KEDUDUKAN LEMBAGA PEMASYARAKATAN (LP)
SEBAGAI SUB SISTEM PERADILAN PIDANA (SPP)
S K R I P S I
Diajukan untuk Memenuhi dan Melengkapi Syarat-syarat untuk Memperoleh
Gelar Sarjana Hukum
Oleh:
CHRISTOVEL TAMPUBOLON
NIM: 060200323
DEPARTEMEN HUKUM PIDANA
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
KEDUDUKAN LEMBAGA PEMASYARAKATAN (LP)
SEBAGAI SUB SISTEM PERADILAN PIDANA (SPP)
S K R I P S I
Diajukan untuk Memenuhi dan Melengkapi Syarat-syarat untuk Memperoleh
Gelar Sarjana Hukum
Oleh:
CHRISTOVEL TAMPUBOLON
NIM: 060200323
DEPARTEMEN HUKUM PIDANA
DISETUJUI OLEH:
Dr. Hamdan, SH. MH NIP:
DOSEN PEMBIMBING I DOSEN PEMBIMBING II
Dr. Marlina, SH. M. Hum Liza Erwina, SH. M. Hum
NIP: NIP:
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
ABSTRAK
Lembaga Pemasyarakatan sebagai ujung tombak pelaksanaan atas pengayoman merupakan tempat untuk mencapai tujuan tersebut di atas, melalui pendidikan, rehabilitasi dan reintegrasi. Pelaksanakan sistem pemasyarakatan tersebut, diperlukan juga partisipasi atau keikutsertaan masyarakat, baik dengan mengadakan kerjasama dalam pembinaan maupun dengan sikap bersedia menerima kembali Warga Binaan Pemasyarakatan yang telah selesai menjalani pidananya. Lembaga Permasyarakatan sebagai sub sistem yang paling akhir yang langsung berhadapan dengan narapidana untuk melaksanakan pembinaan, mempunyai posisi yang strategis dalam mewujudkan tujuan akhir dari Sistem Peradilan Pidana. Lembaga Permasyarakatan diharapkan mampu merealisasikan tujuan akhir Sistem Peradilan Pidana yaitu mencegah timbulnya kejahatan.
Permasalahan yang akan menjadi pembahasan dalam penulisan skripsi ini adalah bagaimanakah peran lembaga pemasyarakatan dalam sistem peradilan pidana, bagaimanakah hubungan lembaga pemasyarakatan di dalam sistem peradilan pidana, dan bagaimanakah hambatan lembaga pemasyarakatan dalam mencapai tujuan sistem peradilan pidana.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif. Metode penelitian normatif disebut juga sebagai penelitian doktrinal (doctrinal
research) yaitu suatu penelitian yang menganalisis hukum baik yang tertulis
didalam buku (law as it is written in the book), maupun hukum yang diputuskan oleh hakim melalui proses pengadilan (law it is decided by the judge through
judicial process). Penelitian hukum normatif dalam penelitian ini didasarkan data
sekunder dan menekankan pada langkah-langkah spekulatif-teoritis dan analisis normatif-kualitatif.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang
atas kehadirat-Nya telah memberikan kesehatan, kekuatan, ketabahan, sehingga
penulis dapat menyelesaikan tesis ini sebagai persyaratan untuk memperoleh gelar
Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Adapun judul
tesis penulis adalah “Kedudukan Lembaga Permasyarakatan (LP) Sebagai Sub
Sistem Peradilan Pidana (SPP)”.
Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis banyak memperoleh bantuan
baik berupa pengajaran, bimbingan dan arahan dari berbagai pihak. Pada
kesempatan ini penulis tidak lupa menyampaikan penghargaan serta terima kasih
yang tulus kepada semua pihak yang telah turut memberikan bantuan kepada
penulis baik secara langsung maupun tidak langsung sejak awal penulis menjalani
perkuliahan hingga penyusunan skripsi ini dan penyelesaiannya.
Dalam kesempatan ini izinkan penulis dengan penuh sukacita
menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada:
1. Bapak Prof. Chairuddin P. Lubis, DTM&H., SpA(K) atas kesempatan dan
fasilitas yang diberikan untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan.
2. Bp. Prof. Dr. Runtung, SH, M. Hum, selaku Dekan Fak. Hukum USU
yang juga telah memberikan kesempatan dan fasilitas yang diberikan
kepada penulis untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan di Fakultas
Hukum USU.
3. Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting, SH. M. Hum, selaku Ketua Pembantu
begitu terbuka memberikan bantuan, masukan, arahan dan dorongan
kepada penulis sehingga penulis begitu selalu terdorong untuk menjadi
lebih baik lagi. Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.
4. Bp. Dr. M. Hamdan, SH. MH, selaku Ketua Departemen Hukum Pidana
Fak. Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah berkenan membantu
dan memperhatikan mahasiswanya.
5. Ibu Liza Erwina, SH. M. Hum, selaku Pembimbing satu penulis, yang
telah memberikan bimbingan dan arahan serta dorongan kepada penulis
agar senantiasa mempergunakan waktu untuk menulis dengan
sebaik-baiknya. Kepadanya penulis mengucapkan banyak terima kasih.
6. Ibu Dr. Marlina, SH, M. Hum, selaku Dosen Pembimbing II yang telah
begitu sabar memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis sehingga
penulis dapat menulis dengan lebih baik lagi, terima kasih.
7. Seluruh Staf Pengajar Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
8. Seluruh Staf Administrasi Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
9. Kedua orang tua dan saudara-saudara yang telah banyak memberikan
dukungan secara moril dan materil.
10.Seluruh kawan-kawan, khususnya Stb 06 PRM
Akhir kata semoga penulisan skripsi ini dapat menambah pengetahuan dan
membuka seluruh cakrawala berfikir yang baru bagi kita semua.
Medan, September 2011
DAFTAR ISI
ABSTRAK ...
KATA PENGANTAR ...
DAFTAR ISI ...
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Permasalahan ... 6
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan... 7
D. Keaslian Penulisan ... 8
E. Tinjauan Kepustakaan... 8
F. Metode Penelitian ... 14
G. Sistematika Penulisan ... 16
BAB II PERAN LEMBAGA PEMASYARAKATAN DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA ... 18
A. Pengertian Sistem Peradilan Pidana... 18
B. Fungsi dan Tujuan Sistem Peradilan Pidana... 24
C. Model dan Sistem Peradilan Pidana... 27
D. Peranan Lembaga Pemasyarakatan dalam Sistem Peradilan Pidana... 28
BAB III HUBUNGAN LEMBAGA PEMASYARAKATAN DI DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA... 32
B. Tujuan Lembaga Pemasyarakatan dalam Sistem Peradilan
Pidana... 35
C. Kedudukan Lembaga Pemasyarakatan ... 36
D. Hubungan Lembaga Pemasyarakatan di dalam Sistem Peradilan Pidana... 54
BAB IV HAMBATAN LEMBAGA PEMASYARAKATAN DALAM MENCAPAI TUJUAN SISTEM PERADILAN PIDANA ... 61
A. Hubungan Internal Lembaga Pemasyarakatan dengan Sistem Peradilan Pidana... 61
B. Hubungan Eksternal Lembaga Pemasyarakatan dengan Sistem Peradilan Pidana... 68
C. Kendala Yuridis dalam Pencapaian Tujuan Lembaga Pemasyarakatan dan Upaya Penanggulangannya ... 70
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 74
A. Kesimpulan ... 74
B. Saran... 75
ABSTRAK
Lembaga Pemasyarakatan sebagai ujung tombak pelaksanaan atas pengayoman merupakan tempat untuk mencapai tujuan tersebut di atas, melalui pendidikan, rehabilitasi dan reintegrasi. Pelaksanakan sistem pemasyarakatan tersebut, diperlukan juga partisipasi atau keikutsertaan masyarakat, baik dengan mengadakan kerjasama dalam pembinaan maupun dengan sikap bersedia menerima kembali Warga Binaan Pemasyarakatan yang telah selesai menjalani pidananya. Lembaga Permasyarakatan sebagai sub sistem yang paling akhir yang langsung berhadapan dengan narapidana untuk melaksanakan pembinaan, mempunyai posisi yang strategis dalam mewujudkan tujuan akhir dari Sistem Peradilan Pidana. Lembaga Permasyarakatan diharapkan mampu merealisasikan tujuan akhir Sistem Peradilan Pidana yaitu mencegah timbulnya kejahatan.
