IDENTIFIKASI METHICILLIN-RESISTANT Staphylococcus aureus (MRSA) PADA TENAGA MEDIS DAN PARAMEDIS DI RUANG
INTENSIVE CARE UNIT (ICU) DAN RUANG PERAWATAN BEDAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
ABDUL MOELOEK
(Skripsi)
Oleh
RAISA MAHMUDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG
IDENTIFIKASI METHICILLIN-RESISTANT Staphylococcus aureus (MRSA) PADA TENAGA MEDIS DAN PARAMEDIS DI RUANG
INTENSIVE CARE UNIT (ICU) DAN RUANG PERAWATAN BEDAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
ABDUL MOELOEK
Oleh
RAISA MAHMUDAH
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar SARJANA KEDOKTERAN
Pada
Fakultas Kedokteran Universitas Lampung
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG
Judul Skripsi : IDENTIFIKASI METICHILLIN-RESISTANT Staphylococcus aureus (MRSA) PADA TENAGA MEDIS DAN PARAMEDIS DI RUANG INTENSIVE CARE UNIT (ICU) DAN RUANG
PERAWATAN BEDAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ABDUL MOELOEK
Nama Mahasiswa : Raisa Mahmudah
Nomor Pokok Mahasiswa : 0918011016
Program Studi : Pendidikan Dokter
Fakultas : Kedokteran
MENYETUJUI
1. Komisi Pembimbing
dr. Tri Umiana Soleha, M. Kes Dra. CN Ekowati, M. Si NIP. 197609032005012001 NIP. 195808181985032001
2. Dekan Fakultas Kedokteran
MENGESAHKAN
1. Tim Penguji
Ketua : dr. Tri Umiana Soleha, M. Kes
Sekretaris : Dra. CN Ekowati, M. Si
Penguji
Bukan Pembimbing :
Prof. Dr. dr. Efrida Warganegara, M. Kes., Sp.MK
2. Dekan Fakultas Kedokteran
Dr. Sutyarso, M. Biomed NIP. 195704241987031001
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Bandung pada tanggal 02 November 1992, sebagai anak terakhir dari Bapak A. Nadjmuddin dan Ibu Yetty Suhaeti.
SANWACANA
Alhamdulillahi robbil’alamin, puji syukur penulis haturkan kepada Allah SWT yang senantiasa mencurahkan segala nikmat-Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan tepat waktu. Shalawat beriring salam kepada junjungan kita, Rasulullah SAW, semoga kita mendapat syafaatnya di hari akhir.
Skripsi dengan judul “Identifikasi Metichillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) pada Tenaga Medis dan Paramedis di Ruang Intensive Care Unit (ICU) dan Ruang Perawatan Bedah Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek”
adalah salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran di Universitas Lampung.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Dr. Sutyarso, M. Biomed., selaku dekan Fakultas Kedoketran Universitas Lampung;
ini;
4. Ibu Prof. Dr. dr. Efrida Warganegara, M. Kes., Sp.MK., selaku Penguji Utama pada Ujian Skripsi. Terimakasih atas waktu, ilmu dan saran-saran yang telah diberikan;
5. Bapak dr. Oktadoni Saputra dan dr. Risal Wintoko, selaku Pembimbing Akademik yang senantiasa memberikan pengarahan dan saran-saran dalam proses penyelesaian skripsi ini;
6. Terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Ibunda (Yetty Suhaeti), atas doanya setiap waktu, kesabarannya, keikhlasannya, kasih sayangnya, dan atas dukungan serta segala sesuatu yang telah diberikan kepada penulis hingga saat ini. Ayahanda (Alm. A. Nadjmuddin) yang selalu menjadi panutan, semangat, serta suri teladan tiada henti bagiku. Kakak-kakakku tercinta, M. Septemi Ma’mun dan Nyimas Djubaedah yang senantiasa mendoakan dan
memberikan motivasi bagi penulis. Siska Karina dan Dadang Nurjaman yang selalu menyediakan waktu untuk memberikan ide-ide dan semangat bagi penulis selama menjalani perkuliahan. Dindin Pribadi dan Diah Rahmawati yang memberikan semangat. Nenekku tersayang yang selalu mendoakan dan memberikan semangat selama perkuliahan;
7. Bapak Drs. I Komang Winata, M.Si dan keluarga atas dukungan dan bantuannya selama ini;
mencapai cita-cita;
10. Seluruh staf Tata Usaha FK Universitas Lampung dan pegawai yang turut membantu dalam proses penelitian dan penyusunan skripsi ini. Terima kasih atas bantuan dan dukungannya;
11. Terima kasih kepada teman satu tim skripsi Mikrobiologi, Arri Kurniawan yang selalu siap membantu, Erin, Cindy, Anggi, Cici, Diana, Ryan, Agung, dan Arnia yang sudah banyak membantu mulai dari awal hingga skripsi ini selesai, berbagi canda dan tawa serta berjuang bersama dalam menyelesaikan skripsi ini;
12. Teman-temanku Rahmatika Lestari, Rahma Putri Kinasih, Eka Cania, Shella Arivia, Friska Dwi Anggraini, Elis Sri Alawiyah, Febrina Dwiyanti, Yeni Oktaria, Syahrul Hamidi, Ryan Falamy, Tri Agung S., Sri Puji Hartini, H. Sahdiah S, Putri Rahmawati, Debora Febrina terima kasih atas doa, dukungan, dan bantuannya selama ini;
13. Teman-teman angkatan 2009 yang tak bisa disebutkan satu per satu. Terima kasih telah memberikan makna atas kebersamaan yang terjalin dan memberi motivasi belajar;
14. Kakak-kakak dan adik-adik tingkatku (angkatan 2002–2012) yang sudah memberikan semangat kebersamaan dalam satu kedokteran;
15. Bapak Joko dan Ibu Heni atas bantuannya dalam mengambil darah domba; 16. Bapak dan Ibu kepala ruang Intensive Care Unit (ICU) dan ruang perawatan
Penulis menyadari skripsi ini masih memiliki banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Akhir kata, penulis berharap skripsi ini dapat memberikan manfaat dan pengetahuan baru kepada setiap orang yang membacanya. Terima kasih.
Bandar Lampung, Februari 2013
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL... iii
DAFTAR GAMBAR ... iv
I . PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 6
1.3 Tujuan Penelitian ... 6
1.3.1 Tujuan Umum ... 6
1.3.2 Tujuan Khusus... 6
1.4 Manfaat Penelitian ... 6
1.5 Kerangka Teori ... 7
1.6 Kerangka Konsep ... 10
1.7 Hipotesis ... 10
II . TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Staphylococcus aureus ... 11
2.1.1 Klasifikasi ... 12
2.1.2 Patogenisitas ... 12
2.1.3 Struktur Antigen ... 13
2.1.4 Faktor Virulensi... 14
2.2 Metichillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) ... 17
2.2.1 Epidemiologi ... 17
2.2.3 Faktor Resiko ... 22
2.2.4 Cara Penyebaran ... 23
2.2.5 Cara Mendeteksi MRSA ... 24
2.3 Resistensi Antibiotik ... 26
2.4.1 Kelas Resistensi Stafilokokus ... 28
2.4.2 Mekanisme Resistensi MRSA ... 30
2.4 Tenaga Medis dan Paramedis ... 35
III. METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian ... 37
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 37
3.3 Populasi dan Sampel ... 38
3.4 Variabel Penelitian ... 39
3.4.1 Variabel Bebas ... 39
3.4.2 Variabel Terikat... 39
3.5 Definisi Operasional ... 40
3.6 Bahan dan Alat Penelitian ... 41
3.7 Prosedur Penelitian ... 41
3.8 Skema Prosedur Penelitian ... 45
3.9 Analisis Data ... 46
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ... 47
4.2 Pembahasan ... 51
V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 59
5.2 Saran ... 59
DAFTAR PUSTAKA ... 61
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Area Resiko Klinis Transmisi MRSA ... 2
2. Perbedaan CA-MRSA dan HA-MRSA ... 21
3. Kronologi Infeksi S. aureus dan Resistensinya... 27
4. Mekanisme Resistensi Antibiotik ... 30
5. Analisis Data ... 46
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Kerangka Teori... 9
2. Kerangka Konsep ... 10
3. Staphylococcus aureus Dilihat dari Mikroskop Elektron ... 11
4. Skema Prosedur Penelitian ... 45
5. Gambaran Bakteri Hasil Isolat pada Tenaga Medis dan Paramedis di Ruang ICU dan Ruang Perawatan Bedah RSUDAM ... 47
6. Gambaran Bakteri Hasil Isolat pada Tenaga Medis dan Paramedis di Ruang ICU RSUDAM ... 49
7. Gambaran Bakteri Hasil Isolat pada Tenaga Medis dan Paramedis di Ruang Ruang Perawatan Bedah 1 RSUDAM ... 50
I. PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) adalah bakteri Staphylococcus aureus yang mengalami kekebalan terhadap antibiotik jenis metisilin. MRSA mengalami resistensi karena perubahan genetik yang disebabkan oleh paparan terapi antibiotik yang tidak rasional.
