ABSTRACT
THE INFLUENCE OF FAMILY, PEERS, NEIGHBORS ENVIRONMENT ON THE DEVIANT BEHAVIOUR OF SCHOOL AGE CHILDREN
WHO WORK AS SCAVENGER
(A Case Studies at District III of Tanjung Karang, Central Tanjung Karang, Bandar Lampung)
by Anga Resmana
This study was conducted to investigate the influence of family environment, peers, and neighbors on deviant behavior of school age scavengers. It was
conducted at Environment III of Tanjung Karang, Central Tanjung Karang Bandar Lampung. The type of this research is quantitative study which used survey
methods. There had been chosen 22 persons as sample of the study. The data collection techniques used was questionnaires and interviews.
Based on the analysis and result of the research, it can be seen that there is an influence between the numbers of hours in which elementary school age child scavenger interact with his family and their deviant behavior. The higher the number of hours spent with their family, the smaller the level of their deviant behavior. There is no effect between the number of hours spent with either peers or neighbors and their deviant behavior. It is concluded that the family has a very big role to develop the child's personality.
ABSTRAK
PENGARUH LINGKUNGAN KELUARGA, TEMAN SEBAYA, DAN TETANGGA TERHADAP PERILAKU MENYIMPANG ANAK USIA SEKOLAH
DASAR YANG BEKERJA SEBAGAI PEMULUNG
(Studi Kasus Di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang Kecamatan Tanjung Karang Pusat, Bandar Lampung)
Oleh
Angga Resmana
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lingkungan keluarga, teman sebaya, dan tetangga terhadap perilaku menyimpang pemulung anak usia Sekolah Dasar . Penelitian ini dilakukan di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang Kecamatan Tanjung Karang Pusat Bandar Lampung. Tipe penelitian ini adalah kuantitatif, dengan menggunakan metode survey. Sampel penelitian ini berjumlah 22 sampel. Teknik pengumpulan data dengan cara kuesioner dan wawancara.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis diketahui bahwa terdapat pengaruh antara jumlah jam berkumpul pemulung anak usia Sekolah Dasar dengan keluarganya terhadap perilaku menyimpang mereka, semakin tinggi jumlah jam berkumpul dengan keluarganya maka semakin kecil pula tingkat perilaku menyimpang yang dilakukan. Tidak ada
pengaruh jumlah jam bermain dan berkumpul pemulung anak usia Sekolah Dasar dengan teman sebaya dan lingkungan tetangga terhadap perilaku menyimpang mereka. Hal tersebut menunjukkan bahwa lingkungan keluarga sangat besar perannya guna mengembangkan kepribadian anak.
PENGARUH LINGKUNGAN KELUARGA, TEMAN SEBAYA, DAN TETANGGA TERHADAP PERILAKU MENYIMPANG ANAK USIA
SEKOLAH DASAR YANG BEKERJA SEBAGAI PEMULUNG (Studi Kasus Di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang Kecamatan
Tanjung Karang Pusat, Bandar Lampung)
Oleh
Angga Resmana
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Sosiologi
Pada
Jurusan Sosiologi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS LAMPUNG
PENGARUH LINGKUNGAN KELUARGA, TEMAN SEBAYA, DAN TETANGGA TERHADAP PERILAKU MENYIMPANG ANAK USIA
SEKOLAH DASAR YANG BEKERJA SEBAGAI PEMULUNG (Studi Kasus Di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang Kecamatan
Tanjung Karang Pusat, Bandar Lampung)
(Skripsi)
Oleh Angga Resmana
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS LAMPUNG
2. Wawancara ... 33
3. Kepustakaan ... 33
IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Sejarah Perkembangan Kelurahan Tanjung Karang ... 34
1. Penyebab Perkelahian ... 62
2. Sanksi Jika Ketahuan Melakukan Perkelahian ... 63
F. Tindakan Pencurian ... 64
1. Penyebab Pencurian ... 65
2. Hukuman yang Diberikan Ketika Ketahuan Mencuri ... 65
G. Tindakan Perjudian ... 66
1. Penyebab Perjudian ... 67
2. Barang Taruhan Perjudian ... 68
3. Hukuman yang Diberikan Bila Ketahuan Berjudi ... 69
H. Tindakan Pemerasan ... 70
1. Penyebab Pemerasan ... 70
2. Target Pemerasan ... 71
3. Hukuman yang Diberikan Ketika Ketahuan Memeras ... 73
I. Pengaruh Lingkungan Sosial terhadap Perilaku Menyimpang ... 74
VI. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 81
B. Saran ... 82
DAFTAR TABEL
Tabel
Halaman
1. Tindak Kerawanan Sosial Pemulung Anak Usia Sekolah Dasar
di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang, Tahun 2010 …... 3
2. Jumlah Anak Usia Sekolah Dasar yang menjadi Pemulung di
Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang tahun 2010/2011 ... 29
3. Tabel Frekuensi ... 31
4. Komposisi Penduduk menurut Umur Kelurahan Tanjung Karang,
Tahun 2010 ... 38
5. Komposisi Penduduk Kelurahan Tanjung Karang menurut Agama,
Tahun 2010 ... 39
6. Komposisi Penduduk Kelurahan Tanjung Karang menurut Mata
Pencaharian, Tahun 2010 ... 40
7. Komposisi Penduduk Kelurahan Tanjung Karang menurut Tingkat
Pendidikan, Tahun 2010... 41
8. Fasilitas Ibadah di Kelurahan Tanjung Karang, Tahun 2010. ... 42
9. Fasilitas Pendidikan di Kelurahan Tanjung Karang, Tahun 2010 ... 43
10. Fasilitas Olahraga di Kelurahan Tanjung Karang, Tahun 2010 ………….44
11. Fasilitas Hiburan di Kelurahan Tanjung Karang, Tahun 2010 ... 44
12. Fasilitas Komunikasi di Kelurahan Tanjung Karang, Tahun 2010. ... 45
13. Fasilitas Jasa dan Usaha di Kelurahan Tanjung Karang, Tahun 2010 .... 46
14. Jenis Kelamin Pemulung Anak Usia Sekolah Dasar di Lingkungan
16. Agama yang Dianut Pemulung Anak Usia Sekolah Dasar di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang, Tahun 2012. ... 50
17. Jumlah Jam Berkumpul Pemulung Anak Usia Sekolah Dasar dengan Keluarganya di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang,
Tahun 2012. ... 51
18. Tingkat Komunikasi Pemulung Anak Usia Sekolah Dasar di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang dengan Keluarganya, Tahun 2012. ... 52
19. Permasalahan yang Biasa Dikonsultasikan Pemulung Anak Usia Sekolah Dasar di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang
dengan Orangtuanya, Tahun 2012. ... 53
20. Sikap dan Tindakan Pemulung Anak Usia Sekolah Dasar di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang ketika Berselisih Faham dengan
Orangtuanya, Tahun 2012. ... 54
21. Jumlah Jam Bermain Pemulung Anak Usia Sekolah Dasar di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang dengan Teman Sebaya, Tahun 2012... 56
22. Aktifitas Pemulung Anak Usia Sekolah Dasar di Lingkungan III
Kelurahan Tanjung Karang dengan Teman Sebayanya, Tahun 2012. .... 57
23. Jumlah Jam Berkumpul Pemulung Anak Usia Sekolah Dasar di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang dengan Tetangga, Tahun 2012. ... 58
24. Pembicaraan Pemulung Anak Usia Sekolah Dasar di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang ketika Berkumpul dengan Tetangga, Tahun 2012. ... 59
25. Tanggapan Tetangga tentang Pekerjaan sebagai Pemulung bagi Anak Usia Sekolah Dasar di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang,
Tahun 2012. ... 60
26. Jenis Bantuan yang Biasa Diberikan Tetangga kepada Para Pemulung Anak Usia Sekolah Dasar di Lingkungan III Kelurahan Tanjung
Karang, Tahun 2012. ... 61
27. Penyebab Perkelahian Pemulung Anak Usia Sekolah Dasar di
29. Penyebab Pencurian yang Dilakukan Pemulung Anak Usia Sekolah
Dasar di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang, Tahun 2012. ... 65
30. Hukuman yang Diberikan Orangtua Kepada Pemulung Anak Usia Sekolah Dasar di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang ketika
Ketahuan Mencuri, Tahun 2012. ... 66
31. Penyebab Perjudian Pemulung Anak Usia Sekolah Dasar di
Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang, Tahun 2012. ... 67
32. Barang yang Menjadi Taruhan dalam Perjudian Pemulung Anak Usia Sekolah Dasar di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang,
Tahun 2012. ... 68
33. Hukuman yang Diberikan Kepada Pemulung Anak Usia Sekolah Dasar di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang ketika Ketahuan Berjudi, Tahun 2012... 69
34. Penyebab Pemerasan yang Dilakukan Pemulung Anak Usia Sekolah Dasar di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang, Tahun 2012. ... 71
35. Target Pemerasan Pemulung Anak Usia Sekolah Dasar di
Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang, Tahun 2012. ... 72
36. Hukuman yang Diberikan ketika Pelaku Pemerasan Pemulung Anak Usia Sekolah Dasar di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karag
Tertangkap, Tahun 2012. ... 73
37. Pengaruh Jumlah Jam Berkumpul Keluarga terhadap Perilaku Menyimpang Pemulung Anak Usia Sekolah Dasar di
Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang. ... 74
38. Rank Spearmen Pengaruh Jumlah Jam Berkumpul Keluarga terhadap Perilaku Menyimpang Pemulung Anak Usia Sekolah Dasar di
Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang. ... 76
39. Pengaruh Jumlah Jam Bermain dengan Teman Sebaya terhadap Perilaku Menyimpang Pemulung Anak Usia Sekolah Dasar di
Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang. ... 76
42. Rank Spearmen Pengaruh Jumlah Jam Berkumpul dengan Tetangga terhadap Perilaku Menyimpang Pemulung Anak Usia Sekolah
Motto
Kebaikan Tidak Bernilai Selama diucapkan,
akan Tetapi Bernilai Sesudah
Dikerjakan...
