• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROCUREMENT AUTHORITY FACILITY SECURITY RAILROAD CROSSING IN BANDAR LAMPUNG WEWENANG PENGADAAN FASILITAS KEAMANAN PERLINTASAN KERETA API DI KOTA BANDAR LAMPUNG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PROCUREMENT AUTHORITY FACILITY SECURITY RAILROAD CROSSING IN BANDAR LAMPUNG WEWENANG PENGADAAN FASILITAS KEAMANAN PERLINTASAN KERETA API DI KOTA BANDAR LAMPUNG"

Copied!
71
0
0

Teks penuh

(1)

WEWENANG PENGADAAN FASILITAS KEAMANAN PERLINTASAN

KERETA API DI KOTA BANDAR LAMPUNG

(SKRIPSI)

Oleh:

MUHAMAD MALIKI

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

ABSTRACT ensure the safety of rail travel and general road users, and must be supported with good regulation and obvious. Up to now the regulation contained in Law No. 23 Year 2007 on Railways is less obvious set of security issues, so the Local Government and PT. KAI impressed allways throwing responsibility. The problem in this study were (1) How does the regulation authority provision of security of railway crossings in the city of Bandar Lampung? (2) How is the implementation of the procurement authority facility railroad crossing safety in Bandar Lampung?

This research method using a normative approach and empirical jurisdiction. The data source consists of primary data and secondary data. Methods of data collection done by library research and field research. Data processing is done by inspection, classification, and systematic preparation. Analysis of the data using qualitative methods.

(3)

ABSTRAK

WEWENANG PENGADAAN FASILITAS KEAMANAN PERLINTASAN KERETA API DI KOTA BANDAR LAMPUNG

Oleh

MUHAMAD MALIKI

Faktor keselamatan dalam penyelenggaraan perkeretaapian ditentukan oleh fasilitas keamanan yang dapat menjamin keselamatan perjalanan kereta api dan pengguna jalan umum, serta harus didukung dengan pengaturan yang baik dan jelas. Hingga saat ini pengaturan yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian kurang jelas mengatur permasalahan keamanan tersebut, sehingga pihak Pemerintah Daerah dan PT. KAI terkesan saling lempar tanggung jawab. Permasalahan dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimanakah pengaturan wewenang pengadaan fasilitas keamanan perlintasan kereta api di Kota Bandar Lampung? (2) Bagaimanakah pelaksanaan wewenang pengadaan fasilitas keamanan perlintasan kereta api di Kota Bandar Lampung?

Metode penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif dan yuridis empiris. Sumber data terdiri dari data primer dan data sekunder. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara studi kepustakaan dan penelitian lapangan. Pengolahan data dilakukan dengan cara pemeriksaan, pengklasifikasian, dan penyusunan sistematis. Analisis data menggunakan metode kualitatif.

(4)

WEWENANG PENGADAAN FASILITAS KEAMANAN PERLINTASAN

KERETA API DI KOTA BANDAR LAMPUNG

Oleh

Muhamad Maliki

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Hukum

Pada

Bagian Hukum Administrasi Negara Fakultas Hukum Universitas Lampung

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG

(5)
(6)
(7)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Desa Kejadian Kecamatan Tegineneng Kabupaten

Pesawaran pada tanggal 18 Januari 1990, merupakan putra pertama dari 3

bersaudara diantaranya Khusnul Khotimah, dan Ilhamsyah, pasangan

Ayahanda H. M. Rois dan Ibunda Hj. Khomsatin. Riwayat pendidikan penulis diawali dari

pendidikan, pada Sekolah Dasar SDN 2 Kejadian lulus pada tahun 2003, Sekolah Menengah

Pertama di SMPN 1 Natar lulus pada tahun 2005, Sekolah Menengah Atas di SMAN 1 Natar

lulus pada tahun 2008, kemudian pada tahun 2009 penulis diterima sebagai Mahasiswa

Fakultas Hukum Universitas Lampung dan pada tahun 2013 penulis mengikuti Kuliah Kerja

Nyata (KKN) di Desa Negeri Jemanten Kecamatan Margatiga Kabupaten Lampung Timur.

Selama menjadi mahasiswa penulis juga aktif di dunia kemahasiswaan baik di internal dan

eksternal kampus, di internal kampus penulis mengawali karirnya di BEM FH sebagai

Sekretaris Bidang Advokasi dan Propaganda 2010-2011, BEM FH sebagai Kepala Dinas

Pembinaan Sumber Daya Manusia (PSDM) 2011-2012, DPM FH sebagai Sekretaris DPM

FH 2012-2013. Di eksternal kampus penulis aktif sebagai kader Himpunan Mahasiswa Islam

(HmI) diawali pada Basic Training LK I di Komisariat Hukum Unila pada tahun 2010.

Selama berproses di HMI Komisariat Hukum Unila penulis pernah diamanahkan menjadi

pengurus sampai dengan presedium HMI Komisariat Hukum Unila yaitu di Departemen

(8)

MOTO

“Demi waktu matahari sepenggalah naik, dan demi waktu malam apabila telah sunyi,

Tuhan-mu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu, dan sesungguhnya

akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan, Dan kelak Tuhan-mu pasti Memberikan

Karunia-Nya kepadamu, lalu(hati) kamu menjadi puas.

(9)

PERSEMBAHAN

Dengan kerendahan hati dan puji syukur atas kehadirat Allah SWT kupersembahkan skripsiku yang

sederhana ini kepada :

Kedua orang tuaku tercinta, yang telah mendoakan, membesarkan, mendidik, mendukung, memberi

dorongan dan selalu menanti keberhasilanku.

Para dosen yang telah mendidikku.

Almamater tercinta.

Kanda, Yunda dan Adinda Himpunan Mahasiswa Islam (HmI) Cabang Bandar Lampung Komisariat

Hukum Universitas Lampung.

Untuk adik-adikku terimakasih untuk semua motivasi, do’a dan harapan yang selalu memberi kekuatan

(10)

SANWACANA

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Alhamdulillah, Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas limpahan

rahmat dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini, dengan judul

“Wewenang Pengadaan Fasilitas Keamanan Perlintasan Kereta Api Di Kota Bandar

Lampung”, dengan harapan agar hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi upaya pengembangan hukum lalulintas di Indonesia pada umumnya.

Dalam menyelesaikan skripsi ini penulis telah banyak mendapat bantuan dari beberapa pihak,

yang penulis yakin bahwa tanpa bantuan tersebut skripsi ini tidak akan terwujud.

Penghargaan yang tinggi dan rasa terima kasih yang tak terhingga penulis sampaikan kepada

Bapak S. Charles Jackson, SH., M.H., selaku dosen pembimbing I (satu) dan Ibu Ati Yuniati,

S.H., M.H., selaku dosen pembimbing II (dua) yang telah banyak meluangkan waktu, pikiran,

serta memberi dorongan semangat dan pengarahan kepada penulis dalam upaya penyusunan

skripsi ini. Selain itu Beliau telah membuka wawasan penulis dan menambah pengetahuan

yang sangat berharga.

Penghargaan dan terima kasih tak terhingga penulis sampaikan kepada :

1. Bapak Dr. Hi. Heryandi, SH., MS., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Lampung

beserta staf yang telah memberikan bantuan dan kemudahan kepada Penulis selama

(11)

2. Ibu Upik Hamidah, S.H., M.H. Ketua Bagian Hukum Administrasi Negara yang telah

banyak membantu dalam proses penyelesaian skripsi ini.

3. Bapak S. Charles Jackson, S.H., M.H. pembimbing satu, yang telah meluangkan waktu,

pikiran, serta memberi dorongan semangat dan pengarahan kepada penulis dalam upaya

penyusunan skripsi ini.

4. Ibu Ati Yuniati, S.H., M.H. pembimbing dua, yang telah meluangkan waktu, pikiran, serta

memberi dorongan semangat dan pengarahan kepada penulis dalam upaya penyusunan

skripsi ini.

5. Ibu Nurmayani, S.H., M.H., pembahas satu dan juga penguji utama yang telah memberikan

bimbingan dan pengarahan dalam penulisan skripsi ini.

6. Bapak Agus Triono, S.H., M.H., pembahas dua yang telah memberikan bimbingan dan

pengarahan dalam penulisan skripsi ini.

7. Bapak Dita Febriyanto, S.H., M.Hum., dosen Pembimbing Akademik yang telah

memberikan bimbingan dan pengarahan selama penulis menjadi mahasiswa.

8. Kakanda Dr. Hamzah, S.H., M.H., Pembantu dekan III dan Mas Rusmiadi S.H., Kabag

kemahasiswaan yang telah banyak memberi dorongan semangat dan pengarahan selama

penulis berproses di Lembaga Kemahasiswaan Fakultas Hukum Universitas Lampung.

9. Bapak dan Ibu dosen pada Fakultas Hukum Universitas Lampung yang telah membimbing

(12)

10. Yang tercinta ayahanda H. M. Rois dan Ibunda Hj. Khomsatin., yang telah bersusah

payah mengasuh, mendidik dan membesarkan dengan penuh kasih sayang dan kesederhanaan

serta tidak bosan-bosannya mendoakan keberhasilan penulis.