Transmisi bakteri berpindah dari satu pasien ke pasien lainnya melalui alat medis yang tidak diperhatikan sterilitasnya. Transmisinya dapat pula melalui udara maupun fasilitas ruangan, misalnya selimut atau kain tempat tidur (Nurkusuma, 2009).
Data terbaru tahun 2005 dari Pusat Kontrol Penyakit dan Pencegahan Penyakit menunjukkan bahwa 59,9% dari infeksi terkait Staphylococcus aureus di pusat-pusat kesehatan disebabkan oleh MRSA. Data dari Pusat Program Surveilans Antimikroba juga menunjukkan terjadinya
peningkatan MRSA di antara Staphylococcus aureus yang diisolasikan dari pasien Intensive Care Unit (ICU) di seluruh dunia.
Ditemukan adanya kejadian MRSA maupun infeksi luka operasi karena bakteri lainnya di rumah sakit besar di Indonesia termasuk di bangsal perawatan pasien bedah. Beberapa studi juga telah dilakukan yang menghubungkan antara kejadian MRSA dengan asuhan keperawatan dan terapi antibiotik (Nurkusuma, 2009). Royal College of Nursing (RCN) membagi area resiko klinis transmisi MRSA menjadi 4 kategori.
Tabel 1. Area Resiko Klinis Transmisi MRSA.
Kategori Resiko
Tinggi Sedang Rendah Minimal
ICU Ruang operasi umum Ruang perawatan geriatri Ruang perawatan geriatri jangka lama Unit perawatan
khusus bayi Urologi
Ruang perawatan
medis umum Psikiatrik
Unit luka bakar Neonatal
Ruang perawatan anak-anak non
neonatal Psiko-geriatri
Kardio-torak Ginekologi
Ortopedi Obsetrik
Trauma Dermatologi
Vaskular
Ruang Intensive Care Unit (ICU) menjadi ruangan yang memiliki resiko tinggi terjadinya MRSA karena peralatan yang dipakai oleh pasien terutama ventilator tidak steril akibat saat pemasangan ventilator tidak sesuai dengan prosedur, sehingga menyebabkan koloni bakteri dapat menyebar kepada orang-orang yang berada di dalam ruangan tersebut (Gordon et al, 2008). Pada beberapa tahun terakhir juga ditemukan peningkatan angka kejadian MRSA yang terjadi di ruang perawatan bedah akibat luka dan pemakaian antibiotik.
Perbedaan kondisi antara rumah sakit di Indonesia, khususnya Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek di Bandar Lampung dengan rumah sakit di negara-negara lainnya dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain iklim, konstruksi gedung, kondisi ruangan, fasilitas ruangan, standar prosedur operasional dan kebersihan. Selain itu juga terdapat perbedaan pada tenaga medis dan paramedis di Indonesia dengan negara-negara lain, seperti lamanya bekerja di rumah sakit. Beberapa hal di atas
menyebabkan terjadinya perbedaan tingkat kejadian MRSA di suatu negara dengan negara lainnya.
Adanya MRSA meningkatkan kejadian infeksi nosokomial di rumah sakit. Persentase infeksi nosokomial oleh Staphylococcus aureus sebesar 21, 7%. Sekitar 40% bakteri S. aureus yang dapat diisolasi di rumah sakit,
sefalosporin, tetapi masih sensitif terhadap antibiotik vankomisin dan klindamisin.
Pada beberapa dekade belakangan, insiden infeksi MRSA terus meningkat di berbagai belahan dunia. Di Asia, prevalensi infeksi MRSA kini
mencapai 70%, sementara di Indonesia pada tahun 2006 prevalensinya berada pada angka 23,5% (Sulistyaningsih, 2010).
Suffoletto dan rekannya melakukan survei sampel dari bulan Oktober sampai dengan Desember 2006 antara bagian gawat darurat di lima rumah sakit pendidikan di Pittsburgh. Di antara 255 peserta, 81 peserta (31,8%) memiliki kolonisasi Staphylococcus aureus pada hidung mereka, termasuk 11 peserta (4,3%) dengan MRSA. MRSA mengenai semua pekerja
perawat, asisten perawat, atau teknisi pemeliharaan pasien. Hal ini disebabkan oleh penyebaran MRSA dari pasien kepada perawat atau asisten perawat saat melakukan penanganan atau perawatan terhadap pasien (Ellison, 2008).
Pada 50 bahan pemeriksaan dari fasilitas atau lingkungan di ruang perawatan intensif ditemukan 26 galur MRSA (52%). Pada
kejadian MRSA adalah pengaruh dari penetapan dosis (90.4%), ketepatan pengobatan (90,2%), penyediaan antiseptik (84,9%), protap pemasangan kanula infus (74,6%) dan fasilitas cuci tangan (66.3%) (Wahyono, 2005).
Penularan MRSA dapat melalui pemasangan alat kesehatan, petugas kesehatan, ataupun melalui kontak dengan udara. Pasien yang beresiko tinggi terkena infeksi MRSA yaitu pasien yang menjalani pembedahan dan rawat inap lama, pasien dengan kateter dalam, pasien yang dirawat di pusat perawatan trauma dan unit luka bakar (Sulistyaningsih, 2010).
Diagnosis MRSA dapat dilakukan dengan metode konvensional dan metode biomolekuler. Identifikasi isolat dengan metode konvensional antara lain dengan pewarnaan Gram, uji katalase, kultur dan uji sensitivitas antibiotik, dan produksi DNase). Uji diagnosis secara konvensional juga dilakukan dengan menggunakan kultur pada media agar serta digunakan media agar darah yang dapat dikonfirmasi secara biomolekuler dengan teknik PCR (Biantoro, 2008). Selain itu juga dapat dilakukan tes
1.2Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka rumusan masalahnya adalah “Apakah terdapat Methicillin-Resistant
Staphylococcus aureus (MRSA) pada tenaga medis dan paramedis di Ruang Intensive Care Unit (ICU) dan Ruang Perawatan Bedah Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek?”
1.3Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui adanya Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) pada tenaga medis dan paramedis di Ruang Intensive Care Unit (ICU) dan Ruang Perawatan Bedah Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek.
1.3.2 Tujuan Khusus
Mengetahui persentase Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) yang terdapat pada tenaga medis dan paramedis di Ruang Intensive Care Unit (ICU) dan ruang perawatan bedah Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek.
1.4Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi peneliti, dapat menerapkan ilmu yang sudah didapatkan selama perkuliahan di kampus dan menambah pengetahuan mengenai penggunaan antibiotik yang dapat meningkatkan kejadian Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA).
1.4.2 Bagi instansi terkait, penelitian ini dapat memberikan informasi mengenai penggunaan antibiotik yang menyebabkan MRSA dan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kejadian Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) pada tenaga medis sehingga dapat membantu menekan tingkat kejadian Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) di Indonesia.
1.4.3 Bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini dapat menjadi suatu acuan dan sumber informasi untuk meneliti lebih lanjut mengenai tingkat kejadian Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA).
