REKOGNISI FRASA ADPOSISIONAL DALAM BAHASA INDONESIA
Awaluddin Sitorus Universitas Alwashliyah Medan
Abstract
Artikel ini meninjau kajian rekognisi f rasa adposisional dalam bahasa Indonesia. Dengan menggunakan teori transformasi generatif, penganalisasian bagaimana rekognisi frasa adposisional. Hasil analisis dapat menguraikan bahwa terjadinya frasa adposisional melibatkan adposisional dan objek-nya, adposisional berupa preposisi, posposisi dan ambiposisi, adposisional bertumpuk konstituen induk yang terdiri dari dua adposisi, adposisional bermarkah induk dan bermarkah bawahan, adposisional sebagai atribut.
Kata kunci: frasa adposisional, preposisi, posposisi, dan ambiposisi.
This article reviews recognition adposisional phrases in Indonesian by using the theory of generative transformation. The analysis results that the phrase adposisional involves adposisional and its object, adposisional a preposition, posposisi and ambiposisi, adposisional piled parent constituency consisting of two adposisi, adposisional marking parent and subordinate, adposisional as attributes.
Keyword: adposisional phrases, preposition, posposisi, and ambiposisi.
PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
Pandangan deskriptif bahwa kalimat merupakan satuan bahasa terkecil yang mengungkapkan pikiran yang utuh, baik dengan cara lisan maupun tulisan. Dalam bentuk lisan, kalimat merupakan ujaran yang diucapkan dengan suara naik turun, dan keras lembut, disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir. Sedangkan dalam bentuk tertulis, kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik (.), tanda tanya (?) dan tanda seru (!). Kalimat dalam ragam resmi, harus memiliki sebuah subjek (S) dan sebuah predikat (P), walaupun objek (O) dan keterangan (K) bersifat fakultatif (boleh ada boleh tidak hadir pada kalimat. Kedua unsur utama subjek dan predikat tersebut adalah inti untuk membedakannya dengan sebuah frasa. Frase menduduki satu fungsi sintaksis dalam kalimat. Fungsi sintaksis itu berupa predikat, subjek, objek, pelengkap, dan keterangan. Oleh karena itu, istilah deskriptif sengaja digunakan untuk menyatakan bahwa sebuah rekognisi frasa adposisional dapat diperifrasekan menjadi beberapa fungsi berdasarkan struktur batiniahnya yang dibicarakan pada uraian-uraian rekognisi frasa adposisional. Di dalam pertuturan (lisan) atau karangan (tertulis), bahasa itu diwujudkan dalam bentuk satuan-satuan bahasa yang disebut kalimat. Sedangkan kalimat itu sendiri terbentuk dari satuan-satuan kata yang dirangkaikan ( Chaer, 2006: 300). Kalimat-kalimat ini, secara teoretis, dibentuk oleh fungsi sintaksis subjek, predikat, objek, dan keterangan. Copyright ©2014, Program Studi Linguistik FIB USU, ISSN 1978-8266
Unsur yang berfungsi sebagai Subjek dapat dikatakan sebagai agen (A). Dalam pola kalimat bahasa Indonesia, subjek biasanya terletak sebelum predikat, kecuali jenis kalimat inversi. Subjek umumnya berwujud nomina, tetapi pada kalimat-kalimat tertentu, katagori lain bisa juga mengisi kedudukan subjek. Perhatikan contoh kalimat ini: (a) Hafni duduk-duduk di ruang tamu, Dari contoh tersebut yang berfungsi sebagai subjek adalah kata Hafni. Predikat dalam bahasa Indonesia bisa berwujud kata atau frasa verbal, adjektival, nominal, numeral, dan preposisional. Kalimat di atas, berfungsi sebagai predikat berkategori verbal dan dapat dikatakan kalimat verbal. Objek dalam kalimat umumnya berkategori nomina atau kata benda dapat juga dikatakan sebagai paisen (P), terletak setelah predikat yang berkategori verbal transitif. Objek pada kalimat aktif berubah menjadi subjek jika kalimatnya dipasifkan. Demikian pula, objek pada kalimat pasif menjadi subjek jika kalimatnya dijadikan kalimat aktif transitif. Contohnya yakni: (a) Adik dibelikan ayah sebuah buku. (b) Kami telah memicarakan peristiwa itu. Kata-kata ayah, sebuah buku, dan peristiwa itu adalah contoh objek. Khusus pada kalimat a. Terdapat dua objek yaitu ayah (objek 1) dan sebuah buku (objek 2) yang mempunyai aspek benefaktif. Pelengkap atau komplemen mirip dengan objek, namun berbeda karena pelengkap tidakmampu menjadi subjek jika kalimatnya yang semula aktif transitif dijadikan bentuk kalimat pasif. Contohnya yakni: (a) Indonesia berdasarkan Pancasila. (b) Kele ingin selalu berbuat kebaikan. (c) Kaki Raja tersandung kayu.
