• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konflik Ideologi di Tubuh Partai Komunis Indonesia Priode 1951-1959: Marxis-Leninis Versus Revisionisme Modern

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Konflik Ideologi di Tubuh Partai Komunis Indonesia Priode 1951-1959: Marxis-Leninis Versus Revisionisme Modern"

Copied!
96
0
0

Teks penuh

(1)

MARXIS-LENINIS VERSUS REVISIONISME MODERN

Skripsi

Diajukan untuk Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Politik (S.I.P.)

Oleh :

LENDY RAMADHAN

NIM: 105033201135

PROGRAM STUDI ILMU POLITIK

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)
(3)
(4)
(5)

i

ABSTRAK Lendy Ramadhan

Konflik Ideologi Di Tubuh Partai Komunis Indonesia Periode 1951-1959: Maxis-Leninis Versus Revisionis Modern

Skripsi ini difokuskan pada konflik ideologi yang terjadi di dalam tubuh PKI (Partai Komunis Indonesia). Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Pengumpulan data-data dilakukan dengan cara wawancara dengan para nara-sumber yang terkait dan studi pustaka melalui buku-buku serta karya tulis-karya tulis lainnya yang terkait.

Dalam sejarahnya, PKI memang lahir dari konflik ideologi. Pada saat lahir, PKI merupakan jelmaan dari Sarekat Islam (SI) Merah, yang merupakan salah satu faksi dari organisasi Sarekat Islam. Pada saat itu, SI terpecah menjadi dua faksi, SI Merah berideologi komunisme dan SI Putih berideologi Islam. Setelah SI Merah berubah menjadi PKI, konflik ideologi terjadi lagi.

Konflik ideologi dalam tubuh PKI, terjadi karena perbedaan ideologi di antara elit partai. Konflik tersebut berawal dari gagasan-gagasan Aidit, yang dilontarkan pada Sidang Pleno CC (Comite Central) 6 Oktober 1953. Dalam sidang tersebut, Aidit menegaskan gagasan yang pernah dilontarkan pada Sidang Pleno CC 7 Januari 1951, yaitu koalisi permanen dengan partai yang berkhianat pada pemberontakan Madiun 1948, PSI (Partai Sosialis Indonesia) dan MURBA (Musyawarah Rakyat Banyak).

Dalam sidang pleno tersebut, perdebatan terjadi dalam menetapkan strategi perjuangan. Menurut Aidit, “Jalan Baru” baru yang digagas Musso sebagai strategi perjuangan mengalami jalan buntu. Oleh sebab itu, Aidit ingin menggantinya dengan strategi yang digagas pada Sidang Pleno CC 7 Januari 1951, sebagaiamana telah dijelaskan sebelumnya. Strategi Aidit mendapat penolakan dari Tan Ling Djie, yang mempertahankan “Jalan Baru” sebagai strategi perjuangan partai (PKI). Namun pada akhirnya, pendapat Aidit yang disahkan sebagai strategi perjuangan PKI yang baru.

Konflik ideologi di kalangan internal PKI terjadi pada puncaknya pada saat Kongres Nasional PKI ke V digelar. Dalam kongres tersebut, terjadi perdebatan tentang partisipasi dalam pemilu. Aidit sepakat bahwa, pemilu dilakukan sebagai tujuan akhir. Sedangkan Njono berpendapat bahwa, pemilu merupakan tujuan sementara. Namun, kongres menetapkan bahwa pemilu dijadikan tujuan akhir.

(6)

ii

Segala puji syukur kepada Allah SWT, yang telah memberikan segala nikmat bagi

penulis, untuk menyelesaikan penulisan skripsi ini. Shalawat serta salam, penulis sampaikan

kepada Nabi Muhammad SAW, sebgai tauladan bagi seluruh manusia. Tidak mudah bagi

penulis untuk menyelesaikan tema tentang sejarah dalam pembuatan skripsi sebagai tugas

akhir perkuliahan. Meskipun, referensi dan nara-sumber banyak yang bisa diakses. Karena

penulis harus mengambil sudut pandang yang berbeda.

Perjalanan panjang selama sembilan bulan dalam memahami setiap referensi sebagai

data yang siap diolah menjadi sebuah gagasan, dan dituangkan ke dalam lembar-lembar

halaman, merupakan pengalaman yang sangat menyenangkan. Selesainya penulisan tugas

akhir ini, bukan merupakan sebuah akhir dari kreatifitas penulis, khususnya dalam bidang

pendidikan. Tetapi selesainya penulisan karya tulis ini, merupakan sebuah pintu gerbang

lahirnya karya-karya berikutnya. Oleh sebab itu, kritik dan saran dari para pembaca,

khususnya para dosen dan teman-teman yang terlibat langsung dalam penyempurnaan skripsi

ini sangat dibutuhkan, sebagai pengembangan-pengembangan karya berikutnya.

Penulis sadar, bahwa dengan bantuan beberapa pihak, skripsi ini bisa diselesaikan.

Oleh sebab itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Komaruddin Hidayat selaku rektor Universitas Islam Negeri

(UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, serta seluruh jajarannya.

2. Bapak Prof. Dr. Bahtiar Effendy selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu

Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, serta seluruh

jajarannya.

3. Ali Munhanif, Ph.D selaku ketua jurusan ilmu politik.

(7)

5. Bapak Idris Thaha, M.Si selaku pembimbing dalam penyelesaian skripsi ini, yang

telah berjasa memberikan kritikan-kritikan serta saran-saran.

6. Bapak Herry Herland Suryakusuma dan Ibu Sri Suryantini, selaku orang tua saya

yang telah memberikan bantuan moral dan material kepada saya.

7. Seluruh nara-sumber yang telah rela meluangkan waktu untuk diwawancara,

Rewang selaku mantan politbiro CC PKI dan Esempe (samaran) selaku mantan

anggota CC PKI.

8. Seluruh pihak pengelola Perustakaan Umum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan

seluruh pihak pengelola Perpustakaan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta, yang telah meminjamkan buku-buku.

9. Seluruh kawan Kedai Pemikiran sebagai partner diskusi dan tempat meminjam

(8)

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 8

C. Tujuan Penelitian ... 9

D. Metode Penelitian ... 9

E. Sistematika Penulisan ...10

BAB II LANDASAN TEORI A. Konflik ... 12

B. Ideologi ... 13

B. 1. Marxisme ... 15

B. 2. Marxisme Leninisme ... 17

B. 3. Revisionisme Modern ... 19

C. Partai Politik ... 21

BAB III SEJARAH SINGKAT PARTAI KOMUNIS INDONESIA A. Awal Pembentukan (Orang Belanda Sang Pemula) ... 23

B. Pemberontakan PKI 1926 (Awal Konflik Internal) ... 28

C. Peristiwa Madiun 1948 (Memanfaatkan Tentara) ... 31

(9)

BAB IV PEREBUTAN PENGARUH ANTARA MARXIS-LENINIS DAN REVISIONIS MODERN

A. Masuknya Pengaruh Remo (Gagasan-gagasan Aidit) ... 37

B. Konflik Antar Elit (Perebutan Program) ... 42

C. Kemenangan Remo (PKI Berubah Haluan) ... 47

BAB V KESIMPULAN ... 53

DAFTAR PUSTAKA ... 56

LAMPIRAN-LAMPIRAN 1. Transkrip Wawancara Dengan Anggota Politbiro PKI Tahun 1964, Rewang Tentang Konflik Internal PKI Tahun 1951-1959 ... 61

(10)

A. Latar Belakang Masalah

Setelah gagalnya pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun

pada 1948, para anggota partai tercerai-berai akibat penumpasan yang dilakukan oleh

pemerintah.1 Pada 1950, Alimin2 sebagai tokoh senior dalam PKI pada saat itu

mencoba membangun kembali PKI yang hancur pasca kegagalan pemberontakan

Madiun, hingga pada Sidang Pleno Comite Central3 (CC) PKI yang diselenggarakan

pada 7 Januari 1951.4 Pada saat itu (7 Januari 1951), golongan muda5 PKI yang

diwakili oleh Aidit6 berhasil menggeser kepemimpinan Alimin dalam Politbiro,7

karena Aidit dianggap masih memegang prinsip “Jalan Baru”8 Muso9 sebagai

1

Pada saat itu, yang menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS) adalah Ir. Soekarno. Sedangkan Wakil Presiden dan Perdana Mentri dijabat oleh Mohammad Hatta. Lihat George McTurnan Kahin, Refleksi Pergumulan Lahirnya Republik: Nasionalisme dan Revolusi Di Indonesia

(Solo: UNS Press dan Pustaka Sinar Harapan, 1995), h. 323.

2

Alimin Prawirodirdjo (1884-1964) adalah wakil ketua Perserikatan Pegawai Pegadaian Bumiputera (PPPB). Sudah menjadi anggota PKI pada skitar tahun 1917. Pada saat itu, PKI masih bernama Indische Sociaal-Democratische Vereniging (ISDV). Lihat Ruth T. Mcvey, Kemunculan Komunisme Indonesia (Depok: Komunitas Bambu, 2010), h. 68-70.

3

Comite Central (CC) merupakan sebuah lembaga perwakilan partai di tingkat pusat. CC bertanggung jawab atas pemilihan anggota Politbiro dan pengadaan kongres. Lihat Wikipedia The Free Encyclopedia, “Central Committee”, artikel diakses pada 16 Januari 2011 dari http://en.wikipedia.org/ wiki/Central_Committee

4

Soegiarso Soerojo, Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai: G30S/PKI dan Peran Bung Karno (Jakarta: C.V. Sri Murni, 1988), h. 51.

5Ibid,

h. xx. Golongan muda PKI diwakili tokoh-tokoh terkenal yaitu: Aidit, Njoto, Lukman, Sudisman, dan Njono. Sedangkan golongan tua, diwakili oleh: Alimin, Sardjono, dan Tan Ling Djie.

6

Dipa Nusantara Aidit (1923-1965) masuk PKI ilegal pada 1944. Sebelum menjabat sebagai sekretariat jendral (sekjen) pada 1953, ia sempat menjadi koordinator perburuhan PKI pada pertengahan 1948. Lihat Soerojo, Siapa Menabur Angin, h. 16 dan 57. Lihat juga Wenseslaus Manggut, dkk., ed., Seri Buku Tempo Aidit: Dua Wajah Dipa Nusantara (Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2010), h. 40.

7

Politbiro merupakan Biro Politik dari Comite Central (CC). Politbiro mempunyai fungsi merancang orientasi partai. Lihat Wikipedia Ensiklopedia Bebas, “Politbiro”, artikel diakses pada 16 Januari 2011 dari http://id.wikipedia.org/wiki/Politbiro

8“Jalan Baru Untuk Republik Indonesia” merupakan program

-program karya Musso yang disusun setelah kembali dari Uni Soviet

9

Musso (1887-1948) sudah menjadi anggota PKI ketika PKI masih bernama ISDV. Ia pernah memimpin PKI cabang Batavia pada masa penjajahan Jepang. Lihat McVey, Kemunculan Komunisme Indonesia, h. 302-303.

(11)

platform PKI.10 Sedangkan Alimin mencoba jalan lain. Inilah awal konflik antar para

elit PKI dimulai. Dan inilah yang akan dibahas dalam skripsi ini. Mengapa para elit

PKI berbeda pandangan?

“Marxisme”11 sebagai ideologi dasar partai komunis di seluruh dunia, dalam

sejarah perkembangannya penuh dengan pertentangan. Khususnya tentang

per-masalahan revolusi. Marx12 tidak memberikan ajaran spesifik tentang cara-cara

revolusi dan bagaimana revolusi itu terjadi. Hal ini memicu konflik antar pengikut

Marxisme dalam hal menafsirkan revolusi. Misalnya, yang terjadi dalam

Internasionale II.13

Dalam Internasionale II ada tiga tokoh penafsir Marxisme yang sangat

terkenal, yaitu: Kautsky,14 Rosa Luxemburg,15 Bernstein,16 dan Lenin.17 Mengenai

revolusi, Kautsky berpendapat bahwa revolusi akan datang dengan sendirinya karena

kondisi sosial yang terjadi yaitu kaum borjuis18 terus memeras kaum proletar,19

10Ibid,

h. 53.

11

Marxisme merupakan ajaran-ajaran yang diklaim bersumber dari ajaran-ajaran Karl Marx. Lihat Franz Magnis-Suseno, Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Permasalahan Revisionisme (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1999), h. 269. Penjelasan tentang Marxisme juga dibahas pada Bab II.

12

Karl Marx (1818-1883) adalah filosof kelahiran Prusia. Ajaran-ajarannya termaktub dalam Kapital, Manifesto Partai Komunis, Kemiskinan Filsafat, dll. Ajaran-ajarannya terkenal dengan istilah

“sosialisme ilmiah”. Lihat Suseno, Pemikiran Karl Marx, h. 46-53. Para sosiolog sering menyingkat nama Karl Marx dengan sebutan Marx. Lihat David McLelland, Ideologi Tanpa Akhir (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2005), h. 8. lihat juga E. Stepanova, Karl Marx: Nabi Kaum Proletar (Yogyakarta: Mata Angin, 2004) h. 1.

13

Suseno, Pemikiran Karl Marx, h. 221. Internasionale II merupakan asosiasi buruh internasional kedua yang didirikan pada 1889 oleh partai-partai sosialis setiap negara.

14

Suseno, Pemikiran Karl Marx, h. 222. Karl Kautsky (1854-1938) adalah kader Partai Sosial Demokrat Jerman (SPD). Ia yang menulis program-program SPD.

15

Suseno, Pemikiran Karl Marx, h. 229. Rosa Luxemburg (1870-1918) adalah pendiri Serikat Spartakus yang kemudian menjadi induk Partai Komunis Jerman.

16

Suseno, Pemikiran Karl Marx, h. 226-227. Eduard Bernstein (1850-1932) adalah pemimpin kaum reformis dalam tubuh SPD. Pada 1901, ia terpilih menjadi anggota Parlemen Kekaisaran Jerman mewakili SPD.

17

Vladimir Ilyich Ulyanov (1870-1924) adalah pemimpin Partai Bolshevik di Uni Soviet (1904-1924). Ia juga merupakan perdana mentri Uni Soviet pertama kali (1917-1924). Lihat Wikipedia

Ensiklopedia Bebas, “Vladimir Lenin”, artikel diakses pada 20 Januari 2011 dari http://id.wikipedia. org/wiki/VladimirLenin

18Istilah “borjuis” dipakai Karl Mar

(12)

sehingga kaum proletar bangkit dengan sendirinya melawan kaum borjuis untuk

menguasai faktor-faktor produksi.20 Dalam hal ini, Kautsky mengkritik

penafsir-penafsir lainnya, Lenin dan Rosa Luxemburg yang menyatakan bahwa revolusi harus

dipersiapkan.

Lain halnya dengan Bernstein, salah satu revisionis ajaran Marx. Bernstein

berpendapat bahwa, revolusi adalah suatu angan-angan yang utopis dan merupakan

sisa metafisika Hegel.21 Menurut Bernstein, kaum sosialis harus “… menyadari bahwa

sosialisme hanya dapat dicapai dari hasil-hasil ekonomis, politis, dan etis masyarakat

borjuasi.”22 Revolusi harus diganti dengan reformasi. Dalam hal ini, Bernstein sangat

berbeda dengan ajaran Marx tentang tahap menuju masyarakat Sosialis yang

meniscayakan revolusi. Oleh sebab itu, ajaran-ajaran Bernstein disebut

revisionis-me.23 Dari sinilah pertentangan pemikiran antar penafsir-penafsir Marxisme menajam.

Tokoh-tokoh Internasionale II menganggap bahwa, Bernstein telah menyimpang dari

ajaran-ajaran Marx, yang meniscayakan berakhirnya dominasi kaum borjuis melalui

revolusi proletar.

Perkembangan Marxisme mulai mengalami masa yang gemilang setelah Lenin

menyumbangkan pemikiran-pemikarannya. Lenin berpendapat bahwa revolusi tidak

mungkin ditunggu, karena kaum buruh tidak mungkin sadar dengan sendirinya.24 Sifat

alamiah kaum buruh, menurut Lenin, yaitu selalu memikirkan kenaikan upah dan

pengurangan jam kerja, inilah yang membuat kaum buruh berpotensi menerima

19 Istilah “proletar” dipakai Karl Marx untuk menyebut para pekerja (buruh).

Tetapi Lenin menafsirkan kata proletar lebih luas, yaitu orang-orang miskin yang tertindas.

20

Suseno, Pemikiran Karl Marx, h. 223-224.

21

Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831) adalah filosof kelahiran Stuttgart (Jerman). Ia

merupakan pencetus hukum dialektika. Lihat Wikipedia Ensiklopedia Bebas, “Georg Wilhelm Friedrich Hegel”, artikel diakses pada 21 Januari 2011 dari http://id.wikipedia.org/wiki/Hegel

22

Suseno, Pemikiran Karl Marx, h. 227.

23Ibid.,

h. 228.

24Ibid.,

(13)

sogokan dari para pemilik modal yang menghilangkan semangat revolusionernya.25

Oleh sebab itu, Lenin berpendapat bahwa, revolusi harus terorganisasi dalam sebuah

partai yang terdiri dari kader-kader revolusioner, yang mengerti tentang teori-teori

revolusioner Karl Marx, yaitu para kaum yang terpelajar.26

Tafsiran-tafsiran Lenin tentang ajaran-ajaran Marx, diklaim sebagai ajaran

Marx murni, dan ajaran ini dikenal di seluruh dunia dengan sebutan “

Marxisme-Leninisme” atau dengan sebutan pendek “komunisme”.27 Dengan ajaran ini, Lenin

berhasil meraih banyak pengikut di Uni Soviet khususnya kaum buruh, lalu

melaku-kan revolusi di Uni Soviet (1917). Setelah itu, mendirimelaku-kan Internasionale ke III atau

biasa disebut Komunis Internasional (Komintern) pada 1919, yang menjadi kiblat

bagi Partai Komunis di hampir seluruh dunia, termasuk Indonesia.28

Tafsiran-tafsiran Lenin tentang revolusi, dikritik oleh Rosa Luxemburg yang

menyatakan bahwa, revolusi harus dipimpin oleh kaum buruh yang mengerti tentang

permasalahan buruh yang sudah mengalami penindasan oleh kaum kapitalis.29

Menurut Rosa Luxemburg, tidak mungkin para elit intelektual yang belum pernah

mengalami penindasan oleh Kapitalis mempunyai militansi yang tinggi untuk

me-mimpin suatu revolusi.30

Sejarah telah membuktikan, bahwa penafsiran-penafsiran tentang

ajaran-ajaran Marx telah membuahkan pandangan-pandangan baru yang bertentangan antar

sesama para penafsir. Ini memberikan efek yang sangat besar pada peristiwa-peristiwa

pertentangan pandangan berikutnya.

25Ibid.

26Ibid. 27

Ibid, h. 269.

28

Mcvey, Kemunculan Komunisme Indonesia, h. 3.

29

Suseno, Pemikiran Karl Marx, h. 233.

(14)

Tak jarang pertentangan itu terjadi antar sesama anggota suatu organisasi dan

membuat organisasi itu sendiri terpecah, bahkan bubar. Misalnya ,saja di Uni Soviet.

Sejak meninggalnya pemimpin Komunis Internasional (Komintern), Lenin pada 1924,

para elit Komintern saling bertentangan mengenai pandangan organisasi. Konflik

antar elit Komintern meruncing, ketika perbedaan pendapat antara Trotsky31 dan

Stalin32 dalam menyikapi revolusi yang terjadi di Tiongkok,33 pada 1927.34

Sebelum-nya, Trotsky mengkritik keras kebijakan Stalin dalam Partai Komunis Uni Soviet

(PKUS).

Trotsky menganggap bahwa, penekanan demokrasi birokrat di dalam PKUS

dan teori “dua tahap” yang mniscayakan ketundukan kaum pekerja kepada kaum

borjuis nasionalis adalah kontra revolusi.35 Inilah yang menjadi cikal-bakal timbulnya

ideologi “revisionisme modern” (remo). Sejak saat itulah Komintern dan PKUS

terbelah menjadi dua kubu, kubu Stalin dan kubu Trotsky, hingga bubarnya

Komintern dan terbunuhnya Trotsky. Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Di Indonesia, para kader komunisme yang tergabung dalam PKI juga tidak

ter-lepas dari konflik. Sebelum peristiwa Madiun 1948, PKI sempat keluar dari “bayang

-bayang Lenin” dengan langkah yang konroversial, yaitu dengan menganut politik

independen, dan akan bekerja sama dengan Belanda untuk membentuk Republik

31

Lev Davidovich Trotski (1879-1940) adalah mentri pertahanan Uni Soviet (1981-1925) dan menteri luar negeri Uni Soviet (1917-1918). Ia juga menjabat sebagai ketua Dewan Buruh Petrogard

pada 1917. Lihat Wikipedia Ensiklopedia Bebas, “Leon Trotsky”, artikel diakses pada 20 Januari 2011

dari http://id.wikipedia.org/wiki/LeonTrotsky

32

Ioseb Jughashvili (1878-1953) adalah penggagas jabatan sekjen dalam struktur organisasi PKUS dan sekaligus menjabatnya (1922-1953). Ia pernah menjadi perdana menteri Uni Soviet (1941-1953). Lihat Wikipedia Ensiklopedia Bebas, “Josef Stalin”, artikel diakses pada 21 Januari 2011 dari http://id.wikipedia.org/wiki/JosephStalin

33

Sebelum tahun 1967, istilah Tiongkok dalam bahasa Indonesia digunakan untuk menyebut negara China. Lihat Wikipedia Ensiklopedia Bebas, “Tiongkok”, artikel diakses pada 24 Januari 2011 dari http://id.wikipedia.org/wiki/Tiongkok

34

Leon Trotsky, Revolusi yang Dikhianati: Sebab-sebab Kebangkrutan Uni Soviet,

(Yogyakarta: Resist Book, 2010), h. xiii.

(15)

Indonesia Serikat (RIS), yang digagas oleh Alimin dan Sardjono.36 Langkah Alimin

ini, dapat “diluruskan” oleh Muso dengan keputusan pemberontakan revolusioner

pada 1948 di Madiun.37 Walaupun gagal, Muso telah mengembalikan khittah PKI ke

jalan revolusi yang didominasi oleh kaum tani dan kaum buruh atau masyarakat

proletar.

Pada tahun 1951-1959, dinamika pergerakan pemikiran para elit PKI terus

berlanjut. Misalnya, antara kelompok pemuda yang diwakili Aidit dan kelompok tua

yang diwakili oleh Alimin, yang telah saya sebut pada paragraf awal. Lalu konflik

antara Tan Ling Djie,38 yang menginginkan prinsip-prinsip lama dalam program PKI

dan Aidit yang menginginkan PKI menjadi populer dengan mengubah prinsip-prinsip

lama, mengesampingkan revolusi dan mengikuti pemilu pada 1955.39

Revolusi sangatlah sesuai dengan keaadan di Indonesia. Setelah peristiwa

kemerdekaan 17 Agustus 1945 hingga pada 1959, Indonesia belum menggunakan

sistem diktator proletariat ala komunisme. Oleh sebab itu, menurut ajaran komunisme

revolusi harus terus berjalan hingga sistem diktator proletariat berdiri.

Pada 1958-1959, negara yang menjadi kiblat komunisme di dunia terbelah

menjadi dua kubu, antara Tiongkok yang dipimpin oleh Mao Tse-Tung,40 dengan Uni

Soviet yang dipimpin Krushcev.41 Pada saat itu, Mao Tse-Tung mengkritik “strategi

36

Soerojo, Siapa Menabur Angin, h. 30-31.

37Ibid.,

h.37-38.

38

Tan Ling Djie merupakan sekretaris Musso. Menjadi pimpinan Sidang Pleno CC pada 7 Januari 1951. Menjabat sebagai anggota CC pada tahun 1951. Wawancara pribadi dengan anggota CC-PKI, Esempe (samaran), Jakarta 22 Juli 2011.

39

Ibid, h. 57-58.

40

Mao Zedong (1893-1976) adalah presiden pertama Republik Rakyat Tiongkok (RRT) (1954-1959) dan pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) pada 1943. Lihat Wikipedia Ensiklopedia

Bebas, “Mao Zedong”, artikel diakses pada 20 Januari 2011 dari http://id.wikipedia.org/wiki/Mao_ Zedong

41

(16)

kanan” yang disahkan dalam kongres ke 20 PKUS, yang dipimpin oleh Krushcev

dengan mengambil langkah bekerja sama dengan kaum borjuis kecil. Inilah yang

disebut Revisionisme Modern (Remo).42 Kemunculan remo merupakan faktor yang

sangat mengganggu perjuangan PKI dalam mewujudkan cita-cita yang sudah

ditetapkan, karena ajaran-ajaran remo sangat bertentangan dengan komunisme.

Misalnya, perjuangan buruh hanya sebatas kenaikan upah, tidak harus meruntuhkan

sistem kapitalisme dan aspirasi diperjuangkan melalui parlemen, tidak revolusi.

Konflik antar kedua negara yang menjadi kiblat komunisme dunia itu memberi

kontribusi besar atas konflik antara Aidit dan Njono43 sebagai elit PKI. Inilah yang

menjadi fokus dalam skripsi ini. PKI layak diangkat sebagai sebuah studi kasus

karena, PKI merupakan salah satu partai komunis terbesar di dunia pada 1955.

Komunisme sebagai ideologi pada saat itu, mendapat apresiasi yang sangat

besar di dunia, karena ajaran revolusinya yang dapat menggerakkan suatu masyarakat

yang dijajah untuk berjuang meraih kemerdekaan, termasuk di Indonesia. Oleh sebab

itu, penulis mengangkat judul “Konflik Ideologi Di Tubuh Partai Komunis Indonesia

(PKI) Periode 1951-1959: Marxis-Leninis Versus Revisionis Modern”, guna

memahami sejarah pertarungan pemikiran dalam sebuah partai politik dan sejarah

berdirinya serta berkembangnya sebuah partai politik di Indonesia.

PKI merupakan partai yang solid. Walaupun terjadi konflik ideologi di antara

para kadernya, namun para kader tersebut tidak melakukan sebuah gerakan untuk

memisahkan diri terhadap para kader lain yang berlainan pendapat atau ideologi.

42 Blog Proletar, “Tentang Imperialisme,” artikel diakses pada 13 Januari 2011 dari

http:// blogproletar.blogspot.com/2010/06/tentang-imperialisme.html

43

(17)

Inilah yang menarik diteliti dari PKI, di mana konflik pemikiran antar sesama kader

tidak berdampak perusakan solidaritas.

Dalam dinamika politik Indonesia baru-baru ini, masyarakat dipertontonkan

pada perpecahan partai-partai politik hingga lahir partai politik baru dari perpecahan

tersebut. Misalnya, perpecahan Partai Golkar yang disebabkan oleh dua pimpinannya

yang melahirkan Partai Nasional Demokrat sebagai partai baru. Oleh sebab itu penulis

mengangkat judul yang berkaitan dengan PKI. PKI patut dijadikan tauladan bagi

partai-partai politik di Indonesia saat ini, khususnya dalam bidang pemeliharaan

soliditas antar kader dan pengelolaan konflik.

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

Terjadinya konflik internal PKI antara Marxis-Leninis dan Revisionis Modern,

memberikan gagasan-gagasan baru dalam kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan PKI.

Dengan demikian, yang menjadi inti permasalahan adalah mengapa konflik kedua

ideologi itu terjadi di dalam tubuh PKI? Oleh karena itu, perlu sekali mengetahui

tentang ideologi Marxisme-Leninisme dan Remo. Perlu juga mengetahui tentang latar

belakang berdirinya PKI.

Karena luasnya sejarah tentang PKI, maka penulis membatasi pembahasan

dari periode 1951 sampai dengan 1959. Dengan demikian, pembahasan dirumuskan

pada seputar:

1. Mengapa terjadi konflik ideologi antar para elit PKI?

(18)

C. Tujuan Penelitian

Ada dua macam tujuan yang ingin dicapai oleh penulis dalam penelitian

skripsi ini, yaitu: pertama, tujuan secara praktis, ditujukan untuk memenuhi tugas

akademik yang merupakan syarat dan kewajiban bagi setiap mahasiswa, dalam rangka

menyelesaikan studi tingkat sarjana program Strata 1 (S1) di Universitas Islam Negeri

Syarif Hidayatullah Jakarta (UIN Syahid), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

(FISIP), jurusan Ilmu Politik dengan gelar Sarjana Ilmu Politik (S.I.P.); sedangkan

yang kedua, tujuan akademis yang mempunyai dua sub tujuan, yang pertama untuk

memahami secara langsung ideologi Marxisme-Leninisme dan revisionisme modern

dan yang kedua untuk mengetahui sejarah konflik internal PKI.

D. Metode Penelitian

Untuk mengkaji permasalahan ini, penulis menggunakan tipe penelitian

kualitatif, yaitu penelitian yang cenderung digunakan dalam ilmu-ilmu sosial yang

berhubungan dengan perilaku.

Teknik pengumpulan data yang digunakan, dilakukan dengan wawancara,

salah satunya dengan mantan anggota PKI yang masih hidup dan sempat menjadi

menteri muda bidang pendidikan pada masa kabinet seratus menteri, bernama Esempe

(samaran). Selain itu, wawancara dengan seorang pelaku sejarah, yang merupakan

anggota Politbiro CC PKI bernama Rewang. Kedua tokoh tersebut dipilih sebagai

narasumber karena, mereka mengalami langsung peristiwa-peristiwa yang akan

diteliti.

Pengumpulan data juga dilakukan dengan mengumpulkan bahan pustaka,

(19)

data juga dilakukan dengan mengunduh situs-situs yang berisi tentang hal-hal yang

terkait sebagai pendukung.

Agar lebih paham dan mencapai target dalam sasaran pembahasan itu, maka

penulis menggunakan metode deskriptif-analisis. Metode deskriptif merupakan

metode yang dipergunakan sebagai prosedur pemecahan masalah, dengan

menggambarkan/melukiskan keadaan subjek/objek penelitian berdasarkan fakta-fakta

yang tampak, apa adanya. Sedangkan teknik analisis merupakan salah satu teknik

dalam penelitian dengan melakukan analisa-analisa dari data yang didapat.

Mengenai teknik penulisan skripsi ini, penulis mengacu sepenuhnya pada

standar penulisan skripsi dengan buku, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi,

Tesis, dan Disertasi) yang diterbitkan oleh CeQDA (Center for Quality Development

and Assurance) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tahun

2007, dengan pengecualian sebagai berikut:

1. Dalam daftar pustaka sumber-sumber yang berasal dari buku-buku dan

artikel-artikel ditulis dalam bagian paling atas sesuai dengan abjad.

2. Sedangakan sumber-sumber yang berasal dari internet menyusul kemudian

sesuai abjad pula.

E. Sistematika Penulisan

Pembahasan akan disusun sebagai berikut:

Bab I membahas seputar uraian singkat tentang materi dan signifikansinya,

yang terdapat pada latar belakang masalah, kemudian secara berurutan akan dibahas

(20)

teknik penulisan, dan sistematika penulisan yang semuanya tercakup dalam

pendahuluan.

Bab II membahas tentang teori-teori dan beberap ideologi terkait. Didahului

dengan penjelasan tentang teori konflik lalu diikuti dengan ideologi yang dibagi

menjadi tiga bagian, yaitu: Marxisme, Marxisme-Leninisme, dan Remo. Setelah itu,

penjelasan tentang partai politik sebagai penutup Bab II.

Bab III membahas tentang sejarah singkat PKI dan peristiwa-peristiwa

penting dalam sejarah Indonesia yang digerakkan oleh PKI. Diawali dengan

pembahasan tentang sejarah berdirinya PKI, lalu diikuti dengan pemberontakan

pertama kali yang digerakkan oleh PKI pada 1926. Setelah itu, pembahasan tentang

peristiwa Madiun 1948 sebagai penutup Bab III.

Bab IV membahas tentang perebutan pengaruh dua ideologi besar,

Marxisme-Leninisme dan Remo yang sedang menghegemoni PKI. Diawali dengan maskunya

ideologi Remo ke dalam tubuh PKI, lalu diikuti dengan jalannya konflik yang

berakhir dengan kemenangan Remo. Setelah itu, ditutup dengan dampak dari

kemenangan Remo terhadap PKI dan dinamika perpolitikan Indonesia saat ini.

Dan penulisan ini diakhiri dengan kesimpulan sebagai penutup pada Bab V.

Konflik ideologi di dalam tubuh PKI terjadi karena perbedaan beberapa pandangan,

di antaranya tentang revolusi. Beberapa anggota PKI, khususnya para elit golongan

tua, menghendaki cara untuk mengganti sistem kenegaraan dan kepemimpinan

nasional itu harus dengan cara revolusi. Sedangkan para elit golongan muda

menghendaki dengan cara mengikuti pemilu. Dengan demikian, dapat dikatakan

(21)

Dalam “membedah” kasus konflik internal yang terjadi dalam tubuh PKI

(Partai Komunis Indonesia), dibutuhkan beberapa “pisau” analisis berupa beberapa

teori dan beberapa ideologi. Teori-teori tersebut mencakup: konflik dan partai politik.

Sedangkan ideologi-ideologi mencakup: Marxisme, Marxisme-Leninisme, dan

Revisionisme Modern (Remo). Tentang teori-teori dan ideologi-ideologi tersebut,

dijelaskan dalam paragraf selanjutnya.

A. Konflik

Dalam Sosiologi, terdapat banyak teori konflik. Namun, Dalam kasus konflik

yang terjadi dalam tubuh PKI yang dibahas dalam skripsi ini, merupakan teori konflik

yang dirumuskan oleh Marx (Karl Marx).1 Konflik internal PKI ini merupakan

konflik yang bersifat konstruktif, bukan yang bersifat destruktif. Karena, pihak-pihak

yang terlibat konflik mengeluarkan kesepakatan damai.2

Dalam kasus konflik yang terjadi dalam tubuh PKI yang dibahas dalam skripsi

ini, melibatkan dua kelompok yang berbeda penafsiran tentang ajaran-ajaran Marx,

yaitu Marxisme-Leninisme dan (Remo). Yang berpihak pada Marxisme-Leninisme,

yaitu golongan tua yang diwakili Tang Ling Djie dan Njono, sedangkan kelompok

1

Marx menyatakan bahwa, konflik muncul dalam suatu masyarakat karena perbedaan kelas, yaitu kelas para pemilik modal (borjuis) dan kelas pekerja/buruh (proletar). Maurice Duverger,

Sosiologi Politik (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2003), h. 193.

2

Konflik bersifat destruktif artinya, konflik tersebut membawa pihak-pihak yang terlibat dalam konflik pada sebuah perang terbuka atau saling menghancurkan. Konflik bersifat konstruktif artinya, konflik tersebut tidak sampai membawa pihak-pihak yang terlibat konflik untuk saling meng-hancurkan. Tetapi justeru membawa mereka untuk membangun peradaban baru, dengan konsensus yang dibuat pasca konflik. Lewis Coser menggunakan istilah konflik realistis dan konflik non-realistis. Lihat Margaret M. Poloma, Sosiologi Kontemporer (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1992), h. 110-111.

(22)

Remo yaitu golongan muda yang diwakili oleh Aidit, Lukman, dan Njoto, seperti

yang sudah dijelaskan dalam Bab I, skripsi ini. Jadi, konflik yang dimaksud dalam hal

ini, yaitu konflik sebagai eksperesi antara dua kelompok yang bertikai.3

Supaya lebih fokus, penjelasan mengenai teori konflik hanya terkonsentrasi

kepada teori konflik yang berkaitan dengan permasalahan konflik internal PKI

khususnya, teori konflik Marx. Marx menyatakan bahwa, konflik muncul dalam suatu

masyarakat karena perbedaan kelas, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Marx

berpendapat bahwa, para pemilik modal memeras para pekerja dengan cara

memperpanjang jam kerja dan upah yang tidak layak, atau dikenal dengan istilah

kerja lebih.4 Dengan keadaan seperti itu, para pekerja merasa diperas. Lalu muncul

aksi-aksi perlawanan, dan konflik menjadi keniscayaan yang memuncak hingga

peristiwa revolusi.

Berdasarkan pemikiran-pemikiran Marx tentang konflik, seorang sosiolog asal

Jerman, Ralf Dahrendorf mengembangkan teori konflik pada 1958.5 Ralf Dahrendorf

menyatakan bahwa, konflik yang terjadi di abad 20, tidak hanya antara kelas pemilik

modal (borjuis) dan kelas pekerja/buruh (proletar). Karena dalam abad 20, terjadi

dekomposisi modal. Artinya, para pemilik modal tidak harus mengelola modalnya

sendiri. Ia dapat menggunakan jasa orang lain untuk mengelola modalnya.6

Pada abad 20, terjadi perubahan pola pikir (mind set) masyarakat, menurut

Ralf Dahrendorf. Yaitu terjadinya sepsialisasi bidang dalam dunia kerja.7 Artinya,

seseorang yang bekerja dalam suatu perusahaan, secara formal ia hanya terkonsentrasi

3

Tentang definisi konflik lihat Wikipedia Ensiklopedia Bebas, “Konflik”, artikel diakses pada 18 Februari 2011 dari http://id.wikipedia.org/wiki/Konflik

4

Karl Marx, Kapital: Sebuah Kritik Ekonomi Buku II Proses Sirkulasi Kapital (Jakarta-Bandung: Hasta Mitra-Ultimus & Institute For Global Justice, 2006), h. 256-257.

5

Poloma, Sosiologi Kontemporer, h. 129.

6Ibid,

h. 131.

7Ibid,

(23)

dalam satu bidang. Sistem pengelolaan perusahaan di abad 20, tidak semuanya

tertutup. Ada yang terbuka bagi para pekerja untuk memiliki saham perusahaan

tempat para pekerja itu bekerja. Dengan demikian, timbul kelas menengah baru. Oleh

sebab itu, para pemilik modal dan pekerja jadi sulit dibedakan.

Ketika dekomposisi modal terjadi, pada saat yang bersamaan terjadi

dekomposisi tenaga kerja. Artinya, para pekerja terpecah menjadi dua bagian yaitu,

pekerja yang terampil atau mempunyai keahlian dibidang tertentu berada pada kelas

atas dan pekerja biasa atau pekerja yang hanya mengandalkan tenaga tanpa keahlian

tertentu berada di kelas bawah.8

Seiring dengan berkembangnya spesialisasi pekerjaan yang berjenjang di abad

20, struktur sosial masyarakat menjadi semakin rumit. Hampir di setiap interaksi

sosial, antar manusia mempunyai struktur hierarki antara penguasa dan yang dikuasai,

antara atasan dan bawahan. Oleh sebab itu, Ralf Dahrendorf berpendapat bahwa,

dasar pembentukan kelas adalah kekuasaan.9

Berdasarkan dasar pembentukan kelas tersebut, Ralf Dahrendorf berpendapat

bahwa, konflik terjadi karena kepentingan-kepentingan penguasa dan yang dikuasai

berbeda dan saling berlawanan.10 Misalnya, kaum pemilik modal sebagai penguasa

atas pemberian upah para pekerja dan pengaturan jam kerja menginginkan upah

ditekan serendah mungkin. Supaya keuntungan yang didapat semakin besar dan jam

kerja diperpanjang, supaya perusahaan lebih produktif. Sedangkan buruh,

menginginkan upah yang layak dan jam kerja yang “manusiawi”.

8Ibid,

h. 132.

9Ibid,

h. 134.

10Ibid,

(24)

Contoh lain, misalnya atasan dan bawahan dalam sebuah kantor, atasan

menginginkan kinerja yang baik kepada bawahan, lalu bawahan menolak, karena

fasilitas tidak menunjang. Dalam hal ini, terlihat jelas bahwa

kepentingan-kepentingan pemilik modal, sebagai pihak penguasa dan kepentingan-kepentingan-kepentingan-kepentingan

para pekerja sebagai pihak yang dikuasai, mengalami perbedaan dan saling

berlawanan. Oleh sebab itu, konflik terjadi. Akhir dari sebuah konflik inilah yang

menjadi perbedaan antara Marx dan Ralf Dahrendorf.

Marx berpendapat bahwa revolusi merupakan suatu hal yang niscaya, karena

perundingan-perundingan dengan kaum pemilik modal tidak akan mencapai keadilan

dan berakhir dengan kebuntuan. Karena, sudah menjadi wataknya bahwa para pemilik

modal akan selalu menumpuk keuntungan sebanyak-banyaknya.11

Sedangkan Ralf Dahrendorf, mempunyai pandangan yang berbeda. Keadaan

sosial masyarakat yang berkembang pada abad 20, di mana Ralf Dahrendorf memulai

penelitiannya mengenai teori konflik, menunjukkan bahwa antara para pemilik modal

dan pekerja saling bertukar keuntungan dengan adanya dekomposisi modal.12 Jadi,

ada sebuah pilihan lain untuk menyelsaikan konflik selain revolusi, yaitu dekomposisi

modal. Inilah yang tidak diketahui Marx pada zamannya. Dengan demikian, revolusi

sudah tidak menjadi keniscayaan.13

Di sini terlihat bahwa, Ralf Dahrendorf telah mengkritik dan memodifikasi

beberapa pemikiran Marx. Dalam teori kelas, Ralf Dahrendorf menghadirkan kelas

11

Ruth T. Mcvey, Kemunculan Komunisme Indonesia (Depok: Komunitas Bambu, 2010), h. 4.

12

Poloma, Sosiologi Kontemporer, h. 132.

13

Perundingan-perundingan untuk mencapai kesepakatan-kesepakatan (konsensus) baru yang lebih adil merupakan suatu ciri khas masyarakat industri di abad 20. Lihat Anthony Giddens, Studies In Social and Political Theory (Londres: Hutchinson, 1977), yang dikutip oleh Firmanzah Ph.D.,

(25)

menengah baru dengan adanya dekomposisi modal. Berdasarkan hal itu, konflik tidak

hanya terjadi antara kelas pemilik modal dan kelas pekerja, tetapi konflik juga bisa

terjadi antar sesama kelas pekerja dan para pemilik modal. Lalu Ralf Dahrendorf

membangun dasar pembentukan kelas dengan dasar lebih umum, yaitu kekuasaan.

Ralf Dahrendorf juga tidak menutup kemungkinan terjadinya konflik, antara kaum

mayoritas dengan kaum minoritas. Karena, yang menjadi sebab terjadinya konflik

adalah kepantingan.

B. Ideologi

Beberapa ilmuwan mempunyai pendapat tentang ideologi. Namun, yang

dimaksud ideologi dalam membedah kasus konflik internal PKI dalam skripsi ini,

yaitu ideologi yang rumuskan oleh Marx.

Dalam mendefinisikan ideologi, Marx berpijak pada analisis sosialnya

berdasarkan, kepemilikan faktor-faktor produksi dan ketidaksetaraan distribusi

kekayaan, sebagaiamana telah dijelaskan sebelumnya.14 Berdasarkan ketidaksetaraan

tersebut, Marx berpendapat bahwa, keadaan sosial yang ideal merupakan suatu

keadaan, di mana faktor-faktor produksi dapat diakses oleh semua masyarakat.

Sehingga, distribusi kekayaan mengalir secara adil. Oleh sebab itu, Marx berpendapat

bahwa, “Ideologi merupakan alat untuk mencapai kesetaraan dan kesejahteraan

bersama dalam masyarakat.”15

Dalam merumuskan ideologi, Marx tidak berawal dari ruang yang kosong. Ia

mempelajari hal-hal mendasar tentang sebuah ideologi, yang sudah dirumuskan oleh

14

David McLelland, Ideologi Tanpa Akhir (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2005), h. 2, 17, dan 18.

15Wikipedia Ensiklopedia Bebas, “Ideologi”,

(26)

para pendahulunya. Oleh sebab itu, sangat penting untuk mrngetahui tentang

dasar-dasar ideologi.

Ideologi secara kebahasaan, berasal dari bahasa Yunani, yaitu eidos yang

memiliki arti gagasan atau konsep dan logos yang memiliki arti ilmu.16 Secara istilah,

banyak ahli ilmu sosial mendefinisikan ideologi. Ideologi sendiri digagas pertama kali

oleh seorang filosof, yang ditugaskan untuk menyebarkan gagasan-gagasan

pencerahan pada 1797, bernama Antoine Destutt de Tracy.17

Dalam mendefinisikan ideologi, de Tracy berpijak pada inti suku kata yang

pertama yaitu ide. Menurut de Tracy, ide-ide rasional dari seorang manusia yang tak

terikat oleh prasangka agama dan metafisika, akan menjadi landasan bagi masyarakat

yang adil dan damai.18 De Tracy juga berpendapat bahwa, posisi alam dalam

hubungannya dengan manusia adalah sebagai partner bukan sebagai objek. Oleh

karena itu, rasionalitas manusia dalam mengeksplorasi alam menjadi penting.19

Dengan demikian, de Tracy menganggap bahwa ideologi merupakan dominasi

rasionalitas manusia atas sikap-sikapnya terhadap hal-hal tertentu. Oleh sebab itu, de

Tracy berpendapat bahwa “Ideologi adalah studi terhadap ide – ide/pemikiran

tertentu.”20

Lain halnya dengan Marx. Marx telah membangun sebuah anggapan

bahwa, ideologi meniscayakan kesadaran bagi para penganutnya untuk diperjuangkan.

Bukan hanya sekedar mempelajari ide-ide tertentu di ruang-ruang akademik.

16Shvoong.com The Global Source for Summeries & Reviews, “Pengertian Ideologi” , artikel

diakses pada 24 Februari 2011 dari http://id.shvoong.com/society-and-news/news-items/2005723-pengertian-ideologi/ Bandingkan dengan Scribd, “Pengertian dan Fungsi Ideologi”, artikel diakses pada 26 Februari 2011 dari http://www.scribd.com/doc/24582045/Pengertian-dan-Fungsi-Ideologi

17

McLelland, Ideologi Tanpa Akhir, h. 9.

18

Ibid.

19Ibid.

20 Wikipedia Ensiklopedia Bebas, “Ideologi”,

(27)

B.1. Marxisme

Bagi sebagian kalangan, pemberian istilah untuk ajaran-ajaran atau ide-ide,

identik dengan nama pencetus ajaran-ajaran atau ide-ide itu sendiri. Misalnya:

Maoisme21, Castroisme22, Stalinisme23, dan semacamnya. Lalu bagaimana dengan

Marxisme? Apakah Marxisme berasal dari ajaran-ajaran Karl Marx? Padahal Marx

sendiri menyebut ajaran-ajarannya dengan istilah “sosialisme ilmiah” (scientific

socialism).24

Menurut Franz Magnis-Suseno, Marxisme adalah ajaran-ajaran Marx yang

dibakukan oleh Friedrich Engels25 dan Karl Kautsky.26 Namun, Ada juga yang

berpendapat bahwa, Marxisme merupakan ajaran-ajaran yang berasal dari

pemikiran-pemikiran Marx.27 Lalu yang dimaksud Marxisme dalam skripsi ini, yaitu

ajaran-ajaran Marx yang dibakukan Friedrich Engels. Sedangkan, ajaran-ajaran-ajaran-ajaran Marx yang

dibakukan Karl Kautsky disebut Kautskysme.28

21

Maoisme adalah ajaran-ajaran Mao Tse-Tung yang digunakan PKT sebagai ajaran resmi. Maoisme merupakan varian dari Marxisme-Leninisme. Tentang Mao Tse Tung lihat bab I, h. 6. Lihat

juga Wikipedia Ensiklopedia Bebas, “Maoisme”, diakses pada 3 Maret 2011 dari http://id.wikipedia. org/wiki/Maoisme

22

Castroisme merupakan ajaran-ajaran yang berasal dari pemikiran-pemikira pemimpin Kuba, Fidel Castro. Ajaran-ajaran ini dipengaruhi oleh beberapa filososf diantaranya: Karl Marx, Freidrich Engels, Vladimir Lenin, dan terutama José Martí. Lihat Wikipedia Ensiklopedia Bebas, “Castroisme”, artikel diakses pada 3 Maret 2011 dari http://id.wikipedia.org/wiki/Castroisme

23

Stalinisme merupakan ideologi politik yang dicetuskan oleh pemimpin Uni Soviet pada 1929 sampai 1953, Joseph Stalin. Stalinisme berisi tentang pemerintahan yang represif. Lihat

Wikipedia Ensiklopedia Bebas, “Stalinisme” artikel diakses pada 3 Maret 2011 dari http://id.wikipedia. org/wiki/Stalinisme

24

Suseno, Pemikiran Karl Marx, h. 270-271.

25

Friedrich Engels lahir di Barmen, Wuppertal, Jerman, 28 November 1820 dan meninggal di London, 5 Agustus 1895. Ia adalah teman setia Karl Marx baik dalam perjuangan maupun pemikiran. Bersama Marx menulis “Manifesto Partai Komunis” pada 1848. Ia juga seorang pengusaha tekstil di inggris. Lihat Paul Lafargue, Mengenang Marx, dalam Erich Fromm, Konsep Manusia Menurut Marx

(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), h. 315. Lihat juga Wikipedia Ensiklopedia Bebas, “Friedrich

Engels”, artikel diakses pada 3 Maret 2011 dari http://id.wikipedia.org/wiki/Friedrich_Engels

26Ibid,

h. 5.

27

Suseno Pemikiran Karl Marx, h. 5.

28

(28)

Salah satu ajaran Marx yang dibakukan Friedrich Engels, Misalnya tentang

negara. Negara dalam ajaran ini dianggap sebagai hasil dari kontradiksi yang tak

terpecahkan dalam sebuah masyarakat.29 Salah satu faktor yang paling dominan yang

menyebabkan terjadinya kontradiksi tersebut, sebagaimana diajarkan Marx, yaitu

kepemilikan alat-alat produksi.

Dalam perkembangannya, Marxisme banyak ditafsirkan oleh para teoritikus

menjadi ajaran baru. Beberapa diantaranya yaitu Marxisme-Leninisme dan Remo,

yang merupakan ideologi-ideologi para anggota PKI yang menjadi pembahasan dalam

skripsi ini.

B.2. Marxisme-Leninisme

Semua kaum komunis menganggap bahwa, interpretasi ajaran-ajaran Marx

yang paling benar, adalah ajaran-ajaran Marx yang diinterpretasi oleh Lenin atau

disebut dengan Marxisme-Leninisme.30 Lenin mempersingkatnya dengan istilah

“komunisme”.31

Sebelum digunakan Lenin untuk menamai ajaran-ajarannya, istilah

komunisme digunakan untuk cita-cita utopis masyarakat yang menganggap bahwa,

kepemilikan pribadi akan digantikan oleh kepemilikan bersama.32

Lenin mempunyai beberapa interpretasi tentang ajaran-ajaran Marx, misalnya

tentang revolusi yang telah dipaparkan dalam Bab I skripsi ini. Penafsiran yang

penting lainnya yang dilakukan Lenin terhadap ajaran Marx yaitu tentang negara.

29

F. Engels, Asal-Usul Keluarga Milik Perseorangan dan Negara (K. Marx dan F. Engels,

Pilihan Karja, edisi dua djilid bahasa Inggris, djil. II, Moskow, 1949, h. 288-289). Dikutip dari Lenin,

Negara dan Revolusi, h. 10.

30

Setelah revoulusi oktober dan berdirinya Komintern, Marxisme-Leninisme menjadi kiblat bagi seluruh partai komunis di dunia, termasuk PKI. Pada awalnya PKI memegang sepenuhnya ideologi Marxisme-Leninisme. Tetapi, terjadi konflik ketika remo masuk dan mengubah garis partai.

31

Pada awalnya, istilah komunisme dan sosialisme memiliki arti yang sama. Dalam perkembangannya, istilah komunisme mengacu pada aliran sosialisme yang lebih radikal. Suseno

Pemikiran Karl Marx, h. 7 dan 19.

(29)

Kemunculan sebuah negara menurut Lenin, disebabkan oleh konflik yang tak

terdamaikan di dalam masyarakat.33

Berdasarkan kemunculannya, negara hanya berfungsi sebagai pendamai

konflik antar masyarakat. Oleh sebab itu, negara tidak dapat bertahan jika masyarakat

telah damai. Dalam hal ini, negara dianggap sebagai pihak yang netral dan dapat

berbuat adil. Tetapi dalam perkembangannya, negara cendrung melegitimasi

masyarakat kelas borjuis untuk menindas masyarakat proletar.

Sebagaimana dikatakan Lenin: “Menurut Marx, negara adalah suatu alat dari

kekuasaan klas, suatu alat untuk menindas klas jang satu oleh klas lainnja; ...”.34

Berdasarkan pendapat ini, Lenin meniscayakan negara harus dapat menghapus kelas

dalam masyarakat. Karena, yang menjadi inti permasalahan dalam masyarakat, yaitu

terjadinya kelas dalam masyarakat yang disebabkan oleh kepemilikan alat-alat

produksi.

Oleh sebab itu, menurut Lenin, negara harus menguasai seluruh alat-alat

produksi dan mengatur secara adil kepada masyarakat, hingga tercapai keteraturan

secara otomatis, dalam penggunaan alat-alat produksi oleh masyarakat itu sendiri.

Bila dominasi atas kepemilikan alat-alat produksi tidak ada lagi dalam masyarakat,

maka masyarakat tidak lagi terpecah atas proletar dan borjuis. Dalam keadaan seperti

itu, maka negara akan dilupakan oleh masyarakat, dan akan bubar secara perlahan

dengan sendirinya.35 Inilah yang dinamakan masyarakat komunis.

Lenin juga menggagas sebuah sistem pemerintahan, sebagai peralihan dari

sistem pemerintahan borjuis hingga melenyapnya sebuah negara. Sistem tersebut

33

Tentu saja dalam hal ini masyarakat sudah terbagi menjadi masyarakat borjuis dan masyarakat proletar. Lihat Lenin, Negara dan Revolusi, h. 10.

34Ibid,

h. 11.

35Ibid,

(30)

dikenal dengan sistem diktator proletariat. Sistem diktator-proletariat menyatakan

bahwa, suatu negera dalam masa peralihan harus dipimpin oleh seorang diktator yang

berpihak pada proletar (rakyat miskin yang tertindas).36

Diktator yang berpihak pada proletar diharapakan akan menjadikan demokrasi

kembali kepada rakyat. Lenin beranggapan bahwa, demokrasi yang dijalankan

melalui perwakilan-perwakilan di gedung parlemen, merupakan sebuah demokrasi

yang terdistorsi dari rakyat kecil. Mayoritas dari mereka yang menjalani demokrasi

lewat parlemen, hanya memperjuangkan sgelintir orang-orang yang bisa mengakses

perwakilan di parlemen, khususnya para pemilik modal.37

Menurut Lenin, demokrasi tidak seharusnya melalui perwakilan-perwakilan

parlemen borjuis, demokrasi harus didistribusikan langsung kepada rakyat. Jadi setiap

warga negara, dapat menyampaikan langsung aspirasi, tanpa harus terdistorsi melalui

perwakilan-perwakilan yang bersifat borjuis.38

Di Indonesia, yang terlihat paling dominan untuk digunakan oleh kaum

komunis Indonesia, yang tergabung dalam PKI dari ajaran-ajaran

Marxisme-Leninisme, yaitu teori penjajahan. Teori penjajahan menyatakan bahwa, melesetnya

ramalan Marx tentang jatuhnya negara-negara industri maju Eropa, karena, sistem

kapitalis telah memaksakan diri untuk menambah modal melalui penjajahan kepada

negara-negara yang belum maju.39

36Ibid,

h. 117.

37Ibid,

h. 115.

38

Ibid, h. 115-117. Dengan demikian, Lenin mempunyai tafsiran sendiri tentang demokrasi, dalam gagasannya tentang sistem diktator proletariat. Oleh sebab itu, sistem diktator proletariat dapat disebut juga sistem demokrasi kerakyatan.

39

(31)

B.3. Revisionisme Modern (Remo)

Revisionisme Modern (Remo) merupakan kumpulan ajaran yang merevisi

ajaran-ajaran Marxisme-Leninisme.40 Remo terinspirasi dari ajaran-ajaran revisionis

Bernstein dalam Internasionale II. Ajaran Remo menghilangkan karakter kelas dalam

masyarakat demokrasi borjuis.41 Ajaran Remo juga menghilangkan revolusi, dan

menggantinya dengan koeksistensi damai dengan diktator borjuis dalam

memperjuangkan hak-hak kaum proletar.42

Para pengikut Remo menyerang kaum komunis dengan sebutan kaum

dogmatik.43 Karena, terlalu kaku dalam menafsirkan ajaran-ajaran Marx. Tokoh yang

terkenal dalam mengembangkan ajaran-ajaran remo yaitu Kruschev dan Josip Broz

Tito.44 Sedangkan yang menemukan istilah “remo” yaitu Mao Tse-Tung. Ajaran remo

yang terpenting, yaitu menghilangkan cita-cita untuk menciptakan masyarakat

komunis.

Remo yang berhasil menyusup dalam PKI, yaitu remo yang berawal dari

pemikiran subjektif. Pemikiran subjektif ini disebabkan oleh lingkungan para kader

PKI serta para pengikut dan para simpatisan, yang lemah dalam penguasaan

ajaran-ajaran Marxisme-Leninisme. Pada waktu itu memang PKI didominasi oleh buruh tani

40

Foreign Languages Press, Leninism and Modern Revisionism (Peking: Foreign Languages Press, 1963), h. 2-4.

41

Ibid, h. 6.

42

Ibid.

43Ibid,

h. 9.

44

(32)

dan nelayan tradisional yang bekerja hanya dengan alat-alat sederhana dan belum

menggunakan mesin.45

Pemikiran-pemikiran subjektif ini, bertemu dengan pemikiran-pemikiran

oportunisme kanan.46 Percampuran antara pemikiran subjektif dan oportunisme kanan

inilah, yang membawa PKI ke jalur parlemen melalui pemilu dan berdamai dengan

kaum borjuis. Selain itu, pemikiran-pemikiran oportunisme kanan, juga menggiring

PKI berkoalisi secara permanen dengan lawan-lawan politik. Pengaruh

pemikiran-pemikiran oportunisme kanan, juga menyebabkan PKI bergantung kepada orang yang

tidak seideologi dengan PKI, sebagai pemimpin besar revolusi.47

C. Partai Politik

Dalam sistem demokrasi maupun sistem komunis, partai politik menjadi

lembaga penting bagi kedua sistem tersebut. Namun kedua sistem tersebut,

mem-punyai konsep yang berbeda tentang partai politik. Yang dimaksud partai politik

dalam skripsi ini, yaitu partai politik yang sesuai dengan ajaran komunisme.48

Partai politik mempunyai definisi yang lebih umum, yaitu organisasi yang

bertujuan merebut kekuasaan.49 Untuk mendapatkan kekuasaan, partai politik

45

Alat-alat produksi tradisional sederhana seperti cangkul, tidak perlu berpikir rumit untuk mengoperasikan dan memeliharanya. Sedangkan mesin butuh oli, butuh listrik, dan cara menggunakan-nya lebih rumit dibanding alat-alat tradisional. Oleh sebab itu, buruh tani tradisional cendrung sempit cara berpikirnya daripada buruh pabrik modern. Wawancara pribadi dengan Rewang, Jakarta 30 Maret 2011.

46

Pemikiran-pemikiran oportunisme kanan yaitu pemikiran yang mempunyai watak kekanan-kananan. Istilah ini ditujukan kepada orang-orang yang berpikir bahwa revolusi sudah tidak relevan lagi dan menganggap parlemen sebagai solusi terbaik dan tujuan akhir. Wawancara pribadi dengan Rewang, Jakarta 30 Maret 2011.

47

Pada saat itu, PKI terpengaruh oleh popularitas Soekarno yang pada saat itu menjabat sebagai Presiden. Wawancara pribadi dengan anggota CC-PKI, Esempe (samaran), Jakarta 22 Juli 2011.

48

Dalam ajaran komunisme, partai politik berperan tidak hanya sebagai alat perampas ke-kuasaan, tetapi juga sebagai pengatur segala hal yang berpengaruh terhadap masyarakat luas. Prof. Miriam Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1977), h. 165-166

49Ibid

(33)

mempunyai suatu sistem tata nilai dan cita-cita yang dinamakan ideologi. Ideologi

inilah yang menentukan garis-garis politik yang akan dijalankan partai politik. Selain

itu, partai politik juga berfungsi mengatur segala aspek untuk mencapai suatu

masya-rakat ideal.50

Berbeda dengan kelompok penekan (pressure group), atau istilah yang banyak

dipakai sekarang ini yaitu kelompok kepentingan (interest group). Kelompok ini

hanya memperjuangkan kepentingan tertentu saja. Biasanya sasaran dari kelompok ini

yaitu kebijakan-kebijakan tertentu saja.51 Dengan demikian, kelompok kepentingan

mempunyai tujuan lebih sempit daripada partai politik.

50

Dalam negara demokrasi, partai politik hanya dijadikan sebagai alat pengambil kekuasaan saja, dengan cara ikut dalam pemilihan umum. Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, h. 165-166.

51

(34)

Sebelum masuk ke inti persoalan skripsi ini, akan sangat penting untuk

me-ngenal lebih dulu tentang objek yang diteliti, PKI (Partai Komunis Indonesia). Untuk

mengenal PKI, dalam Bab III ini dijelaskan mengenai profil PKI. Tetapi profil tidak

dijelaskan secara mendetail, karena hanya bertujuan mengenalkan objek. Oleh sebab

itu, dalam Bab III ini hanya berisi tiga peristiwa yang dianggap penting.

A. Awal Pembentukan (Orang Belanda Sang Pemula)

Perkembangan pemikiran dari para anggota Internasionale II, sebagaiamana

telah dijelaskan dalam Bab I skripsi ini, mempengaruhi perubahan situasi politik

dunia, khususnya di Eropa. Di Uni Soviet, pemikiran radikal Lenin memecah Partai

Buruh Sosial Demokrat1 Uni Soviet menjadi dua kubu, Menshevik (pimpinan Julius

Martov) dan Bolshevik.2 Dalam perpecahan ini, Bolshevik berubah menjadi partai

pada 1912, dan berhasil menguasai Uni Soviet dengan melakukan revolusi pada 1917

di bawah pimpinan Lenin.

Di Belanda, perkembangan pemikiran yang terjadi dalam Internasionale II

mempengaruhi kaum sosial demokrat yang tergabung dalam SDAP (Sociaal

1

Istilah sosial demokrat ditujukan bagi para pemikir Marxisme ortodoks. Istilah ini berawal dari penggunaan Marxisme sebagai ideologi perjuangan oleh Partai Sosial Demokrat Jerman. Lihat Franz Magnis-Suseno, Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Permasalahan Revisionisme

(Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1999), h. 211.

2

Pada awalnya, konflik internal Partai Buruh Sosial Demokrat hanya bersifat organisasional dan tidak bersifat antagonistik. Namun dalam perkembangannya, konflik pemikiran meruncing hingga Lenin dengan sinis menganggap, kaum Menshevik saudara kembar dengan kaum demokrat borjuis kecil. Lihat W.I. Lenin, Negara dan Revolusi: Adjaran Marxis Tentang Negara Dan Tugas Proletariat Di Dalam Revolusi (Djakarta: Jajasan Pembaharuan, 1961), h. 20. Lihat juga Leon Trotsky, Revolusi yang Dikhianati: Sebab-sebab Kebangkrutan Uni Soviet (Yogyakarta: Resist Book, 2010), h. 9.

(35)

Democratische Arbeiders Partij).3 Pemikiran-pemikiran Marxis radikal, berhasil

mempengaruhi sebagian kader SDAP dan membuat SDAP pecah. Kaum Marxis

radikal dalam SDAP, memisahkan diri dan mendirikan SDP (Sociaal Democratische

Partij).4

Di tengah perpecahan itu, muncul tokoh SDAP yang sangat kontroversial,

yaitu Henk Sneevliet.5 Pada awalnya, Henk Sneevliet sangat setia pada SDAP.

Namun, ketika SDAP tidak mendukung demonstrasi kaum buruh pelabuhan di

Amsterdam, ia keluar dari SDAP dan pindah ke SDP. Perpindahannya itu

mengakibatkan ia kehilangan jabatannya. Lalu ia mencari peruntungan ke negeri

jajahan, Indonesia.

Di Indonesia, pada awalnya Henk Seneevliet bekerja sebagai staf editorial

koran utama Jawa Timur, yang menjadi media penting sindikat perusahaan gula,

Soerabajaasch Handelsblad. Tak lama kemudian, Henk Sneevliet beralih profesi

menjadi sekretaris asosiasi dagang di Semarang (Semarang Handelsvereniging).6

Kota Semarang, memberikan kesan tersendiri bagi Henk Sneevliet. Karena,

Semarang merupakan pusat Serikat Buruh Kereta Api Indonesia (VSTP (Vereeniging

van Spoor-en Tramwegpersoneel))7, yang mempunyai kemiripan dengan Serikat

3

SDAP merupakan Partai Buruh Sosial Demokrat Belanda. Tentang SDAP lihat Ruth T. McVey, Kemunculan Komunisme Indonesia (Depok: Komunitas Bambu, 2010), h. vii dan 19.

4

SDP kemudian menjadi Partai Komunis Belanda/CPN (Communistische Partij Nederland). Lihat McVey, Kemunculan Komunisme Indonesia, h. 19.

5

Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet atau lebih dikenal dengan Henk Sneevliet atau dengan nama samaran Maring (lahir 13 Mei 1883 dan meninggal 13 April 1942), adalah seorang aktivis SDAP di kota Zwolle. Ia berhasil menjadi dewan kota pertama kali dalam pemilihan umum pada 1907. Ia juga menjabat sebagai ketua Serikat Buruh Kereta Api Belanda (NVSTP) di bawah kendali SDAP. Lihat McVey, Kemunculan Komunisme Indonesia, h. 19. Lihat juga Wikipedia

Ensiklopedia Bebas, “Henk Sneevliet” artikel diakses pada 26 Mei 2011 dari http://id.wikipedia.org/ wiki/Henk_Sneevliet

6

McVey, Kemunculan Komunisme Indonesia, h. 20.

7

(36)

Buruh Kereta Api Belanda (NVSTP (Netherlands Vereeniging van Spoor-en

Tramwegpersoneel)) yang pernah ia pimpin. Tidak perlu berpikir panjang, Sneevliet

langsung masuk ke dalam VSTP, dengan jabatan awal editor De Volhading, koran

VSTP pada awal 1914.8

Di dalam VSTP inilah Henk Sneevliet mulai kembali masuk ke dunia

pergerakan yang sempat ia tinggalkan. Setelah masuk VSTP, Henk Sneevliet kembali

mengeluarkan ceramah-ceramah tentang Marxisme, dan menghimpun kaum sosialis

yang berada di Indonesia, lalu berujung pendirian ISDV (Indische Sociaal

Democratische Vereeniging) 9, pada 9 Mei 1914 di Surabaya.

Pada awal pembentukan, ISDV hanya diisi oleh 60 orang Belanda. Orang

non-Belanda (Eurasia dan Bumiputra) hanya menjadi pelengkap saja dalam pertemuan

awal.10 Henk Sneevliet yang sudah berpengalaman dalam organisasi pergerakan,

menyadari bahwa keterbatasan anggota yang hanya terdiri dari orang-orang Belanda

saja, menjadi salah satu kendala berkembangnya sebuah organisasi pergerakan.

Kendala lainnya yaitu, kurangnya kerjasama dengan organisasi lain yang yang

mengerti tentang permasalahan-permasalahan dalam negeri jajahan, yang dapat

memperkokoh posisi tawar politik untuk menekan.

Tramwegpersoneel” artikel diakses pada 26 Mei 2011 dari http://id.wikipedia.org/wiki/Vereniging_van _ Spoor-en_Tramwegpersoneel

8

McVey, Kemunculan Komunisme Indonesia, h. 22.

9

ISDV berganti nama menjadi PKI. Sebelum menjadi PKI, ISDV merupakan kelompok debat kaum sosialis Belanda. Dalam mendirikan ISDV, Henk Sneevliet dibantu oleh tiga orang Belanda yaitu: H.W. Dekker, Bergsma, dan Brandsteder. Lihat McVey, Kemunculan Komunisme Indonesia, h. 22. Lihat juga Siraishi, Zaman Bergerak, h. 115. Lihat juga George McTurnan Kahin, Refleksi Pergumulan Lahirnya Republik: Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia (Solo: UNS Press dan Pustaka Sinar Harapan, 1995), h. 92.

10

(37)

Oleh sebab itu, ISDV mulai melakukan kaderisasi secara perlahan, terutama

dari kalangan pribumi,11 dan menjalin aliansi dengan Insulinde.12 Aliansi ISDV

dengan Insulinde tidak berjalan lama. Karena, perbedaan orientasi yang sangat

tajam.13 Pada 1916, aliansi antara ISDV dengan Insulinde terputus. Pada “detik-detik”

sebelum berakhirnya aliansi antara ISDV dengan Insulinde, ISDV menemukan

partner baru yang sangat potensial, yaitu Sarekat Islam (SI).14

Tidak lama setelah putusnya aliansi bersama Insulinde, pada tahun yang sama,

ISDV langsung menyatakan bergabung dengan SI. Setelah bergabung, ISDV

langsung menyebar pengaruh-pengaruh revolusionernya melalui Semaun, yang pada

1916 dipindahkan ke SI cabang Semarang, di mana pusat VSTP berada. Selain

Semaun, komunisme juga mempengaruhi tokoh SI yang cukup berpengaruh, Haji

Misbach.15

11

Orang pribumi yang berhasil direkrut salah satunya yaitu Semaun. Semaun merupakan salah satu anggota Sarekat Islam (SI). Pertama kali bergabung dengan SI cabang Surabaya pada 1914 dengan jabatan sekretaris. Semaun juga merupakan salah satu buruh kereta api. Awal pertemuannya dengan Sneevliet, ketika ia aktif di VSTP. Pada 1915 ia bergabung dengan ISDV tanpa melepas jabatannya sebagai sekrataris SI. Lihat McVey, Kemunculan Komunisme Indonesia, h. 32.

12Ibid,

h. 26. Insulinde didirikan pada 1907 sebagai asosiasi non-politik. Angota-anggotanya kebanyakan mantan anggota organisasi radikal yang dibubarkan pada 1913, IP (Indische Partij). Tokoh-tokohnya yang terkenal diantaranya yaitu: Tjipto Mangunkusumo, Suwardi Surjaningrat (Ki Hajar Dewantara), dan E.F.E Dowes Dekker (Setiabudi).

13

Insulinde menggunakan kaum sosialis radikal hanya untuk tujuan singkat, yaitu mengganti kepemimpinan orang-orang Eropa dengan orang-orang Eurasia dan orang-orang Indonesia terdidik. Pergerakan Insulinde hanya terkonsentrasi di kalangan Eurasia. Oleh sebab itu, sulit bagi Insulinde untuk mendapat dukungan dari masyarakat Indonesia. Lihat McVey, Kemunculan Komunisme Indonesia, h. 27.

14

Sarekat Islam (SI) didirikan pada 1912 oleh H. Samanhoedi, mengacu pada perencanaan Tirto Adhi Soerjo dalam Anggaran Dasar (AD) Sarekat Dagang Islam (SDI). Sebelum menjadi SI, organisasinya bernama SDI yang didirikan oleh Tirto Adhi Soerjo dan Abdoerachman Badjenet pada 5 April 1909 di Buitenzorg, Bogor. SDI merupakan perkumpulan orang-orang pribumi dan keturunan Arab, yang hidup bukan dari hasil kerja dengan pemerintah Hindia Belanda. SDI berubah menjadi SI dengan visi-misi kebebasan ekonomi. Tentang SDI dan SI lihat Pramoedya Ananta Toer, Sang Pemula,

(Jakarta: Hasta Mitra, 1985), h. 120-152. Pada tahun 1916, SI menjadi sangat potensial dalam gerakan politik, karena mempunyai kader dan simpatisan sangat besar jumlahnya. Lihat McVey, Kemunculan Komunisme Indonesia, h. 28. lihat juga Siraishi, Zaman Bergerak, h. 67.

15

(38)

Haji Misbach memrupakan salah satu tokoh yang dapat menyatukan antara

ajaran-ajaran Islam dan komunisme di Indonesia. Salah satu ajaran Haji Misbach

tentang konsep penghisapan kerja lebih oleh para pemilik modal terhadap kaum

buruh, termasuk riba. Mengambil riba dalam Islam hukumnya haram.16

Pengaruh-pengaruh ISDV sangat terasa, ketika SI pusat (CSI (Centraal

Sarekat Islam) yang dipimpin Tjokroaminoto17 mengambil sikap, mengirim delegasi

ke Belanda, untuk memohon dibentuknya milisi Indonesia atas masalah Indie

werbaar.18 Dalam hal ini, SI Semarang menentang sangat keras, hingga mengancam

untuk melepaskan diri dari CSI. SI semarang juga mengkritik keras keputusan CSI

yang merencanakan masuk dalam Volksraad.

Pertentangan antara SI semarang dan CSI, terus bergulir hingga, CSI mencap

SI semarang sudah disusupi pengaruh komunisme, dan tidak lagi menggunakan Islam

sebagai satu-satunya asas.19 Sejak saat itulah, SI terpecah menjadi SI Merah yang

berideologi Islam dan komunisme, dan SI Putih yang hanya berideologi Islam.

Setelah terjadinya revolusi di Uni Soviet, sebagaiaman telah dijelaskan

sebelumnya, komunisme berkembang pesat di dunia, khususnya di negara-negara

yang sedang dijajah. Untuk menyatukan para kaum komunis di seluruh dunia, Lenin

anggota Indlansche Journalisten Bond (IJB) yang didirikan oleh Mas Marco Kartodikromo pada 1914. Lihat Nor Hiqmah, H.M. Misbach: Kisah Haji Merah, (Depok: Komunitas Bambu, 2008), h. 1-2.

16Ibid,

h. 75-77.

17

Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto lahir pada 16 Agustus 1882. Memulai karir sebagai Jurnalis pada 1907. Ia bergabung dengan SDI/SI pada 1912, pada saat perubahan SDI menjadi SI. Di tahun yang sama menjabat sebagai ketua SI. Lihat HOS. Tjokroaminoto, Islam dan Sosialisme

(Bandung: Sega Arsy, 2008), h. VII-IX.

18

Indie werbaar dalam bahasa Indonesia berarti pertahanan Hindia. Masalah Indie werbaar

mula-mula hanya persoalan pertahanan dalam menghadapi perang dunia pertama. Namun, masalah ini menjadi salah satu penyebab dibentuknya Volksraad (dewan rakyat) oleh pemerintah kolonial sebagai parlemen di Indonesia. Lihat M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200-2004 (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2005), h. 358-359. Lihat juga McVey, Kemunculan Komunisme Indonesia, h. 34-35.

19

Referensi

Dokumen terkait