FISIOLOGI TUMBUHAN PEMATAHAN DORMANSI BIJI
Oleh :
Ayu Widiarti
140210103018
Kelompok 6
Kelas A
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS JEMBER
I. Judul
Pematahan Dormansi Biji II. Tujuan
Untuk mengetahui pengaruh cara pematahan dormansi pada biji berkulit keras dengan fisik dan kimiawi.
III. Tinjauan Pustaka
Asam jawa (Tamarindus indica) merupakan tanaman tropis penghasil buah yang termasuk da-lam famili Caesalpiniaceae. Asam jawa juga dikategorikan pohon multiguna karena hampir seluruh bagian pohonnya dapat dimanfaatkan. Kayu asam jawa dapat digunakan sebagai ba-han mebel, kayu bakar dan arang. Buah asam jawa dapat dikonsumsi dan digunakan sebagai bumbu masak. Kandungan vitamin B yang terdapat dalam daging buah, sangat baik untuk ke-sehatan (Departemen Kehutanan, 2002). Biji asam jawa juga dapat digunakan sebagai koa-gulan alami dalam perbaikan kualitas air tanah, khususnya untuk menurunkan angka total koliform pada air tanah (Hendrawati dkk., 2013). Selain itu, akar pohon asam jawa yang da-lam, membuat jenis ini sangat tahan terhadap badai dan cocok sebagai pemecah angin (wind breaker) (Departemen Kehutanan, 2002). Asam jawa juga dikenal masyarakat sebagai pohon rindang dan ditemukan hampir di seluruh wilayah Indonesia, sehingga di berbagai daerah sa-ngat cocok digunakan sebagai pohon pelindung (Sundari dan Winarno, 2010).
Sebelum berubah menjadi tumbuhan baru, biji harus mengalami fase yang berupa suatu proses perkecambahan. Perkecambahan adalah permulaan aktif dar embrio yang menghasilkan pecahnya kulit biji dan mundulnya tumbuhan tanamanan yang mampu mencukupi kebuthan nutrisinya sendiri (Tim dosen, 2016).
pertumbuhan pada saat musim panas sebelumnya.
Dormansi benih menunjukkan suatu keadaan dimana benih-benih sehat (viable) gagal berkecambah ketika berada dalam kondisi yang secara normal baik untuk berkecambah, seperti kelembaban yang cukup, suhu dan cahaya yang sesuai. Dormansi dapat terjadi selama proses pengelolaan, sehingga benih tidak dapat berkecambah walaupun dalam lingkungan yang baik untuk perkecambahan. Beberapa perlakuan dapat diberikan pada benih, sehingga tingkat dormansinya dapat diturunkan dan presentase kecambahnya tetap tinggi. Perlakuan tersebut dapat ditujukan pada kulit benih, embrio maupun endosperm benih dengan maksud untuk menghilangkan faktor penghambat perkecambahan dan mengaktifkan kembali sel-sel benih yang dorman. Dormansi benih dapat dibedakan atas beberapa tipe dan kadang-kadang satu jenis benih memiliki lebih dari satu tipe dormansi. Willan (1985) membedakan dormansi ke dalam dormansi embrio, dormansi kulit benih dan dormansi kombinasi keduanya. Dormansi dapat dipatahkan dengan perlakuan pendahuluan untuk mengaktifkan kembali benih yang dorman. Ada berbagai cara perlakuan pendahuluan yang dapat diklasifikasikan yaitu pengurangan ketebalan kulit atau skarifikasi, perendaman dalam air, perlakuan dengan zat kimia, penyimpanan benih dalam kondisi lembab dengan suhu dingin dan hangat atau disebut stratifikasi dan berbagai perlakuan lain (Kartiko 1986). Jurnal m0106
Sebenarnya dormansi merupakan cara embrio mempertahankan diri dari keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan, tetapi berakibat pada lambatnya proses perkecambahan. Berikut ini jenis – jenis dormansi.
Dormansi fisik sering terjadi pada biji tanaman sayur dan beberapa jenis tanaman kehutanan seperti sengon, aksia, jamu mente, dan kaliandra. Penyebabnya adalah kulit biji yang tidak dapat di lewati air.
yang terbungkus tempurung seperti biji kemiri dan kenari. Dormansi mekanis dapat diatasi dengan menyayat dan membuang kulit bijinya.