1.5Kerangka Teori
Ditemukan adanya kejadian MRSA maupun infeksi luka operasi karena bakteri lainnya di rumah sakit besar di Indonesia termasuk di bangsal perawatan pasien bedah (Nurkusuma, 2009). Selain itu juga ditemukan adanya peningkatan kejadian MRSA di ruang Intensive Care Unit (ICU) di seluruh dunia berdasarkan data dari Pusat Kontrol Penyakit dan
Pencegahan Penyakit di tahun 2005.
Faktor-faktor yang berhubungan dengan MRSA nosokomial adalah masa tinggal di rumah sakit yang lama, penggunaan antibiotika spektrum luas dengan jumlah besar dan dalam waktu yang lama. MRSA paling banyak ditemukan di tangan, hidung, dan perineum (Nurkusuma, 2009).
S. aureus merupakan salah satu bakteri yang dapat memproduksi enzim β -laktamase. Enzim ini akan menghilangkan daya antibakteri terutama golongan penisilin seperti metisilin, oksasilin, penisilin G dan ampisilin. Mekanisme resistensi S. aureus terhadap metisilin juga dapat terjadi melalui pembentukan Penicillin-Binding Protein (PBP) yang sudah dimodifikasi, yaitu PBP2a yang mengakibatkan penurunan afinitas antimikroba golongan β-laktam (Salmenlina, 2002).
Diagnosis MRSA dapat dilakukan dengan metode konvensional
yang berasal dari drainase cairan atau jaringan adalah gold standard untuk mendiagnosis dan mempertimbangkan pemberian pengobatan MRSA (Nurkusuma, 2009).
Gambar 1. Kerangka Teori Staphylococcus aureus
Sensitif Diagnosis secara
konvensional Memproduksi β
-laktamase dan membentuk Penicillin-Binding Protein (PBP)
Resisten
Metichillin-Resistant Staphylococcus aureus
1.6Kerangka Konsep
Gambar 2. Kerangka Konsep
1.7Hipotesis
Terdapat Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus pada tenaga medis dan paramedis di ruang Intensive Care Unit (ICU) dan Ruang Perawatan Bedah Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek.
Isolat Staphylococcus aureus
(Variabel Bebas)
Metichillin-Resistant Staphylococcus aureus
(MRSA)
(Variabel Terikat) Uji Sensitivitas antibiotik
(Cefoxitin 30 µg)
Sensitif
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1Staphylococcus aureus
Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram positif berbentuk bulat berdiameter 0,7-1,2 μm, tersusun dalam kelompok-kelompok yang tidak teratur seperti buah anggur, fakultatif anaerob, tidak membentuk spora, dan tidak bergerak. Bakteri ini tumbuh pada suhu optimum 37 ºC, tetapi membentuk pigmen paling baik pada suhu kamar (20-25 ºC). Koloni pada perbenihan padat berwarna abu-abu sampai kuning keemasan, berbentuk bundar, halus, menonjol, dan berkilau. Lebih dari 90% isolat klinik menghasilkan S. aureus yang mempunyai kapsul polisakarida atau selaput tipis yang berperan dalam virulensi bakteri. Berbagai derajat hemolisis disebabkan oleh S. aureus dan kadang-kadang oleh spesies stafilokokus lainnya. (Jawetz et al., 2008).
2.1.1 Klasifikasi
Dari Rosenbach (1884) klasifikasiStaphylococcus aureus yaitu:
Domain : Bacteria
Kerajaan : Eubacteria
Filum : Firmicutes
Kelas : Bacilli
Ordo : Bacillales
Famili : Staphylococcaceae
Genus : Staphylococcus
Spesies : S. aureus
Nama binomial : Staphylococcus aureus 2.1.2 Patogenisitas
Staphylococcus aureus adalah patogen utama pada manusia. Hampir semua orang pernah mengalami infeksi S. aureus selama hidupnya, dengan derajat keparahan yang beragam, dari keracunan makanan atau infeksi kulit ringan hingga infeksi berat yang
mengancam jiwa.
Sebagian bakteri Stafilokokus merupakan flora normal pada kulit, saluran pernafasan, dan saluran pencernaan makanan pada
Infeksi oleh S. aureus ditandai dengan kerusakan jaringan yang disertai abses. Beberapa penyakit infeksi yang disebabkan oleh S. aureus adalah bisul, jerawat, impetigo, dan infeksi luka. Infeksi yang lebih berat diantaranya pneumonia, mastitis, plebitis,
meningitis, infeksi saluran kemih, osteomielitis, dan endokarditis. S. aureus juga merupakan penyebab utama infeksi nosokomial, keracunan makanan, dan sindroma syok toksik (Kusuma, 2009).
Sindroma syok toksik (SST) pada infeksi S. aureus timbul secara tiba-tiba dengan gejala demam tinggi, muntah, diare, mialgia, ruam, dan hipotensi, dengan gagal jantung dan ginjal pada kasus yang berat. SST sering terjadi dalam lima hari permulaan haid pada wanita muda yang menggunakan tampon, atau pada anak-anak dan pria dengan luka yang terinfeksi stafilokokus. S. aureus dapat diisolasi dari vagina, tampon, luka atau infeksi lokal lainnya, tetapi praktis tidak ditemukan dalam aliran darah (Jawetz et al, 2008).
2.1.3 Struktur Antigen
Protein A adalah komponen dinding sel pada banyak
A menjadi reagen yang penting dalam imunologi dan teknologi laboratorium diagnostik.
Beberapa strain S. aureus memiliki kapsul, yang menghambat fagositosis oleh leukosit polimorfonuklear kecuali terdapat antibodi spesifik. Sebagian besar strain S. aureus mempunyai koagulase atau faktor penggumpal, pada permukaan dinding sel terjadi koagulase dengan fibrinogen secara nonenzimatik, sehingga menyebabkan agregasi bakteri (Jawetz et al, 2008).
2.1.4 Faktor Virulensi
Staphylococcus aureus membuat tiga macam metabolit, yaitu yang bersifat nontoksin, eksotoksin, dan enterotoksin. Metabolit
nontoksin antara lain adalah antigen permukaan, koagulase, hialuronidase, fibrinolisin, gelatinosa, protease, lipase, tributirinase, fosfatase, dan katalase (Warsa, 1994).
a. Katalase
Katalase adalah enzim yang berperan pada daya tahan bakteri terhadap proses fagositosis. Tes adanya aktivtias katalase menjadi pembeda genus Staphylococcus dari Streptococcus.
b. Koagulase
Enzim ini dapat menggumpalkan plasma oksalat atau plasma sitrat, karena adanya faktor koagulase reaktif dalam serum yang bereaksi dengan enzim tersebut. Esterase yang dihasilkan dapat meningkatkan aktivitas penggumpalan, sehingga
terbentuk deposit fibrin pada permukaan sel bakteri yang dapat menghambat fagositosis.
c. Hemolisin
Hemolisin merupakan toksin yang dapat membentuk suatu zona hemolisis di sekitar koloni bakteri. Hemolisin pada S. aureus terdiri dari α-hemolisin, β-hemolisin, dan δ-hemolisin. α-hemolisin adalah toksin yang bertanggung jawab terhadap
sel darah merah manusia dan kelinci, tetapi efek lisisnya kurang terhadap sel darah merah domba.
d. Leukosidin
Toksin ini dapat mematikan sel darah putih pada beberapa hewan. Tetapi perannya dalam patogenesis pada manusia tidak jelas, karena Stafilokokus patogen tidak dapat mematikan sel-sel darah putih manusia dan dapat difagositosis.
e. Toksin eksfoliatif
Toksin ini mempunyai aktivitas proteolitik dan dapat melarutkan matriks mukopolisakarida epidermis, sehingga menyebabkan pemisahan intraepithelial pada ikatan sel di stratum granulosum. Toksin eksfoliatif merupakan penyebab Staphylococcal Scalded Skin Syndrome, yang ditandai dengan melepuhnya kulit.
f. Toksin Sindrom Syok Toksik (TSST)
g. Enterotoksin
Enterotoksin adalah enzim yang tahan panas dan tahan terhadap suasana basa di dalam usus. Enzim ini merupakan penyebab utama dalam keracunan makanan, terutama pada makanan yang mengandung karbohidrat dan protein.