MENGESAHKAN
1. Tim Penguji
Ketua : Drs. I Gede Sidemen, M.Si ...
Penguji Utama : Dra. Yuni Ratna Sari, M.Si …...
2. Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Drs. Agus Hadiawan, M.Si NIP. 19580109 198603 1 002
Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Karya tulis saya, Skripsi adalah asli dan belum pernah diajukan untuk mendapatkan gelar akademik (Megister/ Sarjana/ Ahli Madya), baik di Universitas Lampung maupun diperguruan tinggi lain.
2. Karya tulis ini murni gagasan, rumusan dan penelitian saya sendiri, tanpa bantuan pihak lain, kecuali arahan Tim Pembimbing dan Penguji.
3. Dalam karya tulis ini tidak terdapat karya atau pendapat yang telah ditulis atau dipublikasikan orang lain, kecuali secara tertulis dengan jelas dicantumkan dalam daftar pustaka.
4. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila dikemudian hari terdapat penyimpangan dan ketidak benaran dalam pernyataan ini, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan gelar yang telah diperoleh karena karya tulis ini, serta sanksi lainnya sesuai dengan norma yang berlaku di Universitas Lampung.
Bandar Lampung, Oktober 2012 Yang Membuat Pernyataan,
Alhamdulillah Ya Allah.,
Rasa Syukur Penulis Ucapkan Atas Segala Limpahan
Karunia yang Tiada Ujungnya.,
Kupersembahkan karya sederhana ini untuk kedua
orangtuaku tercinta Ayahanda Sahirdin Ilyas dan Ibunda
Murnila Devi, yang selalu mendoakan, memberikan cinta dan
kasih sayang serta pengorbanan yang tiada henti.,
Adik-adikku Feby, Nia, dan Rani yang telah mendukung serta
memberi motivasi kepada penulis., ☺
OVERTURE Band Denny Mbol, Dimas Purnama, Muse,
dan Agung, Terima Kasih Supportnya selama ini., ☺
Sahabat-sahabatku, Rijal Pratamasuli, Oca, Magenggong dll.
Judul Skripsi : Pengaruh Lingkungan Keluarga, Teman Sebaya, dan Tetangga terhadap Perilaku Menyimpang Anak Usia Sekolah Dasar yang Bekerja Sebagai Pemulung (Studi Kasus di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang Kecamatan Tanjung Karang Pusat Bandar Lampung)
Nama Mahasiswa : Angga Resmana
No. Pokok Mahasiswa: 0716011027
Jurusan : Sosiologi
Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
MENYETUJUI 1. Komisi Pembimbing
Drs. I Gede Sidemen, M.Si NIP. 19580415 198603 1 004
2. Ketua Jurusan Sosiologi
RIWAYAT HIDUP
Sekilas perjalanan hidup seorang laki-laki yang tak kan pernah lelah untuk menjemput impiannya. Pada tanggal 19 February 1988 Penulis bernama Angga Resmana dilahirkan, tepatnya di Kota Lhokseumawe Aceh Utara dan merupakan anak pertama dari empat bersaudara.
Perjalanan pendidikan yang penulis tempuh sungguh sangat rumit dan berliku-liku. Pada usia 5 tahun penulis pengawali pendidikannya di TK Malikusaleh Lhokseumawe selama 1 tahun, lalu melanjutkan pendidikan dasar pada SDN 12 Lhokseumawe pada tahun 1994. Dalam masa perjalanan Sekolah Dasar penulis mengalami 3 kali perpindahan sekolah yang dikarenakan orangtua mendapatkan tugas keluar provinsi. Pada kelas 4 SD penulis pindah ke SDN 3 Mekar Jaya Depok II Tengah, lalu pada kelas 6 penulis pindah ke SDN 1 Pabuaran Bogor hingga lulus pada tahun 2001.
Setelah lulus dari SD, penulis melanjutkan pendidikan di SLTP Karya Bhakti Bogor pada tahun 2001. Pada masa ini pula penulis sempat mengalami perpindahan sekolah ke SLTP Negeri 3 Lhokseumawe hingga kelulusannya pada tahun 2004.
Setelah itu penulis melanjutkan pendidikan ke SMAN 1 Lhokseumawe, dan
dikarenakan orangtua kembali bekerja diluar provinsi yaitu Bandar Lampung, maka penulis pun kembali mengalami perpindahan sekolah ke SMAN 3 Bandar Lampung pada kelas 1 semester 2 hingga lulus pada tahun 2007.
Penulis kemudian melanjutkan lagi pendidikannya pada Tahun 2007, dan terdaftar pada Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung. Melalui Jalur UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri) yang
SANWACANA
Assalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh..
Alhamdulillahirobbilalamin, penulis panjatkan puji dan syukur atas kehadirat
Allah SWT karena atas segala rahmat dan hidayah-Nyalah penulis dapat
menyelesaikan skripsi yang berjudul:
”PENGARUH LINGKUNGAN KELUARGA, TEMAN SEBAYA, DAN
TETANGGA TERHADAP PERILAKU MENYIMPANG ANAK USIA
SEKOLAH DASAR YANG BEKERJA SEBAGAI PEMULUNG ”.
Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar Sarjana pada
Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Lampung.
Pada kesempatan kali ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dan
bantuan hingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih penulis
sampaikan kepada:
1. Bapak Drs. Agus Hadiawan, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik Universitas Lampung.
2. Bapak Drs. Susetyo, selaku Ketua Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik.
3. Bapak Drs. I Gede Sidemen M.Si, selaku Pembimbing Utama yang telah
banyak memberikan bimbingan, saran, kritik, kesabaran, serta meluangkan
5. Bapak Drs. Gunawan Budi Kahono selaku Pembimbing Akademik.
6. Bapak dan Ibu dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Lampung yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan dengan segala
ketulusannya.
7. Seluruh staf dan karyawan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Lampung yang telah banyak membantu penulis dalam melakukan
administrasi.
8. Seluruh Masyarakat Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang Bandar
Lampung, yang telah banyak membantu dan memudahkan dalam
penyusunan skripsi ini.
9. Kedua orangtua, Papa Sahirdin Ilyas, dan Mama Murnila Devi, terima kasih
buat do’a, motivasi dan pengorbanan kalian selama ini, maaf hanya karya
sederhana ini yang bisa Angga kasih buat papa sama mama, semoga kelak
Angga bisa buat papa sama mama bangga. Semua ini tidak ada artinya tanpa
perjuangan kalian.
10. Buat Papa Anton, Mama Devi, dan keluarga.
11. Overture Band, Denni Mbol, Dimas, Muse, dan Agung.
12. Sahaba-sahabatku Rijal dan Magenggong Community.
13. Buat sahabatku The SosCrotdz gang, Enda, Martin, Yoga, Sany, Rizky. Dan
The SosCrotdz Girls, Anggun, Yessi, Vanni dll.
14. Teman-teman Hmj Sosiologi 2007, Sulton, Wawang, Yanto, Junian, Satria,
lain yang namanya tidak tersebutkan. Makasi atas dukungannya selama ini
.
15. Adik-adik dan Kakak-kakak Hmj Sosiologi.
16. Kepada semua pihak yang telah turut memberikan bantuan yang tidak dapat
disebutkan satu per satu.
Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Wassalamualaikum, warohmatullahi wabarakatuh.
