REPRESENTASI BUDAYA AMERIKA DALAM FILM
THE GOOD LIE
The America’s Culture Representation In The Film Of
“
The Good Lie
”
(Analisis Semiotika Roland Barthes dalam Film “The Good Lie”)
Disusun untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar
Sarjana Strata 1 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Disusun Oleh :
AISYAH APRILINDA RISMIANI (20120530037)
JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
REPRESENTASI BUDAYA AMERIKA DALAM FILM
THE GOOD LIE
The America’s Culture Representation In The Film Of
“
The Good Lie
”
(Analisis Semiotika Roland Barthes dalam Film “The Good Lie”)
Disusun untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar
Sarjana Strata 1 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Disusun Oleh :
AISYAH APRILINDA RISMIANI (20120530037)
JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
HALAMAN KEASLIAN SKRIPSI
Yang bertanda tangan di bawah ini adalah:
Nama : Aisyah Aprilinda Rismiani
NIM : 20120530037
Jurusan : Ilmu Komunikasi
Konsentrasi : Broadcasting
Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Judul Skripsi : Representasi Budaya Amerika dalam Film The
Good Lie
Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri dan seluruh sumber yang dikutip
maupun dirujuk telah saya nyatakan benar. Apabila dikemudian hari karya saya
ini terbukti merupakan hasil plagiat/menjiplak karya orang lain maka saya
bersedia dicabut gelar kesarjanaannya.
Yogyakarta, 21 April 2017
MOTTO
“If you want go to fast, go alone
If you want go to far, go together”
(The Good Lie)
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”
( QS. Al Inshirah:5-6)
Allah tidak akan pernah salah menempatkan hambaNya. Hebat tidak
pernah datang dari kemudahan
(@Beraniberhijrah)
Untuk mendapatkan suatu pencapaian, kita membutuhkan sabarnya
perjuangan dan latihan yang berulang kali tanpa ada kata bosan
HALAMAN PERSEMBAHAN
Skripsi ini saya persembahkan kepada kedua orang tua saya tercinta
Bp. Aris Suwardi S.Ag dan Ibu. Rumini S.Pd
Terimakasih atas segala cinta, kasing sayang, doa, perlindungan, nasehat,
dukungan, fasilitas, pengorbanan, pengertian, waktu dan segalanya, yang bila
diutarakan lewat tulisan tidak akan pernah cukup dengan ribuan kertas sekaligus.
Dan adik satu-satunya yang saya miliki
Jamaluddin Rais
Terima kasih atas segala kasih sayang, doa, dukungan dan perhatiannya yang
menjadi salah satu penyemat agar kakak bisa menyelesaikan tanggung jawab ini.
Semangat belajarnya, kudu sarjana, kudu jadi pemain bola kelas internasional yak
Special Thanks To:
Allah SWT Nabi Muhammad SAW
KEDUA ORANG TUA KU
Aris Suwardi S.Ag dan Rumini S.Pd
ADIKKU
Jamaluddin Rais
SAHABAT DARI KECILKU
Adelina Dwi F (Cempluk) dan Sartika Lusiana D S.Pd (Tikus) Dukungan kalian dan kasih sayang kalian sangat mempengaruhi
kehidupanku, terimakasih telah menjadi sahabat dari SD, semoga
persahabatan ini akan selamanyaa, love you
SNAKE FAMILY
Ameilia Arista (Mama) Nisa Akmala (Gemski) Nasya Meilika (Cacak) Bagus Haryo (Kak Ayok) Wisnu Pamungkas (Om Nunu) Nizma Anggarasari (Bebeh) Nur Ifansyah (Pak Ipan) Anif Setyaningrum (Kak
Anip) Ravie Setya (Teteh) Hesti Susilowati (Gembel) Hesti Retno (Adek) Wahyu Sugiarto (Bastian). Thank you so much for your love, support, times, stories, experience, dan buanyak lagi. semoga Allah selalu
menjaga keluarga ini. Love youu
ORANG YANG BERJASA
Septian (Abang) Tri Prasetyo (Tri) Septy Nugraheni (Cepia) Syahidul Mubarok (Bang iduls) Haryani (Ucil) Heru Sukoco (Pacar Arista) Inggi
(Teman Arista) Diah Sulung (Tante Diah) Holy Latifah (Kak Oi). Terimakasih atas segala bantuan kalian untuk aku hingga aku bisa nyelesein tugas negara ini, tanpa dukungan kalian, doa dan bantuan kalian
KOS NAWANGSARI
Nur Lita (Litung) Friska Arsalina (Ikok) Wiwin Trisnasari (Umi) Sulastri (Nyak) Nala Rochmayani (Nte Nala) Neng Ella (Ella) Heni. Terimakasih kawan kosan dari semester 1, terimakasih kasih sayangnya, dukungannya
hingga akhirnya aku bisa nyusul kalian jugaa
BROADCASTING 2012
Devi Permatasari Vidya Dwi Yoska Pranata Muhammad Unggul Lisa Karunia Shinta Puspita Martina Erna Pamungkas Mohammad Fajar Adhi Ari Prasetya Syarifah Kamsiawi Galang Pambudi Muhammad
Naufal Afrian Irfani Rifki Putri Mohammad Kasyfi Anisati Sauma Agung Tri Prasetyo Guruh Putra Nashwan Ihsan Harris Sugiarto Intan
Permata Maulida Hazana Muhammad Alief Muhammad Aulia Rima Sulistiana Reza Dovi Muhammad Fatur Fathi Yakan Muntzari Erwin Rasyid Galuh Ratnatika Adhe Royandi Maharani Dwi Odi Susanto Ade
Rio Yunia Rahma Pratiwi Yunita Fredy Susanto Slamet Arifin Ragil Susanto Rizal Hadis Septian Bayu Bimo Aprilianto Bayu Chandra Puspita Septi. Terimakasih atas segala pengalaman, dukungan, dan cerita
yang melengkapi kehidupanku kurang lebih dua tahun ini. Sukses untuk kita semua. Selamat berkarya gengs!!!
TEMAN-TEMAN KELAS A IK 2012 dan KOMUNIKASI 2012 UMY Terimakasih atas segala kisah dan pengalamannya selama ini, sukses untuk kita
semua
Kepada semua yang udah bantu doa dan dukungan yang nggak bakal cukup untuk disebutin satu-satu disini karena bakal ngabisin beberapa lembar kertas. Pokoknya makasih banget untuk semuanya
KATA PENGANTAR
Puji syukur Alhamdulillah ke hadirat Allah SWT atas limpahan
rahmat dan karunianya kepada penulis sehingga skripsi yang berjudul “Representasi Budaya Amerika dalam Film The Good Lie” ini dapat terselesaikan dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Penulis menyusun skripsi ini adalah
sebagai persyaratan untuk menempuh ujian sarjana pada program studi Ilmu
Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammaidyah
Yogyakarta, serta menambah pustaka ilmu dan memperkaya khazanah
pengetahuan dalam ranah komunikasi.
Penulis menyadari bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari bantuan
dan bimbingan dari berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penulis
mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada yang terhormat,
1. Bapak Prof. Dr. Ir Gunawan Budiyanto, M.P. Selaku Rektor Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta.
2. Bapak Haryadi Arief Nuur Rasyid, S.IP. M.Sc selaku Ketua Jurusan Ilmu
Komunikasi UMY. Terima kasih atas kemudahan dan dukungannya yang
telah diberikan.
3. Ibu Firly Annisa, selaku dosen pembimbing yang telah mengorbankan
waktunya untuk membimbing, mengarahkan, menasehati, dan mengoreksi
saya selama masa penulisan skripsi ini hingga selesai. Terimakasih atas
dukungan moril yang selama ini diberikan agar saya semangat dan terus
berjuang menyelesaikan skripsi ini.
4. Ibu Ayu Amalia, S.Sos. M.Si dan Bapak Budi Dwi Arifianto S.Sn.,M.Sn
selaku dosen penguji I dan II yang sudah meluangkan waktunya untuk
menjadi penguji pada ujian proposal dan ujian skripsi yang telah
memberikan masukan, kritik, saran yang sangat membangun dalam
5. Seluruh dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Terimakasih atas semua ilmu pengetahuan, pengalaman, bimbingan serta
segala dukungan dan bantuannya yang telah diberikan.
6. Bapak Jono, Bapak Muryadi, Bapak Yuni, dan Mbak Siti atas segala
bantuan, informasi dan kemudahan yang diberikan selama ini.
7. Kepada konco Broadcasting 2012 UMY dan IK 2012 UMY atas segala
pengalaman, ilmu, kasih sayang, dukungannya selama ini.
Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada
semua pihak yang telah membantu terselesaikannya penulisan laporan
tugas akhir ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata
sempurna, maka dengan segala hormat dan kerendahan hati penulis
mengharapkan kritik, saran dan masukan yang membantu proses
penyempurnaan di masa mendatang.
Akhir kata semoga laporan ini dapat bermnafaat bagi penulis dan
pembaca.
Wassalamualaikum Wr. Wb
Yogyakarta, 22 April 2017
DAFTAR ISI
1. Film Sebagai Media Representasi ... 10
2. Heroisme dalam Film ... 13
3. Ideologi Budaya dalam Film ... 19
F. Metode Penelitian... 24
1. Jenis Penelitian ... 24
2. Objek Penelitian... 29
3. Teknik Pengumpulan Data ... 29
b. Studi Pustaka ... 30
4. Teknik Analisis Data ... 30
BAB II KONSTRUKSI BUDAYA AMERIKA-AFRIKA DALAM MEDIA . 35 A. Konteks Budaya Di Amerika ... 35
B. Sejarah Perang Sudan ... 51
C. Diskripsi Film The Good Lie ... 61
1. Sinopsis Film The Good Lie ... 61
2. Profil Film The Good Lie. ... 67
3. Pemeran Film The Good Lie ... 67
4. Profil Phillipe Falerdeu ... 69
D. Penelitian Sebelumnya ... 71
BAB III ANALISI DATA DAN PEMBAHASAN ... 74
A. Kebebasan Masyarakat Amerika... 76
1. Berciuman Ditempat Umum ... 77
2. Budaya FreeSex ... 83
3. Tubuh Perempuan ... 92
D. Superioritas Amerika ... 111
1. Amerika Tanah Harapan ... 113
2. Amerika Yang Rapi VS Afrika Yang Semrawut ... 118
3. Individualitas Amerika ... 125
4. Amerika Sang Penyelamat ... 137
5. Amerika Negara Makmur ... 145
BAB IV PENUTUP ... 153
A. Kesimpulan ... 153
B. Saran ... 156
DAFTAR TABEL
DAFTAR GRAFIK
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Poster Film The Good Lie ... 4
Gambar 1.2 Dua Tantanan Pertandaan Roland Barthes ... 27
Gambar 2.1 Sitting Bull, Salah Satu Orang Indian Pada Tahun 1890 ... 36
Gambar 2.2 Suasana Salah Satu Sudut Kota New York ... 42
Gambar 2.3 Kondisi Korban Perang Sipil Di Sudan... 57
Gambar 2.4 Philippe Falerdeu... 69
Gambar 3.1 Mamare, Paul dan Jeremiah Melihat Orang Berciuman di Bandara ... 77
Gambar 3.2 Carrie Bersama Seorang Laki-Laki Sedang Berada di Kamar ... 84
Gambar 3.3 Carrie Bersama Seorang Laki-Laki Sedang Berada di Kamar ... 84
Gambar 3.4 Salah Satu Adegan Dalam Film Fifty Shades Of Grey ... 89
Gambar 3.5 Adegan Ketika Carrei Bersama Pamela Minum Alkohol ... 93
Gambar 3.6 Adegan Ketika Carrei Bersama Pamela Minum Alkohol ... 93
Gambar 3.7 Cara Carrie Berpakaian dan Kemampuan Menyetirnya ... 96
Gambar 3.8 Cara Carrie Berpakaian dan Kemampuan Menyetirnya ... 96
Gambar 3.9 Cara Carrie Berpakaian dan Kemampuan Menyetirnya ... 97
Gambar 3.10 Mamere dan Warga Lainya Melihat Papan Pengumuman ... 113
Gambar 3.11 Pengumuman Siapa Saja yang Berangkat Ke Amerika ... 113
Gambar 3.12 Salah Satu Jalan di Missouri Amerika ... 118
Gambar 3.13 Salah Satu Jalan di Kenya Afrika ... 118
Gambar 3.14 Paul menunjuk ke arah lambang McDonal’s ... 125
Gambar 3.15 Mamere, Paul dan Jeremiah menikmati Pizza ... 125
Gambar 3.16 Mamere Bersama Orang-Orang Amerika ... 137
Gambar 3.17 Carrie Menemui Pimpinan Supervisor ... 138
Gambar 3.18 Pesta Ulang Tahun Orang-Orang Afrika ... 140
Gambar 3.19 Suburnya Tanah Amerika ... 145
xiv
Representasi Budaya Amerika Dalam Film The Good Lie
Tahun Skripsi : 2017 + 160 Halaman + 3 Tabel + 3 Grafik + 24 Gambar
Daftar Pustaka : 32 Buku + 4 Skripsi + 21 Sumber Online + 2 Film Perjuangan rakyat Negara Sudan, Afrika Selatan untuk bertahan hidup tidak lepas dari kekuatan negara Amerika. Amerika merupakan superhero bagi rakyat Sudan yang menjadi korban perang suadara pada tahun 1955 hingga 2005. Kekayaan dan kebesaran menjadi sumber kekuatan Amerika dalam membantu negara Sudan. Dalam film The Good Lie di ceritakan bagaimana rakyat Sudan mendapatkan kehidupan kedua di Amerika, bagaimana mereka beradaptasi, bagaimana kebudayaan Amerika yang lebih menonjol dan bagaimana kebesaran Amerika diperlihatkan.
Penelitian ini berusaha untuk menganalisa budaya Amerika yang ada dalam film The Good Lie. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengatahui dan menganalisis representasi budaya Amerika dalam film ini. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode analisis semiotika yang dikembangkan oleh Roland Barthes.
Hasil analisis dari penelitian ini bahwa film The Good Lie menawarkan prespektif budaya yang dimiliki Amerika, budaya bebas yang dianggap sesuatu yang baik sehingga ditampilkan dalam film ini dan hal itu tidak perlu orang-orang takuti. Selain memperlihatkan budaya bebas Amerika, film ini juga menampilkan budaya kekuasaan Amerika yang diwakilkan oleh aparatur pemerintah yang dalam segala hal terlihat tegas, kuat, peduli terhadap rakyatnya dan baik kepada negara lain. Sosok pahlawan dalam film ini tidak ditampilkan dengan seseorang yang berkostum, memiliki kekuatan super, buatan mesin, melainkan sebuah negara dan juga seluruh warga yang ada didalamnya.
xv
ABSTRACT
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Faculty of Social and Political Science Communication Departement
Majoring Broadcasting Aisyah Aprilinda Rismiani 20120530037
The America’s Culture RepresentationIn The Film Of “The Good Lie”
Year : 2017 + 160 Pages + 3 Tabel + 3 Graphics + 24 Pictures Bibliography : 32 Books + 4 Thesis + 21 Online Source + 2 Films
The struggle of Sudan citizen, South Africa, to have independence always correlate with United State of America as superpower country.For Sudan citizen, notably those who suffered from civil war in 1955-2005, America is superhero. The wealth and greatness turn into America’s power in helping Sudan. It is clear in the film of “The Good Lie”, Sudan citizen have other chances to live in America land, to adapt, to be influenced by America’s culture in their life, and how America’s power is really hightlighted.
This research tries to analyze America’s culture in the film of “The Good Lie”. It aims to understand and analyze America’s culture representation in the
film. This research is typically qualitative with the semiotics method who was developed by Roland Barthes.
The result of this research is that that film offers cultural perspective of America. In this film, it is common knowledge that western culture is good and should be performed as a good example for public. Beside of stressing on
America’s culture, this film also shows America’s power that is represented by the
government with assertive, strong, care with people, and respectful with other countries. Instead of showing the hero appearance with person in magic power, machine, this film prefer to show it as country and its citizen.
1 BAB I
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG MASALAH
Amerika Serikat, negara super power yang memiliki kekuatan
dalam berbagai bidang yang telah menguasai dunia hingga saat ini.
Negara dengan sistem pemerintahan republik federal ini telah menjadi
negara yang memiliki kekuatan militer, ekonomi dan politik, serta
teknologi yang tinggi. Pasca berakhirnya perang dingin antara Blok
Barat dan Blok Timur, Amerika Serikat menjelma menjadi negara
yang memiliki kekuatan yang semakin kuat, menguasai perindustrian
dunia dan menjadi pusat teknologi dunia. Menurut Gramsci (dalam
Barker, 2000:64), suatu kekuasaan atau dominasi atas nilai-nilai
kehidupan, norma, maupun kebudayaan sekelompok masyarakat
lainnya dimana kelompok yang didominasi tersebut secara sadar
mengikutinya disebut Hegemoni.
2
Amerika Serikat. Ketujuh, memerangi kemiskinan, kelaparan, dan berbagai macam pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia (HAM). ( Zainuddin, 2012:9-10).
