commit to user
i
TUGAS AKHIR
PERANCANGAN KAMPANYE SOSIAL
CARBON TRADE
PULAU SIBERUT
MELALUI
COPY BASED ADVERTISING
Diajukan untuk menempuh Tugas Akhir
guna mencapai gelar Sarjana Seni Rupa
Jurusan Desain Komunikasi Visual
Fakultas Sastra dan Seni Rupa
Oleh:
Sekar Aprilia Dwijayanti
NIM C0706045
FAKULTAS SASTRA DAN SENI RUPA
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
commit to user
PERSETUJUAN
Konsep Karya Tugas Akhir dengan judul
Perancangan Kampanye Sosial Carbon Trade Pulau Siberut
Melalui Copy Based Advertising
Telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan tim penguji,
dalam sidang Tugas Akhir
Disetujui oleh :
Pembimbing I Pembimbing II
Hermansyah Muttaqin, S.Sn Ercilia Rini Octavia, S.Sn
NIP. 19711115 200604 1 001 NIP. 19801011 200812 2 001
Mengetahui,
Koordinator Tugas Akhir
Arief Iman Santosa, S.Sn
commit to user
iii
PENGESAHAN
Disahkan dan dpertanggungjawabkan pada Sidang Tugas Akhir
Jurusan Desain Komunikasi Visual Fakultas Sastra dan Seni Rupa
Universitas Sebelas Maret Surakarta
2011
Pada tanggal:
1. Ketua Sidang Tugas Akhir:
Drs. Edi Wahyono Hardjanto, M.Sn (...)
NIP. 19510713 198203 1 001
2. Sekretaris Sidang Tugas Akhir:
Anugrah Irfan Ismail, S.Sn (...)
NIP. 19830702 200812 1 003
3. Pembimbing Tugas Akhir I:
Hermansyah Muttaqin, S.Sn (...)
19711115 200604 1 001
4. Pembimbing Tugas Akhir II:
Ercilia Rini Octavia, S.Sn (...)
19801011 200812 2 001
Mengetahui,
Dekan Ketua Jurusan Studi
Fakultas Sastra dan Seni Rupa Desain Komunikasi Visual
Drs. Sudarno, M.A Drs. Edi Wahyono Hardjanto, M.Sn
commit to user
PERSEMBAHAN
Karya sederhana ini kupersembahkan untuk :
Keluarga tercinta, Babe, Mami, Mas Adi, dan Wahyu
commit to user
v
MOTO
commit to user
KATA PENGANTAR
Syukur alhamdulillah atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, yang
telah melimpahkan segala karunianya yang tak terkira, akhirnya penulis dapat
menyelesaikan Tugas Akhir yang berjudul Perancangan Kampanye Sosial Carbon
Trade Pulau Siberut Melalui Copy Based Advertising.
Dalam proses penyusunan tugas akhir ini, penulis memperoleh banyak
sekali petunjuk, bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak. Dengan
kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada:
1. Bapak Drs. Sudarno, M. A, selaku Dekan Fakultas Sastra dan Seni Rupa
Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Bapak Drs. Edi Wahyono H,M.Sn, selaku Ketua Jurusan Desain Komunikasi
Visual.
3. Bapak Hermansyah Muttaqin, S.Sn, selaku Pembimbing I atas kesabaran,
ketelitian, dan segala referensinya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas
akhir ini dengan baik.
4. Ibu Ercilia Rini Octavia, S.Sn, selaku Pembimbing II atas kesabaran,
ketelitian, dan segala referensinya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas
akhir ini dengan baik.
5. Bapak Bambang Purwadi, S.Ip, selaku bagian akademik Jurusan Desain
Komunikasi Visual atas segala bantuannya.
6. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah
memberikan bantuan dan dukungan baik moril maupun materiil.
Akhir kata penulis menyadari sepenuhnya bahwa tugas akhir ini masih
jauh dari sempurna, sehingga adanya saran dan kritik yang membangun sangatlah
penulis harapkan. Semoga tugas akhir ini bermanfaat bagi semuanya. Atas
perhatiannya, penulis ucapkan terima kasih.
Surakarta, 31 Januari 2011
commit to user
vii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL... i
HALAMAN PERSETUJUAN... ii
HALAMAN PENGESAHAN... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN... iv
HALAMAN MOTO... v
KATA PENGANTAR... vi
DAFTAR ISI... vii
DAFTAR TABEL... x
DAFTAR GAMBAR... xi
DAFTAR GRAFIK... xii
DAFTAR BAGAN... xiii
ABSTRAK... xiv
BAB I. PENDAHULUAN... 1
A. Latar Belakang Masalah... 1
B. Perumusan Masalah... 4
C. Tujuan... 4
D. Target Audience... 5
E. Target Karya... 5
F. Metode Pengumpulan Data... 6
BAB II. KAJIAN TEORI... 8
A. Tinjauan Perancangan... 8
B. Tinjauan Kampanye Sosial... 9
C. Tinjauan Periklanan... 14
1. Klasifikasi Periklanan... 14
2. Perencanaan dan Pemilihan Media... 18
D. Tinjauan Perdagangan Karbon... 20
1. Pelaku Perdagangan Karbon... 20
2. Fenomena Global... 21
commit to user
E. Tinjauan Copy Based Advertising... 27
1. Tinjauan Komunikasi... 27
2. Tinjauan Copywriting... 28
3. Bagaimana Menjadi Copywriter yang Baik... 31
4. Cara Menulis Copy yang Bagus... 32
BAB III. IDENTIFIKASI DATA... 35
A. Kajian Umum Pulau Siberut... 35
1. Biodiversity Pulau Siberut... 35
2. Sosial-Budaya dan Ekonomi Masyarakat Pulau Siberut... 47
B. Profil PT. Global Green... 55
1. Latar Belakang Pendirian Perusahaan... 55
2. Visi dan Misi... 56
3. Tujuan dan Sasaran... 57
4. Struktur Organisasi... 57
5. Kegiatan PT. Global Green di Pulau Siberut... 58
6. Rencana Konsolidasi Kawasan Perbaikan PT. Global Green di Pulau Siberut... 61
C. Komparasi (Pembanding)... 65
1. Perusahaan Restorasi Ekosistem Indonesia (PT. REKI)... 65
2. Ulu Masen Implementation Board (UMIB)... 69
BAB IV. KONSEP PERANCANGAN... 75
A. Metode Perancangan... 75
B. Konsep Kreatif... 76
C. Standar Visual... 78
1. Pesan Verbal... 78
2. Pesan Non Verbal... 81
D. Pemilihan Media dan Media Placement... 88
1. Media Cetak... 88
a. Business Card... 88
b. Booklet... 89
c. Map... 89
commit to user
ix
e. Commitment Form... 90
f. Advertorial... 91
g. Thank You Ad... 91
2. Merchandise... 92
a. Post Card... 92
b. Boneka Maskot... 92
c. T-shirt... 92
d. Eco Bag... 93
3. Media Elektronik... 93
a. Email Blast... 93
b. Website... 94
E. Prediksi Biaya... 95
BAB V. VISUALISASI KARYA... 96
1. Business Card... 96
2. Booklet... 97
3. Map... 98
4. Fact Sheet... 99
5. Commitment Form... 100
6. Advertorial... 101
7. Thank You Ad... 102
8. Post Card... 103
9. Boneka Maskot... 104
10.T-shirt... 105
11.Eco Bag... 106
12.Email Blast... 107
13.Website... 108
BAB VI. PENUTUP... 109
A. Kesimpulan... 109
B. Saran... 110
DAFTAR PUSTAKA
commit to user
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Beberapa skenario emisi GRK menurut IPCC (1992)... 22
Tabel 2. Dasar Hukum Perlindungan ke -4 Jenis Primata Endemik Siberut... 40
Tabel 2.1 Perbandingan Populasi ke -4 Jenis Primata Endemik Siberut Tahun 1980, 1989 dan 2006... 41
Tabel 3. Fungsi hutan Sumatera Barat berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 422/Kpts-II/1999... 47
Tabel 4. Nilai-nilai yang ada di dalam kearifan/ aturan... 50
Tabel 5. Identifikasi Umum Pulau Siberut... 58
Tabel 6. Demografi Penduduk Pulau Siberut... 60
Tabel 7. Analisis SWOT... 74
Tabel 8. Prediksi biaya... 95
commit to user
xi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Peta Sumatera Barat... 59
Gambar 2. Area Kerja PT. Global Green………. 59
Gambar 3. Contoh Iklan dengan Mondrian Layout………. 84
Gambar 4. Contoh Iklan dengan Picture Window Layout…………...…… 85
Gambar 5. Contoh Iklan dengan Copy Heavy Layout………. 86
Gambar 6. Contoh Iklan dengan Jumble Layout... 86
commit to user
DAFTAR GRAFIK
Grafik 1. Histogram Keanekaragaman Jenis Binatang Melata
di Pulau Siberut... 43
Grafik 2. Histogram Keanekaragaman Jenis Tumbuhan
commit to user
xiii
DAFTAR BAGAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Emisi (buangan) karbondioksida industri merupakan sumber kerusakan utama
terbentuknya karbon di atmosfer yang menyebabkan terjadinya perubahan iklim
dan pemanasan bumi (global warming). Pada tahun 1997 dicetuskanlah “Kyoto
Protokol” yang dengan United Nation Framework Convention on Climate
Change-nya membuat suatu mekanisme baru. Mekanisme di mana negara-negara
industri dan negara-negara penghasil polutan terbesar diwajibkan untuk
mengurangi emisi gas karbondioksida rata-rata 5,2 % untuk kurun waktu tahun
2008 sampai tahun 2012. (www.cifor.cgiar.org/Carbon.html, 20 Februari 2010:
08.53 WIB)
Biomas pohon dan vegetasi di hutan berisi cadangan karbon yang sangat
besar, yang nantinya dapat memberikan keseimbangan siklus karbon bagi
keperluan seluruh makhluk hidup di muka bumi. Negara-negara industri penghasil
emisi diberi kesempatan untuk melakukan kompensasi dengan cara membayar
negara-negara berkembang untuk mencadangkan hutan tropis yang mereka miliki,
sehingga terjadi sequestration atau penyimpanan sejumlah besar karbon, atau
yang lebih dikenal dengan carbon trade (perdagangan karbon).
(http://en.wikipedia.org/wiki/Emissions_trading, 26 Maret 2010: 12.03 WIB).
Cara pembelian karbon melalui lembaran sertifikat semacam surat berharga yang
commit to user
Kebakaran hutan dan lahan membuat Indonesia menempati urutan ke tiga
negara penghasil emisi karbondioksida (CO2) terbesar di dunia. Kuantitas emisi
yang dihasilkan mencapai sepuluh persen dari emisi karbondioksida di dunia.
Ironisnya Indonesia juga merupakan salah satu negara terbesar yang memiliki
daerah hutan. Menempati urutan ke tiga dunia setelah Amazon (Brazil) dan
Kongo (Afrika) dengan memiliki sekitar 120 juta hektar areal hutan tropis.
(http://www.swaberita.com/indonesia-negara-penggagasproyek-hutankarbon.html,
26 Maret 2010: 12.10 WIB). Diterapkannya perdagangan karbon di Indonesia
akan membuka peluang bahwa hutan akan menghasilkan manfaat lebih besar
selain dari produksi kayu karena ekosistem hutan itu sendiri memiliki nilai jual
yang sangat tinggi.
Salah satu ekosistem hutan yang dapat ditawarkan adalah kelompok hutan
karbon di Pulau Siberut. Pulau ini berada paling utara, terletak sekitar 150 km dari
pantai barat Sumatera dan merupakan yang terbesar di Kepulauan Mentawai.
Menurut penelitian World Wildlife Fund (WWF) tahun 1980, hutan Mentawai
dinilai sangat unik karena memiliki tumbuhan dan primate endemik paling langka
di dunia, (http://www.situshijau.co.id/tulisan.php, 20 Februari 2010: 08.48)
Siberut juga didiami penduduk tradisional dengan budaya khas memanfaatkan
potensi hutan. Atas dasar itulah pada tahun 1981 dengan dukungan dunia
internasional dan UNESCO, Pemerintah Indonesia menyetujui dan menetapkan
Pulau Siberut sebagai Cagar Biosfer yang ke enam di Indonesia.
Pemanfaatan biodiversity secara tradisional di Siberut memungkinkan orang
untuk mendapatkan manfaat dari hutan tanpa merusaknya. Akan tetapi akhir-akhir
untuk membiarkan orang lain memanfaatkan hutan dengan praktek yang lebih
merusak demi mendapatkan keuntungan ekonomi jangka pendek.
Salah satu lembaga swasta yang memiliki kepedulian terhadap masalah
tersebut adalah PT. GLOBAL GREEN INDONESIA. Perusahaan ini
berkomitmen merestorasi ekosistem kekayaan biodiversity khususnya di Pulau
Siberut. Area tersebut menjadi konsentrasi PT. Global Green dalam pelestarian
dan pemantapan kekayaan biodiversity melalui program restorasi ekosistem
berkelanjutan.
Kebijakan Carbon Trade terbilang baru terutama dalam konservasi
lingkungan dan birokrasi pemerintahan. Diperlukan semacam sosialisasi terhadap
manfaat yang akan diperoleh secara ekonomi. Melalui perancangan kampanye ini
diharapkan memperoleh respon dan kerja sama positif dari masyarakat luar negeri
dan domestik bagi tujuan restorasi ekosistem biodiversity di Pulau Siberut,
sehingga nantinya akan memberikan dampak positif dari segi sosial dan
lingkungan.
Oleh karena itu, bentuk kontribusi yang dapat diberikan bidang desain
komunikasi visual untuk menemukan strategi komunikasi yang efektif yang
selanjutnya dapat diaplikasikan melalui beberapa media campaign dan activation
agar dapat diterima target audience. Perancangan ini difokuskan melalui copy
based advertising, namun tetap dilihat dari sudut pandang komunikasi visual.
Keberhasilan promosi terletak pada sebuah pesan, dimana perancangan ini
termasuk dalam kategori Iklan Layanan Masyarakat, sehingga dibutuhkan bahasa
commit to user
B. Perumusan Masalah
Pokok-pokok permasalahan yang didapat dalam perancangan ini adalah
sebagai berikut:
1. Bagaimanakah strategi komunikasi yang tepat dalam perancangan kampanye
sosial carbon trade Pulau Siberut agar mudah diterima target audience?
2. Media komunikatif apa sajakah yang dapat digunakan dalam perancangan
kampanye carbon trade Pulau Siberut?
3. Bagaimanakah memilih dan menentukan media placement yang efektif dalam
perancangan kampanye sosial carbon trade Pulau Siberut melalui copy based
advertising?
C. Tujuan
1. Menemukan strategi komunikasi yang tepat dalam perancangan kampanye
sosial carbon trade Pulau Siberut melalui copy based advertising sehingga
mudah diterima target audience.
2. Menemukan media-media komunikatif yang dapat digunakan dalam
perancangan kampanye carbon trade Pulau Siberut.
3. Memilih dan menentukan media placement yang efektif dalam perancangan
D. Target
Audience
Kampanye sosial atau bisa juga sebagai Iklan Layanan Masyarakat (ILM)
adalah iklan yang digunakan untuk menyampaikan informasi, mempersuasi atau
mendidik khalayak dimana tujuan akhir bukan untuk mendapatkan keuntungan
ekonomi semata melainkan keuntungan sosial, tetapi bermanfaat untuk
menginformasi dan mengajak masyarakat untuk hal yang bersifat sosial. Sehingga
harus ada target audience yang menjadi sasaran.
Target audience dari perancangan kampanye ini adalah sebagai berikut:
1. Target Audience primer
Segmentasi psikografis: negara-negara dan perusahaan-perusahaan industri
penghasil emisi karbondioksida.
2. Target Audience sekunder
Segmentasi psikografis: pemerintah daerah dan perusahaan-perusahaan yang
mengantongi Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) di Pulau
Siberut.
E. Target Karya
Media-media yang akan digunakan dalam perancangan ini antara lain:
1. Media cetak
a. Booklet
b. Business Card
commit to user
d. Commitment Form
e. Post Card
f. Fact Sheet
2. Media online
a. Website
b. Email blast
3. Merchandise
a. Eco Bag
b. T-shirt
c. Boneka ikon / maskot
4. Advertorial
5. Thank You Ad
F. Metode Pengumpulan Data
Metode penelitian yang akan penulis gunakan, antara lain:
1. Wawancara mendalam (in-depth interviewing)
Sumber data yang sangat penting dalam perancangan ini adalah berupa
manusia yang dalam posisi sebagai narasumber atau informan. Untuk
mengumpulkan informasi dari sumber data ini dilakukan dalam bentuk
wawancara mendalam. Dengan demikian wawancara dilakukan dengan
Nantinya penulis akan mewawancarai Bapak Eliadi Hasmi Daulay, salah
satu staff PT. Global Green sebagai pihak yang secara langsung terlibat dalam
restorasi hutan di Pulau Siberut.
2. Observasi tak berperan
Dalam observasi tak berperan kehadiran peneliti dalam melakukan
observasi tidak diketahui sama sekali oleh subjek yang diamati. Pengamatan
semacam ini selain dilakukan pada aktivitas sebenarnya, dapat juga dilakukan
dengan mengamati rekaman video, siaran televisi, atau mengamati gambar
juga video. (Sutopo, 2002:65)
Jarak objek yang sangat jauh membuat penulis menggunakan teknik
observasi tak berperan sama sekali. Sebagai solusinya penulis mengamati
rekaman video Pulau Siberut dan film Kepulauan Mentawai, seperti yang
diproduksi oleh National Geographic.
3. Studi Pustaka
Untuk melengkapi data-data objek, penulis menggunakan metode studi
pustaka dengan mencari literatur-literatur dari buku-buku tentang Pulau
Siberut, keadaan hutan di Indonesia saat ini, dan tentunya tentang
commit to user
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Tinjauan Perancangan
Kata perancangan berasal dari kata benda rancang, yang kemudian
mendapatkan awalan per- dan akhiran –an, sehingga terbentuklah kata
perancangan. Jadi, kata perancangan dapat diartikan merencanakan segala sesuatu
sebagai bagian dari kerangka kerja. (Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, 691)
1. Pengertian perancangan menurut bahasa
a. DESIGNOSE, dari Bahasa Latin yang artinya memotong dengan gergaji
atau tindakan menakik untuk memberi tanda. Maksudnya untuk memberi
citra pada objek tertentu.
b. DESIGNARE, dari Bahasa Perancis yang artinya menandai, memisahkan.
