ii ABSTRAK
IMPLIKATUR PERCAKAPAN ANAK USIA 5 TAHUN DI LINGKUGAN KELUARGA DAN IMPLIKASINYA PADA
PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI TAMAN KANAK-KANAK (TK)
Oleh INDRA MULYA
0613041033
Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah implikatur percakapan anak usia 5 tahun di lingkungan keluarga dan implikasinya terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia di taman kanak-kanak. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan implikatur percakapan anak usia 5 tahun di lingkungan keluarga dengan menganalisis berbagai interseksi jenis tuturan dan implikasinya terhadap pembelajaran bahasa di taman kanak-kanak.
ii
modus menyatakan fakta dan tindak tutur memengaruhi dengan modus mengemukakan pendapat ; (b) tindak tutur langsung tidak literal (TLtli), yaitu tindak tutur menyindir dengan modus menyatakan fakta, tindak tutur menolak dengan modus bertanya, tindak tutur meminta dengan modus menyatakan fakta, tindak tutur meminta dengan modus menegaskan, tindak tutur membantah dengan modus menyatakan fakta , dan tindak tutur meminta dengan modus bertanya; (c ) tindak tutur tidak langsung tidak literal (TtLtli), yaitu tindak tutur menolak dengan modus menyatakan fakta, tindak tutur melarang dengan modus mengemukakan pendapat, tindak tutur mengeluh dengan modus menyatakan fakta, tindak tutur memerintah dengan modus mengemukakan pendapat, tindak tutur menolak dengan modus perintah, tindak tutur menolak dengan modus merekomendasikan, dan tindak tutur mengajak dengan modus perintah. (2) Pemanfaatan konteks yang digunakan oleh subjek penelitian dalam memaksimalkan implikatur terdiri atas beberapa konteks, yaitu konteks peristiwa dan konteks waktu.
xiii
2.6 Pembelajaran Bahasa di Taman Kanak-Kanak..………... 34
BAB III. METODE PENELITIAN………... 37
3.1 Desain Penelitian………. 37
3.2 Sumber Data………... 33
3.3 Teknik Pengumpulan Data....………... 38
3.4 Teknik Analisis Data………... 39
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN………... 42
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1: Catatan Lapangan Implikatur Tindak Tutur tidak Langsung
Literal……… 75 Lampiran 2: Catatan Lapangan Implikatur Tindak Tutur Langsung Tidak
Literal..……….……… 79 Lampiran 3: Catatan Lapangan Implikatur Tindak Tutur Tidak Langsung
Tidak Literal………. 90 Lampiran 4: Korpus Implikatur Percakapan Anak Usia 5 Tahun di
Lingkungan Keluarga……… 105 Lampiran 5: Korpus Klasifikasi Implikatur Percakapan Anak Usia 5 Tahun
NPM : 0613041033 nama : Indra Mulya
judul skripsi : Implikatur Percakapan Anak Usia 5 Tahun di Lingkungan Keluarga dan Implikasinya pada Pembelajaran Bahasa Indonesia di Taman Kanak-kanak (TK)
program studi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
dengan ini menyatakan bahwa :
1. karya tulis ini bukan saduran/terjemahan, murni gagasan, rumusan dan pelak- sanaan penelitian/implementasi saya sendiri, tanpa bantuan orang lain, kecuali arahan pembimbing akademik;
2. dalam karya tulis ini tidak terdapat karya atau pendapat yang telah ditulis atau dipublikasikan orang lain, kecuali secara tertulis dengan dicantumkan sebagai acuan dalam naskah dengan disebutkan nama pengarang dan dicantumkan dalam daftar pustaka;
3. saya menyerahkan hak milik atas karya tulis ini kepada Universitas Lampung, dan oleh karena itu Universitas Lampung berhak melakukan pengelolaan atas karya tulis ini sesuai dengan norma hokum dan etika yang berlaku; dan
4. pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila di kemudian hari terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran dalam pernyataan ini, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan gelar yang telah di- peroleh karena karya tulis ini serta sanksi lainnya sesuai dengan norma yang berlaku di Universitas Lampung.
Bandar Lampung, 18 Juli 2012 Yang membuat pernyataan
ii
PERSEMBAHAN
Dengan segala kerendahan hati, penulis mempersembahkan karya tulis ini khusus
kepada
1. ibunda dan ayahanda tercinta yang selalu menanti kelulusannku dan telah
mengasuh, membesarkan, mendidik, dan berdoa demi keberhasilanku;
2. kakak-kakak dan adik-adikku serta keponakan-keponakanku tersayang
yang selalu memberikan semangat dan senyum indahnya untukku;
3. sahabat-sahabat tercinta Lampung Tengah ”Pemuda Persatuan Umat Islam
Lampung Tengah”, kalian sumber senyuman di kala duka;
4. seseorang yang kelak dengan izin Allah subhanahuwata’ala akan
mendampingi hidupku;
ii
RIWAYAT HIDUP
Penulis merupakan anak ketiga dari lima bersaudara putera dari Risman dan
Sumintarsih. Penulis dilahirkan di Kampung Reno Basuki Kecamatan Rumbia
Kabupaten Lampung Tengah pada tanggal 02 Oktober 1985.
Penulis memiliki sejarah pendidikan yang cukup panjang. Hikmah dari lama
perjalanan ini penulis yakini sangat banyak dan patut syukuri dalam kondisi
apapun. Satu hal yang menjadi keyakinan penulis bahwa setiap manusia diberikan
banyak kenikmatan oleh Allah subhanahuwata’ala yang bisa diolah menjadi
potensi yang luar biasa di berbagai bidang termasuk bidang pendidikan.
Pendidikan sekolah yang telah ditempuh penulis selama ini yaitu Sekolah Dasar
(SD) Negeri 2 Reno Basuki Rumbia Lampung Tengah pada tahun 1998, Sekolah
Menengah Pertama (SMP) Negeri I Rumbia pada tahun 2002, dan Sekolah
Menengah Atas (SMA) Negeri I Rumbia pada tahun 2005 dengan pengalaman
organisasi intra sekolah Ketua Rohis dan Sekretaris OSIS dalam periode yang
sama. Tahun 2006 penulis terdaftar sebagai mahasiswa pada Program Studi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah, Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Lampung melalui jalur SPMB dengan pengalaman
organisasi ekstra kampus Ketua Pemuda Persatuan Umat Islam Lampung Tengah
xi
SANWACANA
Segala puji hanya bagi Allah swt., Tuhan semesta alam yang telah memberikan
rahmat serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi dengan judul “Implikatur Percakapan Anak Usia 5 Tahun di Lingkungan
Keluarga dan Implikasinya pada Pembelajaran Bahasa Indonesia di Taman Kanak-kanak (TK)” adalah salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada.
1. Dr. Wini Tarmini, M.Hum., sebagai pembimbing I yang telah banyak
membantu, memberikan pengarahan dan saran-saran dari penyusunan proposal hingga skripsi ini selesai dengan penuh kesabaran.
2. Eka Sofia Agustina, S.Pd., M.Pd., sebagai pembimbing II yang telah banyak membantu, memberikan pengarahan dan saran-saran dari penyusunan proposal hingga skripsi ini selesai dengan penuh kesabaran.
3. Dr. Nurlaksana Eko Rusminto, M.Pd., selaku pembahas yang telah memberi banyak masukan dan saran yang berguna bagi penulis demi kesempurnaan
xi
membimbing penulis selama menempuh studi di Universitas Lampung.
5. Drs. Imam Rejana, M.Si., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung.
6. Dr. Bujang Rahman, M.Si., selaku Dekan FKIP Universitas Lampung, beserta stafnya.
7. Bapak dan Ibu dosen yang telah memberikan ilmu, wawasan, dan motivasi kepada penulis.
8. Guru-guru SD N 2 Reno Basuki, SMP N 1 Rumbia, SMA N 1 Rumbia yang
telah tulus ikhlas memberikan berbagai ilmu pengetahuan serta nasihat-nasihat yang sangat berguna bagi penulis. Tanpa bekal berbagai ilmu pengetahuan
dari Bapak dan Ibu, penulis tidak akan sampai ke perguruan tinggi ini.
9. Papah dan Ibu tercinta, yang selalu memberikan kasih sayang, doa, dan motivasi dalam bentuk moral maupun materi dan untaian doa yang tiada
terputus untuk keberhasilan penulis.
10. Kakak-kakakku yang cantik-cantik dan adik-adikku yang ganteng-ganteng Yuliana Risman, A.Md., Ida Asmarantati, S.Pd., M. Zulkarnain yang selalu
memberikan semangat, dorongan dan doa kepada penulis, serta terkhusus adinda M. Sulaiman, S.Pd. yang lebih dahulu sarjana mendahului penulis
menjadi motivasi besar dalam menyelesaikan studi penulis.
xi
12. Teman-teman kosan Slamet Riyadi, S.IP. yang sedang menyelesaikan S2, Rian Yudi Andila, S.IP., dan Nugroho Witdiyanto terima kasih atas perhatian dan doa selama penulis menyelesaikan skripsi.
