Bicara Itu Tidak Gratis

Teks penuh

(1)

Antara Janji dan Kepercayaan

Janji itu Bukan Sekedar Bicara; dan Bicara itu Tidak Gratis

Dalam waktu beberapa bulan mendatang, kita kembali akan diramaikan oleh sejumlah Pilkada. Kembali hingar bingar jargon politik dan janji dari para kontestan akan membahana di berbagai daerah kabupaten. Jargon-jargon seperti “Kita Pasti Bisa”, “Bersatu Kita Bangun Daerah”, “Pemerintahan Yang Bersih”, “Berantas Korupsi”, “Reformasi Birokrasi”, dan “Pendidikan Gratis” akan mewarnai kampanye para kontestan. Belum lagi kata-kata seperti “SEMARAK”, “SERASI”, “BERSINAR”, “BERIMAN” yang selama ini menjadi motto bagi sejumlah daerah akan

dikumandangkan. Namun setelah pesta demokrasi daerah usai, maka jarang sekali jargon dan janji yang akan terlaksana sepenuhnya. Bahkan motto daerah yang sudah dibuat sejak jaman orde baru pun, sampai sekarang belum ada yang terbukti keberhasilannya.Semua ini masih hanya dalam batas kata-kata yang diucapkan oleh para kontestan. Bila mereka terpilih, maka semua itu juga akan usai. Semua ini hanya “alat” untuk memperoleh suara. Sungguh amat mengenaskan nasib bangsa dan negara ini.

Semua yang diucapkan oleh para kontestan mempunyai nilai-nilai luhur dan patut dijunjung tinggi untuk dijadikan pedoman dalam melakukan tindakan. Semua janji yang diucapkan oleh para kontestan juga merupakan keinginan dari rakyatnya. Namun, sebagaimana dengan “bicara itu gratis” atau “ngomong itu gampang” atau “NATO = No Action Talk Only”, semua itu hanya tinggal janji yang tidak pernah ditepati. Yang patut ditanyakan di sini, mengapa kita ini mudah sekali mengucapkan janji, padahal kita tidak akan mampu untuk melaksanakannya? Contohnya, “Pendidikan Gratis” telah

dikumandangkan sejak dekade lalu. Namun kenyataannya sampai saat ini, tidak ada pendidikan yang gratis. Bahkan biaya pendidikan semakin tinggi saja. Bagaimana mungkin kita bisa melakukan pendidikan gratis, bilamana pendidik masih juga harus bekerja sambilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya? Dengan pendidikan yang tidak gratis saja nasib para pendidik masih mengenaskan, bagaimana nasib mereka bilamana pendidikan digratiskan? Mungkin pendidikan bisa gratis, tapi para murid akan datang ke sekolah yang tanpa guru, karena pendidik harus mencari nafkah di tempat lain.

Benarkah bicara itu mudah dan gratis? Bukankah ada ungkapan seperti misalnya “mulutmu adalah harimaumu”; “lidahmu adalah pedangmu” atau “silence is golden”?

(2)

anarki ini dapat diperhitungkan sebagai bagian dari beban tanggungjawabnya sebagai akibat tidak memenuhi janji yang bersangkutan.

Dengan kata lain, janji yang diucapkan, harus lah dipahami seperti kartu kredit. Belanja dengan kartu kredit, berarti tidak perlu membayar seketika pada saat belanja. Tapi pada saatnya nanti, tagihan penggunaan kartu kredit akan datang dan harus dibayar. Seberapa besar penggunaan kartu kredit tersebut, jumlah itulah yang harus kita bayar. Boleh dicicil, tapi minimum 10% dan terkena “financial charge” bulanan. Lebih kecil dalam mencicil, semakin besar pula “financial charge” yang harus dibayar, dan semakin lama pula akan dapat melunasi semua tagihan. Demikian pula dengan janji. Bila kita tidak bisa menepati janji, maka suatu ketika pasti harus membayarnya. Kalaupun kita berusaha mencicil pemenuhan janji tersebut, semakin kecil kita penuhi semakin lama pula kita akan bisa memenuhijanji seluruhnya. Sedangkan, waktu yang tersedia untuk membayar janji tersebut tidak dapat kita perhitungkan. Bagi kontestan terpilih, waktu yang tersedia hanya 5 tahun. Bisa diperpanjang, namun pasti juga dengan janji baru pula. Tapi sebagai manusia, dapat meninggalkan dunia kapan saja dan di mana saja.

Bila kita lihat dalam berbagai teori ilmu sosial, suatu hubungan antar manusia bisa terjadi karena adanya komunikasi, terutama komunikasi verbal. Hubungan tersebut akan

menjadi semakin erat bilamana kedua belah pihak sudah bisa saling mempercayai.

Kepercayaan ini dinilai dari keselarasan antara apa yang diucapkan dengan tindakan yang diwujudkan dalam menjalin hubungan. Apapun jenis hubungan sosial yang terbentuk, namun jangka waktu dan intensitas hubungan antara kedua belah pihak tetap dipengaruhi oleh faktor kepercayaan satu pihak terhadap pihak yang lain. Bilamana kepercayaan pihak satu terhadap pihak lain luntur, maka mutu hubungan akan menurun, dan hubungan tersebut dapat berakhir.

Bila seorang kontestan terpilih, maka apa yang dijanjikan pada masa kampanye akan tetap diingat oleh para pemilihnya. Namun bila tidak memenuhi janji tersebut, maka kepercayaan rakyatnya juga tidak dapat dipertahankan. Semakin banyak janji yang tidak dapat diwujudkan, akan semakin rendah kepercayaan rakyat kepadanya. Rendahnya kepercayaan rakyat ini juga dapat mengakibatkan semakin rendahnya penghargaan pemilih terhadap yang terpilih.

Dalam hal pimpinan dengan rakyatnya, tingkat kepercayaan ini juga dapat diukur melalui kesediaan rakyat untuk melakukan hal-hal yang diperintahkan oleh pimpinan. Semakin segan rakyat mematuhi perintah pimpinan, semakin rendah tingkat kepercayaan rakyat terhadap pimpinan. Hal ini disebabkan, karena rakyat beranggapan apa yang dilakukan oleh pimpinan, tidak lagi sesuai dengan apa yang dilakukannya. Pada titik terendah kepercayaan rakyat pada pimpinan, maka akan timbul perasaan apatis, “nothing to lose” yang menjurus kepada perbuatan anarki.

(3)

pendemo terhadap pimpinan masih tinggi. Mudahnya demonstrasi anarkis ini karena rendahnya tingkat kepercayaan terhadap pimpinan.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...