PENGARUH HUMANITARIAN INTERVENTION PBB
TERHADAP POLITIK DALAM NEGERI MYANMAR PASKA
BENCANA CYCLONE NARGIS TAHUN 2008
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Untuk Memenuhi Syarat-Syarat Mencapai Gelar
Sarjana Ilmu Hubungan Internasional
Oleh:
RIZKAH AFTIA
NIM. 107083002202PROGRAM STUDI ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
i
ABSTRAK
Perkembangan politik domestik di Myanmar menunjukkan terjadinya
perubahan yang signifikan yang ditandai dengan pergantian pemerintahan dari Junta
Militer ke pemerintahan sipil di bawah kepemimpinan Presiden Then Shein setelah
diadakannya pemilu pada 7 November 2010. Selanjutnya, pemerintah sipil
membebaskan tokoh pro demokrasi Myanmar Aung San Suu Kyi pada 13 November
2010 sejak menjadi tahanan rumah pada 1990. Perkembangan politik Myanmar juga
tampak pada politik luar negeri Myanmar yang sebelumnya bersifat isolasionisme.
Myanmar ditunjuk sebagai ketua ASEAN untuk periode 2014 dan sebagai
penyelenggara SEA Games pada 2013 setelah mengikuti KTT ASEAN pada
November 2011. Perkembangan lain yang menunjukkan perubahan pada politik
Myanmar adalah kedatangan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Hillary Clinton
ke Myanmar pada 30 November – 2 Desember 2011. Pada kunjungan tersebut Hillary
Clinton menemui Aung San Suu Kyi untuk membahas tentang prospek hubungan
Amerika Serikat dengan Myanmar yang selama hampir 50 tahun merenggang.
Seluruh kejadian penting di atas menunjukkan bahwa Myanmar terus
mengalami perubahan politik domestik. Penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan
tersebut di atas mulai terjadi sejak masuknya PBB lewat humanitarian intervention
dan Responsibility to Protect paska bencana Cyclone Nargis pada 2 Mei 2008.
Masuknya humanitarian intervention dan Responsibility to Protect PBB ke Myanmar
adalah awal mulai terbukanya Myanmar terhadap dunia internasional. Selain PBB,
ASEAN juga turut ambil bagian dalam tindakan humanitarian intervention dan
Responsibility to Protect tersebut. Oleh karena itu skripsi ini melihat bahwa
humanitarian intervention dan Responsibility to Protect berpengaruh terhadap
perubahan politik dalam negeri Myanmar yang pada akhirnya juga mempengaruhi
ii
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim, segala puji bagi Allah SWT atas segala rahmat dan nikmatnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Sebagai syarat untuk mendapatkan gelar sarjana pada jurusan Hubungan Internasional.
Terima kasih dan syukur penulis ucapkan atas segala dukungan dan motivasi yang telah diberikan kepada penulis dari berbagai pihak sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa dukungan dan motivasi dari berbagai pihak tersebut sangat membantu penulis dalam melalui hambatan selama proses penyelesaian skripsi ini. Berbagai pihak yang membantu di antaranya:
1. Orang Tua dan keluarga khususnya Chumairah Desiana, Syifa Fahma Hairani dan Galuh Pangestu I, terima kasih untuk semangat, perhatian, kasih sayang dan doa hingga skripsi ini terselesaikan.
2. Ibu Dina Afrianty, Ph.D, Ketua Jurusan Hubungan Internasional dan pembimbing skripsi saya. Terima kasih atas bimbingan, motivasi dan nasihatnya selama ini.
3. Dosen-dosen Jurusan Hubungan Internasional ; Bapak Agus Nilmada M.Si, Bapak Adian Firnas M.Si, Bapak Nazaruddin Nasution SH, MA, Bapak Armein Daulay M.Si, Bapak Aiyub Mohsin, Bapak Dr. Abdul Hadi Adnan, Ibu Septi Silawati, Ibu Mutiara Pertiwi MA, Bapak Kiky Rizky, Bapak Arisman, Bapak Ahmad Dumyathi Bashori, Bapak Faisal Nurdin Idris, Bapak Badrus Sholeh. Terima kasih atas ilmu yang diberikan selama penulis menuntut ilmu di UIN Jakarta.
4. Ibu Dra. Ganewati Wuryandari MA dan Saudari Keke Agestu, terima kasih atas waktu yang diberikan untuk saya melakukan wawancara.
5. Muhamad Rezza Ramadhan, terima kasih atas waktu dan dorongan semangat untuk menemani dan membantu dalam pengerjaan skripsi ini.
iii
Muslimah, Siti Maryam Nizar, Fitria Rahmawati, Sekar Ayu Lestari, Intan Uswatun Nisa, Hasbi Asyidiqi, Fitrah Siska Mariska, Hardiaty Gustina, Monica Julyani, Rachmatullah Rinady, Alfi Perdana, Ichsan Abdillah, Hery Kurniawan, Nadya Hajarani, Benardy Ferdiansyah, Christa Suryo Puteri, Ali Fikri, Adi Mulia Pradana, Pinky Mytha, Hary Murti Bolang, Adryn Nova, Risardi Faiz, Kartika, Tri Handayani, Nadia Galuh, Zainal Naru, Yusron Pratyangga, Hilda Fitriani, Novi Sri Rahmawati, Asri Ulfah, Tita Miftahul, Indah Mustika, Saktika Miladina, Rachmi, Chandra Dwi Wahyudi, Rachmat Harry, Okky Zulham Hadi, Risa Ambarsari, Pradini N. Arliani, Andi Dian Rosahandita, Nyimas Diah P, Friska Ditha, Chairul Huda, Imam Baihaqi, Imam Fitra, Achmad Wawo Kurniawan, Rachmad Ramadhani. Terima kasih atas semangat, doa, kritik serta sarannya selama ini.
7. Serta semua pihak dan teman-teman lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu, baik secara langsung maupun tidak langsung, yang telah berperan serta mewujudkan skripsi ini.
Terakhir, dengan segala kerendahan hati penulis memohon maaf atas segala kekurangan yang terdapat dalam skripsi ini. Dan untuk semua saran dan kritik yang bersifat membangun, sangat penulis harapkan untuk perbaikan di masa mendatang, serta besar harapan penulis agar skripsi ini dapat bermanfaat bagi seluruh pihak yang membutuhkan.
iv
DAFTAR ISI
LEMBAR JUDUL
LEMBAR PERNYATAAN
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR GAMBAR ... vi
DAFTAR TABEL ... vii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Pertanyaan Penelitian ... 5
C. Kerangka Pemikiran ... 5
D. Metoda Penelitian ... 16
E. Sistematika Penulisan ... 16
BAB II POLITIK DOMESTIK MYANMAR DAN BENCANA CYCLONE NARGIS A. Identitas Bangsa Myanmar ... 19
B. Pembangunan Politik Myanmar ... 25
B.1 Politik Domestik Myanmar Paska Kemerdekaan ... 25
B.2 Politik Myanmar Pada Periode Kepemimpinan Junta Militer Hingga Peristiwa Bencana Cylone Nargis ... 30
v
C.1 Dampak Sosial ... 44 C.2 Dampak Ekonomi ... 46 C.3 Dampak Politik ... 47 BAB III HUMANITARIAN INTERVENTION PBB
A. Humanitarian Intervention dan Responsibilty to Protect (R2P) ... 52 B. Humanitarian Intervention dan Responsibilty to Protect (R2P) PBB
di Myanmar dalam Penanggulangan Bencana Cyclone Nargis ... 66 C. Kerjasama PBB dan ASEAN dalam Penanggulangan Bencana Cyclone
Nargis ... 71
BAB IV ANALISA PENGARUH HUMANITARIAN INTERVENTION PBB
TERHADAP POLITIK DALAM NEGERI MYANMAR PASKA CYCLONE
NARGIS
A. Analisa Pengaruh keberadaan Humanitarian Intervention PBB Paska Bencana Cyclone Nargis Tahun 2008 terhadap Politik Dalam Negeri
Myanmar ... 75 BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ... 82 DAFTAR PUSTAKA
vi
DAFTAR GAMBAR
Gambar II.1 Peta Bencana Cyclone Nargis di kawasan Delta Ayeyarwady dan
vii
DAFTAR TABEL
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Myanmar saat ini terus menjadi sorotan dunia internasional. Hal ini antara lain
disebabkan oleh perkembangan politik yang terjadi di Myanmar. Perkembangan ini di
awali setelah dilaksanakannya pemilu yang menurut pemerintah Myanmar lebih
demokratis pada 7 November 2010 (Antara News, November 2010). Pemilu 2010 ini
berhasil menggantikan pemerintahan Junta Militer menjadi pemerintahan sipil yang
dipimpin oleh Presiden Thein Sein. Perkembangan lain adalah pembebasan tokoh pro
demokrasi Myanmar Aung San Suu Kyi pada 13 November 2010 yang telah
menjalankan tahanan rumah sejak tahun 1990 (New York Times, 11 Desember 2011). Myanmar juga menunjukkan perubahan dalam politik luar negeri Myanmar
yang sejak 1962 bersifat isolasionisme atau tertutup, menjadi lebih terbuka (Ganesan
& Hlaing 2007). Pada 2011, Myanmar di bawah pemerintahan barunya ikut
menghadiri KTT ASEAN di Bali, pada 17 November 2011 (Kementrian Luar Negeri
RI 2011). Sikap terbuka ini menjadi salah satu alasan yang membuat negara anggota
