HUBUNGAN ANTARA TINGKAT STRES DENGAN INTENSI MEROKOK PADA REMAJA

20 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Saat ini banyak media massa seperti televisi, radio, surat kabar dan lain -lain yang mengangkat berita tentang perilaku-perilaku individu yang bisa berdampak negatif bagi perkembangan anak-anak, terutama pada remaja. Remaja saat ini sangat mudah terpengaruh dengan berbagai macam produk iklan yang menawarkan berbagai macam kenikmatan bagi konsumen terutama bagi para remaja, misalnya iklan rokok yang menawarkan berbagai macam sensasi rasa dan kenikmatan baru yang terkandung di dalam rokok tersebut.

Merokok juga merupakan aktivitas utama yang dilakukan para remaja saat ini untuk sekedar coba-coba atau berkumpul dengan teman-teman sebayanya. Karena pada masa remaja terjadi perubahan yang besar diantaranya kebutuhan untuk beradaptasi dengan perubahan fisik dan psikologis. Sehingga remaja akan sangat mudah terpengaruh dengan lingkungan di sekitarnya.

Perilaku merokok pada remaja saat ini sudah pada titik yang sangat mengkhawatirkan dan dilihat dari berbagai macam sudut pandang sangat merugikan, baik untuk individu maupun orang di sekelilingnya. Para remaja juga seakan tidak peduli dengan efek penyakit yang ditimbulkan dari bahaya rokok yang bisa merusak organ-organ vital manusia seperti kerusakan pada paru-paru, jantung, bronchitis kronis, penyempitan pembuluh darah dan lain -lain.

Menurut Laventhal & Cleary (dalam Hasnida & Kemala, 2005) perilaku merokok pada remaja umumnya semakin lama akan semakin meningkat sesuai dengan tahap perkembangannya yang di tandai dengan meningkatnya intensitas merokok, dan sering mengakibatkan mereka mengalami ketergantungan nikotin.

(2)

2

meningkat ketika remaja mulai beranjak dewasa dan akan menimbulkan efek ketergantungan.

Kandungan yang terdapat dalam rokok sangat membahayakan dan efek ketergantungan pada tubuh kita. Peran nicotine dalam 1 batang rokok bisa menimbulkan berbagai macam penyakit dalam tubuh kita. Selain itu konsumsi rokok dan tembakau merupakan salah satu faktor risiko utama terjadinya penyakit tidak menular seperti kardiovaskuler, stroke, penyakit paru obstruktif kronik, dan kanker mulut. penyakit-penyakit tersebut saat ini merupakan penyebab kematian utama di dunia, termasuk di Indonesia.

Menurut beberapa penelitian terdahulu salah satunya adalah Komalasari dan Helmi (2000) yang meneliti tentang faktor-faktor penyebab perilaku merokok, menguraikan tentang efek jangka panjang dari merokok antara lain meningkatnya tekanan darah dan detak jantung bertambah cepat. Menstimulasi kanker dan berbagai penyakit yang lain seperti penyempitan pembuluh darah, tekanan darah tinggi, jantung, paru-paru dan bronchitis kronis. Disisi lain saat pertama kali mengkonsumsi rokok, gejala -gejala yang mungkin terjadi adalah batuk-batuk, lidah terasa getir, dan perut mual. Namun demikian, sebagian dari para pemula tersebut mengabaikan perasaan tersebut, biasanya berlanjut menjadi kebiasaan, dan akhirnya menjadi ketergantungan.

Ketergantungan ini dipersepsikan sebagai kenikmatan yang memberikan kepuasan secara psikologis. Gejala ini disebut dengan ketergantungan rokok (Tobacco Dependence). Aktivitas merokok yang bisa menimbulkan efek menyenangkan bagi perokok tetapi lambat laun efek rokok akan cenderung bersifat obsesif. Hal ini disebabkan oleh zat nicotine yang terkandung dalam rokok yang bersifat adiktif, jika dihentikan secara tiba-tiba akan menimbulkan stress.