2.2Metichilin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA)
Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) merupakan salah satu agen penyebab infeksi nosokomial yang utama. Bakteri MRSA berada di peringkat keempat sebagai agens penyebab infeksi nosokomial setelah Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, dan Enterococcus (Howard et al, 1993).
Lebih dari 80% strain S. aureus menghasilkan penicilinase, dan penicillinase-stable betalactam seperti Methicillin, cloxacillin, dan fluoxacillin yang telah digunakan sebagai terapiutama dari infeksi S. aureus selama lebih dari 35 tahun. Strain yang resisten terhadap kelompok penicillin dan beta-lactam ini muncul tidak lama setelah penggunaan agen ini untuk pengobatan(Biantoro, 2008).
2.2.1 Epidemiologi
tersebar hampir di seluruh dunia, dengan insiden tertinggi terdapat di area yang densitasnya padat dan kebersihan individunya rendah. Bakteri MRSAbiasanya dikaitkan dengan pasien di rumah sakit.
Di Inggris sampai dengan tahun 2004 didapatkan data prevalensi bahwa MRSA menjadi masalah yang predominan pada usia lanjut 82% usia > 60 tahun, strain MRSA yang ada 92% resisten terhadap fluoroquinolone dan 72% resisten terhadap makrolid, sebagian besar isolat masih sensitif terhadap tetrasiklin, asat fusidat,
rifampicin, dan gentamisin, dan strain MRSA yang telah diuji 12% resisten terhadap mupirocin (Biantoro, 2008).
MRSA paling banyak ditemukan di tangan, hidung, dan perineum. Penelitian yang dilakukan dengan subjek pasien di ruang
perawatan intensif Bandung dan Semarang tahun 2001
menggambarkan bahwa sebanyak 35,9% pada nostril hidung dan 21,8% pada tangan petugas kesehatan (Fitri, 2010).
Dari penelitian pendahuluan yang dilakukan oleh Ahmed di
hanya menggunakan nasal swab dan tidak menguji tempat lain, seperti swab pada tenggorokan (Ahmed et al, 2012).
2.2.2 Klasifikasi
Pada awal tahun 1990 telah muncul MRSA yang didapatkan pada individu yang sebelumnya tidak memiliki faktor risiko yang berhubungan dengan MRSA. Keadaan ini disebut sebagai community-acquired MRSA (CA-MRSA).
Community-Acquired MRSA terjadi pada penderita dengan riwayat rawat inap rumah sakit maupun tidak. Tempat pelayanan umum, sekolah, penjara dan tempat yang penduduknya padat mudah ditemukan bakteri tersebut. Abses, luka bakar ataupun luka gigitan serangga dapat dijadikan CA-MRSA sebagai tempat
berkembang. Sekitar 75% infeksinya terjadi pada kulit dan jaringan lunak (Biantoro, 2008).
CA-MRSA dapat diklasifikasikan kedalam empat kategori, yaitu (Salmenlina, 2002):
a. Pasien di rumah sakit dan staf di rumah sakit dengan MRSA.
b. Perawat dirumah dengan MRSA.
d. MRSA yang timbul di masyarakat secara de novo.
Healthcare-associated MRSA (HA-MRSA) oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) didefinisikan sebagai infeksi MRSA yang terdapat pada individu yang pernahdirawat di rumah sakit atau menjalani tindakan operasi dalam 1 tahun
terakhir, memiliki alatbantu medis permanen dalam tubuhnya, bertempat tinggal di fasilitas perawatan jangka panjang atau individu yang menjalani dialisis.
HA-MRSA secara tipikal dihubungkan dengan seseorang yang memiliki faktor risiko perawatan di rumah sakit atau panti, dialisis, mendapat terapi antibiotik, atau terpapar oleh alat atau prosedur yang invasif. HA-MRSA memiliki resistensi yang sangat tinggi dan merupakan penyakit nosokomial yang penting.
Secara genetik dan fenotipe strain HA-MRSA berbeda dengan strain CA-MRSA. CA-MRSA memiliki komposisi yang lebih kecil, mengalami kejadian virulensi yang lebih tinggi, dan jarang terjadi multidrug resistant pada antimikroba non β-laktam (misalnya terhadap tetrasiklin, trimetoprim-sulfametoksazol, rifampin, clindamycin, dan fluoroquinolone) (Biantoro, 2008).
terkolonisasi. MRSA juga dapat menyebar melalui pemakaian handuk bersama-sama, alat-alat mandi, alat-alat olahraga, baju, alat-alat pengobatan, olahraga dengan kontak langsung, atau ketika adanya wabah yang berasal dari makanan (Anonim, 2005).
Tabel 2. Perbedaan CA-MRSA dan HA-MRSA
HA-MRSA CA-MRSA
Faktor Resiko
Pasien di ruang perawatan dalam jangka waktu lama, Pasien dengan diabetes mellitus,
patsien yang melakukan hemodialisis/peritoneal dialisis,
perawatan dengan waktu yang lama, penyebaran di ICU, pemasangan
kateterisasi pada pasien
Anak-anak, atlet, Angkatan laut, suku tertentu (suku asli Amerika/
Suku asli Alaska, Pulau disekitar laut Pasifik), Penggunaan obat secara intravena, homoseksual
Tipe strain USA 100 & 200 USA 300 & 400
Resistensi
Antibiotik Multidrug resisten
Hanya resisten β -Laktam
Toksin PVL Jarang (5%) Banyak (100 %)
Sindroma klinis
Pneumonia nosokomial, infeksi nosokomial terkait infeksi traktus urinarius dan pemasangan kateter, infeksi melalui darah, infeksi akibat pembedahan.
Infeksi kulit dan jaringan (furunkel, abses), post-influenza, pneumonia yang telah mengalami nekrosis jaringan.
2.2.3 Faktor Resiko
Faktor-faktor resiko terjadinya MRSA antara lain:
a. Faktor-faktor community-acquired:
- Kondisi tempat tinggal yang berdesakan dan kumuh (penjara, barak militer, penampungan gelandangan).
- Populasi (penduduk kepulauan pasifik, asli Alaska, asli Amerika).
- Kontak olahraga (sepakbola, rugby, gulat).
- Laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki.
- Berbagi handuk, alat-alat olahraga, barang-barang pribadi.
- Higiene personal yang buruk.
b. Faktor-faktor healthcare-acquired:
- Perawatan di rumah sakit sebelumnya (dalam 1 tahun terakhir).
- Dilakukan operasi sebelumnya (rawat inap atau rawat jalan dalam 1 tahun terakhir).
- Riwayat abses yang rekuren, folikulitis, furunkulosis atau infeksi kulit lainnya.
- Terbukti secara laboratorium adanya kasus MRSA dalam keluarga atau yang tinggal bersama.
- Tinggal di fasilitas perawatan jangka lama atau kontak dengan penghuninya berkali-kali.
- Pengguna obat intavena.
- Terpasang kateter.
- Kondisi medis (misalnya diabetes, HIV, gagal ginjal).
2.2.4 Cara penyebaran
Stafilokokus yang umum terdapat pada lipatan kulit, seperti perineum dan aksila serta berada di nares anterior. Stafilokokus juga dapat membentuk koloni pada luka yang kronis, seperti eksim, varises, dan ulkus decubitus. MRSA memiliki cara penyebaran yang sama dengan strain Stafilokokus lain yang sensitif, yaitu (Royal College of Nursing, 2005):
a. Penyebaran Endogen
b. Penyebaran Eksogen
Hal ini terjadi ketika organisme ditransmisikan dari orang ke orang yang terjadi melalui kontak langsung dengan kulit, melalui lingkungan atau peralatan yang terkontaminasi. Pencegahan penyebaran secara eksogen dapat dilakukan melalui:
- Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan setiap pasien atau peralatan yang berpotensi terkontaminasi.
- Mencuci tangan setelah melepas sarung tangan.
