• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DATA

HASIL PENELITIAN

5.3 Perbandingan Kadar PGE2

6.1.3 Umur kehamilan

Rerata umur kehamilan ibu Kelompok Ketuban Pecah Dini Preterm adalah 32,95±2,82 minggu dan rerata Kelompok Kehamilan Preterm Normal adalah 31,90±2,71 minggu, dengan nilai p = 0,507. Hal ini berarti bahwa tidak ada perbedaan umur kehamilan antara kelompok kasus dengan kontrol.

Lin dan Fajardo (2008) mendapatkan rerata umur kehamilan pada Kelompok Ketuban Pecah Dini Preterm 31,83±3,22 minggu dan Kelompok Kehamilan Preterm Normal 33,28±2,16 minggu, dengan nilai p = 0,67. Demikian juga Shim (2004) mendapatkan rerata umur Kehamilan Pada Kelompok Ketuban Pecah Dini Preterm 30,03+3,54 minggu dan Kelompok Kehamilan Preterm Normal 31,93+3,11 minggu, p = 0,237. Tidak diterangkan mekanisme yang menjelaskan pengaruh umur kehamilan ini (Shim,etal.,2004).

6.2 Perbandingan Kadar IL-6

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata kadar IL-6 Kelompok Ketuban Pecah Dini Preterm adalah 23,4924,61 dan rerata Kelompok Hamil Normal adalah 4,506,59. Analisis kemaknaan dengan uji t-independent

menunjukkan bahwa nilai p < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan secara bermakna kadar IL-6 antara Kelompok Ketuban Pecah Dini Preterm dengan Kelompok Hamil Normal. Hal ini dapat dijelaskan bahwa persalinan spontan berkaitkan dengan aktivasi reaksi inflamasi dalam jaringan kehamilan(Matthew, et al., 2001).

Interleukin-6 (IL-6) adalah sitokin Pleiotropic dengan berbagai aktivitas biologis, diproduksi oleh baik limfoid dan non-limfoid sel dan mengatur reaktivitas imun, respon fase akut, peradangan, dan hematopoiesis onkogenesis (Kishimoto, 2003).

Sitokin menyebabkan perekrutan sel inflamasi ke dalam membran koriodesidual. Meskipun kehamilan cukup bulan atau aterm berhubungan dengan respon inflamasi, infeksi intra uterin yang dimediasi dengan pelepasan sitokin, diduga menjadi faktor penyebab dalam terjadinya kehamilan dengan ketuban pecah dini preterm. Penelitian sebelumnya dinyatakan bahwa kehamilan prematur berkaitkan dengan peningkatan konsentrasi sitokin seperti IL-1b, IL-6, IL-8, IL-10 dan Tumor Necrotic Factor -α (TNF-α). Secara khusus, peningkatan konsentrasi IL-6 tampaknya menjadi penanda infeksi intrauterin yang akan berdampak terjadinya untuk kelahiran prematur(Matthew, et al., 2001).

Bukti yang telah disajikan bahwa janin merespon proses inflamasi mungkin juga berkontribusi terhadap peningkatan konsentrasi sitokin intrauterin yang berakibat terjadinya persalinan prematur. Hal ini akan memungkinkan perawatan lebih obyektif dan akan menghindari pengobatan yang tidak

seperlunya. Sehingga terjadinya persalinan prematur dapat dicegah (Matthew, et al.,2001).

Penelitian terbaru menyatakan bahwa sitokin berpartisipasi secara aktif dalam patofisiologi normal dan abnormal pada masa kehamilan dan masa nifas. Colony Stimulating Factor-l (CSF-1) terlibat dalam proses untuk implantasi, dan Granulocyte-Makrofag Colony Stimulating Factor (GM-CSF) telah menunjukkan berperan dalam merangsang pertumbuhan plasenta. IL-l dan Tumor NecroticFactor(TNF)terlibat pada inisiasi nifas dalam pengaturan infeksi pada intra uterin. Penelitian menyatakan bahwa IL-l dan TNF telah terdeteksi pada cairan amniotik pada wanita yang hamil dengan ketuban pecah dini preterm(Goldenberg, et al., 2003).

