• Tidak ada hasil yang ditemukan

Efektivitas Strategi Learning Start With a Question (LSQ) Dipadukan dengan Kooperatif Jigsaw II pada Pembelajaran Sistem Reproduksi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Efektivitas Strategi Learning Start With a Question (LSQ) Dipadukan dengan Kooperatif Jigsaw II pada Pembelajaran Sistem Reproduksi"

Copied!
150
0
0

Teks penuh

(1)

EFEKTIVITAS STRATEGI

LEARNING START WITH A QUESTION (LSQ)

DIPADUKAN DENGAN KOOPERATIF JIGSAW II

PADA PEMBELAJARAN SISTEM REPRODUKSI

skripsi

disusun sebagai salah satu syarat

untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Biologi

Oleh Murti Wijayanti

4401406028

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

(2)

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa skripsi saya yang berjudul “Efektivitas Strategi Learning Start With a Question (LSQ) Dipadukan dengan kooperatif Jigsaw II pada Pembelajaran Sistem Reproduksi” disusun berdasarkan hasil penelitian saya dengan arahan dosen pembimbing. Sumber informasi atau kutipan yang berasal atau dikutip dari karya yang telah diterbitkan telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini. Skripsi ini belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar dalam program sejenis di perguruan tinggi manapun.

Semarang, Maret 2011

Murti Wijayanti 4401406028

(3)

PENGESAHAN

Skripsi yang berjudul :

Efektivitas Strategi Learning Start With a Question (LSQ) Dipadukan dengan kooperatif Jigsaw II pada Pembelajaran Sistem Reproduksi

disusun oleh

Nama : Murti Wijayanti NIM : 4401406028

telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi FMIPA Unnes pada tanggal 17 Maret 2011

Panitia :

Ketua Sekretaris

Dr. Kasmadi Imam S, M.S. Dra. Aditya Marianti, M.Si.

19511115 197903 1 001 19671217 199303 2001

Ketua Penguji

Dr. Lisdiana, M.Si. 19591119 198603 2001

Anggota Penguji / Anggota Penguji /

Pembimbing Utama Pembimbing Pendamping

drh. Wulan Christijanti, M.Si. Dra. Endah Peniati, M.Si.

19680911 199603 2001 19651116 199103 2001

(4)

ABSTRAK

Wijayanti, Murti. 2011. Efektivitas Strategi Learning Start With a Question (LSQ) Dipadukan dengan Kooperatif Jigsaw II pada Pembelajaran Sistem Reproduksi. Skripsi, Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Negeri Semarang. drh. Wulan Christijanti, M.Si dan Dra. Endah Peniati, M.Si

Strategi pembelajaran yang tepat perlu diterapkan untuk tercapainya interaksi yang mendukung kegiatan belajar siswa. Akan tetapi dalam pembelajaran penerapan strategi pembelajaran yang memperhatikan aspek kesiapan dan keaktifan siswa belum dilakukan secara maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar antara pembelajaran menggunakan strategi Learning Start With a Question (LSQ) dipadukan dengan kooperatif Jigsaw II, dengan pembelajaran diskusi konvensional, dan efektivitas strategi LSQ dipadukan dengan kooperatif Jigsaw II pada pembelajaran sistem reproduksi.

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan rancangan penelitian Post-Test Only Control Design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IX SMP 1 Kragan kabupaten Rembang, sedangkan sampelnya 2 kelas yaitu kelas IX A sebagai kelas eksperimen dan kelas IX F sebagai kelas kontrol. Sampel diambil dengan teknik random sampling. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah penerapan strategi LSQ dan kopoeratif Jigsaw II, sedangkan variabel terikatnya adalah hasil belajar, kesiapan siswa, dan kemampuan bertanya siswa.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol yang ditunjukkan dengan t hitung 1,943 > t tabel 1,67. Ketuntasan klasikal kelas eksperimen sebesar 88,89% sedangkan kelas kontrol sebesar 63,89%. Aktivitas kelas eksperimen 83,58% lebih besar daripada kelas kontrol yaitu 76,93%, begitu juga dengan motivasi kelas eksperimen sebesar 91,51% yang lebih besar daripada kelas kontrol 88,25%.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran strategi LSQ yang dipadukan dengan kooperatif Jigsaw II efektif diterapkan pada materi sistem reproduksi di SMP 1 Kragan. Saran yang diajukan adalah dalam menngunakan strategi LSQ yang dipadukan dengan kooperatif Jigsaw II lebih mengoptimalkan waktu dan lebih memperdalam materi setelah diskusi.

Kata Kunci : sistem reproduksi, strategi LSQ, kooperatif Jigsaw II

(5)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan laporan penelitian yang berjudul “ Efektivitas Strategi Learning Start With a Question (LSQ) Dipadukan dengan Kooperatif Jigsaw II pada Pembelajaran Sistem Reproduksi”.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan laporan penelitian ini tidak mungkin terwujud tanpa bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dengan segenap kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih dan rasa hormat kepada:

1. Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan studi.

2. Dekan FMIPA Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan ijin untuk melakukan penelitian dan kemudahan dalam penyusunan laporan penelitian ini.

3. Ketua Jurusan Biologi yang telah memberikan kemudahan administrasi dalam penyusunan laporan penelitian ini.

4. drh. Wulan Christijanti, M.Si. selaku dosen pembimbing I dan Dra. Endah Peniati, M.Si. selaku pembimbing II yang dengan tulus dan sabar memberikan bimbingan dan petunjuk yang sangat berharga kepada penulis sehingga penyusunan laporan penelitian ini dapat terselesaikan.

5. Dr. Lisdiana, M.Si. selaku dosen penguji yang telah dengan sabar memberikan bimbingan dan arahankepada penulis dalam menyusun laporan penelitian. 6. Bapak/Ibu dosen jurusan Biologi dan seluruh staf administrasi di UNNES

termasuk perpustakaan jurusan Biologi dan perpustakaan pusat UNNES yang telah membantu dan memperlancar penyusunan laporan penelitian ini.

7. Civitas akademik SMP 1 Kragan yang telah berkenan membantu dan bekerja sama dengan penulis dalam melaksanakan penelitian.

8. Siswa kelas IX A, IX E, dan IX F SMP I Kragan yang telah membantu dan berkenan menjadi sampel dalam penelitian.

(6)

9. Bapak Suhadi dan Ibu Sri Wiyati sebagai orang tua penulis, mas Didik, mbak Fatma, mbak Rindi dan mas Misbah atas kasih sayang, semangat, dan doanya yang selalu mengiringi setiap langkah penulis.

10. Semua teman-teman Bio‟06 khususnya rombel 1, teman-teman KKN, PPL, dan teman-teman kos ”Griya Ayu” yang telah memberikan semangat penulis dalam menyelesaikan laporan penelitian ini.

11. Ahmad Mahardian N. atas pengertian dan semangat yang diberikan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan laporan penelitian ini.

12. Semua pihak dan instansi yang telah membantu penulis selama penelitian dan penyusunan laporan penelitian ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan laporan penelitian ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik, saran yang membangun dari semua pihak sangat penulis harapkan demi kesempurnaan skripsi ini. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya.

Semarang, Maret 2011 Penulis

Murti Wijayanti 4401406028

(7)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

PERNYATAAN KEASLIAN ... ii

PENGESAHAN ... iii

ABSTRAK ... iv

KATAPENGANTAR ... v

DAFTARISI ... vii

DAFTARTABEL ... ix

DAFTARLAMPIRAN ... x

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 3

C. Penegasan Istilah ... 4

D. Tujuan Penelitian ... 5

E. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II TINJAUAN USTAKA DAN HIPOTESIS A. Tinjauan Pustaka ... 6

B. Hipotesis ... 17

BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 18

B. Populasi dan Sampel ... 18

C. Variabel Penelitian ... 18

D. Rancangan Penelitian ... 18

E. Prosedur Penelitian... 19

F. Data dan Metode Pengumpulan Data ... 24

G. Metode Analisis Data ... 25

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 29

B. Pembahasan ... 35

(8)

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan ... 45

B. Saran ... 45

DAFTAR PUSTAKA ... 46

LAMPIRAN ... 49

(9)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Skenario pembelajaran metode LSQ dengan kooperatif Jigsaw II

pada materi sistem reproduksi ... 13

2. Perbandingan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen pada pembelajaran strategi LSQ dipadukan dengan kooperatif Jigsaw II materi sistem reroduksi ... 18

3. Hasil uji validitas soal uji coba ... 19

4. Kriteria daya pembeda soal ... 20

5. Hasil daya pembeda soal uji coba ... 21

6. Kriteria tingkat kesukaran soal ... 21

7. Hasil analisis tingkat kesukaran soal uji coba ... 21

8. Pelaksanaan penelitian pembelajaran materi sistem reproduksi di kelas kontrol dan di kelas eksperimen ... 23

9. Aktivitas siswa kelas eksperimen (IXA) dan kelas kontrol (IXF) dalam pembelajaran strategi LSQ dipadukan dengan kooperatif Jigsaw II materi sistem reproduksi di SMP 1 Kragan... 30

