BAB I
TALI DAN PEMAKAIANNYA DI KAPAL
Pada zaman kapal layar dahulu, tali temali adalah dasar pengetahuan yang harus diketahui oleh tiap-tiap anak buah kapal layar karena banyak berhubungan dengan keselamatan kapal dan keselamatan jiwanya sendiri.
Hal ini disebabkan karena dengan ikatan yang sederhana saja dan cepat para pelaut dapat mengikat maupun melepaskan suatu ikatan dimana bila pengetahuan ini tidak diketahui akan ada kemacetan dalam ikatan tali menali sehingga untuk kapal layar dapat terjadi bahaya dalam olah geraknya.
Juga untuk naik turun ke tiang layar diperlukan tangga-tangga dari tali serta untuk mengikat dirinya sendiri pada tiang layar bilamana sedangbekerja diperlukan pengetahuan tentang tali menali. Lama kelamaan pengetahuan tali menali berkembang sehingga terjadi tali-tali hiasan maupun simpul-simpul.
Jenis-jenis tali yang terdapat di kapal : 1. Manila
2. Nylon 3. Sisal
4. Coir atau serabut kelapa 5. Hemp atau hennep 6. Jute
7. Flax 8. Cotton 9. Polyester 10. Polypropylene 11. Polythene 12. Terylene
Tali Manila :
Tali manila atau abaca atau musa textilis adalah tali yang terbaik untuk dikapal sehari-hari dalam kapal dan terbuat dari serat abaca dari tanaman termasuk kelompok pisang dan banyak terdapat di Pilipina. Sebagai tali ia licin, mengkilap, kuat, lentur, tahan lama dan mudah digunakan selain tahan terhadap air laut.
Tali manila dapat merenggang lebih kurang 25% dari panjangnya.
Tali Nylon:
Tali nylon adalah yang terkuat namun juga yang termahal dari tali-tali yang dipergunakan diatas kapal. Telah terbukti bahwa tali nylon 6,5" sama kekuatannya dengan tali manila 10" dan lebih tahan 15 kali daripada tali manila dalam keadaan yang sama pemakaiannya. Harganya lebih mahal 5x dari tali manila.
Dapat merenggang 10% dari panjangnya. Nylon termasuk dalam kelompok serat sintetis.
Tali nylon mempunyai sifat licin, enteng dan tahan terhadap gesekan. Juga tahan terhadap air laut namun tidak tahan terhadap asam-asam kimia semacam acid dan alkali.
Karena licinnya maka bila membuat mata dari tali nylon diperlukan masuk dalam untai-untainya paling sedikit 4x bahkan lebih baik 6x. Tali nylon banyak dipakai juga sebagai buntut atau ujung tros dari kawat untuk menyandarkan kapal karena lebih enteng dan tahan terhadap tegangan. Biasanya ujung ini panjangnya 6 fathom atau 6 x 1,83 meter. Ukuran standar dari tali dalam perdagangan adalah fathom. Untuk panjang tali di Inggris adalah 120 fathom sedangkan di Amerika mempunyai ukuran panjang 200 fathom. Di negara-negara Eropa maupun Asia dimana berlaku sistem metrik panjang tali dalam
perdagangan adalah 220 meter. Namun harap diingat bahwa 220 meter adalah sama panjang dengan 120 fathon.
Tali Sisal:
Tali sisal atau agave sisalana terbuat dari serat-serat daun Aloe yang termasuk dalam kelompok keluarga nanas. Banyak terdapat di Jawa dan Afrika Timur.
Termasuk juga tali yang kuat dan kekuatan dari tali sisal yang baik hampir sama kekuatannya dengan tali manila yang kwalitet sedang. Warnanya putih bersih namun tidak licin.
Bilamana sudah beberapa kali dipakai akan keluar serat-serat serabutnya sehingga mengganggu bilamana dipegang dengan tangan terbuka.
Bila terkena air lebih menggelembung daripada tali manila. Kekuatan tali sisal yang mempunyai keliling 6 inci adalah antara 9 s/d 13 ton. Bila dapat memilih maka untuk kapal lebih baik mempergunakan tali manila.
Coir atau tali serabut kelapa:
Terbuat dari serat-serat serabut kelapa dan benangnya diimpor dari India dan Sri Langka.