13. Teman-teman angkatan 2006 baik yang sudah lulus maupun yang belum, terkhusus Febry Wicaksono dan Evan Aprialdi laki-laki terakhir yang belum
selesai se-angkatan yang insyaallah akan segera menyusul menyelesaikan studi.
14. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam proses penyelesaian skripsi
ini tanpa terkecuali, yang tidak dapat ditulis satu persatu.
Semoga ketulusan dan kebaikan bapak, ibu, serta rekan rekan mendapat balasan
kebaikan dari Allah SWT (amin ya rabbal alamin). Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat untuk kemajuan pendidikan, khususnya Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah.
Bandarlampung, Juli 2012
Penulis
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahasa adalah satu alat yang sistematik untuk menyampaikan gagasan atau
perasaan dengan memakai tanda-tanda, bunyi-bunyi, isyarat-isyarat,atau ciri-ciri
yang konvensional dan memiliki arti yang dimengerti (Webster’s News Collegiate
Dictionary dalam Chaedar, 1992:3). Bahasa juga memiliki fungsi yang terpenting
yaitu sebagai alat komunikasi untuk berinteraksi dan guna mencapai kerja sama
antarmanusia. Terjadinya komunikasi dalam kehidupan sehari-hari membuat
seseorang dapat menghubungkan isi pikiran dengan lawan tuturnya dan mencapai
suatu tujuan yang diinginkan. Dalam berkomunikasi setiap orang harus
diinsafkan agar ia mempunyai kesadaran berbahasa. Kesadaran berbahasa itu
tercermin pada tanggung jawab, sikap, perasaan memiliki bahasa yang pada
gilirannya menimbulkan kemauan untuk ikut membina dan mengembangkan
bahasa (Mansoer, 1990:25).
Bahasa komunikasi dan interaksi yang terjalin antara penutur dan mitra tutur tidak
terlepas dari sebuah percakapan awal terjadinya komunikasi. Untuk berpartisipasi
dalam sebuah percakapan, seseorang dituntut untuk memahami maksud dan
menguasai kaidah-kaidah dan mekanisme percakapan sehingga percakapan dapat
berjalan dengan lancar. Kaidah dan mekanisme percakapan itu meliputi aktivitas
membuka, melibatkan diri, dan menutup percakapan.
Penutur dan mitra tutur dapat berkomunikasi dengan baik dan lancar karena
mereka berdua memiliki semacam kesamaan latar belakang pengetahuan tentang
sesuatu yang dipertuturkan itu. Di antara penutur dan mitra tutur terdapat
semacam kontrak percakapan tidak tertulis bahwa apa yang sedang dipertuturkan
itu saling dimengerti (Grice dalam Rahardi, 2005:43).
Dalam percakapan tidak tertulis yang dipertuturkan tersebut biasanya terdapat
permasalahan-permasalahan tentang pemahaman tuturan tidak langsung dalam
konteks tertentu dan tuturan yang memiliki tujuan tertentu. Permasalahan tersebut
sering ditemui dalam percakapan, khususnya tuturan yang terjadi antara
anak-anak dan lingkungan pemerolehan bahasa pertamanya. Pemerolehan dan
penguasaan bahasa anak-anak merupakan satu perkara yang rencam dan cukup
menakjubkan bagi para penyelidik dalam bidang psikolinguistik
(www.infodiknas.com/pemerolehan-bahasa-anak-usia-tiga-tahundalam-lingkungan-keluarga/). Pemerolehan bahasa merupakan satu isu yang amat
mengagumkan dan sukar dibuktikan. Berbagai teori dari bidang disiplin ilmu yang
berbeda telah dikemukakan oleh para peneliti untuk menerangkan bagaimana
pemerolehan bahasa ini terjadi di kalangan anak-anak. Disadari ataupun tidak,
cara kerta sistem linguistik dikuasai oleh anak-anak walaupun tidak ada
Terdapat dua proses pemerolehan bahasa anak-anak di luar pengajaran formal
yaitu pemerolehan bahasa dan pembelajaran bahasa. Dua faktor utama yang sering
dikaitkan dengan pemerolehan bahasa ialah faktor nurture (lingkungan sekitar)
dan faktor nature (biologis). Ketika seseorang melakukan percakapan, maka orang
tersebut sedang mengalami proses pemerolehan bahasa berdasarkan lingkungan
sekitar atau nurture, dan ketika seseorang belajar bahasa pada waktu tertentu dan
dengan cara tertentu merupakan proses pemerolehan bahasa berdasarkan faktor
pengaruh biologis atau nature. Kedua proses pemerolehan bahasa tersebut
merupakan daya kompetensi anak-anak dalam penguasaan kosa kata. Hal tersebut
dikuatkan oleh Chomsky dalam buku Soenjono Dardjowijoyo berjudul
“Psikolinguistik Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia”.
Penguasaan kosa kata sangat memengaruhi keterampilan berbahasa seseorang,
terutama anak usia 4-6 tahun yang pada usia ini anak belum banyak menguasai
kosakata. Sangat penting bagi mereka untuk mempelajari dan memahami
kosakata. Seorang anak tentunya lebih banyak diam dan memperhatikan masalah
yang sedang dibicarakan, anak kemudian mengasosiasikan kosakata yang
didengar dengan apa yang terjadi setelah pembicara selesai mengujarkan sesuatu.
Pada waktu anak belajar berbahasa, anak akan mendengar lebih dahulu kosakata
atau kalimat yang diujarkan orang lain sebelum ia mampu mengujarkan
kosakata-kosakata baru kepada orang lain.
Anak usia 4-6 tahun mempunyai daya serap yang tinggi atas kata-kata yang
diperolehnya baik dari lingkungan keluarga maupun dari lingkungan tempat
spesial karena otak plastis bahasa anak berkembang ( Lenneberg dalam Tarigan
1986:94). Jadi anak akan lebih mudah menerima masukan bahasa dari lingkungan
sekitarnya. Bahasa yang diperoleh diinternalisasikan dan akhirnya digunakan oleh
anak untuk berkomunikasi. Ini berarti bahwa anak-anak menghubungkan hal yang
didengar melalui proses pikirannya kemudian apa yang didengarkan tersebut
menjadi rujukan kosakata dalam setiap aktifitas tuturannya sehari-hari. Hal ini
menerangkan bahwa tuturan, baik bersifat implikatur ataupun tidak, yang didengar
oleh anak merupakan sebuah teladan baginya.
Penelitian Atik Kartika tahun 2010 yang berjudul ”Implikatur Percakapan dalam
Tindak Tutur Memerintah Seorang Ibu Kepada Anak Usia Prasekolah dan
Implikasinya pada Pembelajaran Bahasa Indonesia di Taman Kanak-Kanak (TK)”
menyimpulkan bahwa anak-anak mampu memahami implikatur yang dituturkan
oleh sang ibu, meskipun ada juga implikatur yang harus diberi penjelasan
tambahan. Salah satu contoh implikatur yang terdapat dalam penelitian tersebut
adalah sebagai berikut. “Hmm nah itu, kayak bajunya Bima warnanya apa?”
Implikatur tersebut bukan hanya memiliki tujuan untuk mengetahui warna baju
anak, melainkan lawan tutur memiliki tujuan untuk memerintah anak
agar mewarnai gambarnya dengan warna yang sama dengan baju anak tersebut.
Hal ini memberikan pengertian bahwa anak-anak pada usia 4 tahun mampu
memahami implikatur.
Kenyataan yang terjadi ternyata memang anak pada usia 4-6 tahun mempunyai
daya serap yang tinggi atas kata-kata yang diperolehnya, baik dari lingkungan
perhatian penulis untuk meneliti apakah anak mampu berimplikatur dalam
menanggapi setiap pernyataan mitra tuturnya secara tidak langsung dan dibungkus
atau disembunyikan dengan sesuatu yang lain oleh anak tersebut, peristiwa ini
biasa disebut dengan implikatur percakapan.
Implikatur digunakan untuk memperhitungkan apa yang dimaksud oleh penutur
sebagai hal yang berbeda dari apa yang dinyatakan secara harfiah (Brown dan
Yule, 1983:31). Selalu benar terjadi apa yang dimaksud oleh si pembicara tidak
sama dengan apa yang ditanggap oleh si pendengar sehingga terkadang tanggapan
si pendengar tidak sepaham dengan apa yang dituturkan oleh si pembicara atau
sering juga terjadi si pembicara mengulangi kembali ucapannya mungkin dengan
cara atau kalimat yang lain supaya dapat ditanggapi oleh pendengar
( Lubis,1991:68). Misalnya, data berikut yang berhasil peneliti catat.
(1) Ibu : Adek mau ikut ke pasar ga? Anak : ”Mi, Fani mau tempat mbah ya!” Ibu : ”Iya kalau gitu umi langsung berangkat”
Percakapan di atas termasuk jenis percakapan yang menggunakan implikatur
dalam penolakan dengan menggunakan modus menyatakan. Pada data tersebut
anak memberitahukan bahwa anak pergi ke rumah neneknya, tetapi tujuan anak
tidak hanya sekadar menginformasikan hal itu, melainkan mengimplikasikan
sebuah penolakan ajakan seorang ibu kepada anak pada tuturan sebelumnya.
Penggunaan implikatur dalam contoh peristiwa komunikasi tersebut didorong oleh
kenyataan adanya dua tujuan komunikasi sekaligus yang ingin dicapai oleh
penutur, yaitu tujuan pribadi, yakni untuk memperoleh sesuatu dari mitra tutur
sosial, yakni berusaha menjaga hubungan baik antara penutur dengan mitra
tuturnya sehingga komunikasi tetap berjalan dengan baik dan lancar.
Dari data percakapan tersebut dan semua data yang berhasil penulis himpun,
ternyata implikatur yang digunakan anak diucapkan karena menanggapi
pernyataan dari mitra tutur untuk menjaga hubungan baik saat tuturan
berlangsung. Anak mampu berimplikatur terhadap lawan tuturnya yang terdekat
atau lingkungan lawan tutur dalam pemerolehan bahasa pertamanya, khususnya
ibu kandungnya. Tentu saja dalam proses pemerolehan bahasa pertama anak, sang
ibu atau lawan tutur terdekat yang lainnya perlu memperhatikan cara
menyampaikan tuturan kepada anak tersebut agar anak tidak memiliki rasa kurang
nyaman atau bahkan tersinggung dan agar anak dapat meneladani tuturan Sang
Ibu dalam pemerolehan bahasa pertamanya. Misalnya, sebuah tuturan pernyataan
dibungkus dengan sesuatu yang lain (implikatur) agar percakapan lebih terasa
halus dan tidak menyinggung perasaan lawan tutur. Seorang lawan tutur dalam
menyampaikan sebuah tuturan kepada anak pun harus bisa memilih cara dan
kata-kata yang baik agar anak dapat lebih nyaman dan memahami apa yang
disampaikan oleh laman tutur tersebut dan bisa ditiru oleh anak karena lawan tutur
dalam hal ini ibu adalah teladan bagi anak tersebut.
Berdasarkan hal tersebut, penulis merasa perlu meneliti implikatur percakapan
anak usia 5 tahun di lingkungan keluarga atau pada usia TK anak-anak. Taman
kanak-kanak merupakan salah satu bentuk satuan pendidikan anak usia dini pada
jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak
memahami implikatur anak sehingga anak mampu berkomunikasi secara lisan
dengan bahasa yang baik dan benar. Di samping itu juga terdapat indikator dalam
kurikulum Taman Kanak-kanak (TK) yang mengharapkan anak mampu
berbahasa sopan dalam berbicara. Dalam hal ini pula, peran orang tua juga sangat
penting sebagai mitra sekolah dalam proses belajar mengajar dan perkembangan
anak.
Dengan demikian, judul penelitian ini adalah ”Implikatur Percakapan Anak Usia
5 Tahun di Lingkungan Keluarga dan Implikasinya pada Pembelajaran Bahasa
Indonesia di Taman Kanak-Kanak (TK)”.
1.2 Rumusan Masalah
Dari uraian di atas dapat dirumuskan bahwa yang menjadi permasalahan dalam
penelitian ini adalah ”bagaimanakah implikatur percakapan anak usia 5 tahun di
lingkungan keluarga dan implikasinya pada pembelajaran Bahasa Indonesia di
taman kanak-kanak (TK).”
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implikatur percakapan anak usia 5
tahun di lingkungan keluarga dan implikasinya pada pembelajaran bahasa
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi keilmuan dan bagi
pembelajaran bahasa.
1. Manfaat Teoretis
Manfaat teoretis penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian analis
percakapan, khususnya implikatur percakapan anak usia 5 tahun di
lingkungan keluarga.
2. Manfaat Praktis
Manfaat praktis penelitian ini diharapkan dapat menjadi (a) informasi dan
masukan khususnya bagi para guru di Taman Kanak-Kanak (TK)
mengenai kajian implikatur percakapan anak usia 5 tahun di lingkungan
keluarga (b) operasional penelitian mahasiswa di bidang kajian yang sama.
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini meliputi hal-hal sebagai berikut.
1. Subjek penelitian ini adalah anak usia 5 tahun bernama Fani Syifa Aulia.
2. Objek penelitian ini adalah implikatur percakapan berdasarkan tuturan
verbal, konteks dan implikasi terhadap pembelajaran Bahasa di Taman
Kanak-kanak (TK).
3. Lokasi penelitian ini bertempat di Kecamatan Rumbia Kabupaten
4. Waktu penelitian ini dilakukan mulai tanggal 5 November 2011 - 20
Februari 2012 dengan jumlah 20 data percakapan yang mengandung
LANDASAN TEORI
2.1 Implikatur Percakapan
Penutur dan mitra tutur dapat berkomunikasi dengan baik dan lancar karena
mereka berdua memiliki semacam kesamaan latar belakang pengetahuan tentang
sesuatu yang dituturkan itu. Di antara penutur dan mitra tutur terdapat semacam
kontrak percakapan tidak tertulis bahwa apa yang sedang dituturkan itu saling
dimengerti. Sebuah tuturan dapat mengimplikasikan proposisi yang bukan
merupakan bagian dari tuturan tersebut (Dalam artikel yang berjudul Logic and
Conversation). Proposisi yang diimplikasikan itu dapat disebut dengan implikatur
percakapan (Grice 1975 dalam Rahardi 2005:43).
Tuturan dengan redaksional “hujan akan turun, segera masukan pakaian ke
dalam rumah!” Tidak semata-mata dimaksudkan untuk memberitahukan bahwa
hujan sebentar lagi akan turun. Sang penutur bermaksud memperingatkan mitra
tutur bahwa pakaian yang dijemur akan basah jika tidak dimasukkan ke dalam
rumah. Di dalam implikatur, hubungan antara tuturan yang sesungguhnya dengan
maksud yang tidak dituturkan itu bersifat tidak mutlak. Inferensi maksud tuturan
itu harus didasarkan pada konteks situasi tutur yang mewadahi munculnya tuturan
2.1.1 Pengertian Implikatur
Istilah implikatur diturunkan dari verba “to imply” yang berarti menyatakan
sesuatu secara tidak langsung. Secara etimologis, “to imply” berarti membungkus
atau menyembunyikan sesuatu dengan menggunakan sesuatu yang lain. Oleh
karena itu, implikatur percakapan adalah sesuatu yang disembunyikan dalam
sebuah percakapan, yakni sesuatu yang secara implisit terdapat dalam penggunaan
bahasa secara aktual. Implikatur digunakan untuk memperhitungkan apa yang
dimaksud oleh penutur sebagai hal yang berbeda dari apa yang dinyatakan secara
harfiah (Brown dan Yule, 1983:31). Sebagai contoh, jika seorang bapak
menyatakan “Nak, kambingnya berisik sekali!” dalam keadaan anak pulang
sekolah, tuturan tersebut sesungguhnya bukan hanya bermaksud memberitahukan
bahwa kambingnya berisik, melainkan mengimplikasikan sebuah perintah untuk
anak agar memberi makan kambingnya yang berisik karena lapar.
Dalam kaitannya dengan hal ini, implikatur percakapan digunakan untuk
mempertimbangkan apa yang dapat disarankan atau yang dimaksudkan oleh
penutur sebagai hal yang berbeda dari apa yang tampak secara harfiah. Sebagai
contoh interaksi antara anak dan ibu pada percakapan (1) berikut menunjukkan
bahwa sang ibu tidak memberikan tanggapan secara langsung terhadap apa yang
dituturkan oleh FSA, tetapi pernyataan sang ibu tentang adanya rumah
memberikan implikasi bahwa sang ibu dan anak segera dapat beristirahat di
rumah.
(1) Anak : ”Capek ya mi.”
Penggunaan implikatur dalam peristiwa komunikasi didorong oleh kenyataan
adanya dua tujuan komunikasi sekaligus yang ingin dicapai oleh penutur, yaitu
tujuan pribadi, yakni untuk memperoleh sesuatu dari mitra tutur melalui tuturan
meminta yang disampaikannya dan tujuan sosial, yakni berusaha menjaga
hubungan baik antara penutur dengan mitra tuturnya sehingga komunikasi tetap
berjalan dengan baik dan lancar.
2.1.2 Sumbangan Implikatur terhadap Interpretasi
Setidak-tidaknya terdapat empat sumbangan implikatur percakapan terhadap
interpretasi tindak tutur tidak langsung (Levinson dalam Rusminto dan Sumarti
2006:67), yaitu sebagai berikut.
a) Implikatur percakapan dapat memberikan penjelasan fungsional yang bermakna
terhadap fakta-fakta kebahasaan yang tidak terjangkau oleh teori-teori linguistik
formal.
b) Implikatur percakapan dapat memberikan penjelasan eksplisit terhadap adanya
perbedaan antara tuturan yang dituturkan secara lahiriah dengan pesan yang
dimaksudkan, sementara pesan yang dimaksudkan tersebut dapat saling
dimengerti dan dipahami oleh penutur dan mitra tutur, seperti pada contoh
percakapan berikut.