Bandar Lampung, Oktober 2012
Penulis,
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pesatnya kemajuan tehnologi di bidang industri akan berdampak positif maupun
negatif bagi masyarakat, khususnya pada keluarga yang tergolong miskin karena
kebanyakan dari mereka memiliki tingkat pendidikan yang rendah, baik penduduk
yang lahir dan tinggal di kota maupun pendatang yang gagal mendapatkan
pekerjaan di sektor formal. Ini disebabkan karena untuk dapat bekerja di sektor
formal, mereka harus memiliki syarat-syarat tertentu, diantaranya pendidikan dan
keterampilan yang umumnya jarang dimiliki oleh keluarga yang tergolong miskin.
Masyarakat yang tidak dapat bekerja di sektor formal pada umumnya terpaksa
mencari pekerjaan di sektor informal hanya untuk dapat mempertahankan
kelangsungan hidup di kota. Sektor informal merupakan sektor pekerjaan yang
mudah untuk dimasuki tanpa harus memiliki persyaratan-persyaratan tertentu,
seperti tidak ditentukannya tingkat pendidikan, pengalaman kerja, keahlian
tertentu, dan lain sebagainya. Oleh karena itu sektor informal dianggap oleh
masyarakat sebagai sektor yang paling mudah dimasuki, salah satu profesi di
sektor informal ini adalah pemulung.
Pemulung ini pekerjaannya adalah mengumpulkan barang-barang bekas atau
Untuk menjadi pemulung, memang tidak diperlukan tingkat pendidikan yang
tinggi, keterampilan yang khusus, maupun modal yang besar.
Pemulung dapat memanfaatkan dan mendapatkan keuntungan dari sampah yang
oleh masyarakat dianggap sebagai sesuatu yang tidak berguna lagi, terutama bagi
yang membuangnya dan dapat mengotori lingkungan sekitarnya. Kehidupan
masyarakat yang bekerja di sektor informal ternyata tidak dapat membuat
hidupnya lebih baik dari sebelumnya, kehidupan kota membuat mereka terjebak
dalam kemiskinan.
Kita juga menyadari bahwa kemiskinan itu merupakan suatu masalah yang sudah
lama ada, dan bahwa pembicaraan masalah kemiskinan itu merupakan masalah
sosial di perkotaan, seperti banyaknya gubuk-gubuk liar yang berdiri dan
mengelompok di pinggiran kota, bahkan membentuk perkampungan kumuh.
Akibat dari kondisi ini, masalah yang sering terjadi antara lain pemandangan kota
menjadi sangat kotor, sering terjadi banjir, berjangkitnya bermacam-macam
penyakit, serta tindak kejahatan misalnya pencurian dan perjudian. Perilaku yang
seperti itu merupakan contoh dari perilaku menyimpang..
Kondisi yang demikian juga terjadi di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang
Kecamatan Tanjung Karang Pusat yang akan menjadi lokasi penelitian ini. Tidak
sedikit dari keluarga yang hidup di lingkungan ini tergolong dalam keluarga
miskin sehingga masih ada diantara mereka yang anggota keluarganya tidak
Dalam kehidupan sehari-hari, di Lingkungan III sering terjadi
pelanggaran-pelanggaran sosial berupa perkelahian, pencurian, dan pemerasan, yang
berdasarkan observasi penulis, penyimpangan-penyimpangan tersebut dilakukan
oleh pemulung, khususnya pemulung anak usia Sekolah Dasar, seperti terlihat
pada tabel berikut ini:
Tabel I. Tindak Kerawanan Sosial Pemulung Anak Usia Sekolah Dasar di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang, Tahun 2010
No Jenis Kejahatan/Pelanggaran Jumlah Kasus/Pelaku
1 Perkelahian 8
2 Pencurian 9
3 Perjudian 5
4 Pemerasan 3
Sumber: Data Kerawanan Sosial di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang Tahun 2010.
Tabel di atas menunjukkan adanya tindak kejahatan/pelanggaran dan keragaman
perilaku menyimpang pemulung yang berusia Sekolah Dasar di Lingkungan III
Kelurahan Tanjung Karang. Kejahatan pencurian merupakan tindakan atau
perilaku yang menyimpang dengan melakukan pengambilan harta atau benda
milik seseorang atau kelompok tanpa izin si pemilik. Kejahatan pencurian ini
merupakan kasus yang paling sering terjadi di Lingkungan III Kelurahan Tanjung
Karang, khususnya yang dilakukan oleh pemulung anak usia Sekolah Dasar.
Meskipun pencurian yang dilakukan oleh para pemulung tersebut bukan
merupakan kasus yang berat (contohnya mengambil sandal yang berada di depan
pintu rumah orang lain, yang oleh pemiliknya dianggap masih layak dipakai dan
masih dapat dipergunakan), namun kasus seperti ini bukan merupakan kasus yang
dapat dibiarkan begitu saja karena akan berdampak buruk pula bagi si pemulung
dilakukan oleh pemulung ini adalah kerugian material bagi korban dan keresahan
bagi masyarakat sekitar.
Tindak kejahatan perkelahian yang terjadi di antara sesama pemulung anak usia
Sekolah Dasar antara lain karena saling berebut barang rongsokan yang berasal
dari bak sampah atau barang yang masih dimiliki oleh orang lain.
Perkelahian merupakan tindak kejahatan kedua yang sering terjadi di lingkungan
para pemulung setelah tindak kejahatan pencurian. Ada beberapa faktor yang
diduga melatarbelakangi tindak kejahatan/pelanggaran tersebut, antara lain kurang
diamalkannya nilai-nilai agama, tingkat pendidikan yang rendah, pengaruh
lingkungan, dan kurangnya bimbingan orang tua.
Kurang diamalkannya nilai-nilai agama merupakan faktor yang mempengaruhi
seseorang dalam melakukan tindak kejahatan. Jika manusia taat mengamalkan
segala ajaran agamanya, kemungkinan besar ia akan hidup teratur di dunia.
Keteraturan hidup tersebut akan menjamin keamanan, ketentraman, dan
kedamaian di dalam masyarakat.
Tingkat pendidikan yang rendah merupakan faktor lain yang diduga
melatarbelakangi terjadinya tindak kejahatan/pelanggaran, hal ini seperti
diungkapkan oleh Russell (1993: 2), bahwa “perbedaan kelas hanya membuahkan
sikap arogan di satu pihak dan rendah diri di lain pihak”. Pendidikan sebagai hak
asasi manusia secara individu, diakui dalam Undang-Undang Dasar 1945
amandemen ke-4 pasal 31 ayat 1 yang menyatakan bahwa “setiap warga negara
pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu Sistem Pendidikan
Nasional (SPN) yang bertujuan meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta
akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, sehingga orang tua,
masyarakat, maupun pemerintah bertanggungjawab dalam usaha mencerdaskan
kehidupan bangsa melalui pendidikan.
Pengaruh lingkungan yang buruk juga mendorong manusia untuk dapat
melakukan tindakan-tindakan yang dapat merugikan dan meresahkan masyarakat
sekitar. Lingkungan pergaulan yang kurang baik akan berpengaruh pada
perkembangan jiwa seseorang, hal-hal yang tidak baik yang diterimanya dalam
interaksi menjadi hal yang biasa baginya. Lingkungan dan pergaulan yang tidak
baik memberi pengaruh kepada seseorang untuk melakukan kejahatan, sebab
seseorang akan berfikir dan menimbang berkali-kali untuk melakukan kejahatan
dan kekerasan.
Orangtua atau keluarga merupakan lingkungan terdekat yang berperan untuk
membesarkan, mendewasakan, dan memberikan pendidikan yang pertamakali
kepada anak-anak. Oleh karena itu keluarga memiliki peranan yang penting dalam
perkembangan mental dan kepribadian anak itu sendiri. Dengan demikian, jelas
bahwa latar belakang keluarga yang tidak baik dapat mempengaruhi seseorang
untuk melakukan tindak kejahatan/pelanggaran.
Penelitian ini akan difokuskan pada perilaku melanggar atau menyimpang
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dengan ini penulis mencoba
menuangkan dalam penelitian tentang “Pengaruh Lingkungan Keluarga, Teman
Sebaya, dan Tetangga terhadap Perilaku Menyimpang Pemulung Anak Usia
Sekolah Dasar di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang Kecamatan Tanjung
Karang Pusat Bandar Lampung”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka untuk mempermudah proses
penelitian dibuat suatu rumusan masalah sebagai berikut:
“Apakah ada pengaruh lingkungan keluarga, teman sebaya, dan tetangga
terhadap perilaku menyimpang pemulung anak usia Sekolah Dasar di
Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang?
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka yang menjadi tujuan
penelitian ini adalah untuk menjelaskan hubungan antara kondisi
lingkungan sosial dengan perilaku menyimpang pemulung anak usia
Sekolah Dasar.
2. Kegunaan Penelitian
a. Kegunaan Teoritis
Penelitian tentang masalah perilaku menyimpang pemulung anak usia
sosial, khususnya ilmu Sosiologi yang mengkaji masalah hukum dan
ketertiban sosial.
b. Kegunaan Praktis
Sebagai calon sarjana Sosiologi, hasil penelitian ini dapat dijadikan
pengetahuan dan suplemen materi sehingga pengetahuan tentang
masalah yang dibahas akan lebih jelas.
