SEKOLAH POLISI NEGARA (SPN) SAMPALI MEDAN
( 1984 – 1998 )
Skripsi
Disusun Oleh :
Leo Alfero Simanjuntak
NIM : 100706007
DEPARTEMEN SEJARAH
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
i ABSTRAK
Secara umum skripsi ini bertujuan untuk mengungkap dan mengetahui sejarah, perkembangan, dan peranan SPN Sampali Medan, dalam melahirkan polisi – polisi yang memiliki peranan penting dalam menjaga keamanan ditengah – tengah masyarakat khususnya di Sumatera Utara. Wadah pendidikan polisi satu – satunya yang ada di Sumatera Utara adalah SPN Sampali Medan. SPN Sampali Medan ini memiliki peranan yang sangat penting dalam lahirnya polisi – polisi yang handal dan professional dalam melaksanakan tugasnya di tengah – tengah masyarakat. SPN Sampali Medan memiliki tugas sebagai pendidik dan pelatih siswa – siswa calon polisi baik mendidik dalam bidang akademik maupun dalam bidang fisik (mental).
Dari hasil penelitian akhir diketahui bahwa sebelum SPN Sampali Medan ini didirikan di regional Sumatera Utara, SPN pertama sekali didirikan di daerah Tanjung Kasau kabupaten Asahan. SPN Tanjung Kasau ini dipindahkan ke daerah Medan pada tahun 1963, dikarenakan SPN Tanjung Kasau ini dijadikan tempat penahanan tahanan politik II PKI di daerah Tanjung Kasau. Dengan kebijakan Kepala Kepolisian, pada tahun 1963 SPN Tanjung Kasau dipindahkan ke daerah Medan dengan nama Sekolah Angkatan Kepolisian (SAK) Sampali Medan, yang dalam perkembangannya berganti nama menjadi SPN.
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Yesus Kristus yang selalu melimpahkan
berkat dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini guna
melengkapi dan memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sejarah
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
Adapun judul skripsi yang penulis tulis adalah “Sekolah Polisi Negara (SPN) Sampali Medan 1984 – 1998”. Pada proses penulisan skripsi ini penulis banyak mengalami rintangan maupun hambatan, namun penulis juga banyak mendapat
bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, terutama dari staf pengajar jurusan ilmu
sejarah.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna, karena keterbatasan
kemampuan dan pengetahuan penulis. Untuk itu kritik dan saran yang membangun
dalam memperbaharui skripsi ini di masa yang akan datang, sangat penulis harapkan.
Akhirnya dengan kerendahan hati , penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat
dan berguna bagi penulis pribadi dan pembaca yang budiman.
Medan, November 2014 Penulis
iii Ucapan Terima Kasih
Penulis telah menyelesaikan Penelitian Ilmiah, dan telah berhasil menemukan
hasil penelitian dan dituangkan oleh penulis dalam bentuk skripsi. Penulis
mengucapkan segala puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan
karunia yang telah dilimpahkan olehNya. Penulis juga memberikan ucapan terima
kasih yang sebesar – besarnya kepada kedua orang tua yaitu Ayahanda tercinta
Nelson Simanjuntak dan Ibunda terkasih Tiar Lumongga Matondang, yang telah
berusaha sekuat – kuatnya untuk membesarkan, menyemangati, menemani penulis
sehingga bisa sampai saat proses terakhir perkuliahan S1 yaitu penulisan skripsi dapat
tercapai dan terlaksana. Selain itu, penulis juga mengucapkan terima kasih kepada :
- Rektor Universitas Sumatera Utara Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu,
D.T.M.&H., M.Sc.(C.T.M), Sp.A.(K) yang telah memimpin USU selama
penulis kuliah sampai menyelesaikan skripsi ini.
- Dekan Fakultas Ilmu Budaya USU Bapak Dr. Syahron Lubis, M.A, yang
telah memimpin Fakultas Ilmu Budaya USU.
- Ketua Departemen Sejarah Bapak Drs. Edi Sumarno, M.Hum, yang telah
memimpin Departemen Sejarah dan mengayomi mahasiswa – mahasiswi
prodi Ilmu Sejarah.
- Sekretaris Departemen Sejarah Ibu Dra. Nurhabsyah, M.Si, yang juga
sebagai dosen pembimbing penulis yang telah membantu, menyemangati,
dan memberikan dukungan terhadap penulis dalam menyelesaikan
iv
- Dosen Pembimbing Akademik penulis Bapak Dr. Suprayitno, yang telah
memberikan bimbingan akademik bagi penulis dalam menjalani
perkuliahan di departemen Sejarah USU.
- Kepada seluruh Staf Pengajar Departemen Sejarah, yang telah
mengabdikan ilmunya kepada penulis selama masa proses perkuliahan.
- Kepada seluruh abang/kakak alumni Ilmu Sejarah USU yang telah
memberikan dorongan dan dukungannya kepada penulis dalam menjalani
kehidupan sebagai mahasiswa.
- Kepada seluruh kakanda dan adinda mahasiswa Ilmu Sejarah USU, yang
telah menemani dan mendukung penulis dalam proses perkuliahan.
- Kepada kawan – kawan angkatan 2010 Ilmu Sejarah, yang menjadi kawan
– kawan seperjuangan selama perkuliahan di Ilmu Sejarah.
- Kepada Bang Brat, Bang Daru, Bang Marco, Bang Eri, Bobi, Jabal, Jakob,
Roy, Daniel, Ardi, Hengki, Fenrico, Ihsan, Tomi, yang sudah mau
menemani dan mensupport penulis.
- Kepada Lilis yang telah menjadi sahabat dekat yang mendukung penulis
dalam proses perkuliahan.
Medan, November 2014
Penulis
v
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... ii
Ucapan Terima Kasih ... iii
BAB I Pendahuluan ... 1
1. 1 Latar Belakang Masalah ... 1
1. 2 Rumusan Masalah ... 4
1. 3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 5
1. 4 Tinjauan Pustaka ... 5
1. 5 Metode Penelitian ... 7
BAB II SEJARAH BERDIRINYA SPN SAMPALI MEDAN ... 10
2 . 1. SPN Sampali Medan sebelum 1984 ... 10
2 . 2. Berdirinya SPN Sampali Medan ... 13
BAB III PERKEMBANGAN SPN SAMPALI MEDAN 1984 – 1998 ... 19
3.1. Bangunan (Fisik) ... 19
3. 2. Siswa – Siswa ... 21
3 . 3. Sistem Pendidikan ... 23
3 . 4. Kurikulum ... 36
3 . 4. Struktur Organisasi ... 40
vi
4. 1 Peranan SPN Sampali Medan dalam Melahirkan Anggota – Anggota Polisi . 52
4. 2 Kontribusi SPN Sampali Medan ... 55
4. 2. 1 Polisi Jobtraining ... 57
4.4.2 Polisi Magang ... 58
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 59
5.1 Kesimpulan ... 59
5.2 Saran ... 61
DAFTAR PUSTAKA ... 62
vii Daftar Lampiran :
1. KA SPN Sampali Medan Tahun 1962 – 2011
2. Susunan Struktur organisasi SPN Sampali
3. Struktur organisasi Set Lem SPN Sampali
4. Struktur organisasi Urusan Administrasi SPN Sampali
5. Struktur organisasi Urusan Perencanaan SPN Sampali
6. Struktur organisasi urusan dalam (Urdal) SPN Sampali
7. Struktur organisasi urusan tata usaha (Urtu) Sampali
8. Struktur organisasi kanit Provos SPN Sampali
9. Struktur organisasi Poliklinik SPN Sampali
10.Struktur organisasi Koorgadik SPN Sampali
11.Struktur organisasi Kabag Jarlat SPN Sampali
12.Struktur organisasi Ka Korsis SPN Sampali
13.Gambar depan SPN Sampali Medan
14.Foto Siswa Pendidikan
15.Foto Upacara Pembukaan Ajaran Baru
16.Formulir pendaftaran calon Polisi
17.Urutan pangkat Polisi
i ABSTRAK
Secara umum skripsi ini bertujuan untuk mengungkap dan mengetahui sejarah, perkembangan, dan peranan SPN Sampali Medan, dalam melahirkan polisi – polisi yang memiliki peranan penting dalam menjaga keamanan ditengah – tengah masyarakat khususnya di Sumatera Utara. Wadah pendidikan polisi satu – satunya yang ada di Sumatera Utara adalah SPN Sampali Medan. SPN Sampali Medan ini memiliki peranan yang sangat penting dalam lahirnya polisi – polisi yang handal dan professional dalam melaksanakan tugasnya di tengah – tengah masyarakat. SPN Sampali Medan memiliki tugas sebagai pendidik dan pelatih siswa – siswa calon polisi baik mendidik dalam bidang akademik maupun dalam bidang fisik (mental).
Dari hasil penelitian akhir diketahui bahwa sebelum SPN Sampali Medan ini didirikan di regional Sumatera Utara, SPN pertama sekali didirikan di daerah Tanjung Kasau kabupaten Asahan. SPN Tanjung Kasau ini dipindahkan ke daerah Medan pada tahun 1963, dikarenakan SPN Tanjung Kasau ini dijadikan tempat penahanan tahanan politik II PKI di daerah Tanjung Kasau. Dengan kebijakan Kepala Kepolisian, pada tahun 1963 SPN Tanjung Kasau dipindahkan ke daerah Medan dengan nama Sekolah Angkatan Kepolisian (SAK) Sampali Medan, yang dalam perkembangannya berganti nama menjadi SPN.
