LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI FARMASI RUMAH SAKIT
Di
RSUP. H. Adam Malik Medan
Disusun Oleh :
Risma Helena Sibuea, S.Farm 083202070
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
Lembaran Pengesahan
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI FARMASI RUMAH SAKIT
di
Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan
Laporan Ini Disusun Untuk Melengkapi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Apoteker pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara Medan
Disusun Oleh:
Risma Helena Sibuea, S.Farm 083202070
RSUP H. Adam Malik Medan
Pembimbing,
Dr. Karsono, Apt. Dra. Evarida Saragih, Apt. Staf Pengajar Falkutas Farmasi Staf Instalasi Farmasi
USU Medan RSUP H. Adam Malik
Falkutas Farmasi Universitas Sumatera Utara
Dekan,
KATA PENGANTAR
Penulis mengucapkan syukur Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan kasih, dan karunia-Nya, sehingga dapat menyelesaikan Praktek Kerja Profesi (PKP) Apoteker di RSUP. H. Adam Malik Medan. Laporan ini ditulis berdasarkan teori dan hasil pengamatan selama melakukan PKP di RSUP H. Adam Malik Medan. Selama melaksanakan Praktek Kerja Profesi penulis telah banyak menerima bantuan dari berbagai pihak berupa bimbingan, arahan dan masukan. Ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya, ingin penulis sampaikan kepada :
1. Bapak Dr. H. Djamaluddin Sambas. MARS, selaku Direktur Utama RSUP H. Adam Malik Medan.
2. Ibu Dr. M. Nur Rasyid Lubis, SpB., Fina CS., selaku Direktorat SDM dan Pendidikan RSUP H. Adam Malik Medan.
3. Ibu Drg. Ridawaty Harahap, MARS., selaku Kepala Bidang Diklat RSUP H. Adam Malik Medan dan beserta staf.
4. Ibu Dra. H. Isma Sani Pane, MSi, Apt., selaku Kepala Instalasi Farmasi RSUP H. Adam Malik Medan.
5. Ibu Nurminda Silalahi, MSi, Apt, selaku kepala Pokja Farmasi Klinis RSUP H. Adam Malik Medan.
6. Ibu Dra. Evarida Saragih, Apt., selaku pembimbing Praktek Kerja Profesi Apoteker RSUP H. Adam Malik Medan.
7. Bapak Dr. Karsono, Apt., selaku dosen pembimbing Praktek Kerja Profesi Apoteker RSUP H. Adam Malik Medan.
9. Bapak Drs. Wiryanto, M.S.,Apt. selaku Koordinator Program Pendidikan Apoteker Fakultas Farmasi USU.
10. Seluruh Apoteker, Asisten Apoteker dan Staf Instalasi Farmasi yang telah banyak membantu penulis selama melakukan Latihan Kerja Profesi di RSUP H. Adam Malik Medan.
Penulis berharap semoga laporan Praktek Kerja Profesi ini dapat menambah ilmu dan pengetahuan di bidang Farmasi, khususnya farmasi rumah sakit dan dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Medan, Juni 2010
Penulis,
RINGKASAN
Telah dilakukan Praktek Kerja Profesi (PKP) farmasi Rumah Sakit di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan pada tanggal 02 Februari 2009 sampai 28 Februari 2009 dengan jumlah jam efektif adalah 7 jam.
Praktek Kerja Profesi (PKP) ini bertujuan agar para calon apoteker dapat memiliki wawasan dan pengetahuan yang lebih luas mengenai tugas dan fungsi apoteker di sarana kesehatan, khususnya di rumah sakit.
DAFTAR ISI
2.1.4 Indikator Pelayanan Rumah Sakit ... 6
2.1.5 Klasifikasi Rumah Sakit ... 7
2.2 Komite Medik dan Panitia Farmasi dan Terapi (PFT) ... 9
2.3 Formularium Rumah Sakit ... 10
2.4 Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) ... 11
2.4.1 Pelayanan Kefarmasian ... 12
2.4.2 Pengelolaan dan Penggunaan Obat Secara Rasional (PPOSR) .... 14
2.5 Rekam medik ... 15
2.7 Instalasi Gas Medis ... 18
BAB III TINJAUAN KHUSUS RSUP H. ADAM MALIK MEDAN ... 20
3.1 Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan ... 20
3.2 Falsafah dan Tujuan RSUP. H. Adam Malik Medan... 21
4.3 Instalasi Central Sterilized Supply Department (CSSD) ... 50
4.4 Instalasi Gas Medis ... 52
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 54
5.1 Kesimpulan ... 54
5.2 Saran ... 55
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman 3.1 Struktur Organisasi RSUP H. Adam Malik... 24
RINGKASAN
Telah dilakukan Praktek Kerja Profesi (PKP) farmasi Rumah Sakit di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan pada tanggal 02 Februari 2009 sampai 28 Februari 2009 dengan jumlah jam efektif adalah 7 jam.
Praktek Kerja Profesi (PKP) ini bertujuan agar para calon apoteker dapat memiliki wawasan dan pengetahuan yang lebih luas mengenai tugas dan fungsi apoteker di sarana kesehatan, khususnya di rumah sakit.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Kesehatan masyarakat merupakan salah satu modal pokok dalam rangka pertumbuhan dan kehidupan bangsa. Untuk mewujudkan hal ini secara optimal, diselenggarakan upaya kesehatan. Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, yang bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah dengan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan rumah sakit. Hal tersebut diperjelas dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1197/MenKes/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Rumah Sakit, yang menyebutkan bahwa pelayanan farmasi rumah sakit adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan rumah sakit yang utuh dan berorientasi kepada pelayanan pasien, penyediaan obat yang bermutu, termasuk pelayanan farmasi klinik yang terjangkau bagi semua lapisan masyarakat (2006).
Pelayanan farmasi yang luas mencakup keterlibatan dalam berbagai kegiatan untuk memastikan kesehatan yang baik dan menghindari kesakitan dalam populasi. Apabila pengobatan kesehatan yang sakit diperlukan, mutu dari tiap proses penggunaan obat penderita harus dipastikan untuk mencapai manfaat terapi maksimal dan menghindarkan efek samping yang tidak menguntungkan. Hal ini mensyaratkan apoteker menerima tanggung jawab bersama dengan professional lain dan dengan penderita untuk hasil terapi (Siregar, 2004).
empat unsur utama dari pelayanan farmasi, yaitu: 1) pelayanan farmasi yang baik, 2) pelayanan profesi apoteker dalam proses penggunaan obat, 3) praktik dispensing yang baik, dan 4) pelayanan profesional apoteker yang proaktif dalam berbagai kegiatan dan kepanitiaan yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan kepada penderita (Siregar, 2004).
Untuk dapat menerapkan unsur utama dari pelayanan tersebut, maka perlu diadakan upaya peningkatan sumber daya manusia. Upaya tersebut adalah melalui pendidikan dan pelatihan bagi calon tenaga kesehatan. Salah satu diantaranya yaitu Praktek Kerja Profesi (PKP) apoteker. Sebagai tenaga kesehatan profesional, maka calon apoteker perlu memahami dan mengenal peranan apoteker di rumah sakit, khususnya pada instalasi farmasi. Hal ini penting sebagai bekal bagi lulusan Program Pendidikan Profesi Apoteker apabila bekerja di rumah sakit. Dengan pertimbangan ini, Fakultas Farmasi USU Medan bekerjasama dengan Badan Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan mengadakan Praktek Kerja Profesi.
Praktek kerja profesi ini meliputi:
1. Penerimaan materi mengenai RSUP H. Adam Malik Medan secara umum, Instalasi Farmasi, Gas Medis dan CSSD.
2. Peninjauan pada beberapa kelompok kerja (Pokja) dan depo farmasi yang merupakan bagian dari instalasi farmasi dengan memperhatikan peranan apoteker pada bagian tersebut.
1.2 Tujuan
Tujuan dilaksanakannya Praktek Kerja Profesi di rumah sakit adalah: a. Melihat peran Instalasi Farmasi Rumah Sakit, peran Instalasi CSSD
dan instalasi Gas Medis dalam menunjang pelayanan kesehatan kepada masyarakat di rumah sakit.
b. Melihat peran apoteker dalam pengelolaan berbagai kelompok kerja dan depo farmasi dari instalasi farmasi di rumah sakit.
c. Melihat peran apoteker dalam pelayanan farmasi klinis di rumah sakit. d. Melihat rasionalitas penggunaan obat di rumah sakit.
BAB II
TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT
2.1 Rumah Sakit
2.1.1 Definisi Rumah Sakit
Rumah sakit adalah suatu unit yang memiliki organisasi yang teratur, tempat pencegahan dan penyembuhan penyakit, peningkatan dan pemulihan kesehatan penderita yang dilakukan secara multidisiplin oleh berbagai kelompok profesional terdidik dan terlatih, yang menggunakan prasarana dan sarana fisik, perbekalan farmasi dan alat kesehatan.
Berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan RI No. 983/MenKes/SK/XI/1992 tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit Umum, maka rumah sakit umum adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat dasar, spesialistik, dan subspesialistik.
2.1.2 Tugas dan Fungsi Rumah Sakit
Berdasarkan Pedoman Organisasi Rumah Sakit Umum, maka rumah sakit umum mempunyai tugas melaksanakan upaya kesehatan, dengan mengutamakan upaya penyembuhan dan pemulihan yang dilaksanakan secara serasi dan terpadu dengan upaya peningkatan dan pencegahan serta melaksanakan upaya rujukan. Untuk menyelenggarakan tugas tersebut rumah sakit umum berdasarkan SK MenKes RI No. 983/MenKes/SK/XI/1992 mempunyai fungsi:
a. Menyelenggarakan pelayanan medis
b. Menyelenggarakan pelayanan penunjang medis dan nonmedis c. Menyelenggarakan pelayanan dan asuhan keperawatan
d. Menyelenggarakan pelayanan rujukan e. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan f. Menyelenggarakan penelitian dan pengembangan g. Menyelenggarakan administrasi umum dan keuangan.
2.1.3 Misi dan Visi Rumah Sakit
Penyusunan misi dan visi rumah sakit merupakan fase penting dalam tindakan strategis rumah sakit. Menetapkan misi dan visi bukanlah proses yang mudah. Pernyataan misi dan visi merupakan hasil pemikiran bersama dan disepakati oleh seluruh anggota rumah sakit. Misi dan visi bersama ini memberikan fokus dan energi untuk pengembangan organisasi.
gagasan-gagasan kosong. visi merupakan gambaran mengenai keadaan lembaga di masa depan yang berpijak dari masa sekarang.
Misi dan visi Rumah sakit umum mempunyai misi memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau oleh masyarakat dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat (Trinantoro, L., 2005).
2.1.4 Indikator Pelayanan Rumah Sakit
Program akreditasi rumah sakit yang dilaksanakan sejak tahun 1995 diawali dengan 5 jenis pelayanan, yaitu pelayanan medis, pelayanan keperawatan, rekam medis, administrasi dan manajemen, dan pelayanan gawat darurat. Pada tahun 1997, program diperluas menjadi 12 pelayanan, yaitu kamar operasi, pelayanan perinata resiko tinggi, pelayanan radiologi, pelayanan farmasi, pelayanan laboratorium, pengendalian infeksi, dan kecelakaan keselamatan serta kewaspadaan bencana. Pada tahun 2000 dikembangkan instrumen 16 bidang pelayanan untuk menilai ke-20 proses pelayanan di rumah sakit. Untuk membantu proses persiapan akreditasi, dilakukan berbagai pelatihan akreditasi rumah sakit oleh Balai Pelatihan Kesehatan. Di samping akreditasi, penerapan sistem manajemen mutu mengikuti ISO 9001:2000 mulai dilakukan juga di puskesmas dan rumah sakit sejak tahun 2003 untuk menjawab tuntutan global.
Beberapa indikator pelayanan di rumah sakit antara lain adalah: 1. Bed Occupancy Rate (BOR): angka penggunaan tempat tidur 2. Length Of Stay (LOS): lamanya dirawat
3. Bed Turn Over (BTO): frekuensi penggunaan tempat tidur 4. Turn Over Interval (TOI): interval penggunaan tempat tidur 5. Net Death Rate (NDR): angka kematian netto
2.1.5 Klasifikasi Rumah Sakit
Rumah sakit dapat diklasifikasikan berdasarkan berbagai kriteria sebagai berikut:
1. Berdasarkan kepemilikan
a. Rumah sakit pemerintah, terdiri dari:
• Rumah sakit yang langsung dikelola oleh Departemen Kesehatan • Rumah sakit pemerintah daerah
• Rumah sakit militer
• Rumah sakit BUMN
b. Rumah sakit yang dikelola oleh masyarakat (swasta) 2. Berdasarkan jenis pelayanan
Berdasarkan jenis pelayanannya, rumah sakit terdiri atas:
a. Rumah sakit umum, memberi pelayanan kepada berbagai penderita dengan berbagai jenis penyakit.
b. Rumah sakit khusus, memberi pelayanan diagnosis pengobatan untuk penderita dengan kondisi medik tertentu baik bedah maupun non bedah. Contoh: rumah sakit kanker, rumah sakit bersalin.
3. Berdasarkan afiliasi pendidikan, terdiri atas 2 jenis, yaitu;
a. Rumah sakit pendidikan, yaitu rumah sakit yang menyelenggarakan
program latihan untuk berbagai profesi.
4. Berdasarkan lama tinggal di rumah sakit, terdiri atas:
a. Rumah sakit perawatan jangka pendek, yaitu rumah sakit yang merawat penderita selama rata-rata kurang dari 30 hari , misalnya penderita dengan kondisi penyakit akut dan kasus darurat
b. Rumah sakit perawatan jangka panjang yang merawat penderita dalam waktu rata-rata 30 hari atau lebih.
Klasifikasi Rumah Sakit Umum Pemerintah
Berdasarkan SK MenKes RI No. 983/MenKes/SK/XI/1992 tanggal 5 Oktober 1992 rumah sakit umum diklasifikasikan berdasarkan pada unsur pelayanan, ketenagaan, fisik, dan peralatan yang terdiri dari :
a. Rumah Sakit Umum Kelas A
Rumah Sakit Umum Kelas A adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis spesialistik luas dan subpesialistik luas.
b. Rumah Sakit Umum Kelas B
Rumah Sakit Umum Kelas B adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis sekurang-kurangnya 11 spesialistik dan subspesialistik.
Rumah sakit ini dibedakan 2 jenis berdasarkan adanya fungsi sebagai tempat tenaga medis fakultas kedokteran yaitu Rumah Sakit Umum Pendidikan dan Rumah Sakit Umum Non Pendidikan.
c. Rumah Sakit Umum Kelas C
d. Rumah Sakit Umum Kelas D
Rumah sakit umum kelas D adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis dasar.
Klasifikasi Rumah Sakit Umum Swasta
Beberapa ketentuan dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 806 b/MenKes/SK/1987 tentang Klasifikasi Rumah Sakit Umum Swasta yaitu :
1. Klasifikasi rumah sakit adalah pengelompokan rumah sakit berdasarkan pembedaan tingkatan dan kemampuan pelayanannya.
2. Rumah Sakit Umum Swasta adalah rumah sakit umum yang diselenggarakan oleh pihak swasta.
3. Klasifikasi rumah sakit umum swasta adalah :
a. Rumah Sakit Umum Swasta Pratama, yang memberikan pelayanan medik bersifat umum.
b. Rumah Sakit Umum Swasta Madya, yang memberikan pelayanan medik bersifat umum dan spesialistik dalam 4 (empat) cabang.
c. Rumah Sakit Umum Swasta Utama, yang memberikan pelayanan medik bersifat umum, spesialistik dan subspesialistik.
2.2 Komite Medik dan Panitia Farmasi dan Terapi (PFT)
PFT adalah sekelompok penasehat dari staf medik dan bertindak sebagai garis komunikasi organisasi antara staf medik dan Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS). Pembentukan suatu PFT yang efektif akan memberikan kemudahan dalam pengadaan sistem formularium yang membawa perhatian staf medik pada obat yang terbaik dan membantu mereka dalam menyeleksi obat terapi yang tepat bagi pengobatan penderita tertentu. Panitia ini difungsikan rumah sakit untuk mencapai terapi obat yang rasional.
PFT ini meningkatkan penggunaan obat secara rasional melalui pengembangan kebijakan dan prosedur yang relevan untuk seleksi obat, pengadaan, penggunaan, dan melalui edukasi tentang obat bagi penderita dan staf profesional.
Ketua PFT dipilih dari dokter yang diusulkan oleh komite medik dan disetujui pimpinan rumah sakit. Ketua adalah seorang anggota staf medik yang memahami benar dan pendukung kemajuan IFRS, dan ia adalah dokter yang mempunyai pengetahuan mendalam di bidang farmakologi klinik. Sekretaris panitia adalah kepala IFRS atau apoteker senior lain yang ditunjuk oleh kepala IFRS. Susunan anggota PFT harus mencakup dari tiap SMF yang ada di rumah sakit.
2.3 Formularium Rumah Sakit
Formularium rumah sakit adalah daftar obat baku yang dipakai oleh rumah sakit yang dipilih secara rasional dan dilengkapi penjelasan, sehingga merupakan informasi obat yang lengkap untuk pelayanan medik rumah sakit, terdiri dari obat-obatan yang tercantum Daftar Obat Essensial Nasional (DOEN) dan beberapa jenis obat yang sangat diperlukan oleh rumah sakit serta dapat ditinjau kembali sesuai dengan perkembangan bidang kefarmasian dan terapi serta keperluan rumah sakit yang bersangkutan (SK Dirjen YanMed No. 0428/YanMed/RSKS/SK/89 tentang Petunjuk Pelaksanaan Permenkes No. 085/MenKes/Per/I/1989).
Penyusunan formularium rumah sakit merupakan tugas PFT. Suatu sistem formularium rumah sakit yang dikelola dengan baik mempunyai tiga kegunaan, kegunaan yang pertama adalah untuk membantu meyakinkan mutu dan ketepatan penggunaan obat dalam rumah sakit. Kegunaan kedua adalah sebagai edukasi bagi staf tentang terapi obat yang tepat. Kegunaan ketiga adalah memberi rasio manfaat-biaya yang tertinggi, bukan hanya sekedar pengurangan harga.
2.4 Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS)
perbekalan kesehatan di rumah sakit; serta pelayanan farmasi klinis (Siregar, 2004).
2.4.1 Pelayanan Kefarmasian
IFRS dalam melaksanakan tugasnya berdasarkan pada Standar Pelayanan Farmasi Rumah Sakit yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan tahun 2004 dan evaluasinya mengacu pada Pedoman Survei Akreditasi Rumah Sakit yang digunakan secara rasional, disamping ketentuan masing-masing rumah sakit.
A. Pengelolaan Perbekalan Farmasi
a. memilih perbekalan farmasi sesuai kebutuhan pelayanan rumah sakit b. merencanakan kebutuhan perbekalan farmasi secara optimal
c. mengadakan perbekalan farmasi berpedoman kepada perencanaan yang telah dibuat sesuai kebutuhan yang berlaku
d. memproduksi perbekalan farmasi untuk memenuhi pelayanan kesehatan di rumah sakit
e. menerima perbekalan farmasi sesuai dengan spesifikasi dan ketentuan yang berlaku
f. menyimpan perbekalan farmasi sesuai dengan spesifikasi dan persyaratan kefarmasian
B. Pelayanan kefarmasian dalam Penggunaan Obat dan Alat Kesehatan a. mengkaji intruksi pengobatan/ resep pasien
b. mengidentifikasikan masalah yang berkaitan dengan penggunaan obat dan alat kesehatan
c. mencegah dan mengatasi masalah yang berkaitan dengan penggunaan obat dan alat kesehatan
d. memantau efektifitas dan keamanan penggunaan obat dan alat kesehatan e. memberikan informasi kepada petugas kesehatan, pasien/keluarga f. memberikan konseling kepada pasien/keluarga
g. melakukan pencampuran obat suntik h. melakukan penyiapan nutrisi parenteral i. melakukan penanganan obat kanker
j. melakukan penentuan kadar obat dalam darah k. melakukan pencatatan setiap kegiatan
l. melaporkan setiap kegiatan C. Pelayanan Farmasi Klinis
Pelayanan farmasi klinis adalah praktek kefarmasian berorientasi kepada pasien lebih dari orientasi kepada produk, dengan penerapan pengetahuan dan keahlian farmasi dalam membantu memaksimalkan efek obat dan meminimalkan toksisitas bagi pasien secara individual.
Menurut SK MenKes No.436/MenKes/SK/VI/1993 pelayanan farmasi klinis meliputi:
• Melakukan konseling
• Monitoring Efek Samping Obat (MESO)
• Pencampuran obat suntik secara aseptik
• Menganalisa efektivitas biaya secara farmakoekonomi
• Penentuan kadar obat dalam darah
• Penanganan obat sitostatika
• Penyiapan Total Parenteral Nutrisi (TPN)
• Pemantauan dan pengkajian penggunaan obat
• Pendidikan dan penelitian (Aslam, 2002)
2.4.2 Pengelolaan dan Penggunaan Obat Secara Rasional (PPOSR)
Yang dimaksud dengan PPOSR adalah pengelolaan obat yang dilaksana- kan secara efektif dan efisien dimana pemanfaatan atau efikasi, keamanan (safety) dan mutu (quality) obat terjamin; serta penggunaan obat secara 4 Tepat 1 Waspada, artinya harus diberikan dengan indikasi yang tepat, untuk penderita yang tepat dengan jenis obat yang tepat dan diberikan dengan regimen dosis yang tepat serta senantiasa waspada terhadap kemungkinan terjadinya efek obat yang tidak diinginkan.
Kegiatan pengelolaan dan penggunaan obat dimulai dari:
1. Pemilihan jenis obat dan alat kesehatan yang dibutuhkan, baik diagnostik,
terapeutik maupun rehabilitatif.
3. Pengadaan berdasarkan pertimbangan dana yang tersedia dilakukan skala prioritas pengadaan yang tepat.
4. Penyimpanan yang tepat sesuai dengan sifat masing-masing obat dan alat kesehatan.
5. Penyaluran kepada unit-unit pelayanan dan penunjang yang membutuhkan obat dan alat kesehatan tersebut di Instalasi Gawat Darurat, Instalasi Bedah Pusat, Instalasi Rawat Jalan, dan Instalasi Rawat Inap.
6. Penulisan resep oleh dokter (Prescribing Process). 7. Peracikan oleh farmasis (Dispensing Process).
8. Pemberian oleh perawat kepada penderita (Administration Process). 9. Penggunaan oleh penderita (Consuming Process).
10. Pemantauan khasiat dan keamanan obat oleh dokter, perawat, farmasis dan penderita.
Seluruh kegiatan pengelolaan dan penggunaan obat yang dimulai dari pertama sampai langkah ke-10 disebut sebagai Lingkar Sepuluh Kegiatan Pengelolaan Dan Penggunaan Obat Secara Rasional (LSK-PPOSR), dimana jika semua langkah dilakukan dengan tepat, maka diharapkan akan dapat dicegah timbulnya masalah-masalah yang berkaitan dan pengelolaan dan penggunaan obat dan alat kesehatan.
2.5 Rekam Medik
Suatu rekam medik yang lengkap mencakup data identifikasi dan sosiologi, sejarah famili pribadi, sejarah penyakit yang sekarang, pemeriksaan fisik, pemeriksaan khusus, seperti konsultasi, data laboratorium klinis, pemeriksaan sinar X dan pemeriksaan lain, diagnosa kerja, penanganan medik atau bedah, patologi mikroskopik dan nyata, kondisi pada waktu pembebasan, tindak lanjut, dan temuan otopsi.
Kegunaan rekam medik antara lain;
• digunakan sebagai dasar perencanaan dan keberlanjutan perawatan penderita.
• merupakan suatu sarana komunikasi antara dokter dan setiap profesional yang
berkontribusi pada perawatan penderita.
• melengkapi bukti dokumen terjadinya/penyebab penyakit penderita dan
penanganan/pengobatan selama dirawat di rumah sakit.
• digunakan sebagai dasar untuk kaji ulang studi dan evaluasi perawatan yang
diberikan kepada penderita.
• membantu perlindungan kepentingan hukum penderita, rumah sakit dan
praktisi yang bertanggung jawab.
• menyediakan data untuk digunakan dalam penelitian dan pendidikan.
• sebagai dasar perhitungan biaya, dengan menggunakan rekam medik, bagian
2.6 Instalasi CENTRAL STERILIZED SUPPLY DEPARTMENT (CSSD) Instalasi CSSD merupakan fasilitas untuk melakukan kegiatan sterilisasi yang bertujuan untuk melayani semua kebutuhan steril dan unit–unit yang membutuhkan yaitu alat-alat medik dan alat-alat lainnya yang diperlukan untuk tindakan steril.
Fungsi utama CSSD adalah menyiapkan alat-alat bersih dan steril untuk keperluan perawatan pasien di rumah sakit. Secara lebih rinci fungsinya adalah menerima, memproses, mensterilkan, menyimpan serta mendistribusikan peralatan medis ke berbagai ruangan di rumah sakit untuk kepentingan perawatan pasien. Alur aktivitas fungsional CSSD dimulai dari proses pembilasan, pembersihan/dekontaminasi, pengeringan, inspeksi dan pengemasan, memberi label, sterilisasi, sampai proses distribusi.
Ketersediaan ruangan CSSD yang memadai merupakan suatu keharusan untuk keefisienan dan keoptimalan fungsi kerja CSSD. Untuk menghindari terjadinya kontaminasi silang di CSSD maka ruangan CSSD dibagi menjadi 5 bagian:
1. Daerah Dekontaminasi: terjadi proses penerimaan barang kotor, dekontaminasi, dan pembersihan.
2. Daerah Pengemasan Alat: untuk melakukan pengemasan terhadap alat bongkar pasang, maupun pengemasan dan penyimpanan alat bersih.
3. Daerah Prossesing Linen: Linen diinspeksi, dilipat, dan dikemas untuk persiapan sterilisasi. Selain linen pada daerah ini dipersiapkan pula bahan-bahan seperti kain kasa, cotton swabs, dll.
5. Daerah penyimpanan barang steril: sebaiknya letaknya berdekatan dengan proses sterilisasi dilakukan. Tersedia mesin sterilisasi dua pintu dimana pintu belakang langsung berhubungan dengan ruang penyimpanan.
Lokasi CSSD sebaiknya berdekatan dengan ruangan pemakai alat steril terbesar. Dengan pemilihan lokasi seperti ini maka selain meningkatkan pengendalian infeksi dengan meminimalkan resiko kontaminasi silang, serta meminimalkan lalu lintas transportasi alat steril (Hidayat, 2003).
2.7 Instalasi Gas Medis
Penggunaan gas medis pada sarana pelayanan kesehatan diatur berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. 1439/Menkes/SK/XI/2002.
Penyimpanan Gas Medis:
1. Tabung-tabung gas medis harus disimpan berdiri, dipasang penutup kran dan dilengkapi tali pengaman untuk menghindari jatuh pada saat terjadi bencana.
2. Lokasi penyimpanan harus khusus dan masing-masing gas medis dibedakan tempatnya.
3. Penyimpanan tabung gas medis yang berisi dan tabung gas medis yang kosong dipisahkan untuk memudahkan pemeriksaan dan penggantian.
4. Lokasi penyimpanan diusahakan jauh dari sumber panas, listrik dan oli atau sejenisnya.
Pendistribusian Gas Medis
1. Distribusi gas medis dilayani dengan menggunakan troly yang biasanya ditempatkan dekat dengan pasien.
2. Pemakaian gas diatur melalui flowmeter pada regulator. 3. Regulator harus dites dan dikalibrasi.
4. Penggunaan gas medis sistem tabung hanya bisa dilakukan 1 tabung untuk 1 orang.
BAB III
TINJAUAN KHUSUS RUMAH SAKIT PUSAT H. ADAM MALIK MEDAN
3.1. Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 244/Menkes/PER/III/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja RSUP H. Adam Malik Medan, maka terjadi perubahan bentuk pola pengelolaan dari Badan Pelayanan Kesehatan menjadi Badan Layanan Umum (BLU). RSUP H. Adam Malik Medan merupakan suatu Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Departemen Kesehatan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan.
RSUP H. Adam Malik Medan beralamat di Jl. Bunga Lau No.17 Medan Tuntungan Kotamadya Medan Propinsi Sumatera Utara, dan diresmikan oleh Presiden RI pada tanggal 21 Juli 1993. RSUP ini mempunyai tugas menyelenggarakan upaya penyembuhan dan pemulihan secara paripurna, pendidikan dan pelatihan, penelitian dan pengembangan secara serasi, terpadu dan berkesinambungan dengan upaya meningkatkan kesehatan lainnya serta melaksanakan upaya rujukan.
Untuk melaksanakan tugas tersebut, RSUP H. Adam Malik Medan menyelenggarakan fungsi:
1. Pelayanan medis
2. Pelayanan pelayanan dan asuhan keperawatan 3. Penunjang medis dan non medis
5. Pendidikan dan penelitian secara terpadu dalam bidang profesi kedokteran dan kedokteran berkelanjutan
6. Pendidikan dan pelatihan di bidang kesehatan lainnya 7. Penelitian dan pengembangan
8. Pelayanan rujukan
9. Administrasi umum dan keuangan.
3.2. Falsafah dan Tujuan RSUP H. Adam Malik Medan
Untuk menyelenggarakan tugasnya, RSUP H. Adam Malik Medan mempunyai falsafah dan tujuan yaitu :
A. Falsafah
Memberikan pelayanan kesehatan kepada seluruh lapisan masyarakat secara profesional, efisien dan efektif sesuai standar pelayanan yang bermutu.
Motto RSUP H. Adam Malik Medan:
Mengutamakan keselamatan pasien dengan pelayanan P : Pelayanan cepat
A : Akurat T : Terjangkau E : Efisien N : Nyaman B. Tujuan
• Memberikan pelayanan yang bermutu yaitu cepat, tepat, nyaman, dan
• Terlaksananya usaha kesehatan serta berdaya guna dan berhasil guna
dan mengutamakan upaya penyembuhan, pemulihan, yang dilaksanakan secara serasi dan terpadu dengan upaya peningkatan dan pencegahan serta melaksanakan upaya rujukan.
3.3. Visi dan Misi Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan A. Pengembangan Visi
Rumah sakit perlu mengembangkan visinya. Visi itu merupakan kekuatan memandu rumah sakit untuk mencapai status masa depan rumah sakit. Visi merupakan suatu inspirasi dari status masa depan rumah sakit yang cukup jelas dan sangat kuat menimbulkan dan mendukung tindakan yang perlu agar impian atau visi menjadi suatu kenyataan.
Visi Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) H. Adam Malik adalah :
Menjadi pusat unggulan pelayanan kesehatan dan pendidikan serta pusat rujukan kesehatan wilayah Sumatera Bagian Utara dan Tengah pada tahun 2010 yang bertumpu pada kemandirian.
B. Pengembangan Misi
Misi merupakan pernyataan yang singkat dan jelas tentang alasan keberadaan rumah sakit, maksud, atau fungsi yang diinginkan untuk memenuhi pengharapan dan kepuasan konsumen dan metode utama untuk memenuhi maksud tersebut.
Misi Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) H. Adam Malik Medan adalah : 1. Memberikan pelayanan kesehatan paripurna, bermutu, terjangkau oleh
2. Menyelenggarakan pendidikan dan latihan yang bermutu untuk menghasilkan sumber daya manusia yang profesional di bidang kesehatan.
3. Menyelengarakan penelitian dan pengembangan di bidang kesehatan dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan.
4. Menyelenggarakan pelayanan penunjang kesehatan yang berkualitas dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan.
Susunan Organisasi RSUP H. Adam Malik Medan terdiri dari : a. Direktur Utama
b. Direktorat Medik dan Perawatan
c. Direktorat Sumber Daya Manusia dan Pendidikan d. Direktorat Keuangan
e. Direktorat Umum dan operasional f. Unit-unit Non Struktural
A. Direktur Utama RSUP H. Adam Malik Medan
Direktur Utama RSUP H. Adam Malik Medan mempunyai tugas memimpin, merumuskan kebijaksanaan pelaksanaan, membina pelaksanaan, mengkoordinasikan dan mengawasi pelaksanaan tugas rumah sakit sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
B. Direktorat Medik dan Perawatan
Direktorat medik dan keperawatan mempunyai tugas mengelola pelayanan medis, keperawatan, dan penunjang. Untuk menyelenggarakan tugas tersebut, Direktorat Medik dan Perawatan menyelenggarakan fungsi :
1. Penyusunan rencana pelayanan medis, keperawatan dan penunjang. 2. Koordinasi pelaksanaan pelayanan medis, keperawatan dan penunjang 3. Pengendalian, pengawasan, dan evaluasi pelayanan medis, keperawatan
dan penunjang.
C. Direktorat Sumber Daya Manusia dan Pendidikan
Direktorat Sumber Daya Manusia dan Pendidikan mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan sumber daya manusia serta pendidikan dan penelitian yang dalam pelaksanaannya dilakukan dengan menyelenggarakan fungsi :
a. Penyusunan rencana kebutuhan sumber daya manusia, pendidikan, dan pelatihan serta penelitian dan pengembangan.
b. Koordinasi dan pelaksanaan pengelolaan sumber daya manusia, pendidikan, dan pelatihan serta penelitian dan pengembangan.
d. Pengendalian, pengawasan, dan evaluasi pelaksanaan pengelolaan sumber daya manusia, pendidikan dan pelatihan serta penelitian dan pengembangan.
D. Direktorat Keuangan
Direktorat Keuangan mempunyai tugas melaksanakan penyusunan program dan anggaran, pengelolaan perbendaharaan, mobilisasi dana, akuntansi dan vertikasi.
Untuk melaksanakan tugas ini, Direktorat Keuangan memiliki fungsi : a. Penyusunan rencana program dan anggaran
b. Koordinasi dan pelaksanaan urusan perbendaharaan dan mobilitasi dana, serta akuntansi dan vertikasi
c. Pengendalian, pengawasan, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan pengelolaan program dan anggaran, pembendaharaan dan mobilitasi dana, serta akuntansi dan verifikasi
E. Direktorat Umum dan Operasional
Direktorat umum dan operasional mempunyai tugas melaksanakan pengelolan data dan informasi, hukum, organisasi, dan hubungan masyarakat serta administrasi umum
Untuk melaksanakan tugas tersebut, Direktorat Umum dan Operasional menyelenggarakan fungsi :
a. Pengelolaan data dan Informasi
Direktorat Umum dan Operasional terdiri dari : 1. Bagian Data dan Informasi
Bagian Data dan Informasi mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan data dan informasi.
2. Bagian Hukum, Organisasi dan Hubungan Masyarakat
Bagian Hukum, Organisasi dan Hubungan Masyarakat mempunyai tugas melaksanakan urusan hukum dan hubungan masyarakat.
3. Bagian Umum
Bagian umum mempunyai tugas melaksanakan kegiatan urusan administrasi umum.
4. Instalasi
Di lingkungan Direktorat umum dan Operasional dibentuk Instalasi sebagai unit pelayanan non struktural yang terdiri dari :
• Instalasi Farmasi adalah unit peayanan non struktural yang
menyediakan fasilitas dan menyelenggarakan kegiatan pelayanan peracikan, penyimpanan, pengadaan dan pendristribusian obat-obatan dan bahan kimia, penyimpanan dan pendristribusian alat kesehatan serta pelaksanaan sterilisasi.
• Instalasi gizi adalah unit pelaksanaan non struktural yang
• Instalasi Rekam Medik adalah pelayanan non struktural yang
menyediakan fasilitas dan menyelengarakan kegiatan pelayanan rekam medik.
• Instalasi Laundri adalah unit pelayanan non struktural yang
menyediakan fasilitas dan menyelenggarakan kegiatan pelayanan pemeliharaan, penyimpanan, penyaluran, dan pencucian sarana sandang.
• Instalasi Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit (IPSRS) adalah unit
pelayanan non struktural yang menyediakan fasilitas dan menyelengarakan kegiatan pelayanan pemeliharaan sarana rumah sakit.
• Instalasi Sterilisasi Pusat adalah unit pelayanan non struktural yang
menyediakan fasilitas dan menyelenggarakan kegiatan pelayanan suci hama.
• Instalasi Kesehatan Lingkungan adalah unit pelayanan non
struktural yang menyediakan fasilitas dan menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan lingkungan.
• Instalasi Bank Darah adalah unit pelayanan non struktural yang
• Instalasi Gas Medik adalah unit pelayanan non struktural yang
menyediakan fasilitas dan menyelenggarakan kegiatan pelayanan gas medis.
• Instalasi Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) adalah unit
pelayanan non struktural yang menyediakan fasilitas dan menyelenggarakan kegiatan pelayanan sistem informasi rumah sakit.
• Instalasi Kedokteran Forensik dan pemulasaraan Jenazah adalah
unit pelayanan non struktural yang menyediakan fasilitas dan menyelenggarakan kegiatan pelayanan kedokteran forensik dan pemulasaraan jenazah.
5. Kelompok Jabatan Fungsional
Kelompok Jabatan fungsional mempunyai tugas melakukan kegiatan sesuai dengan jabatan fungsional masing-masing bedasarkan perundang-undangan yang berlaku.
F. Unit-unit Non Struktural
Unit-unit Non Struktural terdiri dari : 1. Dewan Pengawas
2. Komite
Komite adalah wadah non struktural yang terdiri dari tenaga ahli atau profesi yang dibentuk untuk memberikan pertimbangan strategi kepada Direktur Utama dalam rangka peningkatan dan pengembangan pelayanan rumah sakit.
Komite ini terdiri dari :
a. Komite medik adalah wadah non struktural kelompok profesional medis yang mempunyai tugas memberikan pertimbangan kepada Direktur Utama dalam hal menyusun standar pelayanan medis, hak klinis khusus kepada StafMedis Fungsional, program pelayanan pendidikan dan pelaihan, serta penelitian dan pengembangan.
b. Komite etik dan Hukum adalah komite yang mempunyai tugas memberikan pertimbangan kepada Direktur Utama dalam hal menyusun dan merumuskan medikoetikolegal dan etika pelayanan rumah sakit, penyelesaian masalah etik kedokteran, etik rumah sakit, pemeliharaan etika penyelenggaraan fungsi rumah sakit, kebijakan yang terikat dengan “Hospital Bylaws” serta “Medicall Staff Bylaws”, gugus tugas bantuan hukum dalam penanganan masalah hukum di rumah sakit.
3. Satuan Pemeriksaan Intern
4. Instalasi
Instalasi adalah unit pelayanan non struktural yang menyediakan fasilitas dan menyelenggarakan kegiatan pelayanan, pendidikan, dan penelitian rumah sakit.
3.4 Instalasi Farmasi RSUP H. Adam Malik Medan
Wadir Penunjang Medik dan Penelitian
Ka. Instalasi Farmasi Wa. Ka. Instalasi Farmasi
Gambar 2: Struktur Organisasi Instalasi Farmasi RSUP H. Adam Malik Instalasi farmasi RSUP H. Adam Malik medan mempunyai visi menjadi pusat unggulan pelayanan Rumah sakit di wilayah Sumatera Bagian Utara dan tengah. Misi Instalasi Farmasi adalah :
• Memberikan pelayanan farmasi produk secara paripurna, bermutu dan
terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. • Menyelenggarakan pelayanan farmasi klinik • Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan
Tata Usaha Farmasi
Pokja Perbekalan
• Menyelenggarakan penelitian dan pengembangan dibidang farmasi
Instalasi Farmasi RSUP H.Adam Malik sesuai SK Direktur RSUP H. Adam Malik Medan No. OT.01.01.11.249 mempunyai fungsi:
- Melaksanakan kegiatan tata usaha untuk menunjang kegiatan Instalasi Farmasi dan melaporkan seluruh kegiatan pelayanan kefarmasian
- Melaksanakan perencanaan perbekalan farmasi untuk kebutuhan RSUP H. Adam Malik serta melaksanakan evaluasi dan SIMRS (Sistim Informasi Manajemen Rumah sakit) Instalasi Farmasi
- Melaksanakan perencanaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian perbekalan farmasi di gudang Instalasi Farmasi dan memproduksi obat-obat sesuai dengan kebutuhan rumah sakit
- Mendistribusikan perbekalan farmasi ke seluruh satuan kerja/instalasi di lingkungan RSUP H. Adam Malik Medan baik untuk kebutuhan pasien rawat jalan, rawat inap, gawat darurat dan instalasi-instalasi penunjang lainnya
- Melaksanakan fungsi pelayanan Farmasi Klinis
- Melaksanakan pendidikan, penelitian dan pengembangan di bidang farmasi.
Sesuai dengan SK Direktur RSUP H. Adam Malik Nomor: OT.01.01.11.7934 tentang tujuan Pelayanan farmasi, adalah sebagai berikut:
A. Manajemen
3. Menjaga dan meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian tenaga farmasi dan staf
4. Melaksanakan sistem Informasi manajemen 5. Mengendalikan mutu Pelayanan
B. Farmasi Klinik
1. Mewujudkan perilaku sehat
2. Mengidentifikasi masalah yang berhubungan dengan obat dan menyelesaikannya
3. Merancang, menerapkan dan memonitor penggunaan obat yang rasional 4. Menjadi pusat informasi obat
5. Melaksanakan konseling
6. Melakukan pengkajian dan evaluasi penggunaan obat dirumah sakit 7. Melakukan pelayanan Total Parenteral Nutrisi (TPN)
8. Memonitor kadar obat dalam darah (TDM) C. Peran Aktif Dalam Panitia
1. Komite farmasi dan terapi 2. Panitia infeksi nosokomial 3. Panitia Pengadaan
3.4.1 Kepala Instalasi Farmasi
Kepala Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik mempunyai tugas memimpin, menyelenggarakan, mengkoordinasi, merencanakan, mengawasi dan mengevaluasi seluruh kegiatan pelayanan kefarmasian terhadap pasien, instalasi pelayanan dan instalasi penunjang lainnya di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Dalam melaksanakan tugasnya, Kepala Instalasi Farmasi berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Direktorat Umum dan Operasional.
Kepala Instalasi Farmasi dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh : 1. Wakil Kepala Instalasi Farmasi
2. Tata Usaha 3. Pokja Perbekalan 4. Pokja Apotek 5. Pokja Farmasi klinis
6. Pokja Perencanaan danEvaluasi
7. Depo Farmasi Rawat inap Terpadu A (Rindu A) 8. Depo Farmasi Rawat inap Terpadu B (Rindu B) 9. Depo Farmasi CMU Lt.III
10. IGD
3.4.2 Wakil Kepala Instalasi Farmasi
mengkoordinasikan, merencanakan, mengawasi dan mengevaluasi seluruh kegiatan pelayanan kefarmasian terhadap pasien, instalasi pelayanan dan instalasi penunjang lainnya di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, menggantikan tugas kepala Instalasi Farmasi apabila kepala Instalasi Farmasi berhalangan hadir.
3.4.3 Tata Usaha Farmasi
Tata Usaha Farmasi dipimpin oleh seorang kepala yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Kepala Instalasi Farmasi. Tugas Tata Usaha Farmasi mencakup :
1. Urusan administrasi dari seluruh pegawai yang ada di Instalasi Farmasi. Urusan administrasi berupa pembuatan surat, mengarsipkan surat keluar dan surat masuk.
2. Urusan kerumahtanggaan yaitu mengelola alat tulis kantor dan barang rumah tangga, serta pengelolaan barang inventaris.
3. Urusan kepegawaian yaitu pengawasan SDM, pembuatan DP3, kenaikan gaji berkala, pengajuan cuti, pengajuan naik pangkat, dan evaluasi kinerja pegawai/staf.
3.4.4 Kelompok Kerja 3.4.4.1 Pokja Perbekalan
Habis Pakai (AKHP), instrumen dasar, reagensia, radiofarmasi, obat dan cairan), memproduksi obat-obatan dan pengujian mutu sesuai dengan kebutuhan rumah sakit serta melaksanakan pencatatan, pelaporan dan evaluasi dari setiap pelaksanaan tugas di lingkungan Pokja Perbekalan.
3.4.4.2 Pokja Apotek
Pokja Apotek dipimpin oleh seorang kepala yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Kepala Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik, mempunyai tugas membantu kepala Instalasi Farmasi dalam hal mengkoordinasikan, membina, melaksanakan pelayanan kefarmasian terhadap pasien rawat jalan, rawat inap maupun gawat darurat dan melaksanakan pencatatan, pelaporan dan evaluasi dari setiap pelaksanaan tugas di lingkungan Pokja Apotek.
3.4.4.3 Pokja Farmasi Klinis
Pokja Farmasi Klinis dipimpin oleh seorang kepala yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Kepala Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik, mempunyai tugas membantu kepala Instalasi Farmasi dalam hal mengkoordinasikan, membina, melaksanakan pelayanan Farmasi Klinik dan melaksanakan pendidikan, penelitian dan pengembangan pelayanan kefarmasian serta melaksanakan pencatatan, pelaporan dan evaluasi dari setiap pelaksanaan tugas di lingkungan Pokja Farmasi Klinis.
3.4.4.4 Pokja Perencanaan dan Evaluasi
kepala Instalasi Farmasi dalam hal mengkoordinasikan, membina, melaksanakan perencanaan perbekalan farmasi untuk kebutuhan rumah sakit, melakukan evaluasi kegiatan pelayanan kefarmasian di RSUP H. Adam Malik dan melaksanakan SIMRS Instalasi Farmasi serta melaksanakan pencatatan, pelaporan dan evaluasi dari setiap pelaksanaan tugas di lingkungan Pokja Perencanaan dan Evaluasi.
3.4.4.5 Depo Farmasi A. Depo Farmasi Rindu A
Depo Farmasi Rindu A dipimpin oleh seorang kepala yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada kepala Instalasi Farmasi RSUP H. Adam Malik, yang bertugas membantu kepala Instalasi Farmasi dalam hal mengkoordinasikan, membina, melaksanakan perencanaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian perbekalan farmasi untuk pasien rawat inap di Rindu A secara sistem Unit Dose Dispensing (UDD) dan floor stock serta melaksanakan pencatatan, pelaporan dan evaluasi dari setiap pelaksanaan tugas di lingkungan Depo Farmasi Rindu A. Sistem distribusi Unit Dose Dispensing (UDD) hanya melayani pasien askes dan Jamkesmas.
B. Depo Farmasi Rindu B
melaksanakan pencatatan, pelaporan dan evaluasi dari setiap pelaksanaan tugas di lingkungan Depo Farmasi Rindu B. Sistem distribusi Unit Dose Dispensing (UDD) hanya melayani pasien askes dan Jamkesmas.
C. Depo Farmasi CMU Lantai III
Depo Farmasi CMU Lt. III dipimpin oleh seorang kepala yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada kepala Instalasi Farmasi RSUP H. Adam Malik, yang bertugas membantu kepala Instalasi Farmasi dalam hal mengkoordinasikan, membina, melaksanakan perencanaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian perbekalan farmasi untuk kebutuhan pasien Instalasi Bedah Pusat (IBP) dan Instalasi Perawatan Intensif (IPI) secara sistem Unit Dose Dispensing dan floor stock. Selain itu juga melaksanakan pencatatan, pelaporan dan evaluasi dari setiap pelaksanaan tugas di lingkungan Depo Farmasi CMU Lt. III. Sistem distribusi Unit Dose Dispensing (UDD) hanya melayani pasien Askes dan Jamkesmas.
3.5. Instalasi Cental Sterilized Supply Department (CSSD)
Instalasi Sterilisasi Pusat adalah satu unit kerja yang merupakan fasilitas, penyelenggaraan, kegiatan pelayanan kebutuhan steril yang dipimpin oleh seorang kepala instalasi yang berada dibawah Direktur Umum dan Operasional.
Kegiatan yang dilakukan dalam pelayanan CSSD adalah:
1. Melakukan sterilisasi instrument dan linen untuk kebutuhan kamar operasi 2. Melakukan sterilisasi untuk kebutuhan IGD
3. Melakukan sterilisasi untuk kebutuhan catheterisasi/bedah jantung 4. Melakukan sterilisasi ruangan dengan fogging dan UV lamp 5. Melakukan Re-USE dengan gas Etylen Oxyde
Tujuan pelayanan CSSD adalah melayani semua kebutuhan steril dari unit yang mengatur dan menyediakan kebutuhan steril dan peralatan kedokteran untuk tindakan pembedahan di RSUP H. Adam Malik Medan. Pelayanan CSSD yang baik selain akan meningkatkan kinerja rumah sakit, menurunkan infeksi nosokomial, mempercepat proses penyembuhan dan mendukung pelayanan lain di rumah sakit, juga dapat menjadi salah satu sumber pendapatan rumah Sakit.
Wakil kepala instalasi membantu kepala instalasi dalam menyelenggarakan, mengkoordinasikan, merencanakan serta mengawasi seluruh kegiatan di Instalasi Sterilisasi Pusat. Dalam menunjang tugas dan fungsi CSSD, dibentuk 3 pokja yaitu:
a. Pokja Penyediaan
Pokja penyediaan ini bertugas untuk membantu kepala instalasi dalam menyelenggarakan seluruh kegiatan penyediaan dan penerimaan kebutuhan steril di CSSD.
b. Pokja Pencucian dan Sterilisasi
di CSSD mulai dari pembilasan atau pencucian, pengeringan, pengemasan paket, sterilisasi dan penyimpanan.
c. Pokja Distribusi
Pokja distribusi ini bertugas dalam membantu kepala instalasi dalam menyelenggarakan seluruh kegiatan pendistribusian kebutuhan steril untuk unit IGD, IBP, IPI, Poliklinik, Rindu A, Rindu B.
Tata Usaha bertugas membantu kepala instalasi dalam menyelenggarakan seluruh ketatausahaan dan kerumahtanggaan di CSSD. Struktur Organisasi CSSD dapat dilihat pada gambar 3.
Kepala Instalasi CSSD Wa.Ka. Instalasi
Tata Usaha
Pokja
Pencucian/Sterilisasi
Pokja Distribusi Pokja
Penyediaan
Gambar 3. Struktur Organisasi Instalasi Central Sterilized Supply Department (CSSD) RSUP H. Adam Malik Medan
3.6. Instalasi Gas Medis
merupakan hal vital di rumah sakit sehingga perlu dipersiapkan pelayanan gas medik yang baik, efektif dan efisien kepada pasien yang membutuhkannya.
