KONSEPSI MASYARAKAT TENTANG BERSIH
(Studi Deskriptif di Bantaran Rel Kereta Api dari Jalan Bambu II sampai Jalan Karantina)
SKIRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana
D I S U S U N
O L E H : NAGA SAKTI
040905019
DEPARTEMEN ANTROPOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
HALAMAN PERSETUJUAN
Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan :
Nama : Naga Sakti NIM : 040905019 Departemen : Antropologi
Judul : Konsepsi Masyarakat Tentang Bersih
(Studi Deskriptif di Bantaran Rel Kereta Api dari Jalan Bambu II sampai Jalan Karantina)
Medan, April 2011
Dosen Pembimbing Ketua Departemen
(Drs. Agustrisno, MSP) (Dr. Fikarwin Zuska, MA) NIP. 19600823 1987021 001 NIP. 19621220 1989031 005
Dekan FISIP USU
HALAMAN PENGESAHAN
Skripsi ini telah dipertahankan di depan Sidang Panitia Ujian Skripsi Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara oleh :
Nama : Naga Sakti NIM : 040905019 Departemen : Antroplogi
Judul : Konsepsi Masyarakat Tentang Bersih
(Studi Deskriptif di Bantaran Rel Kereta Api Jl. Bambu II Kelurahan Durian)
Pada ujian Komprehensif/Meja Hijau yang dilaksanakan pada :
Hari :
Tanggal : Tempat :
Ketua Penguji : Drs. Irfan Simatupang, M.Si ( )
Penguji I : Dra. Sabariah Bangun, M.Soc.Sc ( )
Penguji II : Drs. Agustrisno, MSP ( )
PERNYATAAN ORIGINALITAS
Saya menyatakan bahwa yang tertulis dalam skripsi ini adalah benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau hasil penelitian atau tulisan orang lain atau hasil pemberitaan media massa yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik penulisan karya ilmiah.
Medan, 14 Maret 2011
ABSTRAK
KONSEPSI MASYARAKAT TENTANG BERSIH
(Studi Deskriptif di Bantaran Rel Kereta Api dari Jalan Bambu II sampai Jalan Karantina)
Nama : Naga Sakti
NIM : 040905019
Dosen Pembimbing : Drs. Agustrisno, MSP
Masalah-masalah kebersihan merupakan topik yang selalu menarik untuk dibicarakan selama masalah ini belum bisa diatasi dengan baik. Maslah kebersihan kota adalah maslah yang sangat panas untuk dibahas, sebab kota adalah wilayah yang paling banyak dihuni oleh beragam jenis manusia, mulai dari manusia yang paling berpendidikan sampai pada manusia yang “tidak berpendidikan”, mulai dari yang paling kaya sampai pada yang paling miskin.
Skirip ini akan mengungkap bagaimana pemikiran-pemikiran yang ada di masyarakat bantaran rel kereta api Jl. Bambu II sampai Jl Karantina tentang apa yang disebut dengan bersih. Disini akan diungkapkan bagaimana pendapat masyarakat yang diteliti tentang kebersihan. Dalam istilah yang lebih universal bahwa yang diteliti disini adalah konsep masyarakat.
Peneletian tentang konsep ini tidaklah sekedar menanya pendapat informan saja, lebih dari itu disini juga diungkapkan bagaimana aktivitas-aktivitas yang mereka lakukan terkait masalah kebersihan. masalah
Dalam BAB I akan dibahas tentang latar belakang pengangkatan masalah ini oleh penulis, masalah-masalah yang akan diungkap, tujuan dilaksanakan penelitian ini, lokasi penelitian, kemudian tentang tinjauan pustaka serta metode penelitiannya.
BAB II isinya adalah tentang gambaran umum yang akan diteliti, yakni menyangkut masalah-masalah administrative serta keadaan sosial masyarakat yang akan diteliti.
BAB III akan menceritakan tentang kondisi dan aktivitas sosial masyarakat yang diteliti, selain itu disini juga diungkap sedikit tentang maslaha kebersihan yang menyangkut tanggung jawab dan peran serta pemerintah.
Pada BAB IV adalah berisi tentang bagaimana konsepsi masyakat tentang bersih. Disini akan dibahas secara menyeluruh bagaimana mereka membersih benda-benda yang mereka pakai setiap hari, disini juga akan diungkap bagaimana mereka memperoleh air dan makanan yang bersih dan tentang kategori kebersihan benda-benda tertentu yang mereka konsumsi.
UCAPAN TERIMA KASIH
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih yang
sedalam-dalamnya khususnya kepada Bapak Drs. Agustrisno, M.SP selaku pembimbing
dalam penulisan dan penyusunan skripsi ini, yang telah dengan sabar memberikan
bimbingan, saran, serta petunjuk sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.
Selanjutnya penulis juga mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Badaruddin, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Drs. Fikarwin Zuska, Ph.D, selaku Ketua Departemen Antropologi
FISIP USU
3. Bapak Drs. Yance, M.Si, selaku dosen wali yang telah memberikan
bimbingan, arahan serta motivasi untuk menyelesaikan studi saya dengan
secepatnya.
4. Kepala, Sekretaris, dan Kasi Trantib Umum Kelurahan Durian yang telah
memberikan izin penelitian dan bersedia untuk meluangkan waktunya bagi
peneliti baik pada waktu wawancara maupun saat mengambil data di
kantor kelurahan.
5. Ibundaku tercinta, ananda haturkan sujud sembah dan ucapan terima kasih
yang sedalam-dalamnya dan hanya Allah yang mampu membalas segala
pengorbananmu. Demikian juga kepada almarhum Ayahandaku, ananda
ucapkan ribuan terima kasih dan hanya Allah juga yang mampu membalas
segala perjuanganmu untuk ananda.
6. Kakak-kakak dan abang-abangku, kak Rosa dan suaminya, Kak Deli dan
suaminya, kak Tuti dan suaminya, bang Ginda dan istrinya yang selalu
mengejek aku selama ini karena terlalu lama kuliah, namun itu adalah
suatu semangat bagiku.
7. Teman-temanku antropologi Stambuk 2004, terkhususu untuk Ibnu
Tawakal dan yang lainnya saya ucapkan terima kasih. Kemudian untuk
Yenni Antro ‘05 yang sering membantu dan memberikan semangatnya.
8. Adinda-adindaku di PK IMM USU yang selalu memberikan semangat,
do’a dan ejekannya.
9. Teman-teman seperjuangan, abang-abang dan kakak-kakak di DPD IMM
SUMUT yang telah mengizinkan saya untuk mengutamakan penyusunan
skiripsi ini, dan juga atas motivasi dan do’a nya.
10.Anak-anak Harmonika 22 Gank Kost yang makin gaul, tapi makin
primitif, hehehe…
11.Istimewa buat adindaku tercinta Yunita, dialah orang yang paling berjasa
membantuku selama penyelesaian skiripsi ini, mulai dari penelitian di
lapangan, pengetikan, pengolahan data serta proses akhir skiripsi ini, dan
RIWAYAT HIDUP
Penulis adalah anak kesembilan dari sembilan bersaudara, hasil dari
pasangan (alm) Solly Harahap dan Nurhawa. Penulis lahir pada tanggal 08
Desember 1984 di Desa Morang, sebuah desa yang luas terletak di Kecamatan
Batangonang yang dulunya masih Kabupaten Tapanuli Selatan dan sekarang
menjadi bagian dari Kabupaten Padang Lawas Utara.
Penulis adalah tamatan dari Sekolah Dasar Negeri Napasibonca No.
