WEWENANG PENGADAAN FASILITAS KEAMANAN PERLINTASAN
KERETA API DI KOTA BANDAR LAMPUNG
(SKRIPSI)
Oleh:
MUHAMAD MALIKI
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRACT ensure the safety of rail travel and general road users, and must be supported with good regulation and obvious. Up to now the regulation contained in Law No. 23 Year 2007 on Railways is less obvious set of security issues, so the Local Government and PT. KAI impressed allways throwing responsibility. The problem in this study were (1) How does the regulation authority provision of security of railway crossings in the city of Bandar Lampung? (2) How is the implementation of the procurement authority facility railroad crossing safety in Bandar Lampung?
This research method using a normative approach and empirical jurisdiction. The data source consists of primary data and secondary data. Methods of data collection done by library research and field research. Data processing is done by inspection, classification, and systematic preparation. Analysis of the data using qualitative methods.
ABSTRAK
WEWENANG PENGADAAN FASILITAS KEAMANAN PERLINTASAN KERETA API DI KOTA BANDAR LAMPUNG
Oleh
MUHAMAD MALIKI
Faktor keselamatan dalam penyelenggaraan perkeretaapian ditentukan oleh fasilitas keamanan yang dapat menjamin keselamatan perjalanan kereta api dan pengguna jalan umum, serta harus didukung dengan pengaturan yang baik dan jelas. Hingga saat ini pengaturan yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian kurang jelas mengatur permasalahan keamanan tersebut, sehingga pihak Pemerintah Daerah dan PT. KAI terkesan saling lempar tanggung jawab. Permasalahan dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimanakah pengaturan wewenang pengadaan fasilitas keamanan perlintasan kereta api di Kota Bandar Lampung? (2) Bagaimanakah pelaksanaan wewenang pengadaan fasilitas keamanan perlintasan kereta api di Kota Bandar Lampung?
Metode penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif dan yuridis empiris. Sumber data terdiri dari data primer dan data sekunder. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara studi kepustakaan dan penelitian lapangan. Pengolahan data dilakukan dengan cara pemeriksaan, pengklasifikasian, dan penyusunan sistematis. Analisis data menggunakan metode kualitatif.
WEWENANG PENGADAAN FASILITAS KEAMANAN PERLINTASAN
KERETA API DI KOTA BANDAR LAMPUNG
Oleh
Muhamad Maliki
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Hukum
Pada
Bagian Hukum Administrasi Negara Fakultas Hukum Universitas Lampung
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Desa Kejadian Kecamatan Tegineneng Kabupaten
Pesawaran pada tanggal 18 Januari 1990, merupakan putra pertama dari 3
bersaudara diantaranya Khusnul Khotimah, dan Ilhamsyah, pasangan
Ayahanda H. M. Rois dan Ibunda Hj. Khomsatin. Riwayat pendidikan penulis diawali dari
pendidikan, pada Sekolah Dasar SDN 2 Kejadian lulus pada tahun 2003, Sekolah Menengah
Pertama di SMPN 1 Natar lulus pada tahun 2005, Sekolah Menengah Atas di SMAN 1 Natar
lulus pada tahun 2008, kemudian pada tahun 2009 penulis diterima sebagai Mahasiswa
Fakultas Hukum Universitas Lampung dan pada tahun 2013 penulis mengikuti Kuliah Kerja
Nyata (KKN) di Desa Negeri Jemanten Kecamatan Margatiga Kabupaten Lampung Timur.
Selama menjadi mahasiswa penulis juga aktif di dunia kemahasiswaan baik di internal dan
eksternal kampus, di internal kampus penulis mengawali karirnya di BEM FH sebagai
Sekretaris Bidang Advokasi dan Propaganda 2010-2011, BEM FH sebagai Kepala Dinas
Pembinaan Sumber Daya Manusia (PSDM) 2011-2012, DPM FH sebagai Sekretaris DPM
FH 2012-2013. Di eksternal kampus penulis aktif sebagai kader Himpunan Mahasiswa Islam
(HmI) diawali pada Basic Training LK I di Komisariat Hukum Unila pada tahun 2010.
Selama berproses di HMI Komisariat Hukum Unila penulis pernah diamanahkan menjadi
pengurus sampai dengan presedium HMI Komisariat Hukum Unila yaitu di Departemen
MOTO
“Demi waktu matahari sepenggalah naik, dan demi waktu malam apabila telah sunyi,
Tuhan-mu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu, dan sesungguhnya
akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan, Dan kelak Tuhan-mu pasti Memberikan
Karunia-Nya kepadamu, lalu(hati) kamu menjadi puas.
PERSEMBAHAN
Dengan kerendahan hati dan puji syukur atas kehadirat Allah SWT kupersembahkan skripsiku yang
sederhana ini kepada :
Kedua orang tuaku tercinta, yang telah mendoakan, membesarkan, mendidik, mendukung, memberi
dorongan dan selalu menanti keberhasilanku.
Para dosen yang telah mendidikku.
Almamater tercinta.
Kanda, Yunda dan Adinda Himpunan Mahasiswa Islam (HmI) Cabang Bandar Lampung Komisariat
Hukum Universitas Lampung.
Untuk adik-adikku terimakasih untuk semua motivasi, do’a dan harapan yang selalu memberi kekuatan
SANWACANA
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Alhamdulillah, Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas limpahan
rahmat dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini, dengan judul
“Wewenang Pengadaan Fasilitas Keamanan Perlintasan Kereta Api Di Kota Bandar
Lampung”, dengan harapan agar hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi upaya pengembangan hukum lalulintas di Indonesia pada umumnya.
Dalam menyelesaikan skripsi ini penulis telah banyak mendapat bantuan dari beberapa pihak,
yang penulis yakin bahwa tanpa bantuan tersebut skripsi ini tidak akan terwujud.
Penghargaan yang tinggi dan rasa terima kasih yang tak terhingga penulis sampaikan kepada
Bapak S. Charles Jackson, SH., M.H., selaku dosen pembimbing I (satu) dan Ibu Ati Yuniati,
S.H., M.H., selaku dosen pembimbing II (dua) yang telah banyak meluangkan waktu, pikiran,
serta memberi dorongan semangat dan pengarahan kepada penulis dalam upaya penyusunan
skripsi ini. Selain itu Beliau telah membuka wawasan penulis dan menambah pengetahuan
yang sangat berharga.
Penghargaan dan terima kasih tak terhingga penulis sampaikan kepada :
1. Bapak Dr. Hi. Heryandi, SH., MS., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Lampung
beserta staf yang telah memberikan bantuan dan kemudahan kepada Penulis selama
2. Ibu Upik Hamidah, S.H., M.H. Ketua Bagian Hukum Administrasi Negara yang telah
banyak membantu dalam proses penyelesaian skripsi ini.
3. Bapak S. Charles Jackson, S.H., M.H. pembimbing satu, yang telah meluangkan waktu,
pikiran, serta memberi dorongan semangat dan pengarahan kepada penulis dalam upaya
penyusunan skripsi ini.
4. Ibu Ati Yuniati, S.H., M.H. pembimbing dua, yang telah meluangkan waktu, pikiran, serta
memberi dorongan semangat dan pengarahan kepada penulis dalam upaya penyusunan
skripsi ini.
5. Ibu Nurmayani, S.H., M.H., pembahas satu dan juga penguji utama yang telah memberikan
bimbingan dan pengarahan dalam penulisan skripsi ini.
6. Bapak Agus Triono, S.H., M.H., pembahas dua yang telah memberikan bimbingan dan
pengarahan dalam penulisan skripsi ini.
7. Bapak Dita Febriyanto, S.H., M.Hum., dosen Pembimbing Akademik yang telah
memberikan bimbingan dan pengarahan selama penulis menjadi mahasiswa.
8. Kakanda Dr. Hamzah, S.H., M.H., Pembantu dekan III dan Mas Rusmiadi S.H., Kabag
kemahasiswaan yang telah banyak memberi dorongan semangat dan pengarahan selama
penulis berproses di Lembaga Kemahasiswaan Fakultas Hukum Universitas Lampung.
9. Bapak dan Ibu dosen pada Fakultas Hukum Universitas Lampung yang telah membimbing
10. Yang tercinta ayahanda H. M. Rois dan Ibunda Hj. Khomsatin., yang telah bersusah
payah mengasuh, mendidik dan membesarkan dengan penuh kasih sayang dan kesederhanaan
serta tidak bosan-bosannya mendoakan keberhasilan penulis.
11. Adik-adikku tersayang, Khusnul Khotimah dan Ilhamsyah yang selalu mendukung dan
mendoakan keberhasilan ku,
12. Buat “kamu” yang selalu mengisi keseharian dan hatiku, terimaksih atas dukungan yang
selalu tiada henti-hentinya untuk mendapingiku, membantuku, menjadikanku tetap semangat,
serta semua yang telah kamu korbankan dan usahakan untukku dalam menyelesaikan skripsi ini.
13.Kanda Heryandi (cendi), Kanda Yoni Patriadi, Kanda Febri, Kanda Heri Wijaya, Kanda
Angga Leo Nariski, Kanda Agus Tomi, Kanda Iqbal Ade Basrie, Kanda Arief Rachman
Hakim serta kakanda yang lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, yang telah banyak
memberikan bimbingan, pengarahan, dorongan semangat selama penulis menjadi kader dan
Presedium Himpunan Mahasiswa Islam (HmI) Cabang Bandar Lampung Komisariat Hukum
Unila.
14. Saudara-saudaraku sekaligus sahabat seperjuanganku presedium KHU 2012-2013, Suntan
Satria Reva, Azam Akhmad Akhsya, Galuh Kahfie Husein, Andriawan Kusuma, Sutono,
yang telah setahun bersama mengemban Amanah dan konstitusi Himpunan Mahasiswa Islam
(HmI) untuk mengapdi menjadi Presedium KHU.
15. Adinda-adindaku sekalian angkatan Basic Traning LK 1, Alif Kecil, Prabu Dafa dan
Samudra Byzantium maupun yang Basic Traning LK 1 diluar KHU saya ucapkan terima
kasih banyak telah aktif berproses serta membantu kinerja saya selama periode pengurusan
16.Sahabat-sahabatku dilingkungan HmI Cabang Bandar lampung, Ketum Muslim, Ketum
Hadi, Makro, Panca, Bang Eendy, Bang Entol, serta sahabat-sahabatku yang tidak bisa saya
sebutkan satu persatu, terima kasih banyak telah banyak memberikan dorongan semangat
selama saya berproses menajadi kader di HmI.
17. Sahabat-sahabatku selama saya menjadi mahasiswa di Fakultas Hukum Universitas
Lampung dan di DPM FH priode 2012-2013, Yulius Nanda Sionaris, Ryan Agung
Saputra,Liberty Maranata Sitepu, Timoteus Kristianto Silalahi terima kasih banyak selama ini
telah menjadi sahabat terbaik dalam berbagi keluh kesah dalam susah dan senang.
18. Teman-temanku di Kost Rahmayani yaitu, Aditya, Dwi, Dian yang selalu memberi
semangat supaya cepat mengerjakan skripsi dan segera wisuda.
19. Keluaga Besar Bapak Malih yang telah bersedia mengizinkan saya dan teman-teman
selama 40 hari tinggal dirumah keluarga beliau pada saat saya Kuliah Kerja Nyata (KKN) di
Desa Negeri Jemanten, Kecamatan Margatiga, Kabupaten Lampung Timur.
20. Sahabat- sahabatku Pada Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Negeri Jemanten
yaituWilliam, Datas, Yomi, Ari, Topik, Eka, Ani, Santi, Novia. Terima kasih banyak berkat
KKN selama 40 hari bersama kalian saya mendapatkan keluarga baru.
21. Serta semua pihak yang berada di luar kampus saya ucapkan terimaksih banyak kepada
Yuk Ita yang selalu memberi saran dan masukannya, bayu sepupu yang ganteng dan cerdas
yang selalu memberikan semangat, dan juga teman-teman di kampung Wayhindik kak Abas,
kak Iron, Saprawi, apis, Ayah Aprizal yang membagi wawasan dan pengalamannya, serta
22. Semua pihak dan rekan-rekan yang telah banyak membantu dalam penyusunan dan
penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu saya ucapkan terimakasih.
Penulis menyadari bahawa skripsi ini kurang sempurna, oleh karenanya kritik dan saran
apapun bentuknya penulis hargai guna melengkapi kekurangan-kekurangan yang ada, namun
demikian penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat. Semoga amal ibadah di
terima oleh Allah AWT.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Bandar Lampung, Juli 2014
Penulis
DAFTAR ISI
1.3 Ruang Lingkup Penelitian ... 7
1.4 Tujuan Penelitian dan Kegunaan Penelitian ... 7
1.4.1 Tujuan Penelitian ... 7
1.4.2 Kegunaan Penelitian ... 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Umum Kewenangan ... 10
2.2 Tinjauan UmumTransportasi ... 17
2.2.1 Pengertian ... 17
2.2.2 PerananTransportasi ... 18
2.3 Tinjauan UmumPerkeretaapian ... 19
2.3.1 Pengertian ... 19
2.3.2 Sejarah Singkat ... 20
2.3.4 Prasarana Perkeretaapian ... 25
2.4 Pembinaan Perkeretaapian Nasional dan Daerah ... 30
2.5 Penyelenggaraan Perkeretaapian ... 32
2.5.1 Penyelenggaraan Sarana ... 33
2.5.2 Penyelenggaraan Prasarana ... 34
2.6 Jenis Perlintasan Sebidang ... 36
2.7 Data Perlintasan Sebidang di KotaBandar Lampung ... 38
2.8 Sistem Jaringan Perkeretaapian Kota Bandar Lampung ... 41
2.9 Kawasan Perlindungan Setempat atau Kawasan Sempadan Perkeretaapian ... 43
BAB III METODE PENELITIAN
BAB 1V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum PT. KAI ... 50
4.1.1 Profil Perusahaan ... 50
4.1.2 Susunan Organisasi ... 51
4.2 Gambaran Umum Dinas Perhubungan Provinsi Lampung ... 52
4.2.1 Kedudukan, Tugas Pokok dan Fungsi ... 53
4.2.2 Susunan Organisasi ... 55
4.3 Pengaturan Wewenang Pengadaan Fasilitas Keamanan Perlintasan Kereta Api di Kota Bandar Lampung ... 56
4.3.1 Wewenang dan Tanggung Jawab Pemegang Izin Terhadap Keamanan Perlintasan Kereta Api ... 56
4.3.2 Wewenang Penutupan Perlintasan Sebidang ... 58
4.4.1 Pelaksanaan Wewenang Dinas Perhubungan
Provinsi Lampung ... 61 4.4.2 Pelaksanaan Wewenang PT. Kereta Api Indonesia (Persero)
... 64
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ... 66 5.2 Saran ... 67
BAB I PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Saat ini bangsa Indonesia mengalami perkembangan dan kemajuan di segala
bidang yang sangat membutuhkan perhatian untuk mewujudkan masyarakat adil
makmur berdasarkan amanat Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai
tujuan nasional bangsa Indonesia. Salah satu sektor yang paling penting dalam
mewujudkan tujuan nasional bangsa ini adalah transportasi. Menurut Zulfiar
sani,transportasi berasal dari 2 kata yaitu (Trans = Perpindahan dan Port = tempat
asal dan tujuan) adalah perpindahan orang dan atau barang dari satu tempat ke
tempat lainnya atau dari tempat asal ke tempat tujuan dengan menggunakan
sebuah wahana yang digerakkan oleh manusia, hewan atau mesin.Jadi yang
dimaksud dengan transportasi yaitu perpindahan barang atau penumpang
darisuatu tempat ke tempat lain dimana produk dipindahkan ke tempat tujuan
dibutuhkan.
Sudah tidak diragukan lagi bahwa transportasi merupakan tulang punggung
perekonomian suatu bangsa. Buruknya sistem transportasi akan merugikan dari
segi ekonomi secara menyeluruh. Negara yang maju ditandai oleh tanah yang
subur, kerja keras dan transportasi yang lancar (Schummer, 1974), hal ini dapat
2
Transportasi merupakan hal yang sangat penting untuk mengadakan hubungan
antar wilayah, karena akan menunjang pemerataan pembangunan. Juga untuk
memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat diseluruh sektor kehidupan dan
sebagai sarana untuk menghubungkan kepentingan antar daerah-daerah di
Indonesia. Selain itu transportasi akan sangat diperlukan oleh setiap orang karena
pada dasarnya setiap orang pasti akan melakukan aktivitasnya masing-masing
dimana untuk menunjang segala aktivitasnya itu akan sangat memerlukan moda
transportasi.
Kegiatan transportasi bukan merupakan suatu tujuan melainkan mekanisme untuk
mencapai tujuan. Untuk mencapai pergerakan yang cepat, aman, nyaman dan
sesuai dengan kebutuhan akan kapasitas angkut maka diperlukan suatu fasilitas
atau prasarana yang mendukung pergerakan tersebut. Penyediaan fasilitas untuk
mendukung dari pergerakan tersebut menyesuaikan dengan jenis moda yang
digunakan. Moda transportasi merupakan istilah yang digunakan untuk
menyatakan alat angkut yang digunakan untuk berpindah tempat dari satu tempat
ketempat lain. Moda yang biasanya digunakan dalam transportasi dapat
dikelompokkan atas moda yang berjalan didarat, berlayar di perairan laut dan
pedalaman serta moda yang terbang di udara.
Indonesia sebagai negara kepulauan yang tersebar dengan tujuhbelas ribuan
lebihpulau hanya bisa terhubungkan dengan baik dengan sistem transportasi multi
moda, tidak ada satu modapun yang bisa berdiri sendiri, saling mengisi.
Masing-masing moda mempunyai keunggulan dibidangnya Masing-masing-Masing-masing. Pemerintah
3
menciptakan sistem transportasi yang efisien, efektif dan dapat digunakan secara
aman dalam menempuh perjalanan dengan cepat dan lancar.
Jaringan transportasi dapat dibentuk oleh moda transportasi yang saling
berhubungan danterangkai dalam Sistem Transportasi Nasional (Sistranas).
Masing-masing moda transportasi memiliki karakteristik teknis yang berbeda dan
pemanfaatannya disesuaikan dengan kondisi geografis daerah layanan.
Sistem Transportasi Nasional (Sistranas) adalah tatanan transportasi yang
terorganisasi secara kesisteman terdiri dari transportasi jalan, transportasi kereta
api, transportasi sungai, danau, dan penyeberangan, transportasi laut serta
transportasi pipa, yang masing-masing terdiri dari sarana dan prasarana, kecuali
pipa, yang saling berinteraksi dengan dukungan perangkat lunak dan perangkat
pikir membentuk suatu sistem pelayanan jasa transportasi yang efektif dan efisien,
berfungsi melayani perpindahan orang dan atau barang, yang terus berkembang
secara dinamis. Moda yang didarat juga masih bisa dikelompokkan atas moda
jalan, moda kereta api dan moda pipa.
Perkeretaapian sebagai salah satu moda transportasi memiliki karakteristik dan
keunggulan khusus, terutama dalam kemampuannya untuk mengangkut, baik
orang maupun barang secara massal, menghemat energi, menghemat penggunaan
ruang, memiliki tingkat pencemaran yang rendah, serta lebih efisien dibandingkan
dengan moda transportasi jalan untuk angkutan jarak jauh dan untuk daerah yang
padat lalu lintasnya, seperti angkutan perkotaan.Dengan keunggulan dan
4
ditingkatkan dalam upaya pengembangan sistem transportasi nasional secara
terpadu.
Kereta Api sebagai alat pengangkutan darat merupakan pendorong dan penggerak
pembangunan nasional demi meningkatkan kesejahteraan rakyat. Usaha
perkeretaapian dikuasai oleh pemerintah dan pelaksanaannya diserahkan kepada
badan penyelenggara yang dibentuk untuk itu. Badan penyelenggara usaha
perkeretaapian adalah PT. (Persero) Kereta Api Indonesia selanjutnya disebut
(PT. KAI) yang berada di bawah Direktorat Jenderal (Dirjen) Perhubungan Darat
Kementerian Perhubungan selanjutnya disebut (Kemenhub).
Penyelenggaraan perkeretaapian yang dimulai dari pengadaan, pengoperasian,
perawatan, dan pengusahaan perlu diatur dengan sebaik-baiknya sehingga dapat
terselenggara angkutan kereta api yang menjamin keselamatan, aman, nyaman,
cepat, tepat, tertib, efisien, serta terpadu dengan moda transportasi lain. Dengan
demikian, terdapat keserasian dan keseimbangan beban antarmoda transportasi
yang mampu meningkatkan penyediaan jasa angkutan bagi mobilitas angkutan
orang dan barang.
Penyelenggaraan perkeretaapian telah menunjukkan peningkatan peran yang
penting dalam menunjang dan mendorong kegiatan perekonomian, memperlancar
kegiatan pemerintahan, memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa, serta
meningkatkan hubungan antar bangsa. Dengan adanya perkembangan teknologi
perkeretaapian dan perubahan lingkungan strategis yang semakin kompetitif dan
tidak terpisahkan dari sistem perekonomian nasional yang menitikberatkan pada
5
peran pemerintah daerah dan swasta guna mendorong kemajuan penyelenggaraan
perkeretaapian nasional.
Untuk itu dalam hal penyelenggaraan moda transportasi perkeretaapian haruslah
diimbangi dengan pengaturan dan pengawasan yang baik serta terpadu mengingat
semakin meningkatnya kebutuhan transportasi bagi mobilitas dalam berkehidupan
sehari-hari. Dengan adanya penyelenggaraan transportasi yang baik dan sesuai
maka berperan sebagai penunjang aktivitas masyarakat. Penyelenggaraan dan
pembinaan transportasi yang baik dimaksudkan sebagai suatu sistem pengaturan
transportasi secara terpadu sehingga mampu mewujudkan mode transportasi yang
sesuai dengan tingkat kebutuhan mobilitas masyarakat yang aman, cepat, lancar,
teratur, dan nyaman.
Dalam hal pengaturan untuk moda transportasi perkeretaapian terdapat pranata
hukum yang mengaturnya yaitu Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1992 tentang
Perkeretaapian selanjutnya disebut (UU No. 13/1992) yang diganti dengan
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian selanjutnya
disebut (UU No. 23/2007), Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2009 tentang
Penyelenggaraan Perkeretaapian selanjutnya disebut (PP No. 56/2009), Peraturan
Pemerintah Nomor 69 Tahun 1998tentangPrasarana Dan Sarana Kereta Api
selanjutnya disebut (PP No. 69/1998) dan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor
36 Tahun 2011 tentang Perpotongan dan/atau Persinggungan Antara Jalur Kereta
Api dengan Bangunan Lain selanjutnya disebut (PM No. 36/2011).
Faktor keselamatan dalam penyelenggaraan perlintasan kereta api tidak hanya
6
yang memadai, untuk itu perlu diciptakan sistem yang dilengkapi oleh alat
pengaman. Sistem itu harus dapat menjamin perjalanan rangkaian kereta api,
diantaranya di setiap perlintasan kereta api dilengkapi dengan rambu-rambu
berupa peringatan, sirine, palang pintu perlintasan, dan petugas penjaga keamanan
palang pintu perlintasan.
Akan tetapi pada kenyataannya banyak perlintasan antara rel kereta api dan jalan
umum sarat dengan permasalahan yakni sering terjadi kecelakaan diperlintasan,
yaitu berupa benturan antara kereta api dengan pengguna jalan umum yang
akibatnya banyak jatuh korban dan timbul kerugian, baik bagi pihak pengguna
jalan umum maupun pihak (PT. KAI). Kecelakaan diberbagai perlintasan pada
umumnya disebabkan karena kelalaian para pengguna perlintasan dan atau
minimnya kesadaran hukum masyarakat terhadap hukum berlalu lintas serta
kurangnya prasarana pendukung perlintasan kereta api.
Seperti diketahui, kecelakaan kereta api dengan kendaraan pribadi marak terjadi di
Kota Bandar-Lampung. Namun begitu, belum tampak komitmen dan upaya serius
pihak terkait mengantisipasi terjadinya kecelakaan di perlintasan kereta api. Pihak
Dinas Perhubungan selanjunya disebut (Dishub) Kota Bandar Lampung dan PT.
KAI terkesan saling lempar tanggung jawab. PT. KAI bersikeras pembangunan
portal di perlintasan kereta api adalah tugas pemda. Sedangkan Dishub, menilai
PT. KAI kurang kooperatif membantu pemerintah Kota Bandar Lampung
7
Melihat permasalahan tersebut peneliti tertarik untuk membahas tentang
“Wewenang Pengadaan Fasilitas Keamanan Perlintasan Kereta Api di Kota Bandar Lampung”.
1.2Rumusan Masalah
Permasalahan pokok yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Bagaimanakah pengaturan wewenang pengadaan fasilitas keamanan
perlintasan kereta api di Kota Bandar Lampung?
2. Bagaimanakah pelaksanaan wewenang pengadaan fasilitas keamanan
perlintasan kereta api di Kota Bandar Lampung?
1.3Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup dari penelitian ini adalah kajian bidang hukum administrasi negara
pada umumnya dan hukum lalulintas dan angkutan jalan pada khususnya
mengenai wewenang pengadaan fasilitas keamanan perlintasan kereta api di kota
Bandar Lampung.
1.4Tujuan Penelitian dan Kegunaan Penelitian 1.4.1 Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang akan dibahas, maka tujuan dari penelitian ini,
adalah:
1. Untuk mengetahui pengaturan wewenang pengadaan fasilitas keamanan
8
2. Untuk mengetahui pelaksanaan wewenang pengadaan fasilitas keamanan
perlintasan kereta api di Kota Bandar Lampung.
1.4.2 Kegunaan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang akan di bahas kegunaan penelitian ini yaitu :
1. Kegunaan teoritis, yaitu berguna sebagai upaya pengembangan wawasan
dibidang Ilmu Hukum Administrasi Negara, khususnya Hukum
Lalulintasdan Angkutan Jalan yang berkaitan dengan wewenang
pengadaan fasilitas keamanan perlintasan kereta api di Kota
Bandar-Lampung.
