• Tidak ada hasil yang ditemukan

Upaya Pegendalian Konflik 1 Pencegahan Konflik

Dalam dokumen NILAI EKONOMI KONFLIK MANUSIA DAN GAJAH (Halaman 68-77)

3) Upaya pengendalian yang dilakukan oleh pemilik lahan

5.5. Upaya Pegendalian Konflik 1 Pencegahan Konflik

Upaya pencegahan konflik dilakukan untuk mencegah masuknya gajah ke lahan pertanian dan mengantisipasi kedatangan gajah sehingga upaya penanggulangan dapat segera dilakukan. Bentuk dari upaya pencegahan konflik yang dilakukan oleh masyarakat dan Tim Flying Squad berupa penjagaan lahan, pengontrolan lahan, pemasangan penghalang disekitar lahan dan patroli kawasan .

1) Penjagaan dan pengontrolan lahan

Penjagaan lahan dilaksanakan pukul 17.00 - 06.00 WIB. Beberapa diantara masyarakat menjaga dengan bermukim di lahan pertaniannya. Pengontrolan kebun umumnya dilaksanakan pada sore hari (pukul 18.00 WIB) atau malam hari (pukul 20.00 WIB). Tujuan pengontrolan kebun yaitu untuk memeriksa keberadaan gajah di sekitar atau di lahan pertanian. Masyarakat akan

47407197.6 4675000

Pertanian Bangunan

melakukan penjagaan dan pengontrolan lahan secara intensif apabila mendapatkan informasi adanya keberadaan gajah di sekitar lahan miliknya. Informasi ini berasal dari Tim Flying Squad dan atau masyarakat yang bermukim di lahan pertanian serta masyarakat lainnya.

. Keberadaan gajah di lahan pertanian atau di daerah sekitarnya dapat terdeteksi dengan adanya jejak, bolus (kotoran), suara, sisa makanan dan kerusakan di dalam lahan maupun di sekitar lahan (Gambar 13). Kerusakan ini meliputi kerusakan penghalang (pagar atau parit) dan tanaman. Apabila terdapat ciri-ciri keberadaan gajah maka pemilik lahan segera melakukan penyusuran untuk mengetahui lokasi keberadaan gajah.

(a) (b)

(c)

Gambar 13 Ciri-ciri keberadaan gajah: jejak (a), bolus/kotoran (b) dan kerusakan tanaman (c).

2) Penghalang a. Pagar kayu

Pagar kayu digunakan disekeliling lahan dengan tinggi 1 - 2 meter (Gambar 14). Tujuannya yaitu untuk mencegah masuknya gajah dan satwa lain seperti babi dan monyet. Penggunaan pagar kayu ini kurang efektif dalam menghalangi gajah karena bahan kayu mudah lapuk, terserang rayap dan mudah dirusak oleh gajah. Pagar kayu ini lebih tepat untuk mencegah masuknya satwa lain seperti babi.

Gambar 14 Pagar kayu pada lahan kelapa sawit. b. Pagar pisang

Pemagaran lahan dengan pisang digunakan di bagian tempat masuknya gajah ke lahan pertanian. Tujuannya yaitu untuk mendetekasi keberadaan gajah secara cepat berdasarkan suaranya. Gajah yang memakan batang pisang akan mengeluarkan suara dari kunyahannya ataupun dari patahannya. Pemilik lahan mengharapkan gajah hanya akan memakan pisangnya saja tanpa memakan kelapa sawitnya. Penggunaan pagar pisang ini tidaf efesien dalam upaya pencegahan konflik.

c. Pagar kaleng

Pemagaran lahan dengan kaleng cukup membantu dalam mendeteksi kedatangan gajah. Tujuan dari pemasangan pagar kaleng ini bukan untuk mencegah masuknya gajah tetapi untuk mengetahui secara cepat masuknya gajah kedalam lahan pertanian. Kedatangan gajah dapat terdeteksi dengan bunyi-bunyi kaleng yang bergerak akibat ditabrak gajah. Penggunaan pagar kaleng dilakukan dengan memanfaatkan kaleng bekas yang dikaitkan pada tali yang memagari lahan. Kaleng-kaleng tersebut diisi batu/kerikil agar menghasilkan bunyi.