142923 Desa Morang tahun 1998. Sedangkan pendidikan menengah pertama
ditempuh di Madrasah Tsanawiyah Negeri Peanonor Kecamatan Pahae Julu
Kabupaten Tapanuli Utara tamat tahun 2001, pendidikan menengah atas di
Madrasah Aliyah Negeri 1 Padangsidimpuan tamat tahun 2004. Kemudian tahun
2004 masuk di Universitas Sumatera Utara dengan mengambil Jurusan
Antropologi (sekarang Departemen Antropologi) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik.
Selain itu penulis juga aktif diberbagai organisasi luar kampus,
diantaranya adalah sebagai Ketua Bidang Hikmah Pimpinan Komisariat Ikatan
Mahasiswa Muhammadiyah (PK IMM USU) pada Periode 2006-2008, kemudian
menjadi Sekretaris Umum PK IMM USU tahun 2009. Pada Periode
2008-2010 sebagai Ketua Bidang Litbang PC GPII Kota Medan, dan tercatat sebagai
anggota LP2 (Lembaga Pendidikan dan Pengabdian) DPD KNPI Kota Medan
Periode 2009-2012, kemudian sebagai Sekretaris DPD IMM Sumatera Utara
KATA PENGANTAR
Puji Syukur ke khadirat Allah SWT atas rahmat dan nikmatnya sehingga
penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan skiripsi ini dengan baik.
Skiripsi ini dibuat untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar
sarjana ilmu sosial dalam bidang antroplogi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik.
Skiripsi ini berkjudul “Konsepsi Masyarakat Tentang Bersih (Studi
Deskriptif di Bantaran Rel Kereta Api dari Jalan Bambu II sampai Jalan
Karantina)”. Skiripsi ini menggambarkan tentang bagaimana konsepsi masyarakat
tentang “bersih”. Konsep ini bukanlah hanya sekedar pernyataan saja, tapi disini
juga diungkapkan tentang perilaku mereka dalam mengatasi masalah kebersihan,
termasuk bagaimana cara mereke membersihkan lingkungan mereka, sebab
perilaku sangat dipengaruhi oleh konsep seseorang terhadapa apa yang akan
dilakukannya. Lingkungan yang dimaksud disini adalah lingkungan rumahnya
saja, yakni tertiri dari bagian-bagian dalam rumah, halaman, belakang rumah, dan
lingkungan sekitarnya. Masyarakat yang diteliti adalah masyarakat yang memiliki
keterbatasan akan akses sarana kebersihan, ini disebabkan karena keberadaan
ekonomi masyarakat yang sangat memprihatinkan, maka mereka pun sangat sulit
untuk mengakses sarana-sarana kebersihan misalnya karena mereka tidak mampu
membayar dan membuka rekening PAM maka masyarakat pun tidak bisa
menikmatinya secara bebas. Mereka menempati lahan yang seharusnya terbuka
hijau (kawasan dilarang mendirikan rumah) yakni berada di pinggiran rel kereta
Dibalik masalah-masalah tersebut diatas, disini juga akan diungkapkan
bagaimana strategi masyarakat dalam memperoleh sumber-sumber sarana
kebersihan, seperti bagaimana upaya yang dilakukan masyarakat untuk
memperoleh air bersih, sebab air sumur yang mereka miliki tidak layak untuk
diminum atau dipakai untuk masak. Selain itu secara singkat akan diungkapkan
juga masalah tanggung jawab pemerintah untuk mengatasi masalah kebersihan
yang khususnya ada di kelurahan.
Akhir kata, karena keterbatasan ilmu pengetahuan, penulis sangat
menyadari akan kekurangan isi dari skiripsi ini. Untuk itu saran dan kritik
membangun yang bisa menyempurnakan tulisan ini sangat diharapkan sekali.
Medan, 30 Maret 2011 Penulis,
DAFTAR ISI
HALAMAN PERSETUJUAN ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
PERNYATAAN ORIGINALITAS ... iii
ABSTRAK ... iv
UCAPAN TERIMAKASIH... v
RIWAYAT HIDUP PENULIS ... vi
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR TABEL ... xiv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 4
1.3. Lokasi Penelitian ... 5
1.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 5
1.4.1. Tujuan Penelitian ... 5
1.4.2. Manfaat Penelitian ... 6
1.5. Tinjauan Pustaka ... 6
1.5.1. Konsep ... 6
1.5.2. Kedisiplinan ... 8
1.5.3. Masyarakat, Kebersihan, dan Lingkungan ... 12
a. Hubungan Manusia dan Lingkungan ... 12
1.6.1. Tipe Penelitian ... 19
1.6.2. Teknik Pengumpulan Data ... 19
1.6.3. Pengolahan Data ... 22
BAB II. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ... 23
2.1. Kota Medan ... 23
2.2. Kecamatan Medan Timur ... 27
2.3. Kelurahan Durian ... 28
2.3.1. Keadaan Demografi Penduduk Kelurahan Durian ... 28
2.3.2. Fasilitas Umum yang Terdapat di Kelurahan Durian ... 31
2.4. Gambaran Umum Masyarakat di Pinggiran Rel Kereta Api ... 33
2.4.1. Sejarah Pemukiman ... 33
2.4.2. Kepadatan Penduduk ... 34
BAB III. AKTIVITAS DAN KONDISI SOSIAL MASYARAKAT ... 36
3.1. Karakteristik Penduduk ... 36
3.2. Aktivitas Masyarakat ... 39
3.3. Kondisi Perekonomian ... 41
3.4. Kondisi Rumah... 44
3.5. Partisipasi Masyarakat Terhadap Kondisi Kebersihan Lingkungan . 49 3.6. Peran dan Tanggung Jawab Pemerintah dalam Kebersihan Lingkungan ... 50
BAB IV. KONSEPSI MASYARAKAT TENTANG KEBERSIHAN ... 53
4.1. Kondisi Umum Kebersihan Lingkungan Masyarakat ... 53
4.3. Cara Membersihkan Bagian Rumah ... 56
4.4. Kebersihan Makanan ... 66
4.5. Pengolahan Sampah ... 69
4.6. Pandangan Masyarakat Tantang Air ... 70
4.6.1. Pandangan Masyarakat Tantang Air Bersih ... 72
4.6.2. Pandangan Masyarakat Tantang Air PAM/PDAM ... 73
4.6.3. Pandangan Masyarakat Tentang Air Galon ... 74
4.6.4. Pandangan Masyarakat Tentang Air Sumur dan Air Hujan... 76
4.7. Konsepsi Masyarakat Tentang Bersih ... 81
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 85
5.1. Kesimpulan ... 85
5.2. Saran ... 86
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1. Luas Wilayah Kecamatan di Kota Medan ... 23
Tabel 2.2. Distribusi Penduduk Berdasarkan Status Kewarganegaraan dan Jenis
Kelamin di Kelurahan Durian Kecamatan Medan Timur Tahun 2010 ... 28
Tabel 2.3. Distribusi Penduduk Berdasarkan Agama dan Jumlah (orang) di
Kelurahan Durian Kecamatan Medan Timur Tahun 2010 ... 29
Tabel 2.4. Distribusi Penduduk Berdasarkan Suku Bangsa dan Jumlah (orang)
di Kelurahan Durian Kecamatan Medan Timur Tahun 2010 ... 29
Tabel 2.5. Distribusi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan dan Jumlah
(orang) di Kelurahan Durian Kecamatan Medan Timur Tahun 2010 ... 30
Tabel 2.6. Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Pekerjaan dan Jumlah
(orang) di Kelurahan Durian Kecamatan Medan Timur Tahun 2010 ... 31
Tabel 2.7. Distribusi Penduduk Berdasarkan Tempat Ibadah dan Jumlah Unit di
Kelurahan Durian Kecamatan Medan Timur Tahun 2010 ... 31
Tabel 2.8. Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Fasilitas Kesehatan dan
Jumlah Unit di Kelurahan Durian Kecamatan Medan Timur Tahun
2010 ... 32
Tabel 2.9. Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Fasilitas Pendidikan dan
Jumlah Unit di Kelurahan Durian Kecamatan Medan Timur Tahun
2010 ... 32
Tabel 3.1 Tabel Daftar Jenis Pengeluaran dan Biaya (Rp) Ibu Rida Wati ... 43
Tabel 4.1 Tabel Cara, Waktu, dan Intensitas Informan dalam Membersihkan
Tabel 4.2 Tabel Kriteria Air Bersih dan Layak Minum Menurut Informan ... 72
ABSTRAK
KONSEPSI MASYARAKAT TENTANG BERSIH
(Studi Deskriptif di Bantaran Rel Kereta Api dari Jalan Bambu II sampai Jalan Karantina)
Nama : Naga Sakti
NIM : 040905019
Dosen Pembimbing : Drs. Agustrisno, MSP
Masalah-masalah kebersihan merupakan topik yang selalu menarik untuk dibicarakan selama masalah ini belum bisa diatasi dengan baik. Maslah kebersihan kota adalah maslah yang sangat panas untuk dibahas, sebab kota adalah wilayah yang paling banyak dihuni oleh beragam jenis manusia, mulai dari manusia yang paling berpendidikan sampai pada manusia yang “tidak berpendidikan”, mulai dari yang paling kaya sampai pada yang paling miskin.
Skirip ini akan mengungkap bagaimana pemikiran-pemikiran yang ada di masyarakat bantaran rel kereta api Jl. Bambu II sampai Jl Karantina tentang apa yang disebut dengan bersih. Disini akan diungkapkan bagaimana pendapat masyarakat yang diteliti tentang kebersihan. Dalam istilah yang lebih universal bahwa yang diteliti disini adalah konsep masyarakat.
Peneletian tentang konsep ini tidaklah sekedar menanya pendapat informan saja, lebih dari itu disini juga diungkapkan bagaimana aktivitas-aktivitas yang mereka lakukan terkait masalah kebersihan. masalah
Dalam BAB I akan dibahas tentang latar belakang pengangkatan masalah ini oleh penulis, masalah-masalah yang akan diungkap, tujuan dilaksanakan penelitian ini, lokasi penelitian, kemudian tentang tinjauan pustaka serta metode penelitiannya.
BAB II isinya adalah tentang gambaran umum yang akan diteliti, yakni menyangkut masalah-masalah administrative serta keadaan sosial masyarakat yang akan diteliti.
BAB III akan menceritakan tentang kondisi dan aktivitas sosial masyarakat yang diteliti, selain itu disini juga diungkap sedikit tentang maslaha kebersihan yang menyangkut tanggung jawab dan peran serta pemerintah.
Pada BAB IV adalah berisi tentang bagaimana konsepsi masyakat tentang bersih. Disini akan dibahas secara menyeluruh bagaimana mereka membersih benda-benda yang mereka pakai setiap hari, disini juga akan diungkap bagaimana mereka memperoleh air dan makanan yang bersih dan tentang kategori kebersihan benda-benda tertentu yang mereka konsumsi.
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Manusia adalah makhluk hidup yang selalu membutuhkan suatu komunitas dan pada umumnya tinggal dalam suatu kelompok atau kesatuan
tertentu (masyarakat). Dalam kehidupannya setiap manusia sangatlah bergantung
dengan lingkungan, maka seyogyanya manusia haruslah menjaga lingkungannya
sendiri demi kelangsungan hidupnya yang lebih baik.
Pada kenyataannya, dewasa ini kondisi masyarakat di Indonesia khususnya
masih sangat memprihatinkan. Hal ini dapat ditemukan pada peristiwa-peristiwa
yang masih sering terjadi di lingkungan masyarakat. Baik berupa
penyimpangan-penyimpangan terhadap kaidah dan nilai yang berlaku dimasyarakat dengan
berbagai macam perilaku. Salah satu diantaranya yaitu mengenai kepedulian
masyarakat terhadap kondisi kebersihan lingkungan sehingga tidak mengherankan
apabila masyarakat kita sering sekali dihantui dengan masalah-masalah yang
berhubungan dengan masalah kondisi kerusakan lingkungan.
Priodarminto (1994:15) mengatakan bahwa untuk mencapai pembangunan
nasional diperlukan usaha untuk mengembangkan dan membina kehidupan
masyarakat yang tertib dan berdisiplin murni yang tinggi mulai dari tingkat
pribadi individu yang paling kecil yaitu lingkungan keluarga, bahkan tingkat
kehidupan individu sebagai mahluk sosial yaitu masyarakat, karena keluarga batih
merupakan tempat penanaman nilai kedisiplinan demi tercapainya pembentukan
fisik, mental sepiritual manusia Indonesia yang tangguh.
Berdasarkan kenyataan kehidupan sosial budaya masyarakat Indonesia,
maka tingkat kedisiplinan dapat dilihat dari kepedulian masyarakat terhadap
lingkungan yang ada di sekitar mereka. Kondisi suatu masyarakat dalam
kesehariannya tidak boleh terabaikan karena di tengah publik inilah penerapan
disiplin bangsa Indonesia itu dilakukan, diuji, dan dinilai ketangguhannya
(Hidayah, 1996:3-5).
Menurut Suratman dalam Hidayah (1996:12) sikap disiplin selalu ada
kaitannya dengan tiga unsur kepribadian manusia, yaitu jiwa, watak, dan perilaku.
Berkenaan dengan jiwa, maka disiplin itu ditentukan oleh tingkat daya cipta, rasa,
dan karsa. Dalam tingkat ini disiplin mengandung aspek manusia memenuhi
sesuatu melalui pengendalian ketiga unsur kejiwaan tersebut sehingga disiplin
diartikan sebagai perbuatan kepatuhan yang dilakukan dengan sadar untuk
melaksanakan suatu sistem dengan sikap menghormati dan taat menjalankan
keputusan, perintah, atau aturan yang berlaku.
Dalam hal ini Koentjaraningrat (1983: 15) menyebutkan pada hakikatnya
membangun suatu bangsa atau masyarakat tidak hanya menyangkut pembangunan
yang berupa fisik, melainkan juga yang bersifat non fisik. Hal inilah yang harus
mendapatkan perhatian agar tercipta adanya keselarasan dan keseimbangan yang
saling mendukung. Menciptakan lingkungan yang nyaman, tertib, bersih, dan juga
sesuai dengan kaidah-kaidah dan aturan yang berlaku dimasyarakat perlu adanya
kesadaran dan kepedulian setiap anggota masyarakat terhadap situasi dan kondisi
manusia untuk menjalankan berbagai aktivitas dan interaksi dengan yang lain.
Dengan demikian lingkungan yang nyaman, tertib, serta budaya hidup sehat dan
bersih dapat terwujud.
Menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat adalah tanggung jawab
bersama, khususnya penguasa dan masyarakat yang ada di sekitar lingkungannya.
Mereka memiliki peran yang penting dalam menjaga lingkungan serta
menciptakan budaya lingkungan yang bersih dan sehat.
Satu fenomena yang menarik bahwa tingkat kepedulian dan kesadaran
masyarakat Kelurahan Durian terhadap kebersihan lingkungan masih kurang.
