PROBLEMATIKA HADHONAH DALAM PERNIKAHAN BEDA AGAMA (Studi Putusan No 655/Pdt.G/2008/PN.JKT.Sel)
SKRIP SI
Diajukan kepada Fakultas Syari'ah dan Hukum untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Hokum Islam (SHI)
II 1111
111
Oleh:
セLセGNᄋ@
Jnduk :ai:i:;-.cz;.:::::::&.?.¢0.:::
FIRMAN ASSALAMSY AH NIM: 103044128073
ォャ。ウゥヲゥセ。ウゥ@ : ..
.r?·fJ-·ttf·· ... .
KONSENTRASIPERADILANAGAMA PROGAM STUD I AHWAL AL-SYAKHSHIY AH
FAKULT AS SYARI' AH DAN HUKUM UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA 1431 H/2010 M
A|セW@
PERNIKAHAN BEDA A GAMA (STUD I PUTUSAN 655/Pdt.G/2008PN.JKT.;':'.EL) telah diujikan dalam sidang Munaqasah Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (U!N) Syarif Hidayatullah Jakarta pada Tanggal 1 Maret 2010. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum Islam (SHI) Program Strata 1 (Sl) pada Progam Studi Ahwal al-Syakhshiyah Konsentrasi Peradilan Agama.
Ketua
Sekretaris
Jakarta 1Maret2010 Disahkan !eh.
Dekat
Panitia Ujian Munaqasyah
: Drs.H.A.Basiq Djalil , SH,MA 195003061976031001
: Kamarusdiana, S.Ag,M.H 197407252001121001
Pembimbing : Prof. Dr. Hj. Zaitunnah Subhan 150185438
-Penguji
Penguji II
Drs.H.A.Basiq Djalil , SH,MA 195003061976031001
: Dr. H. Muhammad Taufiki, M.Ag. 196511191998031002
Suma SHMA MM
I
(
...
セ⦅@
..
)---(
...
" "...
)。セ@
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Syari'ah dan Hukum untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Hukum Islam (SHI)
Oleh:
FIRMAN ASSALAMSYAH NIM: 103044128073
Di Bawah Bimbingan
PROF. Dr. Hj. ZAITUNNAH SUBHAN
NIP. 150185438
KONSENTRASIPERADILANAGAMA PROGAM STUD I AHW AL AL-SYAKHSHIY AH
FAKULTAS SY ARI' AH DAN HUKUM UIN SY ARIF HIDA YATULLAH
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah
memberikan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat
mer\yelesaikan skripsi ini. Shalawat serla salam sernoga terlirnpah kepada Nabi
besar Muhammad SAW, pembawa syari'ah-Nya yang universal bagi semua umat
rnanusia setiap waktu dan tempat sampai akhir zitman.
Dalam penulisan skripsi ini, tidak sedikit kesulitan dan hambatan yang
penulis temukan, namun syukur Alhamdulillah berkat rahmat dan inayah-Nya,
kesungguhan serta dukungan dan bantuan dari berbagai pihak baik langsung
maupun tidak langsung, segala kesulitan dapat diatasi dengan sebaik-baiknya,
sehingga pada akhimya skripsi ini dapat terselesaikan.
Oleh sebab itu, sudah sepantasnya pada kesempatan kali ini penuiis ingin
mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada :
I. Bapak Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma, S.H., M.A., M.M., selaku Dekan
Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta.
2. Bapak Drs. H. A. Basiq Djalil, S.H., M.A., dan Bapak Kamarusdiana, S.Ag.,
M.H., selaku Ketua Prodi dan Sekerlaris Prodi Ahwal al-Syakhshiyyah
Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta.
3. !bu Prof Dr. Hj. Zaitunah Subhan, selaku Dosen Pembimbing yang telah
Ahwalus Syakhshiyyah Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan ilmu pengetahuannya
kepada penulis selama duduk di bangku kuliah.
5. Segenap jajaran Staf dan Karyawan Perpustakaan Fakultas Syariah dart
Hukum dan Perpustakaan Utama yang telah banyak membantu dalam
pengadaan reforensi-referensi sebagai bahan rujukan penulis dalam menyusun
skripsi ini.
6. Sejumput bakti ananda persembahkan kepada Ayahanda Gunawan dan Ibunda
tercinta Nurgiati, yang telah mencahayai hidupku serta senantiasa memberikan
kasih sayang disertai doa penuh ras:i tulus da:J ikhlas dalam setiap jejak
Iangkahku. Semoga baktiku ini mampu meajelma menjadi doa. Terima
kasihku.
7. Tak terlupakan kepada semua pihak yang turut membantu dalam kelancaran
penulisan skripsi ini yang tidak bisa disebutkan oleh pcnulis.
Semoga amal baik mereka dibalas Allah SWT dengan balasan yang
berlipat ganda. Jazakumullah Khairan Katsira. Sungguh hanya Allah yang dapat
Jakarta, 03 Mei 2010
KATA PENGANTAR ... i
DAFT AR ISi ........ iv
BABI BAB II PENDAHULUAN A. Later Belakang Masalah ... I B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 5
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 5
D. Studi Terdahulu ... 6
E. Metode Penelitian ... ? F. Sistematika Penelitian ... 10
TINJAUAN HUKUM NIKAH BEDA AGAMA DAN PELAKU PERNIKAHAN BEDA AGAMA A. Hukum Nikah Beda Agama dalam Tinjauan Hukum Islam ... 12
8. Hukum Nikah Beda Agama dalam Tinjauan Hukum Indonesia ... 21
C. Pelaku Pernikahan beda Agama di Masyarakat... ... 26
A. Pengertian Anak dan Pemeliharaan Anak ... .32
B. Syarat-Syarat Dalam Mengasuh Anak ... .3 7
C. Pihak-Pihak yang Berhak Mengasuh Anak ... .41
D. Pernikahan Beda Agama dan Problematikanya ... .46
BAB IV PROFIL PENGADILAN DAN ANALISA PUTUSAN HADHONAH
A. Profil Pengadilan Negeri Jakarta Selatan ... 52
B. Kronologis Perkara No 655/Pdt.G/2008/PN.JKT.Sel.. ... 55
C. Analisa Putusan Hakim ... 62
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ... 68
B. Saran-Saran ... 69
DAFT AR PUST AKA ...•...•.•. 70
Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kepadatan populasi
terbanyak di dunia dengan tingkat keanekaragaman sosial yang tinggi dan salah
satu keanekaragaman yang paling mendasar adalah perbedaan agama. Dalam ha!
ini pemerintah memberikan perlindungan kepada seluruh rakyat untuk memeluk
dan menjalankan kebebasan beragama tanpa adanya paksaan. Pasal 2 Undang
Undang Dasar No 29: "Negara menjamin kemerdakaan tiap-tiap penduduknya
untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama
dan kepercayaan itu". Keanekaragaman itu juga tercemin dalam pandangan hictup
bangsa Indonesia yaitu Pancasila. Dalam sila pertama disebutkan: "Ketuhanan
Yang Maha Esa" sehingga dapat didu6a implikasi yang timbul adaiah persamaan
pandangan terhadap kedudukan agama-agama yang diakui di Indonesia.
Agama-agama yang diakui di Indonesia adalah Islam, Kristen, Kristen Katolik, Hindu,
Budha, dan Konghucu 1
Di satu sisi keanekaragaman di Indonesia menyebabkan interaksi yang
terjadi di tengah masyarakat, salah satu dari sekian banyak kemungkinan interaksi
yang timbul adalah terbukanya peluang terjadinya pernikahan beda agama di
tengah masyarakat.
1
Farida, "Ernpat Cara Penye!undupan Hukurn bagi pasangan Beda Agama" Artikel
Membicarakan permasalahan pernikahan yang terjadi dengan kedua
mempelai berbeda agama tidak akan pernah selesai untuk dibicarakan,
perkawinan dengan kedua mempelai berbeda agama, dalam ha! ini salah satu
mempelai bukan beragama Islam sesungguhnya merupakan pennasalahan yang
sudah jamak diketahui hukumnya.
Hukum yang berlaku dan mengatur tentang masalah perkawinan di
Indonesia adalah Undang-undang (UU) No 1 Tahun 1974 dan didukung oleh PP
No 9 Tahun 1975, PP No 10 Tahun 1983, PP No 45 Tahun 1990 serta Kompilasi
Hukum Islam yang khusus diperlakukan bagi umat Islam di Indonesia.
Permasalahan pernikahan beda agama tidak banyak muncul kepermukaan
sebelum lahirnya UU Perkawinan No. 1 Tahun 1974 yang di dalam salah satu
pasalnya menyatakan bahwa perkawinan yang sah dilakukan menurut hukum
masing-masing agama dan keperc&yaan itu. Permsa!ahan baru muncul setelah
berlakunya UU No 1Tahun1974.