Serat-serat tersebut sebelumnya direndam dalam air untuk waktu yang lama baru kemudian dibuat benang oleh penduduk dan benangnya kemudian di ekspor.
Tali serabut kelapa sangat lentur, berwarna merah dan sangat mudah mengapung.
Terutama dipakai sebagai tali gandeng di pelabuhan dan ukurannya bervariasi antara 16 s/d 22 inci dalam kelilingnya.
Biasanya berputar air atau berputar kabel yaitu tali yang terdiri dari tiga untai tapi tiap-tiap untai terdiri dari untaian tiga kali. Secara umum beratnya setengah dari tali manila dan kekuatannya hanya seper-enam dari kekuatan tali manila yang sama ukurannya.
Mempunyai daya lentur antara 60 s/d 100% dari panjangnya.
Juga ada tali serabut kelapa yang terdiri dari tiga untai biasa dan daya lenturnya hanya 45%.
Biarpun tali serabut kelapa mudah mengapung namun harus dijaga jangan sampai terlalu banyak meresap air karena dapat tenggelam karenanya. Terutama di perairan yang berkarang hal ini harus
Tali hemp:
Hemp yang bernama latin Cannabia Satira berasal dari New Zealand dan St Helena. Karena dari daerah-daerah ini kwalitasnya kurang baik dipakai untuk inti atau jiwa dari kawat-kawat baja.
Namun hemp yang berasal dari Italia berkualitas baik dan karenanya dipakai untuk tali-tali.
Termasuk tali yang kuat dan kekuatannya melebihi tali manila yang terbaik sebanyak 20% (1 1/5 kali). Tidak menggelembung bilamana basah tetapi karena mahal maka pemakaiannya di kapal telah dilampaui oleh tali manila.
Dipakai untuk tali yang melalui blok-blok karena lemasnya.
Tali jute:
Nama latin corchorus dan berasal dari India dan dipakai untuk bahan pembuat karung goni dan juga sebagai inti dari kawat-kawat baja.
Untuk kawat-kawat baja lebih banyak dipakai hemp karena lebih kuat dari jute.
Flax:
Dipakai untuk benang-benang layar dan terpal. Juga dipakai untuk benang-benang jahit karena tahan gesekan. Nama latin linum usitatissum.
Tali cotton :
Bahan dari tali cotton atau gossypium atau kapas sering dipakai untuk tali bendera maupun untuk pegangan tali tangga di gangway-gangway kapal.
Tali polyester, polyproylene, polythene :
Tali-tali ini terbuat dari serat buatan. Untuk polythene dan polypropylene mempunyai keuntungan bahwa dapat mengambang di air. Ke tiga-tiganya tidak sekuat tali nylon.
Untuk tali polythene kekuatannya sebagai tali adalah antara tali manila dan nylon. Karena mempunyai daya serap yang kecil maka mudah mengambang.
Sebagai tali sintetis adalah yang paling tepat sebagai pengganti tali serabut kelapa. Titik cair adalah 135° Celsius dan tali itu akan mengkerut pada suhu yang lebih rengah.
Pada suhu 60° C akan berkerut sebesar 4% dan pada suhu 100° C akan berkerut sebesar 14%.
Tidak terganggu bilamana terkena bahan kimia industri dan bakteri dan tahan terhadap cahaya matahari dan gesekan-gesekan.
Lebih kuat 7 X daripada tali serat sabut kelapa.
Sebuah tali polythene dengan keliling 6 inci dan berat 262,50 kg per satu coil atau gulungan tali dari 220 meter mempunyai kekuatan daya putus sebesar 20 ton.
Tali Terylene:
Tali terylene seperti tali nylon sering dipakai sebagai ujung-ujung dari kawat-kawat gandengan di kapal.
Juga seperti nylon dan tali-tali sintetis lainnya tahan gesekan. Bila sebelah luar dari tali sintetis luka terkena gesekan maka serat-serat sintetis akan mengumpul sehingga mencegah melepasnya dari
Hal ini berarti bahwa sebelah dalam dari tali sintetis tidak akan berkurang kekuatannya.