Sitokin tersebut diproduksi oleh decidua dalam menanggapi adanya paparan endotoksin.Dan kedua sitokin tersebut dapat merangsang amnion dan desidua untuk memproduksi prostaglandin. Pengamatan ini mendorong kami untuk menyelidiki partisipasi IL-6. IL-6 kita kenal seperti sitokin lainnya sebagai mediator utama dalam menanggapi infeksi dan jaringan yang cedera. IL-6 dihasilkan oleh sel-sel jaringan stroma endometrium untuk meresponadanya IL-l dan Interferon-γ (IFN-γ) (Goldenberg, et al., 2003).

IL-6 juga dihasilkan oleh desidual dalam merespon adanya endotoksin. Selain itu, pada penelitian sebelumnya melaporkan IL-6 akan meningkat pada wanita yang hamil dengan ketuban pecah dini preterm (Romero,et al., 1991). Peningkatan kadar interleukin-6 akan memacu pembentukan MMP-9 (Yoneda,et al., 2009), Peningkatan kadar Metalloproteinaseini menyebabkan melemahnya

korioamnion sehingga memudahkan terjadi ruptur melalui degradasi kolagen (Goldenberg, et al., 2003).

IL-6 juga dihasilkan oleh desidual dalam merespon adanya endotoksin. Selain itu IL-6 akan mengalami peningkatan pada ibu hamil yang mengalami preeklampsia. Hal ini diakibatkan karena sitokin IL-6 akan terbentuk karena adanya rangsangan gangguan radikal bebas. Sehingga sampel penelitian diwajibkan dilakukan pengukuran tekanan darah. Apabila didapatkan tekanan darah tinggi maka akan dijadikan kriteria ekslusi.

Peningkatan IL-6 terjadi pada pasien dalam keadaan inpartu, sehingga dalam pengambilan sampel, pasien yang mengalami ketuban pecah dini preterm dilakukan pemeriksaan dengan menggunakan alat kardiotokografi. Dinyatakan sebagai sampel penelitian apabila hasil pembacaan pada kardiotokografi tidak didapatkan kontraksi rahim atau his.

Pemeriksaan berat badan dan tinggi badan dilakukan juga untuk menghindari faktor nutrisi sebagai penyebab ketuban pecah dini preterm. Sampel penelitian didapatkan dengan indeks massa tubuh dalam kategori normal.

6.3 Perbandingan Kadar PGE2

Hasil analisis menunjukkan bahwa rerata kadar prostaglandin Kelompok Ketuban Pecah Dini Preterm adalah 24,8419,21dan rerata Kelompok Hamil Normal adalah 9,194,33. Analisis kemaknaan dengan uji t-independent menunjukkan nilai p < 0,05. Hal ini berarti bahwa rerata kadar prostaglandin pada ke dua kelompok berbeda secara bermakna.

Hal ini dapat dijelaskan mengingat prostaglandin dianggap sebagai mediator sentral dalam proses kelahiran, produksi prostaglandin oleh jaringan intrauterin meningkat sebelum dan selama tahap awal proses persalinan. Hal ini dapat diketahui dari penelitian yang ada, yaitu terjadi peningkatan dalam cairan ketuban dan serum plasma ibu dan urin. PGE2 dan PGF2α dikenal sebagai stimulator kuat kontraktilitas miometrium dan dapat menginduksi persalinan pada semua umur kehamilan, sedangkan inhibitor prostaglandin dapat memperpanjang proses kehamilan (Kayem, et al., 2002).

Kadar prostaglandin juga akan meningkat secara drastis pada cairan ketuban pada saat proses persalinan dimulai. Sebuah perbedaan yang signifikan untuk prostaglandin pada arteriovenosa dalam plasma tali pusat menunjukkan bahwa plasenta juga merupakan sumber penting bagi PGE2 dalam sirkulasi janin selama akhir kehamilan akhir (Grigsby, et al., 2006).