Kedua kalimat di atas tidak berkaitan secara konvensional, tetapi pembicara B
sudah mengetahui bahwa jawaban yang disampaikan sudah cukup untuk
menjawab pertanyaan pembicara A, sebab dia sudah mengetahui bahwa si A ingin
melihat kamarnya rapi.
c) Implikatur percakapan dapat menyederhanakan pemerian semantik dari
perbedaan antarklausa meskipun klausa-klausa tersebut dihubungkan dengan
kata-kata hubung yang sama seperti pada contoh berikut.
(3) Ayah mencuci mobil dan mengelap kaca mobil sampai bening. (4) Ayah membaca koran dan ibu memasak.
Meskipun kedua kalimat di atas menggunakan kata hubung yang sama dan, kedua
kalimat tersebut memiliki hubungan klausa yang berbeda. Contoh pada kalimat
(3), susunannya tidak dapat dibalik, sedangkan pada kalimat (4) dapat dibalik
menjadi
(4a) Ibu memasak dan ayah membaca koran.
Hubungan klausa kedua kalimat tersebut dapat dijelaskan secara pragmatik
dengan menggunakan dua perangkat implikatur yang berbeda, yaitu pada kalimat
(3) terdapat hubungan ”lalu”, sedangkan pada kalimat (4) terdapat hubungan
”demikian juga”.
d) Implikatur percakapan dapat menjelaskan berbagai macam fakta yang secara
lahiriah tidak berhubungan dan saling berlawanan. Implikatur percakapan dapat
menjelaskan mengapa kalimat pernyataan seperti pada contoh (5) dapat saja
(5) ”Kotor sekali bajumu.”
(6) ”Banyak kotoran di bajumu, cepat cuci bajumu !”
Perlu diketahui bahwa dalam memahami implikatur percakapan, penutur dan
mitra tutur harus memiliki pemahaman yang sama tentang kenyataan-kenyataan
tertentu yang berlaku dalam kehidupan. Pada contoh percakapan (1), misalnya,
untuk dapat memahami implikatur dalam percakapan tersebut diperlukan
pemahaman bersama antara penutur dan mitra tutur bahwa di rumah mereka dapat
beristirahat karena lelah berjalan.
Untuk sampai pada suatu implikatur percakapan, penutur dan mitra tutur harus
mengembangkan suatu pola kerja sama yang mengatur hak dan kewajiban penutur
dan mitra tutur sehingga terjadi kerja sama yang baik antara penutur dan mitra
tutur demi keberlangsungan komunikasi sesuai dengan yang diharapkan (Grice
dalam Rusmito dan Sumarti, 2006:69). Pola kerja sama tersebut dikenal sebagai
prinsip kerja sama. Di samping itu, Grice juga mengingatkan bahwa prinsip kerja
sama tersebut perlu dilengkapi dengan prinsip yang lain yang berfungsi untuk
menjaga keseimbangan sosial dan keramahan hubungan dalam komunikasi, yakni
prinsip sopan santun.
2.2 Prinsip Percakapan
Percakapan merupakan pembicaraan yang terjadi ketika sekelompok kecil peserta
datang bersama-sama dan meluangkan waktu untuk pembicaraan (Goffman,
1976:269). Dalam suatu percakapan, seseorang dituntut untuk menguasai
kaidah-kaidah percakapan sehingga percakapan dapat berjalan dengan lancar dan baik.
digunakan dalam percakapan adalah prinsip kerja sama (cooverative principle)
(Grice dalam Rahardi, 2005: 53-58) dan prinsip sopan santun (politness principle)
(Leech dalam Rahardi, 2005:59-65).
2.2.1 Prinsip Kerja Sama
Prinsip kerja sama mengatur hak dan kewajiban penutur dan mitra tutur sehingga
berlangsung komunikasi yang sesuai dengan yang diharapkan, yakni antara
penutur dan mitra tutur. Prinsip ini berbunyi ”Buatlah sumbangan percakapan
Anda sedemikian rupa sebagaimana yang diharapkan, berdasarkan tujuan dan arah
percakapan yang diikuti”. Prinsip kerja sama ini meliputi beberapa maksim (Grice
dalam Rahardi, 2005: 53-57), yaitu sebagai berikut.
2.2.1.1 Maksim Kuantitas
Dalam maksim kuantitas ini, seorang penutur diharapkan dapat memberikan
informasi yang cukup, relatif memadai, dan seinformatif mungkin.
Contoh:
(1)”Ayah mau merokok lagi!”.
(2)”Ayah yang seminggu lalu berhenti merokok mau merokok lagi”.
Tuturan (1) di atas merupakan tuturan yang sudah jelas dan isinya sangat
informatif karena tanpa harus ditambah dengan informasi lain, tuturan itu sudah
dapat dipahami maksudnya dengan jelas. Sedangkan pada tuturan (2) penambahan
informasi tersebut malah justru menyebabkan tuturan menjadi terlalu panjang,
2.2.1.2 Maksim Kualitas
Dengan maksim kualitas, seorang penutur diharapkan dapat menyampaikan
sesuatu yang nyata dan sesuai fakta sebenarnya di dalam bertutur. Fakta itu harus
didukung dan didasarkan pada bukti-bukti yang jelas.
Contoh
(3)”Cepat mandi! Kalau ga mandi badanmu yang kotor ga boleh tidur di kamar kakak.”
(4)“Ya sudah ga usah mandi, kamar kakak jadi luas!”
Tuturan 3 memungkinkan terjadinya kerja sama antara penutur dengan mitra tutur
karena keadaan yang disampaikan penutur sesuai fakta pada saat itu. Tuturan 4
dikatakan melanggar maksim kualitas karena penutur mengatakan keadaan yang
sebenarnya belum terjadi, itu berarti tuturan tidak sesuai dengan fakta yang terjadi
pada saat itu.
2.2.1.3 Maksim Relevansi
Dalam maksim relevansi, dinyatakan bahwa agar terjalin kerja sama yang baik
antara penutur dan mitra tutur, masing-masing hendaknya dapat memberikan
kontribusi yang relevan tentang sesuatu yang sedang dipertuturkan itu. Contoh :
(5) Ayah : ”Andi, bantu ayah membetulkan pipa yang bocor sekarang!”
(6) Andi : ”Maaf ayah, ibu dari tadi mencuci sendirian.”
Tuturan tersebut dituturkan oleh ayah kepada anaknya. Pada saat itu juga, ibunya
2.2.1.4 Maksim Pelaksanaan
Maksim pelaksanaan ini mengharuskan peserta tutur bertutur secara langsung,
jelas, dan tidak kabur.
Contoh
(7) “Ayo cepat dikerjakan!”
(8) “Iya nanti dulu kalau sudah dekat.”
Tuturan (7) yang berbunyi ”Ayo, cepat kerjakan!” sama sekali tidak memberikan
kejelasan tentang apa yang sebenarnya diminta oleh sang mitra tutur. Kata
dikerjakan dalam tuturan di atas mengandung kadar ketaksaan dan kekaburan
yang sangat tinggi. Oleh karenanya, maknanya pun menjadi sangat kabur. Dapat
dikatakan demikian karena kata itu dimungkinkan untuk ditafsirkan
bermacam-macam, demikian pula tuturan yang disampaikan mitra tutur (8) yakni ”Iya nanti
dulu kalau sudah dekat.” mengandung kadar ketaksaan cukup tinggi juga. Kata
dekat pada tuturan itu dapat banyak mendatangkan kemungkinan persepsi
penafsiran karena di dalam tuturan itu tidak jelas apa sebenarnya yang dimaksut
kalau sudah dekat.
2.2.2 Prinsip Sopan Santun
Dalam kajian pemerolehan bahasa pertama seseorang harus menaati prinsip sopan
santun, tujuannya agar terhindar dari kemacetan komunikasi, hal yang dimaksud
adalah ketika berbicara dengan seseorang dan ingin memperlihatkan kesopan-
santunan kepada mitra tutur, tentu prinsip ini sangat dibutuhkan. Prinsip sopan
percakapan tersebut. Hanya dengan hubungan yang demikian keberlangsungan
percakapan akan dapat dipertahankan (Leech, 1983:82). Di samping itu, kehadiran
prinsip sopan santun ini diperlukan untuk menjelaskan dua hal berikut.
(1) Mengapa orang sering menggunakan cara yang tidak langsung (indirect
speech acts) untuk menyampaikan pesan yang mereka maksudkan, dan
(2) hubungan antara arti (dalam semantik konvensional) dengan maksud atau
nilai (dalam pragmatik situasional) dalam kalimat-kalimat yang bukan
pernyataan (non-declarative),
karena dua hal tersebut, prinsip sopan santun tidak dianggap hanya sebagai prinsip
yang sekedar pelengkap, tetapi lebih dari itu, prinsip sopan santun merupakan
prinsip percakapan yang memiliki kedudukan yang sama dengan prinsip
percakapan yang lain (Rusminto dan Sumarti, 2006: 83-84 ).
Berikut maksim-maksim dalam prinsip kesantunan menurut Leech.
2.2.2.1 Maksim Kebijaksanaan
Gagasan dasar maksim kebijaksanaan dalam prinsip kesantunan adalah bahwa
para peserta tutur hendaknya berpegang pada prinsip untuk selalu mengurangi
keuntungan dirinya sendiri dan memaksimalkan keuntungan pihak lain dalam
kegiatan bertutur. Orang bertutur yang berpegang dan melaksanakan maksim
kebijaksanaan akan dapat dikatakan sebagai orang santun.
Dengan perkataan lain, menurut maksim ini, kesantunan dalam bertutur dapat
Contoh
(1) ”Silakan dipertimbangkan matang-matang terlebih dahulu.”
(2) ”Terima kasih atas kelapangan waktu yang bapak berikan kepada kami.”
Tuturan di atas dituturkan oleh seorang bapak dari pihak laki-laki kepada seorang
wanita yang sedang dilamar. Pada saat itu, pihak wanita yang dilamar harus
memikirkan matang-matang lamaran dari pihak laki-laki.
Dalam tuturan di atas sangat jelas bahwa apa yang dituturkan bapak dari pihak
laki-laki memaksimalkan keuntungan bagi pihak wanita. Tuturan semacam itu
sering ditemukan dalam keluarga-keluarga pada masyarakat tutur desa maupun
kota. Baik masyarakat tutur desa maupun kota, mereka sangat menjunjung
kebijaksanaan dalam berbahasa pada saat melamar wanita yang diinginkan, begitu
juga pihak wanita yang dilamar harus mampu mengimbangi bahasa untuk
menjawab lamaran dari pihak laki-laki.
2.2.2.2 Maksim Kedermawanan
Dengan maksim kedermawanan atau maksim kemurahan hati, para peserta tutur
diharapkan dapat menghormati orang lain. Penghormatan terhadap orang lain
akan terjadi apabila orang dapat mengurangi keuntungan bagi dirinya sendiri dan
memaksimalkan keuntungan bagi pihak lain.
Contoh
Tuturan ini merupakan contoh cuplikan pembicaraan antarsiswa di sebuah
sekolah. Siswa A berhubungan dekat dengan siswa B. Dari tuturan yang
disampaikan si A, dapat dilihat dengan jelas bahwa ia berusaha memaksimalkan
keuntungan pihak lain dengan cara menambahkan beban bagi dirinya sendiri.
2.2.2.3 Maksim Penghargaan
Dalam maksim penghargaan dijelaskan bahwa orang akan dapat dianggap santun
apabila dalam bertutur selalu berusaha memberikan penghargaan kepada pihak
lain. Dengan maksim ini, diharapkan agar para peserta tutur tidak saling
mengejek, saling mencaci, atau saling merendahkan pihak yang lain. Peserta tutur
yang sering mengejek peserta tutur lain di dalam kegiatan bertutur akan dikatakan
sebagai orang yang tidak sopan.
Contoh
(3) Mahasiswa A : ”Saya ragu apakah saya bisa sarjana atau tidak.”
Mahasiswa B : ”Tentu saja dengan kemampuanmu yang multi talenta itu masalah kuliah dan skripsi pasti bisa kamu atasi.”
Tuturan di atas dituturkan oleh seorang mahasiswa kepada temannya yang juga
seorang mahasiswa dalam sebuah obrolan santai.
Pemberitahuan yang disampaikan mahasiswa A terhadap rekannya mahasiswa B
pada contoh di atas ditanggapi dengan sangat baik bahkan disertai dengan pujian
2.2.2.4 Maksim Kesederhanaan
Dalam maksim kesederhanaan atau maksim kerendahan hati, peserta tutur
diharapkan dapat bersikap rendah hati dengan cara mengurangi pujian terhadap
dirinya sendiri.
Contoh
(4) Ketua Pelaksana : ”Saya harus mengantar istriku kerumah sakit sekarang. Kamu tolong saya untuk memberi sambutan, ya!”
Wakil ketua : ”Baiklah. Tapi, saya tidak terbiasa berbicara di depan umum lho.”
Tuturan di atas dituturkan oleh seorang ketua pelaksana kepada wakilnya dalam
sebuah acara. Pada tuturan ketua pelaksana ditanggapi oleh wakil ketua sangat
baik dengan mengurangi pujian terhadap dri sendiri atau rendah hati.
2.2.2.5 Maksim Pemufakatan
Maksim pemufakatan ini seringkali disebut dengan maksim kecocokan (Wijana,
1996: 59). Di dalam maksim ini, ditekankan agar para peserta tutur dapat saling
membina kecocokan atau pemufakatan di dalam kegiatan bertutur. Apabila
terdapat kemufakatan atau kecocokan antara diri penutur dan mitra tutur dalam
kegiatan bertutur, masing-masing dari mereka akan dapat dikatakan bersikap
Contoh
(5) Andi : “Kamu pakai mobil saya, saya pakai mobil kamu, ya dho!” Ridho : ”Boleh, saya suka memakai mobilmu.”
Tuturan di atas dituturkan oleh seorang pengusaha kepada temannya yang juga
pengusaha pada saat mereka sedang makan di sebuah restoran.
2.2.2.6 Maksim Kesimpatisan
Dalam maksim kesimpatisan, diharapkan agar para peserta tutur dapat
memaksimalkan sikap simpati antara pihak yang satu dengan pihak lainnya. Sikap
antipati terhadap salah seorang peserta tutur akan dianggap sebagai tindakan tidak
santun.
Contoh
(6) Aji : ”Saya minta maaf belum bisa melunasi hutang karena saya baru saja terkena musibah.”
Sani : ”Innalillahiwainnailaihi rojiun, ya sudah tidak usah dipikirkan dulu masaah itu.”
Tuturan di atas dituturkan oleh seorang mahasiswa kepada mahasiswa lain yang
saat berada di ruang kelas.
2.3 Tindak Tutur
Tindak tutur merupakan analisis pragmatik, yaitu cabang ilmu bahasa yang
rangkaian yang berupa peristiwa tutur. Tindak tutur lebih melihat pada makna
atau arti tindakan dalam tuturannya, tetapi peristiwa tutur lebih melihat pada
tujuan peristiwanya. Tindak tutur dan peristiwa tutur merupakan dua gejala yang
terdapat pada satu proses, yakni proses komunikasi (Chaer, 1995:65).
2.3.1 Hakikat Tindak Tutur
Aktivitas bertutur tidak hanya terbatas pada penuturan sesuatu, tetapi juga
melakukan sesuatu atas dasar tuturan tersebut atau disebut dengan istilah tindak
tutur (speech act) (Austin dalam buku berjudul how To Do Things with Words
tahun 1962). Pendapat Austin didukung oleh Searle yang mengatakan bahwa unit
terkecil komunikasi bukanlah kalimat, melainkan tindakan tertentu, seperti
membuat pernyataan, pertanyaan, perintah, dan permintaan (Searle dalam
Rusminto dan Sumarti, 2006:70).
Tindak tutur adalah teori yang mencoba mengkaji makna bahasa yang didasarkan
pada hubungan tuturan dengan tindakan yang dilakukan oleh penuturnya (Searle
dalam Rusminto dan Sumarti, 2006:70). Kajian tersebut didasarkan pada
pandangan bahwa tuturan merupakan sarana utama komunikasi dan tuturan baru
memiliki makna jika direalisasikan dalam tindak komunikasi yang nyata,
misalnya membuat pernyataan, pertanyaan, perintah dan permintaan. Dengan
demikian, tindakan merupakan karakteristik tuturan dalam komunikasi.
Diasumsikan bahwa dalam merealisasikan tuturan atau wacana, seseorang berbuat
sesuatu, yaitu performansi tindakan. Tuturan yang berupa performansi tindakan
ini disebut sebagai tuturan performatif, yakni tuturan yang dimaksudkan untuk
2.3.2 Jenis-Jenis Tindak Tutur
Berkenaan dengan tuturan, tindak tutur terdiri atas tiga klasifikasi sebagai berikut
(Austin dalam Rusminto dan Sumarti, 2006:71).
2.3.2.1 Tindak Lokusi (locutionary speech act)
Tindak lokusi ialah tindak proposisi yang berada pada kategori mengatakan
sesuatu (the act of saying something). Oleh karena itu, yang diutamakan dalam
tindak lokusi ini adalah sisi tuturan yang diungkapkan oleh penutur. Wujud tindak
lokusi adalah tuturan-tuturan yang berisi pernyataan atau informasi tentang
sesuatu. Contoh tindak lokusi
(1) Ridwan membuat naskah pidato. (2) Ani membaca novel.
Kedua kalimat di atas diutarakan oleh penuturnya semata-mata untuk
menginformasikan sesuatu tanpa ada tendensi untuk melakukan sesuatu, apalagi
untuk mempengaruhi lawan tuturnya. Tindak lokusi merupakan tindakan yang
paling mudah diindentifikasi karena dalam pengidentifikasian tindak lokusi tidak
memperhitungkan konteks tuturannya.
2.3.2.2 Tindak Ilokusi ( illocutionary speech acts)
Tindak ilokusi adalah tindak tutur yang mengandung daya untuk melakukan
tindakan tertentu dalam hubungannya dengan mengatakan sesuatu. Tindak ilokusi
merupakan tindak tutur yang sesungguhnya diperformasikan oleh tuturan, seperti
Mengidentifikasikan tindak tutur ilokusi lebih sulit dibandingkan dengan tindak
tutur lokusi sebab pengidentifikasian tindak ilokusi harus mempertimbangkan
penutur dan mitra tuturnya, kapan dan di mana tuturan terjadi, serta saluran apa
yang digunakan. Oleh karena itu, tindak ilokusi merupakan bagian penting dalam
memahami tindak tutur. Wujud tindakan tersebut dapat berupa membuat janji,
mendeskripsikan, dan sebagainya.
Tindak ilokusi terbagi menjadi lima jenis seperti diuraikan berikut ini (Searle
dalam Rusminto dan Sumarti 2006:73).
a) Asertif ( assertive)
Asertif ( assertive) ialah tindak tutur yang menjelaskan apa dan bagaimana
sesuatu itu adanya, misalnya menyatakan, mengusulkan, membual, mengeluh,
mengemukakan pendapat, melaporkan. Ilokusi asertif terlihat pada contoh berikut.
(1) Mobilku rusak.
Kalimat mobilku rusak berupa pernyataan untuk memberitahukan mitra tutur
bahwa saat dimunculkannya tuturannya itu mobil penutur dalam keadaan rusak.
b) Direktif ( directive)
Direktif (directive) ialah tindak tutur yang menghasilkan suatu efek berupa
tindakan yang dilakukan oleh mitra tutur, seperti memesan, memerintah, meminta,
merekomendasikan, memberi nasihat. Ilokusi direktif terlihat pada contoh berikut.
Kalimat Dik, ambilkan obeng! berupa direktif meminta, pada tuturan di atas
penutur menghendaki mitra tutur menghasilkan suatu tindakan berupa
mengambilkan penutur obeng.
c) Komisif (commisive)
Komisif (commisive) ialah tindak tutur yang penuturnya terikat pada suatu
tindakan di masa depan, misalnya menjanjikan, menawarkan. Ilokusi komisif
terlihat pada contoh berikut.
(3) Maukah kamu menikah denganku tahun depan?
Kalimat Maukah kamu menikah denganku tahun depan? Berupa komisif
menawarkan, tuturan yang berupa tawaran untuk menikah tahun depan. Pada
kalimat tersebut penutur terikat pada suatu tindakan di masa yang akan datang
berupa tawaran untuk menikah.
d) Ekspresif (expressive)
Ekspresif (expressive) ialah tindak tutur yang berfungsi untuk mengungkapkan
sikap pisikologis penutur terhadap keadaan yang tersirat dalam ilokusi misalnya,
mengucapkan terima kasih, pemberian maaf, mengecam, memberi maaf,
mengecam, berbela sungkawa. Ilokusi ekspresif terlihat pada contoh berikut.
(4) Aku sangat berterima kasih atas kebaikanmu padaku selama ini.
Kalimat aku sangat berterima kasih atas kebaikanmu padaku selama ini berupa
keadaan yang tersirat dalam ilokusi. Ungkapan berterima kasih yang disampaikan
oleh penutur kepada mitra tutur atas kebaikan mitra tutur selama ini.
e) Deklaratif ( declaration)
Deklaratif ( declaration) ialah ilokusi yang digunakan untuk memastikan
kesesuaian antara isi proposisi dengan kenyataan, misalnya memecat, memberi
nama, menjatuhkan hukuman, mengangkat. Ilokusi deklaratif terlihat pada contoh
berikut.
(5) Kamu tidak boleh bawa mobil lagi karena kamu sering menabrak!
Kalimat Kamu tidak boleh bawa mobil lagi karena kamu sering menabrak!
berupa ilokusi deklaratif, yakni ilokusi yang digunakan untuk memastikan
kesesuaian antara isi proposisi dengan kenyataan. Kalimat ini berupa pemberian
hukuman berupa larangan membawa mobil yang disampaikan oleh penutur pada
mitra tutur karena sering menabrak saat membawa mobil.
Dalam hal ini, tindak tutur ilokusi juga dapat diklasifikasikan menjadi lima belas
jenis (Halliday dalam Rusminto dan Sumarti 2006:73-74), yaitu (1) tindak tutur
menyapa, mengundang, menerima, dan menjamu; (2) tindak tutur memuji,
mengucapkan selamat, menyanjung, menggoda, dan menyombongkan; (3) tindak
tutur menginterupsi, menyela, dan memotong pembicaraan, (4) tindak tutur
memohon, meminta dan mengharapkan; (5) tindak tutur mengelak, membohongi,
mengobati kesalahan, dan mengganti subjek; (6) tindak tutur mengkritik,
menegur, mencerca, mengomeli, mengejek, menghina, dan memperingatkan; (7)
(9) tindak tutur menyetujui, menolak, dan membantah; (10) tindak tutur
meyakinkan, mempengaruhi, dan menyugesti; (11) tindak tutur melaporkan,
menilai, dan mengomentari; (12) tindak tutur memerintah, memesan, dan meminta
atau menuntut; (13) tindak tutur menanyakan, memeriksa, dan meneliti; (14)
tindak tutur menaruh simpati dan menyatakan belasungkawa; (15) tindak tutur
meminta maaf dan memaafkan.
Tindak tutur juga dapat dibedakan lagi menjadi tindak tutur langsung dan tindak
tutur tindak langsung, dan tindak tutur literal dan tidak literal (Wijana,
2010:28-35). Secara formal berdasarkan modusnya, kalimat dibedakan menjadi kalimat
berita (deklaratif), kalimat tanya (interogatif) dan kalimat perintah (imperatif).
Secara konvensional kalimat berita (deklaratif) digunakan untuk memberitahukan
sesuatu (informasi); kalimat tanya untuk menanyakan sesuatu, dan kalimat
perintah untuk menyatakan perintah, ajakan, permintaaan atau permohonan.
Apabila kalimat berita difungsikan secara konvensional untuk mengadakan
sesuatu, kalimat tanya untuk bertanya dan kalimat perintah untuk menyuruh,
mengajak memohon dan sebagainya, maka akan terbentuk tindak tutur langsung
(direct speech). Sebagai contoh : Ayah menyalakan generator. Siapa yang
mencuri? Matikan lampunya! Ketiga kalimat tersebut merupakan tindak tutur
langsung berupa kalimat berita, tanya, dan perintah.
Tindak tutur tak langsung (indirect speech act) ialah tindak tutur untuk
memerintah seseorang melakukan sesuatu secara tidak langsung. Tindakan ini
dilakukan dengan memanfaatkan kalimat berita atau kalimat tanya agar orang
menyuruh istrinya memasak air, diungkapkan dengan ”Bu, air panasnya kok habis
ya?” Kalimat tersebut selain untuk bertanya sekaligus memerintah istrinya untuk
memasak air.
Tindak tutur literal (literal speech act) adalah tindak tutur yang dimaksudnya
sama dengan makna kata-kata yang menyusunnya, sedangkan tindak tutur tidak
literal (nonliteral speech act) adalah tindak tutur yang dimaksudnya tidak sama
dengan atau berlawanan dengan kata-kata yang menyusunnya. Sebagai contoh
dapat dilihat kalimat berikut.
(6) Mobilmu sangat cepat.
(7) Mobilmu cepat (tapi kamu tidak usah ikut balapan)
Kalimat (6) jika diutarakan dengan maksud untuk memuji atau mengagumi
kecepatan mobil yang dibicarakan, maka kalimat itu merupakan tindak tutur
literal, sedangkan kalimat (7) penutur bermaksud mengatakan bahwa mobil lawan
tuturnya lambat, yaitu dengan mengatakan “Tidak usah ikut balapan”. Tindak
tutur pada kalimat (7) merupakan tindak tutur tak literal.
Apabila tindak tutur langsung dan tak langsung diinteraksikan dengan tindak tutur
literal dan tak literal, maka akan tercipta tindak tutur sebagai berikut.
(a) Tindak Tutur Langsung Literal (direct literal speech act)
Tindak tutur langsung literal ialah tindak tutur yang diutarakan dengan modus
tuturan dan makna yang sama dengan maksud pengutaraannya. Maksud
memerintah disampaikan dengan kalimat perintah, memberitakan dengan kalimat
berita, dan menanyakan sesuatu dengan kalimat tanya. Misalnya,
(8) ”Masakan air untukku!” (9) ”Dia adalah istriku” (10) ”Apakah dia korupsi?”
(b) Tindak Tutur Tidak Langsung Literal (indirect literal speech act)
Tindak tutur tidak langsung literal adalah tindak tutur yang diungkapkan dengan
modus kalimat yang tidak sesuai dengan maksud pengutaraannya, tetapi makna
kata-kata yang menyusunnya sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh penutur.