Selain itu gesekan-gesekan antara benang-benang, serat dan untai- untai dari tali-tali sintetis tidak seperti pada tali-tali yang terbuat dari serat-serat alam. Juga tali sintetis tidak mudah terbakar. Karena titik-titik cairnya rendah maka ujung-ujung dari tali-tali serat buatan dapat disatukan dengan
membakarnya sehingga untuk tali-tali kecil serat sintetis agar tidak terlepas ujung-ujungnya cukup dibakar dengan api saja dan tidak perlu diikat seperti tali-tali serat alam.
Terylene tidak tahan terhadapasam alkaliyang kuat. Tali-tali dari serat buatan bilamana terkena air kekuatannya tidak berubah namun untuk tali-tali yang terbuat dari serat alam akan berkurang
BAB II PEMBUATAN TALI
Tali terbuat dari serat-serat tumbuhan-tumbuhan yang panjangnya antara 60 s/d 150 cm dan langkah-langkah pertama untuk membuatnya adalah untuk menyisir dan membersihkan serat menjadi serat-serat halus yang sama panjang dan merupakan kumpulan-kumpulan pita-pita halus atau tirai.
Tirai-tirai ini kemudian dipintal menjadi satu menjadi benang dan kekuatan putarnya yang membuat serat ini berkumpul menjadi satu atau karena adanya kekuatan maka ada tahanan antara serat-serat itu.
Kemudian benang-benang dipintal menjadi satu untuk menjadi sebuah untai. Banyaknya benang untuk membuat satu untai tergantung dari besarnya tali yang akan dibuat.
Putaran pembuatan untai-untai berlawanan dengan putaran pemintalan pembuat benang-benang. Jadi bila benang dipintal ke kiri maka untai dipintal kekanan. Tiga atau ampat untai bilamana dipintal menjadi satu akan menjadi tali dan sesuai dengan arah pintalannya menjadi tali yang berjalan ke arah kiri atau ke arah kanan.
Arah pemintalan dari tali juga berlawanan dengan arah pemintalan dari untai-untai. Karena kekuatan-kekuatan yang saling berlawanan dalam pembuatan tali maka akan terjadi hambatan atau gesekan-gesekan yang menyebabkan serat-serat, benang-benang dan untai-untai berkumpul menjadi satu didalam tali.
Jadi pembuatan tali secara ber-urut adalah:
a) Bahan dasar serat dibuat menjadi benang-benang. b) Benang-benang dipintal menjadi untai-untai. c) Untai-untai kemudian dipintal menjadi tali.
Sedang jenis pintalan sendiri dibagi dalam beberapa jenis yaitu :
1) Pintalan kuat atau pendek (firm, short lay)
Jenis pintalan ini dinamakan demikian karena kekuatan pintalannya melebihi normal dengan tujuan untuk menambah kemampuan tali mempertahankan bentuknya meskipun mendapat tegangan dan juga untuk tahan terhadap air.
Kekenyalan bertambah namun kelenturan dan kekuatan untuk putus berkurang.
2) Pintalan lembek atau panjang (soft, long lay)
Jenis pintalan ini membuat kelenturan dan kekuatan untuk menahan putus bertambah namun
kekenyalannya akan berkurang. Lebih banyak menyerap air dan diperlukan untuk tali-tali di pinggir layar.
3) Pintalan standard (standard lay)
Jenis pintalan dimana sesuai pengalaman merupakan pintalan yang terbaik dimana kelenturan, kekuatan dan kemampuannya adalah yang terbaik untuk pekerjaan sehari-hari.
Jarak diantara tali pada untai yang sama pada satu sisi dinamakan mulut dari tali. Bila mulutnya kecil tentunya pintalannya lebih kuat.
Juga hal yang sama dapat dilihat pada sudut pintalan. Yang dinamakan sudut pintalan adalah sudut yang terjadi antara arah untai dan arah tali itu sendiri. Makin besar sudut pintalan maka makin keras
pintalannya. Sudut pintalan merupakan salah satu syarat untuk menentukan bagaimana sebuah tali harus dibuat. Dalam bahaga Inggris dinamakanangle of lay.
Jenis arah pintalan terbagi dalam:
a) Pintalan ke kanan dan dimaksud bahwa untaian dari tali berputar ke arah kanan bilamana dilihat dari arah belakang tali ke depan.
Juga dinamakan putaran Z (Z-twist).
b) Pintalan ke kiri dan dimaksud bahwa untaian dari tali berputar ke arah kiri bila dilihat dari arah belakang tali ke depan jadi berlawanan dengan arah jarum jam.
Juga dinamakan putaran S (S-twist).
kiri.
Tali yang terdiri dari untai-untai ampat buah dinamakan pintalanlaberang (shroud lay)dimana empat untainya mengelilingi inti atau jiwa dari tali yang terbuat dari bahan hemp atau serabut kelapa.
Putaran laberang ada yang berputar ke kanan dan ada yang ke kiri.
Ada juga tali yang dinamakan pintalan air atau water-lay. Pintalan ini terdiri dari tiga untaian akan tetapi tiap-tiap untaian terdiri dari tiga buah tali kecil yang dipintal menjadi satu.
Biasanya berputar ke kiri. Banyak dipakai untuk ujung dari kawat-kawat gandeng karena daya lenturnya. Arah pintalannya disesuaikan dengan arah pintalan dari kawat yang biasanya ke arah kanan.
Berat pintalan air kurang dari tali pintalan biasa dan kekuatannya juga berkurang banyak.
Pintalan yang tidak dapat kusut (unkinkable lay) adalah pintalan untuk tali sekoci penolong yang diperlukan untuk kapal-kapal yang masih memakai tali untuk menurunkan atau menaikkan sekoci- sekocinya.
Tali ini adalah pintalan normal dimana benang-benangnya berputar ke arah yang sama dengan untaiannya sehingga kemungkinan kusut sedikit. Karelia sekoci-sekocinyaJturun dengan blok-blok sehingga kemungkinan kusut di blok-blok sedikit.
Sudut pintalan:
Sudut pintalan untuk tali-tali ditentukan besarnya untuk menjaga mutunya. Umpama untuk pintalan tambang tidak kurang dari 37° dan untuk pintalan laberang tidak kurang dari 39°.
Dan untuk pintalan air tidak kurang dari 37° dan sudut pintalan untuk tali-tali kecil yang merupakan untainya tidak kurang dari 31°.
Kekuatan benang dari tali manila:
Sebelum dibuat tali maka tiap-tiap pintalan benang yang akan dibuat untai harus diuji coba kekuatannya untuk melihat kekuatan putusnya. Kekuatan putus rata-rata untuk tiap benang harus:
Grade I : "Special" untuk kekuatan rata-rata putus sebesar 250 lbs atau 113,25 kg. Grade II : "Standard" untuk kekuatan rata-rata putus sebesar 210 lbs atau 95 kg. Grade III : "Merchant" untuk kekuatan rata-rata putus sebesar 185 lbs atau 83 kg.
Dan kekuatan rata-rata dari benang-benang yang membuat untai dari 24 benang tidak boleh kurang dari 95 kg tiap benang.
Tali-tali biasanya dilenturi minyak untuk menjaga daya tahannya terhadap air. Namun disamping itu untuk mengurangi gesekan- gesekan didalamnya terutama bilamana terhadap tali terkena beban maka benang-benang dan untai-untai saling menggosok sesamanya.
Dalam bahasa Inggris dinamakan "oilspun" atau dipintal minyak.
Pembahagian mutu dari tali manila:
Pembahagian mutu dari tali manila sesuai dengan British Standard ditetapkan sebagai berikut: Grade I : "Special" untuk tali sebesar 3" kelilingnya harus mempunyai beban putus sebesar 4,5 ton. Grade II : "Standard" untuk tali sebesar 3" kelilingnya harus mempunyai beban putus sebesar 4 ton. Grade III : "Merchant" untuk tali sebesar 3" kelilingnya harus mempunyai beban putus sebesar 3,5 ton.
Dan untuk menandai mutu dari tali manila maka juga sesuai dengan peraturan"British Standard"untuk tali-tali yang lebih besar dari keliling 2 inci dibuat tanda mutu:
Grade I: masing-masing dari tiga untainya ada benang hitam. Grade II: di dua untainya ada benang hitam.
Grade III: di satu untainya ada benang hitam.
Peraturan ini hanya untuk tali manila saja sedangkan untuk tali sisal"British Standard"hanya mempunyai satu penilaian saja yaitu "standard". Untuk itu di satu untainya ditandai dengan benang merah untuk tali-tali sisal yang lebih besar dari 2 inci kelilingnya.
Tali-tali lain yang ditandai sesuai dengan mutu dari "British Standard" adalah tali hemp dan tali serat sabut kelapa.
Untuk tali hemp ditandai dengan satu benang merah di tiap-tiap untainya. Untuk tanda di talinya tidak ada pembatasan besar.
Tali serabut kelapa ditandai dengan satu benang kuning di salah satu untainya dan di supplay dalam gulungan tali yang 220 meter.
Rumus-rumus kekuatan tali:
Untuk menjamin kekuatan tali dalam pemakaian sehari-hari maka dibuatlah beberapa rumus yang dibagi dalam beban keamanan atau safe working load dan juga kekuatan putusnya atau breaking load.
Sesuai dengan peraturan sesuai standard Inggris adalah:
Sedangkan untuk beban putus dipakai rumus:
untuk tali-tali yang putus sebelum mencapai beban ini artinya tidak memenuhi syarat "British Standar" Beban tali untuk pekerjaan sehari-hari janganlah melampaui 20% dari beban putus untuk menjaga keamanan.
Kadang-kadang di kapal kami mengetahui berat dari suatu benda yang akan diangkat dan untuk mengetahui keliling dari tali agar dapat diangkat dengan aman dipakai rumus:
Ukuran aman keliling paling kecil dari tali = V 7 B B = beban dalam ton
Pengalaman menunjukkan bahwa bilamana ukuran dari tali bertambah, kekuatannya tidak sebanding lurus dengan penambahan besarnya melainkan akan berkurang.
BAB III
MEMPERGUNAKAN TALI Pengawetan tali-tali dengan ter:
Untuk mengawetkan tali-tali terhadap cuaca atau yang akan direndam lama kedalam air dilumuri dengan minyak hitam atau tar.
Tar itu serupa seperti di Indonesia digunakan untuk melumuri kayu-kayu di bangunan rumah atas untuk menghindari kerusakan oleh rayap-rayap. Untuk tali, minyak yang hampir serupa dinamakan "Archangel tar" dan dengan memberi ini maka berat tali akan bertambah 5% sedangkan kekuatannya akan
berkurang dari 7 s/d 12,5%.
Namun demikian kekuatan tali di umur akan jauh lebih lama. Untuk pemakaian tali di kapal maka pihak kapal dapat meminta kepada pabrik pembuatan tali dengan tambahan beaya sedikit agar tali dapat dibuat kedap air.
Umur dari tali akan diPerpanjang dengan cara "waterproofing" ini dan ini tidak akan mempengaruhi berat
maupun kekuatan dari tali itu. Tapi biasanya tali yang di-supply telah dilenturi dengan minyak.
Membongkar gulungan tali baru:
Bilamana kami hendak memakai tali baru maka harus dikeluarkan dahulu dari gulungannya atau coilnya.
Dan bilamana tidak diketahui caranya akan sering menyebabkan bahwa tali menjadi kusut,dan untuk tali tros atau yang besar ukurannya akan memerlukan waktu seharian penuh untuk melaksanakannya.
Untuk tali yang berputar ke arah kanan kami letakkan gulungan tali ditempat yang datar dengan arah gulungan berputar ke arah kiri jadi berlawanan dengan putaran tali kanan. Sesudah itu kami mengambil ujung tali dari sebelah dalam dan
meletakkan di atas dek kapal dengan berputar ke kanan.
Dengan cara ini maka tali tidak menjadi kusut. Untuk tali yang berputar ke kiri kita melaksanakan sebaliknya.
Namun hal ini hanya berlaku untuk mengeluarkan tali dari gulungan baru. Semua tali-tali bilamana ditaruh diatas dek harus diletakkan atau diputar sesuai dengan arah putar untai-untai dari pada tali.
Bilamana untainya berputar ke kiri maka menggulungnya juga harus ke arah kiri jadi berlawanan dengan arah jarum jam.
Bilamana tidak maka selain susah menggulungnya maka pintalan dari
Demikian juga bilamana kita meletakkan tali di atas kepala winch harus sesuai dengan putaran winch sewaktu menghibob.
Menggulung tali adalah pekerjaan yang akan berulang-ulang kali dilakukan di kapal dan dengan ini dimaksud agar tali maupun kawat baja akan segeredapat dipakai bilamana diperlukan.
Menggulung dengan cara salah juga akan membuat tali itu mudah kusut. Tali yang lebih besar ukurannya tentunya akan lebih besar pula lubang gulungannya.
Jika tros atau kawat dipersiapkan untuk di aria maka, dipersiapkan agar gulungan tersusun dengan rapi dan berdekatan tempat di tali, keluar kapal sehingga keluarnya tali dari kapal tidak mengalami
hambatan dan dapat berjalan dengan cepat.
Untuk tali kawat sesuai dengan pintalannya juga digulung kiri atau kanan namun disebabkan oleh kekakuannya bila hal tersebut susah dilaksanakan maka kita menggulung sesuai angka 8 (delapan).
Cara mengikat tali atau tali kawat di kapal:
Sebuah dadung akan diikat pada bolder atau tunggak penambat kapal di atas geladak kapal maupun kepada sebuah kaitan tupai-tupai dengan susunan tali atau kawat sesuai angka delapan.
Banyaknya gulungan angka delapan tergantung kepada ke kuatan yang akan dialami oleh tali atau kawat itu, jadi pada kekuatan tarikan.
Namun biasanya untuk dadung sebanyak empat kali dan untuk kawat enam kali sudah dianggap cukup untuk kekuatan tarikan.
Untuk gulungan yang terakhir lebih baik dilaksanakan dengan gulungan
terbalik. Pada waktu mengikat ke atas tonggak pengikat terutama untuk kawat baja harus diikat ikatan delapannya agar tidak mudah lepas.
Untuk kawat baja dipergunakan stopper dari rantai. Dibelit satu kali pada kawat dan diputar sesuai jalan dari untai kawat. Ada pula yang
menggunakan dua belitan dengan jarak baru rantainya diputar sesuai dengan arah jalan dari untai-untai kawat.
Cara ini dapat juga dilaksanakan meskipun dalam membukanya bilamana kawat sudah dibelit pada tonggak pengikat kadang-kadang akan
Untuk menstoppor tros atau dadung kami menggunakan tali yang lebih kecil atau pintalan tali. Untuk menstoppor maka jalan dari tali stoppor jalannya berlawanan dengan jalannya arah dari untai-untai tali sehingga dengan ini maka stoppor akan lebih keras menggigit.
Orang yang menstoppor demi keamanannya lebih balk berdiri di luar
lengkungan dari kawat. atau tros yang mengarah ke tonggak pengikat. Seperti pada kawat maka pada tali juga dapat digunakan stopper dengan
menggunakan dua belitan pada tros atau dadung.
Untuk ini maka stoppor dapat mengikuti jalan dari untai-untai dengan tidak mengurangi kuatnya gigitan stoppor tali pada dadung.
Seperti terlihat pada gambar maka pada (1) dimulai dengan lilitan pertama dan pada (2) adalah lilitan kedua yang dibuat antara lilitan pertama dengan tali.
Pada (3) dengan melalui bawah tali lalu dikeluarkan lagi, dan ujungnya dipegang oleh seorang sambil menunggu dadung dipindahkan dari kepala winch dan dibelitkan ke tonggak pengikat.
Setelah selesai dibelit pada tonggak pengikat baru stoppor dilepas. Tali-tali yang sedang ukurannya umpama tali bendera atau tali gai-gai diikat pada tupai-tupai tegak dikapal.
Bilamana talinya pendek dan tidak akan menggantung maka cara mengikat pada tupai-tupai cukup seperti terlihat pada gambar. Hanya ikatan terakhir pada tupai-tupai harus dibalik agar tidak mudah terlepas dan setagai kunci pada ikatan angka delapan.
Cara mengikat tali pada kapal selain pada tonggak pengikat dan pada tupai-tupai juga dapat dilaksanakan kepada tanduk pengikat yang dalam bahasa Inggrisnya dinamakan staghorn.
Tanduk pengikat terdapat pada dewi-dewi sekoci pada kapal-kapal dimana tali dari dewi-dewi masih terbuat dari tali.
Namun sekarang sudah jarang didapat di kapal-kapal besar akan tetapi di kapal-kapal pesiar masih terdapat.
Contoh pengikatan maupun meng-aria tali sesuai dengan contoh gambar: