• Tidak ada hasil yang ditemukan

Representasi Hak Muslim Dalam Film Air Mata Fatimah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Representasi Hak Muslim Dalam Film Air Mata Fatimah"

Copied!
106
0
0

Teks penuh

(1)

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

Oleh:

Thabitha Nasthy Dhiraja NIM: 1112051000141

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(2)
(3)
(4)
(5)

ABSTRAK Thabitha Nasthy Dhiraja

NIM: 1112051000141

Representasi Hak Muslim dalam Film Air Mata Fatimah

Film merupakan media komunikasi massa. Film merupakan alat informasi yang bisa menjadi alat penghibur, alat propaganda, juga alat politik. Akan tetapi tidak selalu hal-hal yang ditayangkan dalam film dapat dimengerti tanpa pengamatan yang mendalam. Air Mata Fatimah merupakan film drama religi yang diangkat dari sebuah kisah nyata. Film Air Mata Fatimah ini menggambarkan bagaimana Hamda dan Fatimah anak semata wayangnya yang memperjuangkan hak-hak keIslamannya. Film drama religi ini merupakan film yang berbeda dengan film lainnya, pasalnya film-film lain yang selama ini hadir lebih mengedepankan percintaan dan berbalut religi, sedangkan film Air Mata Fatimah lebih mengedepankan religi sosial.

Pertanyaan penelitian ini adalah bagaimana makna denotasi, konotasi dan mitos yang ada dalam film Air Mata Fatimah? Bagaimana perjuangan seorang anak gadis yang menuntut hak keIslamannya di representasikan film Air Mata Fatimah?

Metodologi penelitian ini adalah paradigma konstruktivisme dan pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Sedangkan Metode penelitian yang digunakan adalah analisis semiotika Roland Barthes. Teknik pengumpulan data dengan wawancara yang diajukan kepada sutradara film Air Mata Fatimah. Teknik observasi berupa pengamatan dan pencatatan dengan cara menonton dan mengamati dialog dan adegan dalam film Air Mata Fatimah, kemudian mencatat dan menganalisisnya. Penulis juga melakukan teknik dokumentasi berupa pengumpulan dokumen-dokumen berupa film Air Mata Fatimah, serta referensi dari artikel, surat kabar, majalah, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan penulisan ini.

Penelitian ini menggunakan teori representasi Stuart Hall dan konsep semiotika Roland Barthes. Menurut Stuart Hall representasi merupakan perwakilan yang menghubungkan makna dan bahasa. Representasi dapat berwujud gambar, kata, cerita yang mewakili ide, emosi, fakta dan sebagainya. Dan bagaimana representasi tersebut dikaitkan dengan semiotika Roland Barthes yang mengembangkan semiotik menjadi dua tataran pertanda tentang makna yang terkandung dalam film. Barthes menjelaskan signifikasi tahap pertama merupakan hubungan penanda dan petanda yang disebut sebagai denotasi, kemudian konotasi adalah istilah untuk menunjukan signifikasi tahap kedua, pada signifikasi tahap kedua yang berhubungan dengan isi, tanda bekerja melalui mitos.

Hasil penulisan mengacu kepada representasi hak muslim yang disampaikan melalui tokoh-tokoh, dialog, perilaku, karakter dan kejadian dalam film Air Mata Fatimah. Penulis menemukan bahwa film ini menggambarkan bagaimana perjuangan seorang gadis muslim yang menuntut hak-haknya yang terdapat dalam scene 21, scene 29-32, scene 43, scene 49-54, scene 55 dan scene 95. Film ini menggambarkan keterbatasan hak seorang gadis muslim dalam kemerdekaan beragama, tidak mendapatkan hak persamaan, dan tidak mendapatkan hak milik dan hak hidup.

(6)

KATA PENGANTAR bismillahirrahmanirrahim,

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Segala puji dan syujur kita panjatkan kepada Allah SWT. Dialah tempat bersandar, dan sumber hidup yang tanpa batas, Rahman dan Rahim tetap menghiasi asma-Nya, sehingga penulis diberikan kekuatan fisik dan psikis untuk dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Representasi Hak Muslim dalam Film Air Mata Fatimah”.

Sholawat serta salam tetap tercurahkan atas penghulu umat Islam Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya, sahabat dan para pengikutnya yang telah membuka pintu keimanan yang bertauhidkan kebenaran dan pencerahan atas kegelapan manusia serta uswatun hasanah yang dijadikan sebuah pelajaran bagi muslim dan muslimah hingga akhir zaman.

Pada kesempatan yang baik ini, izinkan penulis menyampaikan rasa hormat dan ucapan terimakasih pada semua pihak yang dengan tulus ikhlas telah memberikan bantuan dan dorongan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, terutama kepada:

(7)

2. Bapak Drs. Masran, M. Ag, selaku Ketua Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam.

3. Ibu Fita Fathurokhmah, M. Si, Sebagai Dosen Pembimbing Skripsi yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam penyusunan skripsi ini.

4. Bapak Drs. Gun Gun Heryanto, M. Si, Selaku Dosen Penasehat Akademik KPI E angkatan 2012 yang telah memberikan bantuan dalam penyusunan proposal skripsi..

5. Para Dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah mewariskan ilmu kepada penulis selama masa aktif perkuliahan. Semoga ilmu yang Bapak dan Ibu berikan bermanfaat bagi penulis dan menjadi amal baik yang akan terus mengalir.

6. COSMIC PRODUCTION, rumah produksi film Air Mata Fatimah yang telah memberikan izinnya kepada penulis untuk melakukan penelitian film produksinya. Serta Bapak Bayu Pamungkas Atmojo selaku Sutradara film Air Mata Fatimah yang telah meluangkan waktunya kepada penulis untuk diwawancarai.

7. Para staf Tata Usaha (TU) yang telah membantu surat-menyurat untuk penelitian skripsi ini. dan juga para staf perpustakaan yang telah memberikan pelayanan dan fasilitas buku-buku referensi.

(8)

9. Sahabat tercinta, Falah Fachrani, Fitri Permatasari, Mia Kurnia yang selalu memberi dorongan, masukan dan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.

10.Teman-teman seperjuangan KPI E 2012, Mudillah, Aisyah, Sarah, Syifa, Nenden, Dityan, Bilqis, Nufus, dan yang lainnya, yang telah bersama-sama berjuang masuk ke Universitas, dan selalu menjadi tempat bertukar pikiran serta berbagi pengalaman yang berharga selama berada di bangku kuliah.

11.Kawan-kawan KKN Al-Malika yang saat ini tengah berjuang juga menghadapi skripsi di fakultas masing-masing.

12. Dan semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Semoga pasrtisipasi mereka dalam penyelesaian skripsi ini mendapatkan balasan yang baik dari-Nya. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Penulis

(9)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Batasan dan Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 5

D. Tinjauan Pustaka ... 6

E. Metodologi Penelitian ... 7

F. Sistematika Penulisan ... 12

BAB II LANDASAN TEORITIS DAN KERANGKA KONSEP ... 14

A. Teori Representasi Stuart Hall ... 14

B. Ruang Lingkup Semiotika... 17

1. Pengertian Semiotika ... 17

2. Semiotika Roland Barthes ... 20

C. Konsep Hak Seorang muslim ... 22

D. Tinjauan Tentang Film ... 24

1. Pengertian Film ... 24

2. Film Sebagai Media Komunikasi Massa... 26

3. Jenis-Jenis Film ... 26

4. Unsur-Unsur dalam Film ... 28

5. Struktur Film ... 30

BAB III GAMBARAN UMUM FILM AIR MATA FATIMAH ... 33

A. Sekilas Tentang Film Air Mata Fatimah ... 33

B. Sinopsis Film Air Mata Fatimah ... 34

C. Profil Sutradara Film Air Mata Fatimah ... 36

D. Pemain Film Air Mata Fatimah... 36

1. Reyhanna Alhabsyi ... 36

(10)

3. Reza Pahlevi ... 39

4. Oka Sugawa ... 41

5. Dwi Andhika ... 41

6. Jajang C. Noer ... 43

E. Tim Produksi Film Air Mata Fatimah ... 44

BAB IV TEMUAN ANALISIS DATA ... 46

A. Semiotika Cerita dalam Film Air Mata Fatimah ... 46

1. Scene 1 ... 46

2. Scene 2 ... 51

3. Scene 3 ... 61

4. Scene 4 ... 65

5. Scene 5 ... 72

6. Scene 6 ... 76

B. Representasi Makna dalam Film Air Mata Fatimah ... 79

BAB V PENUTUP ... 83

A. Kesimpulan ... 83

B. Kritik dan Saran ... 84

DAFTAR PUSTAKA ... 86

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Scene 1 ... 47

Tabel 4.2 Scene 2 ... 52

Tabel 4.3 Scene 3 ... 61

Tabel 4.4 Scene 4 ... 66

Tabel 4.5 Scene 5 ... 73

(12)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Peta Tanda Roland Barthes ... 21

Gambar 3.1 Bayu Pamungkas Atmodjo ... 36

Gambar 3.2 Reyhanna Alhabsyi ... 36

Gambar 3.3 Anindika Widya ... 38

Gambar 3.4 Reza Pahlevi ... 39

Gambar 3.5 Oka Sugawa... 41

Gambar 3.6 Dwi Andhika ... 41

(13)

1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Komunikasi massa merupakan media yang sangat berpengaruh bagi manusia. Komunikasi massa bekerja seperti jarum hipodermik atau teori peluru yang banyak dicetuskan oleh pakar ilmu komunikasi, di mana kegiatan mengirimkan pesan sama halnya dengan tindakan menyuntikkan obat yang dapat langsung merasuk ke dalam jiwa penerima pesan.1 Salah satu bentuk media komunikasi massa yang paling diminati adalah film, karena melalui film pesan-pesan yang ingin disampaikan komunikator dapat disalurkan dan dapat diterima oleh komunikan dengan baik. Film yang menampilkan dan mempertunjukkan gambar-gambar hidup seolah-olah memindahkan realitas ke atas layar besar. Maka tak heran apabila film menjadi media komunikasi massa yang paling banyak diminati dari dulu hingga saat ini.

Film merupakan karya estetika sekaligus sebagai alat informasi yang bisa menjadi alat penghibur, alat propaganda, juga alat politik. Akan tetapi tidak selalu hal-hal yang ditayangkan dalam adegan pada film dapat dimengerti tanpa ada pengamatan yang mendalam, seringkali adegan yang muncul mengandung pesan yang diwakilkan oleh properti-properti yang di visualisasikan pada tayangan film itu sendiri. Film juga merupakan ekspresi atau pernyataan dari sebuah kebudayaan. Ia juga mencerminkan

1

(14)

dan menyatakan segi-segi yang kadang-kadang kurang jelas terlihat dalam masyarakat.2 Maka dari itu terkadang kita harus lebih teliti dengan apa yang kita tonton sehingga dapat memahami apa yang ingin disampaikan dan dimaksud dari isi sebuah film.

Pembuatan film tidaklah mudah dan tidak sesingkat saat kita menontonnya, tetapi membutuhkan waktu dan proses yang sangat panjang baik proses pemikiran maupun proses teknik. Proses pemikiran berupa pencarian ide atau gagasan cerita yang akan digarap, sedangkan proses teknik berupa keterampilan artistik untuk mewujudkan ide atau gagasan menjadi sebuah film yang siap ditonton. Pencarian ide atau gagasan ini dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti mengangkat kisah dari novel, kisah nyata, cerpen, puisi, dongeng atau bisa juga mengacu pada buku catatan pribadi. Maka film yang diangkat oleh penulis ialah film “Air Mata Fatimah” yang ide ceritanya diambil atau berasal dari sebuah kisah nyata yang pernah terjadi di daerah Sumatera.

Film ini merupakan film drama religi yang mengisahkan tentang perjuangan Hamda dan anak semata wayangnya yang bernama Fatimah. Setiap hari mereka harus berjuang dengan kehidupan yang cukup memprihatinkan. Mereka tersisih dari keramaian penduduk desa dan tinggal di sebuah gubuk kecil di atas bukit yang jauh dari kehidupan perkampungan. Hal ini dikarenakan, Hamda yang berprofesi sebagai wanita tuna susila yang sering dicemooh dan diasingkan oleh warga.

2

(15)

Hamda dan Fatimah yang terbuang menjadi menderita lahir dan batin karena profesi sang Ibu yang hina tersebut.

Suatu hari Hamda mengalami dilema yang sangat serius ketika Fatimah tidak menginginkan baju bagus untuk dikenakan, melainkan ia ingin mempunyai Kitab Suci Al-Quran, mukena, sajadah, dan buku-buku Agama Islam. Tentu saja Hamda yang berprofesi sebagai wanita tuna susila tidak berani membelikan Fatimah alat-alat suci Islam dengan uang hasil ia bekerja. Ketika Hamda dan Fatimah hendak membeli alat-alat suci segera di usir dari toko dan di keroyok massa kampung tersebut karena dianggap tidak pantas untuk membeli barang tersebut mengingat pekerjaan sang ibu. Sebagai seorang muslim maka Fatimah memperjuangkan dan menuntut hak-haknya sebagai seorang muslim yang ingin mempelajari Agama Islam secara mendalam.

(16)

tulisan (tingkah laku) dan sebagainya dilakukan secara sadar dan berencana dalam usaha memengaruhi orang lain, baik secara individu maupun kelompok, agar timbul dalam dirinya suatu pengertian, kesadaran, sikap penghayatan serta pengalaman terrhadap ajaran agama sebagai pesan yang disampaikan kepadanya dengan tanpa unsur-unsur paksaan.3

Dengan latar belakang masalah tersebut, maka peneliti tertarik untuk mengetahui lebih lanjut mengenai makna simbolis mengenai representasi perjuangan gadis muslim yang menuntut hak-hak untuk mempelajari Agama Islam secara mendalam dalam film Air Mata Fatimah. Berdasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian sekaligus dijadikan sebagai judul skripsi yaitu:

“REPRESENTASI HAK MUSLIM DALAM FILM AIR MATA

FATIMAH”

B. Batasan dan Rumusan Masalah

Agar penelitian ini menjadi lebih terarah, maka penulis sengaja membatasi pengambilan adegan-adegan dalam film “Air Mata Fatimah” yang memiliki simbol dan merepresentasikan perjuangan Fatimah yang menuntut hak-haknya, dari total 95 scene menjadi 6 bagian yaitu scene 21, scene 29-32, scene 43, scene 49-54, scene 55 dan scene 95.

Berdasarkan pembatasan masalah tadi, maka dapat dirumuskan masalahnya sebagai berikut:

3

(17)

1. Bagaimana makna denotasi, konotasi, dan mitos dalam film Air Mata Fatimah?

2. Bagaimana perjuangan seorang anak gadis yang menuntut hak keislamannya di representasikan film Air Mata Fatimah?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitianya adalah sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui makna denotasi, konotasi, dan mitos dalam film Air Mata Fatimah.

b. Untuk mengetahui bagaimana perjuangan seorang anak gadis yang menuntut hak keIslamannya di representasikan dalam film Air Mata Fatimah.

2. Manfaat Penelitian

a. Manfaat Akademik

(18)

b. Manfaat Praktis

Adapun manfaat praktis penelitian ini adalah diharapkan bisa memberikan deskripsi dalam membaca makna yang terkandung dalam sebuah film melalui kajian semiotika. Selain itu, dari segi praktis diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat bagi praktisi perfilman terutama untuk memberikan sudut pandang lain dalam melihat sebuah film.

D. Tinjauan Pustaka

Dalam menentukan judul skripsi ini, penulis mengadakan tinjauan kepustakaan yang ada di Perpustakaan Umum dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Adapun beberapa skripsi mahasiswa/i yang hampir serupa, diantaranya yaitu:

1. Skripsi Sita Mawarni Murdiarti (109051000167) dengan judul

“REPRESENTASI SIMBOL KEISLAMAN FILM MATA TERTUTUP

KARYA GARIN NUGROHO”. Dalam skipsi tersebut penulis

(19)

2. Skripsi Meta Yunita Kusuma (109051000152) dengan judul

“REPRESENTASI TOLERANSI UMAT BERAGAMA DALAM

FILM SANG MARTIR”. Dalam skripsi tersebut penulis membahas

tentang representasi toleransi umat beragama dalam film Sang Martir dengan menggunakan metode analisis semiotik Charles Sanders Pierce. Kesamaan pada teori representasi yang digunakanlah yang menjadi alasan penulis menjadikan skripsi tersebut sebagai acuan. Akan tetapi tentu saja selalu terdapat perbedaan skripsi penulis, yaitu dari segi kasus yang diteliti, metode analisis, dan objek penelitiannya. 3. Skripsi Nurmalisa Nazaroni (1110051000114) dengan judul

“SEMIOTIKA JIHAD FI SABILILLAH „IBNU BATTUTAH‟

DALAM FILM JOURNEY TO MECCA”. Skripsi terakhir membahas mengenai analisis semiotik jihad Ibnu Battutah dalam film Journey to Mecca, menggunakan metode semiotika Roland Barthes. Kesamaan dalam menggunakan metode semiotika Roland Barthes lah yang menjadi alasan penulis menjadikan skripsi tersebut sebagai acuan. Sedangkan perbedaan dari skripsi tersebut ialah kasus yang diangkat dan objek yang berbeda.

E. Metodologi Penelitian

1. Paradigma Penelitian

(20)

sebagai hasil konstruksi dari kemampuan berpikir seseorang.4 Maka analisis dalam pandangan kontruktivis ialah menemukan bagaimana realitas dikontruksi dan menggunakan cara apa kontruksi tersebut dibentuk. Paradigma ini dipakai peneliti untuk menggali makna dan pesan yang terkandung dalam film Air Mata Fatimah dan mengkontruksikan pesan-pesan yang ingin disampaikan kepada penonton.

2. Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang pemecahan masalahnya dengan menggunakan data empiris yang bertujuan mengembangkan pengertian tentang individu dan kejadian dengan memperhitungkan konteks yang relevan.5 Penulis akan menggunakan data-data empiris lainnya untuk memberikan makna yang ingin disampaikan dalam film Air Mata Fatimah, agar penafsiran pesan dalam film Air Mata Fatimah tepat dengan isi pesan yang ingin disampaikan.

3. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah menggunakan analisis semiotik model Roland Barthes, yang berfokus pada gagasan tentang signifikasi dua tahap (two order of signification). Yang mana signifikasi tahap pertama merupakan hubungan antara

4

Imam Gunawan, Metode Penelitian Kualitatif Teori & Praktik, (Jakarta; Bumi Aksara, 2013), h.48.

5

(21)

signifer (penanda) dan signinified (petanda) di dalam sebuah tanda terhadap realitas eksternal. Barthes menyebutnya sebagai denotasi, yaitu makna yang paling nyata dari tanda. Konotasi adalah istilah yang digunakan Barthes untuk menunjukkan signifikasi tahap kedua. Pada signifikasi tahap kedua yang berhubungan dengan isi, tanda bekerja melalui mitos (myth). Mitos adalah bagaimana kebudayaan menjelaskan atau memahami beberapa aspek tentang realitas atau gejala alam.6

4. Subjek dan Objek Penelitian

Subjek penelitiannya adalah film Air Mata Fatimah. Adapun objek penelitiannya adalah potongan gambar dan dialog yang mengandung unsur perjuangan hak keislaman seorang anak gadis yang ada dalam film Air Mata Fatimah.

5. Sumber Data a. Data Primer

Data primer berupa data yang diperoleh dari rekaman video film Air Mata Fatimah, yang kemudian dibagi per-scence dan dipilih adegan-adegan sesuai rumusan masalah, yang digunakan untuk penelitian.

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari dokumen, atau literatur-literatur data yang mendukung data primer, seperti

6

(22)

buku yang sesuai dengan penelitian, artikel koran, catatan kuliah, kamus istilah, internet dan sebagainya.

6. Teknik Pengumpulan Data

Dalam memperoleh data penulis menggunakan teknik wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi.

a. Wawancara: Teknik wawancara (interview) adalah teknik pencarian data atau informasi mendalam yang diajukan kepada responden atau informan dalam bentuk pertanyaan.7 Penulis melakukan wawancara kepada pihak terkait, yang dapat membantu penulis guna menggali informasi lebih mendalam yang berkaitan dengan penulisan. Dalam penulisan ini data diperoleh dari wawancara kepada Produser Pelaksana film Air Mata Fatimah yaitu Bayu Pamungkas Atmodjo.

b. Observasi: Observasi merupakan pengamatan dan pencatatan sesuatu objek dengan sistematika fenomena yang diselidiki. Observasi dapat dilakukan sesaat atau pun mungkin dapat diulang.8 Observasi yang melakukan pengamatan secara langsung dan tidak terikat terhadap objek penelitian dan unit analisis dengan cara menonton dan mengamati secara teliti dialog-dialog, serta adegan-adegan dalam film Air Mata Fatimah. Kemudian mencatat, memilih, dan menganalisisnya sesuai dengan model penelitian yang digunakan.

7

Mahi M. Hikmat, Metode Penelitian: Dalam Perspektif Ilmu Komunikasi dan Sastra, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2011), h. 79.

8

(23)

c. Dokumentasi: Teknik dokumentasi adalah pengumpulan dokumen-dokumen berupa film Air Mata Fatimah, serta referensi-referensi yang didapat dari buku, atau artikel-artikel dari internet, surat kabar, majalah, jurnal catatan, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan penulisan ini.

7. Teknik Analisis Data

Setelah data primer dan data sekunder terkumpul, kemudian teknik analisis data diklasifikasikan sebagai berikut:9

a. Reduksi Data: Diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan, perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan tranformasi

data “kasar” yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan.

Reduksi data bukanlah suatu hal yang terpisah dari analisis, ia merupakan bagian dari analisis. Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasi data dengan cara sedemikian rupa hingga kesimpulan-kesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverifikasi.

b. Paparan Data: Tahapan penting yang kedua dari kegiatan analisis adalah penyajian data, penyajian data ialah sekumpulan informasi yang tersusun dan memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Dengan melihat penyajian-penyajian maka akan dapat memahami apa yang sedang terjadi dan apa yang harus dilakukan lebih jauh menganalisis ataukah

9

(24)

mengambil tindakan berdasarkan atas pemahaman yang didapat dari penyajian-penyajian tersebut.

c. Penarikan Kesimpulan (Verifikasi): Kegiatan analisis ketiga yang penting adalah menarik kesimpulan dan verifikasi. Penarikan kesimpulan hanyalah sebagian dari suatu kegiatan dari konfigurasi yang utuh. Kesimpulan-kesimpulan juga diverifikasi selama penelitian berlangsung. Kemudian, dilakukan analisis data dengan menggunakan teknik analisis semiotik Roland Barthes. Dimana Roland mengembangkan semiotik menjadi denotasi, konotasi dan mitos.

F. Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah proses penulisan maka skripsi ini dibagi menjadi lima bab, dengan sistematika sebagai berikut:

BAB I: PENDAHULUAN yang berisi Latar Belakang Masalah, Batasan dan Rumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penilitian, Tinjauan Pustaka, Metodologi Penelitian dan Sistematika Penulisan.

BAB II: LANDASAN TEORITIS DAN KERANGKA KONSEP menjelaskan tentang semiotika, konsep semiotika Roland Barthes, representasi hak muslim, serta tinjauan tentang film.

BAB III: GAMBARAN UMUM menguraikan gambaran umum tentang film Air Mata Fatimah, profil Sutradara film Air Mata Fatimah, tim produksi, dan profil pemain film Air Mata Fatimah.

(25)

identifikasi umum temuan data, makna konotasi, denotasi dan mitos dalam film Air Mata Fatimah dan representasi makna dalam film Air Mata Fatimah.

(26)

BAB II

LANDASAN TEORITIS DAN KERANGKA KONSEP

A. Teori Representasi Stuart Hall

Stuart Hall beragumentasi bahwa representasi dipahami sebagai berikut:10

Representation: Cultural Representation and signifying Practice, “Representation connect meaning and language to culture...representation is an essential part of the process by wich meaning is produced and exchanged between member of culture.” Artinya: Perwakilan budaya dan praktek yang signifikan,

“perwakilan menghubungkan makna dan bahasa atas kebudayaan... perwakilan merupakan bagian penting dari proses yang berarti

dihasilkan dan ditukar diantara para anggota”

Melalui representasi suatu makna diproduksi dan dipertukarkan antar anggota masyarakat. Jadi dapat dikatakan bahwa, representasi secara singkat adalah cara memproduksi makna. Representasi bekerja melalui sistem representasi, sistem ini terdiri dari dua komponen yang penting yakni konsep pikiran dan bahasa. Keduanya saling berkorelasi, konsep dari suatu hal yang diketahui dalam pikiran sehingga dapat mengetahui makna akan hal tersebut, namun tanpa bahasa tidak akan bisa mengkomunikasikannya. Kemudian akan menjadi lebih rumit ketika tidak dapat mengungkapkan hal tersebut dengan bahasa yang dimengerti orang lain.

Sistem representasi yang kedua adalah bekerja pada hubungan antara tanda dan makna. Konsep representasi sendiri bisa berubah-ubah, selalu ada pemaknaan baru. Representasi berubah akibat dari hal tersebut

10

Chris Baker, Cultural Studies: Teori dan Praktek, (Bantul: Kreasi Wacana Offset, 2000), h. 19

(27)

maka makna juga berubah. Setiap waktu terjadi proses negosiasi dalam pemaknaan.

Jadi representasi adalah proses yang terus berkembang seiring dengan kemampuan intelektual dan kebutuhan para pengguna tanda yaitu manusia sendiri yang juga terus bergerak dan berubah. Oleh karena itu yang terpenting dalam sistem representasi adalah bahwa kelompok masyarakat tersebut dapat bertukar makna dengan baik yaitu kelompok masyarakat yang memiliki kesamaan latar belakang pengetahuan, sehingga dapat menciptakan pemahaman yang sama. Menurut Stuart Hall11

Member of same cultural must share concept, images, and ideas which enable them to think and feel about the world in roughly similiar ways. The must share, broadly speaking, the same „cultural codes‟ in this sense, thinking and feeling are themselves „system of respresentation‟.

Artinya: Anggota dari budaya yang sama harus berbagi konsep, gambar, dan ide-ide yang dapat memungkinkan mereka untuk berfikir dan merasakan dunia dengan cara yang hampir sama. Konsep harus berbagi, secara umum, adalah „kode budaya‟ yang sama dalam hal ini, berpikir dan merasakan sendiri yang

merupakan „sistem perwakilan‟.

Berfikir dan merasa menurut Stuart Hall juga merupakan sistem representasi, sebagai sistem representasi maka berfikir dan merasa juga berfungsi untuk memaknai sesuatu. Oleh karena itu untuk dapat melakukan hal tersebut maka diperlukan latar belakang pemahaman yang sama terhadap konsep, gambar, dan ide (cultural code).

Pemahaman terhadap sesuatu benda tersebut dapat sangat berbeda pada lompok lainnya. Karena pada dasarnya masing-masing masyarakat mempunyai cara tersendiri dalam memaknai sesuatu. Suatu kelompok

11

(28)

masyarakat yang memiliki pemahaman yang berbeda dalam memaknai kode-kode budaya tidak akan bisa memahami makna kelompok masyarakat lain. Konsep yang masih abstrak harus diterjemahkan dalam

„bahasa‟ yang lazim, agar dapat dihubungkan antara konsep dan ide-ide

tentang sesuatu dengan tanda dari simbol-simbol tertentu. Media sebagai suatu teks banyak menebarkan bentuk-bentuk representasi pada isinya.

Oleh karena itu konsep (dalam pikiran) dan tanda (bahasa) menjadi bagian penting yang digunakan dalam proses kontruksi atau produksi makna. jadi dapat disimpulkan bawha representasi adalah suatu proses untuk memproduksi makna dari konsep yang ada dipikiran kita melalui bahasa. Proses produksi makna tersebut dimungkinkan dengan hadirnya sistem representasi.

Menurut David Croteau dan William Hoynes, representasi merupakan hasil dari suatu proses penyeleksian yang menggaris bawahi hal-hal tertentu. Dalam representasi media, tanda yang akan digunakan untuk melakukan representasi tentang sesuatu yang mengalami proses seleksi. Mana yang sesuai dengan kepentingan-kepentingan dan pencapaian tujuan-tujuan komunikasi ideologisnya itu yang digunakan sementara tanda lain diabaikan.12 Representasi bukanlah suatu kegiatan atau proses statis tapi merupakan proses dinamis yang terus berkembang seiring dengan kemampuan intelekual dan kebutuhan para pengguna tanda yaitu manusia sendiri yang juga terus bergerak dan berubah. Representasi merupakan suatu proses usaha konstruksi. Karena pandangan-pandangan

12

(29)

baru yang menghasilkan pemaknaan baru, juga merupakan hasil pertumbuhan konstruksi pemikiran manusia, melalui representasi makna diproduksi dan dikontruksi. Ini menjadi proses penandaan praktik yang membuat suatu hal bermakna sesuatu.13

Menurut pengertian di atas representasi adalah sebuah cara dimana memaknai apa yang diberikan pada benda yang digambarkan. Representasi merujuk kepada segala bentuk media terutama media massa terhadap segala apa yang dikonstruksikannya dan bagaimana kita memaknainya. B. Ruang Lingkup Semiotika

1. Pengertian Semiotika

Semiotik sebagai suatu model dari ilmu pengetahuan sosial memahami dunia sebagai sistem hubungan yang memiliki unit dasar yang disebut dengan “tanda”. Dengan demikian semiotik mempelajari hakikat tentang keberadaan suatu tanda. Umberto Eco menyebut tanda tersebut

sebagai “kebohongan”, dalam tanda ada sesuatu yang tersembunyi di

baliknya dan bukan merupakan tanda itu sendiri. Menurut Saussure, persepsi dan pandangan kita tentang realitas, dikontruksikan oleh kata-kata dan tanda-tanda lain yang digunakan dalam konteks sosial. Hal ini dianggap sebagai pendapat yang cukup mengejutkan dan dianggap revolusioner, karena hal itu berarti tanda membentuk persepsi manusia, lebih dari sekedar merefleksikan realitas yang ada.14

13

Wibowo, Semiotika Komunikasi Aplikasi Praktis Bagi Penelitian dan Skripsi Komunikasi, (Jakarta: Mitra Wacana Media, 2011), h. 123

14

(30)

Dalam arti lain semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda. Semiotika atau dalam istilah Roland Barthes, semiologi, pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memakai hal-hal (things). Memaknai (to sinify) dalam hal ini tidak dapat dicampuradukkan dengan mengkomunikasikan (to communicate). Memaknai berarti bahwa objek-objek tidak hanya membawa informasi, dalam hal ini di mana objek-objek itu hendak berkomunikasi, tetapi juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda.15

Terdapat beberapa tokoh yang menggeluti bidang semiotik atau semiotika, diantaranya sebagai berikut: 16

a. Charles Sanders Pierce: Pierce terkenal karena teori tandanya. Di dalam lingkup semiotika, Pierce, sebagaimana dipaparkan Lechte, seringkali mengulang-ngulang bahwa secara umum tanda adalah yang mewakili sesuatu bagi seseorang. Berdasarkan objeknya, Pierce membagi tanda atas ikon, indeks, dan simbol. Dijelaskan, ikon adalah hubungan antara tanda dan objek atau acuan yang bersifat kemiripan. Misalnya seperti potret dengan peta. Indeks adalah tanda yang menunjukan adanya hubungan alamiah antara tanda dan petanda yang bersifat kausal atau kenyataan, contohnya seperti asap sebagai penanda bahwa adanya api. Simbol adalah tanda yang menunjukan hubungan alamiah antara penanda dengan petandanya.

b. Ferdinand de Saussure: Sedikitnya ada lima pandangan Saussure yang di kemudian hari menjadi peletak dasar dari strukturalisme

15

Alex Sobur, Semiotika Komunikasi, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006), h. 13-15 16

(31)

Strauss, salah satunya ialah Signifier (penanda) dan signified

(petanda). Dengan kata lain penanda adalah “bunyi yang bermakna”

atau “coretan yang bermakna”. Bisa juga disebut aspek material dari

bahasa: apa yang dikatakan atau didengar dan apa yang ditulis atau dibaca. Sedangkan, petanda adalah gambaran mental, pikiran atau konsep. Bisa juga disebut aspek mental dari bahasa. Dalam tanda bahasa yang konkret, kedua unsur tadi merupakan sesuatu yang tidak dapat dilepaskan.

c. Roland Barthes: Salah satu area penting yang dirambah Barthes dalam studinya tentang tanda adalah peran pembaca. Konotasi, walaupun merupakan sifat asli dalam tanda, membutuhkan keaktifan pembaca agar dapat berfungsi. Secara panjang lebar Barthes mengulas apa yang sering disebut sebagai sistem pemaknaan tataran ke-dua yang dibangun diatas sistem lain yang telah ada sebelumnya. Sistem ke-dua ini disebut Barthes dengan konotatif, yang di dalam Mythologies-nya secara tegas ia bedakan dari denotatif atau sistem pemaknaan tataran pertama.

Beberapa jenis semiotik umum yang digunakan dalam sebuah penelitian yang diantaranya adalah:17

a. Semiotik Pragmatik (semiotic pragmatic): Semiotik Pragmatik menguraikan tentang asal usul tanda, kegunaan tanda oleh yang menerapkannya, dan efek tanda bagi yang menginterpretasikan, dalam batas perilaku subyek. Dalam arsitektur, semiotik prakmatik

17

(32)

merupakan tinjauan tentang pengaruh arsitektur (sebagai sistem tanda) terhadap manusia dalam menggunakan bangunan. Semiotik Prakmatik Arsitektur berpengaruh terhadap indera manusia dan perasaan pribadi (kesinambungan, posisi tubuh, otot dan persendian. b. Semiotik Sintaktik (semiotic syntactic): Semiotik Sintaktik

menguraikan tentang kombinasi tanda tanpa memperhatikan maknanya ataupun hubungannya terhadap perilaku subyek. Semiotik Sintaktik ini mengabaikan pengaruh akibat bagi subyek yang menginterpretasikan. Dalam arsitektur, semiotik sintaktik merupakan tinjauan tentang perwujudan arsitektur sebagai paduan dan kombinasi dari berbagai sistem tanda.

c. Semiotik Semantik (semiotic semantic): Semiotik Sematik

menguraikan tentang pengertian suatu tanda sesuai dengan „arti‟ yang

disampaikan. Dalam arsitektur semiotik semantik merupakan tinjauan tentang sistem tanda yang dapat sesuai dengan arti yang disampaikan. Hasil karya arsitektur merupakan perwujudan makna yang ingin disampaikan oleh perancangnya yang disampaikan melalui ekspresi wujudnya.

2. Semiotik Roland Barthes

(33)

salah satu pemikir strukturalis yang rajin mempraktikkan model linguistik dan semiologi saussuren.18

Barthes adalah salah satu pegikut Saussure, Barthes membuat sebuah model sistematis dalam menganalisis makna dari tanda-tanda. Fokus Barthes lebih tertuju pada gagasan signifikasi dua tahap (two order signification).

Gambar 2.1

Dalam gambar di atas, Barthes menjelaskan signifikasi tahap pertama merupakan hubungan antara signifier (penanda) dan signified (petanda) di dalam sebuah tanda terhadap realitas eksternal, Barthes menyebutnya sebagai denotasi. Konotasi adalah istilah yang digunakan Barthes untuk menunjukkan signifikasi tahap kedua. Pada signifikasi tahap kedua yang berhubungan dengan isi, tanda bekerja melalui mitos (myth).19

18

Alex Sobur, Analisis Teks Media Suatu Pengantar untuk Analisa Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006), h. 122

19

(34)

a. Makna Denotasi: Denotasi sebagai suatu hubungan tanda-isi sederhana atau makna yang paling nyata. Apa yang digambarkan tanda terhadap sebuah objek.

b. Makna Konotasi: konotasi adalah istilah yang digunakan untuk menunjukan signifikasi tahap kedua. Hal ini menggambarkan interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu dengan perasaan atau emosi dari pembaca serta nilai-nilai dari kebudayaannya.

c. Makna Mitos: mitos adalah bagaimana menjelaskan atau memahami beberapa aspek tentang realitas atau gejala alam. Mitos merupakan produk kelas sosial yang sudah mempunyai suatu dominasi.

C. Konsep Hak Seorang Muslim

(35)

kemuliaan Al-Islam. Istiqomah ialah konsisten, sabar, tabah dalam beragama Islam.

Hak asasi manusia menurut pandangan Islam dapat dilihat dalam konteks penjabaran yang sama sebagaimana tercermin dengan Hak Asasi Manusia di dunia modern.20

a. Hak Hidup dan Hak Milik

Hak paling utama bagi manusia adalah hak untuk hidup dan mempunyai hak atas apa yang dimilikinya. Kedua hak ini dijamin oleh Nabi yang mengatakan bahwa setiap Muslim adalah saudara.

b. Hak Kebebasan Berpendapat dan Mengeluarkan pernyataan

Hak ini telah dikenalkan Islam sejak semuka. Hak ini merupakan kebiasaan orang Islam untuk bertanya kepada Nabi tentang beberapa masalah yang berkenaan dengan suatu perintah Tuhan yang diwahyukan kepadaNya. Seiap pemerintahan Islam berada dalam urusan-urusan penting, baik melalui parlemen maupun melalui referendum.

c. Amar bil-Ma‟ruf

Hak manusia yang lain, yang dianugerahkan Islam secara khas adalah hak setaip Muslim untuk memerintahkan kebaikan kepada orang muslim yang lain dan mencegah mereka dari perbuatan jahat. Setiap muslim dapat menasehati muslim lainnnya untuk mengikuti tingkah laku yang benar dan mencegah perbuatan salah.

20

(36)

d. Hak Kemerdekaan Beragama dan Berkeyakinan

Hak dasar manusia lainnya adalah hak kebebasan beragama dan berkeyakinan. Orang Islam tidak hanya diharuskan untuk menghormati kebebasan beragama dan berkeyakinan, mereka juga diharapkan bermurah hati terhadap non-muslim yang tidak menyerang dengan alasan Agama.

e. Hak Persamaan

Hak manusia lainnya adalah hak persamaan. Al-quran menggambarkan idealisasinya tentang persamaan manusia seperti yang tertera pada ayat berikut ini:

“Artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami jadikan kamu laki-laki

dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling muliah di sisi Allah adalah orang yang paling baik tingkah lakunya.” (Q.S. Al-Hujurat: 13)

D. Tinjauan Tentang Film 1. Pengertian Film

(37)
[image:37.595.138.512.241.649.2]

bioskop).21 Sedangkan secara etimologis, film berarti moving image atau gambar bergerak. Awalnya, film lahir sebagai bagian dari perkembangan teknologi.22 Sedangkan menurut Hafied Cangara23, film dalam pengertian sempit adalah penyajian gambar lewat layar lebar, tetapi dalam pengertian yang lebih luas bisa juga termasuk sebuah acara yang disiarkan melalui televisi, dalam kemampuan visualisasinya dan disukung oleh audio yang khas, sangat efektif sebagai media hiburan dan juga sebagai media pendidikan serta penyuluhan dengan jangkauan tempat penonton yangn berbeda juga sangat luas. Karena itu film merupakan rekaman segala macam gambar hidup atau bergerak, dengan suara untuk mendukung gambar-gambar tersebut.

Film saat ini juga menjadi media belajar manusia mengenai sejarah, tingkah laku manusia dan ilmu pengetahuan. Film bukan lagi sekedar hiburan karena dalam film mengangkat realita kehidupan yang ada dimasyarakat yang dikombinasikan dengan unsur hiburan dan pendidikan didalamnya.

Film adalah bagian dari kehidupan sehari-hari kita, dalam banyak hal, bahkan cara kita berbicara dipengaruhi oleh metafora film.24 Jadi dapat disimpulkan bahwa film merupakan karya seni berupa gambar bergerak yang mengandung hiburan dan pembelajaran yang dipertunjukkan lewat proyeksi atau media elektronik, yang dapat memberikan pengaruh terhadap kehidupan sehari-hari manusia.

21

Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), h. 316

22

Marcel Danesi, Pengantar Memahami Semiotik Media, (Yogyakarta: Jalasutra 2010), h. 132. 23

Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), h. 138 24

(38)

2. Film Sebagai Media Komunikasi Massa

Komunikasi massa adalah proses komunikasi yang dilakukan melalui media massa dengan berbagai tujuan komunikasi dan untuk menyampaikan informasi kepada khalayak luas.25 Komunikasi massa yang mengandalkan media massa memiliki fungsi utama yaitu menjadi penyampaian informasi kepada masyarakat luas. Komunikasi massa memungkinkan informasi dari institusi publik tersampaikan kepada masyarakat secara luas dalam waktu cepat dan singkat.26 Sehingga dapat dipahami bahwa komunikasi massa merupakan suatu tipe komunikasi dimana seorang komunikator dapat menjangkau ribuan atau lebih khalayak yang dilakukan melalui medium media massa.

Film merupakan salah satu bentuk media komunikasi massa dari berbagai teknologi dan unsur-unsur kesenian. Seni film sangat mengandalkan teknologi sebagai bahan baku produksinya maupun dalam hal eksibisi kehadapan penontonnya.27 Ini berarti film dapat digunakan sebagai bentuk media komunikasi massa dan film dapat digunakan sebagai bentuk penyampaian pesan moral dan juga sebagai bentuk kritik sosial. 3. Jenis-jenis Film

Marcel Danesi mengatakan bahwa ada tiga jenis atau kategori utama film, yaitu film fitur, film dokumenter, dan film animasi.28

25

Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi Massa (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2006) h. 71

26

Burhan Bungin, h. 80 27

John Vivian, Teori Komunikasi Massa (Jakarta: Prenada Media Group, 2008) h. 160 28

(39)

a. Film Fitur

Film fitur merupakan karya fiksi yang strukturnya selalu berupa narasi, yag dibuat dalam tiga tahap. Tahap praproduksi merupakan periode ketika skenario diperoleh. Skenario ini bisa berupa adaptasi dari novel, atau cerita pedek, cerita fiktif atau kisah nyata yang dimodifikasi, maupun karya cetakan lainnya, bisa juga yang ditulis secara khusus untuk dibuat fimnya. Tahap produksi merupakan masa berlangsungnya pembuatan film berdasarkan scenario pengambilan gambarnya tidak sesuai dengan urutan cerita, disusun menjadi suatu kisah yang menyatu.

b. Film Dokumenter

Film dokumenter merupakan film nonfiksi yang menggambarkan situasi kehidupan nyata dengan setiap individu menggambarkan perasaanya dan pengalamannya dalam situasi yang apa adanya, tanpa persiapan, langsung pada kamera atau

pewawancara. Robert Claherty mendefinisikannya sebagai “karya

ciptaan mengenai kenyataan”, creative treatment of actually.

(40)

pemikiran-pemikiran, ide-ide, dan sudut pandang idealisme mereka. Dokumenter merekam adegan nyata dan faktual (tidak boleh merekayasa sedikitpun) untuk kemudian diubah menjadi sefiksi mungkin menjadi sebuah ceita yang menarik.

c. Film Animasi

Animasi adalah teknik pemakaian film untuk menciptakan ilusi gerakan dari serangkaian gambaran benda dua atau tiga dimensi. Penciptaan tradisional dari animasi gambar bergerak selalu diawali hampir bersamaan dengan penyusunan storyboard, yaitu serangkaian sketsa yang menggambarkan bagian penting dari cerita. Sketsa tambahan dipersiapkan kemudian untuk memberikan ilustrasi latar belakang, dekorasi serta tampilan dan karakter tokohnya. Pada masa kini, hampir semua film animasi dibuat secara digital dengan komputer. Salah satu tokoh yang legendaris adalah walt disney dengan film-film kartunnya seperti Mickey Mouse, Donald Duck, dan Snow White.

4. Unsur-unsur dalam Film

Film secara umum dapat dibagi atas dua unsur pembentuk, yakni unsur naratif dan unsur sinematik, dua unsur tersebut saling berinteraksi dan berkesinambungan satu sama lain:

a) Unsur Naratif

(41)

1. Tokoh

Dalam film terdapat dua tokoh penting, yaitu utama dan pendukung. Tokoh utama sering diistilahkan sebagai tokoh protagonis, sedangkan tokoh pendukung biasa disebut dengan tokoh antagonis yang biasanya menjadi pemicu konflik.

2. Masalah dan Konflik

Masalah di dalam film dapat diartikan sebagai penghalang yang dihadapi tokoh protagonis dalam meraih tujuannya. Permasalahan ini yang kemudian memicu konflik (konfrontasi) fisik atau batin dari luar diri tokoh protagonis ataupun dari dalam diri tokoh protagonis (konflik batin).

3. Lokasi dan waktu

Tempat/ lokasi di dalam film biasanya berfungsi sebagai pendukung narasi di dalam scenario. Pemilihan lokasi dapat membangun cerita sehingga cerita dapat menjadi lebih realistis. Waktu dalam narasi film merupakan salah satu aspek penting dalam mmbangun cerita. Pagi, siang, sore dan malam dalam film memiliki makna sendiri sebagai pembangun suasana narasi film.

b) Unsur Sinematik

(42)

1. Mise en Scene

Segala hal yang berada di depan kamera. Tujuannya untuk menimbulkan efek dramatis tertentu. Empat elemen pokok Mise en Scene yaitu, setting atau latar, tata cahaya, kostum dan make up, serta acting dan pergerakan pemain.

2. Sinematografi berasal dari bahasa Yunani “kinema” yang

berarti gerakan dan “graphein” yaitu merekam. Artinya,

pengaturan pencahayaan dan kamera ketika merekam gambar fotografis untuk suatu sinema. Sinematografi sangat erat hubungannya dengan objek yang diambil.29

3. Editing: transisi sebuah gambar (shot) ke gambar (shot) lainnya.

4. Suara: segala hal dalam film yang mampu kita tangkap melalui indera pendengarannya.

5. Struktur Film

Film jenis apapun panjang, pendek pasti memiliki struktur fisik yang dapat dibagi menjadi berikut:30

a. Shot

[image:42.595.132.513.185.575.2]

Selama produksi film memiliki arti proses perekaman gambar sejak kamera diaktifkan (on) hingga kamera dihentikan (off) atau juga sering di istilahkan take (pengambilan gambar). Ementara shot setelah film telah jadi (pasca produksi) memiliki arti satu rangkaian gambar utuh yang tidak terinterupsi oleh potongan gambar (editing).

29

Himawan Pratista, Memahami Film (Yogyakarta: Homerian Pustaka, 2008), h. 107

30

(43)

Sekumpulan shot biasanya dapat dikelompokkan menjadi sebuah adegan. Satu adegan bisa berjumlah belasan hingga puluhan shot. Satu shot dapat berdurasi kurang dari satu detik, beberapa menit, bahkan jam.

b. Scene (adegan)

Scene adalah satu segmen pendek dari keseluruhan cerita yang memperlihatkan satu aksi berkesinambungan yang diikat oleh ruang, waktu, isi (cerita), tema, karakter, atau motif. Satu adegan umumnya terdiri dari dari beberapa shot yang saling berhubungan. Biasanya film cerita terdiri dari dari 30-35 adegan.

c. Sequence (sekuen)

Sekuen adalah satu segmen besar yang memperlihatkan satu rangkaian peristiwa yang utuh atau sebuah rangkaian adegan. Satu sekuen umumnya terdiri dari beberapa adegan yang saling berhubungan. Dalam karya literatur, sekuen bisa diibarartkan bab atau sekumpulan bab. Film biasanya terdiri dari 8-15 sequence. Berikut ini adalah bentuk-bentuk tampilan yang terdapat dalam sinematografi, yakni jarak kamera terhadap obyek (type of shot), yaitu:31

1. Extreme Long Shot (ELS), merupakan jarak kamera yang paling jauh dari obyeknya. Wujud fisik manusia nyaris tidak tampak. Teknik ini umumnya untuk menggambarkan sebuah obyek yang sangat jauh. 2. Long Shot (LS), pada long shot tubuh fisik manusia telah tampak

jelas namun latar belakang masih dominan. Long shot sering

31

(44)

digunakan sebagai establising shot, yakni shot pembuka sebelum digunakan shot-shot yang berjarak lebih dekat.

3. Medium Long Shot (MLS), pada jarak ini tubuh manusia terlihat dari bahwah lutut sampai ke atas. Tubuh fisik manusia dan lingkungan dan lingkungan sekitar reatif seimbang.

4. Medium Shot (MS), pada jarak ini memperlihatkan tubuh manusia dari pinggang ke atas. Gesture serta ekspresi wajah mulai tampak. Sosok manusia mulai dominan dalam frame.

5. Medium Close Up (MCU), pada jarak ini memperlihatkan tubuh manusia dari dada ke atas. Sosok tubuh manusia mendominasi frame dan latar belakang tidak lagi dominan. Adegan percakapan normal biasanya menggunakan jarak medium close up.

6. Close Up (CU), umumnya memperlihatkan wajah, tangan, kaki, atau sebuah obyek kecil lainnya. Teknik ini mampu memperlihatkan ekspresi wajah dengan jelas serta gesture yang mendetil. Close up biasanya digunakan untuk adegan dialog yang lebih intim. Close up juga memperlihatkan mendetil sebuah benda atau objek.

(45)

BAB III

GAMBARAN UMUM FILM AIR MATA FATIMAH

A.Sekilas Tentang Film Air Mata Fatimah

Film Air Mata Fatimah merupakan film yang diangkat dari sebuah kisah nyata yang terjadi di daerah Sumatera Utara, yang sengaja tidak disebutkan secara spesifik dalam film ini yang dikarenakan menurut masyarakat asli cerita ini dianggap memilukan dan sebuah aib besar yang patut di sembunyikan. Film ini mengangkat cerita tentang seorang tuna susila yang ditinggal suaminya dan berjuang sendiri untuk menghidupi anak semata wayangnya. Film Air Mata Fatimah tidak hanya menyuguhkan dari sisi hiburan saja, melainkan juga memberikan banyak pesan moral dan sosial yang di presentasikan dan bisa dijadikan sebagai

pembelajaran, seperti, “jangan menilai seseoran hanya dengan melihat

pakaiannya”, “Allah tidak pernah tidur dan selalu melihat apa yang

diperbuat oleh manusia” atau “jangan pernah membedakan manusia

dengan manusia lainnya karena Allah yang Maha Kuasa saja tidak pernah

membedakan makhluknya” dan sebagainya yang banyak erdapat dalam

film Air Mata Fatimah ini.

Film ini dapat dibilang berbeda dengan film drama religi lainnya, karena film ini lebih banyak mengangkat religi sosial apabila dibandingkan dengan film drama religi lainnya yang lebih mengedepankan percintaan lalu dibalut dengan religi. Film ini merupakan film drama religi yang digarap rumah produksi Cosmic Production, yang disutradarai OK Mahadi dan Bayu Pamungkas Atmodjo. Film ini juga diperankan oleh

(46)

artis-artis yang namanya sudah tak asing lagi di dunia perfilman seperti Reyhanna Alhabsi, Anindika Widya, Reza Pahlevi, Dwi Andhika dan Oka Sugawa.

B. Sinopsis Film Air Mata Fatimah

Drama religi yang tayang pada Oktober 2015 ini mengisahkan tentang perjuangan Hamda dan anak semata wayangnya yang bernama Fatimah. Setiap hari mereka harus berjuang dengan kehidupan yang cukup memprihatinkan. Mereka tersisih dari keramaian penduduk desa dan tinggal di sebuah gubuk kecil di atas bukit yang jauh dari kehidupan perkampungan. Hal ini dikarenakan, Hamda yang berprofesi sebagai wanita tuna susila yang sering dicemooh dan diasingkan oleh warga. Hamda dan Fatimah yang terbuang menjadi menderita lahir dan batin karena profesi sang Ibu yang dianggap hina tersebut.

(47)

Sementara itu, di kampung tersebuat ada seorang guru ulama disegani dan terpandang yang bernama Guru Ali Daud. Mendengar kericuhan yang terjadi di pusat perkampungan tersebut Guru Ali Daud merasa perlu untuk menolong ibu dan anak tersebut. Guru Ali Daud mengutus anaknya (Ichsanudin) untuk mengajarkan Fatimah tentang Agama Islam, lalu Ichsanudin perintah Ayahnya dan membelikan perlengkapan seperti Al-Quran, mukena, tasbih dan buku-buku agama Islam. Namun niat baik tersebut disalahgunakan dan dimanfaatkan oleh Harunsyah, saingan Ali Daud saat muda untuk memperebutkan Hamda. Harusnyah memfitnah Ali Daud memilik hubungan khusus dengan Hamda, sedangkan Ichsanudin difitnah telah berbuat asusila dengan Fatimah.

(48)
[image:48.595.140.513.102.777.2]

C. Profil Sutradara Film Air Mata Fatimah

Gambar 3.1

Bayu Pamungkas Atmodjo

Bayu Pamungkas Atmodjo merupakan Sutradara sekaligus Produser pelaksana dalam film Air Mata Fatimah. Lahir di Mojokerto, 16 April 1971. Bayu Pamungkas saat ini bekerja di rumah produksi Cosmic Production yang menghasilkan karya yaitu film Air Mata Fatimah yang tayang pada tanggal 1 oktober 2015 lalu. Bayu Pamungkas menjabat sebagai Direktur Operasional di rumah produksi Cosmic Production. Mengawali karirnya sebagai Creative Programmer di radio PASS FM, lalu melanjutkan karirnya di dunia di sebuah rumah produksi yaitu Kakilangit FILM dengan jabatan sebagai Direktur Produksi yang kemudian menghasilkan karya berupa film Retak Gading pada tahun 2013, tidak hanya itu, Bayu juga banyak menghasilkan beberapa video kreatif.

D. Pemain Film Air Mata Fatimah 1. Reyhanna Alhabsyi

(49)

Nama lahir: Syarifah Reihan Afridila Al Habsyi Nama lain: Reyhanna Alhabsyi

Tempat, tanggal lahir: Medan, Sumatra Utara, 16 April 199832 Pekerjaan: Aktris

Tahun aktif: 2014 – sekarang Prestasi: Juara Miss Celebrity 2014

Film: Air Mata Fatimah Fatimah, sebagai Fatimah (2015)

Reyhanna Al-Habsyi merupakan artis pendatang baru yang berasal dari Sumatera Utara. Reyhanna memulai karirnya melalui ajang bakat model Miss Celebrity yang tayang di stasiun TV Indosiar, dan memenangkan juara satu Miss Celebrity 2014. Setelah memenangkan ajang bakat tersebut Reyhanna mulai banyak mendapat tawaran foto majalah dan iklan. Kemudian Reyhanna mulai mencoba peruntungannnya dalam film layar lebar garapan Cosmic Production. Dalam film garapan Cosmic Production, Reyhanna dipercaya untuk memerankan peran utama dalam film yang berjudul Air Mata Fatimah. Film ini sukses membuat nama Reyhanna melambung tinggi dan mendapatkan banyak perhatian penonton. Tugas dalam film perdananya dalam film Air Mata Fatimah tidaklah mudah. Hampir di setiap scene Reyhanna harus berakting menangis dikarenakan ia harus memposisikan dirinya sebagai gadis yang selalu teraniaya oleh tekanan warga desa tempat tinggalnya. Aktingnya dalam film Air Mata Fatimah ini dibilang sukses memenuhi semmua permintaan sutradara termasuk dalam adegan-adegan yang dianggap sulit.

32

(50)
[image:50.595.140.514.99.604.2]

2. Anindika Widya

Gambar 3.3 Anindika Widya Nama Lengkap: Anindika Widya

Nama Komersil: Anindika Widya Tanggal Lahir: 21 Oktober 199233 Profesi: Aktris

Anindika Widya, wanita kelahiran Madiun pada 21 Oktober 1992 ini merupakan seorang aktris muda berbakat tanah air yang sudah sering wara-wiri di industri perfilman dalam negeri. Anindika sendiri sebenarnya masih tergolong baru di dunia hiburan tanah air, namun berkat kemampuan aktingnya Anindika mampu menembuh karir sebagai aktris populer. Di industri perfilman dalam negeri sosok selebriti cantik yang satu ini memang sudah tergolong senior, bahkan ia pun sudah sangat sering tampil di layar kaca tanah air. Anindika memulai karirnya di dunia akting pada tahun 2010 yang lalu, kala itu ia memulai debutnya di industri film layar lebar. Ia pertama kali mendapat peran sebagai pemeran

pendukung dalam film layar lebar berjudul „Mafia Insyaf‟ yang di bintangi

dua artis cantik tanah air Indah Kalalo dan Atiqah Hasiholan. Di film ini

33

(51)

Aninda memang hanya mendapat peran kecil namun dalam film tersebut ia berhasil membuktikan diri jika bakat aktingnya sangat mumpuni.

Setelah ikut beperan sebagai pemeran pendukung, Anindika mulai mengembangkan karirnya ke film sinetron. Disinilah Anindika mulai mendapat banyak perhatian kalangan masyarakat. Ia ikut membintangi

sinetron kolosal berjudul „Tutur Tinular‟ yang juga di binangi artis cantik

Rosnita Putri. Di film ini ia mendapat peran sebagai Nari Ratihb terbilang cukup sempurna, bahkan beberapa produser film pun mulai kepincut dengan kemampuan akting Anindika.

[image:51.595.142.509.260.614.2]

3. Reza Pahlevi

Gambar 3.4 Reza Pahlevi

Nama: Reza Pahlevi

Tempat Lahir : Jakarta, Indonesia

Tanggal Lahir : 23 Desember 1985

Pekerjaan : Aktor

Tahun aktif: 2007-sekarang

(52)

Filmografi:34

f. Jelangkung 3 (2007) g. Kuntilanak 3 (2008)

h. Hantu Perawan Jeruk Purut (2008) i. Pocong Kamar Sebelah (2009) j. Serigala Terakhir (2009) k. Ratu Kostmopolitan (2010) l. Taxi (2010)

m. Love Story (2011) n. Dia Anakku (2011)

o. Kuntilanak-Kuntilanak (2012) p. Air Mata Fatimah (2015) q. Takutnya Tuh DiSini (2015)

Reza Pahlevi adalah aktor kelahiran Jakarta, 23 Desember 1985. Reza mengawali karirinya di dunia perfilman Indonesia dengan membintangi Film Jelangkung 3 yang rillis pada tahun 2007 lalu. Setelah membintangi film Jelangkung 3, wajah Reza sering muncul menghiasi film-film baru Indonesia. Selain Film, Reza Pahlevi juga beberapa kali bermain untuk FTV, namun ia jarang sekali terlihat membintangi sinetron. Reza Pahlevi menikah dengan Astrilika Lintong atau yang lebih akrab disapa Ika Nico, pada tanggal 28 Agustus 2015. Astrilika Lintong sendiri diketahui adalah seorang vokalis dari gup band TQLA.

34

(53)
[image:53.595.141.508.99.671.2]

4. Oka Sugawa

Gambar 3.5 Oka Sugawa Nama: Ida Bagus Made Oka Sugawa

Tempat, Tanggal Lahir: Semarang, 9 september 197735 Pekerjaan: Aktor

Tahun Aktif: 1995-sekarang Filmografi:

 Lupus (1995)

 Maling Kutang (2009)

 Potong Bebek Angsa

 My Idiot Brother (2014)  Air Mata Fatimah (2015)

5. Dwi Andhika

Gambar 3.6 Dwi Andhika Nama asli : Muhammad Dwi Andhika

35

(54)

Tanggal lahir : 03 April 198636

Lahir: Bandung, Jawa Barat, Indonesia Pekerjaan: Actor dan Model

Tahun Aktif: 2000-sekarang Zodiac : Aries

Filmografi:

 Me vs High Heels (2005)  Hantu (2007)

 Oh baby (2008)

 Surat Kecil Untuk Tuhan (2011)  3 Semprul Mengejar Surga (2013)

 Tendangan Si Madun 3 (2013)

 Gol (2005)  Hikmah 2 (2005)

Muhammad Dwi Andhika akrab disapa Dwi Andhika adalah seorang actor Indonesia kelahran Bandung 3 April 1986. Andika mengawali karier keartisaanya menjadi bintang Model dan pernah menjadi juara favorit dalam ajang Cover Boy pada tahun 2000. Namanya mulai terkenal dimasyakat saat ia mulai terjun kedunia Presenter, debut pertamanya di dunia presenter saat ia membawakan acara yang berjudul Planet Rmaja, setelah terbilang sukses di dunia presenter andika pun melangkahkan kakinya ke duania seni peran. Sinetron perdananya yang

36

(55)

pernah ia bintangi berjudul 3 Semprul Mengejar Surge. Dari sanalah namanya di besarkan dan terkenal seperti sekarang ini.

[image:55.595.142.507.154.764.2]

6. Jajang C. Noer

Gambar 3.7 Jajang C. Noer Nama Asli: Lidia Djunita Pamuntjak

Tanggal Lahir: 28 Juni 1952 Tempat Lahir: Paris, Perancis Kewarganegaraan: Indonesia Ayah: Nazir Datuk Pamuntjak

Suami: Arifin C. Noer (sutradara, meninggal 1995) Filmografi:

 Terminal Cinta (1978)

 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita (2010)  Khalifah (2011)

 Mata Tertutup (2011)

 Dilema (2012)

 Cinta Tapi Beda (2012)

 Belenggu (2013)

 Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (2013)

(56)

 Dan banyak lainnya

Prestasi:37

 Drama Seri Terbaik Piala Vidia 1997 (Bukan Perempuan Biasa)

 Aktris Terbaik Cinefan Award 2002 (Eliana Eliana)

 Aktris Terbaik IKJ Award 2012

 Pemeran Utama Wanita Terunggul, Apresiasi Film Indonesia 2012

(Mata Tertutup)  Dan banyak lainnya

Jajang C Noer (lahir dengan nama Lidia Djunita Pamoentjak, juga dikenal dengan nama Jajang Pamuntjak; lahir di Paris, Perancis, 28 Juni 1952; umur 64 tahun) adalah seorang sutradara dan aktris film asal Indonesia. Ia juga adalah putri tunggal dari tokoh nasional pergerakan kemerdekaan Indonesia Nazir Datuk Pamoentjak. Jajang C. Noer adalah pemenang Festival Film Indonesia tahun 1992 dalam kategori Aktris Pendukung Terbaik melalui film Bibir Mer. Suaminya adalah Arifin C. Noer, sutradara film asal Indonesia yang meninggal dunia pada Mei 1995. E. Tim Produksi Film Air Mata Fatimah

Sebuah Film tidak akan terbentuk tanpa adanya tim produksi yang bekerja, dan tim produksi di dalam film Air Mata Fatimah adalah:

Sutradara : Bayu Pamungkas Atmodjo : OK. Mahadi

Produser : Aunuroup

37

(57)

Executive Produser : Wawan R. Kosim : Devie Muharna. SE

Produser Pelaksana : Bayu Pamungkas Atmodjo

Line Produser : Asep Anwar Zaetu Supervisi Kreatif : OK. Mahadi Ide Cerita dan Penulis

Skeneraio

: OK. Mahadi

: Bayu Pamungkas Atmodjo Supervisi Pasca Produksi : Irat Gustafiano

Penyunting Gambar :Asep Anwar Zaetu Penata Musik : Muhammad Fitri Penata Kamera : Marno Jawir Penata Artistik : Yon A. Danarso

Casting : Pippo Projectz

Penata Suara : MaulanaYudistira : Olick N Roll

Cast : Reyhanna Alhabsyi sebagai Fatimah Remaja : Anindika Widya sebagai Hamda

: Reza Pahlevi sebagau Harunsyah : Oka Sugawa sebagai Ali Daud

: Dwi Andhika sebagai Ichsanudin Remaja : Jajang C. Noer sebagai Nenek

(58)

BAB IV

TEMUAN DAN ANALISIS DATA

A. Analisis Semiotika Film Air Mata Fatimah

Film merupakan karya estetika sekaligus sebagai alat informasi yang bisa menjadi alat penghibur, alat propaganda, juga alat politik. Mengingat bahwa tidak selalu hal-hal yang ditayangkan dalam adegan pada film dapat dimengerti tanpa ada pengamatan yang mendalam, seringkali adegan yang muncul mengandung pesan yang diwakilkan oleh properti-properti yang di visualisasikan pada tayangan film itu sendiri. Maka dari hal tersebut, dalam kesempatan ini penulis mencoba menganalisis film Air Mata Fatimah menggunakan semiotika Roland Barthes, yakni mencari makna denotasi, konotasi, dan mitos yang terdapat dalam film Air Mata Fatimah.

1. Scene 1

Adegan ini menggambarkan saat Fatimah yang sudah beranjak dewasa sadar akan keinginannya yaitu ingin mempelajari Islam secara mendalam, maka ia meminta seperangkat alat suci yaitu mukena, sajadah, kitab suci Al-Quran, tasbih dan buku-buku keIslaman lainnya. Ketika sudah beranjak dewasa Fatimah sadar akan hak-nya yang bebas untuk memperdalam Agama yang dianutnya, maka Fatimah meminta permintaan tersebut pada Ibunya. Namun, Hamda yang sadar akan pekerjaannya sebagai tuna susila, yang mendapatkan uang hasil dari pekerjaan yang tidak halal maka Hamda berperang dengan batinnya sendiri, antara membeli perlengkapan suci dengan uang haram atau tidak membelikan dan menghalangi hak anaknya sebagai seorang muslim.

(59)

Tabel 4.1

Visual Dialog Type of Shot

Hamda: Permintaanmu itu terlalu berebihan Fat..

Fatimah: Al-Quran, mukena, sajadah dan tasbih itu terlalu berlebihan? Fatimah butuh jawaban Bu, kenapa Ibu merasa berat untuk memenuhi permintaan Fatimah? Hamda: (diam)

Long Shot,

menampilkan secara utuh Fatimah dan Hamda yang sedang duduk,

(memperlihatkan

bagaimana saat Hamda dan Fatimah sedang berbicara serius)

Close Up, digunakan untuk melihat bagaimana ekspresi keberharapan Fatimah.

[image:59.595.113.517.118.760.2]
(60)

Denotasi:

Pada gambar pertama menampilkan Fatimah dan Hamda yang sedang duduk yang memperlihatkan Fatimah dan Hamda sedang berbicara serius, Hamda

berkata “permintaanmu itu terlalu berlebihan Fat..”. Pada gambar kedua Hamda: Kamu tahu

kan, Ibumu ini seorang pelacur? Kamu bisa bayangkan bagimana tanggapan orang kampung ketika kita akan membeli benda-benda suci itu, sedangkan mereka tahu darimana uang yang Ibu dapatkan untuk membelinya.

Fatimah: Begitu hinakah hidup kita bu..

Fatimah.

Close Up, menampilkan ekspresi sedikit marah atas permintaan

anaknya yang

diberatkan karena profesi Hamda sebagai tuna susila.

(61)

menampilkan wajah Fatimah dengan ekpresi mengharapkan dan juga terdapat bagian belakang kepala Hamda, pada gambar ini Fatimah membalas perkataan

Ibunya “Al-Quran, mukena, sajadah dan tasbih itu terlalu berlebihan? Fatimah

butuh jawaban Bu, kenapa Ibu merasa berat untuk memenuhi permintaan

Fatimah?”. Pada gambar ketiga menampilkan Hamda yang menunduk dan

termenung dan diam tak berkata. Gambar keempat menampilkan wajah Hamda yang sedikit marah kepada Fatimah dan mengatakan “Kamu tahu kan, Ibumu ini seorang pelacur? Kamu bisa bayangkan bagimana tanggapan orang kampung ketika kita akan membeli benda-benda suci itu, sedangkan mereka tahu darimana uang yang Ibu dapatkan untuk membelinya”. Dan pada gambar terakhir

menampilkan Fatimah yang menangis ke arah Ibunya dan berkata “Begitu

hinakah hidup kita bu..”.

Konotasi:

(62)

setelah mendengar penjelasan dan pengertian yang diberikan Ibunya menangis tersedu karena merasa permintaannya yang sulit terpenuhi, sedangkan menurut Fatimah permintaannya tersebut sangat sederhana dan itu merupakan hak Fatimah sebagai seorang gadis yang memeluk Agama Islam. Fatimah yang menagis disini menunjukkan bahwa keinginan Fatimah yang sederhana ternyata susah untuk dipenuhi Ibunya.

Mitos:

(63)

Artinya: Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu Thoyyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang Thoyyib (baik). (HR. Muslim no. 1015)

Berdasarkan hadits di atas, maka apabila membeli sebuah benda-benda suci seperti Al-Quran, sajadah dan mukena dengan uang haram maka Allah tidak akan memerima amalan ibadahnya karena benda-benda erbut bukan dibeli dengan sesuatu yang thoyyib.

2. Scene 2

(64)

Tabel 4.2

Visual Dialog Type of Shot

Warga: Hey pelacur, ngapain kalian kesini. Dasar pelacur..

Fatimah dan Hamda: (tetap berjalan ke arah toko yang di tuju)

Long Shot,

menampilkan secara utuh bagian belakang Fatimah dan Hamda serta warga-warga di pasar yang mencaci dan melemparkan batu ke arah Fatimah dan Hamda.

Medium Close Up, menonjolkan raut wajah Fatimah dan Hamda yang ketakutan.

Warga: Apa kamu ke pasar? Mungkin pelacur ini ke pasar untuk membeli

kemenyan dan

kembang tujuh rupa

[image:64.595.113.518.110.759.2]
(65)

untuk menarik perharian lelaki hidung belang. Lihat saja Ibunya seorang pelacur, anaknya juga akan menjadi pelacur. Warga: Dasar pelacur pergi sana!

Ichsanudin: (diam, memperhatikan

Fatimah dan Hamda yang dipojokkan)

Fatimah: Bu.. (melihat ke arah toko peralatan keagamaan)

Fatimah dan Hamda di pasar.

Medium Shot, menonjolkan raut wajah Fatimah dan Hamda yang takut dan sedih.

Medium Shot, menampilkan raut wajah Ichsanudin yang merasa kasihan kepada Fatimah dan Hamda. Medium Shot, menonjolkan ekspresi senang dan bahagia ketika akhirnya melihat dan bisa membeli perlengkapan

(66)

Fatimah: (menyentuh tasbih)

Hamda: (diam

memperhatikan anaknya)

Fatimah:

Alhamdulillah Bu, akhirnya kesampaian juga keinginan Fatimah untuk memiliki Al-Quran, mukena, sajadah, tasbih dan buku-buku Agama.

Bibi: Hey pelacur, mau apa kalian kesini?

Medium Shot, menampilkan

kebahagiaan Fatimah yang berada di toko keagamaan.

Medium Close Up, menonjolkan raut wajah Hamda yang terharu bahagia.

Medium Shot, menampilkan ekspresi bahagia Fatimah dan

Hamda yang

memperhatikan

anaknya dengan ekspres

Gambar

Tabel 4.1 Scene 1 ............................................................................................
Gambar 2.1 Peta Tanda Roland Barthes .........................................................
gambar-gambar tersebut.
gambar utuh yang tidak terinterupsi oleh potongan gambar (editing).
+7

Referensi

Dokumen terkait