• Tidak ada hasil yang ditemukan

Evaluasi Kualitas Air Sungai Cisadane Di Wilayah Kabupaten Bogor Periode 1999-2003

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Evaluasi Kualitas Air Sungai Cisadane Di Wilayah Kabupaten Bogor Periode 1999-2003"

Copied!
96
0
0

Teks penuh

(1)

EVALUASI KUALITAS AIR SUNGAI CISADANE

DI WILAYAH KABUPATEN BOGOR PERIODE 1999-2003

Oleh : ZAMRIN E03400023

DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA

FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

RINGKASAN

ZAMRIN. E04300023. Evaluasi Kualitas Air Sungai Cisadane Wilayah Kabupaten Bogor Periode 1999-2003. Dibawah bimbingan Ir. Agus Priyono, MS dan Ir. Siti Badriyah Rushayati, MSi

Air merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia, Namun dewasa ini penyediaan air menjadi permasalahan yang perlu mendapat perhatian khusus, sebab untuk mendapatkan air dengan kualitas dan kuantitas yang baik sesuai dengan kebutuhan dirasa mulai susah, hal ini terjadi karena penurunan kualitas air sebagai akibat banyaknya bahan pencemar yang tercampur dalam air.

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat pencemaran air sungai Cisadane dengan menggunakan pendekatan fisika, kimia dan mikrobiologi serta menduga pengaruh perubahan penggunaan lahan terhadap kualitas air Sungai Cisadane. Penelitian ini dilaksanakan di Sungai Cisadane yang melintasi wilayah Kabupaten Bogor. Lokasi pengambilan sampel terdiri dari tiga titik, yaitu Jembatan Mesang Desa Pasir Buncit Kec. Caringin, Jembatan Ciampea Desa Rancabungur Kec. Kemang dan Jembatan Gerandong Desa Putatnutung Kec. Parung.

Data yang dikumpulkan untuk analisis kualitas air antara lain suhu, kekeruhan, total padatan terlarut (TDS), total padatan tersuspensi (TSS), pH, BOD, DO, Nitrat dan total coli. Data ini merupakan hasil pemantauan kegiatan Program Kali Bersih (PROKASIH) yang dilakukan oleh BAPEDALDA Kabupaten Bogor selama periode pengukuran tahun 1999-2003. Data mengenai pola penggunaan lahan wilayah Kabupaten Bogor diperoleh dari Laporan Akhir Analisa Perubahan Tutupan Lahan Berdasarkan Citra Satelit Spot 5 di Wilayah Kabupaten Bogor yang dikeluarkan oleh Badan Perencanaan Daerah Pemerintah Kabupaten Bogor bekerjasama dengan Fakultas Kehutanan IPB.

Analisis data yang dilakukan meliputi analisis nilai rata-rata kualitas air yang dibandingkan dengan baku mutu dalam Peraturan Pemerintah No.82 tahun 2001. Untuk mengetahui tingkat mutu kualitas perairan digunakan analisis nilai Indeks Mutu Kualitas Air (IMKA) NSF-WQI. Untuk mengetahui perubahan penggunaan lahan dilakukan pembandingan luas penggunaan lahan Kabupaten Bogor tahun 1998 dengan luas penggunaan lahan Kabupaten Bogor tahun 2003.

Berdasarkan nilai rata-rata hasil pengukuran selama tahun 1999–2003 di tiga stasiun pengukuran diketahui bahwa nilai suhu tidak mengalami fluktuasi yang besar. Nilai suhu rata-rata selama lima tahun tersebut berkisar antara 26,8-28,2 °C. Namun bila dilihat secara lebih terperinci dapat dilihat bahwa dari tahun ketahun nilai suhu tersebut cenderung meningkat.

Nilai rata-rata kekeruhan selama tahun 1999-2003 menunjukkan fluktuasi yang cukup lebar, nilai kekeruhan ini berkisar antara 18,56-69,22 NTU. Secara keseluruhan nilai kekeruhan dari tahun 1999 sampai tahun 2003 mengalami peningkatan sebesar 39,04 NTU, peningkatan ini melabihi 100% dari kondisi awal. Bila dibandingkan dengan baku mutu maka nilai kekeruhan dari tahun 1999 sampai dengan tahun 2003 masih belum melewati baku mutu kekeruhan

(3)

peningkatan yang cukup tinggi antara tahun 1999, 2000 dan 2003. Namun bila dibandingkan dengan baku mutu air yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 dapat diketahui bahwa nilai padatan terlarut ini masih berada dalam kisaran baku mutu sesuai dengan peruntukan masing-masing

Pengukuran terhadap nilai total padatan terlarut tidak menunjukkan kecenderungan naik ataupun turun.. Nilai TDS rata-rata per tahun ini masih berada dalam kisaran baku mutu air yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001.

Pengukuran terhadap nilai pH menunjukkan terjadinya fluktuasi selama lima tahun pengukuran. Meskipun mengalami fluktuasi nilai pH rata-rata ini masih berada dalam kisaran pH air normal. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 nilai pH tahun 1999 sampai dengan tahun 2003 masih berada dalam kisaran baku mutu sesuai dengan peruntukan masing-masing

Nilai DO rata-rata per tahun menunjukkan terjadinya fluktuasi. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 nilai DO dari tahun 1999 sampai tahun 2003 ini masih memenuhi baku mutu untuk semua kelas.

Nilai BOD5 pada empat tahun pengukuran menunjukkan kecenderungan meningkatan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 kondisi air sungai cisadane pada tahun 1999 dan 2000 masih berada dalam kisaran baku mutu. Namun pada tahun 2002 dan 2003 kondisi BOD5 pada perairan ini telah melampaui baku mutu.

Pengukuran terhadap kandungan nitrat selama tiga tahun pengukuran menunjukkan kecenderung penurunan kandungan nitrat. Berdasarkan peraturan Pemerintah No.82 tahun 2001 kandungan nitrat ini berada dalam kisaran baku mutu sesuai dengan peruntukan masing-masing

Nilai rata-rata kandungan total coli selama lima tahun pengukuran berfluktuasi. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001, kandungan total coli rata-rata pada tiga stasiun masih berada dalam kisaran baku mutu air.

Berdasarkan perhitungan tingkat kualitas air Sungai Cisadane dengan menggunakan IKA-NSF WQI dapat diketahui bahwa selama tahun 1999 sampi dengan tahun 2003 kualitas air Sungai Cisadane termasuk dalam kategori baik sampai dengan sedang. Pada tahun 1999 kualitas air sungai cisadane yang melintasi Kabupaten Bogor termasuk dalam kategori baik, tahun 2000 sampai dengan tahun 2003 kualitas air sungai ini masuk dalam kategori sedang. Namun jika dilihat perubahan nilai kualitas air per tahunnya diketahui bahwa kualitas air Sungai Cisadane dari tahun 1999 sampai dengan tahun 2003 mengalami penurunan.

(4)

EVALUASI KUALITAS AIR SUNGAI CISADANE

DI WILAYAH KABUPATEN BOGOR PERIODE 1999-2003

KARYA ILMIAH

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan

pada

Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor

Oleh : Zamrin E03400023

DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA

FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(5)

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Penelitian : Evaluasi Kualitas Air Sungai Cisadane di Wilayah Kabupaten Bogor Periode 1999-2003

Departemen : Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata

Nama : ZAMRIN

NRP : E03400023

Menyetujui :

Dosen Pembimbing I, Dosen Pembimbing II,

Ir. Agus Priyono, MS Ir. Siti Badriyah Rushayati, MSi NIP: 131 578 800 NIP : 132 257 887

Mengetahui : Dekan Fakultas Kehutanan

(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis merupakan anak ke-2 dari empat bersaudara dari pasangan bapak Amiruddin Gani dan Ibu Hardaneli yang lahir pada tanggal 12 September 1982 di Kerinci, Jambi.

Pendidikan formal penulis dimulai sejak tahun 1987 di TK Islam Diniyah Muara Bungo dan selesai pada tahun 1988. Kemudian dilanjutkan di SDN No. 285/II Muara Bungo pada tahun yang sama dan lulus pada tahun 1994. Penulis melanjutkan pendidikan di SMPN 1 Muara Bungo hingga tahun 1997, kemudian masuk di SMUN 1 Muara Bungo pada tahun 1997 hingga tahun 2000. Pada tahun 2000, Penulis melanjutkan pendidikan di Institut Pertanian Bogor Fakultas Kehutanan Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan melalui jalur Ujian Seleksi Masuk IPB (USMI).