2. Kegunaan praktis:
a. Diharapkan hasil penelitian ini dapat mengkaji secara objektif
mengenai wewenang pengadaan fasilitas keamanan perlintasan
kereta api di Kota Bandar Lampung.
b. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan informasi
kepada pembaca yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai
wewenang pengadaan fasilitas keamanan perlintasan kereta api di
Kota Bandar Lampung.
c. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi rekomendasi
strategis bagi penyelenggara dalam pengadaan fasilitas keamanan
9
d. Sebagai pemenuhan salah satu syarat akademik bagi peneliti untuk
menyelesaikan studi S1 Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1Tinjauan Umum Wewenang
Penerapan asas negara hukum oleh pejabat administrasi terikat dengan
penggunaan wewenang kekuasaan. Kewenangan pemerintah ini dalam negara
hukum yang menerapkan asas legalitas dalam konstitusinya, sebagaimana tersebut
dalam pasal 1 ayat (3) UUD 1945 perubahan ketiga, mengandung arti bahwa
penyelenggaraan pemerintahan harus didasarkan pada undang-undang dan
memberikan jaminan terhadap hak-hak dasar rakyat.
Asas legalitas menjadi dasar legitimasi tindakan pemerintah. Dengan kata lain,
setiap penyelenggaraan kenegaraan dan pemerintahan harus memiliki legitimasi,
yaitu kewenangan yang diberikan oleh undang-undang. Kewenangan (authority,
gezag) itu sendiri adalah kekuasaan yang diformalkan untuk orang-orang tertentu
atau kekuasaan terhadap bidang pemerintahan tertentu yang berasal dari
kekuasaan legislatif maupun dari pemerintah. Memang hal ini tampak agak
legalistis formal. Memang demikian halnya, hukum dalam bentuknya yang asli
bersifat membatasi kekuasaan dan berusaha untuk memungkinkan terjadinya
keseimbangan dalam hidup bermasyarakat. Sedangkan wewenang (bevoegdheid),
11
S.F.Marbun, menyebutkan wewenang mengandung arti kemampuan untuk
melakukan suatu tindakan hukum publik, atau secara yuridis adalah kemampuan
bertindak yang diberikan oleh undang-undang yang berlaku untuk melakukan
hubungan-hubungan hukum. Wewenang itu dapat mempengaruhi terhadap
pergaulan hukum, setelah dinyatakan dengan tegas wewenang tersebut sah, baru
kemudian tindak pemerintahan mendapat kekuasaan hukum (rechtskracht).
Pengertian wewenang itu sendiri akan berkaitan dengan kekuasaan (Sadjiono,
2008). Dalam arti sosiologis, kekuasaan merupakan suatu kemampuan individu
atau kelompok untuk melaksanakan kemauannya meskipun harus menghadapi
pihak lain yang menentangnya. Kemampuan untuk dapat melaksanakan keinginan
tersebut disebabkan oleh kekuatan fisik, keunggulan psikologis atau kemampuan
intelektual. Kekuasaan seorang akan bertambah apabila ia mendapat sambutan
dari suatu kelompok yang penuh pengabdian untuk mewujudkan tujuannya. Akar
kekuasaan adalah hasrat untuk mendominasi pihak lain dan menundukkan mereka
dibawah pengaruhnya.
Menurut Bagir Manan, dalam Hukum Tata Negara, kekuasaan menggambarkan
hak untuk berbuat atau tidak berbuat. Wewenang mengandung arti hak dan
kewajiban. Hak berisi kebebasan untuk melakukan atau tidak melakukan tindakan
tertentu atau menuntut pihak lain untuk melakukan tindakan tertentu. Kewajiban
memuat keharusan untuk melakukan atau tidak melakukan tindakan tertentu
(Ridwan HR, 2006). Dalam hukum administrasi negara wewenang pemerintahan
yang bersumber dari peraturan perundang-undangan diperoleh melalui cara-cara
12
Atribusi adalah terjadinya pemberian wewenang pemerintahan yang baru oleh
suatu ketentuan dalam peraturan perundang-undangan. Atribusi kewenangan
dalam peraturan perundang-undangan adalah pemberian kewenangan membentuk
peraturan perundang-undangan yang pada puncaknya diberikan oleh UUD 1945
atau UU kepada suatu lembaga negara atau pemerintah. Kewenangan tersebut
melekat terus menerus dan dapat dilaksanakan atas prakarsa sendiri setiap
diperlukan. Disini dilahirkan atau diciptakan suatu wewenang baru.
Legislator yang kompeten untuk memberikan atribusi wewenang pemerintahan
dibedakan :
1. Original legislator, dalam hal ini di tingkat pusat adalah MPR sebagai
pembentuk Undang-Undang Dasar dan DPR bersama Pemerintah sebagai
yang melahirkan suatu undang-undang. Dalam kaitannya dengan
kepentingan daerah, oleh konstitusi diatur dengan melibatkan DPD. Di
tingkat daerah yaitu DPRD dan pemerintah daerah yang menghasilkan
Peraturan Daerah. Misal, UUD 1945 sesudah perubahan, dalam Pasal 5
ayat (2) memberikan kewenangan kepada Presiden dalam menetapkan
Peraturan Pemerintah untuk menjalankan undang-undang sebagaimana
mestinya. Dalam Pasal 22 ayat (1), UUD 1945 memberikan kewenangan
kepada Presiden untuk membentuk Peraturan Pemerintah Pengganti UU
13
2. Delegated legislator, dalam hal ini seperti presiden yang berdasarkan
suatu undang-undang mengeluarkan peraturan pemerintah, yaitu
diciptakan wewenang-wewenang pemerintahan kepada badan atau jabatan
tata usaha negara tertentu.
Misal, dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 9 Tahun 2003, tentang wewenang
pengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian Pegawai Negeri Sipil Pasal 12
ayat (1) Pejabat Pembina Kepegawaian Pusat menetapkan pengangkatan,
pemindahan, dan pemberhentian Pegawai Negeri Sipil Pusat di lingkungannya
dalam dan dari jabatan struktural eselon II ke bawah atau jabatan fungsional yang
jenjangnya setingkat dengan itu.
Pengertian pejabat pembina kepegawaian pusat adalah Menteri pada delegasi,
terjadilah pelimpahan suatu wewenang yang telah ada oleh badan atau jabatan tata
usaha negara yang telah memperoleh wewenang pemerintahan secara atributif
kepada badan atau jabatan tata usaha negara lainnya. Jadi suatu delegasi selalu
didahului oleh adanya suatu atribusi wewenang. Misal, dalam Peraturan Presiden
Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara
Pasal 93 ayat (1) Pejabat struktural eselon I diangkat dan diberhentikan oleh
Presiden atas usul Menteri yang bersangkutan, ayat (2) Pejabat struktural eselon II
ke bawah diangkat dan diberhentikan oleh Menteri yang bersangkutan, ayat (3)
Pejabat struktural eselon III ke bawah dapat diangkat dan diberhentikan oleh
Pejabat yang diberi pelimpahan wewenang oleh Menteri yang bersangkutan.
Pengertian mandat dalam asas-asas Hukum Administrasi Negara, berbeda dengan
14
1945 sebelum perubahan. Menurut penjelasan UUD 1945 Presiden yang diangkat
oleh MPR, tunduk dan bertanggung jawab kepada Majelis. Presiden adalah
mandataris dari MPR, dan wajib menjalankan putusan MPR. Presiden ialah
penyelenggara pemerintah negara yang tertinggi. Dalam Hukum Administrasi
Negara mandat diartikan sebagai perintah untuk melaksanakan atasan;
kewenangan dapat sewaktu-waktu dilaksanakan oleh pemberi mandat, dan tidak
terjadi peralihan tanggung jawab.
Berdasarkan uraian tersebut, apabila wewenang yang diperoleh organ
pemerintahan secara atribusi itu bersifat asli yang berasal dari peraturan
perundang-undangan, yaitu dari redaksi pasal-pasal tertentu dalam peraturan
perundang-undangan. Penerima dapat menciptakan wewenang baru atau
memperluas wewenang yang sudah ada dengan tanggung jawab intern dan ekstern
pelaksanaan wewenang yang diatribusikan sepenuhnya berada pada penerima
wewenang (atributaris).
Philipus M. Hadjon pada dasarnya membuat perbedaan antara delegasi dan
mandat. Dalam hal delegasi mengenai prosedur pelimpahannya berasal dari suatu
organ pemerintahan kepada organ pemerintahan yang lainnya dengan peraturan
perundang-undangan, dengan tanggung jawab dan tanggung gugat beralih ke
delegataris. Pemberi delegasi tidak dapat menggunakan wewenang itu lagi,
kecuali setelah ada pencabutan dengan berpegang dengan asas ”contrarius actus”,
artinya, setiap perubahan, pencabutan suatu peraturan pelaksanaan
perundang-undangan, dilakukan oleh pejabat yang menetapkan peraturan dimaksud, dan
15
mandat, prosedur pelimpahan dalam rangka hubungan atasan bawahan yang
bersifat rutin. Adapun tanggung jawab dan tanggung gugat tetap pada pemberi
mandat. Setiap saat pemberi mandat dapat menggunakan sendiri wewenang yang
dilimpahkan itu (Philipus M Hadjon, 1994).
Sedangkan Huisman membedakan delegasi dan mandat sebagai berikut :
Delegasi, merupakan pelimpahan wewenang “overdracht van bevoegdheid”; kewenangan tidak dapat dijalankan secara insidental oleh organ yang memiliki
wewenang asli “bevoegdheid kan door het oorsprokenlijk bevoegde orgaan niet
incidenteel uitgoefend worden”; terjadi peralihan tanggungjawab “overgang van verantwoordelijkheid”; harus berdasarkan UU “wetelijk basis vereist”; harus tertulis “moet schriftelijk”;
Mandat menurut Huisman, merupakan perintah untuk melaksanakan “opdracht tot
uitvoering”; kewenangan dapat sewaktu-waktu dilaksanakan oleh mandans
“bevoeghdheid kan door mandaatgever nog incidenteel uitgeofend worden”; tidak terjadi peralihan tanggung jawab “behooud van verantwoordelijkheid”; tidak
harus berdasarkan UU “geen wetelijke basis vereist”; dapat tertulis, dapat pula secara lisan “kan schriftelijk, mag ook mondeling” (Huisman, RJHM , dalam Ridwan HR, 2006).
Menurut HD Stout, Kewenangan adalah pengertian yang berasal dari hukum
organisasi pemerintahan yang dapat dijelaskan sebagai keseluruhan aturan-aturan
yang berkenaan dengan perolehan dan penggunaan wewenang-wewenang dari
pemerintahan oleh subyek hukum publik (Ridwan HR, 2006:101). Menurut Bagir
16
Kekuasaan hanya menggambarkan hak untuk berbuat dan tidak berbuat.
Wewenang berarti sekaligus hak dan kewajiban.
Menurut Tubagus Rahman Nitibaskara, kewenangan adalah merupakan hak
menggunakan wewenang yang dimiliki seorang pejabat atau institusi menurut
ketentuan yang berlaku, dengan demikian kewenngan juga menyangkut
kompetensi tindakan hukum yang dapat dilakukan menurut kaedah-kaedah
formal, jadi kewenangan merupakan kekuasaan formal yang dimiliki oleh pejabat
atau institusi (Nurmayani, 2009:26).
Menurut H.D. Van wijk, kewenangan diperoleh melalui tiga sumber, yaitu:
1. Atribusi adalah pemberian wewenang pemerintahan oleh pembuat
undang-undang kepada organ pemerintahan.
2. Delegasi adalah pelimpahan wewenang pemerintahan dari satu organ
pemerintahan kepada organ pemerintahan lainnya.
3. Mandat terjadi ketika organ pemerintahan mengizinkan kewenangan
dijalankan oleh organ lain atas namanya ( Ridwan HR, 2006:104-105).
Sesuai dengan amanat undang-undang nomor 32 tahun 2004 pasal 10 ayat (3),
bahwa Pemerintah Daerah menyelenggarakan urusan pemerintah yang menjadi
kewenangannnya, kecuali urusan pemerintah yang hanya menjadi
urusan/kewenangan pemerintah pusat, yaitu:
1) Politik luar negeri
2) Pertahanan
17
4) Yustisi
5) Moneter dan fiskal nasional
6) Agama
Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan, Pemerintah menyelenggarakan
sendiri atau dapat melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada perangkat
pemerintah atau wakil pemerintah di daerah. Dalam menyelenggarakan
pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintahan diluar urusan
pemerintahan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3), Pemerintah dapat
menyelenggarakan sendiri urusan pemerintahan, menugaskan sebagian urusan
pemerintahan kepada pemerintahan daerah berdasarkan asas tugas pembantuan
(Nurmayani, 2009:28-29).
2.2Tinjauan Umum Transportasi 2.2.1 Pengertian
Sudah tidak diragukan lagi bahwa transportasi merupakan tulang punggung
perekonomian sutau bangsa. Buruknya sistem transportai akan merugikan dari
segi ekonomi secara mnyeluruh. Menurut Schummer, negara yang maju ditandai
oleh: Tanah yang subur, kerja keras dan transportasi yang lancar. Hal ini dapat
digambarkan sebagai aliran darah dalam tubuh manusia (Zulfiar Sani, 2010:1).
Transportasi terdiri dari dua suku kata, yaitu (Trans = Perpindahan dan Port =
tempat asal dan tujuan). Jadi yang dimaksud dengan transportasi adalah
perpindahan orang dan atau barang dari satu tempat ke tempat lainnya atau dari
tempat asal ke tempat tujuan dengan menggunakan sebuah wahana yang
18
Transportasi dapat dilakukan oleh orang itu sendiri dengan cara memikul dan
sebagainya tapi dapat juga menggunakan alat bnda sebagai bantuan. Penggunaan alat
bantu ini berkembang sesuai dengan perkembangan teknologi hingga saat ini. Di
negara maju, mereka biasabya menggunakan kereta bawah tanah dan taksi untuk
bepergian dalam kota terutama untuk pergi dan pulang bekerja.
Tujuan orang menggunakan alat transportasi adalah agar lebih cepat dan mudah
dalam perpindahan orang atau barang dari tempat asal ke tempat tujuannya. Fungsi
transportasi ini dilihat tidak hanya secara perorangan, tetapi juga dilihat dari
kepentingan masyarakat luas.
2.2.2 Peranan Transportasi
Transportasi memiliki peranan penting dan strategi dalam pembangunan nasional,
mengingat transportasi merupakan sarana untuk memperlancar roda
perekonomian, memperkokoh persatuan dan kesatuan serta mempengaruhi hampir
semua aspek kehidupan. Pentingnya transportasi sebagai urat nadi kehidupan
ekonomi, sosial ekonomi, politik, dan pertahanan keamanan memiliki dua fungsi
ganda yaitu sebagai unsur penunjang dan sebagai unsur pendorong.
Sebagai unsur penunjang, transportasi berfungsi menyediakan jasa transportasi
yang efektif untuk memenuhi kebutuhan berbagai sektor dan menggerakkan
pembangunan nasional. Sebagai unsur pendorong, transportasi berfungsi
menyediakan jasa transportasi yang efektif untuk membuka daerah-daerah yang
terisolasi, melayani daerah terpencil, merangsang pertumbuhan daerah tertinggal
19
Jadi, transportasi memegang peranan yang sangat penting karena melibatkan dan
mempengaruhi banyak aspek kehidupan manusia yang saling berkaitan. Semakin
lancar transportasi tersebut, maka semakin lancar pula perkembangan
pembangunan daerah maupun nasional.
2.3 Tinjauan Umum Perkeretaapian 2.3.1 Pengertian
Menurut UU No. 23/2007 pasal 1 ayat (1) yang dimaksud perkeretaapian adalah
satu kesatuan sistem yang terdiri atas prasarana, sarana, dan sumber daya
manusia, serta norma, kriteria, persyaratan, dan prosedur untuk penyelenggaraan
transportasi kereta api. Menurut pasal 1 ayat (2) UU No. 23/2007 yang dimaksud
dengan kereta api adalah sarana perkeretaapian dengan tenaga gerak, baik berjalan
sendiri maupun dirangkaikan dengan sarana perkeretaapian lainnya, yang akan
ataupun sedang bergerak di jalan rel yang terkait dengan perjalanan kereta api.
Berikut adalah tatanan perkeretaapian:
Kereta api menurut jenisnya:
a. kereta api kecepatan normal;
b. kereta api kecepatan tinggi;
c. kereta api monorel;
d. kereta api motor induksi linear;
e. kereta api gerak udara;
f. kereta api levitasi magnetik;
g. trem; dan
20
Perkeretaapian menurut fungsinya.
a. perkeretaapian umum terdiri dari:
a) perkeretaapian perkotaan; dan
b) perkeretaapian antarkota.
b. perkeretaapian khusus sebagaimana dimaksud hanya digunakan secara
khusus oleh badan usaha tertentu untuk menunjang kegiatan pokok
badan usaha tersebut.
2.3.2 Sejarah Singkat
Perkeretaapian di Indonesia dimulai pada saat zaman penjajahan Belanda.
Belanda membawa kemajuan terutama kereta api yang lebih dahulu berkembang
di beberapa negara Eropa saat itu. Pembangunan kereta api ditandai dengan
pemasangan rel kereta api pertama di desa Kemijen Kota Semarang pada tanggal
17 Juni 1864. Pemerintahan Belanda membangun rel kereta api ini dibawah
komando NISM (Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij) yang dipimpin
langsung oleh Gubernur Jenderal Sloet Van Beele. Pembangunan jalur kereta api
pertama ini lebih didasari oleh kebutuhan bangsa Belanda mengangkut hasil bumi
berupa tembakau, nila dan gula yang merupakan barang ekspor ke Pelabuhan
Semarang.
Seiring perkembangan kereta api di berbagai belahan dunia, maka perkeretaapian
di Indonesia semakin berkembang dan pemerintahan Belanda secara kontinue
membangun rel kereta api melalui NISM dan dikelola oleh lembaga
pemerintah (Staaatsspoor Wegen). Pembangunan rel kereta api di
21
26 km pada tahun 1868, Jalur Semarang-Gundih-Surakarta (1870), Surakarta-
Yogyakarta-Lempuyangan (1873), Jakarta-Bogor (1873) yang dilanjutkan dengan
pemasangan lintas Bogor-Sukabumi-Bandung-Kroya-Yogyakarta-Surabaya.
Kemudian pada rentang tahun 1903-1907 dibagun tiga jalur kereta api yaitu:
Kedungjati-Ambarawa-Magelang-Yogyakarta, Secang-Temanggung-Parakan dan
Semarang-Cepu-Surabaya.
Dalam sejarahnya, perkeretaapian telah mengalami perkembangan yang sangat
pesat. Hal ini didasari oleh semakin majunya ekonomi Belanda dan sebagai alat
politis bagi pemerintahan Belanda. Dalam pelaksanaannya, berbagai model rel
dan jenis kereta api pernah singgah di Indonesia. Contohnya penerapan rel
Triganda pada lintas Yogyakarta-Surakarta yang memiliki lebar 1,435 meter.
Selain itu, jenis lomotif kereta juga bermacam- macam, mulai kereta uap sampai
jaman kereta listrik pada jaman sekarang. Perkembangan jalur kereta api yang
cepat dan perkembangan bisnis perkeretaapian global membuat beberapa
perusahaan swasta bentukan pemerintah Belanda seperti SCS (Semarang Cirebon
Stoomtram Maatschaapij) dan SJS (Semarang Juwana Stoomtram Maatschaapij)
pernah mengelola bisnis kereta api di Indonesia.
Selain di pulau Jawa, lintas kereta api di Indonesia juga dibangun di pulau
Sumatra. Pembangunan lintas kereta api di Sumatra ditandai pemasangan lintas
Ulele Kota Raja Banda Aceh pada tanggal 12 November 1876. Berbeda dengan
pulau Jawa yang dibangun atas dasar kepentingan komersial, pemasangan
lintaskereta api di Sumatra digunakan untuk kepentingan Perang Aceh, oleh
22
Peperangan (DVO). Baru pada tahun 1886 dibangun lintas Labuhan-Medan
dibangun oleh perusahaan DSM (Deli Spoorweg My) untuk kepentingan
komersial. Pada tahun 1891 dibangun lintas Pulu Aer-Padang yang digunakan
untuk mengangkut batubara. Selain itu, pada tahun 1912 dipasang jalur lintas
Teluk Betung- Prabumulih.
Di Sulawesi pernah dibangun lintas kereta api Makasar-Takalar yang beroperasi
pada tahun 1923. Akan tetapi, beberapa tahun kemudian operasinya dihentikan
karena tingginya biaya eksploitasi. Di Kalimantan belum pernah dibangun jalur
kereta api, tetapi studi jalur Pontianak-Sambas sejauh 220 km telah diselelsaikan.
Di beberapa pulau lain seperti Bali dan Lombok, juga pernah dilakukan studi
tentang kelayakan jalur kereta api.
Menjelang berakhirnya pemerintahan Belanda, SS (Staaatsspoor) dibagi daerah
ekploitasinya. Hal ini merupakan cikal bakal adanya Daerah Operasional pada PT.
KAI sekarang. Pembagian daerah eksplotasinya adalah: SS/OL = Jawa Bagian
Timur, SS/WL = Jawa Bagian Barat, ZSS = Sumatra Selatan, WSS = Sumatra
Barat, dan Aceh Tram = Aceh. Semua wilayah eksploitasi tersebut berpusat di
Bandung.
Berakhirnya kekuasaan pemerintahan Belanda, membuat kereta api mengalami
masa transisi. Pemerintahan Jepang menyatukan semua perusahaan kereta api
yang ada pada pemerintahan Belanda disatukan dan dinamakan Rikuyu Kyoku.
Pada pemerintahan Jepang, semua perkeretaapian di pulau jawa dibawah
23
Sedangkan di pulau Sumatera, semua perkeretaaapian di pulau Sumatra dibawah
Komando Angkatan Laut Jepang (Kaigun) dengan nama Tetsudo Tai yang
berpusat di Bukit Tinggi. Pada masa pemerintahan Jepang sebanyak 473 km lintas
kereta api dibongkar. Pembangunan rel kereta api hanya dilakukan di lintas Bayah
– Cikara sejauh 83 km dan lintas Muaro-Pekanbaru sejauh 220 km.
Pembangunan lintas kereta api ini menggunakan teknologi seadanya dan
pemerintahan Jepang mempekerjakan 27500 orang dengan 25000 orang adalah
Romusha.
Setelah berakhirnya masa penjajahan yang ditandai dengan diproklamirkan
kemerdekaan Indonesia, para karyawan kereta api yang tergabung
dalam Angkatan Moeda Kereta Api merebut perusahaan kereta api dari tangan
Jepang. Peristiwa yang terjadi pada tanggal 28 September 1945 tersebut dikenang
sebagai hari lahirnya perusahaan kereta api nasional. Pada tanggal itu pula secara
resmi lahir Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI) yang berpusat di
Bandung. DKARI menguasai perkeretaapian di Jawa dan Madura, sedangkan di
Sumatra masih dikuasai oleh Belanda melalui SS/VS (Staatspoor-Weg en
Verenigde Spoorweg Bedrur).
Dalam sejarahnya, PT. KAI mengalami masa-masa transisi sebelum berubah
menjadi persero sekarang ini. Perusahaan kereta api yang awalnya merupakan
bernama DKARI berubah menjadi Djawatan Kereta Api ( DKA) saat negara
Indonesia menjadi negara kesatuan. Berdasarkan Undang-Undang No. 19 dengan
Peraturan Pemerintah No.22 Tahun 1963, terhitung 22 Mei 1963 status
24
(PNKA). Sedangkan di Sumatra, perusahaan Deli Spoorweg My dinasionalisasi
dan berada dibawah kekuasaan PNKA terhitung pada tahun 1957.
Pada tahun 1971 dengan penetapan PP No. 1 tahun 1971, Perusahaan Negara
Kereta Api (PNKA) berubah menjadi Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA).
Kemudian pada tahun 1991 dengan PP No.57 tahun 1990, Perusahaan Jawatan
Kereta Api (PJKA) berubah menjadi Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka).
Dan dengan Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 1998, Perumka berubah status
menjadi Persero dengan nama PT. Kereta Api Indonesia (Persero).
2.3.3 Sarana perkeretaapian
sarana perkeretaapian terdiri dari:
a. lokomotif;
b. kereta;
c. gerbong; dan
d. peralatan khusus.
Setiap sarana perkeretaapian wajib memenuhi persyaratan teknis dan kelaikan
operasi yang berlaku bagi setiap jenis sarana perkeretaapian. Untuk itu sarana
perkeretaapian perlu dilakukan pengujian dan pemeriksaan secara berkala.
Adapun ketentuan dalam melaksanakan pengujian dan pemeriksaan sarana
perkeretaapian ini adalah:
1. Untuk memenuhi persyaratan teknis dan menjamin kelaikan operasi sarana
25
2. Pengujian sarana perkeretaapian dilakukan oleh Pemerintah dan dapat
dilimpahkan kepada badan hukum atau lembaga yang mendapat akreditasi
dari Pemerintah;
3. Pemeriksaan sarana perkeretaapian wajib dilakukan oleh Penyelenggara
Sarana Perkeretaapian;
4. Pelaksanaan pengujian sarana perkeretaapian wajib menggunakan
peralatan pengujian dan sesuai dengan tata cara pengujian yang ditetapkan
oleh Menteri.
5. Setiap badan hukum atau lembaga pengujian sarana perkeretaapian wajib
melakukan pengujian sarana perkeretaapian dengan tenaga penguji sarana
perkeretaapian yang memiliki sertifikat keahlian sarana perkeretaapian dan
menggunakan peralatan pengujian prasarana perkeretaapian yang sesuai
dengan tata cara pengujian sarana perkeretaapian yang ditetapkan.
2.3.4 Prasarana perkeretaapian
Prasarana perkeretaapian terdiri dari jalur kereta api, stasiun kereta api, dan
fasilitas pengoperasian kereta api.
a. Jalur kereta api
Jalur kereta api untuk perkeretaapian membentuk satu kesatuan jaringan jalur
kereta api. Jalur kereta api terdiri dari:
a) jaringan jalur kereta api nasional yang ditetapkan dalam rencana induk
perkeretaapian nasional;
b) jaringan jalur kereta api provinsi yang ditetapkan dalam rencana induk
26
c) jaringan jalur kereta api kabupaten/kota yang ditetapkan dalam rencana
induk perkeretaapian kabupaten/kota.
Jalur kereta api yang diselenggarakan oleh beberapa penyelenggara prasarana
perkeretaapian dapat saling bersambungan, bersinggungan, atau terpisah.
Pembangunan dan pengoperasian jalur kereta api yang bersambungan atau
bersinggungan dilakukan atas dasar kerja sama antar penyelenggara prasarana
perkeretaapian. Dalam hal penyelenggaraan jalur kereta api dioperasikan oleh
pihak lain, penyelenggaraannya harus dilakukan atas dasar kerjasama antara
penyelenggara prasarana dan pihak lain tersebut. Satu jalur kereta api untuk
perkeretaapian dapat digunakan oleh beberapa penyelenggara sarana
perkeretaapian.
Sesuai dengan UU No. 23/2007 pasal 35 bahwa Jalur kereta api sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf a diperuntukkan bagi pengoperasian kereta api.
Jalur kereta api meliputi:
a) Ruang manfaat jalur kereta api
Ruang manfaat jalur kereta api sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36
huruf a terdiri dari jalan rel dan bidang tanah di kiri dan kanan jalan rel
beserta ruang di kiri, kanan, atas, dan bawah yang digunakan untuk
konstruksi jalan rel dan penempatan fasilitas operasi kereta api serta
bangunan pelengkap lainnya. Ruang manfaat jalur kereta api
diperuntukkan bagi pengoperasian kereta api dan merupakan daerah yang
tertutup untuk umum. Jalan rel dapat berada:
27
Batas ruang manfaat jalur kereta api untuk jalan rel pada
permukaan tanah diukur dari sisi terluar jalan rel beserta bidang
tanah di kiri dan kanannya yang digunakan untuk konstruksi jalan
rel termasuk bidang tanah untuk penempatan fasilitas operasi
kereta api dan bangunan pelengkap lainnya. Batas ruang manfaat
jalur kereta api untuk jalan rel pada permukaan tanah yang masuk
terowongan diukur dari sisi terluar konstruksi terowongan. Batas
ruang manfaat jalur kereta api untuk jalan rel pada permukaan
tanah yang berada di jembatan diukur darisisi terluar konstruksi
jembatan.
2. di bawah permukaan tanah
Batas ruang manfaat jalur kereta api untuk jalan rel di bawah
permukaan tanah diukur dari sisi terluar konstruksi bangunan jalan
rel di bawah permukaan tanah termasuk fasilitas operasi kereta api.
3. di atas permukaan tanah.
Batas ruang manfaat jalur kereta api untuk jalan rel di atas
permukaan tanah diukur dari sisi terluar dari konstruksi jalan rel
atau sisi terluar yang digunakan untuk fasilitas operasi kereta api.
b) Ruang milik jalur kereta api
Ruang milik jalur kereta api adalah bidang tanah di kiri dan di kanan ruang
manfaat jalur kereta api yang digunakan untuk pengamanan konstruksi
jalan rel. Ruang milik jalur kereta api di luar ruang manfaat jalur kereta api
28
ketentuan tidak membahayakan konstruksi jalan rel dan fasilitas operasi
kereta api.
Batas ruang milik jalur kereta api adalah:
1. Untuk jalan rel yang terletak pada permukaan tanah diukur dari
batas paling luar sisi kiri dan kanan ruang manfaat jalur kereta api.
2. Batas ruang milik jalur kereta api untuk jalan rel yang terletak di
bawah permukaan tanah diukur dari batas paling luar sisi kiri dan
kanan serta bagian bawah dan atas ruang manfaat jalur kereta api.
3. Batas ruang milik jalur kereta api untuk jalan rel yang terletak di
atas permukaan tanah diukur dari batas paling luar sisi kiri dan
kanan ruang manfaat jalur kereta api.
c) Ruang pengawasan jalur kereta api.
Ruang pengawasan jalur kereta api adalah bidang tanah atau bidang lain di
kiri dan di kanan ruang milik jalur kereta api untuk pengamanan dan
kelancaran operasi kereta api. Batas ruang pengawasan jalur kereta api
untuk jalan rel yang terletak pada permukaan tanah diukur dari batas
paling luar sisi kiri dan kanan daerah milik jalan kereta api. Tanah yang
terletak di ruang milik jalur kereta api dan ruang manfaat jalur kereta api
disertifikatkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Tanah di
ruang pengawasan jalur kereta api dapat dimanfaatkan untuk kegiatan lain
29
b. Stasiun kereta api
Sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b pasal 35 UU No. 23/2007, Stasiun
kereta api berfungsi sebagai tempat kereta api berangkat atau berhenti untuk
melayani:
a) naik turun penumpang;
b) bongkar muat barang; dan/atau
c) keperluan operasi kereta api.
Stasiun kereta api dikelompokkan dalam kelas besar, kelas sedang dan kelas kecil.
Pengelompokan kelas stasiun kereta api berdasarkan kriteria fasilitas operasi,
frekuensi lalu lintas, jumlah penumpang, jumlah barang, jumlah jalur dan fasilitas
penunjang. Stasiun kereta api dapat menyediakan jasa pelayanan khusus. Jasa
pelayanan khusus dapat berupa ruang tunggu penumpang, bongkar muat barang,
pergudangan, parkir kendaraan dan penitipan barang. Pengguna jasa pelayanan
khusus dikenai tarif jasa pelayanan tambahan.
c. Fasilitas pengoperasian kereta api
Fasilitas operasi kereta api sebagaimana dimaksud pada pasal 35 ayat (1) huruf c
UU No. 23/2007 merupakan peralatan untuk pengoperasian perjalanan kereta api.
Fasilitas pengoperasian kereta api sebagaimana meliputi:
a) Peralatan Persinyalan
Peralatan persinyalan berfungsi sebagai petunjuk dan pengendali.
Peralatan persinyalan terdiri dari:
1. sinyal;
30
3. marka.
b) Peralatan Telekomunikasi
Peralatan telekomunikasi berfungsi sebagai penyampai informasi dan/atau
komunikasi bagi kepentingan operasi perkeretaapian. Peralatan
telekomunikasi menggunakan frekuensi radio dan/atau kabel. Penggunaan
frekuensi radio dilakukan berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan di bidang telekomunikasi.
c) Instalasi Listrik.
Instalasi listrik terdiri dari catu daya listrik dan peralatan transmisi tenaga
listrik. Instalasi listrik dioperasikan berdasarkan peraturan
perundang-undangan di bidang ketenagalistrikan. Instalasi listrik digunakan untuk:
1. Menggerakkan kereta api bertenaga listrik;
2. Memfungsikan peralatan persinyalan kereta api yang bertenaga
listrik;
3. Memfungsikan peralatan telekomunikasi; dan
4. Memfungsikan fasilitas penunjang lainnya.
2.4 Pembinaan Perkeretaapian Nasional dan Daerah
Pada dasarnya Perkeretaapian dikuasai oleh Negara dan pembinaan terhadap
perkeretaapian dilaksanakan sepenuhnya oleh Pemerintah. Hal ini sesuai dengan
yang disebutkan dalam Pasal 13 dan 14 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007.
Pasal 13:
1) Perkeretaapian dikuasai oleh Negara dan pembinaannya dilakukan oleh
Pemerintah.
31
a. pengaturan;
b. pengendalian; dan
c. pengawasan.
3) Arah pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk
memperlancar perpindahan orang dan/atau barang secara massal dengan
selamat, aman, nyaman, cepat, tepat, tertib, dan teratur, serta efisien.
4) Sasaran pembinaan perkeretaapian sebagaimana dimaksud pada ayat(1)
bertujuan untuk menunjang pemerataan, pertumbuhan, stabilitas,
pendorong, dan penggerak pembangunan nasional.”
Pasal 14:
1) Pembinaan perkeretaapian nasional dilaksanakan oleh Pemerintah yang
meliputi:
a. penetapan arah dan sasaran kebijakan pengembangan perkeretaapian
nasional, provinsi, dan kabupaten/kota;
b. penetapan, pedoman, standar, serta prosedur penyelenggaraan dan
pengembangan perkeretaapian;
c. penetapan kompetensi pejabat yang melaksanakan fungsi di bidang
perkeretaapian;
d. pemberian arahan, bimbingan, pelatihan, dan bantuan teknis kepada
Pemerintah Daerah, penyelenggara dan pengguna jasa perkeretaapian;
dan
e. pengawasan terhadap perwujudan pengembangan sistem
32
2) Pembinaan perkeretaapian provinsi dilaksanakan oleh pemerintah provinsi
yang meliputi:
a. penetapan arah dan sasaran kebijakan pengembangan perkeretaapian
provinsi, dan kabupaten/kota;
b. pemberian arahan, bimbingan, pelatihan dan bantuan teknis kepada
kabupaten/kota, penyelenggara dan pengguna jasa perkeretaapian; dan
c. pengawasan terhadap penyelenggaraan perkeretaapian provinsi.
3) Pembinaan perkeretaapian kabupaten/kota dilaksanakan oleh pemerintah
kabupaten/kota yang meliputi:
a. penetapan arah dan sasaran kebijakan pengembangan perkeretaapian
kabupaten/kota;
b. pemberian arahan, bimbingan, pelatihan, dan bantuan teknis kepada
penyelenggara dan pengguna jasa perkeretaapian; dan pengawasan
terhadap penyelenggaraan perkeretaapian kabupaten/kota.
2.5 Penyelenggaraan Perkeretaapian
Penyelenggaran merupakan suatu usaha atau kegiatan tertentu yang dilakukan
untuk mewujudkan rencana atau program dalam kenyataannya. Perkeretaapian
diselenggarakan dengan tujuan untuk memperlancar perpindahan orang dan/atau
barang secara massal dengan selamat, aman, nyaman, cepat dan lancar, tepat,
tertib dan teratur, efisien, serta menunjang pemerataan, pertumbuhan, stabilitas,
pendorong, dan penggerak pembangunan nasional. Penyelenggaraan
perkeretaapian sebagaimana dimaksud pasal 17 UU No. 23/2007 berupa Sarana
33
2.5.1 Penyelenggaraan Sarana
Tentang kegiatan penyelenggaraan sarana perkeretaapian sebagaimana dimaksud
pasal 23 UU No. 23/2007, Penyelenggaraan sarana perkeretaapian umum
dilakukan oleh Badan Usaha sebagai penyelenggara, baik secara sendiri-sendiri
maupun melalui kerja sama. Dalam hal tidak ada badan usaha yang
menyelenggarakan sarana perkeretaapian umum, Pemerintah atau Pemerintah
Daerah dapat menyelenggarakan sarana perkeretaapian. Penyelenggaraan sarana
perkeretaapian meliputi kegiatan:
a) Pengadaan Sarana
Pengadaan sarana perkeretaapian wajib memenuhi persyaratan teknis
sarana perkeretaapian.
b) Pengoperasian Sarana
Pengoperasian sarana perkeretaapian wajib memenuhi standar kelaikan
operasi sarana perkeretaapian.
c) Perawatan Sarana
Perawatan sarana perkeretaapian wajib:
1. memenuhi standar perawatan sarana perkeretaapian; dan
2. dilakukan oleh tenaga yang memenuhi persyaratan dan kualifikasi
keahlian di bidang sarana perkeretaapian.
d) Pengusahaan Sarana.
Pengusahaan sarana perkeretaapian umum wajib dilakukan berdasarkan
34
Badan Usaha yang menyelenggarakan sarana perkeretaapian umum wajib
memiliki:
a) Izin usaha penyelenggara sarana perkeretaapian umum diterbitkan oleh
Pemerintah.
b) Izin operasi sarana perkeretaapian umum diterbitkan oleh:
1. Pemerintah untuk pengoperasian sarana perkeretaapian umum yang
jaringan jalurnya melintasi batas wilayah provinsi dan batas
wilayah negara;
2. Pemerintah Provinsi untuk pengoperasian sarana perkeretaapian
umum yang jaringan jalurnya melintasi batas wilayah
kabupaten/kota dalam satu provinsi; dan
3. Pemerintah Kabupaten/kota untuk pengoperasian sarana
perkeretaapian umum yang jaringan jalurnya dalam wilayah
kabupaten/kota.
2.5.2 Penyelenggaraan Prasarana
Prasarana perkeretaapian adalah jalur kereta api, stasiun kereta api, dan fasilitas
operasi kereta api agar kereta api dapat dioperasikan. Sebagaimana yang
dimaksud dalam pasal 23 UU No. 23/2007, penyelenggaraan prasarana
perkeretaapian umum dilakukan oleh Badan Usaha sebagai penyelenggara, baik
secara sendiri-sendiri maupun melalui kerja sama. Dalam hal tidak ada Badan
Usaha yang menyelenggarakan prasarana perkeretaapian umum, Pemerintah atau
35
penyelenggaraan prasarana perkeretaapian umum sebagaimana dimaksud pasal 18
UU No. 23/2007meliputi kegiatan:
a) Pembangunan prasarana
Pembangunan prasarana perkeretaapian wajib:
1. berpedoman pada ketentuan rencana induk perkeretaapian; dan
2. memenuhi persyaratan teknis prasarana perkeretaapian.
b) Pengoperasian Prasarana
Pengoperasian prasarana perkeretaapian wajib memenuhi standar kelaikan
operasi prasarana perkeretaapian.
c) Perawatan Prasarana
Perawatan prasarana perkeretaapian wajib:
1. memenuhi standar perawatan prasarana perkeretaapian; dan
2. dilakukan oleh tenaga yang memenuhi persyaratan dan kualifikasi
keahlian di bidang prasarana perkeretaapian.
d) Pengusahaan Prasarana.
Pengusahaan prasarana perkeretaapian wajib dilakukan berdasarkan
norma, standar, dan kriteria perkeretaapian.
Badan Usaha yang menyelenggarakan prasarana perkeretaapian umum harus
memiliki izin yang diberikan oleh:
a. Pemerintah untuk penyelenggaraan prasarana perkeretaapian umum yang
36
b. Pemerintah Provinsi untuk penyelenggaraan prasarana perkeretaapian
umum yang jaringan jalurnya melintasi batas wilayah kabupaten/kota
dalam satu provinsi setelah mendapat persetujuan dari Pemerintah; dan
c. Pemerintah Kabupaten/kota untuk penyelenggaraan perkeretaapian umum
yang jaringan jalurnya dalam wilayah kabupaten/kota setelah mendapat
rekomendasi pemerintah provinsi dan persetujuan Pemerintah.
Izin yang digunakan untuk menyelenggarakan prasarana perkeretaapian yaitu:
a. Izin Usaha
Izin usaha penyelenggaraan prasarana perkeretaapian umum diterbitkan
oleh pemerintah.
b. Izin Pembangunan
Izin pembangunan prasarana perkeretaapian diterbitkan setelah
dipenuhinya persyaratan teknis prasarana perkeretaapian.
c. Izin Operasi
Izin operasi prasarana perkeretaapian diterbitkan setelah dipenuhinya
persyaratan kelaikan operasi prasarana perkeretaapian.
2.6 Jenis Perlintasan Sebidang
Jalan perlintasan adalah perpotongan sebidang antara jalur rel yang dipergunakan
untuk perjalanan kereta api dengan jalur yang dipergunakan untuk lalu lintas
kendaraan jalan raya.
1. Jenis perlintasan secara hukum
37
a. Perlintasan resmi adalah perlintasan sebidang yang keberadaannya telah
memiliki syarat-syarat dan ketentuan hukum sesuai Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian.
b. Perlintasan tidak resmi adalah perlintasan sebidang yang keberadaannya
belum / tidak memiliki syarat-syarat dan ketentuan hukum sesuai
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian.
2. Jalan perlintasan dipandang dari sudut pengamanan
Jalan perlintasan dipandang dari sudut pengamanan dibagi atas 4 jenis, yaitu :
a. Perlintasan dijaga dilengkapi rambu-rambu lalu lintas dan alat bantu
pengamanan berupa peralatan “elektrik manual operated” yang
dioperasikan oleh seorang pegawai yang ditunjuk, memenuhi syarat untuk
melakukan pekerjaan tersebut serta memiliki tanda kecakapan.
b. Perlintasan tidak dijaga dilengkapi dengan rambu-rambu lalu lintas dan
alat bantu pengamanan berupa peralatan “elektrik automatic operated”
atau “automatic train warning”. Peralatan tersebut bekerja secara aotomatis
berdasarkan posisi kereta api yang akan melintas sehingga tidak
diperlukan pegawai yang mengoperasikannya.
c. Perlintasan tidak dijaga dan dilengkapi rambu-rambu lalu lintas namun
tidak dilengkapi alat bantu pengamanan jenis apapun.
d. Perlintasan tidak dijaga, tidak dilengkapi rambu-rambu lalu lintas dan
38
Saat ini terdapat beberapa jenis pintu perlintasan dipandang dari 2 sudut tersebut,
yaitu :
1. Perlintasan resmi, dijaga dan dilengkapi rambu dan alat bantu
pengamanan.
2. Perlintasan resmi, tidak dijaga namun dilengkapi rambu dan alat bantu
pengamanan.
3. Perlintasan tidak resmi, tidak dijaga dilengkapi rambu dan alat bantu
pengamanan.
4. Perlintasan tidak resmi, tidak dijaga, dilengkapi rambu namun tidak
dilengkapi alat bantu pengamanan.
5. Perlintasan tidak resmi, tidak dijaga, tidak dilengkapi rambu dan tidak
dilengkapi alat bantu pengamanan biasanya disebut perlintasan liar.
2.7 Data Perlintasan Sebidang di Kota Bandar Lampung
Perlintasan sebidang kereta api yang terbagi kedalam tiga kategori perlintasan
yaitu resmi dijaga, resmi tidak dijaga dan perlintasan tidak resmi (liar) berjumlah
seratus dua puluh delapan (128) perlintasan pada tahun 2013. Berikut tabel
kategori perlintasan sebidang kereta api di wilayah kewenangan PT. KAI Sub