LEMPUNG EKSPANSIF
Disusun Oleh :
VENDY YOGA DIMAS ANDHIEPSA 20120110045
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL TEKNIK SIPILFAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
LEMPUNG EKSPANSIF
Disusun guna melengkapi persyaratan untuk mencapai derajat kesarjanaan Strata-1
Pada Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Disusun Oleh :
VENDY YOGA DIMAS ANDHIEPSA 20120110045
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL TEKNIK SIPILFAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
iii
(Jadilah kreatif)
Ambisi selalu membawa diri menuju hal baru.
I’ve Done The Best And Will So On
(Saya sudah melakukan yang terbaik dan akan begitu seterusnya)
iv
Allah SWT yang telah melimpahkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi setiap umat-Nya
Nabi Muhammad SAW yang selalu menjadi suri teladan bagi kita
Ayahanda Septadi Parholongan Yahya dan Ibunda Dijah Aju Ratnasari atas segala doa, dukungan serta peluh demi kasih untuk ananda
Adikku Candra Sagita Gilang Permana yang selalu memberikan semangat dan sayangnya serta menjadi tujuan hidupku
Eyang Murni Hutagalung yang aku cintai yang tiada henti memperlihatkan bagaimana seharusnya sebuah keluarga
(Bagaimanapun keluargamu kamu harus membelanya, selalu ada untuk keluargamu, kitapun tidak sepenuhnya baik, tapi untuk keluarga selalu berikan
yang baik dan terbaik, lindungilah dan tuntunlah keluargamu entah seberapa buruknya itu, bukan mencela bahkan memusuhinya)
Untuk terkasih yang selalu menemani saat suka dan duka
Saudara-saudaraku tersayang yang selalu memberikan dukungan serta semangat
Dosen terbaik, bapak Agus Setyo Muntohar, yang selalu menginspirasi dan tak pernah enggan membagi ilmunya yang luar biasa. Beliau tak hentinya membuat
saya kagum.
Semua teman-temanku serta orang yang terlibat langsung maupun tidak langsung yang tak bias disebutkan satu persatu. Terimakasih atas bantuan dan doanya,
v
SURAT PERNYATAAN
Tugas Akhir “Pengaruh Besaran Voltase Metode Elektrokinetik Terhadap
Pengembangan Tanah Lempung Ekspansif” merupakan bagian dari penelitian payung
“SISTEM KOLOM DARI CAMPURAN MIKROKALSIUM DAN MIKROSILIKA
UNTUK FONDASI PERKERASAN LENTUR JALAN PADA TANAH
EKSPANSIF” yang didanai melalui skim Riset Pengembangan IPTEK oleh Direktorat
Riset dan Pengabdian Pada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Republik Indonesia Tahun Anggaran 2016/2017.
Yogyakarta, 31 Agustus 2016
Mahasiswa
(Vendy Yoga Dimas Andhiepsa) NIM. 20120110045
Ketua Peneliti
vi NIM : 20120110045
Menyatakan bahwa dalam tugas akhir yang berjudul “Pengaruh Besaran Voltase
Metode Elektrokinetik Terhadap Pengembangan Tanah Lempung Ekspansif” tidak
terdapat pada karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi manapun. Sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis dalam naskah ini dan disebutkan dalam Daftar Pustaka. Apabila ternyata dalam tugas akhir ini diketahui terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, maka saya bersedia karya ini dibatalkan.
Yogyakarta, Agustus 2016
vii
Segala puji bagi Allah SWT. yang telah memberikan kemudahan, karunia dan rahmat-Nya sehingga penyusun dapat melaksanakan dan menyelesaikan laporan Tugas Akhir dengan judul “Pengaruruh Besaran Voltase Metode Elektrokinetik
Terhadap Pengembangan Tanah Lempung Ekspansif”.
Dalam menyusun dan menyelesaikan Tugas Akhir ini, penyusun membutuhkan kerjasama, bantuan, bimbingan, pengarahan, saran-saran serta dukungan dari berbagai pihak. Terima kasih penyusun haturkan kepada :
1. Bapak Agus Setyo Muntohar, S.T., M.Eng.Sc., Dr. Eng. selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan pengarahan dan bimbingan serta petunjuk dan koreksi yang sangat berharga bagi Tugas Akhir ini.
2. Bapak Jaza’ul Ikhsan, S.T., M.T., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
3. Ibu Ir. Hj. Anita Widianti, S.T., M.T. selaku Ketua Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
4. Ibu Willis Diana, S.T., M.T. selaku Dosen Penguji I. Terima kasih atas masukan, saran dan koreksi terhadap Tugas Akhir ini.
5. Bapak dan Ibu Dosen Jurusan Teknik Sipil Fakultas Sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta atas ilmu yang bermanfaat yang telah diberikan pada penyusun.
6. Kedua orang tua, Ayah, Ibu dan Adik, serta keluarga besarku yang tercinta. 7. Para staf dan karyawan Fakultas Teknik yang banyak membantu dalam
administrasi akademis.
8. Rekan-rekan seperjuangan Teknik Sipil Angkatan 2012, terima kasih atas bantuan dan kerjasamanya. Terbaik.
viii dapat bermanfaat bagi kita semua.
Yogyakarta, Agustus 2016
ix
C. Stabilisasi Tanah Dengan Metode Elektrokinetik ... 6
x
Tabel 2.3 Kapasitas daya dukung tanah (Tjandra dan Wulandari, 2006) ... 9
Tabel 2.4 Berat jenis tanah ... 11
Tabel 2.5 Nilai indeks plastisitas dan macam tanah ... 12
Tabel 2.6 Susunan dan Ukuran Saringan ... 13
Tabel 3.1 Sifat fisik dan indeks tanah ... 20
Tabel 4.1 Hasil pengembangan tanah tanpa elektrokinetik ... 31
Tabel 4.2 Hasil pengembangan dengan elektrokinetik 6 volt, 10 cm ... 32
Tabel 4.3 Hasil pengembangan dengan elektrokinetik 9 volt, 10 cm ... 33
Tabel 4.4 Hasil pengembangan dengan elektrokinetik 12 volt, 10 cm ... 34
Tabel 4.5 Pengembangan pada setiap besaran voltase terhadap jarak dari anoda (+) ... 35
Tabel 4.6 Kadar air pada permukaan (0 cm) pada setiap beda besaran voltase (V) ... 36
Tabel 4.7 Kadar air pada permukaan (0 cm) pada setiap beda besaran voltase (V) ... 37
Tabel 4.8 Kadar air pada permukaan (0 cm) pada setiap beda besaran voltase (V) ... 38
Tabel 4.9 Jumlah air keluar pada anoda dan katoda ... 39
Tabel 4.10 Selisih pengembangan setelah pengujian 4 hari dengan 1 hari tambahan ... 42
Tabel 4.11 Kadar air rata-rata pada setiap letak pengambilan sampel ... 43
Tabel 4.12 Rumus dan nama ion positif (kation) ... 45
xi
Gambar 2.3 Kapasitas daya dukung tanah terhadap pondasi tiang (Tjandra dan
Wulandari, 2006) ... 10
Gambar 2.4 Grafik Hubungan Kadar Air dan Berat Volume Kering (Hardiyatmo, 2002) ... 16
Gambar 3.1 Bagan Alir Tahapan Penelitian ... 17
Gambar 3.2 Lanjutan Bagan Alir Penelitian ... 18
Gambar 3.3 Grafik distribusi ukuran butir tanah ... 19
Gambar 3.4 Grafik plastisitas menurut ASTM D4318 untuk klasifikasi tanah berbutir halus ... 20
Gambar 3.15 Skema Penyusunan Alat ... 26
Gambar 3.16 Pencampuran Tanah ... 27
Gambar 3.17 Tanah setelah dimasukan dalam box uji ... 27
Gambar 3.18 Pemasangan Elektroda ... 28
Gambar 3.19 Pemasangan Plat Mika, Magnetic Dial Gauge dan kabel beserta penjepit ... 28
Gambar 3.20 Pengujian besaran voltase setiap titik... 29
Gambar 4.1 Grafik pengembangan (swelling) tanah dan waktu tanpa elektrokinetik ... 30
Gambar 4.2 Kurva pengembangan (swelling) dan waktu dengan kedalaman 10 cm pada besaran voltase 6 volt ... 31
Gambar 4.3 Kurva pengembangan (swelling) dan waktu dengan kedalaman 10 cm pada besaran voltase 9 volt ... 32
xii
Gambar 4.9 Kurva jumlah air keluar pada setiap elektroda pada pengujian
elektrokinetik selama 5 hari ... 39 Gambar 4.10 Perthitungan jarak dari katoda (-)... 40 Gambar 4.11 Kurva pengujian besaran voltase... 40 Gambar 4.12 Kurva pengujian besaran voltase maksimal pada setiap titik dengan
(V) dan jarak (cm) ... 41 Gambar 4.13 Kurva kadar air rata-rata pada setiap pengambilan sampel... 47 Gambar 4.14 Elektroda anoda (besi) dan katoda (tembaga) mengalami keropos
... 44 Gambar 4.15 Elektroda anoda (besi stainless) dan katoda (tembaga) mengalami
xiv
metode stabilisasi dengan memberikan gradien listrik searah (DC) dengan beda potensial pada tanah, seperti pada tanah lempung ekspansif. Metode ini dikenal sebagai elektrokinetik. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji pengaruh elektrokinetik terhadap pengembangan (swelling) pada tanah lempung ekspansif.
