PENGARUH AUDIT TENURE, REPUTASI KAP, DISCLOSURE, UKURAN PERUSAHAAN KLIEN, DAN OPINI AUDIT SEBELUMNYA TERHADAP
OPINI AUDIT GOING CONCERN
(Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang Listing di BEI Tahun 2007- 2011)
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Syarat Guna Meraih Gelar Sarjana Ekonomi (S.E)
Disusun Oleh:
KARINA ANINGDITA PRATIWI NIM. 109082000043
JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
I. IDENTITAS PRIBADI
1. Nama Lengkap : Karina Aningdita Pratiwi 2. Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 16 Juni 1991
3. Alamat : Perum. Pakujaya Permai Blok A3/11 Serpong Utara- Tangerang Selatan 4. Telepon : 081212479323
5. Email : [email protected]
II. PENDIDIKAN
1. SD N Kunciran 6 1997-2003
2. SMP N 3 Tangerang 2003-2006
3. SMA N 3 Tangerang 2006-2009
4. S1 Ekonomi Akuntansi UIN Syarif Hidayatullah 2009-2013
III. PENDIDIKAN NON FORMAL
vi
2. BLKL Tangerang Selatan, Pelatihan Komputer (Ms. Word, Ms. Excel, Powerpoint), 2009-2010
3. IAI Cabang Serpong, BREVET PAJAK A & B, 2012-2013.
IV. PENGALAMAN ORGANISASI
1. Ketua MPK kelas 12 IPS 3, 2008-2009.
2. Anggota Divisi Kesenian dan Olahraga, BEM Jurusan Akuntansi UIN Syarif Hidayatullah, 2009-2010.
3. CARTOEN Pakujaya (Ikatan Karang Taruna Perumahan Pakujaya), 2009- sekarang.
V. SEMINAR DAN WORKSHOP
1. Bedah Buku “Perawan” dan Seminar Nasional “Sastra sebagai media Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan”, 24 November 2009. 2. Talkshow Pemberantasan Korupsi Bersama KPK yang
diselenggarakan BEMJ Akuntansi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 9 September 2009.
3. Company Visit oleh BEMJ Akuntansi UIN Syarif Hidayatullah ke pabrik PT Indofood Sukses Makmur, Tbk, 13 Oktober 2009
vii
5. Company Visit oleh BEMJ Akuntansi UIN Syarif Hidayatullah ke Bursa Efek Indonesia dan Museum Bank Indonesia, 28 Desember 2010.
6. Mini Workshop “Tata Cara Pengisian Faktur Pajak sesuai PER 24/PJ/2012 stdd Per-08/PJ/2013”, Gedung G, Kampus STAN Bintaro, 20 April 2013.
VI. KEPANITIAAN
1. Company Visit ke Bursa Efek Indonesia dan Museum Bank Indonesia, sebagai divisi acara, 28 Desember 2010
2. Program Pengenalan dan Studi Almamater (ProPeSa) oleh BEMJ Akuntansi UIN Syarif Hidayatullah, sebagai wakil ketua, 2011.
3. Accounting Fair 2011 oleh BEMJ Akuntansi UIN Syarif Hidayatullah, sebagai divisi konsumsi, 4-8 April 2011.
VII. LATAR BELAKANG KELUARGA
1. Ayah : Wriadi
2. Tempat, Tanggal Lahir : Malang, 2 Mei 1961
3. Ibu : Kartini
4. Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 16 Desember 1969
viii ABSTRACT
THE EFFECT OF AUDIT TENURE, ACCOUNTING FIRM REPUTATION, DISCLOSURE, COMPANY SIZE, AND PRIOR YEAR AUDIT OPINION TO
GOING CONCERN AUDIT OPINION
(Empirical Study on Manufacturing Companies that Listed at Indonesian Stock Exchange in 2007-2011)
By
Karina Aningdita Pratiwi
This research is to check the effect of audit tenure, accounting firm reputation, disclosure, company size, and prior year audit opinion to going concern audit opinion. This research was using samples of manufacturing industry. They were listed on the Indonesian Stock Exchange in 2007-2011. Based on method purposive sampling, research samples total are 110 financial statements. Hypothesis in this research used logistic regression.
This research indicated that disclosure and prior year audit opinion had significant effect on the going concern audit opinion. Disclosure had significant value of 0,008 below 0,05 and prior year audit opinion had significant value of 0,00 below 0,05. Audit tenure, accounting firm reputation, and company size did not have significant effect on the going concern audit opinion.
ix ABSTRAK
PENGARUH AUDIT TENURE, REPUTASI KAP, DISCLOSURE, UKURAN PERUSAHAAN KLIEN DAN OPINI AUDIT SEBELUMNYA TERHADAP
OPINI AUDIT GOING CONCERN
(Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang Listing di BEI Tahun 2007-2011)
Oleh
Karina Aningdita Pratiwi
Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh audit tenure, reputasi KAP, disclosure, ukuran perusahaan klien, dan opini audit sebelumnya terhadap opini audit going concern. Penelitian ini menggunakan sampel perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama tahun 2007-2011. Berdasarkan metode purposive sampling, total sampel penelitian adalah 110 laporan keuangan. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan teknik regresi logistik.
Penelitian ini menunjukkan bahwa disclosure dan opini audit seelumnya berpengaruh signifikan terhadap opini audit going concern. Disclosure memiliki nilai signifikan sebesar 0,008 berada dibawah 0,05, dan opini audit sebelumnya memiliki nilai signifikan sebesar 0,000 berada dibawah 0,05. Audit tenure, reputasi KAP, dan ukuran perusahaan klien tidak berpengaruh signifikan terhadap opini audit going concern.
x
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Segala puji bagi Allah SWT, yang telah memberikan karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Shalawat serta salam penulis haturkan kepada Nabi Muhammad SAW, nabi akhir zaman, yang telah membimbing umatnya menuju jalan kebenaran. Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan terimakasih atas bantuan, bimbingan, dukungan, semangat dan doa, baik langsung maupun tidak langsung dalam penyelesaian skripsi ini, kepada:
1. Ayahanda Wriadi dan Ibunda Kartini tersayang terimakasih atas segala pengorbanan, perhatian, kasih sayang, dukungan dan doa tiada henti yang selalu tercurah untuk ananda, semoga ananda senantiasa bisa membuat kalian bangga dan bahagia.
2. Bapak Prof. Dr. Abdul Hamid, MS selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Ibu Dr. Rini, M.Si., Ak selaku Ketua Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
xi
5. Bapak Prof. Dr. Ahmad Rodoni, MM selaku Dosen Pembimbing Skripsi I yang telah bersedia meluangkan waktu untuk berdiskusi, memberikan pengarahan dan bimbingan dalam penulisan skripsi ini.
6. Bapak Abdul Hamid Cebba. Drs., Ak., MBA., CPA selaku Dosen Pembimbing Skripsi II yang telah meluangkan waktu, mencurahkan perhatian, membimbing dan memberikan pengarahan kepada penulis. Terimakasih atas semua saran yang Bapak berikan selama proses penulisan skripsi sampai terlaksananya sidang skripsi.
7. Seluruh dosen yang telah memberikan ilmu dan karyawan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah yang telah memberikan bantuan kepada penulis. 8. Adikku tercinta Widiya Ratmi rahayu, terimakasih atas dukungan yang
bersifat moril dan materiil yang diberikan kepada penulis.
9. Mochamad Iqbal, terimakasih telah memberikan dukungan dan doa kepada penulis hingga terselesaikan skripsi ini.
10.Sahabat terbaikku, Selfi Stefani, Nida Khofiya, Ine Nurlita Sari, Anniza Novia Fatma, Fanny Yaumi Faricha, Syifa Asky Fitaya, Maya Luthfia, Suzan Novrilia, Ulfah Abqoriyah, Mufti Aryadi Putra, Alya Soraya Alam, terimakasih telah memberikan motivasi dan doa kepada penulis selama proses pembuatan skripsi.
xii
12.Seniorku Kak Eka Diana Rizanti, Rhisty Prapanca, Nadiyya Hayatunnufus, Poetri Dhaini, Fakhdian Pamungkas terimakasih telah memberikan semangat, doa, dan arahan kepada penulis mulai dari pembuatan proposal sampai terselesaikannya skripsi ini.