10. Perbandingan jumlah siswa yang aktif dan sangat aktif antara kelas eksperimen (IXA) dan kelas kontrol (IXF) ... 31

11. Kesiapan siswa kelas eksperimen (IXA SMP 1 Kragan) dalam pembelajaran LSQ dipadukan dengan kooperatif Jigsaw II materi sistem reproduksi ... 31

12. Kemampuan bertanya siswa kelas eksperimen (IXA SMP 1 Kragan) dalam pembelajaran LSQ dipadukan dengan kooperatif Jigsaw II materi sistem reproduksi ... 32

13. Kemampuan membuat resume kelas eksperimen (IXA SMP 1 Kragan) dalam pembelajaran LSQ dipadukan dengan kooperatif Jigsaw II materi sistem reproduksi ... 33

14. Motivasi siswa kelas eksperimen (IXA) dan kelas kontrol (IXF) pada strategi LSQ dipadukan dengan kooperatif Jigsaw II materi sistem reproduksi ... 33

15. Hasil belajar siswa kelas eksperimen (IXA) dan kelas kontrol (IXF) pada pembelajaran LSQ dipadukan dengan kooperatif Jigsaw II materi sistem reproduksi ... 34

16. Hasil perhitungan uji kesamaan dua varians data hasil belajar siswa kelas eksperimen (IXA) dan kelas kontrol (IXF) pada pembelajaran sistem reproduksi dengan strategi LSQ dipadukan dengan kooperatif Jigsaw II ... 34

(10)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Uji Homogenitas Data ... 49

2. Uji Normalitas Data ... 50

3. Analisis Validitas, Daya Pembeda, Tingkat Kesukaran dan Reliabilitas Soal ... 52

4. Silabus ... 60

5. RPP Kelas Eksperimen ... 62

6. LDS dan Kisi-Kisi Jawaban LDS Kelas Eksperimen ... 71

7. Hasil Resume Siswa ... 78

8. RPP Kelas Kontrol ... 80

9. LDS dan Kisi-Kisi Jawaban LDS Kelas Kontrol ... 86

10. Instrumen Pengamatan Keaktifan Siswa Kelas Eksperimen ... 100

11. Rekapitulasi Aktivitas Siswa Kelas Eksperimen ... 101

12. Instrumen Pengamatan Keaktifan Siswa Kelas Kontrol ... 104

13. Rekapitulasi Aktivitas Siswa Kelas Kontrol ... 105

14. Instrumen Kesiapan Siswa ... 108

15. Rekapitulasi Kesiapan Siswa Kelas Eksperimen ... 109

16. Penilaian Kemampuan Bertanya Siswa ... 112

17. Rekapitulasi Kemampuan Bertanya Siswa ... 113

18. Kisi-Kisi Penilaian Rangkuman Siswa ... 116

19. Rekapitulasi Hasil Resume Siswa... 117

20. Kisi-Kisi Soal Uji Kompetensi Siswa ... 118

21. Soal Uji Kompetensi ... 119

22. Daftar Nilai Akhir Kelas Eksperimen ... 125

23. Daftar Nilai Akhir Kelas Kontrol ... 126

24. Uji Perbedaan Dua Rata-Rata Data Nilai Hasil Belajar (Akhir) Antara Kelompok Eksperimen dan Kontrol ... 127

25. Lembar Angket Motivasi Siswa Kelas Eksperimen ... 128

26. Rekapitulasi Motivasi Siswa Kelas Eksperimen ... 129

27. Lembar Angket Motivasi Siswa Kelas Kontrol ... 131

(11)

29. Tanggapan Guru Terhadap Pembelajaran ... 134

30. Usulan Penetapan Dosen Pembimbing ... 135

31. Surat Ijin Penelitian... 136

32. Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian ... 137

33. Foto-Foto Penelitian ... 138

(12)

BAB I

PENDAHULUAN

A. LatarBelakang

Perkembangan dalam dunia pendidikan menuntut adanya perubahan dalam paradigma pengajaran. Paradigma lama yang menganggap guru sebagai sumber ilmu bagi siswa perlu dirubah. Dalam menyusun dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar, perlu didasarkan pada pemikiran bahwa siswa tidak menerima pengetahuan dari guru secara pasif, tetapi pengetahuan itu ditemukan, dibentuk dan dikembangkan oleh siswa secara aktif. Pembelajaran adalah interaksi pribadi antara guru dan siswa (Lie 2008). Guru perlu menerapkan strategi yang tepat dalam pembelajaran untuk tercapainya interaksi yang mendukung kegiatan belajar siswa.

Strategi pembelajaran berperan dalam perencanaan pembelajaran yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam pembelajaran yang disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien (Dharma 2008).

Berkaitan dengan strategi pembelajaran Zaini dkk. (2002) dalam bukunya “Strategi Pembelajaran Aktif di Perguruan Tinggi” memperkenalkan salah satu strategi pembelajaran yang bertujuan untuk menjadikan siswa menjadi aktif dalam pembelajaran. Salah satu strategi pembelajaran tersebut adalah strategi

Learning Start with a Question (LSQ). Melalui Strategi Learning Start with a Question, siswa di tuntut untuk aktif dalam bertanya, siswa diminta untuk mempelajari materi yang akan dipelajarinya, yaitu dengan membaca terlebih dahulu. Membaca sebelum materi diajarkan akan membuat siswa memiliki gambaran tentang materi yang akan dipelajari, sehingga apabila dalam membaca atau membahas materi tersebut terjadi kesalahan konsep akan terlihat dan dapat dibahas serta dibenarkan secara bersama-sama. Charyanti (2006) dalam

(13)

penelitianya yang berjudul peningkatan pemahaman siswa kelas VIII B SMP Negeri 10 Cirebon terhadap konsep sistem gerak pada manusia dan hewan dengan penerapan strategi LSQ dan IS (Information Search) menyatakan bahwa pembelajaran dengan menggunakan strategi LSQ dan IS dapat digunakan untuk membantu meningkatkan pemahaman siswa dalam mempelajari konsep sistem gerak pada manusia dan hewan.

Berdasarkan hasil observasi awal di SMP 1 Kragan kabupaten Rembang, diketahui bahwa penerapan strategi pembelajaran belum dilakukan secara maksimal. Guru dan murid belum dapat bersama-sama terlibat dalam pembelajaran. Kesiapan siswa dalam mengikuti pelajaran masih kurang diperhatikan. Hal ini dibuktikan dengan hasil angket yang diisi siswa, dan diketahui bahwa siswa belum terbiasa membaca terlebih dahulu materi yang akan diajarkan, yaitu sekitar 70,6 % siswa yang mengaku hanya membaca materi setelah materi tersebut diajarkan.

Pembelajaran LSQ yang telah diterapkan pada penelitian sebelumnya, Chotimah (2008), memiliki kelemahan yaitu ada beberapa siswa yang tidak mampu bertanya, bahkan cenderung banyak diam dalam pembelajaran. Oleh karena itu pada penelitian ini peneliti akan menerapkan metode diskusi kelompok. Pada metode diskusi kelompok, pertanyaan dan jawaban akan dibahas dalam diskusi kelompok. Terdapat beberapa macam metode pembelajaran diskusi, salah satunya adalah pembelajaran Jigsaw II.

Ciri khusus pembelajaran Jigsaw II adalah dibentuknya kelompok asal dan kelompok ahli. Pada kelompok ahli siswa berdiskusi mengenai suatu topik khusus, kemudian di kelompok asal siswa kembali bertukar pikiran dari hasil diskusi dengan kelompok ahli. Salah satu kelebihan pembelajaran Jigsaw II adalah dapat membantu memberdayakan setiap peserta didik untuk lebih bertangung jawab dalam belajar. Selain itu dalam pembelajaran ini, setiap anggota kelompok memiliki tugasnya masing-masing (Chotimah 2009).

(14)

suasana belajar yang bermakna karena siswa dapat secara aktif bekerjasama dengan sesama siswa dalam suasana gotong-royong dalam upaya menggali informasi dan meningkatkan kemampun berkomunikasi untuk meningkatkan pemahaman pada materi pelajaran yang sedang dipelajari.

Materi sistem reproduksi membahas mengenai perkembangan dan kematangan reproduksi pada manusia. Siswa kelas IX umumnya berada pada tahap awal pubertas, sehingga diharapkan akan muncul sejumlah pertanyaan yang terkait dengan masalah reproduksi. Pembahasan materi melalui diskusi kelompok diharapkan dapat membantu siswa lebih leluasa mengajukan pertanyaan.

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang pembelajaran yang dapat meningkatkan kesiapan dan aktivitas siswa yang berimplikasi meningkatnya pemahaman dan hasil belajar siswa. Strategi Learning Start with a Question (LSQ) merupakan salah satu strategi pembelajaran yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran. Sedangkan untuk menarik aktivitas dan motivasi siswa dalam belajar digunakan model pembelajaran diskusi kelompok tipe Jigsaw II. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji efektivitas pembelajaran menggunakan strategi Learning Start with a Question (LSQ) dipadukan dengan kooperatif Jigsaw II pada pembelajaran sistem reproduksi di SMP 1 Kragan.

B. Rumusan Masalah

Masalah yang dihadapi dalam penelitian ini yaitu:

1. Adakah perbedaan hasil belajar antara pembelajaran menggunakan strategi

Learning Start With a Question (LSQ) dipadukan dengan kooperatif Jigsaw II, dengan pembelajaran diskusi konvensional?

2. Apakah strategi Learning Start with a Question (LSQ) dipadukan dengan kooperatif Jigsaw II efektif digunakan pada pembelajaran sistem reproduksi di SMP 1 Kragan?

C. Penegasan Istilah 1. Efektivitas

(15)

yang memuaskan (KBBI 1992). Efektivitas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tercapainya tujuan pembelajaran yaitu minimal 75% siswa memperoleh hasil belajar ≥65, dan minimal 80% siswa terlibat aktif serta termotivasi dalam mengikuti pembelajaran.

2. Strategi Learning Start with a Question (LSQ)

Strategi Learning Start with a Question selanjutnya disebut LSQ merupakan suatu strategi pembelajaran menuntut siswa untuk aktif dalam bertanya, siswa diminta untuk mempelajari materi sebelum pembelajaran dilakukan. Strategi ini juga menuntut siswa untuk membuat resume materi dan daftar pertanyaan (Zaini dkk. 2002). Pada penelitian ini, resume materi dan daftar pertanyaan dibahas dalam diskusi kelompok, yaitu tiap siswa menyampaikan dan menjawab pertanyaan secara berkelompok.

3. Kooperatif Jigsaw II

Menurut Lie (2008) pembelajaran kooperatif adalah sistem pembelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerjasama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur. Diskusi kelompok yang digunakan adalah tipe Jigsaw II, yang merupakan penyempurnaan dari pembelajaran Jigsaw yang dikembangkan oleh Elliot Aronson dan koleganya.

4. Materi sistem reproduksi

Konsep sistem reproduksi pada manusia dan hewan adalah suatu topik atau materi dalam mata pelajaran biologi kelas IX semester 1 dengan standar kompetensi memahami berbagai sistem dalam kehidupan manusia, dan kompetensi dasar mendiskripsikan sistem reproduksi dan penyakit yang berhubungan dengan sistem reproduksi pada manusia. Materi ini membahas tentang organ reproduksi pada pria dan wanita, siklus menstruasi dan tahap perkembangan janin, serta kelainan dan penyakit yang terjadi pada sistem reproduksi manusia.

D. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk:

(16)

2. Mengkaji efektivitas strategi Learning Start With a Question (LSQ) dipadukan dengan kooperatif Jigsaw II pada pembelajaran materi sistem reproduksi di SMP 1 Kragan

E. Manfaat Penelitian

Hasil dari pelaksanaan penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat:

1. Bagi siswa, yaitu siswa: lebih siap dalam mengikuti pembelajaran, aktif bertanya dan menyampaikan pendapat dalam pembelajaran serta dapat terlibat aktif dalam pembelajaran.

2. Bagi guru, yaitu sebagai motivasi untuk lebih meningkatkan ketrampilan memilih strategi pembelajaran yang bervariasi, sesuai dengan materi yang diajarkan dan dapat memperbaiki sistem pembelajaran, sehingga dapat memberikan pelayanan yang lebih baik kepada siswa yang sesuai dengan meteri, serta menambah wawasan guru dalam menggunakan strategi dan metode yang cocok pada pembelajaran biologi.

(17)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS

A Tinjauan Pustaka

1. Proses Belajar Mengajar

Pendidikan merupakan proses yang berfungsi membimbing siswa dari tidak tahu menjadi tahu dan membimbing perkembangan diri sesuai dengan tugas-tugas perkembangan yang harus dijalankan oleh siswa. Menurut Sudjana (1989) proses belajar mengajar adalah kegiatan belajar mengajar yang menghasilkan suatu interaksi antara siswa dengan guru dalam mencapai suatu tujuan pembelajaran. Dalam hal ini guru tidak hanya sebagai penyampai informasi semata tetapi juga berperan sebagai: (a) Pembimbing, yaitu guru hanya memberikan bantuan dan bimbingan kepada siswa agar dapat belajar (b) Pemimpin, yaitu guru menentukan kemana kegiatan siswa akan diarahkan (c) Fasilitator, yaitu guru menyediakan fasilitas yang dapat menciptakan kondisi lingkungan sebagai sumber bagi siswa untk melakukan kegiatan belajar.

Proses belajar mengajar selanjutnya disebut dengan istilah pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Interaksi berarti pengaruh timbal balik, saling mempengaruhi satu sama lain. Ciri utama pembelajaran adalah inisiasi, fasilitasi, dan peningkatan proses belajar siswa serta adanya komponen-komponen yang saling berkaitan satu sama lain. Komponen tersebut adalah tujuan, materi, kegiatan dan evaluasi pembelajaran. Tujuan pembelajaran mengacu pada kemampuan atau kompetensi yang diharapkan dimiliki siswa setelah mengikuti suatu pembelajaran tertentu. Untuk mencapai tujuan yang diinginkan dalam suatu proses belajar mengajar secara aktif dan efisien, maka seorang guru harus dapat memilih metode dan media secara tepat untuk menyampaikan materi yang akan dibahas (Winataputra 1997).

Tujuan dalam proses belajar mengajar merupakan komponen utama yang harus ditetapkan dalam proses pembelajaran yang mana berfungsi sebagai indikator keberhasilan proses belajar mengajar (Sudjana 2002). Untuk mengetahui apakah suatu tujuan dari proses belajar mengajar berhasil apa tidak,

(18)

maka seorang guru harus melakukan suatu uji coba berupa uji kompetensi siswa di akhir pembelajaran. Tes di sini berfungsi sebagai tolok ukur dari hasil belajar mengajar.

Hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku/perilaku yang diperoleh siswa setelah mengalami aktivitas belajar. Perubahan perilaku tersebut berupa penguasaan konsep yang ia pelajari. Dalam pembelajaran, perubahan perilaku yang harus dicapai oleh siswa setelah melaksanakan aktivitas belajar dirumuskan dalam tujuan pembelajaran (Anni 2004). Hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah perubahan kemampuan diri siswa yang ditandai dengan kemampuan siswa memecahkan permasalahan yang belum dipahaminya dan penguasaan siswa terhadap konsep sistem reproduksi. Siswa termotivasi untuk lebih berperan aktif dalam pembelajaran terkait dengan materi yang dikuasainya dan ketertarikan siswa terhadap proses pembelajaran yang berlangsung.

Hamalik (2003) menyatakan bahwa pengajaran yang efektif adalah pengajaran yang menyediakan kesempatan belajar sendiri atau melakukan aktivitas sendiri. Meskipun dalam pengajaran tradisional asas aktivitas juga dilaksanakan namun aktivitas tersebut bersifat semu (aktivitas semu). Pengajaran modern tidak menolak seluruhnya pendapat tersebut namun lebih menitikberatkan pada asas aktivitas sejati. Siswa belajar sambil beraktivitas. Dengan beraktivitas mereka memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan aspek-aspek tingkah laku lainnya, serta mengembangkan keterampilan yang bermakna untuk hidup di masyarakat.

Salah satu faktor pendukung agar kemampuan intelektual yang dimiliki siswa dapat berfungsi secara optimal adalah adanya motivasi untuk berprestasi yang tinggi dalam dirinya. Motivasi siswa untuk berprestasi adalah faktor yang sangat menentukan prestasi belajar siswa itu sendiri. Sering dijumpai siswa yang memiliki intelegensi yang tinggi tetapi prestasi belajar yang dicapainya rendah, akibat kemampuan intelektual yang dimilikinya tidak/kurang berfungsi secara optimal (Hardjo dan Badjuri 1999).

(19)

inilah yang disebut dengan motivasi. Motivasi dalam hal ini meliputi dua hal: (a) mengetahui apa yang akan dipelajari; dan (b) memahami mengapa hal tersebut patut dipelajari. Dengan berpijak pada kedua unsur motivasi inilah sebagai dasar permulaan yang baik untuk belajar. Sebab tanpa motivasi (tidak mengerti apa yang akan dipelajari dan tidak memahami mengapa hal itu perlu dipelajari) kegiatan belajar mengajar sulit untuk berhasil. Hasil belajar akan menjadi optimal, jika ada motivasi. Jadi motivasi akan senantiasa memenuhi intensitas usaha belajar bagi para siswa.

Adalah menjadi tanggung jawab guru agar pengajaran yang diberikannya berhasil dengan baik. Keberhasilan ini banyak bergantung pada usaha guru membangkitkan motivasi belajar murid (Hamalik 2003). Dalam garis besarnya motivasi dalam pembelajaran mengandung nilai-nilai sebagai berikut:

a) Motivasi menentukan tingkat keberhasilan atau gagalnya perbuatan belajar murid. Belajar tanpa adanya motivasi kiranya sulit untuk berhasil.

b) Pengajaran yang bermotivasi pada hakikatnya adalah pengajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan, dorongan, motif, minat yang ada pada murid. c) Pengajaran yang bermotivasi menuntut kreativitas dan imajinasi guru untuk berusaha secara sungguh-sungguh mencari cara-cara yang relevan dan sesuai guna membangkitkan dan memelihara motivasi belajar siswa.

d) Berhasil atau gagalnya dalam membangkitkan dan menggunakan motivasi dalam pengajaran erat pertaliannya dengan pengaturan disiplin kelas.

e) Asas motivasi menjadi salah satu bagian yang integral daripada asas-asas mengajar. Penggunaan asas motivasi adalah sangat esensial dalam proses belajar mengajar.

2. Strategi Pembelajaran LSQ

(20)

terjadi kesalahan konsep akan terlihat dan dapat dibahas serta dibenarkan secara bersama-sama (Zaini dkk. 2002).

Chin (2001) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa pertanyaan siswa akan mempengaruhi tingkat kedalaman materi yang menentukan pemilihan pendekatan dalam pembelajaran. Terdapat dua jenis pertanyaan, yaitu pertanyaan mengenai informasi yang umum dan pertanyaan yang dapat merangsang keingintahuan siswa. Apabila pertanyaan siswa menyangkut keingintahuan diperlukan pendekatan yang mendalam terhadap materi.

Guru memberikan pertanyaan kepada para siswa untuk mengetahui pemahaman siswa, untuk mendorong siswa berpikir, dan untuk menyusun serta mengarahkan pembelajaran. Pertanyaan digunakan oleh guru sebagai alat diagnosa dalam menentukan tingkat pengajaran yang diperlukan siswa untuk memulai pelajaran. Pertanyaan merupakan metode yang utama untuk mengetahui pemahaman siswa. Pertanyaan bisa diberikan dalam satu rangkaian cepat untuk membahas ulang isi pelajaran atau digunakan sebagai evaluasi akhir dari pembelajaran siswa (Hall 2008).

Sardiman (2006) menyatakan bahwa pertanyaan dalam interaksi belajar-mengajar adalah penting karena dapat menjadi perangsang yang mendorong siswa untuk giat berpikir dan belajar, membangkitkan pengertian baru. Guru dapat menyelidiki penguasaan siswa, mendorong pengetahuan dalam situasi lain, mengarahkan dan menarik perhatian siswa, mengubah pendirian, kepercayaan, atau prasangka yang keliru. Guru harus tepat dalam merumuskan pertanyaan agar siswa dapat mencari jawaban yang tepat. Suatu pertanyaan yang baik mempunyai ciri-ciri: a) kalimatnya singkat dan jelas; b) tujuannya jelas, tidak terlalu umum dan luas; c) setiap pertanyaan hanya untuk satu masalah; d) mendorong anak untuk berpikir; e) jawaban yang diharapkan bukan sekedar ya atau tidak; f) bahasa dalam pertanyaan dikenal baik oleh siswa; dan g) tidak menimbulkan tafsiran ganda.

(21)

sifatnya mengarahkan ini merupakan salah satu jenis pertanyaan yang baik yang dirancang untuk mendorong siswa agar terlibat secara aktif dalam pembelajaran sehingga siswa dirangsang untuk berpikir dan melakukan kegiatan bermakna. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Rahman (2010) diketahui bahwa pembelajaran yang menggunakan pertanyaan pengarah lebih baik dari pembelajaran tanpa menggunakan pertanyaan pengarah. Pembelajaran menggunakan pertanyaan pengarah tergolong efektif sedangkan yang tanpa pertanyaan pengarah kurang efektif dan terdapat perbedaan yang signifikan.

Langkah-langkah pembelajaran LSQ menurut Zaini dkk. (2002) adalah sebagai berikut: a) Guru memberi tahu terlebih dahulu materi apa yang akan dibahas b) Guru meminta siswa untuk mempelajarinya dirumah materi yang akan dipelajari dan meminta siswa untuk menuliskan atau memberi tanda pada bagian bacaan yang tidak dipahaminya c) Guru meminta siswa untuk bertanya materi yang kurang dipahami pada saat membaca d) Guru mulai melakukan kegiatan sesuai yang direncanakan di dalam Rancangan Pembelajaran (RP).

Berdasar kepada penelitian yang telah dilakukan oleh Chotimah (2008) kelemahan strategi LSQ yaitu ada beberapa siswa yang tidak mampu bertanya, bahkan cenderung banyak diam dalam pembelajaran. Langkah yang dilaukan untuk mengatasi masalah tersebut yaitu dengan guru memberi bimbingan/ pengarahan kepada siswa untuk mengerjakan tugas di rumah sebagai penguatan materi. Sedangkan pada penelitian ini, peneliti akan menerapkan metode diskusi kelompok untuk mengatasi masalah tersebut. Dalam diskusi, siswa akan menyampaikan sejumlah pertanyan kepada teman sekelompoknya, dan menyampaikan pertanyaan tersebut kepada kelompok lain. Dengan demikian, penyampaian pertanyaan dan jawaban akan berlangsung antar kelompok.

3. Pembelajaran Kooperatif Jigsaw II

(22)

apabila menerapkan lima unsur model pembelajaran kooperatif, diantaranya saling ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, tatap muka, komunikasi antar anggota, dan evaluasi proses kelompok.

Slavin (2008), pada metode pembelajaran kooperatif siswa bekerja sama dalam belajar dan bertanggung jawab terhadap teman satu timnya mampu membuat diri siswa belajar sama baiknya. Konsep penting dalam pembelajaran kooperatif, diantaranya tanggung jawab individu dan kesempatan sukses yang sama. Tanggung jawab individu maksudnya adalah bahwa kesuksesan tim bergantung pada pembelajaran individual dari semua anggota tim. Tanggung jawab difokuskan pada kegiatan anggota tim dalam membantu satu sama lain untuk belajar dan memastikan bahwa tiap orang dalam tim siap untuk mengerjakan permasalahan yang diberikan guru. Kesempatan sukses yang sama maksudnya, bahwa semua siswa memberi kontribusi kepada timnya dengan cara meningkatkan kinerja mereka dari yang sebelumnya.

Lie (2008), pengelompokan heterogenitas (kemacamragaman) merupakan ciri-ciri yang menonjol dalam metode pembelajaran kooperatif. Kelompok heterogen bisa dibentuk dengan memperhatikan keanekaragaman gender, latar belakang agama sosio-ekonomi dan etnik, serta kemampuan akademis. Dalam hal kemampuan akademis, kelompok pembelajaran kooperatif biasanya terdiri dari satu orang berkemampuan akademis tinggi, dua orang dengan kemampuan sedang, dan satu lainnya dari kelompok kemampuan akademis kurang.

(23)

membaca tersebut. Setelah membaca seluruh materi, para ahli dari tim berbeda bertemu untuk mendiskusikan topik yang sedang mereka bahas, lalu kembali kepada timnya untuk mengajarkan topik mereka itu kepada teman satu timnya.

Pada strategi pembelajaran Jigsaw, setiap anggota kelompok asal mempelajari satu materi pembelajaran yang menjadi tanggung jawabnya. Sedangkan pada strategi pembelajaran Jigsaw II, setiap anggota kelompok asal mempelajari semua materi pelajaran (Chotimah 2009).

Adapun langkah-langkah pembelajaran kooperatif Jigsaw II menurut Wena (2009) adalah sebagai berikut:

a) Pembentukan kelompok asal: setiap kelompok terdiri dari 4 orang anggota dengan kemampuan yang heterogen.

b) Pembelajaran pada kelompok asal: setiap anggota kelompok mempelajari materi pelajaran, kemudian masing-masing menjalankan tugas secara individual.

c) Pembentukan kelompok ahli: kelompok asal membagi angotanya menjadi ahli dalam suatu sub materi, kemudian masing-masing ahli sub materi yang sama bergabung membentuk kelompok yang baru.

d) Diskusi kelompok ahli: setiap anggota kelompok ahli belajar materi pelajaran sampai mencapai taraf merasa yakin mampu menyampaikan dan memecahkan persoalan yang menyangkut sub materi pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya.

e) Diskusi kelompok asal: anggota kelompok ahli kembali ke kelompok asal masing-masing, kemudian setiap anggota kelompok asal menjelaskan dan menjawab pertanyaan mengenai sub materi pelajaran yang menjadi keahliannya kepada anggota kelompok asalnya. Ini berlangsung secara bergilir sampai seluruh anggota kelompok asal telah mendapatkan giliran. f) Diskusi kelas: dengan dipandu guru diskusi kelas membicarakan

konsep-konsep penting yang menjadi bahan perdebatan dalam diskusi kelompok ahli. Guru berusaha memperbaiki salah konsep pada siswa.

(24)

h) Pemberian penghargaan kelompok: kepada kelompok yang memperoleh jumlah nilai tertinggi diberikan penghargaan berupa piagam dan bonus nilai. Kelebihan strategi pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II adalah a) siswa mengetahui seluruh materi yang akan dipelajari (tidak terbatas hanya materi yang menjadi bagianya); b) siswa tidak terlalu menggantungkan kepada guru, tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berpikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber, dan belajar dari siswa yang lain; c) dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain; d) dapat membantu siswa untuk respek pada orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan; e) membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar; dan f) pada saat kegiatan diskusi kelas, seluruh siswa aktif terlibat karena telah mempelajari seluruh materi (Chotimah 2009).

Berdasarkan langkah-langkah dalam strategi LSQ seperti yang telah dijelaskan oleh Zaini dkk. (2002) dan langkah-langkah pembelajaran kooperatif Jigsaw II oleh Wena (2009) maka dalam penelitian ini tahapan pembelajaran dengan strategi LSQ dipadukan dengan kooperatif Jigsaw II yang diterapkan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Skenario pembelajaran dengan metode LSQ dipadukan dengan kooperatif Jigsaw II materi sistem reproduksi, dimodifikasi dari Zaini dkk. (2002) dan Wena (2009).

Strategi

Fase

pembe-lajaran

Kegiatan yang dilakukan Guru Kegiatan yang dilakukan siswa

LSQ Persiapan materi

Pertanya-an siswa

Guru mewajibkan siswa membaca materi yang akan diajarkan. Guru mewajibkan siswa membuat resum materi dan pertanyaan tentang materi yang dipelajarinya

Guru meminta siswa duduk berkelompok dan menuliskan pertanyaan kelompoknya pada daftar pertanyaan

Siswa membaca materi yang akan diajarkan guru.

Siswa membuat resum materi dan pertanyaan tentang materi yang dipelajarinya

(25)

Strategi

Fase

pembe-lajaran

Kegiatan yang dilakukan Guru Kegiatan yang dilakukan siswa LSQ dan Jigsaw II Jigsaw II Pertanya-an siswa Pembentu kan kelompok ahli Pembentu kan kelompok ahli Diskusi kelompok ahli Diskusi kelompok asal

Guru membacakan sebuah pertanyan dan meminta siswa berdiskusi untuk menjawab pertanyaan. Kelompok yang paling cepat menjawab pertanyaan, dapat

menyampaikan pertanyaan kelompoknya kepada kelompok lain.

Guru membagi materi menjadi sub-sub materi. Guru membagi setiap kelompok menjadi 2 kelompok kecil. Masing-masing kelompok kecil bertanggung jawab atas salah satu pertanyaan yang diperoleh kelompoknya

Guru meminta tiap kelompok kecil mencari kelompok kecil lainnya yang memiliki pertanyaan dengan tema yang sama hingga terbentuk

kelompok tema/kelompok ahli Guru meminta siswa pada kelompok tema/kelompok ahli berdiskusi untuk menyelesaikan permasalahan sesuai dengan temanya.

Guru meminta siswa kembali ke kelompok asal, mendiskusi-kan hal yang diperoleh dari kelompok ahli

Siswa berdiskusi dengan kelompoknya dan menjawab pertanyaan guru. Kelompok yang paling cepat menjawab pertanyaan, menyampaikan pertanyaannya kepada kelompok lain.

Siswa membagi kelomok asalnya menjadi 2, dan menentukan tugas masing-masing anggota kelompok.

Siswa dari kelompok kecil mencari kelompok kecil lain yang memiliki pertanyaan dengan tema yang sama.

Siswa pada kelompok tema/kelompok ahli berdiskusi untuk

menyelesaikan permasalahan sesuai dengan temanya. Siswa kembali ke kelompok asal untuk mendiskusikan hal yang diperoleh dari kelompok ahli

Diskusi kelas

Penjela-san materi

Guru meminta perwakilan kelompok mempresentasikan hasil diskusi

Guru memberikan penjelasan apabila terdapat pertanyaan yang belum terjawab atau terdapat konsep yang belum tepat

Siswa mempresentasikan hasil diskusi

Siswa mendengarkan penjelasan guru

(26)

Gambar 1 Kerangka berpikir penelitian efektivitas strategi Learning Start with a Question (LSQ) dipadukan dengan kooperatif Jigsaw II pada pembelajaran materi sistem reproduksi di SMP 1 Kragan

Siswa belum terlibat aktif dalam proses belajar mengajar

Kooperatif Jigsaw II

Minimal 75% siswa memperoleh hasil belajar ≥65

Minimal 80% siswa terlibat aktif serta termotivasi dalam mengikuti pelajaran

 Siswa memperoleh bekal pengetahuan

 Siswa lebih siap untuk mengikuti pembelajaran

Pembelajaran Efektif

Pembelajaran materi sistem reproduksi

Siswa belum membaca materi yang akan disampaikan

Siswa kesulitan memahami materi Penyampaian materi dilakukan secara ceramah

Strategi LSQ

Siswa bekerja dalam kelompok. Pertanyaan disampaikan dalam diskusi kelompok

Setiap anggota memiliki tugas masing-masing

Siswa dituntut untuk mempelajari materi terlebih dahulu Siswa membuat resume dan

daftar pertanyaan mengenai hal yang belum dipahami

Pembelajaran dipusatkan pada materi yang belum dipahami siswa

Siswa lebih mudah memahami materi Siswa aktif dalam pembelajaran

Bekal pengetahuan siwa tentang materi sistem reproduksi masih kurang

Proses belajar mengajar Beberapa siswa malu bertanya

(27)

B Hipotesis

Berdasarkan kerangka berfikir di atas, maka dapat disusun hipotesis sebagai berikut :

1. Ada perbedaan hasil belajar antara pembelajaran menggunakan strategi

Learning Start With a Question (LSQ) dipadukan dengan kooperatif Jigsaw II, dengan pembelajaran diskusi konvensional

(28)

BAB III

METODE PENELITIAN

A Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di SMP 1 Kragan, kabupaten Rembang Jawa Tengah, pada semester gasal tahun ajaran 2010/2011.

B Populasi dan Sampel

Populasi yang diambil pada penelitian ini adalah seluruh kelas IX SMP 1 Kragan yang terdiri dari delapan kelas yang sebelumnya telah di uji homogenitas. Sampel diambil menggunakan teknik cluster random sampling. Penentuan kelas kontrol dan eksperimen dilakukan secara acak (random) dengan teknik undian sehingga diperoleh kelas IX A sebagai kelas eksperimen dan kelas IX F sebagai kelas kontrol.

C Variabel Penelitian

Variabel yang muncul dalam penelitian ini adalah variabel bebas, variabel terikat dan variabel kendali.

variabel bebas: penerapan strategi LSQ dan kooeratif Jigsaw II variabel terikat: hasil belajar, aktivitas dan motivasi siswa

variabel kendali: guru matapelajaran, jumlah jam pelajaran dan materi sistem reproduksi

D Rancangan Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan menggunakan Post-Test Only Control Design, yaitu dengan melihat pencapaian antara kelompok eksperimen 01 dengan pencapaian kelompok kontrol 02. Rancangan penelitian yang dibuat adalah sebagai berikut :

Keterangan:

E : kelompok eksperimen K : kelompok kontrol

X1 : pembelajaran strategi LSQ dipadukan dengan kooperatif Jigsaw II X2 : pembelajaran metode ceramah dan diskusi konvensional

01 : post-test pada kelompok eksperimen 02 : post-test pada kelompok kontrol

E X1 01

K X2 02

(29)

Perbandingan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2 Perbandingan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen pada pembelajaran strategi LSQ dipadukan dengan kooperatif Jigsaw II materi sistem reroduksi

Aspek yang

dibandingkan Kelas kontrol Kelas eksperimen Jumlah jam pelajaran 6 x 40 menit 6 x 40 menit Metode/ strategi

Media Hasil belajar

Ceramah, diskusi konvensional Slide power point

(1nilai harian)+(2nilai ulangan)

LSQ, kooperatif Jigsaw II Slide power point

(1nilai harian)+(2nilai ulangan)

E Prosedur Penelitian

1. Tahap Persiapan

a. Menyusun silabus dan RPP untuk kelas kontrol dan eksperimen.

b. Membuat lembar observasi aktivitas, motivasi, kesiapan, kemampuan bertanya dan membuat resume siswa. Lembar observasi aktivitas siswa untuk kelas kontrol berbeda dengan kelas eksperimen, disesuaikan dengan metode pembelajaran yang diterapkan pada masing-masing kelas. Lembar motivasi siswa digunakan untuk mengetahui motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran yang diterapkan guru. Lembar kesiapan siswa digunakan untuk mengetahui sejauh mana siswa berhasil mempersiapkan diri untuk mengikuti pelajaran. Lembar kemampuan bertanya digunakan untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa dalam membuat pertanyaan. Sedangkan lembar kemampuan membuat resume digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam meresume materi.

c. Validasi lembar observasi aktivitas dan motivasi siswa oleh dosen pembimbing

d. Membuat soal evaluasi. Baik soal evaluasi untuk kelas kontrol maupun kelas eksperimen dibuat sama.

(30)

1) Validitas

Arikunto (2002) mengatakan bahwa suatu tes dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang hendak diukur. Cara menghitung validitas butir soal tes dalam penelitian ini dilakukan dengan cara mengkorelasikan skor total dengan menggunakan rumus korelasi product moment dengan angka kasar (rxy).

 

2 2

2

 

2

    Y Y N X X N Y X XY N rxy Keterangan:

rxy : koofisien korelasi X : skor tiap butir soal

Y : skor total yang benar dari tiap subjeks N : jumlah subjek

Harga r yang diperoleh dikonsultasikan dengan r tabel product moment dengan taraf signifikan 5%. Jika harga r hitung >r tabel product moment maka item soal yang diuji bersifat valid.