Meskipun mungkin Pemerintah (Lembaga Kelurahan maupun RT dan RW) sudah
berupaya memberikan pembinaan, pembimbingan, serta pengarahan tentang
kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan yang ada di sekitar mereka.
Rendahnya tingkat kepedulian dan kesadaran masyarakat Kelurahan Durian
terhadap kondisi lingkungan dapat dilihat dari cara hidup masyarakat yang
sebagian besar belum mencerminkan budaya hidup bersih dan sehat. Hal ini dapat
dicermati masih banyak sampah yang berserakan dan menumpuk di lingkungan
tempat tinggal di sekitar mereka, sisa-sisa plastik dan makanan, tempat seperti
sumur (tempat MCK) yang jarang dibersihkan. Satu hal lain yang dapat diamati
yaitu kebanyakan masyarakat Kelurahan Durian cenderung menganggap enteng
mengenai masalah kondisi kebersihan lingkungan tempat tinggal mereka dan
terhadap pola perilaku terhadap kesehatan.
Berdasarkan fenomena-fenomena yang dikemukaan di atas, maka
menarik untuk dipermasalahkan. Akan tetapi kalau dibiarkan begitu saja, justru
dapat menimbulkan pengaruh yang kurang baik, terutama terhadap kebersihan
lingkungan dan kesehatan. Pada prinsipnya, peningkatan kesehatan masyarakat
memerlukan adanya keikutsertaan masyarakat dalam menjaga kebersihan
lingkungan terutama penanaman budaya hidup bersih dan sehat sejak dini dalam
keluarga.
Dari uraian di atas inilah ketertarikan untuk mendeskripsikan mengenai
masalah kedisiplinan masyarakat dalam menjaga kebersihan di lingkungannya.
Untuk itu mengambil judul skripsi tentang “Konsepsi Masyarakat tentang Bersih
di Bantaran Rel Kereta Api”.
1.2. Rumusan Masalah
Istilah disiplin kerap kali kita dengar di sekitar kita, bahkan banyak sekali
slogan-slogan yang ditujukan untuk meningkatkan dan menerapkan sikap disiplin.
Istilah disiplin sering ditujukan kepada seorang manakala ia mematuhi peraturan
yang ada dan selalu tepat waktu. Hal ini tentunya tidak semua orang memiliki
pandangan atau persepsi yang sama. Begitu pula dalam penerapan kedisiplinan
oleh setiap individu di lingkungannya. Semua tergantung pemahaman dan
kesediaan individu untuk membiasakan hidup disiplin.
Menerapkan sikap disiplin dalam masyarakat tidak mudah. Perlu adanya
dorongan, baik dari dalam maupun dari luar individu untuk dapat menerapkannya.
Sikap disiplin memiliki pengaruh terhadap kehidupan masyarakat, misalnya yang
yang menumpuk, dan masih banyak lainnya yang disebabkan oleh salah satunya
yaitu perilaku, serta kedisiplinan masyarakat menjaga kebersihan lingkungan.
Dari hal-hal tersebut di atas, maka yang akan diangkat menjadi
permasalahan penelitian adalah :
Bagaimana konsepsi masyarakat yang tinggal di sepanjang bantaran rel kereta
api mulai dari Jalan Bambu II (Kelurahan Durian) sampai Jalan Karantina
(Kelurahan Glugur) tentang budaya hidup bersih di lingkungannya.
1.3. Lokasi Penelitian
Penelitian ini diadakan di Kelurahan Durian dan Glugur Kecamatan
Medan Timur Kota Medan. Lokasi ini dipilih karena tempat ini adalah termasuk
kawasan pemukiman yang masyarakatnya tinggal di jalur rel kereta api. Lebih
rincinya masyarakat yang diteliti adalah mereka yang tinggal di sepanjang
bantaran rel kereta api yang mulai dari Jalan Bambu II (Kelurahan Durian) sampai
ke Jalan Karantina (Kelurahan Glugur). Rumah-rumah masyarakatnya di tempat
ini termasuk rumah yang tidak sesuai dengan standar kesehatan, keselamatan, dan
privasi.
1.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.4.1. Tujuan Penelitian
Berkenaan dengan masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk
mengungkapkan dan mendeskripsikan tentang “Konsepsi Masyarakat dalam
Mengetahui bagaimana konsepsi masyarakat yang tinggal di
sepanjang bantaran rel kereta api mulai dari Jalan Bambu II
(Kelurahan Durian) sampai Jalan Karantina (Kelurahan Glugur)
tentang budaya hidup bersih di lingkungannya.
1.4.2. Manfaat Penelitian
Secara teoretis penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yakni
sebagai masukan kepada masyarakat untuk meningkatkan kedisiplinan dalam
menjaga kebersihan lingkungan, sebagai masukan kepada masyarakat mengenai
pentingnya sikap disiplin dan kepedulian terhadap kondisi kebersihan lingkungan,
dan memberikan pengetahuan tentang manfaat menjaga budaya hidup bersih bagi
anggota masyarakat khususnya terhadap kesehatan mereka.
Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan
kepada pihak-pihak yang berwewenang untuk meningkatkan pembinaan tentang
kedisiplinan di lingkungan masyarakat, memberikan pengetahuan kepada
masyarakat dalam menciptakan kedisiplinan dalam menjaga budaya hidup bersih
di lingkungan, dan sebagai tumpuan bagi peneliti selanjutnya dalam
mengembangkan ilmu pengetahuan.
1.5. Tinjauan Pustaka 1.5.1. Konsep
Koentjaraningrat (2004:5) mengatakan bahwa ada tiga wujud ideal dari
kebudayaan, yakni ; 1) kebudayaan dalam bentuk ide-ide atau yang berada dalam
pikiran manusia, 2) kebudayaan yang nampak pada kelakuan manusia, dan 3)
mengkaji tentang konsep masyarakat atau komunitas, maka jelas berarti hal yang
akan diungkap disini adalah masalah pemikiran manusia. Jadi, disini yang akan
diungkap dari masyarakat adalah wujud kebudayaan yang berupa ide-ide mereka
tentang kebersihan di lingkungannya sendiri.
Pemikiran manusia merupakan hal yang sangat sulit untuk diungkapkan
dan diperhatikan karena ia tidak nampak bentuknya atau tidak dapat diraba
(abstrak), ia berada dalam kepala-kepala manusia. Untuk itu adalah hal yang
sangat mustahil kita bisa mengetahui apa yang mereka ketahui, atau bahasa
lainnya Marvin Harris (dalam Hari, 260:200) mengatakan objek atau pelaku yang
diteliti pasti lebih tahu perihal akan dirinya daripada peneliti atau pengamat. Jadi,
konsep itu sendiri haruslah dibaca peneliti melalui pemikiran mereka.
Mungkin lebih sederhana dalam sebuah kamus antropologi,
Koentjaraningrat dkk (2003:127) mengatakan bahwa konsep adalah gambaran
umum yang abstrak dalam pikiran mengenai asas suatu hal, masalah, kejadian,
atau sekumpulan benda. Jadi, konsep itu adalah cara seseorang dalam
menggambarkan suatu benda dan masalah yang mereka lihat atau alami.
Jadi jelas bahwa yang akan diungkap disini adalah masalah pandangan
masyarakat tentang bersih, namun tidak hanya dikaji tentang defenisinya saja,
lebih dari itu disini akan diungkap secara menyeluruh tentang pemikiran dan
perilaku mereka tentang kebersihan.