Pada penelitian ini benda uji yang digunakan adalah tanah lolos saringan No.4 sebanyak 12,5 kg yang dicampur dengan air 1750 ml secara merata yang dimasukan dalam box plexiglass dengan volume tanah 40 cm x 20 cm x 15 cm. Besaran voltase yang digunakan bervariasi yaitu 6 volt, 9 volt dan 12 volt DC dengan arus 5A. Metode elektrokinetik dilakukan dengan menancapkan elektroda pada tanah dengan anoda (+) bahan dari besi stainless dan katoda (-) dari tembaga pada kedalaman 10 cm. Dengan adanya arus listrik searah dalam tanah, aliran elektron pada elektroda akan menarik ion yang terdapat pada tanah lempung, yaitu anion (-) yang akan tertarik menuju anoda (+) dan kation (+) menuju katoda (-). Jika ion seperti H2O dalam tanah lempung ditarik dan dikeluarkan maka kadar air akan semakin berkurang, dengan berkurangnya kadar air akan mengurangi potensi pengembangan yang terjadi pada tanah lempung ekspansif.
Dari penelitian yang dilakukan, hasil menunjukkan, tanah yang di elektrokinetik mengalami pengembangan lebih kecil serta kadar air yang lebih sedikit daripada tanah yang tidak di elektrokinetik. Hal ini dapat dilihat dari hasil pengujian setelah dielektrokinetik selama 4 hari dengan 1 hari tambahan untuk mengetahui seberapa efektif metode elektrokinetik dalam menahan pengembangan tanah dan pengujian kadar air yang dilakukan.
1
A. Latar Belakang
Banyak metode perbaikan tanah yang telah dilaksanakan termasuk preloading
dengan instalasi saluran air vertikal, dan stabilisasi kimia sebagai perbaikan tanah. Stabilisasi tanah lempung menggunakan stabilisator berbasis kalsium, seperti kapur dan semen telah dipraktekkan secara rutin selama beberapa dekade. Manfaatnya secara keseluruhan mencakup peningkatan kekuatan tanah, kekakuan, daya tahan, pengurangan plastisitas tanah dan pengembangan serta potensi penyusutan. Namun, metode ini sulit dilakukan untuk menstabilkan tanah di bawah struktur yang sudah ada. Karena perlunya dilakukan pembongkaran serta penggunaan alat berat yang dapat mengganggu struktur atau bangunan untuk mengganti atau memperbaiki tanah yang buruk dengan stabilisator.
Tanah lempung ekspansif adalah jenis tanah yang memiliki potensi pengembangan dan penyusutan sangat besar akibat pengaruh dari perubahan kadar airnya. Potensi tanah inilah yang sering menyebabkan kerusakan pada struktur bangunan dan jalan, seperti jalan bergelombang, retak, dan lain-lain.
Dengan metode elektrokinetik yang dapat menarik ion, metode ini dapat mengurangi kadar air pada tanah dengan menarik ion menuju elektroda dan menyalurkannya menuju pembuangan. Dengan berkurangnya kadar air pengembangan pada tanah lempung ekspansif semakin kecil.
Metode ini merupakan metode perbaikan tanah yang biasanya digunakan untuk tanah berbutir halus, seperti lanau dan lempung. Metode ini telah berhasil digunakan untuk stabilisasi lereng, tanggul dan bendungan (Cassagrande 1952, Bjerrum et al. 1967, Fetzer 1967, Wade 1976, Chappell dan Burton 1975).
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimana pengaruh beda besaran voltase dengan metode elektrokinetik terhadap pengembangan tanah lempung ekspansif.
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian yang dilakukan adalah mengetahui pengaruh beda besaran voltase dengan metode elektrokinetik terhadap pengembangan tanah lempung ekspansif.
D. Batasan Masalah Batasan masalah dari penelitian yang dilakukan adalah:
1. Model alat uji yang digunakan untuk pengujian dengan metode elektrokinetik berukuran 40 x 20 x 20 cm.
E. Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian yang dilakukan adalah:
1. Diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam melakukan perbaikan tanah lunak (stabilisasi) dengan proses elektrokinetik untuk mengurangi pengembangan yang besar pada tanah.
2. Menjadikan elektrokinetik sebagai metode perbaikan tanah lunak yang praktis, efektif dan efisien.
4
A. Tanah Lempung Ekspansif
Tanah ekspansif merupakan tanah yang memiliki ciri-ciri kembang susut yang besar, mengembang pada saat hujan dan menyusut pada musim kemarau (Muntohar, 2014). Proses pengembangan (swelling) dan penyusutan (shrinking) tanah sebagaian besar adalah akibat peristiwa kapiler atau perubahan kadar air pada tanah ekspansif. Seed et al. (1962) menyebutkan bahwa besarnya pengembangan dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain jenis dan jumlah lempung, struktur tanah, kepadatan, perubahan kadar air, meetode pemadatan, konsentrasi elektrolit dalam air dan tekanan di permukaan tanah (surcharge pressure).
Identifikasi dan klasifikasi tanah lempung ekspansif dapat didasarkan pada hasil pengujian sifat-sifat indeks tanah. Beberapa peneliti seperti van der Werve (1964), Daksanamurthy dan Raman (1973), Sridharan ((2000) memanfaatkan grafik plastisitas tanah untuk menentukan derajat pengembangan suatu tanah lempung. Indeks plastisitas dan perubahan volume tana berhubungan erat dengan jumlah partikel yang berukuran lebih kecil dari 0,002 mm. Menurut Seed et al. (1962), indeks plastisitas tanah dapat digunakan sebagai indikator awal untuk mengetahui potensi pengembangan tanah lempung seperti disajikan pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1 Derajat pengembangan tanah ekspansif berdasarkan indeks plastisitas Derajat Pengembangan Indeks Plastisitas
Sangat tinggi (Very high) >55
Tinggi (High) 20 – 55
Sedang (Medium) 10 – 35
Rendah (Low) 0 – 5
Sumber : Seed et al., 1962
density) dan jenis tanah. Perubahan kadar air hanya 1% atau 2% cukup untuk menyebabkan pengembangan yang mengakibatkan kerusakan. El-Sohby dan Rabba (1981) menyebutkan bahwa kadar air awal tanah juga sangat mempengaruhi persentase pengembangan untuk tanah yang dipadatkan kembali (remoulded). Kadar air tanah secara langsung akan mempengaruhi kepadatan tanah yang dinyatakan dengan berat volume kering tanah.sehingga derajat pengembangan tanah ekspansif dapat pula dinyatakan sebagai fungsi dari berat volume kering. Muntohar (2010) menjelaskan bahwa pada kepadatan yang sama, pengembangan (swelling) tidak dipengaruhi oleh kadar air tanah awal, tetapi ditentukan oleh derajat kejenuhannya. Sedangkan kadar air tanah awal mempengaruhi kecepatan pengembangan (rate of swelling) dan besarnya pengembangan maksimum tanah.
B. Elektrokinetik
Metode elektrokinetik adalah suatu metode perbaikan tanah dengan cara memberikan tegangan listrik pada elektroda yang ditanam di tanah untuk memperbaiki karakteristik geoteknik dari tanah lunak.
Sumber : Mosavat, dkk., 2012
Gambar 2.1 Fenomena Elektrokinetik ()
Pada saat dua kutub elektroda (anoda dan katoda) ditanam di dalam tanah dan dialiri dengan arus listrik, maka akan terjadi proses elektrolisis di elektroda dengan persamaan sebagai berikut :
Anoda : 2H2O – 4e- O2 + 4H+ ... (2.1)
Katoda : 2H2O + 2e- H2 + 2OH- ... (2.2)
Proses elektrolisis di atas diikuti dengan perpindahan H+ ke kutub katoda dan OH- ke kutub anoda (electromigration) serta perpindahan air pori tanah menuju elektroda (electroosmosis). Perpindahan air pori tanah ini mempunyai pengaruh yang besar dalam peningkatan daya dukung tanah.
C. Stabilisasi Tanah Dengan Metode Elektrokinetik
Agustina (2014) meniliti tentang analisis kombinasi preloading mekanis dan elektrokinetik terhadap pemampatan tanah lunak pontianak. Penelitian ini bertujuan mengurangi kadar air dan mempercepat proses pemampatan tanah. Penelitian menggunakan 7 sampel dengan perbedaan pada sistem pembebanan, pengukuran dan variasi sistem pengaliran. Arus yang diberikan adalah 15 mA dan 30 mA. Tanah dimasukkan ke dalam sel konsolidasi, yang telah dirancang khusus untuk metode elektrokinetik, dan dijenuhkan dengan air selama 24 jam. Pembebanan awal (preloading) yang diberikan sebesar 0,014 kg/cm2, kemudian beban bertambah
sebesar 0.025 kg/cm2 ; 0.05 kg/cm2 ; 0,075 kg/cm2 ; 0,1 kg/cm2. Pembacaan arloji pengukuran penurunan dilakukan dengan waktu: 0,5 ; 1,0 ; 2,25 ; 4,0 ; 6,25 ; 9,0 ; 12,25 ; 16,0 ; 20,25 ; 25,0 ; 36,0 ; 49,0 ; 64,0 ; 81,0 ; 100 ; 121 ; 144 ; 225 ; 400 ; 1440 menit dan seterusnya setiap penambahan beban dilakukan setelah 24 jam. Hasil uji laboratorium pada pengujian konsolidasi dengan preloading 144 jam dikombinasikan dengan arus 15 mA menunjukkan adanya penurunan pada nilai indeks pemampatan sebesar 37.16% efisiensi waktu sebesar 18.18% dan pada pengujian konsolidasi dengan preloading 144 jam dikombinasikan dengan arus 30 mA penurunan nilai indeks pemampatannya sebesar 42.66% efisiensi waktu sebesar 36.36%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa akibat pengaruh listrik, kekakuan tanah dapat meningkat dan proses pemampatan tanah yang terjadi dapat dipercepat.
dampak kenaikan parameter kuat geser tanah yang cukup signifikan dari pada tanpa preloading. Semakin besar beda potensial, semakin optimal pula penggunaan preloading.