[image:30.595.137.509.228.615.2]

Hasil perhitungan validitas dapat dilihat pada tabel 3 berikut ini : Tabel 3 Hasil uji validitas soal uji coba

Uji Validitas Nomor Soal Jumlah

Valid

Tidak valid

1, 2, 3, 4, 5, 8, 9, 10, 12, 13, 14, 15, 17, 18, 20, 21, 22, 23, 25, 26, 27, 28, 29, 31, 32, 34, 36, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45

6, 7, 11, 16, 19, 24, 30, 33, 35, 37

35

10 Perhitungan selengkapnya terdapat pada lampiran 8

2) Reliabilitas

(31)

            kVt M k M k k r 1 1 11 Keterangan:

r11 : reliabilitas instrumen k : banyaknya butir soal M : means atau rerata skor total Vt : varians skor total

Σpq : jumlah perkalian antara p dan q N : jumlah siswa

Harga r11 selanjutnya dikonsultasikan dengan tabel r product moment dengan taraf signifikan 5% jika r11>r tabel jika berlaku sebaliknya (Arikunto 1998). Untuk n= 35 diperoleh r tabel = 0,334. Dari hasil perhitungan untuk seluruh item soal diperoleh harga r hitung sebesar 0,848. Karena r hitung > r tabel maka alat ukur tersebut sudah reliabel. Perhitungan reliabilitas dapat dilihat pada lampiran

3) Daya pembeda

Daya pembeda soal adalah kemampuan susatu soal untuk membedakan siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang bodoh (berkemampuan rendah). Angka yang menunjukan besarnya daya pembeda disebut indeks diskriminasi disingkat D, dan dinyatakan dengan rumus :

JB BB JA BA D 

Keterangan : D : daya pembeda

JA : banyaknya peserta tes kelompok atas JB : banyaknya peserta tes kelompok bawah

BA : banyaknya peserta tes kelompok atas yang menjawab soal dengan benar

[image:31.595.135.509.219.723.2]

BB : banyaknya peserta tes kelompok bawah yang menjawab soal dengan benar (Arikunto,1997).

Tabel 4 Kriteria daya pembeda soal

Interval D Kriteria

(32)
[image:32.595.134.512.138.734.2]

Hasil analisis daya pembeda pada soal uji coba dapat dilihat pada tabel 5 berikut ini:

Tabel 5 Hasil daya pembeda soal uji coba

Daya Pembeda Nomor Soal Jumlah

Jelek Cukup Baik

4, 6, 7, 9, 11, 16, 17, 19, 22, 24, 30, 33, 35, 37, 38

2, 3, 5, 8, 12, 14, 15, 18, 26, 28, 31, 32, 34, 36, 42, 43, 45

1, 10, 13, 20, 21, 23, 25, 27, 29, 39, 40, 41, 44

15 18 12 Perhitungan selengkapnya terdapat pada lampiran 8

4) Tingkat kesukaran

Tingkat kesukaran, yaitu persentase jumlah siswa yang menjawab soal dengan benar. Besarnya indeks dapat dihitung dengan rumus :

JS B p

Keterangan :

P : indeks kesukaran soal

B : banyaknya jawaban yang benar

JS : jumlah siswa peserta tes (Arikunto, 2002)

Kriteria tingkat kesukaran soal berdasarkan Arikunto (2002), dapat dilihat pada tabel 6.

Tabel 6 Kriteria tingkat kesukaran soal

Interval P Kriteria

0,00 sampai 0,30 Sukar

0,31 sampai 0,70 Sedang

0,71 sampai 1,00 Mudah

Hasil analisis tingkat kesukaran soal dapat dilihat pada tabel 7 berikut ini:

Tabel 7 Hasil analisis tingkat kesukaran soal uji coba

Tingkat Kesukaran Nomor Soal Jumlah

Sukar Sedang Mudah

17, 24, 30, 33, 37, 40

1, 2, 3, 8, 10, 14, 19, 20, 21, 23, 26, 29, 31, 32, 39, 44

4, 5, 6, 7, 9, 11, 12, 13, 15, 16, 18, 22, 25, 27, 28, 34, 35, 36, 38, 41, 42, 43, 45

6 16 23

(33)

f. Penentuan sampel. Sampel diambil secara acak dengan teknik clustor random sampling diperoleh dua kelas dari delapan kelas yang ada. Demikian juga penentuan kelompok kontrol dan eksperimen dilakukan secara acak (cluster random sampling). Untuk itu dilakukan uji homogenitas dan uji normalitas sampel yang diambil.

1) Uji normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data yang diambil berdistribusi normal atau tidak. Untuk melakukan uji normalitas digunakan uji Chi-square (Chi kuadrat), dengan H0: tidak ada perbedaan antara kelas kontrol dengan kelas eksperimen, yang berarti data berdistribusi normal, sedangkan HA: ada perbedaan antara kelas kontrol dan kelas eksperimen, yang berarti data tidak berdistribusi normal. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :

  k

i i

i i

E E O X

1

2 2

Keterangan: X2 : chi kuadrat

Oi : frekuensi pengamatan Ei : frekuensi harapan

k : banyaknya kelas interval

Harga X2 dikonsultasikan dengan X2 tabel untuk mengetahui apakah H0 ditolak atau diterima. Derajat kebebasan (dk) yang digunakan didapat dari rumus dk= jumlah kategori-1. Berdasarkan hasil perhitungan normalitas untuk kelas eksperimen diperoleh harga X2 hitung sebesar 1,5261, sedangkan kelas kontrol X2 hitung sebesar 1,3480. X2 tabel pada aras 5% sebasar 7,81. Karena X2 hitung < X2 tabel maka H0 diterima, artinya data berdistribusi normal.

2) Uji homogenitas

(34)

 2 2 log 1 10

ln B ni si

X

 1 2 1

2

i i

i s n

n s

 logs2 ni 1 B

Keterangan :

S2 : varian gabungan B : koefisien Barleth

N : banyaknya anggota dalam tiap kelas

ln 10 : 2,3026. ln merupakan logaritma asli dari bilangan 10

Kriteria Ho diterima jika x2hitung ≤ x2 tabel, jika sebaliknya maka Ha diterima. Kedua kelompok homogen jika x2 ≤ x2 (1-α) (k-1) denga dk = k-3 dengan taraf signifikansi 5%. Harga X2 dikonsultasikan dengan X2 tabel untuk mengetahui apakah H0 ditolak atau diterima. Derajat kebebasan (dk) yang digunakan didapat dari rumus dk= jumlah kategori-1. Berdasarkan hasil perhitungan homogenitas diperoleh harga X2 hitung sebesar 0,728, sedangkan X2 tabel pada aras 5% sebasar 3,84. Karena X2 hitung < X2 tabel maka H0 diterima, sehingga tidah ada perbedaan antara kelas kontrol dan kelas eksperimen. Artinya kedua kelas homogen.

2. Tahapan Pelaksanaan

Penelitian dilaksanakan di SMP 1 Kragan dengan mengambil dua kelas dari delapan kelas IX yang ada. Adapun tahapan pelaksanaan penelitian dapat dilihat pada tabel 5.

Tabel 8 Pelaksanaan penelitian pembelajaran materi sistem reroduksi di kelas kontrol dan di kelas eksperimen

No Kelas Kontrol Kelas Eksperimen 1 Melaksanakan pembelajaran dengan

metode ceramah dan diskusi konvensional.

Melaksanakan pembelajaran dengan strategi LSQ dan diskusi Jigsaw II 2 Pengamatan aktivitas siswa dalam

pembelajaran

Pengamatan kesiapan,

aktivitas,kemampuan membuat resume dan kemampuan bertanya siswa dalam pembelajaran 4 Evaluasi di akhir pembelajaran

untuk mengetahui hasil belajar siswa

Evaluasi di akhir pembelajaran untuk mengetahui hasil belajar siswa 5 Menyebar angket motivasi siswa Menyebar angket motivasi siswa

[image:34.595.123.510.295.731.2]
(35)

3. Menganalisis Data

Data yang diperoleh selama pelaksanaan penelitian dianalisis dengan menggunakan rumus tertentu. Data hasil belajar dilakukan analisis tingkat individual dan tingkat klasikal untuk mengetahui prosentase kelulusan siswa pada materi sistem reproduksi. Data aktivtas, kemampuan bertanya, motivasi, kesiapan siswa, kemampuan meresume materi serta kinerja guru selama pembelajaran digunakan analisis deskriptif kualitatif.

4. Pembahasan dan Penarikan Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data, disusun pembahasan mengenai hasil penelitian serta faktor-faktor yang mempengaruhi hasil penelitian tersebut. Penarikan kesimpulan disusun berdasarkan pembahasan.

F Data dan Metode Pengumpulan Data

Sumber data berasal dari siswa dan guru. Jenis data dan metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:

a. hasil belajar siswa, diperoleh dari nilai harian dan nilai tes akhir siswa b. aktivitas siswa dalam pembelajaran, diperoleh dari lembar observasi

keaktifan siswa yang meliputi data tentang keaktifan siswa dalam mengikuti penjelasan guru, diskusi kelompok, peran siswa dalam diskusi, serta sikap siswa selama pembelajaran berlangsung.

c. kesiapan siswa mengikuti pelajaran, diperoleh dari lembar pengamatan kesiapan siswa.

d. kemampuan bertanya siswa, diperoleh dari lembar pengamatan kemampuan bertanya siswa yang berbentuk daftar cheklist.

e. kemamuan meresume materi, diperoleh dari nilai hasil resume siswa f. motivasi siswa, diperoleh dari angket motivasi siswa.

g. tanggapan guru mata pelajaran terhadap strategi LSQ diadukan dengan kooperatif jigsaw II

G Metode Analisis Data 1. Analisis hasil belajar siswa

(36)

 

3 2

1 NH NU

NA   

Keterangan: NA : nilai akhir

NH : nilai harian (nilai tugas individu, hasil diskusi kelompok) NU : nilai hasil ulangan

Ketuntasan hasil belajar siswa secara klasikal dapat dihitung menggunakan rumus: % 100  

n ni P Keterangan:

P : ketuntasan klasikal

∑ni : jumlah siswa yang tuntas (memperoleh nilai ≥65) ∑n : jumlah seluruh siswa

Untuk mengetahui apakah ada perbedaan hasil belajar antara kelas kontrol dan eksperimen, dilakukan uji perbedaan rata-rata. Uji ini dilakukan dengan membandingkan rata-rata hasil belajar siswa antara kelas kontrol dan kelas eksperimen dengan menggunakan t-test (uji t), dengan H0: tidak ada perbedaan antara kelas kontrol dan kelas eksperimen dan HA: ada perbedaan antara kelas kontrol dan kelas eksperimen. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :

2 1 2 1 1 1 n n S X X t   

2 1 1 2 1 2 2 2 2 1 1       n n S n S n S

Harga t dikonsultasikan dengan t tabel dengan taraf nyata  0,05 untuk mengetahui apakah HA ditolak atau diterima. Apabila nilai t hitung > t tabel, maka HA diterima dan H0 ditolak. Derajat kebebasan (dk) yang digunakan didapat dari rumus dk=(n1-n2)-2.

2. Analisis aktivitas siswa

[image:36.595.136.510.86.647.2]
(37)

% 100

N X P

Keterangan:

P : persentase keaktifan

Σx : jumlah siswa yang tergolong dalam kriteria aktif dan sangat aktif N : jumlah seluruh siswa

Kriteria keaktifan siswa: Sangat aktif 21 - 24

Aktif 18 - 20

Kurang Aktif 15 - 17 Tidak Aktif 12 – 14

3. Analisis kesiapan siswa

Kesiapan siswa secara individual dikelompokkan dalam kriteria sebagai berikut:

Siap 14 - 16

Kurang siap 11 - 13 Tidak siap 8 - 10

Analisis kesiapan siswa secara klasikal dapat dihitung dengan mengggunakan rumus:

% 100

N X P

Keterangan:

P : persentase kesiapan siswa

Σx : jumlah siswa yang tergolong dalam suatu kriteria (siap, kurang siap atau tidak siap)

N : jumlah seluruh siswa

4. Analisis kemampuan bertanya siswa

Kemampuan bertanya siswa dinilai dengan daftar cheklist. Kemampuan bertanya siswa dikelompokkan ke dalam eberapa criteria sebagai berikut:

Sangat Tinggi 15 - 18 Tinggi 11 - 14 Kurang 8 – 10

(38)

% 100  

N X P Keterangan:

P : persentase kesiapan siswa

Σx : jumlah siswa yang tergolong dalam suatu kriteria tinggi dan sangat tinggi

N : jumlah seluruh siswa

5. Analisis hasil resume siswa

Hasil resume siswa dikelompokkan ke dalam beberapa kategori sebagai berikut:

Sangat baik, apabila memperoleh nilai A Baik, apabila memperoleh nilai AB dan B

Kurang Baik, apabila memperoleh nilai BC dab C

Analisis hasil resume siswa secara klasikal dapat dihitung dengan mengunakan rumus: % 100  

N X P Keterangan:

P : persentase kesiapan siswa

Σx : jumlah siswa yang tergolong dalam suatu kriteria (sangat baik, baik, atau kurang baik)

N : jumlah seluruh siswa

6. Analisis motivasi siswa

Analisis data motivasi siswa secara klasikal dilakukan dengan menghitung rata-rata motivasi siswa setiap pembelajaran, dengan rumus sebagai berikut: % 100  

N X P Keterangan:

P : persentase motivasi siswa

Σx : jumlah siswa yang tergolong dalam kriteria termotivasi dan sangat termotivasi

(39)
(40)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di SMP 1 Kragan kabupaten Rembang, pada sampel penelitian kelas IX A sebagai kelas eksperimen dan kelas IX F sebagai kelas kontrol diperoleh data berupa aktivitas siswa, kesiapan siswa, kemampuan bertanya siswa, kemampuan membuat resume, motivasi siswa dan hasil belajar siswa, serta data tanggapan guru mata pelajaran sebagai data pendukung. Data tentang kesiapan siswa, kemampuan bertanya siswa dan kemampuan membuat resume hanya diambil dari kelas eksperimen, karena data tersbut merupakan karakteristik strategi LSQ yang hanya diterapkan di kelas eksperimen. Adapun hasil penelitian yang diperoleh, akan diuraikan sebagai berikut:

1. Aktivitas belajar siswa

Aktifitas siswa dalam pembelajaran diamati dengan lembar observasi yang berbeda. Perbedaan terletak pada beberapa aspek yang merupakan ciri khas strategi LSQ dan kooperatif Jigsaw II yang tidak ada pada pembelajaran di kelas kontrol. Namun, untuk memudahkan dalam membandingkan, aspek-aspek keaktifan yang sama akan dikelompokkan menjadi satu. Data aktivitas belajar siswa kelas IX A dan IX E selama proses pembelajaran disajikan dalam tabel 9.

(41)

Tabel 9 Aktivitas siswa kelas eksperimen (IXA) dan kelas kontrol (IXF) pada strategi LSQ dipadukan dengan kooperatif Jigsaw II materi sistem reproduksi di SMP 1 Kragan

Aspek yang diamati Rata-rata (%) Eksperimen Kontrol Aspek diamati di kelas eksperimen dan kelas kontrol

1 Menyiapkan buku pelajaran/bahan belajar lain yang

relevan di awal pembelajaran 93,67 77,67 2 Memperhatikan penjelasan guru 89,33 85,33 3 Terlibat aktif dalam mengerjakan tugas kelompoknya 93,00 72,00 4 Mengemukakan pendapat dalam diskusi 83,00 77,33

5 Mengajukan pertanyaan 75,00 74,33

6 Mempresentasikan hasil diskusi 67,00 67,00 7 Membuat rangkuman hasil diskusi 71,00 67,00 8 Terlibat aktif dalam menyimpulkan materi 96,67 93,67

Rata-rata 83,58 76,93

Aspek diamati di kelas eksperimen

9 Membuat ringkasan dan daftar pertanyaan 100 - 10 Menyampaikan pertanyaan individu dalam diskusi

kelompok 75 -

11 Menyampaikan pertanyaan kelompoknya kepada

kelompok lain 75 -

Data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 12 dan 14

Berdasarkan tabel 9, dapat dilihat bahwa ≥ 80% siswa kelas eksperimen terlibat dalam berbagai aktivitas selama pembelajaran. Keterlibatan siswa yang masih rendah adalah pada aspek mempresentasikan hasil diskusi, dan membuat rangkuman hasil diskusi. Sedangkan pada kelas kontrol siswa kurang terlibat dalam mengerjakan LDS, mempresentasikan hasil diskusi dan membuat rangkuman hasil diskusi. Pada kelas kontrol siswa tidak diminta membuat ringkasan dan daftar pertanyaan, menyampaikan pertanyaan individu dalam diskusi kelompok maupun menyampaikan pertanyaan kelompoknya kepada kelompok lain.

[image:41.595.119.515.127.652.2]
(42)

Tabel 10 Perbandingan jumlah siswa yang aktif dan sangat aktif antara kelas eksperimen (IXA) dan kelas kontol (IXF)

Kriteria aktivitas

Kelas eksperimen (pertemuan)

Kelas kontrol (pertemuan) I II III

Rata-rata I II III

Rata-rata Siswa yang aktif dan

sangat aktif 30 32 31 31 27 22 20 23 Persentase 83,33 88,89 86,11 86,11 75,00 61,11 55,56 63,89

Data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 12 dan 14

Berdasarkan tabel 10 dapat diketahui bahwa rata-rata jumlah siswa aktif dan sangat aktif pada kelas ekprerimen lebih banyak daipada kelas kontrol.

2. Kesiapan siswa

Data kesiapan siswa untuk mengikuti pembelajaran diperoleh dari hasil observasi kelas IX A yang menjadi kelas eksperimen. Kesiapan siswa merupakan kelebihan pada pembelajaran strategi LSQ sehingga hanya diamati pada kelas eksperimen. Hasil observasi kesiapan siswa untuk mengikuti proses pembelajaran disajikan dalam tabel 11.

