• Tidak ada hasil yang ditemukan

The Role of Cibinong Subdistrict as the Center of Economy Growth in Bogor Regency

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "The Role of Cibinong Subdistrict as the Center of Economy Growth in Bogor Regency"

Copied!
94
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PERAN KECAMATAN CIBINONG

SEBAGAI PUSAT PERTUMBUHAN EKONOMI

DI KABUPATEN BOGOR

ISNINA WAHYUNING SAPTA UTAMI

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN

SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul Analisis Peran Kecamatan Cibinong sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi di Kabupaten Bogor adalah karya saya dengan arahan dari Komisi Pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Juli 2012

(4)
(5)

ABSTRACT

ISNINA WAHYUNING SAPTA UTAMI. The Role of Cibinong Subdistrict as the Center of Economy Growth in Bogor Regency. Under direction of SRI MULATSIH and SAID RUSLI.

The aims of this study are (1) to identify the development of facilities in Cibinong Subdistric,(2) to analyze the role of CibinongSubdistric as the centre of economic Growth in Bogor regency, (3) to analyse the changing structure of labour in Cibinong Subdistrict. This research was a quantitative descriptive research. The data used was secondary data which was from Statistic Center Agency (BPS) in Bogor Regency and BAPPEDA. This study using data PODES 2005 and 2011, data from Population Cencus of 2000 and 2010. Quantitative analysis were Scalogram Analysis, transformation labour and descriptif analysis. The result showed that the highest score of facilities was in Cibinong Subdistric. Cibinong Subdistric as the center of economic development growth in Bogor Regency (hierarchy I). Labor structure in Cibinong Subdistrict was changing from dominan in agricultural sector to manufacturing and service sectors.

(6)
(7)

RINGKASAN

ISNINA WAHYUNING SAPTA UTAMI. Analisis Peran Kecamatan Cibinong sebagai Pusat Pertumbuhan di Kabupaten Bogor. Dibimbing oleh SRI MULATSIH dan SAID RUSLI.

Setiap daerah mempunyai keinginan yang sama dalam upaya mengembangkan dan mensejahterakan wilayahnya, namun tantangan dan hambatan setiap daerah pun berbeda-beda antara lain karena potensi yang berbeda-beda. Menurut Rustiadi, et. al (2009), hal ini disebabkan berbagai faktor antara lain faktor struktur sosial ekonomi dan distribusi spasial dari sumber daya bawaan yang mencakup faktor geografi, sejarah, politik, kebijakan pemerintah, administrasi, sosial budaya dan ekonomi. Perbedaan pertumbuhan bukan hanya terjadi antar propinsi di wilayah Indonesia, tetapi antar kabupaten-kota di seluruh Indonesia, bahkan antar kecamatan.

Kabupaten Bogor sebagai wilayah yang berdampingan langsung dengan wilayah Ibukota Indonesia (DKI Jakarta) tentu akan terpengaruh perkembangan perekonomiannya. Apabila Pemerintah Kabupaten Bogor, khususnya Kecamatan Cibinong sebagai pusat kota dari Kabupaten Bogor, dapat mengelola potensi sumber daya dan pengadaan prasarana dan sarananya maka akan membawa efek positif terhadap peningkatan kesejahteraan bagi masyarakatnya.

Dari data sekunder Podes 2005 dan 2011, yang dianalisis dengan skalogram, menunjukkan bahwa Kecamatan Cibinong berperan sebagai pusat pertumbuhan. Hal ini ditunjukkan secara konsisten Kecamatan Cibinong tetap pada Hierarki I dan didukung dari peningkatan jumlah unit fasilitas ekonomi dan sosial. Kecamatan Cibinong termasuk Hierarki I diantara 40 kecamatan yang ada di Kabupaten Bogor yang artinya merupakan wilayah maju yang berpotensi menjadi pusat pelayanan fasilitas. Perkembangan fasilitas di Kecamatan Cibinong selama tahun 2005-2011 mengalami peningkatan pada 13 jenis fasilitas, sedangkan 2 jenis fasilitas lainnya mengalami penurunan.

Location Quotient (LQ) digunakan untuk mengetahui perubahan struktur tenaga kerja di Kecamatan Cibinong dari tahun 2000-2010 menunjukkan bahwa struktur tenaga kerja di Kecamatan Cibinong mengalami perubahan struktur tenaga kerja, dengan perubahan kontribusi di sektor manufaktur sebesar 6.33 persen dan di sektor jasa sebesar 0.12 persen.

(8)
(9)

© Hak Cipta milik IPB, tahun 2012

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.

(10)
(11)

ANALISIS PERAN KECAMATAN CIBINONG

SEBAGAI PUSAT PERTUMBUHAN EKONOMI

DI KABUPATEN BOGOR

ISNINA WAHYUNING SAPTA UTAMI

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Program Studi Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(12)
(13)

PRAKATA

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan tesis dengan judul Analisis Peran Kecamatan Cibinong sebagai Pusat Pertumbuhan di Kabupaten Bogor”. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan sebesar-besarnya kepada Dr. Ir. Sri Mulatsih, M.Sc.Agr. dan Ir. Said Rusli, M.A, sebagai komisi pembimbing yang telah mencurahkan waktu, pemikiran serta kesabaran memberi pengarahan dan masukkan bagi kelengkapan penulisan. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Prof. Dr. Ir. Bambang Juanda, MS sebagai ketua program studi PWD dan Dr. Ir. Setia Hadi, MS sebagai penguji luar komisi yang memberi masukan bagi kelengkapan penulisan ini.

Terima kasih kepada Pimpinan Universitas Terbuka dan Pimpinan Fakultas Ekonomi beserta teman-teman sejawat yang telah memberikan ijin, rekomendasi, biaya serta segala dukungan selama penulis mengikuti pendidikan di Institut Pertanian Bogor (IPB). Bu Nurlatifah,SE., M.Si. dari kantor Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bogor. Mbak Ir.Emma, M.Si. dari Program Studi PWL yang dengan sabar dan ikhlas meluangkan waktunya mengiringi langkah pengolahan data. Pihak lain yang telah bekerjasama dalam penelitian ini.

Ir, Djoko Santosa suamiku dan Nikko Zainindra Alif Santosa dan Donny Audiansyah Surya Santosa anak-anakku yang telah memberikan keceriaan, semangat, doa, perhatian, dukungan, dan kasih sayang yang tulus kepada penulis. Keluarga besar Soetjipta dan Wiratmo serta keluarga Om Sri Rahardjo yang senantiasa menguatkan penulis dengan doa dan semangat yang tiada terputus. Khususnya buat keluarga besar kakakku Dewi SEY, SE terima kasih banyak atas pengorbanan waktu dan tenaganya.

Kepada teman-teman PWD Angkatan 2008 (Arief, Said, Sutiya, Adrianus, Michael, Eka, Arafat, bu Andi, bu Rika, pak Rudi, pak Steve, pak Adit, pak Asep, pak Tajerin dan pak Hanan), saudaraku di PWD Angkatan 2009 (pak Firman, pak Puji, Wawan, Tabrani, bu Hj. Linda, pak Adam, pak Dede, pak Endang, pak Masril, pak H. Untung, pak Alex, pak Enirawan dan bu Luh), mbak Elva, mbak Nisa, mbak Lisa, bu Odah, bu Ummay, bu Ria, Dian Verawati, pak Indra, pak Aris, pak Bambang Tri, pak Jun, pak Mahyudin, serta teman-teman terima kasih atas semua dukungan dan kebersamaan. Serta semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu, atas semua kontribusinya terhadap penyelesaian tesis ini.

(14)
(15)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Yogyakarta pada tanggal 6 April 1970 dari ayah H. Drs. Soetjipta, M.Sc. (almarhum) dan ibu Hj. Sri Rahayuningsih (almarhumah). Penulis merupakan bungsu dari tujuh bersaudara. Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SDN II Ikip Yogyakarta pada tahun 1982, SMPN II Ikip Yogyakarta selesai tahun 1985 dan SMA Institut Indonesia I di Yogyakarta lulus tahun 1988. Melanjutkan pendidikan studi S1 di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Dari tahun 1998 sampai sekarang, penulis bekerja di Fakultas Ekonomi Universitas Terbuka pada Jurusan Ekonomi Pembangunan. Tahun 2008, penulis

(16)
(17)

DAFTAR ISI

2.1 Konsep Wilayah dan Perwilayahan…...……….. 5

2.2 Hierarki Wilayah………. 7

2.3 Pembangunan Wilayah………. 12

2.4 Indikator pembangunan……… 16

2.5 Pembangunan Sektor Basis …..……… 20

2.6 Teori Perubahan Struktural………... 21

2.7 Penelitian Terdahulu ..………. 22

2.8 Kerangka Pemikiran ………. 24

III. METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi Penelitian……… 27

3.2 Teknik dan Pengumpulan Data………. 27

3.3 Metode Analisis...………..……….. 27

3.3.1 Analisi Deskriptif……… 27

3.3.2 Analisis Perkembangan Wilayah Metode Skalogram… 28 3.3.3 Identifikasi Sektor Unggulan ..………. 30

IV. GAMBARAN UMUM KABUPATEN BOGOR..……….. 33

V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Perkembangan Fasilitas di Kecamatan Cibinong………. 45