Tjandra dan Wulandari (2006) meneliti tentang pengaruh elektrokinetik terhadap daya dukung pondasi di lempung marina. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki peningkatan tahanan friksi dan ujung dari pondasi tiang di lempung marina setelah dilakukan proses elektrokinetik. Pengujian dilakukan dengan cara memberi tegangan sebesar 20 volt secara kontinu selama 3, 6, 12 dan 24 jam. Model pondasi tiang diwakili oleh tiang bulat yang terbuat dari stainless steel yang juga berfungsi sebagai anoda. Sedangkan untuk katoda, digunakan bahan dari tembaga. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa adanya peningkatan daya dukung dari model pondasi tiang setelah proses elektrokinetik, dimana daya dukung meingkat 5, 7, 11 dan 14 kali setelah 3, 6, 12 dan 24 jam seperti terlihat pada Tabel 2.2 dan Gambar 2.2. Selain itu ditunjukkan pula bahwa rasio peningkatan tahanan friksi lebih besar dari pada tahanan ujung pada setiap durasi waktu.
Tabel 2.2 Daya dukung pondasi tiang
Durasi
Sumber : Tjandra dan Wulandari, 2006
Gambar 2.2 Peningkatan daya dukung pondasi tiang
Pada Tabel 2.3 dan Gambar 2.3 dapat dilihat peningkatan daya dukung tiang dan kapasitas daya dukung tanah yang signifikan setelah proses elektrokinetik selama 3, 6, 12, dan 24 jam. Didapatkan juga peningkatan kuat geser undrained
tanah. Semakin dekat dengan anoda (tiang), kuat geser undrained semakin meningkat. Dari semua hasil yang didapatkan, proses elektrokinetik lebih efektif setelah durasi 6 jam.
Tabel 2.3 Kapasitas daya dukung tanah
Durasi waktu (jam)
Kapasitas friksi (kg/cm2)
Kapasitas ujung (kg/cm2)
Kapasitas Total (kg/cm2)
3 0,06 1,20 1,27
6 0,09 1,59 1,68
12 0,16 3,10 3,26
24 0,19 3,54 3,73
Sumber : Tjandra dan Wulandari, 2006
Gambar 2.3 Kapasitas daya dukung tanah terhadap pondasi tiang
D. Pengujian – Pengujian Tanah Pengujian-pengujian yang dilakukan meliputi :
1. Uji kadar air (ASTM D2216-10)
Kadar air tanah adalah perbandingan antara berat air yang terkandung dalam tanah dengan berat tanah kering (berat bagian yang padat) dan dinyatakan dalam persen. Kadar air dihitung dengan rumus sebagai berikut (Hardiyatmo, 1992) : w = Ww
Ws x % ... (2.3) dengan, w = kadar air (g),
ww = berat air (g)
ws = berat butiran (g)
2. Uji berat jenis (ASTM D854-10)
Berat jenis tanah adalah perbandingan antara berat butir-butir tanah dengan berat air destilasi di udara dengan volume yang sama dan pada temperatur tertentu. Berat jenis dihitung menggunakan rumus sebagai berikut (Hardiyatmo, 1992) :
dengan, Gs = berat jenis
γs = berat volume butiran padat
γw = berat volume air
Berat jenis dari berbagai jenis tanah berkisar antara 2,65 – 2,75. Nilai – nilai berat jenis dari berbagai jenis tanah diberikan dalam Tabel 2.4.
Tabel 2.4 Berat jenis tanah
Jenis Tanah Berat Jenis (Gs)
Kerikil 2,65 – 2,68
Sumber : Hardiyatmo, 1992
3. Uji batas konsistensi (Atterberg limit)
Suatu hal yang penting pada tanah berbutir halus adalah sifat plastisitasnya. Plastisitas disebabkan oleh adanya partikel mineral lempung dalam tanah. Istilah plastisitas digambarkan sebagai kemampuan tanah dalam menyesuaikan perubahan bentuk pada volume yang konstan tanpa retak-retak.
Kadar air tanah mempengaruhi batas konsistensi tanah yaitu batas cair, plastis, semi padat, atau padat. Kedudukan fisik tanah berbutir halus pada kadar air tertentu disebut konsistensi. Cara untuk menggambarkan batas-batas konsistensi dari tanah berbutir halus dengan mempertimbangkan kandungan kadar airnya (Atterberg,1991).
Uji batas konsistensi (Atterberg limit) meliputi :
a. Uji batas cair (ASTM D4318-10)
suatu sampel tanah pada batas cair. Batas cair ditentukan dari pengujian
Cassagrande (1948).
b. Uji batas plastis (ASTM D4318-10)
Batas plastis didefinisikan sebagai kadar air pada kedudukan antara daerah plastis dan semi padat, yaitu kadar air dimana tanah dengan
diameter 3,2 mm mulai retak – retak ketika digulung (Hardiyatmo, 1992). c. Uji indeks plastisitas (ASTM D4318-10)
Indeks plastisitas adalah selisih antara batas cair dan batas plastis. PI = LL – PL ... (2.5) dengan, PI = indeks plastisitas
LL = batas cair PL = batas plastis
Batasan mengenai indeks plastis, sifat tanah, macam tanah dan kohesinya terdapat pada Tabel 2.5.
Tabel 2.5 Nilai indeks plastisitas dan macam tanah
PI Sifat Macam Tanah Kohesi
0 Non plastis Pasir Non kohesi
<7 Plastisitas rendah Lanau Kohesi sebagian
7 – 17 Plastisitas sedang Lempung Berlanau Kohesif >17 Plastisitas tinggi Lempung Kohesif
Sumber : Hardiyatmo, 1992
4. Uji analisis ukuran butiran (ASTM D6913-04)
Analisis ukuran butiran tanah adalah penentuan presentase berat butiran pada satu unit saringan, dengan ukuran diameter tertentu. Sifat – sifat tanah sangat tergantung pada ukuran butirannya. Besarnya ukuran butiran dijadikan dasar untuk pemberian nama dan klasifikasi tanahnya. Oleh karena itu, analisis butiran merupakan pengujian yang sangat sering dilakukan.
Pada dasarnya partikel-partikel pembentuk srtruktur tanah mempunyai ukuran dan bentuk yang beraneka ragam, baik pada tanah kohesif maupun tanah non kohesif. Sifat suatu tanah banyak ditentukan oleh ukuran butir dan distribusinya. Distribusi ukuran butir dari tanah berbutir kasar dapat ditentukan dengan cara menyaringnya. Sampel tanah disaring menggunakan saru unit saringan standar unutk pengujian tanah. Berat tanah yang tertinggal pada masing – masing saringan ditimbang dan menghitung presentase terhadap berat kumulatif pada tiap saringan. Susunan dan ukuran saringan disajikan pada Tabel 2.6.
Tabel 2.6 Susunan dan Ukuran Saringan
No. Saringan (ASTM) Ukuran (mm)
No. 10 2,000
Sumber : Hardiyatmo, 1992
b. Uji analisis hidrometer
Analisis hidrometer didasarkan pada prinsip sedimentasi (pengendapan) butir-butir tanah dalam air. Bila suatu contoh tanah dilarutkan dalam air, pertikel-partikel tanah mengendap dengan kecepatan yang berbeda-beda tergantung paada bentuk, ukuran dan bertanya. Tujuan dari pengujian ini adalah menentukan pembagian butiran tanah yang lolos saringan nomor 200 dengan persamaan dari hukum Stokes berikut :
� = � √� ... (2.6)
dengan, D = diameter butir tanah (mm)
L = kedalaman efektif yaitu jarak vertikal dari permukaan ke dalam suspensi yang diukur. Nilainya ditentukan oleh jenis hidrometer yang dipakai dan pembacaan hidrometer sebelum dikoreksi (R1)
t = waktu pembacaan (menit) 5. Uji pemadatan tanah
Pemadatan tanah telah umum dilakukan untuk menambah kekuatan tanah dengan meningkatkan unit beratnya. Pemadatan tanah atau compaction
merupakan proses desinfikasi tanah dengan mengurangi rongga udara menggunakan peralatan mekanis. Derajat pemadatan tanah diketahui dalam parameter pengukuran unit berat kering.
Adapun tujuan dari pemadatan adalah : (Ariyanto, 2015, Perbaikan tanah residu menggunakan semen pada tanah dasar (Sugrade) jalan rel)
1. Meningkatkan kapasitas daya dukung tanah 2. Mengurangi penurunan (settlement) pada struktur 3. Mengontrol perubahan volume yang tidak diinginkan 4. Mereduksi konduktivitas hidrolik
5. Meningkatkan kestabilan suatu lereng
Dalam pemadatan tanah, ada 4 faktor yang mempengaruhi kontrol pemadatan, yaitu : (Ariyanto, 2015, Perbaikan tanah residu menggunakan semen pada tanah dasar (Sugrade) jalan rel)
1. Energi pemadatan (compaction effort) 2. Tipe tanah dan gradasi
3. Kadar air
4. Unit berat kering (dry unit weight)
inkompresibel yang membuat partikel tanah akan mengalir atau kehilangan friksi dan energi pemadatan langsung diterima oleh air.
