• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kedudukan Lembaga Pemasyarakatan (LP) Sebagai Sub Sistem Peradilan Pidana (SPP)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Kedudukan Lembaga Pemasyarakatan (LP) Sebagai Sub Sistem Peradilan Pidana (SPP)"

Copied!
86
0
0

Teks penuh

(1)

KEDUDUKAN LEMBAGA PEMASYARAKATAN (LP)

SEBAGAI SUB SISTEM PERADILAN PIDANA (SPP)

S K R I P S I

Diajukan untuk Memenuhi dan Melengkapi Syarat-syarat untuk Memperoleh

Gelar Sarjana Hukum

Oleh:

CHRISTOVEL TAMPUBOLON

NIM: 060200323

DEPARTEMEN HUKUM PIDANA

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

KEDUDUKAN LEMBAGA PEMASYARAKATAN (LP)

SEBAGAI SUB SISTEM PERADILAN PIDANA (SPP)

S K R I P S I

Diajukan untuk Memenuhi dan Melengkapi Syarat-syarat untuk Memperoleh

Gelar Sarjana Hukum

Oleh:

CHRISTOVEL TAMPUBOLON

NIM: 060200323

DEPARTEMEN HUKUM PIDANA

DISETUJUI OLEH:

Dr. Hamdan, SH. MH NIP:

DOSEN PEMBIMBING I DOSEN PEMBIMBING II

Dr. Marlina, SH. M. Hum Liza Erwina, SH. M. Hum

NIP: NIP:

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(3)

ABSTRAK

Lembaga Pemasyarakatan sebagai ujung tombak pelaksanaan atas pengayoman merupakan tempat untuk mencapai tujuan tersebut di atas, melalui pendidikan, rehabilitasi dan reintegrasi. Pelaksanakan sistem pemasyarakatan tersebut, diperlukan juga partisipasi atau keikutsertaan masyarakat, baik dengan mengadakan kerjasama dalam pembinaan maupun dengan sikap bersedia menerima kembali Warga Binaan Pemasyarakatan yang telah selesai menjalani pidananya. Lembaga Permasyarakatan sebagai sub sistem yang paling akhir yang langsung berhadapan dengan narapidana untuk melaksanakan pembinaan, mempunyai posisi yang strategis dalam mewujudkan tujuan akhir dari Sistem Peradilan Pidana. Lembaga Permasyarakatan diharapkan mampu merealisasikan tujuan akhir Sistem Peradilan Pidana yaitu mencegah timbulnya kejahatan.

Permasalahan yang akan menjadi pembahasan dalam penulisan skripsi ini adalah bagaimanakah peran lembaga pemasyarakatan dalam sistem peradilan pidana, bagaimanakah hubungan lembaga pemasyarakatan di dalam sistem peradilan pidana, dan bagaimanakah hambatan lembaga pemasyarakatan dalam mencapai tujuan sistem peradilan pidana.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif. Metode penelitian normatif disebut juga sebagai penelitian doktrinal (doctrinal

research) yaitu suatu penelitian yang menganalisis hukum baik yang tertulis

didalam buku (law as it is written in the book), maupun hukum yang diputuskan oleh hakim melalui proses pengadilan (law it is decided by the judge through

judicial process). Penelitian hukum normatif dalam penelitian ini didasarkan data

sekunder dan menekankan pada langkah-langkah spekulatif-teoritis dan analisis normatif-kualitatif.

(4)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang

atas kehadirat-Nya telah memberikan kesehatan, kekuatan, ketabahan, sehingga

penulis dapat menyelesaikan tesis ini sebagai persyaratan untuk memperoleh gelar

Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Adapun judul

tesis penulis adalah “Kedudukan Lembaga Permasyarakatan (LP) Sebagai Sub

Sistem Peradilan Pidana (SPP)”.

Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis banyak memperoleh bantuan

baik berupa pengajaran, bimbingan dan arahan dari berbagai pihak. Pada

kesempatan ini penulis tidak lupa menyampaikan penghargaan serta terima kasih

yang tulus kepada semua pihak yang telah turut memberikan bantuan kepada

penulis baik secara langsung maupun tidak langsung sejak awal penulis menjalani

perkuliahan hingga penyusunan skripsi ini dan penyelesaiannya.

Dalam kesempatan ini izinkan penulis dengan penuh sukacita

menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada:

1. Bapak Prof. Chairuddin P. Lubis, DTM&H., SpA(K) atas kesempatan dan

fasilitas yang diberikan untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan.

2. Bp. Prof. Dr. Runtung, SH, M. Hum, selaku Dekan Fak. Hukum USU

yang juga telah memberikan kesempatan dan fasilitas yang diberikan

kepada penulis untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan di Fakultas

Hukum USU.

3. Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting, SH. M. Hum, selaku Ketua Pembantu

(5)

begitu terbuka memberikan bantuan, masukan, arahan dan dorongan

kepada penulis sehingga penulis begitu selalu terdorong untuk menjadi

lebih baik lagi. Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

4. Bp. Dr. M. Hamdan, SH. MH, selaku Ketua Departemen Hukum Pidana

Fak. Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah berkenan membantu

dan memperhatikan mahasiswanya.

5. Ibu Liza Erwina, SH. M. Hum, selaku Pembimbing satu penulis, yang

telah memberikan bimbingan dan arahan serta dorongan kepada penulis

agar senantiasa mempergunakan waktu untuk menulis dengan

sebaik-baiknya. Kepadanya penulis mengucapkan banyak terima kasih.

6. Ibu Dr. Marlina, SH, M. Hum, selaku Dosen Pembimbing II yang telah

begitu sabar memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis sehingga

penulis dapat menulis dengan lebih baik lagi, terima kasih.

7. Seluruh Staf Pengajar Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

8. Seluruh Staf Administrasi Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

9. Kedua orang tua dan saudara-saudara yang telah banyak memberikan

dukungan secara moril dan materil.

10.Seluruh kawan-kawan, khususnya Stb 06 PRM

Akhir kata semoga penulisan skripsi ini dapat menambah pengetahuan dan

membuka seluruh cakrawala berfikir yang baru bagi kita semua.

Medan, September 2011

(6)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ...

KATA PENGANTAR ...

DAFTAR ISI ...

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Permasalahan ... 6

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan... 7

D. Keaslian Penulisan ... 8

E. Tinjauan Kepustakaan... 8

F. Metode Penelitian ... 14

G. Sistematika Penulisan ... 16

BAB II PERAN LEMBAGA PEMASYARAKATAN DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA ... 18

A. Pengertian Sistem Peradilan Pidana... 18

B. Fungsi dan Tujuan Sistem Peradilan Pidana... 24

C. Model dan Sistem Peradilan Pidana... 27

D. Peranan Lembaga Pemasyarakatan dalam Sistem Peradilan Pidana... 28

BAB III HUBUNGAN LEMBAGA PEMASYARAKATAN DI DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA... 32

(7)

B. Tujuan Lembaga Pemasyarakatan dalam Sistem Peradilan

Pidana... 35

C. Kedudukan Lembaga Pemasyarakatan ... 36

D. Hubungan Lembaga Pemasyarakatan di dalam Sistem Peradilan Pidana... 54

BAB IV HAMBATAN LEMBAGA PEMASYARAKATAN DALAM MENCAPAI TUJUAN SISTEM PERADILAN PIDANA ... 61

A. Hubungan Internal Lembaga Pemasyarakatan dengan Sistem Peradilan Pidana... 61

B. Hubungan Eksternal Lembaga Pemasyarakatan dengan Sistem Peradilan Pidana... 68

C. Kendala Yuridis dalam Pencapaian Tujuan Lembaga Pemasyarakatan dan Upaya Penanggulangannya ... 70

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 74

A. Kesimpulan ... 74

B. Saran... 75

(8)

ABSTRAK

Lembaga Pemasyarakatan sebagai ujung tombak pelaksanaan atas pengayoman merupakan tempat untuk mencapai tujuan tersebut di atas, melalui pendidikan, rehabilitasi dan reintegrasi. Pelaksanakan sistem pemasyarakatan tersebut, diperlukan juga partisipasi atau keikutsertaan masyarakat, baik dengan mengadakan kerjasama dalam pembinaan maupun dengan sikap bersedia menerima kembali Warga Binaan Pemasyarakatan yang telah selesai menjalani pidananya. Lembaga Permasyarakatan sebagai sub sistem yang paling akhir yang langsung berhadapan dengan narapidana untuk melaksanakan pembinaan, mempunyai posisi yang strategis dalam mewujudkan tujuan akhir dari Sistem Peradilan Pidana. Lembaga Permasyarakatan diharapkan mampu merealisasikan tujuan akhir Sistem Peradilan Pidana yaitu mencegah timbulnya kejahatan.

Permasalahan yang akan menjadi pembahasan dalam penulisan skripsi ini adalah bagaimanakah peran lembaga pemasyarakatan dalam sistem peradilan pidana, bagaimanakah hubungan lembaga pemasyarakatan di dalam sistem peradilan pidana, dan bagaimanakah hambatan lembaga pemasyarakatan dalam mencapai tujuan sistem peradilan pidana.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif. Metode penelitian normatif disebut juga sebagai penelitian doktrinal (doctrinal

research) yaitu suatu penelitian yang menganalisis hukum baik yang tertulis

didalam buku (law as it is written in the book), maupun hukum yang diputuskan oleh hakim melalui proses pengadilan (law it is decided by the judge through

judicial process). Penelitian hukum normatif dalam penelitian ini didasarkan data

sekunder dan menekankan pada langkah-langkah spekulatif-teoritis dan analisis normatif-kualitatif.