(7)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan. Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan berkat bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis menyampaikan terima kasih yang setulusnya kepada :

1. Ir. Agus Priyono, MS dan Ir. Siti Badriyah Rushayati, MSi selaku dosen pembimbing yang telah memberikan pengarahan dan bimbingan dalam penyusunan skripsi ini

2. Dinas Tata Ruang dan Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor, Badan Perencanaan Daerah (BAPEDA) Kabupaten Bogor dan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Citarum-Ciliwung atas segala bantuan yang diberikan dalam penyusunan skripsi ini

3. Keluarga tercinta atas doa restu dan kasih sayangnya

4. Keluarga besar Fakultas Kehutanan dan Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan

5. Serta pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Penulis berharap karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Bogor, Maret 2007

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... iii

DAFTAR GAMBAR ... iv

DAFTAR LAMPIRAN ... v

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Tujuan Penelitian ... 2

C. Manfaat Penelitian ... 2

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Sungai dan Daerah Aliran Sungai ... 3

B. Kualitas Air ... 3

C. Kriteria dan Baku Mutu Air ... 4

D. Parameter Kualitas Air D.1. Parameter Fisika ... 5

D.2. Parameter Kimia ... 7

D.3. Parameter Mikrobiologi ... 9

E. Pencemaran Air ... 10

F. Tata Guna Lahan ... 10

III. METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 13

B. Cara Pengumpulan Data ... 13

C. Pengolahan Data C.1. Analisis Kualitas Air ... 13

C.2. Analisis Perubahan Penggunaan Lahan ... 16

IV. KEADAAN UMUM SUNGAI CISADANE A. Deskripsi Wilayah Sungai Cisadane ... 17

B. Pemanfaatan Air Sungai Cisadane ... 18

C. Sumber Pencemaran Air Sungai Cisadane ... 18

(9)

Halaman V. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Kualitas Air Sungai Cisadane

A.1. Parameter Fisika ... 21

A.2. Parameter Kimia ... 29

A.3. Parameter Mikrobiologi ... 37

B. Tingkat Kualitas Air ... 39

C. Kaitan Perubahan Penggunaan Lahan dengan Kualitas Air ... 41

VI. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 44

B. Saran ... 44

DAFTAR PUSTAKA ... 45

(10)

DAFTAR TABEL

Halaman

1 Bobot parameter dalam perhitungan IKA-NSF WQI ... 14

2 Kisaran nilai indeks total IKA-NSF WQI ... 15

3 Fluktuasi suhu air rata-rata per stasiun ... 22

4 Fluktuasi rata-rata kekeruhan per stasiun ... 24

5 Fluktuasi rata-rata TSS per stasiun ... 27

6 Fluktuasi rata-rata TDS per stasiun ... 28

7 Fluktuasi rata-rata pH per stasiun ... 30

8 Fluktuasi rata-rata DO per stasiun ... 32

9 Fluktuasi rata-rata BOD5 per stasiun ... 35

10 Fluktuasi rata-rata nitrat per stasiun ... 36

11 Fluktuasi rata-rata Total coli per stasiun ... 38

12 Nilai indeks kualitas air Sungai Cisadane ... 40

(11)

EVALUASI KUALITAS AIR SUNGAI CISADANE

DI WILAYAH KABUPATEN BOGOR PERIODE 1999-2003

Oleh : ZAMRIN E03400023

DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA

FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(12)

RINGKASAN

ZAMRIN. E04300023. Evaluasi Kualitas Air Sungai Cisadane Wilayah Kabupaten Bogor Periode 1999-2003. Dibawah bimbingan Ir. Agus Priyono, MS dan Ir. Siti Badriyah Rushayati, MSi

Air merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia, Namun dewasa ini penyediaan air menjadi permasalahan yang perlu mendapat perhatian khusus, sebab untuk mendapatkan air dengan kualitas dan kuantitas yang baik sesuai dengan kebutuhan dirasa mulai susah, hal ini terjadi karena penurunan kualitas air sebagai akibat banyaknya bahan pencemar yang tercampur dalam air.

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat pencemaran air sungai Cisadane dengan menggunakan pendekatan fisika, kimia dan mikrobiologi serta menduga pengaruh perubahan penggunaan lahan terhadap kualitas air Sungai Cisadane. Penelitian ini dilaksanakan di Sungai Cisadane yang melintasi wilayah Kabupaten Bogor. Lokasi pengambilan sampel terdiri dari tiga titik, yaitu Jembatan Mesang Desa Pasir Buncit Kec. Caringin, Jembatan Ciampea Desa Rancabungur Kec. Kemang dan Jembatan Gerandong Desa Putatnutung Kec. Parung.

Data yang dikumpulkan untuk analisis kualitas air antara lain suhu, kekeruhan, total padatan terlarut (TDS), total padatan tersuspensi (TSS), pH, BOD, DO, Nitrat dan total coli. Data ini merupakan hasil pemantauan kegiatan Program Kali Bersih (PROKASIH) yang dilakukan oleh BAPEDALDA Kabupaten Bogor selama periode pengukuran tahun 1999-2003. Data mengenai pola penggunaan lahan wilayah Kabupaten Bogor diperoleh dari Laporan Akhir Analisa Perubahan Tutupan Lahan Berdasarkan Citra Satelit Spot 5 di Wilayah Kabupaten Bogor yang dikeluarkan oleh Badan Perencanaan Daerah Pemerintah Kabupaten Bogor bekerjasama dengan Fakultas Kehutanan IPB.

Analisis data yang dilakukan meliputi analisis nilai rata-rata kualitas air yang dibandingkan dengan baku mutu dalam Peraturan Pemerintah No.82 tahun 2001. Untuk mengetahui tingkat mutu kualitas perairan digunakan analisis nilai Indeks Mutu Kualitas Air (IMKA) NSF-WQI. Untuk mengetahui perubahan penggunaan lahan dilakukan pembandingan luas penggunaan lahan Kabupaten Bogor tahun 1998 dengan luas penggunaan lahan Kabupaten Bogor tahun 2003.

Berdasarkan nilai rata-rata hasil pengukuran selama tahun 1999–2003 di tiga stasiun pengukuran diketahui bahwa nilai suhu tidak mengalami fluktuasi yang besar. Nilai suhu rata-rata selama lima tahun tersebut berkisar antara 26,8-28,2 °C. Namun bila dilihat secara lebih terperinci dapat dilihat bahwa dari tahun ketahun nilai suhu tersebut cenderung meningkat.

Nilai rata-rata kekeruhan selama tahun 1999-2003 menunjukkan fluktuasi yang cukup lebar, nilai kekeruhan ini berkisar antara 18,56-69,22 NTU. Secara keseluruhan nilai kekeruhan dari tahun 1999 sampai tahun 2003 mengalami peningkatan sebesar 39,04 NTU, peningkatan ini melabihi 100% dari kondisi awal. Bila dibandingkan dengan baku mutu maka nilai kekeruhan dari tahun 1999 sampai dengan tahun 2003 masih belum melewati baku mutu kekeruhan

(13)

peningkatan yang cukup tinggi antara tahun 1999, 2000 dan 2003. Namun bila dibandingkan dengan baku mutu air yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 dapat diketahui bahwa nilai padatan terlarut ini masih berada dalam kisaran baku mutu sesuai dengan peruntukan masing-masing

Pengukuran terhadap nilai total padatan terlarut tidak menunjukkan kecenderungan naik ataupun turun.. Nilai TDS rata-rata per tahun ini masih berada dalam kisaran baku mutu air yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001.

Pengukuran terhadap nilai pH menunjukkan terjadinya fluktuasi selama lima tahun pengukuran. Meskipun mengalami fluktuasi nilai pH rata-rata ini masih berada dalam kisaran pH air normal. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 nilai pH tahun 1999 sampai dengan tahun 2003 masih berada dalam kisaran baku mutu sesuai dengan peruntukan masing-masing

Nilai DO rata-rata per tahun menunjukkan terjadinya fluktuasi. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 nilai DO dari tahun 1999 sampai tahun 2003 ini masih memenuhi baku mutu untuk semua kelas.

Nilai BOD5 pada empat tahun pengukuran menunjukkan kecenderungan meningkatan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 kondisi air sungai cisadane pada tahun 1999 dan 2000 masih berada dalam kisaran baku mutu. Namun pada tahun 2002 dan 2003 kondisi BOD5 pada perairan ini telah melampaui baku mutu.

Pengukuran terhadap kandungan nitrat selama tiga tahun pengukuran menunjukkan kecenderung penurunan kandungan nitrat. Berdasarkan peraturan Pemerintah No.82 tahun 2001 kandungan nitrat ini berada dalam kisaran baku mutu sesuai dengan peruntukan masing-masing

Nilai rata-rata kandungan total coli selama lima tahun pengukuran berfluktuasi. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001, kandungan total coli rata-rata pada tiga stasiun masih berada dalam kisaran baku mutu air.

Berdasarkan perhitungan tingkat kualitas air Sungai Cisadane dengan menggunakan IKA-NSF WQI dapat diketahui bahwa selama tahun 1999 sampi dengan tahun 2003 kualitas air Sungai Cisadane termasuk dalam kategori baik sampai dengan sedang. Pada tahun 1999 kualitas air sungai cisadane yang melintasi Kabupaten Bogor termasuk dalam kategori baik, tahun 2000 sampai dengan tahun 2003 kualitas air sungai ini masuk dalam kategori sedang. Namun jika dilihat perubahan nilai kualitas air per tahunnya diketahui bahwa kualitas air Sungai Cisadane dari tahun 1999 sampai dengan tahun 2003 mengalami penurunan.

(14)

EVALUASI KUALITAS AIR SUNGAI CISADANE

DI WILAYAH KABUPATEN BOGOR PERIODE 1999-2003

KARYA ILMIAH

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan

pada

Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor

Oleh : Zamrin E03400023

DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA

FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(15)

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Penelitian : Evaluasi Kualitas Air Sungai Cisadane di Wilayah Kabupaten Bogor Periode 1999-2003

Departemen : Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata

Nama : ZAMRIN

NRP : E03400023

Menyetujui :

Dosen Pembimbing I, Dosen Pembimbing II,

Ir. Agus Priyono, MS Ir. Siti Badriyah Rushayati, MSi NIP: 131 578 800 NIP : 132 257 887

Mengetahui : Dekan Fakultas Kehutanan

(16)

RIWAYAT HIDUP

Penulis merupakan anak ke-2 dari empat bersaudara dari pasangan bapak Amiruddin Gani dan Ibu Hardaneli yang lahir pada tanggal 12 September 1982 di Kerinci, Jambi.

Pendidikan formal penulis dimulai sejak tahun 1987 di TK Islam Diniyah Muara Bungo dan selesai pada tahun 1988. Kemudian dilanjutkan di SDN No. 285/II Muara Bungo pada tahun yang sama dan lulus pada tahun 1994. Penulis melanjutkan pendidikan di SMPN 1 Muara Bungo hingga tahun 1997, kemudian masuk di SMUN 1 Muara Bungo pada tahun 1997 hingga tahun 2000. Pada tahun 2000, Penulis melanjutkan pendidikan di Institut Pertanian Bogor Fakultas Kehutanan Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan melalui jalur Ujian Seleksi Masuk IPB (USMI).

(17)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan. Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan berkat bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis menyampaikan terima kasih yang setulusnya kepada :

1. Ir. Agus Priyono, MS dan Ir. Siti Badriyah Rushayati, MSi selaku dosen pembimbing yang telah memberikan pengarahan dan bimbingan dalam penyusunan skripsi ini

2. Dinas Tata Ruang dan Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor, Badan Perencanaan Daerah (BAPEDA) Kabupaten Bogor dan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Citarum-Ciliwung atas segala bantuan yang diberikan dalam penyusunan skripsi ini

3. Keluarga tercinta atas doa restu dan kasih sayangnya

4. Keluarga besar Fakultas Kehutanan dan Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan

5. Serta pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Penulis berharap karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Bogor, Maret 2007

(18)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... iii

DAFTAR GAMBAR ... iv

DAFTAR LAMPIRAN ... v

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Tujuan Penelitian ... 2

C. Manfaat Penelitian ... 2

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Sungai dan Daerah Aliran Sungai ... 3

B. Kualitas Air ... 3

C. Kriteria dan Baku Mutu Air ... 4

D. Parameter Kualitas Air D.1. Parameter Fisika ... 5

D.2. Parameter Kimia ... 7

D.3. Parameter Mikrobiologi ... 9

E. Pencemaran Air ... 10

F. Tata Guna Lahan ... 10

III. METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 13

B. Cara Pengumpulan Data ... 13

C. Pengolahan Data C.1. Analisis Kualitas Air ... 13

C.2. Analisis Perubahan Penggunaan Lahan ... 16

IV. KEADAAN UMUM SUNGAI CISADANE A. Deskripsi Wilayah Sungai Cisadane ... 17

B. Pemanfaatan Air Sungai Cisadane ... 18

C. Sumber Pencemaran Air Sungai Cisadane ... 18

(19)

Halaman V. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Kualitas Air Sungai Cisadane

A.1. Parameter Fisika ... 21

A.2. Parameter Kimia ... 29

A.3. Parameter Mikrobiologi ... 37

B. Tingkat Kualitas Air ... 39

C. Kaitan Perubahan Penggunaan Lahan dengan Kualitas Air ... 41

VI. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 44

B. Saran ... 44

DAFTAR PUSTAKA ... 45

(20)

DAFTAR TABEL

Halaman

1 Bobot parameter dalam perhitungan IKA-NSF WQI ... 14

2 Kisaran nilai indeks total IKA-NSF WQI ... 15

3 Fluktuasi suhu air rata-rata per stasiun ... 22

4 Fluktuasi rata-rata kekeruhan per stasiun ... 24

5 Fluktuasi rata-rata TSS per stasiun ... 27

6 Fluktuasi rata-rata TDS per stasiun ... 28

7 Fluktuasi rata-rata pH per stasiun ... 30

8 Fluktuasi rata-rata DO per stasiun ... 32

9 Fluktuasi rata-rata BOD5 per stasiun ... 35

10 Fluktuasi rata-rata nitrat per stasiun ... 36

11 Fluktuasi rata-rata Total coli per stasiun ... 38

12 Nilai indeks kualitas air Sungai Cisadane ... 40

(21)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1 Fluktuasi suhu rata-rata per-tahun ... 22

2 Fluktuasi suhu per-stasiun pengukuran ... 23

3 Fluktuasi kekeruhan per-tahun ... 23

4 Fluktuasi nilai kekeruhan per-stasiun... 25

5 Fluktuasi TSS rata-rata per-tahun... 26

6 Fluktuasi nilai TSS per-stasiun... 27

7 Fluktuasi TDS rata-rata per-tahun ... 28

8 Fluktuasi nilai TDS per-stasiun ... 29

9 Fluktuasi pH rata-rata per-tahun... 30

10 Fluktuasi nilai pH per-stasiun... 31

11 Fluktuasi DO rata-rata per-tahun... 32

12 Fluktuasi nilai DO per-stasiun... 33

13 Fluktuasi BOD rata-rata per-tahun ... 34

14 Fluktuasi nilai BOD per-stasiun ... 35

15 Fluktuasi nitratrata-rata per-tahun ... 36

16 Fluktuasi kandungan nitrat per-stasiun... 37

17 Fluktuasi total coli rata-rata per-tahun ... 37

18 Fluktuasi total coli rata-rata per-stasiun... 38

19 Fluktuasi kualitas air dari tahun 1999-2003 ... 39

(22)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1 Peta lokasi sampling ... 49 2 Peraturan Pemerintah RI No. 82 Tahun 2001 dan SK Gub. Jawa Barat

(23)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Air merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia. Dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia ini, air antara lain digunakan sebagai bahan baku air minum, air untuk mandi, mencuci, pengairan pertanian, perikanan, transpotasi, dan industri. Dewasa ini penyediaan air menjadi permasalahan yang perlu mendapat perhatian khusus, sebab untuk mendapatkan air dengan kualitas dan kuantitas yang baik sesuai dengan kebutuhan di beberapa daerah sudah semakin susah, hal ini terjadi karena penurunan kualitas air sebagai akibat banyaknya bahan pencemar yang tercampur dalam air. Banyaknya bahan pencemar yang tercampur di dalam air merupakan salah satu dampak samping dari berbagai kegiatan manusia seperti kegiatan rumah tangga, kegiatan industri dan kegiatan lain yang menghasilkan limbah sisa.

Meningkatnya pertumbuhan dan kepadatan penduduk serta berdirinya berbagai macam industri saat ini semakin meningkatkan kebutuhan air. Sungai merupakan salah satu jenis perairan umum yang sering digunakan masyarakat dan industri dalam memenuhi kebutuhan air. Sungai juga merupakan salah satu tempat yang dimanfaatkan untuk sarana penampungan limbah baik limbah rumah tangga maupun limbah industri. Hal inilah yang terutama menyebabkan penurunan kualitas air sugai.

(24)

sungai Cisadane diduga dapat menurunkan kualitas lingkungan sungai ini, oleh karena pentingnya peranan sungai ini maka sungai Cisadane ditetapkan sebagai salah satu sungai yang ikut dipantau melalui kegiatan Program Kali Bersih (PROKASIH) sejak tahun 1995 sampai sekarang.

B. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini yaitu :

1. Mengevaluasi perubahan kualitas air sungai Cisadane selama kurun waktu 1999-2003

2. Mengevaluasi perubahan penggunaan lahan di wilayah Kabupaten Bogor yang dilalui sungai Cisadane

3. Menduga pengaruh perubahan penggunaan lahan di wilayah Kabupaten Bogor terhadap kualitas air sungai Cisadane.

C. Manfaat penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah :

1. Memberikan informasi tentang kondisi kualitas air sungai Cisadane selama kurun waktu 1999-2003. Informasi ini diharapkan akan menjadi masukan bagi berbagai pihak yang memanfaatkan serta mengelola perairan ini

(25)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Sungai dan Daerah Aliran Sungai

Sungai adalah aliran air dari mata air di hulu bagian atas yang biasanya mencari jalan ke arah hilir yang lebih rendah untuk akhirnya bermuara ke laut (Rustamadji 1994 diacu dalam Imany 2001). Daerah aliran sungai (DAS) merupakan suatu wilayah yang menampung air hujan kemudian mengalirkannya melalui anak-anak sungai dan sungai utamanya untuk kemudian diteruskan ke laut. Antara DAS yang satu dengan lainnya dibatasi oleh pemisah topografi berupa punggung-pungung bukit dan puncak-puncak gunung (Ginting, 1993). Sedangkan Sub-DAS adalah bagian dari DAS, air hujan diterima dan dialirkan melalui anak sungai ke sungai utama.

Sebuah DAS atau Sub-DAS merupakan unit alam berupa kawasan yang dibatasi oleh pemisah topografi yang menampung, menyimpan dan mengalirkan curah hujan yang jatuh di atasnya ke sungai utama yang bermuara ke danau atau lautan. Pemisah topografi ini berupa punggung-punggung bukit. Di bawah tanah juga terdapat pemisah bawah tanah berupa batuan. Sebuah DAS merupakan kumpulan dari banyak sub DAS yang lebih kecil (Manan, 1998).

Sebuah sungai yang bermula dari mata air hingga bermuara kelaut merupakan kesatuan organik yang tidak dapat dipisahkan. Setiap campur tangan dan tindakan manusia di bagian tertentu akan mempengaruhi bagian sungai lainnya. Jadi sebuah DAS atau Sub DAS dapat dipandang sebagai sebuah ekosistem dimana terdapat masukan berupa curah hujan dan keluaran berupa aliran sungai.

B. Kualitas Air

(26)

Indonesia No. 20 Tahun 1990, dalam Adrian 2003). Beberapa parameter fisika yang penting adalah suhu, kekeruhan, kecerahan dan turbiditas, muatan padatan tersuspensi (MPT), total padatan terlarut (TDS), daya hantar listrik, bau dan warna. Sedangkan parameter kimia yang penting adalah pH, alkalinitas, salinitas, oksigen terlarut, BOD (Biochenical Oxygen Demand), COD ( Chemical Oxygen Demand), CO2 bebas, kandungan nitritn, nitrat dan amonia, kandungan fospat, kandungan bebagai jenis logam dan logam berat. Parameter biologis yang penting meliputi bakteri Coliform total dan Coliformtinja (Rushayati, 1999).

Kulaitas air dipengaruhi oleh beberapa faktor alami seperti iklim, musim, mineralogi dan vegetasi, serta kegiatan manusia. Bilamana air alam oleh kegiatan manusia sedemikian rupa sehingga tidak memenuhi syarat untuk penggunaan khusus, maka dikatakan air tersebut mengalami pencemaran (Manan 1976, dalam Simorangkir 1984).

C. Kriteria dan Baku Mutu Air

Baku mutu air adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya di dalam air (Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 82 tahun 2001). Baku mutu air ditetapkan pemerintah berdasarkan peraturan perundang-undangan dengan mencantumkan pembatasan konsentrasi dari berbagai parameter kualitas air. Baku mutu air berlaku untuk lingkungan perairan suatu badan air, sedangkan baku mutu limbah berlaku untuk limbah cair yang masuk ke perairan (Widiastuty 2001).

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 82 tahun 2001 air diklasifikasikan ke dalam empat kelas, yaitu :

Kelas Satu : Air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut

(27)

lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut

Kelas tiga : Air yang peruntukannya dapat digunakan untuk membudayakan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau untuk keperluan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.

Kelas empat : Air yang peruntukannya dapat digunaka untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama.

D. Parameter Kualitas Air D. 1. Parameter Fisika

a. Suhu

Menurut Nybakken (1998) diacu dalam Harimurthy (2002), suhu merupakan salah satu faktor yang penting dalam mengatur proses kehidupan dan penyebaran organisme. Suhu sangat berperan dalam proses ekosistem perairan dan sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup organisme perairan. Perubahan suhu dapat mempengaruhi tanaman dan ikan secara langsung dan dapat mengurangi jumlah oksigen terlarut di perairan (Nugraheni 2001).

(28)

b. Kekeruhan

Kekeruhan adalah suatu ukuran pembiasan cahaya di dalam air yang disebabkan oleh adanya partikel koloid dan suspensi suatu zat pencemar yang terkandung di dalam air, seperti adanya bahan liat, endapan lumpur, senyawa berwarna terlarut, plankton, dan organisme mikroskopik lainnya (Center dan Hill, 1979 dalam Suryadipura, 1996). Kekeruhan menggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat dalam air (APHA, 1985 dalam Nugroho 2003).

Menurut Koesoebiono (1979) diacu dalam Yuristria (1994), pengaruh utama kekeruhan adalah penurunan penetrasi cahaya secara mencolok, sehingga menurunkan aktifitas fotosintesis fitoplankton dan algae benthik. Kondisi air yang keruh biasanya kurang disukai oleh hewan bentos (Reid, 1961 dalam Adrian 2003).

c. Kandungan Padatan Tersuspensi

Padatan tersuspensi adalah bahan yang masih tetap tinggal sebagai sisa selama penguapan dan pemanasan pada suhu 102 – 105° C. Bahan-bahan

yang mempunyai tekanan uap kecil di bawah suhu ini akan hilang selama prosedur penguapan dan pemanasan. Penentuan padatan tersuspensi akan sangat berguna dalam analisis pengairan tercemar dan buangan dan dapat digunakan untuk mengevaluasi air buangan domestik dan untuk menentukan efisiensi unit-unit pengolahan (Saeni, 1989).

(29)

d. Kandungan Padatan Terlarut

Padatan terlarut adalah padatan-padatan yang mempunyai ukuran lebih kecil daripada padatan tersuspensi. Padatan ini terdiri dari senyawa anorganik dan organik terlarut air, mineral dan garam-garamnya Sebagai contoh air buangan pabrik gula biasanya mengandung berbagai jenis gula yang terlarut, sedangkan air buangan industri kimia sering mengandung mineral seperti merkuri (Hg), timbal (Pb), arsenik (As), cadmium (Cd), Khromium (Cr), nikel (Ni), Cl2, serta garam-garam kalsium dan magnesium yang mempengaruhi kesadahan air (Fardiaz 1992).

Padatan terlarut mempengaruhi ketransparanan dan warna air, yang ada hubungannya dengan produktifitas (Sastrawijaya, 1991). Padatan terlarut total adalah bahan-bahan terlarut total dan koloid berupa senyawa-senyawa kimia dan bahan-bahan lainnya yang tidak tersaring pada kertas saring berdiameter 0,45 μm (Rao, 1992 dalam Effendi, 2000).

D. 2. Parameter Kimia

a. pH

Derajat keasaman (pH) adalah suatu ukuran konsentrasi ion hidrogen yang menunjukkan suasana air apakah bereaksi asam atau basa. Konsentrasi karbon dioksida dapat mempengaruhi pH perairan. Pada kisaran pH 5,0 – 9,0 ikan-ikan air tawar masih bisa hidup (Saeni 1989, diacu dalam Purwanto 1997). Derajat keasaman (pH) mempunyai pengaruh yang besar terhadap organisme aquatik, sehingga seringkali pH suatu perairan digunakan sebagai petunjuk baik-buruknya kualitas suatu perairan (Saeni, 1989 diacu dalam Nugroho 2003).

(30)

b. Oksigen Terlarut

Oksigen terlarut menunjukkan jumlah oksigen yang terlarut di dalam air dan merupakan kebutuhan dasar biota air (Rushayati, 1999). Oksigen terlarut dalam air pada umumnya berasal dari hasil difusi oksigen secara langsung dari udara ke dalam air, melalui aliran air yang masuk, malalui air hujan dan melalui proses fotosintesis dalam air. Akan tetapi konsentrasi oksigen terlarut dapat berkurang karena proses respirasi hewan air, digunakan pada proses penguraian bahan organik secara biokimia dan dipakai dalam proses penguraian bahan-bahan organik secara kimiawi (Welch 1952, diacu dalam Yuristria 1994).

Kandungan oksigen terlarut (DO) baik di perairan alami maupun limbah sangat tergantung pada sifat fisik, kimia dan aktifitas biokimia dalam air tersebut ( Husein 1998, diacu dalam Yuristria 1994). Pada umumnya perairan yang tercemar bahan organik akan mengalami penurunan oksigen terlarut karena oksigen tersebut banyak digunakan oleh mikroorganisme untuk menguraikan bahan organik tersebut. Air yang tercemar bahan organik biasanya oksigen terlarutnya rendah (Fardiaz, 1992). Pescod (1973), diacu dalam Yuristria (1994) menyatakan kandungan oksigen terlarut minimal sebesar 2 ppm cukup untuk mendukung kehidupan perairan secara normal di daerah tropik dengan asumsi perairan tidak mengandung bahan beracun.

c. Biochemical Oxygen Demand (BOD)

(31)

d. Nitrat

Senyawa nitrogen di dalam perairan terdapat dalam bentuk terlarut atau tersuspensi. Senyawa tersebut sangat penting dalam reaksi biologis suatu perairan (Pescod, 1973 dalam Suryadiputra, 1996). Jenis nitrogen anorganik utama dalam air adalah ion nitrat (NO3), nitrit (NO2), dan amoniak (NH3). Sedangkan nitrogen organik merupakan komponen terbesar dari total nitrogen dalam air yang berasal dari berbagai jenis limbah yang dapat mengakibatkan pertumbuhan ganggang dengan cepat (suryadiputra, 1996).

Sumber utama nitrogen antropogenik di perairan berasal dari limbah pertanian dan perkebunan yang menggunakan pupuk kandang maupun pupuk buatan dan juga berasal dari kegiatan domestik (Effendi, 2000).

D. 3. Parameter Mikrobiologi

a. Fecal Coli dan Total Koliform

James dan Evison (1979) dalam Taufik (2003) menyatakan bahwa banyak parameter mikrobiologi yang dapat digunakan untuk mengetahui kualitas air. sebagai contoh : jumlah total virus bakteri, bacteriophages, jamur (fungi), actinomycetes, protozoa, nemathoda dan alga. Namun untuk kemudahan, kecepatan dan ketepatan pada tes maka bakteri telah dihilangkan dalam penelaahan kualitas air, oleh sebab itu banyak metoda standar dalam penelaahan kualitas air dipersempit pada jumlah maksimum dari indikator bakteri sebagai limbah fecal ( koliform, fecal koliform/Escherichia coli, fecal streptococcus dan Clostridium pertringeus). Menurut Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 air dengan kelas I maksimal mengandung fecal coliform

(32)

E. Pencemaran Air

Pencemaran air dapat diartikan sebagai masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat atau energi, dan atau komponen lain ke dalam air dan atau berubahnya tatanan (komposisi) air oleh kegiatan manusia atau proses alam, sehingga kualitas air turun sampai tingkat tertentu yang menyebabkan air menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya (Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. 02/MENKLH/1988 dalam Fardiaz, 1992)

Ada tiga penyebab utama tercemarnya badan air, yaitu (1) peningkatan konsumsi atau penggunaan air sehubungan dengan peningkatan ekonomi dan taraf hidup masyarakat, (2) terjadinya pemusatan penduduk dan industri diikuti buangan limbahnya, (3) rendahnya investasi sosial ekonomi dan sosial budaya untuk memperbaiki lingkungan hidup, seperti investasi untuk pembuatan sanitasi dan keperluan lain (Purwani, 2001).

Menurut Husin dan Eman (1991), diacu dalam Nedi (1997), ada dua jenis sumber pencemar perairan, yaitu point source dan non point source.

Point source adalah pencemaran yang dapat diketahui secara pasti sumbernya, misalnya limbah industri. Sedangkan non point source adalah pencemaran yang tidak diketahui secara pasti sumbernya, yaitu pencemar yang masuk ke perairan bersama air hujan dan limpasan permukaan.

F. Tata Guna Lahan

Vingk (1975) dalam Mahmudi (2002) mendefinisikan penggunaan lahan sebagai suatu penggunaan dari sebidang lahan yang kompleks baik secara alami atau campur tangan manusia menurut keperluannya, untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani.

(33)

ditentukan oleh ukuran, bentuk, orientasi, topografi, geologi, dan penggunaan lahan.

Menurut Viessman et al (1977), dalam Taufik (2003), perubahan penutupan lahan memberikan pengaruh yang bervariasi terhadap aliran sungai dan karakteristik aliran permukaan DAS. Perubahan penutupan lahan akan mempengaruhi kapasitas infiltrasi tanah dan perubahan penggunaan lahan yang merubah sifat atau ciri vegetasi dapat memberikan dampak penting waktu dan volume aliran. Perubahan penggunaan lahan dapat meningkatkan atau menurunkan volume aliran permukaan serta laju maksimum dan waktu aliran suatu DAS. Pada dasarnya tujuan yang ingin dicapai dengan pengelolaan vegetasi atau tata guna lahan adalah agar DAS secara keseluruhan dapat berperan atau memberikan manfaat sebesar-besarnya secara lestari bagi manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup serta kesejahteraannya, sehinggaa selain dapat menampung perkembangan dan dinamika kegiatan ekonomi masyarakat setempat maka pengelolaan tersebut diharapkan dapat mengantisipasi permasalahan yang mungkin terjadi ( Dahuri et al., 1996 dalam Lokollo, 2002).

Kegiatan tata guna lahan yang bersifat merubah tipe atau jenis penutupan lahan dalam suatu DAS seringkali dapat memperbesar atau memperkecil hasil air, perubahan dari suatu jenis vegetasi ke jenis vegetasi lainnya adalah umum dalam pengelolaan sumberdaya alam. Penebangan hutan, perladangan berpindah, atau perubahan tata guna lahan hutan menjadi areal pertanian, padang rumput atau pemukiman adalah contoh yang sering dijumpai di daerah-daerah yang sedang tumbuh. Terjadinya perubahan tata guna lahan dan jenis vegetasi tersebut dalam sekala besar dan bersifat permanen akan mempengaruhi besar kecilnya air pada sistem hidrologi (Lokollo, 2002)

(34)

dibanding faktor alami dan dipengaruhi oleh keadaan sosial ekonomi dan pengaruh luar seperti kebijakan nasional dan internasional.

Sudadi et al. (1991) dalam Taufik (2003) menyatakan bahwa pengaruh penggunaan lahan terhadap aliran sungai utama erat kaitannya dengan fungsi Vegetasi sebagai penutup lahan dan sumber bahan organik yang dapat meningkatkan kapasitas infiltrasi. Disamping itu, secara fisik vegetasi akan menahan aliran permukaan dan meningkatkan surface detention dan

depression storage (simpangan permukaan) sehingga menurunkan besar aliran sungai.

Menurut Puspaningrum (1997) dalam Umiyati (2002), perubahan lahan menjadi daerah pemukiman cenderung mengakibatkan dampak negatif, khususnya bila ditinjau dari laju erosi. Pada lahan terbuka terjadinya erosi tanah akan semakin tinggi, karena permukaan tanah yang tidak terlindung akan mengakibatkan air hujan yang jatuh ke tanah akan menggerus permukaan tanah lalu membawa hasil gerusan ke dalam badan perairan sehingga mutu perairan berubah.

Sutamihardja (1978) dalam Taufik (2003) mengemukakan bahwa kegiatan pertanian secara langsung ataupun tidak langsung dapat mempengaruhi kualitas perairan yang diakibatkan oleh penggunaan bermacam-macam pupuk buatan dan pestisida. Penggunaan pupuk yang mengandung unsur N dan P akan dapat menyuburkan perairan dan dapat mendorong pertumbuhan ganggang dan tumbuhan akuatik lainnya.

(35)

III. METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Sungai Cisadane bagian hulu dan tengah yang melintasi Kabupaten Bogor dan dilakukan pada bulan Desember 2004 sampai dengan April 2005.

B. Cara Pengumpulan Data

Penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan dan mengkaji data sekunder yang terdiri dari : (a) Kualitas air (fisika, kimia dan biologi) Sungai Cisadane yang melintasi Kabupaten Bogor, dan (b) penggunaan lahan DAS Cisadane daerah Kabupaten Bogor.

Parameter kualitas air yang dianalisis dalam penelitian ini sebanyak sembilan parameter. Ke-sembilan perameter tersebut adalah suhu air, kekeruhan, kandungan padatan tersuspensi, kandungan padatan terlarut, pH, oksigen terlarut, nitrat, biochemical oxygen demand (BOD), dan total coli.

C. Pengolahan Data

C. 1. Analisis Nilai Kualitas Air

Analisis kualitas air tahun 1999-2003 dilakukan dengan cara membandingkan nilai dari masing-masing parameter untuk setiap lokasi pengambilan sampel pada tahun pengukuran dengan baku mutu air sungai yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah RI No. 82 tahun 2001 untuk air kelas I sampai kelas IV, kemudian dievaluasi kualitas air Sungai Cisadane dari tahun 1999 sampai dengan tahun 2003 untuk setiap lokasi.

Tahapan analisis data adalah sebagai berikut :

a. Mencari nilai rata-rata dari masing-masing parameter pada setiap lokasi pengambilan sampel untuk setiap waktu pengukuran dengan rumus :

Keterangan : Q : rata-rata pengukuran N : jumlah data pengukuran

Xi : data pengukuran ke-i (i = 1, 2, 3,..., N) 1982)

(Walpole,

= i

n N

Xi Q

(36)

b. Menyajikan nilai setiap parameter dalam bentuk grafik untuk setiap tahun, yaitu dengan menghubungkan nilai parameter ke- i dari titik-titik lokasi pengambilan sampel untuk setiap tahun pengukuran. Sehingga akan terlihat kecenderungan perubahan yang terjadi untuk setiap parameter dari tahun 1999 hingga tahun 2003 bila dibandingkan dengan baku mutu.

Analisis kualitas air menggunakan Indeks Kualitas Air berdasarkan metode National Sanitation Foundation Water Quality Index (NSF WQI), untuk mengetahui tingkat mutu kualitas perairan setiap titik lokasi pengukuran mulai 1999 - 2003. Parameter yang digunakan dalam analisa data menggunakan IKA-NSF WQI adalah suhu air, kekeruhan, kandungan padatan tersuspensi, kandungan padatan terlarut, pH, oksigen terlarut, biochemical oxygen demand (BOD), nitrat dan fecal coli.

Tahapan analisis data :

[image:36.612.130.509.422.589.2]

a. Menentukan bobot (W) untuk masing-masing parameter dan nilai sub indeks (I) untuk tiap parameter dengan membaca kurva fungsi sub indeks IKA-NSF WQI.

Tabel 1. Bobot Parameter Dalam Perhitungan IKA-NSF WQI (Ott, 1978 diacu dalam Nugroho, 2003)

No parameter Bobot parameter ke-i (Wi)

Bobot parameter ke-i (Wi)

modifikasi satuan

1 Oksigen terlarut 0.17 0,19 % saturasi

2 pH 0.12 0,13 -

3 BOD 0.10 0,11 Mg/l

4 Nitrat 0.10 0,11 Mg/l

5 Phospat 0.10 Mg/l

6 Suhu deviasi *) 0.10 0,11 °C

7 Kekeruhan 0.08 0,09 NTU

8 Padatan total 0.08 0,09 Mg/l

9 Fecal coli 0.15 0,17 MPN/100 ml

total 1.00 1,00

Keterangan :

*) = Kekeruhan digunakan dengan asumsi satuan Nephelometric Turbidity Unit (NTU)

satara dengan Jacson Turbidity (JTU) karena semakin keruh suatu perairan maka

(37)

b. Menghitung nilai Indeks Kualitas Air dengan menggunakan rumus (Brown et al. In Ott, 1978)

Keterangan :

i : 1 sampai dengan n n : Jumlah parameter

Wib : Bobot parameter ke-i yang dimodifikasi dari bobot yang telah ditetapkan dalam Ott, 1978

Li : Nilai sub indeks parameter ke-i dengan menggunakan kurva sub indeks yang ditetapkan oleh IKA-NSF, WQI ( Ott, 1978)

c. Keadaan umum perairan dapat diketahui dengan membandingkan nilai indeks kualitas air yang diperoleh dengan kriteria kualitas air untuk setiap lokasi untuk setiap tahun.

[image:37.612.133.511.483.577.2]

d. Kemudian dilakukan penyajian data dalam bentuk garafik yaitu dengan menghubungkan nilai IKA-NSF WQI hasil perhitungan dari titik-titik lokasi pengukuran untuk setiap tahun. Sehingga akan terlihat secara umum perubahan tingkat mutu kualitas air yang terjadi selama tahun 1999-2003.

Tabel 2. Kisaran Nilai Indeks Total IKA-NSF WQI

Indeks Kualitas Lingkungan Tingkat Kualitas Lingkunagn

0-25 Sangat Buruk

26-50 Buruk

51-70 Sedang

71-90 Baik

91-100 Sangat Baik

Sumber (Ott, 1978 diacu dalam Nugroho, 2003)

=

i

n

b Li

Wi WQI

NSF

(38)

C. 2. Analisis Perubahan Penggunaan Lahan

Perubahan penggunaan lahan dianalisa dengan membandingkan luas setiap jenis penggunaan lahan tahun 1999 dan 2003. Untuk menduga hubungan perubahan penggunaan lahan dengan kualitas perairan dilakukan dengan cara membandingkan antara luas perubahan lahan dengan perubahan kualitas air setiap tahunnya.

(39)

IV. KEADAAN UMUM SUNGAI CISADANE

A. Deskripsi Wilayah Sungai Cisadane

Secara geografis DAS Cisadane terletak diantara 6°02’ sampai 6°54’ LS dan 106°17’ sampai 107°00’ BT. DAS Cisadane dibatasi oleh Sub DAS Cimanceuri di sebelah barat dan DAS Ciliwung di sebelah timur. Sungai Cisadane berhulu di Gunung Salak (3.019 mdpl). Sungai ini mengalir dari arah selatan ke utara, melewati Kabupaten Bogor (Kecamatan Nanggung, Caringin, Cijeruk, Ciomas, Ciampea, Rumpin, Cilangkap) dan Kabupaten Tangerang. Sungai Cisadane berawal dari Gunung Salak mengalir melalui Kota Bogor dan Tangerang serta bermuara di Laut Jawa. Panjang Sungai Cisadane sampai ke Mauk (Kabupaten Tangerang) adalah 137,8 Km, dengan rata-rata kemiringan dari hulu (+3,019 m) sampai ke Mauk (+2 m) adalah 21,9 % (Arwindrasti, 1997).