13.Seluruh Kawan-kawan Akuntansi 2009 khususnya Akuntansi B dan Adik-adikku angkatan 2010 dan 2011 yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna dikarenakan terbatasnya pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki penulis. Oleh karena itu, penulis mengharapkan segala bentuk saran serta masukan bahkan kritik yang membangun dari berbagai pihak.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
Jakarta, Mei 2013
xiii DAFTAR ISI
Halaman Judul ... i
Lembar Pengesahan Ujian Komprehensif ... ii
Lembar Pengesahan Ujian Skripsi ... iii
Lembar Pernyataan Keaslian Karya Ilmiah ... iv
Daftar Riwayat Hidup ... v
Abstract ... viii
Abstrak ... ix
Kata Pengantar ... x
Daftar Isi ... xiii
Daftar Tabel ... xvii
Daftar Gambar ... xviii
Daftar Lampiran ... xix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Perumusan Masalah ... 11
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 11
1. Tujuan Penelitian ... 11
2. Manfaat Penelitian ... 12
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 14
A. Tinjauan Literatur ... 14
1. Teori Keagenan ... 14
2. Auditing ... 16
a. Pengertian Audit ... 16
b. Tujuan Audit ... 17
c. Jenis- jenis Audit ... 19
1) Audit Laporan Keuangan... 19
2) Audit Kepatuhan ... 20
xiv
d. Standar Audit ... 21
1) Standar Umum ... 21
2) Standar Pekerjaan Lapangan ... 21
3) Standar Pelaporan ... 22
e. Opini Audit ... 23
1) Unqualified opinion ... 26
2) Unqualified opinion with explanatoty language ... 26
3) Qualified opinion ... 27
4) Adverse opinion ... 27
5) Disclaimer of opinion ... 28
3. Going Concern ... 29
a. Tanggung Jawab Auditor atas Going Concern ... 30
b. Opini Audit Going Concern ... 32
4. Audit Tenure ... 36
5. Reputasi KAP ... 38
6. Disclosure ... 39
7. Ukuran Perusahaan Klien ... 42
8. Opini Audit Sebelumnya ... 43
B. Hasil Penelitian Terdahulu ... 44
C. Kerangka Pemikiran ... 48
1. Pengaruh audit tenure terhadap opini audit going concern ... 48
2. Pengaruh reputasi KAP terhadap opini audit going concern ... 49
3. Pengaruh disclosure terhadap opini audit going concern ... 50
4. Pengaruh ukuran perusahaan klien terhadap opini audit going concern ... 52
xv
D. Hipotesis ... 56
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 58
A. Ruang Lingkup Penelitian ... 58
B. Metode Penentuan Populasi dan Sampel ... 58
C. Metode Pengumpulan Data ... 60
1. Penelitian Pustaka (Library Research) ... 60
2. Penelitian Lapangan (Field Research) ... 60
D. Metode Analisis Data ... 61
1. Definisi Regresi Logistik ... 61
2. Tahapan Regresi Logistik ... 62
a. Statistik Deskriptif ... 62
b. Pengujian Hipotesis Penelitian ... 63
1) Menilai Keseluruhan Model (Overall Model Fit) 63 2) Koefisien Determinasi (Nagelkerke R Square) .. 64
3) Menguji Kelayakan Model Regresi ... 65
4) Uji Multikolinearitas ... 65
5) Matriks Klasifikasi ... 66
6) Model Regresi yang Terbentuk ... 66
E. Operasionalisasi Variabel penelitian ... 67
1. Opini Audit Going Concern (Y) ... 67
2. Audit Tenure (X1) ... 68
3. Reputasi KAP (X2) ... 69
4. Disclosure (X3) ... 69
5. Ukuran Perusahaan Klien (X4) ... 69
6. Opini Audit Sebelumnya (X5) ... 70
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 73
A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian ... 73
1. Deskripsi Objek Penelitian ... 73
2. Deskripsi Sampel Penelitian ... 75
B. Hasil Uji Analisis Data Penelitian ... 77
xvi
2. Hasil Uji Hipotesis Penelitian ... 81
a. Hasil Uji Kesesuaian Keseluruhan Model (Overall Model Fit) ... 81
b. Hasil Uji Koefisien Determinasi ( Nagelkerke R Square) ... 84
c. Hasil Uji Kelayakan Model Regresi ... 85
d. Hasil Uji Multikolinearitas ... 86
e. Hasil Matriks Klasifikasi ... 87
f. Hasil Uji Regresi Logistik ... 88
1) Pengaruh Audit Tenure (TENURE) terhadap Opini Audit Going Concern (GCAO) ... 89
2) Pengaruh Reputasi KAP (REP) terhadap Opini Audit Going Concern (GCAO) ... .. 92
3) Pengaruh Disclosure (DISC) terhadap Opini Audit Going Concern (GCAO) ... 93
4) Pengaruh Ukuran Perusahaan Klien (SIZE) terhadap Opini Audit Going Concern (GCAO) ..95
5) Pengaruh Opini Audit Sebelumnya (OPINI) terhadap Opini Audit Going Concern (GCAO) 96 BAB V PENUTUP ... 100
A. Kesimpulan ... 100
B. Implikasi ... 102
C. Keterbatasan ... 103
D. Saran ... 103
Daftar Pustaka ... 105
xvii
DAFTAR TABEL
No. Keterangan Halaman
2.1 KAP Big Four Beserta Afiliasinya di Indonesia ... 38
2.2 Disclosure Items ... 41
2.3 Hasil Penelitian Terdahulu ... 45
3.1 Operasional Variabel dan Pengukuran ... 70
4.1 Tahapan Seleksi Sampel dengan Kriteria ... 73
4.2 Distribusi Sampel Berdasarkan Opini Audit ... 74
4.3 Sampel Penelitian ... 75
4.4 Distribusi Perusahaan Berdasarkan Opini Audit ... 75
4.5 Statistik Deskriptif ... 78
4.6 Iteration History 0 ... 82
4.7 Iteration History 1 ... 83
4.8 Koefisien Determinasi ... 85
4.9 Menguji Kelayakan Model Regresi ... 85
4.10 Hasil Uji Multikolinearitas ... 87
4.11 Matriks Klasifikasi ... 87
4.12 Hasil Uji Koefisien Regresi Logistik ... 88
xviii
DAFTAR GAMBAR
No. Keterangan Halaman
2.1 Panduan Bagi Auditor dalam Memberikan Opini Going
xix
DAFTAR LAMPIRAN
No. Keterangan Halaman
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perusahaan didirikan dengan tujuan memiliki kelangsungan hidup untuk jangka panjang. Kondisi dan peristiwa yang dialami oleh suatu perusahaan dapat memberikan indikasi kelangsungan usaha (going concern) perusahaan tersebut, contoh kerugian operasi yang signifikan dan berlangsung secara terus menerus sehingga menimbulkan keraguan atas kelangsungan hidup perusahaan (Foroghi, 2012:1093).
Kelangsungan hidup perusahaan selalu dihubungkan dengan kemampuan manajemen dalam mengelola perusahaan agar tetap bertahan hidup. Ketika kondisi ekonomi tidak stabil, para investor mengharapkan auditor memberikan informasi akan kegagalan keuangan perusahaan (Irfana dan Muid, 2012:1).
2 Opini yang diberikan auditor merupakan salah satu pertimbangan bagi investor untuk pengambilan keputusan investasi. Pemberian opini modifikasi (going concern) oleh auditor merupakan dampak keraguan perusahaan untuk dapat melanjutkan kelangsungan usahanya (Astuti dan Darsono, 2012:1). Opini ini merupakan bad news bagi pemakai laporan keuangan. Sulitnya memprediksi kelangsungan hidup suatu perusahaan menyebabkan banyak auditor yang mengalami dilema moral dan etika dalam memberikan opini going concern (Januarti, 2008).
Menurut Arens, Elder, dan Beasley (2010:21), KAP bertanggung jawab pada audit atas laporan keuangan historis yang dipublikasikan, dari semua perusahaan yang sahamnya diperdagangkan di bursa saham. Perusahaan yang sahamnya diperdagangkan di bursa saham adalah perusahaan yang sudah go public. Laporan keuangan yang merupakan tanggung jawab manajemen perlu diaudit oleh KAP sebagai pihak ketiga yang independen. Hal ini penting karena jika tidak diaudit, ada kemungkinan bahwa laporan keuangan tersebut mengandung kesalahan baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Karena itu laporan keuangan yang belum diaudit kurang dipercaya kewajarannya oleh pihak-pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan tersebut (Agoes, 2008:8).