ASEAN lainnya sepakat menunjuk Myanmar sebagai ketua ASEAN untuk periode
2014. Selain itu Myanmar ditunjuk menjadi tuan rumah pada acara SEA Games 2013.
Perkembangan terakhir yang paling signifikan dalam politik luar negeri Myanmar
adalah kunjungan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton pada 30
November – 2 Desember 2011 ke Myanmar setelah hampir 50 tahun hubungan kedua
2
Perubahan-perubahan tersebut sebenarnya telah mulai tampak sejak bencana
Cyclone Nargis menimpa negara tersebut pada Mei 2008. Cyclone Nargis merupakan bencana alam terbesar yang pernah terjadi di Myanmar. Cyclone Nargis
menghancurkan Rangoon (Yangoon), kota terbesar di Myanmar yang dahulu
merupakan ibukota Myanmar sebelum Junta Militer memindahkan ibukota Myanmar
ke Nay Pyi Taw dan merupakan daerah komersial atau ekonomi di Myanmar. Cylone
Nargis merusak daerah di kawasan Teluk Bengal yang meliputi Myanmar, India, Sri Langka, Bangladesh, Thailand dan Indonesia, namun Myanmar adalah negara yang
mengalami dampak paling besar akibat badai ini karena hampir sebagian wilayah di
Myanmar dekat dengan Teluk Bengal. Cyclone Nargis mengakibatkan kerusakan besar bagi Myanmar. Badai angin topan ini menyerang daerah di Selatan Myanmar
atau daerah kawasan Delta Irrawaddy (Ayeyarwaddy) (kawasan utama
pertanian/persawahan penghasil beras, kawasan mangrove juga tambak air tawar)
termasuk Rangoon (Yangoon), Labutta, Bogale dan badai ini juga bergerak perlahan
ke daerah lain di Myanmar seperti Karen namun tidak memberikan dampak
kerusakan yang signifikan (South 2008, h. 224-225).
Kerusakan yang dialami Myanmar akibat Cyclone Nargis sangat besar,
merusak jalan, jembatan, aliran listrik dan komunikasi, rumah, transportasi serta
korban jiwa. Pemerintah sulit mendata jumlah korban meninggal dan korban selamat.
PBB melansir kurang lebih 140.000 orang meninggal dan 2.4 juta orang kehilangan
3
dan hasil pertanian terutama beras tidak lagi layak untuk diolah dan dikonsumsi,
sumber air pun terkontaminasi.
Akibat kerusakan dan dampaknya yang besar bagi kemanusiaan, dunia
internasional merasa memiliki tanggung jawab untuk membantu pemerintah
Myanmar. Beberapa negara dan organisasi internasional memberikan respon
langsung untuk membantu para korban bencana Cyclone Nargis ini. Negara tetangga Myanmar seperti Thailand, Cina, India mengirim bantuan relawan dan makanan,
namun bantuan dari luar Myanmar ditolak oleh pemerintah Junta Militer. Tidak
hanya bantuan dari negara tetangga Myanmar saja yang ditolak, tetapi juga bantuan
yang diberikan Amerika Serikat dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Junta
Militer menutup akses bagi bantuan asing untuk masuk ke Myanmar.
Penolakan terhadap bantuan luar negeri ini mempersulit penanggulangan
bencana dan pemberian bantuan bagi para korban. Prinsip isolasionisme yang
menolak bantuan asing khususnya dari negara Barat (Amerika Serikat) dan
sekutunya, didasarkan pada kekhawatiran masuknya pengaruh Barat seperti
demokrasi untuk tumbuh dan berkembang di Myanmar.
Penolakan pemerintah Junta Militer Myanmar terhadap bantuan kemanusiaan
negara asing dianggap sebagai sikap yang tidak bertanggung jawab atas keselamatan
warganya sendiri, seperti yang diungkapkan Menteri Luar Negeri Prancis Bernard
Kouchner seperti dikutip oleh Barber (2009, h.4). Kouchner mengatakan bahwa perlu
adanya tindakan tegas seperti melakukan humanitarian intervention atau
4
mengeluarkan resolusi agar bantuan kemanusian bagi korban Cyclone Nargis dapat segera ditangani serta memberikan sanksi bagi pemerintah Junta Militer Myanmar.
Adanya hambatan bagi relawan dan bantuan asing ini membuat PBB segera
mengambil tindakan. Di awali dengan melakukan kontak dengan Jenderal Than Shwe
agar bantuan kemanusiaan diizinkan masuk. Namun, usaha ini gagal. PBB akhirnya
melakukan protes dengan mengeluarkan pernyataan pers dan keprihatinannya
terhadap korban bencana Cyclone Nargis serta menyatakan akan mengambil tindakan
tegas demi kemanusiaan (CBC News, 12 Mei 2008).
Pada 23 Mei 2008 Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki Moon, melakukan
kunjungan ke Myanmar guna melakukan negosiasi kembali dengan pemerintah Junta
Militer (Jenderal Than Shwe) agar pemerintah Myanmar mau membuka diri dan
menerima segala bantuan asing yang datang sehingga korban Cyclone Nargis dapat
segera mendapat bantuan. Akhirnya Jenderal Than Shwe mengizinkan PBB dengan
untuk masuk ke Myanmar dan memberikan bantuan kemanusiaan dengan syarat
bantuan tersebut harus disalurkan melalui ASEAN (The Jakarta Post, 30 Mei 2008). Keputusan pemerintah Myanmar untuk mengizinkan masuknya bantuan asing inilah
yang membuat penulis tertarik untuk melihatnya secara lebih jauh. Hal ini karena
penulis melihat bahwa sikap pemerintah yang akhirnya membuka diri terhadap dunia
internasional sedikit banyak menjadi awal bagi perubahan politik domestik negara
tersebut. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melihat apakah keterbukaan
pemerintah Myanmar terhadap humanitarian intervention negara asing dan organisasi internasional berpengaruh terhadap perkembangan politik domestik di negara
5
B. Pertanyaan Penelitian
Adapun pertanyaan yang muncul pada penelitian ini adalah :
1. Bagaimana penerapan humanitarian intervention PBB pada bencana
Cyclone Nargis di Myanmar?
2. Bagaimana pengaruh humanitarian intervention PBB paska bencana
Cyclone Nargis terhadap politik domestik Myanmar?
C. Kerangka Pemikiran
Sesuai dengan judul penelitian ini yaitu Pengaruh Humanitarian Intervention
PBB di Myanmar terhadap Politik Dalam Negeri Myanmar Paska Bencana Cyclone Nargis Tahun 2008 maka untuk menganalisisnya penulis menggunakan beberapa konsep dalam hubungan internasional, yaitu diantaranya, konsep organisasi
internasional, konsep humanitarian intervention, sovereignty serta konsep
Responsibility to Protect. Sebelum menjelaskan secara terperinci konsep-konsep tersebut, penulis akan memaparkan teori dasar yang penulis gunakan dalam penelitian
ini, yaitu teori sistem. Penulis melihat bahwa teori sistem (Dougherty dan Pfaltzgraff
1989, h.136-137) yang terdapat dalam hubungan internasional dapat digunakan untuk
menjelaskan perubahan politik suatu negara, termasuk yang terjadi di Myanmar. Hal
ini karena politik domestik suatu negara, dalam hal ini Myanmar, dipengaruhi oleh
situasi politik internasional. Dan sebaliknya, terbentuknya sistem politik internasional
dan perubahan yang terjadi dalam politik internasional juga dipengaruhi oleh politik
domestik negara dalam sistem internasional tersebut. Tindakan humanitarian
intervention yang dipilih oleh PBB dalam penanganan bencana Cyclone Nargis
6
Junta Militer melakukan penutupan akses dan penolakan bantuan bagi korban
bencana Cyclone Nargis.
Selanjutnya, penulis akan menjelaskan konsep-konsep yang digunakan dalam
penelitian ini. Organisasi internasional, cukup banyak dirumuskan oleh beberapa
tokoh sosial, seperti Duverger (dikutip oleh Archer 2001, h.2) yaitu:
One form of the organization of international relations can be seen in institutions – the collective forms of basic structures of social organizations as established by law or by human traditions – whether these be trade, commerce, diplomacy, conference or international organizations (Duverger, 1972: 68). Satu bentuk dari organisasi dalam hubungan internasional dapat dilihat dalam institusi-institusi- bentuk kolektif dari struktur utama dalam organisasi sosial yang dibentuk berdasarkan pada hukum atau tradisi, kemanusiaan, dapat berupa perdagangan, kerjasama, diplomasi, perjanjian atau organisasi internasional. (Terjemahan Penulis)
Tokoh lain yaitu Philip Selznick (dikutip oleh Archer 2001, h.2) mendefinisikan
organisasi internasional sebagai berikut:
International organizations in this context represents a form of institution that refer to a formal system of rules and objectives, a rationalized administrative instrument and which has a formal technical and material organizations: constitutions, local chapters, physical equipment, machines, emblems, letterhead stationery, a staff and administratives hierarchy and so forth (Selznick, 1957: 8). Organisasi internasional dalam konteks ini mewakili sebuah bentuk institusi yang merujuk pada sistem aturan formal dan objektif, instrumen administrasi yang rasional, serta yang memiliki aturan organisasi yang bersifat teknis dan material berupa: konstitusi, aturan-aturan lokal, peralatan, lambang atau simbol, kop surat, pegawai administrasi yang tersusun secara struktural serta memiliki kantor pusat. (Terjemahan Penulis)
Dalam studi hubungan internasional konsep organisasi internasional muncul
dalam aliran liberalisme institusional yang pertama kali diungkapkan oleh Woodrow
Wilson (Jackson & Sorensen 2005). Organisasi internasional ini muncul pada masa
Perang Dunia I yaitu sekitar tahun 1919 pada saat konferensi Perjanjian Versailles.
7
Perang Dunia I seperti Amerika Serikat (AS), Inggris, Jerman, Perancis, Jepang, Italia
dan Belgia menilai perlunya membentuk sebuah institusi internasional untuk
menciptakan dan menjaga perdamaian dan keamanan internasional. Selain itu untuk
membantu permasalahan sosial dan ekonomi negara-negara di dunia. Ide tentang
perlu adanya sebuah organisasi internasional ini muncul pertama kali dari Wilson
yang ketika itu menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat. Menurut Wilson,
perdamaian dan keamanan akan tercipta dengan membentuk sebuah organisasi
internasional yang akan mengatur keamanan internasional yang tidak bisa teratasi
hanya dengan kerjasama bilateral. Menurut Wilson perdamaian tidak hanya dapat
dijalankan dalam lingkup domestik dalam sebuah negara tapi dunia internasional juga
harus mempunyai sistem atau regulasi dan aturan untuk mencegah terjadinya
persengketaan dan konflik internasional (Baylis dan Smith 2005, h.191).
Atas dasar inilah, pada 10 Januari 1920 dibentuk sebuah organisasi
internasional yang diberi nama The League of Nations atau Liga Bangsa-Bangsa
(LBB). Tujuannya adalah untuk mempertahankan perdamaian internasional dan
meningkatkan kerjasama internasional. Namun, keberadaan LBB ini tidak
berlangsung lama, LBB dianggap gagal menciptakan dan menjaga perdamaian pasca
Perang Dunia I. Hal ini dikarenakan munculnya blok-blok pertahanan berdasar
ideologi seperti NATO serta munculnya paham seperti imperialisme dan
kolonialisme yang berujung pada meletusnya Perang Dunia II. Gagalnya LBB ini
justru memicu terbentuknya organisasi internasional baru yang memiliki fungsi dan
8
hanya masalah keamanan dan perdamaian, tetapi mencakup masalah politik,
ekonomi, sosial, kemanusian dan sebagainya.
Pada 24 Oktober 1945 dibentuklah The United Nations atau Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pembentukan organisasi internasional seperti PBB juga
didukung oleh aliran liberalisme klasik seperti Immanuel Kant. Menurut Kant, adalah
penting untuk mengedepankan hukum internasional yang dijalankan oleh institusi
internasional [seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa] (Maliki 2008, h.78) guna
menciptakan tatanan dunia yang lebih baik, damai, aman dan harmonis. Selain itu,
dalam The Third Definitive Article for A Perpetual Peace, Kant (dikutip dari Baylis
and Smith 2005, h.189) menjelaskan tentang konsep kosmopolitan etik di mana tiap
manusia punya kewajiban atas manusia lainnya dan nilai-nilai dalam kehidupan
masyarakat harus ditanggapi dengan serius. Dari konsep tersebut, penulis
menyimpulkan bahwa secara tersirat Kant menyetujui konsep pentingnya kerjasama
yang terwujud dalam sebuah organisasi atau institusi internasional seperti PBB.
Tujuan utama pembentukan PBB adalah untuk memelihara perdamaian dan
keamanan dunia, menjalin kerjasama di berbagai bidang seperti ekonomi, sosial,
perlindungan hukum, HAM dan lingkungan serta menjunjung tinggi harkat dan
martabat setiap manusia dan negara-negara di dunia. Seperti tertuang dalam Preamble
of the UN Charter (Piagam PBB) (dikutip dari United Nations Information Centres) yang menegaskan bahwa:
9
keyakinan kepada hak asasi manusia, dalam kerangka menghormati harkat dan martabat manusia, dalam kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan serta antara negara kecil dan negara besar. (Terjemahan Penulis)
Inilah yang menjadi dasar bagi PBB untuk menjalankan tujuan utamanya
sebagai organisasi pemelihara perdamaian dunia. Terkait dengan masalah bencana
Cyclone Nargis di Myanmar, PBB sebagai organisasi pemelihara keamanan dunia harus mengambil bagian dalam penanganan masalah bencana alam ini. Sebuah negara
yang mengalami bencana alam umumnya tidak mampu menangani akibat dari
bencana secara efektif. Oleh karena itu bantuan dari negara lain atau organisasi
internasional sangatlah dibutuhkan. Sebagai organisasi internasional, PBB harus
melakukan tindakan nyata dalam penanganan tragedi kemanusiaan seperti bencana
alam dan konflik. Dalam konteks bencana Cyclone Nargis ini PBB mengambil tindakan nyata yang didasarkan pada prinsip humanitarian intervention. Oleh karena
itu, penulis menggunakan konsep kedua mengenai humanitarian intervention. Keberadaan PBB atau organisasi internasional dalam penanganan sebuah tragedi
kemanusiaan apapun bentuknya merupakan satu wujud dari intervensi. R.J Vincent
(dikutip dari Bellamy 2003, h.3) mendefinisikan intervensi sebagai berikut:
10
Vincent sendiri tidak menjelaskan arti humanitarian intervention secara terperinci. Namun, dari konsep intervensi klasik inilah konsep humanitarian intervention
berkembang. Berawal dari banyaknya konflik atau perang yang terjadi di dunia,
khususnya pada masa Perang Dunia II, konsep intervensi dan humanitarian
intervention ini muncul dan berkembang. Theodore Roosevelt (dalam Robertson 2002, h.429) pada tahun 1904 menyatakan bahwa melakukan intervensi terhadap
negara berdaulat bertujuan untuk menghentikan kekejaman dan penindasan dari para
penguasa atau pemilik kekuatan.
Di saat sebuah negara dianggap tidak lagi mampu memberikan perlindungan
kepada warga negaranya atau bahkan negara sendirilah yang menjadi aktor
‘kejahatan’ terhadap warga negaranya, maka perlu ada aktor lain di luar negara
tersebut yang dapat menjadi mediator atau bagian dari penyelesaian sebuah tragedi
kemanusiaan. Penerapan konsep intervensi ini pada dasarnya menghadapi
kendala-kendala. Yaitu, intervensi dianggap bertentangan dengan moralitas serta prinsip
non-intervention dan sovereignity (kedaulatan) yang juga sudah berkembang dalam hubungan internasional (Pattison 2010). Namun, pada akhirnya konsep intervensi
atau humanitarian intervention ini diterapkan juga oleh PBB dalam beberapa
penanganan tragedi kemanusiaan seperti pada kasus krisis kemanusiaan di Rwanda
tahun 1994, Kosovo tahun 1999 dan Darfur tahun 2003 (Pattison 2010, h.1).
Penerapan konsep ini tidak selalu berhasil, karena konsep humanitarian intervention
ini di satu sisi dianggap menghilangkan kedaulatan sebuah negara namun di sisi lain
11
Perdebatan tentang konsep humanitarian intervention yang dianggap bertentangan dengan konsep kedaulatan (sovereignty) dapat dijelaskan sebagai
berikut, kedaulatan (sovereignty) diartikan sebagai :
A sovereign state is empowered in international law to exercise exclusive and total jurisdiction within its territorial borders. Other states have the corresponding duty not to intervene in the internal affairs of a sovereign state. If that duty is violated, the victim state has the further right to defend its territorial integrity and political independence dikutip dari Report of The International Commission on Intervention and State Sovereignty 2001). Kedaulatan sebuah negara dijamin dalam hukum internasional untuk menggunakan jurisdiksi secara total dalam wilayah teritorialnya. Negara lain memiliki tugas yang sama untuk tidak melakukan intervensi. Jika hal tersebut dilanggar maka negara yang diintervensi memiliki hak untuk mempertahankan integritas teritorialnya dan kemerdekaan politik negaranya (Terjemahan Penulis).
Dari pengertian di atas dapat dilihat bahwa sebuah negara memiliki kedaulatan
sehingga humanitarian intervention dianggap akan menghilangkan kedaulatan sebuah negara. Hal tersebut dapat dilihat dalam Piagam PBB (U.N. Charter art.51) tentang
Principle of Non-interference in Article 2(7): “Nothing contained in the present
Charter shall authorize the United Nations to intervene in matters which are essentially within the domestic jurisdiction of any state”. Tidak ada satu ketentuan pun dalam Piagam ini yang memberikan kuasa kepada PBB untuk mencampuri
urusan-urusan yang pada hakekatnya termasuk urusan dalam negeri suatu negara
(Terjemahan Penulis).
Perdebatan lain misalnya tentang siapakah aktor yang pantas untuk melakukan
penerapan konsep humanitarian intervention ini atau apakah konsep ini bertentangan
dengan moralitas dan cenderung memiliki tujuan politik tertentu (Pattison 2010, h.1).
12
penggunaan kekuatan militer dalam proses penerapan humanitarian intervention. Namun, pada kenyataannya humanitarian intervention sering kali hanya diartikan
sebagai tindakan intervensi melalui militer. Padahal, seperti yang disampaikan
Pattison (2010, h.9) humanitarian intervention tidak hanya berarti intervensi lewat
serangan militer. Intervensi melalui militer dalam humanitarian intervention hanya diberlakukan pada kasus khusus dengan syarat pemberlakuan tertentu. Selain itu
penerapan hukum dalam penerapan konsep humanitarian intervention seperti sampai
kapan atau berapa lama tindakan humanitarian intervention dapat diterapkan pada suatu negara juga menjadi hal yang masih diperdebatkan.
Pada kasus bencana Cyclone Nargis di Myanmar yang merupakan negara yang mengisolasi diri dari dunia internasional, Myanmar berusaha menjaga
kedaulatan negaranya dari pihak asing terutama intervensi atau pengaruh dari Barat
khususnya Amerika Serikat. Selain itu prinsip non-intervention ini diterapkan karena ASEAN menganggap tiap negara memiliki kedaulatan masing-masing yang tidak
dapat diganggu oleh pihak lain (ASEAN Selayang Pandang 2010, h. 11). Hal ini
semakin mempersulit penerapan humanitarian intervention. Terbukti beberapa saat setelah bencana Cyclone Nargis menyerang Myanmar, pemerintah Junta Militer
Myanmar melarang segala bantuan kemanusiaan yang masuk ke Myanmar.
Hambatan penerapan konsep humanitarian intervention dengan adanya
konsep kedaulatan membuat PBB mengeluarkan konsep Responsibility to Protect
atau R2P (Report of The International Commission on Intervention and State
Sovereignty 2001). Dalam piagam PBB dijelaskan bahwa ‘All members shall refrain
13
integrity or political independence of any state, or in any other manner inconsistent with the purposes of the UN’ (UN Charter Art.2: 4). Artinya seluruh anggota dalam hubungan internasional, menjauhkan diri dari tindakan mengancam atau
menggunakan kekerasan terhadap integritas wilayah atau kemerdekaan politik suatu
negara lain atau dengan cara apapun yang bertentangan dengan tujuan-tujuan PBB.
Responsibility to Protect mengkolaborasikan konsep kedaulatan dengan intervensi, yaitu bahwa dengan kedaulatan berarti negara bertanggung jawab untuk
melindungi keamanan dan kehidupan warga negara serta memperjuangkan
kesejahteraan warganya. Dalam piagam PBB, konsep Responsibility to Protect
memungkinkan penggunaan kekerasan dalam intervensi. Penggunaan kekerasan atau
militer dalam intervensi hanya berlaku jika ada ancaman terhadap perdamaian dan
untuk melindungi keamanan dan perdamaian internasioanal. Selain itu, penggunaan
kekerasan atau militer dalam intervensi juga bertujuan untuk melindungi semakin
meluasnya dampak dari konflik atau bencana alam, seperti kematian, kekerasan fisik
atau penyebaran penyakit.
Meski memiliki hambatan dalam penerapannya, humanitarian intervention
juga membawa pengaruh pada suatu negara. Pengaruh penerapan humanitarian
intervention, tidak hanya berdampak pada penanganan sebuah krisis kemanusiaan seperti yang dilakukan PBB di Myanmar, tetapi juga memiliki dampak bagi kondisi
perpolitikan Myanmar. Tujuan utama humanitarian intervention adalah untuk menyelamatkan dan melindungi korban selamat dari sebuah tragedi kemanusiaan
serta memberi jaminan atas hak asasi manusia. Tetapi pada prakteknya penerapan
14
(Pattison 2010, h.153). Oleh karena itulah, penulis berargumen bahwa humanitarian
intervention PBB di Myanmar telah memberi pengaruh terhadap kondisi politik domestik Myanmar.
Dengan kondisi politik yang belum stabil dan semakin diperparah dengan
datangnya bencana alam membuat humanitarian intervention yang diterapkan PBB membawa dampak lain yaitu mendorong Myanmar agar sesegera mungkin
menerapkan sistem demokrasi di negaranya. Penerapan humanitarian intervention di
Myanmar oleh PBB tidak terlepas dari keputusan yang dihasilkan oleh Dewan
Keamanan PBB sebagai badan khusus yang paling bertanggung jawab dalam masalah
yang berkaitan dengan humanitarian intervention dan Responsibility to Protect
seperti yang tertuang dalam Piagam PBB tahun 2005 pasal 30 yaitu “..endorsement of
the responsibility to protect, states at the 2005 World Summit asserted that any robust action should be undertaken through the Security Council” (dikutip dari Pattison 2010, h.2). ... dukungan terhadap Responsibility to Protect, yang disebutkan pada
Konferensi dunia 2005 menekankan bahwa segala tindakan yang diambil harus
dilakukan melalui Dewan Keamanan.
Dampak dari adanya bencana Cyclone Nargis ini dan masuknya PBB dengan
humanitarian interventionnya sendiri sudah menunjukkan perubahan politik yang cukup signifikan bagi Myanmar. Prinsip isolasionisme yang dianut Myanmar selama
ini terlihat semakin melunak. Myanmar mulai membuka diri dengan memberikan izin
bagi masuknya pengaruh asing ke negaranya seperti masuknya humanitarian
15
Di luar dari melunaknya sikap pemerintah Myanmar terhadap interaksi
internasional, negara ini memang sudah mendapat tekanan yang besar baik dari dalam
maupun dari dunia internasional. Tekanan ini terkait sikap pemerintah Junta Militer
Myanmar yang dianggap telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia dengan
menahan tokoh-tokoh demokrasi seperti Aung San Suu Kyi. Kediktatoran pemerintah
Junta Militer Myanmar serta kekecewaan warga negara Myanmar juga membuat
posisi Junta Militer semakin terancam. Sebelum terjadi Cyclone Nargis, pemerintah
Junta Militer Myanmar telah merencanakan adanya referendum konstitusi Myanmar
pada tanggal 10 Mei 2008. Meski mengalami bencana Junta Militer tetap ingin
melaksanakan referendum sesuai jadwal. Sikap pemerintah Junta Militer ini
mendapat respon langsung baik dari dunia internasional dan dari dalam negara
Myanmar sendiri. Mereka menuntut agar referendum ditunda mengingat kondisi
pasca bencana belum memungkinkan untuk melaksanakan referendum. Warga yang
menjadi korban lebih membutuhkan pasokan makanan dan kelangsungan hidup
mereka sendiri dibanding kelangsungan hidup politik negaranya. Dengan kritik dan
kecaman tersebut akhirnya Junta Militer memutuskan untuk menunda referendum
hingga 24 Nei 2008. Meskipun referendum tetap dijalankan, tekanan yang datang dari
dunia internasional langsung disampaikan melalui keberadaan humanitarian
intervention PBB tersebut.
Dari pemaparan di atas penulis menyimpulkan bahwa penerapan
humanitarian intervention PBB di Myanmar masih menjadi perdebatan. Namun, pemilihan konsep ini merupakan akibat dari situasi politik domestik Myanmar.
16
disahkan dan berhasil, maka akan menjadi pertimbangan bagi PBB untuk menerapkan
aturan hukum yang pasti terkait penerapan tindakan humanitarian intervention dalam
kasus bencana alam.
D. Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk
memaparkan tentang pengaruh humanitarian intervention PBB terhadap politik dalam negeri Myanmar paska bencana Cyclone Nargis tahun 2008. Menurut
Cresswell (1998) pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan
pemahaman yang berdasarkan pada fenomena sosial dan masalah manusia.
Untuk menjawab pertanyaan penelitian skripsi ini, penulis mengandalkan data
sekunder sebagai acuan, yakni data-data yang didapat dalam bentuk yang sudah jadi
berupa publikasi dan sudah dikumpulkan oleh pihak atau instansi lain. Data ini
diperoleh melalui studi kepustakaan untuk mengetahui adakah pengaruh
humanitarian intervention PBB terhadap politik dalam negeri Myanmar paska bencana Cyclone Nargis tahun 2008. Sumber-sumber data tersebut dapat berupa buku, jurnal, interview dari sumber yang berkepentingan yakni peneliti dari Pusat Penelitian Politik (P2P) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ibu Dr.
Ganewati Wuryandari, MA serta wartawan TV One Keke Agestu. Sumber lain juga
penulis dapatkan dari internet, surat kabar dan penerbit-penerbit lainnya.
E. Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
17 C. Kerangka Pemikiran
D. Metoda Penelitian
E. Sistematika Penulisan
BAB II Politik Domestik Myanmar dan Bencana Cyclone Nargis
A. Identitas Bangsa Myanmar
B. Pembangunan Politik Myanmar
B.1 Politik Domestik Myanmar Paska Kemerdekaan
B.2 Politik Myanmar Masa Junta Militer Hingga Peristiwa Bencana
Cylone Nargis
C. Bencana Cyclone Nargis dan Dampaknya bagi Kondisi Sosial, Ekonomi dan Politik Myanmar
C.1 Dampak Sosial
C.2 Dampak Ekonomi
C.3 Dampak Politik
BAB III Humanitarian Intervention PBB
A. Humanitarian Intervention dan Responsibilty to Protect (R2P)
B. Humanitarian Intervention dan Responsibilty to Protect (R2P) PBB di Myanmar dalam Penanggulangan Bencana Cyclone Nargis
C. Kerjasama PBB dan ASEAN dalam Penanggulangan Bencana
Cyclone Nargis
BAB IV Analisa Pengaruh Humanitarian Intervention PBB terhadap
18
A. Analisa Pengaruh keberadaan Humanitarian Intervention PBB Paska Bencana Cyclone Nargis Tahun 2008 terhadap Politik Dalam Negeri
Myanmar.
BAB V Penutup
19
BAB II
Politik Domestik Myanmar dan Bencana Cyclone Nargis
Pada bab ini penulis akan menggambarkan tentang Myanmar secara umum. Diantaranya tentang kondisi sosial kemasyarakatan, suku, ras serta kehidupan beragama di Myanmar. Penulis juga akan menjelaskan situasi dan perkembangan pembangunan politik di Myanmar sejak awal Myanmar merdeka hingga terjadinya bencana Cyclone Nargis pada tahun 2008. Selain itu, penulis akan menjelaskan bagaimana situasi perkembangan politik negara Myanmar khususnya paska bencana Cyclone Nargis.
A. Identitas Bangsa Myanmar
20
Menurut Zahler (2010, h.14) penduduk Myanmar terbagi ke dalam 8 besar kelompok etnis yang kemudian terbagi lagi ke dalam 135 kelompok etnis kecil. Kelompok etnis pertama adalah Burman (Bamar/Birma) yang merupakan kelompok etnis terbesar dan mendominasi Myanmar dengan hampir 2/3 penduduk atau 68% atau sekitar 30 juta penduduk dari seluruh populasi Myanmar. Suku Burman awalnya berasal dari Timur Himalaya yang datang dan mendiami kawasan delta Irrawaddy lebih dari 1200 tahun yang lalu. Suku Burman beragama Budha, dan mereka berbicara bahasa yang mirip dengan bahasa Cina dan Tibet. Selanjutnya, ada suku Shan yang penduduk aslinya juga berasal dari Cina. Suku Shan kurang lebih berjumlah 9-15% dari total populasi Myanmar. Mereka tinggal di wilayah bagian Shan, berbahasa Shan atau Burmese. Suku Shan kebanyakan beragama Budha dan yang lainnya menganut kepercayaan aminisme yang percaya akan roh yang mendiami alam semesta. Warga Shan bermata pencaharian sebagai petani yang biasa menanan padi, buah, sayur dan kedelai dan sebagian lagi bermatapencaharian sebagai penambang.
21
dan mengklaim diri mereka sebagai suku pertama di Myanmar yang menganut agama Budha. Warga suku Rakhine sebagian besar juga berprofesi sebagai petani beras.
Berikutnya adalah suku Mon, suku ini tinggal di negara bagian Mon yang juga berbatasan dengan Thailand. Mon adalah suku pertama yang mendiami wilayah Asia Tenggara dan yang menyebarkan ajaran Budha ke wilayah Burma (Myanmar) dan Thailand. Suku Mon datang pertama kali ke wilayah Mon sekitar tahun 1500 sebelum Masehi dan sebagian besar penduduk Mon adalah petani. Suku yang juga berbatasan dengan Thailand adalah suku Karenni (Kayah). Suku Kayah datang dari Mongolia pada abad ke 8 SM. Suku ini mendiami wilayah bagian Karenni di perbatasan antara Thailand dan Myanmar. Suku Kayah sering disebut sebagai “Red Karen” karena kebiasaan penduduknya menggunakan pakaian merah. Suku Kayah ada sekitar 5% dari total populasi Myanmar dan beragama Kristen.
22
Meski memiliki keragaman etnis, dominasi suku dan agama di Myanmar sangat terlihat jelas. Suku Burman adalah suku yang mendominasi berbagai bidang kehidupan Myanmar dengan 2/3 persen penduduk dari total popolasi Myanmar. Steinberg (2010 h.59) menjelaskan dominasi suku di Myanmar juga menyebabkan Myanmar memutuskan untuk menjadi negara beragama Budha. Suku Burman merupakan suku mayoritas di Myanmar dan beragama Budha. Pada masa pemerintahan Perdana Menteri U Nu tahun 1961, Myanmar resmi menjadi negara beragama Budha. Keputusan ini meski diterima namun pada dasarnya menyinggung perasaan suku minoritas lain seperti Kachin dan Karen yang tidak menganut agama Budha. Dominasi suku mayoritas ini juga menyebabkan banyak pemberontakan yang kemudian menimbulkan masalah baru bagi Myanmar seperti pemberontak yang kabur ke negara tetangga Myanmar menyebabkan konflik di perbatasan yang juga mengancam integritas dari Myanmar itu sendiri.
23
adanya masalah pengungsi, setelah suku Rohingya yang merupakan etnis muslim Myanmar masuk ke wilayah Bangladesh untuk mencari perlindungan, karena etnis muslim merasa terdiskrimasi di Myanmar. Sementara dengan pemerintah India, Myanmar memiliki masalah perbatasan yang disebabkan oleh adanya kelompok separatis India yang di berbasis di daerah Sagaing (Sagaing Division) di Myanmar yang telah bertahun-tahun menempati wilayah di Myanmar tersebut dan melakukan pemberontakan terhadap pemerintah India. Masalah perbatasan inilah yang membuat hubungan Myanmar dengan ketiga negara di atas menjadi kurang harmonis. Hubungan politik luar negeri Myanmar dengan ketiga negara yang telah disebutkan di atas menjadi bertambah tidak baik. Diantaranya disebabkan juga oleh faktor internal Myanmar yang tidak mampu mengelola keragaman suku dan etnis secara baik dan adil.
24
provinsi Yunan karena di wilayah Myanmar saat itu sedang terjangkit wabah malaria. Dengan latar belakang yang demikianlah, Myanmar memiliki banyak kemiripan dengan Cina, tidak hanya dalam segi agama dan etnis tetapi juga pada sistem perpolitikan. Myanmar dan Cina sama-sama menganut paham sosialis (komunis), walaupun sebenarnya Myanmar mendeklarasikan diri sebagai negara Republik Demokrasi. Namun, praktek-praktek paham sosialis dan komunis masih diterapkan di Myanmar.
Steinberg (2010 h.45-47) menjelaskan bahwa paham sosialis-komunis ini mempengaruhi Myanmar sejak periode 1948-1949, yaitu saat terjadi Revolusi Cina. Pada masa ini, sistem internasional berada pada situasi perang dingin antara blok Barat (Amerika Serikat dan sekutu yang berideologi liberal-kapitalis) dengan blok Timur (Uni Soviet dan sekutunya yang berideologi sosialis-komunis). Seperti diketahui, pada masa perang dingin ini kedua blok tersebut berusaha menyebarkan pengaruh mereka masing-masing ke seluruh dunia. Cina merupakan salah satu negara sekutu Uni Soviet yang menganut paham sosialis-komunis.
Oleh karena itu, Cina juga turut menyebarkan paham ini dan Myanmar sebagai negara tetangga yang memiliki kesamaan etnis menjadi tujuan utama penyebaran paham ini. Pada 1950 saat Cina mendeklarasikan negaranya sebagai Republik Rakyat Cina, Myanmar langsung memberi dukungan dan pengakuan terhadap Republik tersebut. Namun, hubungan Myanmar dengan Cina sempat mengalami ketengangan saat pasukan Kuomintang1
1 Kuomintang merupakan sebuah partai politik di Cina yang terbentuk diakhir tahun 1800an. Partai ini
25
diri dari Cina ke wilayah Shan di Myanmar akibat mengalami kekalahan dari pasukan komunis Cina (tahun 1949). Pada 1961 pemerintah Cina mengirimkan pasukannya kurang lebih 20.000 orang ke Myanmar, pemerintah Cina juga dibantu militer Myanmar dengan 5.000 orang pasukannya mencoba melakukan perlawanan terhadap pasukan Kuomintang. Pasukan Kuomintang ini adalah pasukan anti komunis Cina yang mendapat dukungan penuh dari Amerika Serikat khususnya lewat badan intelegennya yaitu Central Intelligence Agency (CIA). Namun, lemahnya pasukan Cina dan militer Myanmar menyebabkan pasukan Kuomintang menguasai Rangoon. Hal ini menimbulkan ketegangan, sehingga militer Myanmar yang memiliki pengaruh kuat di Myanmar melakukan aksi protes terhadap PBB dan menolak bantuan yang diberikan Amerika Serikat. Hal inilah yang juga mendorong Myanmar untuk menerapkan prinsip isolasionisme dalam politik luar negerinya sejak Junta Militer berkuasa tahun 1962. Prinsip isolasionisme ini berlaku terutama kepada negara-negara Barat seperti Amerika Serikat dan sekutunya. Untuk selanjutnya pembahasan mengenai politik di Myanmar akan dijelaskan pada sub bab selanjutnya ini.
B. Pembangunan Politik Myanmar
B.1 Politik Domestik Myanmar Paska Kemerdekaan
26
Sejak resmi merdeka dari penjajahan Inggris pada 4 Januari 1948, banyak harapan yang muncul dari negara baru yang saat itu telah menyebut diri sebagai The Union of Burma (Union of Myanmar saat ini), seperti pembangunan dan modernisasi di bidang ekonomi, politik, dan sosial (Maung 1990, h. 602). Sistem pemerintahan Republik Demokrasi Parlementer menjadi dasar bagi kehidupan di Myanmar pada awal kemerdekaan untuk menunjang pembangunan dan modernisasi yang dicita-citakan. Sistem pemerintahan Republik Demokrasi Parlementer ini diadopsi dari Konstitusi 19472 yang dibuat sebelum kemerdekaan Myanmar dan Aung San3
2
Konstitusi 1947 adalah konstitusi yang dibuat sebelum kemerdekaan untuk mendorong kemerdekaan serta merupakan sebuah usaha untuk membawa Myanmar menggunakan sistem Demokrasi Parlementer setelah memperoleh kemerdekaan. Sistem Demokrasi Parlementer ini dianggap sistem yang paling tepat bagi Myanmar yang memang memiliki keragaman etnis dan suku bangsa. Konstitusi ini dibuat oleh 15 Burmans (orang Burma/Myanmar) yang sebagian dari mereka telah memperoleh pelatihan resmi pembuatan konstitusi dari pemerintah kolonial Inggris. 15 Burmans ini merupakan perwakilan dari suku mayoritas dan minoritas di Myanmar (Steinberg 2010, h. 52-53).
adalah penggagas konstitusi tersebut (Steinberg 2010, h.53). Dengan sistem pemerintahan Republik Demokrasi Parlementer ini Myanmar diperintah oleh seorang Perdana Menteri dan U Nu menjadi Perdana Menteri pertama di Myanmar. Sebagaimana halnya negara yang baru merdeka, pemerintahan Perdana Menteri U Nu dihadapkan pada kondisi sosio politik yang rumit (Firnas 2003, h.129). Perdana Menteri U Nu menerapkan strategi pembangunan Pydawtha (negara yang makmur) untuk
3 Aung san adalah salah satu tokoh pemimpin Myanmar yang dikenal sebagai bapak dari kesatuan
27
menyelesaikan berbagai persoalan dalam negerinya. Namun, akhirnya strategi ini gagal mengatasi persoalan kompleks yang dihadapi Myanmar (Firnas 2003, h.129).
Persoalan kompleks yang dihadapi Myanmar antara lain masalah demokrasi. Meski menganut sistem pemerintahan demokrasi, kondisi politik di Myanmar belum sepenuhnya mencerminkan nilai yang demokratis. Nilai-nilai demokratis seperti persamaan hak di mata hukum, kebebasan bertanggung jawab di segala bidang, adanya pemilihan umum yang adil, adanya perwakilan dari setiap suku atau golongan di dalam pemerintahan serta sistem pemerintahan yang berpihak pada rakyat bukan militer belum terwujud dalam kehidupan negara Myanmar. Situasi yang demikian mengakibatkan terjadinya beberapa pemberontakan atau konflik yang melibatkan suku mayoritas (Burman) dan minoritas (Karen) pada tahun 1949 (Brown 1997, h.23-24). Selain itu, muncul beberapa ancaman dari luar negara Myanmar akibat masalah perbatasan wilayah, khususnya konflik perbatasan dengan negara Cina dan masalah tentara Cina Koumintang yang diusir dari Cina yang kemudian masuk dan menduduki salah satu wilayah di Myanmar yaitu Shan (Seekins 2006, h. xxvi).
28
atau komunis masuk ke Myanmar akibat pengaruh yang datang dari Cina yang memang memiliki kedekatan wilayah dan kemiripan etnis dengan Myanmar seperti yang sudah penulis jelaskan pada bagian sebelumnya.
Pemberontakan militer yang dilakukan oleh dua partai komunis tersebut ditujukan kepada pemerintahan Myanmar (Perdana Menteri U Nu). Militer Myanmar memiliki tempat yang terhormat dalam status sosial masyarakat Myanmar dan anggota militer Myanmar juga merupakan anggota dari dua partai komunis The Red dan The White Flag Communist Party (Steinberg 2010, h. 54). Pemberontakan terhadap pemerintahan Perdana Menteri U Nu ini terjadi karena partai yang mengusung U Nu yaitu The Anti-Fascist People’s Freedom League (AFPFL) dianggap hanya mementingkan kekuasaan bukan melakukan perbaikan di Myanmar. Menurut militer, hal tersebut dapat mengancam keutuhan negara kesatuan Myanmar. Sebelum pemberontakan terjadi, pemerintah U Nu telah berencana untuk melaksanakan pemilu pada 1958. Kemudian, militer memilih mengambil langkah pemberontakan atau kudeta terhadap pemerintah untuk mencegah terjadinya perang sipil dan pertumpahan darah saat pemilu.
29
Myanmar dengan menerapkan tiga prinsip utama yaitu memulihkan atau memperbaiki hukum, menghilangkan pemberontakan dibidang ekonomi, dan mempersiapkan negara untuk pemilihan umum (Steinberg 2010, h.55). Selama 18 bulan memerintah, Caretaker Goverment berhasil memimpin Myanmar dengan baik yang ditandai dengan, tidak adanya korupsi, penerapan kebijakan ekonomi yang memihak rakyat dengan menurunkan harga barang dan makanan, memperkuat hukum negara Myanmar dan membersihkan kota ( Steinberg 2010, h.55).
Pada Februari 1960 diadakan pemilihan umum sesuai dengan prinsip bebas, bersih dan adil. Pemilu ini sebagai pengganti dari pemilu yang sebelumnya tertunda pada 1958 akibat pemberontakan. U Nu mengikuti pemilihan umum kembali bersama partainya AFPFL (The Anti-Fascist People’s Freedom League) yang telah berubah nama menjadi Union Party. U Nu memenangkan pemilu dengan mendapat suara dari pendukungnya yang mayoritas beragama Budha. Dukungan masyarakat Budha didapatkan karena U Nu menjanjikan bahwa agama Budha akan dijadikan agama negara (Steinberg 2010, h. 58-59). Pemilihan Umun ini (tahun 1960) akhirnya membawa U Nu kembali memimpin Myanmar. Namun, kembalinya U Nu tidak membawa perubahan berarti, misalnya, tidak mampu mempertahankan kondisi yang cukup stabil seperti yang dicapai selama periode Caretaker Government. Ekonomi Myanmar melemah, pemberontakan atau konflik meningkat dan kekuatan militer meningkat.
30
menganggap U Nu tidak kompeten dalam menjalankan pemerintahan. Di saat banyak pemberontakan, pemerintahan U Nu justru membangun 60.000 pagoda atau candi yang menurutnya merupakan simbol ketenangan dan wujud nyata dari janjinya menjadikan Myanmar sebagai negara beragama Budha tanpa melakukan usaha untuk meredakan pemberontakan. Pada 1961 agama Budha secara resmi menjadi agama negara Myanmar. Namun, peresmian agama Budha ini menurut militer Myanmar dianggap menyinggung perasaan suku Kachin dan Karen yang merupakan suku minoritas di Myanmar yang menganut agama Kristen, walaupun dalam undang-undang lain kebebasan beragama tetap diterapkan (Steinberg 2010, h. 59).
Anggapan dari militer Myanmar bahwa pemerintahan sipil gagal membawa perubahan dan menjadi ancaman bagi kesatuan Myanmar mendorong militer untuk mengkudeta pemerintah pada 1962. Pada 2 Maret 1962 militer Myanmar dibawah pimpinan Jenderal Ne Win melakukan kudeta. Steinberg (2010, h.60) menjelaskan dalam kudeta ini militer menangkap siapapun (baik anggota pemerintahan mulai dari badan eksekutif, legislatif juga yudikatif) yang kritis terhadap kudeta dan yang berusaha menghalangi kudeta tersebut. Bagi militer, kudeta merupakan sebuah tindakan yang dibuat untuk mengabadikan kekuasaan militer (Steinberg 2010, h.60).
B.2 Politik Myanmar Pada Periode Kepemimpinan Junta Militer Hingga
Peristiwa Bencana Cylone Nargis
31
Revolutionary Council dengan 17 perwira dan Ne Win sebagai pemimpin tertingginya. Dalam The Revolutionary Council terdapat aturan atau dasar bagi pemerintahan militer (Junta) Myanmar ini yang dibuat oleh Jenderal Ne Win. Pemerintah Junta Militer menghapuskan partai-partai yang independen, mengekang kebebasan pers dan hanya mengizinkan pers atau media massa tunggal yaitu The Working People’s Daily (Steinberg 2010, h.65). Padahal kebebasan pers baru terwujud pada masa awal kemerdekaan dan di masa pemerintahan U Nu. Dalam bidang ekonomi, pemerintah militer Myanmar menerapkan sistem ekonomi yang sosialis dan mulai menutup diri dari bantuan dan kerjasama ekonomi dengan pihak asing.Pihak asing yang dimaksud disini adalah negara-negara Barat yang berideologi demokrasi liberal khususnya Amerika Serikat serta organisasi internasional lainnya. Myanmar tetap menerima bantuan asing hanya dari negara yang memiliki kesamaan ideologi dengan negaranya yaitu Cina dan Rusia (Steinberg 2010, h.120-121).
32
Dalam bidang politik, pemerintah militer Myanmar tidak memperkenankan rakyatnya untuk memilih pemimpinnya sendiri, karena keputusan politik harus melalui pemimpin militer di Rangoon. Burmese Socialist Programme Party (BSPP), pimpinan Jenderal Ne Win, menjadi satu-satunya partai resmi yang berdiri (Firnas 2003, h.131). Pemerintahan militer (BSPP) ini membuat kondisi politik dalam negeri Myanmar mengalami perubahan. Pemerintah Junta Militer menghapuskan dan mengganti struktur kepemerintahan Myanmar dari sipil menjadi militer. Junta Militer juga merupakan pengambil keputusan tertinggi di Myanmar, dan siapapun, baik warga negara atau anggota pemerintah yang berani mengkritik atau melawan kebijakan pemerintah Junta Militer harus siap menerima resiko. Resiko dari kritik atau perlawanan terhadap Junta Militer adalah pengasingan dan dipenjarakan.
Burma Socialist Programme Party (BSPP) ini berjalan sejak Junta Militer berkuasa
33
banyak warga terutama mahasiswa yang melakukan demonstrasi menolak kebijakan tersebut khususnya kebijakan menyerahkan eksplorasi kekayaan Myanmar ke pihak asing4
Kudeta tersebut dikenal dengan kudeta 1988
. Demonstrasi mahasiswa ini berakhir dengan penangkapan dan pembunuhan terhadap mahasiswa yang melakukan demonstrasi terhadap Junta Militer. Banyak universitas yang ditutup sementara hingga suasana kembali aman. Demonstrasi mahasiswa ini berakhir dengan kudeta yang dilakukan militer terhadap pemerintahan Jenderal Ne Win.
5
4
Pada tahun 1988 setelah kebijakan dan undang-undang baru investasi asing dikeluarkan pemerintah Junta Militer terjadi eksplorasi besar-besaran terhadap kekayaan alam Myanmar terutama minyak bumi, hasil hutan dan laut. Thailand dan Cina adalah dua negara yang menyepakati kontrak kerjasama dengan pemerintah Junta Militer. Kedua negara ini kemudian melakukan eksploitasi yang menyebabkan kerusakan alam Myanmar (Steinberg 2010, h. 86).
yang merupakan kudeta kedua terbesar di Myanmar setelah kudeta 1962. Kudeta ini terjadi sebagai akibat dari protes masyarakat Myanmar yang terdiri dari pelajar atau mahasiswa, pejabat sipil, pekerja hingga kaum biksu. Peristiwa demonstrasi massa ini tepatnya terjadi pada 8 Agustus 1988 sehingga peristiwa ini dikenal dengan istilah ‘the 8888 uprising’ (Irewati 2007, h.11). Kudeta 1988 ini membuat BSPP digantikan oleh The State Law and Order
5 Kudeta 1988 adalah kudeta menentang pemerintahan Ne Win dan Junta Militernya yang dianggap
34
Restoration Council (SLORC) (Steinberg 2010, h.81). Tidak hanya BSPP, Jenderal Ne Win pemimpin Junta dan BSPP juga harus mundur dari jabatannya dan digantikan oleh Jenderal Saw Maung yang memang sudah disiapkan oleh Jenderal Ne Win sebagai pemimpin SLORC (Steinberg 2010, h.83). Namun, pergantian ini hanya semata-mata pergantian pemerintah Junta Militer yang “lama” menjadi pemerintahan Junta Militer yang “baru” (Firnas 2003, h. 132). Pada dasarnya kekuasaan pemerintahan tetap berada di tangan militer. SLORC ini mulai diberlakukan setelah terjadi demonstrasi dan kudeta militer.
Akibat dari perkembangan di atas, kepemimpinan Junta Militer diambil alih oleh Jenderal Than Shwe yang sebelumnya merupakan sekretaris dari SLORC. Jenderal Than Shwe menggantikan pemimpin Junta Militer paska kudeta yaitu Jenderal Saw Maung yang hanya berkuasa satu tahun paska kudeta 1988. Jenderal Than Shwe memerintah Myanmar hingga tahun 2009. SLORC kemudian berganti nama lagi menjadi the State Peace and Development Council (SPDC) pada tahun 1997, pergantian nama ini kenyataannya tidak banyak memberi makna pada reformasi politik Myanmar (Irewati 2007, h.11). Sebelumnya, di tahun 1989, pemerintahan Junta Militer dibawah kepemimpinan Jenderal Than Shwe mengubah nama Union of Burma menjadi the Union of Myanmar (Steinberg 2010, h. xx).
35
respon Junta Militer atas kritik terhadap perwira-perwira yang bergabung dalam Junta Militer hampir semua berpendidikan rendah dan banyak disanksikan oleh masyarakat Myanmar akan mampu untuk memimpin Myanmar. Pada masa sebelumnya saat BSPP, fokus dari Junta Militer tidak dititikberatkan pada ideologi militer melainkan pada pendekatan sekularisme yang menuju kepada sosialisme (Steinberg 2010, h.84-85).
Kemajuan bidang militer yang diusahakan Junta Militer semakin memperkuat posisinya dalam kehidupan bernegara Myanmar. Kondisi politik dan ekonomi Myanmar sejak masa kepemimpinan Than Shwe hampir tidak jauh berbeda dengan masa militer sebelumnya. Zahler (2010, h.6) mengatakan bahwa Than Shwe memerintah secara diktator, banyak warga masyarakat yang akhirnya memilih masuk dalam militer sehingga menjadi bagian dari pemerintahan Junta Militer. Kelompok lain di Myanmar seperti kaum Budha atau para biksu, suku minoritas tetap berjuang memperoleh keadilan hidup dari pemerintah Junta Militer. Tidak jarang mereka melakukan perlawanan terhadap Junta Militer walaupun pada akhirnya mereka tetap tidak mampu melawan kekuasaan Junta Militer.
36
Jepang dan komunitas negera Eropa yang juga menunda sementara bantuan ekonomi hingga pemerintah Junta Militer Myanmar menyelesaikan dan mengatasi pertumpahan darah dan konflik yang terjadi di Myanmar.
Di tahun yang sama dengan kudeta 1988 berdirilah National League for Democracy (NLD) pimpinan Aung San Suu Kyi (puteri dari Aung San), Tin U dan Aung Gyi (Seekins 2006, h. xxix). Steinberg (2010, h.63-64) mengatakan para tokoh dan anggota NLD bersama mahasiswa melakukan demonstrasi dan perlawanan terhadap pemerintah Junta Militer, yang akhirnya membuat banyak mahasiswa serta Aung San Suu Kyi dan Thin U ditangkap dan kemudian dipenjarakan. Penahanan ini tidak ditentukan batasnya dan mereka para tahanan tidak diperbolehkan melakukan banding atau proses hukum lainnya. Semua berjalan sesuai kehendak Junta Militer.
Demonstran yang tidak tertangkap oleh Junta Militer kemudian melarikan diri ke arah perbatasan terutama ke perbatasan Thailand dan ke daerah pemberontakan untuk kemudian bergabung dengan kelompok pemberontak. Kekacauan politik Myanmar ini berlangsung sejak akhir 1988 hingga akhir 1990-an. Setelah itu pemerintah membuat Undang-Undang tentang pemilu dan pemilu multipartai. Akhirnya pemerintah melaksanakan pemuli multipartai pada tahun 1990 dengan 235 partai peserta pemilu termasuk partai NLD pimpinan Aung San Suu Kyi (Steinberg 2010, h. 86-87).
37
dipindahkan menjadi tahanan rumah oleh Junta Militer (Seekins 2006, h. xxix). Suu Kyi menjadi tahanan rumah sejak 1990 hingga tahun 2010. Pergolakan terus terjadi meskipun tidak secara beruntun, tetapi tercatat sejak 1990 hingga tahun kini pergolakan tetap terjadi di Myanmar. Hal inilah yang menyebabkan Myanmar menjadi negara yang sangat tidak stabil dalam segala bidang terutama politik, ekonomi dan sosialnya.
Selama tahun 1990 hingga awal 2000an kondisi Myanmar mengalami pasang surut dalam berbagai bidang kehidupan. Misalnya, di bidang ekonomi, pada 30 April tahun 1994 Myanmar kembali diembargo dan dijatuhi sanksi ekonomi dari Amerika Serikat (President’s Export Council 1997, h.I-42). Disamping itu, pemerintah Amerika Serikat melalui keputusan kongres terhadap peraturan mengenai bantuan asing, memasukkan Myanmar ke dalam daftar negara-negara “rogue” (penipu) atau “outlaw” (pencabutan perlindungan hukum) bersama dengan Libya, Korea Utara dan Irak. Keputusan ini berarti Amerika Serikat tidak akan memberi bantuan, baik secara langsung maupun melalui organisasi internasional kepada Myanmar. Sebagai respon terhadap embargo serta sanksi ekonomi tersebut, pemerintah Junta Militer melalui SLORCnya melarang segala bentuk impor produk atau barang-barang lainnya untuk mensiasati agar jumlah uang asing tidak berkurang dan juga untuk meningkatkan industri manufaktur domestik (Washington Post, 18 Mei 1997).
Di bidang politik, pada 1996-1997 Myanmar memulai proses untuk masuk menjadi anggota komunitas regional kawasan Asia Tenggara yaitu Association of Southeast Asia Nations (ASEAN). Pada Juli 1996 tujuh anggota ASEAN yang sudah
38
Brunei, dan Vietnam memberi Myanmar izin atau status sebagai pengamat di ASEAN sebagai jalan atau tahapan dalam pemberian keanggotaan penuh terhadap Myanmar (New York Times, 22 Juli 1996).
Keputusan ASEAN memberi status pada Myanmar membuat Kanada dan Uni Eropa pada 24 Juli 1996 mendesak PBB untuk membuat kebijakan guna memaksakan reformasi politik di Myanmar. Namun proposal ini ditolak dan dikecam oleh seluruh negara anggota ASEAN karena menganggap proposal tersebut sebagai suatu bentuk intervensi terhadap kedaulatan suatu negara (International Herald Tribune, 25 July 1996, h.4). Namun, pada September 1996 terjadi penangkapan lebih dari 600 orang anggota partai oposisi oleh pemerintah Junta Militer Myanmar sehingga mendorong ASEAN memutuskan untuk menunda penerimaan atau masuknya Myanmar menjadi anggota ASEAN sampai batas waktu yang belum ditentukan (Financial Times, 30 September 1996). Pada bulan Oktober 1996 Amerika Serikat dan Uni Eropa mengeluarkan larangan bagi para pemimpin, petugas atau pegawai pemerintahan Myanmar untuk masuk ke wilayah mereka. Namun sanksi ini direspon Junta Militer Myanmar dengan mengeluarkan larangan bagi petugas resmi serta seluruh warga Amerika Serikat dan Uni Eropa untuk masuk ke wilayah Myanmar (International Herald Tribune, 5-6 Oktober 1996).
39
mengakui Myanmar sebagai anggota ASEAN. Anggota ASEAN ini menilai bahwa pendekatan yang konstruktivis akan lebih memberikan dampak positif daripada memberi sanksi yang justru dapat semakin mendekatkan Myanmar dengan komunis (negara Cina) (New York Times, 1 Juni 1997).
Masuknya Myanmar menjadi anggota ASEAN merupakan awal yang baik bagi pergaulan internasional Myanmar. Meski demikian Myanmar tetap menjadi perhatian dunia internasional dengan segala pergolakan politik di dalamnya. Ada beberapa peristiwa penting yang terjadi dan memberi pengaruh bagi kehidupan Myanmar di awal tahun 2000an. Di tahun 2005, Junta Militer juga memindahkan ibukota Myanmar dari Rangoon (Yangoon) ke Nay Pyi Taw, dan Rangoon dijadikan kawasan ekonomi dan pusat industry. Junta Militer juga mengganti bendera negara Myanmar.
40
bertepatan dengan Sidang Umum PBB di New York. Melalui satu sumber yang berhasil menyebarkan peristiwa kekacauan di Myanmar tersebut hingga sampai pada Sidang Umum PBB membuat PBB segera mengambil langkah penyelesaian kasus tersebut (Zahler 2010).
Dalam peristiwa tersebut ribuan biksu menjadi korban, dan aksi ini juga berdampak bagi kehidupan Myanmar baik domestik maupun internasional. Ekonomi Myanmar merosot tajam setelah peristiwa tersebut seperti dijelaskan berikut ini:
Another important factor is that the recent events themselves represent a significant socioeconomic shock. Many businesses had to close their doors for days and it took some time for commerce to begin slowly picking up. This had a significant impact on the large number of people who rely on the industry for income, which resulted in a knock-on effect for the economy as a whole. The economic conditions—a significant factor underlying the recent protests—therefore underwent a further decline in the months after the protests. The business elite, many of whom were closely associated with the military leadership, were doubly hit: first, by the impact of the events themselves on key sectors such as tourism; and second, by the increasing difficulties in conducting international financial transactions as a result of US financial sanctions. (Wilson & Skidmore 2008, h.22-23) Faktor penting lainnya adalah bahwa peristiwa tersebut yang baru saja terjadi tersebut (aksi biksu 2007) merupakan goncangan sosio-ekonomi di Myanmar. Banyak pelaku bisnis yang akhirnya menutup usaha mereka dan berusaha keluar dari keadaan kacau dan berbahaya tersebut dalam waktu cukup lama. Ini memberi dampak besar bagi kelangsungan industri serta warga Myanmar yang bekerja di dalamnya. Kondisi ekonomi-sebagai sebuah faktor penting yang menjadi pendorong terjadinya protes-mengalami keterpurukan. Kelompok elit bisnis, yang dekat dengan kalangan militer, juga terkena dampak : pertama, pengaruh kejadian ini terhadap sektor pariwisata; kedua, kesulitan dalam melakukan transaksi keuangan internasional akibat sanksi dari AS (Terjemahan Penulis).
Dalam bidang politik dampak peristiwa ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
41
happens next will depend in part on the interplay between these dominant emotions of anger and fear. The authorities are maintaining a significant, if largely hidden, military presence in Yangoon (Wilson & Skidmore 2008, h.23). Negara Myanmar berada dalam trauma akibat peristiwa yang terjadi (tahun 2007). Warga marah akibat respon yang keras dan brutal yang dilakukan Junta Militer terhadap demonstrasi yang terjadi dan kegagalan penguasa untuk memahami kesulitan masyarakat dan yang lebih mengecewakan adalah perlakuan brutal terhadap para monks (biksu). Apa yang terjadi selanjutnya dipengaruhi oleh rasa marah atau takut. Pihak berwenang (Junta Militer) terus mempertahankan kehadiran militer di Yangoon (Terjemahan Penulis).
Setelah mengalami pergolakan hebat pada 2007, kondisi Myanmar belum sepenuhnya normal. Di saat Myanmar berada dalam proses perbaikan ada peristiwa besar lain yang penting bagi kehidupan Myanmar selanjutnya.
Pada bulan Mei 2008 bencana alam Cyclone Nargis menyerang Myanmar. Bencana alam ini kembali membuat kondisi Myanmar terpuruk. Bukan hanya karena bencana alam ini merusak kondisi alam serta infastruktur Myanmar, banyaknya korban jiwa (140.000 orang tewas) akibat bencana ini, melainkan juga memberi dampak bagi perubahan kondisi politik Myanmar. Pembahasan mengenai bencana alam ini akan dijelaskan pada sub bab selanjutnya.
C. Bencana Cyclone Nargis di Myanmar dan Dampaknya bagi Kondisi
Sosial, Ekonomi dan Politik Myanmar
42
2008 ada satu peristiwa yang cukup besar yang menurut penulis mempengaruhi kehidupan Myanmar yaitu Bencana alam Cyclone Nargis.
Jika melihat dari kondisi geografis, Myanmar merupakan negara terbesar di wilayah Asia Tenggara dengan total wilayah 676,578 km2
Cyclones: Over the last 60 years, 11 severe tropical cyclones hit Myanmar, only two of which made landfall in the Delta region. Cyclone Nargis, rated as the 8th deadliest cyclone of all time, was the first tropical cyclone to strike the country since Cyclone Mala made landfall in 2006.
dengan populasi sebanyak 50 juta penduduk. Myanmar memiliki tanah yang subur dan kaya akan sumber daya alam. Myanmar sendiri terletak di kawasan Teluk Bengal yang termasuk bagian dari Samudera Hindia. Negara ini juga memiliki hujan yang lebat sepanjang tahun dan banjir merupakan bencana rutin yang melanda Myanmar sekitar bulan Juni hingga Agustus (musim penghujan) dan biasanya area yang terkena dampak banjir adalah area yang dilintasi oleh sungai. Myanmar juga merupakan salah satu negara yang cukup rawan akan bencana alam dan memiliki catatan sejarah bencana sebagai berikut:
Floods: The cyclone-affected region of Myanmar is highly exposed to
flooding. Most of the region receives more than 400 cm rainfall annually. Concentrated spells of rain during the monsoon season cause floods in the Chindwin, Ayeyarwady, Thanlwin and Sittaung river basins. In the Delta region, when high rainfall is accompanied by high tide in the seas, extended periods of flooding are experienced in many settlements.
Fires: Although not an entirely “natural” hazard, fire incidents very
frequently occur in the region, attributable mainly to prevalent housing patterns (dry thatch roofed houses) and local practices of indoor cooking on wood fired stoves.
Tsunamis: There is a recorded history of 11 tsunami events affecting the
43
Angin Topan: Selama 60 tahun terakhir ada 11 badai tropical yang menyerang Myanmar dan hanya 2 dari sebelas badai tersebut yang menyebabkan tanah longsor. Cyclone Nargis menduduki peringkat 8 sebagai bencana paling mematiikan didunia. Badai angin topan tropical pertama terjadi di Myanmar pada tahun 2006 yang dikenal dengan Cyclone Mala. Banjir: Wilayah yang terkena badai topan (cyclone) sangat rentan terhadap banjir. Sebagian besar wilayah Myanmar memiliki curah hujan lebih dari 400 m per tahun. Wilayah seperti Chindwin, Ayeyarwady, Thanlwin dan Sungai Sittaung adalah daerah yang menjadi sering mengalami banjir.
Kebakaran: Walaupun kebakaran bukan bahaya yang natural, kebakaran sangat sering terjadi, penyebab utama kebakaran adalah pola pemukiman atau perumahan serta kebiasaan warga Myanmar yang masih menggunakan kayu bakar sebagai alat utama memasak.
Tsumani: Tercatat ada 11 peristiwa tsunami yang terjadi di pantai timur laun samudera Hindia. Dan pada tahun 2004 terjadi tsunami Samudera Hindia menyerang Myanmar menyebabkan 60 orang tewas dan 2.500 menjadi terlantar akibat rusaknya tempat tinggal mereka (Terjemahan Penulis).
Cyclone Nargis adalah badai angin topan yang biasanya berasal dari samudra, dan
44
Gambar II.1 Peta Bencana Cyclone Nargis di kawasan Delta Ayeyarwady dan Divisi Yangoon
Sumber: Myanmar Information Management Unit (MIMU), Office of the UN Resident Coordinator, Myanmar (United Nations Environment Programme)
C.1 Dampak Sosial