5.2 Kecamatan Cibinong sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi ….. 46

5.3 Perubahan Struktur Tenaga Kerja Kecamatan Cibinong …….. 51

VI. KESIMPULAN DAN SARAN 61 6.1. Kesimpulan …….………. 61

6.2. Saran……….. 62

(18)
(19)

DAFTAR TABEL

Halaman

1 Indikator-indikator Pembangunan Wilayah Berdasarkan Basis/

Pendekatan Pengelompokkannya 19

2 Nilai Selang Hierarki IPK 29

3 Matrik Tujuan, Metode, Data dalam Penelitian 31 4 Peringkat Jumlah Penduduk Sebelas Provinsi dengan Jumlah

penduduk Terbanyak Berdasarkan Sensus Penduduk 2010 39 5 Jumlah Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas yang Bekerja Menurut

Lapangan Usaha Utama dan jenis kelamin di Kabupaten Bogor 2007 39 6 Proyeksi Angkatan Kerja di Kabupaten Bogor Tahun 2004-2009 40 7 Jumlah Penduduk, Luas Lahan dan Kepadatannya di Kecamatan

Cibinong Tahun 2008 40

8 PDRB kabupaten Bogor Atas dasar harga Konstan 2000 Menurut

Lapangan Usaha tahun 2007-2010 (triliun rupiah) 41 9 Perkembangan Fasilitas Kecamatan Cibinong dari Tahun 2005-2011 45 10 Persentase Rumah Tangga yang Memiliki Akses Komunikasi, 2010 46 11 Wilayah dengan Hierarki I di Kabupaten Bogor tahun 2005 dan

Tahun 2011 48

12 Wilayah Kecamatan dengan Hierarki II di Kabupaten Bogor tahun

2005 dan Tahun 2011 49

13 Wilayah Kecamatan dengan Hierarki III di Kabupaten Bogor tahun

2005 dan Tahun 2011 50

14 Wilayah Kecamatan di Kabupaten Bogor tahun 2005 dan Tahun 2011 51 15 Kontribusi Jumlah Tenaga Kerja Penduduk berumur 15 Tahun keatas

yang bekerja Terhadap Total Tenaga Kerja Kabupaten Bogor (%) 52 16 Perubahan Jumlah Tenaga Kerja Hasil Sensus Penduduk tahun

2000-2010 di Kabupaten Bogor (%) 53

17 Perubahan Kontribusi Jumlah Tenaga Kerja Penduduk berumur 15 Tahun Keatas yang Bekerja Terhadap Total Tenaga Kerja Kabupaten Bogor (%)

54

18 Kontribusi Tenaga Kerja Tahun 2010 Diurutkan Berdasarkan Sektor

Pertanian (%) 55

19 Kontribusi Tenaga Kerja Tahun 2010 Diurutkan Berdasarkan Sektor

Manufaktur (%) 56

20 Kontribusi Tenaga Kerja Tahun 2010 Diurutkan Berdasarkan Sektor

Jasa (%) 57

21 Hasil Perhitungan LQ Jumlah Tenaga Kerja Hasil Sensus Penduduk Tahun 2000 dan 2010 per Kecamatan Terhadap Total Tenaga Kerja

(20)
(21)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1. Sistematika Penyusunan Konsep-konsep Indikator Kinerja

Pembangunan Wilayah ……….……….. 17

2. Struktur Proses Pembangunan ……….……….. 18

3. Perubahan Struktur Ekonomi dalam Proses Pembangunan Ekonomi: Suatu Ilustrasi ………. 22

4. Kerangka Pemikiran Penelitian ……….……… 24

5. Kawasan Budidaya di Kabupaten Bogor ………. 37

6. Wilayah Kecamatan Cibinong ……… 42

7. Peta Hierarki per Kecamatan di Kabupaten Bogor Data Podes Tahun 2005 ……… 47

(22)
(23)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

(24)
(25)

1

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pertumbuhan ekonomi, struktur ekonomi dan semakin kecilnya ketimpangan pendapatan antarpenduduk, antardaerah dan antarsektor masih menjadi bagian dari tolok ukur keberhasilan suatu pembangunan. Menurut Djojohadikusumo (1994), pertumbuhan ekonomi berpokok pada proses peningkatan produksi barang dan jasa dalam kegiatan ekonomi masyarakat.

Sedangkan menurut Arsyad (1999) pembangunan ekonomi daerah adalah proses dimana pemerintah daerah dan masyarakat mengelola sumberdaya yang ada melalui suatu pola kemitraan antara pemerintah dengan sektor swasta untuk menciptakan lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi (pertumbuhan ekonomi) dalam wilayah tersebut. Prinsip pertumbuhan ekonomi juga ditentukan oleh adanya industri yang cenderung akan menarik modal dari daerah sekitarnya, hal ini disebabkan karena keuntungan letak lokasi pada wilayah tersebut.

Menurut Weiss (1988) dalam Tambunan (2001), pembangunan ekonomi dalam periode jangka panjang, mengikuti pertumbuhan pendapatan nasional, akan membawa suatu perubahan mendasar dalam struktur ekonomi, dari ekonomi tradisional dengan pertanian sebagai sektor utama ke ekonomi modern yang didominasi oleh sektor-sektor nonprimer. Ada kecenderungan atau dapat dilihat sebagai suatu hipotesis bahwa semakin tinggi laju pertumbuhan ekonomi rata-rata per tahun yang membuat semakin tinggi atau semakin cepat proses peningkatan pendapatan masyarakat per kapita semakin cepat perubahan struktur ekonomi dengan asumsi bahwa faktor-faktor penentu lain mendukung proses tersebut, seperti tenaga kerja, bahan baku dan teknologi tersedia.

(26)

2

masyarakat wilayahnya, namun tantangan dan hambatan setiap daerah pun berbeda-beda antara lain karena potensi atau keunggulan berbeda-beda. Menurut Rustiadi, et. al (2009), hal ini disebabkan berbagai faktor antara lain faktor struktur sosial ekonomi dan distribusi spasial dari sumberdaya bawaan yang mencakup faktor geografi, sejarah, politik, kebijakan pemerintah, administrasi, sosial budaya dan ekonomi. Perbedaan pertumbuhan atau yang lebih dikenal dengan istilah disparitas antarwilayah ini, bukan hanya terjadi antar provinsi di wilayah Indonesia, tetapi antar kabupaten/kota di seluruh Indonesia, bahkan

antarkecamatan. Terjadinya disparitas disamping alasan yang dikemukakan di atas, juga dipicu oleh terkonsentrasinya kegiatan penduduk di suatu wilayah tertentu sehingga membentuk suatu pusat-pusat ekonomi atau pusat-pusat perdagangan.

Penelitian dari Adnan (2009), menunjukkan bahwa penetapan kawasan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi umumnya dipengaruhi oleh pertimbangan-pertimbangan pembangunan ekonomi yang dianggap penting oleh pemerintah daerah. Meskipun pembangunan ekonomi yang berupa peningkatan output dan pendapatan riil per kapita bukan satu-satunya sasaran kebijakan namun kebijakan ekonomi dalam rangka kenaikan pertumbuhan output harus dilakukan. Hal ini dikarenakan pertumbuhan ekonomi diperlukan sebagai suatu syarat dalam peningkatan kesejahteraan rakyat dan juga sebagai prasyarat dalam mencapai tujuan pembangunan seperti pembangunan bidang pendidikan/ peningkatan SDM, pembangunan bidang kesehatan, sarana dan prasarana sosial dan lain sebagainya. Sehingga kebijakan dari suatu daerah belum tentu sesuai bagi daerah lain karena masing-masing daerah kondisi dan potensinya berbeda dan tergantung dari masalah yang ada maupun kebutuhan daerah yang bersangkutan.

Kabupaten Bogor merupakan daerah dengan beberapa wilayah yang

(27)

3

itu jika ditinjau dari keberadaaan Kabupaten Bogor yang mengelilingi wilayah Kota Bogor tentunya juga akan menjadikan dampak tertentu bagi masyarakat di wilayah Kabupaten Bogor.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1982 merupakan dasar dari Pemindahan Ibukota Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor dari wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Bogor ke Kecamatan Cibinong di wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor. Keberadaan Kecamatan Cibinong di wilayah pembangunan Tengah diharapkan bisa menjadikan akses masyarakat di

wilayah kecamatan yang lain menjadi lebih baik terhadap pelaksanaan pelayanan pusat kota Kabupaten Bogor. Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan maka peran Kecamatan Cibinong sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Bogor menarik dan perlu untuk dilakukan dalam upaya pengembangan wilayah di Kabupaten Bogor. Dalam hubungan inilah penelitian ini dilakukan.

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan pokok permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimana perkembangan fasilitas di Kecamatan Cibinong?

2. Apakah Kecamatan Cibinong berperan sebagai pusat pertumbuhan di Kabupaten Bogor?

3. Bagaimana struktur tenaga kerja di Kecamatan Cibinong selama tahun

2000-2010?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin diperoleh dalam penelitian ini adalah untuk;

1. Mengetahui perkembangan Fasilitas-fasilitas di Kecamatan Cibinong

2. Menganalisis peran Kecamatan Cibinong sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Bogor

3. Menganalisis perubahan struktur tenaga kerja di Kecamatan Cibinong.

1.4. Manfaat Penelitian

(28)

4

2. Memberi masukan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor dalam rangka mengembangkan wilayah kecamatan-kecamatan disekitarnya.

(29)

5

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Wilayah dan Perwilayahan

Suatu wilayah terkait dengan beragam aspek, sehingga definisi baku mengenai wilayah belum ada kesepakatan di antara para ahli. Sebagian ahli mendefinisikan wilayah dengan merujuk pada tipe-tipe wilayah, ada yang mengacu pada fungsinya, dan ada pula yang berdasarkan korelasi yang kuat diantara unsur-unsur (fisik dan non fisik) pembentuk suatu wilayah. Sehingga,

pengertian wilayah tidak hanya sebatas aspek fisik tanah, namun juga aspek lain seperti biologi, ekonomi, sosial, budaya, lingkungan.

Menurut Rustiadi et al. (2009) wilayah didefinisikan sebagai unit geografis dengan batas-batas spesifik (tertentu) dimana komponen-komponen wilayah tersebut (sub wilayah) satu sama lain saling berinteraksi secara fungsional. Sedangkan menurut undang-undang nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional.

Keragaman dalam mendefinisikan konsep wilayah terjadi karena perbedaan dalam permasalahan ataupun tujuan pengembangan wilayah yang dihadapi. Kenyataannya, tidak ada konsep wilayah yang benar-benar diterima secara luas. Para ahli cenderung melepaskan perbedaan-perbedaan konsep wilayah sesuai dengan fokus masalah dan tujuan-tujuan pengembangan wilayah. Menurut Budiharsono (2005), wilayah dapat dibagi menjadi: (1) wilayah homogen; (2) wilayah nodal; (3) wilayah perencanaan; dan (4) wilayah administratif. Berbeda dengan pengklasifikasian diatas, Rustiadi et al. (2009) berpendapat bahwa kerangka klasifikasi konsep wilayah yang lebih mampu

menjelaskan berbagai konsep yang dikenal selama ini adalah (1) wilayah homogen (uniform); (2) wilayah sistem/fungsional, dan (3) wilayah

(30)

6

perencanaan fungsional. Wilayah homogen adalah wilayah yang dibatasi berdasarkan pada kenyataan bahwa faktor-faktor dominan pada wilayah tersebut bersifat homogen, sedangkan faktor-faktor yang tidak dominan bisa saja beragam (heterogen). Dengan demikian wilayah homogen tidak lain adalah wilayah-wilayah yang diidentifikasikan berdasarkan adanya sumber-sumber kesamaan atau faktor perincinya yang menonjol di wilayah tersebut.

Konsep wilayah atau region menurut Aristoteles dalam Adisasmita (2005), mempunyai tiga macam pengertian yaitu; wilayah homogen, wilayah polarisasi

atau wilayah nodal dan wilayah perencanaan atau wilayah program. Wilayah homogen diartikan sebagai suatu konsep yang menganggap bahwa wilayah-wilayah geografis dapat dikaitkan bersama-sama menjadi sebuah wilayah-wilayah tunggal apabila wilayah-wilayah tersebut mempunyai karakteristik serupa. Karakteristik dapat bersifat ekonomi, bersifat geografis bahkan bias bersifat sosial atau politis, sehingga mudah untuk dibedakan dengan karakteristik wilayah-wilayah lainnya.

Berbeda dengan konsep wilayah homogen, menurut Rustiadi, et.al (2009), konsep wilayah sistem/fungsional justru menekankan perbedaan dua komponen-komponen wilayah yang terpisah berdasarkan fungsinya. Pengertian wilayah sebagai suatu sistem dilandasi atas pemikiran bahwa suatu wilayah adalah suatu entitas yang terdiri atas komponen-komponen atau bagian-bagian yang memiliki keterkaitan, ketergantungan dan saling berinteraksi satu sama lain dan tidak terpisahkan dalam kesatuan. Setiap sistem selalu terbagi atas dua atau lebih subsistem, dan selanjutnya setiap subsistem terbagi atas bagian-bagian yang lebih kecil lagi. Suatu subsistem atau bagian dapat membutuhkan masukan (input) dari subsistem atau bagian yang lainnya, dan keluaran (output) suatu subsistem/bagian tersebut dapat digunakan sebagai input subsistem/bagian lainnya, dan seterusnya.

Wilayah sistem kompleks memiliki jumlah/kelompok unsur penyusun

(31)

7

pemerintahan beserta perangkat-perangkatnya. Diluar sistem perwilayahan administratif, juga dikenal berbagai perwilayahan-perwilayahan perencanaan/pengelolaan yang tidak terlalu struktural melainkan sebagai unit-unit koordinasi atau pengelolaan yang terfokus pada tujuan-tujuan dan penyelesaian-penyelesaian masalah tertentu, seperti kawasan otorita DAS, Free Trade Zone, dan lain-lain.

Menurut Rustiadi et al. (2009) pengembangan konsep wilayah dan penerapannya pada dunia nyata akan menghasilkan suatu perwilayahan.

Permukaan bumi akan terbagi-bagi atas berbagai wilayah sesuai dengan konsep wilayahnya. Perbedaan konsep wilayah yang diterapkan menghasilkan perbedaan unit-unit atau batas-batas wilayah yang dihasilkan. Perwilayahan tidak lain merupakan cara atau metode klasifikasi yang berguna untuk mendeskripsikan fenomena, termasuk di dalam menggambarkan hubungan antara manuasia dengan sumber daya yang dimanfaatkannnya di atas permukaan bumi. Keragaman dan perbedaan karakteristik sumberdaya-sumberdaya serta perilaku dan cara-cara manusia memanfaatkannya di atas dunia ini dapat dijelaskan dan disederhanakan dengan pengklasifikasian spasial. Dengan demikian, klasifikasi spasial (perwilayahan) tidak lain merupakan alat (tools) untuk mempermudah menjelaskan keragaman dan berbagai karaktersitik fenomena yang ada atau singkatnya merupakan alat untuk “memotret” kehidupan nyata yang beragam secara spasial. Sebagai alat deskripsi, konsep perwilayahan merupakan bagian dari konsep-konsep alami, yakni sebagai alat mendeskripsikan hal-hal yang terjadi secara alamiah di dalam kehidupan. Di sisi lain, konsep perwilayahan juga merupakan alat untuk perencanaan/pengelolaan (konsep non alamiah). Perwilayahan digunakan sebagai alat untuk mengelola dan mencapai tujuan-tujuan pembangunan. Kebijakan perwilayahan digunakan untuk penerapan

pengelolaan (manajemen) sumberdaya yang memerlukan pendekatan yang berbeda-beda sesuai dengan perbedaan karakteristik spasial.

2.2. Hierarki Wilayah

(32)

8

manusia serta kapasitas-kapasitas perekonomiannya. Secara historik, pertumbuhan suatu pusat atau kota ditunjang oleh hinterland yang baik. Secara operasional, pusat-pusat wilayah mempunyai hierarki spesifik yang hierarkinya ditentukan oleh kapasitas pelayanannya. Kapasitas pelayanan (regional services capacity) yang dimaksud adalah kapasitas sumberdaya suatu wilayah (regional

resources), yang mencakup kapasitas sumberdaya alam (natural resources),

sumberdaya manusia (human resources), sumberdaya sosial (social capital) dan sumberdaya buatan (man-made resources/infrastructure). Disamping itu,

kapasitas pelayanan suatu wilayah dicerminkan pula oleh magnitude (besaran) aktivitas sosial-ekonomi masyarakat yang ada di suatu wilayah.

Secara fisik dan operasional, sumberdaya yang paling mudah dinilai dalam penghitungan kapasitas pelayanan adalah sumberdaya buatan (sarana dan prasarana pada pusat-pusat wilayah). Secara sederhana, kapasitas pelayanan infrastruktur atau prasarana wilayah dapat diukur dari: (1) jumlah sarana pelayanan, (2) jumlah jenis sarana pelayanan yang ada, serta (3) kualitas sarana pelayanan. Sedangkan besaran aktivitas sosial-ekonomi serta operasional dapat diukur dari jumlah penduduk, perputaran uang, aktivitas-aktivitas ekonomi, PDRB, jumlah jenis organisasi atau lembaga formal maupun non formal. Semakin banyak jumlah dan jumlah jenis sarana pelayanan serta semakin tinggi aktivitas sosial ekonomi mencerminkan kapasitas pusat wilayah yang tinggi yang berarti juga menunjukkan hierarki pusat yang tinggi. Banyaknya jumlah sarana pelayanan dan jumlah jenis sarana pelayanan berkorelasi kuat dengan jumlah penduduk di suatu wilayah. Pusat-pusat hierarki tinggi melayani pusat-pusat dengan hierarki yang lebih rendah disamping juga melayani hinterland di sekitarnya. Kegiatan yang sederhana dapat dilayani oleh pusat yang berhierarki rendah, sedangkan kegiatan-kegiatan yang semakin kompleks dilayani oleh pusat berhierarki tinggi (Rustiadi et al. 2009).

(33)

9

wilayah yang lebih tinggi. Pusat wilayah ini biasanya berfungsi sebagai: (1) tempat terkonsentrasinya penduduk (pemukiman); (2) pusat pelayanan terhadap daerah hinterland; (3) pasar bagi komoditas-komoditas pertanian maupun industri; dan (4) lokasi pemusatan industri manufaktur (manufactory) yakni kegiatan mengorganisasikan faktor-faktor produksi untuk menghasilkan suatu output tertentu. Sebaliknya jika suatu wilayah mempunyai jumlah dan jenis fasilitas umum, industri serta jumlah penduduk dengan kuantitas dan kualitas paling rendah merupakan wilayah hinterland dari unit wilayah lain. Wilayah hinterland

ini biasanya berfungsi sebagai : (1) pemasok (produsen) bahan-bahan mentah dan atau bahan baku; (2) pemasok tenaga kerja melalui proses urbanisasi dan commuting (menglaju); (3) daerah pemasaran barang dan jasa industri

manufaktur; dan (4) penjaga keseimbangan ekologis. Struktur wilayah nodal sangat efisien khususnya dalam mendukung pengembangan ekonomi dan sistem transportasi. Mekanisme pasar bebas secara alami cenderung membentuk struktur wilayah nodal (Rustiadi et al. 2009).

Suatu pusat yang berorde tinggi pada umumnya mempunyai jumlah sarana dan jumlah jenis sarana dan prasarana pelayanan yang lebih banyak dari orde yang lebih rendah. Dengan demikian pusat yang berorde lebih tinggi melayani pusat-pusat yang berorde lebih rendah. Selain itu, jumlah jenis dan sarana pelayanan yang ada pada suatu pusat pada umumnya berkorelasi erat dengan jumlah penduduk. Dengan demikian, pada pusat-pusat berorde tinggi seringkali mempunyai kepadatan penduduk yang lebih tinggi. Beberapa teknik dan metode sederhana yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi hierarki pusat-pusat wilayah adalah dengan metode skalogram, metode sosiogram dan metode biseksi (bisection) (Rustiadi et al. 2009; Budiharsono 2005). Dengan menggunakan metode tersebut semua nama pusat wilayah, jumlah penduduk, jumlah jenis dan

sarana pelayanan dicatat dalam sebuah format matriks.

(34)

10

suatu wilayah, semakin beragam fasilitas yang disediakan sehingga makin luas wilayah pengaruhnya (Tarigan 2004). Secara umum dapat dikatakan bahwa semakin besar jumlah penduduk dan semakin banyak jumlah fasilitas serta jumlah jenis fasilitas pada suatu pusat maka akan semakin tinggi hierarki pusat tersebut (Budiharsono 2005).

Menurut Tarigan (2004), bahwa hubungan antara pusat pertumbuhan dan wilayah pendukung dapat dikategori atas 3 bentuk hubungan, yakni :

(1) Hubungan generatif, yakni hubungan yang saling menguntungkan atau saling

menyumbangkan antara daerah yang lebih maju dengan daerah yang ada di belakangnya. Daerah kota atau wilayah pusat dapat menyerap tenaga kerja atau memasarkan produksi dari daerah pedalaman (wilayah yang lebih terbelakang). Sedangkan wilayah pedalaman berfungsi untuk memasarkan produk-produk yang dihasilkan oleh industri perkotaan, dan sekaligus dapat memenuhi kebutuhan wilayah belakang. Selain itu wilayah pusat (kota) berperan sebagai tempat inovasi dan modernisasi yang dapat diserap oleh daerah pedalaman. Adanya pertukaran dan saling ketergantungan ini akan menyebabkan terjadinya pertumbuhan dan perkembangan sejajar antara wilayah pusat dan wilayah belakang.

(2). Hubungan Parasitif, yakni hubungan yang terjadi dimana wilayah kota (wilayah yang lebih maju) tidak banyak membantu atau menolong wilayah belakangnya (hinterland). Wilayah kota yang bersifat parasit, umumnya kota yang belum banyak berkembang industrinya dan masih berciri wilayah pertanian, tetapi berciri wilayah perkotaan sekaligus.

(3) Hubungan enclave (tertutup), yakni hubungan dimana wilayah pusat (kota yang lebih maju), seakan-akan terpisah sama sekali dengan daerah sekitarnya yang lebih terbelakang. Buruknya sarana dan prasarana, perbedaan taraf

(35)

11

Selanjutnya dikatakan pula bahwa tidak semua kota generatif dapat dikategorikan sebagai pusat pertumbuhan, karena pusat pertumbuhan harus memiliki empat ciri, yakni:

(1) Adanya hubungan internal dari berbagai macam kegiatan yang memiliki nilai ekonomi. Hubungan internal sangat menentukan dinamika sebuah kota. Ada keterkaitan antara sektor dan sektor lainnya sehingga apabila ada satu sektor yang tumbuh akan mendorong pertumbuhan sektor lainnya, karena saling terkait. Pertumbuhan tidak terlihat pincang, ada sektor yang tumbuh cepat

tetapi ada sektor lainnya yang tidak terkena imbas sama sekali. Berbeda halnya dengan sebuah kota, yang fungsinya sebagai perantara (transit). Dimana kota tersebut hanya berfungsi mengumpulkan berbagai macam komoditi dari wilayah di belakangnya dan menjual ke kota lain yang lebih besar dan selanjutnya dapat membeli berbagai macam kebutuhan masyarakat dari kota lain untuk didistribusikan ke wilayah yang ada di belakangnya. Kota dengan ciri perantara, tidak terdapat banyak pengolahan ataupun kegiatan yang dapat menciptakan nilai tambah (value edded) atau tidak ada proses industri yang menghasilkan value added.

(2) Adanya efek pengganda (multiplier effect). Keberadaan sektor-sektor yang saling terkait dan saling mendukung akan menciptakan efek ganda. Apabila ada suatu sektor disuatu wilayah mengalami kenaikan permintaan yang berasal dari luar wilayah, maka produksi sektor tersebut akan meningkat, karena ada keterkaitan dengan sektor-sektor lain, maka produksi sektor-sektor lain juga meningkat dan terjadi beberapa kali putaran pertumbuhan, sehingga total kenaikan produksi bisa beberapa kali lipat dibandingkan dengan kenaikan permintaan awal yang berasal dari luar wilayah tersebut. Unsur efek pengganda tersebut sangat berperan untuk membuat sebuah kota dapat

memacu pertumbuhan wilayah di belakangnya, karena terjadi peningkatan produksi pada sektor di wilayah yang lebih maju, akan memacu dan meningkatkan permintaan bahan baku dari wilayah-wilayah yang berada di belakangnya.

(36)

12

membutuhkan, juga meningkatkan daya tarik (attractiveness) dari wilayah yang lebih maju tersebut. Orang yang datang ke wilayah tersebut, dapat memperoleh berbagai kebutuhan pada lokasi yang berdekatan. Dengan demikian dapat menghemat waktu, tenaga dan biaya. Hal tersebut menjadi daya tarik untuk dikunjungi orang, karena volume interaksi yang semakin meningkat akan menciptakan economic of scale sehingga terjadi efisiensi lanjutan.

(4) Bersifat mendorong pertumbuhan daerah belakangnya. Hal ini berarti antara

wilayah yang lebih maju dan wilayah belakangnya terdapat hubungan yang harmonis. Wilayah yang lebih maju membutuhkan bahan baku dari wilayah belakangnya untuk mengembangkan diri, apabila wilayah yang lebih maju memiliki hubungan yang harmonis dengan daerah belakangnya dan juga memiliki ketiga ciri di atas, maka wilayah tersebut akan berfungsi mendorong wilayah belakangnya.

2.3. Pembangunan Wilayah

Definisi pembangunan oleh para ahli dapat bermacam-macam, namun secara umum bahwa pembangunan merupakan proses untuk melakukan perubahan. Secara sederhana menurut Riyadi dan Bratakusumah (2004), pembangunan diartikan sebagai suatu upaya untuk melakukan perubahan menjadi lebih baik, sedangkan menurut Sukirno (2006), pembangunan ekonomi adalah serangkaian usaha dalam suatu perekonomian untuk mengembangkan kegiatan ekonominya sehingga infrastruktur lebih banyak tersedia, perusahaan semakin banyak dan semakin berkembang, taraf pendidikan semakin tinggi dan teknologi semakin meningkat. Implikasi dari pembangunan ekonomi diharapkan kesempatan kerja akan bertambah, tingkat pendapatan meningkat dan

kemakmuran menjadi semakin tinggi.

Rustiadi et al. (2009) berpendapat bahwa secara filosofis suatu proses

(37)

13

mencakup berbagai perubahan mendasar atas struktur sosial, sikap-sikap masyarakat, dan institusi-institusi nasional, disamping tetap mengejar akselerasi pertumbuhan ekonomi, penanganan ketimpangan pendapatan, serta pengentasan kemiskinan.

Pembangunan sebagai suatu proses perubahan tidak terlepas dari perencanaan, sehingga perencanaan pembangunan didefinisikan sebagai suatu proses perumusan alternatif-alternatif atau keputusan-keputusan yang didasarkan pada data-data dan fakta yang akan digunakan sebagai bahan untuk melaksanakan

suatu rangkaian kegiatan atau aktivitas kemasyarakatan, baik yang bersifat fisik maupun non-fisik (mental dan spiritual) dalam rangka mencapai tujuan yang lebih baik (Riyadi dan Bratakusumah 2004). Namun demikian suatu perencanaan pembangunan sangat terkait dengan unsur wilayah atau lokasi dimana suatu aktivitas kegiatan dilaksanakan, sehingga Riyadi dan Bratakusumah (2004) mendefinisikan perencanaan pembangunan wilayah sebagai suatu proses perencanaan pembangunan yang dimaksudkan untuk melakukan perubahan menuju arah perkembangan yang lebih baik bagi suatu komunitas masyarakat, pemrintah dan lingkungan dalam wilayah/daerah tertentu, dengan memanfaatkan atau mendayagunakan berbagai sumberdaya yang ada dan harus memiliki orientasi yang bersifat menyeluruh, lengkap tapi tetap berpegang pada azas prioritas.

