• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pola Reproduksi Anjing

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pola Reproduksi Anjing"

Copied!
75
0
0

Teks penuh

(1)

"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala Puji ba-gi Allah, Tuhan seru sekalian alamo Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Yang menguasai hari kemudian. Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolo'-ngan. Tunjukkanlah kami jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri ni'mat. Bukan jalan me-reka yang Engkau murkai dan bukan pu-la japu-lan mereka yang sesat"

(Al Faatihah)

(2)

I> ((:

'< \\

I

HセGエャ@

fa

!

0 L( L1

Lェセ@

,

POLA REPRODUKSI ANJING

SKRIPSI

oleh

EVA HARLINA

B. 18.0824

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(3)

RINGKASAN

EVA HARLINA. Pola Reproduksi Anjing (Dibawah bimbingan SUHARTO DJOJOSUDARMO).

Anjing (Canis familiaris) merupakan hewan liar yang te1ah menga1ami proses domestikasi. Banyaknya kegunaan hewan ini dalam kehidupan manusia sehari-hari, menyebabkan banyak yang memelihara dan mengembangbiakkannya.

Siklus reproduksi anjing sangat unik dian tara hewan-hewan domestik lainnya. Umumnya hanya mengalami dua kali musim kawin da1am setahun (mono estrus) dan periode berahi yang panjang. Proestrus terjadi kira-kira 9 hari, dan es-trus atau berahi yang sebenarnya berlangsung antara

7-9

hari. Ovulasi biasanya terjadi pad a hari ke tiga periode estrus. Jika konsepsi tidak terjadi, periode metestrus akan di1anjutkan dengan terbentuknya kebuntingan palsu

(pseodopregnancy) yang 1amanya hampir sarna dengan kebunti-ngan sebenarnya.

(4)

POLA REPRODUKSI ANJING

S K RIP S I

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Dokter Hewan

pada Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor

Oleh FNA HARLINA

Sarjana Kedokteran Hewan 1985

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(5)

POLA REPRODUKSI ANJING

SKRIPSI

01eh

EVA HARLINA

B 18 0824

Skripsi ini te1ah diperiksa dan disetujui oleh

Drh. Suh rto Djojosudarmo Dosen Pembimbing

t。ョァァ。ャ⦅ヲZ]KOセサjヲGMMNNZZNj_MMMQNQ⦅@

/

T

(6)

,

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan pad a tanggal 20 Juni 1962 di Ban-dung. Penulis adalah anak pertama dari tiga bersaudara dengan ayah Harun Kamil dan ibu Amaliana Munaf.

Tahun 1969 penulis memasuki Sekolah Dasar Negeri Ban-dengan Utara I Pagi Jakarta dan lulus pada tahun 1974. Pad a tahun 1975 penulis memasuki Sekolah Menengah Pertama Negeri 32 Jakarta dan lulus pada tahun 1977. Pada tahun 1978 penulis memasuki Sekolah Menengah Atas Negeri II di Jakarta, dan lulus pada tahun 1981.

Penulis terdaftar sebagai rnahasiswi Tingkat Persiapan Bersama, Institut Pertanian Bogor pad a tahun 1981 melalui jalur Proyek Perintis I. Tahun 1982 penulis mernasuki Fa-kultas Kedokteran ReV/an, dan pada tanggal 30 November 1985 penulis meraih ge1ar Sarjana Kedokteran Rewan. Pada tang-gal 26 Desember 1986 penulis berhasil rnemperoleh gelar Dokter Hewan.

(7)

Ki\TA PENGi\N'l'AR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Illahi, karena petunjuk-Nya jugalah penulisan skripsi ini dapat diselesaikan.

Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk mmperoleh gelar Dokter Hewan pad a Fakultas Kedokteran He-wan , Institut Pertanian Bogor.

Kepada Bapak Drh. Suharto Djojosudarmo sebagai dosen pembimbing, penulis menghaturkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya at as pengarahan dan bimbingan yang dibe-rikan dari awal hingga tersusunnya skripsi ini.

Terima kasih pula penulis sampaikan kepada

1. Seluruh staf pengajar dan pegawai di lingkungan FKH-IPB, yang telah mendidik dan membantu penulis sehing-ga penulis dapat menyelesaikan pendidikan di FKH-IPB. 2. Seluruh pegawai perpustakaan, baik FKH-IPB, BALITVET, maupun BPT-Ciawi, Bogor at as bantuan penyediaan kepus-takaan selama penyusunan skripsi ini.

3.

Warga Ceria Cikuray 30 dan semua rekan-rekan yang te-lah memberikan bantuan dan dorongan semangat untuk se-gera menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih banyak ke-kurangan baik dalam isi maupun penyajian. Harapan penulis semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak yang

memer-lukannya. Bogor, Desember 1986

(8)

DAFTAR lSI

Ha1aman KA TA PENGAN'l'AR ••••••..••••.•••.•••.•••.••.•••••• i v

DAFTAR tabセ@ ... vi

DAFTAR GAMBAR •••••••••••••••••••••••••••• •.• • • • • • vii PENDAHULUAN

...

1

ANATOM1 DAN F1S10LOG1 REPRODUKSI ..•••••••••.•••. 3

A. Anatomi dan Fisio1ogi Reproduksi A1at Ke-1amin Jan tan ...•...•...••.. 3

B. Anatomi dan Fisio1ogi Reproduksi A1at Ke-lamin Betina ... 6

HORMON - HORl10N REPRODUKSI ••••••.•.•.••.••.••••• 12 SIKLUS REPRODUKSI

ANJ1NG...

19

A. Dewasa Ke1amin (pubertas) ...•.•.• 19

B. Musim Kawin •...•...••. 20

C. Pubertas dan Spermatogenesis ...•• 21

D. Berahi dan Ovulasi . . . 22

E. Ferti1isasi dan Imp1antasi •.•....•.•••• 31

F. Kebuntingan dan Ke1ahiran ....•...•• 33

1NSEM1NAS1 BUATAN PADA ANJ1NG .•••..•••...•••.... 41

A. Penampungan Semen •••...••. 41

B. Peni1aian Semen .. ... .. 42

C. Pengenceran dan Pengawetan Semen ••.••.• 44 D. Teknik Inseminasi . . .

45

PEi-1BAHASAN ...

KES1MPULAN

DAFTAR PUSTAKA . . . .

47

(9)

DA f'l'AH TABJ<-:L

Nomor lla1aman

1. Hormon-hormon Reproduksi Brimer

...

15

2. Horman-harmon Reproduksi Sekunder •••••••••• 16

3..

Faktor-faktor Pelepas ... 17 4. Musim Kawin B,eberapa Jenis Anjing yang

Dikan-dangkan ... 21

5. Pembagian dan Lamanya Periode Sik1us Berahi

Anjing Menurut Beberapa Sumber •.••••••••••• 24

(10)

DAFTAH GAHBAH

Nomor Halaman

1. Alat Kelamin Jantan • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • 10 . . . . 6

2. Alat Kelamin Betina

.

.

.

.

.

.

.

. . .

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

11

3.

Diagram Skematik Peranan Horman-harmon

Repro-duksi Primer pada Hewan Jantan ••••••••••••••

17

4. Diagram Skematik Peranan Horman-harmon

Repro-duksi Primer pada Hewan Betina ••.•••••••.••• 18

5. Gambaran Horman, Usapan Vagina dan Ke1akuan Kelamin Anjing Betina Selama Proestrus dan

Estrus . . . 10 10 • • 10 • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • " • • • • • 27

6. Siklus Reproduksi Anjing .•••••••••••••••.••• 30

[image:10.608.83.478.145.357.2]
(11)

PENDAHULUAN

Sebagaimana halnya dengan jenis hewan piara lainnya, anjingpun berasal dari hewan liar yang kemudian didomesti-kasikan. Menurut Mac Donald (1983) anjing merupakan hewan

pertama yang didomestikasikan, diantara hewan-hewan piara lainnya. Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa anjing-anjing yang ada sekarang (Canis familiaris) berasal dari seriga-la (Canis lupus), bangsa anjing yang pertama didomestika-sikan sejak 5000 tahun yang lalu.

Saat sekarang ini diperkirakan lebih dari 320 jenis keturunan anjing yang ada di dunia. Hal ini terjadi kare-na adanya pengaruh mutasi alam, iklim, lingkungan atau ha-sil kawin ha-silang yang dilakukan manusia dalam proses do-mestikasi.

Anjing mempunyai kedudukan yang unik dalam ィオ「オョァ。ョセ@

(12)

2

mengasyikkan. Karena kesetiaan dan nalurinya yang tajam, anjingpun dapat digunakan untuk menolong orang yang terse-sat di hutan ataupun penuntun orang buta. Dalam bidang pe-nelitian, banyak dihasilkan penemuan-penemuan ilmiah dima-na anjing bertindak sebagai objeknya. Di beberapa daerah, daging anjing juga merupakan salah satu sumber protein he-wani bagi sejumlah orang yang menyukainya. Semua keguna-an ini membuat mkeguna-anusia bkeguna-anyak memelihara dkeguna-an mengembkeguna-angbi- mengembangbi-akkan anjing.

Untuk meningkatkan kegunaan hewan ini dalam kehidupan manusia, maka salah satu aspeknya adalah mempelajari sik-lus reproduksinya. Dengan mengetahui siklus reproduksi, セ@ dapat diperhatikan perkembangbiakannya, terutama pening-katan mutu genetik, faktor-faktor kegagalan reproduksinya atau usaha pencegahan kebuntingan karena tidak diinginkan oleh pemiliknya.

(13)

ANATOMI DAN F'ISIOLOGI REPRODUKSI

A. Anatomi dan Fisio1ogi Reproduksi Alat Kelamin Jantan Seperti ha1nya pada hewan-hewan piara 1ainnya, a1at ke1amin jantan pad a anjing dapat dibagi menjadi empat ba-gian besar (Ashdown dan Hancock, 1980):

(1) Organ kelamin primer yaitu gonad jantan yang disebut testes

(2) Ke1enjar ke1amin pe1engkap yaitu prostat

(3)

Saluran-sa1uran reproduksi yang terdiri atas epididy-mis, vas deferens, ampu1a dan urethra

(4) Alat kelamin bagian luar atau organ kopulatoris yai-tu penis

Ashdown dan Hancock (1980) memberikan gambaran ten-tang anatomi a1at ke1amin jantan sebagai berikut:

1. Testes

Testes adalah organ kelamin primer yang berjumlah dua buah, berbentuk ovoid dan terbungkus dalam kantong skrotum. Ukuran dan berat testes tergantung pad a besar hewan, bangsa dan umurnya. Letak testes tersebut di dae-rah prepubis.

Secara histologis masa testes dibungkus oleh tunika albuginea, yang mengalami penebalan di daerah tepi proksi-mal dan disebut mediastinum. Parenkim testes terdiri dari tubuli seminiferi yang menghasi1kan dan berisi spermatozoa.

(14)

4

jantan dan sebagai penghasil hormon kelamin jantan (testos-teron). Spermatozoa dihasilkan di dalam tubuli seminiferi atas pengaruh Follicle Stimulating Hormone (FSH) , sedang testosteron dihasilkan oleh sel-sel Leydig pada jaringan interstitial atas pengaruh Interstitial Cell Stimulating Hormone (ICSH).

2. Epididymis

Epididymis adalah suatu saluran memanjang yang berta-ut rapat dengan testes. Terbagi atas bagian kepala (caput epididymis), bagian badan (corpus epididymis) dan bagian ekor (cauda epididymis). Didekat ligamentum testes salu-ran epididymis membesar dan disebut ductus deferens.

Epididymis mempunyai empat mac am fungsi yaitu: trans-portasi, konsentrasi, pendewasaan dan penyimpanan sperma-tozoa.

3. Vas Deferens dan Kelenjar Pelengkap

Vas deferens terentang mulai dari ekor ductus epidi-dymis sampai urethra. Bersama-sama dengan pembuluh darah dan syaraf membentuk funiculus spermaticus yang masuk ke dalam rongga perut melalui canalis inguinalis. Setelah melalui canalis inguinalis vas deferens membesar dan dina-makan ampula ductus deferentis. ヲセーオャ。@ pada anjing kecil dan kurang berkembang (Mc Keever, 1970).

(15)

Staben-feldt dan Shille (1977) sekresi kelenjar prostat ini sangat

besar volumenya, kaya akan sodium dan ion-ion chlorida,

te-tapi rendah kadar asam sitratnya. pH cairan prostat

seki-tar 6.8, lebih rendah dari pH cairan prostat sapi.

Fungsi cairan prostat ini adalah untuk menambah

volu-me cairan ejakulasi; untuk membantu pergerakan, buffer

dan untuk membersihkan urethra sebelum ejakulasi.

5.

Urethra

Urethra adalah saluran eksretoris bersama untuk urin

dan semen. Urethra membentang dari daerah pelvis ke penis

dan berakhir pada ujung glans penis sebagai orificium

ure-thra eksterna.

6.

Penis

Penis merupakan organ kopulatoris hewan jantan yang

dibentuk oleh jaringan erektil yang disebut corpus

caver-nosum penis. Fungsinya se bagai unsur pengeluaran urin,

ju-ga untuk meletakkan semen ke dalam saluran reproduksi

he-Vian betina.

Penis terdiri dari akar, badan dan ujung bebas yang

berakhir pada glans penis yang banyak mengandung

serabut-serabut syaraf dan ujung-ujung syaraf. Pada glans penis

anjing terdapat os penis (baculum) yang terpancang dari

be-lakang bulbus glandis sampai ujung kranial pars longa

glan-dis (Mc Keever, 1970). Bulbus clandis berukuran diameter

terbesar, yang terdiri dari plexus venosus yang subur dan

(16)

erek-6

si penis anjing membutuhkan waktu cukup lama Cqrandage, 1972) •

Gambar 1. A1at Ke1amin Jantan (Betteridge, 1970) 1. Testes; 2. Caput epididymis;

3.

Corpus epididymis; 4. Cauda epididymis;

5.

Ductus deferent;

6.

Vesica urinaria; 9. Kelenjar prostat; 10 •. urethra; ll. Bulbus glandis; 12. M. Bulbocavernosus; 13. M. Ischiocavernosus; 14. M. Retrac-tor penis

B. Anatomi dan Fisio1ogi Reproduksi· A1cit .. Ke1amin Betina Secara anatomik, alat kelamin betina dapat dibagi men-jadi tiga bagian besar (Hafez, 1980):

(1) Ovarium, merupakan organ reproduksi primer yang meng-hasilkan sel-sel kelamin betina yang biasa disebut Ova atau te1ur dan hormon-hormon betina

(2) Saluran-saluran reproduksi yang terbagi menjadi tuba fallopii at au oviduct, uterus, cervix dan vagina (3) Alat kelamin bagian lUar, terdiri atas sinus

urogeni-talis, vulva dan klitoris.

[image:16.605.63.475.96.735.2]
(17)

meneri-7

rna dan rnenyalurkan sel-sel kelarnin jantan dan betina; me-nyediakan lingkungan, memberi makan dan melahirkan indivi-du baru yang terbentuk (Toelihere, 1981a).

Selain itu masih ada kelenjar susu yang dapat diang-gap sebagai alat kelamin pelengkap karena sangat erat ber-hubungan dengan proses-proses reproduksi dan sangat penting

fungsinya dalam pemberian makanan bagi individu yang baru lahir (Toelihere, 1981a).

Anatomi dan fisiologi alat kelamin betina menurut Ha-fez (1980) adalah sebagai berikut:

1. Ovariurn

Berbeda dengan testes, ovarium terletak di dalam ru-ang abdomen, jumlahnya sepasru-ang dan digantung oleh mesova-rium. Mempunyai fungsi ganda yaitu.sebagai alat eksokrin yang menghasilkan ovum atau sel telur dan sebagai alat en-dokrin yang mensekresikan hormon kelamin betina yaitu es-trogen dan progesteron.

Ovarium anjing berbentuk oval dan pipih, berukuran lebih kurang dua sentimeter dan bergantung pad a fase sik-Ius berahi. Berat ovarium anjing berkisar an tara satu sam-pai delapan gram (Me Donald, .1980).

Ovarium terdiri dari medulla dan cortex, dikelilingi oleh epitel kecambah. Pada medulla terdapat pembuluh da-rah dan syaraf, sedangkan cortex merupakan tempat pemben-tukan ovum dan hormon.

(18)

kecam-8

bah akan tumbuh dan berkembang da1am mencapai kematangan-nya berturut-turut fo1ike1 primer, sekunder, tertier dan fo1ike1 de Graaf. Dengan bantuan hormon estrogen yang cu-kup yang disekresikan oleh se1-se1 theca interna, fo1ike1 de Graaf ini akan pecah, sehingga ke1uar1ah ovum dari ova-rium. Peristiwa ini disebut ovu1asi.

Ovarium anjing yang baru 1ahir diperkirakan mengan-dung 700.000 buah oocyt. Kemudian jum1ah ini menurun men-jadi 250.000 pada saat pubertas, 33.000 pada usia lima ta-hun dan hanya 500 buah pada anjing yang berusia 10 tata-hun. Hal ini disebabkan oleh kegaga1an fo1ike1 menjadi matang, tidak. berovu1asi dan ma1ah berdegenerasi. Jum1ah folike1 de Graaf yang terbentuk pada satu sik1us berahi tergantung pad a hereditas dan faktor-faktor 1ingkungan. Pada anjing 3-15 fo1ike1 de Graaf matang pada setiap estrus (Mc Donald, 1980).

Segera setelah ovu1asi rongga fo1ikel diisi oleh da-rah dan limfe membentuk corpus haemorrhagicum, dan untuk kemudian berubah menjadi corpus 1uteum.

(19)

9

2. Tuba Ji'allopii

Tuba fallopii atau oviduct merupakan saluran kelamin yang paling anterior; mempunyai hubungan anatomik yang in-tim dengan ovarium dan menggantung pada mesosalpinx. Ter-bagi atas infudibulum dengan fimbriaenya, ampula dan isth-mus. Ovum yang dihasilkan dari proses ovulasi akan disapu ke dalam ujung fimbriae.

Kapasitasi, fertilisasi dan pembelahan embrio terjadi di dalam tuba fallopii ini. Pengangkutan sperma ke tempat fertilisasi dan pengangkutan ovum ke uterus untuk perkem-bangan selanjutnya diatur oleh kerja silier dari kontraksi-kontraksi muskuler yang dikoordinir oleh hormon-hormon ovarial, estrogen dan progesteron (Toelihere, 1981a).