3 (Beams et. al, 2013:1). Peristiwa ini telah terjadi pada perusahaan besar di Amerika seperti Enron, WorldCom, Xerox, dan lain-lain yang pada akhirnya bangkrut. Hal tersebut menyebabkan profesi akuntan publik menjadi kritikan karena diasumsikan memberikan informasi yang salah, hal ini membuktikan bahwa auditor memiliki peranan penting dalam memprediksi kebangkrutan perusahaan (Astuti dan Darsono, 2012:1). Atas dasar banyaknya kasus tersebut, maka AICPA (1988) mensyaratkan bahwa auditor harus mengemukakan secara eksplisit apakah perusahaan klien akan dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya sampai setahun kemudian setelah pelaporan (Januarti, 2008). Meskipun auditor tidak bertanggungjawab terhadap kelangsungan hidup sebuah perusahaan, tetapi dalam melakukan audit kelangsungan hidup perlu menjadi pertimbangan auditor dalam memberikan opini (Dewayanto, 2011:81).
4 Runtuhnya lembaga keuangan terbesar di Amerika Serikat, Lehman Brothers, memicu krisis financial global yang menyebabkan aliran dana kredit dari berbagai bank terhenti, kepercayaan perbankan kepada perusahaan merosot tajam sehingga membuat perusahaan raksasa lain- pun ikut bangkrut. General Motors, perusahaan otomotif terkemuka di dunia pada akhir 2008 lalu juga telah meminta persetujuan otoritas bisnis Amerika Serikat untuk dibangkrutkan (Edj, 2010).
Bangkrutnya Lehman Brothers inipun akhirnya mencuatkan pula praktik ‘manipulasi’ standar akuntansi (window dressing). Meski hal ini sesungguhnya merupakan kejahatan, namun biasanya sulit untuk membuktikannya di pengadilan, karena menyangkut interpretasi atau judgment. Perdebatan ini mencuat setelah keluarnya laporan audit investigasi penyebab bangkrutnya Lehman Brothers tanggal 11 Maret 2010 lalu. Audit dilakukan oleh Anton R. Valukas, yang ditunjuk oleh pengadilan kepailitan Southern District (Manhattan).
5 disebut melakukan ‘actionable balance sheet manipulation’. Valukas juga menyebut E&Y – yang merupakan the biggest five public accountant, auditor Lehman Brothers waktu itu sebagai ‘tidak memenuhi standar profesional’ sebagai auditor dan melakukan ‘malpraktek’ (halaman 990/91). Opini audit E&Y terakhir menyatakan semuanya masih ‘ok’ atau ‘fairly presented in accordance with general accepted accounting principles’ (GAAP). E&Y masih bertahan dengan pendapatnya tadi setelah keluarnya Laporan Pemeriksaan Valukas tadi, meski berdalih bahwa auditnya yang terakhir belum selesai karena Lehman Brothers keburu bangkrut.
Auditor Ernst & Young dinilai lalai, dan melaporkan hasil audit ”palsu” soal keuangan Lehman Brothers. Jika Valukas benar, juri akan mengajukan sidang di pengadilan tentang hal ini. Selain permintaan tambahan kolateral, penumpukan aset Lehman Brothers juga terpusat pada kredit kepemilikan kredit rumah bermasalah. Juga ada kasus penyesatan informasi yang material dalam akuntansi Lehman. Menurut laporan itu, Lehman menggunakan rekayasa akuntansi untuk menutupi utang sebesar 50 miliar dollar AS di pembukuannya. Semua itu dilakukan untuk menyembunyikan ketergantungan dariutangnya (Edj, 2010).
6 meneruskan usahanya. Tidak hanya perusahaan kecil yang mengalami pailit, namun perusahaan besar juga tidak sedikit yang akhirnya gulung tikar (Drajati, 2011).
Di pasar saham, volume perdagangan saham dan IHSG mengalami tekanan kuat hingga memaksa otoritas BEI menghentikan perdagangan (blackout) pada Oktober 2008. IHSG menurun drastis, dari sebesar 2.830 pada awal tahun menurun menjadi 1355 pada akhir 2008. Secara sektoral, enam sektor mencatatkan penurunan. Adapun tiga sektor dengan penurunan terbesar yaitu: sektor industri dasar yang turun 0,79%, sektor industri lain-lain turun 0,56%, dan sektor manufaktur yang turun 0,49%. Sejumlah saham yang mencatatatkan nilai penurunan paling dalam yakni:
1. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) turun 450 poin menjadi Rp 19.600,
2. PT Gudang Garam Tbk (GGRM) turun 450 poin menjadi Rp 49.300, dan 3. PT Lion Metal Works Tbk (LION) turun 350 poin menjadi Rp 9.650.
(Taqiyyah, 2012).
7 Junaidi dan Hartono (2010), Warnida (2011), Kartika (2012), Astuti dan Darsono (2012), Sunarni dan Jatmiko (2012).
Penelitian- penelitian sebelumnya diatas membuktikan hasil yang berbeda- beda tentang faktor- faktor yang mempengaruhi penerimaan opini going concern. Maka dari itu peneliti bermaksud meneliti lebih lanjut tentang opini going concern karena hingga saat ini topik tentang bagaimana tanggung jawab auditor dalam mengungkapkan masalah going concern masih menarik untuk diteliti (Widyantari, 2011:10). Pada kenyataannya, masalah going concern merupakan hal yang kompleks dan terus ada sehingga diperlukan faktor- faktor sebagai tolak ukur yang pasti dalam menentukan status going concern perusahaan dan kekonstitenan faktor, faktor tersebut harus terus diuji agar dalam keadaan ekonomi yang fluktuatif, status going concern tetap dapat di prediksi. (Praptitorini et. al, 2007).
8 independensi auditor, dan apabila independensi auditor berkurang maka opini yang dikeluarkan oleh auditor merupakan opini yang dapat merugikan berbagai pihak. Namun berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sari (2012) dan Ardiani (2013) yang menemukan bahwa audit tenure tidak berpengaruh signifikan pada opini audit going concern.
Selanjutnya penelitian ini juga menguji pengaruh disclosure terhadap opini going concern. Haron et al. (2009) menemukan bahwa disclosure berpengaruh terhadap opini going concern. Disclosure laporan keuangan merupakan informasi yang sangat penting bagi auditor, misalnya, pengungkapan informasi keuangan mengenai konsistensi penggunaan metode akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan, kebijakan-kebijakan perusahaan, kerjasama perusahaan dengan pihak yang mempunyai hubungan istimewa perusahaan, serta kejadian setelah tanggal neraca dalam hal pemberian opini going concern. Disclosure yang memadai atas informasi keuangan perusahaan tersebut menjadi salah satu dasar auditor dalam memberikan opininya atas kewajaran laporan keuangan perusahaan. Hal ini dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan oleh Junaidi dan Hartono (2010) dan Ardiani (2013) bahwa disclosure berpengaruh signifikan terhadap penerimaan opini going concern, namun hasil tersebut tidak didukung penelitian yang dilakukan oleh Irtani dan Darsono (2012), begitu pula dengan Sari (2012) yang menyebutkan bahwa disclosure tidak berpengaruh terhadap opini audit going concern.
9 dibandingkan kantor akuntan kecil. Selain itu, KAP skala besar memiliki insentif yang lebih besar untuk menghindari kritikan kerusakan reputasi dibandingkan KAP skala kecil. KAP skala besar lebih cenderung untuk mengungkapkan masalah-masalah yang ada karena mereka lebih kuat menghadapi risiko proses pengadilan. Mutchler et al. (1997) menemukan bukti univariat bahwa auditor Big 6 lebih cenderung menerbitkan opini audit going concern pada perusahaan yang mengalami financial distress dibandingkan auditor non-Big 6. Penelitian tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Junaidi dan Hartono (2010), Foroghi (2012), serta Ardiani (2013) yang menemukan bahwa reputasi auditor berpengaruh signifikan terhadap penerimaan opini going concern. Namun penelitian Rahayu dan Pratiwi (2011), Muttaqin dan Sudarno (2012), Kartika (2012), Sunarni dan Jatmiko (2012), serta Irfana dan Muid (2012) menemukan bahwa kualitas audit tidak berpengaruh signifikan pada opini audit going concern.
10 berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Jogiyanto dan Hartono (2010), yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap opini audit going concern.
Opini audit going concern yang telah diterima auditee pada tahun sebelumnya akan menjadi faktor pertimbangan yang penting bagi auditor dalam mengeluarkan opini audit going concern tahun berjalan jika kondisi keuangan auditee tidak menunjukkan tanda – tanda perbaikan atau tidak adanya rencana manajemen yang dapat direalisasikan untuk memperbaiki kondisi perusahaan. Penelitian Kartika (2012), Sunarni dan Jatmiko (2012), memperkuat pernyataan ini dengan menemukan bukti empiris yang menyatakan bahwa opini audit going concern yang diterima suatu perusahaan pada tahun sebelumnya berpengaruh terhadap kecenderungan penerimaaan opini audit going concern pada tahun berikutnya.
11 dan pada tahun tersebut terdapat krisis ekonomi global yang berdampak pada perekonomian Indonesia.
Pada penelitian ini memasukkan variabel independen opini audit sebelumnya. Opini audit going concern sebelumnya akan menjadi faktor pertimbangan penting auditor untuk mengeluarkan kembali opini audit going concern pada tahun berikutnya. Apabila auditor menerbitkan opini audit going concern tahun sebelumnya maka akan semakin besar kemungkinan perusahaan akan menerima kembali opini audit going concern pada tahun berjalan. Mutchler (1984) dalam melakukan wawancara dengan praktisi auditor yang menyatakan bahwa perusahaan yang menerima opini audit going concern pada tahun sebelumnya lebih cenderung untuk menerima opini yang sama pada tahun berjalan.
Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti akan mencoba melakukan penelitian yang sekaligus menjadi judul penelitian ini, yaitu: “Pengaruh audit tenure, reputasi KAP, disclosure, ukuran perusahaan klien, dan opini audit sebelumnya terhadap opini audit going concern ”.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan permasalahan yang hendak diteliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
12 4. Bagaimana pengaruh ukuran perusahaan klien terhadap opini audit going
concern?
5. Bagaimana pengaruh opini audit sebelumnya terhadap opini audit going concern?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah, penelitian ini bertujuan untuk memberikan bukti empiris tentang:
a. Pengaruh audit tenure terhadap opini audit going concern, b. Pengaruh reputasi KAP terhadap opini audit going concern, c. Pengaruh disclosure terhadap opini audit going concern,
d. Pengaruh ukuran perusahaan klien terhadap opini audit going concern, dan
e. Pengaruh opini audit sebelumnya terhadap opini audit going concern.
2. Manfaat Penelitian
a. Bagi pihak Akademik dan Mahasiswa:
13 memberikan wacana bagi perkembangan studi tentang teori akuntansi keagenan dalam bidang auditing.
b. Bagi Auditor dan Kantor Akuntan Publik
Sebagai bahan pengetahuan tambahan dalam melakukan audit dan pertimbangan tambahan dalam memberikan opini going concern pada auditee.
c. Bagi Investor
14 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Literatur 1. Teori Keagenan
Teori agensi merupakan teori yang menggambarkan hubungan antara dua individu yang berbeda kepentingan yaitu prinsipals dan agent. Principals merupakan pihak yang memiliki usaha atau pekerjaan yang kemudian mendelegasikan wewenang kepada pihak lain untuk menjalankan usaha atau pekerjaannya itu untuk meningkatkan kemakmuran principals melalui peningkatan nilai perusahaan. Sebagai imbalannya agen akan memperoleh gaji, bonus, dan berbagai kompensasi lain. Dalam struktur organisasi perusahaan, principals adalah pemilik perusahaan atau pemegang saham dan agents adalah manajemen perusahaan. Breda (1992) menyatakan bahwa hubungan agensi merupakan hubungan kontraktual antara principals dan agent, principals mendelegasikan tugas tertentu sesuai dengan kontrak yang disepakati atau pengambilan keputusan kepada agent. Agent akan melakukan tindakan terbaik demi kepentingan principals. Principals akan memberikan imbalan atas kerja si agent. Wewenang dan tanggung jawab agent maupun principals diatur dalam kontrak kerja atas persetujuan bersama (Ujiyanto, 2010).
15 Masalah keagenan akan muncul ketika terjadi konflik kepentingan antara principals dan agent. Masing- masing pihak berusaha memaksimalkan kepentingan pribadi. Principals menginginkan hasil akhir keputusan yang menghasilkan laba sebesar- besarnya atau peningkatan nilai investasi dalam perusahaan. Agent pun pasti memiliki kepentingan pribadi yang ingin dicapai yakni penerimaan kompensasi yang memadai atas kinerja yang dilakukan. Principals memenilai prestasi agent berdasarkan kemampuannya memperbesar laba. Semakin tinggi jumlah laba yang dihasilkan oleh manajemen (agent), principals akan memperoleh dividen yang semakin tinggi, maka agent dianggap berhasil atau berkinerja baik sehingga layak mendapat insentif yang tinggi. Agent pun memenuhi tuntutan principals agar mendapatkan kompensasi yang tinggi (Elqorni, 2009).
Agent secara moral bertanggung jawab untuk mengoptimalkan keuntungan para principals. Namun disisi lain, agent juga mempunyai kepentingan memaksimumkan kesejahteraan mereka pribadi. Sehingga ada kemungkinan besar agent tidak selalu bertindak sesuai kepentingan principals (Jensen dan Meckling, 1976). Sehingga bila tidak ada pengawasan yang memadai maka agent dapat memainkan kondisi perusahaan agar seolah- olah target yang diinginkan principals tercapai.
16 laporan keuangan tidak mencerminkan kondisi perusahaan sebenarnya.
Laporan keuangan disajikan oleh agent (manajemen) untuk memberikan sinyal kepada penggguna tentang kondisi perusahaan. Jika laporan keuangan tidak mencerminkan kondisi perusahaan yang sebenarnya, maka akan mempengaruhi pengambilan keputusan oleh pengguna. Oleh karena itu untuk meminimalisasi adanya asimetri informasi diperlukan adanya pihak ketiga yang independen sebagai mediator hubungan antara principals dan agent. Pihak ketiga ini berfungsi untuk memonitor perilaku agent apakah bertindak sesuai dengan keinginan principals (Dewayanto, 2011:84).
2. Auditing
a. Pengertian Audit
Auditing menurut Arens, Elder, Beasley, dan Jusuf (2010:15) adalah:
“Auditing is the accumulation an evaluation of evidence about information to determine and report on the degree of correspondence between the information and etablished criteria. Auditing should be done by competent, independent person.”
Artinya auditing adalah pengumpulan dan penilaian bukti mengenai informasi untuk menentukan dan melaporkan tingkat kesesuaian antara informasi dan kriteria yang ditetapkan. Auditing harus dilakukan oleh orang yang kompeten dan independen.
17 “Suatu pemeriksaan yang dilakukan secara kritis dan sistematis, oleh pihak yang independen terhadap laporan keuangan yang telah disusun oleh manajemen, beserta catatan- catatan pembukuan dan bukti- bukti pendukungnya, dengan tujuan untuk dapat memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut”
Berdasarkan pengertian auditing tersebut dapat disimpulkan bahwa auditing adalah suatu proses pengumpulan dan pengevaluasian bukti- bukti atas informasi mengenai kejadan ekonomi oleh pihak independen dengan tujuan agar memberikan pendapat mengenai kewajaran penyajian laporan keuangan yang sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan yaitu prinsip akuntansi berterima umum (PABU).
b. Tujuan Audit
Tujuan audit atas laporan keuangan oleh auditor independen pada umumnya adalah untuk menyatakan pendapat tentang kewajaran dalam semua hal yang material posisi keuangan, perubahan ekuitas, dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi berlaku umum di Indonesia (SPAP, PSA No.02.SA seksi 110, 2011:110.1).
18 manajemen mengenai jenis transaksi dan akun terkait dalam laporan keuangan.
Tujuan audit secara spesifik ditentukan berdasarkan asersi- asersi yang dibuat oleh manajemen yang tercantum dalam laporan keuangan. Asersi dalam PSA No. 7 (SA seksi 326, 2011:326.2) yaitu asersi keberadaan atau keterjadian, asersi kelengkapan, asersi hak dan kewajiban, asersi penilaian atau alokasi dan asersi penyajian dan pengungkapan. Asersi- asersi manajemen adalah sebagai berikut: 1) Asersi keberadaan atau keterjadian (Existence or Occurrence)
Berhubungan dengan aktiva atau utang satuan usaha yang ada pada tanggal tertentu dan apakah transaksi yang dicatat telah terjadi selama periode tertentu. Manajemen membuat asersi bahwa persediaan produk jadi yang terdapat dalam neraca tersedia untuk dijual.
2) Asersi kelengkapan (Completeness)
Berhubungan dengan semua transaksi yang seharusnya disajikan dalam laporan keuangan. Manajemen membuat asersi bahwa seluruh pembelian barang dan jasa dicatat dan dicantumkan dalam laporan keuangan.
3) Asersi hak dan kewajiban (Rights and Obligation)
19 4) Asersi penilaian atas alokasi (Valuation)
Berhubungan dengan apakah komponen- komponen aktiva, kewajiban, pendapatan dan biaya telah dicantumkan dalam laporan keuangan dengan jumlah yang semestinya.
5) Asersi penyajian dan pengungkapan (Presentation and Disclosure) Berhubungan dengan apakah komponen- komponen tertentu laporan keuangan yang diklasifikasikan, dijelaskan, dan diungkapkan sebagaimana mestinya.
c. Jenis- jenis Audit
Johnson, Kell dan Boynton (2006), menjelaskan tiga jenis audit sebagai berikut:
“Audits are generally classified into three categories financial statement, compliance or operational”.
1) Audit laporan keuangan (Financial Statement Audit)
Audit laporan keuangan mencakup penghimpunan dan pengevaluasian bukti mengenai laporan keuangan suatu entitas dengan tujuan untuk memberikan pendapat apakah laporan keuangan telah disajikan secara wajar sesuai prinsip akuntansi berterima umum (PABU).
20 berupa laporan audit. Laporan audit ini dibagikan kepada para pemakai informasi keuangan seperti pemegang saham, kreditur, dan Kantor Pelayanan Pajak.
2) Audit kepatuhan (Compliance Audit)
Audit kepatuhan mencakup penghimpunan dan pengevaluasian bukti dengan tujuan untuk menentukan apakah kegiatan finansial maupun operasi tertentu dari suatu entitas sesuai dengan kondisi, aturan- aturan, dan regulasi yang telah ditentukan. Ukuran kesesuaian audit kepatuhan adalah ketepatan (correctness), misalnya: ketepatan SPT Tahunan dengan Undang-Undang Pajak Penghasilan. Hasil audit kepatuhan umumnya dilaporkan kepada pihak yang berwenang membuat kriteria.
3) Audit operasional (Operational Audit)
21 d. Standar Audit
Standar audit berkenaan dengan kriteria atau ukuran mutu pelaksanaan audit serta dikaitkan dengan tujuan yang hendak dicapai. Standar auditing merupakan pedoman bagi auditor dalam menjalankan tanggung jawab profesionalnya. Standar ini meliputi pertimbangan kualitas profesional auditor, seperti keahlian dan independensi, persyaratan pelaporan dan bahan bukti. Standar auditing terdiri dari sepuluh standar yang dikelompokkan menjadi tiga kelompok besar, yaitu standar umum, standar pekerjaan lapangan, dan standar pelaporan (SPAP, 2011:150.1).
a. Standar Umum
1) Audit harus dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang cukup besar sebagai auditor.
2) Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor.
3) Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama.
b. Standar Pekerjaan Lapangan
22 2) Pemahaman memadai atas pengendalian intern harus diperoleh
untuk merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang akan dilakukan.
3) Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pemangatan, permintaan keterangan, dan komfirmasi sebagai dasar memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit.
c. Standar Pelaporan
1) Laporan auditor harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
2) Laporan auditor harus menunjukkan atau menyatakan, jika ada, ketidak konsistenan penerapan prinsip akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan periode berjalan dibandingkan dengan penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya.
3) Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang memadai, kecuali dinyatakan lain dalam laporan auditor.
23 alasannya harus dinyatakan. Dalam hal nama auditor dikaitkan dengan laporan keuangan, maka laporan auditor harus memuat petunjuk yang jelas mengenai sifat pekerjaan audit yang dilaksanakan, jika ada, dan tingkat tanggung jawab yang dipikul oleh auditor.
Standar tersebut dalam banyak hal saling berhubungan dan bergantung satu dengan lainnya. Keadaan yang berhubungan erat dengan penentuan atau tidaknya suatu standar, dapat berlaku juga untuk standar yang lain. Materialitas dan resiko audit melandasi penerapan semua standar audit, terutama standar pekerjaan lapangan dan standar pelaporan.
e. Opini Audit
24 juga sebagai media auditor berkomunikasi dengan masyarakat. Auditor menyatakan pendapatnya tentang kewajaran laporan keuang perusahaan dalam sebuah laporan audit. Pendapat tersebut disajikan dalam laporan audit bentuk baku. Laporan audit bentuk baku terdiri dari tiga paragraf, yaitu paragraf pengantar (introduction paragraph), paragraf lingkup audit (scope paragraph), dan paragraf pendapat (opinion paragraph) (Mulyadi, 2002). Selain dari ketiga paragraf tersebut, dalam laporan audit bentuk baku juga memuat tentang pihak yang dituju auditor, tanda tangan, nama rekan, nomor izin akuntan publik, nomor izin kantor akuntan publik, dan tanggal laporan audit.
Menurut Halim (2008:75), terdapat lima jenis pendapat yang dapat diberikan oleh auditor, yaitu sebagai berikut ini.
1) Pendapat wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion)
Pendapat wajar tanpa pengecualian dapat diberikan auditor apabila audit telah dilaksanakan atau diselesaikan sesuai dengan standar auditing, penyajian laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum dan tidak terdapat kondisi atau keadaan tertentu yang memerlukan bahasa penjelasan.
2) Pendapat wajar tanpa pengecualian dengan tambahan bahasa penjelasan (Unqualified opinion with explanatoty language)
25 tetapi terdapat keadaan atau kondisi tertentu yang memerlukan bahasa penjelasan. Kondisi atau keadaan yang memerlukan bahasa penjelasan tambahan antara lain dapat diuraikan sebagai berikut: a) pendapat auditor sebagian didasarkan atas laporan auditor
independen lain,
b) adanya penyimpangan dari prinsip akuntansi yang ditetapkan oleh IAI,
c) laporan keuangan dipengaruhi oleh ketidakpastian yang material,
d) auditor meragukan kemampuan satuan usaha dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya,
e) auditor menemukan adanya suatu perubahan material dalam penggunaan prinsip dan metode akuntansi.
3) Pendapat wajar dengan pengecualian (qualified opinion)
Sesuai dengan SA 508 paragraf 38 dikatakan bahwa jenis pendapat ini diberikan apabila:
1) tidak adanya bukti kompeten yang cukup atau adanya pembatasan lingkup audit yang material tapi tidak memengaruhi laporan keuangan secara keseluruhan,
26 pengungkapan yang tidak memadai, maupun perubahan dalam prinsip akuntansi. Auditor harus menjelaskan alasan pengecualian dalam satu paragraf terpisah sebelum paragraf pendapat.
4) Pendapat tidak wajar (adverse opinion)
Pendapat ini menyatakan bahwa laporan keuangan tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Auditor harus menjelaskan alasan pendukung pendapat tidak wajar, dan dampak utama dari hal yang menyebabkan pendapat tidak wajar diberikan terhadap laporan keuangan.
5) Pernyataan tidak memberikan pendapat (disclaimer of opinion) Pernyataan auditor untuk tidak memberikan pendapat ini diberikan apabila:
a) ada pembatasan lingkup audit yang sangat material baik oleh klien maupun karena kondisi tertentu,
b) auditor tidak independen terhadap klien.
Opini audit diberikan oleh auditor melalui beberapa tahapan. Arens (2010) mengemukakan bahwa laporan audit adalah langkah terakhir dari seluruh proses audit. Dengan demikian, auditor dalam memberikan opini didasarkan pada keyakinan profesionalnya.
27 mempertahankan kalangsungan hidupnya pada periode yang pantas. Pada saat auditor menetapkan bahwa ada keraguan yang pasti terhadap kemampuan klien dalam melanjutkan usahanya sebagai going concern, auditor diizinkan untuk memilih untuk mengeluarkan unqualified modified report atau disclaimer opinion. Bagaimanapun juga, tidak ada panduan yang jelas atau penelitian yang sudah ada yang dapat dijadikan acuan pemilihan tipe going concern report yang harus dipilih (LaSalle & Anandarajan, 1996) karena pemberian status going concern bukanlah suatu tugas yang mudah (Koh& Tan, 1999).
PSAK 29 paragraf 11 huruf d, menyatakan bahwa, keraguan yang besar tentang kemampuan usaha dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya (going concern) merupakan keadaan yang mengharuskan auditor menambah paragraf penjelasan (atau bahasa penjelasan lain) dalam laporan audit, meskipun tidak mempengaruhi pendapat wajar tanpa pengecualian, yang dinyatakan oleh auditor. Istilah bahasa digunakan untuk mencakup paragraf, kalimat, frasa dan kata yang digunakan oleh akuntan publik untuk mengkomunikasikan hasil auditnya kepada pemakai laporan keuangan.
3. Going Concern
IAI (2011:341.2) mendefinisikan going concern sebagai:
28 Sedangkan menurut Belkoui (2007:271) going concern adalah: “suatu dalil yang menyatakan bahwa kesatuan usaha akan menjalankan terus operasinya dalam jangka waktu yang cukup lama untuk mewujudkan proyeknya, tanggung jawab serta aktifitas- aktifitasnya yang tidak berhenti.”
Dalil ini memberikan gambaran bahwa suatu entitas akan diharapkan untuk beroperasi dalam jangka waktu yang tidak terbatas atau tidak diarahkan menuju arah likuidasi. Diperlukannya suatu operasi berlanjut dan berkesinambungan untuk menciptakan suatu konsekuensi bahwa laporan keuangan yang terbit disuatu periode mempunyai sifat sementara sebab masih merupakan satu rangkaian laporan yang berkelanjutan.
PSA No. 30 (SPAP, 2011:341.1) menyatakan bahwa going concern dipakai sebagai asumsi dalam pelaporan keuangan sepanjang tidak terbukti adanya informasi yang menunjukkan hal yang berlawanan. Biasanya informasi yang secara signifikan dianggap berlawanan dengan asumsi kelangsungan usaha suatu badan usaha adalah berhubungan dengan ketidakmampuan suatu badan usaha dalam memenuhi kewajiban pada saat jatuh tempo tanpa melakukan penjualan sebagian besar aktiva kepada pihak luar melalui bisnis biasa, restrukturisasi hutang, perbaikan operasi yang dipaksakan dari luar dan kegiatan serupa yang lain.
a. Tanggung Jawab Auditor atas Going Concern
29 kelangsungan hidupnya dalam periode waktu yang pantas, tidak lebih dari satu tahun sejak tanggal laporan keuangan yang sedang diaudit dengan cara berikut ini (IAI, 2012):
1. Auditor mempertimbangkan apakah seluruh hasil prosedur yang dilaksanakan menunjukkan adanya kesangsian besar mengenai kemampuan entitas dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam jangka waktu pantas (tidak lebih dari satu tahun sejak tanggal laporan keuangan yang sedang diaudit). Mungkin diperlukan informasi tambahan mengenai kondisi dan peristiwa beserta bukti-bukti yang mendukung informasi yang mengurangi kesangsian auditor.
2. Jika auditor yakin bahwa terdapat kesangsian besar mengenai kemampuan entitas dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam jangka waktu pantas, auditor harus:
a. Memperoleh informasi mengenai rencana manajemen yang ditujukan untuk mengurangi dampak kondisi dan peristiwa tersebut.
b. Menentukan apakah kemungkinan bahwa rencana tersebut dapat secara efektif dilaksanakan.
30 SA seksi 341 paragraf 4 menyatakan bahwa auditor tidak bertanggung jawab untuk memprediksi kondisi dan peristiwa yang akan datang. Fakta bahwa entitas kemungkinan akan berakhir kelangsungan hidupnya setelah menerima laporan dari auditor yang tidak memperlihatkan kesangsian besar, dalam jangka waktu satu tahun setelah tanggal laporan keuangan tidak berarti dengan sendirinya menunjukkan kinerja audit yang tidak memadai. Oleh karena itu, tidak dicantumkannya kesangsian besar dalam laporan audit tidak seharusnya dipandang sebagai jaminan mengenai kemampuan entitas dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya (Widyantari, 2011:24).
b. Opini Audit Going Concern
31 1. Trend negatif. Contoh: kerugian operasi yang berulangkali terjadi,
kekurangan modal kerja, arus kas negatif dari kegiatan usaha, rasio keuangan penting yang jelek.
2. Petunjuk lain tentang kemungkinan kesulitan keuangan. Contoh: kegagalan dalam memenuhi kewajiban utangnya atau perjanjian serupa, penunggakan pembayaran dividen, penolakan oleh pemasok terhadap pengajuan permintaan pembelian kredit biasa, rektrukturisasi utang, kebutuhan untuk mencari sumber atau metode pendanaan baru, atau penjualan sebagian besar aktiva. 3. Masalah intern. Contoh: pemogokan kerja atau kesulitan
hubungan perburuhan yang lain, ketergantungan besar atas sukses projek tertentu, komitmen jangka panjang yang tidak bersifat ekonomis, kebutuhan untuk secara signifikan memperbaiki operasi.
32 Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP, 2011) seksi 341 menyatakan apabila auditor tidak menyangsikan kemampuan satuan usaha dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya (going concern) dalam jangka waktu pantas, maka auditor memberikan pendapat wajar tanpa pengecualian.
Apabila auditor menyangsikan kemampuan satuan usaha dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam jangka waktu pantas, maka auditor wajib mengevaluasi rencana manajemen. Auditor akan memberikan pendapat wajar tanpa pengecualian dengan bahasa penjelasan jika rencana manajemen perusahaan dapat secara efektif dilaksanakan untuk mengatasi dampak dari kondisi dan peristiwa yang menyebabkan kesangsian auditor tentang kelangsungan usahanya. Berikut adalah contoh laporan auditor independen yang berisi pernyataan wajar tanpa pengecualian dengan paragraf penjelasan mengenai kemampuan satuan usaha dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya.
Laporan Auditor Independen
[Pihak yang dituju oleh auditor]
Kami telah mengaudit laporan posisi keuangan (neraca) PT KXT tanggal 31 Desember 20X2 serta laporan laba rugi komprehensif, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal- tanggal tersebut. Laporan keuangan adalah tanggung jawab manajemen peruahaan. Tanggung jawab kami terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan audit kami.
33 merencanakan dan melaksanakan audit agar memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu audit meliputi pemeriksaaan, atas dasar pengujian, bukti- bukti yang mendukung jumlah- jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Audit juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh manajemen, serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. Kami yakin bahwa audit kami memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat.
Menurut pendapat kami, laporan keuangan yang kami sebut di atas menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan PT KXT tanggal 31 Desember 20X2, dan hasil usaha serta arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut sesuai degan standar akuntansi keuangan di Indonesia.
Lampiran keuangan terlampir telah disusun degan anggapan perusahaan akan melanjutkan usahanya secara berkelanjutan. Seperti yang diuraikan dalam Catatan X atas laporan keuangan, perusahaan telah mengalami kerugian yang berulangkali dari usahanya dan mengakibatkan saldo ekuitas negative serta pada tanggal 31 Desember 20X2, jumlah liabilitas lancer perusahaan melebihi jumlah asset sebesar Rp. YYY. Rencana manajemen untuk mengatasi masalah ini juga telah diungkapkan dalam Catatan X. laporan keuangan terlampir tidak mencakup penyesuaian yang berasal dari masalah tersebut.
[Tanda tangan, nama rekan, nomor izin akuntan publik, nomor izin kantor akuntan publik]
[Tanggal]
34 auditor menyangsikan kelangsungan hidup perusahaan. Jika pengungkapan di dalam rencana manajemen tidak memadai pengungkapannya dan tidak dilakukan penyesuaian, padahal dampaknya sangat material dan terdapat penyimpangan dari prinsip akuntansi berterima umum, maka auditor akan memberikan opini tidak wajar (Sari, 2012:20).
35 GAMBAR 2.1
Panduan Bagi Auditor dalam Memberikan Opini Going Concern
YA
Sumber: Seksi 341 Paragraf 19 (SPAP, 2011)
Apakah auditor sangsi
atas kelangsungan hidup entitas?
Apa rencana manajemen dilaksanakan ? Apakah cukup pengungkapan ? Apa ada rencana manajemen?
SA SEKSI 508 PSA NO. 29
Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian
Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian dengan
Paragraf Penjelasan berkaitan dengan kelangsungan hidup entitas/
penekanan atas suatu hal
(Emphasis of Matter)
Pendapat Wajar dengan Pengecualian atauTidak
36 4. Audit Tenure
Gheiger dan Raghunandan (2002) menyatakan tenure adalah lamanya hubungan auditor klien diukur dengan jumlah tahun. Ketika auditor memiliki jangka waktu hubungan yang lama dengan kliennya, hal ini akan mendorong pemahaman yang lebih atas kondisi keuangan klien dan oleh karena itu mereka akan dapat mendeteksi masalah going concern. Dalam sudut pandang kedua, menjaga hubungan dengan kantor akuntan publik yang sama untuk jangka waktu yang lama dianggap lebih ekonomis untuk klien. Adanya hubungan antara auditor dengan kliennya dalam waktu yang lama dikhawatirkan akan membuat auditor kehilangan independensinya. Karena antara auditor dengan klien sudah terikat hubungan yang nyaman dan saling menguntungkan sehingga kualitas audit menjadi rendah. Hilangnya independensi auditor dapat dilihat dari kesulitan auditor dalam memberikan opini going concern untuk kliennya (Sari,2012:21).
Dalam laporan yang dikeluarkan oleh Bagian Praktek Securities of Exchange Commission (SEC) Komite Eksekutif American Institute of Certified Public Accountants (AICPA) 1992 dalam Widyantari (2012:35) dinyatakan beberapa argumen yang dibuat tentang audit tenure. Argumen ini menyatakan bahwa dalam jangka panjang hubungan antara auditor dan perusahaan klien akan menyebabkan masalah berikut:
37 b. Auditor mungkin menganggap pengujian yang dilakukan sebagai
pengulangan dari perikatan sebelumnya sehingga auditor merasa mengetahui lebih dulu hasil dari pengujian tersebut. Hal ini menyebabkan auditor kurang mampu mengevaluasi perubahan penting dalam kondisi klien.
c. Auditor mungkin berkeinginan untuk menyelesaikan masalah perusahaan klien dalam rangka mempertahankan hubungan baik dengan klien, memenuhi keinginan klien mungkin menjadi prioritas auditor dibandingkan dengan mengikuti standar profesional.
38 5. Reputasi KAP
Auditor bertanggung jawab untuk menyediakan informasi yang berkualitas tinggi yang bermanfaat bagi pengambilan keputusan. KAP big four cenderung akan menerbitkan opini audit going concern jika klien terdapat masalah berkaitan going concern perusahaan (Junaidi dan Hartono, 2010:7). DeAngelo (1981) secara teoritis telah menganalis hubungan antara kualitas audit dan ukuran Kantor Akuntan Publik (KAP). Dia berargumen bahwa auditor besar akan memiliki lebih banyak klien dan fee total akan dialokasikan diantara para kliennya. DeAngelo (1981) berpendapat bahwa auditor besar akan lebih independen, dan karenanya, akan memberikan kualitas yang lebih tinggi atas audit. Ukuran auditor berhubungan dengan kualitas audit. Economics of scale KAP yang besar akan memberikan insentif yang kuat untuk mematuhi aturan SEC sebagai cara pengembangan dan pemasaran keahlian KAP tersebut (Dewayanto, 2011:90).
[image:58.612.158.511.610.706.2]Auditor yang berkualitas adalah auditor yang tergolong kedalam KAP The Big Four (Rahayu, 2009:150). Tabel berikut ini akan menyajikan sejumlah nama KAP big four beserta afiliasinya di Indonesia:
Tabel 2.2
KAP Big Four beserta Afiliasi di Indonesia
The Big Four Afiliasi di Indonesia
Price Waterhouse Coopers (PWC) Tanudiredja, Wibisana, & Rekan Ernst and Young Purwantono, Suherman, & Surja Kinsfield, Peat, Marwick, Goerdeller
(KPMG)
Sidharta & Widjaja
39 Berdasarkan penelitian terdahulu, proksi yang digunakan dalam menilai reputasi Kantor Akuntan Publik adalah dengan menggunakan skala Kantor Akuntan Publik, Big Four atau Non-Big Four. Mc Kinley et. al. (1985) menyatakan, ketika sebuah KAP mengklaim dirinya sebagai KAP besar seperti yang dilakukan oleh big four, maka mereka akan berusaha keras untuk menjaga nama besar tersebut dan berusaha menghindari tindakan- tindakan yang dapat mengganggu nama besar mereka (Sari, 2012:22). Hasil penelitian Rahayu (2009), Junaidi dan Hartono (2010), Astuti dan Darsono (2012), juga Foroghi (2012), berhasil membuktikan bahwa reputasi auditor berpengaruh signifikan terhadap penerimaan opini going concern.
6. Disclosure
Disclosure adalah pengungkapan atau pemberian informasi oleh perusahaan, baik yang positif maupun yang negatif, yang akan mempengaruhi atas suatu keputusan investasi. Disclosure dibutuhkan oleh para pengguna untuk lebih memahami informasi yang terkandung dalam laporan keuangan. Laporan keuangan merupakan sumber informasi yang memungkinkan pihak pengguna untuk mengetahui kondisi suatu perusahaan (Almilia dan Retrinasari, 2007).
40 dilakukan untuk melindungi hak pemegang saham yang cenderung terabaikan akibat terpisahnya pihak manajemen yang mengelola perusahaan dan pemegang saham yang memiliki modal. Semakin memadainya pengungkapan atas informasi laporan keuangan dapat mengurangi resiko litigitas sehingga jika perusahaan mengungkapkan lebih sedikit informasi akuntansi cenderung menerima opini unqualified dari auditor eksternal (Junaidi dan Hartono, 2010:8).
Keuntungan dari pengungkapan laporan keuangan oleh perusahaan adalah sebagai berikut (Tanor, 2009):
1. Keuntungan terjadi apabila pengungkapan rinci mengenai produk baru dapat digunakan untuk menyampaikan prospek perusahaan di masa yang akan datang kepada pemegang saham.
2. Disclosure dalam dunia investasi dapat berperan sebagai public relation bagi perusahaan yang berhubungan dengan komunitas investasi setiap saat, sehingga melalui disclosure masyarakat dapat mengetahui kondisi perusahaan.
3. Disclosure dapat mengurangi asimetri informasi.
41 memberikan informasi akuntansi dan informasi lainnya yang dipandang relevan untuk keputusan pihak yang berkepentingan.
[image:61.612.169.508.408.702.2]Kewajiban penyampaian laporan tahunan bagi perusahaan publik telah diatur oleh pemerintah dalam Keputusan Ketua Badan Pengawasan Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Nomor : KEP-134/BL/2006 Peraturan Nomor X.K.6 yang berisi tentang: (1) Kewajiban penyampaian laporan tahunan bagi emiten atau perusahaan publik. (2) Bentuk dan isi laporan tahunan. Penentuan indeks dilakukan dengan menggunakan disclosure item yang digunakan untuk menentukan jumlah disclosure yang disajikan oleh perusahaan. Tabel 2.1 menyajikan disclosure item yang digunakan dalam penelitian ini:
Tabel 2.1 Disclosure Items
No Keterangan
1. Ikhtisar data keuangan penting
2. Informasi harga saham tertinggi, terendah, dan penutupan
3. Laporan dewan komisaris mengenai penilaian terhadap kinerja direksi mengenai pengelolaan perusahaan.
4. Laporan dewan komisaris mengenai pandangan atas prospek usaha perusahaan yang disusun oleh direksi
5. Laporan direksi mengenai kinerja perusahaan.
6. Laporan direksi mengenai gambaran tentan prospek usaha.
7. Laporan direksi mengenai penerapan tata kelola perusahaan yang telah dilaksanakan perusahaan
8. Nama & alamat perusahaan 9. Riwayat singkat perusahaan
10. Bidang dan kegiatan usaha perusahaan meliputi jenis produk dan atau jasa yang dihasilkan
11. Struktur organisasi dalam bentuk bagan 12. Visi & misi perusahaan
13. Nama, jabatan, dan riwayat hidup singkat anggota dewan komisaris 14. Nama, jabatan, dan riwayat hidup singkat anggota direksi
42
17. Nama anak perusahaan dan perusahaan asosiasi, presentase kepemilikan saham, bidang usaha, dan status operasi perusahaan tersebut
18. Kronologis pencatatan saham dan perubahan jumlah saham dari awal pencatatan hingga akhir tahun buku serta nama bursa efek dimana saham perusahaan tersebut dicatatkan
19. Nama & alamat lembaga dan atau profesi penunjang pasar modal. 20. Penghargaan & sertifikasi yang diterima perusahaan baik yang berskala
nasional maupun internasional
21. Nama & alamat anak perusahaan dan atau kantor cabang/ kantor perwakilan
22. Tinjauan operasi per segmen usaha
23. Analisis kinerja keuagan yang mencakup perbandingan antara kinerja keuangan tahun yang bersangkutan dengan yang sebelumnya.
24. Prospek usaha dari perusahaan
25. Aspek pemasaran atas produk dan jasa perusahaan antara lain strategi pemasaran dan pangsa pasar
26. Kebijakan dividen dan tanggal serta jumlah dividen 27. Tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance)
28. Tanggung jawab direksi atas laporan keuangan 29. Laporan keuangan tahunan yang telah diaudit 30. Tandatangan anggota direksi dan dewan komisaris 31. Informasi tentang tanggung jawab sosial dan lingkungan 32. Ringkasan statistik keuangan untuk 3 sampai 5 tahun 33. Informasi tentang penelitian dan pengembangan
Setelah melakukan scoring menggunakan disclosure items, disclosure dapat ditentukan dengan rumus sebagai berikut (Cooke, 1992):
Disclosure Level = Jumlah skor disclosure yang dipenuhi Jumlah skor maksimum
7. Ukuran Perusahaan Klien
Dewayanto (2011:88) menyatakan bahwa auditor lebih sering mengeluarkan modifikasi opini audit going concern pada perusahaan yang lebih kecil. Hal ini dimungkinkan karena auditor mempercayai bahwa perusahaan yang lebih besar dapat menyelesaikan
43 kesulitan keuangan yang dihadapinya daripada perusahaan yang lebih kecil. Selain itu, perusahaan besar lebih banyak mengeluarkan fee audit yang lebih tinggi daripada yang ditawarkan perusahaan yang lebih kecil. Dalam kaitannya mengenai kehilangan fee audit yang signifikan tersebut, auditor dapat meragukan pengeluaran opini going concern pada perusahaan besar (Mc.Known et al.,1991).
Ukuran perusahaan klien yang diproksikan dengan log natural total asset yang dimiliki perusahaan menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menjaga kelangsungan usaha. Semakin tinggi total asset yang dimiliki, maka perusahaan dianggap memiliki ukuran yang besar sehingga mampu mempertahankan kelangsungan usahanya. Perusahaan besar memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengelola perusahaan dan menghasilkan laporan keuangan yang lebih berkualitas (Junaidi dan Hartono, 2010:9). Semakin kecil skala perusahaan menunjukkan kemampuan perusahaan yang lebih kecil dalam pengelolaan usahanya. Hal ini menyebabkan perusahaan lebih berpeluang mendapatkan opini audit going concern (Widyantari,2011:55).
8. Opini Audit Sebelumnya
44 yang menerima opini audit going concern pada tahun sebelumnya lebih cenderung untuk menerima opini yang sama pada tahun berjalan. Hal ini juga didukung oleh penelitian dari Nogler (1995) yang menemukan bukti bahwa setelah auditor mengeluarkan opini going concern, perusahaan harus menunjukkan peningkatan keuangan yang signifikan untuk memperoleh opini bersih (unqualified opinion) pada tahun berikutnya, jika tidak maka opini going concern akan diterima kembali.
Mutchler (1985) juga menguji pengaruh ketersediaan informasi publik terhadap prediksi opini audit going concern, yaitu tipe opini audit yang telah diterima perusahaan. Hasilnya menunjukkan bahwa model analisis diskriminan yang memasukkan tipe opini audit tahun sebelumnya mempunyai akurasi prediksi keseluruhan yang paling tinggi sebesar 89,9 % dibandingkan model yang lain. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Mutchler (1984), Sunarni dan Jatmiko (2012), Kartika (2012), Mutaqin dan Sudarno (2012) menemukan hubungan positif antara opini audit going concern tahun sebelumnya dengan opini tahun berjalan. Apabila pada tahun sebelumnya perusahaan menerima opini audit going concern, maka pada tahun berjalan akan semakin besar kemungkinan perusahaan untuk menerima kembali opini audit going concern.
46 Tabel 2.2
Hasil Penelitian Terdahulu
No Peneliti Judul Variabel Hasil Penelitian
Persamaan Perbedaan
1. Knechel dan Vonstaelen (2007)
The Relationship Between Auditor Tenure & Audit Quality Implied by Going
Concern Opinions
Auditor- client tenure Audit quality Auditor- client tenure berpengaruh signifikan terhadap opini going concern
2. Haron et al. (2009) Factors Influencing Auditors Going Concern Opinion
Disclosure Financial condition, type of evidence
Financial condition, type of evidence, dan disclosure berpengaruh signifikan terhadap opini going concern 3. Junaidi dan Hartono
(2010)
Faktor Non Keuangan pada Opini Going Concern
Auditor- client tenure, reputasi auditor, disclosure, ukuran perusahaan
Opini audit sebelumnya
Auditor- client tenure, reputasi auditor,
disclosure berpengaruh signifikan terhadap opini going concern, namunukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap opini going concern
47
No. Peneliti Judul Variabel Hasil Penelitian
Persamaan Perbedaan
4. Dewayanto (2011) Analisis Faktor- Faktor yang
Mempengaruhi Penerimaan Opini Audit Going Concern pada Perusahaan
Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Ukuran perusahaan, opini audit
sebelumnya, auditor-client tenure, opinion shopping, reputasi auditor
Kondisi keuangan, opinion shopping,
Kondisi keuangan, da opini audit sebelumnya berpengaruh signifikan, audit tenur,ukuran perusahaan,opininoin shoping, reputasi auditor tidak berpengaruh signifikan. 5. Kartika (2012) Pengaruh Kondisi Keuangan dan Non
Keuangan Terhadap Penerimaan Opini Going Concern pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia
Opini audit tahun lalu Kondisi keuangan, pertumbuhan perusahaan, kualitas audit, opinion shopping
Opini audit tahun lalu, dan pertumbuhan perusahaan
berpengaruh signifikan terhadap opini going concern, namun kualitas audit, kondisi keuangan, dan opinion shopping tidak
berpengaruh terhadap opini going concern 6. Foroghi (2012) Audit Firm Size and Going Concern
Reporting Accuracy
Ukuran KAP financial stress, bankcruptcy lag, operating cash flow
Financial stress dan reputasi auditor berpengaruh signifikan terhadap opini going concern
48
No. Peneliti Judul Variabel Hasil Penelitian
Persamaan Perbedaan
7. Astuti dan Darsono (2012)
Pengaruh Faktor Keuangan dan Non Keuangan Terhadap Penerimaan Opini Audit Going Concern
Reputasi auditor, disclosure
Kondisi keuangan, debt default, opinion shopping, audit lag
Debt default, reputasi auditor dan audit lag berpengaruh signifikan terhadap opini going concern, namun kondisi keuangan, opinion shopping dandisclosure tidak berpengaruh signifikan terhadap opini going concern. 8. Beams et al. (2013) The Effect of CEO and CFO Resignations
on Going Concern Opinions
Client size, auditor reputation
Resigned CEO, net cash flow, leverage, one year stock return, amounts of investment
Client size, auditor reputation, negative cash flow, one year stock return
49 C. Kerangka Pemikiran
Hubungan atau keterkaitan antar variabel independen dan variabel dependen dalam penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut: