PADANG CERMIN, PROPINSI LAMPUNG
WILLEM HENDRY SIEGERS
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Kondisi Ekologi Makrobentos Pada Ekosistem Mangrove dan Laut Desa Hanura, Kecamatan Padang Cermin, Propinsi Lampung adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Dengan ini saya melimpakan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Juli 2013
Mangrove Dan Laut Desa Hanura, Kecamatan Padang Cermin, Propinsi Lampung. Dibimbing oleh ENAN M. ADIWILAGA dan YUSLI WARDIATNO.
Perairan hutan mangrove merupakan kawasan yang selalu dipengaruhi oleh pasang surut air laut, dasar hutan berlumpur dan basah yang kaya bahan organik. Perairan hutan mangrove rentan terhadap gangguan lingkungan yang mengarah pada kerusakan, apabila tidak bisa mengurangi kegiatan antropogenik yang terus terjadi. Jika kegiatan tersebut tidak dikelolah dengan baik akan merubah kondisi fisika-kimia perairan yang pada akhirnya berdampak semakin meningkatnya bahan organik terlarut di permukaan badan air maupun dasar sedimen perairan. Kondisi tersebut sangat mempengaruhi habitat mangrove dan struktur komunitas makrobentos. Penurunan berbagai parameter lingkungan akan sangat jelas dilihat pada komposisi struktur komunitas makrobentos. Penelitian ini dilaksanakan pada hutan mangrove Desa Hanura, Kecamatan Padang Cermin, Propinsi Lampung dan dimulai dari bulan Februari sampai Juni 2012. Penelitian di lapangan menggunakan metode transek kuadran yang berukuran 1x1 meter dan dilakukan penarikan transek garis dengan jarak antara transek 10 meter.
Analisis regresi linier parameter fisika-kimia air interstisial pada sedimen mangrove dan air laut terhadap jenis-jenis makrobentos menunjukkan hasil yang berbeda. Beberapa jenis makrobentos yang memiliki hubungan dengan parameter fisika-kimia air interstisial pada sedimen mangrove maupun air laut ditandai dengan nilai R2>50%. Uji koefisien determinan menunjukkan bahwa spesies
Anadara ferruginea (R2 = 57,9%) dan Chicoreus torrefactus (R2 = 56,2%) memiliki hubungan nyata terhadap parameter air interstisial pada sedimen mangrove dan air laut. Nilai koefisien korelasi Anadara ferruginea (76,1%) dan
Chicoreus torrefactus (75,0%) menunjukkan hubungan fungsional antara makrobentos dan parameter fisika-kimia perairan berbanding lurus.
WILLEM H. SIEGERS. Ecological Condition of Macrobenthos on Mangrove and Sea Ecosystem in Hanura Village, Padang Cermin Sub-district, Lampung Province. Supervised by ENAN M. ADIWILAGA and YUSLI WARDIATNO.
Mangrove forest waters is an area that always affected by seawater tide; soft and always wet substrate with rich of organic materials. Mangrove forest water is very sensitive to anthropogenic disturbance. Thus, it will increase the amount of dissolve organic materials on surface, body, and bottom of sediment waters which will affect the physical-chemical condition of waters and macrobenthos community. The aim of this study is to describe ecological condition of macrobenthos in mangrove forest through diversity index, similarity index, and dominance index; describe physical-chemical parameter condition of interstisial waters on mangrove sediment and seawater; analyze organic materials inputs from mangrove leaves against macrobenthos abundance. This research was conducted in mangrove forest Hanura Village, Padang Cermin Sub-district, Lampung Province; from February-June 2012; using quadrate transect.
Linier regression analysis shows that have different for physical-chemical parameter of interstisial water on mangrove sediment. Some macrobenthos have correlated with physical-chemical interestrial water on the mangrove sediment with value R2>50%. Coefficient determinan test indicate Anadara ferruginea (R2= 57,9%) and Chicoreus torrefactus (R2= 56,2%) have a real correlation with interestrial water in mangrove sediment and seawater. Coefficient correlation value Anadara ferruginea is (76,1%) and Chicoreus torrefactus is (75,0%) was shown linier relationship between macrobenthos and parameter physical-chemical waters.
©
Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2013
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB.
PADANG CERMIN, PROPINSI LAMPUNG
WILLEM HENDRY SIEGERS
Tesis
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains
pada
Program Studi Pengelolaan Sumber Daya Perairan
SEKOLAH PASCASARJANA
INTITUT PERTANIAN BOGOR
NIM : C251090061
Disetujui oleh
Komisi Pembimbing
Dr Ir Enan M. Adiwilaga Dr Ir Yusli Wardiatno, MSc
Ketua Anggota
Diketahui oleh
Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana
Pengelolaan Sumber Daya Perairan
Dr Ir Enan M. Adiwilaga Dr Ir Dahrul Syah, MSc Agr
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala kasih dan anugerahNya selama ini sehingga Penulis dapat menyelesaikan studi dan meraih gelar magister dari Institut Pertanian Bogor. Adapun penulisan tesis dengan judul Kondisi Ekologi Makrobentos Pada Ekosistem Mangrove Dan Laut Desa Hanura, Kecamatan Padang Cermin, Propinsi Lampung.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada: Dr Ir Enan M. Adiwilaga selaku ketua komisi pembimbing dan Dr Ir Yusli Wardiatno, MSc selaku anggota pembimbing, karena dengan sepenuh hati dan penuh kesabaran telah membimbing dan banyak meluangkan waktu selama penyusunan dan sampai terselesaikan penulisan tesis. Dr Majariana Krisanti, SPi MSi, selaku penguji luar komisi yang sudah memberikan masukan dalam perbaikan tesis. Bapak Dr Ir Enan M. Adiwilaga selaku Ketua Program Studi Pengelolaan Sumber Daya Perairan dan seluruh staf Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Mayor Pengelolaan Sumber Daya Perairan yang selama kuliah banyak memberikan ilmu pengetahuan dalam bidang perikanan selama penulis menempuh perkuliahan di Institut Pertanian Bogor.
Terima kasih tak terhingga kepada orang tua tercinta, Bapak Anthon Marinus Siegers dan Mama Esterlina Siegers serta seluruh keluarga besar atas kasih sayang dan pengorbanan, nasehat dan dukungan doa selama ini. Ucapan terima kasih juga buat Full Time Training Indonesia (FTTI), Bapak Japet Sembiring dan Keluarga serta semua teman-teman Persekutuan Oikumene dan Permama Bogor yang selalu menopang dalam doa. Teman-teman Angkatan 2009 Pengelolaan Sumber Daya Perairan atas kebersamaan yang penuh makna selama berkuliah di IPB.
Penelitian ini juga terlaksana karena bantuan dari berbagai pihak, untuk itu ungkapan terima kasih disampaikan kepada Koordinator Kopertis Wilayah XII Ambon serta stafnya yang sudah memberikan izin dalam melanjutkan studi di IPB dan Rektor Universitas Yapis Papua (UNIYAP) Jayapura serta staf dosen yang sudah mendukung selama penulis studi serta Staf Laboratorium Pengujian Kesehatan Ikan dan Lingkungan Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung yang sudah memberikan izin dalam pengambilan data pada lokasi penelitian.
Semoga karaya ilmiah ini dapat bermanfaat dan meberikan sumbangan pada ilmu dan pengetahuan.
Bogor, Juli 2013
DAFTAR TABEL ix
DAFTAR GAMBAR ix
DAFTAR LAMPIRAN x
PENDAHULUAN
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 2
Tujuan dan Manfaat Penelitian 2
Hipotesa Penelitian 4
TINJAUAN PUSTAKA
Ekosistem Hutan Mangrove 4
Estuari 5
Komunitas Makrobentos 6
Makrobentos Yang Berasosiasi Dengan Hutan Mangrove 7
Moluska 7
Kepiting 8
Faktor Fisika-Kimia Perairan 8
Suhu 8
Salinitas 9
Derajat Keasaman (pH) 9
Oksigen Terlarut (DO) 9
METODE PENELITIAN
Tempat dan Waktu Penelitian 10
Prosedur Penelitian 11
Pengambilan Sampel Makrobentos 11
Pengukuran Parameter Fisika-Kimia Perairan 12
Analisis Data 13
Struktur Komunitas Makrobentos 13
Kepadatan Jenis 13
Sebaran Karakteristik Fisika-Kimia Air Interstisial Pada
Sedimen Mangrove dan Air Laut 15
Sebaran Makrobentos Serta Hubungannya Dengan Karakteristik Fisika-Kimia Air Interstisial Pada Sedimen
Mangrove dan Air Laut 16
Hubungan Parameter Fisika-Kimia Air Interstisial Pada Sedimen Mangrove dan Air Laut Terhadap Struktur
Komunitas Makrobentos 16
HASIL DAN PEMBAHASAN
Keadaan Umum Lokasi Penelitian 18
Karakteristik Fisika dan Kimia Perairan 19
Struktur Komunitas Makrobentos 24
Komposisi dan Sebaran Makrobentos 24
Indeks Dipersi (Pola Sebaran) Makrobentos 27
Kepadatan Makrobentos 29
Indeks Keanekaragaman, Keseragaman dan Dominansi
Makrobentos 30
Sebaran Karakteristik Fisika-Kimia Air Interstisial Pada
Sedimen Mangrove dan Air Laut 32
Sebaran Makrobentos Berdasarkan Karakteristik Fisika
Kimia Perairan 35
Hubungan Parameter Fisika-Kimia Air Interstisial Pada Sedimen Mangrove dan Air Laut Terhadap Struktur
Komunitas Makrobentos 37
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan 38
Saran 39
DAFTAR PUSTAKA 39
LAMPIRAN 45
1 Titik koordinat yang digunakan pada stasiun penelitian 11 2 Parameter fisika-kimia air interstisial pada sedimen mangrove dan
air laut dan biologi makrobentos 13
3 Pola sebaran makrobentos berdasarkan indeks morisita dan uji
khi-kuadrat pada selang kepercayaan 95% (α = 0,05) 28 4 Persamaan regresi linear berganda dan koefisien determinan terhadap
beberapa spesies makrobentos 37
5 Analisis varian parameter fisika-kimia air interstisial pada sedimen
mangrove dan air laut terhadap spesies makrobentos berdasarka uji F 37
DAFTAR GAMBAR
1 Skema perumusan masalah 3
2 Lokasi penelitian Desa Hanura, Kecamatan Padang Cermin, Propinsi
Lampung 10
3 Skema sampling makrobentos 12
4 Histogram rata-rata suhu air interstisial pada sedimen mangrove dan
air laut. Tanda bar menunjukkan standar diviasi 20
5 Histogram rata-rata salinitas air interstisial pada sedimen mangrove
dan air laut. Tanda bar menunjukkan standar diviasi 21
6 Histogram rata-rata pH air interstisial pada sedimen mangrove dan
air laut. Tanda bar menunjukkan standar diviasi 22
7 Histogram rata-rata oksigen terlarut (DO) air interstisial pada sedimen
mangrove dan air laut. Tanda bar menunjukkan standar diviasi 23
8 Komposisi spesies (sp) dan jumlah individu (ind) biota makrobentos
pada masing-masing lokasi penelitian 25
9 Persentase komposisi kelas makrobentos pada stasiun A, B dan C di
Desa Hanura, Kecamatan Padang Cermin, Propinsi Lampung 27
10 Histogram kepadatan jenis makrobentos (ind/m2) berdasarkan jarak
(meter) di stasiun A, B dan C. Tanda bar menunjukkan standar diviasi 30 11 Histogram nilai indeks keanekaragaman (H’), keseragaman (E)
dan dominansi (C) spesies makrobentos stasiun A, B dan C. Tanda
bar menunjukkan standar diviasi 32
12 Analisis Komponen Utama (PCA) terhadap parameter fisika-kimia air interstisial pada sedimen mangrove di lokasi penelitian pada sumbu 1 dan 2 (A), pengelompokan stasiun berdasarkan karakteristik
fisika-kimia air interstisial pada sedimen mangrove (B) 34
13 Analisis Komponen Utama (PCA) terhadap parameter fisika-kimia air laut di lokasi penelitian pada sumbu 1 dan 2 (A), pengelompokan
stasiun berdasarkan karakteristik fisika-kimia air laut (B) 34
14 Analsisi Koresponden (CA) terhadap parameter fisika-kimia air interstisial pada sedimen mangrove dan air laut serta kepadatan
2 Tabel data parameter fisika-kimia air interstisial pada sedimen mangrove, Hasil Analisis Komponen Utama (PCA) Eigenvalues, korelasi antara variabel dengan faktor, matriks korelasi Person (n)
antara faktor fisika-kimia 46
3 Tabel data parameter fisika-kimia air laut, Hasil Analisis Komponen Utama (PCA) Eigenvalues, korelasi antara variabel dengan faktor,
matriks korelasi Person (n) antara faktor fisika-kimia 47
4 Hasil Analisis Koresponden (CA) parameter fisika-kimia air interstisial pada sedimen mangrove; Tabel analisis contigency, Tabel nilai
kontribusi variabel stasiun (%), Tabel nilai kontribusi spesies
makrobentos dan parameter fisika-kimia air interstisial pada sedimen
mangrove (%) 48
5 Hasil Analisis Koresponden (CA) parameter fisika-kimia air laut; Tabel analisis contingency, Tabel nilai kontribusi variabel stasiun (%), Tabel nilai kontribusi spesies makrobentos dan parameter fisika
kimia air laut 49
6 Tabel korelasi parameter fisika-kimia air interstisial pada sedimen mangrove dan air laut terhadap spesies makrobentos (Terebralia palustris), Tabel model summary, Tabel anova parameter fisika-kimia
dan spesies makrobentos, Tabel coefficients parameter fisika-kimia 50 7 Tabel korelasi parameter fisika-kimia air interstisial pada sedimen
mangrove dan air laut terhadap spesies makrobentos (Cerithium asper), Tabel model summary, tabel anova parameter fisika-kimia dan spesies
makrobentos, Tabel coefficients parameter fisika-kimia 51
8 Tabel korelasi parameter fisika-kimia air interstisial pada sedimen mangrove dan air laut terhadap spesies makrobentos (Telescopium telescopium), Tabel model summary, Tabel anova parameter fisika
-kimia dan spesies makrobentos, Tabel coefficients parameter
fisika-kimia 52
9 Tabel korelasi parameter fisika-kimia air interstisial pada sedimen mangrove dan air laut terhadap spesies makrobentos (Donax scortum), Tabel model summary, Tabel anova parameter fisik-kimia dan spesies
makrobentos, Tabel coefficients parameter fisika-kimia 54
10 Tabel korelasi parameter fisika-kimia air interstisial pada sedimen mangrove dan air laut terhadap spesies makrobentos (Chicoreus
torrefactus), Tabel model summary, Tabel anova parameter fisik-kimia
dan spesies makrobentos, Tabel coefficients parameter fisika-kimia 55 11 Tabel korelasi parameter fisika-kimia air interstisial pada sedimen
mangrove dan air laut terhadap spesies makrobentos (Cerithium litteratum), Tabel model summary, Tabel anova parameter fisik-kimia
dan spesies makrobentos, Tabel coefficients parameter fisika-kimia 57 12 Tabel korelasi parameter fisika-kimia air interstisial pada sedimen
mangrove dan air laut terhadap spesies makrobentos (Acrosterigma elongatum), Tabel model summary, Tabel anova parameter fisik-kimia
makrobentos, Tabel coefficients parameter fisika-kimia 59 14 Tabel korelasi parameter fisika-kimia air interstisial pada sedimen
mangrove dan air laut terhadap spesies makrobentos (Anadara
ferruginea), Tabel model summary, Tabel anova parameter fisik-kimia
dan spesies makrobentos, Tabel coefficients parameter fisika-kimia 61 15 Komposisi spesies makrobentos yang ditemukan pada ke tiga lokasi
penelitian Desa Hanura, Kecamatan Padang Cermin, Propinsi
Lampung 63
16 Foto beberapa spesies makrobentos yang ditemukan pada sedimen hutan mangrove dan laut Desa Hanura, Kecamatan Padang Cermin,
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Perairan pantai Desa Hanura sebagian besar ditumbuhi hutan mangrove dan merupakan salah satu kawasan yang subur karena mendapat masukan bahan organik dari air sungai yang membawa limbah pertanian, aktivitas budidaya ikan laut yang menghasilkan limbah organik yang mengendap di dasar perairan serta materi organik serasah daun mangrove pada dasar hutan. Perairan hutan mangrove merupakan kawasan yang selalu dipengaruhi oleh pasang surut air laut, dasar hutan berlumpur dan basah yang kaya bahan organik. Oleh sebab itu, dapat dikatakan mangrove memiliki produktivitas yang tinggi dalam menyediakan sumber makanan bagi kehidupan biota yang beradaptasi dengannya. Menurut Kustanti (2011) bahwa hutan mangrove memiliki nilai penting sebagai kunci utama penyediaan makanan bagi organisme yang tinggal di sekitar mangrove, seperti udang, kepiting, ikan dan organisme lainnya. Mangrove merupakan daerah mencari makanan (feeding ground) bagi organisme-organisme yang ada di dalamnya. Hutan mangrove dijadikan sebagai tempat berkumpul dan tempat pengasuhan (nursery ground) terutama bagi anak udang, anak ikan dan biota laut lainnya. Selain itu juga sebagai tempat yang baik dan ideal bagi proses pemijahan (spawning ground) biota laut yang ada di dalamnya.
Perairan hutan mangrove sangat rentan terhadap gangguan lingkungan yang mengarah pada kerusakan, apabila tidak bisa mengurangi kegiatan antropogenik yang terus terjadi. Dampak yang akan ditimbulkan yaitu membawa tekanan bagi habitat lingkungan abiotik maupun kehidupan biota perairan. Jika kegiatan tersebut tidak dikelola dengan baik akan merubah kondisi kualitas perairan yang pada akhirnya berdampak semakin meningkatnya bahan organik terlarut dipermukaan badan air maupun dasar sedimen perairan. Kondisi tersebut sangat mempengaruhi habitat mangrove dan struktur komunitas makrobentos. Hewan makrobentos merupakan organisme air yang hidup dan tinggal di endapan dasar perairan, baik yang ada di atas maupun yang ada di bawah sedimen. Bentos hidup di perairan benthik (Odum, 1971). Hewan makrobentos mendapatkan makanan dari dua bagian yaitu mikroalga benthik dan guguran dasar atau detritus yang suatu saat juga dapat tersuspensi oleh adanya pergerakan air (Barnes, 1980). Hewan makrobentos merupakan salah satu komponen penyusun ekosistem air laut. Kelompok polychaeta, crustacea serta mollusca lebih dominan dibandingkan organisme lain. Perbedaan terletak pada komposisi organisme penyusunnya (Nybakken, 1993).
Bukan hanya fisika-kimia yang berubah, bagian ekosistem perairan lain pun akan terpengaruh oleh sifat air tersebut. Bagian ekosistem perairan yang juga dapat mengalami perubahan adalah sedimen (dasar perairan).
Pengaruh penurunan berbagai parameter lingkungan akan sangat jelas dilihat pada komposisi struktur komunitas makrobentos. Menurut Prasetyo et al. (2000) bahwa hewan-hewan makrobentos dapat dianggap lebih mencerminkan adanya perubahan-perubahan faktor lingkungan pada suatu ekosistem perairan. Dengan adanya hal tersebut maka perlu dilakukan suatu penelitian untuk mengetahui kondisi ekologi habitat pada perairan hutan mangrove dan laut Desa Hanura, Kecamatan Padang Cermin, Propinsi Lampung, dengan melakukan pengukuran parameter fisika-kimia air interstisial pada sedimen mangrove dan air laut serta parameter biologi makrobentos.
Perumusan Masalah
Kawasan hutan mangrove Desa Hanura banyak menerima masukan bahan organik maupun anorganik baik secara alami maupun dari kegiatan masyarakat di sekitar perairan. Proses secara alami berupa air hujan yang membawa sedimen masuk melalui beberapa sungai yang bermuara ke perairan pantai, proses penghancuran serasah daun mangrove serta aktivitas budidaya ikan laut pada keramba jaring apung yang banyak membawa limbah organik. Masukan bahan pencemar yang melebihi ambang batas kemampuan asimilasi ke suatu perairan dapat menyebabkan terjadinya perubahan lingkungan perairan hutan mangrove yang merupakan habitat makrobentos. Kondisi hidrodinamika perairan hutan mangrove akan mempengaruhi distribusi bahan organik berupa material detritus yang terakumulasi bercampur dengan adanya pasang surut air laut pada permukaan air maupun dasar sedimen, selanjutnya akan mempengaruhi kondisi fisika-kimia air interstisial pada sedimen mangrove dan air laut serta ketersediaan makanan bagi komunitas makrobentos.
Ketersediaan makanan yang berkurang dan habitat yang semakin terbatas akan berpengaruh terhadap pergerakan adaptasi serta regenerasi spesies makrobentos. Struktur komunitas makrobentos tidak akan stabil dan berkelanjutan jika terjadi dominasi suatu jenis. Oleh sebab itu maka perlu dilakukan kajian untuk mengungkapkan kondisi ekologi perairan Desa Hanura, Kecamatan Padang Cermin, Propinsi Lampung melalui studi komunitas makrobentos. Hasil kajian ini nantinya akan bermanfaat untuk pengelolaan kawasan perairan pantai Desa Hanura, Kecamatan Padang Cermin secara berkesinambungan dan berkelanjutan. Untuk lebih jelasnya, kerangka pendekatan pemecahan masalah dapat disajikan pada Gambar 1.
Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah :
3
_
Input Proses Output
Gambar 1. Diagram pemecahan masalah
Beban masukan antropogenik : Bahan
organik, anorganik
Hidrodinamika
Parameter fisika-kimia perairan
Makrobentos
Habitat dan Komposisi Makrobentos
Struktur Komunitas
Makrobentos ?
Hubungan Makrobentos dengan lingkungan
+
2 Mendeskripsikan kondisi parameter fisika-kimia air interstisial pada sedimen mangrove dan air laut.
3 Menganalisis hubungan struktur komunitas makrobentos dengan parameter fisika-kimia air interstisial pada sedimen mangrove dan air laut.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang kondisi ekologi habitat perairan hutan mangrove Desa Hanura, Kecamatan Padang Cermin, Propinsi Lampung yang nantinya dapat digunakan sebagai bahan kajian dalam pengelolaan sumberdaya perairan mangrove maupun laut secara lestari dan berkelanjutan untuk keterpaduan ekosistem.
Hipotesa Penelitian
1 Peningkatan bahan organik berupa sedimen lumpur halus yang masuk ke perairan baik secara alami maupun aktivitas manusia sangat mempengaruhi kualitas lingkungan perairan yang berdampak pada populasi komunitas makrobentos.
2 Perubahan parameter fisika-kimia air interstisial pada sedimen mangrove maupun air laut pada batas tertentu akan mempengaruhi adaptasi dan kelangsungan hidup komunitas makrobentos.
TINJAUAN PUSTAKA
Ekosistem Hutan Mangrove
Di Indonesia perkiraan luas mangrove sangat beragam. Giesen (1993) menyebutkan luas mangrove Indonesia 2,5 juta hektar. Indonesia merupakan tempat mengrove terluas di dunia (18–23%) melebihi Brazil (1,3 juta ha), Nigeria (1,1 juta ha) dan Australia (0,97 juta ha) (Spalding et al., 1996). Mangrove terluas di Indonesia terdapat di Irian Jaya sekitar 1.350.600 ha (38%), Kalimantan 978.200 ha (28%) dan Sumatera 673.300 ha (19%) (Dit. Bina Program INTAG, 1996). Di daerah-daerah ini dan juga daerah lainnya, mangrove tumbuh dan berkembang dengan baik pada pantai yang memiliki sungai yang besar dan terlindung. Walaupun mangrove dapat tumbuh dengan sistem lingkungan lain di daerah pesisir, perkembangan yang paling pesat tercatat di daerah tersebut.
5
Pertumbuhan komunitas vegetasi mangrove secara umum mengikuti suatu pola zonasi. Pola zonasi berkaitan erat dengan faktor lingkungan seperti tipe tanah (lumpur, pasir atau gambut), keterbukaan terhadap hempasan gelombang, salinitas, serta pengaruh pasang surut. Pembentukan zonasi dimulai dari arah laut menuju daratan, yang terdiri dari Avicennia dan Sonneratia yang berada paling depan dan langsung berhadapan dengan laut. Zona dibelakangnya berturut-turut adalah tegakan Rhizophora dan Bruguiera. Bila dibandingkan dengan hutan daratan, hutan mangrove memiliki produktivitas primer yang paling tinggi.
Organisme pengurai atau dekomposer yang hidup di dasar perairan menghancurkan luruhan daun mangrove hingga menjadi detritus yang akhirnya menjadi zat hara. Kecepatan dekomposisi daun dari masing-masing spesies mangrove berbeda-beda. Proses dekomposisi daun Avicennia berlangsung dua kali lebih cepat ketimbang daun Rhizophora, masing-masing memerlukan waktu 20 hari dan 40 hari untuk menghilangkan setengah dari biomassa awal. Perbedaan tersebut terletak pada bentuk strukturnya: daun Avicennia relatif lebih tipis bila dibandingkan dengan Rhizophora (Dahuri, 2003).
Proses dekomposisi daun mangrove menciptakan rantai makanan detritus yang kompleks, sehingga memperkaya produktivitas hewan bentos yang hidup di dasar perairan. Kehadiran organisme dekomposer yang melimpah merupakan sumber makanan bagi berbagai jenis larva ikan, udang, dan biota lainnya yang sudah beradaptasi sebagai pemakan dasar. Detritus yang dihasilkan tidak hanya menjadi dasar bagi pembentukan rantai makanan di ekosistem mangrove, tetapi juga penting sebagai sumber makanan dan nutrien bagi biota perairan pantai yang berada dekat dengan estuari. Pengangkutan detritus ke arah perairan pantai dikontrol melalui mekanisme pasang surut (Odum & Heald, 1974; Odum & Johanes, 1975).
Ekosistem mangrove di Indonesia memiliki tingkat keanekaragaman jenis yang tertinggi di dunia. Sejauh ini di Indonesia tercatat ada 202 jenis tumbuhan mangrove yang terdiri dari 89 jenis pohon, 5 jenis palem, 19 jenis tumbuhan memanjat (liana), 44 jenis herba tanah, 44 jenis epifit, dan 1 jenis tumbuhan paku. Dari 202 jenis tersebut, hanya 43 jenis yang merupakan mangrove sejati (true
Bercampurnya masa air laut dengan air tawar menjadikan wilayah estuari memiliki keunikan tersendiri, yaitu dengan terbentuknya air payau dengan salinitas yang berfluktuasi. Perubahan salinitas ini dipengaruhi oleh air pasang dan surut serta musim. Selama musim kemarau, volume air sungai berkurang sehingga air laut dapat masuk sampai ke arah hulu, dan menyebabkan salinitas di wilayah estuari menjadi meningkat. Pada musim penghujan air tawar mengalir dari hulu ke wilayah estuari dalam jumlah besar, sehingga salinitas menjadi turun/rendah (Supriadi, 2001).
Adanya aliran air tawar yang terjadi terus-menerus dari hulu sungai dan adanya proses gerakan air akibat arus pasang surut yang mengangkut mineral-mineral, bahan organik dan sedimen merupakan bahan dasar yang dapat menunjang produktifitas perairan di wilayah estuari yang melebihi produktivitas laut lepas dan perairan air tawar. Oleh karena itu, lingkungan wilayah estuari menjadi paling produktif (Supriadi, 2001).
Komunitas Makrobentos
Komunitas hewan makrobentos merupakan hewan dasar yang hidup di endapan dasar perairan, baik yang merayap, menggali lubang atau melekatkan diri pada substrat (sessile) (Odum, 1971). Menurut Welch (1952) bahwa yang termasuk makrofauna bentik adalah seluruh organisme yang berada pada dasar perairan, baik dasar perairan yang dangkal maupun dasar perairan yang dalam. Sedangkan menurut Cole (1979) menyatakan bahwa makrofauna bentik adalah hewan dasar yang dapat tertangkap dengan alat penyaring atau pengayak berukuran lebih besar dari 0,417 mm.
Berdasarkan ukuran tubuhnya ada 3 klasifikasi pada bentos yaitu mikrobentos (<0,1 mm), meiobentos (0,1-1 mm) dan makrobentos (>1 mm). Sedangkan berdasarkan tempat hidupnya, bentos dapat dikelompokkan sebagai epifauna yaitu yang hidup menempel pada daun-daun lamun/akar-akar mangrove dan rumput laut dan diatas dasar laut; dan infauna yaitu yang hidup di dalam sedimen (Odum, 1971).
Menurut Nybakken (1988) bahwa kelompok organisme dominan yang menyusun makrofauna di dasar lunak terbagi dalam empat kelompok, yaitu Polychaeta, Krustacea, Echinodermata dan Moluska. Lebih lanjut dijelaskan bahwa berdasarkan pola makannya, fauna bentos dibedakan menjadi tiga macam. Pertama pemakan suspensi (suspension feeder) yang memperoleh makanannya dengan cara menyaring partikel-partikel melayang di perairan. Kedua, pemakan deposit (deposit feeder) yang mencari makanan pada sedimen dan mengasimilasikan bahan organik yang dapat dicerna dari sedimen. Ke tiga, pemakan detritus (detritus feeder) yang hanya makan detritus.
7
mineral makanan potensial yang tidak tertangkap oleh organisme pelagik. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa input makanan dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu mikroalga bentik dan guguran dasar atau detritus yang suatu saat juga tersuspensi oleh adanya pergerakan air (Barnes, 1987).
Makrobentos Yang Berasosiasi Dengan Hutan Mangrove
Ekosistem mangrove diwakili beberapa filum, termasuk Moluska, Arhropoda, Sipuncula, Nematoda, Nemertean, Plathyhelminthes dan Annelida (Hogarth, 2007). Moluska dan Krustacea mendominasi komunitas fauna bentik pada kebanyakan ekosistem mangrove (Fitriana, 2006). Menurut Hogarth (2007) bahwa krustacea yang paling berlimpah dan beragam adalah Brachyura atau kepiting sejati dan diantara jenis Brachyura mangrove yang dominan adalah famili Grapsidae dan Ocypodidae.
Golongan invetebrata merupakan komponen penting ekosistem mangrove, menyediakan berbagai sumber makanan bagi hewan lain yang lebih tinggi tingkat trofiknya. Fungsi ekologis invetebrata bentos dapat dilihat dari produksi berjuta larva invetebrata dalam bentuk meroplankton (hidup sebagai plankton hanya pada stadia larva), larva ini merupakan sumber makanan bagi populasi ikan. Disamping itu, invertebrata bentos juga menjaga keseimbangan ekosistem dengan membuat lubang pada substrat, sehingga air dan udara dapat masuk ke dalam substrat, karena itu dapat menambahkan oksigen dan unsur hara ke dalam substrat (Chaudhuri & Chodhury, 1994). Beberapa jenis fauna yang hidupnya berasosiasi dengan lingkungan mangrove adalah sebagai berikut :
Moluska
Moluska yang dominan menempati hutan mangrove adalah dari kelas Gastropoda (keong-keongan) yang banyak tinggal secara permanen di wilayah hutan mangrove. Selain Gastropoda ada juga kelompok lain seperti Sipunculidae, Polychaeta dan Bivalvia akan tetapi kelimpahannya kecil (Soemodihardjo, 1977). Fauna yang menempati hutan mangrove terdiri dari dua kelompok, yaitu infauna yang hidup didalam lubang atau terbenam didalam substrat dan epifauna yang hidup bebas diatas permukaan substrat.
Jenis-jenis keong yang dominan di hutan mangrove menurut Frith (1977) adalah dari family Pottamididae, Muriciidae, Onchidiidae dan Ellobiidae. Sedangkan dari kelas Bivalvia hanya diwakili oleh beberapa jenis Polymesoda coaxans, Polymesoda expansa, Ostrea cucullata, Gafrarium gibbia, Anadara antiquata, Engmania aenigmatica dan Enigmonia rosea (Bery, 1975; Soemodihardjo, 1977).
Penyebaran dan susunan moluska hutan mangrove dipengaruhi oleh kondisi substrat dan komposisi mangrove. Pada bagian hutan mangrove yang berbatasan dengan habitat lain akan terlihat jenis-jenis yang berasosiasi lebih erat dengan masing-masing habitat lain tersebut (Budiman & Dwiono, 1986).
khusus. Menurut Steernis (1958) bahwa preferensi ekologis ini disebabkan oleh kombinasi dari faktor-faktor sebagai berikut :
1 Tipe tanah (perbandingan kandungan pasir dan liat).
2 Salinitas (variasi nilai rata-rata harian dan tahunan, frekuensi, kedalaman dan waktu genangannya).
3 Ketahanan jenis terhadap arus dan ombak.
4 Kondisi pertumbuhan biota muda dalam hubungan dengan ketiga faktor diatas.
Kepiting
Jenis Uca sp dan Macrophthalmus spp. adalah detritivora yang mengekstrak makanannya dari sedimen (Micheli et al., 1991). Kepiting mangrove herbivora memakan langsung serasah mangrove, makanan kepiting Sesarmidae terdiri dari material mangrove 82% (Poovachiranon & Tantichodok, 1991).
Sesarma meinertii secara umum menyukai daun Bruguiera gymnorrhiza dari pada
Avicenia marina (Micheli et al., 1991). Pilihan makanan tidak dipengaruhi oleh tannin, kadar air, presentase organik, rasio C:N, atau kekerasan daun. Banyak kepiting herbivorous, kadang-kadang menyimpan daun di dalam lubang mereka (Micheli, 1993).
Faktor Fisika-Kimia Perairan
Suhu
9
Salinitas
Salinitas dapat mempengaruhi penyebaran organisme bentos baik secara horizontal maupun vertikal. Secara tidak langsung mengakibatkan adanya perubahan komposisi organisme dalam suatu ekosistem (Odum, 1993). Gastropoda yang bersifat mobile mempunyai kemampuan untuk bergerak guna menghindari salinitas yang rendah, namun bivalvia yang bersifat sessile akan mengalami kematian jika pengaruh air tawar berlangsung lama (Effendi, 2003). Menurut Hutabarat & Evans (1985) bahwa kisaran salinitas yang masih mampu mendukung kehidupan organisme perairan, khususnya makrobentos adalah 15-35 ppt.
Derajat Keasaman (pH)
Nilai pH (power of Hydrogen) adalah nilai dari hasil pengukuran ion Hidrogen (H2) didalam air. Air dengan kandungan ion Hidrogen banyak akan
bersifat asam, dan sebaliknya akan bersifat basa (alkali). Secara umum air laut relatif lebih alkalin (basa) sekitar 8,0 dan air payau relatif kurang dari 8,0. Akan tetapi organisme laut relatif mampu beradaptasi dengan rang pH yang lebar. Seperti kepiting tidak sensitif terhadap perubahan pH antara 6,6-8,0 (Malone & Burden, 1988). Derajat keasaman (pH) merupakan faktor pembatas bagi organisme yang hidup di suatu perairan. Perairan dengan pH yang terlalu tinggi atau rendah akan mempengaruhi ketahanan hidup organisme yang hidup didalamnya (Odum, 1993). Sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai kisaran pH sekitar 7 – 8,5. Nilai pH < 5 dan > 9 menciptakan kondisi yang tidak menguntungkan bagi kebanyakan organisme makrobentos (Hynes, 1978).
DO (Dissolved Oxygen/Oksigen terlarut)
Oksigen terlarut merupakan variabel kimia yang mempunyai peranan yang sangat penting bagi kehidupan biota air sekaligus menjadi faktor pembatas bagi kehidupan biota. Daya larut oksigen dapat berkurang disebabkan naiknya suhu air dan meningkatnya salinitas. Konsentrasi oksigen terlarut dipengaruhi oleh proses respirasi biota air dan proses dekomposisi bahan organik oleh mikroba. Pengaruh ekologi lain yang menyebabkan konsentrasi oksigen terlarut menurun adalah penambahan zat organik (buangan organik) (Connel & Miller, 1995).
METODE PENELITIAN
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada hutan mangrove Desa Hanura, Kecamatan Padang Cermin, Propinsi Lampung. Secara geografis, kabupaten ini terletak pada 10513’45”- 10515’0”BT dan 531’15”- 532’30”LS (Gambar 2). Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan Juni 2012. Penelitian dilakukan dalam dua kegiatan yaitu pengambilan sampel air interstisial sedimen mangrove, air laut dan sedimen lumpur untuk analisis makrobentos. Analisis contoh air dilakukan di Laboratorium Pengujian Kesehatan Ikan dan Lingkungan Balai Besar Pengembangan Budi daya Laut (BBPBL) Lampung.
Gambar 2 Lokasi penelitian
Metode penelitian yang digunakan yaitu analisis deskriptif kuantitatif. Penentuan lokasi penelitian menggunakan alat GPS (Global Positioning System) untuk mendapatkan titik koordinat yang akan digunakan berdasarkan kondisi hutan mangrove. Dilihat dari kondisi hutan mangrove pada Desa Hanura, Kecamatan Padang Cermin, Propinsi Lampung, maka titik koordinat yang digunakan pada lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 1.
#
Sumber : Peta RBI Bakosurtanal Tahun 2000
TELUK HURUN Skala : 1 : 26.044
11
Tabel 1 Titik koordinat yang digunakan pada stasiun penelitian
Lokasi
Penelitian Sub Stasiun Titik Koordinat
Habitat
Pengambilan sampel makrobentos dilakukan sebanyak 3 kali penarikan garis transek pada masing-masing stasiun. Pada garis transek diletakkan transek kuadrat 1x1 meter dan dimasukkan core PVC (paralon) pada sedimen tanah untuk pengambilan sampel makrobentos saat air laut surut.
Pengambilan Sampel Makrobentos
Darat
Hutan Mangrove
10 m
Garis transek
Hutan Mangrove
20 m
Garis pantai
50 m
Keterangan gambar : = jarak garis transek
= jarak transek kuadrat = garis transek
Kuadrat transek
25 cm
1 m 25 cm
1 m
Gambar 3 Skema sampling Makrobentos
Pengukuran Parameter Fisika-Kimia Perairan
Parameter yang diamati meliputi parameter fisik, kimia dan biologi. Parameter fisika air interstisial pada sedimen mangrove dan air laut yang diukur secara in situ adalah suhu, salinitas sedangkan parameter kimia yang Dilakukan di laboratorium adalah analisis kandungan oksigen terlarut (DO), pH dan
Stasiun A Stasiun B Stasiun C
1
2
3
5 4
2 3
Perairan (Laut)
Unit r=
13
makrobentos. Berikut ini adalah parameter fisika-kimia air interstisial pada sedimen mangrove, air laut dan biologi makrobentos (Tabel 2).
Tabel 2 Parameter fisika-kimia air interstisial pada sedimen mangrove dan air laut dan biologi Makrobentos.
Parameter Satuan Alat Pengambilan
Fisika & Kimia Air
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah mengunakan program SPSS 15.0 dan MINITAB 15. Program ini difungsikan untuk melihat korelasi struktur komunitas makrobentos dengan parameter fisika-kimia perairan berupa hasil analisa dalam bentuk regresi linear berganda dan analisis multivarian dalam bentuk matriks yaitu Analisis Komponen Utama atau Principal componen analysis (PCA) dan Analisis Koresponden atau Corresponden Analysis (CA), yang menunjukkan apakah variabel X berpengaruh terhadap Y.
Struktur Komunitas Makrobentos
Identifikasi makrobentos menggunakan buku identifikasi Gosner (1971); Hansson & Afzelius (1974); Dance (1977) yang mengindentifikasi dari tingkat kelas, famili, genus dan spesies. Hasil identifikasi ini dianalisis dengan perhitungan kepadatan jenis (Xi), indeks keseragaman (E), indeks dominansi (C) dan indeks keanekaragaman jenis Shannon dan Wiener (H’). Penggunaan analisis
struktur komunitas makrobentos mempunyai kelemahan yaitu harus
mengidentifikasi sampai tahap spesies dan dari segi sampling bila tidak ditemukan biota maka tidak dapat dihitung. Adapun persamaan yang digunakan dalam menganalisis makrobentos adalah sebagai berikut :
Kepadatan Jenis
Kepadatan jenis makrobentos dihitung dengan formulasi berikut :
Keterangan : Xi = kepadatan jenis ke-i (ind/m2) ni = jumlah individu spesies ke-i
A = luas permukaan pengambilan sampel (m2)
Keanekaragaman Jenis
Keanekaragaman jenis menggambarkan kekayaan jenis atau jumlah jenis suatu komunitas. Penelitian ini menggunakan nilai indeks keanekaragaman yang dikemukakan oleh Shanon-Wiener (1949) in (English et al., 1994) dengan rumus :
∑
Keterangan : S = jumlah spesies
H’ = indeks keanekaragaman shannon-wiener Pi = ni/N
ni = jumlah individu spesies ke-i N = total individu
Keseragaman
Keseimbangan penyebaran suatu spesies dalam komunitas dapat diketahui dari indeks keseragaman Shanon dan Wiener (1949) in Brower et al., (1990) yang dinyatakan dengan rumus sebagai :
Keterangan :
E = indeks keseragaman
H’ = indeks keanekaragaman Shanon-Wiener H max = Ln S
S = jumlah spesies
Dominansi
Untuk melihat dominansi spesies tertentu pada suatu populasi digunakan indeks dominansi Simpson (Krebs, 1989) yang dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut :
∑ [ ]
Keterangan :
15
Pola Distribusi Makrobentos
Untuk mengetahui pola distribusi makrobentos digunakan Indeks Morisita (Brower et al., 1990).
Keterangan :
Id = indeks dispersi Morisita
N = total jumlah individu suatu jenis dalam petak contoh ∑X2
= total jumlah individu dalam petak contoh n = jumlah unit pengambilan contoh
Pola distribusi biota dalam lokasi penelitian diduga dengan menggunakan kriteria nilai sebagai berikut :
Id = 1; pola dispersi acak Id < 1; pola dispersi seragam Id > 1; pola dispersi mengelompok
Untuk menguji kebenaran nilai indeks dispersi tersebut digunakan uji stastistik Khi-kuadrat (Chi-square) berdasarkan Brower et al. (1990).
Selanjutnya nilai Khi-kuadrat dari hasil perhitungan tersebut dibandingkan dengan nilai khi-kuadrat pada tabel stasistik dengan menggunakan selang kepercayaan 95% (α = 0,05). Jika nilai khi-kuadrat hitung lebih kecil dari khi-kuadrat tabel maka berarti tidak ada perbedaan nyata dengan acak.
Sebaran Karakteristik Fisika-Kimia Air Interstisial Pada Sedimen Mangrove dan Air Laut
Determinasi sebaran karakteristik fisika-kimia air interstisial pada sedimen mangrove dan air laut serta struktur komunitas makrobentos antara stasiun pengamatan menggunakan analisis statistik multivariabel yang didasarkan pada Analisis Komponen Utama atau Principal Components Analysis (PCA) (Legendre, 1984; Foucart, 1985; Bengen et al., 1992).
Dengan demikian hasil analisis komponen utama tidak direalisasikan dari nilai-nilai asli karakteristik habitat, tapi dari indeks sintetik yang diperoleh dari kombinasi linear nilai-nilai asli karakteristik habitat (Legendre, 1983; Faucart, 1985).
Korelasi linear antara dua parameter yang dihitung dari indeks sintetiknya adalah peragam dari kedua parameter tersebut yang dinormalkan. Di antara semua indeks sintetik yang mungkin, Analisis Komponen Utama mencari terlebih dahulu indeks yang menunjukkan ragam stasiunnya maksimum. Indeks ini disebut komponen utama pertama yang merupakan sumbu utama ke satu (F1). Suatu proporsi tertentu dari ragam total stasiun dijelaskan oleh komponen utama ini. Selanjutnya dicari komponen utama kedua (F2) yang memiliki korelasi nihil dengan komponen utama pertama. Komponen utama kedua memberikan informasi terbesar sebagai pelengkap komponen utama pertama. Proses ini berlanjut terus hingga diperoleh komponen utama ke-p, dimana bagian informasi yang didapat dijelaskannya semakin kecil.
Sebaran Makrobentos Serta Hubungannya Dengan Karakteristik Fisika-Kimia Air Interstisial Pada Sedimen Mangrove dan Air Laut
Evaluasi kuantitatif terhadap sebaran makrobentos antara stasiun pengamatan dan kaitannya terhadap karakteristik fisika-kimia air interstisial pada sedimen Dilakukan dengan menggunakan Analisis Korespondensi atau
Correspondence Analysis (CA).
Analisis koresponden ini bertujuan mencari hubungan yang erat antara modalitas dari dua karakter atau variabel pada variabel matrik data kontingen serta mencari hubungan yang erat antara seluruh modalitas karakter dan kemiripan antar individu berdasarkan konfigurasi pada tabel atau metrik data disjongtif
lengkap (Bengen, 2000).
Hubungan Parameter Fisika-Kimia Air Interstisial Pada Sedimen Mangrove dan Air Laut Terhadap Struktur Komunitas Makrobentos
Analisa untuk melihat hubungan parameter fisika-kimia air interstisial pada sedimen mangrove dan air laut terhadap struktur komunitas makrobentos dilakukan dengan menggunakan:
1 Analisa Regresi Linier berganda menurut Walpole (1993) dengan rumus:
Yi= βo + β1X1i+ β2X2i +….+ βnXni + εi
rumus pendugaannya adalah :
Y = bo + b1X1 + b2X2+ …+ bnXn
Keterangan :
17
X = parameter fisika-kimia air interstisial pada sedimen mangrove dan air laut sebagai variabel bebas
bo = intersep
b1, b2,b3 = koefisien regresi
2. Korelasi linear momen-hasil kali Pearson menurut (Walpole, 1993) dengan rumus sebagai berikut :
r = ( )( )
√[ ( ) ][ ( ) ]
Keterangan :
r = koefisien korelasi
n = jumlah data pengamatan
yi = struktur komunitas makrobentos
xi = parameter fisika-kimia perairan
b = slope s = sidik ragam
Berdasarkan analisis regresi diperoleh bahwa :
JKG =
Dengan membagi kedua sisi persamaan ini dengan , kita memperoleh hubungan yaitu :
Karena JKG dan s2y keduanya tidak pernah negatif, maka kita simpulkan bahwa R2 nilainya pasti adalah 0 dan 1. Akibatnya, r mungkin mengambil nilai dari -1 sampai +1. Nilai r = -1 akan terjadi apabila JKG = 0 dan semua titik contoh terletak pada satu garis lurus yang mempunyai kemiringan negatif. Bila titik contoh terletak pada satu garis lurus dengan kemiringan positif, maka JKG = 0 dan kita memperoleh nilai r = +1. Jadi hubungan linear sempurna terdapat antara nilai-nilai X dan Y dalam contoh, apabila r = +1 atau -1. Bila r mendekati +1 atau -1, hubungan antara kedua peubah itu kuat dan kita katakan terdapat korelasi yang tinggi antara keduanya, apabila r mendekati nol, hubungan linear antara X dan Y sangat lemah atau mungkin tidak ada sama sekali (Walpole, 1993).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Keadaan Umum Lokasi Penelitian
Hutan mangrove yang tumbuh pada lokasi penelitian hampir sebagian besar sudah mengalami degradasi akibat kepentingan dalam pembangunan. Hal ini dapat diketahui dari hasil wawancara dengan beberapa masyarakat bahwa hutan mangrove disekitar Teluk Hurun dibuka pertama kali pada saat proyek transmigrasi tahun 1969. Pada saat itu hutan mangrove masih dalam kondisi baik dengan lebar berkisar antara 500-700 meter. Pemanfaatan hutan mangrove pertama kali untuk membuat arang, kemudian sedikit demi sedikit lahan mangrove dialihkan menjadi daerah persawahan dan pertambakan. Pada tahun 1982 di bangun proyek pembangunan Balai Budi daya Laut Lampung di Teluk Hurun. Proyek ini membutuhkan lahan sebesar 5,9 ha yang diperoleh antara lain dari pembukaan hutan mangrove. Desa Hanura mempunyai luas perairan 1,5 km2 dengan panjang 1,5 km dan lebar 1 km, secara topografi bagian barat daya dan bagian Selatan landai dengan kedalaman lebih kecil dari 5 meter. Sedangkan sekitar mulut dan tenggara cukup dalam yaitu 10-15 meter. Terdapat 4 (empat) sungai kecil yang bermuara di perairan Teluk Hurun, dua sungai di bagian Barat daya, satu sungai di bagian Selatan dan satu sungai di pantai Barat laut (Kusrini, 1988).
Hutan mangrove pada lokasi penelitian dapat dibagi atas tiga stasiun (masing-masing stasiun dibagi menjadi tiga sub stasiun). Hutan mangrove stasiun A terdapat di sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Sidodadi, ditumbuhi oleh jenis Rhizophora sp, Avicenia sp dan Sonneratia sp dengan ketebalan 270 meter. Jenis Avicenia sp dan Sonneratia sp menyebar dari arah darat sampai ke laut, sedangkan Rhizophora sp dari arah berbatasan laut sampai ke arah darat yang cukup dominan. Bagian dalam hutan mangrove banyak ditemukan tegakan pohon yang masih muda dengan perakaran yang rapat sampai di luar berbatasan dengan laut. Hutan mangrove pada daerah ini banyak dipengaruhi oleh aktivitas pertanian dari darat maupun sungai yang kadang mengalir pada saat hujan. Hampir sebagian besar kehidupan mangrove pada lokasi ini dipengaruhi oleh pasang surut air laut.
Hutan mangrove pada stasiun B terdapat di sebelah Timur berbatasan dengan Teluk Lampung, yang menyebar dibelakang Balai Budidaya Laut Lampung. Mangrove yang tumbuh pada lokasi ini memiliki ketebalan 157 meter. Pada bagian pesisir laut sampai ke arah tengah ditumbuhi oleh tegakan jenis
Rhizophora sp yang cukup dominan dan Sonneratia sp. Hutan mangrove pada stasiun ini berdekatan dengan lokasi Budidaya di darat dan agak berjauhan dengan aktivitas budidaya keramba apung di laut. Hutan mangrove pada stasiun ini dipengaruhi oleh pasang surut air laut dan hampir sebagian besar sering digenangi oleh air laut.
Hutan mangrove Stasiun C terletak di sebelah Utara berbatasan dengan desa Hanura, ditumbuhi mangrove dengan ketebalan 382 meter, dibagian depan arah darat terdapat bekas tambak udang yang sudah tidak berfungsi dan hampir sebagian besar sudah ditumbuhi oleh anakan dan pohon mangrove jenis Avicenia
19
pada saat surut kelihatan kering dan saat pasang tertinggi air bisa tergenang sampai ke arah darat. Mangrove di tempat ini dipengaruhi langsung oleh pasang surut karena daerah ini langsung berhubungan dengan laut. Di sekitar hutan mangrove lokasi penelitian juga terdapat muara sungai yang sering mengalir pada saat terjadinya hujan. Sungai ini sangat dipengaruhi oleh pasang surut air laut.
Karakteristik Fisika-Kimia Perairan
Pasokan air interstisial pada masing-masing stasiun mempunyai penyebaran yang berbeda-beda. Pasokan air interstisial ini dipengaruhi oleh pasang surut air laut dan air tawar yang mengalir pada sungai pada waktu tertentu saat terjadinya hujan, bermuara ke laut bercampur pada saat air pasang serta mengalami penyerapan ke dalam substrat tanah pada saat surut. Pengambilan sampel air interstisial pada sedimen mangrove sedalam 20 cm mengunakan core PVC, hal ini memiliki keeratan terhadap parameter fisika-kimia perairan yang terjadi di hutan mangrove. Sedangkan sampel air laut diambil pada saat air pasang. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan bahwa ke tiga stasiun penelitian mempunyai substrat lumpur yang berbeda, terdiri atas sedimen berlumpur halus lunak, berlumpur pasir dan berpasir. Tipe substrat yang cocok untuk pertumbuhan mangrove adalah lumpur lunak, yang mengandung silt clay dan bahan-bahan organik yang lembut (Kordi, 2012). Sedangkan kandungan fisika-kimia air laut diketahui dengan pengambilan sampel air pada saat air laut pasang.
Pada stasiun A (Desa Sidodadi) substrat sedimen adalah dominan lumpur berpasir halus, hal ini dapat dilihat bahwa mangrove yang berdekatan dengan laut hampir sebagian besar substratnya berlumpur halus sampai pada jarak 20 meter kedalam hutan mangrove, pengamatan secara insitu dilakukan pada saat surut. Pada stasiun B (Teluk Lampung) substrat sedimennya berpasir halus dan kasar bercampur lumpur dari arah darat, kemudian liat kearah tengah sampai lumpur bercampur pasir dan berbatu kearah laut sampai jarak 30 meter. Sedangkan pada stasiun C (Desa Hanura) kondisi substratnya berlumpur halus dari hutan mangrove sampai jarak 20 meter ke arah garis pantai sedangkan jarak dari garis pantai menuju laut berlumpur campur pasir. Berdasarkan kondisi sedimen yang terdapat pada masing-masing stasiun ini, maka dilakukan pengambilan air interstisial dan air laut dengan berpatokan pada garis transek sejauh 20 meter ke arah mangrove dan 30 meter ke arah laut. Beberapa parameter fisika-kimia air interstisial pada sedimen mangrove dan air laut, yang perlu diketahui adalah sebagai berikut :
Suhu
hutan dan pengaruh angin. Sedangkan rata-rata suhu air laut berkisar antara 29,7±0,53-29,9±0,03°C, Suhu air laut tidak berbeda antara ke tiga stasiun penelitian, cenderung tinggi. Hal ini karena letak lokasi penelitian pada daerah terbuka dan tidak ditumbuhi mangrove sehingga penetrasi cahaya matahari sangat maksimal pada permukaan air (Gambar 4).
Gambar 4 Histogram rata-rata suhu air interstisal pada sedimen mangrove dan air laut. Tanda bar menunjukkan standar diviasi.
Gambar 4 menunjukkan bahwa suhu rendah terdapat pada air interstisial sedimen mangrove untuk semua stasiun, disebabkan air interstisial berada pada lapisan sedimen bawah memiliki suhu relatif rendah. Hal ini bisa saja terjadi karena perbedaan suhu antara lapisan di atas dan di bawah. Suhu air interstisial di dalam sedimen, kelembaban sedimen tanah serta angin yang bertiup cukup tinggi pada hutan mangrove. Menurut Wang et al. (2003), angin sekitar teluk dipengaruhi dua pola musiman yang khas yaitu periode dingin dan musim kemarau dengan berlaku angin kuat, tetapi sering terganggu oleh perputaran angin. Hal ini terkait dengan suhu dingin dan periode musim panas dengan kecepatan angin yang lemah. Pola musiman dari parameter suhu dalam pengolahan air dipengaruhi oleh curah hujan, penguapan, temperatur dan angin. Penguapan pada beberapa waktu cukup stabil namun menunjukkan variasi musiman karena bergantung pada angin, suhu dan kelembaban tersebut. Selain itu juga, tinggi rendahnya suhu yang terjadi disebabkan oleh berbagai faktor lingkungan disekitarnya, antara lain pasang surut, kedalaman dan intensitas cahaya matahari.
Menurut Kordi (2012), suhu yang baik untuk kehidupan mangrove adalah tidak kurang dari 20°C, sedangkan kisaran musiman suhu tidak melebihi 5°C. Suhu yang tinggi (>40°C) cenderung tidak mempengaruhi pertumbuhan dan kehidupan tumbuhan mangrove. Karena tanaman mangrove berada di air atau berada di lingkungan yang selalu basah, tentu jarang terjadi perubahan suhu air yang ekstrim yang membahayakan kehidupan tumbuhan mangrove. Sedangkan pengaruh suhu untuk biota makrobentos itu sendiri masih berada pada kisaran yang sesuai untuk kehidupan gastropoda, bivalvia dan kelompok bentos yang lain.
21
Menurut Huet (1972), kebanyakan organisme akuatik memiliki suhu optimum berkisar 20-30°C. Suhu optimum untuk beberapa moluska adalah 30°C.
Salinitas
Analisis rata-rata salinitas air interstisial pada sedimen mangrove stasiun penelitian berkisar 29,7±0,33-30,0±0,58 ppt, salinitas terendah terdapat pada stasiun A (29,7±0,33ppt). Hal ini disebabkan lokasi penelitian selalu dipengaruhi oleh pasang surut air laut yang membawa air tawar bercampur menjadi satu dan vegetasi mangrove cukup rapat sehingga penguapan cukup rendah. Sedangkan rata-rata salinitas air laut berkisar 28,3±0,33-30,0±0,00 ppt. Salinitas tertinggi terdapat pada stasiun B (30,0±0,00 ppt). Hal ini disebabkan pengaruh masukan air sungai sangat kecil pada saat pengambilan sampel dan penguapan yang tinggi akibat tidak terdapatnya vegetasi mangrove (Gambar 5).
Gambar 5 Histogram rata-rata salinitas air interstisial pada sedimen mangrove dan air laut. Tanda bar menunjukkan standar diviasi
Perbedaan tinggi rendahnya salinitas air laut karena posisinya selalu terpengaruh aktivitas darat dan faktor alami seperti tingginya curah hujan pada musim-musim tertentu yang membawa air tawar ke perairan laut melalui sungai, tinggi rendahnya penguapan air laut sebagai faktor pembatas tergantung dari sedikit banyaknya vegetasi mangrove dan terjadinya akumulasi bahan organik serasah mangrove pada dasar perairan. Masukan air tawar ini akan mengalami percampuran dengan bahan organik serasah daun mangrove yang membusuk serta sedimen lumpur mangrove saat pasang sangat maksimal pada lapisan dasar maupun permukaan air. Sedangkan salinitas air interstisial pada sedimen mangrove berbeda dengan air laut, karena pada saat surut air interstisial masih terpengaruh dengan air laut. Menurut Brown et al. (1999), berkurangnya karbon organik terlarut dapat menurunkan salinitas air dan meningkatkan air limbah, persentase hilangnya dapat menurun salinitas sebesar 15-30 ppt. Selain itu juga potensial denitrifikasi yang mengkonversi nitrat menjadi gas nitrogen di bawah kondisi anaerobik, tidak menghambat salinitas sebesar 15-30 ppt. Menurut Nybakken (1993), perubahan salinitas pada zona intertidal akan menimbulkan
masalah tekanan osmotik bagi organisme intertidal yang kebanyakan menunjukkan toleransi yang terbatas terhadap perubahan salinitas. Kisaran yang masih dapat ditolerir oleh hewan makrobentos adalah salinitas 15-30 ppt.
Ada beberapa jenis tumbuhan mangrove memiliki mekanisme adaptasi yang tinggi terhadap salinitas, namun bila suplai air tawar tidak tersedia, hal ini akan menyebabkan kadar garam tanah dan air mencapai kondisi ekstrim sehingga mengancam kelangsungan hidup (Dahuri, 2003; Kordi, 2012). Nilai salinitas ini akan mempengaruhi penyebaran dari biota makrobentos dan pada umumnya biota makrobentos yang hidup pada daerah hutan mangrove dan perairan laut mempunyai toleransi tinggi terhadap perubahan salinitas. Selain itu salinitas juga akan mempengaruhi proses fisiologi dari hewan bentos tersebut.
Derajat Keasaman (pH)
Derajat keasaman (pH) merupakan faktor pembatas bagi kehidupan komunitas bentos. Masing-masing jenis organisme mempunyai toleransi yang berbeda bergantung pada tingkat kejenuhan oksigen terlarut, konsentrasi ion-ion alkalinitas dan jenis serta stadia organisme (Jones, 1964).
Analisis pH air interstisial pada sedimen mangrove ke tiga stasiun penelitian berkisar 7,0±0,04-7,3±0,02. Nilai tersebut masih berada pada kisaran normal. Hal yang sama juga terjadi pada rata-rata pH air laut berkisar antara 7,5±0,34-8,2±0,00 termasuk kategori tinggi (Gambar 6).
Gambar 6 Histogram rata-rata pH air interstisial pada sedimen mangrove dan air laut. Tanda bar menujukkan standar diviasi
Rata-rata nilai pH air interstisial pada sedimen mangrove dengan air laut berbeda. Tinggi dan rendahnya perbedaan nilai rata-rata pH terjadi karena pengaruh nitrifikasi pada perairan. Nitrifikasi ini dapat diminimalisir oleh arus pasang yang bercampur dengan sedimen, sehingga pada saat surut hampir sebagian besar zat asam tersebut mengendap di dalam sedimen. Menurut Marchand et al. (2003), karakterisasi lingkungan fisika dan kimia dengan nilai pH yang lebih asam ditemukan dilapisan permukaan sedimen, hal ini dapat disebabkan oleh oksidasi besi sulfida lebih dominan dengan pelepasan oksigen
23
dari tanaman, terutama dilapisan permukaan. Dengan demikian, penurunan potensi redoks dengan kedalaman mungkin terkait untuk kerapatan yang lebih rendah dari akar tanaman dilapisan lebih dalam. Spesies mangrove mampu mengubah potensial redoks (yaitu oleh oksidasi) dari sedimen dengan memindahkan oksigen yang diserap pada struktur tanah atas untuk dibawah ke akar tanah (Mckee et al., 1988; Mckee, 1993). Ritvo et al. (2003) menyatakan bahwa reaksi reduksi kebanyakan melibatkan konsumsi ion hidrogen menyebabkan peningkatan pH. Nilai pH pada suatu perairan akan mempengaruhi sebaran faktor kimia perairan. Hal ini juga akan mempengaruhi sebaran organisme yang metabolismenya bergantung pada sebaran faktor-faktor kimia tersebut (Odum, 1993). Standar baku mutu toleransi organisme terhadap pH air laut
normal, berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup KEP
No.51/MENLH/I/2004 berkisar antara 7-8,5. Berdasarkan hal tersebut maka dapat diasumsikan bahwa kisaran pH air interstisial pada sedimen mangrove dan perairan laut yang terdapat di lokasi penelitian masih sesuai dengan standar baku mutu air untuk menunjang kehidupan makrobentos. Oleh sebab itu pH yang kurang dari 5 dan lebih besar dari 9 menciptakan kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan. Menurut Effendi (2003), nilai pH sangat mempengaruhi proses biokimiawi perairan, misalnya proses nitrifikasi akan berakhir jika pH rendah.
Oksigen Terlarut (DO)
Analisis rata-rata oksigen terlarut (DO) air interstisial pada sedimen mangrove untuk semua stasiun penelitian tidak berbeda yaitu 1,52±0,01– 1,53±0,00 mg/l. Kandungan rata-rata DO air interstisial pada sedimen mangrove cukup rendah. Sedangkan rata-rata kandungan oksigen terlarut (DO) pada air laut cukup tinggi berkisar 2,35±0,83-5,10±0,06 mg/l. Kandungan oksigen terlarut pada stasiun B arah laut (5,10±0,06 mg/l) masih termasuk dalam kisaran normal sedangkan stasiun A arah mangrove (1,52±0,01 mg/l) kandungan oksigen terlarutnya cukup rendah (Gambar 7).
Kandungan oksigen terlarut air interstisial pada sedimen mangrove cenderung lebih rendah dari pada air laut. Tinggi dan rendahnya kandungan oksigen terlarut terjadi karena substrat tanah banyak terdiri atas endapan lumpur halus berwarna hitam yang berasal dari pembusukan serasah mangrove maupun sedimen lumpur dari darat, yang mengalami percampuran menjadi satu saat pasang dan surut air laut. Sumbangan bahan organik baik dari darat dan alami ini banyak menghasilkan bahan organik berupa lumpur yang cenderung lebih tinggi, sehingga kebutuhan oksigen terlarut juga relatif lebih kecil. Endapan lumpur yang lunak dan halus ini mungkin saja tidak memberikan ruang atau sedikit terjadinya penguraian oksigen terlarut ke tanah. Menurut Kep No.51/MENLH/2004, bahwa konsentrasi oksigen terlarut air laut yaitu >5 mg/l. Konsentrasi oksigen terlarut bervariasi menurut waktu, musim, kesuburan tanah dan organisme akuatik. Konsentrasi oksigen terlarut harian tertinggi dicapai pada siang hari dan rendah pada malam hari (Rachmawani, 2007). Nurgayah (2011) menyatakan bahwa kandungan oksigen terlarut di bawah 2 mg/l dapat menyebabkan kematian bagi organisme.
Rendahnya kandungan oksigen terlarut pada hutan mangrove, erat hubungannya dengan tingkat pengendapan sedimen lumpur yang cukup tinggi sehingga menyebabkan kekeruhan perairan, perbedaan suhu serta salinitas yang tinggi. Konsentrasi oksigen terlarut dalam perairan dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya suhu, salinitas serta proses dekomposisi dan respirasi organisme (Tis’in, 2008). Menurut Muchtar & Azkab (1998), faktor yang mengendalikan gas-gas terlarut termasuk oksigen dalam laut ialah suhu dan salinitas. Banyaknya oksigen yang dapat terlarut ditentukan oleh dua faktor utama yaitu suhu dan salinitas, oksigen mudah terlarut pada suhu 0°C sekitar 10 ml/l. Sedangkan jika suhu naik 30°C akan terjadi kejenuhan oksigen sekitar 5,6 ml/l. Penurunan kadar oksigen yang disebabkan oleh kenaikan suhu dan salinitas mungkin tidak begitu serius, tetapi sangat sensitif pada bentuk kehidupan yang ekstrim terhadap turun-naiknya suhu dan konsentrasi oksigen terutama pada daerah pasang surut.
Struktur Komunitas Makrobentos
Komposisi dan Sebaran Makrobentos
25
Gambar 8 Komposisi spesies (sp) dan jumlah individu (ind) biota makrobentos pada masing-masing stasiun penelitian
Kondisi fisika-kimia lingkungan mangrove dan air laut lebih berpengaruh terhadap kepadatan infauna (bivalvia) dan epifauna (gastropoda) yang ditemukan pada lokasi penelitian. Makrobentos yang berasosiasi dengan hutan mangrove dan laut yang berbeda tipe habitatnya dan juga berbeda dari kandungan sedimen lumpurnya, juga ditemukan beberapa spesies makrobentos yang sama. Hal ini dapat dilihat bahwa makrobentos yang ditemukan pada ke tiga stasiun penelitian baik pada sedimen mangrove dan laut memiliki komposisi spesies yang bervariasi. Menurut Cappenberg & Panggabean (2005), selain pemangsaan atau kompetitor, lingkungan fisik dan kimia perairan yang kurang baik dapat menyebabkan terjadinya perbedaan dalam hal kepadatan maupun jumlah jenis. Pada stasiun A (Desa Sidodadi) arah mangrove ditemukan (58 ind) sedangkan arah laut ditemukan (308 ind), kemudian stasiun B (Teluk Lampung) arah mangrove ditemukan (105 ind) dan arah laut (298 ind) sedangkan stasiun C (Desa Hanura) ditemukan (102 ind) dan arah laut (336 ind) spesies makrobentos. Keseluruhan komposisi spesies makrobentos baik infauna (bivalvia, polychaeta) dan epifauna (gastropoda dan crustacea) dapat dilihat pada Lampiran 15.
Komposisi kelas makrobentos yang ditemukan selama pengambilan sampel terdiri dalam empat kelas, yaitu gastropoda, bivalvia, krustacea dan polychaeta. Jumlah individu makrobentos yang didapat pada masing-masing stasiun menunjukkan nilai yang berbeda-beda. Nilai persentase komposisi kelas makrobentos pada stasiun penelitian dapat dilihat pada Gambar 9. Kehadiran jenis makrobentos pada semua stasiun di dominasi oleh kelas bivalvia, juga ditemukan jenis makrobentos dari kelas gastropoda yang memiliki persentase tinggi pada stasiun B sebesar (44%). Sedangkan kelas krustacea dan polychaeta ditemukan dalam jumlah persentase jenis yang rendah untuk semua stasiun pengamatan.
Komposisi kelas makrobentos yang paling banyak didapat adalah jenis bivalvia dengan persentase tertinggi terdapat pada stasiun C (55%) dan terendah pada stasiun B (48%). Jenis yang banyak ditemukan adalah genus Donaxscortum,
Callista chione. Jenis Bivalvia dan gastropoda, selain disebabkan oleh komposisinya di alam berbeda juga erat kaitannya dengan kemampuan membenamkan diri ke dalam substrat untuk menghindari hempasan arus terutama pada perairan laut yang berarus besar. Barnes (1980) menyatakan bahwa jenis bivalvia mampu membenamkan diri pada kedalaman 12-25 cm. Banyaknya jenis
bivalvia yang ditemukan di perairan laut karena bivalvia (khususnya Donax scortum) dapat bergerak ke atas dan ke bawah serta membenamkan dirinya di pantai dengan sangat cepat (dalam waktu detik) dan siap untuk mencari makanan pada saat ombak kembali ke laut setelah pecah di pantai (Brafield, 1978). Sedangkan kelompok gastropoda memiliki persentase tertinggi kedua, terdapat di stasiun B (44%) sedangkan persentase terendah terdapat pada stasiun A (30%) ditemukan genus Cerithium sp. dan Terebralia sp. Tallmark (1980) menyatakan bahwa secara keseluruhan gastropoda menunjukkan adaptasi khusus pada beberapa lingkungan yang berbeda-beda di pesisir non-pasang surut, sedimen dasar yang lembut. Pembenahan larva veliger gastropoda sangat tidak teratur dan biasanya hanya terjadi dimana kandungan organik substrat cukup tinggi pada air yang lebih dalam. Gastropoda, khususnya yang berukuran kecil (15 mm) sangat tertarik pada substrat yang kaya detritus, sedangkan yang lebih besar berkumpul di kanion. Perubahan dalam kebiasaan makan dapat menjadi faktor yang mempengaruhi kompetisi intraspesifik antara gastropoda kecil dan besar. Kelompok krustacea dengan persentase tertinggi terdapat pada stasiun A (9%) sedangkan persentase terendah pada stasiun C (3%). Pada kedua stasiun ini tidak ada jenis yang dominan karena jumlah jenis yang hadir cukup kecil, sedangkan kelompok Polychaeta dengan persentase tertinggi terdapat pada stasiun A (9%). Sedangkan persentase terendah terdapat pada stasiun C (2%). Stasiun-stasiun yang ditemukan jenis krustacea dan polychaeta tidak ada yang tinggi karena jumlah kehadiran jenisnya kecil.
27
Gambar 9 Persentase komposisi kelas makrobentos pada stasiun A, B dan C di Desa Hanura, Kecamatan Padang Cermin, Propinsi Lampung
Indeks Dispersi (Pola Sebaran) Makrobentos
Pola sebaran makrobentos yang ada pada ke tiga lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 3. Sebaran makrobentos ini diketahui berdasarkan perhitungan Indeks Morisita (Id), dan selanjutnya di uji dengan uji khi-kuadrat (X2) dan hasilnya dibandingkan dengan nilai tabel khi-kuadrat pada selang kepercayaan 95% (α = 0,05). Data makrobentos yang diambil merupakan data dari 10 spesies dengan jumlah individu paling banyak (dominan) pada tiap lokasi. Hasil perhitungan menunjukkan pola sebaran makrobentos terjadi mengelompok, seragam dan acak. Jenis yang tergolong acak dan seragam (Cerithium asper, Anadara ferruginea, Terebralia palustris, Donax scortum, dan Callista chione). Nybakken (1993) menyatakan bahwa faktor utama yang menentukan pola penyebaran dari hewan bentos adalah interaksi antar populasi. Interaksi tersebut dapat berupa persaingan, pemangsaan serta adanya hubungan antar populasi yang dapat bersifat mutualisme, komensalisme ataupun parasitisme. Faktor lingkungan lain yang dapat mempengaruhi penyebaran makrobentos adalah potensial redok sedimen yang juga erat kaitannya dengan ketersediaan oksigen terlarut dalam sedimen. Jones et al. (1990) menjelaskan bahwa kedalaman dan komposisi sedimen berkorelasi dengan sejumlah faktor fisika dan kimia misalnya pergerakan air, suplai oksigen dan nutrisi mempengaruhi pola penyebaran makrobentos.
Spesies makrobentos dengan pola penyebaran mengelompok, memiliki jumlah individu yang banyak, seperti Cerithium asper dan Callista chione di stasiun A (Desa Sidodadi) arah mangrove sedangkan arah laut terdapat spesies
Cerithium arcticulatum dan Donax scortum, stasiun B (Teluk Lampung) arah mangrove ditemukan spesies Terebralia palustris dan Telescopium telescopium