(3)

3

Data WHO mempertegas bahwa jumlah bahwa jumlah perokok yang ada di dunia sebanyak 30% adalah kaum remaja. Bahkan menurut data pada tahun 2000 yang dikeluarkan oleh Global Youth Tobacco Survey (GYTS) dari 2074 res ponden pelajar Indonesia usia 15-20 tahun, 43,9% (63% pria) mengaku pernah merokok. (Hasnida & Kemala, 2005).

Sedangkan di Negara-negara industri, merokok merupakan penyebab utama kematian sebelum waktunya yang tidak dapat dicegah. Sebagian besar perokok mulai merokok pada usia belasan tahun dan mayoritas remaja perokok merokok di usia pertengahan. Diperkirakan perokok ringan bisa dua kali lipat terkena resiko kematian sebelum umur 65 tahun dan asap rokok juga bisa membunuh setengah dari perokok secara terus-menerus ( Jefferis, Graham, Manor, & Power, 2003).

Merokok biasanya mulai dilakukan selama masa kanak-kanak dan masa remaja. Pada penelitian lainnya, jumlah remaja yang mulai merokok meningkat tajam setelah usia 10 tahun dan mencapai puncaknya pada usia 13 sampai 14 tahun. Siswa yang mulai merokok pada usia 12 tahun atau lebih muda, lebih cenderung menjadi perokok berat dan merokok secara teratur daripada siswa yang mulai merokok pada usia yang lebih tua. ( Santrock, 2003).

Pada awalnya remaja merokok hanya karena coba -coba dan dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Faktor yang biasanya datang dari remaja itu sendiri yaitu dapat diartikan sebagai kepribadian remaja. Di dalam masa perkembangannya remaja cenderung mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri, sehingga remaja akan mengalami kebimbangan dan merasa bahwa salah satu kebutuhan dari mereka tidak dapat terpenuhi. Faktor yang lainnya muncul dari lingkungan keluarga, teman sebaya dan lingkungan sosial. Perilaku merokok pada orang tua akan memberikan pengaruh penting terhadap perilaku merokok pada remaja. Remaja akan meniru perilaku dari orang tua ataupun saudara yang merokok. Pengaruh teman sebaya juga merupakan faktor penting dalam perilaku merokok pada remaja.

(4)

4

daripada norma-norma orang dewasa atau penguasa lembaga bila memang ingin diidentifikasikan dengan kelompok sebaya dan tidak mau lagi dianggap anak-anak melainkan hampir dewasa.

Sedangkan menurut Santrock (2003) merokok sudah dicoba oleh 45% siswa kelas 2 SMP, dimana 15% diantaranya (dengan usia rata-rata sekitar 13 tahun) merokok dalam 30 hari terakhir.

Kebanyakan remaja menjadi pecandu rokok semenjak usia 13 tahun. Alasan para remaja merokok adalah sebagai cara untuk menghadapi stres. Hal ini dapat mempengaruhi perkembangan kemampua n mereka dalam menghadapi stres dan dalam mengambil keputusan yang bertanggung jawab.

Para peneliti menemukan bahwa penggunaan zat terlarang terutama rokok pada masa remaja awal memiliki efek jangka panjang yang lebih merusak terhadap perkembangan tingkah laku yang bertanggung jawab dan kompeten, dibandingkan penggunaan zat terlarang pada masa remaja akhir (Newcomb & Bentler, dalam Santrock, 2003).

Survey WHO juga menemukan lima juta orang meninggal setiap tahun karena penyakit degeneratif akibat rokok, seperti kangker paru dan jantung koroner, di Indonesia sendiri, survei demografi Universitas Indonesia mencatat 427.948 orang meninggal setiap tahun akibat penyakit yang dipicu konsumsi rokok. Problem kesehatan ini nantinya akan juga akan terjadi pada anak Indonesia korban perokok pasif. Besarnya angka itu tak lepas dari tingginya konsumsi rokok di republik ini. dalam daftar negara konsumen rokok terbesar 2002, indonesia berada pada posisi kelima dunia dengan konsumsi 208 miliar batang per tahun. indonesia hanya kalah dari negara-negara kaya seperti tiongkok yang melahap 1.634 triliun batang, amerika dengan 451 miliar batang, jepang dengan 328 miliar batang, dan rusia 258 miliar batang.

