PROBLEMATIKA OKUPASI LIAR DI ATAS LAHAN PERKEBUNAN DI SUMATERA UTARA : STUDI PADA AREAL PERKEBUNAN PTPN-IV
MEDAN (TAHUN 2000-2009)
TESIS
Oleh
DEBORA DEWI CHRISTY GULTOM 077011013/MKn
S
E K O L AH
P A
S C
A S A R JA
NA
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PROBLEMATIKA OKUPASI LIAR DI ATAS LAHAN PERKEBUNAN DI SUMATERA UTARA : STUDI PADA AREAL PERKEBUNAN PTPN-IV
MEDAN (TAHUN 2000-2009)
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan dalam Program Studi Kenotariatan pada
Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara
Oleh
DEBORA DEWI CHRISTY GULTOM 077011013/MKn
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Judul Tesis : PROBLEMATIKA OKUPASI LIAR DI ATAS LAHAN PERKEBUNAN DI SUMATERA UTARA : STUDI PADA AREAL PERKEBUNAN PTPN-IV MEDAN (TAHUN 2000-2009)
Nama Mahasiswa : Debora Dewi Christy Gultom Nomor Pokok : 077011013
Program Studi : Kenotariatan
Menyetujui Komisi Pembimbing
(Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN) Ketua
(Dr.Pendastaren Tarigan, SH,MS) (Notaris Syahril Sofyan, SH, MKn)
Anggota Anggota
Ketua Program Studi, Direktur,
(Prof.Dr.Muhammad Yamin, SH,MS,CN) (Prof.Dr.Ir.T.Chairun Nisa B, MSc)
Telah diuji pada
Tanggal : 28 September 2009
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN Anggota : 1. Dr. Pendastaren Tarigan, SH, MS
2. Notaris Syahril Sofyan, SH, MKn
ABSTRAK
Secara umum masalah pertanahan yang paling menonjol di Sumatera Utara terdapat pada areal perkebunan, khususnya pada areal HGU PTPN-IV yang ditandai dengan adanya tuntutan/garapan rakyat dan tuntutan pengembalian hak ulayat serta permohonan tapak perumahan/pondok karyawan. Dengan adanya permasalahan tuntutan/garapan/permohonan tersebut, perlu diteliti bagaimana pola penyelesaian yang ditempuh oleh pemerintah untuk menuntaskan masalah pertanahan pada areal perkebunan tersebut.
Penelitian dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai Problematika Okupasi Liar Di Atas Lahan Perkebunan Di Sumatera Utara yang terjadi pada areal perkebunan PTPN-IV Medan, untuk mengetahui hasil yang diperoleh dan upaya penyelesaian masalah pertanahan yang dilaksanakan dalam rangka kepastian hukum. Penelitian dilakukan dengan metode pendekatan yuridis normatif, menggunakan bahan penelitian dari data sekunder dan alat penelitian berupa studi dokumen dan wawancara dengan responden yang ditentukan. Kemudian data dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif.
Hasil penelitian menunjukan bahwa upaya penyelesaian masalah lahan garapan di daerah kebun Balimbingan dan kebun Bah Jambi tersebut mempunyai problema yang berbeda. Oleh karena itu, dari kedua kebun yang memiliki areal yang bermasalah itu sudah bisa dijamin keabsahannya, karena pertama di daerah kebun Balimbingan telah setuju dengan kesepakatan PTP Nusantara IV Unit Usaha Balimbingan dengan kelompok penggarap yaitu sepakat dengan penentuan harga ganti untung tanam tumbuh di areal garapan Afdeling II dan Afdeling III PTP Nusantara IV (persero) Unit Usaha Balimbingan, berarti telah selesai permasalahan tanah garapan antara kelompok penggarap dengan PTPN-IV Unit Usaha Balimbingan. Sedangkan penyelesaian masalah lahan garapan di daerah kebun Bah Jambi ini belum dapat diselesaikan masalah tanah garapan antara kelompok tani dengan PTPN-IV Unit Usaha Bah Jambi. Namun, disamping itu PTPN-IV Unit Usaha Bah Jambi membuat suatu upaya penyelesaian masalah tanah garapan antara kelompok tani dengan PTPN-IV Unit Usaha Bah Jambi dengan melalui pengadilan.Yang mana hal masalah tanah garapan tersebut masih dalam proses pengadilan yang saat ini masih berjalan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa masalah tanah garapan antara kelompok tani dengan PTPN-IV Unit Usaha Bah Jambi tersebut belum terselesaikan karena masih dalam proses pengadilan. Oleh karena itu, dapat kita menyarankan mengenai masalah tanah garapan antara kelompok tani dengan PTPN-IV Unit Usaha Bah Jambi ini agar dapat terselesaikan dengan baik demi terjamin nya kepastian hukum sekaligus penyelesaian masalah pertanahan ini benar-benar dapat terwujud.
ABSTRACT
In general, the most apparent land problem in the province of Sumatera Utara is found in plantation area especially in the concession area of PTPN-IV signed by the plots of land claimed/occupied by the people, the people’s demand to have their right to the land being worked by PTPN-IV back, and the plantation workers’ application for the site of their housing. With these problems of demand, illegal occupancy on the plantation land area, and application, it is a need to study the pattern of settlement taken by the government to settle the land problem in the plantation area.
The purpose of this study with normative juridical method is to describe the problem of illegal occupacy on the plantation area in Sumatera Utara as occurred in the plantation area of PTPN-IV Medan, and to analyze the attempts done and the result obtained from the land problem settlement done to get a legal certainty. The data for this study were obtained through documentation study and interviewing the respondents selected through purposive sampling technique. The data obtained were then qualitatively and quantitatively analyzed.
The result of this study shows that the attempts done to settle the problem of illegally occupied land in the plantation area of Balimbingan and Bah Jambi estates were of different problems. Therefore, the problem of land occupancy in Balimbingan estate has been settled because PTP Nusantara IV through the business unit of Balimbingan estate and the groups of those illegally occupied the plantation area have agreed the amount of beneficial compensation for all of the plants grown in the area of Afdeling II and Afdeling III of Balimbingan estate. The problem of land occupancy in Bah Jambi estate has not yet been settled. PTP Nusantara IV through the business unit of Bah Jambi estate is doing its best to settle the dispute with the farmers’ groups occupied the land through a court of law whose process is still going on. Therefore, it is suggested that the dispute between PTP Nusantara IV through the business unit of Bah Jambi estate and the farmers’ groups occupied the land can be settled well that settlement of this land dispute can guarantee the existence of legal certainty.
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang
Maha Kuasa, karena berkat dan hidayahnya, maka tesis ini telah dapat diselesaikan
dengan judul : Problematika Okupasi Liar Di Atas Lahan Perkebunan Di
Sumatera Utara : Studi Pada Areal Perkebunan PTPN-IV Medan ( Tahun 2000-2009)
Penulisan tesis ini merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam
menyelesaikan Program Studi Magister Kenotariatan pada Sekolah Pascasarjana
Universitas Sumatera Utara.
Dalam penyusunan tesis ini telah banyak mendapat bantuan dari berbagai
pihak. Terima kasih yang mendalam dan tulus saya ucapkan secara khusus kepada
yang terhormat dan amat terpelajar Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN
selaku Ketua Komisi Pembimbing serta Bapak Dr. Pendastaren Tarigan, SH, MS dan
Bapak Notaris Syahril Sofyan, SH, MKn, masing-masing selaku anggota Komisi
Pembimbing, yang telah memberikan pengarahan, nasehat serta bimbingan kepada
saya, dalam penulisan tesis ini.
Penulis juga menyampaikan ucapan terima kasih secara khusus kepada Ibu
Dr. T. Keizerina Devi Azwar, SH, CN, MHum dan Ibu Hj. Chairani Bustami, SH,
telah membimbing dan membina penulis dan pada kesempatan ini dipercayakan
menjadi dosen penguji sekaligus sebagai panitia penguji tesis.
Selanjutnya ucapan terima kasih yang tak terhingga penulis sampaikan
kepada:
1. Bapak Prof. Chairuddin P. Lubis, DTM & H, Sp.A (K), selaku Rektor
Universitas Sumatera Utara atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan
kepada kami untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan Program
Magister Kenotariatan pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera
Utara.
2. Ibu Prof. Dr. Ir. T Chairun Nisa B, MSc, selaku Direktur Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN, dan Ibu Dr. T. Keizerina
Devi Azwar, SH, CN, MHum selaku Ketua dan Sekretaris Program Studi
Magister Kenotariatan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak-bapak dan Ibu-ibu Guru Besar dan Staf Pengajar lainnya, diantaranya
Bapak Prof. Dr. M. Solly Lubis, SH, Prof. Dr. Tan Kamelo, Prof. Dr.
Syafruddin Kalo, SH, MHum, Ibu Hj. Chairani Bustami, SH, SPN, MKn,
Prof. Dr. Budiman Ginting, SH, MHum, dan lain-lain serta para karyawan
pada Program Studi Magister Kenotariatan Sekolah Pascasarjana Universitas
Sumatera Utara diantaranya Ibu Fatimah, Kak Sari, Kak Lisa, Kak Afni, bang
Adi, Bang Rizal dan lain-lain yang telah banyak membantu dalam penulisan
5. Rekan-rekan serta teman-temanku tercinta di Sekolah Pascasarjana
Universitas Sumatera Utara di Program Magister Kenotariatan khususnya
teman-teman aku semua yang ada di kelas grup C yang paling oke gto loh dan
teman-teman spesialku diantaranya maria, lisa’caem, natal, novi, b’bangun,
b’cory, junita, okto veri, k’vina, melda, k’susi, k’eva, afni, b’juni, dan
semuanya yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu dan juga kepada
teman-teman dan sahabat-sahabat ku yang ada di grup A dan di Grup B semuanya
saya ucapkan banyak terima kasih atas dukungan dan dorongan maupun
semangat kepada saya didalam menyelesaikan penulisan tesis ini dalam
rangka untuk menyelesaikan studi.
Secara khusus, penulis menghaturkan sembah dan sujud dan ucapkan terima
kasih yang tak terhingga, kepada yang tercinta Ayahanda Drs. Parsaulian Gultom dan
Ibunda Romaida Pangaribuan yang telah bersusah payah melahirkan, membesarkan
dengan penuh pengorbanan, kesabaran, ketulusan dan kasih sayang, serta
memberikan doa restu, sehingga penulis dapat melanjutkan dan menyelesaikan
pendidikan di Program Studi Magister Kenotariatan, Sekolah Pascasarjana
Universitas Sumatera Utara, serta ucapan terima kasih kepada adik-adikku tercinta
Ika Kartika Maharani Gultom “caem” dan Julio Cesar Barata Yudha Gultom yang
selama ini telah banyak memberikan perhatian dan dukungan kepada saya di dalam
meyelesaikan penulisan tesis saya ini.
Penulis berharap semoga semua bantuan dan kebaikan yang telah diberikan
dilimpahkan kebaikan, kesehatan, kesejahteraan dan rejeki yang melimpah kepada
kita semua.
Akhirnya penulis berharap semoga tesis ini dapat memberikan manfaat
kepada semua pihak, terutama kepada penulis dan kalangan yang mengembangkan
ilmu hukum, khususnya dalam bidang ilmu kenotariatan.
Medan, Juni 2009
Penulis,
RIWAYAT HIDUP
I. IDENTITAS PRIBADI
Nama : Debora Dewi Christy Gultom
Tempat/Tanggal Lahir : Pematang Siantar/ 15 Desember 1984
II. ORANG TUA
Nama Ayah : Drs. Parsaulian Gultom
Nama Ibu : Romaida Pangaribuan
III. PENDIDIKAN
1. SD : SD Negeri 1 Bahjambi
2. SMP : SMP Taman Asuhan Pematang Siantar
3. SMA : SMA Methodist Pematang Siantar
4. S-1 : Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
DAFTAR ISI
BAB II. LATAR BELAKANG TIMBULNYA MASALAH PERTANAHAN MENGENAI OKUPASI DI ATAS LAHAN HGU PTPN-IV ... 18
A. Latar belakang timbulnya masalah pertanahan... 18
Di Atas Lahan HGU PTPN-IV ... 18
BAB III PENYELESAIAN MASALAH PERTANAHAN YANG DITEMPUH OLEH PTPN-IV DALAM KASUS TUNTUTAN MASYARAKAT ATAS AREAL HGU ... 26
A. Jenis-Jenis Penyelesaian Masalah Pertanahan Yang Ditempuh Oleh PTPN-IV Dalam Kasus Tuntutan Masyarakat Atas Areal HGU ... 26
B. Mekanisme Penyelesaian Masalah Pertanahan Yang Ditempuh Oleh PTPN-IV Dalam Kasus Tuntutan Masyarakat Atas Areal HGU... 27
C. Penyelesaian Masalah Pertanahan Yang Ditempuh Oleh PTPN-IV Dalam Kasus Tuntutan Masyarakat Atas Areal HGU ... 27
BAB IV HASIL MUSYAWARAH PTPN-IV ATAS TUNTUTAN MASYARAKAT AKAN LAHAN HGU PTPN-IV ... 34
A. Hasil musyawarah terhadap penelitian Masalah Pertanahan PTPN-IV Secara Umum Dibeberapa Daerah Areal Perkebunan... 34
B. Lembaga Yang Berperan Dalam Menyelesaikan Masalah Pertanahan Pada Areal Perkebunan ... 37
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 39
A. Kesimpulan ... 39
B. Saran... 39
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebelum membahas mengenai judul proposal tesis yang berjudul tentang
“Problematika Okupasi Liar Di Atas Lahan Perkebunan Di Sumatera Utara :
Studi Pada Areal Perkebunan PTPN- IV Medan (Tahun 2000-2009)” ini.
Terlebih dahulu pertama-tama kita membahas mengenai sejarah singkat PTPN-IV
Medan tersebut, yang mana PT Perkebunan Nusantara IV (Persero) merupakan Badan
Usaha Milik Negara yang bergerak di bidang perkebunan yang berkedudukan di
Medan, Propinsi Sumatera Utara dan dimana luas areal konsesi PTPN-IV yang
dikuasai seluas 175.366,65 Ha, selain dari luas areal konsesi tersebut tetapi ada juga
luas areal yang diusahai PTPN-IV terdiri dari :1
a. Areal konsesi luas tanaman……… = 174.990,74 Ha
b. Areal konsesi luas bangunan………….. = 21.752,80 Ha
Dan disamping itu, ada juga luas areal yang dikuasai PTPN-IV :
a. Luas areal yang sudah HGU……….. = 150.025,21 Ha
b. Luas areal yang belum HGU………. = 25.341,44 Ha
Yang mana lokasi areal yang belum HGU dan sertifikat HGU masih dalam
pengurusan di BPN masing-masing :
1
a. Kebun Madina seluas………. = 19.211,00 Ha
b. Kebun Panai Jaya seluas……… = 4.065,00 Ha
Dan sisanya tidak dapat diterbitkan HGU-nya, alasannya karena merupakan Daerah
Aliran Sungai (DAS) seluas………. = 2.065,44 Ha
Selain dari luas areal konsesi PTPN-IV, luas areal konsesi tanaman maupun
luas areal konsesi bangunan, luas areal yang sudah HGU maupun luas areal yang
belum HGU, lokasi areal yang belum HGU dan sertifikat HGU dan juga alasan
mengapa sisa dari sebagian kebun tidak dapat diterbitkan HGU-nya itu, yang mana
ada juga proses (prosedur) penerbitan perpanjangan SK. HGU PTPN-IV dan HGU
baru :
a. HGU yang akan berakhir masa berlakunya, pemegang hak dapat segera
mengajukan permohonan perpanjangan HGU ke Kanwil BPN Sumut untuk
diteruskan ke BPN RI di Jakarta.
b. Setelah SK. HGU diterbitkan oleh BPN RI PTPN-IV sebagai penerima hak
diwajibkan mendaftarkan ke BPN Kabupaten dengan memenuhi kewajiban
sesuai yang tertulis di SK. HGU, sehingga BPN Kabupaten setempat dapat
segera menerbitkan sertifikat HGU.2
Pada umumnya perusahaan-perusahaan perkebunan di Sumatera Utara
mempunyai sejarah panjang sejak zaman Belanda. Pada awalnya keberadaan
perkebunan ini merupakan milik Maskapai Belanda yang dinasionalisasi pada tahun
1959, dan selanjutnya berdasarkan kebijakan pemerintah telah mengalami beberapa
2
kali perubahan organisasi sebelum akhirnya menjadi PT Perkebunan Nusantara IV
(Persero).
Secara kronologis riwayat PT Perkebunan Nusantara IV (Persero), dapat
disajikan sebagai berikut :3
1. Tahun 1959, Tahap Nasionalisasi
Perusahaan-perusahaan swasta asing (Belanda) seperti NV HVA ( Namblodse
Venotschaaf Handels Vereeniging Amsterdam) dan NV RCMA ( Namblodse
Venotschaaf Rubber Cultuur Maatschappij Amsterdam) pada tahun 1959
dinasionalisasi oleh Pemerintah RI dan kemudian dilebur menjadi Perusahaan
Milik Pemerintah atas dasar Peraturan Pemerintah (PP) No. 19.
2. Tahun 1967, Tahap Regrouping I
Pada tahun 1967-1968 selanjutnya Pemerintah melakukan regrouping menjadi
Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) Aneka Tanaman, PPN Karet dan PPN
Serat.
3. Tahun 1968, Tahap Perubahan menjadi Perusahaan Negara Perkebunan (PNP)
Dengan Kepres. No. 144 tahun 1968, Perusahaan Perkebunan Negara (PPN)
yang ada di Sumatera Utara dan Aceh di regrouping ulang menjadi PNP I s.d.
IX
3
4. Tahun 1971, Tahap Perubahan menjadi Perusahaan Perseroan
Dengan dasar Peraturan Pemerintah tahun 1971 dan tahun 1972, Perusahaan
Negara Perkebunan (PNP) dialihkan menjadi Perusahaan Terbatas Persero
dengan nama resmi PT Perkebunan I s.d. IX (Persero).
Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perkebunan VI didirikan berdasarkan
Peraturan Pemerintah Nomor 28 tahun 1971, Perusahaan Perseroan (Persero)
PT Perkebunan VII didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 29
tahun 1971 dan Perusahaan Perseroan (Persero) dan PT Perkebunan VIII
didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 5 tahun 1972.
5. Tahun 1996, Tahap Peleburan menjadi PTPN
Berdasarkan Peraturan Pemerintah pada tahun 1996, semua PTP yang ada di
Indonesia diregrouping kembali dan dilebur menjadi PTPN I s.d. XIV dan PT
Perkebunan Nusantara IV dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 9 tahun 1996 tanggal 14 Februari 1996 tentang
Peleburan Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perkebunan VI, Perusahaan
Perseroan (Persero) PT Perkebunan VII dan Perusahaan Perseroan (Persero)
PT Perkebunan VIII menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perkebunan
Nusantara IV.
PT Perkebunan Nusantara IV merupakan hasil peleburan dari 3 (tiga)
Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perkebunan VI, Perusahaan Perseroan (Persero)
PT Perkebunan VII, dan Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perkebunan VIII yang
VII dan PTP VIII yang ada di luar Sumatera Utara diserahkan kepada PTPN yang
dibentuk di masing-masing Propinsi.
PT Perkebunan Nusantara IV (Persero) didirikan di Bah Jambi, Simalungun,
Sumatera Utara berdasarkan Akta Pendirian No. 37 tanggal 11 Maret 1996 dari Harun
Kamil, SH., Notaris di Jakarta dan telah mendapat pengesahan Menteri Kehakiman
Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. C2-8332.HT.01.01 tahun 1996
tanggal 8 Agustus 1996 dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik
Indonesia No. 81 tanggal 8 Oktober 1996, Tambahan No. 8675/1996, serta telah
didaftarkan pada Kantor Pendaftaran Perusahaan Tingkat I Sumatera Utara c.q. Dinas
Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Simalungun No. 001/BH.2.15/ IX/1996
tanggal 16 September 1996 dan telah diperbaharui dengan Nomor 07/BH/0215/
VIII/01 tanggal 23 Agustus 2001.
Anggaran Dasar Perusahaan telah diubah berdasarkan Akta No. 18 dari
Notaris Sri Rahayu H. Prasetyo, SH. tanggal 26 September 2002, tentang tempat
kedudukan Kantor Pusat (dari Bah Jambi Kabupaten Simalungun ke Medan) dan
Modal Dasar Perusahaan dari 425.000 lembar saham prioritas dan 550.000 lembar
saham biasa yang ditempatkan dan disetor penuh menjadi 975.000 lembar saham).
Akta perubahan anggaran dasar ini telah disetujui oleh Menteri Kehakiman dan Hak
Asasi Manusia Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. C-20652.HT.01.04.
tahun 2002 tanggal 23 Oktober 2002.
Selanjutnya sejarah tanah PTPN-IV yang dikaji pada zaman Jepang tersebut
bahan makanan untuk balatentara Jepang dan rakyat. Harus diketahui bahwa
Sumatera Timur sejak dahulu tidak pernah swasembada pangan.
Akibat daripada pendudukan rakyat atas areal perkebunan tersebut maka
timbullah beberapa peristiwa di daerah Sumatera Timur berikut dikeluarkannya
beberapa peraturan bagi penyelesaiannya antara lain ialah :
1. Undang-undang Darurat No. 8/1956 dan Undang-undang No. 51/Prp/1960, telah
meletakkan dasar-dasar penyelesaian dari tanah-tanah perkebunan yang telah
diduduki rakyat.
2. Surat Edaran dari Menteri Agraria No. Sekra 9/2/4 tanggal 4 Mei 1962,
menyebutkan beberapa kebijaksanaan yakni :
a. tanah perkebunan/kehutanan dan tanah-tanah lain yang langsung dikuasai oleh
Negara yang telah dipakai untuk kepentingan Pemerintah misalnya untuk
perluasan kota, bangunan pemerintah, lapangan olahraga untuk umum dan
sesamanya itu supaya tetap terjamin.
b. tanah-tanah perkebunan/kehutanan dan lain-lainnya yang dikuasai langsung
oleh Negara, yang telah diduduki rakyat untuk perumahan/perkampungan agar
tetap terjamin baik pun perumahan/perkampungan itu tetap di tempat
masing-masing, maupun di kelompok-kelompok demikian rupa hingga merupakan
perkampungan yang teratur baik, dengan usaha penukaran/penggantian tanah
yang lain agar kompleks tersebut tidak terganggu satu sama lain.
c. tanah-tanah perkebunan/kehutanan dan tanah-tanah lain yang langsung
yang ditanami bahan makanan, jangan diadakan perobahan sebelum
tanamannya di panen; apabila tanah-tanah tersebut memang masuk rencana
perluasan perkebunan/kehutanan lagi, maka pelaksanaannya agar ditempuh
jalan kebijaksanaan melalui musyawarah antara pihak-pihak yang
bersangkutan untuk membentuk unit-unit yang ekonomis bagi perkebunan/
kehutanan dan untuk mencarikan kemungkinan tempat-tempat lain bagi
rakyat.
d. tanah-tanah perkebunan/kehutanan dan tanah-tanah lain yang dikuasai
langsung oleh Negara dan telah digarap oleh rakyat, lagi pula tidak akan
dipergunakan lagi oleh pemerintah cq. Instansi yang berkepentingan, pada
dasarnya akan dijadikan tanah pertanian dan dibagikan kepada rakyat yang
mengerjakan sendiri tanah-tanah tersebut demi untuk meningkatkan produksi
pertanian rakyat sambil memperbaiki sosial ekonominya.
e. Mengingat hal yang tersebut pada ayat d) di atas perlu meninjau kembali areal
tanah-tanah yang dipakai dan yang dipakai oleh instansi
perkebunan/kehutanan agar semua tanah penggunaannya (land use) dilakukan
secara tepat dan sesuai dengan kepentingan nasional.
Di dalam zaman Jepang perkebunan tetap berproduksi, namun tidak seluas
seperti sebelum perang oleh karena pasaran tidak lagi luas.
Antara tahun 1945 hingga 1950 disaat perang kemerdekaan, perkebunan
praktis tidak dapat berfungsi dengan baik dan penyelesaian dari pada tanah-tanah
rencana untuk mengatur kembali penggunaan tanah-tanah tersebut oleh karena ada
juga sementara perkebunan yang telah habis masa konsesinya.
Hal ini juga disinggung dalam Surat Edaran Menteri Dalam Negeri nomor H/
4/6/18 tanggal 10 Juli 1950 tentang non uses-clausule tentang tanah-tanah hak erfacht
yang sudah atau akan habis masanya yang tidak tegas oleh karena hanya memberikan
kesempatan kepada perusahaan perkebunan yang sudah berakhir tahun 1970 diberi
kesempatan untuk diperpanjang hingga 8 tahun saja.
Memang kita belum mempunyai policy yang tegas terhadap perkebunan ini,
sehingga akibatnya tidak ada lagi semangat untuk melakukan new planting atau
replanting perkebunan ataupun menanamkan modal yang lebih besar di perkebunan
tersebut. Ketidak pastian ini mengundang juga okupasi liar tanah-tanah perkebunan.
Demikian pula tumbuhnya organisasi tani yang sangat dipengaruhi oleh udara politik
telah mempercepat proses okupasi liar tanah-tanah tersebut.
Pedoman Menteri Agraria tanggal 5 Februari 1962 tentang syarat-syarat dan
ketentuan-ketentuan pemberian HGU atas tanah perkebunan besar bekas konsesi,
erfacht di daerah propinsi Sumatera Utara telah menyatakan bahwa yang
dikecualikan dari pemberian HGU adalah :
1. tanah yang sudah merupakan perkampungan rakyat,
2. tanah yang telah diusahakan oleh rakyat secara menetap,
3. tanah yang diperlukan oleh pemerintah.4
4
Setelah kita membahas mengenai seluk-beluk/ sejarah singkat PTPN-IV
Medan tersebut di atas, barulah dapat ditinjau mengenai permasalahan tuntutan
masyarakat atas areal HGU tersebut.
Dengan mana beberapa tahun belakangan ini, jelasnya sejak era reformasi
tahun 2000 banyak kedengaran kasus-kasus tanah Indonesia, khususnya di
lingkungan BUMN Perkebunan terutama tuntutan masyarakat di lingkungan HGU
PTPN-IV, dengan memanfaatkan situasi reformasi masyarakat menggugat areal HGU
dengan cara tuntutan dan menggarap areal HGU.5 Oleh karena itu, masyarakat sekitar
kebun di wilayah PTPN-IV ingin menuntut PTPN-IV agar mengembalikan sebagian
areal yang diusahakan tersebut.
Yang mana dasar tuntutan masyarakat adalah :
1. Bahwa penyelesaian ganti-rugi lahan (tanah) garapan dilakukan secara paksa dan
intimidasi.
2. Penyelesaian ganti-rugi tidak sesuai dengan harga pasaran setempat.
3. Bahwa penguasaan lahan oleh masyarakat berdasarkan Kartu Registrasi
Penggarapan Tanah yang didukung Undang-undang Darurat No. 8 Tahun 1958.
Tetapi masalah Okupasi lahan PTPN-IV yang merupakan masalah yang timbul
secara terus-menerus hampir semua mempunyai masalah di lahan perkebunan,
yang spesifikasinya untuk lahan PTPN di dalam problemanya itu tidak ada
perbedaan tuntutan masyarakat terhadap HGU di PTPN-IV.
5
Disamping itu, menurut Peraturan Pemerintah No. 8 tahun 1953 Lembaran
Negara No. 14 tahun 1953 dimaksudkan dengan tanah negara ialah semua
tanah-tanah bebas dari hak-hak perseorangan baik berdasarkan hukum adat maupun hukum
barat dinyatakan vryland domein yaitu tanah yang dimiliki dan dikuasai sepenuhnya
oleh negara yang disebut dengan tanah negara.
Namun menurut dari PP No. 8 tahun 1953 dirubah menjadi “tanah yang
dikuasai langsung oleh negara”. Bahwa atas dasar ketentuan dalam pasal 33 ayat 3
Undang-undang Dasar 1945. Bumi, air, ruang angkasa termasuk kekayaan alam yang
terkandung didalamnya “dikuasai” oleh negara (Pasal 2 ayat (1) ) untuk mencapai
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat (Pasal 2 ayat (3) Undang-undang Pokok
Agraria) bahwa istilah “dikuasai” menurut Undang-undang Pokok Agraria bukan
berarti “dimiliki”. Istilah “dikuasai” berarti bahwa negara diberikan wewenang untuk
mengatur sesuatu yang berkenaan dengan tanah. Tegasnya “Kekuasaan” ini mengenai
baik tanah-tanah yang sudah dimiliki oleh seseorang maupun yang belum dimiliki.
Artinya bukan saja tanah-tanah yang sudah dipegang oleh orang-orang lain juga
dibawah kekuasaan negara. Khusus kekuasaan negara mengenai tanah yang sudah
dipegang oleh seseorang dengan sesuatu hak dibatasi oleh isi dari hak itu sedangkan
atas tanah yang tidak dipunyai oleh seseorang adalah lebih penuh dan luas.6
Tanah-tanah tersebut oleh negara dapat diberikan kepada seseorang atau
badan-badan hukum dengan sesuatu hak tertentu (misalnya Hak Milik, Hak Pakai,
6
Hak Sewa, Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan, dan lain-lain). Penguasaan dari
negara ini didelegasikan kepada suatu badan pengusaha (departemen/jawatan atau
daerah swatantra dan lain-lain) untuk pengelolaannya. Demikian kita lihat dalam
Pasal 24 Undang-undang Pokok Agraria yang berbunyi hak menguasai dari negara,
pelaksanaannya dapat dikuasakan kepada daerah-daerah swatantra dan masyarakat
adat sekedar diperlukan dan tidak bertentangan dengan kepentingan nasional. Disini
kita kenal asas otonomi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yang tentunya
kepentingan nasional tidak boleh dikurangi.
Sejalan dengan ini maka kita kenal Undang-undang No. 51 PP tahun 1960 L.
N. No. 158/1960 tentang “Larangan pemakaian tanah tanpa izin yang berhak atau
kuasanya”. Dari UU ini penguasa daerah dapat mengambil tindakan untuk
menyelesaikan pemakaian tanah yang bukan perkebunan dan bukan tanpa izin yang
berhak. Dengan hak-hak “menguasai” maka negara berwenang untuk :
1. Mengatur dan menyelenggarakan; peruntukkan, penggunaan, penyediaan, dan
pemeliharaan, bumi, air, ruang angkasa.
2. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang
dengan bumi, air, dan ruang angkasa.
3. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dan
perbuatan-perbuatan hukum mengenai bumi, air, dan ruang angkasa.
Pada masa pendudukan penjajahan banyak instansi-instansi pemerintah diberi
kekuasaan penuh untuk mengatur sendiri akan kebutuhan tanah. Akibatnya banyak
dipergunakan untuk keperluan yang menyimpang atau berpindah hak dari satu
instansi ke instansi lainnya tanpa prosedur. Bahkan banyak pula tanah-tanah negara
menjadi terlantar dan diperjualbelikan. Inilah salah satu yang menjadi pertimbangan
PP No. 8/1953 yaitu larangan pemakaian tanah tanpa izin yang berhak. Namun
demikian PP No. 8/1953 memberikan kesempatan terutama kepada pemerintah
daerah dimungkinkan pemberian tanah untuk keperluan perumahan rakyat, yang
harus dengan harga murah yang nantinya dapat menjadi hak milik rakyat sendiri.
Penyelesaian problem-problem tanah yang timbul selama masa pendudukan darurat
prinsip bahwa semua tanah-tanah yang diambil pemerintah dikembalikan kepada ahli
warisnya dengan ketentuan para ahli waris harus mengembalikan pembayaran
ganti-rugi yang telah pernah diberikan pemerintah pada waktu pengambilan tanah tersebut.
Dalam hal ini dikecualikan bila pemilik atau ahli waris tidak bersedia lagi, maka
tanah-tanah tersebut dapat diberikan kepada pihak ketiga lainnya karena dianggap
telah menjadi/dikuasai langsung oleh negara. Terhadap pengambilan tanah-tanah
yang tercatat dengan hak-hak barat (hak eigendom, opstal, erfacht) yang diambil
dengan pembayaran ganti rugi oleh pemerintah maka sebelum/selama tidak pernah
balik nama (masih tetap nama semula) dari hak-hak barat tersebut maka tanah-tanah
tersebut tidak dapat menjadi tanah negara. Bila sebelumnya telah ada pelaksanaan
balik nama, maka barulah tanah menjadi tanah milik negara. Dalam hal tanah telah
dipergunakan bagi kepentingan umum maka tidak ada keharusan untuk
Disamping itu juga, pendudukan tanah secara liar dapat kita membatasi diri
hanya yang berhubungan dengan Undang-undang No. 51/1960 Junto No. 1/1961 L.
N. No. 3 tahun 1961 yaitu larangan pemakaian tanah tanpa izin yang berhak atau
kuasanya.
Dalam Undang-undang Pokok Agraria/1960 masalah ini dibatasi hanya
kepada urgensi dari Undang-undang Pokok Agraria saja sebagaimana yang dimaksud
dalam pasal 24 Undang-undang Pokok Agraria yang dihubungkan pula pada Pasal 27,
34, 40 Undang-undang Pokok Agraria. Yang menjadi pertimbangan dikeluarkannya
undang No. 51 PP tahun 1960 ini antara lain adalah rangkaian dari
Undang-undang No. 8 Darurat tahun 1954 yaitu tentang pemakaian tanah perkebunan oleh
rakyat, yang disusul dengan Perpu No. 011 tahun 1958 yang dikeluarkan oleh Kepala
Staf Angkatan Darat selaku Penguasa Perang Pusat tentang larangan pemakaian tanah
tanpa izin pemiliknya atau kuasanya.
Oleh Undang-undang Darurat No. 8 tahun 1954 penggarap-penggarap tersebut
dibagi atas 2 bagian :
1. Kelompok penggarap yang dilindungi (penggarap yang telah ada dan benar-benar
dipergunakan sebelum keluarnya Undang-undang Darurat No. 8/1954).
2. Kelompok yang tidak dilindungi UU (penggarap-penggarap liar setelah keluarnya
Undang-undang Darurat No. 8/1954).
Dimana pemerintah menyadari bahwa masalah tanah garapan ini tidak akan
terselesaikan dengan pemecahan soal tanah perkebunan itu saja walaupun diakui
erosi dan lainnya serta saling rebutan yang menimbulkan korban/bentrokan antar
golongan.
Akan tetapi, pemerintah menaruh perhatian akan kebutuhan penduduk pada
perumahan, cocok tanam dan lain-lain yang dipertimbangkan untuk pembangunan
negara, penggunaan tanah haruslah dilakukan secara teratur. Pemakaian tanah secara
tidak teratur terlebih-lebih melanggar norma-norma hukum jalan menghambat
rencana pembangunan diberbagai lapangan. Pemerintah menyadari lagi bahwa
pemecahan masalah pemakaian tanah secara tidak sah memerlukan tindakan dalam
lapangan yang lebih luas yang bermacam-macam aspek yang tidak saja terbatas pada
bidang agraria dan pidana melainkan juga mengenai lapangan sosial, perindustrian,
transmigrasi dan lain-lainnya, namun demikian pemerintah perlu mengambil tindakan
tegas/keras untuk mencegah meluasnya pembuatan yang jelas-jelas melanggar hukum
sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 3 Undang-undang No. 51 Prp. Tahun 1960
yaitu penguasa daerah dapat mengambil tindakan untuk menyelesaikan pemakaian
tanah yang bukan perkebunan dan bukan hutan tanpa izin yang berhak atau kuasanya
yang sah. Tindakan pemerintah juga tidak selamanya dilakukan dengan penentuan
pidana seperti hal dalam masalah perkebunan. Dalam Pasal 5 Undang-undang No. 51
PP tahun 1960 disebutkan bahwa Pemakaian tanah-tanah perkebunan dan hutan yang
menurut Undang-undang Darurat No. 8/1954 harus diselesaikan menurut
ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh Menteri Agraria dengan memperlihatkan rakyat
pemakai tanah yang bersangkutan, kepentingan penduduk lainnya di daerah tempat
Tegasnya tahap pertama harus mengadakan musyawarah dengan pihak yang
bersangkutan.
Dalam menempuh prosedur musyawarah inilah kadang-kadang membawa
kepada hal-hal yang diluar jangkauan musyawarah sehingga sampai kepada
batas-batas harus diambil suatu tindakan-tindakan yang tegas untuk pengosongan tanah
garapan tersebut. Hal ini juga dijelaskan dalam Pasal 27, 34, dan 40 Undang-undang
Pokok Agraria yaitu Hak Milik, Hak Guna Bangunan, Hak Guna Usaha hapus jika
tanahnya diterlantarkan.
Dari areal seluas 175.366,65 Ha yang diusahai secara juridis oleh PTPN-IV
terdapat permasalahan dengan masyarakat seluas 9.311,50 Ha yang terdiri dari :7
a. Sengketa (dikuasai diusahai secara juridis dan de facto) seluas : 3.977,00 Ha
b. Okupasi (dikuasai masyarakat) seluas : 5.334,50 Ha
Dengan demikian bahwa dengan berakhirnya HGU di Sumut, bukan
legitimasi pembagian lahan8 maka masyarakat bebas mengklaim eks HGU itu sebagai
hak rakyat untuk diokupasi.
Akan tetapi, peraturan-peraturan tersebut tidak ada yang bertujuan untuk
menyengsarakan rakyat tetapi tetap untuk mengatur dan mensejahterakan rakyat
terhadap yang berkaitan dengan hak atas tanah untuk HGU. Oleh karena itu jika ada
HGU yang berakhir jangka waktunya, dan kita berkehendak atas eks areal HGU itu,
sedang oleh pemerintah tidak diberikan lagi perpanjangan HGU-nya, bukanlah
7
Data dari Progress Report PTP Nusantara IV (Persero), tanggal 01 Juli 2009 8
diambil alih oleh rakyat begitu saja, tapi sebaliknya harus berdasarkan aturan hukum
yang ditetapkan.
Maka setiap HGU yang sudah diatur oleh hukum harus dikembalikan
berdasarkan hukum, manakala rakyat berkehendak untuk memperoleh tanah eks
HGU haruslah berdasarkan hukum, sehingga masa depan HGU tidak
menyengsarakan rakyat kita sendiri hanya karena kehendak jangka pendek dan
pengaruh kehendak tertentu lalu atas nama tertentu itu kita dengan tidak disadari telah
memberi andil dalam memperlambat perbaikan ekonomi negara yang kondisinya
nyaris bangkrut ini.
Menurut aturan yang ada HGU ini diberikan atas tanah yang langsung
dikuasai oleh negara, bila sebelumnya ada hak diatasnya maka yang memohon HGU
itu haruslah menyelesaikan hak itu terlebih dahulu dengan pemiliknya, sehingga
HGU yang dimohon itu dapat diberikan oleh negara. Dengan demikian sebenarnya,
tidaklah mungkin di atas tanah HGU ada tanah milik orang lain.
Disamping itu, kita dapat memperhatikan beberapa kasus yang menonjol
dalam HGU, yang mana selalu dipertentangkan antara pemegang HGU dengan
rakyat, ini tidak lain karena perkembangan jumlah penduduk yang menuntut tanah
untuk mendukung kehidupannya semakin lama semakin banyak, sementara rakyat
melihat dalam areal HGU merupakan tanah yang bisa digarap, apalagi berdekatan
dengan perkampungan penduduk atau pusat kehidupan aktivitas manusia, banyak
Sementara kalaupun terjadi, salah satu sebab hapusnya HGU misalnya jangka
waktunya berakhir, maka tidak ada alasan tanah eks HGU menjadi tanah yang
dikuasai oleh rakyat. Akan tetapi bila HGU hapus maka tanahnya akan jatuh menjadi
tanah yang dikuasai langsung oleh negara.
Yang mana kenyataan di masyarakat, bahwa ada rakyat yang mengklaim
tanah areal HGU yang dulunya diberikan oleh negara dinyatakan sebagai hak ulayat
masyarakat, walaupun bukan atas nama persekutuan hukum, meminta kembali tanah
mereka yang dulunya sebagai areal HGU.
Namun ada ketentuan yang tegas menyatakan bahwa tanah yang berakhir
HGU-nya jatuh kepada negara bukan dibagikan kepada rakyat, kecuali memang ada
“political will” pemerintah untuk membagikan eks tanah HGU tersebut kepada rakyat
(dilandreformkan) dan pemberian hak ini oleh negara disebut sebagai suatu “royal
grant”.
Walaupun dengan berkembangnya tuntutan masyarakat yang menekan
pemerintah untuk membagikan tanah eks perkebunan kepada rakyat, namun
ketentuan hukum HGU tidak dapat membenarkan bahwa rakyat bebas mengusahakan
eks tanah HGU dengan sekehendak hatinya tanpa mengikuti prosedur hukum.
Jadi dengan demikian berakhirnya tanah HGU yang ada di Sumatera Utara
ini, tidak menimbulkan gejolak sosial dan memang benar-benar dalam rangka
meningkatan taraf hidup petani, dan bila tanah eks areal HGU diberikan sebagian
kepada rakyat, harus dengan ketentuan rakyat yang memperoleh tanah itu haruslah
suku setempat sehingga tanah itu nantinya benar-benar jatuh ke tangan yang
membutuhkan.
Namun menurut teori hukum itu adalah merupakan suatu keseluruhan
pernyataan yang saling berkaitan dan berkenaan dengan sistem konseptual
aturan-aturan hukum dan keputusan-keputusan hukum, yang untuk satu bagian penting
sistem tersebut memperoleh bentuk dalam hukum positif.9 Dilihat dari teori hukum,
maka aturan-aturan hukum dan keputusan yang telah ditetapkan oleh pemerintah
belum memenuhi konsepsi aturan-aturan hukum dan keputusan. Sehingga hukum
terutama dalam bidang pengaturan pemilikan dan penguasaan tanah dirasakan belum
memenuhi tuntutan dari masyarakat yang hidup pada era reformasi ini dengan
demikian konsep budaya hukum antara aparatur atau pemerintah dengan masyarakat
dalam rangka pengadaan tanah belum mempunyai persepsi yang sama.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka dapat dirumuskan
permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana latar belakang timbulnya masalah pertanahan mengenai Okupasi
diatas lahan HGU PTPN-IV tersebut ?
2. Bagaimana penyelesaian masalah pertanahan yang ditempuh oleh PTPN-IV
dalam menghadapi kasus permasalahan tuntutan masyarakat atas areal HGU
tersebut ?
9
3. Bagaimana hasil musyawarah PTPN-IV atas tuntutan masyarakat akan lahan
HGU PTPN-IV ?
C. Tujuan Penelitian
Bertitik tolak dari rumusan masalah di atas, maka tujuan yang hendak dicapai
dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui latar belakang timbulnya masalah pertanahan mengenai
Okupasi diatas lahan HGU PTPN-IV tersebut.
2. Untuk mengetahui penyelesaian masalah pertanahan yang ditempuh oleh
PTPN-IV dalam menghadapi kasus permasalahan tuntutan masyarakat atas areal HGU
tersebut.
3. Untuk mengetahui hasil musyawarah PTPN-IV atas tuntutan masyarakat akan
lahan HGU PTPN-IV.
D. Manfaat Penelitian
1. Secara Teoritis
Dengan adanya penelitian dapat membantu kita untuk lebih memperhatikan dan
berusaha untuk memberikan sumbangan pemikiran sesuai dengan kebenaran dan
fakta yang terjadi di lapangan.
2. Secara Praktis
Memberikan informasi dan pendapat juridis kepada berbagai pihak, baik kepada
pemerintah khususnya Badan Pertanahan Nasional dan pemerintah propinsi
masyarakat atas areal perkebunan khususnya atas areal HGU PT. Perkebunan
Nusantara-IV.
E. Keaslian Penelitian
Setelah dilakukan pengamatan terhadap tesis dan hasil penelitian yang ada di
perpustakaan Universitas Sumatera Utara, sepanjang yang diketahui belum ada suatu
penelitian yang membahas tentang Problematika Okupasi Liar Di Atas Lahan
Perkebunan Di Sumatera Utara : Studi Pada Areal Perkebunan PTPN-IV Medan (Tahun 2000-2009)
Pada tahun 2002, Dayat Limbong, Mahasiswa (S-2) PPS USU melakukan
penelitian (tesis) dengan judul “Alas Hak Tanah yang Dikuasai Rakyat Pada Areal
PTPN-II di Kabupaten Deli Serdang”, dengan permasalahan :
1. Bagaimanakah alas hak atas tanah yang dimiliki oleh rakyat penggarap atas areal
perkebunan PTPN-II di Kabupaten Deli Serdang
2. Bagaimanakah status/keabsahan alas hak atas tanah yang dimiliki oleh rakyat
penggarap pada areal perkebunan PTPN-II di Kabupaten Deli Serdang
3. Bagaimanakah upaya penanggulangan dalam mengatasi penyelesaian penguasaan
oleh rakyat penggarap atas areal perkebunan PTPN-II di Kabupaten Deli Serdang.
Begitu juga tahun 2005, Elfachri Budiman, Mahasiswa (S-2) PPS USU
melakukan penelitian (tesis) dengan judul “Tinjauan Hukum Terhadap Pengeluaran
Areal HGU dan pelepasan Asset Negara atas Tanah yang Dikuasai oleh PTPN-II”,
dengan permasalahan :
2. Bagaimanakah pelaksanaan pengeluaran areal HGU dan pelepasan asset Negara
atas tanah yang dikuasai oleh PTPN-II
3. Apa yang menjadi kendala dalam pengeluaran areal HGU dan pelepasan asset
Negara yang dikuasai oleh PTPN-II.
Begitu juga pula tahun 2003, Abdul Rahim, Mahasiswa (S-2) PPS USU
melakukan penelitian (tesis) dengan judul “Pola Penyelesaian Masalah Pertanahan
Pada Areal Perkebunan Di Sumatera Utara”, dengan permasalahan :
1. Bagaimana pola penyelesaian masalah pertanahan pada areal perkebunan yang
ditempuh oleh pemerintah
2. Bagaimana hasil yang diperoleh dalam penyelesaian masalah pertanahan pada
areal perkebunan
3. Bagaimana agar penyelesaian masalah pertanahan pada areal perkebunan dapat
dilaksanakan berdasarkan hukum dalam rangka kepastian hukum.
Kemudian juga tahun 2004, Rahmanuddin Rangkuti, Mahasiswa (S-2) PPS
USU melakukan penelitian (tesis) dengan judul “Pergeseran Pola Penguasaan Tanah
Di Kecamatan Kuala Kabupaten Langkat”, dengan permasalahan :
1. Bagaimana kondisi pergeseran pola penguasaan tanah di Kecamatan Kuala dalam
kaitannya dengan pelaksanaan amanah UUPA
2. Apa saja faktor-faktor penghambat penguasaan tanah di Kecamatan Kuala agar
pelaksanaannya sesuai amanah UUPA
3. Upaya apa yang dapat dilakukan agar penguasaan tanah tersebut sesuai amanah
Demikian juga tahun 2003, Syafruddin Kalo, Mahasiswa (S-3) PPS USU
Program Studi Ilmu Hukum melakukan penelitian (Disertasi) dengan judul “Studi
Mengenai Sengketa Pertanahan antara Masyarakat versus PTPN-II dan PTPN-III di
Sumatera Utara”, dengan permasalahan :
1. Mengapa terjadi sengketa penguasaan lahan antara masyarakat dan perkebunan di
PTPN-II dan PTPN-III
2. Mengapa sengketa yang terjadi atas penguasaan lahan antara masyarakat dan
perkebunan sulit diatasi dan selalu terulang lagi
3. Bagaimana kedudukan hak ulayat di Sumatera Utara dalam kasus pertanahan
antara masyarakat dan perkebunan dikaitkan dengan UUPA No. 5 tahun 1960
4. Bagaimana seharusnya penyelesaian sengketa tanah di perkebunan-perkebunan
Sumatera Utara dilakukan.
Sementara penelitian ini ditekankan pada Problematika Okupasi Liar Di Atas
Lahan Perkebunan Di Sumatera Utara khususnya yang terjadi pada areal Hak Guna
Usaha PT. Perkebunan Nusantara-IV Medan, beserta hasilnya dan menawarkan jalan
keluar penyelesaian dari permasalahan pertanahan yang terjadi pada areal perkebunan
tersebut. Dengan demikian penelitian ini benar-benar asli dan bukan hasil ciplakan
F. Kerangka Teori Dan Konsepsi 1. Kerangka Teori
Teori adalah untuk menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala spesifik
atau proses tertentu terjadi,10 dan satu teori harus diuji dengan menghadapnya pada
fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidakbenarannya.11 Kerangka teori adalah
kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, tesis mengenai sesuatu kasus atau
permasalahan (problem) yang menjadi bahan perbandingan, pegangan teoritis.12
Teori yang digunakan sebagai pisau analisis dalam tesis ini, sebagaimana
yang dikemukakan Effendi Perangin, bahwa hukum tanah adalah sebagai keseluruhan
peraturan-peraturan hukum, baik yang tertulis maupun tidak tertulis yang mengatur
hak-hak penguasaan atas tanah yang merupakan lembaga-lembaga hukum dan
hubungan hukum yang konkret.13
Berdasarkan pengertian di atas, kerangka hukum tanah kemudian dirasakan
tepat untuk mendefenisikan dan menguraikan peraturan hukum yang mengatur
hak-hak penguasaan atas tanah (areal HGU) antara pihak-hak masyarakat dengan pihak-hak
perkebunan PTPN-IV tersebut.
Salah satu pranata hukum yang termasuk dalam kerangka hukum tanah,
adalah yang sebagaimana telah dikemukakan bahwa kasus permasalahan tuntutan
10
J. J. J. M. Wuisman, dalam M. Hisyam, Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, Asas-Asas, FE-UI, Jakarta, 1996, h. 203.
11
Ibid., h. 3. 12
M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, CV. Mandar Maju, Bandung, 1994, h. 27. 13
masyarakat atas areal HGU tersebut tidak terlepas dari konteks kebijakan pemerintah
(orde baru, pada saat itu). Dimana struktur hukum pertanahan itu diatur dalam
Undang-undang Pokok Agraria (UUPA 5/1960) yang awalnya merupakan payung
hukum bagi kebijakan pertanahan di Indonesia menjadi tidak berfungsi dan bahkan
secara substansial terdapat pertentangan. Namun menurut Maria S. W. Sumardjono,
secara garis besar peta permasalahan tanah dapat dikelompokkan menjadi 5 :14
1. Masalah penggarapan rakyat atas tanah areal HGU pada areal Perkebunan
PTPN-IV
2. Masalah yang berkenaan dengan pelanggaran ketentuan tentang landreform
3. Ekses-ekses dalam penyediaan tanah untuk keperluan pembangunan
4. Sengketa perdata berkenaan dengan masalah tanah
5. Masalah yang berkenaan dengan hak ulayat masyarakat hukum adat
Namun di dalam UUPA No. 5 Tahun 1960 yang tersebut di atas adalah
sebagai bentuk UU baru tentang ketentuan pokok agraria yang dikenal dengan
UUPA, berlaku sebagai induk dari segenap peraturan pertanahan di Indonesia. UUPA
ini mengandung asas (prinsip) bahwa semua hak atas tanah dikuasai oleh negara, dan
asas bahwa hak milik atas tanah “dapat dicabut untuk kepentingan umum”. Kedua
prinsip tersebut dengan tegas telah dituangkan dalam Pasal 2 dan Pasal 18 UUPA.
14
Berdasarkan Pasal 2 UUPA ini negara menjadi pengganti semua pihak yang
mengaku sebagai penguasa tanah yang sah. Negara dalam hal ini merupakan lembaga
hukum sebagai organisasi seluruh rakyat Indonesia. Pemerintah sebagai lembaga
pelaksana UU negara dalam proses ini bertindak sebagai pihak yang melaksanakan
dan menerapkan ketentuan yang terdapat dalam Pasal 2 UUPA tersebut.
Adapun kekuasaan negara yang dimaksud itu mengenai semua bumi, air dan
ruang angkasa, baik sudah yang dimiliki dengan hak seseorang maupun tidak.
Kekuasaan negara mengenai tanah yang sudah dipunyai orang dengan suatu hak
dibatasi oleh isi dari hak itu, artinya sampai seberapa negara memberi kekuasaan
kepada yang mempunyai untuk menggunakan haknya, sampai disitulah batas
kekuasaan negara.15
Dengan demikian pemerintah menjadi pihak yang wajib dan berwenang
mengatasi dan menengahi sengketa hak penguasaan atas tanah yang muncul sekaligus
menjadi fasilitator bagi pihak-pihak yang terlibat dalam sengketa.
Berbagai kasus sering terjadi dalam masyarakat dengan berbagai masalah,
diantaranya yang paling menonjol adalah persoalan sengketa pertanahan antara
masyarakat versus perkebunan yaitu tentang penggarapan baik yang mempunyai izin
maupun penggarapan secara liar oleh masyarakat. Disamping itu penggusuran
masyarakat di atas tanah sengketa baik oleh pemerintah maupun oleh pihak
perkebunan baik secara paksa maupun ganti rugi tetapi bentuk dan besarnya ganti
rugi yang diberikan oleh perkebunan kepada rakyat dinilai tidak layak. Bahkan proses
15
ini banyak yang menjadikan rakyat lebih miskin dari sebelumnya, karena uang ganti
rugi itu tidak cukup untuk membeli lahan baru atau untuk mencari nafkah sesuai
dengan keadaan semula. Dengan demikian dari sudut ekonomi tindakan tersebut
sangat merugikan bagi rakyat. Rakyat terpaksa menyingkir dari lahan yang telah
dibebaskan untuk kepentingan tanaman perkebunan dan harus mencari lahan baru
yang tidak sesuai dengan tuntutan penanaman tanaman pangan mereka.
Konflik terjadi sejak dari konsesi perkebunan yang diberikan oleh
kesultanan/swapraja dan pemerintah kolonial pada perusahaan perkebunan. Tanah
konsesi tersebut pada dasarnya menyangkut hak ulayat masyarakat. Pemberian
konsesi kepada pengusaha perkebunan telah terjadi pada masa kesultanan dan masa
kolonial ini berlanjut dengan modifikasi hak konsesi menjadi hak erfacht. Kondisi
demikian diteruskan pula pada masa kemerdekaan, di mana tanah konsesi maupun
hak erfacht yang diberikan pada perkebunan yang berakhir masa berlakunya
dimodifikasi menjadi HGU. Dalam tiga periode tersebut sengketa pertanahan masih
berlangsung diantara pihak pengusaha perkebunan dengan masyarakat penunggu
maupun masyarakat penggarap.
Pola sengketa berkisar antara rakyat dan pemerintah atau rakyat dan
perkebunan (yang didukung oleh orang-orang pemerintah) mengenai penguasaan atas
tanah antara rakyat dengan pihak perkebunan serta kehutanan mengenai tanah
garapan antara rakyat dengan rakyat itu sendiri mengenai masalah kepemilikan,
manipulasi pejabat atau perantara-perantara yang menjadi kaki-tangan perusahaan
perkebunan sejak zaman kolonial.
Dalam praktek, penyelesaian masalah perkebunan itu ada yang diupayakan
dengan pemberian ganti rugi lahan oleh pihak perkebunan pada petani penggarap,
rakyat penunggu, maupun penggarap liar. Oleh pihak pemerintah ditempuh
penyelesaian dengan jalan melepaskan hak atas tanah atau membebaskan areal
perkebunan yang telah dikuasai penggarap dengan mengeluarkannya dari HGU atau
terhadap HGU yang telah habis masa waktunya tidak diberikan perpanjangan lagi,
kemudian lahan tersebut dibagi-bagikan oleh panitia kepada masyarakat penggarap.
Namun hal ini, tidak membawa hasil yang memuaskan bahkan sengketa tanah antara
pihak perkebunan versus rakyat penggarap terus berlanjut sampai saat ini.
Khususnya di Sumatera Utara, berdasarkan pemantauan, yang paling besar
presentasinya adalah sengketa masalah tanah. Tuntutan ini demikian derasnya di
wilayah Sumatera Utara, terutama di sektor perkebunan, lahan perkebunan menjadi
tumpuan penjarahan dan pendudukan dari para penggarap yang mengaku dirinya
petani.
Disamping itu juga, penguasaan tanah dilakukan oleh rakyat tanpa alas hak
yang sah dan dokumen kepemilikan tanah yang tidak lengkap. Maka dalam posisi
yang demikian pemerintah dihadapkan pada suatu keadaan yang dilematis. Keadaan
ini dapat melemahkan posisi pihak perkebunan yang membutuhkan tanah dan
berpotensi menimbulkan masalah, yaitu rakyat tidak memiliki bukti yang lengkap dan
belum bersertifikat, yang disebabkan oleh pandangan adat yang masih melekat pada
rakyat bahwa tanah merupakan hak milik komunal (hak ulayat), sehingga mereka
menganggap hak penguasaan otomatis melekat pada hak penghunian atas tanah
tersebut secara turun-temurun.
Pengaturan hak-hak penguasaan atas tanah dalam hukum tanah dibagi menjadi
dua (2) yaitu :
1. Hak penguasaan atas tanah sebagai lembaga hukum
hak penguasaan atas tanah ini belum dihubungkan dengan tanah dan orang atau
badan hukum tertentu sebagai pemegang haknya. Ketentuan-ketentuan dalam hak
penguasaan atas tanah, adalah sebagai berikut :
a. Memberi nama pada hak penguasaan yang bersangkutan;
b. Menetapkan isinya, yaitu mengatur apa saja yang boleh, wajib, dan dilarang
untuk diperbuat oleh pemegang haknya serta jangka waktu penguasaannya;
c. Mengatur hal-hal mengenai subjeknya, siapa yang boleh menjadi pemegang
haknya, dan syarat-syarat bagi penguasaannya;
d. Mengatur hal-hal mengenai tanahnya.
2. Hak penguasaan atas tanah sebagai hubungan hukum yang konkrit.
Hak penguasaaan atas tanah ini sudah dihubungkan dengan tanah tertentu sebagai
objeknya dan orang atau badan hukum tertentu sebagai subjek atau pemegang
Ketentuan-ketentuan dalam hak penguasaan atas tanah adalah sebagai berikut :
a. Mengatur hal-hal mengenai penciptaanya menjadi suatu hubungan hukum yang
konkrit, dengan nama atau sebutan hak penguasaaan atas tanah tertentu;
b. Mengatur hal-hal mengenai pembebanannya dengan hak-hak lain;
c. Mengatur hal-hal mengenai pemindahannya pada pihak lain;
d. Mengatur hal-hal mengenai hapusnya;
e. Mengatur hal-hal mengenai pembuktiannya.16
Namun, keadaan itu bukannya tidak diketahui oleh pihak yang memerlukan
tanah dalam hal ini perkebunan, tetapi dengan berbagai alasan untuk melaksanakan
usaha yang telah direncanakan tetap dilakukan penguasaan lahan. Akibatnya sulit
bagi pihak yang membutuhkan tanah untuk menentukan tentang keabsahan pemegang
hak penguasaan lahan yang diakui oleh rakyat.
Dimana konflik ini juga terjadi antara pemerintah dengan rakyat atau antara
rakyat dengan pihak perkebunan yang membutuhkan tanah, karena kurangnya
koordinasi antar instansi yang terkait di bidang pertanahan, misalnya : sebagai contoh
dapat kita ajukan Undang-undang Darurat Nomor 8 Tahun 1954 yang mengatur
tentang penyelesaian soal pemakaian tanah perkebunan oleh rakyat,17
Undang-undang Darurat Nomor 1 Tahun 1956 tentang perubahan dan tambahan atas
perubahan Undang-undang Darurat Nomor 8 Tahun 1954 mengenai penyelesaian soal
16
Boedi Harsono (I), Hukum Agraria Indonesia Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria, Isi dan Pelaksanaannya, Djambatan, Jakarta, 2003, h. 8.
17
pemakaian tanah perkebunan oleh rakyat,18 Undang-undang Nomor 28 Tahun 1956
tentang pengawasan terhadap pemindahan hak atas tanah-tanah perkebunan,19
Undang-undang Nomor 29 Tahun 1956 tentang peraturan-peraturan dan
tindakan-tindakan mengenai tanah-tanah perkebunan,20 Undang-undang Nomor 76 Tahun
1957 tentang perubahan Undang-undang Nomor 24 Tahun 1954 dan Undang-undang
Nomor 28 Tahun 1956,21 Undang-undang Nomor 51 Prp Tahun 1960 tentang
Larangan Pemakaian Tanah Tanpa Izin Yang Berhak atau Kuasanya,22 dan
Undang-undang Nomor 20 Tahun 1961 tentang pencabutan hak-hak atas tanah dan
benda-benda yang terletak di atasnya,23 dll.
Disamping itu, pemerintah mengeluarkan Undang-undang dan membuat
aturan mengenai Larangan Pemakaian Tanah Tanpa Izin Yang Berhak Atau
Kuasanya.24 Dan peraturan lain sebagai peraturan pelaksanaan. Untuk menertibkan
penggarap di areal perkebunan dan atau menentukan batas-batas tertentu yang
merupakan hak perkebunan. Tetapi apabila rekayasa sosial itu terlalu dipaksakan
maka akan terkesan sistem hukum itu terus-menerus memperbaharui dan
18
Undang-undang Darurat Nomor 1 Tahun 1956 Tentang Perubahan dan Tambahan Atas Perubahan Undang-undang Darurat Nomor 8 Tahun 1954 Mengenai Penyelesaian Soal Pemakaian Tanah Perkebunan Oleh Rakyat.
19
Undang-undang Nomor 28 Tahun 1956 Tentang Pengawasan Terhadap Pemindahan Hak Atas Tanah-tanah Perkebunan.
20
Undang-undang Nomor 29 Tahun 1956 Tentang Peraturan-peraturan dan Tindakan-tindakan Mengenai Tanah-tanah Perkebunan.
21
Undang-undang Nomor 76 Tahun 1957 Tentang Perubahan Undang-undang Nomor 24 Tahun 1954 dan Undang-undang Nomor 28 Tahun 1956.
22
Undang-undang Nomor 51 Prp Tahun 1960 Tentang Larangan Pemakaian Tanah Tanpa Ijin Yang Berhak atau Kuasanya.
23
Undang-undang Nomor 20 Tahun 1961 Tentang Pencabutan Hak-hak Atas Tanah dan Benda-benda Yang Terletak Di Atasnya.
24
memperbaiki. Sering sekali alokasi hukum berjalan sangat berlawanan, selain
merubah sesuatu, alokasi hukum bertindak sedemikian rupa menjaga atau berupaya
menjaga status quo agar tetap utuh. Jika para penggarap tanah di areal hukum, pada
saat yang sama berarti melindungi pihak perkebunan dengan demikian pemerintah
memelihara struktur ekonomi dan sosial masyarakat. Ini memberi kesan bahwa
hukum cenderung mendukung hak dan kepentingan pihak perkebunan, melawan hak
dan kepentingan masyarakat penggarap petani miskin yang lemah.
Sejalan dengan pendapat Lawrence Friedman tersebut yang mengatakan
bahwa segala aturan mengenai larangan pemakaian tanah tanpa izin yang berhak,
seyogyanya dapat merubah perilaku masyarakat untuk tidak melakukan perbuatan
melanggar hukum, dalam hal menggarap tanah perkebunan.25 Dengan demikian, jika
dianalisa dalam praktek pelaksanaannya, dapat dikatakan bahwa hukum yang telah
ada itu merupakan peraturan yang tidak dapat diterapkan, atau merupakan dead letter
(aturan yang tidak diterapkan lagi, tetapi belum dicabut). Sementara dikalangan
masyarakat, ada aturan berupa hukum yang hidup (living law) dalam sistem hukum
yang hidup seperti misalnya hukum adat.
Ketidakefektifan undang-undang larangan pemakaian tanah tanpa izin yang
berhak atau kuasanya, menimbulkan perbuatan okupansi ilegal terhadap di areal tanah
perkebunan. Menurut Friedman, bahwa ilegalitas cenderung mempengaruhi waktu,
sikap dan kuantitas ketidakpatuhan, jadi undang-undang mempunyai efek riil pada
25
perilaku termasuk perilaku pelanggar.26 Faktor yang mempengaruhi perilaku hukum
adalah komunikasi hukum dan pengetahuan hukum.27 Oleh karena itu aturan harus
dikomunikasikan dan seseorang harus mengetahui tentang isi aturan itu. Dalam hal
ini di setiap peraturan perlu dikomunikasikan dan disosialisasikan pada masyarakat.
Sehubungan dengan itu, dapat dianalisa bahwa berbagai peraturan
perundang-undangan yang dikeluarkan untuk mencegah terjadinya konflik dan sengketa, serta
melarang pemakaian tanah tanpa izin dari yang berhak, dan adanya polisi serta hakim
yang berusaha menegakkannya adalah merupakan contoh kontrol sosial dari
pemerintah untuk menyelesaikan sengketa pertanahan di Sumatera Utara.
Dalam larangan pemakaian tanah tanpa izin yang berhak, masyarakat
penunggu dan petani penggarap dilarang untuk menggarap tanah di areal perkebunan.
Aturan ini merupakan aturan yang sah. Namun hukum yang hidup dalam masyarakat,
membenarkan mereka untuk menggarap tanah di areal perkebunan, berdasarkan
ketentuan hukum adat mereka, yang memberikan kewenangan bagi mereka untuk
memungut hasil hutan dan bercocok tanam di daerah persekutuan hukum, yang
dikenal dengan hak ulayat.
Berdasarkan pendapat Lawrence Friedman tersebut, maka konteksnya dengan
konflik dan sengketa pertanahan di areal perkebunan, dengan peristiwa penggarapan
tanah yang dilakukan oleh rakyat penunggu dan petani penggarap, menimbulkan
interaksi tertentu diantara berbagai sistem hukum, tidak hanya undang-undang,
26
Ibid., h. 10. 27
peraturan, dan lembaga-lembaga yang termasuk dalam struktur hukum, tetapi yang
terpenting adalah mengenai perilaku dan budaya hukum dari masyarakat. Apakah itu
perilaku pengusaha-pengusaha perkebunan, dan masyarakat itu sendiri terhadap
hukum dan sistem hukum yang ada.28
Namun keberadaan dari semua peraturan tersebut di atas, ternyata tidak dapat
meredam terjadinya kasus pertanahan yang menimbulkan kegoncangan dalam
masyarakat. Dalam realita banyak terjadi konflik antara pemerintah dan rakyat atau
antara rakyat dengan pihak badan usaha perkebunan yang masing-masing pihak
membutuhkan tanah. Sengketa pertanahan ini kita jumpai hampir pada setiap daerah
perkebunan yang ada di Indonesia.
Dengan adanya berbagai peraturan dan kebijakan mengenai tanah yang telah
dikemukakan di atas, seharusnya dapat dijadikan patokan dalam dua hal yaitu: di satu
pihak peraturan itu merupakan landasan bagi pihak pemerintah untuk membuat
larangan pemakaian tanah tanpa izin yang berhak, sedangkan di lain pihak ia
merupakan suatu jaminan hukum bagi rakyat agar tidak diperlakukan
sewenang-wenang oleh pemerintah atau penguasa. Tetapi ternyata keberadaan peraturan itu
tidak dapat menjamin adanya perlindungan bagi rakyat dari tindakan
sewenang-wenang oleh pihak pemerintah.
Yang mana masalah mengenai penggarapan rakyat atas tanah-tanah bekas
perkebunan, tanah kehutanan, dan lain-lain, yang meliputi : status tanah yang digarap,
28
penguasaan de facto oleh rakyat, dan prinsip-prinsip penyelesaian sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.
Namun menurut Undang-undang Pokok Agraria (Undang-undang Nomor 5
tahun 1960) tidak mengatur adanya tanah garapan ini, karena tanah garapan bukanlah
status hak atas tanah. Dalam peraturan perundang-undangan terdapat istilah hukum
untuk tanah garapan ini yaitu : pemakaian tanah tanpa ijin pemilik atau kuasanya dan
pendudukan tanah tidak sah (onwettige occupatie), sedangkan jenis tanah garapan
dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) yaitu :
a.Tanah garapan di atas tanah yang langsung dikuasai oleh negara
(vrij landsdomein),
b.Tanah garapan di atas tanah instansi atau badan hukum milik pemerintah
c.Tanah garapan di atas tanah perorangan atau badan hukum swasta.
Disamping itu juga, dari uraian tersebut di atas adapun faktor penyebab
terjadinya masalah pertanahan sebagai berikut ;
Menurut pandangan Lutfi I Nasution juga menjelaskan bahwa konflik
pertanahan yang semula disebabkan adanya benturan kepentingan berkembang antara
lain berkaitan dengan :
1. nilai-nilai budaya;
2. adanya perbedaan penafsiran yang tidak sesuai dengan maksud dan tujuan
UUPA yang merupakan ketentuan dasar pertanahan yang berlaku di seluruh
3. adanya penyimpangan dalam implementasi peraturan pelaksanaan UUPA.29
Khusus masalah pertanahan pada areal perkebunan, hasil penelitian
menunjukan bahwa faktor penyebab terjadinya sengketa pertanahan tidak dapat
dilepaskan dari latar belakang historis itu maksudnya bahwa PTP pada waktu
mengelola lahan HGU mengambil lahan garapan secara paksa (intimidasi) menurut
pengakuan masyarakat, adanya konflik kepentingan antara perusahaan perkebunan,
masyarakat dan Pemerintah, tidak efektifnya hukum yang berlaku dan penyelesaian
konflik selaku dilakukan dengan pendekatan politik dan keamanan.
Akan tetapi dengan adanya teori dan konsep penguasaan tanah, serta larangan
pemakaian tanah tanpa izin yang berhak atau kuasanya. Berlaku di Indonesia baik
secara yuridis mapun hukum yang hidup dalam masyarakat (living law), berakibat
cenderung menimbulkan konflik pertanahan dalam masyarakat, bahkan konflik
tersebut cenderung sulit untuk diselesaikan. Kesulitan dalam penyelesaian konflik
sengketa atas tanah ini sangat rumit. Dalam hal ini penulis menggunakan teori Kelsen
tentang hubungan antara aturan hukum dan peran. Ada lima alasan yang
menyebabkan kesulitan dalam penyelesaian konflik:
1. Hukum mencakup aturan universal saja dan sistem hukum masih agak kabur dari
pengertian masyarakat sendiri.
2. Model ini hanya bermaksud mengungkapkan hukum yang diberikan oleh pembuat
UU kepada pemegang peran atas pelanggaran yang terkena sanksi.
29
3. UU yang disahkan berubah sejak saat pengundangannya baik melalui amandemen
formal maupun karena kepentingan birokrasi.
4. UU tidak dibuat oleh seorang penyusun UU namun berasal dari proses pembuatan
hukum yang melibatkan banyak peran dalam hubungan yang kompleks.
5. langkah-langkah untuk mencapai musyawarah bisa langsung ditujukan pada
pemegang peran dengan merubah batasan dan sumber daya lingkungan atau
persepsi pemegang peran tersebut, sehingga sanksi menjadi terlalu terbatas.30
Dengan melihat uraian tersebut, bisa ditarik kesimpulan bahwa ada tiga jalur
utama bagi penyelesaian konflik sengketa yang dilandasi dengan budaya hukum :
musyawarah, penerapan sanksi dan proses pengadilan. Pengertian musyawarah harus
dipisahkan dengan pengertian dari mufakat. Musyawarah menunjuk kepada
pembentukan kehendak bersama dalam urusan mengenai kepentingan hidup bersama,
dalam masyarakat yang bersangkutan sebagai keseluruhan, sedangkan mufakat
menunjuk kepada pembentukan kehendak bersama antara dua orang atau lebih,
dimana masing-masing berpangkal dari perhitungan untuk melindungi kepentingan
masing-masing sejauh mungkin.31 Dan di dalam permasalahan kasus tuntutan
masyarakat atas areal HGU tersebut pada areal perkebunan PTPN-IV yang dilakukan
dengan asas musyawarah untuk mufakat32 Dimana dalam pelaksanaan pembangunan
nasional yang sedang kita jalankan, kesadaran dan kerjasama yang baik, yang
30
Robert B. Seldman, The State, Law and Development, (New York: St. Martin’s Press, 1978), h. 74-75.
31
Ibid., h. 76. 32
mewujudkan dengan asas musyawarah dan mufakat dalam setiap mengambil
keputusan adalah suatu yang diperlukan. Sebab pembangunan nasional hanya dapat
terlaksana dengan baik dan membawa manfaat yang baik. Yang mana tanpa
membawa adanya suatu sikap/kondisi dan persepsi yang sama dalam memahami
hakikat dan tujuan pembangunan, maka pembangunan tersebut akan sulit mencapai
sasaran utamanya.
Penyelesaian sengketa pertanahan dalam areal konsesi perkebunan, yang
dilakukan oleh tiga orang penengah, pada dasarnya cukup ideal, jika dibandingkan
dengan penyelesaian melalui proses yudisial atau pengadilan secara legitasi. Proses
legitasi baru dipergunakan apabila telah dilakukan penyelesaian melalui tiga orang
penengah, atau sudah diupayakan negoisasi tetapi gagal, dan para pihak yang
bersengketa telah mengabaikan atau menolak negoisasi, maka proses penyelesaian
melalui pengadilan adalah jalan yang harus ditempuh, meskipun demikian, tetap ada
kemungkinan untuk mengadakan perdamaian, sebelum maupun sesudah adanya
keputusan hakim (vonis).
Negoisasi dalam penyelesaian sengketa pertanahan di Sumatera Utara,
berdasarkan penelitian dari kasus-kasus yang ada dapat disimpulkan, bahwa salah
satu pihak menganggap, bahwa mereka mempunyai hak yang sah terhadap tanah
sengketa, misalnya pihak pengusaha perkebunan menganggap bahwa mereka
mempunyai hak yang sah berupa HGU di atas tanah perkebunan. Sedangkan pihak
masyarakat menganggap bahwa mereka juga mempunyai hak yang sah terhadap
pihak untuk membawa penyelesaian sengketa melalui pengadilan, dengan harapan
bahwa mereka akan mendapatkan hasil yang lebih baik melalui proses pengadilan,
daripada negoisasi ataupun musyawarah.
Mengajukan suatu penyelesaian sengketa pertanahan melalui proses
pengadilan, adalah awal suatu proses pengalihan sengketa aktual, ke dalam suatu
kontes perlawanan yang dapat diselesaikan melalui sistem hukum.33 Hal ini berarti
proses pengadilan (legitasi), secara formal melakukan legalisasi sengketa, dengan
pengertian membuat kerangka konsep, bukti dan argumentasi legal, yang dapat
diproses oleh sistem hukum, melalui struktur dan substansi hukum, dalam sistem
hukum tersebut.
Jika proses ini dilakukan dalam upaya penyelesaian sengketa pertanahan di
Sumatera Utara, maka secara yuridis formal, posisi pihak perkebunan lebih kuat,
daripada posisi pihak petani penggarap. Karena secara yuridis formal, pihak
perkebunan dapat mengajukan bukti-bukti HGU yang sah. Sedangkan masyarakat
hanya mempunyai bukti-bukti berupa hukum yang tidak tertulis (hukum adat).
Terlebih lagi, apabila hakim ataupun penegak hukum yang mengadili, hanya
berorientasi pada aliran positivisme yang legalistik, yang ditafsirkan sering
berdasarkan hukum barat (BW-KUHPerdata), yang pada dasarnya sangat
bertentangan dengan sistem hukum adat yang hidup dalam masyarakat.
33