3. Uterus

Uterus adalah suatu saluran muskuler yang diperlukan untuk penerimaan ovum yang telah dibuahi, nutrisi dan per-lindungan foetus. Selain itu juga berfungsi pada stadium permulaan ekspulsi foetus pada waktu kelahiran (Toelihere, 1981a).

Uterus terdiri dari cornua, corpus dan cervix uteri. Anjing mempunyai uterus yang tergolong dalam tipe bicornua subsepticus atau bipartitus, dengan cornua yang cukup

(20)

J.O

dengan panjang sekitar 1.5-2 cm, dan pad a anjipg mempunyai bentuk lumen yang tidak teratur (Mc Donald, 1980). Fungsi utama cervix adalah sebagai penutup lumen uterus, sehingga mengurangi kesempatan masuknya jasad renik.

4. Vagina dan Alat Kelamin Bagian Luar

Vagina adalah organ kelamin betina dengan struktur se-lubung muskuler yang terdiri dari bagian vestibulum dan portio vaginalis. Bagian vestibulum yaitu bagian yang ber-hubungan dengan vulva (vagina anterior) yang panjangnya 5-10 cm. Sedangkan bagian portio vaginalis cervicis yaitu bagian yang berhubungan dengan cervix. Diantara kedua ba-gian ini terdapat selaput tipis yang disebut hymen, yang karena tipisnya akan robek dan hilang sewaktu hewan menca-pai umur dewasa (Hafez, 1980).

Pada hewan betina normal dan tidak bunting, epitel mu-kosa vagina secara periodik berubah atas pengaruh hormon yang disekresikan ovarium. Sehingga pada anjing, perubah-an histologis epitel vagina sperubah-angat baik untuk menentukperubah-an periode siklus reproduksi (Mc Donald, 1980).

(21)
[image:21.602.105.477.92.372.2]

Gambar 2. Alat

l .

nua pus

Kelamin Betina (Betteridge, Ovarium; 2. Tuba fallopii; uteri; 4. Vesica urinaria; uteri; 6. Vagina

1 ,

,.I • •

i970)

3.

(22)

Cor-HORMON - Cor-HORMON REPRODUKSI

Pada umumnya proses-proses reproduksi baru dapat ber-langsung setelah hewan mencapai mas a pubertas, dan ini di-atur oleh kelenjar-kelenjar endokrin serta hormon-hormon yang dihasilkannya. Berbagai hormon saling menstimulir atau menghambat sehingga meneapai suatu keselarasan fungsi dan pengaruh terhadap organ-organ reproduksi. Pengontrol-an hormonal terhadap proses reproduksi merupakPengontrol-an suatu sis-tim pengawasan dan pengaturan yang kompleks dan sangat ber-imbang (Toelihere, 1981 a ).

Susunan syaraf pusat dan otonom memegang peranan se-kunder dalam reproduksi, tetapi sangat erat hubungannya de-ngan kerja hormon-hormon yang diproduksikan. Sehingga re-produksi berada dibawah pengawasan neuro-endokrin atau neu-ro-humoral (Toelihere, 198Ia).

(23)

pelepasan hormon-hormon tropik dari kelenjar adenohypophy-sa (Toelihere, 1981a).

Hormon-hormon reproduksi dihasilkan oleh kelenjar en-dokrin. Kelenjar endokrin tersebut antara lain: hypophy-sa, ovarium, testes, adrenal dan thyroid. Plasenta walau-pun tidak diklasifikasikan seba.gai kelenjar endokrin, na-mun menghasilkan beberapa hormon (Reece, 1960).

Berdasarkan cara kerjanya, hormon-hormon reproduksi dapat dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu hormon repro-duksi primer dan hormon reprorepro-duksi sekunder. Hormon イ・セ@

produksiprimer disebut juga hormon gonadal, karena 、ゥィ。セ@

silkan oleh gonad atau alat kelamin, baik jan tan maupun be-tina. Hormon-hormon tersebut antara lain: estrogen, pro-gesteron, androgen atau testosteron dan relaxin (Reece, 1960). Hormon-hormon ini secara langsung terlibat dalam berbagai aspek reproduksi, seperti: spermatogenesis, ke-langsungan kebuntingan, kelahiran, laktasi dan kelakuan in-duk.

Hormon-hormon reproduksi sekunder adalah hormon-hor-mon yang perlu adanya untuk proses metabolisme suatu indi-vidu yang memungkinkan terjadinya proses reproduksi (Zor-row, 1980).

(24)

ada-lah sebagai faktor penghambat prolactin, Prolactin Inhibi-ting Factor (PIF).

Kelenjar adenohypophysa sendiri mensekresikan tiga hormon gonadotropin yaitu: Follicle Stimulating Hormone (FSH) , Luteinizing Hormone (LH) dan Luteotropic Hormone (LTH) yang lebih dikenal dengan sebutan prolactin. Sedang-kan oxytocyn dan vasopressin adalah hormon-hormon yang di-hasilkan oleh neurohypophysa.

Menurut struktur kimiawinya, berbagai hormon reproduk-si dapat dibagi atas hormon protein atau polypeptida dan steroida. Horman berstruktur protein mempunyai berat mole-kul 1000-50.000, sedangkan hormon yang berstruktur steroid rata-rata 300-400 (Zorrow, 1980).

(25)

Tabel 1. Hormon-hormon Reproduksi Primer Htッ・ャゥセ・イ・L@ 1981a ) Kelenjar

Adenohypophysa

Hormon

Follicle stimulating hormon (FSH)

Luteinizing hormone (LH)

Interstitial cell stimulating hormone (ICSH)

Beberapa fungsi

spermatogenesis; per-tumbuhan folikel pelepasan estrogen; ovulasi; pelepasan proges:teron

FSH

&

LH pelepasan estrogen

Prolaktin (Luteotro- pelepasan progesteron; Neurohypophysa Oxytocin

Testis Testosteron

Ovarium Estradiol

Placenta

Progesteron

Relaxin

Human chorionic go-nadotropin (HCG) pada primata

Pregnant mare's se-rum (PHS)(pada kuda) Prostaglandin

Estradiol; Proges-Progesteron

Relaxin

laktasi

partus; kontrkasi ute-rus; 1 e t _:down susu mempertahankan sistem saluran kelamin jantan dan sifat kelamin se-kunder; kelakuan ォ・ャセ@

min dan spermatogene-sis

mempertahankan sistem saluran kelamin betina dan sifat kelamin se-kunder; kelakuan kela-min; stimulasi

kelen-jar susu; mobilisasi Ca dan lemak pada ung-gas

implantasi; ュ・ュー・イエ。セ@

hankan kebuntingan; stimulasi kelenjar sg su

relaksasi servik uteri; inhibisi kontraksi ute ri; pemisahan symphysis pubis

seperti LH seperti FSH

kontraksi oto.t licin; luteolysa

[image:25.612.69.509.76.730.2]
(26)

10

Tabel 2. Hormon-hormon Reproduksi Sekunder

Kelenjar Adenohypophysa

Neurohypophysa

Hormon

Somatotropic hormone (STH)

Thyroid stimulating hormone (TSH)

Adrenocorticotropic hormone (ACTH)

Vasopressin (Antidi-uretic hormone, ADH)

Tri-iodothyronin Thyrocalcitonin Cortex adrenal Aldosteron

Pancreas

Parathyroid

·17-0H corticoid (crotison, cortisol,

corticosteron) Insulin

Parathormon

Beberapa fungsi pertumbuhsn tubuhj sintesa protein stimulasi kelenjar thyroid; pelepasan thyroxyn dan pengi-katan jodium oleh thyroid

stimulasi cortex ad-renal; pelepasan corticoid adrenal pertumbuhan tubuh; perkembangan dan pe-matanganj oksidasi zat makanan

sama dengan diatas metabolisme calcium metabolisme air dan elektrolit

metabolisme hidrat arang, lemak dan pro-tein

metabolisme hidrat arang, lemak dan pro-tein

metabolisme calcium dan phosphor

[image:26.613.76.516.76.602.2]
(27)

17

Tabel

3.

Faktor-faktor Pelepas

Faktor (hormon) Fungsi

Gonadotropin releasing hormone (Gn-RH)

stimulasi pelepasan gona-dotropin (FSH

&

LH)

Thyrotropin releasing hormone (TRH)

stimulasi pelepasan TSH Prolactin nhibiting hormone

( PIF)

inhibisi pelepasan pro-lactin

Corticotropin releasing factor (CRF)

stimulasi pelepasan ACTH Somatotropic hormone releasing

factor (STH-RF)

stimulasi pelepasan STH

Sumber: Fisio1ogi Reproduksi pada Ternak, Toelihere, 1981 a

SUSUNANSYARAFPUSAT

,"'1 ,

i ' ... F AKTOR-F AKTO R PELEP AS ...

/ ,,/ (RELEASING FACTORS) ...

/

i

1

'-_

OOZOセ@

I

ADENOHYPOPHYSA

I

セセML@

1 / I I . -'

1 / , ,

,.

.. \

"[nbibin" FSH ( C S H ' , \

r

(LH) \:\

I.,

TESTES ,I

TUBULI selセel@

'. SEMINIFERI INTERSTITIAL /

, I

'...

...

_--_...

---",,"

SPERMATOGENETIK TESTOSTERON

!