Dormansi kimia sering terjadi pada bijiyang mengandung lapisan pektin seperti biji pepaya. Penyebabnya adalah adanya kandungan zat tertentu di dalam biji yang menghambat perkecambahan. Buku
Perlakuan pemecahan dormansi asam kuranji dapat dilakukan dengan skarifikasi, ini merupakan salah satu upaya pretreatment atau perlakuan awal pada benih yang ditujukan untuk mematahkan dormansi dan mempercepat terjadinya perkecambahan benih yang seragam. Skarifikasi (pelukaan kulit benih) adalah cara untuk memberikan kondisi benih yang impermiabel menjadi permeabel melalui pemasukan pembakaran, pemecahan, pengikiran dan penggoresan dengan bantuan pisau, jarum, pemotong kuku, kertas, amplas, dan alat lainnya. Kulit benih yang permeabel memungkinkan air dan gas dapat masuk ke dalam benih sehingga proses imbibisi dapat terjadi (Schmidt, 2000 cit. Juhanda et al., 2013). Menurut Copeland, L O. dan M. B., McDonald (1985) Menggosok biji dengan amplas atau pasir dan penggoncangan biji banyak digunakan untuk melukai kulit biji untuk memudahkan terjadinya imbibisi. Perendaman dengan H2 SO4 juga dapat dilakukan untuk pemecahan dormansi, menurut Suyatmi, et al., (2011), perendaman biji jati dengan H2 SO4 pada konsentrasi 70% dan 90% selama 20, 30, dan 40 menit menghasilkan persentase perkecambahan yang lebih tinggi dari kontrol.jurnal hutan tropis
IV. Metodologi 4.1 Alat dan bahan
a. Alat
1. Beaker glass 2. Petridish
3. Kertas ampelas
b. Bahan
V. Hasil Pengamatan
memilih 30 biji asam dan membagi dalam 3 kelompok
merendam 10 biji dengan hati - hati dalam asam sulfat selama 15 menit kemudian cuci dengan air
menghilangkan kulit biji pada bagian yang tidak ada lembaganya dengan cara di gosok menggunakan amplas sebanyak 10 biji, bilas
dengan air
menyusun biji - biji di atas bak perkecambahan yang telah di lapisi kertas hisap basah lagi diatasnya
untuk menjaga kelembabpan siram dengan air secukupnya tiap hari
sebagai kontrol, lakukan perkecambahan terhadap 10 biji tanpa perlakuan
mengamati proses terbentuknya radikel yang menandai telah berkecambah dan hitung prosentase erkecambahannya
mengehentikan pengamatan setelah 2 minggu
1 Kontrol 1 3 pecah dan 6 utuh
Kimia 0 7 pecah dan 3utuh
Mekanik 10
-2 Kontrol 8 2 kulit biji tidak pecah
Kimia 4 6 kulit biji tidak pecah
Mekanik 10
-3 Kontrol 0 10 biji tidak tumbuh
Kimia 3 6 biji tidak tumbuh dan
1 biji membusuk
Mekanik 10
-4 Kontrol 4 4 bji merujuk, 2 tidak
merujuk
Kimia 2 5 biji merujuk dan 3
tidak merujuk
Mekanik 9 1 biji merujuk
5 Kontrol 0 10 biji tidak tumbuh
Kimia 0 9 biji tidak tumbuh, dan
1 pecah
Mekanik 10
-6 Kontrol 0 Ada 1 biji terkelupas
Kimia 3 7 tidak tumbuh
Mekanik 10 Radikula panjang
VI. Pembahasan
Pertumbuhan bagi tanaman yang di batasi oleh periode di mana hanya ada sedikit pertumbuhanan atau tidak bertumbuh sama sekali, yang biasanya di sebut dormansi. (buku) Dormansi benih menunjukkan suatu keadaan dimana benih-benih sehat (viable) gagal berkecambah ketika berada dalam kondisi yang secara normal baik untuk berkecambah, seperti kelembaban yang cukup, suhu dan cahaya yang sesuai.(jurnal)
untuk untuk melunakkan kulit biji yang keras sehingga air dapat masuk ke dalam biji dan dapat merangsang hormon giberellin. Penggunaan bahan kimia ini merupakan upaya pematahan dormansi untuk mengatasi impermeabilitas kulit biji ini kemudian membilas dengan air agar sisa-sisa larutan asam sulfat luruh dan tidak mengganggu proses perkecambahan. Sedangkan disisi lain kami menghilangkan kulit biji asam sebanyak 10 buah pada bagian yang tidak ada lembaganya dengan cara digosok dengan menggunakan ampelas ketika mengamplas kami menghindari daerah titik pertumbuhan akar, karena jika rusak maka perkecambahan tidak akan terjadi. Langkah selanjutnya yaitu menyusun biji-biji di atas cawan petri yang telah dilapisi kapas basah, menutup dengan kapas basah lagi di atasnya. Menyiram dengan air secukupnya setiap hari untuk menjaga kelembaban. Sebagai control, melakukan perkecambahan terhadap 10 biji tanpa perlakuan.