Menurut Arwindrasti (1997) luas DAS Cisadane dari hulu sampai Teluk Naga adalah Sekitar 155.975 Ha. DAS ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu :

a) DAS Cisadane wilayah hulu seluas 85.555 Ha mulai dari hulu sampai stasiun pengukuran Batu Beulah, meliputi Kecamatan Nanggung, Ciomas dan Ciampea.

b) DAS Cisadane tengah seluas 48.205 Ha, mulai dari stasiun pengukuran Batu Beulah (Kabupaten Bogor) meliputi Kecamatan Semplak, Parung, Rumpin, Gunung Sindur, Cigudeg (Kabupaten Bogor), Serpong, Curug, Tangerang Legok, Jatiluwung, dan Cipondok (Kabupaten Tangerang) sampai dengan stasiun pengukuran Pasar Baru di Kabupaten Tangerang. c) DAS Cisadane wilayah hilir seluas 22.215 Ha, mulai dari stasiun

pengukuran Pasar Baru sampai muara sungai Cisadane, meliputi Kecamatan Ciledug, Pasar Kamis, Teluk Naga, Kecamatan Tigaraksa, Cikupa, Mauk di Kabupaten Tangerang.

(40)

datar sampai landai pada ketinggian 0–100 mdpl (BALITBAG Pertanian, Lembaga Penelitian Tanah Bogor, diacu dalam Arwindrasti, 1997).

Iklim di daerah aliran Sungai Cisadane berdasarkan klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson termasuk iklim B. Pola musim dipengaruhi oleh perubahan angin monsoon yang menyebabkan terjadinya musim hujan (November-Mei) dan musim kemarau (Juni-Oktober). Di DAS Cisadane wilayah hulu curah hujan bulanan berkisar antara 195-609 mm/bulan. Bulan basah 8-10 bulan (Agustus-Mei) dan bulan terbasah Desember, bulan lembab 2-4 bulan (Juni-September) dengan bulan terkering bulan Juni. Pada DAS Cisadane wilayah tengah curah hujan bulanan berkisar antara 121-582 mm/bulan. Bulan basah 2-5 bulan (Desember-Mei) dengan bulan terbasah pada bulan Januari, bulan lembab 1-2 bulan (Juni-Agustus) sedangkan bulan terkering bulan Juli (DPMA1988. RLKT, 1989 diacu dalam Arwindrasti,1997).

B. Pemanfaatan Air Sungai Cisadane

Air permukaan pada Sungai Cisadane secara umum dipergunakan untuk keperluan irigasi, penyediaan air bersih, industri, perikanan maupun untuk keperluan pertanian. Irigasi merupakani pengguna air terbesar pada wilayah Sungai Cisadane, umumnya bertujuan untuk mengairi sawah melalui saluran irigasi dengan mengunakan konstruksi bendungan sedangkan pemanfaatan air permukaan untuk industri dan penyediaan air bersih (PDAM) kebanyakan menggunakan pompa hisap (Arwindrasti, 1997).

C. Sumber Pencemaran Air Sungai Cisadane

(41)

Pembuangan limbah industri umumnya berasal dari industri yang berada si sekitar sungai, antara lain industri logam, tekstil, makanan/minuman, kimia dan farmasi. Sebagian besar industri tersebut belum memiliki unit pengolahan limbah yang memenuhi syarat, sehingga air limbah yang masih mengandung zat-zat pencemar langsung dibuang atau disalurkan melalui saluran terbuka menuju Sungai Cisadane (Brahmana dan Sutriati, 2001 dalam Umiyati, 2002)

D. Keanekaragaman Hayati Sungai Cisadane

Sebagai bagian dari DAS Cisadane, ekosistem Sungai Cisadane memiliki keanekaragaman hayati yang menggambarkan kekayaan vegetasi dan satwa yang hidup di kawasan tersebut. Keadaan vegetasi di DAS Cisadane dapat dibedakan menjadi vegetasi yang terdapat di dalam kawasan hutan dan yang berada diluar kawasan hutan (Rencana Teknik Lapangan Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah DAS Cisadane, BPDAS Citarum-Ciliwung,2003). Vegetasi alami yang dapat dijumpai di sepanjang sungai Cisadane kurang lebih terdiri dari 47 jenis pohon, diantaranya adalah damar (Agathis alba), jeunjing (Albizzia Chinensis), angsana (Dipterocarpus indicus), karet (Ficus elastica) dan lain-lain (Keanekaragaman Hayati Cagar Alam Gunung Halimun, Biological Science Club, 1991 dalam Umiyati 2002). Selain itu di sepanjang aliran sungai Cisadane juga ditemukan berbagai macam jenis tanaman yang menghasilkan buah-buahan seperti mangga (Mangifera indica L.), pepaya (Carica papaya L.) durian (Durio zibethinus), kelapa (Cocos nucifera) dan jenis tanaman budidaya tegalan seperti jagung (Zea mays), kentang (Solanum tuberosum), talas (Colocassia asculenta), ubi jalar (Ipomoea batatas), ubi kayu (Menihot esculenta) dan lain-lain (Sari, 2001 dalam Umiyati 2002).

(42)
(43)

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Kualitas Air Sungai Cisadane A. 1. Parameter Fisika

a. Suhu Air

Sebagai salah satu komponen fisika, suhu air mempunyai kaitan erat dengan kualitas perairan. Suhu berperan penting dalam ekosistem dan sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup organisme perairan (Nugraheni, 2001). Menurut saeni (1989) suhu antara 20–30 °C merupakan suhu optimal bagi pertumbuhan biota akuatik.

(44)

Fluktuasi suhu rata-rata per tahun

28.1 28.2

27.4 27.4

26.8

26 26.5 27 27.5 28 28.5

1999 2000 2001 2002 2003

Tahun

Suhu (

°C

)

Gambar 1. Fluktuasi suhu rata-rata per tahun.

[image:44.612.188.454.80.204.2]

Jika dilihat pada setiap lokasi pengukuran setiap tahunnya seperti terlihat pada Tabel 5, tampak bahwa nilai suhu ini juga tidak menunjukkan fluktuasi yang begitu besar. Untuk stasiun I nilai suhu berkisar antara 22,9– 27,0 °C, stasiun II berkisar antara 27,7–29,9 °C dan stasiun III berkisar antara 27,6–29,6 °C. Nilai di setiap lokasi pengukuran ini masih berada pada suhu normal perairan. Berdasarkan baku mutu air yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 kisaran nilai deviasi tersebut masih berada dalam kisaran nilai yang diizinkan sesuai dengan peruntukan masing-masingnya.

Tabel 3. Fluktuasi suhu air rata-rata per stasiun untuk setiap tahun pengukuran

Tahun Pengukuran Lokasi Satuan

1999 2000 2001 2002 2003

Stasiun II °C 23 21 70 58 63,53

Stasiun III °C 20,33 27,33 64,33 65 78,77

Stasiun IV °C 46 37 73,33 50 64,17

(45)

Fluktuasi suhu rata-rata per stasiun 25.3 28.6 28.8 23.0 24.0 25.0 26.0 27.0 28.0 29.0 30.0

stasiun I stasiun II Stasiun III

stasiun pengamatan

Su

hu

(

°C)

Gambar 2. Fluktuasi suhu rata-rata per stasiun.

b. Kekeruhan

[image:45.612.188.452.80.202.2] [image:45.612.187.453.563.687.2]

Berdasarkan nilai kekeruhan rata-rata per tahun seperti terlihat pada Gambar 3 dapat diketahui bahwa nilai kekeruhan dari tahun 1999 sampai dengan tahun 2003 mengalami fluktuasi yang cukup lebar. Nilai kekeruhan ini berkisar antara 18,56-69,22 NTU. Pada tahun 1999 nilai kekeruhan sebesar 29,78 NTU, dan mengalami penurunan pada tahun 2000 menjadi 18,56 NTU, namun pada tahun 2001 terjadi peningkatan yang cukup tinggi hingga mencapai nilai 69,22 NTU. Pada tahun 2002 kembali terjadi penurunan menjadi 57,67 NTU serta pada tahun 2003 kembali meningkat menjadi 68,82 NTU. Secara keseluruhan nilai kekeruhan dari tahun 1999 sampai tahun 2003 mengalami peningkatan sebesar 39,04 NTU atau sebesar 131%. Peningkatan nilai kekeruhan ini berkaitan erat dengan semakin meningkatnya kandungan padatan tersuspensi dan senyawa koloid dalam perairan. Meningkatnya masukan bahan-bahan penyebab kekeruhan ini diduga berasal dari buangan limbah rumah tangga, industri dan juga erosi. Peningkatan luas tanah kosong dan luas pemukiman serta menurunnya luas hutan/vegetasi campuran memungkinkan untuk meningkatkan laju erosi.

Fluktuasi ke ke ruhan rata-rata pe r tahun

68.82 57.67 69.22 18.56 29.78 0 10 20 30 40 50 60 70 80

1999 2000 2001 2002 2003

Tahun K e ke ruhan ( N TU )

(46)

Jika dilihat dari nilai kekeruhan tahun 1999 sampai dengan tahun 2003 pada tiap stasiun pengukuran seperti terlihat pada Tabel 6 tampak bahwa nilai kekeruhan ini mengalami fluktuasi dengan kisaran nilai yang berbeda-beda. Pada stasiun I tampak bahwa nilai kekeruhan berkisar antara 21-70 NTU, stasiun II berkisar antara 20,33–78,77 NTU dan pada stasiun III nilai kekeruhan berkisar antara 37–73,33 NTU.

Tabel 4. Fluktuasi rata-rata kekeruhan per stasiun untuk setiap tahun pengukuran

Tahun Pengukuran Lokasi Satuan

1999 2000 2001 2002 2003

Stasiun II NTU 23 21 70 58 63,53

Stasiun III NTU 20,33 27,33 64,33 65 78,77

Stasiun IV NTU 46 37 73,33 50 64,17

Keterangan : Baku mutu = 100,00 NTU

[image:46.612.149.510.234.311.2]
(47)

Fluktuasi kekeruhan rata-rata per stasiun 47.11 51.15 54.10 42.00 44.00 46.00 48.00 50.00 52.00 54.00 56.00

stasiun I stasiun II Stasiun III

stasiun pengamatan Ke ker u h a n ( N TU )

Gambar 4. Fluktuasi kekeruhan rata-rata per stasiun.

c. Padatan Tersuspensi

Padatan tersuspensi adalah padatan yang menyebabkan kekeruhan air, tidak terlarut, dan tidak dapat mengendap langsung. Contoh padatan tersuspensi adalah tanah liat, bahan-bahan organik, sel-sel mikroorganisme, dan sebagainya. Adanya padatan tersuspensi akan mengurangi penetrasi cahaya ke dalam air sehingga mempengaruhi regenerasi oksigen secara fotosintesis (Fardiaz, 1992). Dari sini dapat diketahui bahwa nilai padatan tersuspensi erat kaitannya dengan tingkat kekeruhan.

(48)

yang sama dengan kegunaan tersebut. Sedangkan untuk tahun 2000 dan 2003 nilai padatan tersuspensinya berada dalam kisaran kelas III dan IV, kriteria ini menggambarkan bahwa kondisi kandungan padatan tersuspensi yang terdapat pada air Sungai Cisadane pada tahun tersebut sudah tidak layak digunakan sebagai bahan baku air minum tetapi masih layak digunakan untuk kegiatan pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama.

Terjadinya peningkatan kandungan padatan tersuspensi ini memiliki kaitan erat dengan semakin meningkatnya kekeruhan seperti yang disampaikan sebelumnya. Masuknya limbah rumah tangga dan limbah industri serta adanya erosi dapat meningkatkan kandungan padatan terusupensi. Adanya peningkatan penggunaan lahan untuk pemukiman, meningkatnya luas tanah kosong dan semakin menurunnya luas hutan serta vegetasi campuran seperti terlihat pada Tabel 13 memungkinkan untuk meningkatkan laju erosi.

Fluktuasi TSS rata-rata per tahun

343.61

64.67 28.67

0 50 100 150 200 250 300 350 400

1999 2000 2003

Tahun

TS

S

(

m

g

/l

)

Gambar 5. Fluktuasi TSS rata-rata per tahun.

(49)
[image:49.612.185.452.345.467.2]

bahwa pada waktu dan lokasi tersebut perairan ini mengalami pencemaran berat.

Tabel 5. Fluktuasi rata-rata TSS per stasiun untuk setiap tahun pengukuran

Tahun Pengukuran Lokasi Satuan

1999 2000 2003

Stasiun II mg/l 21,33 52,67 189,48

Stasiun III mg/l 20,67 35,33 441,68

Stasiun IV mg/l 44 106 399,65

Jika dilihat pada nilai kandungan total padatan tersuspensi rata-rata per stasiun tampak terjadi peningkatan kandungan padatan tersuspensi dari stasiun I sampai stasiun III. Hal ini kemungkinan terjadi karena adanya akumulasi masukan bahan-bahan yang dapat meningkatkan kandungan padatan tersuspensi baik dari stasiun I ke stasiun II maupun dari stasiun II ke stasiun III.

Fluktuasi TSS rata-rata per stasiun

87.83

165.89 183.22

0.00 50.00 100.00 150.00 200.00

stasiun I stasiun II Stasiun III

stasiun pengamatan

T

S

S

(

m

l/l)

Gambar 6. Fluktuasi TSS rata-rata per stasiun.

d. Padatan Terlarut

(50)

tahun 2001 untuk kelas I-IV, yaitu batas nilai TDS 1000 mg/l untuk kelas I-III dan 2000 mg/l untuk kelas IV. Nilai baku mutu ini menunjukkan bahwa berdasarkan kandungan padatan terlarut kondisi air Sugai Cisadane dapat digunakan untuk semua keperluan yang tercantum dalam peraturan pemerintah tersebut.

Fluktuasi TDS rata-rata per tahun

943.33 459.36 430 0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 1000

2001 2002 2003

Tahun TD S ( m g/ l)

Gambar 7. Fluktuasi TDS rata-rata per tahun.

[image:50.612.188.453.191.315.2]

Berdasarkan hasil pengukuran pada tiga stasiun pengukuran seperti yang terlihat pada Tabel 6 tampak bahwa nilai total padatan terlarut pada tahun 2001 memiliki nilai yang lebih tinggi untuk setiap stasiunnya dibanding tahun 2002 dan 2003. Adanya pengaruh waktu dan kondisi lingkungan pada saat pengambilan sampel diduga menjadi penyebab tingginya kandungan padatan terlarut pada tahun ini. Jika dilihat fluktuasi kandungan total padatan terlarut pada setiap stasiun dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2003 tampak tidak terjadi kecenderungan penurunan atau peningkatan.

Tabel 6. Fluktuasi rata-rata TDS per stasiun untuk setiap tahun pengukuran

Tahun Pengukuran Lokasi Satuan

2001 2002 2003

Stasiun II mg/l 1040 260 327,26

Stasiun III mg/l 960 470 441,02

Stasiun IV mg/l 830 560 609,82

(51)

Fluktuasi TDS rata-rata per stasiun

542.42

623.67 666.61

0.00 100.00 200.00 300.00 400.00 500.00 600.00 700.00

stasiun I stasiun II Stasiun III

stasiun pengamatan

TDS (

m

g/

l)

Gambar 8. Fluktuasi TDS rata-rata per stasiun.

A. 2. Parameter Kimia a. pH

Nilai pH perairan mencirikan keseimbangan antara asam dan basa dalam air dan merupakan pengukur aktifitas ion hidrogen dalam larutan (Saeni, 1989). Nilai pH air normal adalah sekitar netral, yaitu antara ph 6 sampai 8, sedangkan pH air yang terpolusi, misalnya air buangan berbeda-beda tergantung dari jenis buangannya (Fardiaz, 1992).

Berdasarkan hasil pengukuran terhadap tiga stasiun pengukuran seperti terlihat pada Gambar 9 tampak bahwa nilai pH dari tahun ke-tahun mengalami fluktuasi. Nilai pH pada tahun 1999 sebesar 7,4 mengalami penurunan pada tahun 2000 yaitu 7,1 tahun 2001 sebesar 6,8 serta kembali naik pada tahun 2002 sebesar 6,9 dan tahun 2003 sebesar 7. Meskipun mengalami fluktuasi, nilai pH rata-rata dari tahun 1999 sampai dengan tahun 2003 ini masih berada dalam kisaran nilai pH air normal.

(52)

Fluktuasi pH rata-rata per tahun

7.4

7.1

6.8

6.9

7.0

6.5 6.6 6.7 6.8 6.9 7.0 7.1 7.2 7.3 7.4 7.5

1999 2000 2001 2002 2003

Tahun

pH

Gambar 9. Fluktuasi pH rata-rata per tahun.

[image:52.612.189.453.81.204.2]

Berdasarkan hasil pengukuran nilai pH pada tiga stasiun pengukuran seperti terlihat pada Tabel 7 tampak bahwa nilai pH untuk stasiun I cenderung mengalami penurunan. Nilai pH tertinggi pada stasiun ini terjadi pada tahun 1999 dan nilai terendahnya terjadi pada tahun 2002, pada staiun III nilai pH mengalami fluktuasi dimana nilai pH pada tahun 1999 mengalami penurunan pada tahun 2000 dan 2001, kemudian nilai pH ini kembali naik pada tahun 2002 dan 2003. Nilai terbesar pH pada stasiun ini terjadi pada tahun 1999 dan nilai terendahnya terjadi pada tahun 2001. Pada stasiun III nilai pH juga mengalami fluktuasi dimana nilai pH tertinggi terjadi pada tahun 1999 dan tahun 2000. Terjadinya fluktuasi nilai pH pada setiap stasiun dan setiap tahun pengukuran ini dipengaruhi oleh besarnya masukan limbah rumah tangga dan limbah industri yang dapat menurunkan atau menaikkan pH pada saat dilakukan pengukuran, selain itu aktifitas fotosintesis, suhu air dan kandungan anion dan kation yang ada dan terjadi pada saat pengambilan contoh juga mempengaruhi naik dan turunnya pH.

Tabel 7. Fluktuasi rata-rata pH per stasiun untuk setiap tahun pengukuran

Tahun Pengukuran Lokasi

1999 2000 2001 2002 2003

Stasiun I 7,35 6,87 6,84 6,28 6,58

Stasiun II 7,42 7 6,87 7,13 7,23

Stasiun III 7,33 7,33 6,71 7,16 7,14

(53)

berupa detergen, amonia dan lain-lain. Bahan-bahan yang dapat meningkatkan pH ini kemungkinan berasal dari buangan limbah rumah tangga dan limbah industri serta penggunaan pupuk pada lahan pertanian. Meningkatnya pH rata-rata dari stasiun I ke stasiun II merupakan akumulasi dari masuknya bahan-bahan tersebut diatas kebadan sungai dan mengalir kelokasi yang lebih hulu.