Maksudnya menghilangkan kesimpangsiuran.
c. DESIGN, dari Bahasa Inggris yang artinya memikirkan, menggambar
rencana, menyusun bagian-bagian menjadi sesuatu yang baru.
2. Pengertian perancangan di bidang arsitektur menurut Tim McGinty yaitu:
a. Mengubah sesuatu yang sudah ada menjadi sesuatu yang lebih baik.
b. Perancangan meliputi fungsi-fungsi mengidentifikasi masalah,
menggunakan metode-metode, dan melakukan sintesa.
c. Perancangan merupakan proses tiga bagian: keadaan semula, proses
3. Proses-proses dalam sebuah perancangan menurut JW. Wade antara lain:
a. Pemrograman
Langkah awal dalam merancang adalah dengan menyusun program untuk
menetapkan hal-hal yang menjadi tujuan, kebutuhan, dan perhatian klien.
b. Perencanaan
Untuk menyatakan masalah umum klien menjadi masalah standar yang
mudah dipecahkan.
c. Perancangan
Mengembangkan gagasan keseluruhan menjadi suatu usul wujud.
B. Tinjauan Kampanye Sosial
Kampanye menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti suatu gerakan
(tindakan) serentak (untuk melawan, mengadakan aksi). Sedangkan sosial adalah
semua hal yang berkenaan dengan masyarakat. Kampanye sosial merupakan suatu
gerakan yang dilakukan untuk mengubah perilaku sesuatu yang berkenaan dengan
kelompok masyarakat agar menuju ke arah tertentu sesuai dengan gerakan yang di
laksanakan oleh pembuat kampanye.
Pengertian kampanye secara umum menampilkan suatu kegiatan yang bertitik
tolak untuk membujuk. Kampanye menurut Lesie B. Snyder (2002), kampanye
komunikasi merupakan aktivitas komunikasi yang terorganisasi, secara langsung
ditujukan khalayak tertentu, pada periode waktu yang telah ditetapkan untuk
mencapai tujuan tertentu, pada periode waktu yang telah ditetapkan untuk
commit to user
sebagai serangkaian kegiatan komunikasi yang terorganisasi dengan tujuan untuk
menciptakan dampak tertentu terhadap sebagian besar khalayak sasaran secara
berkelanjutan dalam periode waktu tertentu. (Ruslan, 2003:23)
Aktivitas komunikasi dalam berkampanye biasanya berkaitan dengan suatu
kepentingan dan tujuan apa, siapa khalayak sasarannya, dalam rangka kegiatan
apa, untuk membujuk atau bahkan memotivasi khalayak. Dalam berbagai kegiatan
tersebut terdapat beberapa jenis program kampanye yang dilaksanakan secara
prinsip merupakan kegiatan yang bertitik tolak untuk memotivasi atau membujuk
dan mencapai tujuan tertentu. Menurut Charles U. Larson dalam bukunya,
Persuasion, Reception, and Responsibility (1992) membagi jenis-jenis kampanye
kegiatan menjual produk, kandidat, dan ide atau gagasan perubahan sosial, yaitu
sebagai berikut:
1. Product-Oriented Campaign
Kegiatan dalam kampanye berorientasi pada produk, dan biasanya dilakukan
dalam kegiatan komersial kampanye promosi pemasaran suatu peluncuran
produk yang baru.
2. Candidate-Oriented Campaign
Kegiatan kampanye yang berorientasi bagi calon (kandidat) untuk kepentingan
kampanye politik.
3. Ideologi or Cause-Oriented Campaign
Jenis kampanye ini berorientasi yang bertujuan bersifat khusus dan berdimensi
perubahan sosial.
Kampanye merupakan sebuah aktivitas promosi berupa pesan-pesan serial
beragam alat komunikasi dalam sebuah periode tertentu. Ciri-ciri kampanye
diantaranya berkesinambungan, sasaran dapat melihat/ mendengar/ membaca
hanya satu tema dari beragam alat komunikasi. Rice dan Paisley menyebutkan
bahwa kampanye adalah keinginan seseorang untuk mempengaruhi kepercayaan
dan tingkah laku orang lain dengan daya tarik komunikatif. Tujuan kampanye
adalah menciptakan ‘perubahan’ atau ‘perbaikan’ dalam masyarakat. Oleh karena
itu, Rice dan Paisley menyebutkan bila dalam suatu lingkungan sosial terjadi
perubahan atau perbaikan maka “kampanye telah berlangsung di lingkungan
tersebut” (Rachmadi, 1994:134). Tiga tahapan yang perlu diperhatikan dalam
kampanye yaitu:
1. Pendidikan
Pada tahap ini isi kampanye diarahkan untuk mendidik masyarakat
2. Perencanaan
Di sini disiapkan berbagai hal sebelum kampanye dilaksanakan
3. Pelaksanaan
Hal ini dimaksudkan mengatur sanksi bagi pelanggar aturan. Sebagai contoh,
jika kita melancarkan kampanye anti merokok dan bahayanya terhadap
kesehatan, kita harus memberikan penerangan-penerangan yang bersifat
mendidik melalui media massa atau brosur-brosur kepada masyarakat.
Kemudian kampanye harus diikuti oleh tahap perencanaan. Tahapan ketiga,
pelaksanaan (enforcement), perlu ada peringatan keras ataupun ancaman
denda atau ancaman hukuman.
Dalam bukunya, Rachmadi (1994:135), dalam melaksanakan kampanye ada
commit to user
1. Perkirakan terlebih dahulu kebutuhan, tujuan yang akan dicapai, dan
kemampuan dari khalayak sasaran.
2. Rencanakan kampanye secara sistematis.
3. Lakukan evaluasi secara terus-menerus.
4. Gunakan media massa dan komunikasi interpresonal.
5. Pilihlah media massa yang tepat untuk mencapai khalayak sasaran.
Sebelum profesional hubungan masyarakat memutuskan bagaimana dan apa
yang dikomunikasikan ke satu publik spesifik, situasi dan khalayaknya harus
diteliti dan dianalisis. Kampanye hubungan masyarakat biasanya dijalankan
menggunakan rumus R-A-C-E (research, analyze, create, dan evaluate). Pada
tahap riset, satu tim hubungan masyarakat bisa melakukan jajak pendapat dan
survei untuk menentukan sikap khalayak sekarang terhadap sebuah perusahaan,
produk, atau masalah. Setelah sikapnya dipahami, satu kampanye akan
direncanakan untuk menyampaikan tujuan-tujuan organisasi. (Lee&Johnson,
2004:365)
Pelaksanaan kampanye selalu berupa kelompok bukan individual, seperti
partai politik, pemerintah, lembaga, atau perusahaan. Satu hal yang perlu dicatat
adalah, kesuksesan suatu kampanye selalu dipengaruhi oleh seberapa jauh
kelompok tersebut dikenal di lingkungan khalayak, dan seberapa banyak pesan
kampanye itu disebarluaskan melalui beberapa media sekaligus. Apakah
kampanye diterima khalayak atau tidak, sangat bergantung dari jenis saluran
komunikasi yang digunakan, dan juga tergantung dari isi pesan kampanye
Isi pesan kampanye terkadang terhalang penyampaiannya kepada khalayak.
Hal ini disebabkan oleh tingkat kepentingan khalayak terhadap pesan yang
disampaikan. Di samping itu pesan selalu ditafsirkan sesuai dengan persepsi
khalayak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi yang berbeda dapat
mengakibatkan berbalik menentang. Oleh karena itu, para pelaksana kampanye
harus menghindarkan hal-hal yang dapat menimbulkan counter effect, yang
berakibat khalayak berbalik menentang dan tidak akan mengikuti/ menjalankan
pesan kampanye.
Walaupun pada intinya kegiatan kampanye bertitik tolak dengan tindakan
komunikasi persuasif dalam arti luas, namun bukan persuasif untuk tujuan
perorangan, dan paling tidak terdapat empat aspek komunisuasif dalam kegiatan
kampanye (Ruslan, 2005:27), yaitu sebagai berikut:
1. Kampanye secara sistematis berupaya menciptakan ‘ruang’ tertentu dalam
benak pikiran khalayak mengenai tanggapan produk, kandidat, dan suatu ide
atau gagasan program tertentu bagi kepentingan khalayak sasaran.
2. Kampanye berlangsung melalui berbagai tahapan-tahapan, yaitu dimulai dari
menarik perhatian, tema kampanye digencarkan, memotivasi, dan mendorong
untuk bertindak, serta berpartisipasi khalayak sasaran melakukan tindakan
yang nyata.