SPERMA Stimului organ-ore:a.n Kelamia Pclene:kap sゥHNエセゥヲ。エ@ hl.min aekunder

Gambar 3. Diagram Skematik Peranan Hormon-hormon Re-produksi Primer pada Hel'lan Jantan

Garis-garis putus menunjukkall: "mekanisme

[image:27.608.84.493.85.689.2] [image:27.608.104.465.373.653.2]
(28)

/ I I I I I I I I I I I I I I I I I I \ , Pe:rturnbuhan Folii:el Pe:ri\lmbuhan uteruA dan ...:luran

reproduui

RANGSANGAN LUAR

Adt:nohypophy .. Prollferui uterus (untuk implantaai) F.etor·£actor Pele:paa (a.le:uiDI Factors) Ne:urohypophy ..

-',

,

Co,!,,,, Luteum Ke:lanpul1fU1 ke:bunUn,an I I I I I I I I I I I I I I _/ Ranpu'l,a.n Luar - CahaYa

- Str ....

- Viaull

- Auditori.

- Pe:n:baan

- OUaletori,

- male.nan

- Stimului uLeNa

. - Fiaik

- Lain·lain

P.rtua Laletui

(Let down

[image:28.612.121.449.96.516.2]

.luau)

Gambar

4.

Diagram sォ・セ。エゥォ@ Peranan Hormon-hormon Re-produksi Primer pada Hewan Betina

Garis putus-putus menunjukkan "mekanisme umpan balik negatif"

(29)

SIKLUS REPRODUKSI ANJING

A. Dewasa Kelamin (pubertas)

Pubertas (dewasa kelamin) adalah suatu periode dalam kehidupan makhluk jantan dan betina, dimana organ-organ reproduksi mulai berfungsi dan perkembangbiakan dapat

ter-jadi (Cole dan Cupps, 1977). Pad a hewan jantan pubertas ditandai oleh kesanggupan berkopulasi dan menghasilkan sperma disertai perubahan-perubahan kelamin sekunder lain-nya. Pad a hewan betina, pubertas ditandai dengan terjadi-nya berahi dan ovulasi.

Anjing meneapai saat pubertas pad a umur 7-9 bulan de-ngan variasi 6-18 bulan (Kirk, 1970). Sedangkan menurut He Donald (1980) pubertas pada anjing dapat terjadi pada umur 6-12 bulan, dan lebih dulu terjadi pada anjing bangsa keeil dibanding bangsa besar. Biasanya, anjing meneapai saat pubertas dalam dua sampai tiga bulan setelah tereapai berat badan dewasa, dan pubertas lebih dulu terjadi bebe-rapa minggu pada hewan betina (Stabenfeldt dan Shille, 1977).

(30)

20

B.

Musirn Kawin

Yang dirnaksud dengan rnusirn kawin atau rnusirn kelarnin adalah suatu rnusirn dalarn setahun dirnana hewan rnenarnpakkan aktivitas perkawinan. Anjing termasuk hewan monoestrus yang rnengalarni dua kali musim kawin Csiklus berahi) dalam setahun.

American Kennel Club telah rnernpelajari siklus berahi pada anjing-anjing Cokcker, Setter, Great Dane dan Peki-ngese, dan rnelaporkan bahwa musirn kawin dapat terjadi se-panjang tahun. Anjing jenis Airdale dan Beagle dapat mem-perlihatkan estrus sepanjang tahun dengan frekuensi terbe-sar pada akhir rnusirn panas dan beberapa pada rnusirn gugur

(Mc Donald, 1980).

Anjing bangsa kecil cenderung rnernpunyai musim kawin tiga sampai empat kali dalam setahun, dan bangsa besar ha-nya sekali setahun. Sebagai contoh, Basenji hanya menga-larni satu kali estrus dalam setahun, yang biasanya ber-langsung pada rnusirn gugur. Menurut Stabenfeldt dan Shille

(1977) sebenarnya terdapat variasi yang besar pada siklus berahi anjing, sekitar 16-56 rninggu.

Sokolowski, Stover dan Ravenswaay (1977) mempelajari siklus berahi anjing yang dikandangkan. Dari hasil penga-rnatan didapatkan kesimpulan bahwa anjing-anjing yang di-kandangkan atau dibatasi ruang geraknya mernperlihatkan se-diki t bahkan hampir tidak rnempunyai rnusirn kawin (Tabel '+).

(31)

berpe-21

ngaruh terhadap musim kawin anjing.

Tabel

4.

Musim Kawin Beberapa Jenis Anjing yang Di-kandangkan

Jenis Anjing

German sepherd Cocker spaniel Basset hound Toy poodle Pekingese

Boston terrier Beagle

Frekuens·i Musim Kawin

2.4/tahun 2/tahun 2/tahun 1.5/tahun 1. 5/tahun 1.5/tahun 1.5/tahun

Sumber: Seasonal Incidence of Estrus and Interestrous Interval for Bitches of Seven Breeds, Soko-lowski et al., 1977

C. Pubertas dan Spermatogenesis

Anjing jan tan mencapai pubertas beberapa minggu lebih 1ambat dari hewan betina, dan biasanya sete1ah mencapai be-rat badan dewasanya. Timbulnya pubertas pada hewan jantan ditandai oleh timbulnya sifat-sifat kelamin sekunder, kei-nginan kelamin, kesanggupan berkopulasi dan adanya sperma hidup di dalam ejakulat (Toelihere, 1981 a ). Keinginan ke-1amin pada anjing jantan telah tampak pada usia enam bulan,

tetapi sebaiknya mu1ai dikawinkan pad a usia 8-10 bulan (Kirk, 1970).

[image:31.595.71.489.113.422.2]
(32)

22

(Stabenfeldt dan Shille, 1977). Proses pembentukan sperma disebut spermatogenesis dan berlangsung di dalam testes. Spermatogenesis merupakan suatu proses kompleks yang meli-puti pembelahan dan diferensiasi sel. Spermatogenesis me-liputi spermatositogenesis (spermiosis) atau pembentukan spermatosit primer dan sekunder dari spermatogonia tipe A dan spermiogenesis atau pembentukan spermatozoa dari sper'-matid (Toelihere, 1981a ).

Spermatogenesis pada anjing berlangsung selama 13-14 hari (Stabenfeldt dan Shille, 1980), yang dikendalikan oleh FSH dari adenohypophysa dan spermiogenesis berada di-bawah pengaruh ICSH yang menghasilkan testosteron (Toelihe-re, 1981a ). Pemberian testosteron yang dimaksudkan untuk menstimuli libido dapat menekan pelepasan ICSH sehingga me-nekan proses spermatogenesis (Stabenfeldt dan Shille, 1980).

D. Berahi dan Ovulasi

Pada waktu pubertas telah tercapai dan musim kawin te-lah dimulai, pada hewan betina tidak bunting akan menunjuk.-kan gejala berahi atau estrus untuk pertama kali dan amenunjuk.-kan diikuti oleh berahi kedua dan seterusnya menurut suatu sik-lus ritmik yang khas. Interval antara timbulnya suatu ー・セ@

(33)

23

1980).

Sik1us berahi pada anjing terjadi secara bertahap, se-hingga dapat dibagi menjadi empat fase atau periode yaitu: proestrus, estrus metestrus dan anestrus. Da1am pembagian

faSe-fase sik1us berahi ini, beberapa penulis memasukkan periode metestrus dalam periode diestrus dimana akan dite-ruskan pada periode bunting palsu atau pseudopregnancy. Fase proestrus dan estrus dapat juga digolongkan pada fase

folikuler atau estrogenik, sedangkan metestrus dan diestrus digolongkan ke dalam fase luteal atau progestational. Fa-se-fase siklus berahi ini lengkap terjadi dua kali dalam setahun, dimana lamanya satu siklus berahi pad a anjing ber-variasi antara 16-56 minggu (Stabenfeldt dan Shille, 1977). Pembagian fase siklus berahi dan lamanya masing-masing fa-se siklus berahi menurut beberapa sumber dapat dilihat pa-da Tabel

5.

Untuk membantu menentukan fase siklus berahi pada an-jing dapat menggunakan usapan vagina, karena epitel vagina anjing lebih peka terhadap kerja hormon gonadal dibanding-kan spesies lain (Mc Donald, 1980). Dengan menggunakan

swab kering atau batang gelas steril usapkan ke dalam vagi-na sejauh kira-kira tujuh sentimeter dan putar beberapa ka-li. Ulaskan swab tersebut pada gelas objek bersih dan

(34)

24-Tabel 5. Pembagian dan Lamanya Periode Siklus Berahi Anjing Menurut Beberapa Sumber

Sumber Proestrus Estrus Metestrus Diestrus Anestrus (hari) (hari) (hari) (hari) (hari)

Kirk, 4-14 4-14 60 90

1970

Leonard, 7-9 5-12 90 60

1960 (9)* (9)

stabenfeldt 3-16 4-12 51-82 15-265

dan Shille, (9) (9-10) (75) (125)

1977

Me Donald, 5-9 7-9 2 50-80 --=

1980

Johnston, 3-17 3-21 60 135

1980 (9) (9)

Carlson dan 6-9 12 60-105 100-150

Giffin, 1982

*

Angka-angka di dalam kurung adalah nilai rata-rata [image:34.608.87.492.168.416.2]
(35)

(anuk-lear) yang akan mendominasi pada akhir proestrus (Staben-feldt dan Shille, 1980).

Pro1iferasi kapi1er endometrium karena pengaruh es-trogen menyebabkan perdarahan perdiapedesin dan tampak se-bagai perdarahan pada vulva. Dengan usapan vagina pada ak4ir fase proestrus banyak dijumpai ウ・ャセウ・ャ@ darah merah. Sedangkan dengan meningkatnya ketebalan epitel vagina akan menghambat roasuknya sel-sel darah putih ke lumen vagina (Stabenfeldt dan Shi11e, 1980).

Pada fase proestrus ini hewan betina roulai roemper1i-hatkan perhatiannya pada pejantan, tapi belum mau meneri-rna pejantan untuk berkopulasi. Masaproestrus dimulai se-telah tampaknya perdarahan pada vulva sampai penerimaan pejantan pertama kali oleh betina (Me Donald, 1980).

Periode berikutnya adalah estrus atau berahi yang se-benarnya, ditandai dengan keinginan kelamin dan penerima-an pejpenerima-antpenerima-an oleh hewpenerima-an betina. Penerimaan pejantan sela-rna estrus disebabkan oleh pengaruh estradiol pada susunan syaraf pusat yang menghasilkan kelakuan kelamin yang khas (Toelihere, 1981 a ).

Pada saat ini anjing betina mengeluarkan suatu zat atraktant yang disebut feromon dan dapat menarik perhati-an pejperhati-antperhati-an dalam jarak yperhati-ang eukup jauh darinya. Diduga seks-feromon ini merupakan hasil sekresi vestibulum, ke-lenjar anal, dan kemungkinan juga melalui urin (Me Donald, 1980). Pejantan yang tertarik akan datang, meyelidiki

(36)

26

Anjing betina yang sedang estrus akan menerima pejantan, bercumbu dan menarik ekornya kesamping untuk menghadirkan vulva bagi pejantan (Carlson dan Giffin, 1982).

Pada fase ini folikel-folikel de Graaf yang matang mengeluarkan estradiol yang menyebabkan perubahan-perubah-an pada salurperubahan-perubah-an reproduksi tubuler seeara maksimal. Tuba

fallopii menegang, epitel menjadi matang, dan silia aktif; terjadi kontraksi tuba fallopii dan ujung-ujung berfimbria merapat ke folikel de Graaf untuk menerima ovum pada saat ovulasi (Toelihere, 1981 a ). Edema uterus terus berlang -sung, sekresi cairan sereus oleh kelenjar-kelenjar uterus makin meningkat sedangkan perdarahan pada uterus berkurang. Vulva masih edematus dengan"cairan yang mulai berwarna

ke-coklat-coklatan. Pada preparat ulas vagina periode estrus ditandai dengan banyaknya eritrosit, pengelupasan sel-sel epitel cornified dan dapat juga ditemui sejumlah bakteri (Leonard, 1960). Lekosit 。Fセョ@ tampak pada akhir periode estrus (Me Donald, 1980).

Menjelang ovulasi konsentrasi estradiol mencapai ting-kat yang cukup tinggi dalam tubuh untuk menekan produksi FSH dan dengan menstimulir pelepasan LH menyebabkan エ・イェ。セ@

(37)

meng-27

alami ovulasi pada hari pertama periode estrus, Sedangkan anjing betina tua cenderung untuk berovulasi di hari ke li-ma periode estrus. Variasi dalam waktu ovulasi ォ・ュオョァォゥョセ@

an disebabkan respon individual terhadap kadar estrogen. Folikel-folikel yang sudah matang siap diovulasikan semua dalam beberapa jam (Stabenfeldt dan Shille, 1980).

ォ・イ。エゥョゥウ。セゥ@ sel epitel

eritrosit ____ ... . ... );!:l!fQ.s.H. _ _

'" 40 E

pembengkakan vulva perdarahan vul Y.a... •••••

PROESTRUS I ESTRUS

agreslf pasif '

40% 70%

, .,

ci. E ovulasi

セQSP@

セ@

. . "

1

,,"/

セ@ セNG@ P ...

セ@

..

'

.

..

0 1 I ' . . . "

....

---....

")20.l5o ... E; •• •••

J'

GセBB@

... .." ....

0::1 " ; , ••••••••••

BGセwi@

10 75

. / ; <

.

FSH ____ . ".::': : .. :.

ZNZZセ@

:

セ@

'-

'-.-.-._-_."'"

. " . . .

, .... LH .-._.-.-' ---

-'-セi@ セセ@ セセ⦅N@ ____________________ __ 80 ::: E '-'" a. セ@

..

,

40-': o.

<C

"'

.

....

(/).

w,

セi@セ@ oセᄋN⦅⦅N⦅NセN⦅N⦅⦅イ⦅NセMMイMセL⦅⦅イセMMイ⦅セL⦅⦅イセ⦅Nイ⦅lo@ - - - .

o

2 4 6 8 10 [image:37.615.83.493.256.589.2]

HARI

Gambar

6.

Gambaran Hormon, Usapan Vagina dan Kelaku-an Kelamin Anjing Betina Se1ama Proestrus dan Estrus, Mc Donald, 1980.

Metestrus atau postestrus adalah periode segera ウ・ウオセ@

(38)

diha-28

silkan oleh corpus luteum. Progesteron menghambat sekresi FSH oleh adenohypophysa sehingga menghambat pembentukan fo-likel de Graaf yang lain dan mencegah terjadinya estrus

(Toelihere, 1981 a ),

Periode metestrus pada anjing sangat unik, karena pa-da saat ini hewan betina masih mau menerima pejantan untuk kopulasi, sehingga metestrus terjadi selagi periode estrus berjalan dan tampak terjadi tumpang tindih (overlapping) an-tara estrus dan metestrus. Holst dan Phemister (1974) me-nyimpulkan pada saat metestrus corpus luteum belum berfung-si sepenuhnya.. l1etestrus berlangsung sangat singkat,

3-5

hari (Holst dan Phemister, 1974); dua hari (Hc Donald,

1980). Gambaran ulas vagina setelah ovulasi terjadi atau akhir estrus menunjukkan mulai terbentuknya sel-sel epitel noncornified, adanya lekosit dan reruntuhan sel lainnya.

Beberapa penulis menyatakan metestrus berjalan sela-rna 40-.90 hari, dimana pada periode ini berlangsung keadaan bunting palsu (pseudopregnancy). Sedangkan Mc Donald

(1980) memberi gambaran bunting palsu berada dalam periode diestrus (Gambar

7),

dan metestrus berakhir dengan kebun-tingan ataupun bunting palsu (Kirk, 1970).

Diestrus adalah periode terakhir dari siklus berahi, dan corpus luteum pada saat ini sudah benar-benar berfung-si. Fase ini disebut juga fase luteal atau "luteal acti-vity" (Hc Donald, 1980). Dibawah pengaruh progesteron ・ョセᄋ@

(39)

29

Kebengkakan vulva mulai menyusut, lendir vagina ュオャセゥ@ mene-bal dan lengket (Kirk, 1970). Pada ulas vagina akan tam-pall: pergeseran dari banyaknya sel-sel epitel cornified men-jadi noncornified. Juga dapat ditemukan adanya reruntuhan sel-sel epitel lainnya serta lekosit (Leon8.rd, 1960).

Sensitifitas endometrium anjing karena pengaruh pro-gesteron menyebabkan terjadinya bunting palsu dan lambat-nya involusi uteri. Involusi uteri terjadi secara sempur-na dalam Vlaktu 120-150 hari sesudah ovulasi (Ec Dosempur-nald, 1980). Bunting palsu menampilkan gejala yang mirip dengan kebuntingan sesungguhnya antira lain pembesaran uterin, re-laksasi dan pembesaran abdomen serta diikuti pembentukan kelenjar susu. Pada akhir masa bunting palsu yang lamanya hampir sarna dengan kebuntingan sesungguhnya (60 hari) ,

an-jing betina memperlihatkan sikap hendak .melahirkan dengan membuat sarang di tempat gelap dan menamlJakkan sifat keibu-an pada benda-benda disekitarnya. Fase luteal pada anjing berlangsung selama 50-80 hari, kemudian corpus luteum ber-regresi.

Anestrus adalah periode yang ditandai oleh ovarium dan saluran kelamin yang tenang dan tidak berfungsi (Toeli-here, 1981a). Pada anjing anestrus fisiologik berlangsung lebih kurang tica bulan, yang diakhiri dengan terjadinya proestrus. Selama anestrus, uterus kecil dan mengendor,

mukosa cervix dan vagina pucat, cervix tertutup rapat,

(40)

/

ANESTRUS

nya

(5-9 harl)

BUNTING

(58-63 har;

tanpa Metestrus)

---,

3D

ESTRUS

bervariasi

\ 7-9hari /

,

'

'

... _---,.,'

estrus.

menutupi

mctt!Slrus

OセMMMM ...

,

'

I '

I '

METESTRUS \

[image:40.600.71.463.85.537.2]

(2 had)

(41)

31

E. Fertilisasi dan Implantasi

Seluruh proses reproduksi seksual berpusat pada keja-dian fertilisasi atau pembuahan; namun demikian fertilisa-si sendiri bukanlah suatu proses reprodukfertilisa-si. Fertilisasi terdiri dari penyatuan atau fusi dua sel,. gamet-garnet jan-tan dan betina untuk membentuk satu sel, zygot (Toelihere, 1981a).

Fertilisasi adalah suatu proses ganda:

a. Dalam aspek embriologik, fertilisasi meliputi pengakti-fan ovum oleh spermatozoa. Tanpa rangsangan fertilisa-si, ovum tidak akan memulai cleavage, dan tidak ada perkembangan embriologik.

b. Dalam aspek genetik, fertilisasi meliputi pemasukan faktor-faktor hereditas pejantan ke dalam ovum. Disi-nilah terletak manfaat perkawinan atau inseminasi, un-tuk menyaun-tukan faktor-faktor unggul ke dalam satu in-dividu baru.

(42)

32

Ovum yang diovulasikan segera memasuki ampula tuba fa-lopii, tempat terjadinya fertilisasi. Sewaktu masuk ke da-lam ampul a selubung ovum, zona pellucida, masih dikelili-ngi oleh sekelompok sel-sel granulosa yang masih disebut cumulus. Ovum terse but tidak bisa langsung mengalami pro-ses fertilisasi dan tidak peka untuk mengalami propro-ses pe-matangan oleh sperma sebelum badan kutub pertama dilepas-kan (Mc Donald, 1980). Kapasitasi sperma secara invitro telah berhasil dilakukan pada oocyt yang belum matang sem-purna (Johnston, 1980). Proses pematangan ovum pada anjing berlangsung selama dua sampai tiga hari sesudah ovulasi

(Mc Donald, 1980) dan fertilisasi sempurna terjadi dalam waktu enam hari (Johnston, 1980).

Ernbrio dikatakan bertaut atau diimplantasikan apabila posisinya telah difiksir dan kontak fisik dengan organisme induk telah ditetapkan (Toelihere, 1981a). Henurut Parto-dihardjo (1980) proses implantasi berlangsung secara berta-hap, yaitu tahap persentuhan embrio dengan endometrium, terlepasnya zona pellueida, pergeseran atau pembagian tem-pat dan pertautan antara tropoblast dengan epitel endomet-rium.

(43)

33

uteri dan terbagi dalam jumlah yang sarna banyak pada setiap cornua (Kirk, 1970). Proses ini sebagai akibat pergerakan dinding uterus, dimana mekanismenya yang pasti belum dike-tahui (Toelihere, 1981a).

Menurut Sokolowski (1980) jika blastosit telah berim-plantasi maka akan tampak tanda pertama yaitu adanya ede-ma endometrial. Zona plasenta akan terbentuk pada hari ke 17-21. Pertautan antara tropoblast dengan epitel endomet-rium terjadi secara sempurna pad a hari ke 21-24 sesudah perkawinan.

F. Kebuntingan dan Kelahiran F.l. Kebuntingan

Periode kebuntingan adalah periode dari mulai terjadi-nya fertilisasi sampai terjaditerjadi-nya kelahiran normal. Kare-na ketidakpastian kapan ovulasi dan fertilisasi dimulai, maka sulit untuk menentukan lama kebuntingan pada anjing. Lama kebuntingan berkisar antara

58-63

hari (Mc Donald, 1980), dengan rata-rata

63

hari (Kirk, 1970). Sedangkan menurut Sokolowski (1980) lama. kebuntingan bervariasi

an-tara

58-66

hari.
(44)

mak-34

simal, daerah permukaan plasenta diperluas baik oleh lipa-tannya, atau oleh pertautan intim antara villi chorion de-ngan endometrium. Bentuk plasenta anjing berdasarkan dis-tribusi dan pengaturan villi chorionnya termasuk tipe zo-naria. Hubungan chorion dengan uterus diklasifikasikan ke-dalam plasenta tipe endotheliochorial, dan terdapat empat lapis jaringan yang memisahkan sistim fetal dan vaskuler maternal. Antibodi maternal yang diberikan melalui plasen-ta sangat sedikit. Anak-anak anjing banyak menerima anti-bodi maternal melalui colostrum setelah dilahirkan.

Kebuntingan pada anjing sering dikelirukan dengan ke-adaan fisiologik sesudah estrus karena tidak terjadi kon-sepsi (bunting palsu) ataupun keadaan patologis misalnya pyometra, ascites dan tumor uterin. Sehingga perlu untuk mengadakan diagnosa kebuntingan pada betina yang sudah di-kawinkan.

Banyak cara yang digunakan untuk mendiagnosa kebunti-ngan pada anjing antara lain palpasi abdominal, memakai teknik radiografi, ultrasonografi ataupun auskultasi. Ca-ra yang paling sering dilakukan adalah palpasi abdominal karena praktis dan murah. Keberhasilan diagnosa tergantung pada keahlian dan pengalaman pemeriksa, temperamen hewan, ukuran hewan, periode kebuntingan, banyaknya fetus dalam uterus dan keadaan gizi hewan (Arthur, 1975).

(45)

35

besar dan gemuk. Hasil diagnosa melalui palpasi abdominal sering dikelirukan oleh vesica urinaria ataupun alat-alat pencernaan yang penuh (Sokolowski, 1980).

Penggunaan radiografi dan ultrasonografi jarang dila-kukan karena tidak praktis dan mahal biayanya. Teknik イ。セ@

diografi dapat digunakan mendiagnosa kebuntingan pada hari ke 42 atau lebih periode kebuntingan, sedangkan ultrasono-grafi pada hari ke 29 periode kebuntingan pad a hewan besar atau gemuk, dan pad a kasus-kasus fetus ektopik (Sokolowski, 1980).

Berikut ini beberapa perubahan yang dapat diamati pa-da uterus pa-dan umur kebuntingan melalui palpasi abdominal

(Arthur, 1979): Hari ke 18-21

Mulai teraba adanya gelembung cairan fetal pada cor-nua uteri. Berbentuk oval dengan ukuran 9-12 mm.

Hari ke 24-30

Merupakan periode yang optimum untuk mendiagnosa ke-buntingan pada anjing. Gelembung pada uterus mulai membu-lat dan berdiameter 15-30 mm. Kadang-kadang teraba adanya perbedaan besar gelembung uterus tersebut.

Hari ke 35-44

(46)

Hari ke

45-55

Ukuran fetus bertambah dengan cepat. Teraba dengan jari fetus yang berada paling posterior dengan ukuran pan-jang

63

mm dan lebar 12 mm, pada betina dengan berat badan

9

kg. Uterus seolah-olah terbagi dua segmen, dimana bagi-an posterior turun dbagi-an mencapai lbagi-antai abdomen.

Hari ke

55-63

Ukuran uterus bertambah besar memenuhi ruang abdomen. Pergerakan fetus akan terlihat dari luar. Palpasi per rek-tal dapat dilakukan pad a sa at ini untuk mengetahui presen-tasi fetus.

Hormon-hormon dalam proporsi yang tepat diperlukan un-tuk mempertahankan kebuntingan normal. Hormon yang esensi-al untuk mempertahankan kebuntingan adesensi-alah progesteron dan estrogen ovarial, gonadotropin dan prolaktin yang disekre-sikan oleh adenohyphophysa. Hormon-hormon tersebut juga diproduksi oleh plasenta chorioalantois.

Hormon yang paling berperan pada saat kebuntingan ada-lah progesteron, yang dihasilkan oleh corpus luteum kebun-tingan (corpus luteum verum). Progesteron sangat berperan dalam kelanjutan hidup blastosit sebelum implantasi dan se-panjang periode kebuntingan.

(47)

kebunting-37

an, dan kadarnya menurun secara bertahap sampai terjadinya kelahiran (Graf, 1978).

Menurut Tsutsui (1983) ovariektomi yang dilakukan pa-da hari ke 45-55 umur kebuntingan akan menyebabkan abortus 11-63 jam setelah ovariektomi. Abortus pada kebuntingan berumur 39-50 hari akibat ovariektomi dapat dicegah dengan memberikan 20-50 mg progesteron sampai kebuntingan beru-mur 35·atau 61 hari. Tstutsui (1983) menyimpulkan bahwa corpus luteum anjing sangat penting untuk mempertahankan kebuntingan hingga hari ke 55 kebuntingan.

F. 2. Kelahiran

Kelahiran atau partus adalah serentetan proses-proses fisiologis yang berhubungan dengan pengeluaran anak dan plasenta dari organisme induk pada akhir masa kebuntingan (Toelihere, 1981a).

Tanda-tanda akan datangnya suatu proses kelahiran pa-da anjing antara lain kegelisahan, menurunnya nafsu makan, timbulnya kelakuan induk seperti membuat sarang dan pro-teksi maternal terhadap benda-benda disekitarnya. Pada saat ini ligamentum pelvis dan vulva relaksasi, adanya ca-iran pada vulva yang berwarna putih susu serta turunnya suhu rektal 0.6_10 dalam 24-48 jam sebelum melahirkan.

(48)

38

F.2.1. Tahap Permulaan at au Persiapan

Banyak teori yang telah dikemukakan tentang bagaimana mekanisme pengaturan at aU penyebab kelahiran. Umumnya teo-ri-teori yang ada menYatakan, dalam suatu proses kelahiran berperan faktor fetal, faktor maternal dan faktor hormonal. Bennet (1980) menerangkan hubungan ketiga faktor ini beker-ja dalam suatu proses kelahiran sebagai berikut:

(49)

ke-39

lahiran dimulai.

F.2.2. Tahap Perejanan

Proses kelahiran normal dapat dibagi atas tiga stadia yaitu: stadium persiapan perejanan, stadium perejanan ku-at ku-atau pendorongan fetus keluar dan stadium perejanan un-tuk pengeluaran plasenta (Partodihardjo, 1980).