Pada dasarnya semua agama mengatur tentang ketentuan-ketentuan
pernikahai1 bagi pemeluknya, sebagai contoh agama Islam menganggap
pernikahan sah dan sesuai dengan syari'at adalah pernikahan yang sekufu, ケセゥエオ@
calon mempelai harus memeluk agama Islam dengan disertai oleh syarat yang
telah ditentukan. Sedangkan Islam memandang pernikahan antar agama sebagai
suatu yang masih menjadi polemik yang masih harus diteliti keharamanya dengan
kebolehannya, bahkan dalam penentuan calon suami istri, Nabi Muhammad SAW
mewasiatkan kepada kaum laki-laki agar memilih calon isteri karena faktor
.. UM'
.·.11
セセ|セ@ Gィセ@.-:.t .. ·
.wk
セi@f' -
·'fl ·.
r ··'
l '·.
t/.J .
..r' U'-"·F-' .,
セ@ セ@l.P
yLセ@ セ@i..JC
セiゥゥ@
-
\..::.LI • •
• .J-1
U:!
''.lll
オャセ@•
• ...)"-""
·
NAQセオ@ 1 •• セMMNj@ セᄋNセイ@ 1·.1Gi;.· セ@. .J
t • ,; .. ;.
セ@• • .J
r
r.
1w'":6-' •
2(<.S.JG...,JI ol.Jj)
Artinya : "Wanita itu dikawini karena empat perkara. Karena harta, status sosialnya, karena kecantikan wajahnya, karena ketaatan terhadap agamanya. Maka pilihlah terhadap agaman; •a niscaya kamu akan beruntung" (HR. Bukhari)
Berdasarkan hadist di atas Islam memberikan standar dalam pemilihan
isteri harus satu daiam agama dan keyakinan, dan tidak membolehkan untuk
pernikahan beda agama. Pernikahan beda agama menimbulkan permasalahan
yang komplek dan dapat mengancam keharmonisan keluarga.
Namun kenyataannya banyak dari masyarakat beragama di Indonesia yang
tidak menaati peraturan dari agamanya masing-masing. Banyak contoh dari kasus
pernikahan beda agama yang terjadi di Indonesia, beberapa contoh tersebut adalah
Jamal Mirdad dengan Lydia Kandou, Katon Bagaskara dengan Ira Wibowo,
Amara dengan Frans Lingua, Dedy Corbuzier dengan Karlina, yang terbaru
adalah Christian Sugiono dengan Titi Kamal, dan masih banyak pula pasangan
yang lain bukan dari kalangan selebritis. Berdasarkan penuturan mereka
perbedaan agama tidak menyurutkan langkah untuk menikah, meskipun proses
pernikahan tata cara dan proses pengesahan memakan waktu dan membutuhkan
pengorbanan yang banyak dari materi dan waktu, karena tata perundang-undangan
di Indonesia tidak memberikan kejelasan pengaturan tentang kebolehan
pernikahan beda agama.
2
Salah satu persoalan yang akan tirnbul dari adanya pernikahan beda agarna
adalah darnpak terhadap anak. Anak akan rnenjadi obyek dari darnpak perkawinan
beda agarna yang dilakukan oleh orang tuanya. Walaupun sesungguhnya anak
bersifat suci dan bersih dari segala beban, tetapi anak harus rnenanggung
perbuatan dari orang tuanya. Banyak darnpak yang diterirna oleh anak hasil
perkawinan beda agarna, antara lain darnpak yang diterirna adalah rnasalah hak
waris, perwalian saat akan rnelangsungkan pernikahan, dan anak juga akan
dihadapkan dengan persoalan rnernilih keyakinan yang akan dianutnya.
Bagairnana dengan pasangan yang rnelakukan pernikahan beda agarna tapi
rnereka bercerai?.bagairnana dengan hak pengasuhan anaknya?
Dalarn pasangan yang rnenikah beda agarna kernudian bercerai.
Permasalahan yang ditimbulkan tidak lantas langsung selesai begitu saja, karena
rnereka masih <lihadapkan persoalan hak asuh anak dan bagaimana cara
rnendidiknya, karena di latarbelakangi oleh dua kultur budaya dan agama yang
berbeda. Dalam persoalan pemilihan agama anak, secara langsung atau tidak
langsung orang tua selalu ikut campur dalarn rnenanamkan agama yang akan
dianut oleh anak. Tidak sedikit juga ditemukan kasus-kasus orang tua yang
menemukan agama tertentu tcrhadap anak, dengan cara yang mernaksa atau
dengan cara halus sehingga rnengancam perkembangan jiwa anak tersebut
Dari pernbahasan di atas penulis rnerasa termotivasi untuk rneneliti tentang
kasus-kasus putusan tentang hadhonah dalam perceraian nikah beda agarna. Maka
dari itu penulis mengambil objek penelitian di Pengadilan Agarna Jakaita Selatan
Karena latar belakang di atas penulis mengambil judul Skripsi dengan
judul "Problematika Hadhonah Dalam Pernikahan Beda Agama
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
Banyak pernikahan beda agama dilakukan dilakukan diluar negeri karena
ada ada peraturan yang melarangnya di dalam negeri.
Perkawinan di luar negeri seharusnya tidak ada pengakuan dari negara,
akan tetapi pada kenyataannya ketika mereka bercerai, hak hadhonah diputus
hakim sesuai dengan Kompilasi Hukum Islam. Demikian berarti bahwa secar
implisit pernikahan mereka diakui oleh negara, ha! inilah yang ingin penulis
telusuri dalan penulisan ini
Sesuai dengan pokok permasalahan tersebut, penulis mencoba
merumuskan ke dalam bentuk pertanyaan, sebagai berikut:
I. Bagaimana hukum pernikahan heda agama dalam sudut pandar.g
hukum islam dan hukum yang berlaku di Indonesia?
2. Apakah pertimbangan hukum yang melandasi Majelis Hakim
Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memutus perkara hak asuh anak,
dalam perkara nomor 655/Pdt.G/2008/PN.JKT.Sel?
C. Tujuan Penelitian dan Kegucaan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
I) Untuk mengetahui sudut pandang hukum Islam dan hukum Positif
tentang keabsahan pernikahan beda agama
2) Untuk mengetahui Landasan hukum yang digunakan hakim dalam
Adapun hasil yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah terjawabnya
semua permasalahan yang dirumuskan, yaitu bagaimana hukum pernikahan beda
agama dalam sudut pandang hukum islam dan hukum yang berlaku di Indonesia
dan apakah pertimbangan hukum yang melandasi Majelis Hakim Pengadilan
Negeri Jakarta Selatan memutus perkara hak asuh anak, dalam perkara nomor
655/Pdt.G/2008/PN.JKT.Sel
Adapun kegunaan yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai
berikut:
I) Bagi penulis sendiri kegunaan penelitian ini adalah untuk menambah
wawasan pengetahuan permasalahan pernikahan beda agama, dan juga
mengetahui dampak yang timbul serta akibat hukumnya.
2) Bagi pihak yang lain, terutama masyarakat umum penulis
ュ・セァィ。イ。ーォ。ョ@ sem:.iga skripsi i'1i menjadi salah satu bahan
pertimbangan apabila ingin terlibat dalam pernikahan beda agama
D. Studi Terdahulu
Agar penulisan ini lebih terarah dan tidak mengulangi penelitian-penelitian
terdahulu, penulis mengkaji penelitian-penelitian yang sudah ada yang
berhubungan dengan penelitian ini di antaranya:
Skripsi "Perkawinan Beda Agama dan Pengaruhnya Terhadap Agama
Anak", yang disusun oleh M Fuad Hadziq, tahun 2007. Dengan pokok
pembahasan hanya menjelaskan tentang bagaimana pendidikan agama anak di
Begitu juga dengan skripsi "Hak Ayah Terhadap Pengasuhan Anak
Setelah Putusnya Perkawinan (Analisa Putusan Perkara No.
1185/Pdt. G/2006/P AJS) ", yang disusun oleh Tita Gerhanawati yang dengan
penjelasan tentang pemberian hadhonah terhadap ayah dikarenakan ibu dari anak
tersebut keluar dari agama Islam (murtad)
Sedangkan dalam penulisan penelitian ini akan membahas tentang Untuk
mengetahui sudut pandang hukum Islam dan hukum Positif tentang keabsahan
pemikahan beda agama. Untuk mengetahui Landasan hukum yang digunakan
hakim dalam menyelesaikan perkara hadhonah
E. Metode Penelitian
Salah satu syarat dalam suatu karya ilmiah adalah upaya yang sistematis
dalam penyusunannya dengan menggunakan data yang objektif. Penelitian juga
bertujuan untuk mengumpulkan informasi yang berguna menambah
perkembangan ilmu pengetahuan.
Metode penelitian dapat dikatakan sebagai penyelidikan secara analisa dan
sempuma karena dengan adanya penelitian, karya ihniah dapat dibuktikan bahwa
data-data yang diperoleh objektif.
Pendekatan penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yaitu dengan
melakukan menggunakan metode deskriptif anaiisis.
Pendekatan kualitatif adalah riset yang bersifat deskriptif dan cenderung
menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna (perspektif
subyek) lebih ditonjolkan dalam peneiitian kualitatif. Landasan teori
lapangan. Pendekatan kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan data
deskriptif berupa kata-kata tertulis atau Iisan dari orang-orang atau yang perilaku
yang diamati. 3
Metode deskrpitif analisis adalah metode yang menggambarkan dan
memberikan analisis terhadap kenyataan di lapangan. Sumber utama penelitian
kualitatif adalah objek di lapangan, selain itu juga data tambahan berupa
dokumen, dan peneltian kepustakaan lainnya.
a. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang penulis gunakan adalah penelitian lapangan (field
research). Penelitian lapangan yaitu mencari data-data dengan cara terlibat
langsung deng:m objek yang sedang diteliti.
b. Teknik Pengnmpnlan Data
Teknik pengumpulan data terdiri dari dua sumber yakni:
I. Sumber Primer, yaitu berupa putusan dari Pengadilan Negeri Jakarta
Selatan dengan Nomor Putusan 655/Pdt.G/2008/PN.JKT.Sel yang telah
Berkekuatan Hukum Temp, serta bahan hukum primer yaitu
Undang-undang No l Tahun 1974 tentang perkawinan dan Kompilasi Hukum
Islam. Sumber Sekundernya, yakni memberikan penjelasan yang
mendukung dan menguatkan data primer yang mencakup Karya Tulis
berupa, makalah, koran majalah, dan lain-lain dengan mengambil materi
yang relevan dengan materi skripsi ini.
2. Wawancara, yaitu tanya jawab lisan antara dua orang atau lebih secara
langsung, yang bertujuan untuk mendapatkan data dari tangan pertama.4
Wawancara dilakukan dengan Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan
yang sudah berpengalaman dalam memutuskan perkera sengekta hak asuh
anak. Maksud dari dilakukan wawancara untuk mendapatkan informasi
tentang bagaimana pertimbangan hakim terhadap sengketa hak asuh anak
dibawah umur khususnya di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
c. Teknik Pengolahan Data
Dalam penelitian yang menggunakan penelitian lapangan ini, dalam
pengolahan data digunakan metode kualitatif, yakni dengan cara pengumpulan
data sebanyak-banyaknya kemudian menjadi salt! kesatuan data mendiskripsikan
perrnasalaha yang akan dibahas dengan ditunjang materi-materi yang relevan.
d. tセォョゥォ@ Analisa Data
Metode analisa data dalam skripsi ini adalah adalah kualitatif-normatif
yakni pengumpulan data dari berbagai dokumen-dokumen yang berkaitan dengan
materi.
e. Teknik Pennlisan La po ran
Dalam penulisan skripsi ini, penulis berpedoman pada Buku Pedoman
Penulisan Skripsi Tahun 2008 yang diterbitkan oleh fセォオャエ。ウ@ Syariah dan Hukum
UIN SyarifHidayatullah Jakarta.
4
• 1-Iusaini Usman, Metedo/ogi Pene/itian Sosial, Jakarta, Bumi Aksara 2001 h.
F. Sistematika Pennlisan
Dalam penyusunan karya ilmiah ini penulis menyusun secara bab perbab
dengan tujuan untuk lebih memudahkan dalam penyusunan dan menarik
kesimpulan dan tidak terlepas dari inti permasalahan, dan masing - masing bab
tersebut saling mempunyai korelasi dengan tema yang dibahas sehingga mertjadi
satu kesatuan. Adapun sistem penyusunan penelitian adalah sebagai berikut :
Bab I Pendahnluan
Merupakan pendahuluan yang berisikan latar belakang masalah
yang akan dibahas, pembatasan dan perumusan masalah, serta
tujuan dan kegunaan penelitian, metode penelitian serta sistematika
penulisan atau isi dari ringkasan bab demi bab dalam penulisan
skripsi ini.
.Bab II Tinjam:n Hokum Nikah Be:la Agami: dan Pelaku Perniki:han Beda Agama
Dalam bab ini dijelaskan mengenai hukum pernikahan beda agama
baik dari hukum Islam dan hukum yang berlaku di Indonesia dan
pelaku pernikahan beda agama
Bab III Hadhanah Dalam Tinjanan Fiqh Dan Problematika Pernikahan Beda Agama
Dalam bab ketiga ini menjelaskan tentang Hadhonah, dari segi
pengertiannya landasan hukumnya, syarat-syarat tentang hadhonah
Bab IV Profil Pengadilan Dan Analisa Putusan Hadhonah
Da!am bab ini terdiri dari profil Pengadilan Negeri Jakarta Selatan,
serta kronologis perkara, proses putusan hakim dan analisa putusan
hakim
Bab V Penutup
PERNIKAHAN BEDA AGAMA
A. Hokum Nikah Beda Agama Dalam Tinjauan Islam
Manusia dijadikan oleh Allah sebagai makhluk sosial yang artinya bahwa
manusia membutuhkan orang lain dalam hidupnya, tidak mampu hidup sendiri.
Pada saat ini dengan cepatnya mobilitas dan tingkat informasi, memudahkan
manusia dari herbagai golongan, etnis dan agama melakukan interaksi.
Interaksi sosial yang terjadi diantara masyarakat tidak menutup
kemungki:1an terjadinya pernikahan antar golongan dan suku, tidak juga menutup
kemungkinan terjadinya pernikahar. beda agama atau yang dis;;but juga
pernikahan campuran,
Pernikahan beda agama adalah persoalan yang sudah ada sejak zaman
rasulullah, hingga berlanjut ke zaman khulafaur Rasyidin. Dalam masa
pemerintahan Umar ibn Khaththab, pernikahan beda agama mengalami
penyempitan peluang. Hal ini disebabkan oleh pendapat Umar ibn Khaththab
bahwa pernikahan beda agama menjadi haram dengan sebab-sebab yang terjadi
pada masa itu. Y aitu untuk menjaga fitnah bagi umat Islam dengan kekhawatiran
beda agama.5 Pada zaman sekarang pemikahan beda agama menjadi lebih mudah.
Hal tersebut terjadi tidak hanya terjadi di kota tapi kasus tersebut juga ditemukan
di pedesaan,
Dalam pembahasan nikah beda agama dalam tinjauan Islam. Penulis coba
untuk mempermudah dengan membagi ke dalam dua persoalan dasar yaitu,
perkawinan pria Muslim dengan wanita ahli kitab dan pernikahan wanita muslim
dengan pria non muslim.
a. Pemikahan Pria Muslim dengan Wanita non Muslim.
Pernikahan seorang Muslim dengan perempuan Ahli Kitab. Yang
dimaksud dengan ahli kitab sebutan dalam Al-Qur'an untuk kaum beragama
Nasrani (Kristen) dan Yahudi Dinamakan demikian karena pada keduanya
menurut ajaran Islam, Allah menurunkan Kitab Taurat melalui Nabi Musa dan
lnjil melalui Nabi Isa. Oengan kedatangan Nabi Muhammad dan diturunkannya al
-Qur'an ahli kitab ini ada yang menerima dan ada yang menolak kerasulan
Muhammad maupaun kebenaran Al-Quran dari Allah,6
Banyak ulama yang menafsirkan bahwa Al Kitab di sini adalah Injil dan
Taurat. Dikarenakan agama Islam, Nasrani dan Yahudi berasal dari sumber yg
sama, agama samawi, para ulama memperbolehkan pernikahan jenis ini. Untuk
5
Ali mustafa Yaqub, Nikah Beda Agama da/am Perspektif A/-Qur.an dan Hadist, Jakarta : Pustaka Darussunnah, 2005, h.29
6
Ahli Kitab "\vikipedia bahasa Indonesia" diakses pada tanggal 17 Agustus-09 dari
kasus ini,
;yg
dimaksud dengan musyrik adalah penyembah berhala, api, dansejenisnya.
Hindu, Budha atau Kongnuchu tidak termasuk agama samawi (langit) tapi
termasuk agama ardhiy (bumi). Karena benda yang mereka katakan sebagai kitab
suci itu bukanlah kitab yang turun dari Allah SWT. Benda itu adalah basil
pemikiran para tokoh mereka dan filosof mereka. Kita tidak akan menemukan
hukum dan syariat di dalamnya yang mengatur masalah kehidupan. Tidak ada
hukum jual beli, zakat, zina, minuman keras, judi dan pencurian. Sebagaimana
yang ada di dalam Al-Quran Al-Karim, Injil atau Taurat. Yang ada han;ya etika,
moral dan nasehat.