Frase adalah satuan konstruksi yang terdiri atas dua kata atau lebih yang membentuk satu kesatuan (Keraf, 1984:138). Frase juga didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonprediktif atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat (Chaer, 1991:222). Hal tersebut senada juga yang disampaikan (Ramlan, 2001:139) bahwa frase adalah satuan gramatik yang terdiri atas satu kata atau lebih dan tidak melampaui batas fungsi atau jabatan. Artinya sebanyak apapun kata tersebut asal tidak melebihi jabatannya sebagai Subjek, predikat, objek, pelengkap, atau pun keterangan, maka masih bisa disebut frasa. Contoh: (1) Rumah bersalin itu(S) luas(P). (2) Beliau (S) yang akan datang (P) besok(Ket). (3) Bapak(S) sedang memasak (P) nasi goreng (O). (4) Gadis itu(S) cantik sekali(P). (5) Minggu depan (Ket) aku(S) kembali(P). (6) Bu Camat(S) berdiri (P) di depan(Ket).
Dari uraian kalimat contoh di atas, yang menjadi bentuk frase adalah rumah bersalin, yang akan datang, sedang memasak, nasi goring, gadis itu,cantik sekali, minggu depan, Bu camat, di depan. Sintaksis frasa, disamping frasa nominal, juga meliputi frasa adposisional, ajektival, adverbial. Sintaksis frasa dapat dipandang menurut struktur intra frasalnya dan menurut struktur ekstraprasalnya. Misalnya, frasa preposisi dapat berfungsi sebagai objek ekstrafrasal. Contoh: (a) Guru menguraikan tentang teori itu. (b) Olah tanah dengan cangkul. Pada hal, sacara intrafrasal semua frasa yang dicetak tebal di atas adalah sama dengan frasa adposisional.
bertumpuk konstituen induk yang terdiri dari dua adposisi? (d) Bagaimana adposisional bermarkah induk dan bermarkah bawahan? (e) Bagaimana adposisional sebagai atribut?
KAJIAN PUSTAKA
Frase merupakan satuan sintaksis yang tersusun dari dua buah kata atau lebih, yang menempati tiap-tiap fungsi sintaksis. Frase, sebagai salah satu konstituen penting dalam satuan bahasa ternyata memegang peranan penting dalam proses pembentukan sintaksis. Frase merupakan konstruksi awal yang perlu dipahami terlebih dahulu untuk memahami sintaksis secara keseluruhan. Dalam satuan bahasa, konstituen frasa terletak pada tataran keempat setelah kata dan sebelum klausa, sehingga frase dapat menggantikan kata sebagai unsur pembentuk kalimat. Kalimat adalah telaah mengenai pola-pola yang dipergunakan sebagai sarana untuk menggabung-gabungkan kata menjadi frasa (Stryker, 1969:21). Ada pula yang mengatakan bahwa ―analisis mengenai konstruksi yang hanya mengikutkan bentuk-bentuk bebas disebutkan sintaksis frasa‖ (Bloch and trager, 1942:7).
