POLA AKTIVITAS PETANI SUBAK SETELAH DITETAPKAN
SEBAGAI WORLD HERITAGE
Oleh
Muhammad Zulkarnaen I34100124
Dosen
Dr Satyawan Sunito
SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul “Pola Aktivitas Petani Subak Setelah Ditetapkan Sebagai World Heritage” adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Maret 2015
Muammad Zulkarnaen
ABSTRAK
MUHAMMAD ZULKARNAEN. Pola Aktivitas Petani Subak Setelah Ditetapkan Sebagai World Heritage. Dibimbing oleh SATYAWAN SUNITO
Subak merupakan kelmbagaan di Bali yang mengatur tentang sistem pertanian. Keberhasilan Subak dalam mengatur pertanian di Bali telah terbukti sejak ratusan tahun yang lalu. Pada tanggal 29 Juni 2012, United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada Sidang ke-36 di St.Petersburg, Rusia menetapkan subak sebagai bagian dari World Heritage
(warisan budaya dunia). Salah satu subak yang menjadi World Heritage adalah Subak Jatiluwih. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis perubahan pola aktivitas petani Subak Jatiluwih setelah ditetapkan sebagai World Heritage. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode penelitian survey. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa World Heritage tidak membuat perubahan yang signifikan terhadap perubahan pola aktivitas yang dijalankan oleh petani Subak yang terbagi ke dalam tiga subsistem yaitu subsistem budaya, sosial, dan kebendaan.
Kata kunci: Subak, Pola Aktivitas Petani Subak, World Heritage.
ABSTRACT
MUHAMMAD ZULKARNAEN. Activity patterns Farmers Subak After Defined As the World Heritage. Under Supervisor SATYAWAN SUNITO.
Subak is an institution in Bali that organize the system of agriculture. The succesful of Subak has been proved for over a thousand years. On June 29th 2012, at the 36th General Assembly of UNESCO in St. Petersburg, Russia announced that Subak as World Heritage. One of the Subak that being part of it, is Subak Jatiluwih. This claimed is affecting on changing institution and social culture Subak farmers. The purpose of this research is analyzing effect of world heritage to institution and changing of social culture. The metode of this research is survey method and approached both by quantity and qualitative method. Results shows that who does not make a significant changecing of Subak institution.
POLA AKTIVITAS PETANI SUBAK SETELAH DITETAPKAN
SEBAGAI WORLD HERITAGE
MUHAMMAD ZULKARNAEN
SKRIPSI
Sebagai Syarat untuk Mendapatkan Gelar Sarjana Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
Pada
Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
Judul Skripsi : Pola Aktivitas Petani Subak Setelah Ditetapkan Sebagai
World Heritage
Nama : Muhammad Zulkarnaen
NIM : I34100124
Disetujui oleh
Dr Satyawan Sunito Pembimbing
Diketahui oleh
Dr. Ir. Siti Amanah, M.Sc Ketua Departemen
PRAKATA
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pola aktivitas petani subak setelah ditetapkan sebagai World Heritage” dengan baik.
Penulisan skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik tidak terlepas dari adanya dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu, saya berterimakasih kepada:
1. Dr. Satyawan Sunito selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, arahan, serta saran dan kritik yang membangun hingga penulis menyelesaikan skripsi ini.
2. Kementrian Agama RI yang telah mensponsori kuliah dan memberikan biaya penelitian selama mengenyam pendidikan di Institut Pertanian Bogor.
3. Sahabat-sahabat penulis yaitu Adi Chandra Berampu, Ricardus Keiya, Randy Wiguna, Ferdi Tri Wahyudi dan teman-teman satu bimbingan penulis, Fatwa, Arin, Fika, dan Fida berserta seluruh sahabat seperjuangan di SKPM 47 yang selalu memberikan semangat dan masukan kepada penulis.
4. Bapak Haji Ma’sum selaku ayah kandung dan Ibu Maemunah selaku ibu kandung penulis beserta ketiga saudara penulis, Hidayatul Sukmariati, Muhammad Fahrurozi, dan Muhammad Lukmanul Hakim yang selalu menjadi inspirasi dan motivasi penulis dalam melangkah dan berkarya. 5. Dan semua pihak yang telah memberikan dukungan sehingga skripsi ini
dapat terselesaikan.
Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari kata sempurna, namun sedikit banyak semoga memberi manfaat bagi siapapun yang membacanya.
Bogor, Maret 2015
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL x
DAFTAR GAMBAR xii
DAFTAR LAMPIRAN xii
PENDAHULUAN
Latar Belakang 1
Masalah Penelitian 2
Tujuan Penelitian 3
Kegunaan Penelitian 3
PENDEKATAN TEORITIS
Warisan Dunia (World Heritage) 5
Kelembagaan 6
Subak Sebagai kelembagaan 6
Petani Subak 8
Agrowisata 9
Kerangka Pemikiran 11
Hipotesis Penelitian 13
Definisi Operasional 13
PENDEKATAN LAPANG
Metode Penelitian 15
Lokasi dan Waktu Penelitian 15
Teknik Pengumpulan Data 16
Teknik Pengolahan dan Analisis Data 16
PROFIL DESA DAN SUBAK JATILUWIH
Kondisi Geografi dan Demografi 19
Pemerintahan Desa 19
Subak Jatiluwih 20
Sarana dan Prasarana 20
KARAKTERISTIK RUMAH TANGGA PETANI SUBAK
Usia 21
Tingkat Pendidikan 22
Status Lahan Garapan 22
Agama 23
SUBAK SEBAGAI WARISAN DUNIA (WORLD HERITAGE) 25
PERUBAHAN POLA AKTIVITAS PETANI SUBAK PADA SUBISTEM BUDAYA SUBAK
Ritual Mapag Toya 34
PERUBAHAN POLA AKTIVITAS PETANI SUBAK PADA SUBISTEM SOSIAL SUBAK
Iuran Subak 39
Gotong royong subak 41
PERUBAHAN POLA AKTIVITAS PETANI SUBAK PADA SUBISTEM KEBENDAAN SUBAK
60
Pemakaian Sapi Sebagai Alat Bajak Di Sawah 47
Pelaksanaan sistem irigasi subak berdasarkan Awig-awig subak 48 PENUTUP
Simpulan 51
Saran 51
DAFTAR PUSTAKA 53
LAMPIRAN 55
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Kelembagaan kegiatan organisasi Subak di Bali 8
Tabel 2 Jadwal pelaksanaan penelitian 15
Tabel 3 Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat usia 13 Tabel 4 Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat
pendidikan
22
Tabel 5 Jumlah dan persentase tingkat kepatuhan petani subak dalam melakukan ritual Mapag toya sebelum dan sesudah menjadi World Heritage
32
Tabel 6 Jumlah dan persentase tingkat keikutsertaan petani subak dalam pelaksanaan upacara keagamaan pada organisasi subak sebelum dan sesudah menjadi World Heritage
30
Tabel 7 Jumlah dan persentase tingkat keikutsertaan petani subak dalam iuran insidental subak sebelum dan sesudah ditetapkan sebagai World Heritage
38
Tabel 8 Jumlah dan persentase tingkat keikutsertaan petani subak dalam iuran berkala subak sebelum dan sesudah ditetapkan sebagai World Heritage
38
Tabel 9 Jumlah dan persentase tingkat keikutsertaan petani subak dalam gotong royong subak sebelum dan sesudah ditetapkan sebagai World Heritage
39
Tabel 10 Jumlah dan persentase tingkat penggunaan sapi sebagai alat bajak petani subak sebelum dan sesudah menjadi World Heritage
45
Tabel 11 Jumlah dan persentase tingkat pelaksanaan sistem Tek-tekan dalam sistem irigasi subak sebelum dan sesudah ditetapkan sebagai World Heritage
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Kerangka pemikiran penelitian 12
Gambar 2 Bagan struktur organisasi manajemen oprasional daya tarik wisata Jatiluwih
24
Gambar 3 Bagan alur pembagian hasil penjualan tiket agrowisata Subak Jatiluwih sebelum menjadi World Heritage
25
Gambar 4 Bagan kronologi Subak sebagai Warisan Dunia (World Heritage)
28
Gambar 5 Salah satu home stay di Jatiluwih 64
Gambar 6 Plang selamat datang di Desa Jatiluwih 64
Gambar 7 Perbaikan akses jalan di Jatiluwih 64
Gambar 8 Persembahyangan di salah satu sumber mata air Jatiluwih 64
Gambar 9 Salah satu sumber mata air di Jatiluwih 64
Gambar 10 Salah satu upacara pada organisasi subak 64
Gambar 11 Pembuatan saluran irigasi yang sudah memakai sistem upah
65
Gambar 12 Bagan struktur organisasi subak sebelum menjadi World Heritage
40
Gambar 13 Bagan struktur organisasi subak setelah menjadi World Heritage
41
Gambar 14 Warung milik salah seorang anggota subak Jatiluwih yang ada di pinggir jalan
65
Gambar 15 Suasana rapat subak Jatiluwih 65
Gambar 16 Bagan alur pembagian hasil penjualan tiket agrowisata subak Jatiluwih setelah menjadi World Heritage
43
Gambar 17 Petani subak membajak sawah menggunakan sapi 65
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Kuesioner penelitian 56
Lampiran 2 Pedoman wawancara mendalam 60
Lampiran 3 Hasil uji T perubahan pola akivitas petani subak pada subsistem budaya subak antara sebelum dan sesudah menjadi World Heritage
61
Lampiran 4 Hasil uji T perubahan pola akivitas petani subak pada subsistem sosial subak antara sebelum dan sesudah menjadi World Heritage
61
Lampiran 5 Hasil uji T perubahan pola akivitas petani subak pada subsistem kebendaan subak antara sebelum dan sesudah menjadi World Heritage
62
Lampiran 6 Daftar nama responden 63
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia merupakan negara agraris yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Negara agraris berarti negara dengan pertanian sebagai mata pencaharian utama masyarakat. Pertanian meliputi kegiatan budidaya tanaman (padi), perikanan, peternakan, dan kehutanan. Mayoritas penduduk Indonesia bermata pencaharian sebagai petani. Petani mengelola lahan sawah untuk mendapatkan hasil pertanian yang menguntungkan dan memenuhi kebutuhan hidup. Berdasarkan data BPS (2013) menyebutkan bahwa jumlah rumah tangga petani gurem tahun 2013 sebanyak 14,25 juta rumah tangga atau sebesar 55,33 persen dari rumah tangga pertanian pengguna lahan, mengalami penurunan sebanyak 4,77 juta rumah tangga atau turun 25,07 persen dibandingkan tahun 2003.