Menurut Sumodiningrat (1999) pembangunan daerah dapat dilihat dari beberapa segi, yaitu pembangunan sektoral, pembangunan wilayah, dan pembangunan pemerintahan. Dari segi pembangunan sektoral, pembangunan daerah merupakan pencapaian sasaran pembangunan nasional yang dilakukan melalui berbagai kegiatan atau pembangunan sektoral, seperti pertanian, industri dan jasa yang dilaksanakan di daerah. Pembangunan sektoral dilaksanakan di

(38)

14

bertujuan memacu pertumbuhan ekonomi dan sosial di daerah yang relatif terbelakang dan untuk lebih memperbaiki dan meningkatkan kemampuan daerah dalam melaksanakan pembangunan melalui kemampuan menyusun perencanaan sendiri dan pelaksanaan program serta proyek secara efektif.

Paradigma pembangunan, selama beberapa dekade terakhir terus mengalami pergeseran dan perubahan-perubahan mendasar. Berbagai pergeseran paradigma akibat adanya distrosi berupa “kesalahan” di dalam menerapkan model-model pembangunan yang ada selama ini adalah sebagai berikut (Rustiadi

et al. (2009):

(1) Pergeseran dari situasi harus memilih antara pertumbuhan, pemerataan dan keberlanjutan sebagai pilihan-pilihan yang tidak saling menenggang (trade off) ke keharusan mencapai tujuan pembangunan tersebut secara “berimbang”.

(2) Kecenderungan pendekatan dari cenderung melihat pencapaian tujuan-tujuan pembangunan yang diukur secara makro menjadi pendekatan-pendekatan regional dan lokal.

(3) Pergeseran asumsi tentang peranan pemerintah yang dominan menjadi pendekatan pembangunan yang mendorong pertisipasi masyarakat di dalam proses pembangunan (perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian).

Di masa sekarang dan yang akan datang diperlukan adanya pendekatan perencanaan wilayah yang berbasis pada hal-hal berikut : (i) sebagai bagian dari upaya memenuhi kebutuhan masyarakat untuk melakukan perubahan atau upaya untuk mencegah terjadinya perubahan yang tidak diinginkan, (ii) menciptakan keseimbangan pembangunan antar wilayah, (iii) menciptakan keseimbangan pemanfaatan sumberdaya di masa sekarang dan masa yang akan datang

(pembangunan berkelanjutan), dan (iv) disesuaikan dengan kapasitas pemerintah dan masyarakat untuk mengimplementasikan perencanaan yang disusun.

Paradigma baru saat ini meyakini bahwa pembangunan harus diarahkan kepada terjadinya pemerataan (equity), pertumbuhan (growth), dan keberlanjutan

(39)

15

sebenarnya pemerintah dapat memilih target pemerataan ekonomi yang diinginkan melalui transfer, perpajakan dan subsidi, sedangkan ekonomi selebihnya dapat diserahkan kepada mekanisme pasar.

Salah satu ciri penting pembangunan wilayah adalah upaya mencapai pembangunan berimbang (balanced development). Isu pembangunan wilayah atau daerah yang berimbang menurut Murty (2000) dalam Rustiadi et al. (2009) tidak mengharuskan adanya kesamaan tingkat pembangunan antar daerah (equally developed), juga tidak menuntut pencapaian tingkat industrialisasi wilayah/daerah

yang seragam, juga bentuk-bentuk keseragaman pola dan sruktur ekonomi daerah, atau juga tingkat pemenuhan kebutuhan dasar (self suficiency) setiap

wilayah/daerah. Pembangunan yang berimbang adalah terpenuhinya potensi-potensi pembangunan sesuai dengan kapasitas pembangunan setiap wilayah/daerah yang jelas-jelas beragam sehingga memberikan keuntungan/manfaat yang optimal bagi masyarakat di seluruh wilayah (all regions).

Pertumbuhan ekonomi menurut Boediono (1999), secara singkat adalah merupakan proses kenaikan output per kapita dalam jangka panjang. Pertumbuhan ekonomi adalah suatu “proses”, bukan suatu gambaran ekonomi pada suatu saat, jadi melihat aspek dinamis dari suatu perekonomian yaitu melihat bagaimana suatu perekonomian berkembang atau berubah dari waktu ke waktu. Tekanannya pada perubahan atau perkembangan itu sendiri. Suatu perekonomian tumbuh apabila dalam jangka waktu yang cukup lama (10, 20 atau 50 tahun atau bahkan lebih lama lagi) mengalami kenaikan output per kapita atau kecenderungan mengalami kenaikan output per kapita.

Proses pertumbuhan ekonomi menurut Adam Smith (dalam Boediono 1999), dibedakan dalam dua aspek utama dari pertumbuhan ekonomi yaitu

a. Pertumbuhan output (GDP = Gross Domestic Product) total b. Pertumbuhan penduduk

(40)

16

2.4. Indikator-indikator Pembangunan

Menurut Rustiadi et al. (2009), setiap perencanaan pembangunan wilayah memerlukan batasan praktikal yang dapat digunakan secara operasional untuk mengukur tingkat perkembangan wilayahnya. Secara umum tampaknya pertumbuhan ekonomi atau pertumbuhan output produksi yang tinggi memang merupakan kinerja pembangunan yang paling populer. Namun demikian, pertumbuhan perekonomian yang pesat tersebut, jika disertai dengan munculnya berbagai masalah berupa penurunan distribusi pendapatan, peningkatan jumlah

pengangguran, peningkatan jumlah keluarga di bawah garis kemiskinan serta kerusakan sumbedaya alam akan berdampak paradoks dan mengarah pada kemunduran pembangunan itu sendiri. Adanya permasalahan-permasalahan tersebut memaksa para pakar pembangunan di tahun 70-an mulai mengkaji ulang tolok ukur (indikator) tersebut bukan hanya pertambahan output seperti GNP, tetapi harus disertai beberapa tolok ukur lainnya. Indikator adalah ukuran kuantitatif dan/atau kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, indikator kinerja harus merupakan sesuatu yang akan dihitung dan diukur serta digunakan sebagai dasar untuk menilai atau melihat tingkat kinerja baik dalam tahap perencanaan, pelaksanaan maupun tahap setelah kegiatan selesai dan berfungsi. Selain itu, indikator kinerja digunakan untuk meyakinkan bahwa hari demi hari organisasi atau program yang bersangkutan menunjukkan kemajuan dalam rangka menuju tujuan dan sasaran yang ditetapkan.

Secara umum, indikator kinerja memiliki fungsi untuk (1) memperjelas tentang apa, berapa dan kapan suatu kegiatan dilaksanakan, (2) menciptakan konsensus yang dibangun oleh berbagai pihak terkait, untuk menghindari kesalahan interpretasi selama pelaksanaan kebijakan/program/kegiatan dan dalam

(41)

17

Sumber : Rustiadi et al. (2009)

Gambar 1. Sistematika Penyusunan Konsep-Konsep Indikator Kinerja Pembangunan Wilayah

Indikator berbasis tujuan pembangunan merupakan sekumpulan cara mengukur tingkat kinerja pembangunan dengan mengembangkan berbagai ukuran operasional berdasarkan tujuan-tujuan pembangunan. Dari berbagai pendekatan, dapat disimpulkan tiga tujuan pembangunan, yakni: (1) produktivitas, efisiensi dan pertumbuhan (growth), (2) pemerataan keadilan dan keberimbangan (equity), dan (3) keberlanjutan (sustainability).

Pembangunan juga harus dilihat sebagai suatu upaya secara terus menerus untuk meningkatkan dan mempertahankan kapasitas sumberdaya-sumberdaya pembangunan, sehingga kapasitas sumberdaya pembangunan sering menjadi indikator yang penting dalam pembangunan. Sumberdaya adalah segala sesuatu

yang dapat menghasilkan utilitas (kemanfaatan) baik melalui proses produksi atau penyediaan barang dan jasa maupun tidak. Dalam perspektif ekonomi

sumberdaya, sumberdaya juga diartikan sebagai segala sesuatu yang dipandang memiliki nilai ekonomi.

(42)

18

dengan memilah atas: (1) sumberdaya alam (natural resources), (2) sumberdaya manusia (human resources), (3) sumberdaya fisik buatan (man-made resources), mencakup prasaran dan sarana wilayah, dan (4) sumberdaya sosial. Masing-masing sumberdaya memiliki sifat kelangkaan dan berbagai bentuk karakteristik unik yang menyebabkan pengelolaannya memerlukan pendekatan yang berbeda-beda. Pembangunan adalah suatu proses, yang kadangkala kinerja pembangunan tetap perlu dievaluasi meskipun prosesnya masih pada tahap dini atau belum memperlihatkan hasil yang dapat ditunjukkan. Sampai tahap ini, penilaian kinerja

proses pembangunan setidaknya dapat dilihat input-inputnya. Keragaan dari input setidaknya akan menentukan keragaan pembangunan pada tahap-tahap selanjutnya. Di sisi lain, evaluasi atau kinerja pembangunan seringkali hanya dilakukan pada pencapaian-pencapaian jangka pendek yang tidak bersifat esensial atau mendasar. Akibatnya tidak menghasilkan manfaat-manfaat jangka panjang atau bahkan merugikan akibat dampak-dampak yang bersifat jangka panjang. Oleh karenanya, pencapaian output jangka pendek belum memberi jaminan tercapainya tujuan-tujuan jangka panjang yang lebih hakiki.