Sementara itu, dari data WHO jumlah perokok didunia ada sebanyak 1,1 miliar orang, dan 4 juta orang diantaranya meninggal setiap tahun. (Soamole, 2004).

(5)

5

Penyesuaian ke masa dewasa seringkali menimbulkan stres tersendiri pada remaja. Seperti kita ketahui bahwa individu yang berada pada masa remaja yang berkisar antara 13-20 tahun akan mengalami perubahan hidup yang sangat sulit seperti juga pada dewasa madya, karena pada remaja, individu berada dalam masa transisi.

Stres merupakan bagian yang tak terhindarkan dari kehidupan. Setiap individu akan mengalami stres, terutama remaja. Kebanyakan stres di usia remaja berkaitan dengan masa pertumbuhan. Remaja khawatir akan tuntutan dari keluarga maupun dari lingkungannya sendiri. Sulit untuk beradaptasi dan selalu berusaha mencari identitas diri membuat remaja mengalami permasalahan yang sulit untuk dipecahkan. Sebenarnya remaja bisa membicarakan masalah mereka dan mengembangkan ketrampilan menyelesaikan masalah tetapi karena pergolakan emosional dan ketidakyakinan remaja dalam membuat keputusan penting, membuat remaja perlu mendapat arahan dari orang dewasa sehingga tidak lari ke hal-hal yang bersifat negatif.

Ketika remaja menggunakan rokok untuk menghadapi stres, remaja seringkali kehilangan keyakinan atau kepercayaan diri sehingga timbul niat untuk melakukan sesuatu yang bisa membangkitkan rasa ketidakpercayaan terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungannya dengan cara merokok. Mungkin beberapa orang akan dapat meredakan dengan cara yang tepat, tetapi tidak jarang ada yang memilih cara yang kurang tepat, seperti merokok, minum alkohol berlebihan, dan menggunakan narkoba secara bebas (termasuk obat tidur dan penenang yang diberikan oleh dokter, yang tidak digunakan berdasarkan aturan pemakaian).

(6)

6

Ketika remaja mengalami stres, maka remaja tersebut akan kehilangan keseimbangan mental, sehingga mereka membutuhkan sesuatu untuk meredakan dan menstabilkan mentalnya. Berbagai macam cara digunakan untuk meredakan stres salah satunya dengan merokok, tetapi tidak jarang juga mereka memilih cara yang tepat, seperti jalan-jalan, menonton film, dan membaca buku. Alasan utama seseorang tetap merokok adalah untuk meredakan stres, tetapi ada alasan-alasan lain mengapa remaja sekarang sudah sangat familiar dengan rokok.oleh karena itu pada penelitian ini, peneliti ingin mengetahui apakah ada hubungan antara tingkat stres dengan intensi merokok pada remaja.

(7)

7

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan permasalahannya yaitu apakah ada hubungan antara tingkat stres dengan intensi merokok pada remaja?

B . Tujuan Penelitian

Ingin mengetahui apakah ada hubungan antara tingkat stres dengan intensi merokok pada remaja.

C. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Bagi pengembangan ilmu diharapkan dapat menjadi tambahan untuk mengembangkan ilmu psikologi, khususnya psikologi perkembangan dan pendidikan.

2. Manfaat Praktis

a. Diharapkan dari hasil penelitian ini dapat memberikan informasi baru pada orang tua, guru, dan remaja tentang gambaran dan efek perilaku merokok ditinjau dari tingkat stress.

(8)

i

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT STRES DENGAN INTENSI

MEROKOK PADA REMAJA

SKRIPSI

Diajukan kepada Universitas Muhammadiyah Malang sebagai salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Psikologi

Oleh :

RETNO AYU WULANDARI

06810180

FAKULTAS PSIKOLOGI

(9)
(10)
(11)
(12)

v

KATA PENGANTAR

Assalammualaikum Wr. Wb

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan

Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul

“Hubungan Antara Tingkat Stres Dengan Intensi Merokok Pada Remaja”, sebagai salah

satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana psikologi di Universitas Muhammadiyah

Malang.