Konsep sangat berkaitan dengan perilaku manusia, seseorang akan
bertindak secara biologis, atau bertindak secara psikologis dan sosiologis adalah
suatu cara, menyimpulkan suatu pemikiran tanpa adanya proses. Proses itu
biasanya melalui belajar, baik belajar dari orang lain, belajar dari kegagalan atau
ketidaksempurnaan tindakannya sebelumnya. Banyak hal yang dapat
mempengaruhi cara berpikir kita, diantaranya adalah keadaan lingkungan alam,
teman, guru (dosen), buku, agama, politik, dan lain-lain.
Untuk lebih jelasnya tentang konsep masyarakat akan kebersihan disini
peneliti juga akan melihat dan memperhatikan masyarakat dalam cara mereka
membersihkan lingkungan rumahnya secara menyeluruh, mulai dari kebersihan
fisik rumah, air dan makanan, kebersihan pakaian dan barang-barang lainnya, juga
tentang kebersihan pekarangan rumah. Pada umumnya setiap manusia melakukan
sesuatu adalah berdasarkan pengetahuannya sendiri, pengetahuan-pengetahuan ini
berada dalam pikiran manusia yang ia peroleh lewat interaksi dengan
pendahulunya (proses belajar).
1.5.2. Kedisiplinan
Orang sering sekali berspekulasi mengenai pengertian disiplin dan banyak
pula dari para praktisi pendidikan dan ilmuwan yang mengartikan disiplin dalam
pengertian yang hampir sama seperti:
a) Disiplin merupakan sikap ketaatan terhadap aturan (Winataputra,
dkk.1997:10).
b) Disiplin adalah hukuman atas perbuatan yang diinginkan (Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, 1982:37).
c) Disiplin adalah serentetan kegiatan atau latihan yang direncanakan dan
dianggap penting untuk mencapai tujuan (Departemen Pendidikan dan
Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, maka dalam disiplin terdapat
suatu perbuatan dengan menaati aturan-aturan dan norma-norma umum dalam
suatu kelompok masyarakat, termasuk juga peraturan pribadi sehingga bila terjadi
suatu pelanggaran akan mempertangungjawabkannya guna mencapai tujuan yang
dimaksud.
Dari pengertian itu, maka kedisiplinan dalam penelitian ini adalah suatu
kondisi yang aktif yang dilakukan oleh individu berupa tindakan yang dilakukan
secara teratur dan positif dalam menjaga budaya hidup bersih di lingkungannya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), disiplin berarti latihan
batin atau watak dengan maksud supaya segala perbuatan selalu mentaati tata
tertib. Berdisiplin artinya mentaati ketentuan atau aturan sesuai dengan ketentuan
yang berlaku.
Secara stuktural menurut Mardiamadja (1998:2) disiplin mengandung
beberapa pengertian yaitu: a) keseluruhan yang mengatur tingkah laku agar sesuai
dengan ketentuan yang ada di masyarakat, b) keseluruhan proses latihan dan
pendidikan sesuai dengan pranata tersebut dan c) sifat perilaku yang sesuai
dengan pranata kemasyarakatan yang bersangkutan.
Selanjutnya Mardiamadja mengatakan bahwa keseluruhan yang disebut
dengan istilah disiplin adalah menunjukkan pada aturan-aturan yang sistematik
demi keserasian hidup bersama, sedangkan proses pelatihan yang disebut disiplin
adalah usaha untuk menyesuaikan diri dengan peraturan yang ada dan akhirnya
setiap orang diharapkan berperilaku sesuai dengan pranata masyarakatnya.
Dengan menegakkan disiplin dimasyarakat pada dasarnya merupakan salah satu
upaya dalam rangka mempersiapkan manusia (masyarakat), yang bersangkutan
agar mereka mampu mengembangkan potensi yang dimilikinya. Dengan disiplin
secara teoritis akan dapat memberikan rangsangan dan dorongan agar mereka
dapat menjadi manusia yang produktif (Mardiamandja, 1998:3).
Menurut Lemhannas menyebutkan disiplin adalah kepatuhan untuk
menghormati dan melaksanakan suatu sistem yang mengharuskan orang tunduk
pada keputusan, perintah, atau aturan yang berlaku.
Disiplin merupakan sikap hidup dan perilaku yang mencerminkan
tanggung jawab terhadap kehidupan, tanpa paksaan dari luar. Sikap dan perilaku
ini dianut berdasarkan keyakinan bahwa hal itulah yang benar dan keinsafan
bahwa hal itu bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat.
Suratman dalam Hidayah (1996:12) berasumsi bahwa disiplin memiliki
keterkaitan tiga unsur kepribadian manusia, yaitu jiwa, watak, dan perilaku.
Berkenaan dengan jiwa, maka disiplin ditentukan oleh tingkat daya cipta, rasa,
dan karsa. Dalam tingkat ini disiplin mengandung aspek kemampuan manusia
memenuhi sesuatu melalui ketiga unsur pengendalian tersebut sehingga disiplin
diartikan sebagai suatu perbuatan yang dilakukan dengan sadar untuk
melaksanakan suatu sistem dengan sikap menghormati dan taat dalam
menjalankan keputusan perintah atau aturan yang berlaku.
Disiplin menurut Bintarto dalam Hidayah (1996:12) bahwa untuk
menyebutkan disiplin dalam diri seseorang tergantung pada sifat dirinya, situasi
dalam diri seseorang dapat berubah-ubah menurut situasi dan kondisi yang
berbeda.
Sikap disiplin sosial merupakan salah satu wujud dari kesatuan sikap
individu yang menjalani disiplin yang menyangkut sifat mental yang dapat
menjiwai dan mendorong secara berkesinambungan terhadap aktivitas yang
menuju kearah sikap disiplin diri dan sikap disiplin sosial (Hidayah, 1966:73).
Berdasarkan hal tersebut di atas, dapat digarisbawahi bahwa membentuk
sikap disiplin yang baik adalah disiplin yang timbul karena adanya kesadaran
dalam diri seseorang sehingga jika ia sudah dapat menerapkan kedisiplinan pada
diri sendiri, maka dengan mudah dapat menciptakan disiplin secara luas dalam
kehidupan baik bagi individu, organisasi, maupun lingkungan masyarakat.
Pengartian disiplin kaitannya dengan budaya hidup bersih, dapat diartikan
sebagai sikap, tindakan, atau perilaku manusia sebagai individu sekaligus anggota
masyarakat yang menyangkut kemampuan (mental) untuk dapat menerima,
menerapkan, dan melaksanakan kaidah-kaidah atau aturan yang berlaku dengan
menerapkan cara hidup yang teratur dan tertib dalam lingkungan masyarakat.
Dalam masyarakat Kelurahan Durian disiplin kaitannya dengan budaya
hidup bersih merupakan sikap atau tindakan yang diartikan sebagai perilaku yang
dilakukan secara rutin dan tepat pada waktunya. Dalam hal ini yaitu rutin dalam
kegiatan membersihkan lingkungan yang ada di sekitar mereka, sebagai wujud
upaya masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan yang ada di sekitar
1.5.3. Masyarakat, Kebersihan, dan Lingkungan a. Hubungan Manusia dan Lingkungan
Secara alamiah manusia hidup berinteraksi dengan lingkungan.
Mulai dari manusia bernapas, mengambil udara yang ada di sekeliling
mereka setiap detiknya, memakan dari makanan yang dihasilkan dari
yang ada di sekitar mereka, demikian pula minum, dan akitifitas
mereka. Semua tergantung dari sosial budaya dan lingkungan yang ada.
Karena itu manusia disebut memiliki hubungan yang erat dengan
lingkungan hidupnya (Sumirat, 2002:34).
Hubungan tersebut hakikatnya merupakan satu bangunan saling
menguatkan karena manusia amat tergantung pada lingkungan.
Sedangkan lingkungan juga sangat tergantung pada aktivitas manusia.
Namun dilihat dari sisi manusia, maka lingkungan adalah sesuatu yang
pasif dan manusia adalah sesuatu yang aktif, sehingga kualitas
lingkungan amat tergantung pada kualitas manusia. Sayangnya manusia
seringkali lupa bahwa lingkungan yang berkualitas buruk juga akan
berpengaruh pada kualitas kehidupannya juga.
Dari sini jelas bahwa subjek dari kehidupan manusia dan kondisi
lingkungan pada dasarnya adalah manusia itu sendiri. Lebih baik
kualitas manusianya akan lebih baik pula kualitas kehidupan dan
lingkungannya. Sebaliknya lebih buruk kualitas manusia akan lebih
buruk kualitas kehidupannya dan lingkungannya. Masalah inilah yang
sering menjadi perbincangan apakah orang yang berkualitas baik akan
berkualitas baik tersebut akan menghasilkan manusia yang berkualitas
(Amsyari, 1993:1).
Adanya hubungan yang terkait dan saling ketergantungan untuk
melengkapi antara manusia dan lingkungan, akan tampak pada sikap
perilaku manusia dengan kepeduliannya terhadap lingkungan di sekitar
mereka. Sikap dan pola perilaku disiplin dalam diri individu merupakan
hasil dari sosialisasi yang diawali mulai dari lingkungan yang terkecil
yaitu keluarga serta lingkungan sosial yang lebih luas yaitu masyarakat.
Hal ini dapat dilihat melalui kesadaran mereka dalam mematuhi tata
tertib dan mentaati peraturan yang sudah ditetapkan, serta kebiasaan
mereka dalam menciptakan lingkungan yang nyaman, tertib, serta
bersih.
Kedisiplinan individu sebagai anggota masyarakat, ditinjau dari
sosial budaya terletak pada perkembangan sistem nilai dan sikap mental
yang mempengaruhi perangai dan tingkah laku anggota masyarakat
pada wilayah tertentu. Secara umum ini disebut sebagai masalah faktor
manusia dalam pembangunan.
Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa hubungan antara
manusia dan lingkungan merupakan hubungan yang saling terkait
sebagai satu kesatuan ekosistem. Hubungan tersebut terlihat dari
ketergantungan yaitu manusia dalam mempertahankan kelangsungan
hidupnya, maka ia memanfaatkan kondisi lingkungan yang ada di
berjalan dengan baik diperlukan adanya keselarasan, keserasian, dan
hubungan yang timbal balik secara seimbang.
b. Manusia dan Kebersihan
Manusia merupakan komponen lingkungan yang paling dominan.
Dengan kedudukannya sebagai komponen yang paling dominan inilah
manusia kadang menjadi perusak lingkungannya sendiri, yaitu misalnya
kalau manusia mengusahakan sumber daya alam untuk jangka pendek
dengan menghasilkan produk yang banyak dan pada waktu yang
singkat manusia baru akan menyadari akan manfaat melestarikannya,
seperti hanya sampah yang ditimbulkan oleh manusia yang kemudian
dibuang kembali ke alam, hal inilah yang sering kita jumpai
dilingkungan masyarakat.
Sebagai mahluk yang dibekali kemampuan akal, pikiran serta
pengetahuan, untuk menumbuhkan cinta dan kepedulian para
masyarakat terhadap lingkungannya, diperlukan adanya suatu
kesadaran, karena kesadaran tidak dapat timbul dengan sendirinya, akan
tetapi perlu adanya upaya yang nyata baik melalui penanaman moral,
nilai, pengertian–pengertian, penghayatan, dan penanaman terhadap
suatu kedisiplinan.
Sehubungan dengan kemampuan tersebut di atas, seharusnya
masyarakat dapat menunjukan sikap peduli terhadap kondisi
lingkungan, baik melalui sikap dan perbuatan yang tingkah laku secara
nilai-nilai yang terdapat dalam diri manusia mengenai sesuatu hal yang ada
(KBBI, 1991:859).
Salah satu sikap disiplin masyarakat dalam menjaga kondisi
lingkungan juga dapat dilakukan dengan menjaga ketertiban dan
kenyamanan lingkungan yang ada di sekitar mereka dan dengan
mencerminkan tanggung jawab terhadap kehidupan, tanpa adanya
paksaan dari luar. Sikap dan perilaku ini dapat dianut berdasarkan
keyakinan bahwa hal itulah yang benar dan keinsafan bahwa hal itu
bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat (Suhartini, 2002:26).
Masalah kedisiplinan masyarakat dalam menjaga budaya hidup
bersih di lingkungan erat kaitannya dengan pola perilaku seseorang
dalam kelompok sosialnya dalam mentaati dan menjalankan
kaidah-kaidah yang ada guna menciptakan adanya suatu keselarasan dan
keserasian hidup dalam menjalankan peranan sebagai anggota
masyarakat yang disiplin. Dalam hal ini disiplin yang baik adalah
disiplin yang timbul karena adanya kesadaran, sedangkan secara
alamiah manusia selalu berinteraksi dengan lingkungannya. Interaksi
antara manusia dan lingkungan hidupnya ini menjadi bagian yang
penting dari kebudayaan manusia yang mengandung nilai-nilai tertentu.
Dengan demikian lingkungan merupakan bagian dari kebudayaan
manusia. Keserasian dan keselarasan merupakan unsur dari kebudayaan
sehingga kita dianjurkan untuk dapat menciptakan hidup secara serasi
terjadi kerusakan pada ekisistensinya, manusia juga yang akan
menerima resikonya (Soemirat, 2002:34).
Dalam hal ini kebersihan lingkungan merupakan salah satu
indikator untuk mengukur tingkat kedisiplinan masyarakat sebagai
penghuninya. Lingkungan yang bersih dapat terwujud apabila sikap dan
perilaku warga masyarakat terhadap kebersihan salah satunya sampah
yang dihasilkan oleh setiap aktivitas mereka telah tepat dan benar.
Sikap perilaku yang demikian biasanya lahir dan dilatarbelakangi oleh
tingkat pengetahuan, kesadaran, dan disiplin pribadi ditengah
masyarakat (Dacana, 1996:51).
Masjhur dalam Sujarwa (1998:1) mengatakan bahwa
menciptakan budaya hidup bersih dan lingkungan yang bersih perlu
ditanamkan dalam kehidupan masyarakat karena menyangkut
kesehatan. Selain itu kesehatan lingkungan sangat berpengaruh terhadap
kesehatan manusia dan kesehatan lingkungan berhubungan erat dengan
taraf sosial ekonomi manusia, karena kesehatan dan kualitas hidup
manusia bergantung pada kemampuan untuk mengelola dan menyikapi
hubungan timbal balik antara aktivitas manusia dengan lingkungan fisik
dan biologisnya. Hubungan tersebut berlangsung sepanjang siklus hidup
manusia mulai pada saat pembuahan dalam kandungan, masa bayi, dan
kanak-kanak, selanjutnya menjadi dewasa dan akhirnya memasuki masa
tua dan akhir hayat. Secara alamiah manusia juga mempunyai misi
yang seoptimal mungkin. Hal ini diwujudkan dalam berbagai bentuk
upaya manusia untuk menciptakan kehidupan yang aman dan nyaman.