Energi pemadatan tanah akan mempengaruhi suatu karakteristik kurva pemadatan, dimana semakin besar energi pemadatan yang diterima tanah maka efek desinfikasinya akan semakin besar, sehingga nilai optimum kadar air akan bergeser lebih kecil namun akan diperoleh nilai maksimum unit berat kering lebih besar.
Tipe tanah serta gradasi juga akan mempengaruhi kurva pemadatan. Umumnya tanah yang dominan berbutir halus (fine grain) akan membutuhkan kadar air lebih untuk mencapai pemadatan optimum, sebaliknya tanah dominan berbutir kasar (coarse grain) membutuhkan sedikit kadar air untuk mencapai kadar air pemadatan optimum. Hal ini juga terkait pada sifat plastisitasnya dimana tanah berbutir halus atau fine grain seperti lempung kelanauan memiliki sifat plastis dibanding tanah berbutir kasar atau coarse grain seperti pasir kelanauan yang memiliki indeks plastisitas rendah.
Dalam pengujian pemadatan tanah ada dua jenis pemadatan proctor, yaitu AASHTO T99, ASTM D698 standard proctor dan AASHTO T180, ASTM 1557 modified proctor.
Dalam pengujian pemadatan, Proctor (1993) telah mengamati bahwa ada hubungan antara kadar air dengan berat volume tanah supaya menjadi padat. Selanjutnya, terdapat satu nilai kadar air optimum tertentu untuk mencapai berat volume kering maksimum.
Berat volume kering tanpa rongga udara atau berat volume kering jenuh dapat dihitung dengan persamaan 2.8.
�� = � � �1+� �� ... (2.7)
dengan, γd = berat volume kering (gram/cm3)
γb = berat volume basah (gram/cm3)
ω = kadar air (%) Gs = berat jenis tanah
Karakteristik kepadatan tanah dapat dinilai dari pengujian standar laboratorium yang disebut dengan Pengujian Proctor. Dalam pengujian pemadatan, percobaan diulang sedikitnya 5 kali dengan kadar air tiap percobaan divariasikan. Selanjutnya, digambar dalam sebuah grafik hubungan kadar air dan berat volume kering, seperti pada Gambar 2.4.
Sumber : Hardiyatmo, 2002
17
A. Tahapan Penelitian
Pada penelitian metode elektrokinetik untuk tanah lempung ekspansif, variabel utama yang akan dibahas adalah pengaruh besaran voltase terhadap pengembangan tanah lempung ekspansif. Variasi besaran voltase yang dipakai adalah 6 V, 9 V dan 12 V. Proses elektrokinetik dilakukan selama 4 hari setiap pembacaan waktu 15 menit, 30 menit, 45 menit, 1 jam, 2 jam, 4 jam, 8 jam, 12 jam, 24 jam, 36 jam, 48 jam, 72 jam dan 96 jam. Setelah proses selama 4 hari selesai, tanah kembali diberi air selama 1 hari untuk diamati apakah metode elektrokinetik dapat menahan pengembangan yang terjadi.
Tahapan penelitian yang dilakukan dapat dilihat pada bagan alir (lihat Gambar 3.1).
Gambar 3.1 Bagan Alir Tahapan Penelitian Persiapan Alat dan Bahan
Pengambilan Sampel Tanah Mulai
Studi Literatur
Gambar 3.2 Lanjutan Bagan Alir Penelitian A
Analisis Data
1. Data tanah awal (sebelum proses elektrokinetik) 2. Data tanah sesudah proses elektrokinetik
Hasil dan Pembahasan
Kesimpulan
Selesai Pengujian Utama :
Pengujian Sampel Tanah dengan Metode Elektrokinetik 1. Tegangan listrik yang diberikan : 6 volt, 9 volt dan 12 volt
2. Waktu proses elektrokinetik : 4 hari + 1 hari 3. Jarak antar elektroda : 20 cm
4. Kedalaman elektroda : 10 cm 5. Pengujian besaran voltase pada setiap titik
Pengujian Awal : 1. Uji Kadar Air
2. Uji Berat Jenis
3. Uji Batas-Batas Atterberg (Batas Cair, Batas Susut, Batas Plastis)
B. Bahan 1. Tanah
Tanah yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanah yang berasal dari daerah Ngawi, Jawa Timur. Sifat-sifat fisik dan indeks tanah dapat dilihat pada tabel (lihat Tabel 3.1). Distribusi ukuran butir tanah disajikan oleh grafik (lihat Gambar 3.3). Berdasarkan grafik tersebut, tanah yang digunakan mengandung fraksi tanah berbutir halus sebanyak 84% dan fraksi tanah berbutir kasar sebanyak 16%. Karena fraksi tanah berbutir halus lebih dari 50%, maka dikategorikan tanah berbutir halus. Selanjutnya dari hasil pengujian batas cair dan batas plastis (lihat Tabel 3.1), menurut sistem klasifikasi tanah Unified Soil Classification System (ASTM D422), tanah diklasifikasikan sebagai tanah lempung plastisitas sedang sampai tinggi dengan symbol OH (lihat Gambar 3.4)
Tabel 3.1 Sifat fisik dan indeks tanah
Parameter Nilai
Kadar air tanah, 0
Berat jenis tanah, Gs 2,61 – 2,68 Batas-batas konsistensi :
Batas cair, LL (%) 94,39
Batas plastis, PL (%) 34,58
Indeks plastisitas, PI (%) 59,81
Pemadatan proctor standar :
Berat volume kering, γdmax 12,2
Kadar air optimum, OMC (%) 27
C. Alat 1. Box Uji
Alat yang digunakan untuk stabilisasi tanah dengan metode elektrokinetik adalah berbentuk persegi panjang yang terbuat dari akrilik berukuran 40x20x20 cm. Dengan diperkuat oleh plat besi dengan ketebalan 3mm dan besi siku dengan ketebalan 3mm. Pada dasar alat uji akrilik yang diberi kayu dengan ketebalan 2 cm untuk memperkuat alat ketika dilakukan pemadatan. Pada samping kanan dan kiri box uji diberi lubang 5 mm untuk selang setinggi 15 cm sebanyak 2 lubang disetiap sisi dan diberi kertas filter agar tanah dan pasir yang tercampur dengan air tidak ikut keluar (lihat Gambar 3.5).
Gambar 3.5 Box Uji
2. Elektroda
Elektroda yang terdiri dari anoda (muatan postif (+)), dan katoda (muatan negatif (-)) dengan panjang 25 cm. Untuk anoda bahan terbuat dari besi
stainless yang berdiameter 12 mm, sedangkan katoda bahan terbuat dari tembaga yang berdiameter 10 mm (lihat Gambar 3.6)
3. Voltage Regulator
Sumber tegangan listrik yang digunakan dalam penelitian adalah listrik searah (Direct Current/DC) yang berasal dari regulator yang dapat mengubah listrik AC ke DC dengan kapasitas 3 – 12 volt, 5 Ampere (lihat Gambar 3.7).
Gambar 3.7 Voltage Regulator
4. Kabel
Kabel digunakan sebagai penghantar listrik dari regulator menuju elektroda yang telah ditanam ke dalam tanah untuk dilakukan proses elektrokinetik. Kabel yang digunakan berukuran 4 (lihat Gambar 3.8).
Gambar 3.8 Kabel dan Penjepit
Sumber Arus (-)
Output DC
Sumber Arus (+)
Output DC Power On/Off
Knob Pengatur besaran
voltase 3 V- 12 V
Penjepit (+) Untuk Anoda
5. Multimeter
Multimeter yang digunakan dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mengukur tegangan listrik yang terdapat pada elektroda selama proses elektrokinetik berlangsung (lihat Gambar 3.9).
Gambar 3.9 Multimeter
6. Magnetic Dial Gauge
Pada penelitian ini pengamatan tentang pengembangan tanah (swelling)
menggunakan magnetic dial gauge untuk mengetahui besar pengembangan maupun penyusutan yang terjadi pada tanah (lihat Gambar 3.10).
Gambar 3.10 Magnetic Dial Gauge Dial Gauge
Maksimal 3 cm
Stand Dial Gauge
7. Selang
Pada lubang air yang terdapat di box uji, diberi selang untuk mengalirkan air ke dalam gelas ukur. Selang yang digunakan berukuran 5 mm (lihat Gambar 3.11).
Gambar 3.11 Selang
8. Kertas Filter
Kertas filter digunakan untuk menahan benda padat yang tercampur dengan air yang keluar saat pengujian, seperti butiran pasir dan tanah (lihat Gambar 3.12)
9. Gelas ukur
Gelas ukur digunakan untuk menampung air yang keluar dari box uji (lihat Gambar 3.13).
Gambar 3.13 Gelas Ukur
10.Besi Silinder Kecil
Besi silinder dengan ukuran 6 mm ini digunakan untuk melihat berapa besaran voltase yang terjadi pada setiap titik dengan menancapkannya pada setiap titik (lihat Gambar 3.14).