Misalnya : “Mejanya kotor.” Kalimat itu jika diucapkan seorang suami kepada
istrinya bukan saja menginformasikan, tetapi sekaligus menyuruh untuk
membersihkan meja.
(c) Tindak Tutur Langsung Tidak Literal (direct nonliteral speech acts)
Tindak tutur langsung tidak literal adalah tindak tutur yang diutarakan dengan
modus kalimat yang sesuai dengan maksud dan tuturan, tetapi kata-kata yang
menyusunnya tidak memiliki makna yang sama dengan maksud penuturnya.
Misalnya : “Rambutmu bagus, kok.” Penuturnya sebenarnya ingin mengatakan
bahwa potongan rambutnya jelek.
(d) Tindak Tutur Tidak Langsung Tidak Literal (indirect non literal speech act)
Tindak tutur tidak langsung tidak literal (indirect non literal speech act) adalah
tindak tutur yang diutarakan dengan modus kalimat yang tidak sesuai dengan
menyuruh mitra tutur untuk mandi, penutur hanya mengutarakan dengan kalimat
tersebut.
2.3.2.4 Tindak Perlokusi (perlocutionary speech act)
Tindak perlokusi ialah efek atau dampak yang ditimbulkan oleh tuturan terhadap
mitra tutur sehingga mitra tutur melakukan tindakan berdasarkan isi tuturan.
Tindak perlokusi lebih mementingkan hasil, sebab tindak ini dikatakan berhasil
jika mitra tutur melakukan sesuatu yang diinginkan oleh penutur (Levinson dalam
Rusminto dan Sumarti, 2006:71). Tindak perlokusi disebut sebagai The Act of
Affecting Someone. Sebuah tuturan yang diutarakan seseorang mempunyai daya
pengaruh (perlocutionary force) atau efek bagi yang mendengarnya. Efek yang
timbul ini bisa sengaja maupun tidak sengaja. Sebagai contoh dapat dilihat pada
kalimat berikut.
(1) Keluarga saya terkena musibah. (2) Adi sudah punya HP.
Kalimat (1) jika diucapkan oleh seorang mahasiswa yang tidak dapat hadir kuliah,
maka ilokusinya adalah untuk permohonan maaf, dan perlokusinva adalah agar
dosen yang mengajar kuliahnya harap maklum. Sedangkan kalimat (2) jika
diucapkan seorang ibu kepada anak-anaknya, maka ilokusinya adalah meminta
agar anak-anaknya tidak iri, dan perlokusinya adalah agar anak-anaknya
...
...
memaklumi keadaan ekonomi orang tua. Tindak perlokusi juga sulit dideteksi,
karena harus melibatkan konteks tuturnya.
2.4 Tuturan sebagai Produk Tindak Verbal
Selain dari pada pengertian pragmatik yang telah diutarakan di atas, ada
pengertian lain dari ucapan yang dapat dipakai dalam pragmatik, yaitu mengacu
kepada produk suatu tindak verbal (Tarigan, 1990:36), dalam teori lain ucapan
disebut juga dengan tuturan . Dalam hubungan ini dapat ditegaskan ada perbedaan
mendasar antara kalimat (sentence) dengan tuturan (utturance). Tuturan disebut
sebagai entitas yang jelas penutur dan lawan tuturnya, serta waktu dan tempat
pengutaraannya, sedangkan kalimat adalah entitas gramatikal sebagai hasil
kebahasaan yang diidentifikasikan lewat penggunaannya dalam situasi tertentu
(Wijana, 2010:16).
2.5 Konteks
Bahasa dan konteks merupakan dua hal yang saling berkaitan satu sama lain.
Bahasa membutuhkan konteks tertentu dalam pemakaiannya, demikian juga
sebaliknya konteks baru memiliki makna jika terdapat tindak berbahasa atau
kalimat di dalamnya. Dengan demikian, bahasa bukan hanya memiliki fungsi
dalam situasi interaksi yang diciptakan, tetapi bahasa juga membentuk dan
menciptakan situasi tertentu dalam interaksi yang sedang terjadi (Duranti dalam
Rusminto dan Sumarti, 2006:56).
Konteks adalah sebuah dunia yang diisi orang-orang yang memproduksi
berkenaan dengan pengetahuan, tetapi merupakan suatu rangkaian lingkungan
dimana tuturan dimunculkan dan diinterpretasikan sebagai realisasi yang
didasarkan pada aturan-aturan yang berlaku dalam masyarakat pemakai bahasa.
Unsur-unsur konteks mencakup berbagai komponen yang disebutnya dengan
akronim speaking (Hymes dalam Rusminto dan Sumarti, 2006:56). Akronim ini
dapat diuraikan sebagai berikut.
(1) Setting, meliputi waktu, tempat, atau kondisi fisik lain yang berada di sekitar
tempat terjadinya peristiwa tutur.
(2) Participannts, meliputi penutur dan mitra tutur yang terlibat dalam peristiwa
tutur.
(3) Ends, yaitu tujuan atau hasil yang diharapkan dapat dicapai dalam peristiwa
tutur yang terjadi.
(4) Act sequences, mengacu pada bentuk dan isi pesan yang disampaikan.
(5) Instrumentalities, yaitu saluran yang digunakan dalam bentuk tuturan yang
dipakai, seperti jalur lisan, tertulis, melalui telegraf atau telepon.
(6) Keys, cara yang berkenaan dengan sesuatu yang harus dikatakan oleh penutur
(serius, kasar, atau main-main).
(7) Norms, yaitu norma-norma yang dipakai dalam interaksi yang sedang
berlangsung.
(8) Genres, yaitu register khusus yang dipakai dalam peristiwa khusus (pantun,
2.6 Pembelajaran Bahasa Indonesia di Taman Kanak-kanak
Seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan kegiatan
pembelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan
kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan terdapat pada sebuah
kurikulum. Kurikulum yang berlaku di taman kanak-kanak perlu disempurnakan
secara terus menerus sejalan dengan dinamika perkembangan masyarakat,
kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya, serta berdasarkan pada
tanggapan, kritik, masukan, dan saran dari para praktisi, pakar, ahli dan
masyarakat.
Pembelajaran yang berlangsung di taman kanak-kanak dilengkapi dengan
kurikulum yang di dalamnya terdapat kompetensi dasar, hasil belajar, dan
indikator yang akan dicapai anak yaitu berupa pembentukan perilaku melalui
pembiasaan. Muatan kurikulum tersebut mencakup beberapa aspek kompetensi
yaitu agama, kemampuan berbahasa, pembiasaan moral, kognitif,emosional,
kemandirian, fisik dan motorik, dan seni. Muatan kurikulum pada kemampuan
berbahasa Indonesia ialah anak mampu mendengarkan, berkomunikasi secara
lisan,memiliki perbendaharaan kata dan mengenal simbol-simbol yang
melambangkannya sehingga dengan begitu anak dapat berkomunikasi/berbicara
secara lisan dengan indikator anak mampu menceritakan pengalaman/kejadian
secara sederhana dengan urut
. (KTSP TK dalam Zainal, 2009:96 ).
Bagi anak, orang tua merupakan tokoh identifikasi. Oleh sebab itu, tidaklah
mengherankan jika mereka meniru hal-hal yang dilakukan orang tua (Fachrozi
tarmizi.wordpress.com/2009/02/04/dampak-bahasa-ibu-b1-dalam-pemerolehan-bahasa/). Anak serta merta akan meniru apa pun yang ia
tangkap di keluarga dan lingkungannya sebagai bahan pengetahuannya yang baru
terlepas apa yang didapatkannya itu baik atau tidak baik. Citraan orang tua
menjadi dasar pemahaman baru yang diperolehnya sebagai khazanah
pengetahuannya, artinya apa saja yang dilakukan orang tuanya dianggap baik
menurutnya. Apapun bahasa yang diperoleh anak dari orang tua dan
lingkungannya tersimpan di benaknya sebagai konsep perolehan bahasa anak itu
sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan orang tua dalam berbahasa di
dalam keluarga (bahasa ibu) sangat dicermati anak untuk ditirukan. Anak bersifat
meniru dari semua konsep yang ada di lingkungannya.
