Skripsi
Alasan Shanghai Cooperation Organization (SCO)
Menginginkan Aksesi Iran (2015)
(The Reasons of Shanghai Cooperation Organization (SCO)
Wishes for Iran Accession 2015)
Disusun Oleh:
Novella Saputri Ryani Wenur 20120510264
JURUSAN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
Alasan Shanghai Cooperation Organization (SCO)
Menginginkan Aksesi Iran (2015)
(The Reasons of Shanghai Cooperation Organization (SCO)
Wishes for Iran Accession 2015)
SKRIPSI
Disusun Guna Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana
pada Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Disusun Oleh:
Novella Saputri Ryani Wenur 20120510264
JURUSAN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
HALAMAN PENGESAHAN
Skripsi dengan judul:
ALASAN SHANGHAI COOPERATION ORGANIZATION (SCO) MENGINGINKAN AKSESI IRAN (2015)
(The Reasons of Shanghai Cooperation Organization (SCO) Wishes for Iran Accession 2015)
Disusun Oleh :
Novella Saputri Ryani Wenur 20120510264
Telah dipertahankan dalam Ujian Pendadaran, dinyatakan LULUS dan DISAHKAN di depan Tim Penguji Skripsi
Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI
Dengan ini saya menyatakan bahwa Skripsi yang saya tulis ini adalah asli dan belum pernah diajukan untuk mendapatkan gelar akademik sarjana baik di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ataupun di Perguruan Tinggi lain.
Dalam skripsi ini tidak terdapat karya atau pendapat yang telah ditulis atau dipublikasikan orang lain kecuali secara tertulis dengan jelas dicantumkan sebagai acuan dalam naskah dengan disebutkan nama dan dicantumkan dalam daftar pustaka.
Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila di kemudian hari terdapat ketidakbenaran dalam pernyataan ini, maka saya bersedia menerima sanksi akademik sesuai aturan yang berlaku di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Yogyakarta, 26 Desember 2016
HALAMAN PENGANTAR
Alhamdulillahirabbil’alamin. Puji syukur saya panjatkan atas kehadirat Allah SWT. Yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya sehingga Skripsi yang merupakan salah satu syarat kelulusan dan memperoleh gelar Sarjana Strata
(S1) dengan judul “Alasan Shanghai Cooperation Organization (SCO)
Menginginkan Aksesi Iran (2015)” dapat terselesaikan. Dalam proses
penyususnan skripsi ini, penulis telah menerima banyak dukungan, bimbingan serta bantuan yang sangat bermakna dari berbagai pihak, sehingga apa yang ditargetkan oleh penulis dapat tercapai.
Selama penyusunan skripsi ini, banyak sekali pihak yang telah membantu memberikan pertolongan, dorongan serta bimbingan hingga terselesaikannya skripsi ini. Oleh karena itu saya selaku penulis dengan penuh ketulusan ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Allah SWT, Maha Suci Allah yang senantiasa memberikan rahmat, karunia dan hidayah-Nya, yang selalu memberikan kemudahan dan kelancaran dalam berbagai proses, yang tidak pernah berhenti mengajarkan saya untuk menjadi seseorang yang sabar dan ikhlas, serta selalu ada bersama saya dalam situasi apapun.
3. Ibu Siti Muslikhati, S.IP.,M,Si., selaku Dosen Pembimbing saya yang telah memberikan arahan, bimbingan serta masukan dalam proses penyusunan skripsi ini
4. Ibu Nur Azizah., Dr., M.Si selaku dosen penguji I yang telah memberikan masukan, kritik, dan saran agar skripsi ini lebih baik lagi.
5. Bapak Takdir Ali Murti, S.Sos., M.Si. Selaku dosen penguji II yang telah memberikan masukan, kritik, dan saran agar skripsi ini lebih baik lagi.
6. Dosen-dosen HI Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang telah membimbing dengan baik selama masa perkuliahan.
7. Bapak staff TU HI Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang telah membimbing, melayani dan memberi informasi dengan sebaik-baiknya.
8. Teman – teman mahasiswa HI UMY angkatan 2012 dan 2013 yang telah menjadi rekan saya dalam bertukar ilmu dan pengalaman selama empat tahun terakhir ini.
9. Keluarga Kost Hidayatullah, khususnya Zerlin dan Shinto yang sering membantu saya dalam berbagai hal, berbagi tawa dan sedih bersama – sama, terima kasih.
10.Ibu Indira dan Bapak Tony, beserta rekan-rekan saya dalam menjalani magang di Biro Kerjasama UMY, Kak Idham, Mbak Olyn, Mbak Atina, Mbak Febril, Kak Bian, Kak Reza dan Kak Fahri. Terima Kasih
MOTTO
If you can dream it, believe you can do it
- Walt Disney
Kamu pergi dengan keadaan yang baik, pulang juga
harus dengan keadaan yang baik bahkan lebih baik
HALAMAN PERSEMBAHAN
Dengan mengucap rasa syukur yang sebesar-besarnya kepada Allah SWT, terimakasih atas segala nikmat yang berupa kemudahan dan kelancaran dalam
penulisan skripsi ini yang telah diberikan. Untuk :
Mama (Rohani) dan Papa (Maurice)
Yang telah merawat dengan penuh kasih sayang dari kecil sampai sekarang, terimakasih atas segala doa, dukungan dan pengorbanannya sampai akhirnya Vella bisa menyelesaikan perkuliahan Strata 1 (S1). Selalu bersyukur memiliki
kedua orang tua yang luar biasa.
ALASAN SHANGHAI COOPERATION ORGANIZATION
MENGINGINKAN AKSESI IRAN (2015)
Oleh :
Novella Saputri Ryani Wenur
Abstract
The emergence of Shanghai Cooperation Organization (SCO) has attracted worldwide attention, because this organization was built by two of most powerful countries which are Russia and China. Since it was built, it has been predicted by the experts to encounter US hegemonism in Eurasia. Russia and China power in SCO, has attracted Eurasian Countries to become a member of SCO, including Iran. Iran has been wanted to join SCO from 2005 until now. Iran’s desire to become a member of SCO has proven by the application of Iran to become a full member of SCO by 2008 and Iran is actively involved in SCO’s programs as well, but Iran’s application was rejected by SCO. As time goes, by 2015 SCO re -discussed about Iran accession into SCO in the Council of Heads of State Summit in Ufa, Russia, and the members of SCO support Iran’s accession to SCO, including the most powerful country of SCO –Russia and China – give their supports on Iran accession to be processed soon.