Gambar 3.14 Besi Silinder Kecil
D. Pelaksanaan Penelitian 1. Tahap Persiapan Pendahuluan
Pada tahap ini dilakukan persiapan bahan dan alat. Bahan yang disiapkan yaitu tanah lempung. Tanah yang digunakan lolos saringan No. 4. Alat uji disusun beserta perlengkapannya (lihat Gambar 3.15)
Besi Silinder Kecil Diameter 6 mm Gelas Ukur Kapasitas 100 ml Gelas Ukur
Gambar 3.15 Skema penyusunan alat
2. Tahap Pengujian Awal
Pengujian awal ini dilakukan agar mengetahui sifat-sifat fisik dan indeks tanah yang digunakan. Pengujian ini meliputi pengujian kadar air, berat jenis, batas cair, batas plastis, distribusi ukuran butir tanah dan pemadatan tanah. Hasil-hasil pengujian awal ini terdapat pada Lampiran A.
3. Tahap Pengujian Utama
Pengujian utama ini adalah pengujian tanah menggunakan elektrokinetik. Adapun tahapan pengujian utama ini adalah :
a. Siapkan tanah dengan kapasitas 12,5 kg dan air sebanyak 1750 ml. Didapat dari perhitungan :
1) MDD=12,2 kN/m³ (pada grafik pemadatan, lihat Lampiran A)
2) Berat volume kering = 95% (syarat kepadatan tanah dilapangan) x 12,2 = 11,59 kemudian ditarik garis, didapat kadar air kering optimum 14% (pada grafik pemadatan, lihat Lampiran A)
b. Campur tanah dengan air secara merata. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan tanah dengan kadar air kering optimum (lihat Gambar 3.16).
Gambar 3.16 Pencampuran tanah dengan air
c. Tanah yang sudah dicampur dipadatkan ke dalam box uji hingga mencapai 36 x 20 x 15 cm. Dengan pasir setebal 2 cm pada setiap sisi sebagai jalan merembesnya air keluar menuju selang. Pada hal ini penggunaan pasir berfungsi untuk menyerap air pada tanah yang terjadi akibat proses elektrokinetik yang mengikat ion pada tanah sehingga air yang terkumpul pada elektroda dapat disalurkan keluar melalui rembesan oleh pasir menuju selang. (lihat Gambar 3.17).
Gambar 3.17 Tanah setelah dimasukan dalam box uji
d. Pemasangan elektroda dengan kedalaman 10 cm dengan jarak 20 cm. (lihat Gambar 3.18)
Gambar 3.18 Pemasangan Elektroda
e. Pemasangan plat mika dan 5 buah dial gauge di atas permukaan tanah dengan jarak 5 cm setiap dial gauge. (lihat Gambar 3.19)
f. Pemasangan kabel dengan penjepit pada elektroda. (lihat Gambar 3.19)
Gambar 3.19 Pemasangan Plat Mika, Magnetic Dial Gauge dan kabel beserta penjepit
g. Pengaliran arus DC ke elektroda dengan tegangan sebesar 12 volt.
5cm 5cm 5cm 5cm 5cm 5cm 20 cm
Anoda (+) Bahan Besi
Stainless Katoda (-)
Bahan Tembaga
Plat mika Tebal 1 mm Penjepit (-) Untuk Katoda
Dial Gauge
Maksimal 3 cm
h. Setelah semua pemasangan selesai dan alat dinyalakan, tanah diberikan air hingga tergenang (air yang diberikan 6400 ml) selama 4 hari dan dilakukan pembacaan arloji.
i. Waktu pembacaan arloji, yaitu 15 menit, 30 menit, 45 menit, 1 jam, 2 jam, 4 jam, 8 jam, 12 jam, 24 jam, 36 jam, 48 jam, 72 jam dan 96 jam.
j. Setelah proses elektrokinetik selama 4 hari selesai, tanah diberikan air lagi hingga tergenang (air yang diberikan 1850 ml) selama 1 hari untuk melihat apakah tanah yang telah dielektrokinetik selama 4 hari mampu menahan pengembangan tanah.
k. Setelah proses elektrokinetik selama 5 hari, tanah diambil sampel dengan variasi kedalaman 0 cm, 7,5 cm dan 15 cm setiap titik, untuk diukur kadar airnya.
l. Bersihkan alat untuk dilakukan pengujian baru dengan langkah-langkah yang sama dengan variasi besaran voltase berbeda, yaitu 9 volt dan 12 volt.
m. Lakukan pengujian untuk menghitung besaran voltase yang terjadi pada setiap titik menggunakan besi silinder kecil. (lihat Gambar 3.20).
Gambar 3.20 Pengujian besaran voltase setiap titik
n. Untuk penerapan dilapangan, kita bisa menancapkan elektroda dengan jarak anoda (+) dan katoda (-) yang diinginkan, pada beda potensial tertentu dengan vertical drain atau sand drain untuk mengeluarkan air tanah yang tertarik dan terkumpul pada elektroda selama proses
Besi Silinder Kecil Diameter 6 mm
5cm 5cm 5cm
5cm 5cm 5cm
30
1. Pengembangan Tanah (Swelling) Lempung Ekspansif tanpa Metode Elektrokinetik
Hasil pengujian berikut dilakukan sebagai pembanding bagaimana nilai pengembangan tanpa metode elektrokinetik. Pengujian dilakukan selama 4 hari dengan 1 hari tambahan dengan langkah pengujian yang sama. (lihat Gambar 4.1).
Gambar 4.1 Kurva pengembangan (swelling) dan waktu tanpa metode elektrokinetik
Keterangan
Titik
1 2 3 4 5
Pengembangan
(S), % 16,253 18,193 19,267 19,1 16,49
Selengkapnya pada Lampiran B
2. Pengembangan Tanah (Swelling) Lempung Ekspansif dengan Metode Elektrokinetik
Hasil pengujian pengembangan tanah dengan metode elektrokinetik tersaji pada lampiran B. Berdasar hasil pengujian stabilisasi tanah dengan metode elektrokinetik yang dilakukan diperoleh grafik hubungan pengembangan dan waktu pada setiap beda voltase dengan kedalaman elektroda tetap 10 cm. (lihat Gambar 4.2, Gambar 4.3 dan Gambar 4.4)
kedalaman 10 cm didapat pengembangan maksimal 15,95 % pada titik 3. (lihat Tabel 4.2)
Tabel 4.2 Hasil pengembangan dengan elektrokinetik 6 volt, 10 cm
Keterangan
Titik
1 2 3 4 5
Pengembangan
(S), % 14,11 15,95 15,89 15,393 13,59
Selengkapnya pada lampiran B
Gambar 4.3 Kurva pengembangan (swelling) dan waktu dengan kedalaman 10 cm pada besaran voltase 9 volt
Keterangan
Titik
1 2 3 4 5
Pengembangan
(S), % 11,903 14,36 14,423 13,913 11,207
Selengkapnya pada lampiran B
Gambar 4.4 Kurva pengembangan (swelling) dan waktu dengan kedalaman 10 cm pada besaran voltase 12 volt
Keterangan
Titik
1 2 3 4 5
Pengembangan
(S), % 10,647 14,577 12,45 12,453 7,99
Selengkapnya pada lampiran B
3. Pengembangan dengan Metode Elektrokinetik Selama 4 Hari dan 1 Hari Tambahan
Pengembangan dan penurunan maksimum dengan metode elektrokinetik selama 5 hari didapat nilai pengembangan terkecil pada besaran voltase 12 V (lihat Gambar 4.5). Gambar tersebut menunjukan nilai pengembangan pada setiap besaran voltase serta skema letak setiap dial gauge dengan jarak 5 cm dan letak antar elektroda dengan anoda (+) bahan dari besi stainless dan katoda (-) bahan dari tembaga.
(lihat Tabel 4.5)
Tabel 4.5 Pengembangan pada setiap besaran voltase terhadap jarak dari anoda (+)
Jarak Dari
4. Kadar Air Setelah Pengujian Elektrokinetik
Gambar 4.6 Kurva kadar air pada bagian permukaan (0 cm)
Kadar air minimum pada kurva bagian permukaan (0 cm) terdapat pada titik 3 dengan besaran voltase 12 V sebesar 53 % (lihat Tabel 4.6)
Tabel 4.6 Kadar air pada permukaan (0 cm) pada setiap beda besaran voltase (V)
Letak Pengambilan Sampel : Permukaan (0 cm)
Pengujian Kadar Air
Besar Voltase (V)
Kadar Air Awal
Titik
1 2 3 4 5
0 14% 73,9% 69,3% 72% 69,7% 71,4%
6 14% 60,7% 56,8% 58,3% 59,2% 55,3%
9 14% 54,8% 54,9% 57,9% 57,3% 57,5%
Gambar 4.7 Kurva kadar air pada bagian tengah (7,5 cm)
Kadar air minimum pada kurva bagian tengah (7,5 cm) terdapat pada titik 1 dengan besaran voltase 12 V sebesar 53,4 % (lihat Tabel 4.7)
Tabel 4.7 Kadar air pada tengah (7,5 cm) pada setiap beda besaran voltase (V)
Letak Pengambilan Sampel : Tengah (7,5 cm)
Pengujian Kadar Air
Besar Voltase (V)
Kadar Air Awal
Titik
1 2 3 4 5
0 14% 68,7% 67,5% 71,3% 71,8% 70,4%
6 14% 58,9% 60,2% 59,1% 62,8% 58,1%
9 14% 56,3% 58,5% 59,3% 58,1% 55,6%
Gambar 4.8 Kurva kadar air pada bagian dasar (15 cm)
Kadar air minimum pada kurva bagian dasar (15 cm) terdapat pada titik 2 dengan besaran voltase 12 V sebesar 54,7 % (lihat Tabel 4.8)
Tabel 4.8 Kadar air pada dasar (15 cm) pada setiap beda besaran voltase (V)
Letak Pengambilan Sampel : Dasar (15 cm)
Pengujian Kadar Air
Besar Voltase (V)
Kadar Air Awal
Titik
1 2 3 4 5
0 14% 68,1% 70,7% 74% 68,9% 76%
6 14% 132,5% 58,5% 62,7% 61,6% 60,9%
9 14% 60,5% 60,6% 59,9% 58,3% 54,9%
terdapat pada pengujian dengan besaran voltase 12 V (lihat Gambar 4.9).
Gambar 4.9 Kurva jumlah air keluar pada setiap elektroda pada pengujian elektrokinetik selama 5 hari
Dari kurva diatas jumlah air keluar lebih dominan pada anoda (+) yaitu jumlah air keluar maksimal sebanyak 423 ml dan minimal pada katoda dengan besaran 6 V sebanyak 43 ml (lihat Tabel 4.9)
Tabel 4.9 Jumlah air keluar pada anoda dan katoda
Besaran Voltase (V)
Jumlah Air Yang Keluar
Anoda Katoda
0 191 159
6 280 43
9 401 48
12 423 49
Besar voltase awal yang digunakan adalah 12 V, 5 A dengan kedalaman 10 cm. Karena pada besaran ini tanah mengalami pengembangan yang paling sedikit. Perhitungan besaran yang terjadi pada setiap titik dihitung dari katoda (-) (lihat Gambar 4.10).
Gambar 4.10 Perthitungan jarak dari katoda (-)
Pengujian dilakukan selama 2 hari. Dikarenakan pengembangan cenderung stabil atau tetap pada waktu 2 hari elektrokinetik (lihat Gambar 4.11).
Gambar 4.12 Kurva pengujian besaran voltase maksimal pada setiap titik dengan voltase (V) dan jarak (cm)
B. Pembahasan
1. Pengaruh Beda Besaran Voltase dengan Metode Elektrokinetik terhadap Pengembangan (swelling)
Voltase
Titik
1 (mm) 2 (mm) 3 (mm) 4 (mm) 5 (mm)
0 0,21 1,065 0,97 0,975 0,74
6 0,31 0,765 0,765 0,7 0,535
9 0,185 0,16 0,175 0,32 -0,59
12 -0,555 0,88 0 0,3 0,24
Pada hasil tabel diatas pengujian tanpa elektrokinetik ditunjukan dengan besaran 0 V. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui berapa nilai pengembangan yang didapat tanpa metode elektrokinetik serta sebagai pembanding apakah pengujian elektrokinetik benar berpengaruh terhaddap pengembangan tanah.
2. Pengaruh Beda Besaran Voltase dengan Metode Elektrokinetik terhadap Kadar Air
Gambar 4.13 Kurva kadar air rata-rata pada setiap pengambilan sampel
Tabel 4.11 Kadar air rata-rata pada setiap letak pengambilan sampel
Kadar Air Rata-Rata
Letak Sampel Kedalaman (cm)
Besar Voltase (V)
0 V 6 V 9 V 12 V
Permukaan 0 71,3% 58,1% 56,5% 55,5%
Tengah 7,5 69,9% 59,8% 57,6% 54,8%
Dasar 15 71,5% 75,2% 58,8% 56,2%
3. Pengaruh Beda Bahan Elektroda Terhadap Pengujian Elektrokinetik Pada pengujian yang dilakukan bahan sebagai elektroda adalah besi stainless
dan tembaga. Pada pengujian pertama bahan yang digunakan adalah besi tanpa
Gambar 4.14 Elektroda anoda (besi) dan katoda (tembaga) mengalami keropos Pergantian elektroda dengan besi stainless tetap mengalami keropos, tetapi tidak sebanyak besi tanpa stainless (lihat Gambar 4.15)
Gambar 4.15 Elektroda anoda (besi stainless) dan katoda (tembaga) mengalami keropos
Kation Bermuatan +1 Kation Bermuatan +2 Kation Bermuatan +3 dan +4
Rumus Nama Rumus Nama Rumus Nama
Na+ Natrium Mg2+ Magnesium Fe3+ Besi (III)
K+ Kalium Ca2+ Kalsium Cr3+ Kromium (III)
Ag+ Perak Sr2+ Strontium Al3+ Aluminium
Li+ Litium Ba2+ Barium Co3+ Kobalt (III)
Cu+ Tembaga (I) Fe2+ Besi (II) Ni3+ Nikel (III)
Au+ Emas (I) Cu2+ Tembaga (II) Sn3+ Timah (IV)
Hg+ Raksa (I) Zn2+ Zing (seng) Pb3+ Timbal (IV)
Pb2+ Timbal (II) Au3+ Emas (III)
Sn2+ Timah (II) Pt3+ Platinal (IV)
Ni2+ Nikel
Hg2+ Raksa (II)
Sumber Tatanama Senyawa dan Persamaan Reaksi Sederhana.
Lambang Ion Muatan Nama
F- -1 Fluorida
Cl- -1 Klorida
O2- -2 Oksida
Br- -1 Bromida
S2- -2 Sulfida
N3- -3 Nitrida
I- -1 Iodida
Sumber Tatanama Senyawa dan Persamaan Reaksi Sederhana.
https://musnainimusnaini.wordpress.com/kimia-x-2/tatanama-senyawa-dan-persamaan-reaksi-sederhana-2
Pada pengujian dapat dilihat bahwa pada anoda (+) air yang keluar lebih banyak daripada air yang keluar pada katoda (-) (lihat Tabel 4.9 Jumlah air keluar pada anoda dan katoda). Hal ini terjadi oleh fenomena elektrokinetik, elektroosmosis dan elektroforesis yaitu proses perpindahan dan pergerakan larutan elektrolit terhadap dinding kapiler yang bermuatan dan dipengaruhi oleh medan listrik (lihat Gambar 2.1 Fenomena Elektrokinetik (Mosavat, dkk., 2012)).
4. Beda Besaran Voltase Pada Setiap Titik
47
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh bahwa penggunaan metode elektrokinetik secara kontinyu selama 4 hari dan 1 hari tambahan dapat menahan pengembangan (swelling) yang terjadi pada tanah lempung ekspansif. Kesimpulan yang didapatkan adalah sebagai berikut :
1. Tanah yang di elektrokinetik mengalami perubahan dalam pengembangan dan penyusutan dengan nilai yang lebih kecil daripada yang tidak dilakukan elektrokinetik. Dapat dilihat pada pengembangan maksimal dengan elektrokinetik untuk setiap besaran voltase dan pengujian tanpa elektrokinetik tanah mengalami pengembangan paling besar pada pengujian tanpa elektrokinetik sebesar 19,267 % dan paling kecil pada besaran voltase 12 V sebesar 7,99 %. Untuk penyusutan dapat dilihat pada pengujian dengan metode elektrokinetik selama 4 hari dan 1 hari tambahan dengan memberikan air kembali. Hasil menunjukan bahwa terjadi penyusutan pada beberapa titik dengan besaran voltase 9 V (pada titik 5 sebesar -0,59 mm) dan 12 V (pada titik 1 sebesar -0,555 mm) serta ada yang tidak mengalami perubahan setelah penambahan air yaitu pada voltase 12 V ( pada titik 3 sebesar 0 mm) lihat Tabel 4.10 Selisih pengembangan setelah pengujian 4 hari dengan 1 hari tambahan.
maupun tanpa elektrokinetik) dicapai pada pengujian dengan besaran voltase 12 volt.
3. Semakin semakin besar voltase maka semakin kecil nilai pengembangan dan kadar air tanah. Pada metode elektrokinetik itu sendiri kadar air tanah sangat berpengaruh terhadap distribusi tegangan listrik karena semakin sedikit perantara (kadar air tanah) maka akan semakin kecil tegangan yang dapat terdistribusi (tegangan yang ada pada elektroda). Oleh karena itu penerapan arus searah pada metode elektrokinetik adalah sebagai pengikat ion atau air yang terdapat pada tanah lempung, jika semakin besar tegangan aliran elektron juga semakin besar sehingga dapat menarik ion lebih besar juga. Pada pengujian ini semakin besar aliran elektron (tegangan), daya tarik pada air tanah akan semakin besar, hingga air yang keluar juga semakin besar. Pada saat kadar air tanah semakin kecil maka distribusi tegangan juga akan semakin kecil, semakin kecil distribusi tegangan yang terjadi, sehingga untuk mengikat ion pada tanah lempung dibutuhkan tegangan yang lebih besar lagi. Jadi semakin besar tegangan (voltase) akan semakin baik aliran elektron mengikat ion. Semakin besar daya ikat elektron pada air tanah dan dapat dikeluarkan maka pengembangan akan semakin kecil. Hal ini dibuktikan dari nilai pengembangan dan kadar air pada voltase 6 V mengalami pengembangan dan kadar air yang besar dibandingkan dengan besaran voltase 9 V dan 12 V. 4. Pada penelitian yang dilakukan bahan untuk anoda (+) dari besi stainless lebih
baik dalam menahan korosif daripada besi berlapis krom.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk penelitian selanjutnya, antara lain :
1. Perlu diteliti lagi apakah lebih efektif jika memberikan tegangan yang lebih besar dari 12 volt dan efek pada sifat fisis tanah jika memberikan tegangan yang lebih tinggi dari 12 volt (V) dengan arus 5 ampere (A).
penambahan air 1 hari selanjutnya tanpa elektrokinetik. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah setelah proses elektrokinetik dan dilakukan penambahan air tanpa elektrokinetik, tanah dapat menahan pengembangan. Dari pengujian ini dapat ditentukan, apakah metode elektrokinetik harus dilakukan secara kontinyu atau tidak untuk dapat menahan pengembangan yang terjadi.