Tabel 11 Kesiapan siswa kelas eksperimen (IXA SMP 1 Kragan) pada strategi LSQ dipadukan dengan kooperatif Jigsaw II materi sistem reproduksi

Aspek yang diamati Pertemuan (%) Rata-rata (%) I II III

1 Membawa buku pelajaran Biologi wajib 100 100 100 100 2 Membawa buku paket Biologi lain yang

relevan 88,9 81,9 87,5 86,1

3 Membawa buku catatan Biologi 100 97,2 97,2 98,13 4 Membuka buku di awal pembelajaran tanpa

instruksi dari guru 86,1 90,3 87,5 87,97 5 Terlibat menjawab pertanyaan guru pada saat

apersepsi 84,7 86,1 81,9 84,23

6 Membuat rangkuman materi yang akan

dipelajari 100 100 100 100

7 Menjawab pertanyaan guru dengan benar 84,7 83,3 84,7 84,23 8 Mengajukan pertanyaan yang relevan dengan

materi 81,9 88,9 94,4 86,07

Rata-rata 90,79 90,96 91,65 87,67 Data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 16

[image:42.595.124.520.118.230.2] [image:42.595.120.516.230.678.2]
(43)

3. Kemampuan bertanya siswa

Data kemampuan bertanya siswa diperoleh dari hasil observasi kelas IX A yang menjadi kelas eksperimen. Kemampuan bertanya siswa merupakan kelebihan pembelajaran strategi LSQ sehingga hanya diamati pada kelas eksperimen. Hasil observasi kemampuan bertanya siswa disajikan dalam tabel 12.

Tabel 12 Kemampuan bertanya siswa kelas eksperimen (IXA SMP 1 Kragan) pada strategi LSQ dipadukan dengan kooperatif Jigsaw II materi sistem reproduksi

Aspek yang diamati Pertemuan (%) Rata-rata I II III

1 Pertanyaan sesuai dengan materi yang akan

dibahas 81,9 88,9 94,4 88,4

2 Kalimat pertanyaan jelas singkat dan jelas 91,7 95,8 93,1 93,53 3 Tujuan pertanyaan jelas, tidak terlalu umum

dan luas 72,2 81,9 87,5 80,53

4 Mendorong untuk berpikir 79,2 84,7 88,9 84,27 5 Setiap pertanyaan untuk satu masalah 77,8 76,4 88,9 81,03 6 Jawaban yang diharapkan bukan sekedar ya

atau tidak 97,2 81,9 88,9 89,33

7 Bahasa dalam pertanyaan dikenal baik oleh

siswa 88,9 97,2 93,1 93,07

8 Pertanyaan tidak menimbulkan tafsiran ganda 90,3 88,9 94,4 91,2 Rata-rata 84,9 86,96 91,15 87,67 Data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 18

Tabel 12 menunjukkan bahwa siswa memiliki kemampuan bertanya yang baik pada pembelajaran yang menggunakan strategi LSQ. Kemampuan bertanya siswa kelas eksperimen ada kecenderungan meningkat untuk tiap pertemuan.

4. Kemampuan membuat resume

[image:43.595.117.514.242.669.2]
(44)

Tabel 13 Kemampuan membuat resume kelas eksperimen (IXA SMP 1 Kragan) pada strategi LSQ dipadukan dengan kooperatif Jigsaw II materi sistem reproduksi

Kategori kemampuan membuat resume Pertemuan (%)

Rata-rata

I II III

Baik dan sangat baik (jumlah) 27 33 34 31,33 (persentase) 75% 91,67% 94,44% 87,04 Data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 20

Pada tabel 13 dapat dilihat bahwa pada kelas eksperimen kemampuan membuat resume siswa semakin meningkat dari pertemuan pertama sampai pertemuan ketiga. Pada pertemuan pertama, persentase siswa yang mampu membuat resume dengan kategori baik dan sangat baik kurang dari 80%. Hal ini terjadi karena pada pertemuan pertama, siswa belum dijelaskan tentang kriteria resume yang baik.

5. Motivasi siswa

Data motivasi siswa diperoleh dari hasil angket yang diisi oleh seluruh siswa kelas IX A sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas IX E sebagai kelas kontrol. Pengamatan motivasi siswa dalam pembelajaran dilakukan dengan lembar angket yang berbeda. Untuk memudahkan dalam membandingkan, aspek-aspek keaktifan yang sama akan dikelompokkan menjadi satu golongan. Hasil observasi aspek motivasi siswa untuk mengikuti pembelajaran Biologi disajikan dalam tabel 14.

Tabel 14 Motivasi siswa kelas eksperimen (IXA) dan kelas kontrol (IXF) pada strategi LSQ dipadukan dengan kooperatif Jigsaw II materi sistem reproduksi

Aspek yang diamati

Kelas Eksperimen Kelas Kontrol Jumlah Persentase

(%) Jumlah

Persentase (%)

1 Kehadiran 72 100 72 100

2 Antusias siswa dalam mengikuti

pelajaran 61 84,88 54 74,75

3 Ketertarikan dengan metode

pembelajaran 66 90,5 65 90,25

4 Kemudahan siswa dalam

memahami materi 65 90,67 63 88

Rata-rata - 91,51 - 88,25

Data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 23 dan 25

[image:44.595.118.515.205.697.2]
(45)

memiliki motivasi belajar yang tinggi. Tetapi, pada kelas kontrol antusias siswa dalam mengikuti embelajaran masih rendah.

6. Hasil belajar siswa

Hasil belajar siswa kelas IX A dan IX E SMP 1 Kragan diukur berdasarkan hasil penilaian LDS, tugas individu, dan nilai evaluasi akhir. Hasil belajar siswa yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) untuk materi sistem reproduksi di SMP 1 Kragan. Siswa dinyatakan memenuhi KKM jika hasil belajarnya telah mencapai ≥ 65. Hasil belajar siswa dapat disajikan pada tabel 15.

Tabel 15 Hasil belajar siswa kelas eksperimen (IXA) dan kelas kontrol (IXF) pada strategi LSQ dipadukan dengan kooperatif Jigsaw II materi sistem reproduksi

Nilai Kelas Eksperimen

(n=36)

Kelas Kontrol (n=36)

Rata-rata 73,41 69,76

Tertinggi 88,06 86,11

Terendah 59,44 52,78

Ketuntasan klasikal 88,89% 63,89%

Data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 26 dan 27

Tabel 15 menunjukkan bahwa hasil belajar kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol. Hal tersebut ditunjukkan dengan nilai rata-rata hasil belajar dan ketuntasan belajar kelas eksperimen yang lebih tinggi daripada kelas kontrol.

Untuk mengetahui bahwa hasil belajar kelas eksperimen berbeda dengan hasil belajar kelas kontrol maka dilakukan uji t. Hasil perhitungan uji t disajikan pada tabel 16.

Tabel 16 Hasil perhitungan uji t data hasil belajar siswa kelas eksperimen (IXA) dan kelas kontrol (IXF) pada strategi LSQ dipadukan dengan kooperatif Jigsaw II materi sistem reproduksi

Sumber variasi Kelas eksperimen Kelas kontrol Rata-rata hasil belajar 73,41 69,78 Varians gabungan (S2) 7,97669

thitung 1,943

Ttabel(dk=70, α=5%) 1,67

Data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 26

[image:45.595.115.528.238.686.2]
(46)

t tabel 1,67 sehingga H0 tolak dan HA diterima. Artinya hasil belajar kelas eksperimen berbeda secara signifikan dengan kelas kontrol.

7. Tanggapan guru

Tanggaan guru mata pelajaran Biologi yang mengajar di kelas IX dapat dilihat pada lampiran 29. Berdasarkan tanggapan guru tersebut, guru memberikan pendapat yang positif terhadap pembelajaran yang menggunakan strategi LSQ dipadukan dengan kooperatif Jigsaw II . Menurut guru mata pelajaran, pembelajaran menjadi lebih efektif dan siswa lebih aktif dalam pembelajaran karena telah memiliki bekal pengetahuan terhada materi yang diajarkan. Melalui pembelajaran Kooeratif Jigsaw II, siswa aktif dalam menyampaikan pendapatnya. Kekurangan yang ditemui adalah pengorganisaasian waktu dan penguasaan materi yang tidak merata. Waktu banyak terbuang pada saat siswa akan bergabung dengan kelompok asal dan kembali ke kelompok ahli. Penguasaan materi yang tidak merata, karena siswa lebih terfokus pada permasalahan yang menjadi tanggung jawabnya dan kurang memperhatikan saat siswa lain menjelaskan permasalahan yang lainnya.

B. Pembahasan

Hasil analisis data menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar antara kelas eksperimen yang menggunakan strategi LSQ dipadukan dengan kooperatif Jigsaw II dengan kelas kontrol yang menggunakan strategi ceramah dan diskusi konvensional. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil uji t dengan t hitung 1,943 yang lebih tinggi daripada t tabel 1,67. Dalam penelitian ini perbedaan strategi dan metode pembelajaran merupakan faktor utama yang mempengaruhi hasil belajar siswa. Pada strategi dan metode pembelajaran yang berbeda terdapat berbagai aktivitas dalam pembelajaran yang berbeda pula.

(47)

diharapkan dapat membantu siswa lebih mudah dalam memahami materi yang dibahas selama pembelajaran. Farisi (1999

Gambar

Tabel 1 Skenario pembelajaran dengan metode LSQ dipadukan dengan
Gambar 1  Kerangka berpikir penelitian efektivitas strategi Learning Start with a Question (LSQ) dipadukan dengan kooperatif Jigsaw II pada pembelajaran materi sistem reproduksi di SMP 1 Kragan
Tabel 2  Perbandingan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen pada pembelajaran strategi LSQ dipadukan dengan kooperatif Jigsaw II materi sistem reroduksi
Tabel 3 Hasil uji validitas soal uji coba
+7

Referensi

Dokumen terkait