(9)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pemberian sanksi pidana selalu direalisasikan dengan membina di

Lembaga Pemasyarakatan. Ada anggapan yang menyatakan bahwa pelanggar

hukum hanya dapat dibina jika diasingkan dari lingkungan sosial, serta pelanggar

hukum dinyatakan sebagai individu yang telah rusak dalam segala-galanya

sehingga tidak akan dapat diharapkan untuk bersikap ramah terhadap lingkungan

sosialnya. Adanya pemahaman seperti itu merupakan suatu pembalasan yang

dilegalisir oleh kenyataan dan kehendak masyarakat itu sendiri (stigma).1

Herbert L. Packer dalam bukunya The Limits of The Criminal Sanction

yang dikutip Barda Nawawi Arief membicarakan masalah sanksi pidana dalam

penanggulangan kejahatan, menyebutkan bahwa:

1. Sanksi pidana sangatlah diperlukan, tidak dapat hidup sekarang maupun di masa yang akan datang tanpa pidana;

2. Sanksi pidana merupakan alat atau sarana terbaik yang sudah ada, yang dimiliki untuk menghadapi bahaya-bahaya besar dan bersifat segera;

Sanksi pidana suatu ketika merupakan penjamin yang utama atau terbaik

dan suatu ketika merupakan pengancam yang utama dari kebebasan manusia itu

sendiri. Ia merupakan penjamin apabla dipergunakan secara hemat, cermat dan

1

(10)

secara manusiawi. Ia merupakan pengancam apabila digunakan secara

sembarangan dan secara paksa.2

Sedangkan menurut Muladi, bahwa tujuan pemidanaan adalah untuk

memperbaiki kerusakan individual dan sosial yang diakibatkan oleh tindak

pidana. Hal ini terdiri atas seperangkat tujuan pemidanaan yang harus dipenuhi

dengan tujuan yang merupakan titik berat harus bersifat kasuistis. Perangkat

tujuan pemidanaan yang dimaksud terdiri atas:3

1. Pencegahan (umum dan khusus);

2. Perlindungan masyarakat;

3. Memelihara solidaritas masyarakat;

4. Pengimbalan/perimbangan.

Pengaruh langsung dari penjatuhan pidana itu jelas terhadap orang yang

dikenai pidana. Tetapi pidana itu belum dirasakan sungguh-sungguh olehnya

kalau sudah dilaksanakan secara efektif. Dengan pemidanaan di sini dikehendaki

agar terpidana tidak melakukan tindak pidana lagi. Oleh karena itu, penjatuhan

pidana menjadi alternatif dalam rangka mencegah perbuatan melanggar hukum,

baik oleh individu maupun kelompok. Pemenjaraan dalam bentuk pengisolasian

diri dalam tembok penjara, ternyata mengalami perubahan seiring dengan

kemajuan peradaban suatu bangsa. Penghargaan terhadap citra manusia menjadi

dasar utama memperlakukan si terpidana lebih manusiawi. Sehubungan dengan

itu, pemberian sanksi pidana dengan membina narapidana di Lembaga

2

Barda Nawawi Arief, Kebijaksanaan Sanksi Pidana Dalam Penanggulangan

Kejahatan, Makalah, (Semarang: Universitas Diponegoro, 1989), hal. 23.

3

(11)

Pemasyarakatan di Indonesia mengalami perubahan yang cukup berarti,

khususnya tentang metode perlakuan terhadap narapidana itu sendiri.

Pemikiran mengenai fungsi pemidanaan menurut Indonesia yang menganut ideologi Pancasila tidak lagi sekedar penjeraan tetapi juga merupakan suatu usaha rehabilitasi dan reintegrasi sosial Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang telah ditetapkan dengan suatu sistem perlakuan terhadap para pelanggar hukum di Indonesia yang dinamakan dengan sistem pemasyarakatan. Istilah pemasyarakatan untuk pertama kali disampaikan oleh Almarhum Bapak Sahardjo (Menteri Kehakiman pada saat itu) pada tanggal 5 Juli 1963 dalam pidato penganugerahan gelar Doctor Honoris Causa oleh Universitas Indonesia. Pemasyarakatan oleh beliau dinyatakan sebagai tujuan dari pidana penjara.4

Plato menyatakan bahwa tidak ada yang bisa mengubah nasib manusia

kecuali dirinya sendiri.Dengan adanya suatu perubahan memungkinkan manusia

mengenal dirinya sendiri. Proses pengenalan diri sendiri memerlukan tahap

motivasi berupa tahap kelanjutan dari introspeksi. Dalam hal pemasyarakatan,

Warga Binaan Pemasyarakatan diberikan motivasi untuk dirinya sendiri sehingga

dapat memandang positif setiap kejadian. Dengan adanya motivasi diri yang

berlangsung terus-menerus, maka akan menimbulkan suatu proses pengembangan

diri dengan tahapan self development.5

Dengan adanya Undang Undang Pemasyarakatan ini maka makin kokoh usaha-usaha untuk mewujudkan visi sistem pemasyarakatan, sebagai tatanan mengenai arah dan batas serta cara pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan berdasarkan Pancasila yang dilaksanakan secara terpadu antara Pembina, yang dibina dan masyarakat untuk meningkatkan kualitas Warga Binaan Pemasyarakatan agar menyadari kesalahan, memperbaiki diri dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali

4

Satu tahun kemudian, pada tanggal 27 April 1964 dalam Konferensi Jawatan Kepenjaraan yang dilaksanakan di Lembang Bandung, istilah pemasyarakatan dibakukan sebagai pengganti kepenjaraan. Pemasyarakatan dalam konferensi ini dinyatakan sebagai suatu system pembinaan terhadap para pelanggar hukum dan sebagai suatu pengejawantahan keadilan yang bertujuan untuk mencapai reintegrasi sosial atau pulihnya kesatuan hubungan hidup, kehidupan dan penghidupan Warga Binaan Pemasyarakatan di dalam masyarakat. Dalam perkembangan selanjutnya, pelaksanaan sistem pemasyarakatan semakin mantap dengan diundangkannya Undang Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan.

5

(12)

oleh lingkungan masyarakat, dapat aktif berperan dalam pembangunan dan dapat hidup secara wajar sebagai warga yang baik dan bertanggungjawab.6

Pembinaan diatur secara khusus dari Pasal 5 sampai dengan Pasal 9

Undang Nomor 12 Tahun 1995. Jika dilihat Pasal 6 ayat (1)

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan mengatur tentang

pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan

dan pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan dilakukan di BAPAS.

Selanjutnya dipertegas dengan Pasal 7ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun

1995 yang menyatakan bahwa pembinaan dan pembimbing Warga Binaan

Pemasyarakatan diselenggarakan oleh Menteri dan dilaksanakan oleh petugas

pemasyarakatan.7

Lembaga Pemasyarakatan sebagai ujung tombak pelaksanaan atas

pengayoman merupakan tempat untuk mencapai tujuan tersebut di atas, melalui

pendidikan, rehabilitasi dan reintegrasi. Sejalan dengan peran Lembaga

Pemasyarakatan tersebut, maka tepatlah apabila Petugas Pemasyarakatan yang

melaksanakan tugas pembinaan dan pengamanan Warga Binaan Pemasyarakatan

dalam Undang-Undang No. 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan tersebut

sebagai Pejabat Fungsional Penegak Hukum dan hal ini sesuai dengan Pasal 8

UUP yang menyatakan bahwa, .petugas pemasyarakatan adalah pejabat

6

Sahardjo yang dikenal sebagai tokoh pembaharu dalam dunia kepenjaraan, telah mengemukakan ide pemasyarakatan bagi terpidana. Alasannya: 1). Tiap orang adalah makhluk kemasyarakatan; 2) tidak ada orang yang hidup di luar masyarakat; 3) kemudian narapidana hanya dijatuhi hukuman kehilangan kemerdekaan bergerak. Jadi perlu diusahakan supaya tetap dapat mempunyai mata pencaharian.

7

(13)

fungsional penegak hukum yang melaksanakan tugas di bidang pembinaan,

pembimbingan, dan pengamanan warga binaan.

Sistem Pemasyarakatan di samping bertujuan untuk mengembalikan

Warga Binaan Pemasyarakatan sebagai warga yang baik, juga bertujuan untuk

melindungi masyarakat terhadap kemungkinan diulanginya tindak pidana oleh

Warga Binaan Pemasyarakatan, serta merupakan penerapan dan bagian yang tidak

terpisahkan dari nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.8

Pelaksanakan sistem pemasyarakatan tersebut, diperlukan juga partisipasi

atau keikutsertaan masyarakat, baik dengan mengadakan kerjasama dalam

pembinaan maupun dengan sikap bersedia menerima kembali Warga Binaan

Pemasyarakatan yang telah selesai menjalani pidananya.9

Namun demikian, setelah dirubahnya Sistem Kepenjaraan menjadi Sistem

Pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan ada hal-hal yang dapat dilihat sebagai

suatu permasalahan yang bersifat umum apabila dilihat dari visi dan misi serta

tujuan dari pemasyarakatan tersebut sebagai tempat pembinaan Narapidana dan

agar keberadaan Narapidana tersebut dapat diterima kembali oleh masyarakat

sewaktu bebas.

Lembaga Permasyarakatan merupakan salah satu komponen dalam Sistem

Peradilan Pidana di Indonesia yang bertugas melaksanakan pembinaan terhadap

narapidana. Sistem Peradilan Pidana merupakan suatu sistem penegakan hukum

sebagai upaya penanggulangan kejahatan. Sistem Peradilan Pidana terdiri dari 4

8

Adi Sujatno, Sistem Pemasyarakatan Indonesia Membangun Manusia Mandiri (Jakarta: Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Departemen Hukum dan HAM RI, 2004), hal. 21.

9

(14)

komponen (sub sistem), yaitu sub sistem kepolisian, sub sistem kejaksaan, sub

sistem pengadilan dan sub sistem lembaga pemasyarakatan.

Sistem Peradilan Pidana terbagi manjadi 3 tahap yaitu tahap sebelum

sidang pengadilan (pra adjudikasi), tahap sidang pengadilan (adjudikasi), dan

tahap setelah pengadilan (post adjudikasi). Dalam mekanisme Sistem Peradilan

Pidana mensyaratkan adanya kerjasama antar sub sistem agar Sistem Peradilan

Pidana dapat berjalan dengan baik. Keempat sub sistem dalam Sistem Peradilan

Pidana mempunyai tugas yang berbeda-beda namun keempat sub sistem tersebut

mempunyai tujuan yang sama dan mempunyai hubungan yang sangat erat.

Apabila salah satu sub sistem ada yang tidak menjalankan tugas sebagaimana

mestinya dapat mempengaruhi sistem secara keseluruhan.

Lembaga Permasyarakatan sebagai sub sistem yang paling akhir yang

langsung berhadapan dengan narapidana untuk melaksanakan pembinaan,

mempunyai posisi yang strategis dalam mewujudkan tujuan akhir dari Sistem

Peradilan Pidana. Lembaga Permasyarakatan diharapkan mampu merealisasikan

tujuan akhir Sistem Peradilan Pidana yaitu mencegah timbulnya kejahatan.

B. Permasalahan

Permasalahan dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimanakah peran lembaga pemasyarakatan dalam sistem peradilan

pidana?

2. Bagaimanakah hubungan lembaga pemasyarakatan di dalam sistem

(15)

3. Bagaimanakah hambatan lembaga pemasyarakatan dalam mencapai tujuan

sistem peradilan pidana?

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan

1. Tujuan

a. Untuk mengetahui peran lembaga pemasyarakatan dalam sistem

peradilan pidana

b. Untuk mengetahui hubungan lembaga pemasyarakatan di dalam sistem

peradilan pidana

c. Untuk mengetahui hambatan lembaga pemasyarakatan dalam

mencapai tujuan sistem peradilan pidana

2. Manfaat

a. Secara teoritis, diharapkan menjadi bahan masukan untuk

perkembangan ilmu hukum pidana, khususnya mengenai bagaimana

melaksanakan sistem pemasyarakatan di Lembaga Pemasyarakatan.

b. Secara praktis

1) Masukan bagi pihak Lembaga Pemasyarakatan untuk

mengevaluasi pelaksanaan sistem pemasyarakatan Lembaga

Pemasyarakatan sesuai dengan berpedoman Undang-Undang

Nomor 12 Tahun 1995.

2) Masukan bagi pihak Lembaga Pemasyarakatan serta instansi yang

(16)

faktor yang mendukung dalam mencapai keberhasilan sistem

pemasyarakatan di Lembaga Pemasyarakatan Binjai.

3) Masukan bagi Lembaga Pemasyarakatan dan instansi terkait untuk

dapat mencari upaya penyelesaian dalam menghadapi kendala

dalam pelaksanaan sistem pemasyarakatan di Lembaga

Pemasyarakatan.

D. Keaslian Penulisan

Penelitian mengenai “Kedudukan Lembaga Permasyarakatan (LP) Sebagai

Sub Sistem Peradilan Pidana (SPP)” ini belum pernah dilakukan dalam topik dan

permasalahan-permasalahan yang sama. Dengan demikian penelitian ini

merupakan penelitian yang baru dan asli sesuai dengan asas-asas keilmuan, yaitu

jujur, rasional, objektif dan terbuka untuk kritikan-kritikan yang sifatnya

membangun dengan topik dan permasalahan dalam penelitian ini. Semua ini

merupakan implikasi pengetahuan dalam bentuk tulisan yang dapat

dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah.

E. Tinjauan Kepustakaan

Memahami fungsi Lembaga Pemasyarakatan yang dinyatakan oleh

Sahardjo, sejak itu dipakai sistem pemasyarakatan sebagai metode dan

pemasyarakatan sebagai proses. Dengan dipakainya sistem pemasyarakatan

sebagai metode pembinaan narapidana, jelas terjadi perubahan fungsi Lembaga

(17)

pembinaan. Didalam perjalanannya, bentuk pembinaan yang diterapkan bagi

narapidana yang meliputi:10

1. Pembinaan berupa interaksi langsung sifatnya kekeluargaan antara

pembina dan yang dibina;

2. Pembinaan yang bersifat persuasif, yaitu berusaha merubah tingkah laku

melalui keteladanan;

3. Pembinaan berencana, terus-menerus dan sistematis;

4. Pembinaan kepribadian yang meliputi kesadaran beragama, barbangsa dan

bernegara, intelektual, kecerdasan, kesadaran hukum, keterampilan, mental

spiritual.

Pelaksanaan pidana penjara dengan menonjolkan aspek pembinaan di

dalam lembaga, hingga saat ini mengalami hambatan. Hal ini antara lain

disebabkan keterbatasan sarana fisik berupa bangunan penjara dan peralatan

bengkel kerja yang masih memakai peninggalan kolonial Belanda; sarana

personalia yaitu tenaga ahli yang profesional di bidang ilmu keperilakuan; sarana

administrasi dan keuangan berupa terbatasnya dana peraturan dan

perundang-undangan yang masih memakai reglemen penjara (Gestichten Reglemen 1917

No.708).11

Keterbatasan sarana dapat merupakan salah satu penghambat pembinaan

narapidana seperti yang diharapkan. Oleh karenanya, sulit untuk menghasilkan

pembinaan yang efektif, efisien serta berhasil guna. Hal ini cukup beralasan,

10

Departemen Kehakiman, Pola Pembinaan Narapidana/Tahanan, 1990 11

(18)

mengingat tujuan sistem pemasyarakatan itu sangat ideal, sedangkan sarananya

sangat terbatas. Akibatnya, setiap petugas akan mengalami kejenuhan dan

berkhayal mengenai cita-cita pemasyarakatan. Masalah pembinaan terhadap

narapidana tidak terlepas dengan pembicaraan masalah pidana, pemidanaan.

Dalam pidana hal yang tidak kalah penting adalah berkaitan dengan masalah

mengapa manusia melakukan perbuatan melanggar hukum. Dalam arti

sebab-sebab timbulnya kejahatan dan apa perlunya sanksi hukum pidana diterapkan.

Menurut peneliti sampai saat ini meskipun perubahan dalam arti sifat,

bentuk dan tujuan pidana, pidana tetap dianggap sebagai satu-satunya jawaban

akhir dalam memberantas kejahatan, padahal pandangan ini tidaklah benar karena

persoalannya bukan saja pengaruh pidana yang menakutkan atau membentuk

penegak hukum yang profesional akan tetapi ada hal lain yang penting

diperhatikan adalah adanya faktor motif timbulnya pelanggar-pelanggar hukum.12

J.E. Sahetapy dalam disertasinya, mengemukakan bahwa pemidanaan

bertujuan “pembebasan” pidana harus dapat membebaskan si pelaku dari cara atau

jalan yang keliru yang telah ditempuhnya. Maka membebaskan tidak identik

dengan pengertian rehabilitasi atau reformasi. Makna membebaskan menghendaki

agar si pelaku bukan saja harus dibebaskan dari alam pikiran yang jahat yang

keliru, melainkan ia harus pula dibebaskan dari kenyataan sosial dimana ia

terbelenggu.13

12

Oleh karena itu sampai saat ini belum dapat diberikan jawaban yang memuaskan mengapa orang melakukan kejahatan tertentu dan mengapa masih ada orang melakukan kejahatan yang sama setelah pelakunya dipidana mati.

13

J.E. Sahetapi, Suatu Studi Khusus Mengenai Ancaman Pidana Mati Terhadap

(19)

Menurut Sahetapy tidak dapat disangkal bahwa dalam pengertian pidana

tersimpul unsur-unsur penderitaan, tetapi penderitaan dalam tujuan membebaskan

bukanlah semata-mata untuk penderitaan agar si pelaku menjadi takut atau merasa

menderita akibat suatu pembalasan dendam melainkan derita itu harus dilihat

sebagai obat atau sebagai kunci jalan keluar yang membebaskan dan yang

memberikan kemungkinan bertobat dengan penuh keyakinan.14

Peter Hoefnagels mengemukakan tujuan pidana adalah untuk penyelesaian

konflik (conflict resolution), mempengaruhi para pelanggar dan orang-orang lain

ke arah perbuatan yang kurang lebih sesuai dengan hukum (influencing offenders

and possibly other than offenders toward more or less law-conforming

behavior).15

Rijksen, membedakan antara dasar hukum dari pidana dan tujuan pidana.

Dasar hukum dari pidana terletak pada pembalasan terhadap kesalahan yakni dari

pembalasan itu terletak pembenaran dari wewenang pemerintah untuk memidana

(strafbevoegdheid van de overheid). Apakah penguasa juga akan menggunakan

wewenang itu tergantung dari tujuan yang dikehendaki. Tujuan itu merupakan

penegakan wibawa, penegakan norma, menakut-nakuti, mendamaikan,

mempengaruhi tingkah laku dan menyelesaikan konflik.16

Selanjutnya Roeslan Saleh berpendapat bahwa pada hakekatnya ada dua

poros yang menentukan garis hukum pidana yaitu; pertama dari segi prevensi

yaitu bahwa hukum pidana adalah hukum sanksi, suatu upaya untuk dapat

14

Ibid, hal. 280. 15

Muladi dan Barda Nawawi Arief, Teori-Teori dan Kebijakan Pidana, (Bandung: Alumni, 1998), hal. 21.

16

(20)

mempertahankan kelestarian hidup bersama dengan melakukan pencegahan

kejahatan dan kedua dari segi pembalasan yaitu bahwa hukum pidana sekaligus

merupakan pula penentuan hukum, merupakan koreksi dari dan reaksi atas sesuatu

yang bersifat tidak hukum sehingga dapat dikatakan bahwa pidana adalah selaku

merupakan perlindungan terhadap masyarakat dan pembalasan atas perbuatan

tidak hukum.17

Memahami fungsi Lembaga Pemasyarakatan yang dilontarkan Sahardjo,

sejak itu dipakai sistem pemasyarakatan sebagai metode dan pemasyarakatan

sebagai proses. Dengan dipakainya sistem pemasyarakatan sebagai metode

pembinaan narapidana, jelas terjadi perubahan fungsi Lembaga Pemasyarakatan

yang tadinya sebagai tempat pembalasan berganti sebagai tempat pembinaan. Di

dalam perjalanannya, bentuk pembinaan yang diterapkan bagi narapidana yang

meliputi:18

1. Pembinaan berupa interaksi langsung sifatnya kekeluargaan antara

pembina dan yang dibina;

2. Pembinaan yang bersifat persuasif, yaitu berusaha merubah tingkah laku

melalui keteladanan;

3. Pembinaan berencana, terus-menerus dan sistematis;

4. Pembinaan kepribadian yang meliputi kesadaran beragama, barbangsa dan

bernegara, intelektual, kecerdasan, kesadaran hukum, keterampilan, mental

spiritual.

17

Disamping mengandung hal-hal lain yaitu bahwa pidana diharapkan sebagai sesuatu yang akan membawa kerukunan dan pidana adalah suatu proses pendidikan untuk menjadikan orang dapat diterima kembali dalam masyarakat.

18

(21)

Keterbatasan sarana dapat merupakan salah satu penghambat pembinaan

narapidana seperti yang diharapkan. Oleh karenanya, sulit untuk menghasilkan

pembinaan yang efektif, efisien serta berhasil guna. Hal ini cukup beralasan,

mengingat tujuan sistem pemasyarakatan itu sangat ideal, sedangkan sarananya

sangat terbatas. Akibatnya, setiap petugas akan mengalami kejenuhan mengenai

cita-cita pemasyarakatan.

Richard D. Schwartz dan Jerome H. Skolnick, menyatakan sanksi pidana

dimaksudkan untuk a) mencegah terjadinya pengulangan tindak pidana (to prevent

recidivism); b) mencegah orang lain melakukan perbuatan yang sama similar

acts); c) menyediakan saluran untuk mewujudkan motif-motif balas (to provide a

channel for the expression of realiatory motives).19

Selanjutnya Emile Durkheim mengatakan mengenai fungsi dari pidana

adalah untuk menciptakan kemungkinan bagi pelepasan emosi-emosi yang

ditimbulkan atau diguncangkan oleh adanya kejahatan (the function of punishment

is to create a possibility for the release of emotion that are aroused by the time).20

Roger Hood berpendapat bahwa sasaran pidana disamping untuk

mencegah terpidana atau pembuat potensial melakukan tindak pidana juga untuk,

pertama memperkuat kembali nilai-nilai sosial (reinforcing social values), kedua

menentramkan rasa takut masyarakat terhadap kejahatan (allaying public fear of

crime).21

Ahli di bidang kepenjaraan (penolog) mengakui bahwa ada 3 (tiga) elemen

pokok apabila tujuan pemasyarakatan tercapai, yaitu: 1) petugas; 2) narapidana;

19

Muladi dan Barda Nawawi Arief, Op. cit, hal. 20. 20

Ibid, hal. 19. 21

(22)

dan 3) masyarakat. Dipertimbangkannya unsur masyarakat adalah sesuatu yang

rasional dan tepat mengingat beberapa hal bahwa narapidana adalah anggota

masyarakat yang telah melanggar hukum, serta narapidana juga nantinya setelah

lepas menjalani hukuman kembali ke masyarakat.22

Sistem pemasyarakatan sebagai petunjuk arah pembinaan narapidana di

Lembaga Pemasyarakatan belum mencapai hasil yang memadai, dengan beberapa

indikator:23

1. Narapidana yang melarikan diri dari Lembaga Pemasyarakatan.

2. Pelanggaran hak-hak narapidana.

3. Penolakan bekas narapidana oleh masyarakat.

4. Keterbatasan sarana maupun prasarana dalam mendukung pembinaan.

F. Metode Penelitian

1. Sifat dan Jenis Penelitian

Penelitian ini bersifat deskriptif analistis, artinya bahwa penelitian ini

termasuk lingkup penelitian yang menggambarkan, menelaah dan menjelaskan

secara tepat serta menganalisa peraturan perundang-undangan yang berkaitan

dengan kedudukan lembaga pemasyarakatan sebagai subsistem peradilan pidana.

Metode yang digunakan adalah metode penelitian normatif yang

merupakan prosedur penelitian ilmiah untuk menemukan kebenaran berdasarkan

22

Hal ini berarti bahwa pembinaan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan dirasakan tidak mencukupi karena pembinaan hanya sebatas masa hukuman.

23

(23)

logika keilmuan hukum dari sisi normatifnya.24 Logika keilmuan yang juga dalam

penelitian hukum normatif dibangun berdasarkan disiplin ilmiah dan cara-cara

kerja ilmu hukum normatif, yaitu ilmu hukum yang objeknya hukum itu sendiri.

Dengan demikian penelitian ini meliputi penelitian terhadap

sumber-sumber hukum, peraturan perundang-undangan, keputusan pengadilan,

dokumen-dokumen terkait dan beberapa buku tentang kedudukan lembaga pemasyarakatan

sebagai subsistem peradilan pidana.

2. Sumber Data

a. Bahan hukum primer

Bahan hukum primer adalah dokumen peraturan yang mengikat dan

ditetapkan oleh pihak yang berwenang.25 Dalam penelitian ini bahan

hukum primer diperoleh melalui Kitab Undang-undang Hukum

Pidana, Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, Undang-Undang

Nomor 12 Tahun 1995 tentang Lembaga Pemasyarakatan, dan

peraturan lain yang terkait.

b. Bahan Hukum Sekunder

Yaitu semua dokumen yang merupakan informasi, atau kajian yang

berkaitan dengan penelitian ini, yaitu seminar-seminar, jurnal-jurnal

hukum, majalah-majalah, koran-koran, karya tulis ilmiah, dan

beberapa sumber dari internet.

24

Johnny Ibrahim, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, (Malang: UMM Press, 2007), hal. 57.

25

(24)

3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara penelitian kepustakaan

(Library Research), yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara meneliti bahan

pustaka atau yang disebut dengan data sekunder. Adapun data sekunder yang

digunakan dalam penulisan skripsi ini antara lain berasal dari buku-buku baik

koleksi pribadi maupun dari perpustakaan, artikel-artikel baik yang diambil dari

media cetak maupun media elektronik, dokumen-dokumen pemerintah, termasuk

peraturan perundang-undangan.

4. Analisis Data

Data sekunder yang telah disusun secara sistematis kemudian dianalisa

dengan menggunakan metode deduktif dan induktif. Metode deduktif dilakukan

dengan membaca, menafsirkan dan membandingkan, sedangkan metode induktif

dilakukan dengan menerjemahkan berbagai sumber yang berhubungan dengan

topik skripsi ini, sehingga diperoleh kesimpulan yang sesuai dengan tujuan

penelitian yang telah dirumuskan.

G. Sistematika Penulisan

BAB I: Bab ini merupakan bab pendahuluan yang isinya antara lain

memuat Latar Belakang, Pokok Permasalahan, Tujuan dan

Manfaat Penulisan, Tinjauan Kepustakaan, Metode

Penelitian dan Sistematika Penulisan.

BAB II : Bab ini akan membahas peran lembaga pemasyarakatan dalam

(25)

peradilan pidana, fungsi dan tujuan sistem peradilan pidana, model

dan sistem peradilan pidana dan peranan lembaga pemasyarakatan

dalam sistem peradilan pidana.

BAB III: Bab ini akan membahas tentang hubungan lembaga

pemasyarakatan di dalam sistem peradilan pidana, yang mengulas

tentang lembaga pemasyarakatan, kedudukan lembaga

pemasyarakatan, dan hubungan lembaga pemasyarakatan di dalam

sistem peradilan pidana.

BAB IV: Bab ini akan dibahas tentang hambatan lembaga pemasyarakatan

dalam mencapai tujuan sistem peradilan pidana, yang membahas

dan menganalisa hubungan internal lembaga pemasyarakatan

dengan sistem peradilan pidana dan hubungan eksternal lembaga

pemasyarakatan dengan sistem peradilan pidana.

BAB V: Bab ini merupakan bab terakhir, yaitu sebagai bab penutup yang

berisi kesimpulan dan saran-saran mengenai permasalahan yang

(26)

BAB II

PERAN LEMBAGA PEMASYARAKATAN DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA

A. Pengertian Sistem Peradilan Pidana

Sistem Peradilan Pidana adalah sistem yang dibuat untuk menanggulangi

masalah-masalah kejahatan yang dapat mengganggu ketertiban dan mengancam

rasa aman masyarakat, merupakan salah satu usaha masyarakat untuk

mengendalikan terjadinya kejahatan agar berada dalam batas-batas toleransi yang

dapat diterima.7 Pelaksanaan peradilan pidana adalah upaya untuk menanggulangi

kejahatan yang terjadi di masyarakat dengan mengajukan para pelaku kejahatan

ke pengadilan sehingga menimbulkan efek jera kepada para pelaku kejahatan dan

membuat para calon pelaku kejahatan berpikir dua kali sebelum melakukan

kejahatan.26

Menurut Muladi, sistem peradilan pidana sesuai dengan makna dan ruang

lingkup sistem dapat bersifat phisik dalam arti sinkronisasi struktural (structural

syncronization) dalam arti keselarasan mekanisme administrasi peradilan pidana,

dapat pula bersifat substansial (substancial syncronization) dalam kaitannya

dengan hukum positif yang berlaku, dan dapat pula bersifat kultural (cultural

syncronization) dalam arti menghayati pandangan, sikap, dan falsafah yang secara

menyeluruh mendasari jalannya sistem peradilan pidana.27

26

Abdussalam dan DPM Sitompul, Sistem Peradilan Pidana, (Jakarta: Restu Agung, 2007), hal 4.

27

(27)

Sistem Peradilan Pidana yang Terpadu (SPPT) atau Integrated Criminal

Justice System (ICJS) merupakan unsur hukum pidana yang sangat penting dalam

kerangka penegakan hukum pidana materil. Philip. P. Purpura menyatakan bahwa

sistem peradilan pidana (criminal justice system) merupakan suatu sistem yang

terdiri dari Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan, dan Lembaga Pemasyarakatan

yang bertujuan untuk melindungi dan menjaga ketertiban masyarakat,

mengendalikan kejahatan, melakukan penangkapan, dan penahanan terhadap

pelaku kejahatan, memberikan batasan bersalah atau tidaknya seseorang,

memidana pelaku yang bersalah dan melalui komponen sistem secara keseluruhan

dapat memberikan perlindungan hukum terhadap hak-hak terdakwa.28

Sistem peradilan pidana yang sudah dipunyai sebagaimana tergambar

dalam KUHAP (Undang-Undang No. 8 Tahun 1981), adalah gambaran betapa

komponen hukum pidana yang dipunyai kurang mampu diharapkan untuk

mengawal penegakan hukum pidana materil.29 Kelemahan mendasar yang terlihat

dari KUHAP adalah terabaikannya hak-hak tersangka/ terdakwa/ terpidana dan

korban kejahatan yang harus diperhatikan kemungkinan mendapatkan

perlindungan hukum akan hak-haknya sebagai korban kejahatan, tidak mendapat

pengaturan yang memadai. Kekerasan baik fisik maupun psikis seringkali dialami

oleh tersangka/ terdakwa/ terpidana ketika mereka harus mengikuti prosedur tetap

yang dimainkan oleh aparat penegak hukum dengan dalih semua perbuatan aparat

penegak hukum sudah menjalankan tugas dan kewajiban penegakan hukum sesuai

dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dalam hal ini KUHAP.

28

Sidik Sunaryo, Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana, (Malang: UMM Press, 2005), hal. 2

(28)

Pada dasarnya, asas peradilan yang paling mendasar dari pelaksanaan dan

pelayanan administrasi peradilan mengarah pada prinsip dan asas efektif dan

efisien adalah asas sederhana, cepat dan murah. Namun demikian, penyelesaian

perkara di Pengadilan sangat bergantung pada beberapa faktor yaitu : faktor

substansi perkara, faktor pencari keadilan, faktor kuasa hukum, faktor kesiapan

alat-alat bukti, faktor sarana dan prasarana, faktor budaya hukum, faktor

komunikasi dalam persidangan, faktor pengaruh dari luar, faktor aparat

pengadilan, faktor hakim, dan faktor manajeman.30 Walaupun faktor-faktor diatas

mempunyai pengaruh, namun pelaksanaan asas sederhana, cepat, murah, masih

merupakan faktor yang menentukan dalam pelaksanaan pelayanan administrasi

peradilan yang benar-benar sederhana, cepat dan murah.

Sederhana dimaknai bahwa dalam peradilan pidana diharapkan sebagai

proses yang tidak bertele-tele, berbeli-belit, tidak berliku-liku, tidak rumit, jelas,

lugas, mudah dipahami,mudah diterapkan, sistematis, baik untuk pencari keadilan

maupun aparat penegak hukum. Namun dalam praktek nyata, sering kali asas

tersebut dipahami secara beragam oleh aparat penegak hukum disemua tingkatan.

Pemahaman oleh aparat penegak hukum lebih dimaksudkan sebagai proses

birokrasi yang wajib dilalui oleh pencari keadilan, dan dipihak lain aparat penegak

hukum mempunyai kewajiban untuk menerapkannya sesuai dengan pemahaman

aparat penegak hukum sendiri.

Kesederhanaan seharusnya dipahami tidak sebatas pada persoalan

administrasi saja, namun juga harus menjadi jiwa dan semangat motivasi aparat

(29)

penegak hukum dalam gaya dan pola kehidupan sehari-hari. Konsistensi dan

komitmen aparat penegak hukum dalam menjalankan asas sederhana juga harus

dimulai dalam diri sendiri, kemudian pada insitusi dalam semua tingkatan

(kepolisian, kejaksaan, pengadilan, lembaga pemasyarakatan, dan advokat).

Cepat, dimaknai sebagai upaya strategis untuk menjadikan sistem

peradilan pidana sebagai institusi yang dapat menjamin terwujudnya/ tercapainya

keadilan dalam penegakan hukum secara cepat oleh pencari keadilan. Baik cepat

dalam proses, cepat dalam hasil, dan cepat dalam evaluasi terhadap kinerja dan

tingkat produktifitas institusi peradilan (kepolisian, kejakasaan, pengadilan,

lembaga pemasyarakatan, dan advokat). Satu saja komponen tidak berfungsi maka

unsur cepat tidak akan tercapai.31 Kecepatan proses, hasil, dan evaluasi tersebut

menggunakan ukuran parameter dari prinsip tepat dan cermat.

Tepat dalam penerapan ketentuan peraturan perundang-undangan yang

dipergunakan sebagai dasar yuridis keputusannya (tidak bertentangan dengan

asas-asas hukum umum yang berlaku secara universal seperti lex specialis de

rogat lex generalis dan lainnya), tepat dalam memilih dan memilah Pasal-Pasal

yang dipergunakan sebagai dasar dalam pertimbangan keputusannya, tepat dalam

mengolah dan memahami secara filosofis (bersandar pada nilai-nilai keadilan

yang berkembang di masyarakat maupun yang terkandung dalam hukum positif)

terhadap keputusannya, tepat dalam menentukan kerangka sosiologis (menjamin

rasa keadilan masyarakat, mengembalikan dan menjaga keseimbangan sosial,

mempunyai manfaat). Demikian juga tindakan penegak hukum harus cermat,

31

(30)

dalam arti mengandung unsur kehati-hatian, ketelitian, kesungguhan, dalam

proses, hasil maupun evaluasinya.

Murah, mengandung makna bahwa mencari keadilan melalui lembaga

peradilan adalah tidak sekedar orang mempunyai harapan akan jaminan keadilan

di dalamnya, tetapi harus ada jaminan bahwa keadilan tidak mahal, keadilan tidak

dapat dimaterialisasikan, keadilan mempunyai sifat mandiri dan bebas dari

nilai-nilai lain yang dapat mengaburkan nilai-nilai keadilan itu sendiri, keadilan tidak dapat

diperjualbelikan, keadilan bukan merupakan komoditas, keadilan bukan

merupakan kata dengan sejuta pesimisme, keadilan tidak dapat dikuantifikasikan

dalam bentuk dan jenis apapun, keadilan adalah kebutuhan dasar bagi manusia

yang hidup di dunia secara universal.

Apabila asas sederhana, cepat, murah sebagaimana telah diuraikan diatas

menjadi semangat para penegak hukum, maka sistem peradilan pidana yang

efektif dan efisien dapat diwujudkan. Persoalan kualifikasi sumber daya manusia

yang menjadi penegak hukum dalam hal ini, memang menjadi kendala yang

serius. Pembenahan sistem peradilan pidana akhirnya tidak dapat hanya

bergantung dalam pemahaman harfiah dari penegak hukum terhadap asas

sederhana, cepat, dan murah saja, namun lebih dari itu semua adalah nurani

penegak hukum, pencari keadilan, penguasa, legislatif dan sistem yang

membingkai institusi peradilan juga menjadi faktor dominan. Di Indonesia,

peradilan pidana mengacu pada kodifikasi pidana formil yaitu Kitab

Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang diberlakukan melalui

(31)

signifikan dalam rangka untuk mengatasi kekosongan dan kekurangan hukum

pidana formil yang hanya mendasarkan pada acuan Undang-Undang No. 8 Tahun

1981. Payung hukum untuk menutupi kekosongan dan kelemahan tersebut adalah

apa yang disebut dengan kebijakan pidana.

Sementara itu tuntutan perkembangan sistem informasi dan teknologi,

semakin sulit untuk dikejar dan diimbangi hanya dengan Undang-Undang ini.

Ketentuan mengenai proses beracara untuk kasus-kasus pidana di Indonesia harus

mengacu pada ketentuan umumnya yakni KUHAP, disamping juga terdapat

ketentuan hukum pidana formil selain yang telah diatur dalam KUHAP tersebut,

yang tersebar dalam Undang-Undang di luar KUHP (Kitab Undang-Undang

Hukum Pidana). Namun terjadi masalah yang sering menjadi penghalang

tercapainya peradilan yang diharapkan.

Apabila dicermati, muara persoalan tersebut mengarah kepada tiga hal

yaitu : tidak ada sanksi apabila prosedur yang ditetapkan tersebut dilanggar,

termasuk pelanggaran terhadap hak-hak yang telah dirumuskan, kurang efektif

dan efisien dalam penyelenggaraan peradilan pidana, karena terdapat tahapan

proses yang tidak diperlakukan dan mubazir serta berbelit dan sia-sia, formulasi

Pasal-Pasal sangat memungkinkan adanya interpretasi yang berbeda-beda, yang

kemudian dilaksanakan oleh aparat penegak hukum.32

Berbagai kendala dan kelemahan yang terjadi, juga tidak diiringi dengan

mekanisme pengawasan yang baik dan transparan. Walaupun ada lembaga

pengawas, biasanya juga tidak berjalan dengan efektif. Kehadiran

32

(32)

lembaga pengawas tidak memberikan arti dan makna yang cukup berarti dalam

menjamin terwujudnya penegakan hukum. Banyak pengaduan, laporan, dan

desakan baik secara demokratis dan tidak jarang dapat mengundang aksi-aksi

kekerasan yang dilakukan masyarakat atas ketidakpuasan kinerja

lembaga-lembaga pengawas tersebut.

B. Fungsi dan Tujuan Sistem Peradilan Pidana

Pelaksanaan sistem peradilan pidana masih memiliki banyak kelemahan

dalam berbagai aspek. Kelemahan tersebut salah satunya bersumber dari

perangkat hukum positif yang belum sepenuhnya mendukung terciptanya sistem

peradilan pidana yang transparan, akuntabel. Kelemahan-kelemahan tersebut

dapat turut mempengaruhi kegagalan sistem peradilan pidana dalam mencapai

tujuannya. Pada gilirannya, akan menghambat upaya pengendalian kejahatan di

masyarakat karena pada dasarnya, menurut Mardjono Reksodiputro, sistem

peradilan pidana merupakan salah satu usaha masyarakat untuk mengendalikan

terjadinya kejahatan agar berada dalam batas toleransi yang dapat diterimanya.33

Sistem peradilan pidana pada hakekatnya juga merupakan masalah sosial.

Hulsman mengungkapkan, terdapat empat alasan yang menunjukkan bahwa

sistem peradilan pidana merupakan masalah sosial (social problem), yaitu:34

1. The criminal justice system inflict suffering

2. The criminal justice system does not work in terms of its own declared

aims

33

Mardjono Reksodiputro, Kriminologi dan Sistem Peradilan Pidana, (Jakarta: Pusat Pelayanan Keadilan dan Pengabdian Hukum Universitas Sumatera Utara, 1994), hal. 140.

34

(33)

3. Fundamental uncontrollability of criminal justice system

4. Criminal justice approach is fundamentally flawed.

Dalam hal fungsi sistem peradilan pidana sebagai pengendali kejahatan,

Noval Morris berpendapat, bahwa:35

The Criminal Justice System is best seen as a crime conteinment system, one of the method that society uses to keep crime at whatever level each particular culture is willing to eccept. But, to a degree, the criminal justice system is also involved in the secondary prevention of crime, that is to say, in trying to reduce criminality among those who have been convicted of crimes and trying by deterrent processes of detection, convistion, and punishment to reduce the commission of crime by those who are so mended and so acculturated.

Tujuan Sistem Peradilan Pidana menurut Muladi dapat dikategorikan

sebagai berikut:

1. Tujuan jangka pendek, apabila yang hendak dicapai resosialisasi dan

rehabilitasi pelaku tindak pidana

2. Dikategorikan sebagai tujuan jangka menengah, apabila yang hendak

dituju lebih luas yakni pengendalian dan pencegahan kejahatan dalam

konteks politik criminal (criminal policy)

3. Tujuan jangka panjang, apabila yang hendak dicapai adalah kesejahteraan

masyarakat (social welfare) dalam konteks politik sosial (social policy).36

Lebih lanjut Mardjono Reksodiputro mengemukakan bahwa tujuan sistem

peradilan pidana adalah (a) mencegah masyarakat menjadi korban kejahatan; (b)

menyelesaikan kasus kejahatan yang terjadi sehingga masyarakat puas bahwa

35

UNAFEI, Criminal Justice System: The Quest for an Integrated Approach, (Unafei, 1982), hal. 5.

36

Muladi dalam Petrus Irawan P dan Pandapotan Simorangkir, Lembaga

Pemasyarakatan dalam Perspektif Sistem Peradilan Pidana, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,

(34)

keadilan telah ditegakkan dan yang bersalah dipidana; dan (c) mengusahakan agar

mereka yang pernah melakukan kejahatan tidak mengulangi lagi kejahatan.37

Sedangkan fungsi dan tujuan dari SPPT seperti yang digambarakan oleh

Davies, Croall, and Tyrer sebagai berikut:38

1. protecting the public by preventing and dettering crime, by rehabilitating

offenders in incapacitating others who continue a persistant threat to the

community.

2. upholding and promoting the rule of law and respect for the law, by

ensuring due process and proper treatment of suspect, arrestees,

defendand and those held in custody, successfully prosecuting criminal

and acquitting innoncent people accused of a crime

3. maintaining law and order.

4. punishing criminals with regard to the principles of just deserts.

5. registering social disapproval of censured behaviour by punishing

criminals.

6. aiding and

7. advising the victims of crime.

Dengan bahasa yang lebih sederhana Loebby Loqman berpendapat tujuan

sistem peradilan pidana adalah menghilangkan kejahatan (bukan penjahatnya)

untuk mencapai suatu masyarakat yang terbebas dari kejahatan.39

37

Mardjono Reksodiputro, Hak Asasi Manusia.., op.cit., hal.84 38

Davies, Croall, and Tyrer, An Introduction the Criminal Justice System in England and

Wales, (London: Longman, 1995), hal. 4.

39

(35)

C. Model dan Sistem Peradilan Pidana

Berlakunya Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 (KUHAP) untuk

menggantikan HIR yang dipandang sudah tidak sesuai dengan cita-cita nasional

Indonesia., membawa perubahan fundamental terhadap tata cara penyelesaian

perkara pidana di Indonesia secara konsepsional maupun implemental.

KUHAP meletakkan dasar humanisme didalamnya sehingga tujuan utama

yang hendak dicapai bukanlah ketertiban dan kepastian hukum tetapi

perlindungan atas hak asasi seorang tersangka atau terdakwa. Perlindungan hak

asasi seorang tersangka atau terdakwa diharapkan dilaksanakan pada setiap

tingkat pemeriksaan perkara pidana yaitu mulai dari seorang tersangka ditangkap,

ditahan, dituntut dan diadili di pengadilan. Dalam Undang-Undang Nomor 8

tahun 1981 juga terkandung harapan untuk memberikan kekuasaan kehakiman

yang bebas dan bertanggung jawab dalam memeriksa dan memutuskan suatu

perkara pidana.

Herbert L. Packer dalam bukunya The Limits of The Criminal Sanction,

mengungkapkan ada dua model dalam proses peradilan pidana (Two Models of

The criminal Process), yaitu crime control model (model pengendalian kejahatan)

dan due process model (model perlindungan hak).40

Crime control model adalah bentuk pendekatan yang memandang pelaku

kejahatan sebagai objek dalam pemeriksaan perkara sedangkan due process model

adalah bentuk pendekatan yang memandang pelaku kejahatan sebagai subjek

dalam pemeriksaan perkara.

40

(36)

Karakteristik dari crime control model adalah efesiensi bekerjanya proses

pemeriksaan perkara yaitu cepat tangkap dan cepat diadili serta digunakannya

asas praduga bersalah sedangkan karakteristik due process model adalah

perlindungan hak-hak tersangka dan untuk menentukan kesalahan seseorang harus

melalui suatu persidangan yang adil dan tidak memihak.

Berdasarkan makna yang terkandung dalam KUHAP yaitu perlindungan

terhadap harkat dan martabat manusia dapat diketahui bahwa pendekatan yang

digunakan dalam Sistem Peradilan Pidana di Indonesia adalah pendekatan due

process model.