d. Pagar listrik (Pancing/Strom gajah)

Pagar listrik memiliki daya listrik yang menimbulkan daya kejut apabila tersentuh oleh gajah. Pemilik lahan mengharapkan ketika gajah terkejut gajah akan jera untuk memasuki lahan pertanian miliknya. Alat-alat yang digunakan untuk pagar listrik/strom gajah terdiri dari kawat, kayu untuk tiang, calcium battery untuk menyimpan energi matahari, Accu kering 150 Watt (mabruk tenaga surya) untuk mengkonversi energi matahari menjadi arus listrik dan batttery fencer 12 V - 680 mA untuk menghasilkan tegangan listrik (Gambar 15). Pemakaian pagar listik/strom gajah ini memerlukan biaya yang sangat mahal

sehingga penggunanya adalah pihak perkebunan skala besar dan masyarakat yang bermodal besar.

(a) (b)

(c)

Gambar 15 Perangkat pagar listrik/strom gajah : battery fencer (a), accu kering 150 watt (b) dan calcium battery (c).

c. Parit

Pembuatan parit bertujuan untuk merintangi gajah ke lahan pertanian (Gambar 16). Parit dibuat di sekeliling tepi lahan atau bagian dimana gajah biasanya memasuki lahan pertanian. Parit memiliki kedalaman 2 meter dan lebar 1 meter. Keawetan parit dipengaruhi oleh faktor iklim seperti curah hujan, jenis tanah, bentuk parit, kontruksi parit dan pemeliharaanya. Pengerukan tanah untuk parit membutuhkan biaya yang mahal karena menggunakan alat berat yang disewa. Pembuatan parit ini umumnya digunakan oleh pihak perkebunan dan masyarakat yang bermodal besar.

Gambar 16 Parit gajah. 3) Patroli kawasan

a. Patroli kendaraan

Pelaksanaan patroli kawasan dilakukan oleh Tim Flying Squad dengan menggunakan kendaraan bermotor atau mobil. Patroli bertujuan untuk mengidentifikasi tanda-tanda keberadaan gajah. Patroli kendaraan dilakukan 5 hari dalam 1 minggu. Patroli dilakukan pada sore hari (pukul 17.00 WIB, malam hari (pukul 00.00 WIB) dan pagi hari ( pukul 06.00 WIB) oleh 2 orang mahot (pelatih gajah). Kegiatan patroli kendaraan meliputi pemeriksaan di pintu keluar gajah dan lahan masyarakat. Apabila hasil patroli mengindikasikan adanya gajah yang keluar dari hutan maka akan dilakukan penelusuran jejak (kaki dan bolus/kotoran) dan dilanjutkan dengan pengusiran serta pemberian informasi kepada masyarakat.

b. Patroli gajah

Pelaksanaan patroli dilakukan dengan menggunakan gajah. Patroli gajah bertujuan untuk mengidentifikasi tanda-tanda keberadaan gajah sehingga upaya pengusiran dapat dilakukan lebih awal. Kegiatan patroli gajah meliputi pemeriksaan di pintu keluarnya gajah. Patroli gajah dilakukan 2 hari dalam 1 minggu dimulai pada pukul 08.00 WIB. Patroli gajah dilaksanakan oleh 8 orang mahot (pelatih gajah) beserta 4 gajah terlatih.

Penggunaan teknologi seperti pagar listrik/strom dan parit gajah cukup efektif dalam mencegah masuknya gajah ke lahan pertanian. Namun, material dan konstruksi yang kurang memadai dari kedua alat tersebut mengakibatkan gajah bisa memasuki lahan perkebunan dalam kedatangan berikutnya. Bahan yang digunakan masyarakat untuk tiang pengikat kawat berupa kayu. Penggunaan kayu

ini kurang cocok karena kayu mudah lapuk, terserang rayap dan mudah dirobohkan gajah. Sebaiknya tiang menggunakan bahan besi atau bahan yang tidak mudah dirobohkan gajah.