Sumber : Rustiadi et al. (2009)

Gambar 2. Struktur Proses Pembangunan

(43)

19

pencapaian tahap output, outcome, benefit dan impact dapat mempengaruhi kembali pada faktor input.

Tabel 1 Indikator-Indikator Pembangunan Wilayah Berdasarkan Basis/Pendekatan Pengelompokkannya

Basis/Pendekatan Kelompok Indikator-indikator Operasional

Tujuan Pembangunan

d. Produksi-produksi Utama (tingkat produksi, produktivitas, dll) (1) Migas

(3) Garis Kemiskinan (Pendapatan setara beras, dll) d. Regional Balance

(1) Spatial Balance (primacy index, entropy, index Williamson)

g. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Indeks (HDI)

2. Sumberdaya Alam a. Tekanan (Degradasi)

b. Dampak

a. Regulasi/Aturan-aturan Adat/Budaya (norm) b. Organisasi Sosial (network)

c. Rasa Percaya (trust)

a. Input Dasar (SDA, SDM, Infrastruktur, SDS) b. Input Antara

(44)

20

Deskripsi indikator-indikator pembangunan wilayah ke dalam kelompok-kelompok indikator berdasarkan klasifikasi tujuan pembangunan, kapasitas sumberdaya pembangunan dan proses pembangunan terlihat pada Tabel 1

2.5 Pembangunan Sektor Basis

Kemampuan memacu pertumbuhan suatu wilayah atau Negara sangat tergantung dari keunggulan atau daya saing sektor-sektor ekonomi di wilayahnya.

Nilai strategis setiap sektor didalam memacu menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi wilayah berbeda-beda. Menurut Glasson (1997) dalam

Priyarsono et.al (2007), semakin banyak sektor basis dalam suatu daerah akan menambah arus pendapatan ke daerah tersebut, menambah permintaan terhadap barang dan jasa di dalamnya akan menimbulkan kenaikan sektor non-basis. Dengan kata lain, sektor basis berhubungan langsung dengan permintaan dari luar, sedangkan sektor non-basis berhubungan secara tidak langsung, yaitu melalui sektor basis terlebih dahulu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sektor basis merupakan penggerak utama dalam perekonomian suatu daerah.

Untuk mengetahui sektor basis atau non-basis dapat digunakan metode pengukuran langsung atau metode pengukuran tidak langsung, menurut Priyarsono(2007) metode pengukuran langsung, penentuan basis dan non-basis dilakukan melalui survey langsung di daerah yang bersangkutan. Sedangkan yang tidak langsung dapat menggunakan data sekunder beberapa indikator ekonomi di suatu daerah, terutama data PDB/PDRB dan tenaga kerja per sektor. Metode untuk menentukan sektor basis dan non-basis di suatu daerah berdasarkan pengukuran tidak langsung yaitu ada beberapa macam yaitu: 1. Metode asumsi, 2. Metode Location Quotient (LQ), 3. Metode pendekatan kebutuhan minimum.

Menurut Rustiadi et.al, (2010) analisis LQ merupakan salah satu teknik

yang dikembangkan untuk melakukan analisis ekonomi basis. Selain itu merupakan suatu teknik analisis yang digunakan untuk mengetahui pemusatan

(45)

21

sektor (berdasarkan kemampuan untuk menyerap tenaga kerja sehingga mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat).

2.6. Teori Perubahan Struktural

Menurut Todaro dan Smith (2006), teori perubahan struktural (structural-change theory) memusatkan perhatian pada mekanisme negara-negara yang masih

terbelakang untuk mentransformasikan struktur perekonomian dalam negeri mereka dari pola perekonomian pertanian subsisten tradisional ke perekonomian yang lebih modern, lebih berorientasi ke kehidupan perkotaan, serta memiliki

sektor industri manufaktur yang lebih bervariasi dan sektor jasa-jasa yang tangguh. Menurut Tambunan (2001) dengan meminjam istilah Kuznets, maka perubahan struktur ekonomi umum disebut transformasi struktural dan dapat didefinisikan sebagai suatu rangkaian perubahan yang saling terkait satu dengan yang lainnya dalam komposisi permintaan agregat, perdagangan luar negeri (ekspor-impor), dan penawaran agregat (produksi dan penggunaan faktor-faktor produksi seperti tenaga kerja dan modal) yang diperlukan guna mendukung proses pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Indikator terjadinya transformasi struktural menurut Chenery dan Syrquin dalam Tambunan, 2001, ada beberapa yaitu pertama; adanya perubahan pangsa nilai output atau nilai tambah dari setiap sektor di dalam pembentukan PDB (Produk Domestik Bruto) atau Produk Nasional Bruto (PNB) atau pendapatan nasional. Kontribusi output dari pertanian terhadap pembentukan PDB mengecil sedangkan pangsa PDB dari manufaktur dan jasa mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan PDB atau pendapatan nasional per kapita. Kedua; distribusi kesempatan kerja menurut sektor. Dengan pola yang sama maka pada gambar 3 terlihat pada tingkat pendapatan per kapita yang rendah (tahap “awal” pembangunan ekonomi), sektor-sektor primer merupakan kontribusi terbesar

(46)

22

t=0 (awal pertumbuhan)

Gambar 3 Perubahan Struktur Ekonomi dalam Proses Pembangunan Ekonomi: Suatu Ilustrasi

2.7. Penelitian Terdahulu

Hingga kini telah terdapat penelitian yang memfokuskan pada pertumbuhan ekonomi wilayah/ daerah. Penelitian-penelitian tersebut antara lain adalah studi tentang peranan wilayah sebagai pusat pertumbuhan ekonomi yang pernah dilakukan oleh Yuliarti (2006), mengenai pertumbuhan kesempatan kerja di Kabupaten Bogor. Hasilnya menunjukkan bahwa terjadinya penurunan sebesar 2,15 persen pada pertumbuhan kesempatan kerja di Kabupaten Bogor pasca penerapan kebijakan upah minimum. Sektor yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah sektor usaha pertanian sebesar 56,61 persen dan sektor usaha keuangan, perbankan dan jasa perusahaan mengalami penurunan pertumbuhan terbesar yaitu sebanyak 56,32 persen.

Yasin (2005) meneliti tentang kelambatan pembangunan di Kabupaten Sumbawa karena ada ketimpangan pembangunan antar sektor. Pemerintah setempat masih mengandalkan sektor industri khususnya pertambangan yang saat itu masih meningkatkan pendapatan daerah tanpa diikuti dengan meningkatkan pembangunan sektor kesehatan dan pendidikan seraya menggerakkan sektor-sektor basis sumberdaya lokal, yang dapat dikelola didalam wilayah. Selain itu kurang menanggapi aspirasi masyarakat dan potensi sumberdaya lokal yang produktif untuk jangka panjang.

Sabana (2007) meneliti tentang pengembangan Kota Pekalongan dengan analisis LQ, di hampir semua sektor di Kota Pekalongan merupakan sektor unggulan kecuali sektor pertanian dan sektor industri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

“rendah”

Tersier

Sekunder

Primer

Tingkat pembangunan t=n (sektor pertanian menurun) “tinggi”

(47)

23

sektor yang benar-benar memiliki keunggulan kompetitif dan spesialisasi hanya ada dua sektor, yaitu sektor perdagangan dan sektor keuangan. Dengan model gravitasi digambarkan bahwa Kabupaten Batang dan Kabupaten Pekalongan adalah dua daerah yang memiliki keterkaitan secara kuat dengan Kota Pekalongan dan dapat dikembangkan sebagai mitra kerjasama dalam pengembangan wilayah. Dari seluruh perhitungan yang telah dilakukan dapat ditarik suatu simpulan bahwa ditetapkannya Kota Pekalongan sebagai kawasan andalan kurang tepat, namun demikian jika dilihat dari banyaknya sektor unggulan maupun adanya keterkaitan ekonomi antardaerah penetapan Kota Pekalongan dianggap tepat.

Studi dari Wahyudi (2007) mengenai penguatan sektor-subsektor ekonomi dalam upaya peningkatan pembangunan ekonomi daerah di wilayah Kabupaten Jember menunjukkan bahwa untuk melakukan pengembangan wilayah maka pemerintah daerah perlu mengetahui potensi dan kemampuan daerah yang bisa diunggulkan dari wilayah Kabupaten Jember sehingga diperlukan identifikasi yang bisa dijadikan suatu skema pengembangan potensi unggulan. Wilayah Kabupaten Jember berpotensi pada kegiatan pertanian dan perkebunan, selain itu di sektor perikanan juga mengalami peningkatan produksi setiap tahunnya khususnya ikan laut. Sektor Pertanian merupakan sektor primer yang menjadi andalan Kabupaten Jember dalam upaya meningkatkan perekonomian daerah, terutama untuk produksi padi dan buah jeruk sedangkan untuk sektor perkebunan Kabupaten Jember memang sudah lama dikenal sebagai produsen dan penghasil tembakau yang berkualitas. Jadi secara umum sektor Pertanian dan Kelautan merupakan andalan utama Kabupaten Jember. Komoditas berpeluang untuk terus dikembangkan adalah pengembangan jeruk siam (sektor pertanian), tanaman tembakau (sektor perkebunan), dan budidaya tambak (sektor perikanan).