- Menjaga lingkungan selalu bersih dan kering.
- Melakukan pembersihan secara menyeluruh dan mengeringkan semua peralatan yang telah digunakan.
- Menerapkan pengobatan topikal untuk mengurangi penyakit kulit jika secara klinis diperlukan.
2.2.5 Cara Mendeteksi MRSA
ini adalah memerlukan alat-alat khusus dan seorang yang sudah ahli (Biantoro, 2008).
Untuk mengidentifikasi MRSA secara konvensional dibutuhkan beberapa media agar, antara lain media Mannitol Salt Agar (MSA) dan media Agar Darah Domba (ADD) (Mainous et al, 2006). Media Mannitol Salt Agar (MSA) adalah media yang mengandung manitol, yaitu suatu karbihidrat yang dapat dijadikan sebagai media pertumbuhan bakteri. Media MSA ini penting untuk melakukan identifikasi stafilokokus. MSA mengandung 7,5% sodium klorida (garam) yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri gram negatif. Selain itu media ini juga memiliki indikator pH yang disebut sebagai phenol red. Media MSA merupakan media yang bekerja dengan prinsip bakteri yang dapat tumbuh pada media ini adalah bakteri yang tahan pada keadaan garam yang tinggi dan selama pertumbuhan menghasilkan asam, sehingga mengubah indikator pH yang mengubah warna merah menjadi kuning.
darah merah domba pada agar (hemolisis). Terdapat tiga bentuk hemolisis darah, yaitu:
- Alpha-hemolisis yang membentuk zona kehijauan hingga coklat muda disekitar koloni, bakteri menghemolisa sebagian
hemoglobin sehingga meninggalkan pigmen hijau biliverdin.
- Beta-hemolisis yang membentuk zona transparan atau jernih disekitar koloni, bakteri memproduksi β-hemolisin (Streptolisin O dan S), yang melisiskan sel darah merah di media secara sempurna.
- Gamma-hemolisis yang tidak meghemolisa darah sehingga tidak terbentuk zona hemolysis pada sekeliling koloni bakteri.
2.3Resistensi Antibiotik
Resistensi antibiotik adalah kemampuan mikroorganisme untuk bertahan dari pengaruhsuatu antibiotik. Resistensi antibiotik merupakan tipe spesifik dari resistensi obat. Ketika sebuah gen berubah, maka bakteri dapat mengirimkan informasi genetik secara horisontal ke bakteri lainnya melalui pertukaran plasmid. Bakteri yang membawa beberapa gen resistensi disebut multiresistant atau superbug (Biantoro, 2008).
kultur dan sensitivitas masih menjadi gold standar. Pola bakteri di bagian-bagian tubuh manusia juga diperlukan untuk dasar pertimbangan
[image:40.595.148.510.212.698.2]pemberian antibiotik.
Tabel 3. Kronologi Infeksi S. aureus dan Resistensinya Tahun Kejadian
1940 Penicillin diperkenalkan
1942 Muncul S. aureus resisten penicillin
1959 Metisilin diperkenalkan, sebagian besar strain S. aureus di rumah sakit dan masyarakat resisten penicillin
1961 Muncul MRSA
1963 Muncul wabah MRSA di rumah sakit yang pertama
1968 Ditemukan strain MRSA yang pertama di rumah sakit Amerika
1970-an Penyebaran klonal MRSA secara global, kejadian MRSA yang sangat tinggi di Eropa Utara
1980-an Penurunan kejadian MRSA yang dramatis dengan adanya program “search and destroy” di Eropa Utara
1996 VRSA dilaporkan di Jepang
1997 Muncul VISA, dilaporkan adanya infeksi CA-MRSA yang serius
2002 Terjadi infeksi VRSA yang pertama di Amerika
2003
Peningkatan kejadian MRSA hampir 60% di ICU, wabah CA-MRSA dilaporkan terjadi di banyak tempat dan berimplikasi pada wabah di rumah sakit
2006
>50% infeksi kulit stafilokokus muncut di bagian gawat darurat yang disebabkan CA-MRSA, peningkatan HA-MRSA, perbedaan keduanya secara epidemiologi semakin sulit
2007 “The Year of MRSA”
Metisilin merupakan penicillinase-resistant semisynthetic penicillin, pertama kali diperkenalkan pada tahun 1959. Metisilin digunakan untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh S. aureus resisten terhadap penisilin. Namun, di Inggris pada tahun 1961 telah dilaporkan adanya isolat S. aureus yang resisten terhadap Metisilin. Kemudian infeksi MRSA secara cepat menyebar di seluruh negara-negara Eropa, Jepang, Australia, Amerika Serikat, dan seluruh dunia selama berpuluh-puluh tahun serta menjadi infeksi yang multidrug-resistant (Biantoro, 2008).
2.3.1 Kelas Resistensi Stafilokokus
Stafilokokus memiliki sensitivitas yang berbeda-beda terhadap obat antimikroba. Resistansi stafilokokus dibagi menjadi beberapa kelas (Jawetz et al, 2008):
a. Sering memproduksi β-laktamase, dikendalikan oleh plasmid, dan membuat organisme ini resisten terhadap berbagai penisilin (penisilin G, ampicillin, tikarsilin, piperasilin, dan obat yang serupa). Plasmid ditransmisikan melalui transduksi dan mungkin juga melalui konjugasi.
c. Di Amerika Serikat, S. aureus dianggap sensitif terhadap vankomisin jika konsentrasi penghambat minimumnya (minimum inhibitory concentration; MIC) kurang atau sama dengan 4 µg/mL; kerentanan intermediate jika MIC 8-16 µg/mL; dan resistan jika MIC ≥ 16 µg/mL. Mekanisme
resistensi berhubungan dengan peningkatan sintesis dinding sel serta perubahan dinding sel dan bukan sebagai akibat gen van yang ditemukan pada enterokokus. Strain S. aureus dengan kerentanan intermediate terhadap vankomisin biasaya resisten terhadap nafsilin tetapi umumnya sensitif terhadap
oksazolidinon dan quinupristin/dalfopristin.
d. Pada tahun 2002, strain vancomycin-resistant S. aureus (VRSA) diisolasi dari pasien di Amerika Serikat. Isolat mengandung gen vanA resistan vankomisin dan enterokokus, dan gen mecA resistan nafsilin.
e. Resistansi yang diperantarai plasmid (plasmid-mediated resistance) terhadap tetrasiklin, eritromisin, aminoglikosida, dan obat-obatan lain sering terjadi pada stafilokokus.
2.3.2 Mekanisme Resistensi MRSA
[image:43.595.187.511.307.712.2]Mekanisme kerja obat antimikroba, yaitu inhibisi sintesis dinding sel, inhibisi fungsi membrane sel, inhibisi sintesis protein, dan inhibisi sintesis asam nukleat. Terdapat berbagai mekanisme yang menyebabkan mikroorganisme bersifat resisten terhadap obat (Jawetz et al, 2008).
Tabel 4. Mekanisme Resistensi Antibiotik
Tipe Antibiotik Mekanisme Kerja Obat Mekanisme Resistensi Bakteri Aminoglikosida, gentamisin Menghambat sintesis protein Inaktivasi penghambatan sintesis protein Beta-laktam, penisilin, sefalosporin Menghambat
pertumbuhan dinding sel
Inaktivasi penghambatan dinding sel, mutasi Glikopeptida, vankomisin Menghambat
pertumbuhan dinding sel Mutasi protein pengikat
Makrolid Menghambt sistesis
protein Proteksi ribosom
Kuinolon Menghambat replikasi
DNA Mutasi protein pengikat
Rifampin Menghambat RNA
polymerase Mutasi protein pengikat
Tetrasiklin Menghambat sintesis protein Inaktivasi penghambatan sintesis protein Trimetoprim, sulfonamid Menghambat formasi
asam nukleat Mutasi protein pengikat
Mekanisme resistensi bakteri dapat terjadi melalui beberapa cara. Pertama, organisme memiliki gen pengkode enzim, seperti β -laktamase, yang menghancurkan agen antibakteri sebelum agen antibakteri dapat bekerja. Kedua, bakteri dapat memiliki pompa penembus yang menghambat agen antibakteri sebelum dapat mencapai tempat perlekatan target dan memberikan efeknya. Ketiga, bakteri memiliki beberapa gen yang mempengaruhi jalur metabolisme yang pada akhirnya menghasilkan perubahan pada dinding sel bakteri yang tidak lagi mengandung tempat perlekatan agen antibakteri, atau bakteri bermutasi yang membatasi akses dari agen antimikroba ke tempat perlekatan target intraseluler melalui down regulation gen Porin (Tenover, 2006).