Konstruksi parit yang dibuat masyarakat sangat sederhana, parit dibuat dengan kedalaman dan lebar yang jaraknya dipertimbangkan berdasarkan perkiraan terhadap kemampuan jangkauan kaki gajah untuk menyembrang. Namun dengan lebar 1 m dan kedalaman 2 m parit masih bisa dilewati oleh gajah. Selain faktor kedalaman dan lebar parit, jenis tanah liat berpasir sangat mudah untuk digemburkan gajah dan runtuh apabila musim hujan. Belum terdapat angka yang pasti untuk penggunaan ukuran lebar dan kedalaman parit yang efesien untuk merintangi gajah. Namun, di Malaya Barat dan Afrika parit untuk merintangi gajah memiliki lebar 3 m dan kedalaman 2 m. Berikut adalah contoh bentuk parit yang disesuaikan dengan daerah rawa, dataran rendah dan daerah yang bertopografi tinggi (Gambar 17)

Sumber : West dan Soekarno diacu dalam Alikodra (1990)

Gambar 17 Parit yang sesuai dengan daerah rawa, daerah dataran rendah dan daerah bertopografi tinggi.

Penggunaan teknologi dalam upaya mencegah masuknya gajah ke lahan pertanian perlu mempertimbangkan banyak hal. Tidak hanya mempertimbangkan efesiensi waktu dan biaya saja namun keselamatan dari gajah juga perlu dipertimbangkan. Upaya-upaya pencegahan ini akan lebih efektif dan efesien apabila upaya-upaya yang telah dilakukan diselaraskan dengan pengetahuan-pengetahuan mengenai perilaku gajah. Selain itu, masyarakat harus tetap menjaga dan mengontrol lahan pertaniannya serta menjalin koordinasi yang baik dengan Tim Flying Squad sehingga saat gajah memasuki lahan pertanian dapat dilakukan penanggulangan secara cepat.

5.5.2. Penanggulangan Konflik

Upaya penanggulangan konflik dilakukan untuk mengusir gajah yang keluar dari habitatnya dan memasuki lahan pertanian masyarakat serta untuk meminimalisir kerusakan yang terjadi akibat kedatangan gajah. Upaya penanggulangan konflik berupa pengusiran gajah dari kawasan sekitar dan yang berada dalam lahan pertanian masyarakat agar kembali ke habitatnya (TNTN). Pengusiran dilakukan oleh masyarakat dan Tim Flying Squad. Kegiatan pengusiran dilakukan setelah terdeteksinya keberadaan gajah saat patroli atau berdasarkan informasi masyarakat.

Pengusiran yang dilakukan oleh masyarakat masih bersifat tradisional. Sementara itu, pengusiran yang dilakukan oleh Tim Flying Squad bersifat tradisional dan modern. Pengusiran secara tradisional dilakukan dengan media obor, kentongan, meriam karbit dan suara teriakan (Gambar 18). Penggunaan media ini bertujuan untuk membuat kondisi tidak nyaman bagi gajah yang berada di sekitar atau di dalam lahan pertanian.

(a) (b)

Penggiringan merupakan proses pengusiran gajah liar secara modern, yaitu dengan bantuan gajah-gajah terlatih untuk menggiring gajah liar keluar dari lahan pertanian masyarakat dan kembali ke habitatnya. Penggiringan dilakukan apabila gajah tetap berada di lahan tersebut dalam waktu yang cukup lama

Gambar 19 Tim Flying Squad (pengusir gajah).

Kegiatan pengusiran dilakukan siang atau malam hari sesuai dengan waktu keberadaan gajah. Lamanya pengusiran tergantung dari jumlah gajah yang memasuki lahan pertanian. Gajah kelompok lebih mudah diusir dibandingkan pengusiran terhadap gajah tunggal. Penggiringan dengan gajah terlatih dilakukan pada siang hari hal ini dilakukan untuk memudahkan penggiringan dan keselamatan bagi Tim Flying Squad.

Keterlibatan Tim Flying Squad dalam penanggulangan konflik di Desa Lubuk Kembang Bunga sangat besar. Hal ini dapat dilihat dari persentase pengusiran gajah baik dilakukan disekitar lahan pertanian masyarakat ataupun setelah kedatangan gajah ke lahan pertanian masyarakat diperoleh persentase sebesar 90 % pada Tahun 2007 dan 95 % pada Tahun 2008.

5.5.3. Nilai Ekonomi Upaya Pengendalian Konflik

Nilai ekonomi upaya pengendalian konflik merupakan biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat dan Tim Flying Squad dalam pelaksanaan pencegahan dan penanggulangan konflik (Tabel 17 dan Tabel 18).

Tabel 17 Komponen biaya upaya pengendalian konflik oleh masyarakat

No. Upaya Pengendalian Komponen Biaya

Pencegahan

1. Penjagaan kebun Biaya transportasi

Upah tenaga kerja

2. Pengontrolan kebun Biaya transportasi 3. Pembuatan pagar kayu, pagar listrik

dan parit

Biaya alat Upah tenaga kerja Penanggulangan

4. Pengusiran Biaya alat : minyak dan karbit

Tabel 18 Komponen biaya upaya pengendalian konflik oleh Tim Flying Squad

No. Upaya Pengendalian Komponen Biaya

Pencegahan

1. Patroli kendaraan Biaya transportasi

Biaya alat : karbit 2. Patroli gajah Biaya tenaga kerja

Biaya alat: karbit Penanggulangan

3. Pengusiran Biaya transportasi

Biaya alat: karbit

Hasil perhitungan terhadap biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat dan Tim Flying Squad dalam upaya pengendalian konflik masing-masing diperoleh nilai sebesar Rp. 297.778.500 dan Rp. 466.421.500 (Tabel 19 dan Tabel 20). Tabel 19 Biaya operasional upaya pengendalian konflik oleh masyarakat Tahun

2007 - 2008

No. Upaya Penanggulangan Biaya (Rp) Tahun 2007 Tahun 2008 1. Pencegahan

Penjagaan kebun 115.665.000 110.942.500 Pengontrolan kebun 15.330.000 17.885.000 2. Pemebuatan dan pemeliharaan

Pagar kayu 100.000 100.000

Parit 18.600.000 18.600.000

3. Pengusiran 227.500 328.500

Jumlah (Rp) 149.922.500 147.856.000

Biaya total tahun 2007-2008 297.778.500 Tabel 20 Biaya operasional upaya pengendalian konflik oleh Tim Flying Squad

Tahun 2007 - 2008

No. Upaya Pengendalian Biaya (Rp)

Tahun 2007 Tahun 2008

1. Biaya tetap 225.400.000 225.400.000

2. Patroli Kendaraan

2.a Patroli kendaraan tanpa pengusiran 4.233.000 5.353.500 2.b Patroli kendaraan dengan pengusiran 1.640.000 1.980.000

Tabel 20 (Lanjutan)

No. Upaya Pengendalian Biaya (Rp)

Tahun 2007 Tahun 2008 3. Patroli gajah

3.a Patroli gajah tanpa pengusiran 960.000 1.440.000 3.b Patroli gajah dengan pengusiran - 15.000

Jumlah (Rp) 232.233.000 234.188.500

Biaya total Tahun 2007 - 2008 466.421.500 Upaya pengendalian konflik manusia dan gajah di Desa Lubuk Kembang Bunga kurang efektif dalam mengurangi kerugian pada masyarakat. Apabila tidak dilakukan upaya pengendalian kerugian masyarakat diperkirakan sebesar Rp. 66.730.315,73 (asumsi rata-rata satu kali kedatangan gajah menimbulkan kerugian sebesar Rp. 1.627.568,66) dan apabila dilakukan pengendalian kerugian masyarakat sebesar Rp. 52.082.197,64. Upaya pengendalian konflik hanya mampu mengurangi kerugian sebesar Rp. 14.648.118,09. Nilai ini tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan untuk mengendalikan konflik yaitu sebesar Rp. 764.200.000. Kondisi seperti ini perlu dituntaskan dengan menyelesaikan konflik berdasarkan sumber penyebab konflik, yaitu dengan mengelola habitat dan populasi gajah di Hutan Tesso Nilo.

Dalam dokumen NILAI EKONOMI KONFLIK MANUSIA DAN GAJAH (Halaman 68-77)

Dokumen terkait