Fluktuasi pH rata-rata per stasiun

6.8

7.1 7.1

6.6 6.7 6.8 6.9 7.0 7.1 7.2

stasiun I stasiun II Stasiun III

stasiun pengamatan

p

H

Gambar 10. Fluktuasi pH rata-rata per stasiun.

b. Oksigen Terlarut

Oksigen terlarut merupakan kebutuhan dasar untuk kehidupan tanaman dan hewan di dalam air. Kehidupan makhluk hidup di dalam air tersebut tergantung dari kemampuan air untuk mempertahankan konsentrasi oksigen minimal yang dibutuhkan untuk kehidupannya. Konsentrasi oksigen terlarut minimal untuk kehidupan biota tidak boleh kurang dari 6 ppm (Fardiaz, 1992).

(54)

Fluktuasi DO rata-rata per tahun

8.29

6.98 8.2

7.51 7.57

6 6.5 7 7.5 8 8.5

1999 2000 2001 2002 2003

Tahun

DO (

m

g

/l

)

Gambar 11. Fluktuasi DO rata-rata per tahun.

[image:54.612.188.453.80.204.2]

Berdasarkan hasil pengukuran per tahun pada tiga stasiun pengukuran seperti terlihat pada Tabel 8 dapat diketahui bahwa nilai DO untuk setiap stasiun ini mengalami fluktuasi dan tidak menunjukkan kecenderungan naik ataupun turun. Nilai kandungan DO rata-rata terendah terjadi di stasiun II pada tahun 2002 yaitu 6,5 mg/l dan nilai kandungan DO tertinggi terjadi pada tahun 2003 yaitu 9,03 mg/l. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 nilai rata-rata DO untuk setiap tahun dan setiap stasiun pengukuran masih memenuhi baku mutu untuk kelas I-IV dan berarti dapat digunakan untuk semua peruntukan sesuai dengan peruntukan yang tertera pada peraturan tersebut.

Tabel 8. Fluktuasi rata-rata DO per stasiun untuk setiap tahun pengukuran

Tahun Pengukuran Lokasi Satuan

1999 2000 2001 2002 2003

Stasiun II mg/l 7,7 7,57 8,4 7,25 9,03

Stasiun III mg/l 7,65 7,5 8,2 6,5 8,2

Stasiun IV mg/l 7,37 7,47 8 7,2 7,65

(55)

erat dengan meningkatnya kandungan padatan tersuspensi dari stasiun I sampai stasiun III seperti terlihat pada Gambar 6.

Fluktuasi DO rata-rata per stasiun

7.99

7.61

7.54

7.30 7.40 7.50 7.60 7.70 7.80 7.90 8.00 8.10

stasiun I stasiun II Stasiun III

stasiun pengamatan

DO (

m

g/

l)

Gambar 12. Fluktuasi DO rata-rata per stasiun.

c. BOD

Biochemical Oxygen Demand (BOD) menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan organisme hidup untuk memecah atau mengoksidasi bahan-bahan buangan di dalam air. Jika konsumsi oksigen tinggi yang ditunjukkan dengan semakin kecilnya sisa oksigen terlarut, maka berarti kandungan bahan-bahan buangan yang membutuhkan oksigen tinggi (Fardiaz, 1992). Air yang hampir murni mempunyai BOD kira-kira 1 ppm, dan air yang mempunyai nilai BOD 3 ppm masih dianggap cukup murni, tetapi kemurnian air diragukan jika nilai BOD-nya mencapai 5 ppm (fardiaz, 1992).

(56)

dalam proses dekomposisinya. Peningkatan jumlah bahan organik ini dapat diketahui dari besarnya peningkatan kandungan padatan tersuspensi dari tahun 1999 sampai dengan tahun 2003 seperti terlihat pada Tabel 5. Adanya peningkatan penggunaan lahan untuk pemukiman, meningkatnya luas tanah kosong dan semakin menurunnya luas hutan serta vegetasi campuran seperti terlihat pada Tabel 13 memungkinkan untuk meningkatkan laju erosi dan masuknya bahan-bahan yang membutuhkan oksigen dalam proses

dekomposisinya.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 kondisi air Sungai Cisadane menurut nilai BOD pada tahun 1999 tergolong pada kelas IV, tahun 2000 tergolong kelas III, sedangkan pada tahun 2002 dan 2003 kondisi BOD pada perairan ini telah melampaui baku mutu air. Nilai BOD tahun 2002 dan 2003 mengindikasikan bahwa perairan ini mengalami pencemaran berat.

Fluktuasi BOD rata-rata per tahun

8.12 5.48

42.14

213.23

0 50 100 150 200 250

1999 2000 2002 2003

Tahun

BO

D (

m

g

/l

)

Gambar 13. Fluktuasi BOD rata-rata per tahun.

(57)
[image:57.612.149.509.137.209.2]

menunjukkan terjadinya pencemaran berat dimana nilai kandungan BOD berada di luar rentang kelas mutu air.

Tabel 9. Fluktuasi rata-rata BOD per stasiun untuk setiap tahun pengukuran

Waktu Pengukuran Lokasi Satuan

1999 2000 2002 2003

Stasiun II mg/l 5,43 5,03 40,42 195,89

Stasiun III mg/l 5,98 5,17 65,14 189,32

Stasiun IV mg/l 15,36 6,23 20,85 254,49

Jika dilihat dari nilai BOD rata-rata per stasiun seperti terlihat pada Gambar 14 tampak terjadi peningkatan nilai BOD dari stasiun I sampai stasiun III, hal ini mengindikasikan semakin meningkatnya jumlah bahan organik yang harus diuraikan baik secara biologis maupun secara kimiawi. Peningkatan kandungan bahan organik ini dapat diketahui dengan meningkatnya kandungan padatan tersuspensi perstaisun pengukuran seperti terlihat pada Gambar 6.

Fluktuasi BOD rata-rata per stasiun

61.69 66.40

74.23

0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00

stasiun I stasiun II Stasiun III

stasiun pengamatan

BO

D (

m

g/

l)

Gambar 14. Fluktuasi BOD rata-rata per stasiun.

e. Nitrat

[image:57.612.188.452.365.485.2]
(58)

berada dalam kelas mutu III dan IV sedangkan untuk tahun 2002 dan tahun 2003 kondisi air sungai ini berada dalam kelas mutu I dan II.

Fluktuasi nitrat rata-rata per tahun

6.73 9.96

10.19

0 2 4 6 8 10 12

2001 2002 2003

Tahun

Ni

tr

a

t (

m

g/

l)

Gambar 15. Fluktuasi nitrat rata-rata per tahun.

[image:58.612.189.452.118.246.2]

Jika dilihat dari kandungan nitrat rata-rata per tahun pada setiap stasiun pengukuran seperti terlihat pada Tabel 10 tampak bahwa kandungan nitrat pada setiap stasiun cenderung mengalami penurunan untuk setiap tahunnya. Penurunan kandungan nitrat pertahun ini menunjukkan semakin menurunnya kegiatan yang menghasilkan nitrat sebagai limbah atau sebagai efek samping kegiatan. Salah satu kegiatan yang dapat meningkatkan kandungan nitrat di alam adalah pertanian. Pemberian pupuk untuk meningkatkan produktifitas pertanian selain bermanfaat terhadap peningkatan hasil pertanian juga memberikan dampak negatif berupa masuknya nitrat ke alam.

Tabel 10. Fluktuasi rata-rata nitrat per stasiun untuk setiap tahun pengukuran

Tahun Pengukuran Lokasi Satuan

2001 2002 2003

Stasiun II mg/l 11,27 10,49 4,749

Stasiun III mg/l 8,19 13,24 6,9

Stasiun IV mg/l 11,11 6,15 8,54

(59)

Fluktuasi nitrat rata-rata per stasiun 8.84 9.44 8.60 8.00 8.20 8.40 8.60 8.80 9.00 9.20 9.40 9.60

stasiun I stasiun II Stasiun III stasiun pengamatan Ni tr a t ( m g/ l)

Gambar 16. Fluktuasi nitrat rata-rata per stasiun.

3.Parameter Mikrobiologi

a. Total coli

Bakteri fecal coli sangat erat kaitannya dengan tinja manusia dan hewan, karena bakteri ini hidup dan berkembang biak secara baik pada media ini (Fardiaz, 1989 dalam Nugroho, 2003). Berdasarkan hasil pengukuran pada kandungan total coli rata-rata pada tiga stasiun pengukuran untuk setiap tahunnya seperti terlihat pada Gambar 17 dapat diketahui bahwa kandungan total coli rata-rata setiap tahunya mengalami fluktuasi. Kandungan total coli tertinggi terjadi pada tahun 2001 yaitu 1541 MPN/100 ml, sedangkan kandungan total coli terendah terjadi pada tahuan 1999 yaitu 586 MPN/100 ml.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 kandungan total coli rata-rata pada tiga stasiun pengukuran untuk setiap tahunya masih berada dalam kisaran baku mutu air. Tahun 2000, 2001 dan 2003 kandungan tota coli berada pada kelas II sementara itu tahun 1999 dan 2002 kondisi air tersebut berdasarkan kandungan total coli berada pada kelas I.

Fluktuasi total coli rata-rata per tahun

586 1083 1541 957 1433 0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800

1999 2000 2001 2002 2003

Tahun T o ta l C o li (M P N /1 0 0 m l)

(60)
[image:60.612.189.454.542.659.2]

Kandungan total coli untuk setiap stasiun pengukuran mengalami fluktuasi dari tahun ketahun begitu juga dengan kondisi per stasiunnnya. Seperti terlihat pada

Gambar

Tabel 1. Bobot Parameter Dalam Perhitungan IKA-NSF WQI (Ott, 1978 diacu
Tabel 2. Kisaran Nilai Indeks Total IKA-NSF WQI
Tabel 3. Fluktuasi suhu air rata-rata per stasiun untuk setiap tahun pengukuran
Gambar 3 dapat diketahui bahwa nilai kekeruhan dari tahun 1999 sampai dengan tahun 2003 mengalami fluktuasi yang cukup lebar
+7

Referensi

Dokumen terkait