Pengelolaan pertanian di Indonesia diatur dalam suatu aturan, norma, kelembagaan yang erat kaitannya dengan kebudayaan masyarakat. Kelembagaan yang ada telah menjadi kebudayaan yang ditaati dan dilestarikan oleh masyarakat agar terjaga keberlangsungannya. Peran kelembagaan dalam membangun dan mengembangkan sektor pertanian di Indonesia terutama terlihat dalam kegiatan pertanian tanaman pangan, terutama padi (Suradisastra 2008). Daerah-daerah di Indonesia memiliki berbagai kelembagaan yang mengatur pengelolaan pertanian. Dalam hal ini, Bali memiliki tempat yang istimewa karena memiliki sistem pengelolaan yang dinamakan Subak. Sistem ini merupakan suatu sistem yang unik dan telah terbukti berhasil mengelola lahan pertanian dengan baik selama ratusan tahun.
Berdasarkan Undang-undang No. 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Daerah, Bali dikenal dengan adanya dua pengertian desa. Pertama, dalam pengertian hukum nasional, sesuai dengan batasan yang tersirat dan tersurat dalam Undang-undang No. 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Daerah menyatakan bahwa pengertian desa yaitu melaksanakan berbagai kegiatan administrasi pemerintahan atau kedinasan. Kedua, dalam pengertian desa adat. Dalam pengertian ini, desa merupakan suatu kelompok tradisional dengan dasar ikatan adat istiadat dan terikat oleh adanya tiga pura utama (Kahyangan Tiga). Eksistensi Desa adat di Bali diakui oleh pasal 18 UUD 1945 dan dikukuhkan oleh Peraturan Daerah Propinsi Bali No. 6 Tahun 1986, yang mengatur tentang kedudukan fungsi dan peranan Desa adat sebagai kesatuan masyarakat Hukum Adat di Propinsi Bali.
Subak merupakan sistem irigasi tradisional yang sudah dikenal di Bali sejak ratusan tahun yang lalu. Keberadaan subak sebagai lembaga sosio-religius dilandasi oleh jiwa dan semangat gotong royong yang tinggi. Subak didasarkan pada hukum adat dan bersifat otonom. Sehubungan dengan itu, subak memiliki kemandirian atau kebebasan dalam mengatur rumah tangganya sendiri maupun untuk berhubungan dengan pihak luar terkait dengan usahataninya (Kamandalu
et.al 2009).
di St.Petersburg, Rusia, Jumat, 29 Juni 2012. Ditetapkannya subak sebagai World Heritage menjadi menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk datang ke lokasi subak. Dengan demikan maka, subak tidak hanya dijadikan sebagai tempat untuk melakukan aktifitas pertanian saja tetapi juga sebagai objek wisata. Di sisi lain, meningkatnya jumlah wisatawan akibat dari World Heritage Subak ini mejadi tantangan bagi keberlangsungan subak. Sutawan (2008) memaparkan bahwa tantangan-tantangan yang dapat mengancam keberlangsungan subak antara lain pemasaran hasil-hasil pertanian yang semakin tajam, menciutnya areal persawahan irigasi akibat alih fungsi lahan; ketersediaan air yang semakin terbatas, berkurangnya minat pemuda untuk bekerja sebagai petani. Dengan demikian maka eksistensi subak yang sudah berjalan selama ratusan tahun akan bisa berubah.
Masalah Penelitian
Subak sebagai kelembagaan yang telah berjalan secara turun temurun dan memiliki berbagai aturan atau norma yang harus dipatuhi oleh para anggotanya. Pada saat zaman masih tradisional, masyarakat masih menganggap aturan atau norma sangat sakral keberadaannya sehingga kepatuhan terhadap norma-norma tersebut sudah terinternalisasi dalam diri. Pranata yang mencakup peraturan (aspek legal), norma-norma berperilaku (unsur nilai), serta aturan main (penegakan) yang diciptakan sebagai pendukung kekuatan partisipasi terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat terutama petani.
Dengan ditetapkannya Subak sebagai World Heritage akan mengharuskan subak untuk bisa mempertahankan orisinalitas subak. Akan tetapi, peningkatan jumlah wisatawan yang berasal dari berbagai latar belakang etnis, budaya, dan negara akan berpengaruh terhadap sikap, norma ataupun perilaku petani subak di dalam menjalankan norma kelembagaan Subak yang termuat dalam subsistem budaya subak pada konsep Tri Hita Karana (Windia et al 2005). Oleh karena itu, menarik untuk dilihat bagaimana perubahan pola aktivitas petani subak pada subsistem budaya setelah ditetapkan sebagai World Heritage?
Sebagai sebuah kelembagaan, subak memiliki organisasi yang mengatur seluruh aktivitas subak. Di dalam organisasi subak terdapat serangkaian aturan-aturan subak yang dinamakan dengan Awig-awig subak. Pelaksanaan Awig-awig
dalam organisasi subak ini tertera dalam subsistem sosial pada konsep Tri Hita Karana (Windia et al, 2005). Dengan melihat perkembangan agrowisata subak yang semakin pesat akibat dari World Heritage memunculkan pertanyaan bagaimana aktivitas organisasi subak setelah World Heritage?
Tujuan Penelitian
Secara umum, tujuan penelitian yang akan dilakukan adalah untuk menganalisis perubahan pola aktivitas yang terjadi pada Subak Jatiluwih setelah ditetapkan sebagai World Heritage. Lebih spesifik lagi, tujuan pada penelitian ini akan dijawab melalui tujuan khusus yaitu:
1) Menganalisis perubahan yang terjadi pada pola aktivitas petani Subak Jatiluwih dalam subsistem budaya subak setelah ditetapkan sebagai
World Heritage.
2) Menganalisis perubahan aktivitas petani Subak Jatiluwih pada subsistem sosial setelah penetapan sebagai World Heritage.
3) Menganalisis perubahan tekhnologi irigasi Subak Jatiluwih setelah ditetapkan sebagai World Heritage.
Kegunaan Penelitian
Penelitian ini memiliki kegunaan sebagai berikut: 1. Bagi akademisi
Penelitian ini berguna untuk menambah referensi tentang subak sehingga bisa melakukan penelitian lebih lanjut.
2. Bagi pemerintah
Penelitian ini berguna untuk menjadi bahan rujukan untuk membuat kebijakan dan peraturan khususnya yang menyangkut tentang upaya melestarikan dan mempertahankan eksistensi dari kelembagaan subak. 3. Bagi masyarakat
PENDEKATAN TEORITIS
Warisan Dunia (World Heritage)
United Nations Educational, Scientific, dan Cultural Organitation atau disingkat dengan UNESCO merupakan sebuah organisasi yang berada di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dalam programnya, UNESCO berusaha membangun jaringan antara negara-negara berdasarkan:
a. Memobilisasi Pendidikan: Setiap anak baik laki-laki maupun perempuan memiliki akses yang sama terhadap pendidikan yang berkualitas sebagai hak dasar manusia dan sebagai prasyarat bagi pembangunan manusia. b. Membangun Pemahaman Antar Budaya: Dilakukan melalui perlindungan
warisan dan dukungan untuk keragaman budaya. UNESCO menciptakan ide World Heritage untuk melindungi situs yang memiliki nilai-nilai universal yang luar biasa.
c. Kerjasama Dalam Bidang Sains: Dilakukan dengan bekerjasama di dalam mengembangkan ilmu pengetahun yang khususnya yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak seperti pembuatan sistem peringatan dini tsunami atau perjanjian pengelolaan air lintas batas untuk memperkuat hubungan antara negara dan masyarakat.