Stadium persiapan perejanan dimulai dengan kegelisah-an, ketegangkegelisah-an, nafas yang terengah-engah dan kadang-ka-dang dibarengi muntah. Uterus mulai berkontraksi secara ritmik yang membuat gerakan ekspulsi ke arah cervix. Kon-traksi uterus dimulai dari ujung proksimal ke distal fetus pada cornua uteri. Akibat kontraksi ini isi kandungan ter-desak ke arah cervix, cairan amnion dan alantois memasuki lumen cervix, cairan amnion dan alantois memasuki lumen cervix, dan cervix yang telah mengendor menjadi berdilata-si. Semakin lama kontraksi uterus semakin bertambah fre-kuensi maupun kekuatannya. Akhir dari stadium persiapan ini adalah cervix, vagina dan vulva yang merupakan satu sa-luran yang kontinyu. Fetus dan chorioalantois dipaksa ma-suk ke pintu dalam pelvis dimana chorioalantois pecah dan menyebabkan cairan alantois mengalir melalui vulva. Sta-dium ini dapat berlangsung 6-12 jam, bahkan sampai 36 jam pada betina dara (Bennet, 1980).

(50)

me-40 nyembul sedikit dari celah vulva. Keadaan ini menimbulkan kontraksi refleks diafragma dan otot-otot perut. Perjala-nan fetus keluar melalui cervix ke vagina bersama pecahnya kantong amnion menimbulkan kontraksi refleks yang mendo-rong fetus keluar melalui saluran kelahiran. Sewaktu la-hir setiap fetus terbungkus oleh selaput amnion. Induk akan menjilati fetus agar selaput amnion lepas, membersih-kan fetus serta menstimulasi sis tim kardiovaskuler dan per-nafasannya.

Stadium ke tiga adalah stadium pengeluaran plasenta, yang terjadi kira-kira 15 menit sete1ah ke1ahiran fetus. Umumnya fetus dilahirkan dari setiap cornua uteri secara bergantian, dan dua anak dilahirkan sebelum plasenta dike-luarkan (Bennet, 1980). Pengeluaran plasenta diikuti oleh adanya cairan kehijau-hijauan. Warn a ini merupakan pigmen uteroverdin, hasil perombakan sel-sel darah merah plasenta. Stadium ke dua dan ke tiga berulang kembali hingga semua fetus dilahirkan. Jarak kelahiran masing-masing fetus da-pat berlangsung antara 15 menit sampai dua jam. Waktu yang dibutuhkan untuk melahirkan empat sampai enam anak rata-ra-ta enam sampai delapan jam (Carlson dan Giffin, 1982).

(51)

INSEMINASI BUATAN PADA ANJING

Penelitian dan penggunaan inseminasi buatan pada an-jing terus berkembang hingga sekarang, sejak sUksesnya in-seminasi buatan pertama kali oleh Lazzaro Spallanzani pada tahun 1780 (Andersen, 1980). Adanya cara inseminasi buat-an sbuat-angat bermbuat-anfaat untuk perkembbuat-angbiakbuat-an hewbuat-an ini, ter-utama jika perkawinan alam tidak memungkinkan karena ala-san-alasan kelainan fisik, kelainan kejiwaan ataupun penye-baran penyakit baik pad a jantan maupun betina (Carlson dan Giffin, 1982). Penggunaan inseminasi buatan ini dapat pu-la meningkatkan mutu genetik dan memungkinkan terjadinya pembuahan yang dibatasi jarak dan waktu (Andersen, 1980).

Inseminasi buatan pada anjing meliputi beberapa aspek yaitu: penampungan semen, penilaian semen, pengenceran dan pengawetan semen serta inseminasi pada anjing.

A. Penampungan Semen

(52)

42

spermatozoa (Kirk, 1970), walaupun lebih banyak volume yang dihasilkan dibanding menggunakan manipulasi jari (Melrose, 1970). Penggunaan elektroejakulator jarang sekali karena menghasilkan volume semen sedikit, terkontaminasinya semen oleh urin dan juga menyebabkan rasa ketidaksenangan pada pejantan (Stabenfeldt dan Shille, 1977).

Penampungan semen dapat dilakukan 2-3 kali seminggu agar kualitas semen tetap terjaga (Melrose, 1970). Boucher セ@ al.da1am Kirk (1970) mengamati hubungan kualitas semen dengan frekuensi penampungan semen. Mereka melakukan pe-nampungan semen dengan jadwal dua kali seminggu pad a hari yang tidak sama, setiap hari dan dua kali sehari. Dan di-dapatkan kesimpulan vo.lume semen tidak terpengaruh oleh

frekuensi penampungan, hanya konsentrasi sperma menurun. Juga dapat disimpulkan prosentase spermatozoa normal serta libido tidak dipengaruhi oleh frekuensi ejakulasi.

B. Penilaian Semen

Setelah semen berhasil ditampung, dilakukan penilaian semen sesegera mungkin terhadap keadaan umum, volume, kon-sentrasi, motilitas dan morfologinya. Penilaian ini perlu untuk penentuan kualitas semen dan daya reproduksi pejan-tan. Lebih khusus lagi untuk menetukan kadar pengenceran semen (Toelihere, 1981 b ).

(53)

sper-43

ma, dengan volume berk1sar an tara 0.5-2 ml (Andersen, 1980). B1asanya fraks1 pertama in1 d1ejakulas1kan sebelum ereksi sempurna terjadi (Stabenfeldt dan Shille, 1977) dalam wak-tu 30-50 detik (Ayer, 1984). Fraksi ke dua yang merupakan fraksi kaya sperma, berwarna abu-abu keputihan, konsisten-s1 agak kental dengan volume 0.5-3.5 mI. Fraksi ke dua ini d1ejakulas1kan setelah ereksi dan kopulas1 terjad1 sempur-na (Andersen, 1980) dan memakan waktu 60-90 detik (Ayer, 1984). Fraksi ke tiga, merupakan cairan bening dan besar volumenya (3-20 ml) yang diejakulasikan selama 'proses ter-kait' terjadi. Fraksi ke tiga ini merupakan cairan yang berasal dari kelenjar prostat, sehingga tidak perlu ditam-pung terlalu banyak (Kirk, 1970).

Total volume dari fraksi pertama, ke dua dan sebagian fraksi ke tiga semen anjing bangsa kecil sebanyak 2-4 ml, dan pada bangsa besar 4-7 ml (Ayer, 1984). pH semen anjing berkisar an tara 5.5-6.5 dengan rata-rata 6 (Ayer, 1984).

Derajat motilitas sperma dapat dilakukan dengan cara meneteskan semen diatas gelas objek steril yang hangat

(37oC) dan dilihat dibawah mikroskop. Semen yang berkuali-tas baik memperlihatkan gerakan massa yang sangat halus, ti-dak seperti pada semen sapi, dengan 70% sperma motil aktif

(54)

44 Konsentrasi sperma biasanya diketahui dengan mengguna-kan haemocytometer, walaupun dapat juga dengan menggunamengguna-kan kolorimeter ataupun spektrofotometer. Rata-rata jumlah spermatozoa per ejaku1at 125 juta/m1 (Arthur, 1979) dengan kisaran 4-540 juta sel/ml (Allen, 1985). Volume ejakulat dan konsentrasi spermatozoa dipengaruhi oleh musim, bangs a dan individu itu sendiri (Takeishi, 1975).

C. Pengenceran dan Pengawetan Semen

Segera sesudah penampungan, semen harus diper1akukan dengan hati-hati untuk mencegah cold shock, kontaminasi de-ngan bahan-bahan yang akan merusak sperma, pengocokan atau goncangan berlebih-lebihan atau terkena sinar matahari lang-sung (Toe1ihere, 1981b).

Untuk mencegah c91d shock at au memperpanjang umur sper-matozoa dapat diatasi dengan mencampurkan suatu bahan pelin-dung atau bahan pengencer ke dalam semen sebelum didingin-kan menjadi 5°C. Bahan-bahan yang digunakan pada pengence-ran semen sapi dipakai juga dalam pengencepengence-ran semen anjing. Bahan pengencer terse but umumnya mengandung kuning telur dan air susu sapi yang dipanaskan.

(55)

45

standar atau susu skim yang ditambahkan

10%

kuning telur dan disimpan pada suhu 4°C dapat mempertahankan umur

sperma-tozoa selama

5-6

hari (Harrop dalam Melrose,

1970).

Seager dan Fletcher pad a tahun

1972

mencoba mengawetkan semen

an-jing menggunakan pengencer susu skim yang mengalami proses pasteurisasi dua kali. Perbandingan semen dengan pengencer 1:4 atau 1:5 dan disimpan pada suhu 4°_ 8°C menghasilkan CR

77%.

Setelah semen disimpan selama tiga hari

menghasil-kan CR 53%.

Selain penyimpanan semen untuk jangka pendek, telah pula dicoba membuat semen beku dalam bentuk straw dan pel.-let. Pengencer yang digunakan sitrat-kuning telur yang

di-tambah

10%

glycerol atau menggunakan Tris-penyanggah kuning telur (Foote et al.,

1970).

Seager at al.

(1975)

telah mem-buat semen dalam bentuk pellet dengan pengencer yang mengan-dung kuning telur, laktosa, glycogen serta penambahan anti-biotik Penicillin dan Streptomycin dapat mempertahankan umur semen selama enam tahun.

D. Teknik Inseminasi

(56)

sel-sel epitel cornified dan sel-sel darah merah (Laing, 1970).

46

Inseminasi sebaiknya dilakukan 24-48 jam setelah beti-na mau menerima pejantan (Arthur, 1979). Menurut Ayer

(1984) inseminasi dapat dilakukan pada hari ke 10 dan ke 12 dihitung dari hari pertama keluarnya darah dari vagina.

Dengan menggunakan pipet inseminasi dan syring yang steril, semen dideposisikan di antarior vagina (Kirk, 1970) atau ke dalam uterus (Andersen, 1980). Sebelumnya vulva dan daerah perineum dibersihkan, serta alat-alat yang digu-nakan harus steril.

Dosis inseminasi paling sedikit mengandung 100-150 ju-ta sperma hidup dan motil yang dianjurkan untuk memperoleh angka konsepsi yang tinggi (Ayer, 1984). Menurut Seager et al.(1975) volume semen setelah thawing an tara 3.0-9.0 ml dengan jumlah sperma hidup dan motil antara 150-700 juta per inseminasi. Sedangkan Arthur (1979) menyatakan bahwa semen yang digunakan untuk inseminasi sedikitnya mengandung 200 juta sperma yang hidup dan moti1.

(57)

PEMBAHASAN

Pola reproduksi hewan-hewan yang hidup di alam aslinya sangat berbeda dengan hewan-hewan yang telah mengalami pro-ses domestikasi. Kebanyakan jenis hewan liar mempunyai mu-sim kawin tertentu, yaitu pada waktu dimana kondisi lingku-ngan baik iklim maupun persediaan makanan optimal untuk ke-hidupan dan pertumbuhan anak. Oleh karena musim yang meng-untungkan eukup terbatas, maka pada anjing musim kawin ber-langsung pada akhir musim dingin sampai awal musim semi.

lni merupakan hukum alam, dengan kebuntingan yang 「・イャ。ョァセ@

sung

58

sampai

63

hari menyebabkan anak lahir pada iklim yang sangat menyenangkan dan persediaan makanan yang meneu-kupi (Me Donald, 1980).

Akibat eampur tangan manusia dalam proses domestikasi, telah mengendorkan seleksi alamiah terhadap hewan-hewan ka-win bermusim. Karena melalui domestikasi manusia telah me-nyediakan keadaan lingkungan yang lebih baik untuk kehidu-pan anak yang baru lahir tanpa memperdulikan musim dimana kelahiran tersebut terjadi. Sokolowski et al. (1977) mela-kukan pengamatan terjadinya estrus pada tujuh jenis keturu-nan anjing yaitu: Toy poodle, Cokeker Spaniel, Basset Ho-und, Boston Terrier, Gembala Jerman, Pekingese dan Beagle. Mereka menyimpulkan bahwa estrus dapat terjadi setiap musim.

(58)

48

akan tercapai beberapa minggu lebih cepat pada hewan beti-na dibanding yang jan tan. Dan pubertas biasanya terjadi setelah hewan mencapai berat badan dewasanya. Anjing beti-na juga menghasilkan seks-feromon, yang merupakan alat ko-munikasi untuk aktivitas reproduksi pada waktu musim kawin. Anjing jantan yang berada cukup jauh akan mencium bau fero-mon tersebut dan akan tertarik pada betina yang sedang es-trus ini. Tetapi dapat juga terjadi penolakan pejantan oleh betina yang sedang estrus, dan ini mungkin karena ada-nya faktor psikologis.

Garis lin tang dan iklim telah dilaporkan cukup berpe-ngaruh terhadap musim kawin (Sokolowski et al., 1977).

Pada bulan Juni sampai September dimana terjadi musim panas dan musim gugur, tidak terjadi aktivitas perkawinan. Suhu dan faktor lingkungan lain yang tidak diketahui dapat juga mempengaruhi jarak musim kawin, dimana betina yang hidup di daerah panas mempunyai masa anestrus lebih pendek, di-bandingkan yang hidup di daerah dingin.

(59)

49

dilanjutkan dengan siklus berahi yang ritmik. Sedangkan pada hewan jantan, tidak terjadi siklus berahi setelah pu-bertas, karena pada umumnya pejantan selalu bersedia mene-rima hewan betina untuk aktivitas reproduksi.

Siklus berahi pad a anjing sangat unik, karena pada umumnya hanya berlangsung sekali dalam setahun (monoestrus). Masing-masing fase pada siklus berahi berlangsung lama dan

jika tidak terjadi konsepsi, estrus akan terjadi lagi kira-kira enam bulan yang akan datang.

Lamanya dan kapan masing-masing fase siklus berahi berlangsung sangat sulit diketahui dengan pasti. Traktus genitalia anjing sangat peka terhadap kerja hormon-hormon gonadotropin, juga kelakuan kelamin, sehingga deteksi bera-hi dapat diamati melalui tanda-tanda dari luar. Sewaktu memasuki fase proestrus, terjadi pembengkakan vulva dan adanya perdarahan yang keluar dari vagina. Berahi atau es-trus yang sebenarnya ditandai dengan penerimaan pejantan oleh betina. Sehingga deteksi estrus dapat pula mengguna-kan pejantan yang telah divasektomi.

Untuk lebih meyakinkan masing-masing fase siklus bera-hi dapat pula diamati melalui perubahan epitel vagina, ka-rena vagina anjing lebih responsif terhadap kerja hormon gonadotropin dibanding spesies lain.

(60)

50

keratinisasi epitel vagina. Saat ini banyak ditemukan sel-sel epitel ankulear (cornified). Setelah ovulasi kadar es-trogen menurun dan kadar progesteron meningkat sehingga me-nyebabkan pengelupasan epitel vagina, akibatnya banyak di-temukan sel-sel epitel noncornified. Perubahan-perubahan pad a epitel vagina ini dapat digunakan untuk menentukan waktu yang tepat untuk dilakukannya perkawinan ataupun in-seminasi buatan.

(61)

51

Salah satu penyebab ー。ョェ。ョセョケ。@ interval antara siklus berahi pad a anjing adalah akibat lamanya fase luteal. Pro-gesteron yang terbentuk kadarnya akan meningkat pada hari ke 20 sesudah ovulasi. Kemudian turun seeara perlahan-la-han dan berakhir dengan kelahiran ataupun bunting palsu. Fase luteal berlangsung selama 50-80 hari sesudah ovulasi pad a keadaan bunting palsu (Me Donald, 1980). Akibat pe-ngaruh fase luteal, involusi uteri baru akan terjadi sem-purna pada hari ke 120-150 sesudah ovulasi, baik pada beti-na bunting ataupun bunting palsu.

(62)

KESIMPULAN

Anjing (Canis familiaris) merupakan hewan liar perta-rna yang didomestikasikan, dian tara hewan-hewan piara lain-nya. Akibat proses domestikasi tidak banyak berpengaruh terhadap pola reproduksi anjing, karena anjing masih meng-alami kawin bermusim.

Umumnya anjing mengalami dua kali musim kawin dalam setahun, sehingga digolongkan kedalam hewan monoestrus. Proestrus berlangsung selama 9 hari yang ditandai dengan kebengkakan vulva dan perdarahan vagina, dan estrus ber-langsung antara 7-9 hari. Sewaktu metestrus betina masih menerima pejantan untuk kopulasi, sehingga terjadi tumpang tindih antara estrus dan metestrus. Jika konsepsi tidak terjadi, sesudah periode metestrus dilanjutkan dengan ke-buntingan palsu (pseudopregnancy).

(63)

DAFTAR PUSTAKA

Allen, W. E., 1985. Infertility in the dog. In Practise : 161-165

Andersen, K., 1980. Artificial Insemination and Storage of Canine Semen. In: D. A. Morrow, ed. Current Therapy in Theriogenology. W. B. Saunders Company, Philadelphia, London, 'roronto.

Arthur, G. H., 1979. trics. 4tn Ed.

Veterinary Reproduction and Obste-Balliere Tindall and Cassel, London. Ashdown, R. R. and

J.

L. Hancock., 1980. Fonctional

Ana-tomy of Male Reproduction. In; E. S. E. Hafez, ed. Reproduction in Farm Animals. 4th Ed. Lea

&

Febiger, Philadel phia.

Ayer, A. A., 1984. Artificial insemination of dogs. Auburn Veterinarian 40 : 12-17

Bennet, D., 1980. Normal and Abnormal Parturition.

In : D. A. Morrow, ed. Current Therapy in Therioge-nology. W. B. Saunders Company, Philadelphia, Lon-don, Toronto.

Betteridge, K. J., 1970. The Normal Genitel Organs. In ; J. A. Laing, ed. Fertility and Infertility in the Domestic Animals. 2nd Ed. Ballire Tindall and Cassell, London.

Carlson, D. G. and J. M. Giffi

Gambar

Gambaran Horman, Usapan Vagina dan Ke1akuan
Gambar 1. A1at Ke1amin Jantan (Betteridge, 1970) 3.
Gambar 2. i970) Alat l. Kelamin Betina (Betteridge, Ovarium; 2. Tuba fallopii; 3. 5.
Tabel 1. Hormon-hormon Reproduksi Primer Htッ・ャゥセ・イ・L@
+7

Referensi

Dokumen terkait