• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBUATAN ALAT UJI SUHU DEFLEKSI BATANG PLASTIK MENGGUNAKAN PEMANAS LISTRIK (HEAT DEFLECTION PLASTIC TEMPERATURE CHAMBER)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PEMBUATAN ALAT UJI SUHU DEFLEKSI BATANG PLASTIK MENGGUNAKAN PEMANAS LISTRIK (HEAT DEFLECTION PLASTIC TEMPERATURE CHAMBER)"

Copied!
66
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS AKHIR

PEMBUATAN ALAT UJI SUHU DEFLEKSI BATANG PLASTIK MENGGUNAKAN PEMANAS LISTRIK

(HEAT DEFLECTION PLASTIC TEMPERATURE CHAMBER)

Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Strata-1 Pada Fakultas Teknik Jurusan Teknik Mesin

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Disusun Oleh :

Bagus Triaji

2012 013 0039

PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

YOGYAKARTA

(2)

DAFTAR ISI

LEMBAR JUDUL ... i

LEMBAT PENGESAHAN ... ii

HALAMAN PERNYATAAN ... iii

HALAMAN MOTTO ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI...vii

DAFTAR GAMBAR………..x

DAFTAR TABEL………xii

INTISARI………xiii

BAB I PENDAHULUAN………...1

1.1. Latar Belakang………..1

1.2. Rumusan Masalah……….2

1.3. Tujuan Pembuatan Alat……….2

1.4. Manfaat Pembuatan Alat...3

1.5. Metode Penulisan………..3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI……….4

2.1.Kajian Pustaka………...4

2.2.Dasar Teori………....6

2.2.1. Pengertian Plastik………6

(3)

2.2.2.1. Heat Deflection Temperature………..8

2.2.2.2. Titik Muai Plastik……….8

2.2.3. Alat Uji Suhu Defleksi……….……….10

2.2.4. Prinsip Kerja Pengujian Suhu Defleksi……….11

2.2.5. Standar Pengujian...12

2.2.5.1. Spesimen...12

2.2.5.2. Jenis dan Ukuran Spesimen………...13

2.2.5.3. Inspeksi Spesimen………..13

2.2.5.4. Pemberian Beban Tekanan pada Spesimen………...13

2.2.5.5. Pemberian Panas pada Spesimen………...14

2.2.5.6. Pengukuran Pengujian………14

2.2.6. Pengertian Defleksi....………...15

2.2.7. Perhitungan dan Rumus...…………...17

BAB III METODE PENELITIAN...20

3.1.Pendekatan Pembuatan...20

3.2.Tempat dan Waktu Pembuatan...20

3.3.Bahan Spesimen Penelitian...20

3.4.Bahan Alat Uji...20

3.5.Komponen Listrik yang Digunakan...23

3.6.Alat Pembuatan...27

3.7.Diagram Alir Penelitian...27

3.8.Tahap Persiapan...28

3.9.Perancangan Alat Uji Suhu Defleksi...29

3.10. Proses Pembuatan...29

3.10.1. Pembuatan Rangka………..29

3.10.2. Pemasangan Cover………...30

(4)

3.10.4. Pemasangan Komponen Listrik...32

3.11. Pengujian Kelayakan Alat Uji...33

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN...35

4.1.Hasil Pembuatan Alat Uji Suhu Defleksi...35

4.2.Spesifikasi Alat Uji Suhu Defleksi...37

4.3.Pengujian Alat Uji Suhu Defleksi Pada Spesimen...38

4.4.Perbandingan Hasil Pengujian...39

4.4.1. Hasil Pengujian...40

4.4.2. Hasil Perbandingan...43

4.5. Analisa Data...43

4.5.1. Menghitung Gaya pada Posisi Flatwise...43

4.5.2. Menghitung Massa Tambahan...44

4.5.3. Menghitung Nilai Stardar Defleksi...45

4.5.4. Menghitung Laju Perubahan Suhu...45

4.5.5. Menghitung Nilai Muai Spesimen...46

4.5.6. Menghitung Tegangan Termal Spesimen...47

BAB V PENUTUP………49

5.1.Kesimpulan...49

5.2.Saran...49

DAFTAR PUSTAKA

(5)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Alat Uji Suhu Defleksi………...………11

Gambar 2.2 Pengujian Suhu Defleksi Batang Plastik………12

Gambar 2.3 Ukuran dan Bentuk Standar Spesimen Pengujian………...12

Gambar 2.4 Proses Pemanasan Spesimen………..14

Gambar 2.5 Defleksi Pada Batang………...15

Gambar 2.6 Jenis-jenis Tumpuan………..16

Gambar 2.7 Jenis-jenis Pembebanan……….17

Gambar 3.1 Plat Alumunium...21

Gambar 3.2 Plat siku………..21

Gambar 3.3 Plat Strip……….21

Gambar 3.4 Acrylic………....22

Gambar 3.5 Silinder Alumunium………22

Gambar 3.6 Wadah Alumunium……….22

Gambar 3.7 Kabel Kawat Dan Kabel Insulator Heater……….23

Gambar 3.8 Thermostat Dan Thermocouple……….24

Gambar 3.9 Magnetic Contactor………..24

Gambar 3.10 Dial Indicator………...…………25

Gambar 3.11 Kipas Blower………25

Gambar 3.12 Adaptor Power Supply……….26

Gambar 3.13 Saklar Putar………..27

Gambar 3.14 Diagram Alir Penelitian………...28

(6)

Gambar 3.16 Pembuatan Rangka Alat Uji………30

Gambar 3.17 Pemotongan Plat Alumunium……….30

Gambar 3.18 Pemasangan Cover Alat Uji………31

Gambar 3.19 Proses Pewarnaan Alat Uji………..32

Gambar 3.20 Proses Pemasangan Komponen Dan Rangkaian Listrik…………33

Gambar 3.21 Percobaan Kinerja Komponen Listrik Dan Alat Ukur…………...34

Gambar 4.1 Alat Uji Suhu Defleksi………..35

Gambar 4.2 Bagian Rangkaian Listrik………..35

Gambar 4.3 Bagian Tempat Spesimen……….36

Gambar 4.4 Percobaan Alat Ukur………....37

Gambar 4.5 Hasil Spesimen Yang Mengalami Defleksi……….39

Gambar 4.6 Grafik Perbandingan Pengujian Plastik ABS………....41

Gambar 4.7 Grafik Perbandingan Pengujian Plastik Acrylic………...42

(7)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Nilai HDT Berbagai Macam Jenis Polimer……….8

Tabel 2.2 Nilai Thermal ExpansionTiap Material………..9

Tabel 2.3 Nilai Modulus YoungMaterial………..10

Tabel 2.4 Data Spesimen………13

Tabel 4.1 Spesifikasi Alat Uji Suhu Defleksi Buatan………38

Tabel 4.2 Spesifikasi Alat Uji Suhu Defleksi Pabrik……….38

Tabel 4.3 Data Hasil Spesimen Yang Dibuat………...40

Tabel 4.4 Hasil Perbandingan Pengujian ABS………...41 Tabel 4.5 Hasil Perbandingan Pengujian Acrylic………...41

(8)

KATA PENGANTAR

Assalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang tiada hentinya memberikan rahmat,

nikmat, dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga pelaksanaan laporan tugas akhir

ini dapat terselesaikan dengan baik.

Tidak lupa penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak–pihak yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan laporan Tugas Akhir ini.

Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada:

1. Novi Caroko, S. T., M. Eng., selaku Ketua Jurusan Teknik Mesin, Fakultas

Teknik, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

2. Cahyo Budiyantoro. S.T., M.Sc., selaku Dosen Pembimbing I yang telah

memberikan arahan dan bimbingan selama tugas akhir.

3. Drs. Sudarisman, M.S.Mechs., Ph.D., selaku Dosen Pembimbing II yang telah

memberikan arahan dan bimbingan selama Tugas Akhir.

4. Ir. Aris Widyo Nugroho, M.T., Ph.D., selaku Dosen Penguji sidang pendadaran

yang telah memberikan masukan dan saran terhadap laporan Tugas Akhir .

Penulis menyadari bahwa laporan Tugas Akhir ini jauh dari sempurna karena

penulis juga mahluk-Nya yang selalu memiliki kekurangan. Semoga Laporan ini

bermanfaat bagi kita semua. Amin

Wassalaamu’alikum Warahmatullahi Wabarokatuh.

Yogyakarta, November 2016

(9)
(10)

PERNYATAAN

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi ini adalah asli hasil

karya saya dan tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar

kesarjanaan di Perguruan Tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak

terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau dipublikasikan oleh orang

lain, kecuali yang secara tertulis disebutkan sumbernya dalam naskah dan dalam

daftar pustaka.