Frase tidak boleh dipisahkan dari kesatuan fungsinya. Bila urutan-urutan unsur kalimat itu dipindahkan, maka frasa itu harus dipindahkan secara keseluruhan. Frase juga memiliki bentuk yang fleksibel, artinya kata-kata itu dapat rapat dan renggang. Frasa itu bisa disisipi dengan kata lain. Misalnya frasa di kamar, bisa menjadi frasa di suatu kamar atau di kamar kakek. Ada lagi yang mengatakan bahwa ―sintaksis adalah bahagian dari tatabahasa yang membicarakan struktur frasa dan kalimat‖ (Ramlan, 1976:57). Dari keterangan-keterangan serta batasan-batasan di atas, maka terbentuklah batasan sebagai berikut: sintaksis adalah cabang tatabahasa yang membicarakan struktur kalimat, klausa, dan frasa. Maka di dalam struktur tersebutlah dibicarakan rekognisi frasa adposisional dalam bahasa Indonesia. Adapun jenis-jenis frasa terbagi atas dua, yakni berdasarkan hubungan konstituen-konstituennya dan kategori gramatikalnya. Berdasakan hubungan konstituen-konstituennya, frasa terbagi menjadi frasa endosentris dan frasa eksosentris. Sedangkan berdasarkan kategori gramatikalnya, frasa terbagi menjadi frasa nominal (FN), frasa pronominal (FPro), frasa verba (FV), frasa adjektiva (FA), frasa adverbial (FAdv), dan frasa numeralia (FNum). Karena memperhatikan kondisi seperti ini, di dalam bahasa Indonesia masih ada frase yang disebut frasa adposisional yang belum dibicarakan secara tuntas oleh ahli linguistik.
1979:9) ataupun noncentered (Dik, 1979:90). Beradsarkan struktur internalnya, frasa adposisional yang terdapat pada frasa eksosentris disebut juga relater-axix phrase atau frase relasional (Bloch, 1968:165). Mengenai konsep frase, frase tidak dibatasi oleh jumlah kata atau panjang-pendeknya satuan. Frase bisa terdiri dua kata, tiga kata, empat kata, lima kata, dan seterusnya. Jadi, ukurannya bukanlah ukuran kuantitatif kata, melainkan ukuran rasional subjek dan predikat. Berapa pun panjang satuan atau jumlah kata dalam satuan itu, jika dipecah tidak menghasilkan subjek maupun predikat, maka satuan itu merupakan frase. Di dalam gramatika (grammar), frase merupakan salah satu konstituen dari tataran (level) sintaksis, sehingga frase merupakan bagian dari konstruksi sintaksis (Dola, 2010: 18).
Frase, dalam konstruksi sintaksis, terletak pada tataran awal -sebelum klausa dan kalimat. Walaupun kata termasuk dalam tataran sintaksis, tetapi kata di sini hanya sebagai pembentuk satuan yang lebih besar di atasnya erta hubungan kata dengan satuan bahasa di atasnya. Berbicara mengenai frasa, kita akan diingatkan kembali pada satuan-satuan bahasa yang telah kita ketahui sebelumnya. sekedar mengingatkan, satuan-satuan bahasa (linguistic unit) merupakan bentuk lingual yang merupakan komponen pembentuk bahasa.
Menurut Pike & Pike, satuan-satuan bahasa terdiri atas: morfem, gugus morfem, kata, frasa, kalimat, paragraf, monolog, pertukaran, dan konversasi. Frasa terletak pada konstituen ke-4. Sedangkan menurut Kridalaksana (1982) membedakan satuan bahasa menjadi morfem, kata, frasa, klausa, kalimat, gugus kalimat, paragraf, dan wacana. Frasa terletak pada konstituen ke-3. Frasa sebagai salah satu konstituen penting dalam satuan bahasa ternyata memegang peranan penting dalam proses pembentukan sintaksis. Jadi, untuk memahami sintaksis secara keseluruhan, terlebih dahulu kita perlu memahami tentang apa dan bagaimana konstituen terkecilnya, yaitu frasa. Namun, dapat juga berwujud dua buah kata atau lebih, yang merupakan satu kesatuan, sebagai contoh:
Ayah Poltak sedang membuat patung marga narasaon.