Instalasi Gas Medik yang berada dibawah dan bertanggung jawab langsung kepada Wadir Penunjang Medis dan Penelitian, mempunyai tugas menyelenggarakan, mengkoordinasikan, merencanakan, melaksanakan, mengawasi dan mengevaluasi seluruh kegiatan pelayanan gas medik di RSUP H. Adam Malik Medan. Struktur Organisasi Instalasi Gas Medik RSUP H. Adam Malik Medan dapat dilihat pada gambar 4
Pokja Pelayanan & Pemantauan Penggunaan Gas Medis Pokja Perbekalan &
Pendistribusian Gas Medis
Tata Usaha Gas Medis Wa.Ka. Instalasi Gas Medis
Ka. Instalasi Gas Medis
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan
Dari segi pengertian rumah sakit umum pemerintah RSUP H. Adam Malik sudah memenuhi kriteria umum rumah sakit kelas A. Dimana RSUP H. Adam Malik dipimpin oleh seorang Direktur Utama dan dibantu oleh 4 Direktur yang mengepalai Direktoratnya masing-masing.
Dari segi pelayanan medis RSUP H. Adam Malik memiliki pelayanan spesialisasi luas dan subspesialisasi luas, dan pelayanan kesehatan terhadap pasien rawat jalan dan rawat inap. Selain itu juga RSUP H. Adam Malik merupakan rumah sakit dengan pelaksanaan upaya rujukan untuk wilayah Sumatera Utara, Aceh, Sumatera Barat dan Riau.
merujuk kepada Daftar Harga Plafon an Harga Obat (DPHO) yang dibuat oleh PT. Askes.
4.2 Instalasi Farmasi Rumah Sakit
Instalasi Farmasi Rumah Sakit RSUP. H. Adam Malik melaksanakan berbagai pelayanan sesuai dengan standar Farmasi di rumah sakit, yaitu:
a. Pelayanan Farmasi Minimal 1. Perencanaan perbekalan farmasi
2. Pengadaan perbekalan farmasi baik melalui pembelian atau droping 3. Penerimaan perbekalan farmasi
4. Penyimpanan perbekalan farmasi 5. Produksi dan pengemasan kembali
6. Distribusi dan penyerahan untuk pasien rawat jalan dan inap b. Pelayanan Farmasi Klinis
1. Melakukan konseling 2. Pelayanan Informasi obat 3. Monitoring Efek Samping Obat
4. Melakukan visite ke ruangan rawat inap
5. Melakukan penyuluhan terhadap pasien rawat jalan, penyediaan informasi dan edukasi bagi staf medik, tenaga kesehatan lainnya dan pasien.
6. Pengembangan dan penelitian 4.2.1 Kelompok Kerja Perbekalan
Pokja perbekalan mempunyai beberapa tugas antara lain: Menerima perbekalan farmasi
Mendistribusikan perbekalan farmasi ke pokja apotek, depo dan
instalasi lain sesuai dengan kebutuhannya.
Mengemas kembali sediaan farmasi sesuai kebutuhan Memproduksi perbekalan farmasi
Melaksanakan administrasi, pencatatan dan pelaporan perbekalan
farmasi yang keluar dan masuk
Mengevaluasi stock of name secara berkala Memanagement perbekalan farmasi
Proses penerimaan perbekalana farmasi terbagi 2, yaitu:
1. Perbekalan farmasi yang dibeli secara tender, kontrak, SPK diterima oleh Panitia Penerima Barang bersama-sama dengan Bendaharawan Barang yang kemudian memeriksa dan meneliti keadaan perbekalan farmasi, yang meliputi:
− Barang yang diterima disesuaikan dengan surat pengantar barang
(SPB) dan surat pesanan (SP)
− Disesuaikan dan dicek packing listnya sesuai dengan yang diminta
− Dicek tanggal kadaluarsanya
− Dicek keabsahan sertifika produknya
kemudian diserahkan ke Instalasi Farmasi melalui Pokja Perbekalan dan dibuat berita acaranya. Petugas pokja Perbekalan menerima dan mencatat pada buku penerima perbekalan farmasi.
2. Perbekalan farmasi yang dibeli langsung dapat langsung diterima oleh pokja perbekalan.
bahan baku obat (mudah menguap/terbakar); obat narkotika dan psikotropik dalam lemari khusus dan terkunci, dan disusun secara alfabetis dengan sistem First In First Out (FIFO) dan First Expired First Out (FEFO).
Menurut pengamatan Instalasi Farmasi RSUP. H. Adam Malik memiliki 7 gudang perbekalan untuk menyimpan perbekalan farmasi, yaitu:
1. Gudang obat.
2. Gudang AKHP dan Instrumen dasar. 3. Gudang reagensia.
4. Gudang bahan baku. 5. Gudang re-packing
6. Gudang Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). 7. Gudang hemodialisa.
Pokja perbekalan melakukan kegiatan produksi sediaan farmasi. Menurut Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit tahun 2004, yang dimaksud dengan produksi adalah kegiatan membuat, merubah bentuk, dan pengemasan kembali sediaan farmasi steril atau nonsteril untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di rumah sakit. Kegiatan produksi yang dilakukan adalah membuat antara lain Aquadest, Alkohol 70% dan H2O2 3%,; mengubah menjadi kemasan
yang lebih kecil (re-packing) antara lain alkohol, talk, tinctur iodium dan handscrub.
Pendistribusian perbekalan farmasi dilakukan untuk memenuhi kebutuhan perbekalan farmasi di unit-unit pelayanan seperti:
2. Instalasi seperti IPA, IDT, Instalasi Rehabilitasi Medik. Beberapa instalasi lainnya seperti IPK, Hemodialisa, dan Radiologi telah memiliki Kerja Sama Operasional (KSO) dengan pihak lain sehingga kebutuhan perbekalan farmasinya tidak lagi dilayani oleh Instalasi Farmasi.
3. User lainnya seperti poliklinik rawat jalan.
Administrasi yang dilakukan meliputi mencatat perbekalan farmasi yang masuk dan yang keluar dahulu ke dalam buku penerimaan dan pengeluaran barang serta ke kartu stok, tetapi sekarang sudah menggunakan Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS). Pokja Perbekalan juga membuat laporan mutasi barang, laporan narkotik serta melakukan stok opname setiap bulan dan diakhir tahun.
4.2.2 Kelompok Kerja Farmasi Klinis
tanggal 2 Februari 2009 Pokja Farmasi Klinis telah melaksanakan pencampuran obat sitostatika (kemoterapi).
Kegiatan pelayanan farmasi klinis seperti pencampuran obat suntik secara aseptis, penyiapan TPN, pemantauan kadar obat dalam darah belum dilaksanakan oleh farmasis tetapi dilakukan oleh perawat sesuai dengan instruksi dokter. Banyak faktor yang menyebabkan kegiatan tersebut di atas belum dapat dilakukan oleh farmasis antara lain disebabkan karena tidak tersedianya sarana dan prasarana yang memadai.
4.2.3 Pokja Perencanaan dan Evaluasi
Pokja Perencanaan dan Evaluasi IFRS pada RSUP H. Adam Malik Medan mempunyai tugas melaksanakan perencanaan perbekalan farmasi untuk kebutuhan rumah sakit, melakukan evaluasi kegiatan pelayanan kefarmasian, serta melaksanakan pencatatan, pelaporan dan evaluasi dari setiap pelaksanaan tugas dilingkungan pokja perencanaan.
pelayanan kefarmasian dan pelaksanakan administrasi Pokja Perencanaan dan Evaluasi telah menerapkan SIMRS.
Hal ini talah mencerminkan upaya pengelolaan dan penggunaan obat secara rasional, dimana profesi farmasis dapat berperan serta dalam hal mengupayakan pelayanan kesehatan yang bermutu (high quality), merata, dan dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat (accessable and affordable). Mengingat bahwa profesi farmasis merupakan tenaga kesehatan yang khusus dididik untuk memperoleh pengetahuan dan ketrampilan dalam bidang pengelolaan dan penggunaan obat, maka peran serta yang dapat disumbangkan oleh profesi Farmasis dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan adalah : “meningkatkan mutu pengelolaan dan penggunaan obat dengan biaya yang dapat dipertanggungjawabkan, melalui pencegahan terhadap masalah-masalah yang terjadi sehubungan dengan pengelolaan dan penggunan obat”.
4.2.4 Apotek
Rumah sakit H. Adam Malik memiliki dua apotek sebagai perpanjangan tangan instalasi farmasi dalam mendistribusikan obat di lingkunan rumah sakit.
1. Apotek Rumah Sakit yang buka 24 jam melayani: - Kebutuhan pasien IGD
- Pasien umum
- Pasien jamkesmas dan askes rawat inap diluar jam kerja - Pasien jamkesmas rawat jalan
- Pasien Perusahaan
2. Apotek Rawat Jalan, melayani: - Pasien Askes rawat jalan - Pasien umum
Berdasarkan hasil pengamatan, sistem distribusi obat unit dose dispensing (UDD) diterapkan untuk pasien ASKES dan JAMKESMAS rawat inap, sedangkan untuk pasien Umum dan Pasien ASKES yang obatnya diluar DPHO diterapkan resep individual.
