirkley, Paul and Squires (2004) SPF, DEA Perikananscallop Northwest Atlantic, USA
Kapital (GRT kapal, tenaga mesin, lebar “dredge”), upaya penang- kapan (hari melaut), jumlah nelayan, stok biomasa. Coglan, PascoeandMardle
(1998) SPF, DEA Perikanan trawls dasar di “English Channel”
Panjang kapal, lebar kapal, tenaga mesin, jumlah jam penangkapan, kelimpahan stok.
Coppola, Gambino and Spagnolo (2004)
SPF, DEA
Armada perikanan Italia
Gross Tonage, panjang kapal (LOA), kekuatan mesin (PK), hari melaut dan jumlah nelayan sebagaiinputvariabel Suyasa (2007) SPF Perikanan pelagis
kecil di pantai Utara Jawa, Indonesia
Ukuran kapal, jumlah nelayan, lama trip, pengalaman nakhoda, pendidikan formal nakhoda.
3.1 Pendekatan Teoritis
Pengelolaan sumberdaya ikan sebagai sumberdaya terbarukan pada hakekatnya menimbulkan dua pertanyaan mendasar (Fauzi 2004). Pertama, seberapa besar sumberdaya ikan harus dieksploitasi saat ini dan berapa yang tersedia untuk masa mendatang. Kedua, bagaimana mengeksploitasi sumberdaya secara efisien dan optimal untuk menghasilkan suatu nilai ekonomi tinggi. Pertanyaan mendasar tersebut dapat dikaji dari aspek biologis maupun ekonomis.
Tujuan pengelolaan perikanan dapat dikelompokkan kedalam aspek biologi, ekologi, ekonomi dan sosial (Widodo dan Suadi 2006). Tujuan tersebut lebih spesifik adalah untuk menjamin keberlanjutan produktivitas, minimalisasi dampak penangkapan terhadap lingkungan, memaksimalkan pendapatan nelayan, dan memaksimalkan kesempatan kerja di bidang perikanan. Implementasi tujuan- tujuan ini memiliki keterbatasan dan dapat menimbulkan konflik intensitas di dalamnya. Misalnya, meminimumkan dampak kegiatan perikanan terhadap ekosistem, tetapi secara simultan pendapatan ekonomi harus ditingkatkan. Ataupun memaksimumkan kesempatan kerja nelayan, tanpa mempertimbangkan apakah mereka mampu hidup memadai dalam kegiatan perikanan.
Pada saat ini, pengelolaan perikanan yang berbasis ekosistem (marine ecosystem-based fisheries) dalam prakteknya masih lebih cenderung pada usaha perikanan yang berbasis sumberdaya (resources-based fisheries). Dalam usaha perikanan tersebut, tingkat hasil tangkapan maksimum (MSY) masih merupakan titik acuan dalam mengevaluasi keberlangsungan kegiatan perikanan, dan adanya anggapan bahwa potensi ekonomi dari pengelolaan sumberdaya ikan cukup besar. Pendekatan MSY lebih diarahkan pada sisi biologi tanpa memperhatikan aspek lain yang belum dipahami dalam pengelolaan perikanan (Fauzi 2005). Aspek- aspek tersebut mencakup unsur ketidakpastian yang berlangsung dan berpengaruh pada kemampuan sumberdaya ikan. Unsur ketidakpastian itu antara lain adalah dugaan kelimpahan stok, perilaku pengguna sumberdaya terhadap aturan, kondisi ekonomi dan politik, serta prioritas tujuan pengelolaan yang ditetapkan (Hilborn
Fakta menunjukkan bahwa kelompok sumberdaya ikan tertentu pada beberapa WPP di Indonesia telah berstatus overexploited(DKP RI 2006). Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa terlalu banyak faktor produksi (kapal dan alat tangkap) atau excess capacity sebagai akibat adanya peningkatan investasi perikanan di mana kapital akan terakumulasi dalam jangka panjang. Kelebihan kapasitas atau overcapacityakan menyebabkan keuntungan dan rente sumberdaya ikan menurun bahkan menjadi nol.