S P O
Melihat konstruksi kalimat di atas, kita dapat mengidentifikasi subjeknya terdiri atas dua buah kata, yaitu ayah dan Poltak; predikatnya terdiri atas dua buah kata, yaitu sedang dan membuat; objeknya terdiri atas tiga buah kata, yaitu patung, marga, dan narasaon. Gabungan dua buah kata atau lebih yang merupakan satu kesatuan dan menjadi salah satu unsur kalimat (S, P, O, atau K) biasa dikenal dengan istilah frasa. Jadi, dalam kalimat Ayah Poltak sedang membuat patung marga narasaon, yang menempati subjek adalah frasa Poltak; yang menempati predikat adalah frasa sedang membuat; dan menempati objek adalah frasa patung marga narasaon.
METODOLOGI
Dalam penyediaan data, metodologi yang dipakai adalah metode pustaka dengan mengkobolarasikan metode teknik catat. Adapun sumber data dari bahan yang tertulis adalah buku, majalah, jurnal ilmiah, dll. Data-data tersebut akan diuraikan berdasarkan masalah yang akan dideskripsikan pada penelitian ini. Teknik yang digunakan pada tahapan ini adalah teknik lesap, teknik ganti, teknik sisip, teknik balik, dan teknik ganti ujud dasar. Dengan demikian, data-data dianalisis dengan metode yang menggunakan alat penentu unsur bahasa itu sendiri untuk mendeskripsikan ancangan rekognisi frasa adposisional dalam bahasa Indonesia.
TEMUAN DAN PEMBAHASAN
Frase adposisional terdiri atas adposisi sebagai induk dan kata atau frasa nominal sebagai konsisten bawahan. Konstituen tersebut dalam ilmu linguistic lazim disebut objek artinya objek pada adposisi induk. Istilah objek itu, dieja dengan ‗o‖ kecil‖, untuk membedakannya dari ―objek‖ (huruf besar) sebagai argument dalam klausa; artinya Objek pada verba. Kebiasaan menyebut kokonstituen adposisi ―objek‖ pernah muncul oleh karena dalam banyak bahasa adposisi berasal dari verba. Tumpang –tindihnya kedua kelas kata itu, adposisi dan verba, masih terlihat dalam contoh (1) dan (2) bahasa Inggris (partisipia presen), contoh (3) bahasa Indonesia (bentuk man-), dan contoh (4) bahasa Tok Pisin (bentuk –im):
(1) considering this
mempertimbangkan ini
‗karena hal ini‘
(2) exceeding five kilos lebih: dari lima kilo ‗lebih dari lima kio
(3) mengingat hal itu menurut dia; mempertimbangkan hal itu; melebihi tuntutan
(4) winim hat bilong wara
lebih: dari panasnya PRP:POS air ‗lebih panas adri air‘
Banyak bahasa adposisi tidak berasal dari verba (atau asal yang demikian tidak dapat
dibuktian), namun istilah ―objek‖ untuk kokonstituen adposisi umum dipakai para ahli
linguistic. Selain dari itu, bahkan dalam hal adposisi berupa verbal, ―objek‖-nya belum
tentu diperlukan seperti objek pada verba predikatif. Misalnya, dalam bahasa Indonesia bentuk verba dangan men- dapat menyufikskan objek pronominal (misalnya membaca-nya, mengingat-nya), tetapi bentuk serupa sebagai objek adposisi tidak gramatikal: frasa adposisional mengingat hal itu tidak dapat diubah menjadi*mengingat-nya dalam arti yang sama. Sebaliknya, banyak adposisi nonverbal dalam bahasa ini dapat menyufikskan objeknya dalam bentuk pronominal. Adposisi yang dapat mendahului objeknya disebut ―preposisi‖, sedangkan adposisi yang dapat mengikuti objeknya lazim dinamai
―posposisi‖. Selain dari kedua jenis ini ada juga yang dapat kita sebut ―ambiposisi‖, yaitu
adposisi dengan dua bagian yang didepan dan dibelakang objeknya. Istilah ―ambiposisi‖, seperti juga istilah ―ambifiks‘ dan ―sirkumfiks‖ tidak sangat umum dipakai dalam ilmu linguistik.