Sebagai bahan informasi bagi instansi terkait dalam upaya peningkatan
mutu pendidikan dan sebagai bahan informasi bagi masyarakat agar
mereka dapat memberikan informasi kepada siswa untuk lebih
termotivasi belajar dan dapat meminimalisir pengaruh negatif yang
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Lingkungan Sosial
Lingkungan sosial merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi seseorang atau kelompok untuk dapat melakukan sesuatu tindakan serta perubahan-perubahan perilaku setiap individu. Lingkungan sosial yang kita kenal antara lain lingkungan keluarga, lingkungan teman sebaya, dan lingkungan tetangga. Keluarga merupakan lingkungan sosial yang pertamakali dikenal oleh individu sejak lahir.
Ayah, ibu, dan anggota keluarga, merupakan lingkungan sosial yang secara langsung berhubungan dengan individu, sedangkan masyarakat adalah lingkungan sosial yang dikenal dan yang mempengaruhi pembentukan kepribadian anak, yang salah satu diantaranya adalah teman sepermainan.
Menurut Amsyari (1986: 12) lingkungan sosial merupakan “manusia-manusia lain yang ada di sekitarnya seperti tetangga-tetangga, teman-teman, bahkan juga orang lain di sekitarnya yang belum dikenal”.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan lingkungan sosial adalah segala sesuatu yang terdapat di sekitar manusia yang dapat memberikan pengaruh pada manusia tersebut, serta manusia-manusia lain yang ada di sekitarnya, seperti tetangga-tetangga, teman-teman, bahkan juga orang lain di sekitarnya yang belum dikenal sekalipun.
Dapat dimasukkan ke dalam lingkungan sosial adalah semua manusia yang ada di sekitar seseorang atau di sekitar kelompok. Lingkungan sosial ini dapat berbentuk perorangan maupun dalam bentuk kelompok keluarga, teman sepermainan, tetangga, warga desa, warga kota, bangsa, dan seterusnya (Yudistira, 1997: 57).
Menurut Vembriarto (1984: 36) pengertian lingkungan keluarga adalah “kelompok sosial kecil yang umumnya terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Hubungan sosial di antara anggota keluarga relatif tetap yang didasarkan atas ikatan darah, perkawinan, atau adopsi. Hubungan antara anggota keluarga umumnya dijiwai oleh suasana afeksi dan rasa tanggungjawab, karena itu keluarga merupakan kelompok sosial terkecil yang sangat besar pengaruhnya terhadap proses sosialisasi dan interaksi seseorang.
komunitas belajar dimana terjadi pembentukan peran dan standar sosial yang berhubungan dengan pekerjaan dan prestasi.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa lingkungan sosial merupakan wadah atau sarana untuk berinteraksi dengan orang lain dan membentuk sebuah pribadi serta mempengaruhi tingkahlaku seseorang. Oleh karena itu lingkungan sosial yang baik akan mempengaruhi pribadi atau perilaku seseorang itu menjadi baik pula.
“Lingkungan sosial terdiri dari orang-orang, baik individual atau kelompok di sekitar manusia“ (Soekanto, 1986: 432). Lingkungan sosial tidak merupakan fungsi yang berdiri sendiri, akan tetapi saling berhubungan dan menghasilkan perilaku manusia. Abdulsyani (1987: 40-42) mengemukakan bahwa “seseorang melakukan tindakan karena faktor dari dalam dan dari luar lingkungan”.
Menurut Dalyono (1997: 246) lingkungan sosial terdiri dari:
a. Teman bergaul.
Teman bergaul pengaruhnya sangat besar dan lebih cepat masuk dalam jiwa anak, apabila anak suka bergaul dengan mereka yang tidak sekolah maka ia akan malas belajar, sebab cara hidup mereka yang bersekolah berlainan dengan anak yang tidak bersekolah.
b. Lingkungan tetangga.
c. Aktivitas dalam masyarakat.
Terlalu banyak berorganisasi atau berbagai kursus-kursus akan menyebabkan belajar anak akan menjadi terbengkalai.
Pengaruh lingkungan, terutama lingkungan sosial secara terbuka tidak hanya berupa hal-hal yang positif saja, melainkan juga meliputi efek yang negatif. Efek negatif yang timbul akibat pengaruh lingkungan sosial salah satunya adalah kepribadian yang tidak selaras atau menyimpang dari lingkungan sosial dalam bentuk kenakalan remaja, kejahatan, rendahnya rasa tanggungjawab, dan lain sebagainya yang dapat dilakukan oleh masing-masing individu. Dalam hal ini individu yang dimaksud adalah pemulung anak usia Sekolah Dasar.
Diakibatkan oleh adanya pengaruh dan perkembangan lingkungan yang tidak serasi dengan kondisi manusia atau masyarakat yang menerimanya maka tidak menghindari kemungkinan bahwa seseorang dapat melakukan tindakan-tindakan yang merugikan. Lingkungan sosial yang dimaksud dalam penelitian ini adalah:
a. Lingkungan Keluarga
Keluarga yang utuh adalah keluarga yang dilengkapi dengan anggota-anggota keluarga seperti ayah, ibu, dan anak. Sebaliknya keluarga yang pecah atau broken home terjadi karena tidak hadirnya salah satu orangtua yang disebabkan oleh kematian atau perceraian, atau tidak hadir kedua-duanya (Abu Hadi, 2002: 248).
artian fisik juga utuh dalam artian psikis. Keluarga yang utuh memiliki perhatian yang penuh atas tugas-tugas sebagai orangtua.
Menurut Yusuf (2002: 128), seorang anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang broken home, biasanya kurang harmonis, orangtua bersikap keras terhadap anak atau tidak memperhatikan nilai-nilai agama dalam keluarga sehingga perkembangan kepribadian anggota keluarganya (anak) cenderung akan mengalami distorsi atau mengalami kelainan dalam penyesuaian dirinya.
Di dalam keluarga yang pecah atau broken home, perhatian orangtua terhadap anak-anaknya sangat kurang dan antara ayah dan ibu tidak memiliki kesatuan perhatian atas putra-putrinya. Situasi yang broken home tidak menguntungkan bagi perkembangan anak (Abu Hadi, 2002: 248). Anak yang berasal dari keluarga yang broken home akan mengalami hal-hal yang sulit dan terjerumus dalam kelompok anak-anak yang nakal.
b. Teman Sebaya
mudah sekali terpengaruh oleh sifat atau perilaku kelompoknya. Teman sebaya yang dimaksud dalam penelitian ini adalah para pemulung, teman sekolah, serta preman. Mengingat bahwa teman sebaya adalah lingkungan yang juga ikut berperan dalam pembentukan kepribadian anak, bisa jadi anak akan selalu mematuhi group teman sebayanya, bahkan anak lebih suka mementingkan keperluan teman sebaya dibanding orangtuanya.
c. Tetangga atau Masyarakat
Tetangga atau masyarakat sosial pemulung yang buruk juga dapat mempengaruhi perilaku pemulung anak usia Sekolah Dasar untuk melakukan tindakan-tindakan kejahatan. Beberapa definisi masyarakat menurut Soekanto (1986: 20) adalah sebagai berikut:
1. Masyarakat merupakan suatu kesatuan dan memiliki tata cara dari wewenang sampai kerjasama antar berbagai kelompok dan penggolongan mengenai pengawasan tingkahlaku serta kebebasannya.
2. Masyarakat adalah sekelompok orang yang mendiami suatu wilayah dan hidup bersama dan menghasilkan suatu kebudayaan.
B. Perilaku Menyimpang Pemulung Anak Usia Sekolah Dasar
1. Pengertian Perilaku menyimpang
Manusia sebagai makhluk Tuhan senantiasa dibekali akal dan pikiran yang berguna untuk mengatur segala perilakunya dalam kehidupan bermasyarakat. Namun peranan keluarga dan orangtua tidak kalah pentingnya, terutama sebagai pembentuk perilaku itu sendiri bagi anak-anak, sebab keluarga merupakan lembaga sosial yang pertama dalam kehidupan mereka. Dari sanalah anak-anak berhubungan dan berinteraksi untuk pertamakali dengan orangtua mereka.
Perilaku menyimpang adalah perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan atau kepatutan, baik dalam sudut pandang kemanusiaan (agama) secara individu maupun pembenarannya sebagai bagian daripada makhluk sosial.
Definisi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia perilaku menyimpang diartikan sebagai tingkah laku, perbuatan, atau tanggapan seseorang terhadap lingkungan yang bertentangan dengan norma-norma dan hukum yang ada di dalam masyarakat.
Menurut Merton (dalam Soekanto, 1987: 78) penyimpangan perilaku adalah ketidakserasian antara tindakan dengan saluran yang menjadi tujuan, dimana manusia atau individu lebih mementingkan nilai sosial budaya yang baru daripada kaidah-kaidah yang telah ada.
a. Pelanggaran dalam bentuk norma, seperti:
1. Cara berpakaian yang tidak senonoh tanpa memperdulikan orang lain yang melihatnya.
2. Berlaku tidak jujur atau berbohong kepada orangtua. 3. Tidak bertegur sapa terhadap sesamanya.
4. Berlaku tidak terpuji, tidak jujur pada orang lain, dan tidak menjaga kesuciannya.
b. Pelanggaran dalam bentuk sosial, seperti: 1. Menjelek-jelekkan nama orangtua.
2. Bergaul dengan orang yang memiliki reputasi yang tidak layak (penjudi, germo, pemabuk, penodong, pembunuh, dan sebagainya).
3. Berbelanja atau makan tidak membayar. 4. Mabuk-mabukan atau mengkonsumsi miras.
c. Kenakalan yang tergolong pelanggaran hukum, seperti:
1. Pencurian, pencopetan, pemerasan, dan pengrusakan milik orang lain. 2. Penipuan kepada orang lain.
3. Perjudian, pemerkosaan, pembunuhan, mengedarkan gambar porno, dll.
d. Kenakalan dalam bentuk kasus, seperti:
1. Berhubungan seks bebas tanpa memperdulikan norma agama. 2. Ikut dalam organisasi agama yang menyesatkan.
Menurut Wilnes dalam bukunya Punishment and Reformation sebab-sebab penyimpangan/kejahatan dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut :
1. Faktor subjektif adalah faktor yang berasal dari seseorang itu sendiri (sifat pembawaan yang dibawa sejak lahir).
2. Faktor objektif adalah faktor yang berasal dari luar (lingkungan). Misalnya keadaan rumah tangga, seperti hubungan antara orang tua dan anak yang tidak serasi.
Semua manusia dalam bertingkahlaku pada dasarnya dimotivasi oleh dua kebutuhan yang saling berkaitan satu sama lain. Dua kebutuhan yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1. Kebutuhan untuk diterima oleh kelompok atau orang lain.
2. Kebutuhan untuk menghindar dari penolakan orang lain (Mapiare, 1982: 130).
Tingkahlaku atau perilaku anak yang tidak baik dimungkinkan karena anak tidak perduli terhadap norma-norma yang ada dalam keluarga, sebaliknya tingkahlaku atau perilaku yang baik dimungkinkan karena mendapat kasihsayang yang wajar dari orangtua dan mematuhi norma-norma yang ada dalam keluarga.
bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai penghayatan terhadap objek.
2. Pemulung
Pekerjaan sektor informal merupakan pekerjaan yang sangat mudah dijalani oleh perorangan karena di sektor ini tidak diperlukan tingkat pendidikan dan keterampilan. Salah satu profesi di sektor informal ini adalah pemulung. Pemulung adalah orang yang memungut barang-barang bekas atau sampah tertentu untuk proses daur ulang. Pekerjaan pemulung sering dianggap memiliki konotasi negatif.
Pemulung adalah kelompok sosial yang kerjanya mengumpulkan atau memilah barang yang dianggap berguna dari sampah, baik yang ada di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) maupun diluar TPA. Adapun jenis barang bekas yang diambil pemulung adalah sebagai berikut:
1. Besi bekas
Barang bekas yang telah berkumpul kemudian dipisah-pisahkan menurut jenisnya, sebelum akhirnya dijual kepada pedagang barang bekas atau lapak.
Lapak atau penampung adalah orang yang mempunyai modal atau dukungan modal untuk membeli beberapa jenis, atau satu jenis barang bekas dari Pemulung. Jasa lapak selain sebagai pembeli tetap adalah ia menanggung sarana transportasi untuk mengambil barang bekas dari pemukiman liar, sehingga para Pemulung yang menjadi anak buahnya tidak perlu menanggung ongkos angkutan.
Para pedagang atau lapak selanjutnya menjual barang bekas ke industri atau pabrik yang menggunakan bahan baku produksinya dari barang bekas secara langsung maupun melalui pihak perantara (agen atau supplier). Dalam memilah barang sebanyak-banyaknya tentunya dengan alat bantu yang berupa:
1. Gerobak/roda dua
Alat ini sangat berfungsi sekali untuk mencari dan mengais barang yang berguna, sehingga dengan memakai Gerobak/roda dua Pemulung dapat mencari barang sebanyak-banyaknya.
2. Karung
Biasanya alat ini dipakai supaya lebih praktis, karena dengan memakai karung bisa masuk ke gang-gang sempit. Dan kebanyakan yang memakai dengan alat karung mayoritas anak-anak kecil. Kekurangan dengan memakai alat ini (karung) hasil dari pilahannya sangat minim.
meminjamkan uang ke mereka dan memotong uang pinjaman tersebut saat membeli barang dari pemulung. Pemulung berbandar hanya boleh menjual barangnya ke bandar. Tidak jarang bandar memberi pemondokan kepada pemulung, biasanya di atas tanah yang didiami bandar, atau di mana terletak tempat penampungan barangnya.
Pemulung adalah cermin dari kemiskinan dan bukan penyebab kemiskinan. Pemulung adalah sekelompok manusia yang terpaksa menciptakan lapangan kerja bagi dirinya sendiri yang disebabkan oleh struktur ekonomi yang memprihatinkan.
Interaksi sosial atau hubungan yang terjadi antar sesama pemulung dapat berupa kegiatan tolong menolong dan tukar menukar pengetahuan tentang memulung yang bersifat kerjasama. Garna (1982: 40) menyatakan bahwa hubungan sesama pelaku dalam lapisan para pemulung dibatasi oleh tempat mereka melakukan aktivitasnya, dapat dikatakan tidak ada hubungan dari lapisan itu yang bersifat horizontal, kalaupun ada, hubungan itu hanya berlangsung pada lokasi para pemulung beraktivitas.
Garna (1982: 37) juga memberi batasan tentang pemulung atau tukang mulung sebagai mereka yang bermatapencaharian utama atau sambilan dari memungut dan mengumpulkan barang-barang bekas atau rongsokan yang telah dibuang oleh pemilik aslinya. Sumber untuk memungut barang-barang itu adalah bak sampah, jalan, dan tempat-tempat lainnya yang dianggap sumber sampah non organik.
pihak lain. Pertentangan biasanya disebabkan oleh tindakan satu atau beberapa pemulung itu sendiri yang mengambil hak atau mencuri barang bekas hasil pekerjaan atau pemulung yang lain.
Berdasarkan uraian-uraian di atas maka dapat dikatakan bahwa bentuk interaksi sosial yang terjadi antara sesama pemulung dapat berupa kerjasama, persaingan dengan kekerasan, dan pertentangan.
3. Anak Usia Sekolah Dasar
Anak adalah manusia muda yang belum mengerti dan memiliki apa-apa sebagai bekal dirinya untuk menghadapi kehidupan yang lebih luas, ia perlu mendapatkan binaan dan bimbingan dari orang-orang yang lebih tua dalam lingkungan keluarganya, disamping itu anak juga membutuhkan orang lain dalam perkembangan dan pertumbuhannya. Orang lain yang paling utama dan pertama bertanggungjawab adalah orangtuanya sendiri.
Undang-undang Republik Indonesia, No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menyatakan “anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan”. Sedangkan menurut Undang-undang Republik Indonesia No 4 Tahun 1974 tentang Kesejahteraan Anak, “anak adalah seseorang yang belum berusia 21 tahun dan belum menikah“. Sementara itu menurut Iswanti dan Sayekti (1988: 1), anak adalah golongan penduduk yang berusia antara 0-14 tahun yang merupakan hasil keturunan dari orangtua atau adopsi di dalam keluarga yang secara potensial perlu dibina secara terarah.
1. Umur 0-1 tahun, yaitu masa bayi
2. Umur 1-3 tahun, yaitu masa balita
3. Umur 3-6 tahun, yaitu masa pra-sekolah
4. Umur 6-12 tahun, yaitu masa sekolah
Dari segi perkembangan secara bertahap sampai anak mencapai usia 8-12 tahun, ingatannya menjadi sangat kuat sekali. Anak mengalami masa belajar, mulai menambah pengetahuan dan kemampuannya mencapai kebiasaan yang baik. Anak tidak lagi berfikir regosentris, artinya anak tidak lagi memandang diri sendiri sebagai pusat perhatian lingkungannya. Mereka mulai memperhatikan keadaan sekelilingnya dengan objektif, timbul keinginannya untuk mengetahui kenyataan yang akan mendorongnya untuk menyelidiki segala sesuatu yang ada di lingkungannya (Zulkifli, 2001: 58-59).
Dari segi perkembangan pengamatan, Oswoldkroh (dalam Zulkifli, 2001: 55) membagi empat taraf, yaitu:
1. Sintetis Fantasi: 7-8 tahun.
Pengamatan masih dipengaruhi oleh fantasi dan kenyataan berbaur dengan fantasi.
2. Masa Realisme Naif: 8-10 tahun.
3. Masa Realisme Kritis: 10-12 tahun.
Dalam masa ini anak mulai berfikir kritis, ia mulai mencapai tingkat berfikir abstrak.
4. Masa Subjektif: 12-14 tahun.
Anak berpaling pada dunianya sendiri, perhatian ditujukan pada dirinya sendiri.
Jadi berdasarkan fase-fase di atas, maka tingkat perkembangan anak harus disesuaikan dengan tingkat pendidikan mereka, antara lain melalui pendidikan dasar. Pendidikan dasar merupakan pondasi yang sangat penting bagi peningkatan kualitas pendidikan bangsa selanjutnya dan memiliki bobot kualitas dan kuantitas yang sangat besar, luas, dan berat bagi bangsa Indonesia terutama dalam usaha mempercepat peningkatan mutu pendidikan selanjutnya. Pendidikan dasar orientasinya ditekankan pada pengembangan sikap dan bakat anak didik dan kepadanya diberikan pengetahuan dasar dan keterampilan yang gunanya untuk bekal kerja dan untuk mengikuti pendidikan lanjutan (Yusuf, 1996: 19).
Anak pada dasarnya merupakan sebutan yang diberikan kepada keturunan sepasang suami istri dalam suatu sistem keluarga yang tidak akan terputus meskipun sang anak tersebut telah memasuki usia remaja, dewasa, berkeluarga, atau bahkan tua sekalipun, sang anak tersebut tetap merupakan anak dalam artian keturunan dari kedua orang tuanya, demikian pula apabila dilihat status sosialnya dalam kehidupan bermasyarakat.
kemajuan serta mutu bangsa dan negara di kemudian hari. Untuk menjadikan mereka menjadi manusia berkualitas, yang diperlukan adalah pendidikan yang memadai agar perkembangan fisik dan mentalnya seiring dengan kemajuan jaman. Untuk itu pada usia tertentu anak sudah harus diberikan pengetahuan dasar melalui pendidikan formal di sekolah. Anak-anak yang perlu diberikan pengetahuan tersebut diutamakan pada mereka yang telah memasuki usia 7 sampai dengan 12 tahun atau usia Sekolah Dasar.
Beberapa ciri pribadi pada anak masa usia Sekolah Dasar antara lain:
1. Kritis dan realistis
2. Banyak ingin tahu dan rasa belajar
3. Ada perhatian terhadap hal-hal yang praktis dan konkret dalam kehidupan sehari-hari
4. Mulai timbul minat terhadap bidang-bidang pelajaran tertentu
5. Sampai umur 11 tahun anak suka minta bantuan kepada orang dewasa dalam menyelesaikan tugas-tugas belajar
6. Setelah umur 11 tahun anak-anak mulai ingin menyelesaikan sendiri tugas – tugasnya
7. Mendambakan angka-angka rapor yang tinggi tanpa memikirkan tingkat prestasi belajarnya
8. Anak suka berkelompok dan memilih teman-teman sebaya dalam bermain dan belajar (Dalyono, 1997: 97).
1. Memberikan kesempatan kepada murid untuk membuktikan bahwa dirinya merupakan calon terbaik untuk mendapatkan pendidikan ke tingkat lebih lanjut.
2. Menyiapkan lulusan SD yang cukup untuk mengisi bangku sekolah lanjutan sesuai dengan kebutuhan.
3. Menyiapkan mereka yang tidak melanjutkan pendidikan ke sekolah lanjutan untuk terjun ke masyarakat dan lapangan kerja, membuat mereka siap mengikuti pendidikan dan latihan luar sekolah, dan mendorong mereka menggunakan kesempatan ini (Beeby, 1982: 200).
Jadi berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa peranserta orang tua, masyarakat, dan pemerintah sangat dibutuhkan guna mengembangkan kepribadian anak, khususnya anak usia Sekolah Dasar, dimana dalam tahapan ini mereka masih dalam masa-masa yang sangat mudah untuk terpengaruh oleh lingkugan tempat mereka bermain.
C. Kerangka Pikir
Menyelesaikan suatu masalah sudah barang tentu kita akan melihat masalah itu dari beberapa segi, baik kecil maupun besar agar dapat dengan mudah menyelesaikan masalah itu dengan baik sehingga dapat dijadikan acuan dalam pembahasan nantinya.
kurangnya pengawasan dari orangtua, pengaruh teman-teman, bahkan juga orang lain di sekitarnya yang belum dikenal.
Seorang anak akan lebih mudah menerima apa yang dilihat dan dialaminya dibandingkan dengan apa yang dipelajarinya. Keadaan seperti ini dapat mereka rasakan pada lingkungan sosial pemulung, kebiasaan sering berkelahi karena memperebutkan hasil pencarian barang bekas atau sampah, mencuri, dan lain sebagainya. Keadaan seperti ini akan mereka bawa hingga dewasa, sehingga tindakan perilaku menyimpang seperti ini akan sangat sulit untuk dihilangkan.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat ditarik suatu kerangka pikir sebagai berikut:
Gambar 1. Bagan Kerangka Pikir
D. Hipotesis
Perumusan hipotesa merupakan jawaban sementara dari perumusan masalah yang diajukan. Kebenaran hipotesa ini masih perlu dibuktikan dengan melaksanakan
penelitian untuk memperoleh data empiris yang dibutuhkan. Adapun hipotesis yang diajukan dalam penelitian adalah sebagai berikut:
III. METODE PENELITIAN
A. Tipe Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat penjelasan (explanatory
research) karena penelitian ini berusaha untuk menjelaskan hubungan kausal
antara variabel-variabel melalui pengujian hipotesa (Masri Singarimbun 1989: 5).
Di dalam penelitian ini terdapat dua variabel yang mempunyai hubungan kausal
(sebab-akibat). Variabel yang pertama yaitu lingkungan sosial dan yang kedua
yaitu perilaku menyimpang anak usia Sekolah Dasar yang bekerja sebagai
pemulung.
B.Metode Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan
menggunakan metode survei, yaitu penelitian yang mengambil sampel dari
populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok
(Masri Singarimbun, 1989: 3). Selanjutnya, untuk menganalisis besarnya
pengaruh, ada atau tidaknya korelasi antara kedua variabel tersebut menggunakan
Instrumen yang digunakan untuk mengukur pengaruh atau korelasi antara kedua
variabel adalah dengan mengukur jumlah jam berkumpulnya pemulung anak usia
Sekolah Dasar di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang dengan lingkungan
keluarga, teman sebaya, dan tetangganya terhadap tingkat perilaku menyimpang
mereka. Untuk mengolah data-data tersebut maka penulis menggunakan alat
pengolah data SPSS.
1. Populasi Penelitian
Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah para anak usia Sekolah
Dasar yang bekerja sebagai pemulung di Lingkungan III Kelurahan Tanjung
Karang Kecamatan Tanjung Karang Pusat Bandar Lampung. Menurut Arikunto
populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (1998: 115). Menurut Mohammad
Ali (1984: 54) populasi adalah keseluruhan objek penelitian, baik berupa manusia,
benda, peristiwa, atau berbagai gejala yang terjadi karena itu merupakan variabel
yang diperlukan untuk memecahkan masalah atau menunjang keberhasilan dalam
penelitian.
Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan pemulung yang masih berusia
Sekolah Dasar yang bermukim di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang
Kecamatan Tanjung Karang Pusat Bandar Lampung. Untuk lebih jelasnya dapat
Tabel II. Jumlah Anak Usia Sekolah Dasar yang menjadi Pemulung di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang tahun 2010/2011
No
Hasil observasi: Pada tanggal 13 Mei 2011 di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang
Berdasarkan tabel di atas, jumlah pemulung anak usia Sekolah Dasar yang ada di
Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang Kecamatan Tanjung Karang Pusat
Bandar Lampung berjumlah 22 anak.
2. Sampel Penelitian
Sampel adalah sebagian anggota yang diambil dari keseluruhan obyek yang akan
diteliti serta dianggap mewakili seluruh populasi dan diambil dengan
menggunakan teknik tertentu (Suharsimi 1992: 59).
Sekedar perkiraan maka apabila subjek kurang dari 100 lebih baik diambil semua
sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi, selanjutnya jika subjeknya
besar dapat diambil antara 10 – 15 % atau 20 – 25 % atau lebih (Suharsimi 1992:
107).
Mengingat yang menjadi populasi dalam penelitian ini hanya 22 orang, maka
seluruh anggota populasi akan menjadi sampel dalam penelitian ini atau disebut
C. Definisi Konseptual
1. Lingkungan Sosial yaitu terdiri dari orang-orang, baik individual atau
kelompok yang ada di sekitar manusia.
2. Perilaku menyimpang pemulung anak usia Sekolah Dasar yaitu perilaku
pemulung usia Sekolah Dasar yang melanggar norma-norma.
D. Definisi Operasional
1. Lingkungan Sosial Pemulung
Lingkungan sosial pemulung anak usia Sekolah Dasar merupakan tempat
yang dapat mempengaruhi pembentukan kepribadian anak atau individu.
Lingkungan sosial pemulung yang dimaksud dalam penelitian ini adalah
interaksi sosial pemulung atau hubungan-hubungan sosial yang terjadi antar
sesama keluarga, teman sebaya dan masyarakat..
1) Keluarga: adalah sekelompok individu yang memiliki hubungan
kekerabatan yang sedarah yang dapat memberikan dampak besar
bagi perkembangan kepribadian anak.
2) Teman sebaya: adalah kelompok lapisan usia yang sama, dimana
dapat memberikan pengaruh yang besar bagi perkembangan
kepribadian anak.
3) Masyarakat: adalah sekelompok individu yang mempunyai hubungan,
2. Perilaku Menyimpang Anak Usia Sekolah Dasar
Perilaku anak yang dimaksud adalah perbuatan atau tingkahlaku anak sehari-hari
yang bersifat baik atau buruk. Adapun indikator perilaku yang diamati dalam
penelitian ini adalah perilaku yang menyimpang.
Perilaku buruk atau perilaku menyimpang merupakan perilaku yang melanggar
kebiasaan-kebiasaan atau keinginan bersama di dalam masyarakat yang telah
dilembagakan dan diakui secara sah di dalam suatu sistem sosial.
1. Perkelahian adalah suatu tindak kekerasan yang melibatkan 2 belah pihak
atau lebih, dimana pihak pertama dan kedua berusaha untuk mempertahankan
atau memperebutkan sesuatu yang dianggap penting baginya.
2. Pencurian adalah tindak kriminal mengambil hak milik orang lain yang
dianggap masih berharga dan tanpa sepengetahuan sipemilik.
3. Perjudian adalah suatu tindak kriminal antara 2 belah pihak dimana kedua
belah pihak tersebut saling mempertaruhkan sesuatu yang berharga seperti
uang dan sebagainya.
4. Pemerasan adalah tindak kriminal perampasan harta benda yang biasanya
dibarengi dengan tindakan penganiayaan/kekerasan.
4. Konsultasi dengan orangtua
tentang suatu masalah
5. Tahunya orang tua terhadap
aktifitas sehari-hari
kelompok lapisan usia yang sama, dimana dapat memberikan pengaruh atau lebih, dimana pihak pertama dan kedua milik orang lain yang dianggap masih berharga
4. Sanksi ketika ketahuan berkelahi
1. Frekuensi pencurian
2. Penyebab pencurian
3. Jenis barang curian
4. Sanksi ketika ketahuan mencuri
1. Frekuensi perjudian
2. Penyebab perjudian
3. Jenis judi
4. Jenis taruhan
5. Sanksi ketika ketahuan berjudi
1. Frekuensi pemerasan
2. Penyebab pemerasan
3. Target pemerasan
4. Jenis barang hasil pemerasan
E. Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan beberapa teknik pengumpulan data. Hal ini
dimaksudkan untuk mendapatkan data yang lengkap dan valid sehingga nantinya
dapat mendukung keberhasilan dalam penelitian ini.
1. Kuesioner
Kuesioner merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan cara membuat
sejumlah pertanyaan yang diajukan kepada responden dengan maksud
menjaring data atau informasi langsung dari responden. Sasaran angket adalah
para pemulung anak usia Sekolah Dasar di Lingkungan III Kelurahan Tanjung
Karang Kecamatan Tanjung Karang Bandar Lampung.
2. Wawancara
Wawancara yang dibuat berupa daftar pertanyaan yang diajukan kepada
responden secara langsung. Wawancara yang digunakan adalah wawancara
berpedoman, yaitu peneliti telah menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang
akan diajukan kepada responden.
3. Kepustakaan
Teknik kepustakaan digunakan untuk mencari data dan informasi teoristis
dalam menunjang penelitian yang berkenaan dengan masalah yang akan
diteliti dengan cara mempelajari berbagai macam buku, informasi dari media
V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Di dalam Bab V ini akan dianalisis data yang diperoleh dari penelitian yang
disajikan dalam bentuk tabel distribusi tunggal. Tabel yang disajikan merupakan
penjabaran jawaban responden dari isian angket/kuesioner penelitian. Diharapkan
informasi ini dapat memberikan kejelasan yang berkaitan dengan penelitian, serta
dapat menggambarkan kondisi nyata dari Pengaruh Lingkungan Sosial terhadap
Perilaku Menyimpang Anak Usia Sekolah Dasar yang Bekerja Sebagai Pemulung
di Kelurahan Tanjung Karang Kecamatan Tanjung Karang Pusat Bandar
Lampung.
A. Karakteristik Responden
Karakteristik responden yang dibahas dalam penelitian ini menyangkut jenis
kelamin, umur, dan agama yang dianut. Berikut rincian karakteristik
responden yang dijadikan sampel penelitian:
1. Jenis Kelamin
Dalam penelitian ini sampel yang diambil sebanyak 22 anak. Dikarenakan
penelitian ini menggunakan teknik simple random sampling, maka dalam
kelamin anak. Distribusi responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat
pada Tabel 12 di bawah ini:
Tabel 12. Jenis Kelamin Pemulung Anak Usia Sekolah Dasar di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang, Tahun 2012
Sumber: Data Primer, 2012
Berdasarkan Tabel 12, diketahui bahwa terdapat perbedaan mencolok antara
jumlah pemulung anak laki-laki dan pemulung anak perempuan, dimana
pemulung laki-laki jauh lebih banyak, yaitu berjumlah 16 anak (72,7%),
sedangkan pemulung perempuan berjumlah 6 anak (27,3%). Perbedaan jumlah
yang mencolok ini diakibatkan karena pekerjaan sebagai pemulung yang
cenderung lebih liar dan kotor biasa dilakukan oleh laki-laki.
2. Umur Responden
Umur responden dalam penelitian ini sangat beragam. Distribusi responden
berdasarkan umur dapat dilihat pada Tabel 13 berikut:
Tabel 13. Umur Pemulung Anak Usia Sekolah Dasar di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang, Tahun 2012
Berdasarkan Tabel 13, diketahui bahwa kelompok umur terbanyak terdapat
pada interval umur 11 tahun ke atas (45,5%) dan paling sedikit terdapat pada
umur 7 tahun ke bawah (18,2%), sedangkan umur 8-10 tahun sebanyak 8
responden (36,4%). Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, umur
yang paling muda adalah 6 tahun, sedangkan umur yang paling tua adalah 12
tahun.
3. Agama yang Dianut
Agama yang dianut responden cenderung homogen, dan pada dasarnya di
lokasi penelitian (Lingkungan III) merupakan kampung yang homogen dari
segi agamanya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 14 berikut:
Tabel 14. Agama yang Dianut Pemulung Anak Usia Sekolah Dasar di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang, Tahun 2012
Sumber: Data Primer, 2012
Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa mayoritas responden
beragama Islam (86,4%), dan hanya 3 responden (13,6%) yang beragama
Kristen. Meskipun di Lingkungan III mayoritas penduduknya beragama
Islam, tetapi mereka tetap menghargai keberadaan penganut agama lain
selaku kaum minoritas. Mereka tetap menjunjung tinggi kerukunan antarumat
beragama.
No Agama Jumlah Persen (%)
1 Islam 19 86.4
2 Kristen 3 13.6
B. Kondisi Lingkungan Keluarga Pemulung
Lingkungan keluarga sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan perilaku
anak, begitu juga bagi anak usia Sekolah Dasar yang bekerja sebagai
pemulung. Berikut akan dideskripsikan beberapa hal mengenai kondisi
keluarga para pemulung anak usia Sekolah Dasar di Lingkungan III Kelurahan
Tanjung Karang:
1. Jumlah Jam Berkumpul dengan Keluarga
Jumlah jam berkumpul seorang anak dengan keluarganya sangat berpengaruh
bagi perkembangan kepribadian anak tersebut, semakin banyak jumlah jam
berkumpul dengan keluarganya maka akan semakin baik, karena dengan
berkumpulnya anak dengan keluarganya maka seorang anak akan banyak
mendapat bimbingan dan pengarahan-pengarahan dari orangtuanya. Untuk
lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 15 berikut:
Tabel 15. Jumlah Jam Berkumpul Pemulung Anak Usia Sekolah Dasar dengan Keluarganya di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang, Tahun 2012
Sumber: Data Primer, Tahun 2012
Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa jumlah jam berkumpulnya
pemulung anak usia Sekolah Dasar di Lingkungan III Kelurahan Tanjung
Karang terbesar terdapat pada interval 7 sampai dengan 12 jam, dengan
dan terendah pada 6 jam ke bawah dengan jumlah 3 anak (13,6%). Jumlah
jam tersebut adalah jumlah jam berkumpul pada saat malam hari dimana
semua anggota keluarga berkumpul untuk beristirahat dan saling bertukar
fikiran antara anak dengan orangtuanya. Jumlah jam tidur secara umum
adalah 8 jam, dan waktu minimal untuk berkumpul dengan keluarga adalah 1
jam. Jadi waktu minimal yang diluangkan seorang anak kepada keluarganya
adalah 9 jam untuk berkumpul dengan keluarganya. Berdasarkan hasil
penelitian tersebut, dapat dikatakan bahwa lamanya berkumpul pemulung
anak usia Sekolah Dasar di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang
dengan keluarganya masih tergolong baik.
2. Komunikasi dengan Keluarga
Keluarga merupakan tempat seorang anak bercerita, belajar, dan
menyelesaikan semua permasalahan yang ia alami, apabila komunikasi
seorang anak dengan keluarganya terjaga dengan baik maka seorang anak
akan terhindar dari perilaku yang tidak baik atau menyimpang. Pada Tabel 16
akan dijelaskan bagaimana komunikasi pemulung anak usia Sekolah Dasar di
Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang dengan keluarganya:
Tabel 16. Tingkat Komunikasi Pemulung Anak Usia Sekolah Dasar di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang dengan Keluarganya, Tahun 2012
Sumber: Data Primer, 2012 No
Komunikasi dengan Keluarga Jumlah Persen (%)
1 Baik 11 50.0
2 Cukup baik 8 36.4
3 Kurang baik 3 13.6
Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa tingkat komunikasi pemulung anak
usia Sekolah Dasar di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang dengan
keluarganya masih tergolong baik, yaitu 11 anak (50%) memiliki komunikasi
tergolong baik dengan keluarganya, 8 anak (36,4%) cukup baik, dan 3 anak
(13,6%) tergolong kurang baik. Dengan demikian orangtua mereka mampu
mendidik kepribadian anak-anaknya, karena hubungan pemulung anak usia
Sekolah Dasar di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang dengan
orangtuanya tergolong baik.
Selanjutnya pada Tabel 17 akan dijelaskan permasalahan yang biasa
dikonsultasikan pemulung anak usia Sekolah Dasar dengan orangtuanya:
Tabel 17. Permasalahan yang Biasa Dikonsultasikan Pemulung Anak Usia Sekolah Dasar di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang dengan Orangtuanya, Tahun 2012
No Permasalahan yang Biasa
dikonsultasikan Jumlah Persen (%)
1 Masalah pekerjaan 5 22.7
Sumber: Data Primer, 2012
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar pemulung yaitu 10
anak (45.5%) tidak memberi jawaban atau tidak pernah mengkonsultasikan
masalah mereka, sedangkan 5 anak (22,7%) mengkonsultasikan tentang
masalah pekerjaannya yaitu sebagai pemulung, 2 anak (9,1%)
mengkonsultasikan masalah pribadi seperti masalah dengan teman dan
anak (13,6%) mengkonsultasikan permasalahan dengan teman, dan 2 anak
(9,1%) mengkonsultasikan permasalahan tentang pendidikan, dimana
keinginan mereka masih tetap ingin bersekolah tetapi orangtua mereka tidak
memiliki dana untuk membiayai pendidikannya. Seharusnya ada tanggapan
dan tindakan dari pemerintah untuk anak-anak seperti ini.
3. Berselisih Faham dengan Orangtua
Berselisih faham merupakan hal yang wajar terjadi dalam kehidupan
keluarga, begitu juga dalam kehidupan keluarga pemulung anak usia Sekolah
Dasar. Pada Tabel 18 akan dijelaskan bagaimana sikap dan tindakan
pemulung anak usia Sekolah Dasar ketika berselisih faham dengan
orangtuanya:
Tabel 18. Sikap dan Tindakan Pemulung Anak Usia Sekolah Dasar di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang ketika Berselisih Faham dengan Orangtuanya, Tahun 2012
No Sikap dan Tindakan Ketika
Sekolah Dasar menghormati keputusan orangtuanya ketika sedang terjadi
selisih faham, mereka cenderung hormat kepada orangtuanya, hal ini
tentunya sangat berpengaruh terhadap didikan orangtua mereka, sedangkan 1
anak (4,5%) menangis ketika sedang berselisih faham yang dikarenakan usia
anak tersebut masih tergolong muda yaitu 6 tahun, 5 anak (22,7%) pergi
baik karena dengan begitu masalah tidak dapat diselesaikan dan kepribadian
anak yang seperti ini pun dapat berdampak buruk bagi hubungan mereka
dengan orangtuanya, dan 6 anak (27,3%) tidak menjawab atau tidak pernah
berselisih faham dengan orangtuanya.
C. Kondisi Lingkungan Teman
Lingkungan teman sebaya memberikan pengaruh kepada perkembangan
kepribadian anak, usia anak yang masih rentan membuat seorang anak dapat
dengan mudah terjerumus dalam pergaulan. Begitu halnya yang terjadi
dengan pemulung anak usia Sekolah Dasar, dimana dalam lingkungan hidup
mereka sangat jauh dari kata berpendidikan. Berikut akan dideskripsikan
beberapa penjelasan mengenai teman sebaya pemulung anak usia Sekolah
Dasar di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang:
1. Jumlah Jam Bermain dengan Teman
Bermain adalah hal yang sangat digemari anak-anak, bermainpun sangat
dianjurkan bagi anak-anak guna mengasah kecerdasan dan ketangkasannya.
Jumlah jam bermain dengan teman adalah jumlah jam bekerja pemulung
anak usia Sekolah Dasar di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang
dengan teman sebayanya ditambahkan dengan jumlah jam bermain mereka.
Semakin banyak jumlah jam bermain pemulung anak usia Sekolah Dasar
dengan teman sebayanya maka semakin tidak baik. Hal ini dikarenakan
teman bermain mereka cenderung merupakan anak-anak yang memiliki
perilaku buruk dan tidak berpendidikan. Pada Tabel 19 akan dijelaskan
jumlah jam bermain pemulung anak usia Sekolah Dasar di Lingkungan III
Tabel 19. Jumlah Jam Bermain Pemulung Anak Usia Sekolah Dasar di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang dengan Teman Sebaya, Tahun 2012
No
Jumlah Jam Bermain Jumlah Persen (%)
1 5 jam ke bawah 3 13.6
2 6-8 jam 9 40.9
3 9-11 jam 9 40.9
4 12 jam ke atas 1 4.5
Jumlah 22 100.0
Sumber: Data Primer, 2012
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa jumlah jam bermain tertinggi
terletak pada interval 9 sampai dengan 11 jam dan 6 sampai dengan 8 jam
dengan jumlah 9 anak (40,9%), selanjutnya 5 jam ke bawah berjumlah 3 anak
(13,6%), dan 12 jam ke atas berjumlah 1 anak (4,5%). Dengan demikian
dapat diketahui jumlah jam bermain mereka hampir sebanding dengan jumlah
jam berkumpul dengan orangtua mereka, hal ini harus diperhatikan karena
usia anak yang cenderung rentan dapat dengan mudah terpengaruh kebiasaan
bermain yang tidak baik, bahkan mampu membantah orantuanya demi
kepentingan temannya.
2. Aktifitas dengan Teman Sebaya
Aktifitas merupakan pekerjaan dan kebiasaan yang dilakukan sehari-hari.
Pada Tabel 20 akan dijelaskan aktifitas para memulung anak usia Sekolah
Tabel 20. Aktifitas Pemulung Anak Usia Sekolah Dasar di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang dengan Teman Sebayanya, Tahun 2012
Dengan demikian jelas bahwa kepedulian pemulung anak usia Sekolah Dasar
di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang terhadap pendidikan masih
sangat kecil, kecenderungan lebih ingin bermain daripada belajar bagi para
pemulung anak usia Sekolah Dasar lebih tinggi, hal ini dikarenakan sebagian
besar dari mereka tidak mengenal pendidikan, sedangkan keinginan belajar
dan bermain bersama sebanyak 4 anak (18,2%).
D. Kondisi Lingkungan Tetangga
Lingkungan tetangga merupakan lingkungan terdekat bagi kita, dimana
dalam lingkungan ini seseorang dapat dengan mudah berkomunikasi. Begitu
juga bagi para pemulung anak usia Sekolah Dasar, bagi mereka lingkungan
tetangga pun sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan kepribadiannya.
Berikut akan dideskripsikan beberapa penjelasan mengenai lingkungan
tetangga pemulung anak usia Sekolah Dasar di Lingkungan III Kelurahan