Konsep overcapacity dalam jangka panjang sangat berguna dalam menentukan status efisiensi perikanan berdasarkan penggunaan faktor produksi yang berlebihan. Pada perikanan akses terbuka, penambahan faktor produksi berupa kapal dan tenaga kerja nelayan dapat meningkatkan kompetisi di antara pelaku usaha perikanan. Penambahan faktor produksi dapat menimbulkan masalah perebutan daerah penangkapan ikan potensil maupun alat tangkap. Masalah ini berimplikasi pada biaya tinggi dan menurunnya kapasitas penangkapan sehingga rente ekonomi tak mampu dihasilkan.
Telah dikemukakan sebelumnya bahwa perikanan tangkap adalah merupakan suatu kegiatan produksi yang kompleks dan unik (seperti pertumbuhan intrinsik populasi, daya dukung perairan). Oleh karena itu, hasil tangkapan yang diperoleh adalah merupakan interaksi dari sifat-sifat dimaksud dengan faktor internal penangkapan yang dapat dikendalikan maupun faktor eksternal yang tak dapat dikendalikan. Faktor internal penangkapan pada hakekatnya berkaitan dengan kemampuan manajerial nelayan dalam pengelolaan usaha penangkapan (seperti alokasi jumlah faktor produksi ketika timbul faktor eksternal dalam kegiatan penangkapan) dan kapabilitas nelayan dalam penguasaan teknik penangkapan. Faktor eksternal mencakup kondisi perairan seperti gelombang, arus, angin dan sebagainya. Dengan demikian, nelayan tidak pernah mengetahui secara pasti berapa besar jumlah produksi maksimum yang dapat dicapai dari usaha penangkapan ikan.
Dalam konteks efisiensi, nelayan tidak selalu memperoleh hasil tangkapan dengan efisiensi tinggi. Kontribusi faktor internal berupa kemampuan manajerial dan penguasaan teknologi akan mencerminkan hasil tangkapan berefisiensi tinggi. Jika hasil tangkapan yang diperoleh mendekati potensi maksimum secara teoritis
yang dapat dicapai, maka nelayan tersebut dikatakan telah melakukan efisiensi tinggi dalam usaha penangkapan. Sebaliknya, jika hasil tangkapannya jauh lebih rendah dari pada potensi maksimum yang dapat dicapai maka nelayan tidak melakukan efisiensi tinggi.
Inefisiensi dalam usaha penangkapan dapat bersifat teknis dan alokatif. Tidak efisien secara teknis akan terjadi, jika produktivitas maksimal tidak dapat dicapai dalam operasi penangkapan. Ini dapat diakibatkan oleh per unit upaya penangkapan yang dikorbankan adalah tidak menghasilkan produksi maksimum. Tidak efisien secara alokatif akan terjadi, jika proporsi penggunaan upaya penangkapan tidak optimum, pada kondisi tingkat harga dari upaya dan hasil penangkapan tertentu. Hal ini disebabkan produk penerimaan marginal adalah berbeda dengan biaya marginal.
Alokasi faktor produksi secara efisien dalam perikanan merupakan hal penting pada tingkat industri dalam mencapai tujuan pengelolaan perikanan. Pentingnya efisiensi alokasi tersebut karena umumnya tujuan pengelolaan perikanan yang ditetapkan adalah bersifat ganda atau multi purposes seperti tercantum dalam Undang-Undang No. 31 Tahun 2004, sehingga sering timbul konflik kepentingan dalam pelaksanaannya. Adanya kendala seperti keterbatasan sumberdaya ikan, kapital, peningkatan pendapatan dan penyerapan tenaga kerja nelayan, dan pemenuhan konsumsi protein hewani menghendaki suatu pengalokasian sumberdaya secara tepat dan efisien untuk mencapai tujuan pengelolaan sumberdaya perikanan. Oleh karena itu, salah satu langkah yang perlu diperhatikan untuk mencapai tujuan ganda dalam pengelolaan perikanan adalah mengurangi deviasi-deviasi yang terjadi.