Dalam proses penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan

dan petunjuk serta bantuan yang bermanfaat dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam

kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya

kepada:

1. Drs. Tulus Winarsunu, M,Si selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang.

2. Dr. Latipun, M.Kes dan Nimatuzahroh, S.Psi. M.Si selaku pembimbing I dan pembimbing II yang telah banyak meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan dan arahan yang sangat berguna, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

3. Diana Savitri Hidayati, S.Psi. M.Si selaku dosen wali, Ayah dan Mama, kakak-kakakku (Mbak Uluk, Mbak Iwung, Mas Agung) dan untuk keluarga Bapak Sofyan dan keluarga Bapak Didik, tiada kata yang dapat penulis ungkapkan selain ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya atas dukungan, do’a dan kasih sayang sehingga penulis memiliki motivasi dalam menyelesaikan skripsi ini

4. Untuk Bapak Kepala Sekolah, TU, Siswa SMPN 2 Tanjunganom Nganjuk,

terima kasih telah diberikan izin untuk penelitian dan kesediannya dalam penelitian.

(13)

vi

6. Buat sahabat-sahabatku Tika, Dani, Wika, Ulfa, Nissa dan Anung serta buat Abiku, terima kasih atas motivasi, perhatian, do’a dan dengan sangat sabar memberikan semangat kepada penulis.

7. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu, yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini penulis ucapkan terima kasih banyak.

Semoga Allah SWT berkenan memberikan balasan yang berlipat ganda atas segala bantuan yang telah di berikan kepada penulis dan penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan karena keterbatasan pada diri penulis, maka dengan segala kerendahan hati penulis menerima saran dan kritik yang bersifat konstruktif demi kesempurnaan skripsi ini. Akhirnya penulis berharap skripsi ini bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan pada pembaca pada umumnya.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Malang, 4 Februari2012 Penulis

(14)

vii

2. Faktor-faktor penyebab stres ... 9

3. Gejala- gejala stres ... 11

4. Dampak stres pada individu ... 12

5. Cara mengatasi stres ... 14

B. Merokok ... 14

1. Pengertian merokok ... 14

2. Faktor yang mempengaruhi perilaku merokok ... 15

3. Tipe perokok ... 17

3. Tahap-tahap perkembangan remaja ... 23

4. Perilaku merokok pada remaja ... 24

D. Intensi ... 28

(15)

viii

1. Pengertian intensi ... 28

E. Hubungan Antara tingkat stres Dengan Prestasi Belajar Pada Anak Tuna Daksa ... 29

F . Hipotesis ... 31

G. Kerangka Pemikiran... 31

BAB III METODE PENELITIAN A. Rancangan Penelitian ... 32

B. Variabel Penelitian ... 32

C. Definisi Operasional ... 33

D. Populasi dan Sampel Penelitian... 34

E. Jenis Data dan Metode Pengumpulan Data ... 35

1. Jenis data ... 35

2. Instrumen penelitian... 35

F. Prosedur Penelitian... 37

1. Tahap persiapan... 37

2. Tahap pelaksanaan ... 37

3. Tahap analisa data ... 37

G. Validitas dan Reliabilitas ... 38

1. Validitas... 38

2. Reliabilitas ... 41

H. Metode Analisis Data ... 42

BAB IV HASIL PENELITAN A. Deskripsi Data ... 45

1. Deskripsi subyek penelitian ... 45

2. Deskripsi hasil penelitian ... 45

(16)

ix

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Skor untuk jawaban pernyataan pada Skala Likert ... 35

Tabel 3.2 Validitas Skala Tingkat Stres ... 40

Tabel 3.3 Validitas Skala Intensi Merokok ... 40

Tabel 3.4 Reliabilitas Skala Tingkat Stres dan Intensi Merokok... 42

Tabel 3.5 Rancangan Analisis Data ... 44

Tabel 4.6 Karakteristik Subyek Penelitian ... 45

Tabel 4.7 Analisis Korelasi Product Moment Antara Tingkat Stres Dengan Intensi Merokok... 46

(17)

x

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I : Persuratan

Lampiran II : Skala Tingkat Stres dan Skala Intensi Merokok

Lampiran III : Hasil Try Out Skala Tingkat Stres

Lampiran IV : Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Skala Tingkat Stres

Lampiran V : Hasil Try Out Skala Intensi Merokok

Lampiran VI : Hasil Uji Valid itas dan Reliabilitas Skala Intensi Merokok

Lampiran VII : Hasil Analisis Data Uji Product Moment

(18)

xi

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. (2006). Prosedur penelitian suatu pendekatan praktik (Ed. Revisi). Jakarta: PT Rineka Cipta.

Atkinson, L. R., Atkinson, C. R., Smith, E. E., & Bem, J. D. (t.t.). Pengantar psikologi. (Terj. S. Lyndon).Interaksara .

Azwar, S. (1999). Penyusunan skala psikologi. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.

Azwar, S. (1995). Sikap manusia teori dan pengukurannya. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.

Azwar, S. (1999). Dasar-dasar psikometri. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.

Azwar, S.(1997). Reliabilitas dan validitas. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.

Davison, G. C., Neale, J. M., & Kring, A. M. (2006). Psikologi abnormal. (Terj. F. Normalasari). Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Dayakisni, T., & Hudaniah. (2006). Psikologi sosial. Malang: UMM Press.

Gandara, S., Yamin, A., & Taryono, Y. (2007). Hubungan antara tingkat stress, dukungan keluarga, dukungan teman dan dukungan iklan dengan perilaku remaja terhadap rokok. Penelitian praktisi klinis perawat Intensif Care. Abstrak diakses 19 Desember 2010 dari http://www.google.com.

Hasnida & Kemala, I. (2005). Hubungan antara stres dan perilaku merokokpada remaja laki-laki. Psikologia, 1(2):105-111.

(19)

xii

Jefferis, B., Graham, H., Manor, O., & Power, C. (2003). Cigarette consumption and socio-economic circumstances in adolescence as predictors of adult smoking. Addiction, 98, 1765-1772.

Komalasari, D., & Helmi, A. F. (2000). Faktor-faktorpenyebab perilaku merokok pada remaja. Jurnal Psikologi, 28:37-47.

Latipun. (2004). Psikologi eksperimen. Malang: UMM Press.

Mappiare, A. (1982). Psikologi remaja. Surabaya: Usaha Nasional.

Mu’tadin, Z. (2002). Remaja dan rokok (online). Diakses 11 Desember 2011 dari http://www.google.com.///G:/remaja%20dan%20rokok.htm.

Nasution, K. I. (2007). Stres pada remaja. (Skripsi, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Medan).

Nevid, J., Rathus, S. A., & Greene, B. (2003). Psikologiabnormal. (Terj. M. Ratri). Jakarta: Erlangga.

Noi, S. T., & Smith, J. P. (1994). Managing stress. (Terj. P. Dean). Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti.

Partodiharjo, S. (2003). Kenali narkoba dan musuhipenyalahgunaannya. Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama.

Papalia, D. E, Olds, S. W., & Feldman, R. D. (2009). Human development. (Terj. M. Brian). Jakarta: Salemba Humanika.

(20)

xiii

Ratnasari, N. (2004). Hubungan antara sense of humor dengan tingkat stres mahasiswa ditinjau dari perbedaan jenis kelamin. (Skripsi, Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur).

Santrock. J.W. (2003). Perkembangan Remaja. (Terj. C. Wisnu). Jakarta: Erlangga.

Soamole, I. (2004). Hubungan antara sikap terhadap merokok dengan kebiasaan merokok pada remaja. (Skripsi, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang, Jawa Timur).

The Word Bank. Okt (2000). Curbing the epidemic: Governments and the

economicsof tobacco control. Alih bahasa: Sri Moertiningsih Adioetomo. Indonesia.

Winarsunu, T. (2006). Statistik dalam penelitian psikologi danpend idikan. Malang: UMM Press.

Wade, C., & Tavris, C. (2007). Psikologi. (Terj. W. Resty). Jakarta: Erlangga. Yatim, I , Danny., & Irwanto. (1986). Kepribadian, keluarga, dan narkotika.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...