S. aureus merupakan salah satu bakteri yang dapat memproduksi enzim β-laktamase. Enzim ini akan menghilangkan daya
antibakteri terutama golongan penisilin seperti metisilin, oksasilin, penisilin G dan ampisilin. Adanya enzim tersebut akan merusak cincin β-laktam sehingga antibiotik menjadi tidak aktif. Strain S. aureus yang telah resisten terhadap antibiotik metisilin disebut Metichilin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA)
(Sulistyaningsih, 2010).
afinitas antimikroba golongan β-laktam. Suatu strain yang resisten
terhadap metisilin berarti akan resisten juga terhadap semua derivat penisilin, sefalosporin dan karbapenem. Penisilin bekerja dengan berikatan pada beberapa PBP dan membunuh bakteri dengan mengaktivasi enzim autolitiknya sendiri. Pembentukan PBP2a ini menyebabkan afinitas terhadap penisilin menurun sehingga bakteri tidak dapat diinaktivasi. PBP-2a ini dikode oleh gen mecA yang berada dalam transposon (Salmenlina, 2002).
Semua obat β-laktam merupakan inhibitor selektif terhadap sintesis dinding sel bakteri sehingga secara aktif melawan pertumbuhan bakteri. Langkah awal kerja obat berupa pengikatan obat ke reseptor sel (protein pengikat penisilin atau protein biding
penicillin atau PBP). Terdapat tiga sampai enam PBP, diantaranya adalah enzim transpeptidase. Reseptor yang berbeda mempunyai afinitas yang berbeda pula untuk suatu obat, dan masing-masing reseptor dapat memperantarai efek yang berbeda.
Setelah obat beta laktam melekat pada satu reseptor atau lebih, reaksi transpeptidase dihambat dan sintesis peptidoglikan tertahan. Langkah selanjutnya kemungkinan melibatkan perpindahan atau inaktivasi inhibitor enzim autolitik di dinding sel. Ini mengaktifkan enzim litik dan dapat menyebabkan lisis bila lingkungannya
berubah menjadi protoplas atau sferoplas, hanya dilapisi oleh membran sel yang rapuh. Pada sel-sel tersebut sintesis protein dan asam nukleat dapat berlanjut beberapa waktu lamanya.
Inhibisi enzim transpeptidase oleh penisilin dan sefalosporin mungkin karena adanya kesamaan struktur obat-obat tersebut dengan asil-D-alanil-D-alanin dari pentapeptida. Resistensi
terhadap penisilin dapat ditentukan oleh pembentuk enzim perusak penisilin (β-laktamase) oleh organisme. Beta-laktamase membuka cincin β-laktam penisilin dan sefalosporin serta menghilangkan aktivitas antimikrobanya. Beta-laktamase telah ditemukan pada banyak spesies bakteri gram positif dan gram negatif.
Staphylococccus aureus telah resisten terhadap beberapa antibiotik,
yaitu (Sulistyaningsih, 2010):
a. Penisilin
Saat ini diketahui lebih dari 90 isolat S. aureus memproduksi
penisilinase. Staphylococcus yang resisten terhadap penisilin
dimediasi oleh blaZ. Gen inimengkode enzim yang disintesis
ketika Staphylococcus diberikan antibiotik β-laktam. Enzim ini
mampu menghidrolisis cincin β-laktam, yang menyebabkan
terjadinya inaktivasi β-laktam.
b. Metisilin
Resistensi metisilin terjadi karena adanya perubahan protein
pengikat penisilin(PBP). Hal ini disebabkan karena gen mecA
mengkode 78-kDa penicillinpengikat protein 2a (PBP2a) yang
memiliki afinitas yang kecil terhadap semuaantibiotik β-lactam.
Hal ini memudahkan S. aureus bertahan pada konsentrasiyang
tinggi dari zat tersebut, resistensi terhadap metisilin menyebabkan
resistensi terhadap semua agen β-lactam, termasuk sefalosporin.
c. Kuinolon
Fluorokuinolon pertama kali dikenalkan untuk pengobatan infeksi
bakterigram positif pada tahun 1980. Resistensi terhadap
fluorokuinolon sangatcepat dibandingkan dengan resisten
fluorokuinolon sebagai anti bakteri menurun. Resistensi terhadap
fluorokuinolon berkembang sebagai hasil mutasi kromosomal
spontan dalam target terhadap antibiotik atau dengan induksi
pompa effluks berbagai obat.
d. Vankomisin
Vankomisin menjadi meningkat penggunaannya untuk mengobati
Infeksiyang disebabkan oleh MRSA. Pada tahun 1997, laporan
pertama vankomisinIntermediet Resisten S. aureus, dilaporkan di
Jepang, dan berkembang dinegara lain. Penurunan sensitifitas
vankomisin terhadap S. aureus terjadikarena adanya perubahan
dalam biosintesis peptidoglikan bakteri tersebut
e. Kloramfenikol
Resistensi terhadap kloramfenikol disebabkan karena adanya
enzim yangmenginaktivasi kloramfenikol dengan mengkatalisis
proses asilasi terhadapgugus hidroksi dalam kloramfenikol
menggunakan donor gugus etil berupaasetil koenzim A.
Akibatnya dihasilkan derivat asetoksi kloramfenikol yangtidak
mampu berikatan dengan ribosom bakteri.
2.4Tenaga Medis dan Paramedis
sedangkan tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalambidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu
memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.
Menurut Permenkes No.262/1979 yang dimaksud dengan tenaga medis adalah lulusan Fakultas Kedokteran atau Kedokteran Gigi dan
Pascasarjana yang memberikan pelayanan medik dan penunjang medik. Sedangkan menurut PP No.32 Tahun 1996 Tenaga Medis termasuk tenaga kesehatan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan tersebut, yang dimaksud dengan tenaga medis meliputi dokter dan dokter gigi. Tenaga medis adalah
mereka yang profesinya dalam bidang medis yaitu dokter maupun dokter gigi.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No.
III. METODE PENELITIAN
3.1Jenis dan Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif laboratorik dengan
pendekatan cross sectional, menggunakan metode difusi dengan memakai media Agar Darah Domba (ADD) dan cakram cefoxitin serta
menggunakan media Mannitol Salt Agar (MSA). Hasil penelitian diperoleh dengan mengetahui adanya perubahan warna pada media Mannitol Salt Agar (MSA) serta mengukur besarnya diameter zona hambat cakram cefoxitin terhadap isolat bakteri uji pada medium agar untuk mengetahui adanya Methicillin-resistant Staphylococcus aureus pada tenaga medis di Intensive Care Unit (ICU) dan Ruang Perawatan Bedah Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek.
3.2Lokasi dan Waktu Penelitian
3.3Populasi dan Sampel
Populasi pada penelitian ini adalah tenaga medis dan paramedis yang bekerja di ruang Intensive Care Unit (ICU) dan Ruang Perawatan Bedah Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek. Cara pengambilan sampel pada penelitian ini adalah dengan simple random sampling.