Ada bahasa-bahasa yang memiliki adposisi yang preposisional saja dan bahasa tersebut bersusun beruntun VO secara konsisten misalnya dalam bahasa Woleai (Mikronesia, daerah Pasifik) sebagai berikut:
(5) woal Mariiken
(6) faal mai we di:bawah:nya pohon: sukun itu ‗di bawah pohon sukun itu‘
(7) ttir tangi Bill cepat dari Bill ‗lebih cepat dari Bill‘
Bahasa-bahasa yang bersusun beruntun OV secara konsisten biasanya memiliki adposisi hanya dalam bentuk posposisi saja: contohnya dalam bahasa Jepang (contoh 8 dan 9), bahasa Manam Papua Niugini (contoh 10 dan 11), dan bahasa Punjabi (contoh 12 dan 13):
(8) Tookyoo ni (atau:) tookyoo e
Tokio ke Tokio ke
‗ke Tokyo‘
(9) Yokohama made Yokohama sampai ‗sampai Yokohama‘ (10) p‟atu bo?ana
batu seperti ‗seperti batu‘ (11) ?a‟i o‟no
tongkat dengan ‗dengan tongkat‘ (12) ker yc
rumah di:dalam ‗di dalam rumah‘
(13) pwtrang tong
anak:anak:putera dari
‗dari anak-anak putera
Adanya banyak bahasa yang tidak memiliki keselarasan infraklausal untuk susunan beruntun, sehingga frasa adposisi meliputi baik preposisi maupun posposisi antara lain dalam bahasa Jerman (contoh 14, 15 dan 16), bahasa Belanda (contoh 17 dan 18) dan bahasa Inggeris (contoh 19 dan 20).
(14) mit diese-n Buch-er-n denan ini J:DAT buku J DAT
‗dengan buku-buku ini‘
(15) fur die kind-er
untuk ART:DEF:N:J:AK anak J:AK ‗untuk anak-anak itu‘
(16) ihm zuwider
‗melawan dia‘
(17) over het erf
melintasi ART:DEF:N:T pekarangan
(18) het erf over
ART:DEF:N:T pekarangan melintas melintasi pekarangan‘
(19) notwithstanding the problem
Walaupun:ada ART;DEF masalah
‗walaupun ada masalah itu‘
(20) the problem notwithstanding ART:DEF masalah walaupun:ada
‗walaupun ada masalah itu‘
Ambiposisi dapat diperiksa dalam bahasaBelandadan Inggeris sebagai berikut:
(21) tegen mijn wens-en in melawan POS;1:T kehendak J
‗melawan kehendak saya‘
(22) door de kamer heen melalui ART:DEF ruang
‗melalui ruang itu‘ (23) for peter-„s sake
demi Peter JEN
‗demi Peter‘
Dalam banyak bahasa, frasa adposisi membutuhkan adposisi mejemuk atau adposisi frasal atau adposisi rangkap sebagai induk frasa adposisional. Adposisi itu seakan-akan bertumpuk satu pada yang lain dan oleh sementara ahli disebut ―adposisi bertumpuk‖. Apakah adposisi bertumpuk dipandang sebagai adposisi majemuk atau adposisi frasal
rupanya tidak begitu penting dan istilah ―adposisi bertumpuk‖ menghindari masalah
tersebut. Contoh berikut ini adalah contoh bahasa Inggris (adposisi bertumpuk dicetak tebal):
(24) They took it from under the cabinet. 3:J ambil 3:T dari di:bawah ART:DEF lemari ‗Mereka mengambilnya dari tempat di bawah lemari‘.
(25) They dragged it to* (the space) under the cabinet 3:J seret 3:T ke ART:DEF tempat di:bawah ART:DEF lemari
Dalam kasus (16), preposisi bertumpuk from under memang ―bertumpuk‖ secara semantic pula, karena temapat barang yang diambil adalah di bawah (under) almari, sedangkan barang tersebut lalu pindah dari (from) tempat tersebut. Padahal ada kendala gramatikal pada alat semantic tersebut, seperti terlihat dalam (17): * to under tidak gramatikal (frasa the space atau prasa serupa wajib dipakai), dan under the cabinet adalah atribut pada nomina space.
Dalam bahasa Indonesia preposisi bertumpuk *dari di bawah tidak gramatikal, bukan karena preposisi bertumpuk dalam bahasa ini tidak mungkin, melainkan karena yang bertumpuk rangkap tiga tidak mungkin (di bawah sudah rangkap).
Dalam penelitian antarbahasa kita temukan berbagai sistem adposisi bertumpuk. Periksalah system adposisi dalam bahasa Inggris. Bahasa ini memiliki system adposisi (tunggal) yang cukup terperinci: ada of ‗dari‘, from ‗dari‘, ‗daripada‘, to ‗ke‘, ‗kepada‘, above ‗di atas‘, below ‗di bawah‘, behind ‗di belakang‘, before ‗sebelum‘, ‗di depan‘ after ‗sesudah‘, between ‗di antara‘, dan sejumlah lain lagi. Menyangkut system adposisi bertumpuk dalam bahasa ini, system tersebut tergantung dari kebutuhan semantic (dengan kendala gramatikal tertentu), tetapi seluruh system adposisi adalah system yang terdiri dari banyak adposisi tunggal. Sistem ini kiranya dapat kita sebut system ―tipe Inggris‖.
Sebaliknya, dalam bahasa tertentu yang lain ada sistem yang agak lain sifat-sifatnya: jumlah adposisi tunggal hanya sedikit saja, sehingga kebutuhan semantis perlu diungkapkan dengan sistem adposisi bertumpuk. Dalam bahasa Tok Pisin, misalnya, ada hanya tiga adposisi tunggal (kebetulan preposisi semua), yaitu: long ‗di‘, ‗dari‘; bilong
‗dari‘, ‗PRP:POS‘; dan wantaim ‗dengan‘ )tidak terhitung bentuk verbal winim ). Semua
preposisi lainnya berupa preposisi bertumpuk (dengan long semua), sebagai contoh Tok Pisin:
(26) aninit long antap long ausait long insait long bawa di atas di luar di dalam di
‗di bawah‘ ‗di atas‘ ‗di luar‘ ‗di dalam‘
(27) namel long paslain long raun long
antara di depan di keliling di
‗di antara‘ ‗di depan‘ ‗di keliling‘
Konstituen di depan long (kecuali paslain dan raun) , bila dipakai tanpa long, dapat berfungsi sebagai nomina atau sebagai adverbial. Contohnya aninit‗bagian bawah‘ (seperti dalam long aninit ‗di bagian bawah) atau (dalam pemakaian adverbial) ‗di
bawah‘; contoh lain adalah antap ‗bagian atas‘ (seperti dalam long antap ‗di bagian
atas‘), atau (dalam pemakaian adverbial) ‗di atas. Yang penting disadari adalah bahwa konstruksi seperti long aninit dan long antap adalah frasa preposisional (dengan long sebagai preposisi tunggal), sedangkan aninit long dan antap long adalah preposisi bertumpuk dan baru dengan nomina berikut merupakan frasa preposisional, seperti dalam bahasa Tok Pisin,
(28) antap long haus aninit long haus
atas di rumah bawah di rumah
‗di atas rumah‘ ‗di bawah rumah‘
Hampir semua kebutuhan semantik terpenuhi dengan adposisi bertumpuk dan sistem ini dapat kita juluki sistem ―tipe Tok Pisin‘. Dalam kontinuum di antara kedua sistem ini, yaitu tipe Inggris dan tipe Tok Pisin itu, ada sistem yang berlaku untuk banyak bahasa yang lain, bahasa Indonesia (―tipe Indonesia‖, katakanlah) di antaranya. Artinya, jumlah adposisi tunggal (seperti: di, dari, ke, pada, dengan, tanpa, untuk, bagi) tidak sangat besar tetapi juga tidak sangat kecil, sedangkan adposisi bertumpuk dalam bahasa ini agak besar jumlahnya juga (contohnya: di bawah, di atas, di belakang, dan seterusnya, dan adposisi serupa dengan dari dan pada sebagai adposisi pertama: dari bawah, dari atas, dan seterusnya). Pendek kata, adposisi bertumpuk cukup besar jumlahnya, dalam bahasa ini. Ada pula kendala gramatikal: ke + sufiks promominal tidak mungkin tanpa pada (kepadanya-nya, bukan * ke-nya; daripada-ku, bukan * dari-ku, dan seterusnya), sedangkan di antara adposisi tunggal ada yang dapat ditambahi sufiks (dengan-nya, untuk-nya), dan ada yang tidak (*tanpa-nya). Bahkan adposisi yang berprefiks men- tidak dapat ditambahi sufiks, sedangkan bentuk yang sama sebagai verba. Contoh bahasa Indonesia
(29) Saya kirim pesan ke* (pada) kepala kantor itu.