Sebagai manusia yang selalu berhubungan dengan lingkungan,
sudah harusnya memiliki rasa tanggung jawab untuk menjaga
lingkungan dengan baik. Sehingga akan terbina hubungan yang saling
menguntungkan antara manusia dan alam lingkungan. Sikap tanggung
jawab dalam hal ini merupakan kesadaran manusia akan tingkah laku
atau perbuatannya. Baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja.
Dengan begitu tanggung jawab dapat diartikan sebagai perwujudan
kesadaran dan kewajiban. Dengan demikian menjaga lingkungan
merupakan tanggung jawab dan kewajiban kita sebagai manusia
(Sujarwa, 1998:107).
Pada kenyataannya masyarakat tidak dapat lepas dari lingkungan,
ia harus dapat menyesuaikan diri dengan sifat lingkungan, namun juga
dapat mempengaruhi lingkungan dimana mereka hidup. Dalam hal ini
umumnya manusia lebih dipengruhi oleh keadaan lingkungan dan
dalam tingkah lakunya dipengaruhi, serta dimanisfestasikan oleh
keadaan lingkungan (Siagian, 1989:1).
Oleh karena itu upaya masyarakat dalam mewujudkan kehidupan
yang aman dan nyaman tersebut salah satunya dapat diwujudkan
melalui kepedulian masyarakat terhadap lingkungan yaitu menjaga dan
melestarikan ekosistem yang ada di sekitar mereka serta sikap sadar
Dalam kaitan dengan lingkungan, seorang individu akan
berkesadaran, apabila ia memiliki persepsi atau informasi yang
mendukung. Kesadaran itu meningkat sejalan dengan makin banyaknya
informasi yang diserap di dalam lingkungan yang terus dibinanya.
Makin berkembang persepsi atau wawasan yang dibina, makin
menghayati, meyakini, dan mengamalkan ”kebersihan adalah sebagian
dari iman”. Sikap kesadaran tersebut inilah yang perlu dibina secara
luas dan berkesinambungan dalam lingkup nasional secara bertahap,
agar dapat dibentuk budaya hidup bersih di lingkungan, yaitu melalui
semacam program terpadu pemasyarakatan yaitu kesadaran terhadap
lingkungan (Hirnawan, 1998:97).
Dalam kehidupan masyarakat sebagai individu dalam mempertahankan
kelangsungan hidupnya sangat tergantung serta dipengaruhi oleh kondisi
lingkunganya. Hubungan antara lingkungan dan manusia tidak dapat dipisahkan
satu sama lain karena merupakan suatu kesatuan ekosistem yang memiliki
ketergantungan dan hubungan timbal balik. Hubungan timbal balik ini kadang
dapat memberikan pengaruh, baik yang negatif ataupun yang bersifat positif
sehingga diperlukan adanya kesadaran, serta tanggung jawab bersama sebagai
upaya untuk menjaga hubungan manusia dengan lingkungan. Hal tersebut dapat
dilakukan mulai dengan menanamkan sikap disiplin lingkungan dan kesadaran
1.6. Metode Penelitian 1.6.1. Tipe Penelitian
Dalam penelitian ini penulis menggunakan tipe penelitian kualitatif
dengan sebuah model studi kasus pada suatu lokasi yang telah ditentukan. Studi
kasus ini adalah strategi penelitian yang terfokus pada pemahaman terhadap
sesuatu yang dinamis yang melibatkan satu kasus atau lebih atau dengan tingkat
analisa yang berbeda-beda dan dapat memberikan gambaran terhadap suatu
masalah, pengujian teori atau pembentukan teori dengan jelas. Sedangkan data
kuantitatif digunakan hanya sebagai pelengkap data penelitian saja.
1.6.2. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini data dibagi dua yakni, data primer dan data sekunder.
Data primer adalah data yang diperoleh penulis setelah melalukan penelitian
lapangan. Sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh dari hasil-hasil
penelitian yang serupa atau berhubungan baik berupa buku, jurnal atau laporan
perjalanan atau pusat pemerintahan.
Untuk memperoleh data primer, penulis akan melakukan dua cara yakni:
a. Observasi partisipasi
Yaitu suatu usaha pengumpulan data melalui pengamatan secara
langsung terhadap suatu gejala yang diteliti. Observasi partisipasi maksudnya,
peneliti ikut ambil bagian dalam kegiatan objeknya sebagaimana yang lain dan
tidak nampak perbedaan dalam bersikap (Subagyo, 2004:64).
Observasi partisipasi yang digunakan disini adalah observasi partisipasi
yang dianggap perlu untuk dilakukan pengamatan. Pada bagian tertentu tugas
pengumpul data melalui observasi ini perhatiannya disentralkan pada pokok
obyeknya (Subaggyo, 2004:64). Dengan demikian, penulis dapat melihat
secara langsung dan dapat memahami secara mudah tentang permasalahan
yang sedang diteliti.
b. Wawancara
Wawancara adalah suatu metode penelitian yang bertujuan
mengumpulkan keterangan tentang kehidupan manusia dalam suatu
masyarakat dengan jalan tanya jawab (Suyono, 1985:436). Biasanya dilakukan
oleh dua orang atau lebih yang diarahkan oleh seseorang dengan maksud
untuk memperoleh keterangan. Dalam situasi ini berlangsung interaksi antara
pewawancara (interviewer) dengan yang diwawancarai (interviewed).
Menurut Patton (1987) dalam Djoyomartono (1992:3) ada tiga
pendekatan untuk mengumpulkan data kualitatif melalui wawancara
mendalam yaitu: 1) wawancara dalam bentuk percakapan informal, 2)
wawancara dengan mengunakan pedoman wawancara, dan 3) wawancara
terbuka (open-ended) yang distandarisasi. Pada percakapan wawancara
informal, pertanyaan lahir secara spontan pada waktu berlangsung interaksi
alami pada saat observasi berpartisipasi atau terjun kelapangan. Wawancara
dengan menggunakan pedoman wawancara yaitu seperangkat daftar
pertanyaan atau issue yang akan digali jawabannya disiapkan atau disusun,
sedangkan dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan bahasa yang
diwawancarai. Cara wawancara bentuk ketiga wawancara terdiri dari
disusun secara sistematik dan mencakup keseluruhan informan dengan jumlah
dan urutan yang sama.
Dalam pengumpulan data ini digunakan dua teknik wawancara yakni
wawancara tak berstruktur dan wawancara dengan menggunakan interview
guide (pedoman wawancara).
Wawancara tak berstruktur yaitu wawancara dilakukan secara informal,
dimana pertanyaan-pertanyaan tentang pandangan, sikap, keyakinan subyek
atau tentang keterangan lainnya yang berkaitan dengan kasus yang sedang
diteliti secara spontan pada saat berinteraksi langsung di lapangan. Selain
untuk mengumpulkan data di lapangan, wawancara juga digunakan untuk
melengkapi data-data yang belum jelas atau masih kurang sehingga data dan
informasi yang diperoleh semakin lengkap.
Selain itu, dalam wawancara peneliti akan menggunakan pedoman
wawancara (interview guide) yang disusun sebelum penelitian ke lapangan.
Pedoman wawancara yang dibuat secara umum akan berisi tentang hal-hal
yang ada dalam masalah penelitian, antara lain konsepsi masyarakat tentang
bersih.
Menurut Koentjaraningrat (1989:30) dalam suatu masyarakat baru tentu
harus dahulu memulai dari keterangan seorang informan pangkal yang dapat
memberikan berbagai keterangan lebih lanjut yang diperlukan oleh peneliti.