Rumus besar sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah (Sastroasmoro, 2011):
n=
n=
n=68,035
n=68
Keterangan:
n = Besar sampel
Zα = Tingkat kemaknaan (ditetapkan: 1,96) P = Proporsi (dari pustaka: 0,23)
Q = 1-P (1-0,23)
d = Tingkat ketepatan absolut yang dikehendaki (ditetapkan: 0,10)
Proporsi yang dimasukkan dalam rumus tersebut berasal dari tinjauan pustaka yang menyebutkan bahwa prevalensi MRSA di Indonesia pada tahun 2006 sebesar 23,5% (Sulistyaningsih, 2010). Berdasarkan rumus tersebut maka jumlah sampel yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah
68 sampel. Sampel berasal dari swab hidung tenaga medis dan paramedis yang dibagi menjadi dua, yaitu sebagian berasal dari ruang ICU dan sebagian lagi berasal dari ruang perawatan bedah. Sampel penelitian ini berasal dari tenaga medis dan paramedis di Ruang Intensive Care Unit (ICU) dan Ruang Perawatan Bedah Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek dengan kriteria:
3.3.1 Kriteria Inklusi
Tenaga medis yang bekerja di ruang Intensive Care Unit (ICU) dan ruang perawatan bedah Rumah Sakit Umum Daerah Abdul
Moeloek.
3.3.2 Kriteria Eksklusi
Tenaga medis yang tidak menyetujui untuk berpartisipasi dalam penelitian ini.
3.4Variabel Penelitian 3.4.1 Variabel bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah isolat Staphylococcus aureus dari swab hidung tenaga medis dan paramedis.
3.4.2 Variabel terikat
3.5Definisi Operasional
Dalam penelitian ini terdapat beberapa istilah yang harus dijelaskan secara eksplisit sehingga tidak menimbulkan salah persepsi dalam
pamahamannya, anatara lain:
3.5.1 Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA):
Bakteri Staphylococcus aureus yang resisten terhadap pemberian antibiotik golongan penisilin dan sefalosporin, sehingga menjadi penyebab utama dalam infeksi nosokomial.
3.5.2 Antibiotik:
Obat yang digunakan untuk mengukur zona hambat, yaitu cefoxitin 30 µg.
3.5.3 Daya Hambat:
Kemampuan antibiotik untuk menghambat pertumbuhan bakteri secara maksimal yang ditunjukkan dengan terbentuknya zona hambat pada media Agar Darah Domba (ADD).
3.5.4 Resistensi:
Keadaan terbentuknya zona hambat pada media Agar Darah Domba (ADD) ≤ 21 mm.
3.5.5 Sensitif:
3.6Bahan dan Alat Penelitian 3.6.1 Bahan
a. Isolat bakteri swab hidung dari tenaga medis dan paramedis yang berada di ruang Intensive Care Unit (ICU) dan Ruang Perawatan Bedah Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek.
b. Cakram Antibiotik cefoxitin 30 µg.
c. Media Mannitol Salt Agar (MSA) dan media Agar Darah Domba (ADD).
3.6.2 Alat
Alat-alat yang dipakai adalah alat-alat yang biasa dipakai di Laboratorium Mikrobiologi, seperti lemari pengeram (inkubator), autoklaf, pinset, Bunsen, cawan petri, lidi kapas steril, tabung reaksi, ose, serta peralatan lain yang lazim digunakan di laboratorium mikrobiologi.
3.7Prosedur Penelitian
3.7.1 Sterilisasi alat
Alat yang digunakan dalam penelitian dibersihkan dan dikeringkan terlebih dahulu kemudian dibungkus dengan kertas lalu di
3.7.2 Pembuatan Mannitol Salt Agar (MSA)
Bahan yang digunakan terdiri dari 10 gr pepton, 10 gr manitol, 15 gr agar, 75 gr sodium klorida, 0,25 gr Phenol red.
Cara pembuatan:
a. Bahan dilarutkan dalam 500 ml aquades, kemudian dipanaskan sampai bahan terlarut sempurna.
b. Media disterilisasi menggunakkan autoklaf pada tekanan 1 atm dan suhu 121˚ C selama ± 15 menit.
c. Media didinginkan sampai teraba hangat-hangat kuku, kemudian dituangkan ke dalam cawan petri steril. d. Media dibiarkan membeku (menjadi padat).
3.7.3 Pembuatan Media Agar Darah Domba
a. Nutrient Agar sebanyak 8 gram dilarutkan dalam 400 ml aquades.
b. Kemudian bahan agar dipanaskan di dalam Erlenmeyer sampai media terlarut sempurna.
c. Media disterilisasi menggunakkan autoklaf pada tekanan 1 atm dan suhu 121˚ C selama ± 15 menit.
d. Setelah media dingin sampai teraba hangat-hangat kuku, ditambahkan darah domba sebanyak 17 ml ke dalam
3.7.4 Pengambilan dan isolasi spesimen Staphylococcus aureus
Isolat diambil dengan cara swab pada bagian nares anterior dengan menggunakan lidi kapas steril yang telah dibasahi dengan nutrient broth. Isolat diambil dari kedua lubang hidung kemudian ditanam pada media nutrient agar, diinkubasi pada suhu 37º C selama 24 jam.
3.7.5 Pengukuran Sensitivitas Antibiotik
a. Setelah terdapat pertumbuhan koloni pada nutrient agar maka dengan menggunakan ose bulat, koloni ditanamkan pada media Manitol Salt Agar (MSA) kemudian didiamkan 2-5 menit agar bakteri meresap ke dalam media. Setelah itu kultur diinkubasi pada suhu 37˚C selama 24-48 jam. Kemudian diperhatikan perubahan warna yang terjadi pada media. Apabila media berubah menjadi kuning, maka bakteri tersebut dapat tumbuh dalam suasana garam serta dapat memfermentasikan manitol. Perubahan warna pada media menandakan bakteri tersebut adalah Staphylococcus aureus.
b. Kultur positif Staphylococcus aureus ditanamkan kembali pada media nutrient broth dan diinkubasi selama 6 jam atau lebih sampai kekeruhannya sama dengan larutan Mc. Farland 0,5. Kemudian ditanam pada media Agar Darah Domba (ADD). c. Cakram cefoxitin diletakkan pada kultur media Agar Darah
baik antara cakram obat dengan bakteri, kemudian di inkubasi pada suhu 37˚ C selama 24 jam.
3.8Skema Prosedur Penelitian
Gambar 4. Skema Prosedur Penelitian Pengambilan spesimen dari swab hidung tanaga medis dan paramedis di Ruang
ICU dan Ruang Perawatan Bedah
Spesimen digoreskan pada media Mannitol
Salt Agar (MSA)
Meletakkan cakram cefoxitin pada media yang sudah diolesi
bakteri
Spesimen digoreskan pada media Agar Darah Domba setelah kekeruhan sama dengan Mc. Farland 0,5
Hasil zona lisis pada kultur Agar Darah Domba
Hasil Uji Sensitivitas Sensitif (S)
Resistant (R)
Inkubasi 37˚ C selama 24-48
jam. Inkubasi 37˚ C
selama 24 jam. Spesimen digoreskan
pada nutrient agar, inkubasi selama 24 jam
3.9Analisis Data
Tabel 5. Tabel Analisis Data
No Ruang
Tingkat Sensitivitas
Staphylococcus sp.
Tidak ada
Pertumbuhan Total Staphylococcus aureus
Resisten Sensitif
1 ICU 2 RPB 1 3 RPB 2
DAFTAR PUSTAKA
Adaleti, R., Yasar Nakipoglu, Zeynep Ceren Karahan, Cihan Tasdemir, Fatma Kaya. 2007. Comparison of polymerase chain reaction and conventional methods in detecting methicillin-resistant Staphylococcus aureus. J. of Infect Develop Countries. 2(1):46-50.
Ahmed M. O.,A.K. Elramalli, S.G. Amri, A.R. Abuzweda, Y.M. Abouzeed. 2012. Isolation and screening of methicillin-resistant Staphylococcus aureus from health care workers in Libyan hospitals. J. ofEastern Mediterranean Health. 18(1):37-42.
Anonim. 1979. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 262/Menkes/Per/III/1979 tentang Ketenagaan Rumah Sakit Pemerintah.
Anonim. 2005. Guidelines for the Management of Community Acquired
Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (CA-MRSA) Infections in the US Navy and Marine Corps.
http://www-nehc.med.navy.mil/Downloads/prevmed/CPG_MRSA_20050516_final.pdf. Diakses 20 Oktober 2012.
