xi
ABSTRAK ... viii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xiv
DAFTAR TABEL ... xv
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 6
1.3 Batasan Masalah ... 6
1.4 Tujuan ... 7
1.5 Manfaat Penulisan ... 7
1.5.1 Manfaat Teoritis ... 7
1.5.2 Manfaat Praktis ... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Studi Terdahulu ... 8
2.2 Makam Bung Karno ... 8
2.2.1 Kota Blitar ... 8
2.2.2 Peta Kota Blitar ... 8
2.2.3 Legenda ... 9
2.2.4 Potensi Wisata ... 10
2.3 Definisi Komunikasi Visual ... 12
2.4 Definisi Sejarah ... 13
2.4.1 Sejarah Sebagai Peristiwa ... 15
2.4.2 Sejarah Sebagai Ilmu ... 17
2.5 Sejarah Sebagai Ilmu ... 18
2.6 Brand ... 18
2.7 Destination Branding ... 19
xii
2.13 Media Promosi ... 24
2.14 Strategi Desain ... 27
2.14.1 Logo ... 27
2.14.2 Tagline ... 28
2.14.3 Warna ... 29
2.14.4 Tipografi ... 33
2.15 STP ... 35
2.16 SWOT ... 38
2.17 USP ... 40
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi ... 41
3.2 Jenis Penelitian ... 41
3.3 Perancangan Penelitian ... 41
3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 42
3.5 Teknik Analisis Data ... 44
BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Hasil dan Analisis Data ... 46
4.1.1 Obyek Penelitian ... 46
4.1.2 Data Produk ... 47
4.1.3 Potensi Pasar ... 47
4.2 Hasil Observasi ... 47
4.3 Hasil Wawancara ... 48
4.4 Hasil Dokumentasi ... 50
4.5 STP ... 51
4.6 Tabel SWOT ... 53
4.7 Keyword ... 54
xiii
4.11.2 Strategi Kreatif ... 57
4.12 Perencanaan Media ... 67
4.12.1 Tujuan Media ... 67
4.12.2 Strategi Media ... 68
4.13 Estimasi Biaya Media ... 74
4.14 Implementasi Desain ... 74
BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ... 92
5.2 Saran ... 93
DAFTAR PUSTAKA ... 94
BIODATA PENULIS ... 96
1 1.1Latar Belakang
Blitar adalah salah satu kota di Indonesia yang memiliki potensi wisata sejarah. Salah satunya adalah Makam Bung Karno. Makam Bung Karno merupakan makam Proklamator Indonesia yang bertemakan pendidikan, karena disana terdapat perpustakaan cukup besar. Di dalam kompleks Makam Bung Karno terdiri dari tiga tempat, pertama Perpustakaan Bung Karno, kedua Makam Bung Karno dan yang ketiga adalah Musium Bung Karno. Permasalahannya Makam Bung Karno ini belum memiliki sebuah logo dan media promosi padahal sebuah logo adalah elemen gambar atau simbol identitas yang penting. Tujuan penelitian ini adalah merancang logo dan media pendukung promosi Makam Bung Karno berbasis Sejarah.
Menurut Buchari Alma (2006:179), promosi adalah sejenis komunikasi yang memberi penjelasan dan meyakinkan calon konsumen mengenai barang dan jasa dengan tujuan untuk memperoleh perhatian, mendidik, mengingatkan dan meyakinkan calon konsumen. Sedangkan arti promosi wisata adalah usaha untuk memperbesar daya tarik objek wisata terhadap calon wisatawan. Wisatawan dan kebutuhannya tidak digarap akan tetapi produk wisatanya yang lebih disesuaikan dengan permintaan wisatawan (Soekadijo, 2000:4). Dapat dikatakan bahwa promosi sangat dibutuhkan dalam upaya pengembangan objek wisata yang sesuai dengan minat pengunjung, sehingga promosi sangat berpengaruh terhadap peningkatan kunjungan wisatawan.
Branding tempat harus menyediakan diferensiasi produk yang jelas karena meningkatkan persaingan, globalisasi tempat sebagai pasar-pasar yang meninggalkan kenangan dan hubungan emosional dengan konsumen. Destinasi branding merupakan salah satu cara agar masyarakat lebih mengetahui atau memperkuat identitas kota agar mampu bersaing dengan kota lainnya demi menarik turis, penanam modal, industri serta dapat meningkatkan hubungan antara warga dengan kota.
pariwisata berkembang semakin pesat. Industri pariwisata memang terus berkembang karena memiliki prospek yang sangat menjanjikan.Hal ini didukung oleh data wisatawan internasional dari WTO yang jumlahnya menunjukkan tren selalu meningkat. Pada tahun 2010 jumlah wisatawan internasional mencapai 940 juta wisatawan, sedangkan pada tahun 2011 jumlahnya meningkat menjadi 983 juta wisatawan atau bertambah 4,6%. Jumlah wisatawan internasional pada tahun 2020 diperkirakan akan mencapai 1,4 miliar dan meningkat menjadi 1,8 miliar pada tahun 2030 (WTO, 2012).
mancanegara. Dari jumlah kunjungan wisatawan tahun 2010 sebesar 1.029.522, diketahui rata-rata per minggu jumlah wisatawan yang berkunjung ke Makam Bung Karno adalah 19.798 wisatawan per minggu. Jumlah tersebut jika dirinci lagi maka diketahui bahwa kunjungan wisatawan paling tinggi terdapat pada akhir pekan, yaitu hari sabtu dan minggu. Sedangkan dalam satu tahun, kunjungan per bulan paling tinggi terjadi pada bulan Juni, dimana pada bulan ini bertepatan dengan HAUL Bung Karno sehingga terdapat banyak acara untuk mengenang jasa-jasa beliau (Dinas Kominparda Kota Blitar, 2011).
Branding menurut American Marketing Association, brand adalah sebuah nama, istilah, tanda, simbol atau desain, atau sebuah kombinasi diantaranya, yang bertujuan untuk mengidentifikasikan sebuah barang atau jasa yang dihasilkan oleh produsen dan berfungsi sebagai pembeda dari kompetitornya (Kotler dan Keller 2006). Brand atau merek merepresentasikan persepsi dan perasaan konsumen terhadap sebuah produk dan kinerja dari produk serta apa saja yang berarti bagi konsumen. Merek ada di dalam pikiran konsumen dan nilai sebenarnya dari merek yang kuat adalah kemampuannya untuk menangkap keinginan dan kesetiaan dari konsumen. (Kotler dan Amstrong 2006:140).
membangkitkan respon emosional (emotional response), membangkitkan hrapan (creating expectation).
Permasalahannya Makam Bung Karno ini belum memiliki logo dan media promosi pendukung lainnya. Logo yang efektif sebagai suatu identitas perusahaan atau tempat bukanlah perkara yang mudah dan dapat diselesaikan secara singkat. Tentu saja diperlukan sejumlah tahapan pekerjaan dan pengetahuan antara lain, riset dan analisa brand , Menentukan strategi komunikasi dan visual sesuai dengan karakter brand, pengetahuan yang mendalam tentang proses pembuatan symbol yaitu karakteristik bentuk, tipografi, pengetahuan tentang gestalt, dan kecenderungan optis mata manusia, karakteristik warna, paham akan penerapan di media , pengetahuan bidang percetakan. Bagi orang yang sudah bekerja di bidang ini tentu saja paham dengan pengetahuan dan diperlukan tahap akan kemampuan memahami dan mengidentifikasi problem klien, menawarkan solusi yang tepat, keterampilan komunikasi analisa situasi, presentasi dan pengembangan kepribadian. Logo diperlukan oleh setiap perusahaan, organisasi atau tempat guna memperkenalkan identitas dan menyebarkan citra. Di lain pihak dengan adanya logo maka konsumen akan dipermudah mencari produk yang diinginkan. Logo juga merupakan bagian dari marketing tools yang sangat menentukan karena logo lah yang pertama kali dilihat oleh konsumen (Rustan, 2009 : 2).
maka peneliti melakukan perancangan komunikasi visual melalui logo dan media pendukung lainnya. Perancangan destinasi branding ini diharapkan mampu menambah pengunjung memberikan kesadaran, nilai sejarah, Membantu proses peningkatan dan wawasan untuk mengenalkan Makam Bung Karno, sebagai upaya destinasi branding bersejarah Kota Blitar edukatif serta meningkatkan jumlah wisatawan. Cara yang dilakukan untuk mempromosikan Makam Bung karno adalah membuat logo untuk kemudian diaplikasikan pada media pendukung promosi periklanan. Karena periklanan dapat memberikan informasi yang jelas dan memiliki daya bujuk kuat terhadap konsumen.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka dirumuskan masalah yang terdapat sebagai berikut :
“Bagaimana merancang komunikasi visual Makam Bung Karno berbasis sejarah untuk menjadi tempat tujuan wisata Kota Blitar?
1.3 Batasan Masalah
Dari permasalahan yang di rumuskan di atas, batasan masalah yang di gunkan adalah sebagai berikut :
a. Pembuatan logo untuk diterapkan pada media promosi pendukung yang digunakan.