Keywords: Shanghai Cooperation Organization, Iran accession, Russia, China
Abstrak
Kemunculan Shanghai Cooperation Organization (SCO) telah menarik perhatian dunia, karena organisasi ini dibentuk atas dua kekuatan dunia yaitu Rusia dan Tiongkok. Sejak terbentuknya SCO, organisasi ini telah diprediksikan oleh para ahli untuk membendung hegemoni Amerika Serikat di Eurasia. Adanya Rusia dan Tiongkok didalam SCO telah menarik negara-negara Eurasia untuk bergabung kedalam SCO, Iran sebagai salah satunya. Iran ingin bergabung dengan SCO dimulai pada tahun 2005 sampai sekarang. Keinginan Iran untuk menjadi anggota SCO dibuktikan dari mendaftarnya Iran sebagai anggota tetap SCO pada tahun 2008 dan Iran juga berperan aktif dalam program-program SCO, namun pengajuan Iran sebagai anggotat tetap ditolah oleh SCO. Lalu, pada tahun 2015, aksesi Iran kembali dibahas oleh SCO pada KTT SCO di Ufa, Rusia, dan negara-negara anggota SCO, termasuk dua negara-negara dominan di SCO –Rusia dan Tiongkok- mendukung aksesi Iran untuk segera dilakukan.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... iii
HALAMAN PENGANTAR ... iv
MOTTO ... vi
HALAMAN PERSEMBAHAN ... vii
ABSTRAK ... viii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR GAMBAR ... xiii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 5
C. Kerangka Teoritik ... 5
1. Teori Realisme ... 5
2. Teori Heartland ... 10
D. Hipotesa... 14
F. Metode Penelitian... 14
G. Sistematika Penulisan ... 16
BAB II DESKRIPSI SHANGHAI COOPERATION ORGANIZATION ... 18
A. Sejarah dan Perkembangan Shanghai Cooperation Organization... 18
1. Tahap Pembentukan Kepercayaan dan Pembangunan Keamanan (1996 – 2001); ... 19
2. Keamaan Regional Melawan „Three Evils’ (2001 – 2004); ... 21
3. Organisasi Internasional yang Komprehensif (2004 – sekarang) ... 22
B. Tujuan Shanghai Cooperation Organization ... 23
C. Struktur Organisasi SCO ... 25
1. Council of Heads of State ... 25
2. Council of Heads of Government (Prime Minister) ... 25
3. Council of Foreign Ministers ... 26
4. Council of National Coordinators ... 26
5. SCO Secretary – Secretrariat General ... 26
6. SCO Regional Anti-Terrorist Structure (RATS) ... 27
7. Nongovernmental Institutions ... 27
D. Kerjasama SCO ... 28
2. Kerjasama Ekonomi ... 31
BAB III KEANGGOTAAN IRAN DALAM SHANGHAI COOPERATION ORGANIZATION ... 35
A. Keinginan Iran untuk Bergabung Dengan Shanghai Cooperation Organization ... 35
B. Hambatan Yang Dihadapi Iran Untuk Menjadi Anggota Tetap Shanghai Cooperation Organization ... 40
C. Pembahasan Kembali Aksesi Iran kedalam Shanghai Cooperation Organization pada Tahun 2015 ... 43
BAB IV KEPENTINGAN NEGARA – NEGARA ANGGOTA SCO TERHADAP AKSESI IRAN KEDALAM SCO ... 48
A. Kepentingan Rusia terhadap Aksesi Iran kedalam SCO ... 50
1. Iran Sebagai Partner Rusia dalam Membendung Hegemoni Amerika Serikat di Eurasia ... 52
2. Iran Sebagai Partner Rusia dalam Energy Club ... 54
B. Kepentingan RRT terhadap Aksesi Iran kedalam SCO ... 57
C. Kepentingan Tajikistan, Kazakhstan, Kyrgyzstan dan Uzbekistan terhadap Aksesi Iran kedalam SCO ... 60
2. Kyrgyzstan ... 62
3. Kazakhstan ... 63
4. Uzbekistan ... 63
BAB V KESIMPULAN ... 65
DAFTAR GAMBAR Gambar
1. Struktur Organisasi Shanghai Cooperation Organization. ... 8
2. Peta Heartland Menurut Mackinder. ... 12
3. Peta Iran. ... 53
4. Peta Sumberdaya Minyak dan Gas Iran. ... 56
BAB I
PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Organisasi Kerjasama Shanghai atau Shanghai Cooperartion Organization (SCO) pada saat ini menjadi aktor penting yang dalam dunia politik internasional. Organisasi yang beranggotakan negara – negara yang berada di wilayah Eurasia ini mulai menjadi pusat perhatian para pemimpin – pemimpin negara dikarenakan dua kekuatan besar seperti Republik Rakyat Tiongkok dan Federasi Rusia menjadi dua dari negara – negara pendiri SCO.
Pada awalnya organisasi ini berawal dari inisiasi pembentukan forum
Tiongkok dan negara-negara pendiri Shanghai Five untuk meminimalisir konflik perbatasan yang terjadi antar negara, dan juga dengan harapan untuk menempatkan hubungan mereka pada kursus damai. (Qingguo Jia)
Dalam pertemuan yang diadakan oleh Shanghai Five tiap tahunnya, kelima negara membahas tentang peningkatan perdamaian pada perbatasan negara – negara anggota yang pada awalnya berbicara tentang militer masing
– masing negara di perbatasan. Perundingan Shanghai Five nampaknya tidak
hanya berfokus pada masalah perbatasan negara, namun mulai merambat kepada kerjasama ekonomi, stabilitas regional, hingga pada isu – isu ekonomi dan keamanan internasional. Isu – isu yang diangkat oleh Shanghai Five
antara lain, memerangi terorisme internasional, perdagangan narkoba dan kegiatan kriminal transnasional lainnya. (Qingguo Jia) Mereka menyatakan kesediaannya untuk terus mendorong kerja sama secara bilateral dan sementara itu mencari cara untuk mempromosikan kerjasama multilateral. (Qingguo Jia)Keberhasilan dari Shanghai Five pada akhirnya membuat forum ini berubah menjadi forum kerjasama intenasional dan bertransformasi menjadi Shanghai Cooperation Organization.
Pada tahun 2001, Shanghai Five melakukan transformasi menjadi
kota Shanghai sesuai dengan namanya. Sejak berdiri SCO mulai menjadi perhatian dunia dikarenakan organisasi ini dibentuk oleh dua kekuatan sosialis-komunis dunia yaitu Republik Rakyat Tiongkok dan Federasi Rusia. Selain dari negara – negara pendiri SCO, organisasi ini juga menggandeng beberapa negara potensial sebagai observer countries yaitu Mongolia, Belarus, Afghanistan dan Iran. Beberapa negara lainnya juga sebagai dialog partner yaitu, Armenia, Azerbaijan, Kamboja, nepal, Sri Lanka dan Turki.
Menurut beberapa akademisi, terbentuknya SCO menjadi tantangan tersendiri bagi Amerika Serikat. Meluasnya perbincangan dari Shanghai Five
menuju SCO, organisasi ini juga dapat dikatakan sebagai organisasi keamanan, forum regional, koalisi anti-teroris dan aliansi Rusia-RRT untuk memebendung hegemoni Amerika Serikat. (Aris, 2013, hal. 1) Dibuktikan dengan ditolaknya keanggotaan Amerika Serikat oleh SCO pada tahun 2005. (Hiro, 2006) Hal ini memperkuat asumsi bahwa SCO merupakan organisasi untuk membendung hegemoni amerika di wilayah Eurasia.
juli 2015, dan menandatangani bukti keanggotaan pada tanggal 24 Juni 2014. (President leads Pakistan delegation to the Thirteenth OIC Islamic Summit in Istanbul, 2016)Sedangkan Iran dan Mongolia masih menjadi negara pengamat (observer countries).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka didapat sebuah pokok permasalahan: Mengapa Shanghai Cooperation Organization (SCO) menginginkan aksesi Iran kedalam SCO segera
diproses?
C. Kerangka Teoritik
Teori adalah sarana pokok yang digunakan sebagai alat untuk menjadi kerangka pemikiran yang menyatakan hubungan antara fenomena sosial ataupun alami yang akan diteliti dengan landasan pemikiran sebagai pijakan. Untuk menjawab pertanyaan dalam penelitian ini penulis akan menggunakan teori realisme dan teori heartland.
1. Teori Realisme
Teori Realisme merupakan teori mainstream yang sering digunakan dalam hubungan internasional, terlebih pada masa perang dunia pertama. Pengikut dari teori realisme sering juga disebut dengan realis. Tidak hanya berpendapat tentang sistem internasional, realisme juga sering terlihat dalam institusi internasional atau organisasi internasional.
Dalam melihat sistem internasional, realis memiliki lima asumsi realis yang ditulis oleh John J. Mearsheimer (1995) didalam jurnalnya berjudul
Dalam hal ini kedaulatan tertinggi dipegang oleh negara, dan aktor utama dalan hubungan internasional adala negara. Oleh karena itu, kedaulatan merupakan hal sangat penting bagi suatu negara. Kedua adalah negara memiliki kapasitas untuk membangun dan menggunakan kekuatan militernya. Hal ini dapat membuka peluang bagi suatu negara untuk menyerang negara lain. Ketiga adalah negara tidak akan pernah dapat mengetahui intensi negara lain dalam berinteraksi, hal ini mengakibatkan kecurigaan masing – masing negara. Keempat adalah tujuan paling dasar dari sebuah negara, yakni
survival. Kelima adalah negara merupakan aktor yang rasional, meski terdapat kemungkinan bagi negara untuk berbuat kesalahan yang dikarenakan keterbatasan informasi. (Mearsheimer, 1995, pp. 10 - 11)
Institusi dipandang sebagai seperangkat peraturan yang menentukan bagaimana negara akan bekerjasama dan bersaing satu sama lain. Peraturan ini dinegosiasikan oleh negara, dan memerlukan kesepakatan bersama terhadap peraturan yang dibuat. Didalam institusi, negarapun ketika membuat suatu institusi harus mematuhi peraturan yang telah dibuatnya sendiri berdasarkan kesepakatan. (Mearsheimer, 1995, pp. 8 - 9)
sisteminternasional. Peran organisasi internasional dalam pandangan realis justru malah sangat sedikit, dan tidak mengurangi otoritas negara sebagai kekuasaan tertinggi dalam sistem internasional. Sebaliknya, negara mempertimbangkan bahwa organisasi internasional dapat menguntungkan bagi masing – masing negara, atau bagaimana keuntungan yang didapat terdisdribusi. Karena dalam dunia realisme, konsep yang dipakai adalah konsep balance of power yang dimana negara akan memikirkan tentang keuntungan keuntungan yang didapat didalam institusi tersebut. Mereka memastikan bahwa keuntungan yang didapat lebih banyak atau tidak lebih buruk dibanding organisasi lain. (Mearsheimer, 1995, hal. 13)
TIONGKOK dan Rusia, yang dimana dapat disimpulkan bahwa kedua negara ini memiliki peran dominan di SCO.
Gambar 1.1.
Struktur Organisasi Shanghai Cooperation Organization
Dalam kasus aksesi Iran, ditunjukkan bahwa hal ini dibahas dalam
Heads of State Summit atau Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) SCO pada tahun 2015 di Ufa, Rusia.Pada KTT ini, dengan selesainya proses aksesi India dan Pakistan ke dalam SCO, kepala negara masing – masing negara anggota juga membahas tentang aksesi Iran. Hal ini dikarenakan akan adanya pertemuan P5 + 1 dalam kesepakatan nuklir yang membahas tentang pencabutan sanksi Iran pada juli, 2015. Hal ini membuat SCO ingin segera aksesi Iran kedalam SCO proses. Dilansir oleh Press TV, Sekjen SCO, Dmitry Mezentsev (Press TV, 2015) menyatakan “Iran's full membership in the
organization has not been possible so far because of the sanctions”, lalu
menambahkan “However, this obstacle has been removed now,”. Hal ini
menyatakan bahwa keanggotaan Iran sebagai anggota tetap SCO terhalang oleh sanksi yang diberikan oleh PBB, namun halangan ini telah dihapuskan. Dilansir pula oleh Press TV, bahwa aksesi Iran akan segera diproses begitu sanksi yang dijalaninya telah dicabut. (PressTV News Video, 2016) Aksesi Iran sebelumnya juga telah diungkapkan oleh Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi pada pertemuan Menteri Luar Negeri di Uzbekistan,
"We fully endorse Iran's interest in this issue [of joining the SCO]. At the moment, we should focus on the issue of the accession of India and Pakistan. At the moment, we need to accumulate a significant experience and create such a base. I think, in this respect, the accession of Iran may be put on the agenda of the SCO in the future," (SCO to consider Iran's accession after India, Pakistan, 2016)
Hal ini menunjukkan bahwa, Tiongkok telah mendukung aksesi Iran kedalam SCO. Negara lainnya yaitu Rusia, juga ikut mendukung aksesi Iran kedalam SCO, hal ini dikemukakan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Igor Murgulov mengatakan, “Kehadiran Iran dapat secara efektif
memperkokoh SCO.” (IRIB Indonesia, 2016) Negara anggota lainnya juga
kedalam SCO juga tidak terlepas dari adanya kepentingan – kepentingan yang ada dari negara – negara anggota SCO, khusunya Tiongkok dan Rusia.
2. Teori Heartland
Teori Heartland tidak dapat dipisahkan dari teori geopolitik yang memiliki dua konsiderasi yang tak bisa dipisahkan, yaitu aspek spasial dan dimensi politik. Dengan kata lain, premis dasar geopolitik adalah bahwasanya geografi merupakan discourse dari aspek sosial dan sejarah yang akan selalu berhubungan dengan masalah-masalah politik dan ideologi. (Adi, 2012)Letak geografis suatu negara merupakan suatu kekuatan (power) dan pengetahuan itu sendiri, sebuah fenomena yang tak bisa ditentang yang terpisah dari aspek ideologi dan politik. (Adi, 2012) Dalam tradisi geopolitik, istilah tersebut dipahami berdasarkan aspek historis, sehingga tiap akademisi memiliki sudut pandang yang berbeda dalam mendefinisikan term geopolitik. Pandangan lebih luas mengenai geopolitik datang dari Geoffrey yang menyatakan geopolitik merupakan suatu studi hubungan internasional dari perspektif geografis. Pandangan inipun dipertegas Agnew yang mendefinisikan geopolitik sebagai suatu obyek studi yang mensinergiskan bagaimana asumsi, desain, dan pemahaman geografis menjadi determinan politik dunia. (Cohen S. B., 2003, hal. 11-12)
jantung dunia, akibat potensi geografis yang dimilikinya. Kutipan menurut Sir Halford J. Mackinder adalah,
“Who rules East Europe, commands the Heartland; Who rules the Heartland, command the World Islands; Who rules the World Islands, commands the World.”
(Mackinder S. H., 1942, hal. 106)
“Siapapun yang dapar menguasai Eropa Timur akan menguasai
heartland (dalam artian Eurasia), siapapun yang menguasai heartland akan menguasaiworld islands, siapapun yang menguasai world island maka ia dapat
menguasai dunia.” (Pranoto, 2015) Menurut Mackinder, Heartland yang
Gambar 1.2.
Peta Heartland Menurut Mackinder
Dari peta diatas, dapat dilihat bahwa Mackinder mengklasifikasikan
duniadalam “Empat Kawasan”, antara lain:
a) Heartland atau World Islandatau Pivot Area, atau bisa juga
disebut dengan “Jantung Dunia.” Menurut Mackinder kawasan
heartland meliputi wilayah – wilayah Eurasia, yaitu Eropa Timur, Timur Tengah dan Asia Tengah. Dalam sudut pandang dari Mackinder, kawasan Eurasia memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah inilah kawasan paling berlimpah
sumberdaya alam (SDA), kekayaaan minyak dan gas bumi sehingga ia menyebut sebagai „jantung‟-nya dunia;
b) Inner Marginal Crescent, terdiri atas Eropa Barat, Asia Selatan, sebagian Asia Tenggara dan sebagian daratan Cina; c) Desert (Padang Pasir) dalam hal ini ialah Afrika Utara; dan d) Island atau Outer meliputi Benua Amerika, Afrika Selatan,
Asia Tenggara dan Australia. (Pranoto, 2015)
Iran merupakan negara yang memiliki kondisi geografis dan geopolitik yang strategis, dibuktikan bahwa letak geografis Iran yang berbatasan langsung dengan laut kaspian, Saudi Arabia dan Tajikistan. Iran juga memiliki kedekatan regional dengan negara – negara anggota dari SCO.
Secara geografis, wilayah Iran sangat berdekatan dengan anggota SCO yaitu Uzbekistan dan Kazakhstan, berbatasan langsung dengan Pakistan.Disebelah timur, Iran berbatasan langsung dengan Afghanistan yang dimana Afghanistan merupakan daerah yang sangat diperhatikan oleh SCO dalam isu menangani teroris. Selain Afghanistan Iran juga berbatasan dengan Arab Saudi yang menjadi pintu masuk Amerika Serikat di Timur Tengah. Hal ini menunjukkan bahwa iran memiliki potensi geostrategis untuk membendung hegemoni Amerika Serikat di Asia Tengah dan Timur Tengah.
sangat menguntungkan bagi SCO. Dalam letak geografis Iran terletak pada Timur Tengah yang telah dijelaskan oleh teori heartland, dan hal ini juga diperkuat dengan asumsi bahwa wilayah Asia Tengah dan Timur Tengah sangatlah penting dari segi geopolitik. (Arvanitopoulos)
D. Hipotesa
Shanghai Cooperation Organization (SCO) menginginkan aksesi Iran ke dalam SCO segera diproses karena adanya kepentingan negara – negara anggota (khususnya Tiongkok dan Rusia) terhadap potensi geopolitik dan ekonomi Iran apabila Iran masuk dalam keanggotaan SCO.
E. Batasan Penelitian
Untuk menghindari pelebaran pembahasan dalam penelitian mengenai alasan SCO menginginkan aksesi Iran pada tahun 2015 maka dibutuhkan batasan penelitian. Adapun batasan penelitian ini hanya difokuskan pada tahun 2005 dimana Iran menerima status sebagai negara pengamat di SCO sampai pada tahun 2015 dimana status Iran diperbincangkan kembali untuk menjadi anggota tetap.
F. Metode Penelitian
pertanyaan yang diajukan dalam pokok permasalahan, penulis mengunakan metode sebagai berikut:
1. Unit Analisa dan Tingkat Analisa
Melihat dari objek penelitian yang di analisa oleh penulis, maka Tingkat Analisa dari penelitian ini berada pada tingkat multi-negara atau kelompok negara atau berada di tingkat tengah seperti negara atau Organisasi Internasional.Unit analisa yang dalam penelitian ini adalah Shanghai Cooperation Organization (SCO) dan unit eksplanasi adalah negara yaitu Iran. Sehingga berdasarkan unit analisa dan unit eksplanasi penulis mengambil pendekatan reduksionis.
2. Metode Pengumpulan data
G. Sistematika Penulisan
Penulisan skripsi ini terbagi kedalam lima bab dan masing-masing bab terdiri dari beberapa sub bab sesuai dengan bahasan dan materi yang diteliti.
Bab I merupakan Pendahuluan yang membahas tentang alasan pemilihan judul, Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Landasan Teoritik, Hipotesa, Batasan Penelitian, Metode Penelitian dan Sistematika Penulisan.
Bab II mendeskripsikan profil lengkap tentang Shanghai Cooperation Organization (SCO). Penulis akan mendeskripsikan tentang sejarah terbentuknya SCO, tujuan, struktur organisasi dan kerjasama dijalankan oleh SCO.
Bab III menjelaskan tentang proses masuknya Iran sebagai negara pengamat (observer country) di dalam SCO sampai kepada penerimaan status Iran menjadi calon anggota tetap SCO.
Bab IV menjelaskan tentang faktor – faktor yang mempengaruhi SCO ingin aksesi Iran segera diproses. Penjelasan tentang faktor – faktor tersebut berisi kepentingan negara anggota terhadap SCO, apabila aksesi Iran dilancarkan dalam sub bab yang lebih detil.
BAB II
DESKRIPSI SHANGHAI COOPERATION ORGANIZATION Pada tahun 1990an, dunia digemparkan dengan runtuhnya Uni Soviet menjadi 15 negara independen dan meninggalkan Amerika Serikat menjadi kekuatan tunggal dunia. Setelah runtuhnya Uni Soviet, keadaan negara – negara bekas Uni Soviet dihadapkan dengan permasalahan yang cukup rumit, mulai dari krisis ekonomi, konflik perbatasan, sampai pada pembenahan sistem pemerintahan negara – negara baru merdeka. (Hidayatulah, 2009)
Shanghai Five hadir sebagai salah satu solusi untuk mengurangi ketegangan dan permasalahan yang dihadapi oleh beberapa negara – negara bekas Uni Soviet, diinisiasi oleh lima negara pada tahun 1996, forum
Shanghai Five dinilai berhasil untuk mengurangi ketegangan antar perbatasan negara – negara anggota dan pada akhirnya memutuskan untuk mendeklarasikan sebagai organisasi internasional bernama Shanghai Cooperation Organization (SCO).
keamanan sementara menjadi organisasi regional yang tidak hanya membahas masalah security (keamanan) pada tahun 2001. (Haas & Putten, 2007, p. 7) Dalam perkembangannya, Shanghai Cooperation Organization (SCO) dibagi menjadi tiga fase menurut Marcel de Haas yaitu (1) fase confidence and security building measure pada saat masih dalam bentuk forum Shanghai Five
pada tahun 1996 – 2001; (2) fase regional security against three evils (2001 – 2004); (3) Comprehensive international organization (2004 – sekarang). (Haas & Putten, 2007)
1. Tahap Pembentukan Kepercayaan dan Pembangunan Keamanan (1996 – 2001);
Pada tahap ini merupakan tahap dimana awal Shanghai Cooperation Organization belum terbentuk dan masih dalam berbentuk forum internasional yang bernama Shanghai Five. Dimulai pada bulan November 1992, Tiongkok, Rusia, Kazakhstan, Kyrgyzstan, dan Tajikistan memulai
keamanan khususnya didaerah perbatasan. Secara spesifik bahwa negara – negara anggota bersedia untuk menanggapi secara serius dan mengambil langkah – langgah konkret untuk meningkatkan keamanan diperbatasan antar negara bahwa mereka akan mengambil langkah-langkah konkret yang serius untuk meningkatkan keamanan di daerah perbatasan antara mereka. (Qingguo Jia)
Pertemuan kedua SCO, tahun 1997 di Moscow kelima negara anggota membahas kelanjutan dari pertemuan pertama. Kedua pertemuan pada tahun 1996 dan pada tahun 1997, kelima negara anggota SCO sepakat untuk
menandatangi „Agreement on deepening military trust in border
regions‟dan„Agreement on reduction of military forces in border regions‟
(Haas & Putten, 2007) Lebih spesifiknya didalam perjanjian, negara – negara anggota menyetujui bahwa militer masing – masing negara tidak terlibat dalam kegiatan ofensif atau menyerang satu sama lain, mereka akan mengurangi aktifitas militer didaerah perbatasan dan saling memberikan informasi apabila ada kegiatan militer dalam radius beberapa ratus meter dari daerah perbatasan, melakukan latihan militer bersama, dan lain sebagainya memperdalam kepercayaan militer di daerah perbatasan.
anggota Shanghai Five menyetujui untuk saling menghormati kedaulatan dan integritas wilayah masing – masing negara anggota, dan kerjasama mutualisme atau kerja. Pada pertemuan keempat, Shanghai Five membahas tentang kinerja dan hasil kerjasama antar negara, dan kelima negara mengungkapkan kepuasan dalam kerjasama yang telah terjalin atas lima negara. Pada pertemuan keempat ini, forum Shanghai Five mulai meluaskan isu pada isu perdamaian dunia, dan kontribusi negara – negara dalam perdamaian dunia. Pada pertemuan kelima, pada tahun 2000 di Tajikistan, kelima negara anggota berharap agar Asia Tengah juga dapat berperan penting dalam menciptakan perdamaian dunia. Kerjasama multilateral ini dianggap berhasil untuk memperoleh kepentingan bersama, dan forum bejalan sesuai dengan norma – norma bersama. Keberhasilan dari kerjasama multilateral yang sudah beberapa tahun telah berjalan cukup meyakinkan negara – negara anggota Shanghai Five untuk meningkatkan mekanisme kerjasama dari forum menjadi organisasi internasional.
2. Keamaan Regional Melawan ‘Three Evils’ (2001 – 2004);
Pada fase kedua, kelima negara memutuskan untuk meningkatkan
“Shanghai Five mechanism” kepada level yang lebih tinggi. Dengan tujuan
untuk membuat pondasi yang lebih kuat dari kerjasama multilateral antar negara – negara anggota Shanghai Five, pada tanggal 15 Juni 2001 di Shanghai, kelima negara ditambah dengan Uzbekistan menandatangi
“Declaration on Establishment of the Shanghai Cooperation Organization”
Tiongkok ini terbentuk dalam kerangka organisasi kerjasama, bukanlah lagi forum kerjasama yang sifatnya ad-hoc. Dalam pertemuan ini, selain membahas tentang pembentukan SCO, tetapi juga membahas tentang isu perdamaian. Oleh karena itu, dalam pertemuan ini negara – negara anggota juga menandatangani Konvensi Shanghai untuk memerangi terorisme, separatism dan ekstrimisme (The Shanghai convention on fight against terrorism, separatism and extremism) (Haas & Putten, 2007)
Keberhasilan Shanghai Five dalam kerjasama multilateral dibidang keamanan dan ekonomi membuat SCO melangkah lebih maju dengan menanggapi isu – isu keamanan internasional, yaitu terorisme, separatism dan
ekstrimisme atau sering disebut dengan „three evils‟. Sehingga pada tahun
2004, dua badan permanen SCO terbentuk yaitu secretariat SCO di Beijing dan Struktur Anti-Teroris Regional atau Regional Anti-Terrorist Structure
(RATS) di Tashkent, Uzbekistan.
Pada tahap kerjasama dengan pihak – pihak luar, SCO juga menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan ASEAN dan
Commonwealth of Independent States (CIS) pada pertengahan tahun 2005. Selain itu, pada fase ini SCO mulai membuka diri dengan masuknya negara – negara lain seperti Mongolia, Afghanistan, Iran, Belarus, India dan Pakistan sebagai negara pengamat. Pada tahun 2015, India dan Pakistan menjadi anggota tetap SCO dan diresmikan pada KTT SCO di Ufa, Rusia pada bulan juli 2015. Selain negara pengamat, SCO juga memiliki dialogue partner, yaitu Sri Lanka dan Turki.
B. Tujuan Shanghai Cooperation Organization
Tujuan utama dari Shanghai Cooperation Organization adalah memperkuat hubungan baik antara negara – negara anggota; mempromosikan kerjasama dalam politik, perdagangan dan ekonomi, ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan wilayah pendidikan seperti pada pengembangan energi, transportasi, pariwisata, dan lingkungan; menjaga perdamaian, keamanan dan stabilitas regional, dan; menciptakan tatanan politik dan ekonomi internasional yang adil dan demokratis. (Asian Development Bank, 2015)
anggota, berasal dari akarnya yaitu untuk membangun kepercayaan (confidence-buiding) antar negara anggota. (Aris, 2013, hal. 6)
SCO berhasil menggabungkan dua kekuatan besar dunia yaitu Rusia dan Tiongkok, walaupun menurut beberapa akademisi hubungan Rusia-Tiongkok masih banyak dalam tahap kompetisi. Menurut beberapa analisis bahwa, Rusia masih menahan kepentingannya didalam SCO yang dimana program – program SCO dianggap didominasi oleh agenda dari Tiongkok. Sebagai dua kekuatan besar dalam satu organisasi, keduanya Rusia dan Tiongkok saling menekan kepentingan antar kedua negara (Rusia terhadap Tiongkok dan Tiongkok terhadap Rusia) untuk mendominasi dalam SCO. Seperti contohnya, Rusia berusaha untuk tidak meloloskan saran dari Tiongkok untuk membuat daerah regional SCO menjadi area free-trade. (Aris, 2013, hal. 8) Dalam hal ini, dengan adanya kedua negara didalam SCO dapat dikatakan bahwa konsep balance of power dapat berlaku dalam organisasi. Kedua negara akan tetap terlibat aktif dan tetap menjaga kerjasama regional Eurasia dan membuat keseimbangan kekuatan dalam organisasi.
Tiongkok dan Asia Tengah – dalam satu tujuan yang telah dibentuk dari deklarasi SCO pada tahun 2001.
C. Struktur Organisasi SCO
Struktur keorganisasian Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO) terdiri dari beberapa dewan yang merupakan penentu utama kebijakan yang ada didalam SCO.(lihat gambar 1.1.) Dewan – dewan yang ada menjadi penentu kebijakan merupakan perwakilan dari setiap negara anggota tetap SCO. Sehingga peran negara didalam tindakan – tindakan dan keputusan yang dibuat oleh SCO sangat dominan. Beberapa badan yang ada didalam SCO adalah sebagai berikut : (Ministry of Foreign Affairs of The Republic of Uzbekistan)
1. Council of Heads of State
Council of Heads of State terdiri oleh perwakilan dari kepala negara atau Presiden tiap negara - negara anggota SCO. The SCO Council of Heads of State merupakan badan tertinggi yang ada di Shanghai Corporation Organization dan sekaligus merupakan badan penentu kebijakan tertinggi. Council of Heads of States mengadakan pertemuan setiap setahun sekali (annual summit)
2. Council of Heads of Government (Prime Minister)
The SCO Council of Heads of Government merupakan dewan yang terdiri dari Perdana Menteri dari masing – masing negara anggota SCO.
organisasi, mempertimbangkan dan menentukan keputusan bagi isu – isu besar, seperti ekonomi, dan interaksi antar negara anggota SCO. Badan ini biasanya mengadakan pertemuan setahun sekali
3. Council of Foreign Ministers
Bertugas untuk mempertimbangkan isu – isu yang bersangkutan dengan aktifitas keseharian dalan organisasi, mempersiapkan pertemuan dari
Council of Heads of State dan menggelar konsultasi terhadap masalah internasional. Badan ini biasanya menggelar pertemuan sebulan sebelum Konferensi Tingkat Tinggi SCO. Badan ini juga memiliki pertemuan luar biasa dengan syarat atas prakarsa dari minimal dua negara anggota dan atas persetujuan dari kementrian setiap negara anggota.
4. Council of National Coordinators
Bertindak lansung terhadap kegiatan keseharian organisasi dan melakukan pertemuan paling tidak tiga kali dalam setahun. Tugas badan ini mempersiapkan pertemuan bagi ketiga dewan diatasnya yaitu, Council of Heads of States, Council of Heads of Government dan Council of Foreign Ministers.
5. SCO Secretary – Secretrariat General
Sekretariat SCO terletak di ibu kota Tiongkok, Beijing. Sekretaris SCO merupakan badan administrasi SCO, menyediakan bantuan organisasi dan bantua teknis dalam setiap kegiatan yang SCO dan mempersiapakan proposal untuk budget tahunan organisasi. Sekretaris Jendral PBB dipilih oleh
Foreign Affairs. Pada saat ini Dmitry Mezentsev merupakan Sekretaris Jendral yang sedang menjabat di SCO.
6. SCO Regional Anti-Terrorist Structure (RATS)
Merupakan badan resmi SCO yang dibentuk pada tahun 2004, dengan pusat berasa di Tashkent. RATS dibentuk oleh SCO sebagai respon terhadan
isu keamanan internasional yang disebut dengan ”three evils” didaerah
regional SCO.
7. Nongovernmental Institutions
Institusi nonpemerintahan SCO terdiri dari, Interbank Association,
Business Cuncil dan SCO Forum. (Aris, 2013, hal. 2 - 4)
a) SCO Interbank Association dibentuk sebagai forum partisipasi dan koordinasi antara bank nasional dari setiap negara anggota SCO. Badan ini bertujuan untuk mengevaluasi dan menyediakan kredit dan dana bagi proyek investasi bersama. b) SCO Business Council merupakan badan non pemerintah dan
dirancang untuk mendukung pelaksanaan dari proyek – proyek SCO, yaitu dengan memfasilitasi kolaborasi dan interaksi antar kelompok pengusaha dan institusi keuangan masing – masing negara anggota SCO.
D. Kerjasama SCO
Pada awalnya dibentuk, SCO merupakan keberlanjutan dari Shanghai Five yang berpusat pada kerjasama dalam bidang keamanan, negara – negara anggota pada saat itu hanya bersepakat untuk menjalin hubungan baik antar anggota dan tidak saling menyerang satu sama lain. Dalam perkembangannya SCO tidak hanya melakukan kerjasama dalam bidang keamanan, tetapi juga melakukan kerjasama ekonomi, sampai pada membahas isu – isu internasional seperti terorisme, perdagangan narkotika, dan lain sebagainya. Kerjasama yang dilakukan oleh SCO tidak hanya berpusat pada negara – negara anggota saja, SCO juga mulai memperluas pengaruhnya ke wilayah Asia Tengah, bahkan sampai pada Asia Selatan. Dengan bergabungnya India, Pakistan dan Iran sebagai negara pengamat SCO pada tahun 2005, SCO mulai memperluas pengaruhnya kepada negara – negara lain sebagai dialouge partner SCO. Berikut merupakan beberapa kerjasama dan program – program yang dijalani oleh SCO
1. Kerjasama Keamanan
aliansi militer karena, SCO tidak dibentuk sebagai militer aktif dan kerjasama industri pertahanan, maupun menawarkan kepada anggota sebuah keamanan bersama. (Haas & Putten, 2007, hal. 13 - 21)
Isu keamanan yang berkembang dalam Shanghai Cooperation Organization adalah isu tentang konflik perbatasan yang sering dibahas pada tahun 1990an di forum Shanghai Five. Dalam perkembangan dari Shanghai Five menuju SCO isu – isu keamanan yang sering diangkat tidak lagi hanya seputar perbatasan antar negara, namun menuju kepada isu keamanan
transnasional yaitu yang dikenal dengan ‟three evils’ yaitu terorisme, separatisme dan ektrimisme. Menanggapi dari isu tentang „three evils‟, SCO
membentuk badan khusus yang bernama Regional Anti-Terrorist Structure
(RATS). Sejak dibentuknya, RATS merupakan salah satu badan yang paling penting dalam SCO, khususnya untuk menjaga stabilitas keamanan regional. (Aris, 2013, hal. 5)
Selain RATS, SCO juga melaksanakan latihan militer bersama dan secara formal latihan militer pertama yang dilaksanakan oleh SCO adalah pada agustus 2003. SCO mensponsori latihan militer anti-teroris antar perbatasan bersama (cross-border anti-terrorist excercises) yang dilakukan di Almaty, Kazakhstan dan Xinjiang, Tiongkok, dan melibatkan setidaknya 1000 pasukan militer dari negara – negara anggota SCO. (Haas & Putten, 2007, hal. 16)Isu tentang „three evils‟ merupakan isu keamanan yang dapat
pada konvensi Shanghai tahun 2001 adalah untuk memberantas „three evils‟
(terorisme, separatisme, dan ekstrimis agama). (Haas & Putten, 2007, hal. 16) Selain pembentukan RATS, untuk melawan „three evils‟, SCO
menghasilkanpersetujuan yang diberi nama misi perdamaian (peace mission). Misi perdamaian yang pertama ditetapkan oleh SCO pada tahun 2005 dan dan yang kedua pada tahun 2007. Pada misi perdamaian 2005, latihan militer SCO meliputi 10.000 personel tentara, kapal angkatan laut dan pesawat tempur. Dalam praktiknya misi perdamaian SCO merupakan kerjasama militer yang meliputi latihan militer bersama yang dilakukan oleh negara – negara SCO.
Tujuan adanya „peace mission‟ atau misi perdamaian selain untuk melawan
„three evils‟ tetapi juga untuk meningkatkan kemampuan tempur negara –
negara anggota untuk menghadapi ancaman – ancaman lainnya yang akan datang.
Dalam praktiknya, latihan militer bersama SCO didominasi oleh tentara – tentara Rusia dan Tiongkok, tentara Kazakhstan juga memainkan peran penting, namun Kyrgyzstan dan Tajikistan hanya berperan sangat minim dalam latihan militer bersama ini. Sedangkan Uzbekistan memilih untuk tidak mengambil bagian dalam latihan militer bersama SCO.
Walaupun kerjasama keamanan SCO lebih banyak bekerja pada isu
tentang „three evils‟, namun isu kriminalitas transnasional lainnya juga
2. Kerjasama Ekonomi
Selain kerjasama keamanan, kerjasama ekonomi merupakan salah satu bidang yang paling krusial dalam kerjasama yang dilaksanakan oleh SCO. SCO merupakan organisasi regional yang terletak didaerah Eurasia, dan wilayah ini memiliki cadangan minyak yang sangat melimpah. Wilayah dari negara – negara anggota SCO meliputi tiga per lima wilayah dari Eurasia, dengan populasi manusia lebih dari 1,5 juta jiwa. Kekayaan alam yang dimiliki oleh negara – negara anggota SCO meliputi 25% dari cadangan minyak dunia, 50% cadangan gas, 35% batu bara dan setengah dari cadangan uranium dunia. (InfoRos News Agency, 2015) Dengan kekayaan yang melimpah dari negara – negara anggota SCO membuka peluang yang sangat besar untuk negara impotir energy minyak dan gan terbesat didunia – Tiongkok – tertarik untuk membuka kerjasama multilateral dalam bidang ekonomi dan perdagangan. Negara – negara anggota SCO seperti Rusia, Kazakhstan, Uzbekistan, dan Iran merupakan ekporter energi (minyak dan gas bumi) terbersar didunia, dan TIONGKOK dan India merupakan impotir minyak terbesar didunia.
bidang energi, pembangunan jalan dan infrastruktur, pertanian, penerapan teknologi tinggi (khususnya informasi dan komunikasi). (SCO menuju ke kerjasama menyeluruh, 2012)
Kerjasama dalam bidang energi SCO mulai dibicarakan pada pertemuan SCO pada tahun 2006 dan 20017, dan sampai kepada deklarasi
pembentukan „energy club‟ yang membuktikan bahwa anggota dan pengamat
SCO bersedian untuk menjalin kerjasama dalam bidang energi dan menetapkan dan kebijakan keamanan bersama dalam bidang energi minyak dan gas. (Haas & Putten, 2007, hal. 23-24)
Energy Club dapat bertindak sebagai asosiasi dari negara – negara pemasok energi, negara – negara transit dan konsumen. Badan ini juga juga dapat menjadi badan koordinasi yang akan berkontribusi terhadap perkembangan ekonomi dan energi antar negara dan perusahaan energi. Dengan mengambil pola interaksi dari perdagangan multilateral dan kerjasama ekonomi. Rancangan dari SCO Energy Club adalah untuk mempererat interaksi antar negara produsen dan negara konsumen dan menjadi tahap pertama menuju pembentukan sistem energi bersama dalam tingatan regional maupun internasional. (InfoRos News Agency, 2015)
telak dibentuknya, dibuktikan dari dibentuknya badan khusus untuk menangani kerjasama ekonomi SCO yaitu SCO Interbank Association dan
SCO Business Council. Selain itu, dalam bidang infrastruktur dan transportasi, pembangunan jalan dan pembuatan jalur sebagai penghubung negara – negara anggota SCO telah dijalankan dengan baik oleh SCO berkolaborasi dengan
Asian Development Bank dan UN Economic and Social Commision for Asia and the pacific (UNESCAP). Kerjasama ekonomi yang dibentuk oleh SCO merupakan kerjasama dalam tingkatan ekonomi makro, sangat sedikit sekali menyetuh ekonomi mikro. (Aris, 2013, hal. 6-7)
Sama ambisiusnya dengan Rusia, Tiongkok memainkan peran penting sebagai aktor yang dominan dalam kerjasama ekonomi khususnya dalam investasi di asia tengah dan beberapa agenda ekonomi lainnya yang dibuat oleh SCO. (Laruelle & Peyrouse, 2009). Sebagai contoh, pada krisis global pada tahun 2008, Tiongkok memberikan pinjaman sekitar 10 juta dolar amerika kepada negara – negara anggota SCO untuk memperbaiki keadaan ekonominya dalam krisis global. (Aris, 2013) Hal ini memperlihatkan dominansi ekonomi Tiongkok dibanding negara – negara anggota lainnya. Selain pinjaman, Tongkok mengusulkan untuk membuat SCO Free-Trade yang dimana semakin mempelihatkan bahwa Tiongkok ingin menyebarkan pengaruh ke Asia Tengah melalui Shanghai Cooperation Organization.
bidang yang perlu dikerjasamakan dan dikembangkan SCO, diantaranya ada satu permufakatan membantu jalan-jalan lintas-negara menjadi lebih kondusif yang sedang dipelajari oleh SCO. (Van, 2012) Beijing menerapkan strategi dua arah yaitu, pertama memperbaiki rute perbatasan untuk meningkatkan atau mempermudah transaksi lintas negara; kedua, membuka wilayah terpencil/terisolasi dalam rangka memfasilitasi komunikasi internal. (Laruelle & Peyrouse, 2009, hal. 51)
BAB III
KEANGGOTAAN IRAN DALAM SHANGHAI COOPERATION ORGANIZATION
Shanghai Cooperation Organization merupakan organisasi regional Eurasia yang dibentuk pada tahun 2001. Organisasi yang dibangun oleh dua kekuatan besar dunia ini dilirik oleh negara – negara sekitarnya, termasuk Iran. Iran yang merupakan negara yang berada dibawah sanksi internasional dari barat mencoba untuk memasuki SCO, dikarenakan SCO merupakan organisasi internasional yang tidak memiliki pengaruh atau intervensi dari barat. Untuk mengurangi dampak yang diterima Iran akibat sanksi yang dijalani, SCO merupakan sasaran yang tepat bagi iran untuk melancarkan kebijakan look to the east dari Iran. Keinginan Iran untuk menjadi anggota tetap SCO telah diajukan semenjak tahun 2008 dan terus berlanjut sampai dengan sekarang.
A. Keinginan Iran untuk Bergabung Dengan Shanghai Cooperation Organization
tahun 1995, Amerika Serikat melakukan embargo total terhadap Iran. Presiden Clinton memberikan instruksi kepada perusahaan-perusahaan Amerika Serikat yang beroperasi di Iran untuk mencabut saham/investasinya dan pergi dari tanah Persia. (Madjid, 2013, p. 954) Embargo ekonomi yang diberlakukan Barat kepada Iran tidak menyurutkan semangat masyarakat Iran untuk menjadi mandiri. Pasca revolusi Islam dan perang delapan tahun membuat infrastruktur Iran hancur, dan hal ini menjadi pemicu Iran mengembangkan potensi – potensi sumber daya dalam negeri, di bidang pertanian dan industri hingga pada pengayaan nuklir.
melakukan inspeksi ke dalamnya. (Bhimantra, Fasisaka, & Parameswari, 2016) Sikap Iran yang tidak mau bekerjasama dengan IAEA dalam inspeksinya membuat Amerika Serikat membujuk Dewan Keamanan PBB untuk mengeluarkan resolusi terhadap program nuklir Iran.
Menanggapi dari sanksi – sanksi yang diberikan oleh barat kepadanya, Iran membuat beberapa kebijakan untuk mengantisipasi keruntuhan negaranya. Salah satu kebijakan luar negeri Iran adalah „look to the east‟ yang dimana Shanghai Cooperation Organization merupakan salah
satu dari agenda kebijakan „look to the east‟ oleh Iran. Iran masuk kedalam
SCO dimulai pada masa pemerintahan presiden Ahmadinejad dan dilanjutkan oleh Presiden Hassan Rouhani.
Pada masa pemerintahan Ahmadinejad, Iran mulai menjalankan kebijakan look to the east yaitu salah satunya dengan bergabung kedalam Organisasi Regional non barat, yaitu Shanghai Cooperation Organization. Organisasi Sino-Rusia ini menjadi tempat yang sangat menjanjikan bagi Iran untuk tetap mempertahankan eksistensinya di dunia internasional. Republik Islam Iran memperoleh status sebagai pengamat pada tahun 2005, diwakili oleh wakil presiden Iran Mohammad Reza Aref mengatakan "The SCO was established to promote regional cooperation, ensure stability and security,
while Iran's membership in the organization meets our interests and the
keamanan regional (Sputnik, 2005). Mahmoud Vaezi (2012), Direktur Pusat Penelitian Strategis di Tehran, menyatakan,
“Akan menguntungkan bagi Iran jika menjadi anggota
organisasi SCO, tidak hanya meningkatkan peran Iran di kawasan regional, tetapi juga membuka peluang bagi Iran untuk menjadi mitra dalam kerjasama ekonomi di antara
negara anggota SCO.” (Akbarzadeh, 2015)
Mehr Moshfeq (2006), seorang kolumnis untuk surat kabar Siyasat-e
Ruz yang berbasis di Teheran menyatakan bahwa “keanggotaan SCO akan
bisa mengubah posisi dalam negosiasi nuklir dan hal ini akan bermanfaat
untuk Iran.” (Akbarzadeh, 2015)
Antusiasme Iran untuk masuk kedalam keanggotaan SCO terlihat dari pidato Ahmadinejad pada sidang SCO pada tahun 2006, bahwa Iran akan bekerja dengan SCO untuk mengembangkan pengaruh yang kuat di dalam organisasi, dalam politik regional dan internasional, melayani dan membendung ancaman dan pelanggaran hukum dari berbagai negara. (CBC News, 2006)
Presiden Ahmadinejad kemudian mengusulkan kepada para pemimpin dari negara anggota SCO bahwa untuk mencapai tujuan tersebut, "kita perlu menjauhkan diri dari tatanan saat ini dan membuat perjanjian baru." Presiden Iran lebih lanjut mengajukan tawaran berisi empat poin berikut kepada para anggota SCO:
b) Memperluas kerjasama ekonomi, merancang dan mengimplementasikan sistem moneter dan keuangan baru.
c) Membentuk keuangan internasional, lembaga moneter dan ekonomi di luar dominansi kekuasaan hegemonik.
d) Meningkatkan hubungan budaya dan politik untuk memperluas persahabatan dan keharmonisan dalam melawan tekanan pihak lain yang menebar perselisihan dan perpecahan. (IRIB Indonesia, 2012)
Iran menyadari bahwa kekayaan sumber daya alam, khususnya minyak dan gas alam yang dia miliki, sekaligus letak geografisnya yang sangat strategis akan menjadi daya tarik bagi negara – negara lain untuk bekerjasama dengannya. Iran sangat percaya diri bahwa untuk mengundang negara – negara SCO untuk membahas tentang kerjasama dalam bidang energi dan melakukan pembangunan bersama dalam kerangka kerjasama SCO. Bagi Iran, SCO merupakan rekan kerjasama yang tepat baginya karena SCO bukanlah organisasi yang dipengaruhi oleh Barat. Sehingga, membuka kerjasama dengan SCO merupakan solusi yang tepat untuk meringankan dampak atas sanksi yang diterimanya. (Akbarzadeh, 2015)
saat itu permintaan Iran belum ditanggapi oleh SCO dikarenakan SCO ingin membenahi internal SCO sebelum menambahkan anggotanya.
B. Hambatan Yang Dihadapi Iran Untuk Menjadi Anggota Tetap Shanghai Cooperation Organization
Untuk melancarkan kebijakan look to the east yang dicanangkan oleh Ahmadinejad, Iran mencoba untuk mendaftarkan diri menjadi negara anggota tetap kedalam Shanghai Organization Cooperation pada tahun 2008 bersamaan dengan India dan Pakistan. Mendaftarnya Iran sebagai calon anggota tetap mendapatkan respon dunia akan strategi Iran masuk kedalam SCO untuk melawan Amerika Serikat. Isu tersebut dijawab secara diplomatis oleh SCO pada tahun 2010 bahwa peraturan untuk menjadi anggota tetap berdasarkan kriteria adalah,
1. Negara yang menginginkan bergabung dengan SCO merupakan negara yang berada di wilayan Eurasia dan memiliki hubungan diplomatik dengan semua negara anggota SCO, termasuk juga pengamat atau partner dialog;
2. Secara aktif mendukung kerjasama ekonomi, perdagangan dan budaya dengan negara anggota SCO; dan
3. Sedang tidak berada dibawah sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). (Lukin, 2015)
internasional, dan hal ini telah menggagalkan Iran untuk menjadi anggota tetap SCO. Sekaligus sanksi internasional yang sedang dijalani Iran merupakan faktor terhambatnya Iran untuk menjadi anggota tetap SCO. Hal ini dikemukakan oleh Sekretaris Jendral SCO Imanliyev ''Menurut satu dokumen SCO, ada satu pasal yang mengatakan bahwa negara yang berada di bawah sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak dapat menjadi anggota SCO," (Republika, 2012)
peluru kendali balistik untuk senjata nuklir dan meminta negara-negara untuk memeriksa kapal-kapal laut Iran yang diyakini mengangkut barang-barang terlarang dari Iran. (Kompas, 2010)
Rusia dan Tiongkok berada pada dilema ketika dihadapkan dengan akses Iran kedalam SCO. Resolusi DK PBB yang dijatuhkan kepada Iran berupa sanksi – sanksi dari Dewan Keamanan PBB dan disetujui oleh DK PBB, didalamnya termasuk Rusia dan Tiongkok, namun keduanya tertarik pada potensi geostrategis Iran. Dilema yang dihadapi oleh Rusia dan tiongkok yaitu, pertama kondisi eksternal bahwa Rusia dan Tiongkok merupakan negara yang termasuk sebagi anggota tetap dewan keamanan PBB dan patuh terhadap resolusi DK PBB yang dikeluarkan. Bagi Rusia, masuknya Iran sebagai anggota SCO akan memperkuat argument publik bahwa SCO akan menjadi organisasi tandingan NATO, karena Iran merupakan salah satu negara anti-barat terlebih pada masa pemerintahan Ahmadinejad. Hal ini dinyatakan oleh Presiden Putin pada KTT SCO di Bishkek bahwa SCO tidak akan berkembang menjadi organisasi keamanan seperti NATO. (Haas & Putten, 2007)
Bagi Tiongkok, apabila dibandingkan dengan hubungan Sino-Amerika dan Sino-UE, hubungan Sino-Iran terbilang pada tingkatan low-level, dan Beijing akan memprioritaskan hubungan dengan kekuatan – kekuatan
besar seperti yang diwujudkan oleh Xi Jinping, yaitu “New Type of Great
memilih untuk memprioritaskan PBB dibanding kepentingan nasionalnya pada Iran.
Dengan dikeluarkannya regulasi SCO dan persyaratan menjadi anggota tetap, SCO dianggap bermain aman dalam mengeluarkan peraturan bahwa negara yang masih dibawah sanksi internasional tidak dapat menjadi anggota tetap. Hal ini masuk ke faktor kedua atas dilema yang dihadapi oleh Rusia dan Tiongkok, yaitu faktor dari dalam negeri Iran pada masa pemerintahan Ahmadinejad yang tidak mau menghentikan pengayaan nuklir di negaranya. Apabila Iran menjadi anggota tetap SCO pada masa Ahmadinejad yang sangat konfrontatif dengan barat akan membawa dilemma bagi Rusia dan Tiongkok. Menurut pengamat, keanggotaan Iran dalam SCO memiliki potensi untuk menyeret SCO masuk dalam konflik antar Iran dengan Barat. (Akbarzadeh, 2015) Oleh karena itu, SCO pada saat itu menunda keanggotaan SCO dengan alasan, Negara yang berada dibawah sanksi PBB tidak dapat menjadi anggota tetap SCO.
C. Pembahasan Kembali Aksesi Iran kedalam Shanghai Cooperation Organization pada Tahun 2015
ajang untuk membendung kebijakan dari barat dengan karakter yang lebih anti-barat, sebaliknya Rouhani bermain aman dan mencoba untuk kooperatif dengan keduanya. (Weitz, 2015) Perpindahan kepemimpinan dari Ahmadinejad ke Hassan Rouhani yang membuat dilemma dari SCO semakin lama semakin berkurang. Kedekatan Hassan Rouhani dengan barat tidak mempengaruhi hubungan Iran dengan SCO menjadi lebih buruk, tetapi malah membawa Iran kepada keputusan pelepasan sanksi internasional yang dijalani oleh Iran.
Pendekatan yang dilakukan oleh Rouhani didalam SCO sangat berbeda dengan Ahmadinejad, pada masa pemerintahannya, Rouhani pertama kali mendatangi KTT SCO, Rouhani menyatakan komitmennya untuk tidak menggunakan dan mengembangkan senjata nuklir. (Weitz, 2015) Iran pada masa pemerintahan Rouhani masuk kedalam SCO sebagai negara yang menegosiasikan perdamaian dan keamanan regional, lebih khususnya dalam penangangan keamanan di Suriah. Sikap Rouhani yang bertindak tidak seperti pemimpin Iran sebelumnya, Iran dalam masa Rouhani dinilai tidak begitu berbahaya dan berperilaku baik dalam pengembangan nuklirnya. Hal ini membuat adanya pemicu untuk penghapusan sanksi yang dijalani oleh Iran. Rencana pelepasasan sanksi internasional didukung oleh Tiongkok, Xi mengatakan, Beijing percaya bahwa hak-hak sah Iran harus dihormati dan masalah nuklir Tehran harus diselesaikan melalui dialog.
memanfaatkan perencanaan terpadu dan interaksi politik sebagai cara terbaik untuk melawan ancaman ekstrimisme dan terorisme yang terus berkembang. (IRIB Indonesia, 2014) Hal itu dikemukakan Rouhani pada pembukaan KTT SCO ke-14 di Dushanbe, ibukota Tajikistan. Ditambahkannya bahwa sebagian besar anggota SCO berhadapan dengan bahaya ekstrimisme dan terorisme. Presiden Iran juga menyinggung perencanaan terkoordinasi, kerjasama intelijen bilateral atau multilateral dan politik, pemberantasan kemiskinan budaya dan ekonomi dan dukungan dari para pemimpin SCO, sebagai faktor terpenting dalam memerangi terorisme.
Pada masa jabatannya, Rouhani beberapa kali diundang dalam KTT SCO dan Iran menegaskan tentang posisinya didalam SCO. Di sela-sela KTT Organisasi Kerjasama Shanghai, Presiden Rohani mengadakan pertemuan dengan sejumlah pemimpin negara sahabat termasuk, Tiongkok dan Rusia. (IRIB Indonesia, 2014) Hal ini memperlihatkan bahwa kerjasama antara, Iran, Tiongkok dan Rusia akan berlanjut kepada kerjasama yang lebih luas.
Pada KTT ini, pergantian masa jabatan negara Rusia berakhir dan digantikan oleh Uzbekistan atau biasa dikenal dengan Uzbekistan Presidency,
dengan terpilihnya Uzbekistan sebagai koordinator progam SCO selama setahun kedepan, KTT SCO selanjutnya juga akan dilakukan di Uzbekistan. Selain membahas tentang pergantian presidency, agenda lainnya adalah melakukan persetujuan untuk melakukan proses aksesi terhadap anggota tetap baru SCO yaitu India dan Pakistan. SCO sebagai organisasi yang masih terbilang sangat muda mulai melakukan uji coba untuk memperbesar organisasinya.Agenda aksesi anggota baru SCO tidak hanya berhenti pada India dan Pakistan saja, Iran merupakan salah satu negara yang masuk dalam daftar agenda aksesi anggota baru SCO.
Perencanaan aksesi Iran pada KTT SCO di Ufa didukung oleh negara
– negara anggota SCO secara konsensus.Oleh karena perundingan P5+1 untuk
melepaskan sanksi internasional yang sedang dijalani oleh Iran, SCO melakukan pertimbangan terhadap keputusan untuk melakukan aksesi Iran kedalam SCO. Dukungan dari negara – negara SCO untuk dilepaskannya sanksi internasional yang dijalani oleh Iran disampaikan pada KTT SCO tahun 2015 ini. Presiden Kazakhstan, Nursultan Nazarbayev, sebagai pembicara pertama pada KTT SCO 2015,
Tidak hanya Kazakhstan, Tajikistan juga mendukung tentang pelepasan sanksi terhadap Iran dan Tajikistan menyatakan keinginannya untuk melakukan aksesi Iran kedalam Shanghai Cooperation Organization
“The SCO is a unique organisation that has proved its worth and has won international respect. Tajikistan wholeheartedly supports the decision to launch the procedure of admitting India and Pakistan into our organisation in keeping with the SCO principle of openness. We hope that the Islamic Republic of Iran will also become a full member of the SCO soon. We also urge the strengthening of the institute of observer countries and welcome the granting of this status to Belarus. We note with satisfaction that new countries have been added to the group of SCO dialogue partners - Azerbaijan, Armenia, Nepal, and Cambodia.” (Official Website of Russia's Presidency in The Shanghai Cooperation Organisation 2014 - 2015, 2015)
Pengajuan Tajikistan tentang aksesi Iran kedalam SCO, dan disambut baik dengan negara – negara anggota SCO pada pertemuan Rouhani dengan pemimpin Rusia dan Tiongkok di sela–sela pertemuan. Disampaikan oleh Sekjen SCO, Dmitry Mezentsev, tentang hail KTT SCO 2015 (Press TV, 2015)
menyatakan “Iran's full membership in the organization has not been possible so
far because of the sanctions”, lalu menambahkan “However, this obstacle has
BAB IV
KEPENTINGAN NEGARA – NEGARA ANGGOTA SCO TERHADAP AKSESI IRAN KEDALAM SCO
Aksesi suatu negara kedalam suatu organisasi internasional, tidak terlepas dari aktor yang paling berpengaruh didalamnya. Didalam struktrur
Shanghai Cooperation Organization (SCO) jabatan tertinggi atau pembuat keputusan utama adalah Council of Heads of State yang terdiri dari pemimpin ata presiden dari masing – masing negara anggota. Sehingga, kebijakan yang dihasilkan dari perjanjian multilateral sesungguhnya bukan produk dari SCO, tetapi hanya dipengaruhi oleh proses pengambilan keputusan dalam kerangka SCO. Aksesi Iran yang juga dibahas dalam Council of Heads of State Summit
atau KTT SCO di Ufa, Rusia tidaklah lepas dari inisiasi negara – negara anggota yang memiliki kepentingan terhadap Iran, apabila Iran menjadi anggota tetap SCO.
juli 2015 yang menghasilkan keringangan atas sanksi Iran telah disetujui oleh enam negara termasuk Rusia dan Amerika Serikat. (Harress, 2015) Pembelaan Rusia terhadap Iran, diprediksi akan berlanjut kemasa yang akan datang, bahwa Rusia akan melakukan veto terhadap sanksi yang mungkin akan dikenakan pada Iran di masa yang akan datang. (Harress, 2015)
Iran memiliki potensi untuk menjadi anggota tetap SCO dan Iran juga akan membawa beberapa keuntungan bagi SCO. Hubungan SCO dan Iran akan berjalan sebagai hubungan mutualisme atau saling menguntungkan. Bagi SCO, Iran merupakan salah satu rekan yang penting untuk melawan „three evils’ di wilayah timur tengah, khususnya di Afghanistan. (Lim, 2016) Selain dalam bidang keamanan Iran juga akan menguntungkan SCO dalam bidang sumber daya energy, dengan masuknya Iran sebagai anggota tetap SCO, cadangan minyak yang dimiliki oleh SCO dari delapan persen menjadi 18 persen dari cadangan dunia, dan cadangan gas dari 30 persen menjadi 50 persen dari cadangan gas dunia. (Lim, 2016) Hal ini menunjukkan bahwa dengan masuknya Iran sebagai negara anggota SCO akan membuat SCO menjadi Organisasi yang lebih besar, dengan penduduk terbanyak, dengan sumber daya alam yang melimpah.
menyesuaikan kebijakan luar negerinya ke dalam pola pembangunan wilayah Eurasia“ (Yegorov, 2016)
A. Kepentingan Rusia terhadap Aksesi Iran kedalam SCO
Federasi Rusia pada masa pemeritahan Putin, kebijakan – kebijakan luar negeri Rusia tidak lagi menuju kepada barat yang sangat terbuka, tetapi juga tidak tertutup (isolasionis). Belajar dari pengalaman – pengalaman pemimpin Rusia sebelumnya Putin membawa Rusia kembali pada memperkuat ideologinya namun dari beberapa hal Putin mengadopsi dari barat. Bagi Presiden Putin, Pragmatisme politik adalah cara yang tepat guna membantu Rusia untuk mencapai kepentingan nasionalnya. Dalam pidatonya
Putin mengatakan,”This policy is based on pragmatism, economic efficiency
and priority of national objectives. However, we still need to work to ensure
that these principles become a norm of state life” (BBC Monitoring, 2000) Dengan arah politik luar negeri Rusia yang tidak sepenuhnya mandiri, Rusia mulai membuka kerjasama dengan negara – negara yang ada disekitarnya dan salah satunya adalah Shanghai Cooperation Organization
(SCO). Rusia juga menjalin hubungan kerjasama dengan Iran, yang juga merupakan kompetitornya dalam hal perdagangan energi. Hubungan historis Iran dan Rusia yang sempat mengalami ketegangan pada tahun 1990an berubah menjadi kooperatif, khususnya dalam menangani isu hegemoni Amerika Serikat di wilayah Eurasia. Rusia melihat bahwa Iran merupakan
negara „anti-barat‟ yang memiliki kemungkinan untuk menahan masuknya
Iran memiliki potensi geostrategis dalam politik luar negerinya.Hubungan Rusia-Iran pada akhirnya membaik sekitar beberapa tahun terakhir dan mulai terjalin kembali dalam kerangka SCO. Pada saat masuknya Iran sebagai negara pengamat, dan peran Iran yang sangat signifikan dalam mendukung program – program SCO nampaknya memperat hubungan Rusia-Iran pada saat ini.
Selain pada isu hegemoni amerika serikat di Eurasia isu penangan
„three evils’ yang diangkat oleh SCO juga menjadi pemicu kedekatan hubungan Rusia-Iran. Hal ini memperlihatkan bahwa hubungan Rusia dan Iran telah memasuki fase baru dalam kerjasama militer yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam hubungan mereka sejak berakhirnya Perang Dunia II, walaupun beberapa akademisi menganggap bahwa hubungan Rusia-Iran hanya hubungan jangka pendek atau ad-hoc. (Geranmayeh & Liik, 2016)
Rusia melihat adanya potensi Iran dalam kepetingan luar negeri Rusia apabila Iran masuk sebagai anggota SCO, sehingga Russia menyatakan dukungannya terhadap aksesi Iran, diwakili oleh delegasi dari kementrian luar negeri Rusia, Maria Zakharova, “Russia has consistently supported Iran's full-scale engagement in cooperation with the SCO members and directly with the