3. Kampanye harus mampu mendramatisasi tema pesan atau gagasan-gagasan
yang diekspos secara terbuka dan mendorong partisipasi khalayak sasaran
untuk terlibat, baik secara simbolis maupun praktis untuk mencapai tujuan
commit to user
4. Keberhasilan atau tidaknya popularitas suatu pelaksana kampanye tersebut
melalui kerjasama dengan pihak media massa untuk menggugah perhatian,
kesadaran, dukungan dan mampu mengubah perilaku atau tindakan nyata dari
khalayaknya.
C. Tinjauan Periklanan
Periklanan adalah komunikasi komersil dan nonpersonal tentang sebuah
organisasi dan produk-produknya yang ditransmisikan ke suatu khalayak target
melalui media bersifat massal seperti televisi, radio, koran, majalah, direct mail,
reklame luar ruang, kendaraan umum, dan lainnya. (Lee&Johnson, 2004:3)
1. Klasifikasi Periklanan
Dalam bukunya, Lee&Johnson (2004:4) mengelompokkan beberapa kategori
iklan seperti berikut ini:
a. Periklanan Produk
Porsi utama pengeluaran periklanan dibelanjakan untuk produk:
presentasi dan promosi produk-produk baru, produk-produk yang ada, dan
produk-produk hasil revisi.
b. Periklanan Eceran
Berlawanan dengan iklan produk, periklanan eceran bersifat lokal dan
berfokus pada toko, tempat di mana beragam produk dapat dibeli atau
dimana satu jasa ditawarkan. Periklanan eceran memberikan tekanan pada
c. Periklanan Korporasi
Fokus periklanan ini adalah membangun identitas korporasi atau untuk
mendapatkan dukungan publik terhadap sudut pandang organisasi.
Kebanyakan periklanan korporasi dirancang untuk menciptakan citra
menguntungkan bagi sebuah perusahaan dan produk-produknya, meskipun
demikian periklanan citra secara khusus mengindikasikan kampanye
korporasi yang menyoroti keunggulan atau karakteristik menguntungkan
dari perusahaan sponsor.
d. Periklanan Bisnis ke Bisnis
Istilah ini berkaitan dengan periklanan yang ditujukan kepada para
pelaku industri, para pedagang perantara, serta para profesional.
e. Periklanan Politik
Periklanan politik sering kali digunakan para politisi untuk membujuk
orang untuk memilih mereka, dan karenanya iklan jenis ini merupakan
sebuah bagian penting dari proses politik di negara-negara demokrasi yang
memperbolehkan iklan para kandidat. Para pengkritik merasa prihatin
bahwa periklanan politik cenderung lebih berfokus pada citra ketimbang
isu-isu.
f. Periklanan Direktori
Orang merujuk periklanan direktori untuk menemukan cara membeli
sebuah produk atau jasa. Bentuk terbaik direktori yang dikenal adalah
Yellow Pages, meskipun sekarang terdapat berbagai jenis direktori yang
commit to user
g. Periklanan Respon LangsungPeriklanan ini melibatkan komunikasi dua arah di antara pengiklan dan
konsumen. Dapat menggunakan sembarang media periklanan. Produk
biasanya dikirimkan ke konsumen melalui pos dan konsumen dapat
menanggapinya, dapat melalui pos, telepon, atau faks. Saat ini banyak
perusahaan yang memperbolehkan konsumennya menanggapi secara
online.
h. Periklanan Hubungan Masyarakat
Ketika periklanan melibatkan komunikasi yang terkendali atas waktu
dan ruang media bayaran, hubungan masyarakat melibatkan publisitas non
bayaran yang seringkali sulit didapatkan, dan sekali didapatkan sangat
sulit dikendalikan. Meski demikian, hubungan masyarakat tetap
merupakan bagian krusial dari bauran promosi. Pengerahan periklanan
besar-besaran tidak dapat menggantikan citra publik dan kesan positif.
(Lee&Johnson, 2004:355)
Meskipun praktik hubungan masyarakat berlangsung di dunia bisnis,
praktisi hubungan masyarakat harus sepenuhnya memahami media dan
mampu berwawancara, mengumpulkan dan mensintesis sejumlah
informasi, menulis dalam gaya seorang jurnalis, dan memproduksi materi
sesuai tenggat waktu. Penulisan tetap menjadi keahlian utama saat
memasuki profesi ini.
Tujuan utama hubungan masyarakat adalah mengamankan pernyataan
pihak ketiga melalui penyebaran press release, lembaran fakta, paparan
periklanan yang dimengerti publik sebagai informasi bias dari perusahaan
yang telah membayar untuknya, informasi yang muncul dalam kisah berita
yang objektif cenderung dipandang sebagai bahan yang dapat dipercaya.
(Lee&Johnson, 2004:358)
i. Periklanan Advokasi
Periklanan advokasi berkaitan dengan penyebaran gagasan-gagasan
dan klarifikasi isu sosial yang kontroversial yang menjadi kepentingan
masyarakat. Perusahaan yang menerapkan strategi periklanan pada
masalah sosial seperti konservasi alam semakin bertambah banyak.
Dalam bukunya, Terence A Shimp (2003:71) mengemukakan
periklanan yang ramah lingkungan. Tema ini dalam periklanan hanya
terjadi dalam periode yang singkat di awal hingga akhir tahun 1990-an,
namun tanggapan yang antusias terhadap lingkungan yang semakin rusak
menjadi berkurang. Ada tiga jenis tema periklanan yang ramah lingkungan
(green advertising) yang biasa digunakan, yaitu:
1) Menunjukkan sebuah hubungan antara produk/ jasa dan lingkungan.
2) Mempromosikan gaya hidup ramah lingkungan tanpa menyoroti suatu
produk/ jasa tertentu.
3) Menampilkan citra perusahaan yang terkesan bertanggung jawab
terhadap lingkungan.
Analisis isi iklan TV dan majalah yang mengangkat tema lingkungan
menunjukkan bahwa, sebagian besar pengiklan yang ramah lingkungan
memperlihatkan dampak lingkungan yang dijanjikan oleh merek yang
commit to user
mengidentifikasi manfaat lingkungan yang diberikan atau tindakan tertentu
yang telah dilakukan perusahaan untuk mengatasi masalah tersebut.
Signifikansi dari masalah lingkungan menuntut komunikator
pemasaran melakukan apapun yang mungkin dilakukan untuk menjamin
bahwa klaim ‘bersahabat dengan lingkungan’ adalah kredibel, realistis,
dan dapat dipercaya. Untuk membantu perusahaan mengetahui klaim
tentang lingkungan macam apa yang dapat dan tidak dapat
dikomunikasikan dalam iklan, kemasan, di tempat lain. The Federal Trade
Commission menyusun panduan untuk klaim-klaim pemasaran yang
ramah lingkungan (environmental marketing), yaitu:
1) Kualifikasi dan pengungkapan yang diberikan harus cukup
menjelaskan dan penting untuk mencegah terjadinya penipuan.
2) Klaim harus dinyatakan dengan jelas apakah mereka berlaku untuk
produknya, kemasannya, atau komponen dari masing-masing produk
atau kemasan.
3) Klaim tidak boleh berlebihan dalam menyatakan suatu atribut atau
manfaat lingkungan, baik secara gamblang maupun secara tersirat.
4) Klaim komparatif harus disajikan dengan dasar perbandingan yang
jelas, untuk menghindari terjadinya penipuan bagi konsumen.
2. Perencanaan dan pemilihan media
Untuk mendapatkan hasil maksimum dari pengeluaran media, para
pemasar harus mengembangkan rencana-rencana media yang efektif. Sebagian
radio, tidak seefektif masa lalu dalam menghasilkan penjualan karena pasar
berubah dengan cepat dan para pengiklan harus lebih selektif dalam menggali
prospek terbaik produknya. Untuk menggunakan media secara efektif, adalah
penting untuk memahami bukan hanya memilih media terbaik yang harus
dilakukan namun juga cara terbaik untuk merencanakan dan membeli ruang
atau waktu media. Para perencana media lebih dari sebelumnya, sekarang
tertantang untuk memilih media terbaik agar dapat menjangkau konsumen
yang semakin tersegmentasi.
Perencanaan media adalah proses pengarahan pesan periklanan ke
khalayak sasaran pada waktu dan tempat yang tepat serta menggunakan
saluran yang tepat. Para perencana media harus mempertimbangkan hal-hal
berikut:
a. Khalayak mana yang ingin dijangkau?
b. Kapan dan di mana ingin menjangkau mereka?
c. Berapa banyak orang yang ingin dijangkau?
d. Seberapa sering perlu menjangkau mereka?
e. Berapakah biaya yang dibutuhkan untuk menjangkau mereka?
Perencanaan media melibatkan koordinasi dari tiga tingkat perumusan
strategi, yaitu strategi pemasaran, strategi periklanan, dan strategi media.
Strategi pemasaran keseluruhan memberikan dorongan dan arahan dalam
pemilihan strategi periklanan maupun pemasaran. Strategi media terdiri dari
empat kelompok kegiatan yang saling terkait (Lee&Johnson, 2004:225):
a. Memilih khalayak sasaran.
commit to user
c. Memilih media dan sarana-sarananya.d. Pembelian media.
D. Tinjauan Perdagangan Karbon
Mengingat besarnya skala dan laju perubahan yang terjadi, benturan antara
kepentingan pembangunan dan pelestarian alam tidak bisa dihindarkan. Hal ini
memaksa komunitas internasional untuk memikirkan kelanjutan peradaban
manusia sebelum milenium ini berakhir. Cara untuk mencapai tujuan
pembangunan yang berkelanjutan dalam konteks perubahan lingkungan global
memaksa untuk melakukan berbagai penyesuaian. Tantangan yang luar biasa ini
secara khusus juga dialami oleh negara-negara berkembang yang terpaksa harus
menyesuaikan strategi pembangunan nasionalnya. Hal ini berkaitan dengan
berbagai konvensi internasional, termasuk konvensi tentang perubahan iklim,
keanekaragaman hayati, penggurunan, perdagangan karbon, dan sebagainya.
(Murdiyarso, 1999:2)
Perdagangan karbon adalah mekanisme berbasis pasar untuk membantu
membatasi peningkatan CO2 di atmosfer. Pasar perdagangan karbon sedang
mengalami perkembangan yang membuat pembeli dan penjual kredit karbon
sejajar dalam peraturan perdagangan yang sudah distandardisasi.
1. Pelaku Perdagangan Karbon
a. Pembeli
Pemilik industri yang menghasilkan CO2 ke atmosfer yang diwajibkan
mekanisme sekuestrasi (penyimpanan) karbon. Fasilitas pembangkit
tenaga juga termasuk dalam industri ini.
b. Penjual
Pemilik dan pengelola hutan atau lahan pertanian yang menjual kredit
karbon berdasarkan akumulasi karbon yang terkandung dalam pepohonan
di hutan mereka. Atau bisa juga pengelola industri yang sudah mengurangi
emisi karbonnya dan kemudian dijual kepada emitor lain.
2. Fenomena Global
a. Emisi gas rumahkaca
Gas rumahkaca (GRK) adalah gas-gas di atmosfer yang memiliki
kemampuan menyerap radiasi gelombang panjang yang dipancarkan
kembali ke atmosfer oleh permukaan bumi. Sifat termal radiasi ini
menyebabkan pemanasan atmosfer secara global (global warming). Di
antara GRK penting yang diperhitungkan dalam pemanasan global adalah
karbondioksida (CO2), metana (CH4) dan nitrous oksida (N2O).
Kontribusinya yang lebih dari 55% terhadap pemanasan global, CO2 yang
diemisikan dari aktivitas manusia (anthropogenic) mendapat perhatian
yang lebih besar.
Berdasarkan studi dari berbagai komunitas ilmiah, Intergovernmental
Panel on Climate Change (IPCC) telah menetapkan enam buah skenario
emisi GRK. Skenario ini dibangun berdasarkan asumsi-asumsi
pertumbuhan penduduk, pertumbuhan ekonomi, suplai energi dan
commit to user
selanjutnya dikenal dengan nama IS92a sampai IS92f seperti terlihat
dalam tabel berikut ini.
Skenario Tahun CO2
(Gt C)
CH4
(Tg)
N2O
[image:35.612.162.512.129.477.2](Tg N) IS92a 1990 2025 2100 7.4 12.2 20.3 506 659 917 12.9 15.8 17.0 IS92b 2025 2100 11.8 19.1 659 917 15.7 16.9 IS92c 2025 2100 8.8 4.6 589 546 15.0 13.7 IS92d 2025 2100 9.3 10.3 584 567 15.1 14.5 IS92e 2025 2100 15.1 35.8 692 1072 16.3 19.1 IS92f 2025 2100 14.4 26.6 697 1168 16.2 19.0 Tabel 1.
Beberapa skenario emisi GRK menurut IPCC (1992)
Jelaslah bahwa dengan proyeksi emisi yang demikian iklim bumi akan
berubah jika upaya manusia melalui penurunan emisi dan peningkatan
fiksasi GRK tidak dapat dijalankan. (Murdiyarso, 1999:3)
b. Neraca karbon global
Secara global atmosfer bumi mengakumulasi karbon sebesar 1.5 (±1.0)
Gt C/th. Neraca karbon yang demikian negara-negara industri mulai
khawatir dengan kelebihan karbon dan mulai mencari cara agar bumi
dapat terhindar dari perubahan iklim karena meningkatnya suhu.
Sementara itu negara-negara berkembang memacu ketertinggalannya
dengan meningkatkan konsumsi energi bagi penduduknya yang meningkat
pesat dan pengurasan sumber daya alam untuk mendapatkan devisa.
Tingkat konsumsi energi yang makin tinggi dan laju pembangunan yang
dihentikan begitu saja, bahkan untuk melakukan efisiensi pun diperlukan
investasi yang besar.
Selama pemakaian BBF akan terus meningkat seiring dengan
meningkatnya kebutuhan dan standar hidup manusia, maka salah satu cara
yang paling mungkin untuk menstabilkan konsentrasi karbon atmosfer
adalah dengan meningkatkan kapasitas ekosistem daratan melalui kegiatan
penghutanan kembali lahan kritis dan pemanfaatan hutan alam secara
berkelanjutan. Sementara itu karbon alami seperti cagar alam dan
ekosistem lautan dengan terumbu karangnya perlu terus dipertahankan dan
dipelihara. (Murdiyarso, 1999:6)
c. Perubahan iklim
Iklim adalah rata-rata kondisi cuaca yang merupakan interaksi yang
kompleks antara proses-proses fisik, kimia, dan biologi yang
mencerminkan interaksi antara sistem geosfer dan biosfer yang terjadi
pada atmosfer bumi. Karena itu iklim suatu tempat atau wilayah
merupakan deskripsi statistik tentang kondisi atmosfer dalam jangka
waktu yang panjang sehingga menggambarkan rata-rata berbagai variabel
cuaca.
Kesetimbangan molekul penyusun suatu benda (bahang) atmosfer
terkait erat dengan sirkulasi di lautan. Mekanisme penyeimbang bahang
(heat) secara melintang dikendalikan oleh intensitas pemanasan yang
berbeda di setiap letak lintang yang berbeda. Secara ekstrem pemanasan
‘neto’ di daerah tropis dan pendinginan ‘neto’ di daerah kutub akan
commit to user
baik di atmosfer maupun di lautan. Rotasi bumi tentu akan memperumit
pola aliran bahang. Dari mekanisme inilah pola iklim bumi terbentuk dan
prosesnya dikendalikan oleh energi radiasi matahari yang variabilitasnya
dipengaruhi oleh komposisi gas-gas di atmosfer bumi.
Tanpa adanya GRK yang memiliki sifat memerangkap radiasi
gelombang panjang yang memiliki efek pemanasan, atmosfer bumi akan
memiliki suhu 30ºC lebih dingin dari kondisi saat ini. Namun demikian
seperti diuraikan di atas, peningkatan konsentrasi GRK saat ini berada
pada laju yang mengkhawatirkan sehingga emisi GRK akibat kegiatan
manusia perlu dikendalikan. (Murdiyarso, 1999:7)
d. Kyoto Protocol dan sektor kehutanan
Sejak diselenggarakannya Earth Summit di Rio de Jeneiro pada bulan
Juni 1992 banyak kemajuan telah dicapai pada bidang perlindungan
lingkungan global, khususnya yang menyangkut perlindungan atmosfer
untuk mencegah terjadinya perubahan iklim. Di antara kemajuan yang
telah dicapai adalah bahwa para penandatanganan Konvensi Perubahan
Iklim (United Nation Framework on Climate Change Convention,
UNFCCC) telah meratifikasinya dalam bentuk produk hukum seperti
undang-undang yang disyahkan lembaga legislatif masing-masing negara.
Demikian juga halnya yang dilakukan di Indonesia, dengan demikian
secara legal kita ikut bertanggungjawab dalam memberikan sumbangan
terhadap upaya pengurangan emisi gas rumahkaca dan upaya
meningkatkan kemampuan penyerapan atau fiksasi gas tersebut melalui
Pengadopsian Kyoto Protocol yang dirumuskan dalam Konferensi Para
Pihak yang Ketiga (Third Session of the Conference of Parties, COP3)
telah dilaksanakan di Kyoto pada bulan Desember 1997 yang lalu. Tujuan
utama pengadopsian Kyoto Protocol adalah untuk menstabilkan
konsentrasi GRK pada tingkat yang dapat mencegah campur tangan
manusia yang dapat membahayakan sistem iklim bumi. Di antara elemen
penting dalam protokol adalah target komitmen yang disepakati
negara-negara maju yang secara kolektif setuju untuk mengurang emisi GRKnya
paling kurang 5% dari tingkat emisi 1990 yang akan dicapai pada periode
2008-2012.
Tidak semua negara maju menerima keputusan ini, tetapi ada juga
yang bersedia menguranginya. Negara-negara yang tergabung dalam Uni
Eropa bahkan akan memenuhi targetnya secara kolektif, sehingga kalau
ada anggota yang tidak dapat memenuhi targetnya, maka anggota lain
secara kolektif dapat menanggungnya. Elemen lain yang juga penting
adalah diterimanya mekanisme yang fleksibel sehingga antara negara maju
(di dalam konvensi dikenal sebagai Annex 1 countries) dan negara
berkembang (non-Annex 1 countries) serta antar negara maju sendiri dapat
membuat perjanjian dalam rangka memenuhi target komitmennya.