4.2.5 Depo Farmasi
Depo farmasi merupakan perpanjangan tangan dari instalasi farmasi yang bertugas mengkoordinasikan, membina, melaksanakan perencanaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian perbekalan farmasi ke pasien yang ada di instalasi Rindu A, Rindu B dan CMU lantai III. Perbekalan farmasi didistribusikan secara sistem unit dose dispensing, floor stock dan resep individual.
Depo farmasi Rindu A melayani kebutuhan obat dan AKHP untuk pasien Jamkesmas dan Askes yang ada di ruangan Rawat inap terpadu A. Sementara itu, Depo farmasi Rindu B melayani kebutuhan obat dan AKHP untuk pasien Jamkesmas dan Askes yang ada di ruangan di ruangan Rawat inap terpadu B. Depo CMU lantai III melayani pendistribusian perbekalan kesehatan untuk pasien jamkesmas dan Askes untuk kebutuhan pada Instalasi Bedah Pusat (IBP) dan Instalasi Perawatan Intensif (IPI).
menjadi satu dosis tunggal tetapi penyerahannya kepada pasien oleh perawat diberikan sekaligus untuk pemakaian satu hari bukan untuk satu kali pakai.
4.3 Instalasi Central Sterilized Supply Department (CSSD)
Berdasarkan pengamatan, CSSD telah melaksanakan kegiatan: pencucian, pengeringan, pengemasan/paket, pemberian label, pemberian indikator, sterilisasi, penyimpanan, dan pendistribusian ke unit-unit yang membutuhkan perlengkapan steril. CSSD juga telah melakukan sterilisasi ruangan dengan cara pengasapan (fogging), juga sterilisasi dengan Etylen Oxyde untuk alat yang tidak tahan panas. Perlengkapan yang disterilkan di Central Sterilized Supply Department meliputi:
- Instrumen - Linen - AKHP
Prosedur sterilisasi di Central Sterilized Supply Department adalah:
- Peralatan direndam beberapa menit dalam larutan tablet germisep untuk menetralkan mikroba yang ada pada peralatan
- Setelah direndam di dalam tablet germisep peralatan ditransfer dari CMU ke ruang CSSD.
- Peralatan kemudian dicuci secara enzimatis.
- Peralatan kemudian dibersihkan dengan air mengalir - Peralatan dikeringkan
- Peralatan kemudian disterilisasi dengan autoklaf pada suhu 132 0C selama 15 menit
- Peralatan yang telah disterilisasi kemudian disimpan dalam ruang steril sebelum didistribusikan ke ruangan yang membutuhkan
- Peralatan kemudian di distribusikan
CSSD juga memberikan penyuluhan kepada petugas kesehatan, pasien dan keluarga pasien untuk menjaga kebersihan dalam upaya pencegahan infeksi nosokomial dengan menempelkan poster himbauan disetiap unit-unit pelayanan kesehatan.
4.4 Instalasi Gas Medis
Pengelolaan gas medis sudah ditangani oleh suatu instalasi khusus yaitu Instalasi Gas Medis sejak Februari 2005. Ini dilakukan untuk pengembangan pelayanan, mengingat gas medis merupakan perbekalan farmasi yang termasuk life saving yang sangat penting, dimana bila terjadi keterlambatan beberapa menit saja dapat menyebabkan kejadian yang cukup fatal, bahkan kematian.
Instalasi Gas Medis telah mendistribusikan gas medis untuk melayani kebutuhan user-user yaitu:
- Instalasi Rawat Darurat - Instalasi Rawat Jalan - Instalasi Bedah Pusat
- Instalasi Anestesi dan Reanimasi - Instalasi Kardiovaskuler
- Instalasi Rindu B
- Instalasi Diagnostik Terpadu - Kemotoran (Ambulance)
Instalasi gas medis mempunyai tugas yaitu:
Menerima gas medis dalam bentuk gas cair ke dalam tangki Menyimpan gas medis dalam bentuk tabung di gudang
Mendistribusikan gas dalam bentuk tabung dan ke dalam ruangan
selama 24 jam
Melakukan pelaporan bulanan mengenai penggunaan gas medis
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
a. Pasien yang datang ke RSUP H. Adam Malik Medan umumnya pasien Jamkesmas dan Pasien Askes, serta sebagian kecil pasien umum.
b. Instalasi Farmasi Rumah Sakit H. Adam Malik Medan telah melaksanakan fungsi pelayanan perbekalan dan fungsi pelayanan medis dengan baik. Dimana fungsi pelayanan perbekalan dilakukan oleh pokja Perencanaan dan evaluasi, pokja perbekalan dan pokja apotek, sedangkan fungsi pelayanan medis dilakukan oleh pokja farmasi klinis
c. Pokja perencanaan dan evaluasi telah melaksanakan perencanaan terhadap
penyediaan perbekalan farmasi dan alat-alat kesehatan dengan baik.
d. Pokja Perbekalan telah melaksanakan fungsinya dalam hal penyimpanan dan pendistribusian obat dengan baik di gudang perbekalan farmasi.
e. Pokja farmasi klinis telah melakukan Pelayanan Informasi Obat, konseling pasien, visite ke ruangan rawat inap dan monitoring efek samping obat, penanganan obat sitostatika, walaupun pada pelaksanaannya belum optimal. Sementara penentuan kadar obat dalam darah, pencampuran obat suntik secara aseptis, penyiapan TPN, belum terlaksana karena sarana dan prasarana belum memadai serta tenaga terlatih yang masih sedikit.
f. Pendistribusian obat di rumah sakit merupakan kombinasi sistem
pelaksanaan sistem distribusi unit dose dispensing belum sesuai dengan protap yang ada.
g. Instalasi CSSD telah melaksanakan kegiatan sterilisasi untuk kebutuhan seluruh unit yang membutuhkan di RSUP H. Adam Malik.
h. Penanganan gas medis telah dilaksanakan dengan baik oleh Instalasi Gas Medis.
i. RSUP H. Adam Malik Medan, termasuk IFRS telah menerapkan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) secara online sehingga mempermudah pemantauan persediaan perbekalan dan pemantauan penggunaan obat di depo-depo ataupun di apotek.
5.2 Saran
a. Apoteker di RSUP H. Adam Malik Medan diharapkan berperan lebih aktif dalam melaksanakan KIE pada pasien terutama pasien rawat inap mengenai kepatuhan penggunaan obat.
b. Apoteker di RSUP H. Adam Malik Medan diharapkan dapat memantau pelaksanaan sistem distribusi obat unit dose dispensing agar sesuai protap sehingga menjamin obat digunakan; mengurangi kesalahan pemberian obat; menghentikan dan mengganti pemberian obat-obat yang menunjukkan Reaksi Obat Merugikan (ROM); dan mencegah terjadinya pemborosan obat.
DAFTAR PUSTAKA
Aslam. (2003). Farmasi Klinis. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.
Depkes RI, Keputusan Menkes RI No. 1197/MENKES/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Indonesia.
Depkes RI, Keputusan Menkes RI No. 547/MENKES/SK/VI/1994 tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan.
Depkes RI, Keputusan MenKes RI No. 1439/Menkes/SK/XI/2002 tentang Penggunaan Gas Medis Pada Sarana Pelayanan Kesehatan.
Hidayat, E.T., (2003). Panduan CSSD Modern. Cetakan Pertama. Jakarta: RS Pusat Pertamina.
Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI). (2003). Standar Kompetensi Farmasis Indonesia. Jakarta: ISFI
Siregar C. (2004). Farmasi Rumah Sakit Teori dan Penerapan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Surat Keputusan Direktur RSUP H. Adam Malik Medan No. YM. 00. 03. 4.1 tentang Pedoman Pelayanan CSSD RSUP H. Adam Malik Medan.
Surat Keputusan Direktur RSUP. H. Adam Malik Medan No YM. 01.01.5.3.1757 tentang Penetapan Sub Komite Medik RSUP H. Adam Malik Medan.
Surat Keputusan Direktur RSUP H. Adam Malik Medan No. OT. 01. 01. 11. 249 tentang Perubahan Organisasi dan Tata Kerja Instalasi Farmasi RSUP H. Adam Malik Medan.
Surat Keputusan Direktur RSUP H. Adam Malik Medan No. OT. 01. 01. 11. 7934 tentang Penetapan Falsafah dan Tujuan Pelayanan farmasi Instalasi Farmasi RSUP H. Adam Malik Medan