(30) Saya kirim pesan ke (*pada) kantor itu.
(31) Kalau label untuk buku, tempelkan saja kepada-nya.
Ada dua tipologi morfologis, yaitu bahasa pemarkah induk dan bahasa pemarkah bawahan. Kebetulan bahasa Indonesia (dan banyak bahasa Austronesia khususnya di Indonesia) sebagian besar memarkahi induk dalam konstruksi yang bermarkah. Contohnya: untuk-nya; bagi-nya; daripada-nya.
Frasa adposisional pemarkah induk ada dua jenis:
1. Pemarkahan adposisi secara pronominal sebagai pengganti nimona. Misalnya, dalam bentuk Indonesia untuk-nya atau bagi-nya, sufiks-nya menggantikan nomina; artinya, bila nomina hadir, tak ada pemarkahan – nya: tidak mungkin konstruksi seperti *untuk-nya guru, haruslah untuk guru.
2. Pemarkahan adposisi induk adalah pemarkahan yang hanya menyertai, tidak mengganti, nomina objek, jadi ada baik pemarkahan (tebal) maupun nomina objek.
Contoh bahasa Abkhaz (Kaukasia)
(32) a- jeyas a- q‟ne ART sungai 3:T pada ‗pada sungai itu‘
(33) Est in dom- o Ada:3:T:KPR:IND PRP rumah T:ABL ‗dia ada di rumah‘
(34)It in dom- um
Gerak;KPR:IND:3:T PRP rumah Ak ‗dia masuk ke dalam rumah‘
Dalam bahasa Jerman, preposisi tertentu menguasai kasus datif dalam objeknya (misalnya, mit ‗dengan‘ atau seit ‗sejak‘), sedangkan preposisi yang lain (misalnya wegen ‗karena‘, atau wa'hrend ‗selama‘) menguasai kasus jenitif dalam objeknya; preposisi lain lagi menguasai kasus akusatif (misalnya fu”r ‗untuk‘ atau durch ‗melalui‘).
(35) mit den Kind- er- n dengan ART:DEF:N:J:DAT anak J DAT ‗dengan anak-anak itu‘
(36)seit dem Krieg sejak ART:DEF:M:T:DAT perang ‗sejak perang itu‘
(37)wegen des schlechten wetter-s karena ART:DEF:N:T:JEN buruk:T:JEN cuaca EN
‗karena cuaca yang buruk‘
(38)durh den Saal melalui ART:DEF:M:T:AK ruangan ‗melalui ruangan‘
Pembahasan ini hanya membahas dalam struktur intrafrasalnya. Namun struktur tersebut kadang-kadang tergantung dari struktur ekstrafrasalnya. Dalam tradisi pembahasan gramatikal baik untuk bahasa Inggris (contoh 39) maupun untuk bahasa Indonesia (contoh 40) tidak terlihat adanya masalah. Misalnya frasa preposisional bahasa Inggeris on the table dapat menjadi atribut pada the flowers, dan dalam frasa preposisional dalam bahasa Indonesia di samping lemari dapat menjadi atribut pada kursi.
(39)the flower on the table ART:DEF bunga di:atas ART:DEF meja ‗bunga di atas meja‘
(40)kursi di samping lemari
Akan tetapi, dalam bahasa Tok Pisin tidak semua frasa preposisional dapat dipakai sebagai atribut. Misalnya, frasa long ston dapat, tetapi konstruksi seperti itu agak jarang dipakai, dan hanya bila long sebagai preposisi tunggal bermakna lokatif (tidak bila
bermakna ‗ke‘); dalam makna lokatif lebih ―normal‖-lah bentuk klausa relative.
(42)olgeta samting I stap long graun semua benda PRK ada di bumi ‗semua benda yang ada di dalam bumi‘ (43)rot *(i) raun long maunten
jalan PRK keliling di bukit ‗jalan yang mengelilingi bukit‘
Dalam bahasa OV dengan keselarasan infraklausal yang konsisten yakni bahasa dengan posisi pronominal yang wajib untuk semua atribut, ada kendala-kendala ketat untuk frasa posposisional sebagai atribut. Misalnya, dalam bahasa Jepang hanya frasa dengan posposisi no ‗dari‘, ‗POS‘, dapat berperan sebagai atribut, dan alasan semantik, posposisi lain dibutuhkan, penambahan posposisi no di belakangnya perlu demi kegramatikalan frasa posposisional sebagai atribut, seperti contoh berikut.
(44)Niho no fune Jepang PSP kapal
‗kapal Jepang‘; atau: ‗kapal dari Jepang‘;atau:
‗kapal yang tujuannya Jepang‘; atau: ‗kapal milik Jepang‘ (45)Nihon kara no fune
Jepang PSP PSP kapal
‗kapal yang dari Jepang (datangnya)‘
KESIMPULAN
Frase adalah satuan konstruksi yang terdiri atas dua kata atau lebih yang membentuk satu kesatuan. Frasa adposisional terdiri atas adposisi sebagai induk dan kata atau frasa nominal sebagai konsisten bawahan. Selain itu juga adposisi dan objek-nya, preposisi, posposisi, ambioposisi, adposisi bertumpuk.
Konstituen pada frasa adposisional itu disebut objek artinya objek pada adposisi induk. Istilah objek itu, dieja dengan ‗o‖ kecil‖, untuk membedakannya dari ―objek‖ (huruf besar) sebagai argument dalam klausa; artinya Objek pada verba.
DAFTAR PUSTAKA
Bloch and trager. 1942. Readings in Linguistics. New York: American Council. Chaer. Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Chaer, Abdul. 2006. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta. Chaer. Abdul. 2009. Sintaksis Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Dik, Simion C. 1979. Functional Grammar. Amsterdam: Nort Holland.
Elson and Picklett. 1983. Language Teaching: A scientific Approach. New York: McGraw-Hill, Inc.
Keraf, Gorys. 1984. Tatabahasa Indonesia. Flores: Nusa Indah. Kridalaksana .1982. Analisis Bahasa. Jakarta: Erlangga.
Kushartanti, dkk. 2009. Pesona Bahasa; Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
P, Wardihan. 2010. Diktat Pengantar Linguistik. Makassar: Universitas Negeri Makassar. Pike, Kenneth L., and Evelyn G. Pike.1977. Grammatical Analysis, The Summer Institu
of Linguistics and The University of Texas at Arlington.
Ramlan, M. 1985. Tatabahasa Indonesia: Penggolongan Kata. Yogyakarta: Andi Ofset. Samsuri. 1978. Analisis Bahasa. Jakarta: Erlangga.
Sudaryanto. 1991. Tatabahasa Baku Bahasa Jawa. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.
Stryker. 1969. Pragmatics. Cambridge: Cambridge University Press. Tarigan, Henry Guntur. 1985. Pengajaran Sintaksis. Bandung: Angkasa.
Verhaar, J.W.M. 1977. Pengantar Linguistik, Jilid I: Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada.
Verhaar, J.W.M. 2010. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Verhaar, J.W.M. 1994c. ―Language underived. “Notes on Linguistics, 67: 41-44.
Verhaar, J.W.M. 1995a. ―Endony and exonyms. “Notes on Linguistics, 70: 11-14.