1
BAB I
Pendahuluan
1. 1 Latar Belakang Masalah
Sekolah Polisi Negara (SPN) adalah lembaga pendidikan kepolisian yang
bergerak dibawah tanggungjawab Polda.1
SPN bukan hanya ada di satu tempat saja, melainkan hampir di seluruh
wilayah Indonesia seperti, Kutaraja Aceh, Deli-Serdang, Padang Besi, Betung,
Ciputat, Maribaya, Candi, Purwokerto, Mojokerto, Banjarmasin, Korambasan, Batua,
dan Masohit Pekanbaru (Riau), Pontianak (Kalbar), Kupang (NTT), Jambi, Mataram
(NTB) Kramatjati/Jakarta, Bandung (Jabar), Banyu Biru (Jateng), Bangsal, Pendidikan sangatlah penting bagi setiap
umat manusia demi kemajuan dan perkembangan suatu Negara. Pendidikan perlu
juga bagi anggota – anggota kepolisian yang nantinya akan bertugas di tengah –
tengah masyarakat. Demi menuntut professional seorang anggota polisi maka
dibukalah wadah pembekalan ilmu bagi kepolisian Republik Indonesia. Salah satu
wadah pembekalan bagi anggota – anggota kepolisian Republik Indonesia adalah
SPN. Sekolah Polisi Negara ini bertujuan untuk mendidik dan melatih para siswa –
siswa calon anggota polisi yang dinyatakan lulus setelah melewati berbagai tes yang
dilaksanakan oleh masing – masing Polda.
1
2
Mojokerto (Jatim), Tanjung Kasau (Sumatera Utara), Dongaya (Makasar,Sulawesi),
dan Ambon. Pendirian SPN di masing – masing lokasi ini ialah untuk menambah
personil yang pada saat itu sangat dibutuhkannya personil – personil kepolisian
dengan jumlah yang sangat besar.
Dari beberapa SPN yang terdapat di berbagai provinsi tersebut diatas, terdapat
di Sumatera Utara adalah SPN Tanjung Kasau dan Deli Serdang. SPN ini didirikan
dengan tujuan untuk melaksanakan kegiatan pendidikan anggota Kepolisian Republik
Indonesia agar mendapat pembekalan sebelum bertugas di tengah – tengah
masyarakat. SPN Tanjung Kasau ini dipindahkan dan dipersatukan ke SPN Deli
Serdang. Tahun 1963 SPN Tanjung Kasau ini resmi pindah ke daerah Indra Kasih
Sampali dengan maksud dan tujuan yang sama ialah mendidik siswa –siswa calon
polisi.2
Dari hal diatas menunjukkan bahwa, pentingnya suatu pendidikan bagi calon
– calon anggota kepolisian. Karena, didalam melahirkan polisi – polisi yang ahli
dalam melaksanakan tugasnya dibutuhkan pendidikan – pendidikan yang matang.
Bukan hanya pendidikan jasmani saja, tapi dibutuhkan juga pendidikan moral, karena
SPN ini langsung bersentuhan dengan masyarakat. Dengan begitu, etika sangatlah Perkembangan Sekolah Polisi Negara Sampali Medan ini tidak terlepas dari
para pemimpin-pemimpin yang membina dan mendidik siswa-siswa calon polisi
tersebut, termasuk juga staf-staf pengajar yang membina dan mendidik calon-calon
polisi.
3
penting dalam melaksanakan tugasnya. Tuntutan akan etika adalah dimana kita semua
berposisi, dan ditentukan oleh tingkat kebijakan dan rasa kemanusiaan kita, semua itu
akan diwarnai oleh berbagai peran khusus yang dimiliki polisi dan terbentuk oleh
keadaan tertentu dimana mereka harus mengambil keputusan.3
Sekolah Polisi Negara Sampali Medan merupakan tempat pembekalan dari
kader-kader polisi yang memiliki tugas penting dalam menjaga ketertiban dan
keamanan masyarakat di suatu daerah. Meskipun SPN Sampali Medan merupakan
pergantian nama dari beberapa nama sebelumnya seperti SAK ( Sekolah Angkatan
Kepolisian ) , diganti dengan Dodiklat (Depo Pendidikan dan Latihan) , dan diganti
dengan nama SPN Sampali Medan.
Maka dari itu SPN
sangat memegang peranan penting dalam melahirkan polisi – polisi yang handal dan
juga SPN mempengaruhi perkembangan kepolisian di Indonesia sebagai pengayom,
melayani, melindungi masyarakat.
4
3Kunarto-Hariadi Kuswaryono
, Polisi dan Masyarakat , Jakarta : Cipta Manullang, 1998, hal. 67.
Nama SPN Sampali Medan ini diganti pada
tahun 1984 atas kebijakan Kepolisian Republik Indonesia . Pergantian nama ini hanya
sebatas pergantian nama tanpa mengganti proses dan teknis pendidikan yang sudah
berjalan sebelumnya. SPN Sampali Medan ini dulu merupakan bagian dari daerah
Deli Serdang dan pada 1984 SPN ini dirubah namanya menjadi SPN Sampali Medan
dikarenakan pada tahun tersebut, daerah ini sudah masuk ke kawasan Medan.
4
4
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, penulis menulis judul “SPN
SAMPALI MEDAN (1984 – 1998). Adapun alasan penulis memulai penulisan pada
tahun 1984 dikarenakan pada tahun tersebut sekolah pendidikan bagi polisi tersebut
digantu namanya menjadi SPN Sampali Medan yang sebelumnya nama pendidikan
polisi tersebut adalah Dodiklat ( Depo Pendidikan dan Pelatihan), yang dirubah
berdasarkan keputusan kepolisian RI yang berpusat di Jakarta agar sesuai dengan
fungsi dan peranan dari SPN Sampali tersebut yaitu sebagai lokasi pembekalan
pendidikan bagi calon – calon polisi. Penulisan diakhiri tahun 1998, karena pada
tahun ini adalah tahun berakhirnya orde baru, yang dimana setelah tahun 1998 polisi
sudah keluar dari tubuh ABRI.
1. 2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis membatasi tulisan ini dengan
rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana sejarah berdirinya SPN Sampali Medan.
2. Bagaimana perkembangan SPN Sampali Medan 1984-1998.
5 1. 3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
A. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk :
1. Menjelaskan sejarah berdirinya Sekolah Polisi Negara (SPN) Sampali Medan.
2. Menjelaskan perkembangan Sekolah Polisi Negara (SPN) Sampali Medan.
3. Menjelaskan peranan Sekolah Polisi Negara (SPN) Sampali Medan.
B. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat untuk :
1. Menambah literatur serta menambah wawasan tentang sejarah militer khususnya
kepolisian di Sumatera Utara.
2. Menambah referensi yang berkaitan dengan sejarah berdirinya Sekolah Polisi
Negara (SPN) Sampali Medan.
1. 4 Tinjauan Pustaka
Menelusuri serta menelaah yang ada merupakan langkah yang penting dalam
melakukan sebuah penelitian ilmiah. Meneliti dengan melakukan cara ini akan
6
Berdasarkan hal tersebut, akan dikemukakan beberapa buku yang mendukung
penulis dalam melakukan penelitian ini.
Memet Tanumidjaja, Sejarah Perkembangan Angkatan Kepolisian, 1971.
Buku ini menceritakan tentang sejarah berdirinya Kepolisian RI sampai
perkembangannya,baik perkembangan polisi itu sendiri,pendidikan kepolisian dan
struktur organisasi kepolisian,yang dimulai dari menjelang kemerdekaan Indonesia
sampai masa-masa G30S/PKI. Buku ini dapat membantu penulis untuk menjelaskan
bagaimana perjalanan kepolisian RI sejak menjelang kemerdekaan Indonesia sampai
tahun 1966. Yang didalam buku ini sangat banyak membantu penulisa dalam
mengetahui jejak – jejak perjalan polisi termasuk juga perkembangan pendidikan
kepolisian dan peran – peran polisi pada masa – masa genting.
Kunarto dan Hariadi Kuswaryono “Polisi dan Masyarakat”, 1998. Buku ini
menceritakan tentang fungsi-fungsi polisi dalam memajukan kesejahteran
masyarakat. Dimana untuk menciptakan stabilitas masyarakat, kemakmuran rakyat
dan pembangunan negara terletak pada lingkungan keamanan masyarakat yang baik,
dan untuk itu polisi memiliki peranan yang besar. Buku ini membantu penulis untuk
mengetahui peranan lebih dalam seorang polisi dalam bertugas di tengah – tengah
masyarakat yang menjadi tolak ukur pendidikan di SPN – SPN yang ada di Indonesia.
Adrianus Meliala “Problema Reformasi Polisi”, 2002. Buku ini menceritakan
tentang posisi Polisi sebagai anggota ABRI pada saat itu dan menceritakan juga
7
polisi di Indonesia. Buku ini membantu penulis dalam memahami bagaimana peranan
– peranan kepolisian pada saat kepolisian RI masih dalam tubuh ABRI, yang
mempengaruhi peran dan fungsi kepolisian.
Hadiman Suparmin “Lintasan Perjalanan Kepolisian RI sejak Proklamasi -
1950”, 2002. Buku ini menceritakan tentang perjalanan kepolisian RI dan peranannya
dalam mengamankan dan memelihara keamanan di masyarakat sejak proklamasi
sampai 1950, yang didalam buku ini diulas juga perkembangan pendidikan kepolisian
RI. Buku ini membantu penulis dalam mengetahui lintasan perjalanan kepolisan RI
dalam memerankan peranannya sebagai penegak aparat bersenjata yang memiliki
tujuan memelihara keamanan dan kenyamanan dalam bermasyarakat dan juga
member gambaran dan sejarah perjalanan pendidikan kepolisian.
1. 5 Metode Penelitian
Metode sejarah ialah petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis tentang bahan,
kritik, interpretasi, dan penyajian sejarah. Jadi, metode mempunyai hubungan dengan
prosedur, proses atau teknis yang sistematis dalam penyelidikan suatu disiplin ilmu
tertentu untuk mendapatkan objek (bahan-bahan) yang diteliti.5
5
Kuntowijoyo. Metodologi Sejarah , Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya, 2003, hal. 13.
Sampai akhirnya
8
1. Tahapan Pengumpulan Data ( heuristik ) : adalah kegiatan mencari dan menemukan
sumber yang diperlukan. Penulis melakukan pencarian sumber yang diperlukan dan
sesuai dengan keterampilan teknis penelusuran sumber. Sumber-sumber yang saya
gunakan adalah sumber kepustakaan yaitu dengan menggunakan buku dan sumber
lisan yaitu melalui wawancara. Sumber tertulis berupa buku penulis dapatkan dari
perpustakaan Universitas Sumatera Utara, perpustakaan Unimed, perpustakaan Daerah
Sumatera Utara, sedangkan sumber lisan penulis dapatkan dengan melakukan
wawancara dengan Kompol. Rommel Nainggolan di SPN Sampali Medan yang
bertugas di SPN Sampali Medan sebagai kepala bagian urusan administrasi (Urmin),
AKBP. Siti Aminah yang bertugas di SPN Sampali Medan sebagai koordinator tenaga
pendidik (koorgadik), Aiptu. Kammaludin yang bertugas di SPN Sampali Medan
sebagai kepala manage, Aiptu. Marzuki di SPN Sampali Medan yang bertugas sebagai
kepala perpustakaan SPN Sampali Medan.
2. Tahapan kritik ekstern dan kritik intern. Sumber sumber sejarah yang diperoleh
harus diuji untuk memperoleh fakta sejarah. Kritik ekstern yaitu suatu kritik yang
dilakukan terhadap sumber sejarah untuk meneliti tingkat keakuratan dari sumber
tersebut. Misalnya melihat otentik atau tidaknya suatu tulisan meneliti bentuk
kertasnya dan usia dari sumber yang bersangkutan. Kritik intern yaitu melihat dan
menyelidiki isi dari bahan sejarah dan dokumen sejarah. Berguna untuk melihat
apakah sumber yang diperoleh benar-benar merupakan fakta historis.
9
3.Tahap Interpretasi yaitu penafsiran akan makna fakta dan hubungan antara satu fakta
dengan fakta lain. Penafsiran atas fakta harus dilandasi oleh sikap obyektif. Kalaupun
dalam hal tertentu bersikap subyektif, harus subyektif rasional, jangan subyektif
emosional. Rekonstruksi peristiwa sejarah harus menghasilkan sejarah yang benar atau
mendekati kebenaran, merupakan suatu hasil pengamatan dalam menganalisa data
yang mengemukakan pendapatnnya tentang fenomena-fenomena yangtelah diselidiki.
4.Tahap Historiografi, yaitu rekronstruksi yang imajinatif daripada masa lampau
berdasarkan data yang diperoleh melalui metode sejarah. Kegiatan terakhir dari
penelitian sejarah (metode sejarah) adalah merangkaikan fakta berikut maknanya
secara kronologis/diakronis dan sistematis, menjadi tulisan sejarah sebagai kisah.
Kedua sifat uraian itu harus benar-benar tampak, karena kedua hal itu merupakan
10
BAB II
SEJARAH BERDIRINYA SPN SAMPALI MEDAN
2 . 1. SPN Sampali Medan sebelum 1984
Sekolah Polisi Negara (SPN) adalah lembaga pendidikan kepolisian yang
bergerak dibawah tanggungjawab Polda. Pada masa perang kemerdekaan, Sekolah
Polisi Negara dahulu, berada di Yogjakarta dan Bukittinggi. Pada tahun 1947 Sekolah
Polisi Negara di Yogjakarta dan Bukittinggi dipindahkan dan dipersatukan di
Sukabumi sebagai pusat dari SPN di Indonesia.6Berhubung dengan jumlah agen
polisi yang dihasilkan oleh lembaga kepolisian daerah belum mencukupi, maka
sejalan dengan rencana pembangunan semesta berencana tahap pertama, sesuai
dengan ketetapan menteri kepala Kepolisian Negara7, maka pada tanggal 23 Mei
tahun 1948 sesuai dengan ketetapan Menteri Kepala Kepolisian Republik Indonesia,
dibangun Sekolah Polisi Negara Deli Serdang, kemudian pada tahun 1949 didirikan
kembali SPN Tanjung Kasau.8
6 Memet Tanuwidjaja,
Sedjarah Perkembangan Angkatan Kepolisian, Jakarta : Pusat Sedjarah ABRI, 1971, hal. 84.
SPN Deli Serdang dan SPN Tanjung Kasau
merupakan SPN yang berdiri di regional Sumatera utara, yang sebelumnya telah
berdiri SPN – SPN lain di berbagai daerah di Indonesia. Pada tahun 1963 SPN
Tanjung Kasau dipindahkan siswa – siswanya ke SPN yang ada di Deli Serdang
7
Ibid, hal. 129.
8
11
(SPN Sampali), dikarenakan ada kebijakan dari kepolisian RI untuk mempersatukan
SPN yang ada di Sumatera Utara. Sebelum SPN ini ditutup dan dipindahkan ke
Sampali, SPN Tanjung Kasau ini telah mendidik sekitar 1200 siswa – siswa didik.
Pada waktu pendidikan berjalan di SPN Tanjung Kasau, bangunan dan peralatan yang
digunakan dalam mendidik siswa – siswa didik hanya seadanya, dikarenakan kondisi
ekonomi Indonesia yang pada saat itu masih sangat minim. Namun meskipun dengan
kondisi yang belum memadai dalam mendidik siswa – siswa didik, para staf pengajar
tetap terus berusaha melatih siswa – siswa didik sebaik mungkin demi menciptakan
polisi – polisi yang handal dalam menjaga dan menciptakan keamanan di masyarakat.
Sewaktu SPN Tanjung Kasau ditutup dan dipindahkan ke Sampali, segala peralatan –
peralatan, akomodasi, dan staf – staf pengajarnya maupun pengurus SPN Tanjung
Kasau ikut dipindahkan ke Sampali. Terlihat bahwa siswa – siswa tidak ada yang
dipindahkan karena pada saat itu siswa – siswa yang sedang pendidikan sudah tamat
dan sudah bertugas di masyarakat. Ketika pindah dan mulai dilaksanakannya
pendidikan di SPN Sampali Medan, dibukalah pendaftaran bagi masyarakat –
masyarakat yang ingin menjadi polisi. SPN Tanjung Kasau merupakan tongkat
pertama pendidikan Kepolisian yang menjadi cikal bakal didirikannya SPN Sampali
Medan.
Setelah SPN di Tanjung Kasau ditutup, SPN Tanjung Kasau ini dipindahkan
ke daerah Sampali Deli Serdang yaitu di kelurahan Indra Kasih – Sampali pada tahun
1963, sekaligus dilakukan penyesuaian struktur dan organisasi dalam rangka
reorganisasi Polri, agar sesuai dengan ketentuan – ketentuan pokok Kepolisian
12
1964, tempat pendidikan ini diberi nama menjadi SAKRI (Sekolah Angkatan
Kepolisian Republik Indonesia). Dengan perubahan nama ini, pendidikan kepolisian
yang ada di Sampali dikenal dengan SAKRI Sampali. Pada tahun 1969 dilakukan lagi
penyesuaian struktur dan organisasi dalam rangka reorganisasi Polri, maka dari pada
itu nama Sekolah Angkatan Kepolisian Republik Indonesia (SAKRI) yang terdapat di
kota medan ini diganti lagi namanya dengan DODIKLAT (Depo Pendidikan dan
Latihan). Pergantian nama pendidikan kepolisian ini merupakan kebijakan lembaga
pendidikan polisi Indonesia yang berada di Jakarta. Lembaga Kepolisian inilah yang
mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan sistem pendidikan kepolisian di
Indonesia. Sekolah polisi di Medan ini merupakan salah satu dari beberapa deretan –
deretan sekolah kepolisian di Indonesia yang merubah nama sekolah pendidikan
kepolisan mereka menjadi DODIKLAT. Dengan digantinya nama sekolah polisi ini,
mulai dari sinilah dibukanya sistem pelatihan bagi polisi – polisi yang mau belajar
lagi, demi memantapkan perannya sebagai penegak hukum yang professional di
masyarakat. Seiring berkembangnya zaman, Depo pendidikan dan latihan (Dodiklat)
polisi ini diganti lagi namanya dengan Sekolah Polisi Negara pada tahun 1984.
Pergantian ini guna memaksimalkan fungsi dan peranan sekolah polisi ini sebagai
13 2 . 2. Berdirinya SPN Sampali Medan
SPN Sampali pertama sekali berada di Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten
Deli Serdang Sumatera Utara,9
● Sebelah Utara berbatasan dengan Jalan Surya
yang berbatasan:
● Sebelah Selatan berbatasan dengan Jalan Bhayangkara
● Sebelah Timur berbatasan dengan Jalan Gereja
● Sebelah Barat berbatasan dengan Jalan Sei Kera( Parit Busuk) 10
Dahulu lokasi ini merupakan lahan perkebunan tembakau PNP 9. Diatas
perkebunan tembakau tersebutlah didirikan sekolah pendidikan yang sekarang
bernama SPN Sampali Medan.11
Nama SPN Sampali Medan dikenal mulai tahun 1984, yang sebelumnya
diberi nama Dodiklat yaitu Depo Pendidikan dan Latihan yang merupakan perubahan
menyeluruh di Indonesia sesuai dengan ketentuan yang dibuat oleh Kepolisian
Republik Indonesia yangberpusat di Jakarta. Perubahan ini hanya perubahan sebatas
nama saja, agar lebih sinkron dengan fungsi dan peranannya sebagai sekolah yang
mendidik siswa – siswa polisi, agar nantinya setelah sudah sah dilantik dan menjadi
polisi, dapat bertugas dengan baik di tengah – tengah masyarakat. Dengan
berubahnya nama lokasi pendidikan dari dodiklat menjadi SPN Sampali Medan,
9 Dinas Tata Ruang Kota Medan
10 Sejarah singkat SPN sampali Medan. 11
14
terdapat pergantian kepala pimpinan atau kepala sekolah di SPN Sampali Medan
tersebut. Awal perubahan nama tersebut, SPN Sampali Medan dipimpin oleh Letkol
Pol. Drs. Soedarso.12
Dengan berubahnya nama lokasi pendidikan polisi ini, terdapat perombakan –
perombakan pada bangunan yang terdapat tulisan – tulisan nama pendidikan
sebelumnya. Tulisan – tulisan tersebut dirubah dan diganti menjadi SPN Sampali
Medan seperti yang terdapat di plat depan SPN Sampali dan gapura atau pintu masuk. Beliau adalah pemimpin pertama pasca perubahan nama lokasi
pendidikan. Namun dengan berubahnya nama lokasi pendidikan yang terdapat di kota
Medan ini, tidak merubah fungsi dan sistem pendidikannya. Jalannya sistem
pendidikan di SPN Sampali tersebut sama seperti apa yang sudah berjalan
sebelumnya. Dimulai dari pola kepemimpinan, struktur organisasi, sampai teknis
pengajaran bagi siswa – siswa bintara. Yang berubah hanya sebutan bagi jabatan
kepemimpinannya, yaitu dari Kepala Dodiklat Medan menjadi KA. SPN Sampali
Medan, tanpa mengurangi nilai dari kepemimpinan.
Pada awal berdirinya pada tahun 1963, lokasi pendidikan ini masih dalam
keadaan seadanya. Bangunan – bangunan yang sudah ada pada awal didirikannya
adalah sebagai berikut :
1. Gedung Utama
Gedung ini merupakan gedung pusat yang didalamnya terdapat ruangan – ruangan
para pengurus harian. Gedung utama adalah gedung atau bangunan yang pertama
sekali dibangun. Seperti ruangan koordinator tenaga pengajar dan pendidikan,
12
15
ruangan kepala bagian pelajaran dan latihan, ruangan administrasi, ruangan tata
usaha, dan ruangan kepala sekolah. Didepan gedung ini terdapat sebuah pos
penjagaan yang merupakan pos penjagaan utama. Gedung ini dibangun langsung
dengan dua tingkat dengan bahan bangunannya adalah beton.
2.Gedung KORSIS
Gedung ini merupakan gedung koprs siswa. Gedung ini terdapat ruangan pembantu
penyelenggaraan pembinaan kepribadian dan pengasuhan siswa dalam rangka
pelaksanaan pendidikan dan latihan sering disebut Korsis . Gedung ini berjumlah
satu dan di depan terdapat pos penjagaan kedua, setelah pos penjagaan yang ada di
depan gedung utama.
3.Gedung Tribrata
Gedung ini dibangun sebagai gedung pertemuan antara pimpinan atau orang - orang
penting yang berkunjung ke SPN. Gedung ini dibangun di area tepat dibelakang
gedung utama. Sama seperti bangunan lain, gedung ini dibangun langsung dengan
bahan beton dan bertuliskan “TRIBRATA” di dinding depannya.
4. Barak
Barak merupakan basecamp atau tempat tinggalnya para siswa polisi yang sedang
melaksanakan pendidikan. Tahun 1963, barak ini hanya berjumlah 6 buah. Dimana
satu barak ditempati sekitar 20 – 30 siswa – siswa pendidikan polisi tersebut.. Barak
16
5. Poliklinik
Poliklinik dibangun sebagai tempat siswa – siswa yang pendidikan di SPN ada yang
sedang cedera atau sakit dirawat dan diobati di poliklinik. Bukan hanya bagi siswa,
poliklinik ini juga berperan bagi staf-staf yang bekerja di lokasi pendidikan sebagai
tempat untuk pemeriksaan kesehatan mereka.
6. Garasi mobil
Garasi mobil merupakan tempat dimana mobil – mobil polisi seperti mobil truk
pengangkut siswa – siswa didik apabila ada tugas diluar, dan juga sebagai tempat
menyimpan mobil – mobil dinas polisi. Garasi mobil ini dibangun di area paling
belakang sebelah kanan. Dengan luas kira – kira sekitar 8 x 20 meter dengan bahan
kayu dan atapnya seng.
7. Gedung rekreasi
Gedung ini merupakan tempat rekreasi seperti tempat diadakannya acara – acara
seperti acara ulang tahun bhayangkara, tempat ini sebagai tempat pegelaran bagi
siswa – siswa didik maupun staf – staf pegawai yang ingin menampilkan sesuatu
apabila ada kegiatan perlomabaan keterampilan siswa – siswa didik. Gedung ini
dibangun di area paling depan sebelah kanan, dengan bangunan terbuat dari beton.
8. Ruang makan
Tempat ini merupakan tempat makan bagi siswa – siswa calon polisi yang sedang
17
dengan jadwal yang telah diatur di dalam peraturan tata laksana pendidikan
kepolisian. Ruang makan ini dibangun di sebelah kiri dengan luas kira – kira 5 x 10
meter.
9. Gedung perpustakaan
Gedung ini didirikan sebagai tempat penyimpanan buku - buku dan digunakan oleh
siswa – siswa didik yang pendidikan. Gedung perpustakaan ini dibangun di area
paling belakang dekat gedung korsis. Didalam perpustakaan ini terdapat 3 rak lemari
buku yang disusun berhadap – hadapan. Gedung ini dibangun dengan luas 5 x 7
meter.
10. Halang Rintang
Ini merupakan tempat atau lokasi latihan bagi para siswa - siswa yang pendidikan.
Melatih fisik dan mental calon angkatan kepolisian dalam medan seperti yang
sesungguhnya. Harang lintang ini merupakan lapangan, lapangan yang berukuran kira
– kira 10 x 20 meter dengan bermacam – macam rintangan yang dibuat dengan tujuan
sebagai tempat latihan strategi. Harang lintang ini dibangun di area sebelah kiri paling
belakang.
11. Lapangan Upacara
Lapangan upacara ini berada di belakang gedung utama, yang berfungsi sebagai
tempat upacara apel serta tempat latihan baris berbaris bagi siswa – siswa didik. Di
lapangan upacara ini terdapat sebuah podium yang terbuat dari semen dengan tinggi
18
yang berbentuk melingkari lapangan dan berfungsi sebagai tempat latihan lari bagi
siswa – siswa didik.
12. Asrama
Ini merupakan tempat tinggal bagi polisi – polisi. Berbentuk sepeti rumah berderet
dan rapat – rapat. Namun yang boleh tinggal hanyalah polisi – polisi yang bekerja di
lokasi pendidikan kepolisian Medan sedangkan polisi yang tidak bekerja di SPN
Sampali Medan ini tidak dapat tinggal di asrama.13
Unit bangunan diatas merupakan gedung – gedung atau bangunan –
bangunan yang sudah ada pada awal berdirinya lokasi pendidikan polisi ini.
13
19 BAB III
PERKEMBANGAN SPN SAMPALI MEDAN 1984 – 1998
3.1. Bangunan (Fisik)
Sesuai dengan perkembangan zaman, pada tahun 1980-an telah mulai dibangun
gedung – gedung atau penambahan – penambahan gedung serta perbaikan –
perbaikan bagi gedung – gedung yang sudah mulai rusak. Seperti barak, karena
siswa – siswa yang diterima dalam pendidikan polisi tersebut semakin
bertambah,sesuai dengan penerimaaan atau kuota permintaan polisi yang semakin
banyak dibutuhkan. Barak – barak lain dibangun di sebelahnya sebanyak 11 buah
barak dengan kapasitas lebih banyak dari yang sebelumnya. Barak yang pertama
hanya menampung siswa – siswa bintara sebanyak 20 - 30 siswa saja, dan barak
yang baru ini dibangun dengan kapasitas kurang lebih 60 – 70 orang didalamnya.
Selain penambahan barak, dibangun juga bangunan bagi siswa – siswa
pendidikan untuk beribadah. Disebelah kiri SPN Sampali Medan dibangun sebuah
Mesjid dan disebelah kanan dibangun juga bangunan ibadah bagi umat Kristen
sebuah Gereja. Mesjid di SPN Sampali Medan ini diberi nama Mesjid AL
BAROKAH dan Gereja dengan nama Gereja Ouikumene. Penambahan bangunan
juga terlihat pada ruangan belajar mengemudi. Ruangan ini dibangun sebagai ruangan
belajar teknik mengemudi yang baik sebagai bekal siswa – siswa didik. Kemudian
asrama – asrama polisi ini ditambah jumlahnya, yang tadinya hanya berjumlah 2 blok
20
yang saling berhadapan. Didalam membangun beberapa gedung di dalam SPN
Sampali Medan, siswa - siswa didik turut serta bergotong royong dalam pelaksanaan
pembangunan.
Selain pembangunan dan penambahan bangunan – bangunan di SPN Sampali
Medan ini dilakukan juga perbaikan – perbaikan bagi bangunan – bangunan yang
mulai rusak. Perbaikan – perbaikan ini bertujuan untuk menjaga kenyamanan dan
keamanan dalam menjalankan pendidikan. Gedung – gedung yang rusak seperti
gedung utama dan tribrata diperbaiki. Atap dan dindingnya di renovasi ulang beserta
perlengkapan – perlengkapan didalamnya.Kemudian sejak didirikannya pertama kali
lokasi pendidikan polisi ini di daerah Sampali, tidak memakai batas atau pagar. Demi
menjaga dan mewaspadai hal yang tidak diinginkan, pada tahun 1985 dimulailah
pembuatan batas – batas area SPN Sampali Medan ini dengan batas berupa tembok
batu setinggi 2 meter.
Hal ini dibuat guna menjaga agar warga – warga yang ingin mendirikan
rumahnya tidak mengambil tanah milik SPN Sampali Medan, dan juga demi menjaga
agar keadaan kondusif dari keramaian masyarakat sekitar. Hal ini dikarenakan dapat
mengganggu apabila didalam pendidikan masyarakat menonton dan mengikuti proses
pendidikan tersebut. Pembangunan batas – batas lokasi tersebut juga guna
menghindari larinya atau kaburnya siswa – siswa calon bintara dari kesatuan atau
21 3. 2. Siswa – Siswa
Peserta didik merupakan suatu komponen masukan dalam sistem pendidikan,
yang selanjutnya diproses dalam pendidikan, sehingga menjadi manusia yang
berkualitas sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Sebagai suatu komponen
pendidikan, peserta didik dapat ditinjau dari berbagai pendekatan antara lain:
pendekatan sosial, pendekatan psikologis, dan pendekatan pedagogis/edukatif. 14
Penerimaan siswa – siswa calon polisi di Indonesia diatur oleh Kepolisian
Republik Indonesia sesuai dengan permintaan – permintaan setiap sektor di
kepolisian seperti Unit Satuan Polisi Lalu lintas ( Satlantas ), Unit Reserse dan
Kriminal, Unit Polisi Air dan Udara ( Polairud ), Unit Sabhara, dll.
Kebutuhan personil dari setiap unit diatas, merupakan faktor penentu kuota
atau jumlah – jumlah penerimaan siswa – siswa bintara di seluruh Indonesia termasuk
pendidikan polisi yang ada di Sumatera Utara yaitu SPN Sampali Medan. Apabila
tahun ini sedikit yang dibutuhkan anggota – anggota polisi maka akan sedikitlah
jumlah penerimaan calon – calon polisi, sebaliknya apabila banyak yang dibutuhkan
anggota – anggota kepolisian, maka banyak juga penerimaan siswa – siswa didik
yang akan ditrima.
Tabel dibawah ini akan menggambarkan jumlah siswa – siswa SPN Sampali
periode 1984 – 1998.
14
22 TABEL JUMLAH PESERTA DIDIK SPN SAMPALI MEDAN 1984 – 1998
No. Tahun Pendidikan Jumlah Siswa Didik
1. Tahun 1984 110 Siswa
2. Tahun 1985 112 Siswa
3. Tahun 1986 127 Siswa
4. Tahun 1987 157 Siswa
5. Tahun 1988 166 Siswa
6. Tahun 1989 175 Siswa
7. Tahun 1990 198 Siswa
8. Tahun 1991 298 Siswa 15
9. Tahun 1992 270 Siswa
10. Tahun 1993 291 Siswa
11. Tahun 1994 292 Siswa
12. Tahun 1995 310 Siswa
13. Tahun 1996 305 Siswa
14. Tahun 1997 320 Siswa
15. Tahun 1998 407 Siswa 16
Sumber: Data SPN Sampali Tahun 2002
15
Terjadi Peningkatan Jumlah peserta didik dikarenakan bertambahnya fasilitas dan daya tampung dalam SPN Sampali.Hasil Wawancara dengan Bapak Kompol.Rommel Nainggolan Tanggal 22 Juli 2014.
16
23
Berdasarkan tabel diatas dapat kita lihat bahwa terjadi sejumlah peningkatan
dan penurunan jumlah siswa didik di SPN Sampali. Banyaknya dinamika selama
periode tersebut berpengaruh terhadap jumlah lulusan dan penerimaannya. Hal ini
dapat dilihat sejak tahun 1991, terjadi peningkatan penerimaan dikarenakan telah
selesainya penambahan fasilitas dan daya tampung di SPN Sampali. Pada tahun 1998
seiring dengan rencana pemerintah untuk memisahkan TNI dengan Polri maka
kebijakan Polri pada saat itu adalah dengan melakukan rekrutmen besar – besaran
disetiap SPN termasuk SPN Sampali Medan. Hal ini juga diperkuat dengan
banyaknya jumlah personil Polri yang akan memasuki masa pensiunnya.
3 . 3. Sistem Pendidikan
KebijakanKepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Penyelenggaraan
Pelatihan Kepolisian Negara Republik Indonesiamenyebutkan :
A. Bahwa dalam rangka pencapaian Grand Strategy Kepolisian Negara Republik
Indonesia dan upaya mendukung program akselerasi transformasi menuju
Kepolisian Negara Republik Indonesia yang mandiri, profesional dan dipercaya
serta guna meningkatkan kemampuan dan keterampilan personel Kepolisian
Negara Republik Indonesia, diperlukan adanya pelatihan;
B. Bahwa untuk mencapai kemampuan dan keterampilan personel Kepolisian
24
pelatihan internal Kepolisian Negara Republik Indonesia dan/atau kerja sama
dengan instansi lain baik dalam negeri maupun luar negeri;
C. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf (a) dan
huruf (b), perlu menetapkan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik
Indonesia tentang Penyelenggaraan Pelatihan Kepolisian Negara Republik
Indonesia.
Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan:
1. Kepolisian Negara Republik Indonesia yang selanjutnya disingkat Polri adalah
alat negara yang berperan dalam memelihara keamanandan ketertiban
masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan, pengayoman
dan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam
negeri.
2. Kesatuan adalah satuan kerja baik di tingkat pusat maupun di tingkat kewilayahan
sebagai penyelengara pelatihan.
3. Satuan Kerja yang selanjutnya disingkat Satker adalah instansi atau dinas/badan
yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan kegiatan yang
mendapat alokasi anggaran DIPA atau dokumen lain yang dipersamakan dengan
DIPA.
4. Pelatihan adalah suatu upaya atau proses, cara perbuatan, kegiatan untuk
memberikan, memelihara, meningkatkan kemampuan dan keterampilan dengan
metode yang lebih mengutamakan praktek agar mahir atau terbiasa untuk
25
5. Peserta pelatihan adalah pegawai negeri pada Polri,instansi lain dan masyarakat
umum pengemban tugas fungsi kepolisian yang memperoleh pengetahuan secara
teknis dan taktis dalam memelihara dan meningkatkan kemampuan serta
keterampilan dengan persyaratan yang telah ditetapkan.
6. Direktif pelatihan adalah kebijakan pelatihan yang dikeluarkan oleh Kapolri dan
Kapolda yang berisikan petunjuk umum tentang penyelenggaraan suatu pelatihan.
7. Rencana Garis Besar yang selanjutnya disebut RGB adalah suatu produk
perencanaan pelatihan secara garis besar yang memuat tujuan, sasaran, materi dan
anggaran pelatihan.
8. Rencana Pelatihan yang selanjutnya disebut Renlat adalah suatu produk tertulis
yang memuat atau berisikan rincian kegiatan pelatihan yang disusun oleh
kesatuan tingkat pusat, kewilayahan dan fungsi.
9. Pengendalian Pelatihan adalah upaya kegiatan untuk memelihara arah/gerak
dinamika pelaksanaan pelatihan dalam rangka pencapaian tujuan secara efektif
dan efesien.
10.Manajemen Pelatihan adalah proses penggunaan sumberdaya yang tersedia
meliputi manusia,alat peralatan, piranti lunak pendukung dan dukungan anggaran,
secara efektif dan efisien melalui kegiatan perencanaan pengorganisasian,
pelaksanaan, dan pengendalian untuk mencapai kompetensi yang diharapkan.
11.Pelatihan bersama adalah kegiatan pelatihan yang diselenggarakan oleh Polri
bersama instansi di luar Polri baik di dalam maupundi luar negeri dalam rangka
26
12.Pelatihan rutin adalah pelatihan yang diselenggarakan sepanjang tahun dalam
rangka mencapai target kompetensi yang diharapkan.
13.Pelatihan khusus adalah pelatihan yang diselenggarakan dalam rangka
memberikan kemampuan khusus kepada perorangan, fungsi dan kesatuan guna
mengantisipasi situasi dan sasaran yang spesifik.
14.Pelatihan perorangan adalah kegiatan pelatihan untuk membentuk kemampuan
dan keterampilan perorangan yang harus dimiliki oleh setiap anggota Polri.
15.Pelatihan fungsi adalah pelatihan yang dilaksanakanuntuk memelihara dan
meningkatkan kemampuan fungsi sesuai dengan bidang tugasnya.
16.Pelatihan kesatuan adalah pelatihan yang dilaksanakan oleh antar fungsi dalam
organisasi Polri baik di tingkat Pusat maupunkewilayahan.
17.Kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggung jawab yang
dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam
melaksanakan tugas dan pekerjaan tertentu.
18.Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturanmengenai tujuan, isi dan
bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan
kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pelatihan di lingkungan Polri.
19.Rangka Pelajaran Pokok yang selanjutnya disingkat RPP adalah kumpulan mata
pelajaran/pelatihan yang di latihkan untuk memenuhistandar kompetensi lulusan.
20.Silabus adalah penjabaran atau uraian materi pelajaran yang tercantum dalam
RPP untuk mewujudkan kompetensi yang dirumuskan dalam tujuan pelatihan dan
27
21.Bahan Ajar/latih yang selanjutnya disebut Hanjar/Latih adalah materi
pengetahuan dan/atau keterampilan yang dipilih dan disusun untuk pemberian
pengalaman belajar dalam rangka pencapaian tujuan kompetensi tertentu.
22.Naskah Gadik/instruktur adalah materi pengetahuan dan/atau keterampilan yang
disusun dan ditandatangani oleh gadik/instruktur untuk pemberian pengalaman
belajar dalam rangka pencapaian tujuan kompetensi tertentu.
23.Naskah Sekolah Sementara adalah materi pengetahuan dan/atau keterampilan
yang berasal dari naskah gadik/instruktur yang disempurnakan oleh tim pokja
serta ditandatangani oleh Kalemdik setempat.
24.Naskah Sekolah adalah hasil peningkatan status dari naskah sekolah sementara
melalui proses pengkajian oleh tim Pokja Lemdiklat Polri dan pembina
fungsi/instansi terkait serta ditandatangani oleh Kalemdiklat Polri.
25.Alat instruksi selanjutnya disingkat Alins adalah alat atau benda yang digunakan
dalam proses pembelajaran untuk memperlancar peserta pelatihan agar lebih
mudah dalam menerima dan memahami materipelajaran, sehingga memiliki
kompetensi yang diharapkan.
26.Alat penolong instruksi selanjutnya disingkat Alongins adalah alat atau benda
yang digunakan untuk membantu atau menolong penggunaan alins.
27.Sertifikat pelatihan adalah surat atau keterangan berupa pernyataan tertulis atau
tercetak yang dikeluarkan oleh penyelenggara pelatihan sebagai lembaga yang
berwenang, yang dapat digunakan sebagai bukti dari suatu kegiatan secara
28
28.Pengamanan pelatihan adalah usaha kegiatan dan pekerjaan yang dilaksanakan
secara terencana dan terarah dalam rangka menciptakan situasi dan kondisi yang
kondusif agar pelatihan dapat berjalan aman dan lancar.
29.Desain pelatihan adalah persiapan mengajar yang harus dibuat/disiapkan oleh
pelatih (tim) setiap akan mengajar sesuai dengan kompetensi yang harus dicapai.
Prinsip-prinsip dalam penyelenggaraan pelatihan ini meliputi:
a. legalitas, yaitu pelatihan yang dilaksanakan mempunyai dasarhukum dan
dapat dipertanggungjawabkan secara hukum;
b. akuntabilitas yaitu setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan pelatihan
harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai
pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuanperaturan
perundang-undangan;
c. transparansi, yaitu segala upaya dan tindakan harus dilaksanakansecara jelas
dan terbuka;
d. humanis, yaitu pelatihan yang dilakukan senantiasa memperhatikan aspek
penghormatan, perlindungan dan menjunjung tinggi hak asasi manusia;
e. bertingkat, yaitu penyelenggaraan pelatihan dilakukan sesuai tingkatan
kompetensi guna mendapatkan kualitas hasil yang maksimal;
f. bertahap, yaitu penyelenggaraan pelatihan dengan memperhatikan tahapan
yang telah ditentukan guna dapat terukur; dan
g. berlanjut yaitu penyelenggaraan pelatihan dilakukan secara terus menerus
guna mencapai profesionalisme yang lebih tinggi atau sebanding dari
29
Jenis Pelatihan
1. Pelatihan perorangan
Pelatihan perorangan bertujuan untuk membentuk, memelihara serta
meningkatkan kemampuan dan keterampilan perorangan. Pelatihan perorangan
terdiri dari:
a. Tingkat Dasar
Pelatihan perorangan dasar bertujuan untuk membentuk, memelihara
kemampuan danketerampilan dasar yang harus dimiliki oleh setiap anggota
Polri.
b. Tingkat Lanjutan
Pelatihan perorangan lanjutan merupakan pelatihan untuk memelihara,
meningkatkan dan mengembangkan kemampuan dan keterampilan dasar
perorangan yang telah dimiliki sesuai dengan fungsi yang diembannya.
2. Pelatihan Khusus bertujuan untuk membentuk, memelihara dan meningkatkan
kemampuan antar fungsi di tingkat kesatuan pusat maupun wilayah, sesuai
dengan bidang tugasnya. Pelatihan kesatuan terdiri dari:
a. Dasar
Pelatihan kesatuan dasar bertujuan untuk membentuk, memelihara
kemampuan dan keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh setiap kesatuan
30
b. Lanjutan
Pelatihan kesatuan lanjutan merupakan pelatihan untuk memelihara,
meningkatkan dan mengembangkan kemampuan dan keterampilan kesatuan
yang telah dimiliki.
3. Pelatihan fungsi.
Merupakan pelatihan yang diselenggarakan oleh masing-masing fungsi pada
tingkat pusat maupun wilayah sesuai kebutuhan. Pelatihan fungsi terdiri dari 2
yaitu:
a. Operasional Kepolisian.
Pelatihan fungsi operasional Kepolisian merupakan pelatihan yang ditujukan
untuk meningkatkan kemampuan operasional Kepolisian, yaitu fungsi:
• Intelijen dan keamanan (intelkam);
• reserse kriminal;
• samapta;
• lalu lintas;
• bimbingan masyarakat (bimmas); dan
• narkoba.
b. Pembinaan Kepolisian
Pelatihan fungsi pembinaan Kepolisian merupakan pelatihan yang ditujukan
untuk meningkatkan kemampuan bidang pembinaan kepolisian, antara lain:
• personel
31
• keuangan 17
Manusia Indonesia seutuhnya yang diiedealisasikan menjadi titik puncak
capaian tujuan pendidikan nasional sebagai proses kemanusiaan dan pemanusiaan
sejati masih terus menjadi dambaan kita, ketika sosok yang sesungguhnya belum lagi
ditemukan pada saat arus globalisasi dan era pasar bebas terus menerpa secara keras.
Disinilah kita harus menerima secara taat asas bahwa pembangunan manusia
Indonesia seutuhnya melalui pendidikan dan pelatihan dengan beragam jenis, jenjang
sifat, dan bentuknya sebagai sebuah proses yang tidak pernah akan selesai.18
Pendidikan akademik merupakan salah satu agenda dalam proses belajar
mengajar di SPN Sampali Medan tersebut diluar latihan fisik. Sama seperti
sekolah-sekolah umum di Indonesia , para siswa – siswa didik tersebut mendapat pengajaran
berupa teori yang diajarkan di dalam sebuah kelas.
Pada tahun awal berdiri sampai dengan tahun 1998, para calon- calon polisi
yang pendidikan di SPN Sampali Medan harus mengikuti proses pembentukan
menjadi polisi selama 11 bulan atau dikenal dengan formasi 5-5-1. Dimana para
calon- calon polisi ini menjalani 5 bulan pendidikan di SPN Sampali Medan , 5 bulan
magang, dan 1 bulan pembentukan. Didalam 5 bulan pendidikan pertama, calon-
calon bintara tersebut dibekali dengan ilmu- ilmu khusus kepolisian, baik itu
pembekalan secara teori maupun pembekalan secara fisik. Hal ini tentu efektif dalam
17
Sejarah singkat SPN Sampali Medan, tahun 2012.
18 Sudarwan Danim,
32
pembekalan calon- calon polisi, karena sudah dianggap cukup selama 5 bulan dalam
pemberian materi- materi khusus kepolisian kepada siswa- siswa bintara yang sedang
melaksanakan pendidikan tersebut.19
Didalam melaksanakan pendidikan selama 5 bulan, teknis dalam pemberian
materi- materi pelajaran tentang kepolisian juga memerlukan yang namanya metode
pembelajaran yang fungsinya agar proses belajar mengajar di SPN Sampali tersebut
terstruktur dan berjalan dengan baik, sehingga siswa- siswa bintara ini lebih mudah
dalam mencerna materi pelajaran yang disampaikan oleh tenaga pendidik mereka.
Metode- metode pembelajaran selama 5 bulan adalah sebagai berikut :
1. Metode Ceramah
Adalah cara penyajian materi pelajaran yang dilakukan tenaga pendidik dengan
penuturan atau penjelasaan lisan secara langsung terhadap peserta didik.
2. Metode Tanya Jawab
Adalah cara penyajian materi pelajaran dalam pertanyaan yang dijawab, terytama dari
tenaga pendidik kepada peserta didik, tetapi dapat pula dari peserta didik.
3. Metode Tutorial
Adalah metode penyajian materi pembelajaran dengan melibatkan peserta didik
secara aktif dalam kegiatan proses belajar mengajar.
19
33
4. Metode Diskusi
Adalah cara penyajian materi pelajaran, dimana peserta didik diharapkan kepada
suatu masalah yang bisa berupa pernyataan yang bersifat problematic untuk dibahas
dipecahkan bersama.
5. Metode Penugasan
Adalah cara penyajian materi pelajaran, dimana tenaga pendidik memberikan tugas
tertentu agar peserta didik melakukan kegiatan belajar serta mempertanggung
jawabkan pekerjaan yag dihasilkan berupa tugas mengerjakan soal, meringkas
bacaan, atau mengamati.
6. Metode Demonstrasi
Adalah cara penyajian materi pelajaran dengan meragakan atau mempertunjukkan
kepada peserta didik suatu proses situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari,
baik sebenarnya maupun tiruan yang sering diserta dengan penjelasan lisan.
7. Metode Pemecahan Masalah
Adalah cara penyajian materi pelajaran dengan peserta didik dihadapkan pada satu
permasalahan untuk dipecahkan atau ditemukan penyelesaiannya dan
mengembangkan kemampuan memecahkan masalah- masalah sosial dengan cara
34
8. Metode Latihan atau driil
Adalah cara penyajian materi atau memelihara, kebiasaan- kebiasaan yang baik dan
dapat digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketetapan, kesempatan, dan
keterampilan.
9. Metode Simulasi
Adalah cara penyajian materi pembelajaran dengan cara pendidik menyiapkan
scenario, dengan tujuan untuk memberikan pengalaman belajar menyerupai yang
sebenarnya.
Diatas merupakan metode- metode pembelajaran SPN Sampali Medan yang
merupakan sebuah proses dalam pembentukan pola pikir dan teknis dalam materi
khusus polisi. Proses pembekalan siswa- siswa bintara tidak terlepas dengn materi-
materi pelajaran mereka. Dimana materi- materi inilah yang membangun pola pikir
serta pembentukan siswa- siswa bintara SPN Sampali Medan. Materi- materi wajib
dalam proses belajar- mengajar seperti pendidikan karakter kebhayangkaraan adalah
salah satu materi pelajaran mereka, para siswa- siswa didik tersebut diberikan materi
yang berkenaan dengan fungsi seorang polisi sebagai penegak hukum di tengah-
tengah masyarakat. Materi ini lebih banyak dilaksanakan dilapangan, dengan tujuan
agar siswa- siswa bintara lebih terlatih dalam melaksanakan tugasnya nanti kalau
sudah selesai dari pendidikan di SPN Sampali tersebut.20
35
Selain materi pembentukkan karakter kebhayangkaraan , para siswa- siswa ini
tidak lepas juga dengan yang namanya pelajaran agama. Pelajaran ini merupakan
salah satu pelajaran yang tidak boleh ditinggalkan karena sangat mempengaruhi hati
nurani mereka dalam melaksanakan tugasnya dilapangan nanti serta memperdalam
ilmu keagamaan mereka masing- masing. Seperti hari jumat, siswa- siswa didik yang
beragama Muslim di wajibkan untuk shalat di mesjid yang berada di lingkungan SPN
Sampali dan yang Bergama Nasrani diwajibkan untuk melaksanakan kebaktian di
gereja yang sudah disediakan di SPN Sampali Medan tersebut.21
Materi pendidikan sejarah pun harus mereka kuasai, terutama sejarah juang
Polri. Disini terdapat sisipan- sisipan perjalanan Polri dari awal terbentuknya, agar
mereka tahu bagaimana dulu peranan polisi dan dapat menjadi sebuah acuan mereka
dalam melaksanakan tugas dan cinta akan peran mereka sebagai penegak hukum di
tengah- tengah masyarakat. Pendidikan dan budaya pun harus mereka tahu.22
Namun ada satu hal yang harus mereka kuasai dalam melaksanakan
pendidikan polisi di SPN yaitu teknik atau cara menembak. Tidak sedikit dari polisi-
polisi yang sudah bertugas mengambil kepelatihan lagi dalam menembak. Karena
senjata mereka dalam melaksanakan tugas adalah pistol. Pistol merupakan senjata api
yang digunakan polisi apabila dalam melaksanakan tugasnya nanti. Dalam
menggunakan senjata api harus memiliki kemampuan tersendiri dalam memakainya.
Tidak mudah dalam melakukan tembakan yang tepat sasaran. pelajaran ini menjadi
pelatihan yang sangat penting.
21Hasil wawancara dengan Akbp. Siti Aminah 9 september 2014. 22
36
Dalam melahirkan calon- calon polisi yang handal dan berkarakter dibutuhkan
juga tenaga pendidik yang berkarakter juga. Tenaga- tenaga pendidik tersebut dipilih
dan diseleksi oleh Polda dan akan disesuaikan ia akan mengajar apa oleh koordinator
tenaga pendidik (koorgadik) SPN sesuai dengan keahliannya masing- masing. Bagi
tenaga pendidik yang mahir dalam menembak maka ia akan menjadi pelatih
menembak di SPN, kalau tenaga pendidiknya mahir dalam bela diri maka akan
dijadikan sebagai pendidik karate. Perpanjangan dan pemberhentian dalam mengajar
diatur oleh koorgadik tersebut. Koorgadik selalu mengawas dan memperhatikan
setiap perkembangan seluruh tenaga- tenaga pendidik dalam melaksanakan tugasnya
sebagai pendidik. 23
3 . 4. Kurikulum
Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui
kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi peranannya dimasa yang akan
datang24. Didalam sebuah pendidikan haruslah memilki yang namanya kurikulum.
Kurikulum adalah sejumlah mata ajaran yang harus ditempuh dan dipelajari oleh
siswa untuk memperoleh sejumlah pengetahuan.25
23
Hasil wawancara dengan AKBP. Siti Aminah 9 september 2014.
Usaha sadar disini dimaksudkan
adalah bahwa pendidikan diselenggarakan berdasarkan rencana yang matang, mantap,
jelas, lengkap, menyeluruh, berdasarkan pemikiran yang rasional dan objektif. Fungsi
24 UU Pendidikan R. I Tahun 1989, Bab 1, Pasal 1. 25
37
pendidikan adalah menyiapkan peserta didik dalam mengemban tugas dikemudian
hari.
Tujuan Kurikulum adalah tujuan yang hendak dicapai oleh suatu program
studi, bidang studi, dan suatu mata ajaran yang disusun berdasarkan tujuan
institusional. Perumusan tujuan kurikulum berpedoman pada kategorisasi tujuan
pendidikan / taksonomi tujuan, yang dikaitkan dengan bidang studi bersangkutan.
Tujuan institusional adalah tujuan yang hendak dicapai oleh suatu lembaga
pendidikan atau satuan pendidikan tertentu. Tujuan institusional terdiri dari tujuan
umum dan tujuan khusus. Tujuan umum menunjuk kepada pengembangan warga
negara yang baik. Tujuan khusus meliputi pengembangan aspek – aspek pengetahuan,
keterampilan, sikap dan nilai.26
26
Ibid, hal. 6.
Dalam hal ini SPN Sampali Medan berdasarkan
Kurikulum 1985 – 1991 bertujuan untuk membentuk Brigadir Polri sebagai insan
Bhayangkara yang memiliki sikap perilaku, pengetahuan, keterampilan, tugas umum
kepolisian dan keterampilan pengendalian massa. Dengan materi – materi pelajaran
seperti pengetahuan secara umum tentang prinsip – prinsip dasar HAM, pelaksanaan
tugas kepolisian ditengah – tengah masyarakat, dan teknis pengendalian masa.
Didalam pelaksanaan kurikulum tersebut, siswa – siswa dituntut untuk memiliki
sikap perilaku. Pengetahuan, keterampilan tugas umum Kepolisian dan keterampilan
pengendalian massa, didukung dengan kondisi fisik yang samapta untuk
38
professional dalam melaksanakan tugasnya nanti. Kurikulum tersebut dilandaskan
dengan kompetensi – kompetensi sebagai berikut :
1.Kompetensi Umum 1. Pendidikan Karakter Kebhayangkaraan
2. Kerukunan Hidup Umat Beragama
3. Kode Etik Profesi Polri
4. Inter Personal Skill
5. Tata Krama dan Etika
6. Sejarah Juang Polri
7. Antropologi Budaya
8. Komunikasi Sosial
9. Pelayanan Prima
2.Kompetensi Utama 1. Pengantar FT. Sabhara
2. Negosiasi
3. Bantuan SAR dan Penanggulangan Bencana
4. Fungsi Teknis Lalu Lintas
5. Fungsi Teknis Binmas
6. Fungsi Teknis Serse
7. Fungsi Teknis Intel
8. Beladiri Polri Tarung Derajat
9. HAM dan Gender
10.Persenjataan dan Menembak
39
3.Kompetensi Khusus 1. Pelayanan Perempuan dan Anak
2. Penanganan Massa
3. Komunikasi Elektronika
4. Organisasi Polri
Sedangkan pada periode 1992 – 1998 tujuan kurikulum SPN Sampali, lebih
melengkapi dari kurikulum sebelumnya dengan didukung kondisi fisik yang samapta
untuk melaksanakan tugas sebagai pemelihara kamtibmas, penegak hukum,
pelindung, pengayom , dan pelayan masyarakat yang professional, bermoral, modern,
unggul, humanis, empati, dan dipercayai masyarakat.27
Kompetensi umum yang hendak dicapai oleh setiap peserta didik di SPN
Sampali Medan pada masa pendidikan dari tahun 1992 - 1998 adalah memiliki sikap
mental dan perilaku insan bhayangkara sesuai dengan etika profesi dan jati diri Polri,
memiliki pengetahuan psikologi massa dalam melaksanakan tugas, mampu
bekerjasama , memiliki jiwa kejuangan dan memiliki kepekaan sosial serta
kepedulian yang tinggi terhadap masyarakat dan lingkungannya. Dengan berdasarkan
tujuan dari kurikulum diatas, siswa didik mendapatkan pengajaran seperti pengajaran
tentang pendidikan karakter kebhayangkaraan, kode etik profesi polri, komunikasi
sosial, dan pelayanan prima. Adapun kompetensi yang hendak dicapai, sebagai
berikut :
40
1.Kompetensi Umum 1. Kode Etik Polri
2. Perdaspol
2.Kompetensi Utama 1. Kepemimpinan
2. Dasar – dasar Manajemen
3. Manajemen Fungsi Pembinaan
4. Manajemen Fungsi Operasional
5. KUHAP
6. KUHP
7. Kapita Selekta Perundang – undangan
3.Kompetensi Khusus 1. Pelayanan Prima
3 . 4. Struktur Organisasi
SPN Sampali Medan merupakan instansi pendidikan yang fungsinya
mendidik siswa – siswa calon polisi dengan cara memberi pengajaran berupa
pelatihan jasmani dan akademik yang diatur oleh lembaga pendidikan polisi
(Lemdikpol). SPN Sampali Medan sejak pertama berdiri sampai sekarang sudah
mengalami yang namanya perkembangan baik didalam struktur peorganisasiannya
maupun sistem belajar mengajar mereka dan juga perkembangan di bagunan –
bangunan yang bertambah dari tahun ke tahun. Perkembangannya ini tidak terlepas
41
seperti sekolah sudah pasti memiliki susunan pengurus atau struktur organisasi yang
memiliki tugas masing – masing yang bekerja sesuai dengan fungsinya masing –
masing.
Seperti instansi – instansi lain, SPN Sampali Medan juga diurus oleh orang –
orang yang sudah ahli didalam pengurusan sesuai dengan peranannya masing –
masing yang disebut dengan struktur organisasi. Budaya organisasi, sebagaimana
pengertian budaya secara umum, merupakan cirri khas suatu organisasi yang tampak
dari pola piker, norma-norma, dan perilaku khusus anggota-anggota organisasi.
Karena merupakan ciri khas, budaya suatu organisasi bisa membedakan organisasi
satu dengan organisasi lainnya. Bahkan budaya organisasi sangat berpengaruh
terhadap kinerja suatu organisasi.28
Setiap kepala – kepala bagian memegang peranan penting dalam
terlaksananya sistem belajar – mengajar di SPN Sampali Medan. Didalam menjabat
sebagai kepala sekolah di SPN Sampali Medan, mereka dibantu oleh staf – staf atau
pegawai yang sudah disusun sendiri oleh kepala sekolah yang sedang menjabat di
SPN Sampali Medan. Setiap koordinator atau kepala bagian yang menjabat salah
satu bidang bertanggung jawab penuh dalam melaksanakan tugasnya masing –
masing. (lihat lampiran 2)
Struktur organisasi inilah yang mengurus setiap
hari bagaimana agar sistem belajar – mengajar di SPN Sampali berjalan dengan
lancar sesuai dengan agenda yang telah ditetapkan oleh Polda dan Lemdikpol.
28
42
Jabatan tertinggi dipegang oleh kepala sekolah yang disingkat KA SPN
Sampali. Kepala sekolah SPN Sampali ini adalah sebagai jabatan tertinggi yang
mengakomodir jalannya sistem pendidikan tersebut. Didalam melaksanakan
tugasnya, kepala sekolah dibantu langsung oleh Sekretariat Lembaga yang disingkat
Set Lem. Set Lem ini dipimpin oleh sekretaris lembaga (SESLEM) perwira
berpangkat AKBP yang merupakan unsur pembantu pimpinan dan pelayanan staf
yang memiliki tugas untuk menyelenggarakan penyusunan termasuk pengendalian
evaluasi kerja perencanaan program kerja dan anggaran , urusan administrasi personel
dan logistic, serta urusan dalam yang meliputi pelayanan kesehatan, pelayanan
markas, dan manase.
Didalam melaksanakan tugasnya, sekretaris lembaga (SESLEM) ini dibantu
oleh : (lihat lampiran 3)
1. Urusan Administrasi ( Urmin)
2. Urusan Perencanaan (Urren)
3. Urusan Tata Usaha ( Urtu)
4. Urusan Dalam (Urdal)
43 Urusan Administrasi
Urusan Administrasi disingkat Urmin dipimpin oleh seorang Kepala Urmin
(KAURMIN) yang merupakan pembantu SESLEM dalam hal pelayanan staf, urusan
administrasi personel dan logistik.
Kepala urusan dalam tersebut bekerja sama dengan sekretaris lembaga sebagai
koordinatornya dalam melaksanakan tugas. Didalam melaksanakan tugasnya, kepala
urusan administrasi (KAURMIN) ini dibantu juga dengan beberapa sub pembantu –
pembantu lain seperti : (lihat lampiran 4)
1. Paurmin Pers
Paurmin Pers ini adalah perwira urusan administrasi personil yang memiliki tugas
dan tanggungjawab dalam member bimbingan teknis atas pelaksanaan fungsi
administrasi personil dilingkungan SPN. Paurmin Pers juga membantu dalam
pelaksanaan penerimaan personil dan seleksi masuk pendidikan beserta administarsi,
melaksanakan pengumpulan dan pengolahan data atau informasi
3. Paur Log
Paur Log adalah perwira urusan logistik yang memiliki tugas melaksanakan
perencanaan kebutuhan dalam lingkungan SPN, serta melaksanakan pemeliharaan
44 Urusan Perencanaan
Urusan perencanaan disingkat Urren yang dipimpin oleh kepala urusan dalam
(KAURREN) yang dijabat oleh seorang perwira berpangkat AKP, merupakan
pembantu Sekretaris Lembaga (SESLEM) yang memiliki tugas dan tanggung jawab
dalam melaksanakan dalam hal pengendalian dan analisa evaluasi pelaksanaan
program kerja perencanaan dan pelaksanaan anggaran.
Didalam melaksanakan tugasnya, KAURREN dibantu oleh :(lihat lampiran 5)
1. Paur Urren
Paur Urren ialah pembantu urusan perencanaan yang dipimpin oleh seorang yang
berpangkat setara dengan perwira, yang memiliki tugas membantu Kaurren dalam
melaksanakan pengumpulan bahan- bahan dalam perencanaan dan pelaksanaan
anggran, menertibkan administrasi yang berkaitan dengan tugas – tugas Urren, serta
mengarsipkan administrasi yang berhubungaan dengan tugas – tugas urren.
2. Paur Analisa dan Evaluasi ( Anev )
Paur Anev ialah pembantu urusan perencanaan dalam bidang analisa dan evaluasi
sistem yang berjalan di SPN Sampali dengan dipimpin oleh polisi yang berpangkat
setara dengan perwira. Disini dilakukan analisa dan evaluasi bagi sistem pelajaran
dan pengajar yang ada di SPN Sampali yang setelah itu akan diserahkan kepada
kepada KAURREN untuk segera menimbang bagaimana selanjutnya untuk
45 3. Urusan Dalam
Urusan Dalam yang disingkat Urdal yang dipimpin oleh pembantu urusan
dalam (PAURDAL) berpangkat inspektur satu atau dua atau PNS gol III . Memiliki
tugas dan tanggungjawab sebagai unsur pembantu pimpinan dibidang pelayanan yang
bertanggungjawab terhadap Seslem dengan tugasnya sebagai urusan kesiapan dan
kebersihan barak, kelas, dan lingkungan SPN Sampali Medan dan juga
mempersiapkan segala sesuatu yang bersangkutpaut dengan urusan dalam seperti
manase ( makanan).
Didalam melaksanakan tugasnya, Paurdal dibantu oleh : ( lihat lampiran 6)
1. Payanma
Payanma adalah adalah pembantu pelayanan markas yang memiliki tugas membantu
Paurdal dalam menjaga kebersihan barak, markas, dan SPN Sampali Medan.
2. Paur Manase
Paur manase adalah pembantu yang bertugas dalam urusan makanan dan
perlengkapan alat atau peralatan inventaris.Tugas pokok Paur manase ialah
menyediakan makanan bagi siswa – siswa yang melaksanakan pendidikan di sebuah
ruangan yang telah dipersiapkan khusus sebagai tempat para siswa untuk menyantap
makanan. Selain menyediakan makanan, paur manase juga memiliki tanggung jawab
menyediakan bahan – bahan belanjaan yang akan dimasak untuk disajikan kepada
46 4. Urusan Tata Usaha
Urusan tata usaha disingkat Urtu yang dipimpin oleh PAURTU yang dijabat perwira
berpangkat IPTU / IPDA atau PNS gol III yang merupakan pembantu SESLEM
dalam hal tata usaha yang meliputi pengarsipan surat menyurat penerimaan dan
pendistribusian surat, baik surat yang masuk maupun surat yang keluar. Selain itu
Paurtu juga memiliki tugas dalam mengolah tulisan dinas yang akan dikirim. ( lihat
lampiran 7)
5. Unit Provos
Unit provos dipimpin oleh Kanit Provos sebagai kepala dari unit provos SPN Sampali
tersebut. Didalam melaksanakan tugasnya kanit provos tersebut memiliki tanggung
jawab dalam membantu pimpinan untuk menyelenggarakan penegakkan hokum, tata
tertib, dan disiplin anggota di lingkungan SPN Sampali Medan.
Unit provos memiliki tugas yaitu menyelenggarakan dan melaksanakan :
(lihat lampiran 8 )
1. Penegakkan hukum, tata tertib, dan disiplin serta peraturan di lingkungan SPN
Sampali Medan.
2. Memelihara keamanan dan ketertiban dalam lingkungan markas kesatuan asrama
47
3. unit service dalam melakukan saran dan pertimbangankepada pimpinan khusunya
mengenai hal – hal yang berhubunga