Penelitian dari Sutikno dan Maryunani (2006) tentang potensi daya saing kecamatan sebagai pusat pertumbuhan satuan wilayah pengembangan (SWP) Kabupaten Malang menunjukkan bahwa dengan analisis kontribusi kelompok sektor ekonomi dimasing-masing SPW maka struktur ekonomi didominasi oleh sektor tersier kemudian diikuti oleh sektor primer dan sekunder, kecuali SWP II dan III mempunyai struktur dimana sektor sekunder menempati posisi kedua, artinya sektor sekunder mempunyai kontribusi lebih besar dibandingkan sektor primer.

(48)

24

sedangkan sektor perdagangan merupakan sektor yang mengalami kebocoran wilayah. Selain sektor industri dan sektor perdagangan merupakan sektor yang paling lemah pengaruhnya pada sektor perekonomian dan perlu mendapatkan perhatian dalam perencanaan pembangunan di Kabupaten Bogor. Perkembangan wilayah di Kabupaten Bogor menunjukkan wilayah–wilayah yang berdekatan dengan wilayah Kota Bogor secara umum lebih baik dibandingkan dengan wilayah yang lainnya. Pemusatan aktivitas ekonomi ada di wilayah tengah Kabupaten Bogor dan secara fisik penggunaan lahan sudah bergerak keluar wilayah dari wilayah bagian barat hingga timur Kabupaten Bogor. Variabel yang mempunyai hubungan ketimpangan pembangunan wilayah di Kabupaten Bogor adalah variabel rasio sumber daya manusia (SDM). Kebijakan yang dapat mengurangi ketimpangan pembangunan wilayah diantaranya: (a) mentransformasi sumber daya manusaia, (b) mempermudah akses fasilitas sarana dan prasarana di wilayah yang masih timpang, (c) mentransformasi sektor pertanian berbasis agroindustri terutama sektor pertanian yang memiliki daya dorong maupun daya tarik yang masih lemah. Percepatan sarana dan prasarana yang didukung oleh ketrampilan SDM serta perhatian pemerintah daerah melalui program pengolahan hasil-hasil pertanian disinyalir mampu mempercepat pertumbuhan dan mengurangi pembangunan wilayah Kabupaten Bogor.

2.8.Kerangka Pemikiran

Gambar 4 Kerangka Pemikiran Penelitian Kabupaten Bogor

(49)

25

Posisi dan kondisi geografis dari Kecamatan Cibinong sebagai bagian dari wilayah Kabupaten Bogor merupakan wilayah yang berdekatan dengan wilayah Ibukota sekaligus ditetapkannya sebagai pusat kota dari Kabupaten Bogor. Oleh karena itu, penetapan Kecamatan Cibinong sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dapat digunakan sebagai dasar untuk mengambil atau menentukan kebijakan pembangunan yang berkenaan dengan pengembangan fasilitas-fasilitas atau sektor-sektor di kawasan Kabupaten Bogor. Struktur tenaga kerja merupakan proksi dari pertumbuhan sektor ekonomi di Kabupaten Bogor baik dari sektor

(50)
(51)

27

III.METODE PENELITIAN

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan di wilayah Kabupaten Bogor yang merupakan salah satu wilayah dari Provinsi Jawa Barat yang berbatasan langsung dengan Ibukota DKI Jakarta. Unit analisis dari penelitian ini adalah semua kecamatan di Kabupaten Bogor. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai Mei 2012.

3.2. Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini mengunakan jenis penelitian deskriptif, penelitian ini mendiskripsikan yang saat ini sedang berlaku. Didalamnya terdapat upaya untuk mendeskripsikan, menganalisis dan menginterprestasikan kondisi-kondisi yang sekarang ini terjadi di Kecamatan Cibinong sebagai bagian dari wilayah Kabupaten Bogor.

Metode pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan data sekunder yakni melakukan studi kepustakaan dari publikasi data-data statistik BPS, dokumen perencanaan yang dikeluarkan oleh Pemda Bogor dan sumber-sumber pustaka lain yang relevan dengan topik penelitian. Selain itu juga digunakan peta administrasi wilayah Kabupaten Bogor dan peta landuse Kabupaten Bogor.

3.3 Metode Analisis 3.3.1. Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif ini merupakan salah satu bentuk analisis yang bertujuan memberikan deskripsi data yang meliputi tabulasi, peringkasan dan penyajian

(52)

28

3.3.2. Analisis Perkembangan Wilayah Metode Skalogram

Analisis perkembangan wilayah dengan metode skalogram digunakan untuk menentukan hierarki relatif tiap wilayah kecamatan di Kabupaten Bogor. Data yang digunakan adalah data Potensi Desa (Podes) tahun 2005 dan 2011, dengan parameter yang diukur meliputi jumlah dan jenis sarana dan prasarana bidang pendidikan, kesehatan, perekonomian dan aksesibilitas. Secara rinci, jenis data yang dipergunakan dalam analisis skalogram terlihat pada lampiran 1 dan 2.

Teknik analisis skalogram menurut Rustiadi et al. (2010), merupakan salah satu teknik analisis yang digunakan untuk memetakan hierarki wilayah pada level yang sama atau berbeda. Selanjutnya hasil analisis dipetakan pada peta administrasi untuk dianalisis secara spasial.

Dalam penelitian ini digunakan metode skalogram berbobot. Prosedur kerja penyusunan hierarki relatif suatu wilayah menggunakan skalogram berbobot adalah sebagai berikut:

a. Dilakukan pemilihan terhadap data kuantitatif Podes sehingga yang tinggal hanya data yang bersifat kualitatif;

b. Dilakukan seleksi terhadap data kuantitatif tersebut sehingga hanya yang relevan saja yang digunakan.

c. Dipisahkan antara data aksesibilitas dengan data fasilitas

d. Rasionalisasi data dilakukan terhadap data aksesibilitas dan fasilitas. Data aksesibilitas diinverskan dengan rumus: y = 1/xij, dimana y adalah variabel baru dan xij adalah data aksesibilitas j di wilayah i. Untuk nilai y yang tidak terdefinisikan (xij = 0), maka nilai y dicari dengan persamaan: y = xij (max) + simpangan baku aksesibilitas j. Selanjutnya data fasilitas diubah menjadi data kapasitas dengan cara data jumlah fasilitas j di wilayah i dibagi dengan

jumlah penduduk di wilayah i.

(53)

29

f. Dilakukan seleksi terhadap data hasil rasionalisasi hingga diperoleh variabel untuk analisis skalogram yang mencirikan tingkat perkembangan kecamatan di Kabupaten Bogor.

g. Standardisasi data dilakukan terhadap variabel-variabel baru dari data aksesabilitas dan fasilitas (berbobot) dengan menggunakan rumus:

……….. (1)

dimana :

yij adalah variabel baru untuk wilayah ke-i dan jenis fasilitas atau aksesibilitas ke-j.

xij adalah jumlah sarana untuk wilayah ke-i dan jenis sarana atau aksesibilitas ke-j.

Min(xj) adalah nilai minimum untuk jenis sarana atau aksesibilitas ke-j. sj adalah simpangan baku untuk jenis sarana atau aksesibilitas ke-j. h. Indeks Perkembangan Kecamatan (IPK) untuk tingkat wilayah kecamatan

ditentukan dengan cara menghitung jumlah hasil standardisasi sarana dan aksesibilitas pada suatu wilayah. Kemudian nilai IPK diurutkan nilainya dari yang terbesar sampai terkecil untuk ditentukan kelas Hierarkinya.

Pada penelitian ini, IPK dikelompokkan ke dalam tiga kelas Hierarki, yaitu Hierarki I (tinggi), Hierarki II (sedang), dan Hierarki III (rendah). Penentuan kelas Hierarki didasarkan pada nilai standar deviasi (St Dev) IPK dan nilai rataannya, seperti terlihat pada Tabel 2

Tabel 2 Nilai Selang Hierarki IPK

Hierarki Nilai Selang (X) Tingkat

Perkembangan

I IPK X > [rataanIPK+St Dev IPK] Tinggi

II Rataan IPK ≤IPK X ≤ [rataanIPK+St Dev IPK] Sedang

III IPK X < rataan IPK Rendah

(54)

30

Hasil dari analisis skalogram merupakan penentuan suatu wilayah termasuk wilayah Hierarki I, II atau III. Wilayah yang termasuk Hieraki I adalah wilayah dengan asumsi: kelompok yang merupakan wilayah-wilayah maju yang berpotensi menjadi pusat pelayanan, kelompok Hieraki II dengan asumsi merupakan wilayah-wilayah transisi di pinggiran wilayah pusat sedangkan Hierarki III merupakan wilayah-wilayah yang merupakan wilayah hinterland.