Kelahiran adalah suatu proses fisiologis yang kompleks yang terjadi karena faktor janin, plasenta dan ibu. PGE2 yang terlibat dalam onset dan kemajuan persalinan, dan peningkatan sintesis prostaglandin oleh Cyclooxygenase (COX) dalam jaringan intrauterin (plasenta dan selaput janin) merupakan faktor yang berperan penting dalam memicu terjadinya proses ketuban pecah dini. Membran selaput ketuban utuh serta sel-sel diisolasi dari amnion, korion dan desidua menghasilkan PGE2 dalam menanggapi rangsangan sitokin seperti IL-6 dan IL-1 (Farina, et al.,2006).

Permulaan waktunya pembentukan prostaglandin mungkin berhubungan dengan persalinan prematur yang dapat terjadi sebagai akibat dari infeksi

intrauterin. Ada bukti bahwa sel-sel dari membran amnion merupakan sumber utama PGE2 dalam intrauterin, karena jaringan amnion kaya mengandung Fosfolipid Arachidonyl dan berisi fosfolipase A2 yang mengkatalisis pelepasan Asam Arakidonat untuk biosintesis prostaglandin, dan amnion sel yang disebabkan oleh Epidermal Growth Factor (EGF) (Kniss, et al.,2003).

Bukti bahwa EGF berasal dari janin setidaknya bertanggung jawab untuk memicu timbulnya sintesis prostaglandin oleh sel amnion. Epidermal Growth Factor menyebabkan peningkatan cairan ketuban saat kehamilan. Sel-sel amnion dan baris sel amnion mengandung reseptor afinitas tinggi untuk Epidermal Growth Factor. Kemudian Epidermal Growth Factor merangsang pembentukan PGE2dalam sel-sel amnion. Kami berpendapat bahwa, pada kehamilan tanpa komplikasi, proses penurunan posisis janin yang disebabkan Epidermal Growth Factor yang terakumulasi dalam cairan ketuban sebagai janin matang, dan setelah mencapai konsentrasi ambang batas, merangsang PGE2 yang di biosintesis oleh sel amnion (Grigsby, et al., 2006).

Dalam kasus persalinan prematur (<37 minggu kehamilan), sistem sinyal normal diaktifkan proses prematur. Salah satu penyebab yang mungkin untuk ini adalah produksi sinyal tambahan dari ibu. Aktivasi dari sistem kekebalan tubuh ibu yang menjadi pemicu penting bagi timbulnya persalinan prematur dalam pengaturan infeksi bakteri intrauterin. Telah dikemukakan bahwa agen imuno regulatori seperti Interleukin-L1β(IL-1β) dan TumorNecrotic Factor-α (TNF-α) merangsang sintesis PGE2, yang mengarah kepada terjadinya aktivitas dini pada uterus dan dilatasi pada serviks (Kniss, et al., 2003). Sehingga pada penelitian ini

pasien yang dijadikan sebagai sampel telah dilakukan pemeriksaan yang menyatakan tidak adanya kontraksi pada ibu hamil. Pemeriksaan tersebut menggunakan mesin kardiotokografi. Dinyatakan sebagai sampel apabila hasil dari pembacaan menyatakan tidak didapatkan kontraksi rahim atau his.

PGE2 juga meningkatkan MMP-9. Selain itu juga dapat meningkatkan MMP-1 dan MMP-3. Peningkatan MMP akan berakibat pada mudahnya terjadi ruptur pada membran selaput ketuban (Mc.Laren,et al., 2000). Selain itu, PGE2 juga menyebabkan penurunan TiMP-1danberperan mestimulasi pembentukan MMP-2(Ulug, et al., 2001).

PGE2 akan mengalami penurunan kadar serum level pada pasien yang mengalami preeklampsia. Apabila didapatkan tekanan darah tinggi maka akan dijadikan kriteria ekslusi.

Dokumen terkait