Permasalahan yang akan menjadi pembahasan dalam penulisan skripsi ini adalah bagaimanakah peran lembaga pemasyarakatan dalam sistem peradilan pidana, bagaimanakah hubungan lembaga pemasyarakatan di dalam sistem peradilan pidana, dan bagaimanakah hambatan lembaga pemasyarakatan dalam mencapai tujuan sistem peradilan pidana.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif. Metode penelitian normatif disebut juga sebagai penelitian doktrinal (doctrinal
research) yaitu suatu penelitian yang menganalisis hukum baik yang tertulis
didalam buku (law as it is written in the book), maupun hukum yang diputuskan oleh hakim melalui proses pengadilan (law it is decided by the judge through
judicial process). Penelitian hukum normatif dalam penelitian ini didasarkan data
sekunder dan menekankan pada langkah-langkah spekulatif-teoritis dan analisis normatif-kualitatif.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pemberian sanksi pidana selalu direalisasikan dengan membina di
Lembaga Pemasyarakatan. Ada anggapan yang menyatakan bahwa pelanggar
hukum hanya dapat dibina jika diasingkan dari lingkungan sosial, serta pelanggar
hukum dinyatakan sebagai individu yang telah rusak dalam segala-galanya
sehingga tidak akan dapat diharapkan untuk bersikap ramah terhadap lingkungan
sosialnya. Adanya pemahaman seperti itu merupakan suatu pembalasan yang
dilegalisir oleh kenyataan dan kehendak masyarakat itu sendiri (stigma).1
Herbert L. Packer dalam bukunya The Limits of The Criminal Sanction
yang dikutip Barda Nawawi Arief membicarakan masalah sanksi pidana dalam
penanggulangan kejahatan, menyebutkan bahwa:
1. Sanksi pidana sangatlah diperlukan, tidak dapat hidup sekarang maupun di masa yang akan datang tanpa pidana;
2. Sanksi pidana merupakan alat atau sarana terbaik yang sudah ada, yang dimiliki untuk menghadapi bahaya-bahaya besar dan bersifat segera;
Sanksi pidana suatu ketika merupakan penjamin yang utama atau terbaik
dan suatu ketika merupakan pengancam yang utama dari kebebasan manusia itu
sendiri. Ia merupakan penjamin apabla dipergunakan secara hemat, cermat dan
1
secara manusiawi. Ia merupakan pengancam apabila digunakan secara
sembarangan dan secara paksa.2
Sedangkan menurut Muladi, bahwa tujuan pemidanaan adalah untuk
memperbaiki kerusakan individual dan sosial yang diakibatkan oleh tindak
pidana. Hal ini terdiri atas seperangkat tujuan pemidanaan yang harus dipenuhi
dengan tujuan yang merupakan titik berat harus bersifat kasuistis. Perangkat
tujuan pemidanaan yang dimaksud terdiri atas:3
1. Pencegahan (umum dan khusus);
2. Perlindungan masyarakat;
3. Memelihara solidaritas masyarakat;
4. Pengimbalan/perimbangan.
Pengaruh langsung dari penjatuhan pidana itu jelas terhadap orang yang
dikenai pidana. Tetapi pidana itu belum dirasakan sungguh-sungguh olehnya
kalau sudah dilaksanakan secara efektif. Dengan pemidanaan di sini dikehendaki
agar terpidana tidak melakukan tindak pidana lagi. Oleh karena itu, penjatuhan
pidana menjadi alternatif dalam rangka mencegah perbuatan melanggar hukum,
baik oleh individu maupun kelompok. Pemenjaraan dalam bentuk pengisolasian
diri dalam tembok penjara, ternyata mengalami perubahan seiring dengan
kemajuan peradaban suatu bangsa. Penghargaan terhadap citra manusia menjadi
dasar utama memperlakukan si terpidana lebih manusiawi. Sehubungan dengan
itu, pemberian sanksi pidana dengan membina narapidana di Lembaga
2
Barda Nawawi Arief, Kebijaksanaan Sanksi Pidana Dalam Penanggulangan
Kejahatan, Makalah, (Semarang: Universitas Diponegoro, 1989), hal. 23.
3
Pemasyarakatan di Indonesia mengalami perubahan yang cukup berarti,
khususnya tentang metode perlakuan terhadap narapidana itu sendiri.
Pemikiran mengenai fungsi pemidanaan menurut Indonesia yang menganut ideologi Pancasila tidak lagi sekedar penjeraan tetapi juga merupakan suatu usaha rehabilitasi dan reintegrasi sosial Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang telah ditetapkan dengan suatu sistem perlakuan terhadap para pelanggar hukum di Indonesia yang dinamakan dengan sistem pemasyarakatan. Istilah pemasyarakatan untuk pertama kali disampaikan oleh Almarhum Bapak Sahardjo (Menteri Kehakiman pada saat itu) pada tanggal 5 Juli 1963 dalam pidato penganugerahan gelar Doctor Honoris Causa oleh Universitas Indonesia. Pemasyarakatan oleh beliau dinyatakan sebagai tujuan dari pidana penjara.4
Plato menyatakan bahwa tidak ada yang bisa mengubah nasib manusia
kecuali dirinya sendiri.Dengan adanya suatu perubahan memungkinkan manusia
mengenal dirinya sendiri. Proses pengenalan diri sendiri memerlukan tahap
motivasi berupa tahap kelanjutan dari introspeksi. Dalam hal pemasyarakatan,
Warga Binaan Pemasyarakatan diberikan motivasi untuk dirinya sendiri sehingga
dapat memandang positif setiap kejadian. Dengan adanya motivasi diri yang
berlangsung terus-menerus, maka akan menimbulkan suatu proses pengembangan
diri dengan tahapan self development.5
Dengan adanya Undang Undang Pemasyarakatan ini maka makin kokoh usaha-usaha untuk mewujudkan visi sistem pemasyarakatan, sebagai tatanan mengenai arah dan batas serta cara pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan berdasarkan Pancasila yang dilaksanakan secara terpadu antara Pembina, yang dibina dan masyarakat untuk meningkatkan kualitas Warga Binaan Pemasyarakatan agar menyadari kesalahan, memperbaiki diri dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali
4
Satu tahun kemudian, pada tanggal 27 April 1964 dalam Konferensi Jawatan Kepenjaraan yang dilaksanakan di Lembang Bandung, istilah pemasyarakatan dibakukan sebagai pengganti kepenjaraan. Pemasyarakatan dalam konferensi ini dinyatakan sebagai suatu system pembinaan terhadap para pelanggar hukum dan sebagai suatu pengejawantahan keadilan yang bertujuan untuk mencapai reintegrasi sosial atau pulihnya kesatuan hubungan hidup, kehidupan dan penghidupan Warga Binaan Pemasyarakatan di dalam masyarakat. Dalam perkembangan selanjutnya, pelaksanaan sistem pemasyarakatan semakin mantap dengan diundangkannya Undang Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan.
5
oleh lingkungan masyarakat, dapat aktif berperan dalam pembangunan dan dapat hidup secara wajar sebagai warga yang baik dan bertanggungjawab.6
Pembinaan diatur secara khusus dari Pasal 5 sampai dengan Pasal 9
Undang Nomor 12 Tahun 1995. Jika dilihat Pasal 6 ayat (1)
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan mengatur tentang
pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan
dan pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan dilakukan di BAPAS.
Selanjutnya dipertegas dengan Pasal 7ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun
1995 yang menyatakan bahwa pembinaan dan pembimbing Warga Binaan
Pemasyarakatan diselenggarakan oleh Menteri dan dilaksanakan oleh petugas
pemasyarakatan.7
Lembaga Pemasyarakatan sebagai ujung tombak pelaksanaan atas
pengayoman merupakan tempat untuk mencapai tujuan tersebut di atas, melalui
pendidikan, rehabilitasi dan reintegrasi. Sejalan dengan peran Lembaga
Pemasyarakatan tersebut, maka tepatlah apabila Petugas Pemasyarakatan yang
melaksanakan tugas pembinaan dan pengamanan Warga Binaan Pemasyarakatan
dalam Undang-Undang No. 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan tersebut
sebagai Pejabat Fungsional Penegak Hukum dan hal ini sesuai dengan Pasal 8
UUP yang menyatakan bahwa, .petugas pemasyarakatan adalah pejabat
6
Sahardjo yang dikenal sebagai tokoh pembaharu dalam dunia kepenjaraan, telah mengemukakan ide pemasyarakatan bagi terpidana. Alasannya: 1). Tiap orang adalah makhluk kemasyarakatan; 2) tidak ada orang yang hidup di luar masyarakat; 3) kemudian narapidana hanya dijatuhi hukuman kehilangan kemerdekaan bergerak. Jadi perlu diusahakan supaya tetap dapat mempunyai mata pencaharian.
7
fungsional penegak hukum yang melaksanakan tugas di bidang pembinaan,
pembimbingan, dan pengamanan warga binaan.
Sistem Pemasyarakatan di samping bertujuan untuk mengembalikan
Warga Binaan Pemasyarakatan sebagai warga yang baik, juga bertujuan untuk
melindungi masyarakat terhadap kemungkinan diulanginya tindak pidana oleh
Warga Binaan Pemasyarakatan, serta merupakan penerapan dan bagian yang tidak
terpisahkan dari nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.8
Pelaksanakan sistem pemasyarakatan tersebut, diperlukan juga partisipasi
atau keikutsertaan masyarakat, baik dengan mengadakan kerjasama dalam
pembinaan maupun dengan sikap bersedia menerima kembali Warga Binaan
Pemasyarakatan yang telah selesai menjalani pidananya.9
Namun demikian, setelah dirubahnya Sistem Kepenjaraan menjadi Sistem
Pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan ada hal-hal yang dapat dilihat sebagai
suatu permasalahan yang bersifat umum apabila dilihat dari visi dan misi serta
tujuan dari pemasyarakatan tersebut sebagai tempat pembinaan Narapidana dan
agar keberadaan Narapidana tersebut dapat diterima kembali oleh masyarakat
sewaktu bebas.
Lembaga Permasyarakatan merupakan salah satu komponen dalam Sistem
Peradilan Pidana di Indonesia yang bertugas melaksanakan pembinaan terhadap
narapidana. Sistem Peradilan Pidana merupakan suatu sistem penegakan hukum
sebagai upaya penanggulangan kejahatan. Sistem Peradilan Pidana terdiri dari 4
8
Adi Sujatno, Sistem Pemasyarakatan Indonesia Membangun Manusia Mandiri (Jakarta: Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Departemen Hukum dan HAM RI, 2004), hal. 21.
9
komponen (sub sistem), yaitu sub sistem kepolisian, sub sistem kejaksaan, sub
sistem pengadilan dan sub sistem lembaga pemasyarakatan.
Sistem Peradilan Pidana terbagi manjadi 3 tahap yaitu tahap sebelum
sidang pengadilan (pra adjudikasi), tahap sidang pengadilan (adjudikasi), dan
tahap setelah pengadilan (post adjudikasi). Dalam mekanisme Sistem Peradilan
Pidana mensyaratkan adanya kerjasama antar sub sistem agar Sistem Peradilan
Pidana dapat berjalan dengan baik. Keempat sub sistem dalam Sistem Peradilan
Pidana mempunyai tugas yang berbeda-beda namun keempat sub sistem tersebut
mempunyai tujuan yang sama dan mempunyai hubungan yang sangat erat.
Apabila salah satu sub sistem ada yang tidak menjalankan tugas sebagaimana
mestinya dapat mempengaruhi sistem secara keseluruhan.
Lembaga Permasyarakatan sebagai sub sistem yang paling akhir yang
langsung berhadapan dengan narapidana untuk melaksanakan pembinaan,
mempunyai posisi yang strategis dalam mewujudkan tujuan akhir dari Sistem
Peradilan Pidana. Lembaga Permasyarakatan diharapkan mampu merealisasikan
tujuan akhir Sistem Peradilan Pidana yaitu mencegah timbulnya kejahatan.
B. Permasalahan
Permasalahan dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimanakah peran lembaga pemasyarakatan dalam sistem peradilan
pidana?
2. Bagaimanakah hubungan lembaga pemasyarakatan di dalam sistem
3. Bagaimanakah hambatan lembaga pemasyarakatan dalam mencapai tujuan
sistem peradilan pidana?
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan
1. Tujuan
a. Untuk mengetahui peran lembaga pemasyarakatan dalam sistem
peradilan pidana
b. Untuk mengetahui hubungan lembaga pemasyarakatan di dalam sistem
peradilan pidana
c. Untuk mengetahui hambatan lembaga pemasyarakatan dalam
mencapai tujuan sistem peradilan pidana
2. Manfaat
a. Secara teoritis, diharapkan menjadi bahan masukan untuk
perkembangan ilmu hukum pidana, khususnya mengenai bagaimana
melaksanakan sistem pemasyarakatan di Lembaga Pemasyarakatan.
b. Secara praktis
1) Masukan bagi pihak Lembaga Pemasyarakatan untuk
mengevaluasi pelaksanaan sistem pemasyarakatan Lembaga
Pemasyarakatan sesuai dengan berpedoman Undang-Undang
Nomor 12 Tahun 1995.
2) Masukan bagi pihak Lembaga Pemasyarakatan serta instansi yang
faktor yang mendukung dalam mencapai keberhasilan sistem
pemasyarakatan di Lembaga Pemasyarakatan Binjai.
3) Masukan bagi Lembaga Pemasyarakatan dan instansi terkait untuk
dapat mencari upaya penyelesaian dalam menghadapi kendala
dalam pelaksanaan sistem pemasyarakatan di Lembaga
Pemasyarakatan.
D. Keaslian Penulisan
Penelitian mengenai “Kedudukan Lembaga Permasyarakatan (LP) Sebagai
Sub Sistem Peradilan Pidana (SPP)” ini belum pernah dilakukan dalam topik dan
permasalahan-permasalahan yang sama. Dengan demikian penelitian ini
merupakan penelitian yang baru dan asli sesuai dengan asas-asas keilmuan, yaitu
jujur, rasional, objektif dan terbuka untuk kritikan-kritikan yang sifatnya
membangun dengan topik dan permasalahan dalam penelitian ini. Semua ini
merupakan implikasi pengetahuan dalam bentuk tulisan yang dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah.
E. Tinjauan Kepustakaan
Memahami fungsi Lembaga Pemasyarakatan yang dinyatakan oleh
Sahardjo, sejak itu dipakai sistem pemasyarakatan sebagai metode dan
pemasyarakatan sebagai proses. Dengan dipakainya sistem pemasyarakatan
sebagai metode pembinaan narapidana, jelas terjadi perubahan fungsi Lembaga
pembinaan. Didalam perjalanannya, bentuk pembinaan yang diterapkan bagi
narapidana yang meliputi:10
1. Pembinaan berupa interaksi langsung sifatnya kekeluargaan antara
pembina dan yang dibina;
2. Pembinaan yang bersifat persuasif, yaitu berusaha merubah tingkah laku
melalui keteladanan;
3. Pembinaan berencana, terus-menerus dan sistematis;
4. Pembinaan kepribadian yang meliputi kesadaran beragama, barbangsa dan
bernegara, intelektual, kecerdasan, kesadaran hukum, keterampilan, mental
spiritual.
Pelaksanaan pidana penjara dengan menonjolkan aspek pembinaan di
dalam lembaga, hingga saat ini mengalami hambatan. Hal ini antara lain
disebabkan keterbatasan sarana fisik berupa bangunan penjara dan peralatan
bengkel kerja yang masih memakai peninggalan kolonial Belanda; sarana
personalia yaitu tenaga ahli yang profesional di bidang ilmu keperilakuan; sarana
administrasi dan keuangan berupa terbatasnya dana peraturan dan
perundang-undangan yang masih memakai reglemen penjara (Gestichten Reglemen 1917
No.708).11
Keterbatasan sarana dapat merupakan salah satu penghambat pembinaan
narapidana seperti yang diharapkan. Oleh karenanya, sulit untuk menghasilkan
pembinaan yang efektif, efisien serta berhasil guna. Hal ini cukup beralasan,
10
Departemen Kehakiman, Pola Pembinaan Narapidana/Tahanan, 1990 11
mengingat tujuan sistem pemasyarakatan itu sangat ideal, sedangkan sarananya
sangat terbatas. Akibatnya, setiap petugas akan mengalami kejenuhan dan
berkhayal mengenai cita-cita pemasyarakatan. Masalah pembinaan terhadap
narapidana tidak terlepas dengan pembicaraan masalah pidana, pemidanaan.
Dalam pidana hal yang tidak kalah penting adalah berkaitan dengan masalah
mengapa manusia melakukan perbuatan melanggar hukum. Dalam arti
sebab-sebab timbulnya kejahatan dan apa perlunya sanksi hukum pidana diterapkan.
Menurut peneliti sampai saat ini meskipun perubahan dalam arti sifat,
bentuk dan tujuan pidana, pidana tetap dianggap sebagai satu-satunya jawaban
akhir dalam memberantas kejahatan, padahal pandangan ini tidaklah benar karena
persoalannya bukan saja pengaruh pidana yang menakutkan atau membentuk
penegak hukum yang profesional akan tetapi ada hal lain yang penting
diperhatikan adalah adanya faktor motif timbulnya pelanggar-pelanggar hukum.12
J.E. Sahetapy dalam disertasinya, mengemukakan bahwa pemidanaan
bertujuan “pembebasan” pidana harus dapat membebaskan si pelaku dari cara atau
jalan yang keliru yang telah ditempuhnya. Maka membebaskan tidak identik
dengan pengertian rehabilitasi atau reformasi. Makna membebaskan menghendaki
agar si pelaku bukan saja harus dibebaskan dari alam pikiran yang jahat yang
keliru, melainkan ia harus pula dibebaskan dari kenyataan sosial dimana ia
terbelenggu.13
12
Oleh karena itu sampai saat ini belum dapat diberikan jawaban yang memuaskan mengapa orang melakukan kejahatan tertentu dan mengapa masih ada orang melakukan kejahatan yang sama setelah pelakunya dipidana mati.
13
J.E. Sahetapi, Suatu Studi Khusus Mengenai Ancaman Pidana Mati Terhadap
Menurut Sahetapy tidak dapat disangkal bahwa dalam pengertian pidana
tersimpul unsur-unsur penderitaan, tetapi penderitaan dalam tujuan membebaskan
bukanlah semata-mata untuk penderitaan agar si pelaku menjadi takut atau merasa
menderita akibat suatu pembalasan dendam melainkan derita itu harus dilihat
sebagai obat atau sebagai kunci jalan keluar yang membebaskan dan yang
memberikan kemungkinan bertobat dengan penuh keyakinan.14
Peter Hoefnagels mengemukakan tujuan pidana adalah untuk penyelesaian
konflik (conflict resolution), mempengaruhi para pelanggar dan orang-orang lain
ke arah perbuatan yang kurang lebih sesuai dengan hukum (influencing offenders
and possibly other than offenders toward more or less law-conforming
behavior).15
Rijksen, membedakan antara dasar hukum dari pidana dan tujuan pidana.
Dasar hukum dari pidana terletak pada pembalasan terhadap kesalahan yakni dari
pembalasan itu terletak pembenaran dari wewenang pemerintah untuk memidana
(strafbevoegdheid van de overheid). Apakah penguasa juga akan menggunakan
wewenang itu tergantung dari tujuan yang dikehendaki. Tujuan itu merupakan
penegakan wibawa, penegakan norma, menakut-nakuti, mendamaikan,
mempengaruhi tingkah laku dan menyelesaikan konflik.16
Selanjutnya Roeslan Saleh berpendapat bahwa pada hakekatnya ada dua
poros yang menentukan garis hukum pidana yaitu; pertama dari segi prevensi
yaitu bahwa hukum pidana adalah hukum sanksi, suatu upaya untuk dapat
14
Ibid, hal. 280. 15
Muladi dan Barda Nawawi Arief, Teori-Teori dan Kebijakan Pidana, (Bandung: Alumni, 1998), hal. 21.
16
mempertahankan kelestarian hidup bersama dengan melakukan pencegahan
kejahatan dan kedua dari segi pembalasan yaitu bahwa hukum pidana sekaligus
merupakan pula penentuan hukum, merupakan koreksi dari dan reaksi atas sesuatu
yang bersifat tidak hukum sehingga dapat dikatakan bahwa pidana adalah selaku
merupakan perlindungan terhadap masyarakat dan pembalasan atas perbuatan
tidak hukum.17
Memahami fungsi Lembaga Pemasyarakatan yang dilontarkan Sahardjo,
sejak itu dipakai sistem pemasyarakatan sebagai metode dan pemasyarakatan
sebagai proses. Dengan dipakainya sistem pemasyarakatan sebagai metode
pembinaan narapidana, jelas terjadi perubahan fungsi Lembaga Pemasyarakatan
yang tadinya sebagai tempat pembalasan berganti sebagai tempat pembinaan. Di
dalam perjalanannya, bentuk pembinaan yang diterapkan bagi narapidana yang
meliputi:18
1. Pembinaan berupa interaksi langsung sifatnya kekeluargaan antara
pembina dan yang dibina;
2. Pembinaan yang bersifat persuasif, yaitu berusaha merubah tingkah laku
melalui keteladanan;
3. Pembinaan berencana, terus-menerus dan sistematis;
4. Pembinaan kepribadian yang meliputi kesadaran beragama, barbangsa dan
bernegara, intelektual, kecerdasan, kesadaran hukum, keterampilan, mental
spiritual.
17
Disamping mengandung hal-hal lain yaitu bahwa pidana diharapkan sebagai sesuatu yang akan membawa kerukunan dan pidana adalah suatu proses pendidikan untuk menjadikan orang dapat diterima kembali dalam masyarakat.
18
Keterbatasan sarana dapat merupakan salah satu penghambat pembinaan
narapidana seperti yang diharapkan. Oleh karenanya, sulit untuk menghasilkan
pembinaan yang efektif, efisien serta berhasil guna. Hal ini cukup beralasan,
mengingat tujuan sistem pemasyarakatan itu sangat ideal, sedangkan sarananya
sangat terbatas. Akibatnya, setiap petugas akan mengalami kejenuhan mengenai
cita-cita pemasyarakatan.
Richard D. Schwartz dan Jerome H. Skolnick, menyatakan sanksi pidana
dimaksudkan untuk a) mencegah terjadinya pengulangan tindak pidana (to prevent
recidivism); b) mencegah orang lain melakukan perbuatan yang sama similar
acts); c) menyediakan saluran untuk mewujudkan motif-motif balas (to provide a
channel for the expression of realiatory motives).19
Selanjutnya Emile Durkheim mengatakan mengenai fungsi dari pidana
adalah untuk menciptakan kemungkinan bagi pelepasan emosi-emosi yang
ditimbulkan atau diguncangkan oleh adanya kejahatan (the function of punishment
is to create a possibility for the release of emotion that are aroused by the time).20
Roger Hood berpendapat bahwa sasaran pidana disamping untuk
mencegah terpidana atau pembuat potensial melakukan tindak pidana juga untuk,
pertama memperkuat kembali nilai-nilai sosial (reinforcing social values), kedua
menentramkan rasa takut masyarakat terhadap kejahatan (allaying public fear of
crime).21
Ahli di bidang kepenjaraan (penolog) mengakui bahwa ada 3 (tiga) elemen
pokok apabila tujuan pemasyarakatan tercapai, yaitu: 1) petugas; 2) narapidana;
19
Muladi dan Barda Nawawi Arief, Op. cit, hal. 20. 20
Ibid, hal. 19. 21
dan 3) masyarakat. Dipertimbangkannya unsur masyarakat adalah sesuatu yang
rasional dan tepat mengingat beberapa hal bahwa narapidana adalah anggota
masyarakat yang telah melanggar hukum, serta narapidana juga nantinya setelah
lepas menjalani hukuman kembali ke masyarakat.22
Sistem pemasyarakatan sebagai petunjuk arah pembinaan narapidana di
Lembaga Pemasyarakatan belum mencapai hasil yang memadai, dengan beberapa
indikator:23
1. Narapidana yang melarikan diri dari Lembaga Pemasyarakatan.
2. Pelanggaran hak-hak narapidana.
3. Penolakan bekas narapidana oleh masyarakat.
4. Keterbatasan sarana maupun prasarana dalam mendukung pembinaan.
F. Metode Penelitian
1. Sifat dan Jenis Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif analistis, artinya bahwa penelitian ini
termasuk lingkup penelitian yang menggambarkan, menelaah dan menjelaskan
secara tepat serta menganalisa peraturan perundang-undangan yang berkaitan
dengan kedudukan lembaga pemasyarakatan sebagai subsistem peradilan pidana.
Metode yang digunakan adalah metode penelitian normatif yang
merupakan prosedur penelitian ilmiah untuk menemukan kebenaran berdasarkan
22
Hal ini berarti bahwa pembinaan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan dirasakan tidak mencukupi karena pembinaan hanya sebatas masa hukuman.
23
logika keilmuan hukum dari sisi normatifnya.24 Logika keilmuan yang juga dalam
penelitian hukum normatif dibangun berdasarkan disiplin ilmiah dan cara-cara
kerja ilmu hukum normatif, yaitu ilmu hukum yang objeknya hukum itu sendiri.
Dengan demikian penelitian ini meliputi penelitian terhadap
sumber-sumber hukum, peraturan perundang-undangan, keputusan pengadilan,
dokumen-dokumen terkait dan beberapa buku tentang kedudukan lembaga pemasyarakatan
sebagai subsistem peradilan pidana.
2. Sumber Data
a. Bahan hukum primer
Bahan hukum primer adalah dokumen peraturan yang mengikat dan
ditetapkan oleh pihak yang berwenang.25 Dalam penelitian ini bahan
hukum primer diperoleh melalui Kitab Undang-undang Hukum
Pidana, Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, Undang-Undang
Nomor 12 Tahun 1995 tentang Lembaga Pemasyarakatan, dan
peraturan lain yang terkait.
b. Bahan Hukum Sekunder
Yaitu semua dokumen yang merupakan informasi, atau kajian yang
berkaitan dengan penelitian ini, yaitu seminar-seminar, jurnal-jurnal
hukum, majalah-majalah, koran-koran, karya tulis ilmiah, dan
beberapa sumber dari internet.
24
Johnny Ibrahim, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, (Malang: UMM Press, 2007), hal. 57.
25
3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara penelitian kepustakaan
(Library Research), yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara meneliti bahan
pustaka atau yang disebut dengan data sekunder. Adapun data sekunder yang
digunakan dalam penulisan skripsi ini antara lain berasal dari buku-buku baik
koleksi pribadi maupun dari perpustakaan, artikel-artikel baik yang diambil dari
media cetak maupun media elektronik, dokumen-dokumen pemerintah, termasuk
peraturan perundang-undangan.
4. Analisis Data
Data sekunder yang telah disusun secara sistematis kemudian dianalisa
dengan menggunakan metode deduktif dan induktif. Metode deduktif dilakukan
dengan membaca, menafsirkan dan membandingkan, sedangkan metode induktif
dilakukan dengan menerjemahkan berbagai sumber yang berhubungan dengan
topik skripsi ini, sehingga diperoleh kesimpulan yang sesuai dengan tujuan
penelitian yang telah dirumuskan.
G. Sistematika Penulisan
BAB I: Bab ini merupakan bab pendahuluan yang isinya antara lain
memuat Latar Belakang, Pokok Permasalahan, Tujuan dan
Manfaat Penulisan, Tinjauan Kepustakaan, Metode
Penelitian dan Sistematika Penulisan.
BAB II : Bab ini akan membahas peran lembaga pemasyarakatan dalam
peradilan pidana, fungsi dan tujuan sistem peradilan pidana, model
dan sistem peradilan pidana dan peranan lembaga pemasyarakatan
dalam sistem peradilan pidana.
BAB III: Bab ini akan membahas tentang hubungan lembaga
pemasyarakatan di dalam sistem peradilan pidana, yang mengulas
tentang lembaga pemasyarakatan, kedudukan lembaga
pemasyarakatan, dan hubungan lembaga pemasyarakatan di dalam
sistem peradilan pidana.
BAB IV: Bab ini akan dibahas tentang hambatan lembaga pemasyarakatan
dalam mencapai tujuan sistem peradilan pidana, yang membahas
dan menganalisa hubungan internal lembaga pemasyarakatan
dengan sistem peradilan pidana dan hubungan eksternal lembaga
pemasyarakatan dengan sistem peradilan pidana.
BAB V: Bab ini merupakan bab terakhir, yaitu sebagai bab penutup yang
berisi kesimpulan dan saran-saran mengenai permasalahan yang
BAB II
PERAN LEMBAGA PEMASYARAKATAN DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA
A. Pengertian Sistem Peradilan Pidana
Sistem Peradilan Pidana adalah sistem yang dibuat untuk menanggulangi
masalah-masalah kejahatan yang dapat mengganggu ketertiban dan mengancam
rasa aman masyarakat, merupakan salah satu usaha masyarakat untuk
mengendalikan terjadinya kejahatan agar berada dalam batas-batas toleransi yang
dapat diterima.7 Pelaksanaan peradilan pidana adalah upaya untuk menanggulangi
kejahatan yang terjadi di masyarakat dengan mengajukan para pelaku kejahatan
ke pengadilan sehingga menimbulkan efek jera kepada para pelaku kejahatan dan
membuat para calon pelaku kejahatan berpikir dua kali sebelum melakukan
kejahatan.26
Menurut Muladi, sistem peradilan pidana sesuai dengan makna dan ruang
lingkup sistem dapat bersifat phisik dalam arti sinkronisasi struktural (structural
syncronization) dalam arti keselarasan mekanisme administrasi peradilan pidana,
dapat pula bersifat substansial (substancial syncronization) dalam kaitannya
dengan hukum positif yang berlaku, dan dapat pula bersifat kultural (cultural
syncronization) dalam arti menghayati pandangan, sikap, dan falsafah yang secara
menyeluruh mendasari jalannya sistem peradilan pidana.27
26
Abdussalam dan DPM Sitompul, Sistem Peradilan Pidana, (Jakarta: Restu Agung, 2007), hal 4.
27
Sistem Peradilan Pidana yang Terpadu (SPPT) atau Integrated Criminal
Justice System (ICJS) merupakan unsur hukum pidana yang sangat penting dalam
kerangka penegakan hukum pidana materil. Philip. P. Purpura menyatakan bahwa
sistem peradilan pidana (criminal justice system) merupakan suatu sistem yang
terdiri dari Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan, dan Lembaga Pemasyarakatan
yang bertujuan untuk melindungi dan menjaga ketertiban masyarakat,
mengendalikan kejahatan, melakukan penangkapan, dan penahanan terhadap
pelaku kejahatan, memberikan batasan bersalah atau tidaknya seseorang,
memidana pelaku yang bersalah dan melalui komponen sistem secara keseluruhan
dapat memberikan perlindungan hukum terhadap hak-hak terdakwa.28
Sistem peradilan pidana yang sudah dipunyai sebagaimana tergambar
dalam KUHAP (Undang-Undang No. 8 Tahun 1981), adalah gambaran betapa
komponen hukum pidana yang dipunyai kurang mampu diharapkan untuk
mengawal penegakan hukum pidana materil.29 Kelemahan mendasar yang terlihat
dari KUHAP adalah terabaikannya hak-hak tersangka/ terdakwa/ terpidana dan
korban kejahatan yang harus diperhatikan kemungkinan mendapatkan
perlindungan hukum akan hak-haknya sebagai korban kejahatan, tidak mendapat
pengaturan yang memadai. Kekerasan baik fisik maupun psikis seringkali dialami
oleh tersangka/ terdakwa/ terpidana ketika mereka harus mengikuti prosedur tetap
yang dimainkan oleh aparat penegak hukum dengan dalih semua perbuatan aparat
penegak hukum sudah menjalankan tugas dan kewajiban penegakan hukum sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dalam hal ini KUHAP.
28
Sidik Sunaryo, Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana, (Malang: UMM Press, 2005), hal. 2
Pada dasarnya, asas peradilan yang paling mendasar dari pelaksanaan dan
pelayanan administrasi peradilan mengarah pada prinsip dan asas efektif dan
efisien adalah asas sederhana, cepat dan murah. Namun demikian, penyelesaian
perkara di Pengadilan sangat bergantung pada beberapa faktor yaitu : faktor
substansi perkara, faktor pencari keadilan, faktor kuasa hukum, faktor kesiapan
alat-alat bukti, faktor sarana dan prasarana, faktor budaya hukum, faktor
komunikasi dalam persidangan, faktor pengaruh dari luar, faktor aparat
pengadilan, faktor hakim, dan faktor manajeman.30 Walaupun faktor-faktor diatas
mempunyai pengaruh, namun pelaksanaan asas sederhana, cepat, murah, masih
merupakan faktor yang menentukan dalam pelaksanaan pelayanan administrasi
peradilan yang benar-benar sederhana, cepat dan murah.
Sederhana dimaknai bahwa dalam peradilan pidana diharapkan sebagai
proses yang tidak bertele-tele, berbeli-belit, tidak berliku-liku, tidak rumit, jelas,
lugas, mudah dipahami,mudah diterapkan, sistematis, baik untuk pencari keadilan
maupun aparat penegak hukum. Namun dalam praktek nyata, sering kali asas
tersebut dipahami secara beragam oleh aparat penegak hukum disemua tingkatan.
Pemahaman oleh aparat penegak hukum lebih dimaksudkan sebagai proses
birokrasi yang wajib dilalui oleh pencari keadilan, dan dipihak lain aparat penegak
hukum mempunyai kewajiban untuk menerapkannya sesuai dengan pemahaman
aparat penegak hukum sendiri.
Kesederhanaan seharusnya dipahami tidak sebatas pada persoalan
administrasi saja, namun juga harus menjadi jiwa dan semangat motivasi aparat
penegak hukum dalam gaya dan pola kehidupan sehari-hari. Konsistensi dan
komitmen aparat penegak hukum dalam menjalankan asas sederhana juga harus
dimulai dalam diri sendiri, kemudian pada insitusi dalam semua tingkatan
(kepolisian, kejaksaan, pengadilan, lembaga pemasyarakatan, dan advokat).
Cepat, dimaknai sebagai upaya strategis untuk menjadikan sistem
peradilan pidana sebagai institusi yang dapat menjamin terwujudnya/ tercapainya
keadilan dalam penegakan hukum secara cepat oleh pencari keadilan. Baik cepat
dalam proses, cepat dalam hasil, dan cepat dalam evaluasi terhadap kinerja dan
tingkat produktifitas institusi peradilan (kepolisian, kejakasaan, pengadilan,
lembaga pemasyarakatan, dan advokat). Satu saja komponen tidak berfungsi maka
unsur cepat tidak akan tercapai.31 Kecepatan proses, hasil, dan evaluasi tersebut
menggunakan ukuran parameter dari prinsip tepat dan cermat.
Tepat dalam penerapan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
dipergunakan sebagai dasar yuridis keputusannya (tidak bertentangan dengan
asas-asas hukum umum yang berlaku secara universal seperti lex specialis de
rogat lex generalis dan lainnya), tepat dalam memilih dan memilah Pasal-Pasal
yang dipergunakan sebagai dasar dalam pertimbangan keputusannya, tepat dalam
mengolah dan memahami secara filosofis (bersandar pada nilai-nilai keadilan
yang berkembang di masyarakat maupun yang terkandung dalam hukum positif)
terhadap keputusannya, tepat dalam menentukan kerangka sosiologis (menjamin
rasa keadilan masyarakat, mengembalikan dan menjaga keseimbangan sosial,
mempunyai manfaat). Demikian juga tindakan penegak hukum harus cermat,
31
dalam arti mengandung unsur kehati-hatian, ketelitian, kesungguhan, dalam
proses, hasil maupun evaluasinya.
Murah, mengandung makna bahwa mencari keadilan melalui lembaga
peradilan adalah tidak sekedar orang mempunyai harapan akan jaminan keadilan
di dalamnya, tetapi harus ada jaminan bahwa keadilan tidak mahal, keadilan tidak
dapat dimaterialisasikan, keadilan mempunyai sifat mandiri dan bebas dari
nilai-nilai lain yang dapat mengaburkan nilai-nilai keadilan itu sendiri, keadilan tidak dapat
diperjualbelikan, keadilan bukan merupakan komoditas, keadilan bukan
merupakan kata dengan sejuta pesimisme, keadilan tidak dapat dikuantifikasikan
dalam bentuk dan jenis apapun, keadilan adalah kebutuhan dasar bagi manusia
yang hidup di dunia secara universal.
Apabila asas sederhana, cepat, murah sebagaimana telah diuraikan diatas
menjadi semangat para penegak hukum, maka sistem peradilan pidana yang
efektif dan efisien dapat diwujudkan. Persoalan kualifikasi sumber daya manusia
yang menjadi penegak hukum dalam hal ini, memang menjadi kendala yang
serius. Pembenahan sistem peradilan pidana akhirnya tidak dapat hanya
bergantung dalam pemahaman harfiah dari penegak hukum terhadap asas
sederhana, cepat, dan murah saja, namun lebih dari itu semua adalah nurani
penegak hukum, pencari keadilan, penguasa, legislatif dan sistem yang
membingkai institusi peradilan juga menjadi faktor dominan. Di Indonesia,
peradilan pidana mengacu pada kodifikasi pidana formil yaitu Kitab
Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang diberlakukan melalui
signifikan dalam rangka untuk mengatasi kekosongan dan kekurangan hukum
pidana formil yang hanya mendasarkan pada acuan Undang-Undang No. 8 Tahun
1981. Payung hukum untuk menutupi kekosongan dan kelemahan tersebut adalah
apa yang disebut dengan kebijakan pidana.
Sementara itu tuntutan perkembangan sistem informasi dan teknologi,
semakin sulit untuk dikejar dan diimbangi hanya dengan Undang-Undang ini.
Ketentuan mengenai proses beracara untuk kasus-kasus pidana di Indonesia harus
mengacu pada ketentuan umumnya yakni KUHAP, disamping juga terdapat
ketentuan hukum pidana formil selain yang telah diatur dalam KUHAP tersebut,
yang tersebar dalam Undang-Undang di luar KUHP (Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana). Namun terjadi masalah yang sering menjadi penghalang
tercapainya peradilan yang diharapkan.
Apabila dicermati, muara persoalan tersebut mengarah kepada tiga hal
yaitu : tidak ada sanksi apabila prosedur yang ditetapkan tersebut dilanggar,
termasuk pelanggaran terhadap hak-hak yang telah dirumuskan, kurang efektif
dan efisien dalam penyelenggaraan peradilan pidana, karena terdapat tahapan
proses yang tidak diperlakukan dan mubazir serta berbelit dan sia-sia, formulasi
Pasal-Pasal sangat memungkinkan adanya interpretasi yang berbeda-beda, yang
kemudian dilaksanakan oleh aparat penegak hukum.32
Berbagai kendala dan kelemahan yang terjadi, juga tidak diiringi dengan
mekanisme pengawasan yang baik dan transparan. Walaupun ada lembaga
pengawas, biasanya juga tidak berjalan dengan efektif. Kehadiran
32
lembaga pengawas tidak memberikan arti dan makna yang cukup berarti dalam
menjamin terwujudnya penegakan hukum. Banyak pengaduan, laporan, dan
desakan baik secara demokratis dan tidak jarang dapat mengundang aksi-aksi
kekerasan yang dilakukan masyarakat atas ketidakpuasan kinerja
lembaga-lembaga pengawas tersebut.
B. Fungsi dan Tujuan Sistem Peradilan Pidana
Pelaksanaan sistem peradilan pidana masih memiliki banyak kelemahan
dalam berbagai aspek. Kelemahan tersebut salah satunya bersumber dari
perangkat hukum positif yang belum sepenuhnya mendukung terciptanya sistem
peradilan pidana yang transparan, akuntabel. Kelemahan-kelemahan tersebut
dapat turut mempengaruhi kegagalan sistem peradilan pidana dalam mencapai
tujuannya. Pada gilirannya, akan menghambat upaya pengendalian kejahatan di
masyarakat karena pada dasarnya, menurut Mardjono Reksodiputro, sistem
peradilan pidana merupakan salah satu usaha masyarakat untuk mengendalikan
terjadinya kejahatan agar berada dalam batas toleransi yang dapat diterimanya.33
Sistem peradilan pidana pada hakekatnya juga merupakan masalah sosial.
Hulsman mengungkapkan, terdapat empat alasan yang menunjukkan bahwa
sistem peradilan pidana merupakan masalah sosial (social problem), yaitu:34
1. The criminal justice system inflict suffering
2. The criminal justice system does not work in terms of its own declared
aims
33
Mardjono Reksodiputro, Kriminologi dan Sistem Peradilan Pidana, (Jakarta: Pusat Pelayanan Keadilan dan Pengabdian Hukum Universitas Sumatera Utara, 1994), hal. 140.
34
3. Fundamental uncontrollability of criminal justice system
4. Criminal justice approach is fundamentally flawed.
Dalam hal fungsi sistem peradilan pidana sebagai pengendali kejahatan,
Noval Morris berpendapat, bahwa:35
The Criminal Justice System is best seen as a crime conteinment system, one of the method that society uses to keep crime at whatever level each particular culture is willing to eccept. But, to a degree, the criminal justice system is also involved in the secondary prevention of crime, that is to say, in trying to reduce criminality among those who have been convicted of crimes and trying by deterrent processes of detection, convistion, and punishment to reduce the commission of crime by those who are so mended and so acculturated.
Tujuan Sistem Peradilan Pidana menurut Muladi dapat dikategorikan
sebagai berikut:
1. Tujuan jangka pendek, apabila yang hendak dicapai resosialisasi dan
rehabilitasi pelaku tindak pidana
2. Dikategorikan sebagai tujuan jangka menengah, apabila yang hendak
dituju lebih luas yakni pengendalian dan pencegahan kejahatan dalam
konteks politik criminal (criminal policy)
3. Tujuan jangka panjang, apabila yang hendak dicapai adalah kesejahteraan
masyarakat (social welfare) dalam konteks politik sosial (social policy).36
Lebih lanjut Mardjono Reksodiputro mengemukakan bahwa tujuan sistem
peradilan pidana adalah (a) mencegah masyarakat menjadi korban kejahatan; (b)
menyelesaikan kasus kejahatan yang terjadi sehingga masyarakat puas bahwa
35
UNAFEI, Criminal Justice System: The Quest for an Integrated Approach, (Unafei, 1982), hal. 5.
36
Muladi dalam Petrus Irawan P dan Pandapotan Simorangkir, Lembaga
Pemasyarakatan dalam Perspektif Sistem Peradilan Pidana, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,
keadilan telah ditegakkan dan yang bersalah dipidana; dan (c) mengusahakan agar
mereka yang pernah melakukan kejahatan tidak mengulangi lagi kejahatan.37
Sedangkan fungsi dan tujuan dari SPPT seperti yang digambarakan oleh
Davies, Croall, and Tyrer sebagai berikut:38
1. protecting the public by preventing and dettering crime, by rehabilitating
offenders in incapacitating others who continue a persistant threat to the
community.
2. upholding and promoting the rule of law and respect for the law, by
ensuring due process and proper treatment of suspect, arrestees,
defendand and those held in custody, successfully prosecuting criminal
and acquitting innoncent people accused of a crime
3. maintaining law and order.
4. punishing criminals with regard to the principles of just deserts.
5. registering social disapproval of censured behaviour by punishing
criminals.
6. aiding and
7. advising the victims of crime.
Dengan bahasa yang lebih sederhana Loebby Loqman berpendapat tujuan
sistem peradilan pidana adalah menghilangkan kejahatan (bukan penjahatnya)
untuk mencapai suatu masyarakat yang terbebas dari kejahatan.39
37
Mardjono Reksodiputro, Hak Asasi Manusia.., op.cit., hal.84 38
Davies, Croall, and Tyrer, An Introduction the Criminal Justice System in England and
Wales, (London: Longman, 1995), hal. 4.
39
C. Model dan Sistem Peradilan Pidana
Berlakunya Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 (KUHAP) untuk
menggantikan HIR yang dipandang sudah tidak sesuai dengan cita-cita nasional
Indonesia., membawa perubahan fundamental terhadap tata cara penyelesaian
perkara pidana di Indonesia secara konsepsional maupun implemental.
KUHAP meletakkan dasar humanisme didalamnya sehingga tujuan utama
yang hendak dicapai bukanlah ketertiban dan kepastian hukum tetapi
perlindungan atas hak asasi seorang tersangka atau terdakwa. Perlindungan hak
asasi seorang tersangka atau terdakwa diharapkan dilaksanakan pada setiap
tingkat pemeriksaan perkara pidana yaitu mulai dari seorang tersangka ditangkap,
ditahan, dituntut dan diadili di pengadilan. Dalam Undang-Undang Nomor 8
tahun 1981 juga terkandung harapan untuk memberikan kekuasaan kehakiman
yang bebas dan bertanggung jawab dalam memeriksa dan memutuskan suatu
perkara pidana.
Herbert L. Packer dalam bukunya The Limits of The Criminal Sanction,
mengungkapkan ada dua model dalam proses peradilan pidana (Two Models of
The criminal Process), yaitu crime control model (model pengendalian kejahatan)
dan due process model (model perlindungan hak).40
Crime control model adalah bentuk pendekatan yang memandang pelaku
kejahatan sebagai objek dalam pemeriksaan perkara sedangkan due process model
adalah bentuk pendekatan yang memandang pelaku kejahatan sebagai subjek
dalam pemeriksaan perkara.
40
Karakteristik dari crime control model adalah efesiensi bekerjanya proses
pemeriksaan perkara yaitu cepat tangkap dan cepat diadili serta digunakannya
asas praduga bersalah sedangkan karakteristik due process model adalah
perlindungan hak-hak tersangka dan untuk menentukan kesalahan seseorang harus
melalui suatu persidangan yang adil dan tidak memihak.
Berdasarkan makna yang terkandung dalam KUHAP yaitu perlindungan
terhadap harkat dan martabat manusia dapat diketahui bahwa pendekatan yang
digunakan dalam Sistem Peradilan Pidana di Indonesia adalah pendekatan due
process model.
D. Peranan Lembaga Pemasyarakatan dalam Sistem Peradilan Pidana
Sistem peradilan pidana Indonesia setelah berlakunya Undang-Undang
Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana memiliki empat sub sistem,
yaitu: Kepolisian yang secara administratif di bawah Departemen Pertahanan dan
Keamanan, Kejaksaan di bawah Kejaksaan Agung, Pengadilan di bawah
Mahkamah Agung serta Lembaga Pemasyarakatan di bawah Departemen
Kehakiman. Lembaga pemasyarakatan sebagai bagian dari sistem peradilan
pidana mempunyai tugas dan tanggung jawab yang sama dengan sub sistem
lainnya.
Sebagai lembaga pembinaan, perannya sangat strategis dalam
merealisasikan tujuan akhir dari sistem peradilan pidana, yaitu rehabilitasi dan
resosialisasi pelanggar hukum, bahkan sampai kepada penanggulangan kejahatan
oleh lembaga pemasyarakatan akan memberikan kemungkinan-kemungkinan
penilaian yang dapat bersifat positif maupun negatif. Penilaian itu dapat positif
manakala pembinaan narapidana mencapai hasil maksimal, yaitu bekas
narapidana itu menjadi warga masyarakat yang taat pada hukum. Penilaian itu
dapat negatif apabila bekas narapidana yang pernah dibina itu menjadi penjahat
kembali. Kegagalan lembaga pemasyarakatan dalam membina narapidana
merupakan kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Fakta ini telah mensahkan
kegagalan tugas lembaga pemasyarakatan.
Beban yang sangat menghimpit dalam menjalankan tugasnya adalah tidak
sebanding falsafah pembinaan yang baru berupa pemasyarakatan sebagai proses,
dengan sistem pemasyarakatan sebagai metodenya yang masih memakai
Gestichten Reglemen (Reglemen Penjara) 1917 No. 708; dengan sebagian sarana
fisik berupa bangunan penjara sudah tidak memenuhi persyaratan kesehatan
maupun peralaan kerja, terlebih sarana personalia berupa tenaga pembina yang
sangat minim.
Di lain pihak, sistem pemasyarakatan itu mempunyai tujuan akhir:
“memulihkan kesatuan hubungan sosial (reintegrasi sosial) warga binaan dengan/
ke dalam masyarakat, khususnya masyarakat di tempat tinggal asal mereka
melalui suatu proses (proses pemasyarakatan/ pembinaan) yang melibatkan
unsur-unsur atau elemen-elemen, petugas pemasyarakatan, narapidana dan masyarakat”.
Dapat dibayangkan bahwa yang paling banyak melakukan hubungan
dengan narapidana saat menjalani hukuman adalah para petugas yang tingkat
narapidana berbeda-beda pula. Jadi dalam hal ini, usaha pembinaan narapidana
lebih banyak ditentukan oleh kemampuan petugas untuk memberikan pengarahan
dan bimbingan yang bersifat psikologis serta pribadi.
Dengan tidak mengecilkan arti kemampuan petugas Pembina yang
berpendidikan setingkat Sekolah Menengah Atas, tetapi merupakan suatu fakta
kalau dikatakan bahwa petugas Pembina dalam melakukan pembinaan di dalam
lembaga lebih banyak mengandalkan pendekatan ketertiban.
Oleh karena itu, lembaga pemasyarakatan membutuhkan tenaga-tenaga
yang berkualitas, seperti apa yang dikatakan oleh Karsono Adisumarto, bahwa
pelaksanaan pemasyarakatan pada hakikatnya memerlukan tenaga-tenaga ahli
seperti psikiater, psikolog, sosiolog, dokter, insinyur, ahli perusahaan dan
lain-lain, sesuai dengan kebutuhan teknis operasional lembaga pemasyarakatan. Hal ini
berarti bahwa sifat pekerjaan pemasyarakatan memerlukan kualitas personil
tertentu.
Memahami keberadaan lembaga pemasyarakatan sebagai penerima
orang-orang yang dinyatakan sebagai penjahat, secara psikologis memiliki beban yang
cukup berat bagi sub sistem lainnya yang dalam tugasnya mau menentukan atau
menyatakan seeorang itu bersalah. Hal seperti di atas terjadi dan dialami oleh
lembaga pemasyarakatan. Beban berat yang diberikan kepada lembaga ini
sekaligus menampakkan dirinya sebagai sub sistem yang punya potensi
melakukan rehabilitasi.
Ketidaktenteraman di dalam penjara merupakan suatu gambaran
Ketidakstabilan personil yang melakukan pekerjaannya sangat dipengaruhi oleh
berbagai faktor, antara lain kesejahteraan yang kurang memadai jika dibandingkan
dengan tugas dan tanggung jawabnya yang cukup berat. Bahkan kalau terjadi
perkelahian atau penyimpangan bahkan pelarian narapidana, maka hal ini akan
berakibat terhadap kondisi kepegawaiannya. Di samping itu faktor pendidikan dan
BAB III
HUBUNGAN LEMBAGA PEMASYARAKATAN DI DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA
A. Lembaga Pemasyarakatan
Adanya model pembinaan bagi narapidana di dalam Lembaga
Pemasyarakatan tidak terlepas dari sebuah dinamika, yang bertujuan untuk lebih
banyak memberikan bekal bagi Narapidana dalam menyongsong kehidupan
setelah selesai menjalani masa hukuman (bebas). Seperti halnya yang terjadi jauh
sebelumnya, peristilahan Penjara pun telah mengalami perubahan menjadi
pemasyarakatan. Tentang lahirnya istilah Lembaga Pemasyarakatan dipilih sesuai
dengan visi dan misi lembaga itu untuk menyiapkan para narapidana kembali ke
masyarakat. Istilah ini dicetuskan pertama kali oleh Rahardjo, S.H. yang menjabat
Menteri Kehakiman RI saat itu.41
Pemasyarakatan dinyatakan sebagai suatu sistem pembinaan terhadap para
pelanggar hukum dan sebagai suatu pengejawantahan keadilan yang bertujuan
untuk mencapai reintegrasi sosial atau pulihnya kesatuan hubungan antara Warga
Binaan Pemasyarakatan dengan masyarakat. Dalam perkembangan selanjutnya
Sistem Pemasyarakatan mulai dilaksanakan sejak tahun 1964 dengan ditopang
oleh UU No 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan. UU Pemasyarakatan itu
menguatkan usaha-usaha untuk mewujudkan suatu sistem Pemasyarakatan yang
41
merupakan tatanan pembinaan bagi Warga Binaan Pemasyarakatan. Dengan
mengacu pada pemikiran itu, mantan Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaludin
mengatakan bahwa pemasyarakatan adalah suatu proses pembinaan yang
dilakukan oleh negara kepada para narapidana dan tahanan untuk menjadi
manusia yang menyadari kesalahannya.
Selanjutnya pembinaan diharapkan agar mereka mampu memperbaiki diri
dan tidak mengulangi tindak pidana yang pernah dilakukannya. Kegiatan di dalam
LP bukan sekedar untuk menghukum atau menjaga narapidana tetapi mencakup
proses pembinaan agar warga binaan menyadari kesalahan dan memperbaiki diri
serta tidak mengulangi tindak pidana yang pernah dilakukan. Dengan demikian
jika warga binaan di LP kelak bebas dari hukuman, mereka dapat diterima
kembali oleh masyarakat dan lingkungannya dan dapat hidup secara wajar seperti
sediakala. Fungsi Pemidanaan tidak lagi sekedar penjeraan tetapi juga merupakan
suatu proses rehabilitasi dan reintegrasi sosial Warga Binaan yang ada di dalam
LP. Tentu saja hal ini sangat kontradiktif apabila dibandingkan dengan visi dan
misi pemasyaratan sebagai tempat pembinaan narapidana, agar keberadaannya
dapat diterima kembali oleh masyarakat sewaktu bebas. Perlu untuk sejenak
melihat kembali tujuan pengadaan Lembaga Pemasyarakatan sebagai tempat
untuk membina dan menyiapkan seorang narapidana menjadi “lurus” dan siap
terjun kembali ke masyarakatnya kelak.42
Lembaga Pemasyarakatan selain sebagai tempat pemidanaan juga
berfungsi untuk melaksanakan program pembinaan terhadap para narapidana,
dimana melalui program yang dijalankan diharapkan narapidana yang
bersangkutan setelah kembali ke masyarakat dapat menjadi warga yang berguna
di masyarakat. Pembinaan adalah kegiatan untuk meningkatkan kualitas
ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, intelektual, sikap dan perilaku,
profesional, kesehatan jasmani dan rohani narapidana dan anak didik
pemasyarakatan.43
Sebagai suatu program, maka pembinaan yang dilaksanakan dilakukan
melalui beberapa tahapan. Pembinaan yang dilaksanakan berdasarkan Surat
Edaran No. KP.10.13/3/1 tanggal 8 Februari 1965 tentang Pemasyarakatan
sebagai proses, maka pembinaan dilaksanakan melalui empat (4) tahapan sebagai
suatu kesatuan proses yang bersifat terpadu, yaitu:44
Tahap Pertama:
Pembinaan tahap ini disebut pembinaan tahap awal, dimana kegiatan masa pengamatan, penelitian dan pengenalan lingkungan untuk menentukan perencanaan program pembinaan kepribadian dan kemandirian yang waktunya dimulai pada saat yang bersangkutan berstatus sebagai narapidana sampai dengan 1/3 (sepertiga) dari masa pidananya. Pembinaan pada tahap ini masih dilakukan dalam LAPAS dan pengawasannya
maksimum security.
Tahap kedua:
Jika proses pembinaan terhadap narapidana yang bersangkutan telah berlangsung selama-lamanya 1/3 dari masa pidana yang sebenarnya dan menurut pendapat Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) sudah dicapai cukup kemajuan, antara lain menunjukkan keinsyafan, perbaikan disiplin dan patuh pada peraturan tata tertib yang berlaku di lembaga, maka kepada narapidana yang bersangkutan diberikan kebebasan lebih banyak dan ditempatkan pada LAPAS melalui pengawasan medium security.
43
PP 31 Tahun 1999 tentang Pembinaan dan Pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan, pasal 1 ayat (1)
44
Tahap ketiga:
Jika proses pembinaan terhadap narapidana telah dijalani ½ dari masa pidana yang sebenarnya dan menurut tim TPP telah dicapai cukup kemajuan, maka wadah proses pembinaan diperluas dengan Asimilasi yang pelaksanaannya terdiri dari dua bagian yaitu yang pertama dimulai sejak berakhirnya tahap awal sampai dengan ½ dari masa pidananya, tahap kedua dimulai sejak berakhirnya masa lanjutan pertama sampai dengan 2/3 dari masa pidananya. Dalam tahap ini dapat diberikan Pembebasan Bersyarat atau Cuti Menjelang Bebas dengan pengawasan minimum
security.
Tahap keempat :
Pembinaan pada tahap ini terhadap narapidana yang memenuhi syarat diberikan Cuti Menjelang Bebas atau Pembebasan Bersyarat dan pembinaannya dilakukan di luar LAPAS oleh Balai Pemasyarakatan (Bapas) yang kemudian disebut Pembimbingan Klien Pemasyarakatan.
B. Tujuan Lembaga Pemasyarakatan dalam Sistem Peradilan Pidana
Tujuan pembinaan bagi narapidana, berkaitan erat dengan tujuan
pemidanaan. Dalam Rancangan KUHP Nasional telah diatur tujuan penjatuhan
pidana yaitu :
1. Mencegah dilakukanya tindak pidana dengan menegakan norma hukum
demi pengayoman masyarakat.
2. Mengadakan koreksi terhadap terpidana, dengan demikian menjadikannya
orang baik dan berguna, serta mampu untuk hidup bermasyarakat.
3. Menyelesaikan konflik yang ditimbulkan oleh tindak pidana, memulihkan
4. Membebaskan rasa bersalah pada terpidana.45
Pembinaan terpidana itu bertujuan agar ia mempunyai kesanggupan untuk
menjadi peserta aktif dan kreatif dalam kesatuan hubungan hidup sebagai warga
masyarakat Indonesia yang menghormati hukum, sadar akan bertanggung jawab
dan berguna.46
C. Kedudukan Lembaga Pemasyarakatan
Konsep kebijakan penanggulangan kejahatan yang integral mengandung
konsekuensi segala usaha yang rasional untuk menanggulangi kejahatan harus
merupakan satu kesatuan yang terpadu. Ini berarti kebijakan untuk menanggulangi
kejahatan dengan menggunakan sanksi pidana, harus pula dipadukan dengan
usaha-usaha lain yang bersifat “nonpenal”. Tujuan utama dari usaha-usaha non
penal ini adalah memperbaiki kondisi-kondisi sosial tertentu yang secara tidak
langsung mempunyai pengaruh preventif terhadap kejahatan. Dengan demikian
dilihat dari sudut kriminal, keseluruhan kegiatan preventif yang nonpenal itu
sebenarnya mempunyai kedudukan yang sangat strategis. Kegagalan dalam
menggarap posisi strategis ini justru akan berakibat fatal bagi usaha
penanggulangan kejahatan.
Sistem dalam Lembaga pemasyarakatan, berangkat dari konsepsi
pemahaman tersebut, harus mampu mendudukkan dirinya dalam posisi sebagai
bagian integral dari upaya tersebut. Lembaga Pemsyarakatan selaku tempat bagi
pelaksanaan Vonis hukuman atas seorang Terpidana diharapkan mampu
mengakomodasi upaya-upaya non penal tersebut, dimana dalam hal ini a berarti
45
Andi Hamzah, Pelaksanaan Peradilan Pidana Berdasar Teori dan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta, 1994), hal. 33
46
dalam pelaksanaan hukuman terhadap para Terpidana kasus Narkotika dan
Psikotropika benar-benar memperhatikan dan mampu mengakomodasi penerapan
azas Keadilan Restoratif.
Hal ini bertujuan agar proses penghukuman terhadap para Terpidana kasus
Narkotika dan Psikotropika tersebut dapat benar-benar memberikan manfaat
(Utilities), tidak hanya bagi Terpidana itu sendiri yang dapat dibawa kembali ke
jalan yang benar, namun juga membantu program pemerintah dalam memutuskan
mata rantai peredaran Gelap Narkoba. Timbul pertanyaan; apakah sistem
pemasyarakatan yang berjalan saat ini telah mampu mendudukkan Lembaga
Pemsyarakatan dalam Fungsi tersebut?. Dasar hukum atau undang-undang yang
digunakan dalam sistem kepenjaraan adalah reglement Penjara. Dasar hukum itu
telah digunakan sejak tahun 1917. Suatu undang-undang yang sudah tidak layak
lagi diberlakukan. Namun demikian dasar hukum itu masih saja dipergunakan
dalam sistem pemasyarakatan, dengan beberapa perubahan. Tentu saja hal ini
tidak bisa terus-menerus terjadi, jika ingin mengadakan pembaharuan dalam
suasana pembinaan narapidana.
Untuk menerapkan sistem baru, sangat diperlukan undang-undang
pemasyarakatan sebagai pengganti dari reglement Penjara. Undang-undang
pemasyarakatan secara jelas memuat tentang pemasyarakatan, Rutan dan
Rubasan.Dalam hal ini kedudukan Balai Bimbingan pemasyarakatan (Bispa)
harus di atur pula secara jelas. Penggantian ini mutlak harus di lakukan. Pertama
yang bersumberkan falsafah bangsa, percuma saja di adakan pembaharuan.47 Jadi
sekalipun telah ada perubahan dari sistem kepenjaraan ke sistem pemasyarakatan,
pada dasarnya secara hukum, keduanya masih menggunakan Reglement Penjara
sebagai pijakan hukumnya.
Konsepsi sistem baru pembinaan narapidana, menghendaki adanya
penggantian undang-undang pemasyarakatan. undang-undang ini yang akan
menghilangkan keseluruhan bau liberal kolonial. Undang-undang ini akan
menjadikan keselarasan, keserasian dengan semua undang-undang yang berlaku di
Indonesia. Indonesia tidak bisa melakukan pembaharuan tanpa merubah
undang yang mendasarinya. Perubahan seharusnya total. Dengan lahirnya
undang-undang Nomor 12 Tahun 1995 Tentang “Pemasyarakatan” cita-cita keselarasan
dan keserasian ini agaknya akan terwujud, hanya saja tinggal pelaksanaannya
yang menjadi harapan semua pihak.
Berbeda dengan sistem pemasyarakatan, maka dalam sistem
pemasyarakatan baru tujuan pembinaan narapidana ialah meningkatkan kesadaran
(consciousness) narapidana dan eksistensinya sebagai manusia. Pencapaian
kesadaran dilakukan melalui tahap kesadaran, introspeksi, motivasi, dan self
development. Kesadaran itu dimaksudkan agar narapidana sadar akan
eksistensinya sebagai manusia yang memiliki akal dan budi, yang memiliki
budaya dan potensi sebagai mahluk yang spesifik. Sedangkan tahap introspeksi
dimaksudkan agar narapidana mengenal diri sendiri. Hanya dengan cara mengenal
diri sendiri seorang bisa merubah dirinya sendiri. Plato pernah mengatakan bahwa
47