1.4 Tujuan Perancangan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari branding ini adalah :
a. Untuk merancang logo kemudian diterapkan pada media promosi pendukung yang digunakan.
b. Untuk merancang media promosi pendukung dengan menggunakan media Above The Line (billboard, poster) dan Below The Line (X banner,) dan Merchandise.
1.5 Manfaat Perancangan 1. 5.1 Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dan menambah pengetahuan baru bagi masyarakat dan mahasiswa yang ingin mengetahui tentang bagaimana mendesain branding tempat yang sesuai dengan citra dan esensi dari kota mengandalkan yang dimilikinya.
1.5.2 Manfaat Praktis
8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1Studi Terdahulu
Penelitian terdahulu pernah dilakukan oleh mahasiswa universitas Telkom, Satria Purnama dkk, dengan judul penelitiannya yaitu Perancangan Sign System Komplek Wisata Perpustakaan Proklamator Bung Karno Dan Makam Bung Karno. Tujuan dari penelitian ini adalah memudahkan pengunjung dalam menjangkau informasi ketika berada di Komplek Makam Bung Karno dan Wisata Perpustakaan Bung Karno. Dari beberapa permasalahan di atas menunjukkan bahwa masih kurangnya peran sign sytem dalam memandu para pengunjung ketika berada di Komplek Wisata Perpustakaan Proklamator Bung Karno dan Makam Bung Karno. Kurang tersedianya informasi-informasi terutama mengenai lokasi objek dan fasilitas umum yang berada di dalam lokasi ini
memadai. Selain itu sign yang ditampilkan tidak memiliki desain yang sesuai dan menyatu antara satu sign dan sign lainnya.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah dari media perancangannya yang diambil, yaitu pada penelitian awal mengambil sign system Perpustakaan Proklamator Bung Karno dan Makam Bung Karno dan penelitian ini mengambil obyek utama Makam Bung Karno.
2.2Makam Bung Karno
2.3 Kota Blitar
Gambar 2.2 Lambang Kota Blitar Sumber : www.blitarkota.go.id, 2016
Kota Blitar merupakan salah satu daerah di wilayah Propinsi Jawa Timur. Kota Blitar juga dikenal dengan sebutan Kota Patria , Kota Lahar dan Kota Proklamator, secara legal-formal didirikan pada tanggal 1 April 1906. Dalam perkembangannya momentum tersebut ditetapkan sebagai hari jadi Kota Blitar.
2.4 Peta Kota Blitar
Gambar 2.3 Peta Kota Blitar Sumber : infonusa.wordpress.com, 2016
Ukuran Kota Blitar tidak mencerminkan sebuah kota yang cukup luas. Level yang dicapai kota Blitar adalah sebuah kota yang masih tergolong antara klasifikasi kota kecil. Kota Blitar dengan luas wilayah kurang lebih 32,58 km2 terbagi habis menjadi tiga Kecamatan yaitu :
Dari tiga Kecamatan tersebut, habis terbagi menjadi 21 Kelurahan Wilayah Kota Blitar dikelilingi oleh Kabupaten Blitar dengan batas:
a. Sebelah Utara : Kecamatan Garum dan Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar b. Sebelah Timur : Kecamatan Kanigoro dan Kecamatan Garum Kabupaten Blitar c. Sebelah Selatan : Kecamatan Sanankulon dan Kecamatan Kanigoro Kabupaten
Blitar
d. Sebelah Barat : Kecamatan Sanankulon dan Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar.
Dilihat dari kedudukan dan letak geografisnya, Kota Blitar tidak memiliki sumber daya alam yang berarti, karena seluruh wilayahnya adalah wilayah perkotaan, yang berupa pemukiman, perdagangan, layanan publik, sawah pertanian, kebun campuran dan pekarangan. Oleh karena itu, sebagai penggerak ekonomi Kota Blitar mengandalkan Potensi diluar sumber daya alam, yaitu sumber daya manusia dan sumber daya buatan (www.blitarkota.go.id).
2.3 Definisi Komunikasi Visual
Ditinjau dari etimologi, komunikasi berasal dari kata communicare yang berarti “membuat sama”. Definisi kontemporer menyatakan bahwa komunikasi berarti “mengirim pesan”.
definisi kontemporer menyarankan bahwa komunikasi merujuk pada kalimat “Mendiskusikan makna”, ”Mengirim pesan” dan ”Menyampaiankan pesan lewat media”. Apapun istilah yang dipakai, secara umum komunikasi mengandung pengertian “memberikan informasi, pesan, atau gagasan pada orang lain dengan maksud agar orang lain tersebut memiliki kesamaan informasi, pesan atau gagasan dengan pengirim pesan. Komunikasi dapat dilakukan baik secara lisan dan tulisan (visual). Contoh paling konkrit dari komunikasi lisan antara lain adalah berbicara, berdiskusi, melalui radio dan lain-lain; sedangkan komunikasi tulisan (visual) adalah surat, majalah, brosur, surat kabar, dan lain-lain. Bahkan dewasa ini, seiring dengan berkembangnya teknologi dan informasi, kita dapat juga berkomunikasi dengan cara yang menggabungkan kedua bentuk tersebut di atas, contohnya televisi dan multi media. Elemen-elemen yang sering digunakan dalam komunikasi visual antara lain adalah tipografi, simbolisme, ilustrasi dan fotografi. Elemen-elemen ini bisa digunakan sendiri-sendiri, bisa juga digabungkan.
2.4 Definisi Sejarah
hal, yakni sejarah sebagai peristiwa, sejarah sebagai ilmu, sejarah sebagai cerita (Ismaun, 1993:277).
Sejarah adalah cerita tentang kejadian, merupakan suatu cerita dan berurutan. Arti kata sejarah masih terlalu umum dan belum menunjukkan ciri khas sejarah yaitu peranan manusia dan kejadian alam tidak semuanya dapat dikatakan kejadian historis. Peristiwa atau kejadian yang penting yang terjadi pada manusia yang membawa perubahan dan perkembangan bagi kehidupan manusia itu sendiri. Sejarah diartikan sebagai suatu tentang apa yang telah dikerjakan dan dipikirkan oleh manusia pada masa yang lampau.
Arti kata sejarah juga masih terlalu luas, dalam hal ini pekerjaan manusia yang mana masuk sejarah. Juga yang dipikirkan dan dikatakan yang mana. Tidak semua apa yang dikerjakan dan dikatakan serta dipikirkan manusia itu termasuk peristiwa historis. Sejarah, bukan hanya hal-hal yang telah terjadi pada masa lampau itu saja yang dibutuhkan dalam pelajaran, melainkan kegunaannya sebagai bahan pembanding kejadian-kejadian masa kini untuk menentukan atau meramalkan peristiwa-peristiwa pada masa yang akan datang.
Pada hakikatnya peristiwa sejarah itu tidak dapat terlepas dari ruang dan waktu sebagai media geraknya, sehingga dapat dipastikan bahwa peristiwa sejarah itu unik karena terjadi hanya sekali dan kejadian itu merupakan sebab dari kejadian berikutnya dan tidak akan terulang kembali. Selain itu dapat berarti serentetan peristiwa-peristiwa penting dari kehidupan manusia yang membawa perubahan dan perkembangan dalam suatu proses yang berkesinambungan. Sehingga ada tiga macam pengertian sejarah yaitu
a. Seluruh atau kejadian yang berhubungan dengan negara, manusia, dan benda atau seluruh perubahan yang nyata dalam diri manusia disekitar kita.
b. Cerita yang terususun secara sistematis dan kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa.
c. Ilmu yang mempelajari perkembangan negara, peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian dimasa lampau.
2.4.1 Sejarah sebagai Peristiwa
Sejarah adalah sesuatu yang terjadi pada masyarakat manusia di masa lampau. Para ahli pun mengelompokkan sejarah agar dapat memudahkan kita untuk memahaminya yaitu :
b. Pembagian sejarah berdasarkan periode waktu. Contoh: sejarah Indonesia, dimulai dari zama prasejarah, zaman pengaruh Hindu-Buddha, zaman pengaruh Islam, zaman kekuasaan Belanda, zaman pergerakan nasional, zaman pendudukan Jepang, zaman kemerdekaan, zaman Revolusi Fisik, Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi.
c. Pembagian sejarah berdasarkan unsur ruang. Dalam sejarah regional dapat menyangkut sejarah dunia, tetapi ruang lingkupnya lebih terbatas oleh persamaan karakteristik, baik fisik maupun social budayanya. Contoh: sejarah Eropa, sejarah Asia, Tenggara, sejarah Afrika Utara, dan sebagainya.
Sejarah sebagai peristiwa sering pula disebut sejarah sebagai kenyataan dan serba objektif, artinya peristiwa-peristiwa tersebut benar-benar terjadi dan didukung oleh evidensi-evidensi yang menguatkan, seperti berupa saksi mata(witness) yang dijadikan sumber-sumber sejarah (historical sources), peninggalan-peninggalan (relics atau remains), dan catatan-catatan (records) (Ismaun, 1993:279)
2.4.2 Sejarah sebagai Ilmu
Sejarah dikategorikan sebagai ilmu karena dalam sejarah pun memiliki “batang tubuh keilmuan” (the body of knowledge), metedologi yang spesifik. Sejarah pun memiliki struktur keilmuan tersendiri, baik dalam fakta, konsep, maupun generalissasinya (Banks, 1977:211-219;Sjamsuddin, 1996:7-19). Kedudukan sejarah di dalam ilmu pengetahuan digolongkan ke dalam beberapa kelompok.
a. Ilmu Sosial, karena menjelaskan perilaku social. Fokus kajiannya menyangkut proses-proses social (pengaruh timbal balik antara kehidupan aspek social yang berkaitan satu sama lainnya) beserta perubahan-perubahan social.