(Murdiyarso, 1999:11)
3. Perspektif Nasional
Perdagangan emisi atau perdagangan karbon selain merupakan jargon baru
commit to user
harus diciptakan oleh pihak-pihak yang akan melakukan transaksi. Bagi
pembeli karbon perdagangan karbon dapat merupakan bisnis yang penuh
resiko. Sedang bagi penjual perlu pembahasan dan persiapan yang seksama
agar tidak terjadi kesalahan-kesalahan yang merugikan generasi mendatang.
Kemampuan melihat bahwa selain agenda internasional, juga memiliki banyak
sekali agenda nasional dalam rangka penataan kekayaan alam berupa hutan
tropis. Hendaknya kesempatan seperti ini dipandang sebagai tantangan untuk
membenahi hutan yang saat ini berada pada kondisi yang sangat
memprihatinkan.
Indonesia sebagai negara berkembang yang ternyata memiliki emisi besar
tingkat ke tiga dapat menguranginya melalui sektor kehutanan harus mampu
melihat hutan tropisnya dengan paradigma yang berbeda. Hutan tidak lagi
selalu identik dengan kayu apalagi hutan tropis yang ringkih. Hutan dapat
memberikan jasa dalam bentuk yang lain, seperti fungsi hidrologi, fungsi
sosial, dan nilai budaya. Bahkan sekarang diketahui bahwa hutan berperan
besar dalam upaya melindungi atmosfer bumi. Lahan berhutan tidak harus
semuanya dikonversi untuk mengejar ketertinggalan dari pertumbuhan
ekonomi yang macet. Perlu mencadangkan dalam jumlah yang besar
mengingat kelangkaannya di berbagai kawasan di bumi ini. (Murdiyarso,
E. Tinjauan
Copy Based Advertising
1. Tinjauan Komunikasi
Pada dasarnya komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh
komunikator kepada komunikan melalui seperangkat simbol verbal atau non
verbal yang mewakili perasaan, nilai, gagasan atau maksud sumber tadi.
Simbol terpenting adalah kata-kata atau bahasa. Melalui bahasa kita dapat
merepresentasikan obyek, gagasan, ucapan, perasaan ataupun tulisan. Oleh
Burke dikatakan bahwa bahasa adalah suatu tanggapan strategis manusia
terhadap situasi tertentu, simbol verbal adalah tindakan yang bermakna dan
kumpulan kata-kata sebagai bentuk gerakan sikap. (Griffin, 2003:313)
Studi komunikasi bukan sebatas proses penyampaian pesan dari
komunikator kepada komunikan saja, akan tetapi komunikasi juga sebagai
proses pertukaran makna. Seperti halnya premis Herbert Blummer, bahwa
makna muncul dari interaksi sosial yang dilakukannya satu sama lain. Dengan
kata lain, makna bukanlah obyek lepas atau bukan karena ada yang
mendahului, tetapi makna merupakan hasil negosiasi melalui penggunaan
bahasa atau interaksi simbolik. (Griffin, 2003:57)
Positioning adalah strategi komunikasi. Komunikasi dilakukan untuk
menjembatani produk/ merek/ nama dengan calon konsumen. Meski
positioning bukanlah sesuatu yang dilakukan terhadap produk, komunikasi
berhubungan dengan atribut-atribut secara fisik maupun nonfisik yang melekat
pada produk. Warna, desain, tulisan yang tertera di label, kemasan, nama
commit to user
semata-mata berhubungan dengan iklan meski iklan itu menyita porsi
anggaran komunikasi yang sangat besar. Komunikasi menyangkut soal citra
yang disalurkan melalui model iklan, media yang dipilih, outlet yang
menyalurkan produk, sikap para manajer dan tenaga penjual, berbagai bentuk
sponsorship, produk-produk terkait, bentuk fisik bangunan, manajer/ CEO/
komisaris yang diangkat, dan sebagainya. (Kasali, 1998:527)
2. Tinjauan Copywriting
a. Pengertian dan tujuan
Pengertian iklan (W. S Pattis):
“Setiap bentuk komunikasi yang dimaksudkan untuk memotivasi dan mempromosikan produk dan jasa kepada seseorang /pembeli potensial ; mempengaruhi dan memenangkan pendapat publik untuk berpikir dan bertindak sesuai dengan keinginan si pemasang iklan.”
Iklan memiliki bentuk berupa tulisan, gambar, film atau gabungan
unsur-unsur tersebut. Pada tulisan iklan itulah kemudian dikenal dengan
istilah copywriting. Copywriting adalah seni penulisan pesan penjualan
yang paling persuasif yang dilatarbelakangi kewiraniagaan yang kuat.
Sedangkan seseorang yang merencanakan, membuat dan mengevaluasi
naskah untuk Print Ad, TV comm, Radio Comm, dan Aktivitas Below The
Line (BTL) seperti: brosur, company profile, leaflet, dan sebagainya disebut
copywriter.
Tujuan copywriting adalah untuk membentuk perilaku membeli agar
pesan penjualan dapat terpenuhi. Untuk mencapai tujuan maka copywriting
1) Menggugah
2) Informatif
3) Persuasif
4) Bertenaga gerak
5) Memiliki penyelesaian akhir
Asas umum yang harus dipatuhi dalam copywriting sesuai dengan tata
krama dan tata cara periklanan Indonesia adalah:
1) Harus jujur, bertanggung jawab dan tidak bertentangan dengan hukum
yang berlaku.
2) Tidak boleh menyinggung perasaan dan merendahkan martabat negara,
agama, susila, adat, budaya, suku dan golongan.
3) Harus dijiwai oleh asas persaingan yang sehat.
b. Komposisi Copywriting
Copywriting yang ideal adalah copy yang memuat unsur-unsur
pertimbangan :
1) Target audience
2) Konsep produk
3) Komunikasi media
4) Pesan promo penjualan
c. Media Copywriting
Copywriting merupakan tulisan berkarakter dimanapun ditempatkan, di
media apapun, kesesuaian pemilihan kata sangat menentukan keberhasilan
berpromosi. Copywriting yang menekankan pada mata misal media cetak
commit to user
memanfaatkan kekuatan ears catcher (penangkap telinga) dan media audio
visual copywriting harus dapat memadukan kedua kekuatan mata dan
telinga. Beberapa media dalam copywriting antara lain:
1) Print Ad (Iklan Cetak)
Iklan jenis ini termasuk visual based (berdasarkan gambar), kekuatan
promosi terletak pada headline, copy, dan visualisasi yang unik. Setelah
membuat copy iklan cetak, tugas copywriter selanjutnya adalah meneliti
kembali copy iklan, karena jika sudah naik cetak kesalahan penulisan
(nama, nomor telepon, nilai, dan sebagainya) dapat menjadi masalah.
2) TV Commercial (Iklan TV)
Iklan jenis ini tergolong dalam audio visual based (berdasar suara dan
gambar), kekuatan promosi terletak pada keyword (kata kunci) dengan
sound (suara), sound effect (efek suara), dan visualisasi yang atraktif.
Copywriter yang baik mampu mengimajinasikan audio visual yang
tinggi, salah satunya dengan menempatkan diri seperti penulis skenario
film.
3) Radio Commercial (Iklan Radio)
Kekuatan dalam audio based (berdasar suara) terletak pada keyword,
conversation (tata bahasa), monolog dengan sound dan sound effect
yang atraktif. Kemampuan imajinasi harus tinggi sehingga dapat
membawa orang untuk membayangkan kejadian yang sebenarnya,
caranya adalah dengan memanfaatkan empathy (perasaan).
[image:43.612.170.509.200.487.2]a) Printing Materials-nya berupa copy based (berdasar tulisan),
biasanya adalah keterangan detail dari aktivitas promosi Above The
Line (ATL) sehingga banyak teks. Iklan jenis ini membutuhkan
ketelitian yang tinggi agar tidak terjadi kesalahan penulisan
meskipun hanya satu huruf.
b) Outdoors: Visual & Copy Based, headline (promise), fitur
tambahan dalam print ad yang merupakan keunggulan optional
dari brand (splash) yg kuat, eye catching (menarik), namun tidak
banyak teks.
5) Advertorial
Advertorial adalah bentuk periklanan yang disajikan dengan gaya
bahasa jurnalistik. Advertorial berasal dari dua kata, yakni Advertising
dan Editorial. Tujuan utama dari advertorial adalah untuk
memperkenalkan serta mempromosikan kegiatan, produk, atau jasa
dari suatu perusahaan kepada khalayaknya. Fungsi utama dari
advertorial adalah untuk pendamping, penerjemah, sekaligus penafsir
iklan yang terdapat di media massa.
3. Bagaimana menjadi Copywriter yang baik
Menurut Laura, pemilik Jejak Advertising dan ex creative director di
Greyworldwide, copywriter yang baik haruslah memiliki rasa ingin tahu yang
besar, tidak bosan belajar dan selalu memperluas wawasan dan mengisi
commit to user
menerima kritik. Mempunyai spirit pantang menyerah serta dapat bekerja
sama dalam team.