Seorang anak lahir ke dunia seperti kertas putih, bersih {Brown dalam Indrawati
dan Oktarina (2005:24)/
tarmizi.wordpress.com/2009/02/04/dampak-bahasa-ibu-b1-dalam-pemerolehan-bahasa/}. Pernyataan itu memberikanan penjelasan nyata
bahwa lingkungan, dalam hal ini keluarga terutama orang tua dalam pemberian
bahasa yang kurang baik khususnya tuturan lisan kepada anak akan menjadi
dampak negatif yang akan disambut oleh anak sebagai pemerolehan bahasa
pertama (B1) yang menjadi modal awal bagi seoarang anak untuk menyongsong
kehadiran pemerolehan bahasa kedua (B2). Oleh karena itu, kegiatan
pembelajaran di taman kanak-kanak memerlukan pengajar yang mampu
memberikan dorongan kepada peserta didik untuk pembentukan perilaku,
membangun gagasan, dan berkomunikasi dengan baik. Kegiatan pembelajaran
tersebut dapat dilakukan di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah sepetti
lingkingan keluarga dan lingkungan bermain. Dalam hal ini, guru TK dituntut
secara tepat, berkomunikasi secara efektif, dan membangkitkan minat anak untuk
berbahasa Indonesia. Berkaitan dengan indikator yang mengharapkan anak
mampu berbahasa sopan dalam berbicara, maka guru TK diharapkan dapat
memahami implikatur anak yang bersifat langsung maupun tidak langsung dan
diharapkan dapat memberikan arahan tuturan yang baik dengan menggunakan
kalimat pernyataan yang sesuai untuk anak, serta tidak membuat anak tersinggung
atau merasa tidak dihargai ketika diberikan pernyataan dari guru tersebut, apalagi
METODE PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implikatur percakapan anak usia 5
tahun di TK bernama Fani Syifa Aulia (selanjutnya disebut FSA) di lingkungan
keluarga. Dalam hal ini tidak dibatasi jumlah mitra tutur FSA di lingkungan
keluarga dalam proses tuturan. Dengan demikian, untuk mencapai tujuan tersebut
digunakan metode kualitatif. Desain penelitian kualitatif merupakan suatu bentuk
penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena alamiah
yang ada, baik fenomena alamiah maupun fenomena buatan manusia karena pada
dasarnya metodologi kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data
deskriptif kualitatif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan
perilaku yang diamati (Bodgan dan Tailor dalam Prastowo, 2011:22). Penelitian
kualitatif ini diharapkan dapat mendeskripsikan bentuk implikatur percakapan
anak usia 5 tahun di lingkungan keluarga dan implikasinya dalam pembelajaran
bahasa Indonesia di Taman Kanak-kanak (TK).
3.2 Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah Fani Syifa Aulia (selanjutnya dalam
tanggal 14 Februari 2007 dan biasa berkomunikasi dengan ibunya (uminya)
menggunakan bahasa Indonesia. Ia adalah anak kedua dari Ida Asmarantati S.Pd.,
sehari-hari dipanggil dengan sebutan bu Ida, lahir pada tanggal 26 September
1978. Beliau merupakan seorang ibu dengan dua anak dan berkomunikasi
sehari-hari antaranggota keluarga menggunakan bahasa Jawa tetapi dengan
anak-anaknya berbahasa Indonesia.
Data dalam penelitian ini berupa implikatur percakapan anak tersebut dalam
menanggapi pernyataan dan pertanyaan mitra tutur dan sumber data penelitian ini
dilengkapi dengan konteks yang melatari percakapan tersebut. Data diperoleh dari
tanggapan FSA dari pernyataan dan pertanyaan yang diajukan oleh mitra tutur
dalam percakapan sehari-hari.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik
simak bebas libat cakap (Mahsun, 2007: 93) yang berarti peneliti tidak terlibat
dalam percakapan (hanya menyimak saja). Teknik ini dikombinasikan dengan
teknik catatan lapangan. Teknik ini digunakan untuk mencatat tuturan dari mitra
tutur yang ditujukan kepada FSA. Catatan tersebut berupa catatan deskriptif dan
reflektif. Catatan deskriptif berupa catatan tentang semua percakapan dalam
tuturan pernyataan dan pertanyaan dari mitra tutur serta konteks yang melatarinya,
dan catatan reflektif adalah interpretasi/penafsiran peneliti terhadap tuturan
tersebut. Cara ini dilakukan terutama ketika peneliti sedang tidak terlibat di dalam
percakapan tersebut atau ketika mengamati dari jarak yang tidak terlalu dekat dan
3.4 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis
data heuristik. Teknik analisis ini merupakan teknik yang berisi identifikasi daya
pragmatik sebuah tuturan dengan merumuskan hipotesis-hipotesis dan kemudian
mengujinya berdasarkan data-data yang tersedia. Analisis heuristik berusaha
mengidentifikasi daya pragmatik sebuah tuturan dengan merumuskan
hipotesis-hipotesis dan kemudian mengujinya berdasarkan data-data yang tersedia. Bila
hipotesis tidak teruji, maka akan dibuat hipotesis yang baru. Seluruh proses ini,
terus berulang sampai akhirnya tercapai suatu pemecahan berupa hipotesis yang
teruji kebenarannya, yaitu hipotesis yang tidak bertentangan dengan evidensi yang
ada (Leech, 1993:62). Hipotesis yang dimaksud dalam penelitian ini adalah
praanggapan/dugaan sementara.
Gambar 1. Bagan Analisis Heuristik
(Leech, 1993:62) 1. Masalah
2. Hipotesis
3. Pemeriksaan
4a. Pengujian berhasil
5. Interpretasi Default
Di dalam analisis heuristik, analisis berawal dari problema yang dilengkapi
proposisi, informasi latar belakang konteks, kemudian mitra tutur merumuskan
hipotesis tujuan (Leech, 1993:61). Berdasarkan data yang ada, hipotesis diuji
kebenarannya. Bila hipotesis sesuai dengan bukti-bukti kontekstual yang tersedia,
berarti pengujian berhasil. Hipotesis diterima kebenarannya dan menghasilkan
interpretasi baku yang menunjukkan bahwa tuturan mengandung satuan
pragmatik. Jika pengujian gagal karena hipotesis tidak sesuai dengan bukti yang
tersedia, maka proses pengujian ini dapat berulang-ulang sampai diperoleh
hipotesis yang dapat diterima. Berikut contoh analisis konteks.
Contoh data (11) diuji menggunakan analisis heuristik.
1. Masalah
(interpretasi tuturan)
“Adek lagi batuk, tapi adek mau jajan yang dua!”
2. Hipotesis
1. FSA menolak ajakan ibunya untuk pergi ke mini market 2. FSA menolak tawaran es krim ibunya
3. Pemeriksaan 1. FSA sedang dalam keadaan batuk 2. FSA meminta jajan dua buah 3. Lawan tutur pergi ke mini market
4. Lawan tutur membelikan pengganti es krim
5. Interpretasi Menolak es krim 4a. Pengujian 2 Berhasil
Tuturan pada contoh data 1 termasuk sebuah tuturan kalimat pernyataan,
kemudian setelah diperiksa dengan menggunakan analisis heuristik dengan
memasukkan data-data pernyataan tidak langsung ternyata tuturan tersebut
merupakan implikatur dengan modus menyatakan fakta. Tuturan tersebut
diungkapkan FSA bukan hanya berarti memberi tahu dirinya sedang batuk
melainkan juga bermaksud menolak tawaran mitra tutur. Pada tuturan tersebut
FSA merekomendasikan jajan yang jumlahnya dobel sebagai pengganti es krim
karena dirinya sedang batuk. Maksud mitra tutur adalah menawarkan es krim
kepada FSA, tetapi FSA tidak menghiraukan dan menggunakan ketidak
langsungan untuk menyampaikan penolakan tawaran mitra tutur tersebut.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam menganalisis data adalah sebagai berikut.
1. Data yang didapat langsung dianalisis dengan menggunakan catatan deskriptif
dan reflektif juga menggunakan analisis heuristik, yakni analisis konteks.
2. Mengklasifikasikan data berdasarkan modus, tuturan tidak langsung literal dan
tuturan tidak langsung tidak literal berdasarkan konteks.
3. Berdasarkan hasil identifikasi dan klasifikasi data, dilakukan kegiatan
penarikan simpulan sementara.
4. Memeriksa/mengecek kembali data yang ada.
5. Menarik simpulan akhir.
6. Mendeskripsikan implikasi hasil penelitian terhadap pembelajaran bahasa di
V. SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai implikatur percakapan anak usia 5 tahun,
ditemukan beberapa klasifikasi dalam berimplikatur, yaitu tindak tutur menolak
dengan modus merekomendasikan, modus perintah, modus bertanya dan modus
menyatakan fakta; tindak tutur meminta dengan modus bertanya; tindak tutur
memengaruhi dengan modus mengemukakan pendapat; tindak tutur memerintah
dengan modus mengemukakan pendapat; tindak tutur melarang dengan modus
mengemukakan pendapat; tindak tutur menyindir dengan modus menyatakan
fakta ; tindak tutur mengajak dengan modus perintah; tindak tutur meminta
dengan modus menyatakan fakta dan modus menegaskan; tindak tutur mengeluh
dengan modus menyatakan fakta; dan tindak tutur membantah dengan modus
menyatakan fakta.
Bentuk verbal tuturan dalam berimplikatur terdiri atas (a) Tindak tutur tidak
langsung literal (TtLli), yaitu tindak tutur menolak dengan modus menyatakan
fakta dan tindak tutur memengaruhi dengan modus mengemukakan pendapat ; (b)
tindak tutur langsung tidak literal (TLtli), yaitu tindak tutur menyindir dengan
modus menyatakan fakta, tindak tutur menolak dengan modus bertanya, tindak