3. Perlu dilakukan penambahan waktu proses elektrokinetik untuk mendapatkan nilai pengembangan tanah yang lebih optimal.
4. Penelitian selanjutnya dapat dilakukan untuk variasi jarak dan jumlah elektroda.
5. Perlu dilakukan variasi bahan elektroda agar dapat diketahui bahan yang baik untuk digunakan sebagai elektroda.
50
Pontianak.
ASTM D698-12, 2010, Standard Test Methods for Laboratory Compaction Characteristics of Soil Using Standard Effort (12.400 ft-lbf/ft3 (600 kNm/m3)).
ASTM D854-10, 2010, Standard Test Methods for Specific Gravity of Soil Solids by Water Pycnometer.
ASTM D1557-12, Standard Methods for Laboratory Compaction Characteristics of Soil Using Modified Effort (56.000 ft-lbf/ft3 (2700 kNm/m3)).
ASTM D2216-10, 20120, Standard Test Methods for Laboratory Determination of Water (Moisture) Content of Soil and Rock by Mass.
ASTM D4318-10, 2010, Standard Test Methods for Liquid Limit, Plastic Limit, and Plasticity Index of Soils.
ASTM D6913-04, 2010, Standard Test Methods for Particle-Size Distribution (Gradation) of Soils Using Sieve Analysis.
Atmaja, Y. R., Surjandari, N. S. dan As’ad, S., 2013, Pengaruh Penggunaan Elektroosmosis Terhadap Parameter Kuat Geser Tanah Lempung, e-Jurnal Matriks Teknik Sipil, Vol. 1, No. 4, Desember 2013, pp 20.
Diana, W., 2015, Experimental Study On Exspansive Soil: The Effect of Pile Instalation on Slab Heave. The 10th International Forum on Strategic Technology, 3-5 June 2015 Universitas Gajah Mada.
Hardiyatmo, H.C., 2002, Mekanika Tanah 1, Gadjah Mada University Press.
Muntohar, A.S., 2014, Perbaikan Tanah, LP3M UMY.
Tjandra, D. dan Wulandari, P.S., 2007, Improving Marine Clay with Electrokinetics Method, Civil Engineering Dimension, Vol. 9, No. 2, September 2007, pp 98-102.
52
no satuan 1 2 3 4 5
1 g 29.3 29.3 29.3 29.3 29.3
2 g 79.91 79.91 79.91 79.91 79.91
3 °C 29 29.1 29.1 29 29.1
4 0.99595 0.99592 0.99592 0.99595 0.99592
5 mL 50.82 50.82 50.82 50.82 50.82
uraian berat piknometer kosong (wp) berat piknometer + air ( W pw,c) temperatur dalam piknometer ( T ) berat volume air (γ w,c )
volume piknometer, vp
Kalibrasi Piknometer
no satuan 1 2 3 4 5
1 g 31.09 31.09 31.09 31.09 31.09
2 g 81.97 81.97 81.97 81.97 81.97
3 °C 29.1 29.1 29.2 29.2 29
4 0.99592 0.99592 0.99589 0.99589 0.99595
5 mL 51.09 51.09 51.09 51.09 51.09
berat piknometer kosong (wp) uraian
Kalibrasi Piknometer
temperatur dalam piknometer ( T ) berat volume air (γ w,c )
volume piknometer, vp berat piknometer + air ( W pw,c)
no satuan 1 2 3 4
1 g 29.19 31.16 28.78 31.09
2 g 39.19 41.46 38.94 41.18
3 g 86.07 88.43 85.73 88.23
4 g 79.808 82.0505 79.4199 81.9994
5 °C 28.5 28.4 27 27.1
berat piknometer + tanah kering + air (wpws, t) berat piknometer + tanah kering (w ps) berat piknometer kosong (wp)
berat piknometer + air ( W pw,t) temperatur ( T)
berat jenis , Gs,t
Uji Distribusi Ukuran Butir Tanah
berat total contoh tanah basah, B0
berat total contoh tanah kering, w
berat tanah berdiameter <0.075 mm, B2
URAIAN Satuan hasil
berat tanah berdiameter >0.075 mm, B1 = w - B2
2 30 -2 28 31 9.745804386 0.01248 0.027549165 35.05 60.46 52.91
5 24 -2 28 25 10.61340439 0.01248 0.01818264 29.05 50.11 43.85
30 17 -2 28 18 11.62560439 0.01248 0.007768939 22.05 38.04 33.29
60 13 -2 28 14 12.20400439 0.01248 0.005628467 18.05 31.14 27.25
250 8 -2 28 9 12.92700439 0.01248 0.002837877 13.80 23.81 20.83
1440 2 -2 28 3 13.79460439 0.01248 0.001221485 7.05 12.16 10.64
R P Pa
D
t menit R1 R2 t R(aksen) L K
nomor saringan ukuran butir berat tertahan persen berat persen lolos
ASTM (mm) pada saringan (g) tertahan pada saringan (%) saringan (%)
#4 4.47 0 0 100
10 2 0 0 100
20 0.85 2.09 3.60 96.40
40 0.425 2.94 5.06 91.34
60 0.25 1.06 1.82 89.52
140 0.105 2.03 3.49 86.02
200 0.075 1.15 1.98 84.04
pan <0,075 0 0.00 84.04
nomor saringan ukuran butir berat tertahan persen berat persen lolos ASTM (mm) pada saringan (g) tertahan pada saringan (%) saringan (%)
#4 4.47 0 0 100
10 2 0 0 100
20 0.85 2.09 3.60 96.40
40 0.425 2.94 5.06 91.34
60 0.25 1.06 1.82 89.52
140 0.105 2.03 3.49 86.02
200 0.075 1.15 1.98 84.04
pan <0,075 0 0.00 84.04
55
1 Berat Silinder Kosong, W1 g 2 Berat Silinder + tanah padat, W2 g 3 Berat Tanah Padat (Wm) g 4 Diamneter silinder (D) cm
5 Tinggi silinder (H) cm
6 Volume silinder, V cm3
7 Berat volume basah kN/m3
8 Pemeriksaan kadar air
a Nomor cawan A T B A T B A T B A T B A T B A T B
b berat cawan (wc) g 10.12 9.26 9.11 9.5 9.45 9.4 9.55 10.06 9.53 9.22 9.34 9.35 10 9.97 9.23 9.51 9.86 9.54
c Berat cawan + tanah basah (Wb) g 30.12 29.26 29.11 29.5 29.45 29.4 29.55 30.06 29.53 29.22 29.34 29.35 30 29.97 29.23 29.51 29.86 29.54 d Berat cawan + tanah kering (Wd) g 27.54 25.92 26.63 26.59 25.99 26.83 25.36 26.05 26.55 24.24 24.80 23.93 24.92 24.80 24.03 23.25 23.74 23.85
e Berat air, Ww = Wb-wd g 2.58 3.34 2.48 2.91 3.46 2.57 4.19 4.01 2.98 4.98 4.54 5.42 5.08 5.17 5.20 6.26 6.12 5.69
f Berat tanah kering Ws= wd- wc g 17.42 16.66 17.52 17.09 16.54 17.43 15.81 15.99 17.02 15.02 15.46 14.58 14.92 14.83 14.80 13.74 13.88 14.31 g kadar air, w = (ww/ws) *100 % 14.81 20.05 14.16 17.03 20.92 14.74 26.50 25.08 17.51 33.16 29.37 37.17 34.05 34.86 35.14 45.56 44.09 39.76
h kadar air rata-rata %
i Berat Volume kering kN/m3
j Berat jenis, Gs
k Garis jenuh kN/m 18.12
LAMPIRAN B (Pengujian Utama)
Data Pengembangan Tanah Tanpa Proses Elektrokinetik
: 0% : 15cm : 12.2
Jam Menit Arloji mm Arloji mm Arloji mm Arloji mm Arloji mm
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
0.25 15 1575 15.75 1615 16.15 1640 16.4 1660 16.6 1640 16.4
0.5 30 1910 19.1 2135 21.35 2170 21.7 2160 21.6 1940 19.4
0.75 45 2026 20.26 2282 22.82 2314 23.14 2301 23.01 2040 20.4
1 60 2088 20.88 2316 23.16 2361 23.61 2367 23.67 2102 21.02
2 120 2214.5 22.145 2451 24.51 2539 25.39 2525.5 25.255 2220 22.2
4 240 2305.5 23.055 2471 24.71 2654 26.54 2637.5 26.375 2306.5 23.065
8 480 2327.5 23.275 2488 24.88 2670.5 26.705 2654 26.54 2318 23.18
12 720 2350 23.5 2505.5 25.055 2687 26.87 2670.5 26.705 2329.5 23.295
24 1440 2417 24.17 2557 25.57 2736.5 27.365 2720 27.2 2364.5 23.645
36 2160 2355.5 23.555 2622.5 26.225 2793 27.93 2767.5 27.675 2399.5 23.995
48 2880 2355.5 23.555 2622.5 26.225 2793 27.93 2767.5 27.675 2399.5 23.995
72 4320 2355.5 23.555 2612 26.12 2791.5 27.915 2767 27.67 2399.5 23.995
96 5760 2355.5 23.555 2609 26.09 2788 27.88 2761 27.61 2399.5 23.995
Max 2417 24.17 2622.5 26.225 2793 27.93 2767.5 27.675 2399.5 23.995
Min 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
24.17 26.225 27.93 27.675 23.995
2.417 2.6225 2.793 2.7675 2.3995
S
Pengembangan (mm)
MDD Penambahan Air : 6400ml Air keluar (Katoda) : 159ml
Waktu Titik
6 7 8 9 10
Pengembangan (cm)
Kadar air awal Batas kadar air kering : 14% Berat Air (Ww) : 1.75kg = 1750ml
Tinggi tanah Kedalaman elektroda Air keluar (Anoda) : 191ml
Pengujian 3 : Tanggal 17 Agustus 2016
Volt Volume alat : 0.0108m² Berat Tanah (Wd) : 12.5kg
Jam Menit Arloji mm Arloji mm Arloji mm Arloji mm Arloji mm
96 5760 2355.5 23.555 2609 26.09 2788 27.88 2761 27.61 2399.5 23.995
96.25 5775 2394.5 23.945 2662.5 26.625 2830 28.3 2804.5 28.045 2432 24.32
96.5 5790 2394.5 23.945 2667.5 26.675 2835 28.35 2809.5 28.095 2434.5 24.345
96.75 5805 2394.5 23.945 2671 26.71 2840.5 28.405 2812.5 28.125 2436 24.36
97 5820 2395 23.95 2673.5 26.735 2840.5 28.405 2813.5 28.135 2437.5 24.375
98 5880 2400 24 2680.5 26.805 2847.5 28.475 2818.5 28.185 2441.5 24.415
100 6000 2405 24.05 2691 26.91 2859 28.59 2830 28.3 2447.5 24.475
104 6240 2417.5 24.175 2706 27.06 2874.5 28.745 2844 28.44 2456.5 24.565
108 6480 2430 24.3 2721.5 27.215 2890 28.9 2858.5 28.585 2466 24.66
120 7200 2438 24.38 2729 27.29 2796 27.96 2865 28.65 2473.5 24.735
Max 2438 24.38 2729 27.29 2890 28.9 2865 28.65 2473.5 24.735
Min 2355.5 23.555 2609 26.09 2788 27.88 2761 27.61 2399.5 23.995
0.825 1.2 1.02 1.04 0.74
21 0.21 106.5 1.065 97 0.97 97.5 0.975 74 0.74
Waktu Titik
6 7 8 9 10
S
Pengembangan (mm)
Hasil Pengembangan (mm)
Jam Menit 6 7 8 9 10
0 0 0 0 0 0 0
0.25 15 10.500 10.767 10.933 11.067 10.933
0.5 30 12.733 14.233 14.467 14.400 12.933
0.75 45 13.507 15.213 15.427 15.340 13.600
1 60 13.920 15.440 15.740 15.780 14.013
2 120 14.763 16.340 16.927 16.837 14.800
4 240 15.370 16.473 17.693 17.583 15.377
8 480 15.517 16.587 17.803 17.693 15.453
12 720 15.667 16.703 17.913 17.803 15.530
24 1440 16.113 17.047 18.243 18.133 15.763
36 2160 15.703 17.483 18.620 18.450 15.997
48 2880 15.703 17.483 18.620 18.450 15.997
72 4320 15.703 17.413 18.610 18.447 15.997
96 5760 15.703 17.393 18.587 18.407 15.997
96.25 5775 15.963 17.750 18.867 18.697 16.213
96.5 5790 15.963 17.783 18.900 18.730 16.230
96.75 5805 15.963 17.807 18.937 18.750 16.240
97 5820 15.967 17.823 18.937 18.757 16.250
98 5880 16.000 17.870 18.983 18.790 16.277
100 6000 16.033 17.940 19.060 18.867 16.317
104 6240 16.117 18.040 19.163 18.960 16.377
108 6480 16.200 18.143 19.267 19.057 16.440
120 7200 16.253 18.193 18.640 19.100 16.490
Maks 16.253 18.193 19.267 19.100 16.490
Min 0 0 0 0 0
16.253 18.193 19.267 19.100 16.490 S
Pengembangan (S), %
Pengembangan Tanah (S), %
59
9.47 12.29 9.11 9.39 9.05 9.39 9.41 9.55 9.36 9.92 9.56 9.9 9.47 9.49 9.23
37.09 39.6 58.72 35.84 39.65 38.64 34 41.3 46.37 36 40.26 44.65 37.24 43.4 39.23
25.35 28.48 38.63 25.01 27.32 26.53 23.71 28.09 30.63 25.29 27.43 30.48 25.67 29.39 26.28
11.74 11.12 20.09 10.83 12.33 12.11 10.29 13.21 15.74 10.71 12.83 14.17 11.57 14.01 12.95
15.88 16.19 29.52 15.62 18.27 17.14 14.3 18.54 21.27 15.37 17.87 20.58 16.2 19.9 17.05
73.9% 68.7% 68.1% 69.3% 67.5% 70.7% 72.0% 71.3% 74.0% 69.7% 71.8% 68.9% 71.4% 70.4% 76.0%
Data Pengembangan Tanah Dengan Proses Elektrokinetik Pada Besaran
Jam Menit Arloji mm Arloji mm Arloji mm Arloji mm Arloji mm I = 5A
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6,51
0,25 15 1521 15,21 1719 17,19 1795 17,95 1734 17,34 1548 15,48 6,51
0,5 30 1661 16,61 1905 19,05 1866 18,66 1910 19,1 1695 16,95 6,46
0,75 45 1726 17,26 2080 20,8 1896 18,96 1933 19,33 1748 17,48 6,43
1 60 1755 17,55 2115 21,15 1929,5 19,295 1974 19,74 1778 17,78 6,43
2 120 1840,5 18,405 2316 23,16 2125 21,25 2069 20,69 1848 18,48 6,41
4 240 1908 19,08 2316 23,16 2198,5 21,985 2150 21,5 1928 19,28 6,4
8 480 1995,5 19,955 2316 23,16 2250,5 22,505 2189 21,89 1956,5 19,565 6,42
12 720 2082,5 20,825 2316 23,16 2302,5 23,025 2227,5 22,275 1985 19,85 6,42
24 1440 2085,5 20,855 2316 23,16 2307 23,07 2239 22,39 1979,5 19,795 6,42
36 2160 2085 20,85 2316 23,16 2307 23,07 2233 22,33 1979,5 19,795 6,42
48 2880 2085 20,85 2316 23,16 2307 23,07 2233 22,33 1979,5 19,795 6,42
72 4320 2085 20,85 2316 23,16 2307 23,07 2233 22,33 1979,5 19,795 6,42
96 5760 2084,5 20,845 2316 23,16 2306,5 23,065 2233 22,33 1979,5 19,795 6,44
Max 2085,5 20,855 2316 23,16 2307 23,07 2239 22,39 1985 19,85
Min 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
20,855 23,16 23,07 22,39 19,85
2,0855 2,316 2,307 2,239 1,985
Pegembangan (cm)
6,44
MDD Penambahan Air : 6400ml Air keluar (Katoda) : 43ml
Waktu Titik Volt
1 2 3 4 5
S
Pegembangan (mm)
Kadar air awal Batas kadar air kering : 14% Berat Air (Ww) : 1.75kg = 1750ml
Tinggi tanah Kedalaman elektroda : 10cm Air keluar (Anoda) : 280ml
Pengujian 1 : Tanggal 2 Agustus 2016
Volt Volume alat : 0.0108m² Berat Tanah (Wd) : 12.5kg
Jam Menit Arloji mm Arloji mm Arloji mm Arloji mm Arloji mm I = 5A
96 5760 2084,5 20,845 2316 23,16 2306,5 23,065 2233 22,33 1979,5 19,795 6,44
96,25 5775 2097 20,97 2364,5 23,645 2347,5 23,475 2268 22,68 2010,5 20,105 6,41
96,5 5790 2097 20,97 2367 23,67 2348 23,48 2269 22,69 2012 20,12 6,41
96,75 5805 2097 20,97 2367 23,67 2348,5 23,485 2269 22,69 2012 20,12 6,41
97 5820 2097 20,97 2367 23,67 2348,5 23,485 2269 22,69 2013 20,13 6,41
98 5880 2099,5 20,995 2367 23,67 2348,5 23,485 2275 22,75 2016 20,16 6,39
100 6000 2102,5 21,025 2371 23,71 2353,5 23,535 2280,5 22,805 2021 20,21 6,39
104 6240 2109,5 21,095 2381,5 23,815 2368 23,68 2294,5 22,945 2029,5 20,295 6,39
108 6480 2116,5 21,165 2392,5 23,925 2383,5 23,835 2309 23,09 2038,5 20,385 6,39
120 7200 2116,5 21,165 2392,5 23,925 2383,5 23,835 2309 23,09 2038,5 20,385 6,39
Max 2116,5 21,165 2392,5 23,925 2383,5 23,835 2309 23,09 2038,5 20,385
Min 2084,5 20,845 2316 23,16 2306,5 23,065 2233 22,33 1979,5 19,795
0,32 0,765 0,77 0,76 0,59
31 0,31 76,5 0,765 76,5 0,765 70 0,7 53,5 0,535
6,40
Pengujian 1 : Tanggal 6 Agustus 2016 Titik