Dari ketiga aspek tersebut, aspek budaya menjadi salah satu bagian yang banyak menjadi perhatian dunia dalam hal penetapan suatu budaya sebagai World Heritage. UNESCO berusaha untuk terus mendorong perlindungan dan pelestarian warisan budaya dan alam di seluruh dunia yang dianggap memiliki nilai yang luar biasa untuk kemanusiaan. Ini diwujudkan dalam perjanjian internasional yang disebut Konvensi Perlindungan Warisan Budaya dan Alam Dunia, yang diadopsi oleh UNESCO pada tahun 1972.
Adapun misi dari adanya penetapan suatu lembaga sebagai World Heritage adalah:
a. Mendorong negara-negara untuk menandatangani Konvensi Warisan Dunia dan menjamin perlindungan warisan alam dan budaya mereka. b. Mendorong setiap negara untuk berpartisipasi di dalam mencalonkan
situs yang terdapat di dalam wilayah nasional mereka untuk dimasukkan dalam daftar Warisan Dunia.
c. Mendorong setiap negara untuk berpartisipasi di dalam Negara-menyusun rencana pengelolaan dan sistem konservasi situs Warisan Dunia mereka.
d. Memberikan bantuan kepada setiap negara untuk menjaga properti Warisan Dunia nya dengan menyediakan bantuan teknis dan pelatihan professional.
e. Memberikan bantuan darurat terhadap situs Warisan Dunia yang mengalami bahaya langsung.
g. Mendorong partisipasi masyarakat lokal dalam pelestarian warisan budaya dan alam mereka.
h. Mendorong kerjasama internasional dalam konservasi Warisan Budaya dan Alam Dunia.
Suatu budaya yang sudah ditetapkan sebagai World Heritage oleh UNESCO keberadaannya tidak lagi dapat dinikmati hanya oleh masyarakat yang memiliki budaya tersebut. Budaya itu juga bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat dunia.
Kelembagaan
Menurut Soerjono Soekanto (1986) “lembaga kemasyarakatan merupakan himpunan daripada norma-norma dari segala tingkatan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok dalam kehidupan masyarakat”. Koentjaraningrat (1964) mengatakan bahwa pranata sosial adalah suatu sistem tata kelakuan dan hubungan yang berpusat kepada aktivitas-aktivitas untuk memenuhi komplek-komplek kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat. Menurut Paul B. Horton dan Chester L. Hunt (1987) “lembaga adalah suatu sistem norma untuk mencapai suatu tujuan atau kegiatan yang oleh masyarakat dipandang penting. Menurut Uphoff (1986) menyebutkan bahwa kelembagaan lokal dapat dirinci dalam enam kategori, yaitu: administrasi lokal, pemerintah lokal, organisasi-organisasi yang beranggotakan komunitas setempat, organisasi kerjasama usaha, organisasi-organisasi pelayanan, dan bisnis swasta.Transformasi kelembagaan ekonomi di pedesaan yang dimaksud adalah untuk mendorong berkembangnya sistem jaringan ekonomi kerakyatan di pedesaan agar memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan cepat terhadap segala perubahan yang terjadi baik di tingkat domistik maupun global. Dengan transformasi tersebut diharapkan prekonomian rakyat dipedesaan dapat diintegrasikan dinamika pasar baik di tingkat lokal, regional, maupun global. Dari pengertian-pengertian tentang kelembagaan atau lembaga kemasyarakatan, dapat ditarik secara garis besar bahwa lembaga kemasyarakatan merupakan:
a. Seperangkat norma yang saling berkaitan, bergantung dan mempengaruhi.
b. Seperangkat norma yang dapat dibentuk, diubah dan dipertahankan sesuai dengan kebutuhan hidup.
c. Seperangkat norma yang mengatur hubungan antar warga masyarakat agar dapat berjalan tertib dan teratur.
Lembaga sosial merupakan sekumpulan norma yang tersusun secara sistematis yang terbentuk dalam rangka memenuhi berbagai kebutuhan hidup manusia yang bersifat khusus. Lembaga sosial sebagai sistem gagasan terorganisasi yang ikut serta dalam perilaku.
Subak Sebagai Kelembagaan
Gatra parhyangan oleh ditunjukkan dengan adanya pura pada wilayah Subak dan pada setiap komplek atau blok pemilikan sawah petani.
Gatra palemahan ditunjukkan dengan adanya kepemilikan wilayah untuk setiap subak.
Gatra pawongan ditunjukkan dengan adanya organisasi petani yang disesuaikan dengan kebutuhan setempat, adanya anggota subak, pengurus subak, dan pimpinan subak yang umumnya dipilih dari anggota yang memiliki kemampuan spiritual (Lampiran 1).
Secara fisik, subak adalah hamparan persawahan dengan segenap fasilitas irigasinya. Sedangkan secara sosial, subak adalah organisasi petani pemakai air yang otonom. Ciri dasar subak adalah (Pitana dalam Hadi 2008):
1. Subak merupakan organisasi petani yang mengelola air irigasi untuk anggota-anggotanya. Sebagai organisasi, Subak memiliki pengurus dan aturan-aturan keorganisasian (Awig-awig) baik tertulis maupun tidak tertulis.
2. Subak mempunyai suatu sumber air bersama, dapat berupa bendung di sungai, mata air, air tanah, ataupun saluran utama suatu sistem irigasi. 3. Subak mempunyai suatu areal persawahan.
4. Subak mempunyai otonomi, baik internal maupun eksternal.
5. Subak mempunyai satu atau lebih Pura Bedugul (atau pura yang berhubungan dengan kesubakan, untuk memuja Dewi Sri, manifestasi Tuhan sebagai Dewi Kesuburan).
Subak adalah organisasi petani yang bergerak dalam usaha pengaturan air irigasi untuk lahan basah (sawah). Karena faktor pengikat utamanya adalah air irigasi, maka anggota suatu subak adalah petani pemilik/penggarap sawah yang dilayani oleh suatu jaringan atau sub-jaringan irigasi tertentu, tidak memandang dari desa mana anggota tersebut berasal, dengan kata lain pendekatan subak adalah pendekatan jaringan irigasi (canal based) dan bukan desa (village based). subak adalah suatu masyarakat hukum adat yang memiliki karakteristik sosioagraris-religius, yang merupakan perkumpulan petani yang mengelola air irigasi di lahan sawah. Pengertian subak seperti itu pada dasarnya dinyatakan dalam peraturan pemerintah daerah Provinsi Bali No.02/PD/DPRD/l972. Arif
et.al (2009) memperluas pengertian karakteristik sosio-agraris-religius dalam sistem irigasi subak, dengan menyatakan lebih tepat subak itu berkarakteristik sosio-teknis-religius, karena pengertian teknis cakupannya menjadi lebih luas, termasuk diantaranya teknis pertanian dan teknis irigasi.
Tabel 1 Kelembagaan kegiatan organisasi subak di Bali
No Kegiatan Lembaga
pelaksana Ritual Tujuan ritual
1
Pembagian air Seke jelinjingan
Mapag toya Dewa dan penguasa air dan sungai, mohon restu.
Bhatari Sri (dewi padi), izin bekerja.
Menaman Seke tandur Pidartan nandur pari, nandur, mamula, matur piuning
Bhatari Sri (izin menanam).
Seke tandur Mabuwihin Bhatari Sri (mohon berkah membersihkan lahan),
Kekambuhan Bhatari Sri (izin menyiang)
Seke mejukut
Wusan mejukut Bhatari Sri (menyingkirkan gulma).
Persiapan panen Seke manyi Caru, ngadegang
Panen Seke manyi Nyangket pari Maha Dewi Sri (restu panen).
Nedunang pari Bhatari Sri (izin processing). Sumber : Suradisastra (2001)
Petani Subak
Dalam bahasa Ingris, istilah petani dibagi menjadi dua. Pertama adalah
jiwa bisnis yang sesuai dengan tuntutan agribisnis. Peasant adalah suatu kelas petani yang merupakan petani kecil, penyewa (tenants), penyakap
(sharecroppers), dan buruh tani. Sjaf (2010) melakukan pendekatan definisi
peasent berdasarkan pendekatan ideologi, geografis, ekonomi, dan sosial kebudayaan yang dimiliki oleh peasant. Dimana, ideologi diartikan sebagai sistem kepercayaan yang menjadi anutan oleh masyarakat. Berbeda dengan masyarakat umumnya, peasent dalam beraktivitas mempunyai pengertian-pengertian simbolik suatu ideologi, yang menyangkut kodrat pengalaman-pengalaman manusiawi. Secara geografis diartikan sebagai sekelompok orang yang bertempat tinggal di pedesaan. Mereka mengelompok dan mengolah lahan pertanian serta memanfaat-kan hasil-hasil pertanian sekedar untuk terpenuhinya kehidupan subsistensi mereka.secara ekonomi diartikan sebagai petani yang identik dengan keseder-hanaan, keterbatasan, dekat dengan garis subsistensi dan lain sebagainya. Secara sosial kebudayaan petani peasant ditinjau dari sifat usaha pertanian peasent
berupa pengolahan lahan atau tanah dengan bantuan keluarga sendiri untuk meng-hasilkan bahan makanan bagi keperluan hidup sehari-hari keluarga petani tersebut.
Dari penjelasan tentang petani di atas kita bisa menggolongkan petani subak sebagai petani dalam arti farmer. Hal ini melihat dari definisi subak menurut peraturan daerah Bali nomer 9 tahun 2012 yang menjelaskan bahwa subak adalah organisasi tradisional dibidang tata guna air dan atau tata tanaman di tingkat usaha tani pada masyarakat adat di Bali yang bersifat sosioagraris, religius, ekonomis yang secara historis terus tumbuh dan berkembang. Dengan demikian maka petani subak bersifat dinamis sesuai dengan perkembangan lingkungannya. Ketetapan UNESCO tahun 2011 dan peraturan daerah Bali nomer 32 tahun 2010 yang menetapkan bahwa subak dijadikan sebagai Warisan Dunia menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk melihat Subak lebih dekat. Dengan demikian maka para petani subak akan banyak berinteraksi langsung dengan para wisatawan tersebut sehingga akan dimungkinkan terjadi perubahan pola pikir para petani subak di dalam memandang dunia.
Agrowisata
Agrowisata merupakan bagian dari objek wisata yang memanfaatkan usaha pertanian (agro) sebagai objek wisata. Tujuannya adalah untuk memperluas pengetahuan, pengalaman rekreasi, dan hubungan usaha dibidang pertanian. Melalui pengembangan agrowisata yang menonjolkan budaya lokal dalam memanfaatkan lahan, kita bisa meningkatkan pendapatan petani sambil melestarikan sumber daya lahan, serta memelihara budaya maupun teknologi lokal (indigenous knowledge) yang umumnya telah sesuai dengan kondisi lingkungan alaminya (Deptan 2005).
Agrowisata pada subak berpengaruh terhadap prekonomian masyarakat karena adanya mata pencaharian lain selain petani, pengaruh Agrowisata juga berpengaruh kepada lingkungan dimana, lokasi subak akan dimanfaatkan sebagai objek wisata dan fasilitas bagi wisatawan serta pengaruh kepada sosial-budaya subak dengan masuknya wisatawan dari berbagai budaya ke dalam subak.
Lobo et al (1999) menjelaskan tentang beberapa manfaat adanya Agrowisata dalam bidang ekonomi bagi petani lolkal antara lain: pertama, memunculkan peluang bagi petani lokal untuk meningkatkan pendapatan dan meningkatkan taraf hidup serta kelangsungan operasi mereka. Kedua, menjadi sarana yang baik untuk mendidik orang banyak atau masyarakat tentang pentingnya pertanian dan kontribusinya untuk perekoniman secara luas dan meningkatkan mutu hidup. Ketiga, mengurangi arus urbanisasi ke perkotaan karena masyarakat telah mampu mendapatkan pendapatan yang layak dari usahanya di desa (agrotourism). Keempat, menjadi media promosi untuk produk lokal, dan membantu perkembangan regional dalam memasarkan usaha dan menciptakan nilai tambah dan “direct-marking” merangsang kegiatan ekonomi
dan memberikan manfaat kepada masyarakat di daerah dimana agrotourism dikembangkan.
Kerangka Pemikiran
Subak sebagai kelembagaan lokal yang mengatur tentang sistem irigasi pertanian yang berpegang kepada prinsip Tri Hita Karana yang berusaha mengupayakan keharmonisan antar Tuhan, manusia, dan alam. Sebagai kelembagaan lokal yang telah bertahan selama ribuan tahun membuat UNESCO menetapkan subak sebagi World Heritage atau salah satu dari warisan budaya dunia. Dengan demikian maka subak harus bisa dipertahankan kelestariannya. Popularitas subak di dalam dan luar negeri menarik para wisatawan untuk menjadikan subak sebagai salah satu tujuan wisata di Bali. Dengan demikian, subak tidak hanya menjadi tempat pengembangan pertanian saja melainkan juga sebagai wisata pertanian atau Agrowisata.
Keterangan:
Berpengaruh Fokus penlitian
Gambar 1 Kerangka pemikiran penelitian Subak Sebagai - Kementrian Pendidikan dan
Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kerangka pemikiran yang telah dirumuskan maka dapat disusun hipotesis penelitian sebagai berikut:
1. Diduga bahwa dijadikannya subak sebagai World Heritage berpengaruh terhadap perubahan pola aktivitas petani subak dalam subsistem budaya. 2. Diduga bahwa dijadikannya subak sebagai World Heritage berpengaruh
terhadap pola aktivitas petani subak dalam subsistem sosial .
3. Diduga bahwa dijadikannya subak sebagai World Heritage berpengaruh terhadap perubahan pola aktivitas petani subak dalam subsistem kebendaan.
Definisi Operasional
Perubahan pola aktivitas petani subak merupakan perubahan aktivitas yang dilakukan oleh petani subak yang diatur dalam Konsep Tri Hita Karana yang meliputi Subsistem Budaya, Subsistem Sosial, dan Subsistem Kebendaan.
Perubahan Subsistem Budaya terdiri dari tingkat penghormatan petani subak terhadap air dan tingkat kepatuhan petani subak dalam menjalankan upacara subak.
1. Tingkat penghormatan petani subak terhadap air merupakan penghormatan petani subak berupa pelaksanaan upacara Mapag toya yang terdiri dari prosesi penyembelihan babi, Mandak tirta, Ngidehang tumpeng, dan nyepi subak.
Skala pengukuran menggunakan skala ordinal dengan kategori tinggi dan rendah. Dikategorikan tinggi apabila jumlah responden yang melakukan upacara Mapag toya > 50% dan dikatakan rendah apabila ≤ 50% .
2. Tingkat kepatuhan petani subak dalam menjalankan upacara pada organisasi subak merupakan kepatuhan petani subak dalam menjalankan setiap proses yang sudah ditetapkan dalam aturan subak berupa upacara Mapag toya, Ngendag, Mawinih muang ngirit pari, Pidartan nandur pari, Mabuwihin, Kekambuhan, Wusan mejukut, Pengatapan pari, Makukungan pari, Biyukukung ngusaba, Caru, Nyangket pari, Pamendakan, Ngunggahan pari, dan Nedunang pari.
Skala pengukuran menggunakan skala ordinal dengan kategori tinggi dan rendah. Dikategorikan tinggi apabila jumlah responden yang melakukan upacara subak > 50% dan dikatakan rendah apabila ≤ 50%.
Perubahan Subsitem Sosial terdiri dari tingkat keikutsertaan petani subak dalam iuran subak dan tingkat keikutsertaan petani subak dalam mengikuti kegiatan gotong royong subak.
1. Tingkat keikutsertaan iuran subak merupakan ketaatan petani subak dalam mengeluarkan iuran berupa uang, hasil panen, dan barang dagangannya untuk mensukseskan kegiatan Subak.
2. Tingkat keikutsertaan petani subak dalam mengikuti kegiatan gotong royong subak merupakan keikutsertaan petani subak dalam melakukan kegiatan gotong royong subak berupa gotong royong pembuatan akses jalan, pembuatan saluran irigasi, dan persiapan pelaksanaan upacara subak.
Skala pengukuran menggunakan skala ordinal dengan kategori tinggi dan rendah. Dikategorikan tinggi apabila jumlah responden yang melakukan gotong royong dalam pembuatan akses jalan, pembuatan saluran irigasi, dan persiapan upacara Subak > 50% dan dikatakan rendah apabila ≤ 50%. Perubahan Subsistem Kebendaan terdiri dari tingkat pelaksanaan sistem irigasi subak dan tingkat pemanfaatan bahan lokal sebagai bahan pembuatan saluran irigasi subak.
1. Tingkat pelaksanaan sistem irigasi subak adalah Sistem irigasi yang masih dijalankan oleh petani subak sesuai dengan Awig-awig berupa pelampias, simpan pinjam air, dan tek-tekan.
Skala pengukuran menggunakan skala ordinal dengan kategori tinggi dan rendah. Dikategorikan tinggi apabila jumlah responden yang mengikuti sistem irigasi subak berupa sistem pelampias, simpan pinjam air, dan tek tekan > 50% dan dikatakan rendah apabila ≤ 50%.
2. Tingkat pemanfaatan bahan lokal sebagai bahan pembuatan saluran irigasi subak adalah saluran irigasi yang digunakan oleh petani subak sesuai dengan aturan yang terdapat dalam subak berupa pemanfaatan bahan-bahan lokal seperti bambu dan kayu.
PENDEKATAN LAPANG
Metode Penelitian
Penelitian ini akan menggunakan pendekatan kuantitatif yang didukung oleh pendekatan kualitatif. Pendekatan kuantitatif menggunakan metode survey dengan memberikan kuesioner sebagai instrumen utama untuk mengumpulkan informasi dari responden. Adapun pendekatan kualitatif menggunakan metode wawancara mendalam. Metode ini digunakan untuk mendapatkan data dan pemahaman yang lebih terperinci tentang perubahan pada pola aktivitas petani Subak Jatiluwih.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali. Lokasi tersebut dipilih secara sengaja dengan alasan Subak Jatiluwih merupakan salah satu subak yang oleh UNESCO ditetapkan sebagai salah satu Warisan Dunia atau World Heritage.
Penelitian ini dilakukan dalam waktu enam bulan yang dimulai sejak bulan Februari 2014 sampai dengan November 2014. Kegiatan penelitian meliputi penyusunan proposal skripsi, kolokium, pengambilan data lapangan, penulisan draft skripsi, sidang skripsi, dan perbaikan draft hasil sidang skripsi.
Teknik Pengumpulan Data
Penelitian dilaksanakan di Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali. Unit analisis penelitian ini adalah rumah tangga Subak Jatiluwih. Responden merupakan anggota rumah tangga Subak Jatiluwih. Untuk memperoleh responden, populasi yang dijadikan sebagai sampel dalam penelitian ini adalah anggota rumah tangga Subak Jatiluwih. Responden dipilih secara
accidental sampling merupakan pemilihan sampel dari siapa saja yang kebetulan ada atau dijumpai menurut keinginan peneliti (Silalahi 2009). Peneliti memberikan kuesioner kepada anggota Subak Jatiluwih. Dengan pertimbangan waktu, biaya, dan tingkat kesulitan pencarian responden, maka jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 35 responden.
Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini meliputi:
1. Data sekunder, meliputi studi literatur maupun data terkait dengan struktur organisasi Subak Jatiluwih dan data-data anggota Subak Jatiluwih yang bersumber dari buku, skripsi, tesis, artikel, dan website resmi yang menjelaskan tentang subak.
2. Data primer, yang diperoleh dari penyebaran kuesioner kepada responden (Lampiran 1) dan wawancara dengan menggunakan panduan pertanyaan kepada informan (Lampiran 2).
Kuesioner ini terbagi ke dalam empat bagian. Pertama, melihat karakteristik rumah tangga petani subak. Kedua, melihat pola aktivitas petani Subak Jatiluwih pada subsistem budaya setelah ditetapkan sebagai World Heritage. Ketiga, melihat pola aktivitas petani Subak Jatiluwih pada subsistem sosial setelah ditetapkan sebagai World Heritage. Keempat, melihat pola aktivitas petani Subak Jatiluwih pada subsistem kebendaan setelah ditetapkan sebagai World Heritage.
Teknik Pengolahan dan Analisis Data
Ada dua jenis data yang akan diolah dan dianalisis dalam penelitian ini yaitu, data Kualitatif dan Kuantitatif. Miles dan Huberman (1992) sebagaimana dikutip oleh Agusta (2000) mengatakan terdapat tiga jalur analisis data kualitatif, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data merupakan bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasi data dengan cara sedemikian rupa sehingga kesimpulan akhir dapat diambil. Penyajian data adalah kegiatan ketika sekumpulan informasi disusun, sehingga memberi kemungkinan akan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Upaya penarikan kesimpulan dilakukan peneliti secara terus menerus selama berada dilapangan. Dari permulaan pengumpulan data, peneliti kualitatif mulai mencari arti benda-benda, mencatat keteraturan pola-pola (dalam catatan teori), penjelasan-penjelasan, konfigurasi-konfigurasi yang mungkin, alur sebab akibat, dan proposisi.
Data kuantitaif didapatkan melalui instrumen kuesioner. Data yang diperoleh melalui kuesioner kemudian diolah dan dimasukan ke perangkat lunak
PROFIL DESA DAN SUBAK JATILUWIH
Kondisi Geografi dan Demografi
Desa Jatiluwih merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Penebel Kabupaten Tabanan Provinsi Bali yang memiliki luas wilayah sekitar 33,22 Km2. Nama Jatiluwih sendiri berasal dari kata Jaton dan Luwih. Jaton artinya jimat sedangkan Luwih artinya bagus. Dengan demikian, Jatiluwih diartikan sebagai sebuah desa yang memiliki sebuah jimat yang benar-benar bagus yang dapat dibuktikan dengan adanya hasil-hasil yang cukup memenuhi kebutuhan hidup bagi semua para pendatang dan terjaminnya keselamatan selama mengembangkan kehidupan bertani.
Jarak tempuh Desa Jatiluwih dari kota Kecamatan Penebel sekitar 14 km dan jarak tempuh dari kota kabupaten sekitar 26 km. Adapun batas wilayah Desa Jatiluwih yaitu :
a. Sebelah Utara : Hutan Negara. b. Sebelah Timur : Desa Senganan c. Sebelah Barat : Wong Aya Gede d. Sebelah Selatan : Desa Babahan
Dari data kependudukan Desa Jatiluwih tahun 2013 disebutkan bahwa jumlah penduduk Desa Jatiluwih sebanyak 2.680 orang atau sekitar 812 KK. Mayoritas dari masyarakat Desa Jatiluwih ini memiliki mata pencaharian sebagai petani. Hal ini disebabkan oleh kultur dan kondisi wilayah Jatiluwih yang berupa kawasan pertanian.
Letak pemukiman penduduk berada di tengah sawah yang berbentuk terasering. Pola pemukiman penduduk di Desa Jatiluwih tidak berkelompok seperti pemukiman penduduk umumnya, tetapi menyebar ke areal persawahan yang ada. Disamping pola pemukiman penduduk yang menyebar, tidak jauh dari pemukiman terdapat pura sebagai tempat peribadatan, sungai yang memiliki air yang jernih, air terjun, dan berbagai sumber mata air lainnya menjadikan Desa Jatiluwih menjadi komplek wisata yang khas.
Pemerintahan Desa
Dari segi pemerintahan, Desa Jatiluwih dipimpin oleh dua orang pimpian yang masing-masing memiliki tugas dan fungsi yang berbeda. Untuk urusan yang berhubungan dengan administrasi pemerintahan formal seperti pengurusan KTP dan lain sebagainya dilakukan oleh seorang kepala desa atau perbekel. Seorang kepala desa melakukan aktivitas pemerintahannya dari rumah dinas atau lebih dikenal dengan kantor desa. Desa Jatiluwih terbagi atas 8 Banjar Dinas atau dusun yaitu Banjar Dinas Kesambi, Banjar Dinas Kesambahan Kaja, Banjar Dinas Kesambahan Kelod, Banjar Dinas Jatiluwih Kangin, Banjar Dinas Jatiluwih Kawan, Banjar Dinas Gunungsari Desa, Banjar Dinas Gunungsari Umakayu, dan Banjar Dinas Gunungsari Kelod. Di setiap banjar dipimpin oleh seorang kelian dines atau kepala dusun.
dipimpin oleh seorang Jero Bendeso Adat. Di Jatiluwih, terdapat dua desa pakraman atau desa adat yaitu desa pakaraman Jatiluwih dan desa pakraman Gunung Sari. Di desa pakraman Jatiluwih terdapat 5 dusun yaitu Dusun Kesambi, Dusun Kesambahan Kaja, Dusun Kesambahan Kelod, Dusun Jatiluwih Kangin, dan Dusun Jatiluwih Kawan. Di desa pakraman Gunung Sari terdapat 3 dusun yaitu Gunung Sari Uma Kayu, Gunung Sari Kelod, Dan Gunung Sari Dese.
Subak Jatiluwih
Desa Jatiluwih menjadi salah satu desa di Bali yang menjalankan sistem Subak. Dalam sejarahnya, kata Subak berasal dari kata seuak atau sealiran. Artinya, ada sumber mata air yang dibuatkan saluran irigasi atau jelinjingan sebagai saluran air yang mengalir ke persawahan. Didalam pemahaman masyarakat Bali, Subak diartikan sebagai sebuah organisasi pengairan yang bersifat agraris, ekonomis, dinamis, dan religius.
Pada dasarnya, sistem pengairan yang diterapkan di Subak tidak jauh berbeda dengan sistem pengairan yang diterapkan di luar daerah Bali. Namun, perbedaan mendasar yang muncul terletak pada penerapan konsep Tri Hita Karana. Dimana, dalam pelaksanaan aktivitas pertanian harus tercipta suasana harmonis antara manusia dengan sesama manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan tuhan serta adanya pura pada setiap sumber mata air yang mengairi sawah.
Di setiap subak terdapat seorang pimpinan subak yang dinamakan dengan pekaseh. Tugas pekaseh adalah untuk mengatur pelaksanaan Subak terutama dalam hal pembagian air irigasi. Di dalam satu subak biasanya terdiri dari beberapa tempekan (sub bagian dari subak yang berada di bawah pekaseh). Masing-masing tempek dipimpin oleh seorang yang bernama klian tempek. Di Subak Jatiluwih sendiri terdapat 7 tempekan yaitu tempekan Gunung Sari Uma Kayu, tempekan Gunung Sari Desa, tempekan Jatiluwih, tempekan Besi Kalung, tempekan Uma Dui, tempekan Kesambi, dan tempekan Kedamaian.
Sarana Dan Prasarana
Saat ini, sarana dan prasarana yang ada di Desa Jatiluwih antara lain yaitu 1 buah lapangan desa, 3 unit Sekolah Dasar, dan beberapa pura besar seperti Pura Luhur Sri Rambut Sedana yang luasnya kurang lebih 8 are. Pura ini merupakan salah satu stana Ida Btara Rambut Sedana. Dewa Kesejahteraan. Karenanya diyakini bahwa dengan bersembahyang di pura ini, seseorang akan dimudahkan rezeki dan kesejahteraannya. Ada juga Puru Luhur Petali terletak di kawasan hutan di kaki gunung Batukaru. Di Pura ini dipercaya sebagai pemujaan manifestasi Tuhan dalam hal pertanian, sehingga tidak mengherankan Jatiluwih sebagai pusat penghasi beras, menjadikan pura sebagai posisi penting dalam hal pertanian.
KARAKTERISTIK RUMAH TANGGA ANGGOTA SUBAK
JATILUWIH
Usia
Responden pada penelitian ini adalah rumah tangga anggota subak sebanyak 35 orang. Usia responden dibedakan menjadi dua tingkatan usia yaitu dewasa dan tua. Penentuan kategori ini berdasarkan kategori yang dikeluarkan oleh Depkes RI (2009). Responden yang masuk dalam kategori usia dewasa yaitu apabila usia responden berada pada rentang usia (26-45) tahun. Adapun responden yang masuk dalam kategori usia tua yaitu apabila usia responden berada pada rentang usia (46-65) tahun. Dari hasil penelitian yang peneliti lakukan bahwa terdapat sebanyak 7 responden (20%) dari anggota Subak Jatiluwih masuk dalam kategori usia dewasa dan 28 responden (80%) dari angota Subak Jatiluwih masuk dalam kategori tua.
Tabel 3 Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat usia
Umur Jumlah Persentase (%)
Umur Dewasa (26-45) 7 20
Umur Tua (46-65) 28 80
Total 35 100
Perbedaan tingkatan usia ini berpengaruh terhadap minat rumah tangga anggota subak yang bekerja sebagai petani. Ketika anggota rumah tangga Subak Jatiluwih memasuki usia dewasa (26-45) tahun, mereka kemudian bekerja dan mencari kerja di Tabanan ataupun Denpasar baik sebagai karyawan di suatu perusahaan ataupun di intansi pemerintahan sebagai PNS. Adapun anggota rumah tangga Subak usia dewasa yang bekerja sebagai petani pada umumnya berasal dari orang-orang yang belum mendapatkan pekerjaan.
“Saya bekerja sebagai petani untuk mengisi kekosongan aja dek.
Beberapa waktu lalu saya coba melamar sebagai PNS, tapi tidak lulus. Jika nanti sudah mendapatkan pekerjaan lain, saya mungkin
akan bertani buat sampingan aja”. (IGP, 37 tahun)
Adapun rumah tangga anggota Subak yang paling banyak menjadi petani berasal dari anggota yang berusia tua (46-65) tahun. Dari hasil wawancara yang peneliti lakukan, banyaknya petani Subak Jatiluwih yang sudah berusia tua berasal dari pensiunan dari tempat bekerja sebelumnya. Sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat desa Jatiluwih yang sudah pensiun, mereka kemudian balik lagi ke desanya untuk bekerja sebagai petani.
“Dulu saya bekerja di Denpasar sebagai PNS, beberapa bulan
menggarap sawah saya. Cuman, waktu itu saya masih belum fokus. Nah, setelah pensiun sekarang ini, saya baru fokus untuk
menggarap sawah saya”. (NYM, 62 tahun)
Tingkat Pendidikan
Tingkat Pendidikan adalah jenjang pendidikan formal tertinggi yang pernah ditempuh oleh rumah tangga anggota petani Subak Jatiluwih pada saat peneliti melakukan penelitian. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa sebanyak 1 responden (3%) sampai ke jenjang pendidikan tingkat SD, 10 responden (28%) menempuh pendidikan sampai tingkat SMP, 23 responden (66%) menempuh pendidikan sampai tingkat SMA, dan 1 responden (3%) menempuh pendidikan sampai tingkat S1.
Tabel 4 Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat pendidikan
Pendidikan Jumlah Persentase (%)
SD 1 3
SMP 23 66
SMA 10 28
S1 1 3
Total 35 100
Dari data pada tabel 4 dapat disimpulkan bahwa petani subak yang saat ini masih aktif bekerja di sawah mayoritas menempuh pendidikan sampai jenjang SMP. Kondisi ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti tidak adanya biaya dan tempat sekolah yang jauh. Disamping itu juga, responden yang penulis temui banyak dari anggota subak yang berusia tua sehingga ketika mereka masih berusia remaja, kondisi indonesia baru merdeka. Hal ini menyulitkan mereka untuk dapat mengenyam pendidikan yang lebih tinggi.
“Dulu, saya ingin sekali bisa sekolah sampai tinggi. Tapi, kondisi
pada saat itu tidak memungkinkan dek sehingga terpaksa berhenti sekolah dan membantu orang tua bekerja di sawah. Dulu, kalau ingin sekolah ke tempat yang lebih tinggi harus ke kota sedangkan kita di Jatiluwih kan di gunung. Kendaraan juga tidak ada. Tidak
mungkin jalan kaki ke sekolah”. (SWD, 60 tahun)
Status Lahan Garapan
Jatiluwih merupakan daerah pertanian dengan padi sebagai mayoritas tanaman yang dihasilkan oleh masyarakatnya. Disamping menghasilkan padi, petani Jatiluwih menghasilkan tanaman kebun seperti kelapa, pisang, dan kopi. Lahan pertanian di Jatiluwih dibagi ke dalam dua bagian yaitu lahan sawah dan lahan kering. Lahan sawah digunakan untuk menanam padi dan lahan kering digunakan untuk menanam kelapa, pisang, dan kopi.
masyarakat Jatiluwih yang diperoleh dari warisan secara turun temurun. Dari data yang peneliti dapatkan bahwa semua anggota rumah tangga petani Subak (100%) menggarap lahannya sendiri.
Dari penemuan ini dapat disimpulkan bahwa meski Subak Jatiluwih sudah menjadi salah satu objek wisata baik oleh wisatawan lokal maupun mancanegara namun mereka masih tetap mempertahankan lahannya untuk digarap sendiri. Meski terkadang ada beberapa anggota Subak yang mau menjual tanahnya namun harus melalui mekanisme penjualan yang berlaku di subak yaitu setiap anggota subak yang mau menjual tanahnya hendaknya terlebih dahulu dimusyawarahkan dengan pihak internal keluarga. Dari hasil musyawarah internal keluarga itu, kemudian diputuskan bahwa jika ada dari pihak keluarga yang mau membeli maka dari internal keluarga itulah yang di dahulukan membelinnya. Jika tidak ada dari pihak keluarga bari kemudian ditawarkan ke sesama anggota subak. Jika dari sesama anggota subak tidak ada yang membeli juga baru ditawarkan kepada sesama orang Bali. Jika tidak ada juga dari sesama orang Bali baru kemudian bisa dibeli oleh orang yang berasal dari luar Bali. Mekanisme seperti ini dilakukan untuk mempertahankan kelembagaan dan budaya yang ada di Jatiluwih.
“Jika kami langsung menjualnya ke orang yang berasal dari luar
Bali, dikhawatirkan mereka nantinya akan mengubah fungsi lahan pertanian tersebut menjadi tempat-tempat hiburan atau restoran. Hal ini karena mereka bisa jadi belum mengetahui aturan-aturan dari kelembagaan di sini. (SWD, 60 tahun)
Agama
SUBAK SEBAGAI WARISAN DUNIA
(WORLD HERITAGE)
Subak sebagai suatu kelembagaan tradisional yang menganut prinsip Tri Hita Karana telah mampu memepertahankan eksistensinya dan telah terbukti berhasil mengelola pertanian selama ratusan tahun. Keberhasilan subak dalam menjalankan sistem pertanian secara tradisional terdengar sampai ke mancanegara.
Sejak tahun 1990, Jatiluwih mulai dibuka sebagai salah satu objek wisata di Bali. Sejak saat itu, orang-orang dari berbagai daerah bahkan dari mancanegara datang ke Desa Jatiluwih. Akan tetapi, masyarakat Desa Jatiluwih masih belum mengetahui tujuan dari kedatangan mereka itu.
“Pada awal-awal mereka datang dulu, saya tidak tau tujuan dari
kedatangan orang asing itu. Entah tujuannya untuk penelitian ataupun melihat situasi di lapangan, saya belum tau dek”. (IMS, 61 tahun)
Seiring dengan promosi yang begitu gencar dilakukan oleh para pengelola wisata Jatiluwih membuat wisatawan yang datang semakin meningkat. Ada yang datang untuk melihat pemandangan alam seperti sawah yang berbentuk terasering dan ada juga yang datang untuk melakukan penelitian tentang subak itu sendiri. Melihat perkembangan ini maka Desa Jatiluwih maka, perbekel (kepala desa) Desa Jatiluwih membentuk badan pengelola wisata yang bertugas untuk menjual tiket kepada pengunjung yang datang ke Jatiluwih sehingga bisa menjadi sumber pemasukan desa.
Pada awal pembentukan badan pengelola wisata ini, jumlah petugas yang diamanahkan sebanyak 22 orang. 14 orang diambil dari semua tempekan subak Jatiluwih yang berjumlah 7 tempek. Setiap tempek mengajukan 2 orang dari anggotanya. Adapun 8 orang lainnya berasal dari setiap dusun yang ada di Jatiluwih. Mengingat di Jatiluwih terdapat 8 dusun sehingga setiap dusun masing-masing mengajukan 1 orang.
Pembuatan pengelola tiket masuk ini memberikan pemasukan yang cukup banyak kepada Desa Jatiluwih. Dalam satu tahun, pendapatan dari tiket saja mencapai 600 juta. Pendapatan ini dikelola langsung oleh masyarakat dengan perincian pembagian hasil sebagai berikut. Sebanyak 25 persen dari total pendapatan dialokasikan sebagai gaji petugas tiket dan biaya promosi dimana, 15 persen untuk gaji petugas tiket dan 10 persen untuk biaya promosi. Sisanya yang tinggal 75 persen kemudian dibulatkan kembali menjadi 100 persen dan didistribusikan ke beberapa pihak dengan perincian sebagai berikut: Sebanyak 45 persen diberikan kepada Pemda Tabanan dan 55 persen lagi diberikan kepada desa. Total yang masuk ke desa yang berjumlah 55 persen ini dibulatkan kembali menjadi 100 persen baru kemudian didistribusikan kembali ke beberapa pihak dengan perincian: 21 persen diberikan kepada Subak Sawah yaitu ke 7 tempekan yang ada di Subak Jatiluwih dimana, setiap tempekan mendapatkan 3 persen. Desa Dinas mendapatkan 25 persen, dan 4 persen ke Subak Abyan (tanah kering-kebun) yang terdiri dari Subak Gunung Sari mendapatkan 2 persen dan Subak Jatiluwih 2 persen.
Keterangan :
Pengalokasian
Pembulatan Menjadi 100%
Sumber : Data Primer (diolah)
Gambar 3 Bagan alur pembagian hasil penjualan tiket agrowisata Subak Jatiluwih sebelum menjadi World Heritage
Para peneliti yang datang ke Subak Jatiluwih itu menemukan bahwa Subak dengan konsep THK nya telah mampu menciptakan keharmonisan antar manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan tuhan. Dengan landasan seperti ini sehingga muncul gagasan untuk mendaptarkannya sebagai salah satu Warisan Budaya Dunia (World Heritage) dalam upaya untuk melesatarikan subak tersebut.
Pada tahun 2003 pemda Bali memberikan informasi bahwa Subak Jatiluwih akan dijadikan sebagai salah satu warisan budaya dunia. Setelah informasi tentang rencana penetapan subak sebagai World Heritage tersebar sampai ke subak di desa yang lain maka, subak dari desa yang lain itupun meminta supaya di tempat mereka juga bisa dijadikan sebagai World Heritage. Setelah beberapa dari subak yang lain juga ikut menuntut. Pemda Bali kemudian mengambil sikap untuk memperluas wilayah subak yang nantinya akan dijadikan sebagai warisan budaya dunia menjadi 14 subak.
Pemda Bali mengirimkan surat pengajuan kepada Direktorat Jendral Kebudayaan, Departemen Pendidikan Republik Indonesia supaya ke 14 subak tersebut bisa diusulkan ke UNESCO menjadi Warisan Budaya Dunia. Surat pengajuan itupun disetujui dan Direktorat Jendral Kebudayaan, Departemen Pendidikan Republik Indonesia langsung mengusulkan ke UNESCO. Usulan tersebut mendapatkan respon dari UNESCO dengan mengatakan bahwa telah menerima dokumen pengajuan untuk menetapkan subak sebagai Warisan Budaya Dunia dengan nomor pendaftaran C1194. Setelah mendapatkan kejelasan dari UNESCO, berbagai bentuk persiapan mulai dilakukan. Pada bulan Juli 2004, semua lapisan mulai dari masyarakat, pemerintah, LSM, dan akademisi diajak untuk berdiskusi dalam upaya untuk merancang sebuah rencana pengelolaan yang nantinya akan dipersentasikan. Diskusi tersebut menghasilkan suatu kesepakatan tentang kebijakan dalam hal perlindungan dan pelestarian kebudayaan di Bali. Pada tahun 2005, dimulailah penyusunan naskah yang nantinya akan diusulkan ke UNESCO. Setelah penyusunan naskah yang berisi tentang management plan atau rencana pengelolaan Subak maka pada Juli 2007 naskah tersebut diserahkan kepada UNESCO dan pada tahun itu juga, UNESCO menyatakan bahwa naskah yang dikirimkan itu sudah memenuhi kelengkapan untuk menjadi warisan dunia.
Meskipun demikian, naskah tersebut perlu dikaji dan dievaluasi lagi oleh ICOMOS (International Council of Monuments and Sites). Setelah dilakukan kajian dan evaluasi oleh ICOMOS, pada tahun 2008 ICOMOS menyampaikan hasil evaluasinya dengan menyatakan bahwa naskah yang dikirmkan itu perlu ditinjau ulang pemilihan situsnya dan ruang lingkupnya diperluas. Dengan demikian maka ICOMOS menunda penominasian subak sebagai Warisan Budaya Dunia sampai negara dapat meninjau kembali penominasian situs-situs tersebut. ICOMOS juga merekomendasikan pemilihan situs-situs yang memperlihatkan hubungan erat antara lembaga Subak setempat, sawah terasering, pura Subak, dan hutan daerah tangkapan air.
sektor dan rencana pengeloaan terpadu Warisan Dunia lansekap budaya di seluruh Indonesia. Sebagai ketua komite adalah Menteri Kebudayaan dan Pariwisata dan anggotanya terdiri atas perwakilan dari beberapa kementrian seperti Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata, Kementrian Lingkungan Hidup, Kementrian Kesejahteraan Rakyat, dan Sekretaris Jendral Kehutanan, Pertanian, dan Pekerjaan Umum.
Kedua, pada tahun 2008 Gubernur Bali membentuk sebuah Komite Perencanaan baru untuk pengelolaan situs-situs Warisan Dunia yang diusulkan. Komite beranggotakan 27 orang perwakilan dari semua departemen pemerintah terkait baik di tingkat provinsi maupun kabupaten termasuk departemen pertanian, kehutanan, kebudayaan, sejarah dan purbakala, pekerjaan umum, hukum dan perencanaan. Semua pihak yang terlibat ini kemudian melakukan serangkaian rapat untuk membahas sejumlah rencana untuk pengeloaan berbagai situs yang nantinya akan dinominasikan sebagai Warisan Dunia. Rapat ini mencapai puncaknya pada tanggal 3 Desember 2008 di Monumen Puputan Denpasar, Bali. Jumlah undangan yang hadir pada saat itu sekitar 150 undangan yang berasal dari semua badan pemerintah, para pemangku pura Subak, para kepala subak dan wartawan.
Sejak komite ini dibentuk, sudah dilakukan sembilan kali pertemuan dari tahun 2008-2010. Setelah melalui pembahasan yang panjang, komite tersebut akhirnya menyepakati model lembaga pengelola mengikuti struktur dewan demokratis yang saat ini adalah Pengelola Taman Laut Nasional Bunaken di Sulawesi, yang dimodifikasi sedemikian rupa agar sesuai dengan kondisi lansekap budaya Bali yang berbeda. Pada tahun 2009 semua naskah nominasi Warisan Dunia berhasil dilengkapi. Pada tahun 2010 Gubernur Bali menerima rekomendasi komite untuk membentuk sebuah Pengelolaan Warisan Budaya Bali yang bertugas mengelola situs-situs yang telah dinominasikan sebagai Warisan Dunia.
Pemda Bali kemudian merespon rekomendasi tersebut dengan mengeluarkan peraturan daerah Provinsi Bali No. 32 tahun 2010 tentang Dewan Pengelola Warisan Budaya Bali. Beberapa tujuan utama rencana pengelolaan ini adalah: Pertama, memastikan bahwa semua aset-aset budaya dan alam yang termasuk dalam lansekap budaya Provinsi Bali terlestarikan bagi generasi masa depan melalui pelestarian sosial dan ekologis yang terararah dan berbagai skema pendukung yang tepat.
Kedua, meningkatkan kesadaran, apresiasi, dan partisipasi publik dalam pelestarian lansekap budaya Provinsi Bali melalui pendidikan dan memperbaiki penyajian situs.
Ketiga, membantu menyatukan berbagai kepentingan para pemangku kepentingan yang beragam dalam pelestarian dan peningkatan kualitas lansekap budaya Provinsi Bali.
Keempat, membuat panduan pengelolaan spesifik yang dapat digunakan oleh para pemangku kepentingan untuk berpartisipasi dalam pelestarian dan peningkatan nilai penting dan nilai-nilai luar biasa yang dimiliki oleh lansekap budaya Provinsi Bali.
Keenam, menjamin dilakukannya pengawasan dan pengevaluasian secara berkala terhadap lansekap budaya
Ketujuh, menjadi landasan bagi berbagai rencana dimasa depan sehigga semua perubahan dalam lingkungan warisan budaya yang ditetapkan ini dapat dikelola.
Setelah menempuh berbagai proses panjang, akhirnya pada tahun 2011 naskah nominasi subak sebagai Warisan Dunia dinyatakan lengkap. Satu tahun kemudian tepatnya pada maret 2012 Pemda tingkat I dan tingkat II bersama dengan perwakilan dari UNESCO melakukan survey ke salah satu subak yaitu Subak Jatiluwih yang nantinya akan menjadi pusat nominasi subak sebagai World Heritage. Persiapan untuk menetapkan subak sebagai World Heritage didanai sepenuhnya oleh UNESCO. Pada tanggal 29 Juni 2012, tepatnya pada sidang komite Warisan Dunia yang ke 36 di kota Saint Peterburg, Federasi Rusia, diputuskan bahwa Lansekap Budaya Provinsi Bali masuk dalam daftar Warisan Dunia UNESCO. Adapun wakil dari Indonesia saat penetapan subak sebagai
World Heritage adalah Bupati Gianyar dan Bupati Badung, Bali.
Keterangan :
Alur penetapan Subak sebagai Warisan Dunia
Sumber: Rencana pengelolaan lansekap budaya Provinsi Bali 2013
Gambar 4 Bagan kronologi subak sebagai Warisan Dunia (World Heritage)
Adapun subak yang masuk dalam World Heritage itu adalah Subak Wong Aya Gede, Subak Piling, Subak Senganan, Subak Babahan, Subak Tengkuda, Subak Penatahan, Subak Sangketan, Subak Bengkel Anyar, Subak Rejasa, Subak Tegalinggah, Subak Bakiyan Sidem, Subak Keloncing dan Subak Jatiluwih. Sedangkan, situs subak yang masuk dalam World Heritage ini terdiri atas situs-situs yang mencerminkan keterkaitan antara komponen alam, agama, dan budaya dari sistem subak tradisional dimana, sistem subak masih berfungsi, petani masih bercocok tanam beras Bali secara tradisional tanpa pupuk atau pestisida, dan lanskapnya secara keseluruhan dianggap sakral. Adapun properti World Heritage
Diskusi Penyususan
Pemda Bali Kementrian UNESCO
tersebut mencakup keseluruhan dari berbagai atribut atau komponen penting sistem subak dan pengaruh pentingnya terhadap lansekap Bali seperti pertanian beririgasi dan berterasering yang dikelola oleh sistem subak sampai saat ini. Wilayah pertaniannya masih ditanami secara berkelanjutan oleh masyarakat setempat dan pasokan air dikelola oleh pura subak.
Kerangka kerja legal secara umum yang mengatur tentang pengelolaan properti subak sebagai Warisan Dunia adalah peraturan daerah Provinsi Bali no. 16 tahun 2009 tentang rencana tata ruang wilayah Provinsi Bali. Peraturan daerah tersebut berdasarkan UU No. 26/2007 tentang penataan ruang dan Peraturan Pemerintah No. 26/2008 tentang rencana tata ruang wilayah nasional sebagai acuan yang penting untuk rencana tata ruang dan penetapan kawasan strategis nasional untuk pelestarian lansekap budaya. Disamping itu juga, Pemda Bali membuat Perda Bali No 32 tahun 2010 tentang Dewan Pengelola Warisan Budaya Bali (DPWBD) yang nantinya akan bertanggung jawab dalam pengelolaan situs subak yang diusulkan menjadi World Heritage.
Setelah subak resmi menjadi Warisan Budaya Dunia, jumlah wisatawan yang datang untuk menyaksikan lansekap subak khususnya Subak Jatiluwih semakin meningkat tajam. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan pendapatan yang bersumber dari penjualan tiket. Jika sebelum Subak ditetapkan sebagai Warisan Dunia, pendapatan yang diperoleh dari penjualan tiket sebesar 600 juta. Setelah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia, pendapatan yang diperoleh sebesar 1,8 miliar.
Pemda tingkat II Tabanan melihat prospek subak sebagai suatu yang semakin menarik para wisatawan untuk datang ke Jatiluwih maka, bupati Tabanan melalui gerakan pembangunan pariwisata mengalokasikan dana untuk tahun 2015 untuk meningkatkan pelayanan bagi para wisatawan. Ada beberapa macam yang masuk dalam daptar yang akan diperbaiki antara lain: pembuatan home stay
(Gambar 5), pembuatan plang selamat datang (Gambar 6), dan perbaikan akses jalan (Gambar 7).
“Setelah ngomong-ngomong dengan perbekel bahwa pemda akan mengalokasikan 10 home stay. Kriteria pembangunan home stay adalah orang yang punya rumah dan layak untuk dijadikan home stay dari segi kenyamanan, kebersihan, serta yang dibantu nanti pembuatan WC nya saja”.(SWD, 60 tahun)
Pembangunan gedung badan pengelola, perbaikan jalan tracking yang ada di Subak Besi Kalung dan Uma Dui, penyediaan toilet umum, dan memperluas areal parkir. Sampai saat ini, tempat parkir yang sempit dan dan toilet umum yang belum ada selalu dikomplain oleh tamu.
Disamping terjadi peningkatan jumlah pemasukan dari penjualan tiket, subak sebagai Warisan Dunia juga berpengaruh kepada perubahan jalan-jalan di Jatiluwih.
dengan aspal dan ada juga diganti dengan menggunakan pavin blok”. (IKN, 60 tahun)
Akan tetapi, tidak semua jalan-jalan di Jatiluwih langsung diperbaiki. Jalan-jalan yang memasuki wilayah pedalaman sebagian masih rusak. Hal ini disebabkan oleh belum tercukupinya anggaran untuk memperbaiki seluruh akses jalan di Jatiluwih.
“Perbaikan jalan di Jatiluwih belum sepenuhnya bisa kami lakukan karena dananya belum cukup. Untuk itu, dilakukan perbaikan secara bertahap. Akan tetapi, kalau jalan-jalan di sepanjang pusat kunjungan wisatawan sudah diperbaiki semuanya sejak sebelum penetapan Subak menjadi Warisan Dunia”.(NYS, 58 tahun)
UNESCO sebagai lembaga yang menetapkan subak sebagai Warisan Budaya Dunia pada dasarnya tidak terlalu banyak memberikan bantuan dalam bentuk materi untuk pembangunan desa Jatiluwih. UNESCO banyak berperan dalam menggenjot pemerintah pusat untuk memperhatikan subak khususnya Subak Jatiluwih yang menjadi pusat lansekap subak sebagai Warisan Budaya Dunia.
POLA AKTIVITAS PETANI SUBAK PADA SUBSISTEM
BUDAYA SETELAH MENJADI WORLD HERITAGE
Pola aktivitas petani subak pada subsistem budaya yang dianalisis pada penelitian ini berupa pola aktivitas yang berkaitan dengan cara pandang petani subak terhadap air sebagai suatu anugrah yang sangat berharga dari tuhan yang harus dijaga dan dikelola dengan baik. Cara pandang petani subak terhadap air dilihat dari tingkat keikutsertaan para petani subak dalam melakukan ritual Mapag toya. Oleh karena itu, sebagai wujud terimakasih kepada tuhan yang telah memberikan air dan sebagai permohonan kepada tuhan supaya terus menerus diberikan kecukupan air maka pada setiap sumber mata air, anggota subak membuat tempat persembahyangan berupa pura.
Keberadaan pura di setiap sumber mata air ini menjadi suatu keharusan di dalam subak karena disamping menjadi tempat persembahyangan juga menjadi ciri khas tersendiri yang membedakan antara sistem irigasi subak dengan sistem irigasi pada pertanian di tempat lain. Secara rutin, para petani subak melakukan persembahyangan di pura tersebut terlebih ketika mereka akan memulai kegiatan bertani. Hal ini bertujuan untuk meminta restu kepada penguasa air (Gambar 8) supaya diberikan kelancaran selama bertani dan mendapatkan hasil yang melimpah.
Disamping itu juga, pola aktivitas yang dianalisis pada subsistem budaya ini yaitu kepatuhan para petani subak dalam menjalankan setiap prosesi upacara subak meliputi Mapag toya (pembagian air), Ngendag (pengolahan tanah), Mawinih muang Ngirit pari (sebar benih), Pidartan Nandur pari (Menanam), Mabuwihin (restu pertumbuhan), Kekambuhan (Menyiang), Wusan mejukut (menyingkirkan gulma), Pengatapan pari (mohon penjagaan dari berbagai macam penyakit pada tanaman), Makukung pari (mohon perlindungan), Biyukukung ngusaba (mohon perlindungan), Caru (persiapan panen), Nyangket pari (panen), Pamendakan (pengangkutan hasil panen), Ngunggahang pari (penyimpanan hasil panen), dan Nedunang pari (pengeringan hasil panen) setelah subak ditetapkan sebagai World Heritage.
Adapun pengolahan data pada penelitian ini menggunakan uji statistik t-test Paired atau uji beda yang berhubungan maka digunakan perangkat lunak SPSS untuk mengolah data yang didapatkan dari lapangan. Uji statistik t-test Paired atau uji beda digunakan untuk melihat perubahan pola aktivitas petani subak pada subsistem budaya sebelum dan sesudah menjadi World Heritage.