Power yang dimiliki Amerika Serikat tidak hanya ditunjukkan
melalui seberapa teknologi, senjata, kekuasaan, kekayaan, sumber
daya manusia namun juga ditunjukkan melalui media hiburan film.
Sebagai negara yang ingin menjadi polisi dunia, Amerika
mengerahkan segala bentuk kekuatan yang dimiliki untuk
menunjukkan kepada dunia jika negara tersebut mampu menjadi
penyelamat dunia. Salah satu media yang diyakini mampu menjadi
perantara pesan dari sebuah maksud tertentu kepada masyarakat yaitu
film.
Media film merupakan salah satu alat komunikasi yang sangat
dekat dengan masyarakat khususnya para anak muda sehingga media
yang sangat efektif untuk menyampaikan pesan yang sesuai dengan
tujuan penerimanya. Segala jenis cerita kehidupan manusia dan
mahkluk hidup lainnya telah sering digambarkan dalam sebuah film
dengan berbagai jenis genre dan alur cerita. Film merupakan
gambar-hidup yang mewakili cerita kegambar-hidupan berjuta manusia di muka bumi
3
mulai dari action, romance, horror, comedy, documentery dan
sebagainya yang telah memiliki penikmat sendiri-sendiri. Media
penghibur sekaligus dapat menjadi media peyampaian pesan tertentu
membuat para sutradara dan produser dipenjuru dunia
berlomba-lomba mengeluarkan ide creative mereka untuk terus berkarya
membuat film yang dapat menarik minat penonton, laku dan dapat
masuk dihati dan pikiran para penikmat film. Tidak hanya filmaker
yang ingin menyampaikan sebuah pesan melalui film tetapi para
petinggi negara sepertinya memiliki tujuan yang sama dan
berlomba-lomba membuat ide yang cemerlang yang dapat menyampaikan pesan
dengan baik dan hati-hati kepada masyarakat.
Salah satu industri pembuat film terbanyak, terbaik dan
terpopuler di dunia adalah Hollywood, Amerika. Film produksi
Hollywood merupakan salah satu hal yang masuk dalam budaya
populer di dunia. Amerika menjadi salah satu negara yang
menciptakan budaya popoler yang saat ini mendominasi diseluruh
aspek budaya yang tersebar disemua negara. Pada tahun 2014, Warner
Bros Picture mempersembahkan sebuah karya sutradara Philippe
Falardeau dengan judul THE GOOD LIE. Film The Good Lie (2014)
4
Arnold Oceng, Ger Duany, Emmanuel Jal, Kuoth Wiel dan lain-lain.
Yang membuat film ini menarik, tidak hanya menceritakan seperti apa
kehidupan para pengungsi Sudan dan bagaimana cara mereka bertahan
hidup tetapi ternyata film The Good Lie dan juga pemainnya masuk
dalam acara penghargaan perfilman di beberapa acara, antara lain
Philippe Falardeau sang sutradara film The Good Lie sebagai
pemenang pada penghargaan Deaville Film Festival 2014 , lalu pada
Heartland Film 2014 Philippe Falardeu kembali menerima
penghargaan dan Kuoth Wiel yang berperan sebagai Abital masuk
dalam daftar nominasi outstanding breakthroung performance, female
pada penganugerahan Black Reel Awards tahun 2015.
5
Sumber www.dvdreleasedates.com di akses pada tanggal 8 Agustus 2016, pukul 21.25 WIB
Film ini bercerita tentang para korban perang di Sudan Afrika
Selatan yang dimulai sejak tahun 1983. Warga negara Sudan yang
terjebak dalam peperangan itu harus mencari lokasi yang aman dengan
cara berjalan kaki sejauh ribuan mill agar terhindar dari tentara-tentara
perang yang sewaktu-waktu mengancam nyawa mereka. Termasuk
Mamere (Arnold Oceng), Jeremiah (Ger Duany), Paul (Emmanuel
Jal), Abital (Kuoth Wiel). Kedua orang tua Mamere tak luput mejadi
korban dari peperangan tersebut. Dalam perjalanannya Mamere harus
kehilangan kakaknya Theo yang diambil oleh para tentara. Ketika
sampai dilokasi pengungsian Kaguma, Kenya, mereka bisa bertahan
hidup hingga dewasa. 13 tahun kemudian, bantuan kemanusiaan dari
Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) mengirim warga Sudan sebanyak
36.000 orang yang beruntung ke Amerika untuk mendapatkan
kehidupan baru. Mereka yang bersedia dipindahkan akan bertemu
dengan agen tenaga kerja dan diberi pekerjaan yang layak dan sesuai
dengan kemampuan para pengungsi sehingga mereka dapat memulai
hidup menjadi lebih baik lagi.
Setelah sampai di Amerika, Mamere harus berpisah dengan
Abital, karena saudara perempuan kandung Mamere harus pergi ke
Boston, sedangkan Mamer, Paul, dan Jeremiah pergi ke Cansas City.
Mamere, Paul, dan Jeremiah bertemu dengan seorang perempuan dari
6
tersebut memperoleh pekerjaan. Tak hanya Carrie (Reese
Witherspoon) yang membantu ketiga laki-laki berkulit gelap tersebut,
Jack (Corey Stoll) dan petugas Imigrasi juga ikut membantu Mamere,
Paul dan Jeremiah mulai dari mendapatkan pekerjaan, mengembalikan
Abital untuk tinggal bersama mereka dan yang terakhir adalah mereka
dapat berkumpul kembali dengan kakak laki-laki mereka Theo yang
sempat disandera oleh tentara.
Bantuan kemanusiaan yang diberikan Amerika kepada para
pengungsi Sudan secara tidak langsung membuat Amerika disebut
sebagai superhero masyarakat Afrika khususnya Sudan. Pahlawan
super atau yang dikenal dengan superhero adalah karakter fiksi yang
memiliki kekuatan luar biasa untuk melakukan tindakan hebat demi
kepentingan umum. Pahlawan super biasanya disebut dengan
pembasmi kejahatan pembela kebenaran berkostum dan memiliki ciri
khas masing-masing. Kostum yang biasa dipakai pahlawan super
adalah sebagai alat untuk menyembunyikan identitas pribadinya.
Dengan kekuatan adikuasanya Amerika masih mampu
membantu para pengungsi ditengah keadaan ekonomi Amerika yang
saat itu sedang terpuruk. Berawal dari runtuhnya gendung WTC
(World Trade Center) pada tanggal 11 september 2001, yang
kemudian dikenal dengan tragedi 9/11. Amerika memiliki banyak
sekali ide dan rencana untuk mempertahankan kekuasaannya. Setelah
7
tajam, dan Jepang berhenti, sementara Amerika Serikat mengalami
perluasan ekonomi yang terlama dan merupakan salah satu yang
terkuat sepanjang sejarah. Dibidang militer, pada tahun 2003 Amerika
Serikat dengan enteng mengucurkan dana untuk belanja pertahanan
yang jumlahnya lebih besar daripada gabungan 15-20 negara
pembelanja terbesar (Huntington, dkk, 2005:267-269).
Kemunculan Barack Obama dalam perebutan kursi Presiden di
Amerika Serikat membuat paradigma warga Amerika sedikit berubah
karena selama ini mereka beranggapan jika kedudukan presiden
hanyalah „milik’ warga kulit putih. Menjelang pemilihan kursi nomor
1 Amerika Serikat pada 4 November 2008, kondisi perekonomian dan
gejolak sosial politik di Amerika Serikat sangat dipengaruhi oleh
krisis ekonomi yang tidak hanya menggoyahkan roda perekonomian
di Amerika Serikat tetapi juga dunia.
Kekacauan pemerintahan, kepercayaan, pertahanan, dan
perekonomian yang di alami Amerika selama masa pemerintahan
George W. Bush tidak membuat Amerika menghentikan bantuan
kemanusiaannya untuk masyarakat negara lain yang sedang
membutuhkan bantuan kepada Afrika, Amerika tetap memberikan
bantuan melalui PBB untuk memindahkan sebagian pengungsi ke
Amerika. Mulai dari mendirikan tenda-tenda pengungsi, memberikan
logistik, tenaga medis, pakaian dan lain-lain, lalu memberikan
8
pengungsi telah siap untuk hidup mandiri di Negara yang berbeda
budaya dengan mereka.
Cerita superhero Amerika didominasi dengan tema tentang
kepahlawanan dari ras kulit putih dengan konflik kehancuran dunia,
penyalahgunaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kekuatan mahkluk
luar angkasa, dan pemerintahan yang salah. Superhero dari ras kulit
putih (Amerika) selalu menjadi tokoh utama dan selalu menang
melawan siapa yang jahat dan menunjukkan mana yang benar.