11. Adik-adikku tersayang, Khusnul Khotimah dan Ilhamsyah yang selalu mendukung dan

mendoakan keberhasilan ku,

12. Buat “kamu” yang selalu mengisi keseharian dan hatiku, terimaksih atas dukungan yang

selalu tiada henti-hentinya untuk mendapingiku, membantuku, menjadikanku tetap semangat,

serta semua yang telah kamu korbankan dan usahakan untukku  dalam menyelesaikan skripsi ini.

13.Kanda Heryandi (cendi), Kanda Yoni Patriadi, Kanda Febri, Kanda Heri Wijaya, Kanda

Angga Leo Nariski, Kanda Agus Tomi, Kanda Iqbal Ade Basrie, Kanda Arief Rachman

Hakim serta kakanda yang lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, yang telah banyak

memberikan bimbingan, pengarahan, dorongan semangat selama penulis menjadi kader dan

Presedium Himpunan Mahasiswa Islam (HmI) Cabang Bandar Lampung Komisariat Hukum

Unila.

14. Saudara-saudaraku sekaligus sahabat seperjuanganku presedium KHU 2012-2013, Suntan

Satria Reva, Azam Akhmad Akhsya, Galuh Kahfie Husein, Andriawan Kusuma, Sutono,

yang telah setahun bersama mengemban Amanah dan konstitusi Himpunan Mahasiswa Islam

(HmI) untuk mengapdi menjadi Presedium KHU.

15. Adinda-adindaku sekalian angkatan Basic Traning LK 1, Alif Kecil, Prabu Dafa dan

Samudra Byzantium maupun yang Basic Traning LK 1 diluar KHU saya ucapkan terima

kasih banyak telah aktif berproses serta membantu kinerja saya selama periode pengurusan

(13)

16.Sahabat-sahabatku dilingkungan HmI Cabang Bandar lampung, Ketum Muslim, Ketum

Hadi, Makro, Panca, Bang Eendy, Bang Entol, serta sahabat-sahabatku yang tidak bisa saya

sebutkan satu persatu, terima kasih banyak telah banyak memberikan dorongan semangat

selama saya berproses menajadi kader di HmI.

17. Sahabat-sahabatku selama saya menjadi mahasiswa di Fakultas Hukum Universitas

Lampung dan di DPM FH priode 2012-2013, Yulius Nanda Sionaris, Ryan Agung

Saputra,Liberty Maranata Sitepu, Timoteus Kristianto Silalahi terima kasih banyak selama ini

telah menjadi sahabat terbaik dalam berbagi keluh kesah dalam susah dan senang.

18. Teman-temanku di Kost Rahmayani yaitu, Aditya, Dwi, Dian yang selalu memberi

semangat supaya cepat mengerjakan skripsi dan segera wisuda.

19. Keluaga Besar Bapak Malih yang telah bersedia mengizinkan saya dan teman-teman

selama 40 hari tinggal dirumah keluarga beliau pada saat saya Kuliah Kerja Nyata (KKN) di

Desa Negeri Jemanten, Kecamatan Margatiga, Kabupaten Lampung Timur.

20. Sahabat- sahabatku Pada Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Negeri Jemanten

yaituWilliam, Datas, Yomi, Ari, Topik, Eka, Ani, Santi, Novia. Terima kasih banyak berkat

KKN selama 40 hari bersama kalian saya mendapatkan keluarga baru.

21. Serta semua pihak yang berada di luar kampus saya ucapkan terimaksih banyak kepada

Yuk Ita yang selalu memberi saran dan masukannya, bayu sepupu yang ganteng dan cerdas

yang selalu memberikan semangat, dan juga teman-teman di kampung Wayhindik kak Abas,

kak Iron, Saprawi, apis, Ayah Aprizal yang membagi wawasan dan pengalamannya, serta

(14)

22. Semua pihak dan rekan-rekan yang telah banyak membantu dalam penyusunan dan

penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu saya ucapkan terimakasih.

Penulis menyadari bahawa skripsi ini kurang sempurna, oleh karenanya kritik dan saran

apapun bentuknya penulis hargai guna melengkapi kekurangan-kekurangan yang ada, namun

demikian penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat. Semoga amal ibadah di

terima oleh Allah AWT.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Bandar Lampung, Juli 2014

Penulis

(15)

DAFTAR ISI

1.3 Ruang Lingkup Penelitian ... 7

1.4 Tujuan Penelitian dan Kegunaan Penelitian ... 7

1.4.1 Tujuan Penelitian ... 7

1.4.2 Kegunaan Penelitian ... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Umum Kewenangan ... 10

2.2 Tinjauan UmumTransportasi ... 17

2.2.1 Pengertian ... 17

2.2.2 PerananTransportasi ... 18

2.3 Tinjauan UmumPerkeretaapian ... 19

2.3.1 Pengertian ... 19

2.3.2 Sejarah Singkat ... 20

(16)

2.3.4 Prasarana Perkeretaapian ... 25

2.4 Pembinaan Perkeretaapian Nasional dan Daerah ... 30

2.5 Penyelenggaraan Perkeretaapian ... 32

2.5.1 Penyelenggaraan Sarana ... 33

2.5.2 Penyelenggaraan Prasarana ... 34

2.6 Jenis Perlintasan Sebidang ... 36

2.7 Data Perlintasan Sebidang di KotaBandar Lampung ... 38

2.8 Sistem Jaringan Perkeretaapian Kota Bandar Lampung ... 41

2.9 Kawasan Perlindungan Setempat atau Kawasan Sempadan Perkeretaapian ... 43

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 1V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum PT. KAI ... 50

4.1.1 Profil Perusahaan ... 50

4.1.2 Susunan Organisasi ... 51

4.2 Gambaran Umum Dinas Perhubungan Provinsi Lampung ... 52

4.2.1 Kedudukan, Tugas Pokok dan Fungsi ... 53

4.2.2 Susunan Organisasi ... 55

4.3 Pengaturan Wewenang Pengadaan Fasilitas Keamanan Perlintasan Kereta Api di Kota Bandar Lampung ... 56

4.3.1 Wewenang dan Tanggung Jawab Pemegang Izin Terhadap Keamanan Perlintasan Kereta Api ... 56

4.3.2 Wewenang Penutupan Perlintasan Sebidang ... 58

(17)

4.4.1 Pelaksanaan Wewenang Dinas Perhubungan

Provinsi Lampung ... 61 4.4.2 Pelaksanaan Wewenang PT. Kereta Api Indonesia (Persero)

... 64

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan ... 66 5.2 Saran ... 67

(18)

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Saat ini bangsa Indonesia mengalami perkembangan dan kemajuan di segala

bidang yang sangat membutuhkan perhatian untuk mewujudkan masyarakat adil

makmur berdasarkan amanat Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai

tujuan nasional bangsa Indonesia. Salah satu sektor yang paling penting dalam

mewujudkan tujuan nasional bangsa ini adalah transportasi. Menurut Zulfiar

sani,transportasi berasal dari 2 kata yaitu (Trans = Perpindahan dan Port = tempat

asal dan tujuan) adalah perpindahan orang dan atau barang dari satu tempat ke

tempat lainnya atau dari tempat asal ke tempat tujuan dengan menggunakan

sebuah wahana yang digerakkan oleh manusia, hewan atau mesin.Jadi yang

dimaksud dengan transportasi yaitu perpindahan barang atau penumpang

darisuatu tempat ke tempat lain dimana produk dipindahkan ke tempat tujuan

dibutuhkan.

Sudah tidak diragukan lagi bahwa transportasi merupakan tulang punggung

perekonomian suatu bangsa. Buruknya sistem transportasi akan merugikan dari

segi ekonomi secara menyeluruh. Negara yang maju ditandai oleh tanah yang

subur, kerja keras dan transportasi yang lancar (Schummer, 1974), hal ini dapat

(19)

2

Transportasi merupakan hal yang sangat penting untuk mengadakan hubungan

antar wilayah, karena akan menunjang pemerataan pembangunan. Juga untuk

memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat diseluruh sektor kehidupan dan

sebagai sarana untuk menghubungkan kepentingan antar daerah-daerah di

Indonesia. Selain itu transportasi akan sangat diperlukan oleh setiap orang karena

pada dasarnya setiap orang pasti akan melakukan aktivitasnya masing-masing

dimana untuk menunjang segala aktivitasnya itu akan sangat memerlukan moda

transportasi.

Kegiatan transportasi bukan merupakan suatu tujuan melainkan mekanisme untuk

mencapai tujuan. Untuk mencapai pergerakan yang cepat, aman, nyaman dan

sesuai dengan kebutuhan akan kapasitas angkut maka diperlukan suatu fasilitas

atau prasarana yang mendukung pergerakan tersebut. Penyediaan fasilitas untuk

mendukung dari pergerakan tersebut menyesuaikan dengan jenis moda yang

digunakan. Moda transportasi merupakan istilah yang digunakan untuk

menyatakan alat angkut yang digunakan untuk berpindah tempat dari satu tempat

ketempat lain. Moda yang biasanya digunakan dalam transportasi dapat

dikelompokkan atas moda yang berjalan didarat, berlayar di perairan laut dan

pedalaman serta moda yang terbang di udara.

Indonesia sebagai negara kepulauan yang tersebar dengan tujuhbelas ribuan

lebihpulau hanya bisa terhubungkan dengan baik dengan sistem transportasi multi

moda, tidak ada satu modapun yang bisa berdiri sendiri, saling mengisi.

Masing-masing moda mempunyai keunggulan dibidangnya Masing-masing-Masing-masing. Pemerintah

(20)

3

menciptakan sistem transportasi yang efisien, efektif dan dapat digunakan secara

aman dalam menempuh perjalanan dengan cepat dan lancar.

Jaringan transportasi dapat dibentuk oleh moda transportasi yang saling

berhubungan danterangkai dalam Sistem Transportasi Nasional (Sistranas).

Masing-masing moda transportasi memiliki karakteristik teknis yang berbeda dan

pemanfaatannya disesuaikan dengan kondisi geografis daerah layanan.

Sistem Transportasi Nasional (Sistranas) adalah tatanan transportasi yang

terorganisasi secara kesisteman terdiri dari transportasi jalan, transportasi kereta

api, transportasi sungai, danau, dan penyeberangan, transportasi laut serta

transportasi pipa, yang masing-masing terdiri dari sarana dan prasarana, kecuali

pipa, yang saling berinteraksi dengan dukungan perangkat lunak dan perangkat

pikir membentuk suatu sistem pelayanan jasa transportasi yang efektif dan efisien,

berfungsi melayani perpindahan orang dan atau barang, yang terus berkembang

secara dinamis. Moda yang didarat juga masih bisa dikelompokkan atas moda

jalan, moda kereta api dan moda pipa.

Perkeretaapian sebagai salah satu moda transportasi memiliki karakteristik dan

keunggulan khusus, terutama dalam kemampuannya untuk mengangkut, baik

orang maupun barang secara massal, menghemat energi, menghemat penggunaan

ruang, memiliki tingkat pencemaran yang rendah, serta lebih efisien dibandingkan

dengan moda transportasi jalan untuk angkutan jarak jauh dan untuk daerah yang

padat lalu lintasnya, seperti angkutan perkotaan.Dengan keunggulan dan

(21)

4

ditingkatkan dalam upaya pengembangan sistem transportasi nasional secara

terpadu.

Kereta Api sebagai alat pengangkutan darat merupakan pendorong dan penggerak

pembangunan nasional demi meningkatkan kesejahteraan rakyat. Usaha

perkeretaapian dikuasai oleh pemerintah dan pelaksanaannya diserahkan kepada

badan penyelenggara yang dibentuk untuk itu. Badan penyelenggara usaha

perkeretaapian adalah PT. (Persero) Kereta Api Indonesia selanjutnya disebut

(PT. KAI) yang berada di bawah Direktorat Jenderal (Dirjen) Perhubungan Darat

Kementerian Perhubungan selanjutnya disebut (Kemenhub).

Penyelenggaraan perkeretaapian yang dimulai dari pengadaan, pengoperasian,

perawatan, dan pengusahaan perlu diatur dengan sebaik-baiknya sehingga dapat

terselenggara angkutan kereta api yang menjamin keselamatan, aman, nyaman,

cepat, tepat, tertib, efisien, serta terpadu dengan moda transportasi lain. Dengan

demikian, terdapat keserasian dan keseimbangan beban antarmoda transportasi

yang mampu meningkatkan penyediaan jasa angkutan bagi mobilitas angkutan

orang dan barang.

Penyelenggaraan perkeretaapian telah menunjukkan peningkatan peran yang

penting dalam menunjang dan mendorong kegiatan perekonomian, memperlancar

kegiatan pemerintahan, memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa, serta

meningkatkan hubungan antar bangsa. Dengan adanya perkembangan teknologi

perkeretaapian dan perubahan lingkungan strategis yang semakin kompetitif dan

tidak terpisahkan dari sistem perekonomian nasional yang menitikberatkan pada

(22)

5

peran pemerintah daerah dan swasta guna mendorong kemajuan penyelenggaraan

perkeretaapian nasional.

Untuk itu dalam hal penyelenggaraan moda transportasi perkeretaapian haruslah

diimbangi dengan pengaturan dan pengawasan yang baik serta terpadu mengingat

semakin meningkatnya kebutuhan transportasi bagi mobilitas dalam berkehidupan

sehari-hari. Dengan adanya penyelenggaraan transportasi yang baik dan sesuai

maka berperan sebagai penunjang aktivitas masyarakat. Penyelenggaraan dan

pembinaan transportasi yang baik dimaksudkan sebagai suatu sistem pengaturan

transportasi secara terpadu sehingga mampu mewujudkan mode transportasi yang

sesuai dengan tingkat kebutuhan mobilitas masyarakat yang aman, cepat, lancar,

teratur, dan nyaman.

Dalam hal pengaturan untuk moda transportasi perkeretaapian terdapat pranata

hukum yang mengaturnya yaitu Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1992 tentang

Perkeretaapian selanjutnya disebut (UU No. 13/1992) yang diganti dengan

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian selanjutnya

disebut (UU No. 23/2007), Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2009 tentang

Penyelenggaraan Perkeretaapian selanjutnya disebut (PP No. 56/2009), Peraturan

Pemerintah Nomor 69 Tahun 1998tentangPrasarana Dan Sarana Kereta Api

selanjutnya disebut (PP No. 69/1998) dan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor

36 Tahun 2011 tentang Perpotongan dan/atau Persinggungan Antara Jalur Kereta

Api dengan Bangunan Lain selanjutnya disebut (PM No. 36/2011).

Faktor keselamatan dalam penyelenggaraan perlintasan kereta api tidak hanya

(23)

6

yang memadai, untuk itu perlu diciptakan sistem yang dilengkapi oleh alat

pengaman. Sistem itu harus dapat menjamin perjalanan rangkaian kereta api,

diantaranya di setiap perlintasan kereta api dilengkapi dengan rambu-rambu

berupa peringatan, sirine, palang pintu perlintasan, dan petugas penjaga keamanan

palang pintu perlintasan.

Akan tetapi pada kenyataannya banyak perlintasan antara rel kereta api dan jalan

umum sarat dengan permasalahan yakni sering terjadi kecelakaan diperlintasan,

yaitu berupa benturan antara kereta api dengan pengguna jalan umum yang

akibatnya banyak jatuh korban dan timbul kerugian, baik bagi pihak pengguna

jalan umum maupun pihak (PT. KAI). Kecelakaan diberbagai perlintasan pada

umumnya disebabkan karena kelalaian para pengguna perlintasan dan atau

minimnya kesadaran hukum masyarakat terhadap hukum berlalu lintas serta

kurangnya prasarana pendukung perlintasan kereta api.

Seperti diketahui, kecelakaan kereta api dengan kendaraan pribadi marak terjadi di

Kota Bandar-Lampung. Namun begitu, belum tampak komitmen dan upaya serius

pihak terkait mengantisipasi terjadinya kecelakaan di perlintasan kereta api. Pihak

Dinas Perhubungan selanjunya disebut (Dishub) Kota Bandar Lampung dan PT.

KAI terkesan saling lempar tanggung jawab. PT. KAI bersikeras pembangunan

portal di perlintasan kereta api adalah tugas pemda. Sedangkan Dishub, menilai

PT. KAI kurang kooperatif membantu pemerintah Kota Bandar Lampung

(24)

7

Melihat permasalahan tersebut peneliti tertarik untuk membahas tentang

“Wewenang Pengadaan Fasilitas Keamanan Perlintasan Kereta Api di Kota Bandar Lampung”.

1.2Rumusan Masalah

Permasalahan pokok yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut:

1. Bagaimanakah pengaturan wewenang pengadaan fasilitas keamanan

perlintasan kereta api di Kota Bandar Lampung?

2. Bagaimanakah pelaksanaan wewenang pengadaan fasilitas keamanan

perlintasan kereta api di Kota Bandar Lampung?

1.3Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup dari penelitian ini adalah kajian bidang hukum administrasi negara

pada umumnya dan hukum lalulintas dan angkutan jalan pada khususnya

mengenai wewenang pengadaan fasilitas keamanan perlintasan kereta api di kota

Bandar Lampung.

1.4Tujuan Penelitian dan Kegunaan Penelitian 1.4.1 Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang akan dibahas, maka tujuan dari penelitian ini,

adalah:

1. Untuk mengetahui pengaturan wewenang pengadaan fasilitas keamanan

(25)

8

2. Untuk mengetahui pelaksanaan wewenang pengadaan fasilitas keamanan

perlintasan kereta api di Kota Bandar Lampung.

1.4.2 Kegunaan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang akan di bahas kegunaan penelitian ini yaitu :

1. Kegunaan teoritis, yaitu berguna sebagai upaya pengembangan wawasan

dibidang Ilmu Hukum Administrasi Negara, khususnya Hukum

Lalulintasdan Angkutan Jalan yang berkaitan dengan wewenang

pengadaan fasilitas keamanan perlintasan kereta api di Kota

Bandar-Lampung.

2. Kegunaan praktis:

a. Diharapkan hasil penelitian ini dapat mengkaji secara objektif

mengenai wewenang pengadaan fasilitas keamanan perlintasan

kereta api di Kota Bandar Lampung.

b. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan informasi

kepada pembaca yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai

wewenang pengadaan fasilitas keamanan perlintasan kereta api di

Kota Bandar Lampung.

c. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi rekomendasi

strategis bagi penyelenggara dalam pengadaan fasilitas keamanan

(26)

9

d. Sebagai pemenuhan salah satu syarat akademik bagi peneliti untuk

menyelesaikan studi S1 Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum

(27)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1Tinjauan Umum Wewenang

Penerapan asas negara hukum oleh pejabat administrasi terikat dengan

penggunaan wewenang kekuasaan. Kewenangan pemerintah ini dalam negara

hukum yang menerapkan asas legalitas dalam konstitusinya, sebagaimana tersebut

dalam pasal 1 ayat (3) UUD 1945 perubahan ketiga, mengandung arti bahwa

penyelenggaraan pemerintahan harus didasarkan pada undang-undang dan

memberikan jaminan terhadap hak-hak dasar rakyat.

Asas legalitas menjadi dasar legitimasi tindakan pemerintah. Dengan kata lain,

setiap penyelenggaraan kenegaraan dan pemerintahan harus memiliki legitimasi,

yaitu kewenangan yang diberikan oleh undang-undang. Kewenangan (authority,

gezag) itu sendiri adalah kekuasaan yang diformalkan untuk orang-orang tertentu

atau kekuasaan terhadap bidang pemerintahan tertentu yang berasal dari

kekuasaan legislatif maupun dari pemerintah. Memang hal ini tampak agak

legalistis formal. Memang demikian halnya, hukum dalam bentuknya yang asli

bersifat membatasi kekuasaan dan berusaha untuk memungkinkan terjadinya

keseimbangan dalam hidup bermasyarakat. Sedangkan wewenang (bevoegdheid),

(28)

11

S.F.Marbun, menyebutkan wewenang mengandung arti kemampuan untuk

melakukan suatu tindakan hukum publik, atau secara yuridis adalah kemampuan

bertindak yang diberikan oleh undang-undang yang berlaku untuk melakukan

hubungan-hubungan hukum. Wewenang itu dapat mempengaruhi terhadap

pergaulan hukum, setelah dinyatakan dengan tegas wewenang tersebut sah, baru

kemudian tindak pemerintahan mendapat kekuasaan hukum (rechtskracht).

Pengertian wewenang itu sendiri akan berkaitan dengan kekuasaan (Sadjiono,

2008). Dalam arti sosiologis, kekuasaan merupakan suatu kemampuan individu

atau kelompok untuk melaksanakan kemauannya meskipun harus menghadapi

pihak lain yang menentangnya. Kemampuan untuk dapat melaksanakan keinginan

tersebut disebabkan oleh kekuatan fisik, keunggulan psikologis atau kemampuan

intelektual. Kekuasaan seorang akan bertambah apabila ia mendapat sambutan

dari suatu kelompok yang penuh pengabdian untuk mewujudkan tujuannya. Akar

kekuasaan adalah hasrat untuk mendominasi pihak lain dan menundukkan mereka

dibawah pengaruhnya.

Menurut Bagir Manan, dalam Hukum Tata Negara, kekuasaan menggambarkan

hak untuk berbuat atau tidak berbuat. Wewenang mengandung arti hak dan

kewajiban. Hak berisi kebebasan untuk melakukan atau tidak melakukan tindakan

tertentu atau menuntut pihak lain untuk melakukan tindakan tertentu. Kewajiban

memuat keharusan untuk melakukan atau tidak melakukan tindakan tertentu

(Ridwan HR, 2006). Dalam hukum administrasi negara wewenang pemerintahan

yang bersumber dari peraturan perundang-undangan diperoleh melalui cara-cara

(29)

12

Atribusi adalah terjadinya pemberian wewenang pemerintahan yang baru oleh

suatu ketentuan dalam peraturan perundang-undangan. Atribusi kewenangan

dalam peraturan perundang-undangan adalah pemberian kewenangan membentuk

peraturan perundang-undangan yang pada puncaknya diberikan oleh UUD 1945

atau UU kepada suatu lembaga negara atau pemerintah. Kewenangan tersebut

melekat terus menerus dan dapat dilaksanakan atas prakarsa sendiri setiap

diperlukan. Disini dilahirkan atau diciptakan suatu wewenang baru.

Legislator yang kompeten untuk memberikan atribusi wewenang pemerintahan

dibedakan :

1. Original legislator, dalam hal ini di tingkat pusat adalah MPR sebagai

pembentuk Undang-Undang Dasar dan DPR bersama Pemerintah sebagai

yang melahirkan suatu undang-undang. Dalam kaitannya dengan

kepentingan daerah, oleh konstitusi diatur dengan melibatkan DPD. Di

tingkat daerah yaitu DPRD dan pemerintah daerah yang menghasilkan

Peraturan Daerah. Misal, UUD 1945 sesudah perubahan, dalam Pasal 5

ayat (2) memberikan kewenangan kepada Presiden dalam menetapkan

Peraturan Pemerintah untuk menjalankan undang-undang sebagaimana

mestinya. Dalam Pasal 22 ayat (1), UUD 1945 memberikan kewenangan

kepada Presiden untuk membentuk Peraturan Pemerintah Pengganti UU

(30)

13

2. Delegated legislator, dalam hal ini seperti presiden yang berdasarkan

suatu undang-undang mengeluarkan peraturan pemerintah, yaitu

diciptakan wewenang-wewenang pemerintahan kepada badan atau jabatan

tata usaha negara tertentu.

Misal, dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 9 Tahun 2003, tentang wewenang

pengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian Pegawai Negeri Sipil Pasal 12

ayat (1) Pejabat Pembina Kepegawaian Pusat menetapkan pengangkatan,

pemindahan, dan pemberhentian Pegawai Negeri Sipil Pusat di lingkungannya

dalam dan dari jabatan struktural eselon II ke bawah atau jabatan fungsional yang

jenjangnya setingkat dengan itu.

Pengertian pejabat pembina kepegawaian pusat adalah Menteri pada delegasi,

terjadilah pelimpahan suatu wewenang yang telah ada oleh badan atau jabatan tata

usaha negara yang telah memperoleh wewenang pemerintahan secara atributif

kepada badan atau jabatan tata usaha negara lainnya. Jadi suatu delegasi selalu

didahului oleh adanya suatu atribusi wewenang. Misal, dalam Peraturan Presiden

Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara

Pasal 93 ayat (1) Pejabat struktural eselon I diangkat dan diberhentikan oleh

Presiden atas usul Menteri yang bersangkutan, ayat (2) Pejabat struktural eselon II

ke bawah diangkat dan diberhentikan oleh Menteri yang bersangkutan, ayat (3)

Pejabat struktural eselon III ke bawah dapat diangkat dan diberhentikan oleh

Pejabat yang diberi pelimpahan wewenang oleh Menteri yang bersangkutan.

Pengertian mandat dalam asas-asas Hukum Administrasi Negara, berbeda dengan

(31)

14

1945 sebelum perubahan. Menurut penjelasan UUD 1945 Presiden yang diangkat

oleh MPR, tunduk dan bertanggung jawab kepada Majelis. Presiden adalah

mandataris dari MPR, dan wajib menjalankan putusan MPR. Presiden ialah

penyelenggara pemerintah negara yang tertinggi. Dalam Hukum Administrasi

Negara mandat diartikan sebagai perintah untuk melaksanakan atasan;

kewenangan dapat sewaktu-waktu dilaksanakan oleh pemberi mandat, dan tidak

terjadi peralihan tanggung jawab.

Berdasarkan uraian tersebut, apabila wewenang yang diperoleh organ

pemerintahan secara atribusi itu bersifat asli yang berasal dari peraturan

perundang-undangan, yaitu dari redaksi pasal-pasal tertentu dalam peraturan

perundang-undangan. Penerima dapat menciptakan wewenang baru atau

memperluas wewenang yang sudah ada dengan tanggung jawab intern dan ekstern

pelaksanaan wewenang yang diatribusikan sepenuhnya berada pada penerima

wewenang (atributaris).

Philipus M. Hadjon pada dasarnya membuat perbedaan antara delegasi dan

mandat. Dalam hal delegasi mengenai prosedur pelimpahannya berasal dari suatu

organ pemerintahan kepada organ pemerintahan yang lainnya dengan peraturan

perundang-undangan, dengan tanggung jawab dan tanggung gugat beralih ke

delegataris. Pemberi delegasi tidak dapat menggunakan wewenang itu lagi,

kecuali setelah ada pencabutan dengan berpegang dengan asas ”contrarius actus”,

artinya, setiap perubahan, pencabutan suatu peraturan pelaksanaan

perundang-undangan, dilakukan oleh pejabat yang menetapkan peraturan dimaksud, dan

(32)

15

mandat, prosedur pelimpahan dalam rangka hubungan atasan bawahan yang

bersifat rutin. Adapun tanggung jawab dan tanggung gugat tetap pada pemberi

mandat. Setiap saat pemberi mandat dapat menggunakan sendiri wewenang yang

dilimpahkan itu (Philipus M Hadjon, 1994).

Sedangkan Huisman membedakan delegasi dan mandat sebagai berikut :

Delegasi, merupakan pelimpahan wewenang “overdracht van bevoegdheid”; kewenangan tidak dapat dijalankan secara insidental oleh organ yang memiliki

wewenang asli “bevoegdheid kan door het oorsprokenlijk bevoegde orgaan niet

incidenteel uitgoefend worden”; terjadi peralihan tanggungjawab “overgang van verantwoordelijkheid”; harus berdasarkan UU “wetelijk basis vereist”; harus tertulis “moet schriftelijk”;

Mandat menurut Huisman, merupakan perintah untuk melaksanakan “opdracht tot

uitvoering”; kewenangan dapat sewaktu-waktu dilaksanakan oleh mandans

bevoeghdheid kan door mandaatgever nog incidenteel uitgeofend worden”; tidak terjadi peralihan tanggung jawab “behooud van verantwoordelijkheid”; tidak

harus berdasarkan UU “geen wetelijke basis vereist”; dapat tertulis, dapat pula secara lisan “kan schriftelijk, mag ook mondeling” (Huisman, RJHM , dalam Ridwan HR, 2006).

Menurut HD Stout, Kewenangan adalah pengertian yang berasal dari hukum

organisasi pemerintahan yang dapat dijelaskan sebagai keseluruhan aturan-aturan

yang berkenaan dengan perolehan dan penggunaan wewenang-wewenang dari

pemerintahan oleh subyek hukum publik (Ridwan HR, 2006:101). Menurut Bagir

(33)

16

Kekuasaan hanya menggambarkan hak untuk berbuat dan tidak berbuat.

Wewenang berarti sekaligus hak dan kewajiban.

Menurut Tubagus Rahman Nitibaskara, kewenangan adalah merupakan hak

menggunakan wewenang yang dimiliki seorang pejabat atau institusi menurut

ketentuan yang berlaku, dengan demikian kewenngan juga menyangkut

kompetensi tindakan hukum yang dapat dilakukan menurut kaedah-kaedah

formal, jadi kewenangan merupakan kekuasaan formal yang dimiliki oleh pejabat

atau institusi (Nurmayani, 2009:26).

Menurut H.D. Van wijk, kewenangan diperoleh melalui tiga sumber, yaitu:

1. Atribusi adalah pemberian wewenang pemerintahan oleh pembuat

undang-undang kepada organ pemerintahan.

2. Delegasi adalah pelimpahan wewenang pemerintahan dari satu organ

pemerintahan kepada organ pemerintahan lainnya.

3. Mandat terjadi ketika organ pemerintahan mengizinkan kewenangan

dijalankan oleh organ lain atas namanya ( Ridwan HR, 2006:104-105).

Sesuai dengan amanat undang-undang nomor 32 tahun 2004 pasal 10 ayat (3),

bahwa Pemerintah Daerah menyelenggarakan urusan pemerintah yang menjadi

kewenangannnya, kecuali urusan pemerintah yang hanya menjadi

urusan/kewenangan pemerintah pusat, yaitu:

1) Politik luar negeri

2) Pertahanan

(34)

17

4) Yustisi

5) Moneter dan fiskal nasional

6) Agama

Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan, Pemerintah menyelenggarakan

sendiri atau dapat melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada perangkat

pemerintah atau wakil pemerintah di daerah. Dalam menyelenggarakan

pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintahan diluar urusan

pemerintahan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3), Pemerintah dapat

menyelenggarakan sendiri urusan pemerintahan, menugaskan sebagian urusan

pemerintahan kepada pemerintahan daerah berdasarkan asas tugas pembantuan

(Nurmayani, 2009:28-29).

2.2Tinjauan Umum Transportasi 2.2.1 Pengertian

Sudah tidak diragukan lagi bahwa transportasi merupakan tulang punggung

perekonomian sutau bangsa. Buruknya sistem transportai akan merugikan dari

segi ekonomi secara mnyeluruh. Menurut Schummer, negara yang maju ditandai

oleh: Tanah yang subur, kerja keras dan transportasi yang lancar. Hal ini dapat

digambarkan sebagai aliran darah dalam tubuh manusia (Zulfiar Sani, 2010:1).

Transportasi terdiri dari dua suku kata, yaitu (Trans = Perpindahan dan Port =

tempat asal dan tujuan). Jadi yang dimaksud dengan transportasi adalah

perpindahan orang dan atau barang dari satu tempat ke tempat lainnya atau dari

tempat asal ke tempat tujuan dengan menggunakan sebuah wahana yang

(35)

18

Transportasi dapat dilakukan oleh orang itu sendiri dengan cara memikul dan

sebagainya tapi dapat juga menggunakan alat bnda sebagai bantuan. Penggunaan alat

bantu ini berkembang sesuai dengan perkembangan teknologi hingga saat ini. Di

negara maju, mereka biasabya menggunakan kereta bawah tanah dan taksi untuk

bepergian dalam kota terutama untuk pergi dan pulang bekerja.

Tujuan orang menggunakan alat transportasi adalah agar lebih cepat dan mudah

dalam perpindahan orang atau barang dari tempat asal ke tempat tujuannya. Fungsi

transportasi ini dilihat tidak hanya secara perorangan, tetapi juga dilihat dari

kepentingan masyarakat luas.

2.2.2 Peranan Transportasi

Transportasi memiliki peranan penting dan strategi dalam pembangunan nasional,

mengingat transportasi merupakan sarana untuk memperlancar roda

perekonomian, memperkokoh persatuan dan kesatuan serta mempengaruhi hampir

semua aspek kehidupan. Pentingnya transportasi sebagai urat nadi kehidupan

ekonomi, sosial ekonomi, politik, dan pertahanan keamanan memiliki dua fungsi

ganda yaitu sebagai unsur penunjang dan sebagai unsur pendorong.

Sebagai unsur penunjang, transportasi berfungsi menyediakan jasa transportasi

yang efektif untuk memenuhi kebutuhan berbagai sektor dan menggerakkan

pembangunan nasional. Sebagai unsur pendorong, transportasi berfungsi

menyediakan jasa transportasi yang efektif untuk membuka daerah-daerah yang

terisolasi, melayani daerah terpencil, merangsang pertumbuhan daerah tertinggal

(36)

19

Jadi, transportasi memegang peranan yang sangat penting karena melibatkan dan

mempengaruhi banyak aspek kehidupan manusia yang saling berkaitan. Semakin

lancar transportasi tersebut, maka semakin lancar pula perkembangan

pembangunan daerah maupun nasional.

2.3 Tinjauan Umum Perkeretaapian 2.3.1 Pengertian

Menurut UU No. 23/2007 pasal 1 ayat (1) yang dimaksud perkeretaapian adalah

satu kesatuan sistem yang terdiri atas prasarana, sarana, dan sumber daya

manusia, serta norma, kriteria, persyaratan, dan prosedur untuk penyelenggaraan

transportasi kereta api. Menurut pasal 1 ayat (2) UU No. 23/2007 yang dimaksud

dengan kereta api adalah sarana perkeretaapian dengan tenaga gerak, baik berjalan

sendiri maupun dirangkaikan dengan sarana perkeretaapian lainnya, yang akan

ataupun sedang bergerak di jalan rel yang terkait dengan perjalanan kereta api.

Berikut adalah tatanan perkeretaapian:

Kereta api menurut jenisnya:

a. kereta api kecepatan normal;

b. kereta api kecepatan tinggi;

c. kereta api monorel;

d. kereta api motor induksi linear;

e. kereta api gerak udara;

f. kereta api levitasi magnetik;

g. trem; dan

(37)

20

Perkeretaapian menurut fungsinya.

a. perkeretaapian umum terdiri dari:

a) perkeretaapian perkotaan; dan

b) perkeretaapian antarkota.

b. perkeretaapian khusus sebagaimana dimaksud hanya digunakan secara

khusus oleh badan usaha tertentu untuk menunjang kegiatan pokok

badan usaha tersebut.

2.3.2 Sejarah Singkat

Perkeretaapian di Indonesia dimulai pada saat zaman penjajahan Belanda.

Belanda membawa kemajuan terutama kereta api yang lebih dahulu berkembang

di beberapa negara Eropa saat itu. Pembangunan kereta api ditandai dengan

pemasangan rel kereta api pertama di desa Kemijen Kota Semarang pada tanggal

17 Juni 1864. Pemerintahan Belanda membangun rel kereta api ini dibawah

komando NISM (Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij) yang dipimpin

langsung oleh Gubernur Jenderal Sloet Van Beele. Pembangunan jalur kereta api

pertama ini lebih didasari oleh kebutuhan bangsa Belanda mengangkut hasil bumi

berupa tembakau, nila dan gula yang merupakan barang ekspor ke Pelabuhan

Semarang.

Seiring perkembangan kereta api di berbagai belahan dunia, maka perkeretaapian

di Indonesia semakin berkembang dan pemerintahan Belanda secara kontinue

membangun rel kereta api melalui NISM dan dikelola oleh lembaga

pemerintah (Staaatsspoor Wegen). Pembangunan rel kereta api di

(38)

21

26 km pada tahun 1868, Jalur Semarang-Gundih-Surakarta (1870), Surakarta-

Yogyakarta-Lempuyangan (1873), Jakarta-Bogor (1873) yang dilanjutkan dengan

pemasangan lintas Bogor-Sukabumi-Bandung-Kroya-Yogyakarta-Surabaya.

Kemudian pada rentang tahun 1903-1907 dibagun tiga jalur kereta api yaitu:

Kedungjati-Ambarawa-Magelang-Yogyakarta, Secang-Temanggung-Parakan dan

Semarang-Cepu-Surabaya.

Dalam sejarahnya, perkeretaapian telah mengalami perkembangan yang sangat

pesat. Hal ini didasari oleh semakin majunya ekonomi Belanda dan sebagai alat

politis bagi pemerintahan Belanda. Dalam pelaksanaannya, berbagai model rel

dan jenis kereta api pernah singgah di Indonesia. Contohnya penerapan rel

Triganda pada lintas Yogyakarta-Surakarta yang memiliki lebar 1,435 meter.

Selain itu, jenis lomotif kereta juga bermacam- macam, mulai kereta uap sampai

jaman kereta listrik pada jaman sekarang. Perkembangan jalur kereta api yang

cepat dan perkembangan bisnis perkeretaapian global membuat beberapa

perusahaan swasta bentukan pemerintah Belanda seperti SCS (Semarang Cirebon

Stoomtram Maatschaapij) dan SJS (Semarang Juwana Stoomtram Maatschaapij)

pernah mengelola bisnis kereta api di Indonesia.

Selain di pulau Jawa, lintas kereta api di Indonesia juga dibangun di pulau

Sumatra. Pembangunan lintas kereta api di Sumatra ditandai pemasangan lintas

Ulele Kota Raja Banda Aceh pada tanggal 12 November 1876. Berbeda dengan

pulau Jawa yang dibangun atas dasar kepentingan komersial, pemasangan

lintaskereta api di Sumatra digunakan untuk kepentingan Perang Aceh, oleh

(39)

22

Peperangan (DVO). Baru pada tahun 1886 dibangun lintas Labuhan-Medan

dibangun oleh perusahaan DSM (Deli Spoorweg My) untuk kepentingan

komersial. Pada tahun 1891 dibangun lintas Pulu Aer-Padang yang digunakan

untuk mengangkut batubara. Selain itu, pada tahun 1912 dipasang jalur lintas

Teluk Betung- Prabumulih.

Di Sulawesi pernah dibangun lintas kereta api Makasar-Takalar yang beroperasi

pada tahun 1923. Akan tetapi, beberapa tahun kemudian operasinya dihentikan

karena tingginya biaya eksploitasi. Di Kalimantan belum pernah dibangun jalur

kereta api, tetapi studi jalur Pontianak-Sambas sejauh 220 km telah diselelsaikan.

Di beberapa pulau lain seperti Bali dan Lombok, juga pernah dilakukan studi

tentang kelayakan jalur kereta api.

Menjelang berakhirnya pemerintahan Belanda, SS (Staaatsspoor) dibagi daerah

ekploitasinya. Hal ini merupakan cikal bakal adanya Daerah Operasional pada PT.

KAI sekarang. Pembagian daerah eksplotasinya adalah: SS/OL = Jawa Bagian

Timur, SS/WL = Jawa Bagian Barat, ZSS = Sumatra Selatan, WSS = Sumatra

Barat, dan Aceh Tram = Aceh. Semua wilayah eksploitasi tersebut berpusat di

Bandung.

Berakhirnya kekuasaan pemerintahan Belanda, membuat kereta api mengalami

masa transisi. Pemerintahan Jepang menyatukan semua perusahaan kereta api

yang ada pada pemerintahan Belanda disatukan dan dinamakan Rikuyu Kyoku.

Pada pemerintahan Jepang, semua perkeretaapian di pulau jawa dibawah

(40)

23

Sedangkan di pulau Sumatera, semua perkeretaaapian di pulau Sumatra dibawah

Komando Angkatan Laut Jepang (Kaigun) dengan nama Tetsudo Tai yang

berpusat di Bukit Tinggi. Pada masa pemerintahan Jepang sebanyak 473 km lintas

kereta api dibongkar. Pembangunan rel kereta api hanya dilakukan di lintas Bayah

– Cikara sejauh 83 km dan lintas Muaro-Pekanbaru sejauh 220 km.

Pembangunan lintas kereta api ini menggunakan teknologi seadanya dan

pemerintahan Jepang mempekerjakan 27500 orang dengan 25000 orang adalah

Romusha.

Setelah berakhirnya masa penjajahan yang ditandai dengan diproklamirkan

kemerdekaan Indonesia, para karyawan kereta api yang tergabung

dalam Angkatan Moeda Kereta Api merebut perusahaan kereta api dari tangan

Jepang. Peristiwa yang terjadi pada tanggal 28 September 1945 tersebut dikenang

sebagai hari lahirnya perusahaan kereta api nasional. Pada tanggal itu pula secara

resmi lahir Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI) yang berpusat di

Bandung. DKARI menguasai perkeretaapian di Jawa dan Madura, sedangkan di

Sumatra masih dikuasai oleh Belanda melalui SS/VS (Staatspoor-Weg en

Verenigde Spoorweg Bedrur).

Dalam sejarahnya, PT. KAI mengalami masa-masa transisi sebelum berubah

menjadi persero sekarang ini. Perusahaan kereta api yang awalnya merupakan

bernama DKARI berubah menjadi Djawatan Kereta Api ( DKA) saat negara

Indonesia menjadi negara kesatuan. Berdasarkan Undang-Undang No. 19 dengan

Peraturan Pemerintah No.22 Tahun 1963, terhitung 22 Mei 1963 status

(41)

24

(PNKA). Sedangkan di Sumatra, perusahaan Deli Spoorweg My dinasionalisasi

dan berada dibawah kekuasaan PNKA terhitung pada tahun 1957.

Pada tahun 1971 dengan penetapan PP No. 1 tahun 1971, Perusahaan Negara

Kereta Api (PNKA) berubah menjadi Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA).

Kemudian pada tahun 1991 dengan PP No.57 tahun 1990, Perusahaan Jawatan

Kereta Api (PJKA) berubah menjadi Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka).

Dan dengan Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 1998, Perumka berubah status

menjadi Persero dengan nama PT. Kereta Api Indonesia (Persero).

2.3.3 Sarana perkeretaapian

sarana perkeretaapian terdiri dari:

a. lokomotif;

b. kereta;

c. gerbong; dan

d. peralatan khusus.

Setiap sarana perkeretaapian wajib memenuhi persyaratan teknis dan kelaikan

operasi yang berlaku bagi setiap jenis sarana perkeretaapian. Untuk itu sarana

perkeretaapian perlu dilakukan pengujian dan pemeriksaan secara berkala.

Adapun ketentuan dalam melaksanakan pengujian dan pemeriksaan sarana

perkeretaapian ini adalah:

1. Untuk memenuhi persyaratan teknis dan menjamin kelaikan operasi sarana

(42)

25

2. Pengujian sarana perkeretaapian dilakukan oleh Pemerintah dan dapat

dilimpahkan kepada badan hukum atau lembaga yang mendapat akreditasi

dari Pemerintah;

3. Pemeriksaan sarana perkeretaapian wajib dilakukan oleh Penyelenggara

Sarana Perkeretaapian;

4. Pelaksanaan pengujian sarana perkeretaapian wajib menggunakan

peralatan pengujian dan sesuai dengan tata cara pengujian yang ditetapkan

oleh Menteri.

5. Setiap badan hukum atau lembaga pengujian sarana perkeretaapian wajib

melakukan pengujian sarana perkeretaapian dengan tenaga penguji sarana

perkeretaapian yang memiliki sertifikat keahlian sarana perkeretaapian dan

menggunakan peralatan pengujian prasarana perkeretaapian yang sesuai

dengan tata cara pengujian sarana perkeretaapian yang ditetapkan.

2.3.4 Prasarana perkeretaapian

Prasarana perkeretaapian terdiri dari jalur kereta api, stasiun kereta api, dan

fasilitas pengoperasian kereta api.

a. Jalur kereta api

Jalur kereta api untuk perkeretaapian membentuk satu kesatuan jaringan jalur

kereta api. Jalur kereta api terdiri dari:

a) jaringan jalur kereta api nasional yang ditetapkan dalam rencana induk

perkeretaapian nasional;

b) jaringan jalur kereta api provinsi yang ditetapkan dalam rencana induk

(43)

26

c) jaringan jalur kereta api kabupaten/kota yang ditetapkan dalam rencana

induk perkeretaapian kabupaten/kota.

Jalur kereta api yang diselenggarakan oleh beberapa penyelenggara prasarana

perkeretaapian dapat saling bersambungan, bersinggungan, atau terpisah.

Pembangunan dan pengoperasian jalur kereta api yang bersambungan atau

bersinggungan dilakukan atas dasar kerja sama antar penyelenggara prasarana

perkeretaapian. Dalam hal penyelenggaraan jalur kereta api dioperasikan oleh

pihak lain, penyelenggaraannya harus dilakukan atas dasar kerjasama antara

penyelenggara prasarana dan pihak lain tersebut. Satu jalur kereta api untuk

perkeretaapian dapat digunakan oleh beberapa penyelenggara sarana

perkeretaapian.

Sesuai dengan UU No. 23/2007 pasal 35 bahwa Jalur kereta api sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) huruf a diperuntukkan bagi pengoperasian kereta api.

Jalur kereta api meliputi:

a) Ruang manfaat jalur kereta api

Ruang manfaat jalur kereta api sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36

huruf a terdiri dari jalan rel dan bidang tanah di kiri dan kanan jalan rel

beserta ruang di kiri, kanan, atas, dan bawah yang digunakan untuk

konstruksi jalan rel dan penempatan fasilitas operasi kereta api serta

bangunan pelengkap lainnya. Ruang manfaat jalur kereta api

diperuntukkan bagi pengoperasian kereta api dan merupakan daerah yang

tertutup untuk umum. Jalan rel dapat berada:

(44)

27

Batas ruang manfaat jalur kereta api untuk jalan rel pada

permukaan tanah diukur dari sisi terluar jalan rel beserta bidang

tanah di kiri dan kanannya yang digunakan untuk konstruksi jalan

rel termasuk bidang tanah untuk penempatan fasilitas operasi

kereta api dan bangunan pelengkap lainnya. Batas ruang manfaat

jalur kereta api untuk jalan rel pada permukaan tanah yang masuk

terowongan diukur dari sisi terluar konstruksi terowongan. Batas

ruang manfaat jalur kereta api untuk jalan rel pada permukaan

tanah yang berada di jembatan diukur darisisi terluar konstruksi

jembatan.

2. di bawah permukaan tanah

Batas ruang manfaat jalur kereta api untuk jalan rel di bawah

permukaan tanah diukur dari sisi terluar konstruksi bangunan jalan

rel di bawah permukaan tanah termasuk fasilitas operasi kereta api.

3. di atas permukaan tanah.

Batas ruang manfaat jalur kereta api untuk jalan rel di atas

permukaan tanah diukur dari sisi terluar dari konstruksi jalan rel

atau sisi terluar yang digunakan untuk fasilitas operasi kereta api.

b) Ruang milik jalur kereta api

Ruang milik jalur kereta api adalah bidang tanah di kiri dan di kanan ruang

manfaat jalur kereta api yang digunakan untuk pengamanan konstruksi

jalan rel. Ruang milik jalur kereta api di luar ruang manfaat jalur kereta api

(45)

28

ketentuan tidak membahayakan konstruksi jalan rel dan fasilitas operasi

kereta api.

Batas ruang milik jalur kereta api adalah:

1. Untuk jalan rel yang terletak pada permukaan tanah diukur dari

batas paling luar sisi kiri dan kanan ruang manfaat jalur kereta api.

2. Batas ruang milik jalur kereta api untuk jalan rel yang terletak di

bawah permukaan tanah diukur dari batas paling luar sisi kiri dan

kanan serta bagian bawah dan atas ruang manfaat jalur kereta api.

3. Batas ruang milik jalur kereta api untuk jalan rel yang terletak di

atas permukaan tanah diukur dari batas paling luar sisi kiri dan

kanan ruang manfaat jalur kereta api.

c) Ruang pengawasan jalur kereta api.

Ruang pengawasan jalur kereta api adalah bidang tanah atau bidang lain di

kiri dan di kanan ruang milik jalur kereta api untuk pengamanan dan

kelancaran operasi kereta api. Batas ruang pengawasan jalur kereta api

untuk jalan rel yang terletak pada permukaan tanah diukur dari batas

paling luar sisi kiri dan kanan daerah milik jalan kereta api. Tanah yang

terletak di ruang milik jalur kereta api dan ruang manfaat jalur kereta api

disertifikatkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Tanah di

ruang pengawasan jalur kereta api dapat dimanfaatkan untuk kegiatan lain

(46)

29

b. Stasiun kereta api

Sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b pasal 35 UU No. 23/2007, Stasiun

kereta api berfungsi sebagai tempat kereta api berangkat atau berhenti untuk

melayani:

a) naik turun penumpang;

b) bongkar muat barang; dan/atau

c) keperluan operasi kereta api.

Stasiun kereta api dikelompokkan dalam kelas besar, kelas sedang dan kelas kecil.

Pengelompokan kelas stasiun kereta api berdasarkan kriteria fasilitas operasi,

frekuensi lalu lintas, jumlah penumpang, jumlah barang, jumlah jalur dan fasilitas

penunjang. Stasiun kereta api dapat menyediakan jasa pelayanan khusus. Jasa

pelayanan khusus dapat berupa ruang tunggu penumpang, bongkar muat barang,

pergudangan, parkir kendaraan dan penitipan barang. Pengguna jasa pelayanan

khusus dikenai tarif jasa pelayanan tambahan.

c. Fasilitas pengoperasian kereta api

Fasilitas operasi kereta api sebagaimana dimaksud pada pasal 35 ayat (1) huruf c

UU No. 23/2007 merupakan peralatan untuk pengoperasian perjalanan kereta api.

Fasilitas pengoperasian kereta api sebagaimana meliputi:

a) Peralatan Persinyalan

Peralatan persinyalan berfungsi sebagai petunjuk dan pengendali.

Peralatan persinyalan terdiri dari:

1. sinyal;

(47)

30

3. marka.

b) Peralatan Telekomunikasi

Peralatan telekomunikasi berfungsi sebagai penyampai informasi dan/atau

komunikasi bagi kepentingan operasi perkeretaapian. Peralatan

telekomunikasi menggunakan frekuensi radio dan/atau kabel. Penggunaan

frekuensi radio dilakukan berdasarkan ketentuan peraturan

perundang-undangan di bidang telekomunikasi.

c) Instalasi Listrik.

Instalasi listrik terdiri dari catu daya listrik dan peralatan transmisi tenaga

listrik. Instalasi listrik dioperasikan berdasarkan peraturan

perundang-undangan di bidang ketenagalistrikan. Instalasi listrik digunakan untuk:

1. Menggerakkan kereta api bertenaga listrik;

2. Memfungsikan peralatan persinyalan kereta api yang bertenaga

listrik;

3. Memfungsikan peralatan telekomunikasi; dan

4. Memfungsikan fasilitas penunjang lainnya.

2.4 Pembinaan Perkeretaapian Nasional dan Daerah

Pada dasarnya Perkeretaapian dikuasai oleh Negara dan pembinaan terhadap

perkeretaapian dilaksanakan sepenuhnya oleh Pemerintah. Hal ini sesuai dengan

yang disebutkan dalam Pasal 13 dan 14 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007.

Pasal 13:

1) Perkeretaapian dikuasai oleh Negara dan pembinaannya dilakukan oleh

Pemerintah.

(48)

31

a. pengaturan;

b. pengendalian; dan

c. pengawasan.

3) Arah pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk

memperlancar perpindahan orang dan/atau barang secara massal dengan

selamat, aman, nyaman, cepat, tepat, tertib, dan teratur, serta efisien.

4) Sasaran pembinaan perkeretaapian sebagaimana dimaksud pada ayat(1)

bertujuan untuk menunjang pemerataan, pertumbuhan, stabilitas,

pendorong, dan penggerak pembangunan nasional.”

Pasal 14:

1) Pembinaan perkeretaapian nasional dilaksanakan oleh Pemerintah yang

meliputi:

a. penetapan arah dan sasaran kebijakan pengembangan perkeretaapian

nasional, provinsi, dan kabupaten/kota;

b. penetapan, pedoman, standar, serta prosedur penyelenggaraan dan

pengembangan perkeretaapian;

c. penetapan kompetensi pejabat yang melaksanakan fungsi di bidang

perkeretaapian;

d. pemberian arahan, bimbingan, pelatihan, dan bantuan teknis kepada

Pemerintah Daerah, penyelenggara dan pengguna jasa perkeretaapian;

dan

e. pengawasan terhadap perwujudan pengembangan sistem

(49)

32

2) Pembinaan perkeretaapian provinsi dilaksanakan oleh pemerintah provinsi

yang meliputi:

a. penetapan arah dan sasaran kebijakan pengembangan perkeretaapian

provinsi, dan kabupaten/kota;

b. pemberian arahan, bimbingan, pelatihan dan bantuan teknis kepada

kabupaten/kota, penyelenggara dan pengguna jasa perkeretaapian; dan

c. pengawasan terhadap penyelenggaraan perkeretaapian provinsi.

3) Pembinaan perkeretaapian kabupaten/kota dilaksanakan oleh pemerintah

kabupaten/kota yang meliputi:

a. penetapan arah dan sasaran kebijakan pengembangan perkeretaapian

kabupaten/kota;

b. pemberian arahan, bimbingan, pelatihan, dan bantuan teknis kepada

penyelenggara dan pengguna jasa perkeretaapian; dan pengawasan

terhadap penyelenggaraan perkeretaapian kabupaten/kota.

2.5 Penyelenggaraan Perkeretaapian

Penyelenggaran merupakan suatu usaha atau kegiatan tertentu yang dilakukan

untuk mewujudkan rencana atau program dalam kenyataannya. Perkeretaapian

diselenggarakan dengan tujuan untuk memperlancar perpindahan orang dan/atau

barang secara massal dengan selamat, aman, nyaman, cepat dan lancar, tepat,

tertib dan teratur, efisien, serta menunjang pemerataan, pertumbuhan, stabilitas,

pendorong, dan penggerak pembangunan nasional. Penyelenggaraan

perkeretaapian sebagaimana dimaksud pasal 17 UU No. 23/2007 berupa Sarana

(50)

33

2.5.1 Penyelenggaraan Sarana

Tentang kegiatan penyelenggaraan sarana perkeretaapian sebagaimana dimaksud

pasal 23 UU No. 23/2007, Penyelenggaraan sarana perkeretaapian umum

dilakukan oleh Badan Usaha sebagai penyelenggara, baik secara sendiri-sendiri

maupun melalui kerja sama. Dalam hal tidak ada badan usaha yang

menyelenggarakan sarana perkeretaapian umum, Pemerintah atau Pemerintah

Daerah dapat menyelenggarakan sarana perkeretaapian. Penyelenggaraan sarana

perkeretaapian meliputi kegiatan:

a) Pengadaan Sarana

Pengadaan sarana perkeretaapian wajib memenuhi persyaratan teknis

sarana perkeretaapian.

b) Pengoperasian Sarana

Pengoperasian sarana perkeretaapian wajib memenuhi standar kelaikan

operasi sarana perkeretaapian.

c) Perawatan Sarana

Perawatan sarana perkeretaapian wajib:

1. memenuhi standar perawatan sarana perkeretaapian; dan

2. dilakukan oleh tenaga yang memenuhi persyaratan dan kualifikasi

keahlian di bidang sarana perkeretaapian.

d) Pengusahaan Sarana.

Pengusahaan sarana perkeretaapian umum wajib dilakukan berdasarkan

(51)

34

Badan Usaha yang menyelenggarakan sarana perkeretaapian umum wajib

memiliki:

a) Izin usaha penyelenggara sarana perkeretaapian umum diterbitkan oleh

Pemerintah.

b) Izin operasi sarana perkeretaapian umum diterbitkan oleh:

1. Pemerintah untuk pengoperasian sarana perkeretaapian umum yang

jaringan jalurnya melintasi batas wilayah provinsi dan batas

wilayah negara;

2. Pemerintah Provinsi untuk pengoperasian sarana perkeretaapian

umum yang jaringan jalurnya melintasi batas wilayah

kabupaten/kota dalam satu provinsi; dan

3. Pemerintah Kabupaten/kota untuk pengoperasian sarana

perkeretaapian umum yang jaringan jalurnya dalam wilayah

kabupaten/kota.

2.5.2 Penyelenggaraan Prasarana

Prasarana perkeretaapian adalah jalur kereta api, stasiun kereta api, dan fasilitas

operasi kereta api agar kereta api dapat dioperasikan. Sebagaimana yang

dimaksud dalam pasal 23 UU No. 23/2007, penyelenggaraan prasarana

perkeretaapian umum dilakukan oleh Badan Usaha sebagai penyelenggara, baik

secara sendiri-sendiri maupun melalui kerja sama. Dalam hal tidak ada Badan

Usaha yang menyelenggarakan prasarana perkeretaapian umum, Pemerintah atau

(52)

35

penyelenggaraan prasarana perkeretaapian umum sebagaimana dimaksud pasal 18

UU No. 23/2007meliputi kegiatan:

a) Pembangunan prasarana

Pembangunan prasarana perkeretaapian wajib:

1. berpedoman pada ketentuan rencana induk perkeretaapian; dan

2. memenuhi persyaratan teknis prasarana perkeretaapian.

b) Pengoperasian Prasarana

Pengoperasian prasarana perkeretaapian wajib memenuhi standar kelaikan

operasi prasarana perkeretaapian.

c) Perawatan Prasarana

Perawatan prasarana perkeretaapian wajib:

1. memenuhi standar perawatan prasarana perkeretaapian; dan

2. dilakukan oleh tenaga yang memenuhi persyaratan dan kualifikasi

keahlian di bidang prasarana perkeretaapian.

d) Pengusahaan Prasarana.

Pengusahaan prasarana perkeretaapian wajib dilakukan berdasarkan

norma, standar, dan kriteria perkeretaapian.

Badan Usaha yang menyelenggarakan prasarana perkeretaapian umum harus

memiliki izin yang diberikan oleh:

a. Pemerintah untuk penyelenggaraan prasarana perkeretaapian umum yang

(53)

36

b. Pemerintah Provinsi untuk penyelenggaraan prasarana perkeretaapian

umum yang jaringan jalurnya melintasi batas wilayah kabupaten/kota

dalam satu provinsi setelah mendapat persetujuan dari Pemerintah; dan

c. Pemerintah Kabupaten/kota untuk penyelenggaraan perkeretaapian umum

yang jaringan jalurnya dalam wilayah kabupaten/kota setelah mendapat

rekomendasi pemerintah provinsi dan persetujuan Pemerintah.

Izin yang digunakan untuk menyelenggarakan prasarana perkeretaapian yaitu:

a. Izin Usaha

Izin usaha penyelenggaraan prasarana perkeretaapian umum diterbitkan

oleh pemerintah.

b. Izin Pembangunan

Izin pembangunan prasarana perkeretaapian diterbitkan setelah

dipenuhinya persyaratan teknis prasarana perkeretaapian.

c. Izin Operasi

Izin operasi prasarana perkeretaapian diterbitkan setelah dipenuhinya

persyaratan kelaikan operasi prasarana perkeretaapian.

2.6 Jenis Perlintasan Sebidang

Jalan perlintasan adalah perpotongan sebidang antara jalur rel yang dipergunakan

untuk perjalanan kereta api dengan jalur yang dipergunakan untuk lalu lintas

kendaraan jalan raya.

1. Jenis perlintasan secara hukum

(54)

37

a. Perlintasan resmi adalah perlintasan sebidang yang keberadaannya telah

memiliki syarat-syarat dan ketentuan hukum sesuai Undang-Undang

Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian.

b. Perlintasan tidak resmi adalah perlintasan sebidang yang keberadaannya

belum / tidak memiliki syarat-syarat dan ketentuan hukum sesuai

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian.

2. Jalan perlintasan dipandang dari sudut pengamanan

Jalan perlintasan dipandang dari sudut pengamanan dibagi atas 4 jenis, yaitu :

a. Perlintasan dijaga dilengkapi rambu-rambu lalu lintas dan alat bantu

pengamanan berupa peralatan “elektrik manual operated” yang

dioperasikan oleh seorang pegawai yang ditunjuk, memenuhi syarat untuk

melakukan pekerjaan tersebut serta memiliki tanda kecakapan.

b. Perlintasan tidak dijaga dilengkapi dengan rambu-rambu lalu lintas dan

alat bantu pengamanan berupa peralatan “elektrik automatic operated”

atau “automatic train warning”. Peralatan tersebut bekerja secara aotomatis

berdasarkan posisi kereta api yang akan melintas sehingga tidak

diperlukan pegawai yang mengoperasikannya.

c. Perlintasan tidak dijaga dan dilengkapi rambu-rambu lalu lintas namun

tidak dilengkapi alat bantu pengamanan jenis apapun.

d. Perlintasan tidak dijaga, tidak dilengkapi rambu-rambu lalu lintas dan

(55)

38

Saat ini terdapat beberapa jenis pintu perlintasan dipandang dari 2 sudut tersebut,

yaitu :

1. Perlintasan resmi, dijaga dan dilengkapi rambu dan alat bantu

pengamanan.

2. Perlintasan resmi, tidak dijaga namun dilengkapi rambu dan alat bantu

pengamanan.

3. Perlintasan tidak resmi, tidak dijaga dilengkapi rambu dan alat bantu

pengamanan.

4. Perlintasan tidak resmi, tidak dijaga, dilengkapi rambu namun tidak

dilengkapi alat bantu pengamanan.

5. Perlintasan tidak resmi, tidak dijaga, tidak dilengkapi rambu dan tidak

dilengkapi alat bantu pengamanan biasanya disebut perlintasan liar.

2.7 Data Perlintasan Sebidang di Kota Bandar Lampung

Perlintasan sebidang kereta api yang terbagi kedalam tiga kategori perlintasan

yaitu resmi dijaga, resmi tidak dijaga dan perlintasan tidak resmi (liar) berjumlah

seratus dua puluh delapan (128) perlintasan pada tahun 2013. Berikut tabel

kategori perlintasan sebidang kereta api di wilayah kewenangan PT. KAI Sub

Gambar

Tabel Kategori Perlintasan sebidang Kereta Api Wilayah PT. KAI Sub Divre 3.2
Tabel Perlintasan sebidang Rawan Kecelakaan Wilayah PT. KAI Sub Divre 3.2

Referensi

Dokumen terkait

1) Sensor 4ltrasonic berfungsi untuk mendeteksi objek dalam hal ini kereta api yang melintas. 2) Arduino Yun digunakan sebagai penerjemah data analog dari personal komputer