Dalam permasalahan hukum menikah dengan perempuan ahli kitab para
ulama berpendiria!l bahwa ュセョゥォ。ィゥ@ perempuan ah!i kitab adalah halal hukumnya
mereka yang mengamini pernikahan sepert ini berasai dari pendapat Jumhur
Ulama dari kalangan Hanafiyah, Malikiyah, Syafi' iyah, dan Hanabilah 7, pendapat
mereka berdasarkan firman Allah
7
Artinya: "Pada hari Ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-•vanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu Telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. barangsiapa yang kafir sesudah beriman (Tidak menerima hukum-hukum Islam) Maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi. (al-Maidah 5-5)
Berdasarkan ayat di atas dapat tersirat bahwa al-Qur' an memperbolehkan
adanya pernikahan pria muslim dengan wanita ahli kitab, dengan dasar hukum
inilah banyak para sahabat yang mengemukakan pendapat bahwa boleh menikahi
wanita ahli kitab. Beberapa sahabat yang berpendapat sama tentang kebolehan
menikah dengan wanita ahli kitab adalah Umar ibn Khaththab, Utsman ibn Affan,
Thalhah, Hudzaifah, Salman, Jabir dan sahabat lainnya, maka kebo!ehan menikah
dengan wanita ahli kitab menjadi ijma sahabat. Berdasarkan riwayat ada sebagian
sahabat yang juga menikahi wanita ahli kitab contohnya adalah Hudazaifah yang
telah menikah dengan wanita Yahudi dari Al- Madain dan para sahabat tidak ada
satupun yang tidak menyetujui pernikahan tersebut. Bahkan menurut pendapat
Ibnu Mundzir, yang penulis kutip di dalam buku Mustafa Ali Yaqub berjudul
Nikah Beda Agama. Dia mengatakan jika ada ulama salaf yang mengharamkan
perkawinan pria muslim dengan wanita ahli kitab maka riwayat ini dinilai tidak
sah8
8
Dalam kitab tafsir ayat al-Ahkam, Ali al-Shabuni meajelaskan bahwa
maksud dari surah al-Maidah ayat 5 adalah mengawini perempuan-perempuan
merdeka dari perempuan-perempuan mukmin dan perempuan-perempuan ahli
kitab. Sedangkan mufassir lainnya mengatakan bahwa al-Muhsanat adalah
perempuan yang menjaga dan memelihara kehormatan dirinya.9
Pendapat kedua yang mengharamkan seorang rnuslim untuk menikahi
wanita ahli kitab, baik yang merdeka, yang berstatus sebagai ahli Dzimmah
セエ。オーオョ@ yang meajaga kehormatannya. Pendapat mereka berdasarkan dalil
sebagai berikut surah al Baqarah 22lyang berbunyi:
Artinya: "Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedar.g Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran" (al-Baqarah 2-221).
Asbdb al-nuzul dari al-Baqarah 221 ini dikisahkan bahwa Abdullah ibn
Rawahah yang mempunyai seorang budakwanita berkulit hitam. Suatu ketika
9
Abdul Mudjid, Perkawinan Seda Agama da!am Berbagai Perspeklif Artikel diakses
Abdullah marah kemudian dia menamparnya, lalu ia mendatangi Rasulullah dan
menceritakan peristiwa yang terjadi diantara mereka berdua. Maka Rasulullah
bertanya "bagaimana budak itu?" Abdullah ibn Rawahah ia berpuasa, shalat
berwudlm dengan sebaik-baiknya ia mengucapkan syahadat bahwa tiada ada Illah
selain Allah dan engkau Rasul-Nya. Kemudian Rasulullah be1sabda "Wahai
Abdullah, wanita itu adalah mukminah" kemudian Abdullah bersumpah akan
memerdekakannya dan menikahinya, setelah itu Abdullah menepati jaajinya, hal
tersebut menjadi gunjingan beberapa orang kaum muslimin, mereka mencelanya
serta berujar "apakah ia menikahi budaknya sendiri?" padahal kebiasaannya
mereka ingin menikah dengan orang-orang musrykin atau menikahkan anak-anak
mereka dengan orang-orang musyrikin, karena mengingkan kemulian leluhur
mereka. Maka Allah SWT menrunkan ayat sesungguhnya wanita budak yang
beriman itu !ebih baik daripada wanita musyrik waiaupun ia menarik hatimu .10
Pendapat sebagian ulama bahwa dalam ayat al-Baqarah 221 Allah telah
mengharamkan menikahi wanita musryik. Dalam menyatakan bahwa wanita ahli
kitab adalah wanita musrik, para ulama mengambil pendapat dari lbnu Umar RA
bahwa beliau pernah ditanya tentang hukum menikah dengan wanita-wanita
Nasrani dan Yahudi. Kemudian beliau menjawab "Sesungguhnya Allah telah
mengharamkan bagi orang-orang yang beriman menikah dengan wanita yang
musryik. Dan saya tidak mengetahui ada kemusyrikan yang lebih besar daripada
10
seorang wanita yang mengatakan Rabnya adalah Nabi Isa. Padahal beliau adalah
salah seorang hamba Allah SWT11•
Dalam ayat tersebut adalah pengharaman bagi kaum muslimin untuk
menikahi wanita musyrik, para penyembah berhala. Jika yang dimaksudkan
adalah kaum wanita musryik secara umum yang mencakup semua wanita baik
dari kalangan wanita ahlul kitab maupun penyembah berhala, maka Allah telah
mengkhususkan wanita ahli kitab, melalui firman-Nya al- Maidah ayat 5 dengan
kebolehan lelaki muslim menikah dengan wanita ahli kitab. Dalam ha! ini ibn
Qudamah berpendapat berdasarkan nasakh mansukh di atas maka dia berpendapat
dengan memperbolehkan perkawinan lelaki muslim dengan wanita ahli kitab.12
Mengenai firman Allah Ta'ala "wa laa tunkihuul musyrikaati hattaaa
yu 'r.1inna" dan janganlah kamu men;kahi wanita-wanita musryik sebelum mereka
beriman, Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas "Dalam hal ini,
Allah SWT telah mengecualikan wanita-wanita ahli kitab.13 Hal senada juga
dikatakan oleh mujahid, Ikrimah, Sa' id bin Jubair, Makhul, Hasan al-Bashir,
adh-Dhahak, Zaid bin Aslam, Rabi' bin Anas, dan ulama lainnya.14
b. Pernikahan Wanita Muslim dengan Pria Non Muslim.
11
Humaidi bin abdul Aziz bin Muhammad al- Humaidi Bolehkah Rumah Tangga Beda
Aga1na, h.38.
12 Ibn Qudamah, Al Mug/mi. Saudi Arabia, Dar al Alam al Kutub, 1417 H/1997 M eel !II,
juz IX, h.545
" Abdullah Bin Muhammad Bin Abduraahman Bin lshaq Al-Shiekh. Tqfsir Ibnu Katsir
Ji/id/, h.427
14
Abdullah Bin Muhammad Bin Abduraahman Bin Ishaq Al-Shiekh, Tafsir Ibnu Katsir
""
r1<J
セi@
セセゥゥ@
WGセ@
セ@ NセZセt@
;l=;"f.?.
ャセj@ ゥセQ[@
セ[ji@
エ[Aセ@
-:: be ..-:' be
). » -;;J ,..,, j セN[ANMMAGBB@ ,,. _,:J J ,,. ,..,, ,, .,, J -s:J .J.). .,, / "' ,,. -:: ,,.
(>.A
l'.J:?--
d" ":}
-!
l.bvI
J
J
d"
y:;::
J
')1..9 _;.- •セZ@
J-.
d"
J • - •1
c0
J.9
セMGセ@
_,, /.J. J ,,. !. ). .,,_,,, _, ,,. ). _,, t!,.o .J.,,.. ! --;; J J セM[[@ .1" _,, セ@ ,,. J /QセQ@ セ@
_,;.s;.u
01
セ@
」セ@
":ij
1_,.u.:,1
セ@ セ@
_,:;1;3
0A
0#·
セ@
"13
Artinya : "Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah
kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kami uji keimanan mereka. Allah lebih menhetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang-orang-orang kafir dan orang-orang-orang-orang kafir itu tidak halal bagi mereka. Dan berikanlah kepada atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka mahamya. Dan janganlah kamu tetap berperang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir: dan hendaklah kamu minta mahar yang telah mereka bayar. Dem ikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui l!!gi Maha Bijaksana. (Qs. Al Mumtahanah).
Pengambilan dalil dari ayat tersebut adalah bahwa Allah telah melarang
tetap berpegang teguh pada ikatan perkawinan dengan perempuan kafir. Wanita
ahli kitab termasuk golongan perempuan-perempuan kafir. Sedangkan yang
tersurat dalam ayat tersebut adalah larangan (An-nahyu) bermakna haram.
Asbabun nuzul ayat tersebut berasal dari hijrahnya kaum muslimin dari
Makkah ke Madinnah. Kaum muslimin yang hijrah ke Madinah terpaksa
meninggalkan suami mereka di Makkah yang masih menganut agama nenek
Pada mulanya Islam tidak secara jelas melarang perkawinan antara pria
non muslim dengan wanita muslimah, sehingga sampai dengan turunnya ayat ini
muncul larangan perkawinan pria non muslim dengan wanita muslimah.15 Dalam
suatu riwayat putri Nabi Muhammad SAW yang bernama zainab bersuamikan
seorang non muslim yang bernama Abu! Ash bin al-Arabi, setelah Abu! Ash bin
Arabi masuk agama Islam, Nabi Muhammad SAW mengembalikan Zainab
kepada suaminya tanpa akad baru.16
Sayyid Sabiq, dalam Fiqh Sunnah, menegaskan, bahwa semua ulama
bersepakat atas ha! itu. Tidak ada perbedaan pendapat tentang haramnya seorang
muslimah menikah dengan laki-laki non-muslim. Selama si laki-laki tidak
memeluk agama Islam, maka haram menikahkannya dengan seorang wanita
muslimah.
Dalam satu riwayat bahwa suatu ketika Khalifah Umar bin Khathab
mendengar Hanzalah bin Bishr menikahkan anak wanitanya dengan
keponakannya yang masih beragama Nasrani. Maka, Umar r.a. menyampaikan
pesan kepada Hanzalah: jika si laki-laki masuk Islam, maka biarkan pemikahan
itu berlangsung. Jika si laki-laki tidak mau masuk Islam, maka pisahkan mereka.
Karena si laki-laki menolak masuk Islam, maka mereka dipisahkan.17 Umar R.A.
j uga pernah menyatakan, "Tidak halal bagi laki-laki non-muslim menikahi wanita
15 M. Fuad 1-Iadziq.
Perkawinan Beda Aganta dan Pengaruhnya Terhadap Anak" Skripsi
SI Fakuhas Syari'ah clan Hukum Universitas Syarif Hisayatullah Jakarta, 2007, h 22
16
Imam Jbn Katsir, Tafsir a/-Qur 'an a/-Adzim, h. 27
17
Jbn Hazm, Al Muhal/a jilid VII, Peneliti Ahmad Muhammad Syakir, Pustaka Azzam
muslimah, selama si laki-laki tetap belum masuk Islam". Sikap Sayyidina Umar
bin Khathab yang tegas itu didasarkan pada Al-Qur'an surat Mumtahanah ayat 10.
Secara naluri zhahir maupun batin seorang istri lebih lemah dibanding
suami, padahal Rasulullah Shallallahu 'ala1ili wa sallam bersabda : "Islam itu
tinggi tidak bisa diungguli agama apapun". Siapa saja yang melakukan pemikahan
tersebut harus dikenakan sanksi tegas sesuai dengan hukum Islam. Barangsiapa
yang melegalkan dan menganggap halal atas pemikahan tersebut, maka telah
keluar dari agama Islam. Akan tetapi apabila seseorang melakukan pernikahan
tersebut hanya ikut-ikutan dan tidak menganggap halal, maka dia telah berbuat
dosa besar dan kejahatan yang sangat keji tetapi tidak keluar dari agama Islam.
Dan wanita yang melakukan perbuatan tersebut harus dikenakan sanksi berupa
rajam bagi wanita janda dan didera seratus ka!i dan dibuang selama setahun bagi
wanita gadis. Tetapi bila seorar,g wanita 1r.elakukan perbuatan tersebut atas dasar
ketidaktahuan, maka sanksi dan hukuman tersebut menjadi gugur sebab terdapat
subhat di dalamnya. 18
B. Hnknm Nikah Beda Agama Dalam Tinjnan Hnknm Indonesia
Pembahasan dalam bah ini mencoba menelaah peraturan mengenai
perkawinan beda agama dalam peraturan-peraturan pemerintah di Indonesia.
maka penulis akan menggunakan sumber dari Peraturan Perkawinan
Campuran!Regeling op de Gemengde Huwelijken, Staatsblad 1898 Nomor 158
18
Amin bin Yahya Al-Wazan, Al-Fatawa Al-Ja1ni1ah Lil Maratil Mus/imah, Edisi
Indonesia Fat,va-Fat\.va Tentang Wanita, Penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin, Penerbit Darul
(GHR), Undang-undang Perkawinan Nomor I Tahun 1974, dan Kompilasi
Hukum Islam di Indonesia.
Untuk mengetahui secara lebih mendetail tentang pengaturan perkawinan
beda agama di Indonesia, dalam uraian berikut akan dipaparkan
peraturau-peraturan yang terkait dengan pengaturan perkawinan beda agama di Indonesia.
Dalam Peraturan Perkawinan Campuran/Regeling op de Gemengde
Huwelijken, Staatsblad 1898 Nomor 158 (GHR), beberapa ketentuan tentang
perkawinan beda agama adalah sebagai berikm:
Dalam Pasal 1 Peraturan Perkawinan Campuran Pelangsungan perkawinan
antara orang-orang, yang di Hindia Belanda tunduk pada hukum yang berbeda,
diseb11t perkawinan campuran.
Dalam Pasal 6 ayat (1) Peraturan Perkawinan Campuran!Regeling op de
Gemengde Huwelijken, Staatsblad 1898 Nomor 158 (GHR). Perkawinan
campuran di langsungkan menurut hukum yang berlaku atas suaminya, kecuali
izin para calon mitra kawin yang selalu disyaratkan.
Sedangkan dalam Pasal 7 ayat (2) Peraturan Perkawinan Campuran/Regeling op
de Gemengde Huwelijken, Staatsblad 1893 Nomor 158 (GHR). Perbedaan agama,
golongan penduduk atau asal usu! tidak dapat merupakan halangan pelangsungan
Beberapa pasal di atas secara tegas mengatur tentang perkawinan beda
agama bahkan disebutkan bahwa perbedaan agama tidak dapat dijadikan alasan
untuk mencegah terjadinya perkawinan. Dalam Undang-undang No. 1 Tahun
1974 pasal yang dijadikan sebagai landasan perkawinan beda agama adalah pasal
2 ayat (1), pasal 8 huruff dan pasal 57.
Pasal 2 ayat (1) Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum
masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu. Sedangkan pasal 8 huruf f
berbunyi Perkawinan dilarang antara dua orang yang mempunyai hubungan yang
oleh agamanya atau peraturan lain yang berlaku,dilarang kawin.
Pasal 57 UU No. I Tahun 1974 Yang dimaksud dengan perka,.vinan
campuran dalam Undang-undang ini ialah perkawinan antara dua orang yang di
Indonesi& tunc!uk pad& hukum yang berlainan, karena perbedaan kewarganegaraan
dan salah satu pihak berkewarganegaraan Asing dan salah satu pihak
berkewarganegaraan Indonesia".
Terhadap ketiga pasal di atas muncul bcberapa penafsiran yang berbeda
yang mengak!batkan terjadinya perbedaan pemahaman tentang perkawinan beda
agama di Indonesia sebagaimana akan dijelaskan pada uraian di bawah.
Kompilasi Hukum Islam pasal 40 huruf c dan pasal 44 secara eksplisit
mengatur tentang larangan perkawinan antara laki-laki muslim dengan wanita
non-muslim dan wanita muslim dengan laki-laki non-muslim. Pasal 40 huruf c
Dilarang melangsungkan perkawinan antara seorang pria dengan seorang
wanita karena keadaan tertentu;
a karena wanita yang bersangkutan masih terikat satu perkawinan dengan
pria lain;
b. seorang wanita yang masih berada dalam masa iddah dengan pria lain;
c. seorang wanita yang tidak beragama Islam.
Pasal 40 huruf c di atas secara eksplisit melarnng terjadinya perkawinan
antara laki-laki (muslim) dengan wanita non-muslim (baik Ahl al-Kitab maupun
non Ahl al-K!tab). Pada kesimpulannya pasal ini memebrikan penjelasan bahwa
wanita non muslim apapun agamanya tidak boleh dinikahi oleh lelaki muslim
Sedangkan pasal 44 menyatakan sebagai berikut Seorang wanita Islam
dilarang melangsungkan perkawinan dengan seorang pria yang tidak beragama
Islam. Pasal ini secara tegas melarang terjadinya perkawinan antara wanita
muslim dengan pria non-muslim baik termasuk kategori Ahl al-Kitab maupun
tidak termasuk kategori Ahl al-Kitab.
Terakhir pasal 60 Kompilasi Hukum Islam menyatakan sebagai berikut:
(I) Pencegahan perkawinan bertujuan untuk menghindari suatu perkawinan
(2) Pencegahan perkawinan dapat dilakukan bila calon suami atau calon
isteri yang akan melangsungkan perkawinan tidak memenuhi
syarat-syarat untuk melangsungkan perkawinan menurut hukum Islam dan
Peraturan Perundangundangan.
Pasal ini menguatkan larangan tentang Pemikahan beda agama bagi
perempuan muslimah dengan pria non muslim dari semua agama tidak terkecuali
Selain Undang- Undang yang disebutkan diatas ada satu putusan
Mahkamah Agung
No.! 400/k/pdt/1986.
yang
Dal am
memperbolehakn perkawinan antar
a mar putusannya Mahkamah
agama
Agung
memperbolehkan perkawinan antar agama yang di mohonkan oleh Andy Vonny
Gani dengan Andriannus Petrus Hendrik Nelwan
Putusan yang kini telah meqjadi Yurisprudensi iui memang belum
terserap. Tetapi tidak menutup kemungkinan dalam beberapa tahun kemudian
akan menjadi virus bagi eksist;:nsi agama, terlebih di era dimana semakin
canggihnya teknologi yang diiringi dengan keterbukaan terhadap segala
informasi, serta belum adanya dimensi jenis-jenis penanganan yang diatur dalam
UU. Penulis berharap ptusan MA ini tidak menjadi alat penguat hukum untuk
melegalkan pemikahan beda agama di Indonesia.
C. Pelaku Pernikahan beda Agama di Masyarakat
Perkawinan merupakan suatu ikatan yang sangat dalam dan kuat sebagai
keluarga atau rumah tangga. Dalam membentuk suatu keluarga tentunya
memerlukan suatu komitmen yang kuat diantara pasangan tersebut.
Sehingga dalam ha! ini Undang-undang Perkawinan No.I tahun 1974 pada
pasal 2 ayat I menyatakan bahwa suatu perkawinan dapat dinyataKan sah, apabila
dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaan pasangan yang
melakukan pemikahan.
Landasan hukum agama dalam melaksanakan sebuah perkawinan
merupakan ha! yang sangat penting dalam UU No. I Tahun 1974 Tentang
Perkawinan, sehingga penentuan boleh tidaknya perkawinan tergantung pada
ketentuan agama. Hal ini berarti juga bahwa hukum agama menyatakan
perkawinan tidak boleh, maka tidak boleh pula menurut hukum negara. Jitdi
daiam perkawinan berbeda agama yang menjadi boleh tidaknya tergantung pada
ketentuan agama.
Perkawinan beda agama bagi masing-masing pihak menyar.gkut akidah
dan hukum yang sangat penting bagi seseorang. Hal ini berarti menyebabkan
tersangkutnya dua peraturan yang berlainan mengenai syarat- syarat dan tata cara
pelaksanaan perkawinan sesuai dengan hukum agamanya masing-masing.
Kenyataan dalam kehidupan masyarakat bahwa perkawinan berbeda
agama itu terjadi sebagai realitas yang tidak dipungkiri. Berdasarkan ketentuan
perundang-undangan yang berlaku secara positif di Indonesia, telah jelas dan
karena bertentangan dengan hukum yang berlaku di Indonesia. Tetapi ternyata
perkawinan antar agama masih saja terjadi dan akan terus terjadi sebagai akibat
interaksi sosial diantara seluruh warga negara Indonesia yang pluralis agamanya.
Banyak kasus-kasus yang terjadi didalam masyarakat, seperti perkawinan antara
artis Jamal Mirdad dengan Lydia Kandau, Katon Bagaskara dengan Ira Wibowo,
Yuni Shara dengan Henri Siahaan, Adi Subono dengan Chrisye, Ari Sihasale
dengan Nia Zulkarnaen, Dedi Cobuzer dengan Kalina, Frans dengan Amara,
Sonny Lauwany dengan Cornelia Agatha.
Pemikahan beda agama yang terbaru antara Rio Febrian <lengan Sabrina
Sagita Kono, sang mempelai wanita yang beragama Islam. Dalarn melaksanakan
pemikahannya mereka sepakat untuk melakukan pernikahan di luar negeri,
berdasarkan sumber キ。キ。ョセ。イ。@ yang penulis kutip dari situs inilah.com
Inilah.Com, Jakarta - Rio Febrian akhirnya menjadi suami Sabria Kono.
Perbedaan agama tak masalah bagi keduanya. Pasalnya, keduanya sudah resmi
menikah di Bangkok, Thailand.
"Perasaan gue jadi lebih tenang. Apa yang kita rencanakan sudah bisa kita
jalani. Kita udah resmi jadi suami istri," ungkap Rio Febrian didampingi istrinya
Sabria, usai menjalani resepsi pemikahan di Gedung Graha Niaga, Sudirman,
Jakarta Selatan, Sabtu (1312) malam. Rio dan Sabria sudah resmi menjadi suami
istri sejak 3 Februari 2010 lalu. Mereka resmi menikah di Bangkok, Thailand.
Mセセセセᄋhid@
MZ]セセ|セセイAMセ@
"Kita ke Bangkok karena memang harus kesana. Salah satu negara yang
bisa bikin kita Qadi) satu, ya Bangkok. Gue sama Sabria beda prinsip, beda
agama. Di Indonesia nggak bisa nikah beda agama," ungkap Rio. Sabria
menambahkan, "Waktu kita pertama kali ketemu, kita nggak memusatkan ke
perbedaan agama. Kita mencoba saling mengenal saja, menjalani hubungan.
Pastinya, sejak suka sama Rio, aku yakin dia bisa jadi pemimpin yang baik untuk
aku."
Apa yang dikatakan sang istri, dibenarkan Rio. Apapun yang terjadi nanti,
Rio dan Sabria hanya berharap yang terbaik untuk rumah tangganya.
"Kita tiga tahun pacaran, dari awal gue menghargai Sabria sebagai
muslim, begitupuo sebaliknya. Kita menghargai prinsip masing-masing. Apapun
yang dijalar.in kedepan, kita harapkan yang terbaik," 19
Perkawinan antar agama yang terjadi seperti contoh kasus diatas dan di
dalam kehidupan masyarakat, seharusnya tidak terjad1 jika dalam ha! ini negara
atau pemerintah secara tegas melarangnya dan menghilangkan sikap mendua
dalam mengatur dan ュ・ャ。ォウ。ョセォ。ョ@ suatu perkawinan bagi rakyatnya. Sikap
ambivalensi pemerintah dalam perkawinan beda agama ini terlihat dalam praktek
bila tidak dapat diterima oleh Kantor Urusan Agama, dapat dilakukan di Kantor
Catalan Sipil dan menganggap sah perkawinan berbeda agama yang dilakukan
diluar negeri.
19
Inilah.com, Kabar Artis, "Beda Agama, Rio Febrian-Sabria Menikah di Thailand",
D. Pendapat Tentang Perkawinan Beda Agama
Seorang guru besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Prof. Dr.
Muhammad Daud Ali (aim.) menjelaskan dalarn bukunya yang bejudul
"Perkawinan Antar Pemeluk Agama Yang Berbeda".Perkawinan antara
orang-orang yang berbeda agarna adalah penyirnpangan dari pola urnurn perkawinan
yang benar rnenurut hukurn agarna dan Undang-undang Perkawinan yang berlaku
di tanah air kita. Untuk penyimpangan ini, kendatipun rnerupakan kenyataan
dalarn rnasyarakat, tidak perlu dibuat peraturan tersendiri, tidak perlu dilindungi
oleh negara. Mernberi perlindungan hukurn pada warga negara yang rnelakukan
perbuatan yang ber!entangan dengan Pancasila sebagai cita hukurn bangsa dan
kaidah fundamental negara serta hukurn agarna yang berlaku di Indonesia, pada
pendapat saya selain tidak konstitusional, juga tidak legal.
Prof. HM Rasjidi, rnenteri agarna pertarna RI, dalarn artikelnya di Harian
Abadi edisi 20 Agustus 1973, rnenyorot secara tajarn RUU Perkawinan yang
dalarn pasal I 0 ayat (2) disebutkan: "Perbedaan karena kebangsaan. suku, bangsa,
negara asal, ternpat asal, agarna, kepercayaan dan keturunan, tidak rnerupakan
penghalang perkawinan. Pasal dalarn RUU tersebut jelas ingin rnengadopsi
Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia pasal 16 yang rnenyatakan: "Lelaki dan
wanita yang sudah dewasa, tanpa sesuatu pernbatasan karena suku, kebangsaan
dan agarna, rnernpunyai hak untuk kawin dan rnernbentuk satu keluarga. Mereka
rnernpunyai hak yang sarna dengan hubungan dengan perkawinan, selama dalarn
Khusus tentang Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia pasal 16 yang
menyatakan: "Lelaki dan wanita yang sudah dewasa, tanpa sesuatu pembatasan
karena suku, kebangsaan dan agama, mempunyai hak untuk kawin dan
membentuk satu keluarga, Hamka menulis kesimpulan yang sangat tajam: "Oleh
sebab itu dianggap kafir, fasiq, dan zalim, orang-orang Islam yang meninggalkan
hukum syariat Islam yang jelas nyata itu. lalu pindah bergantung kepada
"Hak-hak Asasi Manusia" yang disahkan di Muktamar San Francisco, oleh sebagian
anggota yang membuat "Hak-hak Asasi" sendiri karena jaminan itu tidak ada
dalam agama yang mereka peluk.
Untuk perkawinan beda agama yang ada pada saat ini, mantan Menteri
Agama Quraish Shihab berpendapat agar dikembalikan kepada agama
masing-masing. Yangjelas dalamjalinan pernikahan antara suami dan istri, pertama hams
didasari atas persamaan agama dan keyakinan hidup. Namun pada kasus
pernikahan beda agama, harus ada jaminan dari agama yang dipeluk
masing-masing suami dan istri agar tetap menghormati agama pasimgannya. "Jadi jangan
ada sikap saling menghalangi untuk menjalankan ibadah sesuai agamanya
Pendapat berbeda disampaikan pengajar hukum Islam di UI Farida
Prihatini. Farida menegaskan bahwa MUI melarang perkawinan beda agama.
Pada prinsipnya, bukan hanya agama Islam. "Semua agama tidak
memperbolehkan kawin beda agama. Umatnya saja yang mencari
peluang-peluang. Perkawinannya dianggap tidak sah, dianggap tidak ada perkwianan, tidak
Pemerintah tidak tegas. Meskipun UU tidak memperbolehkan kawin beda agama,
tetapi Kantor Catatan Sipil bisa menerima pencatatan perkawinan beda agama
yang dilakukan di luar negeri. Padahal,Kantor Catatan Sipil merupakan produk
negara. Dengan demikian, seharusnya yang dicatat Kantor Catalan Sipil adalah
sesuai dengan hukum Indonesia. "Secara hukum tidak sah. Kalau kita melakukan
perbuatan hukum di luar negeri, baru sah sesuai dengan hukum kita dan sesuai
dengan hukum di negara tempat kita berada. Harusnya kantor catatan sipil tidak
PROBLEMATIKA NIKAH BEDA AGAMA
A. Pengertian Anak dan Pemeliharaan Anak
Anak secara etimologi adalah seorang lelaki atau perempuan yang belum
dewasa atau belum mengalami masa pubertas. Anak juga merupakan keturunan
kedua, dimana kata "anak" merujuk pada lawan dari orang tua, orang dewasa
adalah anak dari orang tua mereka, meskipun mereka tel ah dewasa2°.
Dalam Undang-Undang Perlindungan anak yang dimaksud dengan
pengertian anak adalah seseorang yang belum berusia yang belum berusia 18
(de Japan be las) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.
Pengertian anak dalam Undang-Undang Hukum Perdata adalah sesorang
yang dilahirkan atau dibesarkan selama perkawinan, memperoleh si suami sebagai
ayahnya. Sedangkan dalam Undang-Undang Perkawinan 1974 anak adalah anak
yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah. Jadi berdasarkan
kesimpulan diatas yang dimaksud anak adalah seseorang yang belum berusia 18
tahun yang di besarkan didalam perkawinan yang sah.
Pengertian hadhonah secara etimologis hadhonah (Pemeliharaan anak)
berasal dari (0'A) - セI@ artinya mengasuh anak21• Menurut San'ani yang
penulis kutip dari kitab subulus salam. Dia mengatakan hadhanah berasal dari kata
'0 Wikipedia Ensiklopedia Bebas artikel diakses pada tanggal IO Desember 2009 dari
http://id.wikipedia.org/wiki/ Anak.
21
Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia Jakarta yayasan Penyelenggara
( セ@ ) yang artinya mengasuh atau memelihara, seperti dalam kalimat ( セ@
セiI@ artinya dia mengasuh atau memelihara anak22•
Hadhanah menurut bahasa berarti meletakaan sesuatu dekat tulang rusuk
atau di pangkuan karena ibu waktu menyususkan anaknya meletakkan anak itu di
pangkuannya seakan-akan ibu di saat itu melindungi dan memelihara anaknya23,
sehingga "hadhanah" dijadikan istilah yang maksudnya: "pendidikan dan
pemeliharaan anak sejak dari lahir sampai sanggup berdiri sendiri mengurus
dirinya yang dilakukan oleh kerabat anak itu24
Menurut pendapat dari Husein Bahreisj di dalam buku fiqh sunnah,
hadhonah adalah mengasuh dan mendidik anak. Menurut ahli fiqh hadhonah ialah
melakukan pemeliharaan anak yang masih kecil laki-laki atau perempuan yang
sudah besar tetapi belum mumayyiz, tanpa perintah dari padanya, menyediakan
sesuatu yang mengenjadikan kebaika:mya menjaga ウ・ウセエ。エオ@ yang menyakiti dan
merusaknya, mendidik jasmani, rohani dan akalnya mampu berdiri sendiri
menghadapi hidup dan memikul tanggung jawabnya25
Fuqaila mendefinisikan hadhonah dengan suatu ungkapan terhadap
aktivitas yang dilakukan orang tua dalam mengasuh anak kecil, pria maupun
wanita, atau bahkan juga terhadap seorang anak yang ma'tuh (idiot) yang tidak
mampu membedakan baik dengan buruk serta tidak bisa mengurus dirinya sendiri.
22 Muhammad lbnu Ismail al-Kahlani, , Subulus Salam,
Bandung Maktabah Da.lilan, Juz 3 h, 222
23 Abduh Rahman Ghozali. Fiqh Munakahat, h, 175
24
Zakiah dイセェ。エL@ I/mu Fiqh, Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf, 1995,jilid 2 h, 157
25
Kemudian orang tua mengurusnya dengan ha! yang membawa kemaslahatan bagi
anak/ orang itu serta memelihara dan menghindarkannya dari hal-hal yang
menyakiti atau membahayakan dengan mendidiknya baik fisik kejiwaan maupun
akalnya26•
Definisi terminologi tentang hadhonah kurang lebih seperti tersebut di
atas, tentang pemeliharan anak yang belum mumayyiz, bahkan definisi yang
diberikan dalam ensiklopedia hukum Islam juga tidak jauh berbeda, bahwa
hadonah adalah merawat dan mendidik seseorang yang belum mumayyiz atau
kehilangan kecerdasannya, karena mereka tidak dapat memenuhi kebutuhannya
sendiri. Pastinya memerlukan sesorang yang cakap untuk menjalankan hadhonah
agar tujuan dan maksud dari hadhanah itu terpenuhi.
Hadhanah dalam Islam hukumnya adalah wajib, dan orang tua mempunyai
tanggung jawab yang penuh untuk memenuhi hak yang pantas didapatkan oleh
anaknya, hal ini bertujuan agar anak menjadi manusia yang beriman dan
memperoleh kebahagiaan baik di dunia dan akhirat.
Sesuai dcngan firman Allah :
セ
L@ LMLLLLLセjLL@'""1·,·.,"-1' '"J1°"1'
GANセGᄋNセ_ZゥMイセ@ · ' L A ' '''.:.J, LA41J' ,)..Ll,,.h セ@
セL@
uJ/.Y-
u
セMG@ 1.:.r
オセ@,
,
セ@Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan
keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan "(QS: at-Tahrim.6) .
26 Muhammad Amin Suma, Hula1n1 Ke/uarga Islam di Dunia Jsla111. Jakarta: UIN Press
Makna dari memelihara keluarga yang terkandung dalam ayat diatas
adalah: mengasuh, memelihara serta mendidik mereka hingga mereka beriman
kepada Allah SWT danjuga berguna kepada bangsa dan Negara. Tanggungjawab
orang tua terhadap anaknya diperkuat lagi dengan hadis Nabi:
Artinya: "Dari Abi Hurairoh ra: Nabi SAW bersabda: Tiap-tiap anak dilahirkan menurut fitrahnya (suci dan bersih) maka ibu bapaknya yang menjadikan Y ahudi, Nasroni, Majusi. Sama halnya dengan seekor hewan ternak maka ia akan melahirkan ternak pula tiada kamu lihat kekurangannya." (HR Bukhori)
Semangat yang terkandung di al-Qur'an dan Hadist, juga diterapkan
kedalam peraturan bangsa Indonesia. Hal ini tercermin dalam Undang-Undang
Perkawinan dan KHI. Dalam kedua sumber hukum positive !ersebut,
menyebutkan aturan ten tang kewaj iban orang tua untuk memelihara dan mendidik
anak mereka dengan baik.
Dalam Undang-Undang No Tahun 1974 tentang perkawinan
sebagaiamana bunyi pasal 45 yang menyatakan:
I. Kedua orangtua wajib memelihara dan mendidik anak-anak mereka
sebaik-baiknya.
2. Kewajiban orangtua yang dimaksud dalam ayat (I) pasal ini berlaku
sampai anak itu kawin atau berdiri sendiri. Kewajiban mana yang
berlaku terns meskipun perkawinan antara kedua orangtua terputus.
27
Dalam pasal diatas sangat jelas bahwa semangat Undang-Undang
perkawinan menyatakan bahwa kepentingan anak diatas segala-galanya, artinya
bahwa Undang-Undang perkawinan sangat berpihak kepada kepentingan dan
masa depan anak.
Dalam KI-II aturan yang mengatur tentang kewajiban orangtua untuk
memelihara dan mendidik anak mereka dengan baik. Terdapat dalam pasal 77
ayat 3 "Suami lsteri memikul kewajiban untuk mengasuh dan memelihara
anak-anak mereka, baik mengenai pertumbuhan jasmani, rohani maupun kecerdasan
serta pendidikan agamnya.
Dari penjelasan KI-II di atas dapat disimpulkan bahwa kewajiban orang tua
untuk mengasuh dan memenuhi kebutuhan materi dan spiritual bagi sang anak.
Kepribadian orang tua juga harus baik karena anak butuh seorang panutan dalam
masa d!a berkemb'lng.
Orang tua adalah orang pertama yang bertanggung jawab untuk
membayarkan hak-hak anak keturunan mereka Namun, tidak jarang tugas seperti
itu menjadi terputus, baik karena kesepakatan mereka bersama maupun diluar
kehendak mereka.
Dampak yang terbesar akibat berakhimya suatu pemikahan sangat
dirasakan oleh anak. Anak mungkin akan menjadi korban, bila tak dipersiapkan
dengan baik, anak bisa jadi akan tumbuh menjadi anak yang tidak bahagia karena
dia kehilangan figur yang menjadi panutan. Psikolog anak dari Universitas
Indonesia, Surastuti Nurdadi mengatakan "Kepentingan anak harus tetap
sayang orang tua yang utuh pada saat melihat orang tuanya bercerai. Apalagi, jika
salah satu orang tua tak ada lagi di sisinya. 28
Dalam hukum Islam, segala kemungkinan negatif itu secara teoritis telah
diantipasi, dengan adanya aturan-aturan, siapa yang seharusnya mengasuh anak
bila terjadi perceraian, apa saja persyaratan pada diri seseorang yang dianggap
pantas untuk melakukan tugas ini. Aturan-aturan ini dibuat secara ketat dan juga
mempertimbangkan hak-hak anak.
B. Syarat -Syarat Dalam Mengasuh Anak
Dalam mengasuh anak, diberikan syarat-syarat yang sangat ketat dan
selektif, karena untuk ditujukan kepentingan anak itu sendiri danjuga tidak semua
orang tua mampu untuk melaksanakannya. Oleh karena itu di butuhkan beberapa
persyaratan sebagai standar dalam menentukan siapa yang berhak menerima
hadhonah.
Beberapa persyaratan yang disepakati oleh mayoritas ulama bahwa hak
asuh anak harus jatuh kepada orang yang berakal sehat, amanah, suci diri, bukan
pem in um khamar, tidak berbuat maksiat seperti bukan penari dan tidak
mengabaikan anak yang diasuhnya.
Dalam pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar ulama
cenderung memilih ibu sebagai yang berhak dalam mengasuh anak. Akan tetapi
tidak meica1tup kemungkinan pihak suami dapat mendapatkan hak asuh anak,
karena pertimbangan bahwa mantan isterinya tidak memmpunyai akhlak dan budi
pekerti yang baik. Berdasarkan pertimbangan tidak terpenuhinya salah satu syarat,
28
maka para ulama sepakat bahwa pihak suami mendapat hak untuk mengasuh
anak.
Kalangan ahli fiqh memeberikan syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk
memperioleh hak asuh anak, jika syarat ini tidak terpenuhi maka hilanglah
kesempatan untuk mengasuhnya.
Syarat-syarat tersebut adalah29 :
1. Berakal
Para ulama memberikan syarat bahwa penerima hak asuh anak harus
mempunyai aka! dan pikiran yang sehat, karena itu orang yang gila dna lemah
ingatan tidak boleh mengasuh anak-anak. Karena banyak kemudharatan yang
akan didapat oleh anak apabila ha! itu tetap dipaksakan.
2. Baligh
Dewasa adalah syarat bagi para penerima hak esuh anak. Jadi wanita dan
pria yang masih kecil tidak boleh menjadi pengasuh sebab kelompok ini masih
memerlukan orang yang dapat menjadi wali atau bahkan mengasuh mereka. Jika
mereka masih membutuhkan wali dan membutuhkan pengasuha, maka merekpun
tidak pantas untuk menjadi pengasuh untuk orang lain.
3. Se hat Badan
Pengasuh harusnya mempunyai badan yang sehat, mampu melaksanakan
tugas-tugas mengasuh dan cekatan. Seseorang yang mempunyai penyakit
menular, lemah fisik, dan sudah memasuki usia yang lanjut tidak boleh menjadi
29
Pioni "Proses hadhonah dan adopsi' artikel diakses pada 11 November 2009 dari
pengasuh. Keadaan demikan dapat membahayakan dan bahkan tidak bermanfaat
sama sekali
4. Orang yang Dipercaya.
Seseorang yang mempunyai sifat tidak 。ュ。ョ。ィセ@ tidak dapat menjadi
seorang pengasuh. Persyaratan ini bertujuan untuk menghindari pengaruh buruk
terhadap anak yang akan diasuhnya, dan tidak pula dipercaya dalam menja!ankan
kewjibannya, juga ditakutkan anak tersebut dapat mengikuti sifat yang tidak baik
karena dialah yang paling sering bersama dengan anak tersebut.
5. Tidak Terikat Pekerjaan Yang Menyulitkan Pengawasan Anak
Seorang pengasuh harus mempunyai kualitas waktu yang baik bersama
anak, seperti terikat dengan keadaan yang mengharuskan ia berjauhan c!engan
anaknya, atau ia menghabiskan waktunya dengan kesibukan pekerjaannya.
6. Belum Menikah Lagi
Sebaiknya wanita yang mendapat hak pengasuhan tidak bersuamikan
dengan laki-laki lain yang bukan mahramnya dari anak yang diasuh, sehingga
untuk mengasuh anak itu sudah hampir-hampir tidak mempunyai waktu. Ulama
berpendapat sebaiknya ibunya menikah dengan laki-laki yang satu mahram
dengan anak tersebut.
Maksud dari para ulama mengenai syarat ibu yang belum menikah lagi,
bertujuan untuk menjaga perhatian dan kasih sayang ibu keada anaknya. Ulama
khawatir jika ibu menikah lagi dengan pria yang bukan mahramnya si anak akan
sepertin ini dapat menimbulkan kecemburuan dari salah satu pihak dan dapat
mengancam kehannonisan keluarga.
7. Islam
Dalam persyaratn ini ada dua pendapat ulama yang berbeda,
Yang pertama, pendapat yang melarang orang yang kafir tidak boleh untuk
mengasuh anak yang beragama Islam, karena orang kafir tidak mempunyai kuasa
kepada orang mu'min.
Allah berfinnan:
Artinya : "Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang
kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman."(Qs an-Nissa 141)
Dalam suatu hadist juga ditegaskan bahwa "Semua anak dilahirkan ntas
dasar fitrah (iman kepada Allah yang maha esa) kedua orang tuanyalah yang dapat
mengubah dia menjadi Yahudi, Nasrani dan Majus30
Pendapat yang kedua datang dari mazhab Hanafi, Ibn al-Qasim dan Abi
Tsawr, mereka berpendapat bahwa beragama Islam bukanlah syarat untuk
mengasuh anak Islam, karena kasih sayang dan lemah lembut seorang ibu
terhadap anaknya adalah sifat yang alamiah yang tidak terpengaruh oleh
perbedaan agama untuk menyusui dan mengurus keperluan anak itu.
Persamaan agama tidaklah menjadi syarat yang mutlak dalam pengasuhan
anak, kecuali jika ada kecenderungan bahwa perempuan itu akan mencoba
memalingkan dan mempengaruhi anak tersebut untuk mengikuti cara ia beribadah
30
dan memberikan makannan minuman yang haram. Meskipun mazhab Hanafi
mebolehkan seorang ibu yang kafir mengasuh anaknya, namun ia melarang
wanita yang murtad untuk menjadi pengasuh.
Pengajuan beberapa syarat oleh para ulama. Bertujuan untuk selama dalam
pelaksanaan pemeliharaan anak yang masih mumayyiz dapat dilakukan secara
baik maksimal dan sungguh-sungguh sehingga tujuan yang mulia dapat terlaksana
C. Pihak-Pihak yang Berhak Mengasuh anak.
a. Dalam Hukum Islam
Dalam suatu rumah tangga. segala sesuatu yang menyangkut kesejahteraan
anak adalah di bawah pengamatan kedua orang tuanya. Apabila mereka bercerai,
sedangkan usia anak mereka anak yang masih kecil, maka yang berhak mengasuh
anak adalah dari pihak isteri.
Dasar hukum pemberian hak enak kepada ibu adalah berdasarkan suatu
peristiwa yang terjadi di jaman Rasulullah.
セi@
ul <Ull J
_,...)
y :
wl \.9;;
fy>I ul
:0""WI
0!
J..)AC0!
<Ull
*
'-#J..)'-'.Jill, o
41 C.JI
J .,1
_,.,,.
;J'-?
セ@ J , "'\1,.., ;J y.-:l.l'.i
.J .,.\.c
.s
;J セ@u
LS;11i.
rl
L. <\..J(j.:..I c::.ul
:FJ
セ@ NNゥゥゥセ@..iii J_,...> Jw ,.;...
o1..c.fa.
ul..il)...s
31(.i...il..i J:>I ol...i...>)
セ@Suatu ketika datang seorang wanita mengadu kepada rasululullah: "Ya Rasulullah, anakku ini adalah dari kandunganku, pangkuanku merupakan tempatnya berlindung dan dari susuku ia mendapat minuman. Bapaknya telah menceraikanku dan ia hendak mengambil anak ini daripadanku" dan kemudian Rasulullab bersabda "Engkau labih berhak terhadap anak ini selama engkau belum kawin lagi." (HR Abu Daud)
31
Dokumen terkait