2.5 Sejarah sebagai Ilmu
Dalam sejarah sebagai cerita merupakan sesuatu karya yang dipengaruhi oleh subjektivitas sejarawan. Artinya, memuat unsur-unsur dari subjek, si penulis atau sejarawan sebagai subjek turut serta mempengaruhi atau memberi “warna, atau “rasa” sesuai dengan “kacamata” atau selera subjek (Kartodirdjo, 1992:62). Dilihat dari ruang lingkupnya, terutama pembagian sejarah secara tematik, Sjamsuddin (1996: 03-221) dan Burke (2000:444) mengelompokkanya dalam belasan jenis sejarah politik; sejarah ekonomi; sejarah kebudayaan; sejarah keluarha; sejarah etnis, sejarah psikologi dan psikologi histori; sejarah pendidikan; sejarah medis.
2.6 Brand
2.7 Destinantion Branding
Destination Branding merupakan bagian dari merek yang digunakan untuk memasarkan potensi suatu daerah yang ditampilkan dalam symbol, logo, kata-kata, nama, tanda atau penjelasan lain dari sebuah pengalaman perjalanan yang saling berhubungan dengan berbagai hal yang akan memudahkan orang memiliki asosiasi dengan tempat tersebut.
Menurut Blain dkk (Dewi, 2011:39) definisi tentang destination branding yang juga berarti garis besar dalam mengembangkan strategi sekaligus kerangka evaluasi untuk menilai efektivitas branding suatu destinasi wisata. Elemen-elemen ini adalah : Citra (image), mengenalkan (recognition), membedakan (differention), menyampaikan pesan (brand messages), konsisten (consistenscy), membangkitkan respon emosional (emotional response), membangiktkan harapan (creating expectation)
2.8Wisata Edukasi
Sesuai yang dikemukakan oleh Rodger dalam bukunya, Pariwisata Pendidikan dimaksudkan sebagai suatu program dimana peserta kegiatan melakukan perjalanan wisata pada suatu tempat tertentu dalam suatu kelompok dengan tujuan utama mendapatkan pengalaman belajar secara langsung terkait dengan lokasi yang dikunjungi (Rodger, 1998 : 28).
Dalam pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa wisata edukasi adalah kegiatan berlibur sambil belajar, dengan konsep pembelajaran pendidikan nonformal yang tidak dipelajari dibangku sekolah formal ataupun kursus. Di dalam wisata edukasi tidak hanya sekedar menikmati pemandangan yang di suguhkan namun juga mempelajari berbagai hal yang dapat dilakukan pada lokasi wisata tersebut. Misalnya mempelajari tentang budaya dan sejarah dari daerah yang dikunjungi, yang tidak ada pada daerah lain. Sehingga wisatawan mampu menambah wawasan dan pengalaman dengan metode pembelajaran yang menyenangkan.
2.9 Jenis-jenis Wisata Edukasi
Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dunia dan berkembangnya sektor pariwisata pendidikan yang dinilai mampu untuk memenuhi kebutuhan berwisata sekaligus edukasi, maka wisata edukasi memiliki penjabaran sesuai dengan bidang edukasi yang diinginkan wisatawan. Terdapat 4 jenis wisata edukasi di Indonesia, yaitu :
b. Wisata Edukasi Sport / Olahraga
Berbasis kepada pendidikan secara fisik/ olahraga. c. Wisata Edukasi Culture / Kebudayaan
Diantaranya pendidikan kebudayaan dalam bidang seni, adat istiadat dan lain yang berhubungan dengan kebudayaan.
d. Wisata Edukasi Agrobisnis
Berbasis kepada pendidikan agro atau pertanian dan peternakan yang juga merupakan bisnis dari suatu perusahaan maupun perseorangan (www.repository.widyatama.ac.id).
2.10 Wisata Sejarah
Wisata sejarah atau biasanya disebut wisata Heritage adalah tempat berwisata yang memiliki keunggulan dalam bidang sejarah, dimana banyak tempat peninggalan jaman sejarah yang masih dapat disaksisan sampai sekarang.
2.11 Pengertian Pariwisata
Banyak para pakar dan ahli pariwisata serta organisasi pariwisata yang memberikan batasan atau pengertian dari pariwisata tetapi untuk menyatukan pengertian, maka dalam penelitian ini, penulis menggunakan pengertian pariwisata menurut Undang – Undang No. 10 Tahun 2009 Pasal 1 butir 3 dimana yang dimaksud dengan pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah dan pemerintah daerah.
Sementara itu pengertian kepariwisatan menurut Undang – Undang No. 10 tahun 2009 pasal 1 angka 4 adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan negara, serta interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat, sesama wisatawan, pemerintah, pemerintah daerah dan pengusaha.
Menurut Oka Yoeti (1996) Pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk sementara waktu yang diselengarakan dari suatu tempat ke tempat yang lain dengan maksud tujuan bukan untuk berusaha atau mencari nafkah di tempat yang di kunjungi, tetapi semata-mata menikmati perjalanan tersebut untuk memenuhi kebutuhan/keinginan yang bermacam-macam.
dapat berupa obyek wisata alam seperti gunung, danau, sungai, pantai, laut atau berupa obyek wisata bangunan seperti museum, benteng, situs peninggalan sejarah dan lain-lain.
Pariwisata adalah segala sesuatu yang berkenaan dengan wisata, termasuk obyek dan daya tarik wisata serta usaha-usaha yang berhubungan dengan penyelenggaraan pariwisata. Inti atau komponen pariwisata yaitu:
a. Atraksi/ attraction seperti atraksi alam, budaya dan buatan.
b. Amenitas/ amenities berhubungan dengan fasilitas atau akomodasi
c. Aksesibilitas/ accebilities berhubungan dengan segala jenis transportasi, jarak atau kemudahan pencapaian. Serta unsur pendukung lainnya (masyarakat, pelaku industry pariwisata, dan institusi pengembangan)
Berdasarkan definisi diatas maka pariwisata merupakan aktifitas manusia untuk sementara waktu yang dilakukan secara sadar dari satu tempat ke tempat lain dengan tujuan untuk bersenang-senang bukan mencari nafkah.
2.12 Peninggalan Sejarah
kediaman makhluk manusia pada zaman dahulu dikenal dengan nama situs. Situs biasanya ditentukan berdasarkan survey suatu daerah”.
Lebih lanjut William Haviland (Warsito 2012 : 25) juga mengatakan bahwa “ artefak/artefac adalah sisa-sisa alat bekas suatu kebudayaan zaman prehistori yang digali dari dalam lapisan bumi. Artefak ialah objek yang dibentuk atau diubah oleh manusia”.
Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa Situs diketahui karena adanya artefak. Ahli arkeologi mempelajari peninggalan-peninggalan yang berupa benda untuk menggambarkan dan menerangkan perilaku manusia. Jadi situs sejarah adalah tempat dimana terdapat informasi tentang peninggalan-peninggalan bersejarah. Salah satu contoh situs sejarah adalah rumah adat.
Berbagai peninggalan-peninggalan sejarah yang ada di wilayah tertentu, tentunya menjadi kebanggaan bagi masyarakat daerah tersebut sekaligus menjadi langkah nyata dalam melestarikan Situs Budaya daerah sehingga masyarakat pada akhirnya akan mengetahui sejarah daerahnya sekaligus menumbuhkan rasa memiliki dan menjaga peninggalan sejarah tersebut , dan pada akhirnya akan merasakan imbas dari kekayaan dan keragaman daerahnya dengan berkembangnya kemajuan sector pariwisata sehingga akan menggerakkan sector ekonomi kreatif masyarakat.
2.13 Media Promosi
a. Tepat sasaran / target audience
b. Manfaat promosi tercapai (baik itu untuk branding, selling atau keduanya) c. Memberikan image yang positif
d. Unik dan memiliki daya tarik
e. Mempunyai life time sepanjang mungkin
Menurut Jefkins (1995:84), media promosi meliputi seperangkat yang dapat memuat atau membawa pesan-pesan penjualan kepada calon pembeli. Mengaplikasikan media dalam promosi tergantung pada konsep, strategi dan tujuan yang inggin dicapai.
Menurut Supriyanto (2008:19), pada dasarnya, promosi dikategorikan menjadi dua, yaitu:
Media promosi pada umumnya dapat dibagi menjadi Above The Line (ATL) dan Below The Line (BTL).
a) Above the line (ATL).
Adalah aktifitas promosi dengan menggunakan media TV, koran, billboard, majalah, radio. Above the Line memiliki target yang lebih luas daripada media Below the Line. Biaya produksi pembuatan dan penerbitan juga lebih mahal.
b) Below the line (BTL)
kegiatannya dapat memberikan audiens kesempatan untuk merasakan, menyentuh atau berinteraksi bahkan langsung action membeli misalnya melalui event, sponsorship, sampling, point-of-sale (POS) materials, consumer promotion, trade promotion, dan lain-lain.
Kegiatan ATL menjangkau kelompok sasaran yang luas dan sebaliknya, kegiatan BTL mempunyai ruang lingkup audience yang lebih terbatas. Pemilihan media yang akan digunakan sebagai sarana promosi tentunya harus disesuaikan dengan budjet dan sasaran target pemasaran. Sebab, tiap-tiap media memiliki karakteristik berbeda baik dalam hal kekuatan “menjual” maupun harga sebuah pemasaran.
Menurut Kotler dan Keller (2007:234), sebuah promosi akan lebih efektif jika dilakukan dengan beriklan. Masing-masing jenis iklan memiliki beberapa tujuan, antara lain :
1. Iklan Informatif
Iklan informative ini bertujuan untuk menciptakan kesadaran dan pengetahuan tentang produk baru atau produk yang sudah ada.
2. Iklan Persuasif
Iklan persuasive ini bertujuan untuk menciptakan kesukaan, perferensi, keyakinan, dan pembelian suatu produk atau jasa.
3. Iklan Pengingat
4. Iklan Penguat
Iklan penguat ini dimaksudkan untuk menyakinkan pembeli konsumen yang sudah ada bahwa produk yang mereka beli atau yang mereka gunakan tepat.
2.14 Strategi Desain 2.14.1 Logo
Dalam merancang media promosi dibutuhkan kehadiran Logo berdasarkan potensi pariwisata Makam Bung Karno. Logo inilah yang nantinya akan menginspirasi perancangan promosi yang akan digunakan, baik bentuk, warna dan sebagainya, sehingga tercipta media promosi yang efektif. Logo sebagai elemen utama dalam sebuah identitas yang dinilai mampu mengkomunikasikan potensi Makam Bung Karno dan mampu memposisikan dalam dunia pariwisata sejarah. Ciri-ciri logo yang efektif adalah :
a. Memiliki sifat unik.
b. Memiliki sifat yang fungsional dan dapat diaplikasikan ke dalam berbagai media.
c. Bentuk logo mengikuti kaidah-kaidah dasar desain. d. Mampu mempresentasikan suatu perusahaan/produk.
Sedangkan logo berasal dari bahasa Yunani yaitu Logos, yang berarti kata, pikiran, pembicaraan, akal budi. Secara umum arti logo digambarkan sebagai tanda gambar (picture mark) yang merupakan identitas untuk menggambarkan citra dan karakter suatu lembaga atau perusahaan maupun organisasi. Menurut Susanto (2002:70), Logo terbentuk karena latar belakang kultur, produk yang dihasilkan, citra atau image (modern atau canggih, klasik, futuris), dan lain-lain.
Menurut Murry dan Rowe (www.logosource.com) logo memiliki fungsi antara lain:
a) Identitas produk atau jasa atau organisasi. b) Pembeda dengan yang lain.
c) Penyampai informasi berupa keaslian, harga, kualitas. d) Nilai tambah, dapat ditemukan dalam banyak kasus. e) Mewakili aset yang berharga.
f) Kelengkapan hukum (Sutrisno, 2012:29).
2.14.2 Tagline
Menurut Eric Swartz (Rustan, 2009:70), tagline merupakan susunan kata yang ringkas (biasanya tidak lebih dari tujuh kata), diletakkan mendampingi logo dan mengandung pesan brand yang kuat ditujukan kepada audience. Penggunan tagline bersifat sementara, artinya selama masa promosi wisata tidak selamanya akan menggunakan tagline yang dibuat, sewaktu-waktu dapat diganti dengan menyesuaikan mode dan gaya sekarang.
a. Deskriptif
Menerangkan produk dengan janji/service. Contohnya DJARUM SUPER Topnya kretek filter.
b. Spesifik
Memposisikan bahwa produk ini adalah produk yang paling tinggi di bidangnya. Contohnya SOSRO ahlinya teh.
c. Superlatif
Memposisikan bahwa produk ini adalah produk pilihan utama konsumen. Contohnya SMARTFREN anti lelet!
d. Imperatif
Menggambarkan suatu aksi yang diawali dengan penggunaan kata kerja. Contohnya, ada SANKEN.
e. Profokatif
Menggunakan bahasa kalimat ajakan untuk memancing emosi. Seringkali menggunakan bahasa tanya. Contohnya TING TING Garuda satu mana cukup?
2.14.3 Warna
Asep Herman Suyanto (2007:19) Warna dalah bagaimana kita merasakan cahaya yang mungkin memantulkan, mengirimkan, diffracted, atau memancarkan
Penggunaan warna mampu mewakili komunikasi pada arti desain yang disampaikan, ketika warna tersebut pas dan menyatu dalam desain akan mampu mempengaruhi minat baca, bahkan mampu meningkatkan mood dalam diri seseorang. Sebagai contoh pengunaan warna soft mendominasi pada karakter lembut dan tenang. Sedangkan warna kontras dapat memberikan kesan ceria dan dinamis (Supriyono, 2010 : 70).
Menurut Rustan (2009:72) dalam bukunya mengatakan, warna memainkan peran sangat besar dalam pengambilan keputusan saat membeli barang. Warna juga meningkatnkan brand recognition sebanyak 80% menurut penelitian yang dilakukan oleh University of Loyola, Chicago, Amerika. Karena itu pemilihan warna yang tepat merupakan proses sangat penting dalam mendesain. Untuk itu pemilihan warna membutuhkan riset dalam bidang psikologi budaya, dan komunikasi.
2.14.4 Sifat Warna
1. Warna Panas
Warna panas adalah keluarga merah atau jingga yang memiliki sifat dan pengaruh hangat segar atau menyenangkan, merangsang dan bergairah. Warna hangat terutama merah akan terasa seolah-olah maju dekat ke mata. Memberikan kesan jarak yang lebih pendek.
Gambar 2.4 Contoh Warna Panas Sumber : Junaedi (2003)
2. Warna Dingin
Gambar 2.5 Contoh Warna Dingin Sumber : Junaedi (2003)
Warna-warna yang identik dengan Makam Bung Karno adalah warna hijau, biru, coklat, dan putih. Berikut filosofi dari warna-warna tersebut:
a. Hijau
Warna hijau sering diartikan dengan dedaunan dan alami dan merupakan simbolis dari kesegaran dan relaksasi dan mampu memberi suasana tenang dan santai. Respon psikologi yang dimunculkan : alami, kesehatan, pandangan yang enak.
b. Biru
Warna biru didasari oleh warna alam, identik dengan warna air yang dapat menggambarkan ketenangan dan relaksasi. Biasanya digunakan untuk melambangkan pantai, laut, langit, air, ombak.
c. Coklat
d. Putih
Melambangkan suci, sederhana, dan bersih. Dapat memantulkan cahaya untuk menekankan warna lain.
2.14.4 Tipografi
Tipografi merupakan salah satu elemen penting, digunakan sebagai elemen pelengkap dalam desain karena memiliki fungsi untuk menjelaskan konsep dan ilustrasi dalam sebuah dalam perancangan corporate identity. Tipografi dapat membawa emosi atau berekspressi, menunjukan pergerakan elemen dalam suatu desain logo, dan memperkuat arah suatu logo seperti juga desain-desain elemen yang digunakan dalam perancangan logo.
Menurut Moser (2008:101), Dalam suatu pilihan tipografi yang digunakan untuk mengkomunikasikan esensi sebuah perusahaan adalah salah satu wilayah yang cenderung terlewatkan karena kebanyakaan pelaku bisnis tidak memiliki kosa kata untuk mengartikulasikan kebutuhan mereka.
macam jenis huruf yang memiliki karakter berbeda-beda sehingga mampu merefleksikan sebuah kesan tersendiri.
Ada 4 buah prinsip pokok tipografi yang sangat mempengaruhi keberhasilan suatu desain tipografi yaitu :
a. Legibility
Kualitas pada huruf yang membuat huruf tersebut dapat terbaca. Dalam suatu karya desain, dapat terjadi cropping, overlapping, dan lain sebagainya, yang dapat menyebabkan berkurangnya legibilitas daripada suatu huruf.
b. Readibility
Penggunaan huruf dengan memperhatikan hubungannya dengan huruf yang lain sehingga terlihat jelas dan tidak saling tumpang tindih. Seperti spasi antar huruf, atau jarak antar huruf yang harus disesuaikan sehingga dalam pembacaan suatu keterangan yang memuat informasi dapat tersampaikan dengan efektif
c. Visibility
Apabila huruf, kata, atau kalimat yang dapat terbaca dalam jarak baca tertentu. Sebagai contoh, penerapan besarnya huruf yang digunakan untuk headline dalam brosur tentunya berbeda dengan yang digunakan dalam pembuatan Banner.
d. Clarity
Menurut Rustan (2011:1-10), pengelompokan huruf sesaui garis besar antara lain :
1. Serif
Huruf jenis serif dapat dikenal memiliki kait yang terdapat diujung-ujungnya. Selain membantu keterbacaan, serif juga memudahkan saat diukir ke batu. 2. Sans Serif
Huruf jenis sans serif tidak memliki kait yang terdapat diujung-ujungnya. Sans serif melambangkan keserdahaan, selain itu jenis sans serif juga memiliki karakter ringan, dinamis, modern dan to the point.
Gambar 2.6 Serif dan Sans Serif Sumber : Miker Moser (2008 : 101)
2.15
STP (Segmentation, Targeting, Positioning)
Menurut Zaharuddin (2006:63) STP (Segmentasion, Targeting, Positioning) yaitu :
a. Segmentasi Pasar.
adalah untuk meneliti segmentasi mana yang mempunyai peluang pasar terbaik. Segmentasi pasar dibagi dalam 4 variabel utama, yaitu :
b. Segmentasi geografis, yakni membedakan tingkat suatu daerah, misalnya Negara, provinsi, kabupaten, kota ataupun komplek pemukiman.
c. Segmentasi demografis, yakni pembagian pasar berdasarkan usia, jenis kelamin, pendidikan, agama dan daur hidup.
d. Segmentasi psikografis, pembagian pasar berdsarkan kelas social, gaya hidup dan karakteristik kepribadian.
e. Segmentasi perilaku, yakni pembagian pasar berdasarkan pengetahuan, sikap, pemakaian, respon atas suatu produk atau atribut.
2.1 Pasar Sasaran (Target Market)
Setelah mengetahu peluang segmentasi pasar, langkah selanjutnya memilih pasar sasaran, yaitu: berapa banyak segmen pasar yang akan dipilih, dan bagaimana mengidentifikasikan segmen-segmen tersebut. Pasar sasaran dikelompokan menjadi 3 bagian, yaitu:
a. Pemasaran serba sama (Undiferentiated Marketing)
b. Pemasaran Serba Aneka (Difefrential Marketing)
Merupakan suatu konsep yang memiliki dua atau lebih segmen pasar. Pemasaran membedakan masing-masing segmen pasar dengan menawarkan variansi produk.
c. Pemasaran Terpadu (Concentrated Marketing)
Merupakan suatu konsep yang memiliki hanya satu segmen pasar tertentu. Pada konsep ini mengandung resiko yang sangat tinggi, karena suatu saat dapat saja merosot atau hilang permintaan atas produk tersebut.
2.1 Posisi Pasar
Langkah selanjutnya setelah menetapkan segmentasi adalah menentukan posisi pasar. Hal ini menyangkut apakah segmen pasar tersebut baru atau sudah terbentuk. Jika sudah terbentuk maka pesaing sudah beroperasi dan mempunyai kedudukan dimata klien. Langkah awal harus melakukan penelitian untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan para pesaing dan tindakan yang harus dilakukan.
Tiga langkah untuk menetukan posisi pasar, yaitu:
a. Mengidentifikasi keunggulan Pesaing, adalah menetukan posisinya sendiri, dimana suatu produk mempunyai keunggulan yang sangat berbeda dengan pesaingnya.
c. Mengkomunikasikan Posisi, setelah menetapkan posisi, langkah selanjutnya adalah mensosialisasikan keunggulan tersebut kepada klien (konsumen).
2.16 SWOT
Menurut Fathur 92012:13), analisis SWOT adalah metode perea\encanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (strengths) dan kelemahan (weaknesses) internal organisasi, serta peluang (opportunities) dan ancaman atau tantangan (threats) eksternal suatu organisasi atau proyek atau suatu spekulasi bisnis. Keempat factor itulah yangn membentuk akronim SWOT (strengths, weanrssrs, opportunities, threats).
Menurut Rangkuti (dalam Marimin, 2004:58), analisis SWOT adalah suatu cara untuk mengidentifikasi berbagai factor secara sisitematis dalam rangka merumuskan strategi perusahaan Menurut Sarwono dan Hari (2007:18), SWOT dipergunakan untuk mengevaluasi suatu hal dengan tujuan meminimumkan resiko yang akan timbul, dengan mengoptimalkan segi positif yang mendukung serta meminimalkan segi negative yang akan menghambat keputusan perancangan yang diambil.
1. Strength
Untuk mengetahui kekuatan atau keunggulan jasa dan produk disbanding competitor. Dalam hal ini, bisa diartikan sebagai kondisi yang menguntungkan perusahaan tersebut.
Untuk mengetahui kelemahan jasa dan produk disbanding kompetitor. Dalam hal ini, kelemahan bisa diartikan sebagai suatu kondisi yang merugikan perusahaan.
3. Opportunity
Untuk mengetahui peluang pasar. Dalam hal ini diartikan sebagai suatu hal yang bisa menguntungkan jika dilakukan. Namun, jika tidak diambil bisa merugikan atau sebaliknya.
4. Threats
Untuk mengetahui apa yang menjadi ancaman terhadap jasa dan produk yang ditawarkan.
Penyusunan kesimpulam ini ditampung dalam Matriks Pakal yang terdiri dari :
a. Strategi PE-KU (S-O) atau Peluang dan Kelemahan : Mengembangkan peluang menjadi kekuatan.
b. Strategi PE-LEM (W-O) atau Peluang dan Kelemahan : Mengembangkan peluang untuk mengatasi kelemahan.
c. Strategi A-KU (S-T) atau Ancaman dan Kekuatan : Mengenali dan mengantisipasi ancaman untuk menambah kekuatan.
2.17 Unique Selling Proposition (USP)
Menurut Kotler (2005:76), Dalam posisi produk dibenak konsumen, perusahaan harus mengembangkan Unique Selling Proposition yang merupakan Competitive Advatage.
41 3.1 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian merupakan suatu tempat atau wilayah dimana penelitian tersebut akan dilakukan. Penelitian ini berlokasi di Kota Blitar Kec.Sananwetan Kab. Blitar
3.2 Jenis Penelitian
Ditinjau dari tempat pelaksanaan penelitian, penelitian ini tergolong penelitian studi survey. Karena meliputi tentang kondisi suatu daerah, latar belakangnya, dan kejadian apa yang terjadi disana. Menggunakan metode penelitian kualitatif. Peneliti mendeskripsikan atau memusatkan perhatian kepada masalah-masalah aktual yang sedang atau sudah terjadi dan data yang diinginkan apa adanya tanpa manipulasi, dengan mencari data-data yang dikumpulkan tentang sejarah, luas wilayah, dan data yang diperbarui.
3.3 Perancangan Penelitian
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Sumber data pada perancangan ini terdiri dari Data Primer dan Data Sekunder :
a. Data Primer
Data yang diterima oleh peneliti dari sumber-sumber tertentu yang mengetahui secara pasti tentang objek yang akan diteliti di lokasi penelitian. Informan untuk penelitian ini adalah pengelola Makam Bung Karno yaitu : Kantor Informasi Makam Bung Karno, Kepala Komplek Makam Bung Karno, Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kota Blitar.
1) Observasi
Observasi adalah kegiatan melakukan pengamatan secara terfokus, kemudian melakukan pencatatan dari data-data yang didapat dan kemudian menyempitkan data yang dibutuhkan. Sehingga ditemukan tema-tema guna perancangan (Sarwono dan Lubis, 2007).
2) Wawancara
Wawancara adalah cara menghimpun bahan keterangan yang dilakukan dengan tanya jawab secara lisan secara sepihak berhadapan muka, dan dengan arah serta tujuan yang telah ditetapkan (Anas Sudijono, 1996 : 82). Dengan wawancara akan didapat data secara jelas dan terperinci. Pada penelitian ini menggunakan wawancara tidak terstruktur, yaitu wawancara yang bebas di mana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Wawancara ditujukan kepada Humas dan bagian kesejahteraan sosial di Kota Blitar, Informasi pariwisata Makam Bung Karno di Blitar, dan mewawancarai Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda Dan Olah Raga Kota Blitar.
Wawancara ini dilakukan berulang-ulang pada informan yang sama dengan pertanyaan semakin terfokus pada suatu masalah untuk mengumpulkan data secara mendalam. Pelaksanaan wawancara ini antara lain, obyek wisata yang ada, faktor pendukung dan penghambat perkembangan obyek wisata beserta langkah yang sudah ditempuh maupun rencana kedepan untuk menangani berbagai hambatan tersebut, strategi perencanaan program wisata sekaligus strategi promosi yang akan digunakan.
b. Data Sekunder
berkaitan dengan perancangan media promosi, penelitian terdahulu, jurnal dan data yang didapatkan melalui internet :
1) Kepustakaan
Mengkaji informasi melalui buku, dan jurnal. Informasi yang didapat berupa data verbal dan visual yang kemudian di kaji dan diambil inti-intinya.
2) Dokumentasi
Metode pengumpulan data yang tidak langsung guna memberi gambaran dan menunjukkan tentang kondisi objek penelitian langsung. Data berupa foto, arsip, film mengenai Makam Bung Karno.
3) Internet
Pencarian informasi melalui media internet. Data yang dicari berupa artikel dan komentar seseorang mengenai Pariwisata Edukasi, dan Pariwisata di Makam Bung Karno.
3.5 Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan uraian sebab akibat yang menjadi alasan dalam perancangan komunikasi visualMakam Bung Karno. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif, dengan hasil data yang didapat dari hasil wawancara, dokumen dan hasil observasi :
a. Reduksi Data
data dilakukan dengan cara menyaring data yang dapat digunakan sebagai acuan, dan membung data yang tidak perlu.
b. Penyajian Data
Penyajian data adalah kegiatan ketika sekumpulan informasi disusun, gambaran dalam bentuk narasi lengkap sehingga memberi kemungkinan akan adanya penarikan kesimpulan. Bentuk penyajian data kualitatif berupa teks naratif (berbentuk catatan lapangan), matriks, grafik, jaringan dan bagan yang disusun menggunakan Bahasa yang mudah dipahami.
c. Penarikan Kesimpulan
46 4.1 Hasil dan Analisis data
Analisis data merupakan pencarian dan pengaturan data yang diperoleh
dari data lapangan, wawancara dan materi lain untuk memudahkan pemahaman
mengenai materi dalam membantu penyajian data yang ditemukan.
4.1.1 Obyek penelitian
Obyek penelitian ini membahas tentang sejarah Makam Bung Karno Kota
Blitar yang sekaligus menjadi pembahasan utama dalam pembuatan konsep dan
analisis yang dijadikan dasar perancangan karya.
Makam Bung Karno Kota Blitar merupakan makam Presiden pertama R.I
Bung Karno. Makam Bung Karno diresmikan oleh presiden kedua Republik
Indonesia Soeharto pada tanggal 21 Juni 1979. 4.1.2 Data Produk
Dalam upaya peningkatan dan mempromosikan, dibutuhkan peran media
yang dapat membantu meningkatkan citra Makam Bung Karno, dalam arti media
promosi harus efektif salah satunya yaitu logo dan media cetak lainnya. Menurut
4.1.3 Potensi Pasar
Logo sebuah istilah sejak awal dari bahasa Yunani logos sampai kini telah mengalami perkembangan pengertian yang signifikan, dari awal yang berarti kata, pikiran, pembicaraan, akal budi sampai berarti yang dikaitkan dengan symbol, citra dan semiotik (Safanayong 2009:7).
Teori logo merupakan Identitas suatu perusahaan merupakan cerminan dari visi, misi suatu perusahaan yang divisualisasikan dalam logo perusahaan. Logo merupakan suatu hal yang nyata sebagai pencerminan hal-hal yang bersifat non visual dari suatu perusahaan, misalnya budaya perilaku, sikap, kepribadian, yang dituangkan dalam bentuk visual (Suwardikun, 2000:7).
Dalam data penelitian ini, logo dan media promosi pendukung lainnya adalah berbasis sejarah dengan tujuan untuk menjadikan tempat tujuan wisata Kota Blitar. Sehingga khalayak masyarakat dapat memahami sebuah hal identitas dan media promosi pendukung dijelaskan dengan logo dan media promosi Makam Bung Karno.
4.2 Hasil Obervasi
Observasi merupakan cara untuk mengumpulkan data dengan pengamatan
langsung terhadap suatu obyek dan melakukan pencatatan secara sistematis
tentang hal-hal yang menjadi target pengamatan.
a. Berdasarkan hasil observasi setelah berkunjung ke Makam Bung Karno,
ditemukan data bahwa yang datang berkunjung ke Makam Bung Karno
dan mancanegara masih jarang yang datang berkunjung ke Makam Bung
Karno. Serta kurangnya media promosi yang bersifat outdoor untuk
menarik minat wisatawan secara luas.
b. Dilihat dari potensi yang ada maka didapat hasil pemilihan media utama
yaitu logo dan media promosi pendukung. Karena logo merupakan salah satu jenis identitas suatu tempat wisata atau perusahaan dalam bentuk visual yang diaplikasikan dalam berbagai sarana fasilitas dan kegiatan perusahaan sebagai bentuk komunikasi visual.
4.3 Hasil Wawancara
Wawancara merupakan metode tanya jawab kepada narasumber yang
digunakan untuk mengetahui informasi secara mendalam. Wawancara dilakukan
pada tanggal 26 Juni 2016 dengan Bapak Juni Purnomo selaku tour guide dan
bagian seketariat Makam Bung Karno Bapak Tarmudji dan Ibu Yeni dari
Disporbudar Kota Blitar berikut adalah rangkuman dari data hasil wawancara :
Makam Bung Karno merupakan makam Presiden R.I pertama. Bung
Karno di makamkan di Kota Blitar dan di resmikan pada tanggal 21 Juni 1979
oleh Presiden R.I kedua Bapak Soeharto. Letak Makam Bung karno terletak di
utara Kota Blitar, Jawa Timur. Tepatnya di Jalan Ir. Soekarno yang berada di
Bendogerit Kecamatan sananwetan. Bung Karno lahir di Surabaya, Jawa Timur, 6
Juni 1901 dan meninggal di Jakarta 21 Juni 1970 pada umur 69 tahun. Secara
resmi Bung Karno menjabat sebgaai Presiden R.I pada tanggal 18 Agustus 1945
makam Proklamator Indonesia yang bertemakan pendidikan karena disana
terdapat perpustakaan yang cukup besar. Makam Bung Karno terdiri dari tiga
tempat, pertama Musium Bung Karno, Makam Bung Karno dan Perpustakaan
Bung Karno. Jumlah kunjungan wisatawan baik wisatawan domestic maupun
wisatawan mancanegara ke kawasan wisata Makam dan perpustakaan Bung
Karno dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Berdasarkan jumlah
wisatawan pada tahun 2015 mencapai 890.966 wisatawan.
Besaran perkembangan jumlah kunjungan wisatawan dari tahun 2016 pada
bulan Januari hingga bulan Juni saja mencapai 372.120. Peningkatan jumlah
wisatawan cenderung fluktuatif atau tidak sama dari tahun ke tahun, namun
rata-rata peningkatan jumlah kunjungan wisata tiap tahunnya mencapai 89.210
wisatawan. Jumlah ini menunjukan daya tarik wisata kawasan Makam dan
Perpustakaan Bung Karno cukup positif. Jumlah kunjungan wisatawan apabila
dilihat dari jenis wisatawan juga menunjukan pola peningkatan, baik wisatawan
domestic maupun wisatawan mancaneara Jumlah tersebut jika dirinci lagi maka
diketahui bahwa kunjungan wisatawan paling tinggi terdapat pada akhir pecan,
yaitu hari sabtu dan minggu. Sedangkan dalam satu tahun, kunjungan per bulan
paling tinggi terjadi pada bulan juni, dimana pada bulan ini bertepatan dengan
HAUL Bung Karno sehingga terdapat banyak acara untuk mengenang jasa-jasa
beliau, (Dinas Kominparda Kota Blitar, 2011)
Dan diharapkan dengan logo dan media promosi ini akan memperoleh
pemerintah dan masyarakat sekitar dapat turun tangan demi menjaga kelestarian
sejarah Bung Karno.
4.4 Hasil Dokumentasi
Hasil dokumentasi yang diperoleh dari Makam Bung Karno Kota Blitar
berupa dokumentasi foto.
Hasil dari dokumentasi foto sebagai berikut :
Gambar 4.1 Bagian Luar Makam Bung karno
(Sumber : Hasil Olahan Peneliti, 2016)
Gambar 4.2 Bagian Dalam Makam Bung Karno
Gambar 4.3 Batu Peresmian Makam Bung Karno Kota Blitar
(Sumber : Hasil Olahan Peneliti, 2016)
4.5 Segmentasi, Targeting, Positioning (STP) 1. Segmentasi
Dalam perancangan komunikasi visual Makam Bung Karno, khalayak sasaran atau target yang dituju adalah :
a. Demografis
Usia : Anak-anak, Remaja dan Orang Tua (13 – 50 tahun).
Pelajar (SD, SMP, SMA, dan Mahasiswa). Jenis Kelamin : Pria dan Wanita.
Kelas Sosial : Semua kalangan. b. Geografis
c. Psikografis
Gaya Hidup : Mengacu pada masyarakat yang suka
berwisata religi, mengenang kembali sejarah.
Kepribadian : Masyarakat yang suka belajar, berjiwa nasionalisme.
2. Targeting
Target yang dituju dari logo dan media promosi Makam Bung Karno ini adalah seluruh masyarakat yang berusia 13 tahun sampai 50 tahun, khususnya masyarakat yang ingin mengenang tentang sejarah Makam Bung Karno di Blitar. 3. Positioning
4.6 Tabel Analisis SWOT (Makam Bung Karno)
Tabel 4.4 SWOT (Makam Bung Karno)
Sumber : Hasil Olahan Peneliti INTERNAL
EKSTERNAL
STRENGTH WEAKNESS
- Berada di lokasi yang sangat strategis. - Citra Bung karno yang
kuat dan melekat di hati masyarakat Indonesia melalui logo dan media promosi
Memberikan wawasan kepada masyarakat tentang sejarah Bung Karno dengan meningkatkan citra Makam Bung Karno di Blitar melalui logo sebagai identitas.
Memberikan wawasan serta menjelaskan tentang sejarah singkat Makam Bung Karno dengan logo dan media promosinya.
THREAT
- Kurangnya media promosi untuk meningkatkan jumlah wisatawan.
S-T W-T
Menumbuhkan kesadaran terhadap Bung Karno dengan mengenalkan Makam Bung Karno dengan melalui logo dan media promosi.
4.7 Keyword
4.8 Unique Selling Preposition (USP)
USP (Unique Selling Preposition) merupakan keunikan yang bersifat menjual (attractive), yang diperkirakan dapat membuat konsumen berpaling. Keunggulan dari Makam Bung Karno di Kota Blitar adalah terdapat di dalam komplek Makam Bung Karno menjadi satu, musium Bung Karno, dan perpustakaan Bung karno.
4.9 Deskripsi Konsep
Konsep untuk perancangan komunikasi visual Makam Bung Karno kota Blitar adalah “Superior”. Deskripsi dari “Superior” adalah menjelaskan kepada masyarakat bahwa Bung Karno merupakan salah tokoh pemersatu bangsa secara politis, kultural, dan ekonomi.
4.10 Alur Perancangan Karya
Gambar 4.5 Alur Perancangan Karya Sumber : Hasil Olahan Peneliti
4.11 Perancangan Kreatif 4.11.1 Tujuan Kreatif
Logo adalah merupakan sesuatu yang penting untuk mensosialisasikan dan mengundang daya tarik masyarakat terhadap Makam Bung Karno. Logo ini sebagai elemen utama dalam sebuah identitas yang dinilai mampu mengkomunikasikan potensi Makam Bung Karno dan mampu memposisikan dalam dunia wisata sejarah.
Dengan terbentuknya sebuah keyword, mampu memberikan dampak positif kepada masyarakat dengan visualisasi yang sesuai logo Makam Bung Karno Kota Blitar. Keyword yang digunakan adalah Unggul atau “Superior” merupakan hasil dari penggabungan antara wawancara, observasi, STP, dokumentasi, studi pustaka, dan studi eksisting yang telah melalui proses reduksi seingga terbentuknya sebuah konsep “Superior” sebagai dasar dalam perancangan logo Makam Bung Karno untuk mengenalkan dan menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap sejarah.
Konsep “Superior” memiliki tujuan kreatif visual yang akan diterapkan dengan gaya visual yang bertemakan sejarah Makam Bung Karno. Tujuan kreatif disetiap visual memiliki gaya penyampaian sejarah agar masyarakat tertarik serta paham dan berkunjung ke Makam Bung Karno Kota Blitar.
4.11.2 Strategi Kreatif
merupakan suatu hal yang penting dari sebuah logo agar dapat menunjukkan identitas dari Makam Bung Karno tersebut, sebagai salah satu obyek wisata sejarah di Kota Blitar dan menarik minat masyarakat akan keberadaan Makam Bung Karno. Maka digunakan konsep “Superior” yang akan dikemas menjadi logo menggunakan gaya desain yang bertemakan sejarah.
1. Tagline
Menurut Rustan (2009:70) Tagline merupakan salah satu atribut yang terdapat dalam system sebuah identitas, berupa satu kata atau lebih yang menggambarkan esensi, personality maupun positioning brand.
Dalam setiap aplikasi desain media yang akan digunakan dalam perancangan logo dan media pendukung lainnya akan membutuhkan Tagline yang akan dicantumkan ke dalam setiap pembuatan logo tersebut. Tagline yang dipilih untuk perancangan logoini adalah ”Historical Superior”. Konsep tagline dengan kalimat “Historical Superior” memiliki arti pilihan yang tepat untuk mengenang sejarah. Tagline yang terpilih akan mampu memberikan persepsi bahwa Makam Bung karno merupakan tempat wisata yang menarik dan mendidik untuk mengisi waktu liburan bersama teman maupun keluarga tercinta.
2. Tipografi
Kusrianto (2004:26) Sans Serif memiliki sifat streamline, fungsional, dan kontemporer.
Gambar 4.6 Tipografi ”Superhero” Sumber : Hasil Olahan Peneliti
Sedangkan untuk pemilihan tagline pada logo dipilih juga huruf berjenis sans serif yang ditunjukan pada gambar 4.8. Font yang dipilih adalah “Century Gothic”. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, font ini memiliji salah satu ciri huruf adalah memiliki bagian-bagian tubuh yang sama tebalnya.
Gambar 4.7 Tipografi ”Century Gothic” Sumber : Hasil Olahan Peneliti
3. Warna
Pemilihan warna yang digunakan logo dan di setiap media pendukung Makam Bung Karno adalah sesuai dengan konsep “Superior” yang digunakan pada perancangan ini. Oleh sebab itu, dengan menggunakan warna-warna yang
menunjukan kesan “Unggul atau pemimpin (Superior)”, maka penulis menggunakan karakter kepemimpinan, kekuatan dan keunggulan.
Kota Blitar yang dikenal juga dengan sebutan Koat Patria, Kota Lahar dan Kota Proklamator didirikan tanggal 1 April 1906. Kota Blitar, kota identik dengan warna merah. Bangunan, hiasan, gapura, serba merah. Warna merah ini sangat identik dengan warna partai Bung Karno. Warna merah diambil untuk mewakili ciri dari Makam Bung Karno. Warna merah memiliki makna kuat dan energy. (Rustan, 2013:73).
Sebagai tempat wisata sejarah , Makam Bung Karno merupakan salah satu wisata sejarah yang bertemakan pendidikan di karenakan terdapat museum Bung karno dan perpustakaan Bung Karno di satu komplek. Warna hitam diambil untuk mewakili ciri dari makam yang berasosiasi pada warna berkabung dan batu yang berasal dari Makam Bung Karno. Psikologi warna hitam yaitu, klasik, kekuatan, kematian, ketiadaan. (Rustan, 2013:73).
Sehingga warna yang digunakan untuk konsep perancangan logo dan media promosi lainnya dapat di dominasi warna merah hijau dan hitam.
Gambar 4.8 Warna Terpilih Sumber : Hasil Olahan Peneliti
4. Logo
Untuk menentukan visual logogram yang akan dirancang untuk mewakili karakter Makam Bung Karno dan kesesuaiannya dengan konsep, perlu dilakukan proses brainstorming terhadap aspek-aspek yang dikira sesau dan dapat mewakili karakteristik Makam Bung karno. Adapun aspek-aspek hasil dari braintroming yang mampu mewakili karakter Makam Bung karno dan sesuai konsep “Superior” antara lain : wibawa, mengenang, peka, tegas, tumbuh, asal usul, dan perjuangan. Berikut adalah proses pencarian bentuk serta garis yang akan dijadikan logogram.
Gambar 4.9 Pencarian Bentuk Sumber : Hasil Olahan Peneliti
dapat di ambil dari daun sukun yang dimana filosofi tanaman sukun di dapat dari waktu Bung Karno merancang pancasila. Daun-daun yang berjumlah lima pada tiap sisi kanan dan kiri melambangkan dari lima pancasila.
Dan di kisahkan Soekarno “Suatu kekuatan gaib menyeretku ke tempat itu hari demi hari, di sana, dengan pemandangan laut lepas tiada yang menghalang, dengan langit biru yang taka da batasnya dan mega putih yang menggelembung, disanalah aku duduk termenung berjam-jam. Aku memandangi samudera bergejolak dengan hempasan gelombangnya yang memukuli pantai dengan pukulan berirama”. (Sabrina Asril, Bung Karno dan Pancasila).
Gambar 4.10 Pencarian Bentuk
Sumber : http://manfaat.co.id/manfaat-daun-sukun-kering
Gambar 4.10 Alternatif skestsa Logogram Sumber : Hasil Olahan Peneliti
Gambar 4.11 Logogram Terpilih Sumber : Hasil Olahan Peneliti
Pada tahap selanjutnya akan dilakukan pemilihan logotype dan penempatannya. Logotype berfungsi untuk menjelaskan logogram. Pemilihan jenis font pada logotype ini menggunakan font san serif dengan jenis font “Superhero”. Sedangkan penempatan dilakukan untuk mengetahui komposisi yang sesuai untuk penerapan logo Makam Bung Karno dengan mempertimbangkan prinsip desain yaitu kesatuan (unity), keseimbangan (balance), irama (ritme), dan proposi dengan baik.
Gambar 4.12 Alternatif Komposisi Logo Sumber : Hasil Olahan Peneliti
Gambar 413 Logotype Terpilih Sumber : Hasil Olahan Peneliti 4.12. Perancangan Media
4.12.1 Tujuan Media
yang dituju. Target audiens Makam Bung karno yang dituju seseorang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, memilki rentang usia 13-50 tahun, memiliki semua tingkatan ekonomi, atas, menengah, dan bawah. Berstatus pendidikan SD sampai Perguruan Tinggi. Memiliki psikografis yang tertarik dengan wisata sejarah.
4.12.2 Strategi Media
Strategi dalam penggunaan dan pemilihan media penting dilakukan. Didalam strategi media ditetapkan pemilihan media yang akan digunakan untuk Makam Bung karno, berupa media cetak. Pemilihan media disesuaikan dengan target pasar yang dituju, sehingga didapatkan efektivitas komunikasi terhadap apa yang ingin disampaikan di dalam Makam Bung Karno. Promosi yang dilakukan secara mix media dengan menggunakan beberapa media yaitu, billboard, poster, x-banner, dan merchandise. Berikut alternatif desain dan penjelasan media yang digunakan:
a. Billboard
1) Alasan Pemilihan Media
berulang bagi pengguna jalan yang melewatinya di lokasi-lokasi strategis seperti perempatan jalan raya.
2) Penempatan Media
Media billboard ini nantinya akan ditempatkan di Jalan Tanjung, Kota Blitar. Karena letaknya yang strategis dan merupakan jalan utama keluar masuk Kota Blitar dari Kediri dan Tulungagung. Selain itu, merupakan rute jalan jika ingin menuju ke pusat Kota Blitar. Peletakan ini juga mempertimbangkan exposure pesan yang disampaikan kepada khalayak yang melewati jalan utama tersebut.
3) Konsep Desain
4) Alternatif Sketsa
Gambar 4.14 Alternantif Sketsa Sumber : Hasil Olahan Peneliti b. Poster
1) Alasan Pemilihan Media
Alasan pemilihan media ini bertujuan untuk memperkenalkan Makam Bung Karno sebagai tempat wisata sejarah yang menarik dan memberikan penjelasan sekilas tentang Makam Bung Karno.
2) Penempatan Media
Poster akan diletakkan di sekolah-sekolah, tempat umum seperti statiun, bandara, terminal, biro perjalanan dan tempat-tempat wisata yang ada di Kota Blitar
Untuk konsep yang digunakan pada poster ini menggunakan konsep yang
telah ditentukan sebelumnya yaitu “Superior” dengan penggunaan ilustrasi foto dan penambahan elemen estetis untuk menarik perhatian audien agar mau membaca informasi yang ada di dalam poster. Selain itu terdapat logo dan tagline sebagai pesan utama dari poster Makam Bung Karno.
4) Alternatif Sketsa
Gambar 4.15 Alternatif Sketsa Sumber : Hasil Olahan Peneliti
c. X-Banner
1) Alasan Pemilihan Media
2) Penempatan Media
X-Banner diletakkan di bagian atau tempat-tempat yang strategis di dalam Makam Bung Karno seperti di dekat pintu masuk, di ruang informasi atau seketariat dan di toko sauvenir serta dapat diletakkan ketika mengikuti pameran-pameran.
3) Konsep Desain
Konsep yang diterapkan pada X-banner sama seperti konsep pada poster yaitu dengan ilustrasi foto dan elemen grafis dengan tetap menonjolkan karakteristik dari Makam Bung Karno melaui logo dan taglinenya. Selain itu juga terdapat informasi tentang Makam Bung Karno dan kegiatan yang sedang dilakukan.
4) Alternatif Sketsa
d. Marchendise
1) Alasan Pemilihan Media
Alasan pemilihan media ini karena marchendise merupakan salah satu media yang sangat efektif yang dapat menjadi cinderamata sebagai pengingat dan kenang-kenangan wisatawan setelah berkunjung ke Makam Bung Karno. Selain itu, dapat juga sebagai hadiah ucapan terima kasih karena telah meluangkan waktunya untuk datang dan mengenang Bung Karno. Beberapa jenis marchendise yang akan dibuat berupa: Botol minuman, mug, notebook, , dan pin.
2) Penempatan Media
Untuk penempatan marchendise ini nantinya dapat ditempatkan di pusat
oleh-oleh yang ada di Makam Bung Karno. Selain itu dapat disebarkan melalui even-even yang diikuti untuk mempromosikan Makam Bung Karno.
3) Konsep Desain
4) Alternatif Sketsa
Gambar 4.17 Alternatif Sketsa Sumber : Hasil Olahan Peneliti 4.13 Estimasi Biaya Media
No. Jenis
Harga Estimasi Biaya Jasa
1 Billboard 3m x
50 Rp.3.000 Rp.150.000 Rp.500.000
3 X Banner 160x
60cm
2 Rp.60.000 Rp.120.000 Rp.150.000
4 Mug - 50 Rp.25.000 Rp.1.250.000 Rp.200.000
5 Blocknote A5 500 Rp.4.000 Rp.2.000.000 Rp.500.000
6 Pin - 50 Rp.1.000 Rp.50.000 -
7 Botol 1 Rp. 45.000 Rp. 45.000 -
Gambar 4.18 Tabel Estimasi Biaya
4.5 Implementasi Desain
Implementasi desain membahas mengenai proses produksi dan
implementasi media promosi Pulau Mengare sesuai dengan konsep yang telah
didapatkan yaitu “Superior”. Dimana desain yang dibuat yaitu desain yang
simple namun terlihat unggul dan memimpin.
a. Logo
Sketsa alternative logogram yang terpilih di atas, dipilih melalui proses wawancara dengan Ibu Yani sebagai yang mewakili Disporbudar Kota Blitar, kemudian dipilih satu logogram berdasarkan kriteria logo yang baik. Berikut logograme terpilih:
Gambar 4.19 Logo terpilih Sumber : Hasil Olahan Peneliti
Bicara logo pasti ada ketentuan yang biasa disebut GSM (Graphic
Standard Manual). Graphic Standard Manual adalah ketentuan logo yang sudah
ditetapkan untuk diberlakukan kepada keseluruhan penggunaan logo. Terdiri dari
Logo Grid, Signature Elements, Symbol and Graphic, Minimum Size with
Brandline, Primary Signature without Brandline, Minimum Clear Space, Colour
Guide – Full Colour Versions, Colour Guide – Single Colour Versions,
Background Colours – Preferred Colours, Background Colours – Signature
Colours, Background Colours – Full Colour Signature, Background Colours –
Single Colour Signature (Blue), Incorrect Usage, Colour Palette, Typeface,
Logotype & Brandline, Logotype & Brandline Colours
1) Logo Grid
Pada gambar 4.26 adalah Logo Grid dari Makam Bung Karno, dimana
Logo Grid merupakan suatu ketentuan berdasarkan ukuran agar dapat terbaca dengan baik saat diaplikasikan pada media lainnya. Selain itu logo grid digunakan untuk mengetahui skala ukuran logo dalam centimeter. Logo grid Makam Bung Karno memiliki ukuran 20cm x 24cm, yang masing-masing sisi memiliki ukuran grid yaitu 2 cm.
2) Signature Elements
3) Symbol and Graphic
Gambar 4.22 Symbol & Graphic Sumber : Hasil Olahan Peneliti
4) Minimum Size with Brandline
5) Primary Signature without Brandline
Gambar 4.24 Primary Signature without Brandline
Sumber : Hasil Olahan Peneliti
6) Minimum Clear
Gambar 4.25 Minimum Clear Space
7) Colour Guide – Full Colour Versions
Gambar 4.26 Full Colour Versions
Sumber : Hasil Olahan Peneliti
8) Colour Guide – Single Colour Versions
Gambar 4.27 Single Colour Versions
9) Background Colours – Preferred Colours
Gambar 4.28 Preferred Colours
Sumber : Hasil Olahan Peneliti 10) Background Colours – Signature Colours
Gambar 4.29 Signature Colours
11) Background Colours – Full Colour Signature
Gambar 4.30 Full Colour Signature
SketsaSumber : Hasil Olahan Peneliti
Gambar 4.31 Single Colour Signature
Sumber : Hasil Olahan Peneliti
Gambar 4.32 Incorrect Usage
Sumber : Hasil Olahan Peneliti
Gambar 4.33 Colour Palette
Sumber : Hasil Olahan Peneliti
Gambar 4.34 Typeface
Sumber : Hasil Olahan Peneliti 16) Logotype & Brandline
Gambar 4.35 Logotype & Brandline
Sumber : Hasil Olahan Peneliti
Gambar 4.36 Logotype & Brandline Colours
Sumber : Hasil Olahan Peneliti
a. Billboard
Pada media Billboard ditampilkan foto landscape Makam Bung Karno
dengan halaman Makam Bung karno. Diatas terdapat Tagline untuk
mengajak wisatawan dengan bahasa persuasif. Pada bagian atas kanan
terdapat Logo Makam Bung Karno sendiri. Billboard ini dirancangan dengan
perbandingan 1:100 dan bila diperbesar atau diperkecil perubahan desain
dilakukan di keseluruhan elemen desain yang ada. Billboard ini dapat di
gunakan di jalan Tanjung dan jalan Soekarno yang dimana letak dari
billboard itu dapat dilihat dari orang melintasi antar kota maupun Blitar dan
Gambar 4.37 Billboard
Sumber : Hasil Olahan Peneliti
Selain mempromosikan wisata Sejarah, wisatawan juga diajak untuk
mengenang di Makam Bung Karno. Diharapkan akan tertarik ketika melihat
Billboard ini, sehingga akan ikut melestarikan dan menjaga warisan sejarah
yang ada.
b. Poster
Pada gambar 4.38 Desain Poster sama dengan Billboard yang menggunakan
Fotografi, dengan menggunakan warna yang tetap mengacu pada konsep.