Yogyakarta, November 2016

(11)

PERSEMBAHAN

Bismillahirohmanirohim, dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha

Pengasih, Maha Penyayang, serta Maha Pemberi Nikmat, penulis

mempersembahkan skripsi ini untuk :

1. Kedua orang tua yang telah membantu secara materil dalam

terselesaikannya tugas akhir ini.

2. Rofa Ashfi Urfa, yang telah senantiasa mendukung serta mendoakan

kelancaran tugas akhir ini.

3. Wahyu Haryono, yang telah memberikan ilmu baru dan saran dalam proses

pembuatan alat tugas akhir ini.

4. Rio Dwi Hapsoro, Muhammad Fakhi, Hidayat Jati Asmara dan Luki Diktio

Adikrama, yang telah memberikan motivasi atas kelancaran pengerjaan

tugas akhir ini.

5. Teman – teman Kos Putra Kresno Kembar, yang telah menghibur dikala penat pada saat pengerjaan tugas akhir ini.

(12)
(13)

INTISARI

Alat uji defleksi batang plastik menggunakan pemanas (Heat Plastic Deflection Temperature) adalah suatu alat uji yang digunakan untuk menilai suhu dimana polimer, plastik atau spesimen komposit plastik mengalami deformasi

dibawah beban lentur yang diberikan. Suhu distorsi panas juga dikenal sebagai

'suhu defleksi di bawah beban' (DTUL) atau 'suhu panas defleksi' (HDT).

Pembuatan alat uji suhu defleksi ini dilakukan dengan pembuatan desain

tiap-tiap bagian alat uji. Lalu, proses pembuatan rangka dan merangkai komponen

mulai dari cover, tempat pemanas, pemanas listrik, rangkaian listrik dan yang

terakhir proses pewarnaan alat uji. Kemudian pengujian kinerja alat uji dengan

mengunakan 3 jenis batang plastik, yaitu Polypropelene, ABS, Acrylic dengan 5 kali percobaan tiap-tiap jenis batang plastik. Pengukuran suhu defleksi

menggunakan thermocouple dan thermostat.

Hasil pengujian dengan penggunaan beban metode C 8 MPa/13,3 N

terhadap polypropelene defleksi terjadi pada suhu 31oC, 38oC, 33oC, 35oC dan terakhir 36oC. ABS pada suhu 55oC, 57oC, 56oC, 52oC, dan 54oC. Kemudian plastik berjenis Acrylic mengalami suhu defleksi 38oC, 42oC, 40oC, 37oC dan 38oC.

(14)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Di dalam dunia pendidikan maupun industri, pembuatan alat untuk

pengujian-pengujian yang dilakukan terhadap bahan dasar suatu alat/bahan sangat

banyak dan bervariasi, mulai dari alat yang berkapasitas besar maupun

berkapasitas sedang. Namun alat tersebut masih memiliki harga yang lumayan

mahal dan pengoperasiannya membutuhkan operator yang terampil. Sehingga

banyak konsumen alat tersebut hanya dari golongan/kelompok tertentu saja seperti

peneliti-peneliti bersetifikasi yang diajukan oleh perusahaan maupun industrinya.

Pada saat memproduksi alat, banyak industri menengah ke bawah yang

membuat alat/benda tanpa melakukan pengujian terhadap bahan dasar yang

dipakai. Terutama pengujian untuk mengetahui struktur dan kekuatan maksimum

dari jenis bahan dasar itu sendiri. Pengujian bertujuan untuk mengetahui

penggunakan alat/benda secara tepat serta efektif terutama dibidang otomotif dan

industri yang tidak sembarangan menggunakan alat/benda yang bahan dasarnya

tidak sesuai dengan standarisasinya. Penggunaan yang tidak sesuai dengan standar

peruntukannya dapat menyebabkan umur pemakaian alat/benda lebih singkat

(cepat rusak) dan kualitasnya lebih rendah.

Plastik adalah salah satu bahan dasar untuk membuat suatu alat/benda,

mulai dari perabotan rumah tangga sampai pembuatan komponen kendaraan.

Alasan penggunaan plastik sebagai bahan dasar adalah struktur dan sifat plastik

yang mudah dibentuk/dicetak serta tidak korosif. Untuk mengetahui kekuatan tiap

jenis plastik, maka perlu dilakukan beberapa deretan pengujian terhadap batang

plastik, salah satunya pengujian defleksi pada jenis-jenis batang plastik.

(15)

Alat uji defleksi batang plastik menggunakan pemanas (Heat Plastic Deflection Temperature) adalah suatu alat uji yang digunakan untuk menilai suhu dimana polimer, plastik atau spesimen komposit plastik mengalami deformasi

dibawah beban lentur yang diberikan. Suhu distorsi panas juga dikenal sebagai

'suhu defleksi di bawah beban atau suhu panas defleksi' (HDT). Mengingat harga

alat uji defleksi batang plastik ini tidak ekonomis, pengoperasiannya yang susah

dan diproduksi dalam skala besar, perlu dilakukan perancangan dan pembuatan

alat uji defleksi plastik secara sederhana serta ekonomis namun memenuhi fungsi

alat uji coba yang diperlukan.

1.2Rumusan Masalah

Permasalahan yang menjadi pokok pembahasan adalah merancang dan

membuat alat uji coba defleksi batang plastik dengan bentuk yang sederhana,

konsumsi listrik yang lebih kecil dan pengoperasiannya yang tidak sulit.

1.3Batasan Masalah

Batasan masalah perancangan dan pembuatan alat ini adalah :

1. Pengujian alat ini hanya menggunakan spesimen 3 jenis batang plastik.

2. Alat ini hanya difungsikan untuk pengujian defleksi suhu batang plastik.

3. Proses pemanasan menggunakan minyak yang diberi pemanas listrik

sebagai fluida dalam proses pemanasan.

1.4Tujuan Pembuatan Alat

Tujuan dari pembuatan alat ini adalah :

1. Membuat alat uji dalam skala kecil dan hemat energi.

2. Membandingkan kinerja alat uji buatan dengan alat uji pabrikan.

(16)

1.5Manfaat Pembuatan Alat

Manfaat yang diperoleh dari pembuatan alat uji coba ini adalah:

1. Bagi IPTEK

Dari perancangan alat ini diharapkan menambah wawasan baru dalam ilmu

pengetahuan tentang teknologi tepat guna yang hemat energi.

2. Bagi Dunia Pendidikan

Hasil perancangan alat ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan

laboratorium teknik mesin sebagai alat pengujian defleksi batang dari berbagai

jenis plastik dalam skala kecil.

3. Bagi Masyarakat

Hasil pembuatan alat ini diharapkan dapat dijadikan referensi bagi

masyarakat, terutama bagi masyarakat yang memiliki Industri menengah ke

bawah serta dapat dijadikan acuan dalam pengembangan sistem pemanas

hemat energi lainnya.

1.6Metode penulisan

Metode penulisan data yang dilakukan adalah:

1. Metode pustaka, yaitu dengan cara studi kepustakaan untuk mencari dasar

teori yang ada kaitanya dengan pengujian defleksi.

2. Metode observasi, digunakan untuk memperoleh data-data yang aktual dari

alat tersebut agar bisa diaplikasikan dengan dasar teori yang ada.

3. Metode eksperimen, dengan melakukan uji coba pada alat uji defleksi setelah

(17)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

2.1. Kajian Pustaka

Pembuatan alat uji dan pengujian defleksi terhadap batang plastik masih

belum banyak dilakukan. Pengujian alat uji coba banyak melakukan pengujian

terhadap batang logam maupun balok beton sebagai spesimen. Oleh karena itu

pembahasan tentang pengkajian pustaka ini difokuskan pada analisa beberapa

jenis spesimen dan jenis variasi tumpuan tanpa penggunaan panas sebagai

mempercepat proses defleksi pada spesimen uji coba.

Hariyanto (2014), menyelidiki pengaruh siklus termal terhadap kekuatan

bending panel komposit sandwich, yaitu tebal core 10 mm dan tebal skin 2 mm

dengan Vf komposit skin dan core sebesar 40%. Manufaktur core SP-UF

dilakukan dengan cetak tekan, sedangkan komposit skin serat rami- UPRs dan

komposit sandwich dilakukan juga dengan cetak tekan. Pengujian fisis-mekanis

komposit sandwich (bending dan foto makro) dilakukan sebagai tahap optimasi.

Komposit sandwich diteliti dengan ketebalan skin 2 mm dan core 10 mm.

Perlakuan panel komposit sandwich dengan siklus thermal pada variasi temperatur

75 oC, 125oC, 175 oC dan jumlah siklus 25x, 75x, dan 125x, serta tanpa perlakuan

digunakan sebagai kontrol pengujian untuk mengetahui fenomena sebelum dan

sesudah perlakuan. Optimasi komposit sandwich dilakukan dengan pengujian

Bending (ASTM C-393) dan foto makro. Tegangan bending komposit sandwich

mengalami penurunan secara signifikan bersamaan dengan peningkatan

temperatur dan siklus. Pengujian menggunakan variasi temperatur 75oC, 125oC,

175oC dengan 25 kali pengujian. Pada temperatur ruang 75 oC nilai defleksi

maksimum sebesar 9,3 mm dan tegangan bending maksimum 20,9 MPa. Pada

temperatur ruang 125oC memiliki nilai defleksi maksimum 10,1 mm dengan

tegangan bending sebesar 34,7 Mpa . Pada temperatur ruang 175oC nilai defleksi

(18)

maksimal komposit sandwich mengalami peningkatan pada suhu 75oC sampai

suhu 125oC. Lalu pada suhu 175oC nilai defleksi menurun secara signifikan

bersamaan dengan peningkatan temperatur dan peningkatan siklus. Hal ini

disebabkan karena pengaruh siklus panas menyebabkan sifat penguat serat rami

semakin rapuh. Penyebabnya karena terjadi penguapan air terikat di dalam sel

selulosa serat melalui bidang kontak antar serat hingga ke permukaan komposit.

Aplikasi dari penelitian ini berupa produk panel sandwich interior/exterior kereta

api komersial, mobil/otomotif, kapal, dan panel rumah/gedung.

Hylton (2004) menjelaskan pengujian suhu defleksi digunakan untuk

mengetahui ketahanan material terhadap panas dalam jangka pendek dan sebagai

pedoman pengaturan suhu cetakan. Pada saat pengujian, ukuran spesimen yang

digunakan adalah 50,8 mm x 12,7 mm x 6,35 mm. Beban yang dipakai

menggunakan 0,455 MPa dan 1,82 MPa dengan cara membandingan hasil dari

penggunaan kedua beban. Terjadinya defleksi diketahui ketika nilai defleksi

menujukan angka 0,25 mm lalu mencatat pada suhu berapa mengalami defleksi.

Fluida dipanaskan saat pengujian dengan kecepatan 2o C/menit sampai suhu

maksimal spesimen mengalami defleksi.

Suraatmadja dkk (1998)pernah melakukanpengujian lentur pada balok yang

disambung dengan polimer.Pada penelitiannya melihat perilaku lentur pada balok

yang mempunyai sambungan. Balok yang mempunyai ukuran 100 mm X 150 mln

X 1550 mm diberi beban statis di tengah bentang dalam kondisi balok diletakkan

di atas dua tumpuan dengan jarak bersih 1350 mm. Balok yang disambung

diperoleh dengan cara memotong balok utuh menjadi sepuluh elemen,

masing-masing sepanjang 135 mm, yang kemudian disambung-sambung dengan bahan

polimer yaitu unsaturated polyester berbasis recycled polyethelene terephtalate

setebal 3 mm. Balok yang terdiri dari beberapa clemen balok ini kemudian diuji

lentur dan dibandingkan dengan balok yang tidak disambung. Dari hasil

eksperimen didapat bahwa balok yang menerus mempunyai kekakuan yang lebih

besar dibanding balok yang disambung, namun beban yang dapat dipikul sarna

(19)

deformasi pada beton tekan dan tulangan tarik. Putaran sudut pada tumpuan,

detleksi relatif, pola retak dan pengaruh luas bidang kontak ('interface)pada

sambungan.

Lain lagi dengan Sutresman (2012) menganalisis defleksi pada balok

segiempat secara teoritis dan eksperimental dengan memvariasikan letak

pembebanan. Tumpuan yang digunakan dalam penelitian adalah tumpuan

sederhana, menggunakan material baja karbon St.37 berbentuk balok segiempat

dengan dimensi panjang 800 mm dengan tebal 10 mm dan lebar 10 mm. Alat

yang digunakan dalam penelitian ini adalah seperangkat alat uji defleksi yang

terdiri dari : Dial indicator dan Loading Hunger. Pada metode integrasi ganda, rumus defleksi diperoleh dengan cara menurunkan persamaan defleksi sesuai

dengan jenis tumpuan yang digunakan, sedangkan untuk pengujian defleksi baja

karbon St.37 secara langsung dilakukan dengan memberikan pembebanan pada

jarak 200 mm, 400 mm dan 600 mm. Pelaksanaan pengujian defleksi secara

langsung dilakukan sebagai berikut : baja karbon St.37 dibebani mulai dari

pembebanan awal 500 gram, kemudian ditahan selama 1 menit dan diamati

penurunannya. Pembebanan terus diberikan secara bertahap dan penurunannya

selalu dicatat sesuai untuk beban 1000 gram, 1500 gram, 2000 gram, 2500 gram.

Dari tinjauan pustaka yang dikaji dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian

di atas menunjukan pengujian pada batang plastik maupun batang logam yang

disambung dengan polimer tidak hanya bertujuan mengetahui suhu terjadinya

defleksi. Namun, pengujian bertujuan untuk mengetahui hasil nilai tegangan yang

didapatkan jika spesimen diberikan suhu yang sudah diatur sebelumnya dan

pengujian defleksi hanya pemberian beban tanpa adanya pemberian suhu pada

spesimen.

2.2. Dasar Teori

2.2.1. Pengertian Plastik

Plastik merupakan material polimer. Istilah polimer di masyarakat

(20)

atom mengikat satu sama lain. Rantai ini membentuk bayak unit molekul

berulang. Pada dasarnya tidak semua polimer adalah bahan plastik, akan tetapi

plastik merupakan material polimer. Berdasarkan sumbernya polimer terbagi

menjadi 3, yaitu polimer alam, polimer semi sintetik dan polimer sintetik.

(Simbolon dalam Wulansari, 2013).

Pembentukan struktur polimer dari plastik memlalui proses polimerisasi,

yaitu penggabungan rantai monomer sehingga terbentuk pengulangan rantai

rantai monomer yang panjang dan terbentuk menjadi polimer. Sifat-sifat umum

plastik, yaitu:

a) Memiliki kemampuan cetak yang baik.

b) Ringan.

c) Beberapa material plastik memiliki ketahanan air dan zat kimia yang baik.

d) Umumnya lebih murah daripada material lain.

e) Dapat dijadikan isolator yang baik.

f) Memiliki ketahanan panas yang lebih rendah daripada material-material

lain.

g) Kurang tahan terhadap pelarut.

h) Beberapa jenis memiliki koefisien gesek yang kecil.

2.2.2. Sifat Termal Plastik

Sifat khas bahan polimer sangat berubah oleh perubahan temperatur. Hal ini

disebabkan apabila temperatur berubah, pergerakan molekul karena termal akan

mengubah struktur (terutama struktur yang berdimensi besar). Selanjutnya,

karena panas, oksigen dan air bersama-sama memancing reksi kimia pada

molekul, terjadilah depolimerisasi, oksidasi, dan seterusnya. Keadaan tersebut

jelas akan mempengaruhi sifat-sifat mekanik, listrik, dan kimia. Koefisien

pemuaian sebagai akibat dari pergerakan molekul oleh panas dan temperatur

gelas (Tg) yang berupa indeks penting bahan, titik cair (Tm), nilai defleksi

(21)

2.2.2.1 HDT (Heat Deflection Temperature)

(HDT) merupakan temperatur dimana material mulai mengalami

perubahan bentuk, akibat pengaruh beban terpusat dan temperatur tinggi.

(HDT) digunakan sebagai batasan temperatur aplikasi dari suatu produk

plastik. Karena itu, perlu dipilih material polimer yang memiliki HDT yang

sesuai dengan aplikasi. Pada dasarnya semakin tinggi nilai HDT maka material

akan semakin tahan terhadap temperatur tinggi. (HDT) berdasarkan tipe

plastik/polimer :

Tabel 2.1 Nilai HDT (Heat Deflection Temperature) berbagai macam jenis polimer (MatWeb Material Propherty Data)

2.2.2.2 Titik Muai Plastik (Thermal Expansion)

Thermal expansion adalah pemuaian yang dialami bahan ketika mengalami perlakuan panas. Besarnya pemuaian bahan atau material

ditentukan oleh jenis benda, ukuran benda mula-mula, dan besarnya kalor

yang diberikan. Pemuaian ini dapat mengakibatkan pertambahan panjang (∆I)

dan juga pertambahan volume. Ketika sebuah benda dipanaskan atau

didinginkan, ukuran panjang batang berubah dari panjang asli jika perubahan

(22)
(23)

Tabel 2.3 Modulus Young Material (EngineeringToolBox)

2.2.3 Alat Uji Suhu Defleksi

Alat uji defleksidigunakan untuk menentukan suhu panas polimer, plastik,

karet sebagai indeks kualitas kontrol dan uji termal. ISO 75-2 menetapkan tiga

metode nilai lentur konstan yang digunakan untuk penentuan suhu defleksi

(24)

berhenti memanaskan media pemanas yaitu minyak silikon atau minyak

transformator. Pada pengoperasian alat ini, suhu dan hasil bacaan suhu dapat

langsung diatur pada komputer yang saling terhubung.

Gambar 2.1 Alat Uji Suhu Defleksi (Sumber : alibaba.com)

2.2.4 Prinsip Kerja Pengujian Suhu Defleksi

Prinsip kerja pengujian suhu defleksi batang plastik adalah pengujian

defleksi terhadap batang plastik dengan memberikan panas yang dihantarkan

oleh fluida cair. Pegujian suhu defleksi panas juga disebut sebagai pengujian

suhu distorsi panas yang umumnya digunakan untuk pengendalian kualitas dan

mengetahui kualitas bahan untuk ketahanan panas dalam jangka pendek . Data

yang diperoleh dengan metode ini tidak dapat digunakan untuk memprediksi

suatu prilaku bahan plastik pada suhu yang tinggi dan tidak dapat digunakan

dalam memilih atau menentukan material untuk perancangan .Nilai suhu yang

diberikan di bawah nilai suhu leleh plastik (Melting point). Pemberian panas bertujuan untuk mengetahui pada suhu berapa batang plastik mengalami

lendutan atau defleksi dan mengetahui nilai defleksi yang dihasilkan. Hylton

(25)

Gambar 2.2 Pengujian Suhu Defleksi Batang Plastik (Hylton, 2004)

2.2.5 Standar Pengujian 2.2.5.1. Spesimen

Menurut ISO 75-1, semua spesimen yang akan di uji coba, bentuk spesimen tersebut tidak boleh mengalami lendutan atau “melengkung” yang disebabkan oleh pemanasan dan penekanan yang terjadi sebelum pengujian

dilakukan. Spesimen di produksi dengan tiga metode, yaitu pemotongan

lembaran plastik menggunakan alat potong (Machining), mencetak plastik yang telah dilelehkan ke dalam cetakan (molding), dan pemotongan lembaran plastik menjadi spesimen dengan metode cetak tekan (pressing). Namun spesimen yang diproduksi oleh ketiga metode tersebut memiliki kekuatan

struktur yang bervariasi dikarenakan masing-masing metode memiliki

pengaruh yang berbeda terhadap susunan struktur dari spesimen yang

dihasilkan.

(26)

2.2.5.2. Jenis dan Ukuran Spesimen

Semua spesimen yang akan di uji coba berbentuk balok dengan spesifikasi

sebagai berikut:

Tabel 2.4 Data Spesimen Sesuai Standar

Jenis Plastik Ukuran Spesimen(p x l x t), mm

ABS 80 x 10 x 4

Acrylic 80 x 10 x 4

Polypropelene 80 x 10 x 4

2.2.5.3. Inspeksi Spesimen

Permukaan dan sisi spesimen harus terbebas goresan maupun memiliki

lubang berongga atau cacat fisik. Dimensi spesimen yang diuji akan diukur

kembali dengan menggunakan mikrometer sekrup dan dipastikan tiap sisi

spesimen memiliki ukuran yang sama.

2.2.5.4. Pemberian Beban Tekanan pada Spesimen

Menurut (ISO 75-1) posisi spesimen pada pengujian menggunakan dua

posisi, yaitu posisi flatwise (posisi spesimen datar ) dan edgewise (posisi spesimen tegak). Kemudian membandingkan hasil pengujian dari penggunaan

dua jenis bending yang diberikan. Menurut (Hylton, 2004), batas maksimum

nilai gaya yang diizinkan untuk pengujian menggunakan tiga metode, yaitu

metode A dengan ketentuan pembebanan 1,82 MPa (3,3 N), metode B

ketentuan pembebanan 0,45 MPa (0,75 N) dan metode C dengan ketentuan

pembebanan 8,00 MPa (13,3 N). Penggunaan pembebanan sebesar 8,00 MPa

(Metode C) dikarenakan terbatasnya alat beban standar yang memiliki nilai di

bawah 8,00 MPa. Maka dari itu pengujian alat menggunakan metode C.

Bentuk dari bending dipilih menggunakan logam berbentuk silinder dan ukuran

diameter silinder sama dengan ukuran lebar spesimen dan ukuran tebal ujung

(27)

2.2.5.5. Pemberian Panas Pada Spesimen

Peralatan pemanas digunakan untuk memanaskan wadah berisikan fluida

cair yang di dalamnya terdapat dudukan spesimen yang direndam dengan jarak

50 mm dari permukaan fluida. Panas fluida yang digunakan untuk pengujian

dapat dikontrol oleh pengontrol suhu (Thermostat) lalu suhu dibaca oleh pembaca suhu (Thermocouple). Kemudian, laju perubahan suhu 2oC/min dan suhu pengujian berkisar 80oC – 130oC (sesuai dengan nilai HDT tiap jenis

plastik). Jenis fluida cair yang dipakai adalah jenis minyak yang tidak menguap

dan tahan terhadat suhu tinggi. Contoh: Silicon Oil. (ISO 75-1: Determination of Temperature Deflection Under Load)

Gambar 2.4 Proses Pemanasan Spesimen (Sumber : MatWebPropertyData) 2.2.5.6 Pengukuran Pengujian

Pada saat pengujian, sistem pengukuran yang digunakan adalah

pengukuran bacaan suhu menggunakan thermostat dan thermocouple, pengukuran nilai lendutan menggunakan dial gauge, pengukuran waktu defleksi dengan menggunakan stopwacth dan pengukuran beban standar menggunakan timbangan analog maupun digital. Alat pengatur suhu serta alat

baca suhu memiliki skala bacaan 0,5oC atau lebih dan alat ukur dial gauge

(28)

nilai defleksi mencapai 0,25 mm, maka suhu dicatat dan dianggap sebagai suhu

defleksi panas material. (Hylton, 2004)

2.2.6 Pengertian Defleksi

Defleksi adalah perubahan bentuk pada balok dalam arah y akibat adanya

pembebanan vertical yang diberikan pada balok atau batang.

Gambar 2.5 Defleksi pada batang

(Arfandi, 2011)

Deformasi pada balok secara sangat mudah dapat dijelaskan berdasarkan

defleksi balok dari posisinya sebelum mengalami pembebanan. Defleksi diukur

dari permukaan netral awal ke posisi netral setelah terjadi deformasi.

Konfigurasi yang diasumsikan dengan deformasi permukaan netral dikenal

sebagai kurva elastis dari balok. Dengan kata lain suatu batang akan

mengalami pembebanan transversal baik itu beban terpusat maupun terbagi

merata akan mengalami defleksi atau lendutan. (Hariandja dalam Arfandi,

2011).

Untuk setiap batang yang ditumpu akan melendut apabila diberikan beban

yang cukup besar. Lendutan batang untuk setiap titik dapat dihitung dengan

menggunakan metode diagram atau cara integral ganda dan untuk mengukur

gaya yang digunakan load cell. Lendutan batang sangat penting dalam

konstruksi terutama konstruksi mesin dimana pada bagian-bagian tertentu,

seperti poros, lendutan sangat tidak diinginkan karena adannya lendutan maka

kerja poros atau operasi mesin akan tidak normal sehingga dapat menimbulkan

kerusakan pada bagian mesin atau pada bagian lainnya. Pada semua konstruksi

(29)

fisik tertentu. Bagian-bagian tersebut haruslah diukur dengan tepat untuk

menahan gaya –gaya yang sesungguhnya atau yang mungkin akan dibebankan

kepadanya. Jadi poros sebuah mesin haruslah diperlukan dan menahan

gaya-gaya luar dan dalam. Demikian pula, bagian-bagian suatu struktur komposit

harus cukup tegar sehingga tidak akan melengkung melebihi batas yang

diizinkan bila bekerja dibawah beban yang diizinkan (Soemono dalam Arfandi,

2011).

Hal-hal yang mempengaruhi terjadinya defleksi yaitu :

1. Kekakuan batang. Semakin kaku suatu batang maka lendutan batang yang

akan terjadi akan semakin kecil

2. Besar-kecilnya gaya yang diberikan pada batang berbanding lurus dengan

besarnya defleksi yang terjadi. Dengan kata lain semakin besar beban yang

dialami batang maka defleksi yang terjadi pun semakin besar.

3. Jenis tumpuan yang diberikan

(a) (b) (C)

Gambar 2.6 Jenis-jenis Tumpuan, (a) Tumpuan Sendi, (b) Tumpuan Roll,

(c) Tumpuan Jepit

(Arfandi, 2011)

Jumlah reaksi dan arah pada tiap jenis tumpuan berbeda-beda. Oleh karena

itu besarnya defleksi pada penggunaan tumpuan yang berbeda-beda

tidaklah sama. Semakin banyak reaksi dari tumpuan yang melawan gaya

dari beban maka defleksi yang terjadi pada tumpuan rol lebih besar dari

tumpuan pin (pasak), dan defleksi yang terjadi pada tumpuan pin lebih

(30)

4. Jenis beban yang terjadi pada batang

[image:30.595.165.490.137.186.2]

(a) (b) (c)

Gambar 2.7 Jenis-jenis Pembebanan, (a) Beban Terpusat, (b) Beban Lentur, (c) Beban Merata

(Arfandi, 2011)

Beban terdistribusi merata dengan beban titik, keduanya memiliki kurva

defleksi yang berbeda-beda. Pada gambar 2.8(C), beban terdistribusi

merata, slope yang terjadi pada bagian batang yang paling dekat lebih besar dari slope titik. Ini karena sepanjang batang mengalami beban

sedangkan pada gambar 2.8(a), beban terjadi hanya pada beban titik

tertentu saja (Arfandi, 2011).

5. Temperatur

Peristiwa yang mengikuti bertambanya temperatur pada batang adalah

perubahan ukuran dan bentuknya. Gaya antar atom dipandang sebagai

kumpulan pegas yang menjadi penghubung antar atom bahan. Pada setiap

temperatur atom padatan tersebut akan bergetar. Kenaikan temperatur

akan mengakibatkan penambahan jarak rata-rata atar atom bahan. Hal ini

mengakibatkan terjadinya pemuaian (ekspansi) pada seluruh komponen

padatan tersebut. (EngineeringToolBox, 2016)

2.2.7 Perhitungan dan Rumus

2.2.7.1 Perhitungan Nilai Standar Defleksi

A. Menghitung beban yang dipakai bedasarkan posisi spesimen.

Posisi Flatwise : F =

………(2.1)

Posisi Edgewise : F =

………(2.2)

(31)

F : Beban (N)

: Nilai tegangan flexural (MPa) (Sesuai dengan metode)

b : Lebar spesimen (mm)

h : Tebal spesimen (mm)

L : Jarak antar kedua tumpuan (mm)

B. Menghitung nilai total beban pengujian

F = 9,81(mw+mr)+Fs ……….(2.3)

dimana,

mw =

……….(2.4)

Keterangan :

F : Total beban (N)

mr : Massa Rod (Kg)

mw : Massa tambahan (Kg)

Fs : Gaya, diberikan oleh instrumen pegas yang digunakan (N)

C. Menghitung nilai standar defleksi

Posisi Flatwise :

……….(2.5)

Posisi Edgewise :

………...(2.6)

Keterangan

:

Nilai standar defleksi (mm)

L : Panjang spesimen antara kedua dudukan spesimen (mm)

: Nilai kenaikan tegangan flexural material (%) h : Tebal spesimen (mm)
(32)

2.2.7.2 Nilai Thermal Material.

A. Menghitung laju perubahan suhu

∆ṫ=(T2-T1)/t (oC/detik) ………... ..(2.7)

Keterangan :

∆ṫ= laju perubahan suhu terhadap waktu (oC/detik)

T2= Suhu akhir (oC)

T1= Suhu awal (oC)

t = Waktu (detik)

B. Menghitung nilai muai spesimen

dl = L0.α (T1-T0) (m)………..(2.8)

Keterangan;

dl = Perubahan panjang spesimen (m)

L0 = Panjang awal spesimen (m)

α

= Nilai koefisien pemuaian (10-6 m/(moC))

T1 = Suhu akhir pengujian (oC)

T2 = Suhu awal pengujian (oC)

C. Perhitungan tegangan thermal

σ = E.α.dt……….(2.9)

Keterangan ;

σ = Tegangan thermal (N/m2)

E = Modulus Young material (N/m2)

α = Nilai koefisien pemuaian (10-6 m/(moC))

(33)

BAB III

METODE PENELITIAN

Dalam bab ini akan dibahas mengenai tempat serta waktu dilakukannya

pembuatan, alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan alat uji, diagram alir

pembuatan alat uji serta langkah-langkah proses pembuatan.

3.1. Pendekatan Pembuatan

Pendekatan pembuatan merupakan suatu sistem pengambilan data dalam

suatu pembuatan. Pendekatan ini menggunakan metode pembuatan dan

pengembangan yaitu suatu proses atau langkah-langkah untuk mengembangkan suatu

produk baru, atau penyempurnaan produk yang telah ada yang dapat

dipertanggungjawabkan.

3.2Tempat dan waktu pembuatan

3.1.1 Tempat pembuatan : Lab. Material Teknik Mesin

3.2.1 Tempat pengujian : Lab. Material Teknik Mesin

3.1.2 Waktu penelitian : 26 Juni 2016

3.3Bahan Spesimen Penelitian 1. Plastik jenis Polypropelene. 2. Plastik jenis Acrylic. 3. Plastik jenis ABS.

3.4Bahan Alat Uji

(34)
[image:34.595.248.412.112.257.2]

Gambar 3.1 Plat Aluminium

[image:34.595.247.413.303.449.2]

2. Plat siku ketebalan 1 mm

Gambar 3.2 Plat Siku

3. Plat strip ketebalan 1 mm

[image:34.595.248.412.497.639.2]
(35)
[image:35.595.255.404.132.284.2]

4. Acrylic ketebalan 5 mm

Gambar 3.4 Acrylic

[image:35.595.257.403.337.486.2]

5. Silinder Aluminium

10 mm

Gambar 3.5 Silinder Aluminium

6. Wadah Aluminium

Gambar 3.6 Wadah Aluminium

7. Lapisan peredam panas (Alumunium Foil)

[image:35.595.254.405.536.677.2]
(36)

3.5 Komponen Listrik yang Digunakan 1. Kabel listrik

Kabel yang digunakan adalah kabel kawat tembaga untuk

mentransmisikan aliran dari output ke input. Kemudian, kabel insulator heater digunakan untuk menyambungkan daya ke pemanas listrik. Penggunaan kabel berjenis kawat dikarenakan alat ini menggunakan daya

yang cukup besar serta demi keamanan dari komponen-komponen listrik

yang saling terhubung

.

Gambar 3.7 Kabel kawat dan kabel insulator heater

2. Thermostat dan Thermocouple

Thermostat adalah suatu alat pengatur suhu yang inputnya berupa perintah suhu dan outputnya keluaran perintah suhu. Thermostat yang digunakan berjenis RTD relay 400 bekerja karena adanya relay pemutus aliran yang

secara otomatis memutuskan aliran listrik jika sensor suhu atau

thermocouple membaca suhu lebih besar + 1oC (tergantung dari kualitas

(37)
[image:37.595.238.422.112.278.2]

Gambar 3.8 Thermostat dan Thermocouple 3. Magnetic Contactor 200-220V (50 Hz-60 Hz)

Suatu alat penghubung listrik yang bekerja atas dasar magnet yang dapat

menghubungkan antara sumber arus dengan muatan listrik. Cara kerja

Magnetic Contactor ini adalah bila inti koil pada kontaktor diberikan arus, maka koil akan menjadi magnet dan menarik kontak sehingga kontaknya

menjadi terhubung dan dapat mengalirkan arus listrik. Sebuah kontaktor

dapat memiliki koil yang bekerja pada tegangan DC atau AC. Pada

tegangan AC, tegangan minimal adalah 85% tegangan kerja. Apabila

kurang, maka kontaktor akan bergetar. Kontaktor ini berjenis kontaktor

NO (Normally Open) yang artinya saat kontaktor magnet belum bekerja

kedudukannya membuka dan bila kontaktor bekerja kontak menutup.

[image:37.595.241.425.528.677.2]
(38)

4. Dial indicator

Alat ukur yang digunakan untuk mengukur penyimpangan bidang datar,

silinder dan kesejajaran ukuran yang sangat kecil yaitu 0,01 mm. Pada dial indicator terdapat dua skala, yang pertama skala yang besar (terdiri dari 100 strip) dan yang kecil terdiri dari 10 strip. Jadi, ketika jarum panjang

[image:38.595.250.412.236.379.2]

berputar satu kali penuh, maka menunjukan pengukuran 1 mm.

Gambar 3.10 Dial Indicator

5. Steker/Stop Kontak

Alat ini berfungsi sebagai pemutus aliran listrik dari sumber listrik ke

komponen listrik lainnya. Tipe steker ini adalah tipe steker dua

fasa.(positif dan negatif)

6. Blower

Blower, alat uji ini menggunakan kipas laptop yang berfungsi sebagai pembuang kalor diruang instrumen alat uji. Kipas angin ini menggunakan

tegangan listrik 12 V dan arus listrik DC.

[image:38.595.246.415.594.727.2]
(39)

7. AC/DC Adaptor

Adaptor ini bekerja mengubah arus masuk dari arus 240V/AC ke arus keluar menjadi 12V/DC. Adaptor ini digunakan untuk menurunkan tegangan listrik 220V ke kipas blower yang pemakaian listriknya hanya

pada tegangan listrik 12V. Tipe adaptor ini adalah adaptor power supply.

Gambar 3.12 AdaptorPower Supply

8. Pemanas elektrik

Pemanas elektrik yang digunakan adalah pemanas air elektrik portable

berbentuk spiral yang menggunakan daya listrik 150 Watt bertegangan

220V. Jenis pemanas listrik ini adalah pemanas listrik tipe basah yang

dimana elemen pemanasnya berkontak langsung dengan fluida yang akan

dipanaskan.

9. Saklar

Sebuah perangkat yang digunakan untuk memutuskan atau

menghubungkan arus listrik baik itu jaringan arus listrik kuat maupun

[image:39.595.234.427.216.391.2]
(40)

Gambar 3.13 Saklar Putar

3.6 Alat Pembuatan 1. Gunting seng

2. Pisau Cutter Khusus Logam 3. Gunting

4. Obeng

5. Tang Rivet

6. Tang jepit

7. Palu

8. Alat las

9. Paku keling

10. Meteran

11. Gerinda

12. Mesin Bor Tangan

13. Kamera Handphone

3.7 Diagram Alir Penelitian

Penelitian ini dilakukan beberapa tahapan, mulai dari persiapan, pembuatan

dan pengujian alat uji suhu defleksi, serta pengolahan data, tahapan penelitian yang dilakukan dapat dilihat pada Gambar 3.14

(41)
[image:41.595.118.404.107.591.2]

Gambar 3.14 Diagram Alir Pembuatan

3.8Tahap Persiapan

Pada tahap persiapan, penulis mencari referensi yang berasal dari buku dan

jurnal yang berkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan, yaitu mengenai

perancangan maupun analisis uji suhu defleksi batang. Tidak Mulai

Alat uji dapat beroperasi

Pengujian suhu defleksi menggunakan spesimen

Manufaktur rangka alat uji suhu

Desain skema alat uji suhu defleksi

Merangkai rangkaian listrik alat uji

Pengumpulan dan analisa data

Selesai

Pewarnaan/Finishing

Identifikasi masalah

Data suhu defleksi

(42)

3.9Perancangan Alat Suhu Defleksi

Perancangan alat uji pada tahap awal dimulai dengan membuat sketsa

kasar skema alat uji suhu defleksi pada kertas dengan pertimbangan awal agar

[image:42.595.256.411.204.349.2]

alat uji mempunyai sifat mudah dibuat, mudah untuk dirawat, dan portable.

Gambar 3.15 Rancangan Alat Uji Suhu Defleksi

3.10 Pembuatan Alat uji Suhu Defleksi

Pada saat proses pembuatan, hal pertama yang dilakukan adalah pemilihan

bahan baku alat uji, pembuatan rangka, pemasangan cover dan pengecatan atau

finishing.

3.10.1. Pembuatan Rangka

Setelah pemilihan bahan baku selesai, kemudian dilakukan pembuatan

rangka menggunakan teknik penyambungan antar rangka dengan

menggunakan las busur listrik. Alasan penggunaan las busur listrik adalah

selain mudah dikerjakan, las busur listrik tidak membuat batang rangka

menjadi “melengkung” atau memuai dikarenakan panas yang dihasilkan

terfokuskan pada daerah sambungan lasnya saja. Kemudian, pemilihan plat

siku sebagai rangka karena penggunakan plat siku lebih kokoh dan kuat

(43)
[image:43.595.210.444.111.279.2]

Gambar 3.16 Pembuatan Rangka Alat Uji

3.10.2 Pemasangan Cover/Body

Penggunaan lempengan alumunium sebagai bahan cover dengan alasan lempengan berbahan dasar alumunium memiliki nilai daya tahan terhadap korosi yang tinggi serta harga yang murah dibandingkan dengan

jenis yang lain. Pada saat proses pemasangan cover, lempengan aluminium dipotong dahulu sesuai ukuran tiap sisi alat uji. Pemotongan dilakukan

dengan dua cara tergantung dengan tingkat ketebalan lempengan aluminium

itu sendiri. Jika plat aluminium tipis menggunakan gunting seng dan

lempengan yang tebal menggunakan pisau cutter khusus logam.

Gambar 3.17 Pemotongan Lempengan Alumunium

[image:43.595.240.412.549.681.2]
(44)

mudah serta penggunaan paku rivet tidak mudah kendur dibandingkan menggunakan mur dan baut didalam jangka waktu penggunaan yang lama.

Pemasangan cover dilakukan dengan tiga lapisan yaitu cover bagian dalam,

[image:44.595.204.452.286.397.2]

alumunium foil dan cover bagian luar. Penggunaan alumunium foil untuk meredam panas yang dihasilkan dari dalam ruang pemanas.

Gambar 3.18 Pemasangan Cover Alat Uji 3.10.3 Pewarnaan dan Finishing

Proses pewarnaan menggunakan metode penyemprotan dengan cat

semprot atau spray paint. Pengecatan dilakukan dengan dua tahap, yaitu pengecatan dasar lalu pengecatan utama. Proses pengeringan cat

menggunakan panas matahari tetapi tanpa kontak langsung. Alasan

menggunakan metode cat semprot, karena proses pengecatannya mudah,

harga ekonomis dan cat yang dihasilkan merata dibandingkan menggunakan

cat kuas. Penggunaan cat semprot dibedakan menjadi dua jenis cat, yakni

cat semprot biasa untuk bagian cover luar dan cat semprot high temperature

(45)
[image:45.595.190.464.111.254.2]

Gambar 3.19 Proses Pewarnaan Alat Uji

3.10.4. Pemasangan Komponen listrik

Pembagian arus listrik alat uji menggunakan terminal listrik yang

dibagi menjadi tiga bagian sumber listrik. Arus positif awal melewati MCB

sebagai pengaman ketika terjadinya arus pendek listrik lalu dihubungkan ke

tiga port terminal. Arus negatif menjadi massa di tiap-tiap komponen. Untuk

penggunaan tegangan listrik 220V dihubungkan langsung ke komponen

yang dapat menerima tegangan listrik 220V tanpa menggunakan adaptor

seperti thermostat, lampu indikator, magnetic contactor, sakelar, dan pemanas listrik. Namun jika ada komponen seperti kipas blower yang hanya menerima tegangan listrik 12V harus diturunkan tegangan listriknya dahulu

menggunakan adaptor power supply yang arus listriknya diambil dari port

satu dari tiga port terminal yang ada. Pemasangan rangkaian listrik dilakukan dengan teliti agar tidak ada kabel yang masih terbuka terutama

pada sambungan listrik positif dan negatif yang mengakibatkan terjadinya

(46)
[image:46.595.205.478.113.231.2]

Gambar 3.20 Proses Pemasangan Komponen dan Rangkaian Listrik

3.11 Pengujian Kelayakan Alat Uji

Setelah Alat selesai dirakit dan sebelum di uji coba, dilakukan pengecekan

tiap-tiap komponen. Pengecekan tersebut ialah:

1) Pengecekan fungsi MCB dan sakelar.

2) Pengecekan akurasi thermostat dan thermocouple.

3) Pengecekan fungsi dari magnetic contactor dalam menerima sinyal dari

thermostat.

4) Percobaan pemanas listrik dengan menggunakan air sebagai pengganti

minyak.

(47)
[image:47.595.179.482.111.424.2]
(48)

BAB IV

HASIL PEMBUATAN

4.1 Hasil Pembuatan Alat Uji Suhu Defleksi

Alat uji suhu defleksi yang sudah selesai dibuat dan siap dilakukan pengujian

untuk mengetahui suhu defleksi dengan variasi jenis-jenis plastik ditunjukkan pada Gambar 4.1, Gambar 4.2 dan Gambar 4.3 berikut.

Gambar 4.1 Alat Uji Suhu Defleksi

Gambar 4.2 Bagian Rangkaian Listrik

Dial Indicator

Lampu Indikator Sakelar

Thermostat

Tempat Spesimen Tempat Beban

Kipas Pendingin MCB

(49)

Gambar 4.3 Bagian Tempat Spesimen

Dari Gambar diatas, komponen alat uji suhu defleksi yang digunakan dalam

pengujian, adapun bagian-bagian alat uji suhu defleksi dijelaskan sebagai berikut:

1. Tempat beban, komponen ini digunakan sebagai dudukan beban

pada saat pengujian dilakukan.

2. Silinder bending, komponen ini digunakan sebagai tumpuan utama

pada saat beban diberikan ke bagian tengah spesimen.

3. Dial indicator, alat ini digunakan untuk mengukur defleksi yang terjadi pada spesimen.

4. Tempat fluida, komponen ini adalah tempat fluida yang dipanaskan untuk pengujian.

5. Lampu Indikator, komponen listrik ini berfungsi sebagai indikator ketika alat uji dalam kondisi hidup

6. Sakelar, komponen listrik ini digunakan untuk mematikan/menghidupkan alat uji.

Spesimen

Wadah Fluida Penutup Wadah

Silinder Bending

Pemanas Fluida

(50)

7. Thermostat, alat ini digunakan untuk mengatur suhu dan menampilkan bacaan suhu spesimen pada proses pengujian.

8. MCB (Miniature Circuit Breaker), alat ini digunakan untuk memutuskan aliran listrik yang masuk ketika terjadinya korsleting

listrik.

9. Magnetic Contactor, Alat listrik ini berfungsi sebagai pemutus aliran listrik ke pemanas secara otomatis yang diperintahkan oleh

thermostat.

10.Kipas pendingin, digunakan untuk mendinginkan ruang elektronik.

11.Thermocouple, digunakan untuk membaca suhu pada fluida cair yang dipanaskan.

4.1.1 Pengujian kinerja alat ukur suhu dan defleksi

Percobaan kinerja alat pengatur suhu beserta bacaan suhu

[image:50.595.213.476.445.564.2]

dan alat ukur defleksi ketika percobaan sedang berlangsung.

Gambar 4.4 Percobaan alat ukur

4.2 Spesifikasi Alat Uji Suhu Defleksi

Spesifikasi dan parameter yang dipakai antara alat uji suhu defleksi buatan

(51)
[image:51.595.118.455.132.332.2]

Tabel 4.1 Spesifikasi Alat Uji Suhu Defleksi Buatan

Kisaran Suhu 250 oC

Laju Pemanasan 3oC/Min

Kesalahan Suhu 2oC

Max. Kesalahan Defleksi 0,1 mm

Jumlah Tempat Sampel 1 buah

Berat Tiang dan Pallet 512 gram Metode Pendinginan Tidak Ada

Voltase Fase Tunggal, 220V, 50 Hz

Dimensi 600 mm, 300 mm, 600 mm

Tabel 4.2 Spesifikasi Alat Uji Suhu Defleksi Pabrik

Kisaran Suhu 300 oC

Laju Pemanasan 2oC/Min

Kesalahan Suhu 0,1 oC

Max. Kesalahan Defleksi 0,1 mm

Jumlah Tempat Sampel 3 Buah

Berat Tiang dan Pallet 68 gram

Metode Pendinginan Ada

Voltase Fase Tunggal, 220V, 50 Hz

Dimensi 528 mm, 545 mm, 37 mm

4.3 Pengujian Alat Suhu defleksi Pada Spesimen

1. Ukur spesimen dengan ukuran panjang 80 mm, lebar 10 mm dan tebal

4 mm.

2. Tempatkan spesimen pada dudukan yang jarak antar kedua dudukan

64 mm diposisi tengah-tengah antara kedua dudukan.

3. Tekan spesimen dengan silinder bending yang telah diberikan beban.

[image:51.595.117.455.368.561.2]
(52)

5. Taruh spesimen kedalam wadah fluida dengan posisi tegak.

6. Tuang fluida cair kedalam wadah spesimen dan rendam spesimen

dengan jarak permukaan fluida 50 mm dari posisi spesimen.

7. Tutup pintu ruang pemanas.

8. Atur posisi dial indicator tepat diatas permukaan alat uji dengan posisi jarum panjang menunjukkan 0,00 mm.

9. Pastikan suhu awal fluida 27oC.

10. Tarik tuas MCB ke arah ON.

11. Putar sakelar ke posisi ON.

12. Atur suhu yang diinginkan dengan cara menekan tombol “Set” pada

thermostat.

13. Tunggu dan baca pada suhu berapa spesimen mengalami defleksi serta baca pada dial indicator berapa mm spesimen mengalami defleksi

[image:52.595.187.489.465.617.2]

14. Setelah pengujian selesai, tunggu sampai suhu fluida dibawah 40oC, lalu kuras fluida dan ambil spesimen yang telah mengalami defleksi.

Gambar 4.5 Hasil spesimen yang mengalami defleksi (a) Acrylic, suhu defleksi 42 oC (b) Polyphropelene, suhu defleksi 38 oC.

Setelah pengujian selesai dan data yang didapat, kemudian menghitung nilai

defleksi, konsumsi daya laju, perpindahan panas dan analisa hasil pengujian dan

(53)

4.4 Perbandingan Hasil Pengujian

Hasil pengujian yang diukur meliputi suhu defleksi dan waktu mengalami

defleksi. Pengukuran suhu dilakukan dengan menggunakan termokopel tipe E

yang mempunyai suhu antara 0 oC – 800 oC. Suhu yang diukur yaitu suhu fluida

dan ketika mencapai defleksi.

Spesimen yang digunakan diukur terlebih dahulu menggunakan jangka

sorong untuk mengetahui ukuran secara presisi sebelum pengujian defleksi

dilakukan. Ukuran masing-masing spesimen berbeda dengan ukuran standar yang

dianjurkan dikarenakan proses pembuatan spesimen dengan menggunakan proses

machining. Pembuatan spesimen menggunakan proses machining, karena proses machining paling mudah dilakukan dibandingkan proses lainnya, namun memiliki

[image:53.595.121.509.381.491.2]

tingkat presisi ukuran yang rendah. Berikut data spesimen beserta ukurannya:

Tabel 4.3 Data hasil spesimen yang Dibuat

No Bahan Spesimen Panjang

(mm)

Lebar

(mm)

Tebal

(mm)

Proses Pembuatan

1 ABS 80 9,68 3,89 Machining

2 Acrylic 78,8 12,56 4,55 Machining

3 Polypropelene 80 10 4 Pressing

4.4.1 Hasil Pengujian

(54)
[image:54.595.153.471.123.469.2]

Tabel 4.4 Hasil Perbandingan Pengujian ABS

Pengujian

Ke

Nilai HDT Asli

(oC)

Nilai HDT

Pengujian (oC)

1 66 55

2 66 57

3 66 56

4 66 52

5 66 54

[image:54.595.199.427.533.683.2]

Gambar 4.6 Grafik Perbandingan Hasil Pengujian Plastik ABS

Tabel 4.5 Hasil Perbandingan Pengujian Acrylic

Pengujian ke Nilai HDT Asli Nilai HDT Pengujian

1 55 38

2 55 42

3 55 40

4 55 37

5 55 38

66 66 66 66 66

55 57 56

52 54

0 10 20 30 40 50 60 70

0 1 2 3 4 5 6

Suhu

C

Pengujian

Nilai HDT Asli

(55)
[image:55.595.152.470.112.269.2] [image:55.595.137.491.299.691.2]

Gambar 4.7 Grafik Perbandingan Pengujian Plastik Acrylic

Tabel 4.6 Hasil Pengujian Perbandingan Polypropelene

Pengujian ke Nilai HDT Asli Nilai HDT Pengujian

1 45 31

2 45 38

3 45 33

4 45 35

5 45 36

Gambar 4.8 Grafik Perbandingan Pengujian Plastik Polypropelene

55 55 55 55 55

38 42 40 37 38

0 10 20 30 40 50 60

0 1 2 3 4 5 6

Suhu

(

C)

Pengujian

Nilai HDT Asli

Nilai HDT Pengujian

45 45 45 45 45

31 38

33 35 36

0 10 20 30 40 50

0 1 2 3 4 5 6

Suhu

(

C)

Pengujian

Nilai HDT Asli

(56)

4.4.2 Hasil perbandingan

Perbedaan yang terjadi saat pengujian alat uji buatan dengan alat uji

pabrikan terdapat pada suhu defleksi yang dicapai. Hal ini disebabkan oleh

berbedanya kualitas alat ukur suhu, beban standar dan pemanas listrik yang

digunakan saat pengujian, sehingga bacaan suhu yang dihasilkan jauh lebih cepat

mengalami defleksi dibandingkan dengan hasil pengujian menggunakan alat uji

pabrikan. Kemudian, perbedaan hasil dalam lima kali percobaan menggunakan

satu jenis plastik disebabkan oleh kondisi dari ketiga spesimen berbeda satu sama

lain. Faktor lain penyebab berbedanya hasil pengujian selain kualitas alat ukur

adalah bentuk dan tingkat presisi spesimen mempengaruhi hasil dari pengujian.

Pada proses pembuatan spesimen menggunakan proses cetak tekan (Pressing) lebih baik dari pembuatan menggunakan proses (machining) yang tingkat presisi dari spesimen lebih rendah. Lalu, kondisi struktur spesimen mempengaruhi nilai

dari tegangan lentur yang dihasilkan. Maka, semakin jelek struktur spesimen

plastik, semakin cepat pula spesimen mengalami suhu defleksi.

4.5 Analisa Data

Analisa data pada pengujian adalah dengan cara membandingkan suhu

defleksi, nilai defleksi terjadinya defleksi antara jenis plastik ABS, Polyphropylene

dengan Acrylic dan laju aliran massa pada tiap-tiap material. Adapun data didapatkan dengan pengujian secara langsung maupun didapatkan dengan

menggunakan perhitungan.

4.5.1. Menghitung gaya yang dihasilkan pada posisi flatwise menggunakan

persamaan (2.2) diperoleh :

Jika ukuran spesimen sesuai standar:

F=

F=

(57)

Dibandingkan dengan ukuran spesimen yang tidak standar:

ABS. F=

F=

F= 12,20 N

Acrylic. F=

F=

F= 21,66 N

Polypropelene. F=

F=

F= 13.3 N

4.5.2. Menghitung massa tambahan menggunakan persamaan (2.4) diperoleh :

Nilai = 0, karena pada proses pengujian tidak menggunakan instrumen

pegas untuk mengetahui gaya yang dihasilkan. Maka,

ABS. mw =

mw =

mw = 0,73 Kg

Acrylic. mw =

mw =

(58)

Polypropelene. mw =

mw =

mw = 0,84 Kg

4.5.3 Menghitung nilai standar defleksi menggunakan persamaan (2.5) diperoleh

ABS. Δs =

Δs =

Δs = 0,140 (mm)

Acrylic. Δs =

Δs =

Δs = 0,120 (mm)

Polypropelene. Δs =

Δs =

Δs = 0,136 (mm)

4.5.4 Menghitung laju perubahan suhu menggunakan persamaan (2.7) diperoleh:

4.5.4.1 ABS

Δt =

Δt =

(59)

4.5.4.2 Polypropelene

Δt =

Δt =

Δt = 0,058 (oC/detik)

4.5.4.3 Acrylic

Δt =

Δt =

Δt = 0,056 (oC/detik)

4.5.5 Menghitung nilai muai spesimen menggunakan persamaan (2.8) diperoleh

4.5.5.1 ABS

dl = L0.α (t1-t0)

= 0,08 (m) . 0,0000738 (10-6 m/(m oC)) . (57-27) (oC)

= 0,00017 (m)

4.5.5.2 Polyphropelene

dl = L0.α (t1-t0)

= 0,08 (m) . 0,00015 (10-6 m/(m oC)). (38-26) (oC)

= 0.0014 (m)

4.5.5.3 Acrylic

dl = L0.α (t1-t0)

= 0,08 (m) . 0,000075 (10-6 m/(m oC)). (42-28) (oC)

(60)

4.5.6 Menghitung tegangan thermal spesimen menggunakan persamaan (2.9) diperoleh :

4.5.6.1 ABS

σ = E.α.dt

= 1500000000 (N/m2) . 0,0000738 (10-6 m/(m oC)). 12oC

= 1328400 (N/m2)

4.5.6.2 Polyphropelene

σ = E.α.dt

= 1700000000 (N/m2) . 0,0001 (10-6 m/(m oC)). 12oC

= 2040000 (N/m2)

4.5.6.3 Acrylic

σ = E.α.dt

= 3200000000 (N/m2) . 0,000075 (10-6 m/(m oC)). 14oC

= 3360000 (N/m2)

Seluruh perhitungan hasil gaya yang dihasilkan, total gaya untuk

pengujian, dan laju perubahan suhu hasil pengujian benda kerja dengan variasi

(61)

Tabel 4.7 Hasil Perhitungan Nilai Total Defleksi

No Jenis Plastik

Gaya Yang Dihasilkan Posisi Flatwise (N) Nilai Massa Tambahan Pada Pengujian (Kg) Nilai Standart Defleksi (mm)

1 Polyphropelene 13,3 0,73 0,140

2 Acrylic 21,66 1,69 0,120

[image:61.595.146.485.341.476.2]

3 ABS 12,20 0,84 0,136

Tabel 4.8 Hasil Perhitungan Spesimen Terhadap Panas

No Jenis Plastik

Laju Perubahan

Suhu (oC/detik)

Nilai Muai Spesimen (m) Nilai Tegangan Thermal (N/m2)

1 Polyphropelene 0,058 0,0014 2040000

2 Acrylic 0,056 0,00084 3360000

(62)

BAB V PENUTUP

5.1Kesimpulan

Berdasarkan pada perancangan, pembuatan, pengujian dan analisa yang telah

dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Alat uji suhu defleksi batang plastik yang telah dirancang dan dibuat dengan

spesifikasi alat yaitu: tegangan listrik rangkaian 220V arus dibatasi dengan

pengaman MCB arus listrik maksimum 4A. Maksimum pemakaian daya

listrik alat ini sebesar 350 Watt.

2. Hasil nilai suhu defleksi tiap-tiap jenis plastik yang didapatkan dengan

menggunakan alat uji buatan berbeda dengan nilai suhu defleksi pada nilai

standar yang tercantum pada Material Property Data, dikarenakan nilai beban standar yang dipakai untuk pengujian berbeda dengan nilai beban

standar pengujian ISO.

3. Hasil pengujian pada plastik ABS mengalami defleksi pada suhu 53oC dan

nilai standar deviasi yang didapat dari pengujian yaitu 2,78. Plastik Acrylic

mengalami defleksi pada suhu 39oC dan didapatkan nilai standar deviasi 2.

Kemudian pada pengujian plastik Polypropelene mengalami defleksi pada

suhu 35oC dengan nilai standar deviasi 2,7.

5.2 Saran

1. Pada pengembangan pembuatan alat uji suhu defleksi kedepannya,

penggunaan alat ukur seperti thermostat, dial indicator, dan komponen listrik lainnya diganti dengan kualitas yang lebih baik agar kinerja alat uji dapat

optimal serta akurat sesuai dengan standar alat uji pabrikan.

2. Perlu ditambahkan pendingin pada ruang pemanas agar pada saat proses

pengkondisian, suhu fluida yang telah dipanaskan lebih cepat menurun yang

(63)

3. Memperhatikan efisiensi alat, kedepannya agar dapat merubah dimensi dan

bentuk dari alat tersebut.

4. Posisi penempatan spesimen harus dalam kondisi stabil atau tidak bergeser.

5. Penambahan tempat spesimen yang sesuai dengan standar pabrikan agar

(64)

Daftar Pustaka

Arfandi. 2011. “Analisis Eksperimental Dan Teoritis Lendutan Pada Balok Dengan Variasi Ketebalan Dan Pembebanan “. Makassar : Universitas

Hassanudin.

Arifianto. 2008. “ Analisis Karakteristik Termal Polimer “. Depok : Universitas

Indonesia.

EngineeringToolBox. : 2016 “ Thermal Expansion Data Materials “. Diakses

pada 20 Mei 2016 dari Webnya. Pada pukul 23.16 WIB.

Hariyanto, Agus. 2014 .” Pengaruh siklus thermal pada rekayasa bahan komposit sandwich berpenguat serat rami dengan core sekam padi untuk panel otomotif”. Surakarta : UMS.

Hylton, Donald.C. 2004. “ Understanding Plastic Testing ”. Munich : Hanser

Publisher.

DIN. 2004. “ISO-75-1 Determination Of Temperature Of Deflection Under Load

”. Switzerland : International Standart.

MatWebPropertyData: 2016 “ Typical Deflection Temperature And Melting Points Of Polymer 1996-2016 “. Diakses pada 20 Mei 2016 dari Webnya.

Pada pukul 22.11 WIB.

Suraatmadja, Djuanda. 1998. “ Pengujian Lentur Balok Beton Yang Disambung Dengan Polimer“. Serpong : Prosiding Pertemuan Ilmiah Sains Materi III. Sutresman, Onny. 2012.“ Analisis Teoritis dan Eksperimental Defleksi Balok Segiempat Dengan Variasi Posisi Pembebanan “. Makassar : Universitas Hassanudin.

Wulansari. 2013. “ Analisis Produk Spion PS 135 Dengan Pengaturan Parameter Melt Temperature Material Plastik PP Pada Proses Injection Molding (Studi Kasus PT. Sinar Agung Selalu Sukses, Karang Anyar Jateng) ”.

Surakarta : UMS.

(65)
(66)

13 12 9 3 2 8 4 14 7 5 6 600 3 00 3 50 3 00 11 1 15 10 KETERANGAN

SCALE 1:10

Bagus Triaji

SATUAN mm

18/AGUSTUS/2016

2012 013 0039

DIAL INDIKATOR

TEMPAT PEMANAS

DUDUKAN SPESIMEN

MCB

LAMPU INDIKATOR

TERMOSTAT

COVER PEMANAS

PINTU RUANG PEMANAS

SAKLAR

PENEKAN

MAGNETIC CONTACTOR

KIPAS

TEMPAT BEBAN

NAMA

BAHAN

JUMLAH CATATAN

Gambar

Gambar 2.7 Jenis-jenis Pembebanan, (a) Beban Terpusat, (b) Beban
Gambar 3.2 Plat Siku
Gambar 3.6 Wadah Aluminium
Gambar 3.9 Magnetic Contactor atau kontak magnet
+7

Referensi

Dokumen terkait