Untuk menjaring seorang copywriter yang baik, biasanya seorang creative
director melihat 3 hal dalam diri seorang writer, yakni kekuatan kata-kata
(kemampuan dia dalam copy crafting), kemampuan berfikir konsep, dan
kreativitasnya dalam melempar dan atau mencari ide. (Andini, 2007: 6)
Seorang copywriter akan dianggap baik dan memiliki added value yang
tinggi apabila ia memiliki banyak ide yang segar, menarik dan unik. Karena
dalam bidang periklanan para pemainnya percaya bahwa mereka berada dalam
bisnis ‘menjual ide’. Karena itulah kemampuan untuk melempar ide dan atau
mengembangkan ide menjadi penting. (Andini, 2007: 9)
4. Cara menulis copy yang bagus
Seni dan teknik penulisan iklan memiliki karakteristik unik yang berbeda
dengan bidang lain seperti reportase, sastra maupun penulisan ilmiah. Ciri
yang unik dan umum dari penulisan iklan dan kelompoknya (yakni materi
komunikasi merk/ korporat) adalah keefektifannya dalam memakai kata-kata.
Iklan cenderung memakai bahasa yang casual, bahasa sehari-hari, langsung,
mudah dimengerti dan atau mudah diingat. Bahasa iklan digali dari budaya
dan gaya hidup yang berkembang dalam masyarakat dimana iklan tersebut
ditujukan. Tentu saja, dengan tujuan utama agar pesan iklan cepat sampai
kepada kelompok yang disasar. Oleh karena itulah dalam bahasa iklan sering
muncul istilah/ jargon yang aneh-aneh dan terkadang dituduh ‘merusak’
Penulisan iklan yang baik harus memenuhi kriteria AIDCA (Attention,
Interst, Desire, Credibility & Action), yakni sebagai berikut:
a. Attention
Yakni menilai struktur bangun kata dalam copywriting sebagai format
fundamental yang bertendensi menstimulus serta menciptakan persepsi
baru di benak audience.
b. Interest
Proses ketertarikan dengan jalan mencermati psikologis audience, kata
yang digunakan harus memberi interpretasi berupa keyakinan penuh
adanya jaminan nilai guna atas produk/ jasa yang diiklankan.
c. Desire
Timbulnya dorongan membuat audience memilih rasa untuk bertindak
sesuai tujuan iklan. Salah satu caranya dengan mengungkapkan kejujuran
keuntungan apa yang akan diperoleh audience jika menggunakan produk/
jasa tersebut.
d. Credibility
Artinya, kredibilitas atau kepercayaan merupakan poin yang sering dan
wajar yang dipertanyakan oleh konsumen, karena pemahaman konsumen
dalam iklan beragam. Untuk menciptakan copywriting yang kredibel maka
fungsi research harus tetap dipegang, karena research akan menunjukkan
persepsi audience terhadap karya iklan.
e. Action
Yakni langkah akhir berupa tindakan nyata, seperti membeli,
commit to user
kesediaan mengirimkan kupon atau bentuk direct mail lainnya. Dengan
demikian audience akan menilai sendiri apakah iklan tersebut dapat
BAB III
IDENTIFIKASI DATA
A. Kajian Umum Pulau Siberut
1. Biodiversity Pulau Siberut
a. Letak geografis
Secara geografis Pulau Siberut terletak pada 0o80’-2o0’ LS dan 98o
60’-99o40’ BT yang secara administratif berada di bawah Kabupaten
Kepulauan Mentawai dan terdiri dari Kecamatan Siberut Utara dengan ibu
kota Muara Sikabaluan, serta Kecamatan Siberut Selatan dengan ibu kota
Muara Siberut. Pulau Siberut merupakan pulau terbesar dari keseluruhan
gugusan pulau di Kepulauan Mentawai, Propinsi Sumatera Barat yang
berjarak sekitar 128 km dari pantai barat Pulau Sumatera.
b. Iklim
Hasil studi yang dilakukan WWF (1980) menyatakan bahwa Pulau
Siberut dipengaruhi oleh iklim tropis dengan curah hujan rata-rata tahunan
sebesar 4.000 mm, dan kondisi hujan yang terjadi sepanjang tahun.
Berdasarkan klasifikasi iklim Smith dan Fergusson, Pulau Siberut
memiliki tipe iklim A (iklim yang panas dan lembab dengan curah hujan
yang tinggi dan tanpa musim kemarau panjang).
Curah hujan tahunan rata-rata di Kecamatan Muara Siberut sebesar
2.908 mm dengan kisaran antara 2.334 mm dan 7.201 mm. Di kota
kecamatan Muara Sikabaluan curah hujan tahunan sebesar 3.751,75 mm
commit to user
tersebut juga menunjukkan bahwa tidak tampak adanya bulan kering (<60
mm), dan bulan basah (>100 mm) terjadi sepanjang tahun.
c. Topografi
Topografi Pulau Siberut dicirikan dengan topografi datar hingga
berbukit dengan ketinggian kurang dari 400 m dpal (di atas permukaan air
laut). Perbukitan terdapat terutama di daerah bagian barat sedangkan di
daerah bagian timur agak landai dan datar. Perbukitan tersebut memiliki
variasi kemiringan lereng mulai dari kemiringan 25% hingga melebihi
75% dengan puncak tertinggi 384 m dpal. Daerah dataran umumnya
berada pada kemiringan lereng 0% hingga 15% dengan ketinggian mulai
dari 0 m hingga 50 m.
Sekali pun di bagian pantai timur umumnya datar hingga landai, tetapi
secara sporadis ditemukan juga daerah-daerah berbukit walaupun sebaran
spasialnya tidak banyak. Topografi seperti ini terutama terdapat di daerah
Siberut Selatan. Dihubungkan dengan lokasi geografis Mentawai yang
rawan bencana alam tsunami, perbukitan-perbukitan di pantai timur ini
akan sangat efektif sebagai bukit-bukit penyelamatan untuk evakuasi
penduduk ketika terjadi bencana tsunami. Terbukti ketika gempa terjadi
beberapa waktu yang lalu, penduduk menjadikan daerah perbukitan ini
sebagai sasaran penyelamatan diri. Tutupan hutan yang cukup baik
(termasuk hutan mangrove) akan berkontribusi secara signifikan untuk
d. Geologi
Satuan geomorfologi (geomorpological unit) Pulau Siberut terdiri dari
satuan geomorfologi asal marin yang dipengaruhi oleh sedimentasi dan
pasang surut, satuan geomorfologi asal fluvial (gunung berapi) yang
dipengaruhi oleh bentuk sungai dan peluapan air sungai, satuan
geomorfologi denudasi (pengikisan) yang dipengaruhi oleh erosi dan
pelapukan, dan satuan geomorfologi denudasi struktural yang dipengaruhi
oleh erosi dan dikontrol oleh struktur geologi.
Secara geologis Pulau Siberut didominasi oleh endapan sedimen yang
didominasi oleh material serpihan, lumpur, tanah liat bercampur kapur
yang berumur relatif muda. Selain itu juga terdapat batuan (schist) dan
tanah kuarsa dari masa pra-miocene, beberapa batu kapur dari masa
miocene, serta batuan vulkanis yang tersebar dan menunjukkan asalnya
dari batuan vulkanis Sumatera dari masa miocene. Namun sebagian besar
susunan geologis menunjukkan asal batuan dari masa pliocene, pleistocene
dan zaman baru. Hal ini menunjukkan bahwa secara geologis umur batuan
Siberut masih muda.
e. Hidrologi
Sistem pola aliran di Pulau Siberut menunjukkan sistem pola aliran
yang kompleks, tetapi umumnya membentuk pola aliran paralel sampai
sub-trellis. Hal ini diakibatkan oleh kondisi medan yang non-resisten
sehingga seringkali terjadi erosi yang menyebabkan perkembangan
bentang lahan (landscape) yang terpotong-potong dan tidak rata dengan
commit to user
Sistem pola aliran sungai Pulau Siberut yang sangat rumit
menyebabkan regenerasi hutan sangat lambat. Peranan hutan menjadi
sangat penting mengingat fungsinya sebagai pengontrol hidrologi seluruh
pulau.
f. Tanah
Hasil studi Puslit Geoteknologi LIPI pada tahun 1993 (Djuwansah
dkk., 1993) menyatakan bahwa kondisi fisik Pulau Siberut sangat sensitif
terhadap perubahan yang terjadi pada permukaan tanah. Erosi yang kuat
terlihat dengan air sungai yang menjadi keruh apabila terdapat pengupasan
pada lapisan atas tanah, khususnya lapisan humus atau rombakan organik.
Infiltrasi (perembesan) yang rendah terlihat dari respon aliran sungai yang
kuat terhadap presipitasi (proses pengendapan). Pada saat terjadi hujan
maka air sungai akan cepat naik, hal ini disebabkan karena air hujan tidak
sempat meresap ke dalam tanah dan langsung mengalir menjadi air
limpasan (run off), namun akan cepat turun beberapa saat setelah hujan
berakhir.
g. Biologi
1) Biogeografi Pulau Siberut
Pulau Siberut secara geografis telah terisolasi dari Tataran Sunda
sejak jaman Pertengahan Pleistocene, kira-kira 500.000-2.000.000
tahun yang lalu (WWF 1980, Roos dkk). Oleh karena curah hujan
merata dan suhu tinggi sepanjang tahun, vegetasi alami Pulau Siberut
merupakan hutan hujan tropis (WWF 1980). Pulau Siberut mendukung
hutan primer dipterocarp, hutan primer campuran, hutan sekunder,
hutan rawa air tawar, hutan bakau, dan hutan Barringtonia dan sagu
rawa (PHKA, 1995). Hutan Primer Dipterocarp yang punya nilai
ekonomi, terdapat di puncak-puncak tinggi dan dan daerah
berbukit-bukit (WWF 1980).
Isolasi geografis antara Tataran Sunda dan Siberut dan kemudian
fase antara Siberut dan Pulau-pulau Pagai telah mengarah pada
kayanya keragaman hayati. Pulau Siberut memiliki kekayaan spesies
yang tinggi, merupakan tempat bagi 896 spesies tumbuhan
berpembuluh dan 29 spesies mamalia. Diduga daftar fauna dan flora
endemik tersebut belum lengkap dan ke depannya spesies baru akan
diidentifikasi.
Keanekaragaman dan tingkat keendemisan flora dan fauna yang
tinggi dan ekosistemnya yang unik, Pulau Siberut memiliki nilai
konservasi yang sangat tinggi sekaligus menyimpan potensi yang tidak
ternilai (LIPI 1997). Kelompok Kepulauan Mentawai dalam beberapa
hal sangat luar biasa.
Peneliti biologi pertama yang masuk Siberut, Chasen and Kloss
mengatakan pada tahun 1937:
commit to user
2) Nilai Endemik Pulau SiberutDi Pulau Siberut, 65% mamalia dan 15% fauna Siberut adalah
endemik. Hal ini dengan luasan yang terbatas menjadikan Pulau
Siberut unik di dunia (WWF, 1980).
Mamalia Pulau Siberut, khususnya primate, adalah fenomenal
(Kristijono, 1997). Dari 29 mamalia yang tercatat di Pulau Siberut, 21
spesies endemic. Flagship spesies yang paling dicatat di antara
mamalia endemic adalah empat jenis primata, yaitu Bilou (Hylobates
klossii), Joja (Presbytis potenziani), Simakobu (Simias concolor), dan
Bokkoi (Macaca pagensis).
No Jenis Primata Dasar Hukum
1 Bilou atau Siamang kerdil
( Hylobates klosii )
Ordonansi Perlindungan Binatang Liar Tahun 1931 No. 134 dan 226
2 Simakubo atau Monyet ekor babi
(Simias concolor)
SK. Menteri Pertanian No. 327/Kpts/Um/1/1972
3 Joja atau Lutung Mentawai
(Presbytis potenziani)
SK Menteri Pertanian No.537/Kpts/Um/12/1977
4 Bokkoi
(Macaca pagensis)
[image:53.612.133.507.200.541.2]SK Menteri Pertanian No.537/Kpts/Um/12/1977
Tabel 2. Dasar Hukum Perlindungan ke -4 Jenis Primata Endemik Siberut
Jumlah Populasi No. Jenis
Primata WWF
(1980) FMIPA UI (1998)
TNS (2006) Simabuggai
1. Bilou 0,19
ekor/m2
0,013 ekor/m2 (Siberut
Utara)
0,19 ekor/m2 (Siberut
Selatan)
2. Joja 0,24 0,026 ekor/m2 (Siberut Utara)
0,016 ekor/m2 (Siberut
Selatan)
0,023 / m2
3. Simakobu 0,09 0,019 ekor/m2 (Siberut
Utara)
0,006 / m2
4. Bokoi 0,202 0,096 ekor/m2 (Siberut
Utara)
0,016 ekor/m2 (Siberut
Selatan)
[image:54.612.131.509.76.476.2]0,001 / m2
Tabel 2.1 Perbandingan Populasi ke -4 Jenis Primata Endemik Siberut Tahun 1980, 1989 dan 2006
Sumber data:
1. Laporan WWF Tahun 1980
2. Laporan FMIPA Universitas Indonesia Tahun 1998
3. Laporan Taman Nasional Siberut Tahun 2006
Keempat primate membuat Siberut unik, karena tidak ada tempat
lain di dunia yang memiliki kepadatan primate endemic per unit area
seperti yang dimiliki Mentawai (WWF 1980). Primata Siberut
tergantung pada hutan primer untuk ketahanan mereka. Tiga dari
empat spesies adalah arboreal dan akan jarang atau tidak pernah
tinggal di tanah. Bilou menghabiskan 66,66% waktunya di hutan
primer, Joja 53,35%, Simakobu 50,02%, dan Bokkoi 53,20% (LIPI
1995). Ketergantungan terhadap hutan primer, terutama hutan
Dipterokarp, maka jenis Bilou merupakan primata yang sangat rentan
terhadap perubahan tata guna lahan, misalnya penebangan hutan
primer, baik untuk tujuan produksi kehutanan maupun
commit to user
Keempat primate tersebut juga masuk dalam daftar merah IUCN
(IUCN Red List). Simias concolor and Presbytis potenziani masuk
daftar sebagai spesies langka (Endangered Species) dan terancam
punah. Oleh karena kedua spesies tersebut arboreal, logging skala
besar akan mengurangi habitat mereka dan membahayakan tingkat
ketahanan mereka. Simias concolor masuk daftar sebagai salah satu
dari 25 primata paling terancam di dunia (Mittermeier et al, 2005).
Analisis terhadap tengkorak Simias concolor, yang secara tradisional
dikumpulkan di rumah-rumah menunjukkan bahwa Simias concolor
betina lebih rentan untuk diburu karena mereka lebih lambat daripada
jantan.
Hal ini akan mempengaruhi reproduksi dari spesies tersebut, juga
karena Simias concolor tinggal dalam grup keluarga yang kecil, dan
menghadapi kesulitan untuk unit reproduksi keluarga kembali sekali
sudah terganggu. Areal PT.SSS di Siberut Utara diduga masih
h. Hutan
Melalui program Man and Biosfere (MAB) pada tahun 1981, United
Nations Education Scientifik and Cultural Organization (UNESCO) atas
permintaan usul Pemerintah Indonesia menetapkan Pulau Siberut sebagai
salah satu Cagar Biosfer di Indonesia.
Sebuah Cagar Biosfer didefinisikan sebagai suatu kawasan konservasi
ekosistem daratan dan pesisir/ laut atau kombinasi lebih dari satu tipe
ekosistem yang secara internasional diakui keberadaannya sebagai bagian
dari Program MAB - UNESCO untuk mempromosikan keseimbangan
hubungan antara manusia dan alam. Cagar Biosfer melayani perpaduan
tiga fungsi, yaitu:
1) Kontribusi konservasi lansekap, ekosistem, jenis, dan plasma nutfah.
2) Menyuburkan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan baik secara
ekologi maupun budaya.
3) Mendukung logistik untuk penelitian, pemantauan, pendidikan dan
pelatihan yang terkait dengan masalah konservasi dan pembangunan
berkelanjutan di tingkat lokal, regional, nasional, maupun global.
Cagar Biosfer mempunyai tiga fungsi utama, yaitu:
1) Pelestarian keanekaragaman biologi dan budaya
2) Penyediaan model pengelolaan lahan dan lokasi eksperimen untuk
pembangunan berkelanjutan.
3) Serta penyediaan tempat untuk riset, pemantauan lingkungan,
commit to user
Untuk mengintegrasikan berbagai fungsi tersebut, kegiatannya diatur
menurut sistem pembagian wilayah (zonation) yang meliputi area inti
(core area) untuk pelestarian, zona penyangga (buffer zone), dan kawasan
luar yang merupakan area transisi (transition area) atau kawasan untuk
kerjasama dengan masyarakat lokal.
Penetapan fungsi-fungsi kawasan hutan Pulau Siberut pertama kali
dilakukan pada tahun 1982 dengan adanya Tata Guna Hutan Kesepakatan
(TGHK) Propinsi Sumatera Barat. Sesuai Keputusan Menteri Pertanian
No. 623/Kpts/Um/8/1982 tanggal 23 Agustus 1982 tentang penunjukan
Kawasan Hutan propinsi Dati I Sumatera Barat, daratan Pulau Siberut
dengan luas 403.300 ha ditunjuk sebagai kawasan hutan dengan fungsi
sebagai berikut:
1) Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.
407/Kpts-II/1993 tanggal 10 Agustus 1993, ditetapkan Taman Nasional Siberut
dengan luas ±190.500 Ha yang merupakan gabungan dari Kawasan
Suaka Alam (±132.900 ha), Hutan Lindung (±3.500 ha), Hutan
Produksi Terbatas (±36.600 ha) dan Hutan Produksi Tetap (±36.600
ha).
2) Perkembangan selanjutnya, berdasarkan Surat Keputusan Direktur
Jenderal Perlindungan dan Konservasi Alam No. 14/Kpts/DJ-V/2001
tanggal 6 Pebruari 2001 ditetapkan zona Taman Nasional Siberut yang
terdiri dari zona int