3.3.3. Identifikasi Sektor Unggulan

Untuk mengetahui sektor unggulan masing-masing wilayah kecamatan di Kabupaten Bogor dilakukan analisis Location Quotient (LQ). Analisis dengan model LQ ini digunakan untuk melihat sektor basis atau non basis pada suatu wilayah perencanaan dan dapat mengidentifikasi sektor unggulan atau keunggulan komparatif suatu wilayah. Metode analisis LQ pada penelitian ini menggunakan data tenaga kerja hasil sensus penduduk tahun 2000 dan tahun 2010 yaitu data penduduk berumur 15 tahun keatas yang bekerja menurut wilayah administrasi dan lapangan usaha. Data yang digunakan bersumber dari BPS Kabupaten Bogor tahun 2000 dan tahun 2010. Metode LQ dirumuskan sebagai berikut :

..

Xij : Tenaga Kerja masing-masing sektor j di kecamatan i. Xi : Tenaga Kerja total di kecamatan i.

Xj : Tenaga Kerja total sektor j di Kabupaten Bogor

X.. : Tenaga Kerja total seluruh sektor di Kabupaten Bogor.

Nilai LQij > 1, menunjukkan terjadinya konsentrasi aktivitas ke-j (Pertanian, Manufaktur atau Jasa) di wilayah kecamatan ke-i secara relatif dibandingkan dengan wilayah kabupaten Bogor. Nilai LQij= 1, maka wilayah kecamatan ke-i

(55)

31

maka wilayah kecamatan ke-i mempunyai pangsa relatif kecil dibandingkan dengan aktivitas yang secara umum ditemukan di seluruh wilayah.

Adapun rincian dari tujuan, metode, data dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 3

Tabel 3 Matrik Tujuan, Metode, Data dan Sumber Data dalam Penelitian

(56)
(57)

33

IV. GAMBARAN UMUM KABUPATEN BOGOR

Publikasi BPS berupa Kabupaten Bogor dalam Angka 2010 menjelaskan bahwa pada tahun 1745, cikal bakal masyarakat Bogor semula berasal dari sembilan kelompok pemukiman yang digabungkan oleh Gubernur Baron Van Inhof menjadi inti kesatuan masyarakat Kabupaten Bogor. Pada waktu itu Bupati Demang Wartawangsa berupaya meningkatkan kualitas lingkungan hidup dan kesejahteraan rakyat yang berbasis pertanian dengan menggali terusan dari Ciliwung ke Cimahpar dan dari Nanggewer sampai ke Kalibaru/Kalimulya. Penggalian untuk membuat terusan kali dilanjutkan di sekitar pusat pemerintahan, namun pada tahun 1754 pusat pemerintahan yang terletak di Tanah Baru kemudian dipindahkan ke Sukaati (Kampung Empang sekarang).

Berdasarkan catatan sejarah bahwa pada tanggal 7 April 1752 telah muncul kata Bogor dalam sebuah dokumen dan tertulis Hoofd Van de Negorij Bogor, yang berarti kepala kampung Bogor. Pada dokumen tersebut diketahui juga bahwa kepala kampong itu terletak di dalam lokasi Kebun Raya itu sendiri yang mulai dibangun pada tahun 1817.

Hari Jadi Bogor secara resmi dikukuhkan melalui sidang pleno DPRD Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor pada tanggal 26 Mei 1972. Pada tahun 1975, Pemerintah Pusat (dalam hal ini Menteri Dalam Negeri) menginstruksikan bahwa Kabupaten Bogor harus memiliki Pusat Pemerintahan di wilayah kabupaten sendiri dan pindah dari pusat pemerintahan Kotamadya Bogor. Atas dasar tersebut, pemerintah Daerah Tingkat II Bogor mengadakan penelitian di beberapa wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor untuk dijadikan calon ibu kota sekaligus berperan sebagai pusat pemerintahan. Alternatif lokasi yang dipilih diantaranya adalah wilayah Kecamatan Ciawi (Rancamaya), Leuwiliang, Parung dan Kecamatan Cibinong (DesaTengah). Hasil penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa yang diajukan ke pemerintah pusat untuk mendapat persetujuan sebagai calon ibu kota adalah Rancamaya wilayah Kecamatan Ciawi. Akan tetapi pemerintah pusat menilai bahwa Rancamaya masih relatif dekat letaknya dengan pusat pemerintahan Kotamadya Bogor dan dikhawatirkan akan masuk ke dalam rencana perluasan dan pengembangan wilayah

(58)

34

Tingkat II Bogor disarankan agar mengambil salah satu alternatif wilayah dari hasil penelitian lainnya.

Dalam sidang Pleno DPRD Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor tahun 1980, ditetapkan bahwa calon ibu kota Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor terletak di Desa Tengah Kecamatan Cibinong. Penetapan calon ibu kota ini diusulkan kembali ke pemerintah pusat dan mendapat persetujuan serta dikukuhkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1982, yang menegaskan bahwa ibu kota pusat pemerintahan Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor berkedudukan di Desa Tengah Kecamatan Cibinong. Sejak saat itu dimulai rencana persiapan pembangunan pusat pemerintahan ibu kota Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor dan pada tanggal 5 Oktober 1985 dilaksanakan peletakan batu pertama oleh Bupati Kepala Daerah Tingkat II Bogor

pada saat itu.

Secara Geografis dan Pemerintahan maka Kabupaten Bogor merupakan salah satu wilayah yang berbatasan langsung dengan Ibu Kota RI dan secara geografis terletak pada posisi 6019’ - 6047’ Lintang Selatan dan 10601’ – 1070103’ Bujur Timur. Luas wilayah berdasarkan data terakhir adalah 2.301,95 Km2.

Batas-batas Wilayah ini adalah: Di Utara : Kota Depok Di Barat : Kabupaten Lebak. Di Barat Daya : Kabupaten Tangerang. Di Timur : Kabupaten Purwakarta. Di Timur Laut : Kabupaten Bekasi. Di Selatan : Kabupaten Sukabumi. Di Tenggara : Kabupaten Cianjur.

Kabupaten Bogor memiliki 40 kecamatan, 428 desa/kelurahan, 13.541 RT dan 913.206 rumah tangga. Dari jumlah tersebut 235 desa mempunyai ketinggian sekitar kurang dari 500 m diatas permukaan laut (dpl), 144 desa diantara 500-700 m dan sisanya 49 desa sekitar lebih dari 500 m dpl. Hampir sebagian besar desa di Kabupaten Bogor sudah terklasifikasi sebagai desa Swakarya yakni 236 desa, lainnya 191 desa

(59)

35

aspek potensi lapangan usaha, kepadatan penduduk dan sosial terdapat kategori desa perkotaan sebanyak 199 dan desa perdesaan sebanyak 228 desa.

Kabupaten Bogor dibagi dalam perwilayahan pembangunan yang merupakan dasar penyusunan agenda pembangunan dan rencana strategis setiap bidang dan program pembangunan dalam rangka penyeimbangan pembangunan antar wilayah. Maksud dan tujuan perwilayahan pembangunan adalah untuk meningkatkan pertumbuhan wilayah secara seimbang antarkawasan dengan memanfaatkan sumberdaya secara optimal dan berkesinambungan. Sebelum otonomi daerah diberlakukan, wilayah di Kabupaten Bogor terdiri dari 30 kecamatan kemudian setelah otonomi daerah diberlakukan maka dengan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2003 tentang pembentukan dan Peraturan Daerah Nomor 40 Tahun 2004 tentang Organisasi

dan Tata Kerja (OTK) Kecamatan, telah terbentuk 10 kecamatan baru hasil pemekaran wilayah yaitu Kecamatan Sukajaya, Kecamatan Tanjungsari, Kecamatan Tajurhalang, Kecamatan Leuwisadeng, Kecamatan Rancabungur, Kecamatan Tamansari, Kecamatan Cigombong, Kecamatan Tenjolaya, Kecamatan Klapanunggal dan Kecamatan Ciseeng, sehingga saat ini Kabupaten Bogor terdiri atas 40 kecamatan. Adanya pemekaran wilayah kecamatan di Kabupaten Bogor ini diharapkan perekonomian Kabupaten Bogor dapat berkembang pesat yang pada akhirnya mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk membangun suatu daerah sebaiknya kebijakan yang diambil harus sesuai dengan masalah, kebutuhan dan potensi daerah yang bersangkutan. Hal ini ditekankan karena setiap daerah memiliki potensi yang berbeda-beda baik dari sisi potensi sosial ekonomi, kandungan sumberdaya alam, kondisi geografis maupun potensi khas daerah lainnya.

Dengan mempertimbangkan karakteristik wilayah dan perkembangan ekonomi wilayah, pola interaksi internal dan eksternal yang didukung oleh jaringan infrastruktur pelayanan baik lokal maupun regional serta kebijakan pengembangan dan penyebaran penduduk secara seimbang sesuai dengan daya dukung lingkungan, maka wilayah Kabupaten Bogor dibagi menjadi tiga wilayah pembangunan, yaitu: wilayah pembangunan barat, tengah dan timur. Ketiga Wilayah Pembangunan tersebut adalah:

Gambar

Gambar 1. Sistematika Penyusunan Konsep-Konsep Indikator Kinerja
Gambar 2. Struktur Proses Pembangunan
Tabel 1 Indikator-Indikator
Gambar 4  Kerangka Pemikiran Penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait