• Tidak ada hasil yang ditemukan

Problematika Hadhonah dalam pernikahan beda agama (Studi putusan No. 655/Pdt.G/2008/PN.JKT.Sel)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Problematika Hadhonah dalam pernikahan beda agama (Studi putusan No. 655/Pdt.G/2008/PN.JKT.Sel)"

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)

PROBLEMATIKA HADHONAH DALAM PERNIKAHAN BEDA AGAMA (Studi Putusan No 655/Pdt.G/2008/PN.JKT.Sel)

SKRIP SI

Diajukan kepada Fakultas Syari'ah dan Hukum untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Hokum Islam (SHI)

II 1111

111

Oleh:

セLセGNᄋ@

Jnduk :

ai:i:;-.cz;.:::::::&.?.¢0.:::

FIRMAN ASSALAMSY AH NIM: 103044128073

ォャ。ウゥヲゥセ。ウゥ@ : ..

.r?·fJ-·ttf·· ... .

KONSENTRASIPERADILANAGAMA PROGAM STUD I AHWAL AL-SYAKHSHIY AH

FAKULT AS SYARI' AH DAN HUKUM UIN SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA 1431 H/2010 M

A|セW@

(2)

PERNIKAHAN BEDA A GAMA (STUD I PUTUSAN 655/Pdt.G/2008PN.JKT.;':'.EL) telah diujikan dalam sidang Munaqasah Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (U!N) Syarif Hidayatullah Jakarta pada Tanggal 1 Maret 2010. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum Islam (SHI) Program Strata 1 (Sl) pada Progam Studi Ahwal al-Syakhshiyah Konsentrasi Peradilan Agama.

Ketua

Sekretaris

Jakarta 1Maret2010 Disahkan !eh.

Dekat

Panitia Ujian Munaqasyah

: Drs.H.A.Basiq Djalil , SH,MA 195003061976031001

: Kamarusdiana, S.Ag,M.H 197407252001121001

Pembimbing : Prof. Dr. Hj. Zaitunnah Subhan 150185438

-Penguji

Penguji II

Drs.H.A.Basiq Djalil , SH,MA 195003061976031001

: Dr. H. Muhammad Taufiki, M.Ag. 196511191998031002

Suma SHMA MM

I

(

...

セ⦅@

..

)

---(

...

" "

...

)

。セ@

(3)

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Syari'ah dan Hukum untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Hukum Islam (SHI)

Oleh:

FIRMAN ASSALAMSYAH NIM: 103044128073

Di Bawah Bimbingan

PROF. Dr. Hj. ZAITUNNAH SUBHAN

NIP. 150185438

KONSENTRASIPERADILANAGAMA PROGAM STUD I AHW AL AL-SYAKHSHIY AH

FAKULTAS SY ARI' AH DAN HUKUM UIN SY ARIF HIDA YATULLAH

(4)

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah

memberikan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat

mer\yelesaikan skripsi ini. Shalawat serla salam sernoga terlirnpah kepada Nabi

besar Muhammad SAW, pembawa syari'ah-Nya yang universal bagi semua umat

rnanusia setiap waktu dan tempat sampai akhir zitman.

Dalam penulisan skripsi ini, tidak sedikit kesulitan dan hambatan yang

penulis temukan, namun syukur Alhamdulillah berkat rahmat dan inayah-Nya,

kesungguhan serta dukungan dan bantuan dari berbagai pihak baik langsung

maupun tidak langsung, segala kesulitan dapat diatasi dengan sebaik-baiknya,

sehingga pada akhimya skripsi ini dapat terselesaikan.

Oleh sebab itu, sudah sepantasnya pada kesempatan kali ini penuiis ingin

mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada :

I. Bapak Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma, S.H., M.A., M.M., selaku Dekan

Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Jakarta.

2. Bapak Drs. H. A. Basiq Djalil, S.H., M.A., dan Bapak Kamarusdiana, S.Ag.,

M.H., selaku Ketua Prodi dan Sekerlaris Prodi Ahwal al-Syakhshiyyah

Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Jakarta.

3. !bu Prof Dr. Hj. Zaitunah Subhan, selaku Dosen Pembimbing yang telah

(5)

Ahwalus Syakhshiyyah Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri

Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan ilmu pengetahuannya

kepada penulis selama duduk di bangku kuliah.

5. Segenap jajaran Staf dan Karyawan Perpustakaan Fakultas Syariah dart

Hukum dan Perpustakaan Utama yang telah banyak membantu dalam

pengadaan reforensi-referensi sebagai bahan rujukan penulis dalam menyusun

skripsi ini.

6. Sejumput bakti ananda persembahkan kepada Ayahanda Gunawan dan Ibunda

tercinta Nurgiati, yang telah mencahayai hidupku serta senantiasa memberikan

kasih sayang disertai doa penuh ras:i tulus da:J ikhlas dalam setiap jejak

Iangkahku. Semoga baktiku ini mampu meajelma menjadi doa. Terima

kasihku.

7. Tak terlupakan kepada semua pihak yang turut membantu dalam kelancaran

penulisan skripsi ini yang tidak bisa disebutkan oleh pcnulis.

Semoga amal baik mereka dibalas Allah SWT dengan balasan yang

berlipat ganda. Jazakumullah Khairan Katsira. Sungguh hanya Allah yang dapat

(6)

Jakarta, 03 Mei 2010

(7)

KATA PENGANTAR ... i

DAFT AR ISi ........ iv

BABI BAB II PENDAHULUAN A. Later Belakang Masalah ... I B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 5

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 5

D. Studi Terdahulu ... 6

E. Metode Penelitian ... ? F. Sistematika Penelitian ... 10

TINJAUAN HUKUM NIKAH BEDA AGAMA DAN PELAKU PERNIKAHAN BEDA AGAMA A. Hukum Nikah Beda Agama dalam Tinjauan Hukum Islam ... 12

8. Hukum Nikah Beda Agama dalam Tinjauan Hukum Indonesia ... 21

C. Pelaku Pernikahan beda Agama di Masyarakat... ... 26

(8)

A. Pengertian Anak dan Pemeliharaan Anak ... .32

B. Syarat-Syarat Dalam Mengasuh Anak ... .3 7

C. Pihak-Pihak yang Berhak Mengasuh Anak ... .41

D. Pernikahan Beda Agama dan Problematikanya ... .46

BAB IV PROFIL PENGADILAN DAN ANALISA PUTUSAN HADHONAH

A. Profil Pengadilan Negeri Jakarta Selatan ... 52

B. Kronologis Perkara No 655/Pdt.G/2008/PN.JKT.Sel.. ... 55

C. Analisa Putusan Hakim ... 62

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ... 68

B. Saran-Saran ... 69

DAFT AR PUST AKA ...•...•.•. 70

(9)

Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kepadatan populasi

terbanyak di dunia dengan tingkat keanekaragaman sosial yang tinggi dan salah

satu keanekaragaman yang paling mendasar adalah perbedaan agama. Dalam ha!

ini pemerintah memberikan perlindungan kepada seluruh rakyat untuk memeluk

dan menjalankan kebebasan beragama tanpa adanya paksaan. Pasal 2 Undang

Undang Dasar No 29: "Negara menjamin kemerdakaan tiap-tiap penduduknya

untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama

dan kepercayaan itu". Keanekaragaman itu juga tercemin dalam pandangan hictup

bangsa Indonesia yaitu Pancasila. Dalam sila pertama disebutkan: "Ketuhanan

Yang Maha Esa" sehingga dapat didu6a implikasi yang timbul adaiah persamaan

pandangan terhadap kedudukan agama-agama yang diakui di Indonesia.

Agama-agama yang diakui di Indonesia adalah Islam, Kristen, Kristen Katolik, Hindu,

Budha, dan Konghucu 1

Di satu sisi keanekaragaman di Indonesia menyebabkan interaksi yang

terjadi di tengah masyarakat, salah satu dari sekian banyak kemungkinan interaksi

yang timbul adalah terbukanya peluang terjadinya pernikahan beda agama di

tengah masyarakat.

1

Farida, "Ernpat Cara Penye!undupan Hukurn bagi pasangan Beda Agama" Artikel

(10)

Membicarakan permasalahan pernikahan yang terjadi dengan kedua

mempelai berbeda agama tidak akan pernah selesai untuk dibicarakan,

perkawinan dengan kedua mempelai berbeda agama, dalam ha! ini salah satu

mempelai bukan beragama Islam sesungguhnya merupakan pennasalahan yang

sudah jamak diketahui hukumnya.

Hukum yang berlaku dan mengatur tentang masalah perkawinan di

Indonesia adalah Undang-undang (UU) No 1 Tahun 1974 dan didukung oleh PP

No 9 Tahun 1975, PP No 10 Tahun 1983, PP No 45 Tahun 1990 serta Kompilasi

Hukum Islam yang khusus diperlakukan bagi umat Islam di Indonesia.

Permasalahan pernikahan beda agama tidak banyak muncul kepermukaan

sebelum lahirnya UU Perkawinan No. 1 Tahun 1974 yang di dalam salah satu

pasalnya menyatakan bahwa perkawinan yang sah dilakukan menurut hukum

masing-masing agama dan keperc&yaan itu. Permsa!ahan baru muncul setelah

berlakunya UU No 1Tahun1974.

Pada dasarnya semua agama mengatur tentang ketentuan-ketentuan

pernikahai1 bagi pemeluknya, sebagai contoh agama Islam menganggap

pernikahan sah dan sesuai dengan syari'at adalah pernikahan yang sekufu, ケセゥエオ@

calon mempelai harus memeluk agama Islam dengan disertai oleh syarat yang

telah ditentukan. Sedangkan Islam memandang pernikahan antar agama sebagai

suatu yang masih menjadi polemik yang masih harus diteliti keharamanya dengan

kebolehannya, bahkan dalam penentuan calon suami istri, Nabi Muhammad SAW

mewasiatkan kepada kaum laki-laki agar memilih calon isteri karena faktor

(11)

.. UM'

.·.11

セセ|セ@ Gィセ@

.-:.t .. ·

.wk

セi@

f' -

·'fl ·.

r ··'

l '·.

t/.J .

..r' U'-"

·F-' .,

セ@ セ@

l.P

yLセ@ セ@

i..JC

セiゥゥ@

-

\..::.LI • •

• .J-1

U:!

''.lll

オャセ@

• ...)"-""

·

NAQセオ@ 1 •• セMMNj@ セᄋNセイ@ 1·.1Gi;.· セ@

. .J

t • ,; .. ;.

セ@

• • .J

r

r.

1w

'":6-' •

2(<.S.JG...,JI ol.Jj)

Artinya : "Wanita itu dikawini karena empat perkara. Karena harta, status sosialnya, karena kecantikan wajahnya, karena ketaatan terhadap agamanya. Maka pilihlah terhadap agaman; •a niscaya kamu akan beruntung" (HR. Bukhari)

Berdasarkan hadist di atas Islam memberikan standar dalam pemilihan

isteri harus satu daiam agama dan keyakinan, dan tidak membolehkan untuk

pernikahan beda agama. Pernikahan beda agama menimbulkan permasalahan

yang komplek dan dapat mengancam keharmonisan keluarga.

Namun kenyataannya banyak dari masyarakat beragama di Indonesia yang

tidak menaati peraturan dari agamanya masing-masing. Banyak contoh dari kasus

pernikahan beda agama yang terjadi di Indonesia, beberapa contoh tersebut adalah

Jamal Mirdad dengan Lydia Kandou, Katon Bagaskara dengan Ira Wibowo,

Amara dengan Frans Lingua, Dedy Corbuzier dengan Karlina, yang terbaru

adalah Christian Sugiono dengan Titi Kamal, dan masih banyak pula pasangan

yang lain bukan dari kalangan selebritis. Berdasarkan penuturan mereka

perbedaan agama tidak menyurutkan langkah untuk menikah, meskipun proses

pernikahan tata cara dan proses pengesahan memakan waktu dan membutuhkan

pengorbanan yang banyak dari materi dan waktu, karena tata perundang-undangan

di Indonesia tidak memberikan kejelasan pengaturan tentang kebolehan

pernikahan beda agama.

2

(12)

Salah satu persoalan yang akan tirnbul dari adanya pernikahan beda agarna

adalah darnpak terhadap anak. Anak akan rnenjadi obyek dari darnpak perkawinan

beda agarna yang dilakukan oleh orang tuanya. Walaupun sesungguhnya anak

bersifat suci dan bersih dari segala beban, tetapi anak harus rnenanggung

perbuatan dari orang tuanya. Banyak darnpak yang diterirna oleh anak hasil

perkawinan beda agarna, antara lain darnpak yang diterirna adalah rnasalah hak

waris, perwalian saat akan rnelangsungkan pernikahan, dan anak juga akan

dihadapkan dengan persoalan rnernilih keyakinan yang akan dianutnya.

Bagairnana dengan pasangan yang rnelakukan pernikahan beda agarna tapi

rnereka bercerai?.bagairnana dengan hak pengasuhan anaknya?

Dalarn pasangan yang rnenikah beda agarna kernudian bercerai.

Permasalahan yang ditimbulkan tidak lantas langsung selesai begitu saja, karena

rnereka masih <lihadapkan persoalan hak asuh anak dan bagaimana cara

rnendidiknya, karena di latarbelakangi oleh dua kultur budaya dan agama yang

berbeda. Dalam persoalan pemilihan agama anak, secara langsung atau tidak

langsung orang tua selalu ikut campur dalarn rnenanamkan agama yang akan

dianut oleh anak. Tidak sedikit juga ditemukan kasus-kasus orang tua yang

menemukan agama tertentu tcrhadap anak, dengan cara yang mernaksa atau

dengan cara halus sehingga rnengancam perkembangan jiwa anak tersebut

Dari pernbahasan di atas penulis rnerasa termotivasi untuk rneneliti tentang

kasus-kasus putusan tentang hadhonah dalam perceraian nikah beda agarna. Maka

dari itu penulis mengambil objek penelitian di Pengadilan Agarna Jakaita Selatan

(13)

Karena latar belakang di atas penulis mengambil judul Skripsi dengan

judul "Problematika Hadhonah Dalam Pernikahan Beda Agama

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

Banyak pernikahan beda agama dilakukan dilakukan diluar negeri karena

ada ada peraturan yang melarangnya di dalam negeri.

Perkawinan di luar negeri seharusnya tidak ada pengakuan dari negara,

akan tetapi pada kenyataannya ketika mereka bercerai, hak hadhonah diputus

hakim sesuai dengan Kompilasi Hukum Islam. Demikian berarti bahwa secar

implisit pernikahan mereka diakui oleh negara, ha! inilah yang ingin penulis

telusuri dalan penulisan ini

Sesuai dengan pokok permasalahan tersebut, penulis mencoba

merumuskan ke dalam bentuk pertanyaan, sebagai berikut:

I. Bagaimana hukum pernikahan heda agama dalam sudut pandar.g

hukum islam dan hukum yang berlaku di Indonesia?

2. Apakah pertimbangan hukum yang melandasi Majelis Hakim

Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memutus perkara hak asuh anak,

dalam perkara nomor 655/Pdt.G/2008/PN.JKT.Sel?

C. Tujuan Penelitian dan Kegucaan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

I) Untuk mengetahui sudut pandang hukum Islam dan hukum Positif

tentang keabsahan pernikahan beda agama

2) Untuk mengetahui Landasan hukum yang digunakan hakim dalam

(14)

Adapun hasil yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah terjawabnya

semua permasalahan yang dirumuskan, yaitu bagaimana hukum pernikahan beda

agama dalam sudut pandang hukum islam dan hukum yang berlaku di Indonesia

dan apakah pertimbangan hukum yang melandasi Majelis Hakim Pengadilan

Negeri Jakarta Selatan memutus perkara hak asuh anak, dalam perkara nomor

655/Pdt.G/2008/PN.JKT.Sel

Adapun kegunaan yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai

berikut:

I) Bagi penulis sendiri kegunaan penelitian ini adalah untuk menambah

wawasan pengetahuan permasalahan pernikahan beda agama, dan juga

mengetahui dampak yang timbul serta akibat hukumnya.

2) Bagi pihak yang lain, terutama masyarakat umum penulis

ュ・セァィ。イ。ーォ。ョ@ sem:.iga skripsi i'1i menjadi salah satu bahan

pertimbangan apabila ingin terlibat dalam pernikahan beda agama

D. Studi Terdahulu

Agar penulisan ini lebih terarah dan tidak mengulangi penelitian-penelitian

terdahulu, penulis mengkaji penelitian-penelitian yang sudah ada yang

berhubungan dengan penelitian ini di antaranya:

Skripsi "Perkawinan Beda Agama dan Pengaruhnya Terhadap Agama

Anak", yang disusun oleh M Fuad Hadziq, tahun 2007. Dengan pokok

pembahasan hanya menjelaskan tentang bagaimana pendidikan agama anak di

(15)

Begitu juga dengan skripsi "Hak Ayah Terhadap Pengasuhan Anak

Setelah Putusnya Perkawinan (Analisa Putusan Perkara No.

1185/Pdt. G/2006/P AJS) ", yang disusun oleh Tita Gerhanawati yang dengan

penjelasan tentang pemberian hadhonah terhadap ayah dikarenakan ibu dari anak

tersebut keluar dari agama Islam (murtad)

Sedangkan dalam penulisan penelitian ini akan membahas tentang Untuk

mengetahui sudut pandang hukum Islam dan hukum Positif tentang keabsahan

pemikahan beda agama. Untuk mengetahui Landasan hukum yang digunakan

hakim dalam menyelesaikan perkara hadhonah

E. Metode Penelitian

Salah satu syarat dalam suatu karya ilmiah adalah upaya yang sistematis

dalam penyusunannya dengan menggunakan data yang objektif. Penelitian juga

bertujuan untuk mengumpulkan informasi yang berguna menambah

perkembangan ilmu pengetahuan.

Metode penelitian dapat dikatakan sebagai penyelidikan secara analisa dan

sempuma karena dengan adanya penelitian, karya ihniah dapat dibuktikan bahwa

data-data yang diperoleh objektif.