D. Peranan Lembaga Pemasyarakatan dalam Sistem Peradilan Pidana

Sistem peradilan pidana Indonesia setelah berlakunya Undang-Undang

Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana memiliki empat sub sistem,

yaitu: Kepolisian yang secara administratif di bawah Departemen Pertahanan dan

Keamanan, Kejaksaan di bawah Kejaksaan Agung, Pengadilan di bawah

Mahkamah Agung serta Lembaga Pemasyarakatan di bawah Departemen

Kehakiman. Lembaga pemasyarakatan sebagai bagian dari sistem peradilan

pidana mempunyai tugas dan tanggung jawab yang sama dengan sub sistem

lainnya.

Sebagai lembaga pembinaan, perannya sangat strategis dalam

merealisasikan tujuan akhir dari sistem peradilan pidana, yaitu rehabilitasi dan

resosialisasi pelanggar hukum, bahkan sampai kepada penanggulangan kejahatan

(37)

oleh lembaga pemasyarakatan akan memberikan kemungkinan-kemungkinan

penilaian yang dapat bersifat positif maupun negatif. Penilaian itu dapat positif

manakala pembinaan narapidana mencapai hasil maksimal, yaitu bekas

narapidana itu menjadi warga masyarakat yang taat pada hukum. Penilaian itu

dapat negatif apabila bekas narapidana yang pernah dibina itu menjadi penjahat

kembali. Kegagalan lembaga pemasyarakatan dalam membina narapidana

merupakan kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Fakta ini telah mensahkan

kegagalan tugas lembaga pemasyarakatan.

Beban yang sangat menghimpit dalam menjalankan tugasnya adalah tidak

sebanding falsafah pembinaan yang baru berupa pemasyarakatan sebagai proses,

dengan sistem pemasyarakatan sebagai metodenya yang masih memakai

Gestichten Reglemen (Reglemen Penjara) 1917 No. 708; dengan sebagian sarana

fisik berupa bangunan penjara sudah tidak memenuhi persyaratan kesehatan

maupun peralaan kerja, terlebih sarana personalia berupa tenaga pembina yang

sangat minim.

Di lain pihak, sistem pemasyarakatan itu mempunyai tujuan akhir:

“memulihkan kesatuan hubungan sosial (reintegrasi sosial) warga binaan dengan/

ke dalam masyarakat, khususnya masyarakat di tempat tinggal asal mereka

melalui suatu proses (proses pemasyarakatan/ pembinaan) yang melibatkan

unsur-unsur atau elemen-elemen, petugas pemasyarakatan, narapidana dan masyarakat”.

Dapat dibayangkan bahwa yang paling banyak melakukan hubungan

dengan narapidana saat menjalani hukuman adalah para petugas yang tingkat

(38)

narapidana berbeda-beda pula. Jadi dalam hal ini, usaha pembinaan narapidana

lebih banyak ditentukan oleh kemampuan petugas untuk memberikan pengarahan

dan bimbingan yang bersifat psikologis serta pribadi.

Dengan tidak mengecilkan arti kemampuan petugas Pembina yang

berpendidikan setingkat Sekolah Menengah Atas, tetapi merupakan suatu fakta

kalau dikatakan bahwa petugas Pembina dalam melakukan pembinaan di dalam

lembaga lebih banyak mengandalkan pendekatan ketertiban.

Oleh karena itu, lembaga pemasyarakatan membutuhkan tenaga-tenaga

yang berkualitas, seperti apa yang dikatakan oleh Karsono Adisumarto, bahwa

pelaksanaan pemasyarakatan pada hakikatnya memerlukan tenaga-tenaga ahli

seperti psikiater, psikolog, sosiolog, dokter, insinyur, ahli perusahaan dan

lain-lain, sesuai dengan kebutuhan teknis operasional lembaga pemasyarakatan. Hal ini

berarti bahwa sifat pekerjaan pemasyarakatan memerlukan kualitas personil

tertentu.

Memahami keberadaan lembaga pemasyarakatan sebagai penerima

orang-orang yang dinyatakan sebagai penjahat, secara psikologis memiliki beban yang

cukup berat bagi sub sistem lainnya yang dalam tugasnya mau menentukan atau

menyatakan seeorang itu bersalah. Hal seperti di atas terjadi dan dialami oleh

lembaga pemasyarakatan. Beban berat yang diberikan kepada lembaga ini

sekaligus menampakkan dirinya sebagai sub sistem yang punya potensi

melakukan rehabilitasi.

Ketidaktenteraman di dalam penjara merupakan suatu gambaran

(39)

Ketidakstabilan personil yang melakukan pekerjaannya sangat dipengaruhi oleh

berbagai faktor, antara lain kesejahteraan yang kurang memadai jika dibandingkan

dengan tugas dan tanggung jawabnya yang cukup berat. Bahkan kalau terjadi

perkelahian atau penyimpangan bahkan pelarian narapidana, maka hal ini akan

berakibat terhadap kondisi kepegawaiannya. Di samping itu faktor pendidikan dan

(40)

BAB III

HUBUNGAN LEMBAGA PEMASYARAKATAN DI DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA

A. Lembaga Pemasyarakatan

Adanya model pembinaan bagi narapidana di dalam Lembaga

Pemasyarakatan tidak terlepas dari sebuah dinamika, yang bertujuan untuk lebih

banyak memberikan bekal bagi Narapidana dalam menyongsong kehidupan

setelah selesai menjalani masa hukuman (bebas). Seperti halnya yang terjadi jauh

sebelumnya, peristilahan Penjara pun telah mengalami perubahan menjadi

pemasyarakatan. Tentang lahirnya istilah Lembaga Pemasyarakatan dipilih sesuai

dengan visi dan misi lembaga itu untuk menyiapkan para narapidana kembali ke

masyarakat. Istilah ini dicetuskan pertama kali oleh Rahardjo, S.H. yang menjabat

Menteri Kehakiman RI saat itu.41

Pemasyarakatan dinyatakan sebagai suatu sistem pembinaan terhadap para

pelanggar hukum dan sebagai suatu pengejawantahan keadilan yang bertujuan

untuk mencapai reintegrasi sosial atau pulihnya kesatuan hubungan antara Warga

Binaan Pemasyarakatan dengan masyarakat. Dalam perkembangan selanjutnya

Sistem Pemasyarakatan mulai dilaksanakan sejak tahun 1964 dengan ditopang

oleh UU No 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan. UU Pemasyarakatan itu

menguatkan usaha-usaha untuk mewujudkan suatu sistem Pemasyarakatan yang

41

(41)

merupakan tatanan pembinaan bagi Warga Binaan Pemasyarakatan. Dengan

mengacu pada pemikiran itu, mantan Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaludin

mengatakan bahwa pemasyarakatan adalah suatu proses pembinaan yang

dilakukan oleh negara kepada para narapidana dan tahanan untuk menjadi

manusia yang menyadari kesalahannya.

Selanjutnya pembinaan diharapkan agar mereka mampu memperbaiki diri

dan tidak mengulangi tindak pidana yang pernah dilakukannya. Kegiatan di dalam

LP bukan sekedar untuk menghukum atau menjaga narapidana tetapi mencakup

proses pembinaan agar warga binaan menyadari kesalahan dan memperbaiki diri

serta tidak mengulangi tindak pidana yang pernah dilakukan. Dengan demikian

jika warga binaan di LP kelak bebas dari hukuman, mereka dapat diterima

kembali oleh masyarakat dan lingkungannya dan dapat hidup secara wajar seperti

sediakala. Fungsi Pemidanaan tidak lagi sekedar penjeraan tetapi juga merupakan

suatu proses rehabilitasi dan reintegrasi sosial Warga Binaan yang ada di dalam

LP. Tentu saja hal ini sangat kontradiktif apabila dibandingkan dengan visi dan

misi pemasyaratan sebagai tempat pembinaan narapidana, agar keberadaannya

dapat diterima kembali oleh masyarakat sewaktu bebas. Perlu untuk sejenak

melihat kembali tujuan pengadaan Lembaga Pemasyarakatan sebagai tempat

untuk membina dan menyiapkan seorang narapidana menjadi “lurus” dan siap

terjun kembali ke masyarakatnya kelak.42

Lembaga Pemasyarakatan selain sebagai tempat pemidanaan juga

berfungsi untuk melaksanakan program pembinaan terhadap para narapidana,

(42)

dimana melalui program yang dijalankan diharapkan narapidana yang

bersangkutan setelah kembali ke masyarakat dapat menjadi warga yang berguna

di masyarakat. Pembinaan adalah kegiatan untuk meningkatkan kualitas

ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, intelektual, sikap dan perilaku,

profesional, kesehatan jasmani dan rohani narapidana dan anak didik

pemasyarakatan.43

Sebagai suatu program, maka pembinaan yang dilaksanakan dilakukan

melalui beberapa tahapan. Pembinaan yang dilaksanakan berdasarkan Surat

Edaran No. KP.10.13/3/1 tanggal 8 Februari 1965 tentang Pemasyarakatan

sebagai proses, maka pembinaan dilaksanakan melalui empat (4) tahapan sebagai

suatu kesatuan proses yang bersifat terpadu, yaitu:44

Tahap Pertama:

Pembinaan tahap ini disebut pembinaan tahap awal, dimana kegiatan masa pengamatan, penelitian dan pengenalan lingkungan untuk menentukan perencanaan program pembinaan kepribadian dan kemandirian yang waktunya dimulai pada saat yang bersangkutan berstatus sebagai narapidana sampai dengan 1/3 (sepertiga) dari masa pidananya. Pembinaan pada tahap ini masih dilakukan dalam LAPAS dan pengawasannya

maksimum security.

Tahap kedua:

Jika proses pembinaan terhadap narapidana yang bersangkutan telah berlangsung selama-lamanya 1/3 dari masa pidana yang sebenarnya dan menurut pendapat Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) sudah dicapai cukup kemajuan, antara lain menunjukkan keinsyafan, perbaikan disiplin dan patuh pada peraturan tata tertib yang berlaku di lembaga, maka kepada narapidana yang bersangkutan diberikan kebebasan lebih banyak dan ditempatkan pada LAPAS melalui pengawasan medium security.

43

PP 31 Tahun 1999 tentang Pembinaan dan Pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan, pasal 1 ayat (1)

44

(43)

Tahap ketiga:

Jika proses pembinaan terhadap narapidana telah dijalani ½ dari masa pidana yang sebenarnya dan menurut tim TPP telah dicapai cukup kemajuan, maka wadah proses pembinaan diperluas dengan Asimilasi yang pelaksanaannya terdiri dari dua bagian yaitu yang pertama dimulai sejak berakhirnya tahap awal sampai dengan ½ dari masa pidananya, tahap kedua dimulai sejak berakhirnya masa lanjutan pertama sampai dengan 2/3 dari masa pidananya. Dalam tahap ini dapat diberikan Pembebasan Bersyarat atau Cuti Menjelang Bebas dengan pengawasan minimum

security.

Tahap keempat :

Pembinaan pada tahap ini terhadap narapidana yang memenuhi syarat diberikan Cuti Menjelang Bebas atau Pembebasan Bersyarat dan pembinaannya dilakukan di luar LAPAS oleh Balai Pemasyarakatan (Bapas) yang kemudian disebut Pembimbingan Klien Pemasyarakatan.

B. Tujuan Lembaga Pemasyarakatan dalam Sistem Peradilan Pidana

Tujuan pembinaan bagi narapidana, berkaitan erat dengan tujuan

pemidanaan. Dalam Rancangan KUHP Nasional telah diatur tujuan penjatuhan

pidana yaitu :

1. Mencegah dilakukanya tindak pidana dengan menegakan norma hukum

demi pengayoman masyarakat.

2. Mengadakan koreksi terhadap terpidana, dengan demikian menjadikannya

orang baik dan berguna, serta mampu untuk hidup bermasyarakat.

3. Menyelesaikan konflik yang ditimbulkan oleh tindak pidana, memulihkan

(44)

4. Membebaskan rasa bersalah pada terpidana.45

Pembinaan terpidana itu bertujuan agar ia mempunyai kesanggupan untuk

menjadi peserta aktif dan kreatif dalam kesatuan hubungan hidup sebagai warga

masyarakat Indonesia yang menghormati hukum, sadar akan bertanggung jawab

dan berguna.46

C. Kedudukan Lembaga Pemasyarakatan

Konsep kebijakan penanggulangan kejahatan yang integral mengandung

konsekuensi segala usaha yang rasional untuk menanggulangi kejahatan harus

merupakan satu kesatuan yang terpadu. Ini berarti kebijakan untuk menanggulangi

kejahatan dengan menggunakan sanksi pidana, harus pula dipadukan dengan

usaha-usaha lain yang bersifat “nonpenal”. Tujuan utama dari usaha-usaha non

penal ini adalah memperbaiki kondisi-kondisi sosial tertentu yang secara tidak

langsung mempunyai pengaruh preventif terhadap kejahatan. Dengan demikian

dilihat dari sudut kriminal, keseluruhan kegiatan preventif yang nonpenal itu

sebenarnya mempunyai kedudukan yang sangat strategis. Kegagalan dalam

menggarap posisi strategis ini justru akan berakibat fatal bagi usaha

penanggulangan kejahatan.

Sistem dalam Lembaga pemasyarakatan, berangkat dari konsepsi

pemahaman tersebut, harus mampu mendudukkan dirinya dalam posisi sebagai

bagian integral dari upaya tersebut. Lembaga Pemsyarakatan selaku tempat bagi

pelaksanaan Vonis hukuman atas seorang Terpidana diharapkan mampu

mengakomodasi upaya-upaya non penal tersebut, dimana dalam hal ini a berarti

45

Andi Hamzah, Pelaksanaan Peradilan Pidana Berdasar Teori dan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta, 1994), hal. 33

46

(45)

dalam pelaksanaan hukuman terhadap para Terpidana kasus Narkotika dan

Psikotropika benar-benar memperhatikan dan mampu mengakomodasi penerapan

azas Keadilan Restoratif.

Hal ini bertujuan agar proses penghukuman terhadap para Terpidana kasus

Narkotika dan Psikotropika tersebut dapat benar-benar memberikan manfaat

(Utilities), tidak hanya bagi Terpidana itu sendiri yang dapat dibawa kembali ke

jalan yang benar, namun juga membantu program pemerintah dalam memutuskan

mata rantai peredaran Gelap Narkoba. Timbul pertanyaan; apakah sistem

pemasyarakatan yang berjalan saat ini telah mampu mendudukkan Lembaga

Pemsyarakatan dalam Fungsi tersebut?. Dasar hukum atau undang-undang yang

digunakan dalam sistem kepenjaraan adalah reglement Penjara. Dasar hukum itu

telah digunakan sejak tahun 1917. Suatu undang-undang yang sudah tidak layak

lagi diberlakukan. Namun demikian dasar hukum itu masih saja dipergunakan

dalam sistem pemasyarakatan, dengan beberapa perubahan. Tentu saja hal ini

tidak bisa terus-menerus terjadi, jika ingin mengadakan pembaharuan dalam

suasana pembinaan narapidana.

Untuk menerapkan sistem baru, sangat diperlukan undang-undang

pemasyarakatan sebagai pengganti dari reglement Penjara. Undang-undang

pemasyarakatan secara jelas memuat tentang pemasyarakatan, Rutan dan

Rubasan.Dalam hal ini kedudukan Balai Bimbingan pemasyarakatan (Bispa)

harus di atur pula secara jelas. Penggantian ini mutlak harus di lakukan. Pertama

(46)

yang bersumberkan falsafah bangsa, percuma saja di adakan pembaharuan.47 Jadi

sekalipun telah ada perubahan dari sistem kepenjaraan ke sistem pemasyarakatan,

pada dasarnya secara hukum, keduanya masih menggunakan Reglement Penjara

sebagai pijakan hukumnya.

Konsepsi sistem baru pembinaan narapidana, menghendaki adanya

penggantian undang-undang pemasyarakatan. undang-undang ini yang akan

menghilangkan keseluruhan bau liberal kolonial. Undang-undang ini akan

menjadikan keselarasan, keserasian dengan semua undang-undang yang berlaku di

Indonesia. Indonesia tidak bisa melakukan pembaharuan tanpa merubah

undang yang mendasarinya. Perubahan seharusnya total. Dengan lahirnya

undang-undang Nomor 12 Tahun 1995 Tentang “Pemasyarakatan” cita-cita keselarasan

dan keserasian ini agaknya akan terwujud, hanya saja tinggal pelaksanaannya

yang menjadi harapan semua pihak.

Berbeda dengan sistem pemasyarakatan, maka dalam sistem

pemasyarakatan baru tujuan pembinaan narapidana ialah meningkatkan kesadaran

(consciousness) narapidana dan eksistensinya sebagai manusia. Pencapaian

kesadaran dilakukan melalui tahap kesadaran, introspeksi, motivasi, dan self

development. Kesadaran itu dimaksudkan agar narapidana sadar akan

eksistensinya sebagai manusia yang memiliki akal dan budi, yang memiliki

budaya dan potensi sebagai mahluk yang spesifik. Sedangkan tahap introspeksi

dimaksudkan agar narapidana mengenal diri sendiri. Hanya dengan cara mengenal

diri sendiri seorang bisa merubah dirinya sendiri. Plato pernah mengatakan bahwa

47

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan dari uraian di atas, maka ide individualisasi pidana dalam pembinaan narapidana termasuk narapidana wanita dengan sistem pemasyarakatan sebenarnya sudah merupakan

“Upaya Lembaga Pemasyarakatan klas IIB Sleman Dalam Pembinaan Narapidana Terhadap Tindak Pidana Pembunuhan”.

PERANAN LEMBAGA PEMASYARAKATAN DALAM PEMBINAAN NARAPIDANA PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA (STUDI DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS II A SRAGEN). Jurusan Hukum Pidana Program Studi S1

ilmiah dengan judul yaitu : ‘’ PEMBINAAN NARAPIDANA RESIDIVIS PELAKU TINDAK PIDANA PEREDARAN GELAP NARKOTIKA PADA LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS IIB PARIAMAN’’.

Dimungkinkan setelah keluar dari lembaga pemasyarakatan akan mengulangi kejahatan (residivis). Pembinaan narapidana adalah sebuah sistem. Sebagai suatu sistem, maka

Kata Kunci: Narapidana Perempuan, Narapidana Kelompok Rentan, Lembaga Pemasyarakatan PENDAHULUAN Pemasyarakatan narapidana perempuan merupakan aspek penting dalam sistem peradilan

Identifikasi masalah yang dilakukan penulis adalah bagaimana peranan Lembaga Permasyarakatan dalam pembinaan Anak Pidana di Lembaga Permasyarakatan Anak menurut perspektif kesatuan

Pembinaan narapidana di lembaga pemasyarakatan