Anonim. 2010. Healthcare system in Indonesia Pharmaceuticals and Healthcare Report Q3. BMI. London. 39 hlm.
Anonim. 2011. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 028/Menkes/Per/I/2011 Tentang Klinik.
Biantoro, Imam. 2008. Metichillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA). (Tesis). Universitas Gajah Mada. Yogyakarta. 7-26 pp.
Crossley, K., Kimberly K. Jefferson, Gordon L. Archer, Vance G. Fowler. 2009. Staphylococci In Human Disease 2nd Edition. Blackwell Publishing. United Kingdom. 166 hlm.
Ellison, Richard. 2008. MRSA in Health Workers. J. ofWatch Infectious Disease. 11:8 58.
Jawetz, Geo F. B., Janet S. B., Stephen A. M. 2008. Mikrobiologi Kedokteran Edisi 23. EGC. Jakarta. 225-228 hlm.
Fitri, Adelina. 2011. Infeksi Nosokomial.
http://epidemiologiunsri.blogspot.com/2011/11/infeksi-nosokomial.html. Diakses 15 Oktober 2012.
Gordon Rachel J. and Franklin D. Lowy. 2008. Pathogenesis of Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus Infection. J. ofClin Infect Dis. 46(1):S350-S359.
Hawkey, Peter M. 1998. The Origins and Molecular Basis of Antibiotic Resistance. J. ofBMJ. 317:1 658-659.
Howard JB, Keiser JF, Smith TF. 1993. Clinical and Pathogenic Microbiology2nd Edition. Mosby-year book, inc. London. 289 hlm.
Kusuma, Sri A. F. 2009. Makalah Staphylococcus aureus. (Makalah). Universitas Padjajaran. Bandung. 1-8 pp.
Mainous, A. G., William J. Hueston, Charles J. Everett, Vanessa A. Diaz. 2006. Nasal Carriage of Staphylococcus aureus and Methicillin-Resistant S aureus inthe United States 2001-2002. J. ofAnnals of Family Medicine. 4(2):132-137.
Mardiastuti, H. W. dan Anis K. 2007. Emerging Resistance Pathogen: Situasi Terkini di Asia, Eropa, Amerika Serikat, Timur Tengah dan Indonesia. J. ofMKI. 57(3):75-79.
Nurkusuma, Dudy D. 2009. Faktor yang Berpengaruh Terhadap Metichillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) pada Kasus Infeksi Luka Pasca Operasi di Ruang Perawatan Bedah Rumah Sakit Dokter Kariadi
Semarang. (Tesis). Universitas Diponegoro. Semarang. 9-69 pp.
Pachecho, R. L., Renata L., Maura S. O., Elthon F. F., Cleide R. S., Silvia F. C., et al. 2011. Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) carriage in a dermatology unit in clinics 66(12):2071-2077.
Salmenlina. 2002. Molecular Epidemiology of Methicillin-Resistant
Staphylococcus aureus in Finland. (Disertasi). Universitas Helsinki. Helsinki. 21-30pp.
Sasirekha B., Usha M, Amruta A., Ankit, Brinda, Divyaet. 2012. Evaluation and Comparison of Different Phenotypic Tests to Detect Methicillin Resistant Staphylococcus aureus and their Biofilm Production. J. of Pharmatech Research. 4(2):532-541.
Sastroasmoro, Sudigdo dan Sofyan Ismael. 2011. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis Edisi Keempat. Sagung Seto. Jakarta. 360-361 hlm. Sulistyaningsih. 2010. Uji kepekaan beberapa sediaan antiseptik Terhadap bakteri
Staphylococcus aureus dan Staphylococcus aureus resisten metisilin (MRSA). (Tesis). Universitas Padjajaran. Bandung. 4-29 pp.
Syukur. 2009. Mekanisme Resistensi Bakteri pada Antibiotik.
http://xx-antibiotik.blogspot.com/2009/09/mekanisme-resistensi-bakteri-pada.html. Diakses 12 Oktober 2012.
Tenover, Fred. 2006. Mechanisms of Antimicrobial Resistance in Bacteria. J. of American. 119(1):S4-S5.
Todar, K. 2008. Staphylococcus aureus and Staphylococcal Disease.
http://textbookofbacteriology.net/staph.html. Diakses 12 Oktober 2012 Warsa, Usman C. 1994. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran. Bina Rupa Aksara.
Jakarta. 40 hlm.
Wahyono, H. 2005. Faktor yang berpengaruh terhadap kejadian Methicillin Resistant Staphlococcus aureus (MRSA) pada penderita dengan Bakteremia di ruang Perawatan Intensif (studi kasus di RS Dr. Hasan sadikin dan RS dr. Kariadi, Kajian Operasional Terpadu). Diakses 2 November 2012 http://www.mediamedika.net/archives/52.
ABSTRACT
IDENTIFICATION METHICILLIN-RESISTANT Staphylococcus aureus (MRSA) from HEALTH CARE WORKERS in the INTENSIVE CARE UNIT
(ICU) AND SURGICAL TREATMENT ROOM of ABDUL MOELOEK HOSPITAL
By
RAISA MAHMUDAH
Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) is a Staphylococcus aureus that become insusceptible or resistant by metichillin antibiotic types. MRSA become resistant because of genetic changes that caused by exposure of irrational antibiotic therapy. The purpose of this study to determine the percentage of MRSA from health care workers in the intensive Care Unit (ICU) and surgical treatment room of Abdul Moeloek Hospital.
This study is a descriptive study with cross sectional approach that uses a sample of 68 respondents were using agar diffusion method. Samples were grown on mannitol salt agar medium then replanted on sheep blood agar media for sensitivity test by cefoxitin 30 µg.
Results from 68 samples showed that there were 26 samples (38.24%) MRSA positive, 15 samples (22.05%) sensitive, 20 samples (29.41%) Staphylococcus sp., and 7 samples (10.3%) not show colony growth on mannitol salt agar medium. Most MRSA positive samples came from the ICU in 13 samples, while the first room of surgical treatment obtained 6 samples, and a second surgical treatment room obtained 7 samples of MRSA positive. Then it can be concluded that there were MRSA from health care workers in the Intensive Care Unit (ICU) and surgical treatment room of Abdul Moeloek Hospital.
ABSTRAK
IDENTIFIKASI METHICILLIN-RESISTANT Staphylococcus aureus (MRSA) PADA TENAGA MEDIS DAN PARAMEDIS DI RUANG
INTENSIVE CARE UNIT (ICU) DAN RUANG PERAWATAN BEDAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
ABDUL MOELOEK
Oleh
RAISA MAHMUDAH
Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) adalah bakteri Staphylococcus aureus yang menjadi kebal atau resisten terhadap antibiotik jenis metisilin. MRSA terjadi karena perubahan genetik yang disebabkan oleh paparan terapi antibiotik yang tidak rasional. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui persentase MRSA pada tenaga medis dan paramedis di ruang Intensive Care Unit (ICU) dan ruang perawatan bedah Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif laboratorik dengan pendekatan cross sectional yang menggunakan sampel sebanyak 68 responden dengan metode difusi agar. Sampel ditanam pada media Mannitol Salt Agar kemudian ditanam kembali pada media agar darah domba untuk dilakukan uji sensitivitas terhadap antibiotik cefoxitin 30 µg.
Hasil penelitian dari 68 sampel yang diperiksa menunjukkan bahwa terdapat MRSA positif sebanyak 26 sampel (38,24%), 15 sampel (22,05%) sensitif, dan 20 sampel (29,41%) Staphylococcus sp., dan 7 sampel (10,3%) tidak didapatkan pertumbuhan koloni pada media Mannitol Salt Agar (MSA). Sampel positif MRSA terbanyak berasal dari ruang ICU yaitu 13 sampel, sedangkan dari ruang perawatan bedah 1 diperoleh 6 sampel, dan ruang perawatan bedah 2 diperoleh 7 sampel positif MRSA. Jadi dapat disimpulkan bahwa terdapat MRSA pada tenaga medis dan paramedis di ruang Intensive Care Unit (ICU) dan ruang perawatan bedah RSUDAM.