Pendekatan penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yaitu dengan

melakukan menggunakan metode deskriptif anaiisis.

Pendekatan kualitatif adalah riset yang bersifat deskriptif dan cenderung

menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna (perspektif

subyek) lebih ditonjolkan dalam peneiitian kualitatif. Landasan teori

(16)

lapangan. Pendekatan kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan data

deskriptif berupa kata-kata tertulis atau Iisan dari orang-orang atau yang perilaku

yang diamati. 3

Metode deskrpitif analisis adalah metode yang menggambarkan dan

memberikan analisis terhadap kenyataan di lapangan. Sumber utama penelitian

kualitatif adalah objek di lapangan, selain itu juga data tambahan berupa

dokumen, dan peneltian kepustakaan lainnya.

a. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang penulis gunakan adalah penelitian lapangan (field

research). Penelitian lapangan yaitu mencari data-data dengan cara terlibat

langsung deng:m objek yang sedang diteliti.

b. Teknik Pengnmpnlan Data

Teknik pengumpulan data terdiri dari dua sumber yakni:

I. Sumber Primer, yaitu berupa putusan dari Pengadilan Negeri Jakarta

Selatan dengan Nomor Putusan 655/Pdt.G/2008/PN.JKT.Sel yang telah

Berkekuatan Hukum Temp, serta bahan hukum primer yaitu

Undang-undang No l Tahun 1974 tentang perkawinan dan Kompilasi Hukum

Islam. Sumber Sekundernya, yakni memberikan penjelasan yang

mendukung dan menguatkan data primer yang mencakup Karya Tulis

berupa, makalah, koran majalah, dan lain-lain dengan mengambil materi

yang relevan dengan materi skripsi ini.

(17)

2. Wawancara, yaitu tanya jawab lisan antara dua orang atau lebih secara

langsung, yang bertujuan untuk mendapatkan data dari tangan pertama.4

Wawancara dilakukan dengan Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan

yang sudah berpengalaman dalam memutuskan perkera sengekta hak asuh

anak. Maksud dari dilakukan wawancara untuk mendapatkan informasi

tentang bagaimana pertimbangan hakim terhadap sengketa hak asuh anak

dibawah umur khususnya di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

c. Teknik Pengolahan Data

Dalam penelitian yang menggunakan penelitian lapangan ini, dalam

pengolahan data digunakan metode kualitatif, yakni dengan cara pengumpulan

data sebanyak-banyaknya kemudian menjadi salt! kesatuan data mendiskripsikan

perrnasalaha yang akan dibahas dengan ditunjang materi-materi yang relevan.

d. tセォョゥォ@ Analisa Data

Metode analisa data dalam skripsi ini adalah adalah kualitatif-normatif

yakni pengumpulan data dari berbagai dokumen-dokumen yang berkaitan dengan

materi.

e. Teknik Pennlisan La po ran

Dalam penulisan skripsi ini, penulis berpedoman pada Buku Pedoman

Penulisan Skripsi Tahun 2008 yang diterbitkan oleh fセォオャエ。ウ@ Syariah dan Hukum

UIN SyarifHidayatullah Jakarta.

4

1-Iusaini Usman, Metedo/ogi Pene/itian Sosial, Jakarta, Bumi Aksara 2001 h.

(18)

F. Sistematika Pennlisan

Dalam penyusunan karya ilmiah ini penulis menyusun secara bab perbab

dengan tujuan untuk lebih memudahkan dalam penyusunan dan menarik

kesimpulan dan tidak terlepas dari inti permasalahan, dan masing - masing bab

tersebut saling mempunyai korelasi dengan tema yang dibahas sehingga mertjadi

satu kesatuan. Adapun sistem penyusunan penelitian adalah sebagai berikut :

Bab I Pendahnluan

Merupakan pendahuluan yang berisikan latar belakang masalah

yang akan dibahas, pembatasan dan perumusan masalah, serta

tujuan dan kegunaan penelitian, metode penelitian serta sistematika

penulisan atau isi dari ringkasan bab demi bab dalam penulisan

skripsi ini.

.Bab II Tinjam:n Hokum Nikah Be:la Agami: dan Pelaku Perniki:han Beda Agama

Dalam bab ini dijelaskan mengenai hukum pernikahan beda agama

baik dari hukum Islam dan hukum yang berlaku di Indonesia dan

pelaku pernikahan beda agama

Bab III Hadhanah Dalam Tinjanan Fiqh Dan Problematika Pernikahan Beda Agama

Dalam bab ketiga ini menjelaskan tentang Hadhonah, dari segi

pengertiannya landasan hukumnya, syarat-syarat tentang hadhonah

(19)

Bab IV Profil Pengadilan Dan Analisa Putusan Hadhonah

Da!am bab ini terdiri dari profil Pengadilan Negeri Jakarta Selatan,

serta kronologis perkara, proses putusan hakim dan analisa putusan

hakim

Bab V Penutup

(20)

PERNIKAHAN BEDA AGAMA

A. Hokum Nikah Beda Agama Dalam Tinjauan Islam

Manusia dijadikan oleh Allah sebagai makhluk sosial yang artinya bahwa

manusia membutuhkan orang lain dalam hidupnya, tidak mampu hidup sendiri.

Pada saat ini dengan cepatnya mobilitas dan tingkat informasi, memudahkan

manusia dari herbagai golongan, etnis dan agama melakukan interaksi.

Interaksi sosial yang terjadi diantara masyarakat tidak menutup

kemungki:1an terjadinya pernikahan antar golongan dan suku, tidak juga menutup

kemungkinan terjadinya pernikahar. beda agama atau yang dis;;but juga

pernikahan campuran,

Pernikahan beda agama adalah persoalan yang sudah ada sejak zaman

rasulullah, hingga berlanjut ke zaman khulafaur Rasyidin. Dalam masa

pemerintahan Umar ibn Khaththab, pernikahan beda agama mengalami

penyempitan peluang. Hal ini disebabkan oleh pendapat Umar ibn Khaththab

bahwa pernikahan beda agama menjadi haram dengan sebab-sebab yang terjadi

pada masa itu. Y aitu untuk menjaga fitnah bagi umat Islam dengan kekhawatiran

(21)

beda agama.5 Pada zaman sekarang pemikahan beda agama menjadi lebih mudah.

Hal tersebut terjadi tidak hanya terjadi di kota tapi kasus tersebut juga ditemukan

di pedesaan,

Dalam pembahasan nikah beda agama dalam tinjauan Islam. Penulis coba

untuk mempermudah dengan membagi ke dalam dua persoalan dasar yaitu,

perkawinan pria Muslim dengan wanita ahli kitab dan pernikahan wanita muslim

dengan pria non muslim.

a. Pemikahan Pria Muslim dengan Wanita non Muslim.

Pernikahan seorang Muslim dengan perempuan Ahli Kitab. Yang

dimaksud dengan ahli kitab sebutan dalam Al-Qur'an untuk kaum beragama

Nasrani (Kristen) dan Yahudi Dinamakan demikian karena pada keduanya

menurut ajaran Islam, Allah menurunkan Kitab Taurat melalui Nabi Musa dan

lnjil melalui Nabi Isa. Oengan kedatangan Nabi Muhammad dan diturunkannya al

-Qur'an ahli kitab ini ada yang menerima dan ada yang menolak kerasulan

Muhammad maupaun kebenaran Al-Quran dari Allah,6

Banyak ulama yang menafsirkan bahwa Al Kitab di sini adalah Injil dan

Taurat. Dikarenakan agama Islam, Nasrani dan Yahudi berasal dari sumber yg

sama, agama samawi, para ulama memperbolehkan pernikahan jenis ini. Untuk

5

Ali mustafa Yaqub, Nikah Beda Agama da/am Perspektif A/-Qur.an dan Hadist, Jakarta : Pustaka Darussunnah, 2005, h.29

6

Ahli Kitab "\vikipedia bahasa Indonesia" diakses pada tanggal 17 Agustus-09 dari

(22)

kasus ini,

;yg

dimaksud dengan musyrik adalah penyembah berhala, api, dan

sejenisnya.

Hindu, Budha atau Kongnuchu tidak termasuk agama samawi (langit) tapi

termasuk agama ardhiy (bumi). Karena benda yang mereka katakan sebagai kitab

suci itu bukanlah kitab yang turun dari Allah SWT. Benda itu adalah basil

pemikiran para tokoh mereka dan filosof mereka. Kita tidak akan menemukan

hukum dan syariat di dalamnya yang mengatur masalah kehidupan. Tidak ada

hukum jual beli, zakat, zina, minuman keras, judi dan pencurian. Sebagaimana

yang ada di dalam Al-Quran Al-Karim, Injil atau Taurat. Yang ada han;ya etika,

moral dan nasehat.

Dalam permasalahan hukum menikah dengan perempuan ahli kitab para

ulama berpendiria!l bahwa ュセョゥォ。ィゥ@ perempuan ah!i kitab adalah halal hukumnya

mereka yang mengamini pernikahan sepert ini berasai dari pendapat Jumhur

Ulama dari kalangan Hanafiyah, Malikiyah, Syafi' iyah, dan Hanabilah 7, pendapat

mereka berdasarkan firman Allah

7

(23)

Artinya: "Pada hari Ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-•vanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu Telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. barangsiapa yang kafir sesudah beriman (Tidak menerima hukum-hukum Islam) Maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi. (al-Maidah 5-5)

Berdasarkan ayat di atas dapat tersirat bahwa al-Qur' an memperbolehkan

adanya pernikahan pria muslim dengan wanita ahli kitab, dengan dasar hukum

inilah banyak para sahabat yang mengemukakan pendapat bahwa boleh menikahi

wanita ahli kitab. Beberapa sahabat yang berpendapat sama tentang kebolehan

menikah dengan wanita ahli kitab adalah Umar ibn Khaththab, Utsman ibn Affan,

Thalhah, Hudzaifah, Salman, Jabir dan sahabat lainnya, maka kebo!ehan menikah

dengan wanita ahli kitab menjadi ijma sahabat. Berdasarkan riwayat ada sebagian

sahabat yang juga menikahi wanita ahli kitab contohnya adalah Hudazaifah yang

telah menikah dengan wanita Yahudi dari Al- Madain dan para sahabat tidak ada

satupun yang tidak menyetujui pernikahan tersebut. Bahkan menurut pendapat

Ibnu Mundzir, yang penulis kutip di dalam buku Mustafa Ali Yaqub berjudul

Nikah Beda Agama. Dia mengatakan jika ada ulama salaf yang mengharamkan

perkawinan pria muslim dengan wanita ahli kitab maka riwayat ini dinilai tidak

sah8

8

(24)

Dalam kitab tafsir ayat al-Ahkam, Ali al-Shabuni meajelaskan bahwa

maksud dari surah al-Maidah ayat 5 adalah mengawini perempuan-perempuan

merdeka dari perempuan-perempuan mukmin dan perempuan-perempuan ahli

kitab. Sedangkan mufassir lainnya mengatakan bahwa al-Muhsanat adalah

perempuan yang menjaga dan memelihara kehormatan dirinya.9

Pendapat kedua yang mengharamkan seorang rnuslim untuk menikahi

wanita ahli kitab, baik yang merdeka, yang berstatus sebagai ahli Dzimmah

セエ。オーオョ@ yang meajaga kehormatannya. Pendapat mereka berdasarkan dalil

sebagai berikut surah al Baqarah 22lyang berbunyi:

Artinya: "Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedar.g Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran" (al-Baqarah 2-221).

Asbdb al-nuzul dari al-Baqarah 221 ini dikisahkan bahwa Abdullah ibn

Rawahah yang mempunyai seorang budakwanita berkulit hitam. Suatu ketika

9

Abdul Mudjid, Perkawinan Seda Agama da!am Berbagai Perspeklif Artikel diakses

(25)

Abdullah marah kemudian dia menamparnya, lalu ia mendatangi Rasulullah dan

menceritakan peristiwa yang terjadi diantara mereka berdua. Maka Rasulullah

bertanya "bagaimana budak itu?" Abdullah ibn Rawahah ia berpuasa, shalat

berwudlm dengan sebaik-baiknya ia mengucapkan syahadat bahwa tiada ada Illah

selain Allah dan engkau Rasul-Nya. Kemudian Rasulullah be1sabda "Wahai

Abdullah, wanita itu adalah mukminah" kemudian Abdullah bersumpah akan

memerdekakannya dan menikahinya, setelah itu Abdullah menepati jaajinya, hal

tersebut menjadi gunjingan beberapa orang kaum muslimin, mereka mencelanya

serta berujar "apakah ia menikahi budaknya sendiri?" padahal kebiasaannya

mereka ingin menikah dengan orang-orang musrykin atau menikahkan anak-anak

mereka dengan orang-orang musyrikin, karena mengingkan kemulian leluhur

mereka. Maka Allah SWT menrunkan ayat sesungguhnya wanita budak yang

beriman itu !ebih baik daripada wanita musyrik waiaupun ia menarik hatimu .10

Pendapat sebagian ulama bahwa dalam ayat al-Baqarah 221 Allah telah

mengharamkan menikahi wanita musryik. Dalam menyatakan bahwa wanita ahli

kitab adalah wanita musrik, para ulama mengambil pendapat dari lbnu Umar RA

bahwa beliau pernah ditanya tentang hukum menikah dengan wanita-wanita

Nasrani dan Yahudi. Kemudian beliau menjawab "Sesungguhnya Allah telah

mengharamkan bagi orang-orang yang beriman menikah dengan wanita yang

musryik. Dan saya tidak mengetahui ada kemusyrikan yang lebih besar daripada

10

(26)

seorang wanita yang mengatakan Rabnya adalah Nabi Isa. Padahal beliau adalah

salah seorang hamba Allah SWT11•

Dalam ayat tersebut adalah pengharaman bagi kaum muslimin untuk

menikahi wanita musyrik, para penyembah berhala. Jika yang dimaksudkan

adalah kaum wanita musryik secara umum yang mencakup semua wanita baik

dari kalangan wanita ahlul kitab maupun penyembah berhala, maka Allah telah

mengkhususkan wanita ahli kitab, melalui firman-Nya al- Maidah ayat 5 dengan

kebolehan lelaki muslim menikah dengan wanita ahli kitab. Dalam ha! ini ibn

Qudamah berpendapat berdasarkan nasakh mansukh di atas maka dia berpendapat

dengan memperbolehkan perkawinan lelaki muslim dengan wanita ahli kitab.12

Mengenai firman Allah Ta'ala "wa laa tunkihuul musyrikaati hattaaa

yu 'r.1inna" dan janganlah kamu men;kahi wanita-wanita musryik sebelum mereka

beriman, Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas "Dalam hal ini,

Allah SWT telah mengecualikan wanita-wanita ahli kitab.13 Hal senada juga

dikatakan oleh mujahid, Ikrimah, Sa' id bin Jubair, Makhul, Hasan al-Bashir,

adh-Dhahak, Zaid bin Aslam, Rabi' bin Anas, dan ulama lainnya.14

b. Pernikahan Wanita Muslim dengan Pria Non Muslim.

11

Humaidi bin abdul Aziz bin Muhammad al- Humaidi Bolehkah Rumah Tangga Beda

Aga1na, h.38.

12 Ibn Qudamah, Al Mug/mi. Saudi Arabia, Dar al Alam al Kutub, 1417 H/1997 M eel !II,

juz IX, h.545

" Abdullah Bin Muhammad Bin Abduraahman Bin lshaq Al-Shiekh. Tqfsir Ibnu Katsir

Ji/id/, h.427

14

Abdullah Bin Muhammad Bin Abduraahman Bin Ishaq Al-Shiekh, Tafsir Ibnu Katsir

(27)

""

r1<J

セi@

セセゥゥ@

WGセ@

セ@ NセZセt@

;l=;"f.?.

ャセj@ ゥセQ[@

セ[ji@

エ[Aセ@

-:: be ..-:' be

). » -;;J ,..,, j セN[ANMMAGBB@ ,,. _,:J J ,,. ,..,, ,, .,, J -s:J .J.). .,, / "' ,,. -:: ,,.

(>.A

l'.J:?--

d" ":}

-!

l.bv

I

J

J

d"

y:;::

J

')1..9 _;.- •

セZ@

J-.

d"

J • - •

1

c

0

J.9

セMGセ@

_,, /.J. J ,,. !. ). .,,_,,, _, ,,. ). _,, t!,.o .J.,,.. ! --;; J J セM[[@ .1" _,, セ@ ,,. J /

QセQ@ セ@

_,;.s;.u

01

セ@

」セ@

":ij

1_,.u.:,1

セ@ セ@

_,:;1;3

0A

0#·

セ@

"13

Artinya : "Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah

kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kami uji keimanan mereka. Allah lebih menhetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang-orang-orang kafir dan orang-orang-orang-orang kafir itu tidak halal bagi mereka. Dan berikanlah kepada atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka mahamya. Dan janganlah kamu tetap berperang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir: dan hendaklah kamu minta mahar yang telah mereka bayar. Dem ikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui l!!gi Maha Bijaksana. (Qs. Al Mumtahanah).

Pengambilan dalil dari ayat tersebut adalah bahwa Allah telah melarang

tetap berpegang teguh pada ikatan perkawinan dengan perempuan kafir. Wanita

ahli kitab termasuk golongan perempuan-perempuan kafir. Sedangkan yang

tersurat dalam ayat tersebut adalah larangan (An-nahyu) bermakna haram.

Asbabun nuzul ayat tersebut berasal dari hijrahnya kaum muslimin dari

Makkah ke Madinnah. Kaum muslimin yang hijrah ke Madinah terpaksa

meninggalkan suami mereka di Makkah yang masih menganut agama nenek

(28)

Pada mulanya Islam tidak secara jelas melarang perkawinan antara pria

non muslim dengan wanita muslimah, sehingga sampai dengan turunnya ayat ini

muncul larangan perkawinan pria non muslim dengan wanita muslimah.15 Dalam

suatu riwayat putri Nabi Muhammad SAW yang bernama zainab bersuamikan

seorang non muslim yang bernama Abu! Ash bin al-Arabi, setelah Abu! Ash bin

Arabi masuk agama Islam, Nabi Muhammad SAW mengembalikan Zainab

kepada suaminya tanpa akad baru.16

Sayyid Sabiq, dalam Fiqh Sunnah, menegaskan, bahwa semua ulama

bersepakat atas ha! itu. Tidak ada perbedaan pendapat tentang haramnya seorang

muslimah menikah dengan laki-laki non-muslim. Selama si laki-laki tidak

memeluk agama Islam, maka haram menikahkannya dengan seorang wanita

muslimah.

Dalam satu riwayat bahwa suatu ketika Khalifah Umar bin Khathab

mendengar Hanzalah bin Bishr menikahkan anak wanitanya dengan

keponakannya yang masih beragama Nasrani. Maka, Umar r.a. menyampaikan

pesan kepada Hanzalah: jika si laki-laki masuk Islam, maka biarkan pemikahan

itu berlangsung. Jika si laki-laki tidak mau masuk Islam, maka pisahkan mereka.

Karena si laki-laki menolak masuk Islam, maka mereka dipisahkan.17 Umar R.A.

j uga pernah menyatakan, "Tidak halal bagi laki-laki non-muslim menikahi wanita

15 M. Fuad 1-Iadziq.

Perkawinan Beda Aganta dan Pengaruhnya Terhadap Anak" Skripsi

SI Fakuhas Syari'ah clan Hukum Universitas Syarif Hisayatullah Jakarta, 2007, h 22

16

Imam Jbn Katsir, Tafsir a/-Qur 'an a/-Adzim, h. 27

17

Jbn Hazm, Al Muhal/a jilid VII, Peneliti Ahmad Muhammad Syakir, Pustaka Azzam

(29)

muslimah, selama si laki-laki tetap belum masuk Islam". Sikap Sayyidina Umar

bin Khathab yang tegas itu didasarkan pada Al-Qur'an surat Mumtahanah ayat 10.

Secara naluri zhahir maupun batin seorang istri lebih lemah dibanding

suami, padahal Rasulullah Shallallahu 'ala1ili wa sallam bersabda : "Islam itu

tinggi tidak bisa diungguli agama apapun". Siapa saja yang melakukan pemikahan

tersebut harus dikenakan sanksi tegas sesuai dengan hukum Islam. Barangsiapa

yang melegalkan dan menganggap halal atas pemikahan tersebut, maka telah

keluar dari agama Islam. Akan tetapi apabila seseorang melakukan pernikahan

tersebut hanya ikut-ikutan dan tidak menganggap halal, maka dia telah berbuat

dosa besar dan kejahatan yang sangat keji tetapi tidak keluar dari agama Islam.

Dan wanita yang melakukan perbuatan tersebut harus dikenakan sanksi berupa

rajam bagi wanita janda dan didera seratus ka!i dan dibuang selama setahun bagi

wanita gadis. Tetapi bila seorar,g wanita 1r.elakukan perbuatan tersebut atas dasar

ketidaktahuan, maka sanksi dan hukuman tersebut menjadi gugur sebab terdapat

subhat di dalamnya. 18

B. Hnknm Nikah Beda Agama Dalam Tinjnan Hnknm Indonesia

Pembahasan dalam bah ini mencoba menelaah peraturan mengenai

perkawinan beda agama dalam peraturan-peraturan pemerintah di Indonesia.

maka penulis akan menggunakan sumber dari Peraturan Perkawinan

Campuran!Regeling op de Gemengde Huwelijken, Staatsblad 1898 Nomor 158

18

Amin bin Yahya Al-Wazan, Al-Fatawa Al-Ja1ni1ah Lil Maratil Mus/imah, Edisi

Indonesia Fat,va-Fat\.va Tentang Wanita, Penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin, Penerbit Darul

(30)

(GHR), Undang-undang Perkawinan Nomor I Tahun 1974, dan Kompilasi

Hukum Islam di Indonesia.

Untuk mengetahui secara lebih mendetail tentang pengaturan perkawinan

beda agama di Indonesia, dalam uraian berikut akan dipaparkan

peraturau-peraturan yang terkait dengan pengaturan perkawinan beda agama di Indonesia.

Dalam Peraturan Perkawinan Campuran/Regeling op de Gemengde

Huwelijken, Staatsblad 1898 Nomor 158 (GHR), beberapa ketentuan tentang

perkawinan beda agama adalah sebagai berikm:

Dalam Pasal 1 Peraturan Perkawinan Campuran Pelangsungan perkawinan

antara orang-orang, yang di Hindia Belanda tunduk pada hukum yang berbeda,

diseb11t perkawinan campuran.

Dalam Pasal 6 ayat (1) Peraturan Perkawinan Campuran!Regeling op de

Gemengde Huwelijken, Staatsblad 1898 Nomor 158 (GHR). Perkawinan

campuran di langsungkan menurut hukum yang berlaku atas suaminya, kecuali

izin para calon mitra kawin yang selalu disyaratkan.

Sedangkan dalam Pasal 7 ayat (2) Peraturan Perkawinan Campuran/Regeling op

de Gemengde Huwelijken, Staatsblad 1893 Nomor 158 (GHR). Perbedaan agama,

golongan penduduk atau asal usu! tidak dapat merupakan halangan pelangsungan

(31)

Beberapa pasal di atas secara tegas mengatur tentang perkawinan beda

agama bahkan disebutkan bahwa perbedaan agama tidak dapat dijadikan alasan

untuk mencegah terjadinya perkawinan. Dalam Undang-undang No. 1 Tahun

1974 pasal yang dijadikan sebagai landasan perkawinan beda agama adalah pasal

2 ayat (1), pasal 8 huruff dan pasal 57.

Pasal 2 ayat (1) Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum

masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu. Sedangkan pasal 8 huruf f

berbunyi Perkawinan dilarang antara dua orang yang mempunyai hubungan yang

oleh agamanya atau peraturan lain yang berlaku,dilarang kawin.

Pasal 57 UU No. I Tahun 1974 Yang dimaksud dengan perka,.vinan

campuran dalam Undang-undang ini ialah perkawinan antara dua orang yang di

Indonesi& tunc!uk pad& hukum yang berlainan, karena perbedaan kewarganegaraan

dan salah satu pihak berkewarganegaraan Asing dan salah satu pihak

berkewarganegaraan Indonesia".

Terhadap ketiga pasal di atas muncul bcberapa penafsiran yang berbeda

yang mengak!batkan terjadinya perbedaan pemahaman tentang perkawinan beda

agama di Indonesia sebagaimana akan dijelaskan pada uraian di bawah.

Kompilasi Hukum Islam pasal 40 huruf c dan pasal 44 secara eksplisit

mengatur tentang larangan perkawinan antara laki-laki muslim dengan wanita

non-muslim dan wanita muslim dengan laki-laki non-muslim. Pasal 40 huruf c

(32)

Dilarang melangsungkan perkawinan antara seorang pria dengan seorang

wanita karena keadaan tertentu;

a karena wanita yang bersangkutan masih terikat satu perkawinan dengan

pria lain;

b. seorang wanita yang masih berada dalam masa iddah dengan pria lain;

c. seorang wanita yang tidak beragama Islam.

Pasal 40 huruf c di atas secara eksplisit melarnng terjadinya perkawinan

antara laki-laki (muslim) dengan wanita non-muslim (baik Ahl al-Kitab maupun

non Ahl al-K!tab). Pada kesimpulannya pasal ini memebrikan penjelasan bahwa

wanita non muslim apapun agamanya tidak boleh dinikahi oleh lelaki muslim

Sedangkan pasal 44 menyatakan sebagai berikut Seorang wanita Islam

dilarang melangsungkan perkawinan dengan seorang pria yang tidak beragama

Islam. Pasal ini secara tegas melarang terjadinya perkawinan antara wanita

muslim dengan pria non-muslim baik termasuk kategori Ahl al-Kitab maupun

tidak termasuk kategori Ahl al-Kitab.

Terakhir pasal 60 Kompilasi Hukum Islam menyatakan sebagai berikut:

(I) Pencegahan perkawinan bertujuan untuk menghindari suatu perkawinan

(33)

(2) Pencegahan perkawinan dapat dilakukan bila calon suami atau calon

isteri yang akan melangsungkan perkawinan tidak memenuhi

syarat-syarat untuk melangsungkan perkawinan menurut hukum Islam dan

Peraturan Perundangundangan.

Pasal ini menguatkan larangan tentang Pemikahan beda agama bagi

perempuan muslimah dengan pria non muslim dari semua agama tidak terkecuali

Selain Undang- Undang yang disebutkan diatas ada satu putusan

Mahkamah Agung

No.! 400/k/pdt/1986.

yang

Dal am

memperbolehakn perkawinan antar

a mar putusannya Mahkamah

agama

Agung

memperbolehkan perkawinan antar agama yang di mohonkan oleh Andy Vonny

Gani dengan Andriannus Petrus Hendrik Nelwan

Putusan yang kini telah meqjadi Yurisprudensi iui memang belum

terserap. Tetapi tidak menutup kemungkinan dalam beberapa tahun kemudian

akan menjadi virus bagi eksist;:nsi agama, terlebih di era dimana semakin

canggihnya teknologi yang diiringi dengan keterbukaan terhadap segala

informasi, serta belum adanya dimensi jenis-jenis penanganan yang diatur dalam

UU. Penulis berharap ptusan MA ini tidak menjadi alat penguat hukum untuk

melegalkan pemikahan beda agama di Indonesia.

C. Pelaku Pernikahan beda Agama di Masyarakat

Perkawinan merupakan suatu ikatan yang sangat dalam dan kuat sebagai

(34)

keluarga atau rumah tangga. Dalam membentuk suatu keluarga tentunya

memerlukan suatu komitmen yang kuat diantara pasangan tersebut.

Sehingga dalam ha! ini Undang-undang Perkawinan No.I tahun 1974 pada

pasal 2 ayat I menyatakan bahwa suatu perkawinan dapat dinyataKan sah, apabila

dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaan pasangan yang

melakukan pemikahan.

Landasan hukum agama dalam melaksanakan sebuah perkawinan

merupakan ha! yang sangat penting dalam UU No. I Tahun 1974 Tentang

Perkawinan, sehingga penentuan boleh tidaknya perkawinan tergantung pada

ketentuan agama. Hal ini berarti juga bahwa hukum agama menyatakan

perkawinan tidak boleh, maka tidak boleh pula menurut hukum negara. Jitdi

daiam perkawinan berbeda agama yang menjadi boleh tidaknya tergantung pada

ketentuan agama.

Perkawinan beda agama bagi masing-masing pihak menyar.gkut akidah

dan hukum yang sangat penting bagi seseorang. Hal ini berarti menyebabkan

tersangkutnya dua peraturan yang berlainan mengenai syarat- syarat dan tata cara

pelaksanaan perkawinan sesuai dengan hukum agamanya masing-masing.

Kenyataan dalam kehidupan masyarakat bahwa perkawinan berbeda

agama itu terjadi sebagai realitas yang tidak dipungkiri. Berdasarkan ketentuan

perundang-undangan yang berlaku secara positif di Indonesia, telah jelas dan

(35)

karena bertentangan dengan hukum yang berlaku di Indonesia. Tetapi ternyata

perkawinan antar agama masih saja terjadi dan akan terus terjadi sebagai akibat

interaksi sosial diantara seluruh warga negara Indonesia yang pluralis agamanya.

Banyak kasus-kasus yang terjadi didalam masyarakat, seperti perkawinan antara

artis Jamal Mirdad dengan Lydia Kandau, Katon Bagaskara dengan Ira Wibowo,

Yuni Shara dengan Henri Siahaan, Adi Subono dengan Chrisye, Ari Sihasale

dengan Nia Zulkarnaen, Dedi Cobuzer dengan Kalina, Frans dengan Amara,

Sonny Lauwany dengan Cornelia Agatha.

Pemikahan beda agama yang terbaru antara Rio Febrian <lengan Sabrina

Sagita Kono, sang mempelai wanita yang beragama Islam. Dalarn melaksanakan

pemikahannya mereka sepakat untuk melakukan pernikahan di luar negeri,

berdasarkan sumber キ。キ。ョセ。イ。@ yang penulis kutip dari situs inilah.com

Inilah.Com, Jakarta - Rio Febrian akhirnya menjadi suami Sabria Kono.

Perbedaan agama tak masalah bagi keduanya. Pasalnya, keduanya sudah resmi

menikah di Bangkok, Thailand.

"Perasaan gue jadi lebih tenang. Apa yang kita rencanakan sudah bisa kita

jalani. Kita udah resmi jadi suami istri," ungkap Rio Febrian didampingi istrinya

Sabria, usai menjalani resepsi pemikahan di Gedung Graha Niaga, Sudirman,

Jakarta Selatan, Sabtu (1312) malam. Rio dan Sabria sudah resmi menjadi suami

istri sejak 3 Februari 2010 lalu. Mereka resmi menikah di Bangkok, Thailand.

(36)

Mセセセセᄋhid@

MZ]セセ|セセイAMセ@

"Kita ke Bangkok karena memang harus kesana. Salah satu negara yang

bisa bikin kita Qadi) satu, ya Bangkok. Gue sama Sabria beda prinsip, beda

agama. Di Indonesia nggak bisa nikah beda agama," ungkap Rio. Sabria

menambahkan, "Waktu kita pertama kali ketemu, kita nggak memusatkan ke

perbedaan agama. Kita mencoba saling mengenal saja, menjalani hubungan.

Pastinya, sejak suka sama Rio, aku yakin dia bisa jadi pemimpin yang baik untuk

aku."

Apa yang dikatakan sang istri, dibenarkan Rio. Apapun yang terjadi nanti,

Rio dan Sabria hanya berharap yang terbaik untuk rumah tangganya.

"Kita tiga tahun pacaran, dari awal gue menghargai Sabria sebagai

muslim, begitupuo sebaliknya. Kita menghargai prinsip masing-masing. Apapun

yang dijalar.in kedepan, kita harapkan yang terbaik," 19

Perkawinan antar agama yang terjadi seperti contoh kasus diatas dan di

dalam kehidupan masyarakat, seharusnya tidak terjad1 jika dalam ha! ini negara

atau pemerintah secara tegas melarangnya dan menghilangkan sikap mendua

dalam mengatur dan ュ・ャ。ォウ。ョセォ。ョ@ suatu perkawinan bagi rakyatnya. Sikap

ambivalensi pemerintah dalam perkawinan beda agama ini terlihat dalam praktek

bila tidak dapat diterima oleh Kantor Urusan Agama, dapat dilakukan di Kantor

Catalan Sipil dan menganggap sah perkawinan berbeda agama yang dilakukan

diluar negeri.

19

Inilah.com, Kabar Artis, "Beda Agama, Rio Febrian-Sabria Menikah di Thailand",

(37)

D. Pendapat Tentang Perkawinan Beda Agama

Seorang guru besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Prof. Dr.

Muhammad Daud Ali (aim.) menjelaskan dalarn bukunya yang bejudul

"Perkawinan Antar Pemeluk Agama Yang Berbeda".Perkawinan antara

orang-orang yang berbeda agarna adalah penyirnpangan dari pola urnurn perkawinan

yang benar rnenurut hukurn agarna dan Undang-undang Perkawinan yang berlaku

di tanah air kita. Untuk penyimpangan ini, kendatipun rnerupakan kenyataan

dalarn rnasyarakat, tidak perlu dibuat peraturan tersendiri, tidak perlu dilindungi

oleh negara. Mernberi perlindungan hukurn pada warga negara yang rnelakukan

perbuatan yang ber!entangan dengan Pancasila sebagai cita hukurn bangsa dan

kaidah fundamental negara serta hukurn agarna yang berlaku di Indonesia, pada

pendapat saya selain tidak konstitusional, juga tidak legal.

Prof. HM Rasjidi, rnenteri agarna pertarna RI, dalarn artikelnya di Harian

Abadi edisi 20 Agustus 1973, rnenyorot secara tajarn RUU Perkawinan yang

dalarn pasal I 0 ayat (2) disebutkan: "Perbedaan karena kebangsaan. suku, bangsa,

negara asal, ternpat asal, agarna, kepercayaan dan keturunan, tidak rnerupakan

penghalang perkawinan. Pasal dalarn RUU tersebut jelas ingin rnengadopsi

Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia pasal 16 yang rnenyatakan: "Lelaki dan

wanita yang sudah dewasa, tanpa sesuatu pernbatasan karena suku, kebangsaan

dan agarna, rnernpunyai hak untuk kawin dan rnernbentuk satu keluarga. Mereka

rnernpunyai hak yang sarna dengan hubungan dengan perkawinan, selama dalarn

(38)

Khusus tentang Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia pasal 16 yang

menyatakan: "Lelaki dan wanita yang sudah dewasa, tanpa sesuatu pembatasan

karena suku, kebangsaan dan agama, mempunyai hak untuk kawin dan

membentuk satu keluarga, Hamka menulis kesimpulan yang sangat tajam: "Oleh

sebab itu dianggap kafir, fasiq, dan zalim, orang-orang Islam yang meninggalkan

hukum syariat Islam yang jelas nyata itu. lalu pindah bergantung kepada

"Hak-hak Asasi Manusia" yang disahkan di Muktamar San Francisco, oleh sebagian

anggota yang membuat "Hak-hak Asasi" sendiri karena jaminan itu tidak ada

dalam agama yang mereka peluk.

Untuk perkawinan beda agama yang ada pada saat ini, mantan Menteri

Agama Quraish Shihab berpendapat agar dikembalikan kepada agama

masing-masing. Yangjelas dalamjalinan pernikahan antara suami dan istri, pertama hams

didasari atas persamaan agama dan keyakinan hidup. Namun pada kasus

pernikahan beda agama, harus ada jaminan dari agama yang dipeluk

masing-masing suami dan istri agar tetap menghormati agama pasimgannya. "Jadi jangan

ada sikap saling menghalangi untuk menjalankan ibadah sesuai agamanya

Pendapat berbeda disampaikan pengajar hukum Islam di UI Farida

Prihatini. Farida menegaskan bahwa MUI melarang perkawinan beda agama.

Pada prinsipnya, bukan hanya agama Islam. "Semua agama tidak

memperbolehkan kawin beda agama. Umatnya saja yang mencari

peluang-peluang. Perkawinannya dianggap tidak sah, dianggap tidak ada perkwianan, tidak

(39)

Pemerintah tidak tegas. Meskipun UU tidak memperbolehkan kawin beda agama,

tetapi Kantor Catatan Sipil bisa menerima pencatatan perkawinan beda agama

yang dilakukan di luar negeri. Padahal,Kantor Catatan Sipil merupakan produk

negara. Dengan demikian, seharusnya yang dicatat Kantor Catalan Sipil adalah

sesuai dengan hukum Indonesia. "Secara hukum tidak sah. Kalau kita melakukan

perbuatan hukum di luar negeri, baru sah sesuai dengan hukum kita dan sesuai

dengan hukum di negara tempat kita berada. Harusnya kantor catatan sipil tidak

(40)

PROBLEMATIKA NIKAH BEDA AGAMA

A. Pengertian Anak dan Pemeliharaan Anak

Anak secara etimologi adalah seorang lelaki atau perempuan yang belum

dewasa atau belum mengalami masa pubertas. Anak juga merupakan keturunan

kedua, dimana kata "anak" merujuk pada lawan dari orang tua, orang dewasa

adalah anak dari orang tua mereka, meskipun mereka tel ah dewasa2°.

Dalam Undang-Undang Perlindungan anak yang dimaksud dengan

pengertian anak adalah seseorang yang belum berusia yang belum berusia 18

(de Japan be las) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

Pengertian anak dalam Undang-Undang Hukum Perdata adalah sesorang

yang dilahirkan atau dibesarkan selama perkawinan, memperoleh si suami sebagai

ayahnya. Sedangkan dalam Undang-Undang Perkawinan 1974 anak adalah anak

yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah. Jadi berdasarkan

kesimpulan diatas yang dimaksud anak adalah seseorang yang belum berusia 18

tahun yang di besarkan didalam perkawinan yang sah.

Pengertian hadhonah secara etimologis hadhonah (Pemeliharaan anak)

berasal dari (0'A) - セI@ artinya mengasuh anak21• Menurut San'ani yang

penulis kutip dari kitab subulus salam. Dia mengatakan hadhanah berasal dari kata

'0 Wikipedia Ensiklopedia Bebas artikel diakses pada tanggal IO Desember 2009 dari

http://id.wikipedia.org/wiki/ Anak.

21

Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia Jakarta yayasan Penyelenggara

(41)

( セ@ ) yang artinya mengasuh atau memelihara, seperti dalam kalimat ( セ@

セiI@ artinya dia mengasuh atau memelihara anak22•

Hadhanah menurut bahasa berarti meletakaan sesuatu dekat tulang rusuk

atau di pangkuan karena ibu waktu menyususkan anaknya meletakkan anak itu di

pangkuannya seakan-akan ibu di saat itu melindungi dan memelihara anaknya23,

sehingga "hadhanah" dijadikan istilah yang maksudnya: "pendidikan dan

pemeliharaan anak sejak dari lahir sampai sanggup berdiri sendiri mengurus

dirinya yang dilakukan oleh kerabat anak itu24

Menurut pendapat dari Husein Bahreisj di dalam buku fiqh sunnah,

hadhonah adalah mengasuh dan mendidik anak. Menurut ahli fiqh hadhonah ialah

melakukan pemeliharaan anak yang masih kecil laki-laki atau perempuan yang

sudah besar tetapi belum mumayyiz, tanpa perintah dari padanya, menyediakan

sesuatu yang mengenjadikan kebaika:mya menjaga ウ・ウセエ。エオ@ yang menyakiti dan

merusaknya, mendidik jasmani, rohani dan akalnya mampu berdiri sendiri

menghadapi hidup dan memikul tanggung jawabnya25

Fuqaila mendefinisikan hadhonah dengan suatu ungkapan terhadap

aktivitas yang dilakukan orang tua dalam mengasuh anak kecil, pria maupun

wanita, atau bahkan juga terhadap seorang anak yang ma'tuh (idiot) yang tidak

mampu membedakan baik dengan buruk serta tidak bisa mengurus dirinya sendiri.

22 Muhammad lbnu Ismail al-Kahlani, , Subulus Salam,

Bandung Maktabah Da.lilan, Juz 3 h, 222

23 Abduh Rahman Ghozali. Fiqh Munakahat, h, 175

24

Zakiah dイセェ。エL@ I/mu Fiqh, Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf, 1995,jilid 2 h, 157

25

(42)

Kemudian orang tua mengurusnya dengan ha! yang membawa kemaslahatan bagi

anak/ orang itu serta memelihara dan menghindarkannya dari hal-hal yang

menyakiti atau membahayakan dengan mendidiknya baik fisik kejiwaan maupun

akalnya26•

Definisi terminologi tentang hadhonah kurang lebih seperti tersebut di

atas, tentang pemeliharan anak yang belum mumayyiz, bahkan definisi yang

diberikan dalam ensiklopedia hukum Islam juga tidak jauh berbeda, bahwa

hadonah adalah merawat dan mendidik seseorang yang belum mumayyiz atau

kehilangan kecerdasannya, karena mereka tidak dapat memenuhi kebutuhannya

sendiri. Pastinya memerlukan sesorang yang cakap untuk menjalankan hadhonah

agar tujuan dan maksud dari hadhanah itu terpenuhi.

Hadhanah dalam Islam hukumnya adalah wajib, dan orang tua mempunyai

tanggung jawab yang penuh untuk memenuhi hak yang pantas didapatkan oleh

anaknya, hal ini bertujuan agar anak menjadi manusia yang beriman dan

memperoleh kebahagiaan baik di dunia dan akhirat.

Sesuai dcngan firman Allah :

L@ LMLLLLLセjLL@

'""1·,·.,"-1' '"J1°"1'

GANセGᄋNセ_ZゥM

イセ@ · ' L A ' '''.:.J, LA41J' ,)..Ll,,.h セ@

セL@

uJ/.Y-

u

セMG@ 1.

:.r

オセ@

,

,

セ@

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan

keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan "(QS: at-Tahrim.6) .

26 Muhammad Amin Suma, Hula1n1 Ke/uarga Islam di Dunia Jsla111. Jakarta: UIN Press

(43)

Makna dari memelihara keluarga yang terkandung dalam ayat diatas

adalah: mengasuh, memelihara serta mendidik mereka hingga mereka beriman

kepada Allah SWT danjuga berguna kepada bangsa dan Negara. Tanggungjawab

orang tua terhadap anaknya diperkuat lagi dengan hadis Nabi:

Artinya: "Dari Abi Hurairoh ra: Nabi SAW bersabda: Tiap-tiap anak dilahirkan menurut fitrahnya (suci dan bersih) maka ibu bapaknya yang menjadikan Y ahudi, Nasroni, Majusi. Sama halnya dengan seekor hewan ternak maka ia akan melahirkan ternak pula tiada kamu lihat kekurangannya." (HR Bukhori)

Semangat yang terkandung di al-Qur'an dan Hadist, juga diterapkan

kedalam peraturan bangsa Indonesia. Hal ini tercermin dalam Undang-Undang

Perkawinan dan KHI. Dalam kedua sumber hukum positive !ersebut,

menyebutkan aturan ten tang kewaj iban orang tua untuk memelihara dan mendidik

anak mereka dengan baik.

Dalam Undang-Undang No Tahun 1974 tentang perkawinan

sebagaiamana bunyi pasal 45 yang menyatakan:

I. Kedua orangtua wajib memelihara dan mendidik anak-anak mereka

sebaik-baiknya.

2. Kewajiban orangtua yang dimaksud dalam ayat (I) pasal ini berlaku

sampai anak itu kawin atau berdiri sendiri. Kewajiban mana yang

berlaku terns meskipun perkawinan antara kedua orangtua terputus.

27

(44)

Dalam pasal diatas sangat jelas bahwa semangat Undang-Undang

perkawinan menyatakan bahwa kepentingan anak diatas segala-galanya, artinya

bahwa Undang-Undang perkawinan sangat berpihak kepada kepentingan dan

masa depan anak.

Dalam KI-II aturan yang mengatur tentang kewajiban orangtua untuk

memelihara dan mendidik anak mereka dengan baik. Terdapat dalam pasal 77

ayat 3 "Suami lsteri memikul kewajiban untuk mengasuh dan memelihara

anak-anak mereka, baik mengenai pertumbuhan jasmani, rohani maupun kecerdasan

serta pendidikan agamnya.

Dari penjelasan KI-II di atas dapat disimpulkan bahwa kewajiban orang tua

untuk mengasuh dan memenuhi kebutuhan materi dan spiritual bagi sang anak.

Kepribadian orang tua juga harus baik karena anak butuh seorang panutan dalam

masa d!a berkemb'lng.

Orang tua adalah orang pertama yang bertanggung jawab untuk

membayarkan hak-hak anak keturunan mereka Namun, tidak jarang tugas seperti

itu menjadi terputus, baik karena kesepakatan mereka bersama maupun diluar

kehendak mereka.

Dampak yang terbesar akibat berakhimya suatu pemikahan sangat

dirasakan oleh anak. Anak mungkin akan menjadi korban, bila tak dipersiapkan

dengan baik, anak bisa jadi akan tumbuh menjadi anak yang tidak bahagia karena

dia kehilangan figur yang menjadi panutan. Psikolog anak dari Universitas

Indonesia, Surastuti Nurdadi mengatakan "Kepentingan anak harus tetap

(45)

sayang orang tua yang utuh pada saat melihat orang tuanya bercerai. Apalagi, jika

salah satu orang tua tak ada lagi di sisinya. 28

Dalam hukum Islam, segala kemungkinan negatif itu secara teoritis telah

diantipasi, dengan adanya aturan-aturan, siapa yang seharusnya mengasuh anak

bila terjadi perceraian, apa saja persyaratan pada diri seseorang yang dianggap

pantas untuk melakukan tugas ini. Aturan-aturan ini dibuat secara ketat dan juga

mempertimbangkan hak-hak anak.

B. Syarat -Syarat Dalam Mengasuh Anak

Dalam mengasuh anak, diberikan syarat-syarat yang sangat ketat dan

selektif, karena untuk ditujukan kepentingan anak itu sendiri danjuga tidak semua

orang tua mampu untuk melaksanakannya. Oleh karena itu di butuhkan beberapa

persyaratan sebagai standar dalam menentukan siapa yang berhak menerima

hadhonah.

Beberapa persyaratan yang disepakati oleh mayoritas ulama bahwa hak

asuh anak harus jatuh kepada orang yang berakal sehat, amanah, suci diri, bukan

pem in um khamar, tidak berbuat maksiat seperti bukan penari dan tidak

mengabaikan anak yang diasuhnya.

Dalam pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar ulama

cenderung memilih ibu sebagai yang berhak dalam mengasuh anak. Akan tetapi

tidak meica1tup kemungkinan pihak suami dapat mendapatkan hak asuh anak,

karena pertimbangan bahwa mantan isterinya tidak memmpunyai akhlak dan budi

pekerti yang baik. Berdasarkan pertimbangan tidak terpenuhinya salah satu syarat,

28

(46)

maka para ulama sepakat bahwa pihak suami mendapat hak untuk mengasuh

anak.

Kalangan ahli fiqh memeberikan syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk

memperioleh hak asuh anak, jika syarat ini tidak terpenuhi maka hilanglah

kesempatan untuk mengasuhnya.

Syarat-syarat tersebut adalah29 :

1. Berakal

Para ulama memberikan syarat bahwa penerima hak asuh anak harus

mempunyai aka! dan pikiran yang sehat, karena itu orang yang gila dna lemah

ingatan tidak boleh mengasuh anak-anak. Karena banyak kemudharatan yang

akan didapat oleh anak apabila ha! itu tetap dipaksakan.

2. Baligh

Dewasa adalah syarat bagi para penerima hak esuh anak. Jadi wanita dan

pria yang masih kecil tidak boleh menjadi pengasuh sebab kelompok ini masih

memerlukan orang yang dapat menjadi wali atau bahkan mengasuh mereka. Jika

mereka masih membutuhkan wali dan membutuhkan pengasuha, maka merekpun

tidak pantas untuk menjadi pengasuh untuk orang lain.

3. Se hat Badan

Pengasuh harusnya mempunyai badan yang sehat, mampu melaksanakan

tugas-tugas mengasuh dan cekatan. Seseorang yang mempunyai penyakit

menular, lemah fisik, dan sudah memasuki usia yang lanjut tidak boleh menjadi

29

Pioni "Proses hadhonah dan adopsi' artikel diakses pada 11 November 2009 dari

(47)

pengasuh. Keadaan demikan dapat membahayakan dan bahkan tidak bermanfaat

sama sekali

4. Orang yang Dipercaya.

Seseorang yang mempunyai sifat tidak 。ュ。ョ。ィセ@ tidak dapat menjadi

seorang pengasuh. Persyaratan ini bertujuan untuk menghindari pengaruh buruk

terhadap anak yang akan diasuhnya, dan tidak pula dipercaya dalam menja!ankan

kewjibannya, juga ditakutkan anak tersebut dapat mengikuti sifat yang tidak baik

karena dialah yang paling sering bersama dengan anak tersebut.

5. Tidak Terikat Pekerjaan Yang Menyulitkan Pengawasan Anak

Seorang pengasuh harus mempunyai kualitas waktu yang baik bersama

anak, seperti terikat dengan keadaan yang mengharuskan ia berjauhan c!engan

anaknya, atau ia menghabiskan waktunya dengan kesibukan pekerjaannya.

6. Belum Menikah Lagi

Sebaiknya wanita yang mendapat hak pengasuhan tidak bersuamikan

dengan laki-laki lain yang bukan mahramnya dari anak yang diasuh, sehingga

untuk mengasuh anak itu sudah hampir-hampir tidak mempunyai waktu. Ulama

berpendapat sebaiknya ibunya menikah dengan laki-laki yang satu mahram

dengan anak tersebut.

Maksud dari para ulama mengenai syarat ibu yang belum menikah lagi,

bertujuan untuk menjaga perhatian dan kasih sayang ibu keada anaknya. Ulama

khawatir jika ibu menikah lagi dengan pria yang bukan mahramnya si anak akan

(48)

sepertin ini dapat menimbulkan kecemburuan dari salah satu pihak dan dapat

mengancam kehannonisan keluarga.

7. Islam

Dalam persyaratn ini ada dua pendapat ulama yang berbeda,

Yang pertama, pendapat yang melarang orang yang kafir tidak boleh untuk

mengasuh anak yang beragama Islam, karena orang kafir tidak mempunyai kuasa

kepada orang mu'min.

Allah berfinnan:

Artinya : "Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang

kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman."(Qs an-Nissa 141)

Dalam suatu hadist juga ditegaskan bahwa "Semua anak dilahirkan ntas

dasar fitrah (iman kepada Allah yang maha esa) kedua orang tuanyalah yang dapat

mengubah dia menjadi Yahudi, Nasrani dan Majus30

Pendapat yang kedua datang dari mazhab Hanafi, Ibn al-Qasim dan Abi

Tsawr, mereka berpendapat bahwa beragama Islam bukanlah syarat untuk

mengasuh anak Islam, karena kasih sayang dan lemah lembut seorang ibu

terhadap anaknya adalah sifat yang alamiah yang tidak terpengaruh oleh

perbedaan agama untuk menyusui dan mengurus keperluan anak itu.

Persamaan agama tidaklah menjadi syarat yang mutlak dalam pengasuhan

anak, kecuali jika ada kecenderungan bahwa perempuan itu akan mencoba

memalingkan dan mempengaruhi anak tersebut untuk mengikuti cara ia beribadah

30

(49)

dan memberikan makannan minuman yang haram. Meskipun mazhab Hanafi

mebolehkan seorang ibu yang kafir mengasuh anaknya, namun ia melarang

wanita yang murtad untuk menjadi pengasuh.

Pengajuan beberapa syarat oleh para ulama. Bertujuan untuk selama dalam

pelaksanaan pemeliharaan anak yang masih mumayyiz dapat dilakukan secara

baik maksimal dan sungguh-sungguh sehingga tujuan yang mulia dapat terlaksana

C. Pihak-Pihak yang Berhak Mengasuh anak.

a. Dalam Hukum Islam

Dalam suatu rumah tangga. segala sesuatu yang menyangkut kesejahteraan

anak adalah di bawah pengamatan kedua orang tuanya. Apabila mereka bercerai,

sedangkan usia anak mereka anak yang masih kecil, maka yang berhak mengasuh

anak adalah dari pihak isteri.

Dasar hukum pemberian hak enak kepada ibu adalah berdasarkan suatu

peristiwa yang terjadi di jaman Rasulullah.

セi@

ul <Ull J

_,...)

y :

wl \.9;;

fy>I ul

:0""

WI

0!

J..)AC

0!

<Ull

*

'-#J..)

'-'.Jill, o

41 C.JI

J .,

1

_,.,,.

;J

'-?

セ@ J , "'\1,.., ;J y.-:l

.l'.i

.J .,.

\.c

.s

;J セ@

u

LS;

11i.

rl

L. <\..J

(j.:..I c::.ul

:FJ

セ@ NNゥゥゥセ@

..iii J_,...> Jw ,.;...

o1..c.fa.

ul..il)...s

31(.i...il..i J:>I ol...i...>)

セ@

Suatu ketika datang seorang wanita mengadu kepada rasululullah: "Ya Rasulullah, anakku ini adalah dari kandunganku, pangkuanku merupakan tempatnya berlindung dan dari susuku ia mendapat minuman. Bapaknya telah menceraikanku dan ia hendak mengambil anak ini daripadanku" dan kemudian Rasulullab bersabda "Engkau labih berhak terhadap anak ini selama engkau belum kawin lagi." (HR Abu Daud)

31

(50)

Referensi

Dokumen terkait