Menciptakan sebuah budaya yang kemudian menghegemoni seluruh
negara untuk mengikuti budaya tersebut dan menjadikan budaya Barat
yang ada di film-film Hollywooddiikuti oleh seluruh masyarakat.
Film The Good Lie merupakan salah satu contoh jika Amerika
memang memiliki kekuatan yang negara lain mungkin tidak
memilikinya. Perbedayaan budaya antara Amerika dan Afrika dalam
film sangat terlihat jelas. Amerika memiliki kebudayaan hidup yang
bebas, individualis, mandiri, dan kapitalis, sedangkan warga Afrika
hidup dengan penderitaan, kesederhanaan, selalu bersama keluarga.
Film ini bercerita tentang kehidupan di dua negara, dua negara yang
memiliki perbedayaan budaya hidup yang sangat berbeda, dan pada
film ini sangat terlihat jelas perspektif negara mana yang dominan dan
dianggap benar.
Film The Good Lie merupakan salah satu contoh jika Amerika
9
memilikinya. Demi alasan kemanusiaan, Amerika melakukan
segalanya demi masyarakat Sudan, yang secara fisik memiliki ras
warna kulit yang berbeda, budaya yang berbeda, bahasa yang berbeda
dan gaya hidup yang berbeda. Sering terjadi kesalah pahaman dalam
berkomunikasi yang terkadang menimbulkan sebuah konflik. Namun
hal tersebut semakin hari semakin dimengerti oleh masyarakat Sudan
dan para penolong dari Amerika.
B. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang di atas, rumusan masalah yang menjadi
fokus penelitian ini adalah Bagaimana Representasi Budaya Amerika
dalam Film The Good Lie?
C. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis
representasi budaya Amerika dalam Film The Good Lie.
D. MANFAAT PENELITIAN 1) Manfaat Teoritis
a. Penelitian ini diharapkan menambah pengetahuan tentang teori
representasi, heroisme dan ideologi budaya Amerika.
b. Penelitian ini juga diharapkan menjadi referensi bagi penelitian ilmiah
selanjutnya terutama tentang wacana film khususnya dalam kajian
10 2) Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan diskusi
dalam menambah keberagaman pemahaman tentang ideologi
kebudayaan Amerika sebagai hero dalam film.
E. KERANGKA TEORI
1. Film Sebagai Media Representasi
Film merupakan salah satu wadah untuk merepresentasikan
sebuah informasi atau makna menurut pembuatnya. Representasi
merupakan sebuah produksi konsep makna dalam pikiran melalui
bahasa. Ini berarti representasi merupakan hubungan antara konsep
dan bahasa yang menggambarkan objek, orang, atau bahkan peristiwa
nyata kedalam objek, orang, maupun peristiwa fiksi. Representasi
berarti menggunakan bahasa sebagai alat serbaguna untuk mengatakan
atau mendeskripsikan sesuatu yang penuh arti kepada orang lain.
(Hall, 1997:15).
Dapat dipahami bahwa representasi merupakan suatu tindakan
untuk menggambarkan atau menjelaskan suatu makna. Selain itu juga
dapat dimaknai sebagai tindakan untuk mewakili suatu makna dengan
cara tertentu, sehingga pengertian representasi dapat berupa simbol
maupun tanda yang ditemukan tergantung pada realitas yang menjadi
referensinya. Menurut Stuart Hall, terdapat tiga pendekatan untuk
menerangkan bagaimana merepresentasikan suatu makna melalui
11
1997:23). Pertama, pendekatan Reflective, yakni pendekatan yang
terkait dengan makna yang dipahami dalam objek, personal, ide, atau
kejadian yang berlangsung pada dunia yang nyata. Bahasa berfungsi
layaknya cermin yang merefleksikan arti yang sebenarnya. Dalam
pendekatan ini, reflective lebih menekankan apakah bahasa telah
mampu mengekpresikan makna yang terkandung dalam objek yang
bersangkutan. Kedua, pendekatan intentional, pendekatan ini melihat
bahwa bahasa dan fenomenanya dipakai untuk mengatakan maksud
dan memiliki pemaknaan atas pribadinya. Intentional tidak
merefleksikan tetapi berdiri atas dirinya dengan segala pemaknaannya.
Kata-kata diartikan sebagai pemilik atas apa yang ia maksudkan. Jadi
dalam pendekatan intentional ini, apakah bahasa telah mampu
mengekspresikan apa yang komunikator maksudkan. Sedangkan
pendekatan contructionst lebih ditekankan pada proses konstruksi
makna melalui bahasa yang komunikator gunakan. Dalam pendekatan
ini, bahasa dan pengguna bahasa tidak bisa menetapkan makna dalam
bahasa yang mereka gunakan melalui dirinya sendiri, namun harus
dihadapkan dengan hal-hal lainnya sehingga nantinya akan
memunculkan apa yang disebut interpretasi atau penafsiran.
Pada saat proses memaknai tersebut, representasi mempunyai
dua hal pokok. Pertama, menjelaskan dan menggambarkan sesuatu
dalam pikiran dengan gambaran dan imajinasi untuk membuat
12
digunakan untuk menjelaskan konstruksi makna sebuah simbol
sehingga kita dapat mengkomunikasikan makna suatu objek melalui
bahasa yang sama, dengan adanya dua konsep tersebut jelaslah bahwa
representasi merupakan bagian dari sebuah proses sosial serta sebagai
produk dari hasil sebuah proses sosial tersebut.
Dalam bahasa semiotika, film dapat didefinisikan sebagai
sebuah teks yang pada tingkat penanda terdiri dari serangkaian
imajinasi yang mempresentasikan aktivitas dalam kehidupan nyata,
sedangkan pada tingkat petanda, film adalah sebuah metamorphosis
kehidupan, representasi dapat di definisikan lebih jelasnya melalui
penggunaan tanda (gambar, bunyi dan lain-lain) untuk
menghubungkan, menggambarkan, memproduksi sesuatu yang dilihat,
diindera, dibayangkan atau dirasakan dalam bentuk fisik tertentu
(Danesi, 2012:20).
Seiring perkembangannya film memang tidak bisa dipisahkan
dari masyarakat, keduanya mempunyai hubungan yang erat, dimana
film tidak hanya menjadi hiburan yang populer saja, namun film
menjadi sebuah media representasi yang paling banyak dikonsumsi
oleh masyarakat luas saat ini. Oleh karena itu masyarakat harusnya
lebih dapat memaknai film sesuai dengan peranannya sebagai media
hiburan masyarakat yang populer sekaligus media representasi sebuah
13
Melalui media film, semua hal yang ingin direpresentasikan
oleh para pembuatnya seakan harus berjalan dengan baik dan hal
tersebut harus masuk di otak masyarakat yang menyaksikannya. Film
Hollywood merupakan salah satu industri film yang menampilkan
tokoh superhero sebagai pemeran utamanya, dan dalam film-film
tersebut superhero direpresentasikan dengan dominasi sosok laki-laki
dan jarang menampilkan sosok perempuan yang memiliki kekuatan
super. Penampilan aktor dan aktris dari keturunan White Anglo Saxon
Protestan atau ras kulit putih juga berhasil membuat masyarakat
percaya jika orang-orang yang memiliki ras kulit putih (WASP) lah
yang dapat menjadi soerang pahlawan seperti yang telah
direpresentasikan dalam film-film Hollywood.
2. Heroisme dalam Film Hollywood
Tidak bisa dipungkiri bahwa industri film Hollywoodmemiliki
hampir segalanya yang dibutuhkan oleh sebuah industri perfilman,
mulai dari teknologi yang canggih, artis papan atas serta jaringan
promosi dan kerja sama yang sangat kuat. Film Hollywood memiliki
cerita yang semuanya hampir sama yaitu mengenai kepahlawanan.
Pola cerita yang dibangun selalu ada sosok yang menjadi hero dan ada
yang menjadi penjahat dan diakhir cerita selalu hero tersebutlah yang
menang.
Hero berasal dari kata Bahasa Inggris yang menurut kamus
14
achievement, or noble qualities. Yang memiliki arti seseorang yang
dikagumi karena keberaniannya, prestasi yang luar biasa atau kualitas
yang mulia atau orang Indonesia biasa menyebutnya dengan
pahlawan. Hero atau pahlawan biasanya dikonstruksikan sebagai
pembela kebenaran, memiliki sifat yang baik hati, suka menolong, rela
berkorban demi negara, orang-orang yang disekitarnya, dan selalu
memiliki kekuatan lebih dibanding orang lain pada umumnya. Sering
kali cerita pahlawan diangkat dari legenda-legenda atau mitos yang
berkembang dimasyarakat yang biasanya cerita tersebut ditujukan
untuk anak-anak. Tak hanya Hollywood yang memiliki tokoh-tokoh
superhero, Indonesia ternyata juga memiliki tokoh pahlawan yang
melegenda dari jaman nenek moyang dahulu seperti, cerita Si Pitung,
Kabayan, dan sebagainya.
Perkembangan film action dan fiksi Hollywood yang
bertemakan heroisme Amerika dimulai dari diciptakannya karakter
superhero yang di dominasi oleh ras kulit putih (White Anglo Saxon
Protestan), seperti film Batman, Captain Amerika, Superman dan
masih banyak lagi. Konstruksi sosial yang telah dibuat oleh Amerika
mengenai ras yang kemudian menjadi nilai ideologi tersendiri pada
film Hollywood yang berkonsep superhero, Amerika mempunyai latar
belakang dan tujuan dengan menampilkan jika superhero itu dari ras
kulit putih (WASP). Amerika serikat kemudian membuat standar
15
yang memiliki ras kulit putih (WASP) dan hal tersebut digunakan
untuk memenuhi kebutuhan pasar yang kemudian digunakan sebagai
landasan industri film. Sebenarnya film Hollywood dibangun dengan
pola yang sederhana, yakni sosok pahlawan memiliki karakter
protagonis dan dilawankan dengan sosok antagonis dan dipenghujung
cerita sosok protagonis selalu menjadi pemenang.
Pahlawan dalam film Hollywood seringkali didominasi oleh
laki-laki dan hanya beberapa pahlawan yang diperankan oleh
perempuan. Cat Woman adalah salah satu contoh film Hollywood
yang menampilkan perempuan sebagai sosok pahlawan, namun perlu
diingat jika dalam film tersebut Cat Woman sebelumnya hadir untuk
mendampingi Batman, superhero yang berjenis kelamin laki-laki.
Film Hollywood juga menampilkan sosok pahlawan dari ras kulit
putih (WASP), seperti Batman, Superman, dan lainnya. Semuanya
dilahirkan dari mesin-mesin industri film Hollywood yang berasal dari
lingkungan WASP. Jarang sekali industri Hollywood menampilkan
sosok pahlawan dari keturunan Afrika (Afro-Amerika) seperi Blade,
The Punisher dan I-Robot, namun jika dilihat dari popularitasnya,
film-film tersebut kalah jauh dengan popularitas film-film yang
menggunakan sosok berkulit putih. Sosok yang memiliki tubuh ideal,
tinggi, kekar, dan berbadan bidang merupakan ciri-ciri dari sosok
pahlawan yang selama ini diciptakan dalam film Hollywood. Batman,
16
pahlawan-pahlawan yang walaupun wajah dan badan mereka tertutup
oleh kostum tetapi semua orang tetap dapat melihat seberapa tampan,
kekar, tinggi dan bidangnya mereka.
Banyak orang yang mungkin tidak mengerti jika yang dapat
dikatakan sebagai superhero itu hanya yang memiliki kekuatan super,
memakai kostum, bertubuh kekar, memiliki keberanian dan berwujud
orang atau manusia. Namun, jika masyarakat memiliki pemikiran
kritis dan mau berfikir ulang setiap kali menonton film atau tayangan
yang lain pasti akan mengerti apa maksud yang sebenarnya dalam film
tersebut dan apa saja pesan yang terkandung. Negara dapat juga
menjadi hero untuk masyarakatnya ataupun untuk negara lain. Dalam
hal ini ternyata telah terbentuk sejak lama jika Hollywood sering kali
menggambarkan dan memasukan pesan tersendiri jika negara
Amerika dan orang Amerika lah yang dapat menjadi hero untuk
kepentingan orang banyak. Memproduksi film superhero menjadi
salah satu cara membuat ideologi kepada masyarakat jika Amerika lah
yang paling hebat dan mampu menjadi superhero ataupun hero di
dunia. Tidak hanya cerita superhero melawan penjahat yang sedang
merusak kota ataupun menangkap perampok tetapi juga superhero
yang hanya menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongan
tanpa harus mengenakan kostum dan menggunakan kekuatan super.
Sama halnya dengan film The Good Lie, walaupun dalam film
17
yang memiliki tubuh kekar, berkostum dan memiliki kekuatan, namun
ternyata dalam film yangg berlatar belakang perang saudara di negara
Sudan tersebut juga terdapat sosok pahlawan. Mungkin bagi sebagian
penonton tidak menyadari akan adanya sosok pahlawan dalam film
,namun bagi pemain dan masyarakat Sudan pastilah mengetahui sosok
tersebut. Pahlawan penyelamat bagi masyarakat Sudan khususnya
mereka yang menjadi Imigran ke Amerika tidak lain adalah negara
Amerika itu sendiri.
Amerika menjadi pahlawan yang memiliki kekuatan super
yang telah menjadi dewa penyelamat bagi jutaan warga yang berhasil
selamat sampai ke pengungsian tempat dimana Amerika mendirikan
tenda-tenda pengungsian yang kemudian memberikan mereka
kehidupan baru kedepannya. Tidak hanya petinggi-petinggi negaranya
saja, masyarakat yang bergabung menjadi relawan dan juga menjadi
karyawan di beberapa perusahaan yang bergerak di bidang
kemanusiaan juga turut menjadi pahlawan bagi warga Sudan. Mereka
lah yang membantu warga melanjutkan hidup, mengobati yang sakit,
memberikan tempat tinggal, logistik dan pekerjaan di Amerika. Bukan
lagi sosok yang berkostum yang melawan kejahatan tetapi juga sosok
manusia biasa dan juga negara juga dapat menjadi pahlawan untuk
18
3. Ideologi Budaya Amerika dalam Film
Film sebagai media representasi yang berhubungan dengan
kajian budaya tidak terlepas dari ideologi, kebudayaan sendiri bersifat
politis karena ia mengekspresikan relasi sosial kekuasaan dengan cara
menaturalisasi tatanan sosial sebagai suatu fakta. Secara mayoritas
film selalu memiliki muatan ideologi, yang dimaksud dengan ideologi
yakni sebuah ide atau pemikiran yang dibuat oleh para penguasa yang
menginginkan dirinya dan ideologinya sebagai kebenaran yang
universal, yang merupakan pemahaman spesifik di suatu ruang dan
waktu tertentu dan mengaburkan dan melanggengkan kekuasaan.
Ideologi berarti peta-peta makna yang mengklaim dirinya
sebagai kebenaran universal namun sebenarnya merupakan
pemahaman spesifik yang mempunyai latar belakang sejarah sendiri
yang menutup-nutupi dan sekaligus mengukuhkan kekuasaan
pihak-pihak tertentu. Sebagai contoh, berita yang ditayangkan televisi
menghasilkan pemahaman akan dunia yang telah dibentuk oleh media.
Dia terus menerus menjelaskan berdasar konteks bangsa yang diterima
sebagai objek-objek yang terjadi secara alamiah, padahal sebenarnya
dia mengaburkan pembagian kelas dalam formasi sosial dan karakter
nasionalisme yang itu semua telah dikonstruksi (Barker, 2000:11).
Kebudayaan dikonstruksi dalam beragam aliran makna dan
mencakup berbagai macam ideologi dan bentuk kultural. Demikian
19
terdapat unsur yang dipandang sebagai induk dan bersifat dominan.
Proses penciptaan, peneguhan dan reproduksi makna dan praktik
otoratif ini oleh Gramsci disebut Hegemoni (Barker, 2000:62). Bagi
hegemoni berarti situasi dimana suatu „blok historis’ faksi berkuasa
menjalankan otoritas sosial dan kepemimpinan atas kelas-kelas
subordinat melalui kombinasi antara kekuatan dengan persetujuan.
Praktik normal hegemoni di arena klasik rezim parlementer dicirikan dengan kombinasi kekuatan dan persetujuan, yang secara berlebihan memaksakan persetujuan. Namun, upaya yang sebenarnya adalah untuk memastikan bahwa kekuatan tersebut seakan-akan hadir berdasarkan persetujuan mayoritas yang diekspresikan oleh apa yang disebut dengan organ opini publik-koran dan asosiasi (Gramsci dalam Barker, 2000:63)
Ideologi para penguasa dan hegemoni yang dilakukan pasti
akan berhubungan dengan cultural studies berbagai Negara di penjuru
dunia. Cultur atau budaya yang berkembang ditengah masyarakat saat
ini tidak lepas dari pengaruh ideologi sekelompok orang yang
menginginkan segalanya diatas kepentingannya. Cultural studies lebih
mengembangkan argumen yang menimbulkan konsekuensi politik dan
sosial dalam mengkonstruksi dan menyebarkan pembentukan wacana
spesifik atas dunia. Penguasa melakukan pendekatan dan menghemoni
para masyarakat menggunakan cara-cara yang halus seperti melalui
budaya dan apa saja yang dekat dalam kehidupan masyarakat.
Kondisi politik Internasional saat ini penuh dengan gagasan
yang sangat kompleks seiring dengan perkembangan jaman.
20
produksi, persenjataan, dan ruang angkasa, yang semua itu
memberikan pengaruh terhadap hubungan antar negara di dunia.
Negara-negara tersebut saling berkaitan erat seiring kemajuan
teknologi yang telah menyebar hampir di seluruh negara di dunia.
Sehingga hal tersebut membuat segala yang terjadi pada suatu negara
dalam bidang ekonomi, politik dan sosial akan berdampak pula pada
negara yang lainnya (Dahlan, 1989:47).
Setelah Gramsci, cultural studies mengadopsi pandangan
bahwa ideologi yang dipahami sebagai peta makna yang mendukung
kekuasaan kelompok sosial tertentu, berakar pada kondisi sehari-hari
yang dialami oleh masyarakat. Ideologi juga merupakan pengalaman
yang hidup sekaligus sebagai seperangkat ide sistematis yang
perannya adalah untuk mengorganisasi dan mengikat secara
bersama-sama dalam satu blok berbagai elemen sosial sehingga melahirkan
blok hegemonik dan kontrahegemonik. Hegemoni idelogis merupakan
proses di mana cara pemahaman tertentu tentang dunia menjadi begitu
nyata dan alamiah sehingga memandang alternatif sebagai sesuatu
yang tidak masuk akal dan tidak dapat dipikir secara nalar manusia
(Barker, 2000:373).
Salah satu Negara yang memiliki budaya dan budaya tersebut
juga sering kali digunakan oleh Negara lain adalah Amerika. Negara
Amerika sangat terkenal dengan budaya freedom nya, hal tersebut
21
mengkuti trend seperti yang orang-orang Amerika lakukan. Sebagai
negara Adikuasa Amerika dengan mudahnya menyebarkan ideologi
budaya dan politik yang mereka anut kepada orang seluruh dunia
sesuai dengan keinginan mereka. Melalui berbagai cara Amerika
menunjukan ideologi yang mereka miliki diantaranya melalui film,
radio, televisi dan media cetak. Menciptakan suatu sistem yang
seragam secara keseluruhan untuk semua bagian yang ingin
disampaikan oleh pemilik media. Keragaman produk yang dihasilkan
industri media merupakan suatu ilusi untuk sesuatu yang hal yang itu
semua telah disediakan bagi semua orang sehingga tidak seorang pun
bisa lari darinya (Adorno dan Horkheimer dalam Barker, 2000:47).
Dari sekian juta orang di dunia pasti hanya beberapa yang sadar akan
apa yang disampaikan oleh media, mereka secara tidak langsung telah
dihegemenoni oleh acara-acara, pemberitaan dan apa saja yang
disunguhkan oleh media tersebut. Permasalahan politik yang kerap
kali memicu bentrokan antar warga padahal hal tersebut hanyalah
kebohongan yang telah dibuat media yang memberitakan dengan
maksud tujuan tertentu.
Proses politik yang tejadi disetiap tahunnya dan berbeda-beda
membuat berbagai masalah muncul bergantian disetiap negara. Salah
satunya proses rezim politik minoritas yang terjadi membuat banyak
korban berjatuhan. Kejadian tersebut sempat melanda negara Afrika
22
dengan korban 200 ribu jiwa. Keadaan tersebut mengakibatkan
eksistensi kualitas SDM Afrika dipertanyakan di dunia luar, keadaan
tersebut semakin parah dengan tidak ada satupun kekuatan luar
(Amerika, Rusia dan China) yang memahami problematika yang
sedang dihadapi Afrika. Justru pihak luar tersebut memanfaatkan
situasi yang sedang di alami Afrika untuk berbagai kepentingan
negara-negara tersebut. Keadaan Afrika semakin diperparah dengan
adanya krisis yang dialami Amerika Serikat pada tahun 2008 dimana
kemajuan yang pernah dicapai semakin menurun dan banyak
problematika yang dihadapi Amerika Serikat. Kejadian-kejadian
tersebut seakan menjadi gelombang dahsyat yang membuat Afrika
semakin terpuruk dan kehilangan kesempatan untuk menggapai
kemajuan (Zainuddin, 2012:28).
Ideologi dan hegemoni yang telah disebarkan oleh pihak-pihak
tertentu membuat pandangan orang lain dan juga negara lain menjadi
berubah. Ideologi para negara penguasa mengalahkan ideologi negara
kecil yang harus tunduk dan patuh pada negara penguasa. Hegemoni
budaya yang diciptakan dan dilakukan semakin membuat negara
penguasa tersebut berjaya dipuncak dan bebas melakukan apa saja
sesuai dengan tujuan mereka. Budaya memang sangat dekat dan
sangat mudah untuk dikuasai oleh sebuah budaya negara tertentu
karena lewat budaya lah ideologi dapat dengan mudah tersebar luas
23
Hegemoni bisa diartikan sebagai kekuatan atau kekuasaan dari
suatu kelompok sosial tertentu terhadap kelompok sosial lain. Dalam
hegemoni juga terdapat relasi yang terbentuk struktur dominasi
asimetris dari pihak penguasa, melalui hegemoni dalam media ini
terjadi distribusi produk yang hasil akhirnya tidak hanya produk
tersebut dikonsumsi namun juga efeknya pada kesadaran dari
konsumen yang mengonsumsinya (Real dalam Junaerdi, 2012:60).
Fashion, social living, life syle, dan lain-lain seringm kali tercipta dari
Negara barat seperti Amerika. Banyaknya akris Hollywood membuat
negara tersebut menjadi trend center untuk orang-orang dipenjuru
dunia. Sebagai negara imigran, Amerika memiliki banyak sekali
budaya, karena memiliki warga negara yang beragam dari berbagai
negara yang mereka sengaja singgah atau berpindah kependudukan ke
Amerika sehingga membuat budaya yang ada di Amerika semakin
lama semakin beragam dan sangat cepat meluas ke negara-negara
lainnya.
Budaya menjadi salah satu bidang yang melatar belakangi para
penguasa menyebar luaskan ideologi mereka melalui dunia hiburan
salah satunya film. Penyampaian ideologi budaya yang terkadang
sangat halus tanpa masyarakat sadari terkandung dalam film-film yang
beredar di kehidupan masyarakat. Hal tersebut yang nantinya dapat
mendoktrin pikiran-pikiran masyarakat khususnya anak muda tentang
24
kepentingan orang-orang tertentu atau hanya menyampaikan sesuatu
yang filmaker inginkan biasanya terjadi di negara-negara yang
memiliki kondisi persaingan ekonomi ataupun politiknya sangat
berpengaruh dan biasanya negara besar seperti Amerika.
F. METODE PENELITIAN 1. Jenis penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis
semiotik. Jenis penelitian kualitatif merupakan penelitian yang
nantinya menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata atau gambar
dan bukan berupa angka-angka. Dengan menggunakan penelitian
kualitatif, peneliti mendapatkan data-data yang dibutuhkan melalui
naskah, wawancara, catatan lapangan, foto, video, dokumen pribadi
dan lainnya yang kemudian dikelompokkan menjadi lebih spesifik
(Moleong, 2000:3). Penelitian ini bertujuan untuk meneliti bagaimana
budaya Amerika direpresentasikan dalam film The Good Lie.
Metode analisis semiotik digunakan untuk mengetahui makna
yang terkandung dalam bentuk verbal dan non verbal, seperti
kata-kata, gambar, gerak tubuh, suara dan lainnya dalam konteks tanda.
Film menjadi salah satu media yang sering diteliti menggunakan
metode analisis semiotik, karena film mengandung banyak sekali
dampak yang tercipta karena adegan-adegean, komunikasi dan pesan
yang ada dalam film tersebut pasti akan membawa dampak tersendiri
25
Tanda-tanda tersebut termasuk dalam rangkaian tanda yang akan
bekerja sama dengan baik dalam upaya penyampaian pesan dan
menimbulkan efek yang diharapkan. Yang paling penting dalam
sebuah film adalah gambar dan suara, kata yang diucapkan ditambah
dengan tambahan suara-suara lain yang mengiringi gambar-gambar
yang muncul dan musik dalam film tersebut. Sistem semiotika yang
lebih penting lagi dalam film adalah digunakannya tanda-tanda ikonis
yakni tanda-tanda yang menggambarkan sesuatu, (Sobur, 2013:128).
Metode yang digunakan penelitian ini adalah metode
semiotika dari Roland Barthes, dimana film menggunakan penanda
sebagai jalan untuk menggerakkan suatu narasi sebagai acuan dalam
membentuk tanda-tanda tersebut. Film juga dapat dikupas berdasarkan
unsur gramatikalnya yang diuraikan menurut komponen sinematografi
dan rangkaian gambar dalam film merupakan imaji dan sistem
penandaan yang kemudian akan dimaknai, karena itu film merupakan
bidang kajian yang sangat relevan bagi semiotika.
Ada dua tokoh yang memiliki pandangan tersendiri tentang
semiotika yaitu Ferdinand de Saussure seorang ahli bahasa Swiss
(1857-1913) dan Charles Sander Pierce seorang filsuf Amerika
(1839-1914). Ferdinan de Saussure sangat tertarik pada bahasa, dia lebih
memperhatikan cara tanda-tanda terkait “objek”nya Pierce. Model dari
Saussure lebih memfokuskan perhatiannya langsung pada tanda itu
26
pengetahuan umum tentang tanda, yang disebut dengan semiologi.
Bagi Saussure tanda merupakan objek fisik dengan sebuah makna atau
untuk menggunakan istilahnya, sebuah tanda terdiri dari penanda dan
petanda. Sedangkan Charles Sander Pierce seorang filsuf yang mulai
menyadari betapa pentingnya semiotika, tindak menandai, dalam hal
ini minatnya lebih pada makna yang ditemukannya dalam relasi
struktural tanda, manusia dan objek (Fiske, 2011:64).
Dalam perkembangannya, semiotika telah tumbuh menjadi
bidang kajian yang begitu besar yang meliputi, kajian bahasa tubuh,
bentuk-bentuk seni, wacana retoris, komunikasi visual, media, mitos,
naratif, bahasa, artefak, fashion, iklan dan semua yang digunakan,
diciptakan dan diadopsi oleh manusia dalam memproduksi makna,
tanda dan hubungannya kemudian menjadi kata-kata kunci dalam
analisis semiotika. Dalam kajian semiotika sendiri, film akan
cenderung dipahami sebagai sistem tanda yang dipakai sebagai sarana
komunikasi untuk menyampaikan gagasan-gagasan, emosi, maupun
makna baik oleh penyampai pesan maupun penerima pesan (encoder
dan decoder), film sendiri dapat didefinisikan sebagai sebuah teks
yang pada tingkat penanda terdiri atas serangkaian imaji yang
mempresentasikan aktivitas dalam kehidupan nyata, sedangkan pada
tingkat petanda, film adalah sebuah metamorphosis kehidupan.
Film bukanlah sebuah sistem bahasa melainkan merupakan
27
yang diterima oleh setiap individu penonton tidak selalu sama, sistem
pemaknaan dalam film berkaitan erat dengan audiens yang
menontonnya. Oleh karena itu keberhasilan seseorang dalam
memahami film secara utuh sangat dipengaruhi oleh pemahaman
terhadap aspek naratif dan sinematik dari sebuah film. Oleh karena itu,
dalam penelitian ini penulis menggunakan metode analisis semiotika
Roland Barthes karena Barthes menyusun model semiotika yang lebih
luas dengan pemaknaan atas tanda dengan menggunakan dua tatanan
penandaan yaitu denotasi dan konotasi, dimana Roland Barthes
merupakan penerus pemikiran Saussure yang hanya berhenti pada
tantanan denotasi sedangkan Barthes melengkapinya dengan tatanan
konotasi.
Gambar 1. 2
Dua Tatanan Pertandaan Roland Bathes
28
Dari gambar di atas, dijelaskan bahwa tahap pertama
merupakan hubungan antara penanda dan petanda yang disebabkan
oleh denotasi dan dalam tahap kedua, dengan adanya penanda dan
petanda maka menyebabkan konotasi yang dipengaruhi oleh kultur
dan mitos, makna denotasi adalah cerita yang digunakan suatu
kebudayaan untuk menjelaskan atau memahami beberapa aspek dari
realitas atau alam sebagai contoh denotasi dalam sebuah film yaitu
sesuatu yang merupakan reproduksi mekanisme di atas film tentang
objek yang ditangkap kamera dalam artian nyata, sedangkan konotasi
mencakup seleksi atas apa yang masuk dalam sebuah bingkai (frame),
fokus, rana, sudut pandang kamera, kualitas film dan seterusnya
(Fiske, 2011:119).
Sedangkan konsep mitos yang ada menciptakan suatu sistem
pengetahuan metafisika untuk menjelaskan tentang asal usul,
tindakan, dan karakter manusia selain fenomena di dunia nyata
(Danesi, 2012:167). Bagi Roland Barthes, mitos merupakan cara
berpikir dari suatu kebudayaan tentang sesuatu (tanda), Barthes juga
menegaskan bahwa cara kerja pokok mitos adalah untuk
menaturalisasi sejarah, dalam hal ini mitos merupakan produk kelas
sosial yang menjadi dominasi melalui sejarah tertentu tetapi mitos
ditunjukan secara alami karena mitos memistifikasi atau mengaburkan
asal-usulnya sehingga memiliki dimensi sosial atau politik (Barthes
29
Oleh karena itu makna konotasi dalam model Barthes disebut
dengan tatanan kedua dimana dalam makna konotasi bersifat subyektif
tergantung budaya, mitos ataupun ideologi yang ada dalam
masyarakatnya, dimana konotasi dan mitos merupakan cara pokok
tanda-tanda berfungsi dalam tatanan kedua pertandaan, yakni tempat
berlangsungnya interaksi antara tanda dan pengguna atau budayanya
yang sangat aktif.
Penelitian ini akan menggunakan paradigma konstruktivistik,
yaitu melihat bagaimana sebuah realitas dikonstruksikan dan
mengungkapkan makna-makna dibalik realitas tersebut.
2. Objek Penelitian
Untuk mempermudah dalam menentukan fokus penelitian,
maka harus ditentukan pembatasan terhadap area objek penelitian.
Penelitian ini mengambil objek penelitian film “ The Good Lie”.
3. Teknik Pengumpulan Data a. Dokumentasi
Dalam tahap ini, peneliti menggunakan kaset DVD atau VCD
film “The Good Lie” sebagai bahan dokumentasi. Teknik ini
dilakukan untuk mengidentifikasikan tanda dan simbol-simbol yang
kemudian digunakan untuk menggali makna yang terkandung dalam
30 b. Studi Pustaka
Studi pustaka merupakan analisis teoritik tentang masalah
yang diteliti, yang dikaitkan serta didukung oleh berbagai teori dan
dari hasil studi lain. Data yang didapat dari berbagai sumber-sumber
ilmiah dan data pendukung lainnya, yaitu buku, jurnal, artikel, situs
online, dans sumber lainnya yang berkaitan dengan penelitian ini.
4. Teknik Analisis Data
Data adalah sebuah informasi tentang sesuatu, data yang
didapatkan merupakan sarana untuk memudahkan dalampenjabaran
dan memahami makna, jadi pengambilan data dalam penelitian ini
merupakan langkah yang penting, tanpa melakukan pengambilan dan
pengumpulan data, penelitian ini akan bisa dikatakan gagal, dismaping
itu proses pengambilan data harus sesuai dengan judul penelitian agar
menjadi satu kesatuan yang dapat dikelola untuk kemudian di
interpretasikan. Teknik analisis data penelitian ini akan menggunakan
metode analisis semiotika, peneliti akan mempelajari bahasa,
tanda-tanda yang terdapat dalam film The Good Lie terhadap representasi
Amerika yang dikonstruksikan dalam film tersebut.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik analis data
dengan menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes
dikarenakan pendekatan semiotika Barthes dirasa tepat untuk
menerjemahkan tanda-tanda dan menganalisis makna-makna yang
31
diteliti. Menggunakan analisis data Roland Barthes ini untuk
mengetahui dan menganalisis makna-makna yang terdapat dalam film
The Good Lie baik dalam bentuk verbal maupun non verbal. Dalam
semiotika, menerapkan tanda-tanda, simbol, lambang yang tidak
memiliki arti namun memiliki makna tertentu. Fokus kajian dari
Roland Barthes yaitu terletak pada sistem tanda tingkat kedua atau
metabahasa.
Film dalam bahasa semiotik, dibangun dengan kode dan tanda
yang kemudian dimaknai, seperti adanya denotasi dan konotasi dalam
sebuah film, sebagai contoh makna denotasi dalam sebuah film yaitu
sesuatu yang merupakan reproduksi mekanisme diatas film tentang
objek yang ditangkap kamera seperti manusia dan properti-properti
lain yang ada dalam artian sebenarnya, sedangkan makna konotasi
mencakup seleksi atas apa yang masuk dalam sebuah bingkai (frame),
fokus, rana, sudut pandang kamera, pengambilan gambar dan
seterusnya yang akan menjadi makna sosial dengan pengaruh ideologi
budaya atau mitos yang berlaku.
Dalam hal ini teknik pengambilan gambar, pewarnaan
(colouring atau nirmana), editing dan gerakan kamera dalam sebuah
film dapat berfungsi sebagai penanda, dan bisa nenjadi sebuah tanda
yang membantu dalam menganalisis semiotika dalam sebuah film,
teknik-teknik tersbeut lebih jelasnya sebagai berikut :
32
Tabel 1.1
Frame Size atau Ukuran Gambar
Penanda (Frame Size) Definisi Penanda (Makna)
Close Up (C.U) Hanya wajah
(keseluruhan bagian
wajah masuk dalam
frame)
Keintiman
Big Close Up (B.C.U) Hanya fokus wajah Keintiman pada
detail ekspresi
Medium Shot (M.S) Setengah badan Hubungan
personal
Medium Long Shot
(M.L.S)
Setting dan Karakter Konteks, skope, dan
jarak publik
Long Shot (L.S) Seluruh tubuh Hubungan sosial
Very Long Shot (V.L.S) Pandangan Hubungan sosial
33
seni visual, menurut Sanyoto, warna dapat didefinisikan secara
objektif atau fisik sebagai sifat cahaya yang dipancarkan secara
subjektif atau psikologis warna adalah sebagai bagian dari
pengalaman indra penglihatan dan penampilan warna dapat
34
a. Hue , rona warna atau corak warna
b. value, kualitas terang-gelap warna atau tua-muda warna
c. chroma, intensitas atau kekuatan warna yaitu murni-kotor
warna, cemerlang-suram warna atau cerah-redup warna
(Sanyoto, 2010:12)
menurut kejadiannya warna dibagi menjadi dua bagian, yaitu
warna addictive yaitu warna-warna yang berasal dari cahaya yang
disbeut spectrum, dengan warna pokok red, green dan blue (RGB),
sedangkan warna subtractive merupakan warna yang berasal dari
pigmen, dengan warna pokok cyan,magenta dan kuning (yellow) atau
biasa disebut dengan CMYK (Sanyoto, 2010:13).
Teknik analisis data dalam penelitian ini diambil dengan
mengumpulkan data-data tentang negara Amerika dalam film The
Good Lie secara keseluruhan, untuk kemudian dijabarkan keseluruhan
adegan tersebut kedalam sejumlah tabel, kemudian diambil adegan
kunci dalam film, adegan-adegan tersebut kemudian dihubungkan
dengan kerangka teori yang digunakan dalam penelitian ini, yang
kemudian dikontekstualisasikan dengan suatu perspektif teoritis yang
35 BAB II
KONSTRUKSI BUDAYA AMERIKA-AFRIKA DALAM MEDIA
A. Konteks Budaya di Amerika
Amerika, sebagai negara dengan ratusan juta penduduk dan tempat
dimana orang bertemu dan tinggal menetap disana, menjadi salah satu
negara multiculture di dunia. Pada tahun 2016, menurut CIA World
Factbook, USA (United States Of Amerika) dihuni oleh 323.995.528 Jiwa
dan menjadikan Amerika masuk dalam daftar 10 negara terpadat di dunia.
Awalnya bangsa yang pertama kali mengadakan kolonisasi di daerah ini
adalah bangsa Indian yang datang dari Asia dengan menyeberangi daerah
yang sekarang bernama selat Bering. Sekitar abad ke-16, setengah juta
orang Indian tinggal di wilayah Amerika Utara dan mayoritas tinggal di
daerah yang sekarang masuk dalam wilayah Amerika Serikat.
Benua Amerika tidak memiliki penduduk asli, karena sampai saat
ini belum ditemukan jenis manusia primitif seperti manusia Jawa atau
manusia purba. Para ahli purbakala sependapat bahwa nenek moyang
bangsa Indian adalah varietas jenis Homo Sapiens yang telah mengalami
evolusi. Menurut para ahli purbakala, bangsa Indian mulai menetap di
benua Amerika sejak zaman es sekitar 34.000-30.000 SM, setelah
mendapatkan perlengkapan pakaian hangat, kebudayaan, dan tempat
berlindung yang memadai untuk mempertahankan hidup dalam iklim
36
Cina dan ras Mongoloid (ras manusia yang sebagian besar menetap di
Asia Utara, Asia Timur, Asia Tenggara, dan Madagaskar di lepas pantai
Timur Afrika). Nenek moyang orang-orang Indian bermigrasi ke Benua
Amerika dalam kelompok-kelompok kecil secara bertahap dengan melalui
Siberia Timur, Selat Bering, kemudian menuju Alaska yang ada di Benua
Amerika bagian utara (Krisnadi, 20:2012).
Gambar 2.1
Sitting Bull, Salah satu orang Indian pada tahun 1890 Sumber http://native-american-indian-facts.com/
diakses pada 2 Maret 2017
Kehidupan suku Indian mulai berubah semenjak kedatangan orang
Eropa (Inggris, Spanyol dan Prancis) ke daerah mereka pada tahun
1600-an di wilayah Amerika Utara. Sejak saat itu, telah b1600-anyak
kelompok-kelompok orang Eropa datang ke Dunia Baru (Amerika) dengan alasan
37
tersebar di wilayah-wilayah Amerika. Prancis memiliki koloni di Kanada,
Quebec, Great Lake, Lousiana dan Lembah Ohio, Spanyol memiliki
koloni di Florida, Meksiko, dan Inggris memiliki koloni yang berada di
sepanjang pantai timur Samudra Atlantik. Mereka datang ke Benua
Amerika didesak oleh beragam alasan dan ditempat baru mereka harus
membina suatu peradaban baru di atas sebuah benua yang semula liar.
Proses ini berlangsung selama lebih dari tiga abad (abad XVI-XVIII)
(Krisnadi, 66:2012).
Semenjak kedatangan koloni-koloni bangsa Eropa, telah terjadi
banyak hal di Amerika, seperti pada tahun 1613 terjadi perang perebutan
koloni antara kolonis Prancis dengan Inggris, dan masih banyak perang
lainnya yang terjadi hingga tahun 1763. Sampai akhirnya di bawah
pimpinan Goerge Washington, Amerika berhasil memproklamasikan
kemerdekaan pada 4 Juli 1776. Akhirnya pada tahun 1778, Prancis
menjadi salah satu negara Eropa yang pertama kali memberikan dukungan
kepada Amerika, dan satu tahun kemudian, Spanyol juga memberikan
dukungan terhadap terbentuknya negara Amerika Serikat. Pada tahun 1876
Prancis memberikan sebuah patung kebebasan kepada Amerika Serikat
yang diberi nama patung Liberty dan patung tersebut dipersembahkan oleh
rakyat Prancis sebagai hadiah ulang tahun kemerdekaan Amerika yang ke
100 (Richard dalam Krisnadi,, 115-116:2012).
Amerika Serikat telah terbentuk dan merdeka, seperti yang sudah
38
berdatangan dari berbagai penjuru dunia hingga saat ini (Chitwood dan
Owsley, 1945:7,41). Amerika Serikat selama beberapa tahun lamanya
telah menjadi tanah harapan bagi para kaum imigran yang datang dari
berbagai negara. George Washington mengatakan “Dada Amerika terbuka
untuk menerima tidak hanya tamu asing terhormat dan kaya, melainkan
juga manusia yang tertindas dan dikejar-kejar dari segala bangsa maupun
agama” (Arthur, 1990:88). Seperti cerita dalam film The Good Lie, para
korban perang yang beruntung akan mendapat kesempatan untuk menjadi
imigran ke Amerika, dan mereka menganggap jika di Amerika merupakan
kehidupan kedua mereka.
Hingga pada detik ini, semakin banyak orang yang berasal dari
berbagai negara di penjuru dunia datang dan tinggal menetap di Amerika,
hal tersebut menjadikan Amerika semakin memiliki beragam budaya.
Hubungan antar etnis di Amerika pada awalnya kurang baik, karena alasan
para imigran tersebut datang ke Amerika berbeda satu dengan lainnya, ada
yang beralasan karena ekonomi, politik, budaya, dan lainnya. Hal tersebut
menjadi salah satu alasan ketidak harmonisan antar etnis yang ada di
Amerika. Namun hal tersebut semakin lama semakin dapat dipahami
karena mereka mulai beradaptasi dengan baik dan dapat hidup
berdampingan hingga saat ini.
Beragam etnis yang datang dan tinggal di Amerika membuat
Amerika semakin lama menjadi negara yang multicultur dan liberal