perlakuan yaitu pada kontrol sebesar 7,22%, pada perlakuan kimia 6,67%, dan pada perlakuan mekanik 32,8%. Jika di lihat dari prosentasenya maka cara mekanik merupakan cara terbaik untuk mematahkan dormansi pada biji asam hal ini sesuai dengan teori. Menurut jurnal hutan Hasil anova pada taraf signifikansi 95% menunjukkan bahwa perlakuan perendaman biji asam kuranji dengan
H2SO4 berpengaruh nyata pada panjang hipokotil dan panjang radikula, serta antar perlakuan antara pengamplasan dan perendaman H2SO4 berbeda nyata pada panjang hipokotil dan panjang radikula. Akan tetapi pada hasil perendaman pada bahan kimia hasilnya tidak sebanyak pada perlakuan mekanik.
Menurut Sutopo (1993) bahwa perlakuan dengan menggunakan bahan kimia sering digunakan untuk memecahkan dormansi pada benih. Tujuannya adalah menjadikan kulit benih menjadi lebih mudah untuk dimasuki air pada proses imbibisi. Perlakuan kimia (biasanya asam sulfat) yang digunakan dapat membebaskan koloid hidrofil sehingga tekanan imbibisi meningkat dan akan meningkatkan metabolisme benih. Perlakuan kimia seperti H2SO4 pada prinsipnya adalah membuang lapisan lilin pada kulit benih yang keras dan tebal sehingga benih kehilangan lapisan yang permeabel terhadap gas dan air sehingga metabolisme dapat berjalan dengan baik. Jurnal mo106
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkecambahan ketersediaan air, suhu air, tekanan hidrostatik, luas permukaan biji yang kontak dengan air, komposisi kimia, dan umur.
1. Tersedianya Air
2. Suhu air : suhu air tinggi energi meningkat, difusi air meningkat sehingga kecepatan penyerapan tinggi
3. Tekanan hidrostatik : berbanding terbalik dengan kecepatan penyerapan air. Kerika volume air dalam membran biji telah sampai pada batas tertentu akan timbul tekanan hidrostatik yang mendorong keluar biji sehingga kecepatan penyerapan air menurun
4. Luas permukaan biji yang kontak dengan air : berhubungan dengan kedalaman penanaman biji dan berbanding lurus dengan kecepatan penyerapan air
5. Komposisi Kimia : biji tersusun atas karbohidrat, protein, lemak. Kecepatan penyerapan air: protein > karbohidrat > lemak
6. Umur : berhubungan dengan lama penyimpanan makin lama disimpan, makin sulit menyerap air.
Pada praktikum kali ini telah mengalami kesalah pada hasil perendaman dengan bahan kimia hal ini mungkin terjadi karena kulit biji asam yang tebal sehingga bahan kimia tersebut tidak dapat membuat kulit biji menipis sehingga air tidak dapat masuk. Selain itu bisa saja waktu perendaman dalam larutan asam pekat kurang lama.
VII. Penutup 7.1 Kesimpulan 7.2
7.3 Saran