Informan-informan serupa itu sebaiknya orang yang mempunyai pengetahuan luas
mengenai berbagai sektor masyarakat dan mempunyai kemampuan untuk
masyarakat yang akan diteliti sehingga informan pangkal dalam penelitian adalah
tokoh masyarakat yang paling memiliki pengaruh di lingkungan yang akan diteliti.
Informan kunci merupakan orang-orang yang ahli tentang unsur-unsur
kebudayaan ataupun permasalahan yang akan diteliti. Dari informan ini data dan
informasi yang relevan tentang permasalahan yang akan diteliti antara lain,
konsep bersih bagi masyarakat di bantaran rel kereta api dari Jalan Bambu II
Kelurahan Durian sampai Jalan Karantina Kelurahan Glugur Kota. Alasan mereka
mengapa harus membersihkan rumah dan lingkungannya, bagaimana cara mereka
membersihkan rumah dan lingkungannya, serta bagaimanakah yang disebut bersih
menurut mereka.
1.6.3. Pengolahan Data
Pada tahap pengolahan data ini, peneliti akan memeriksa ulang data untuk
melihat kelengkapan data. Data yang diperoleh dari lapangan akan
dikelompokkan sesuai dengan kategori-kategori tertentu. Maksudnya data yang
didapat dipilah-pilah dari setiap item yang telah ditentukan seperti, konsep bersih
bagi masyarakat di bantaran rel kereta api dari Jalan Bambu II Kelurahan Durian
sampai Jalan Karantina Kelurahan Glugur Kota, alasan mereka mengapa harus
membersihkan rumah dan lingkungannya, bagaimana cara mereka membersihkan
rumah dan lingkungannya, serta bagaimanakah yang disebut bersih menurut
mereka. Setelah data disusun dan diperiksa, maka dilakukan perangkaian
BAB II
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
2.1. Kota Medan
Kotamadya Medan adalah salah satu ibukota provinsi yang terbesar
penduduknya di Indonesia. Letak Kota Medan berada di bagian timur Provinsi
Sumatera Utara serta berada diantara 2029’30” - 2047’30” lintang utara dan
98035’30” - 98044’30” bujur timur. Berada pada ketinggian antara 2,5-37,5 meter
di atas permukaan laut dengan topografi datar (rata). Suhu udara pertahun berkisar
antara 270C - 290C.
Luas areal Kota Medan adalah 26.510 ha dan secara administratif terbagi
[image:39.595.131.449.441.749.2]atas 21 kecamatan yang mencakup 151 kelurahan. Hal ini dapat dilihat pada tabel:
Tabel 2.1. Luas Wilayah Kecamatan di Kota Medan
No. Kecamatan Luas (km2)
1. Medan Tuntungan 20,68
2. Medan Selayang 12,81
3. Medan Johor 14,58
4. Medan Amplas 11,19
5. Medan Denai 9,05
6. Medan Tembung 7,99
7. Medan Kota 5,27
8. Medan Area 5,52
9. Medan Baru 5,84
10. Medan Polonia 9,01
11. Medan Maimun 2,98
12. Medan Sunggal 15,44
13. Medan Helvetia 13,16
14. Medan Barat 6,82
15. Medan Petisah 5,33
16. Medan Timur 7,76
17. Medan Perjuangan 4,09
21. Medan Belawan 26,25
Total 265,1
Dari luas wilayah keseluruhan Kota Medan, 9.225 ha untuk permukiman,
1.862 ha untuk sektor jasa, dan 740 ha dicadangkan bagi penetapan lokasi
perusahaan dan industri. Sisanya seluas 14.693 ha merupakan areal nonurban dan
7.000 ha diantaranya dimanfaatkan sebagai lahan pengembangan untuk sektor
pertanian tanaman pangan.
Kepadatan penduduk rata-rata Kota Medan adalah 7.520 jiwa/km2.
Kepadatan penduduk tertinggi terdapat di Kecamatan Medan Perjuangan yakni
sebesar 22.813 jiwa/km2, sedangkan kecamatan dengan tingkat kepadatan
penduduk terendah yaitu Kecamatan Medan Labuhan yakni sebesar 2.551
jiwa/km2.
Posisi dan letak Kota Medan berada di dataran Pantai Timur Sumatera
Utara persis antara Selat Malaka dan jajaran pegunungan vulkanis yang membujur
dari barat laut sampai wilayah tenggara. Secara geografis letak Kota Medan
dibatasi oleh:
Sebelah Utara : berbatasan dengan Selat Sumatera
Sebelah Timur : berbatasan dengan Kecamatan Percut Sei Tuan
dan Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli
Serdang
Sebelah Selatan : berbatasan dengan Kecamatan Deli Tua dan
Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli
Serdang
Jalur transportasi daratan memegang peranan penting untuk Kota Medan
dan daerah sekitarnya. Hal ini disebabkan Kota Medan sebagai inti kota yang
menghubungkan satu daerah dengan daerah lainnya melalui sarana angkutan
darat. Pembangunan jaringan jalan di Kota Medan diutamakan untuk mendukung
sektor ekonomi modern, khususnya industri ekspor. Hal ini dimaksudkan untuk
meningkatkan efisiensi produksi dengan menekan biaya pengangkutan,
menciptakan akses kepada pasar regional dan internasional sekaligus memperluas
pelayanan jasa perkotaan.
Kota Medan telah dilengkapi dengan prasarana jalan tol Belmera yang
menghubungkan pusat produksi dan Pelabuhan Belawan dengan Tanjung
Morawa. Dalam koordinasi pemerintah provinsi, direncanakan pembangunan
jalan tol Medan-Binjai dan Medan-Tebing Tinggi sehingga melengkapi kebutuhan
jaringan jalan Kota Medan dengan daerah-daerah hinterland-nya. Disamping itu,
Kota Medan juga didukung oleh jaringan jalan lintas Sumatera-Jawa yang
menghubungkan seluruh provinsi yang ada di Pulau Sumatera-Jawa dengan
armada transportasi orang dan barang.
Untuk mendukung kelancaran transportasi dalam kota, Kota Medan juga
didukung oleh jembatan layang, terminal, dan sarana transportasi perkeretaapian
juga sudah sejak lama merupakan sarana pengangkutan orang dan barang yang
digunakan untuk masuk dan keluar Kota Medan.
Ada empat jalur penting menuju daerah lain dari inti Kota Medan, yaitu:
Sebelah Timur : Jalan Sisingamangaraja. Melalui jalur ini dapat menuju
Provinsi Sumatera Barat, Riau, Jambi, dan Sumatera
Selatan
Sebelah Selatan : Jalan Letnan Jendral Jamin Ginting. Melalui jalur ini
dapat menuju Provinsi Nanggroe Aceh Darusssalam
yaitu Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh Selatan, dan
Aceh Barat setelah melewati Kabupaten Karo
Sebelah Barat : Jalan Jendral Gatot Subroto. Melalui jalur ini dapat
menuju Provinsi Nanggroe Aceh Darusssalam setelah
melewati Kabupaten Langkat.
Meningkatnya masyarakat miskin di perkotaan sebagai akibat dari
urbanisasi dan minimnya perhatian pemerintah tersebut akan mudah diidentifikasi
dengan meningkatnya jumlah rumah-rumah liar yang terdapat di kota, seperti di
pinggiran rel kereta api, di bawah jembatan, di bantaran sungai, di tanah kaplingan
kosong, dan lain-lain. Tentang kehadiran permukiman-permukiman liar ini
memang bukanlah hal yang baru di kota-kota besar termasuk Kota Medan. Sudah
cukup lama hal ini mewarnai kehidupan kota yang biasanya selalu berdampingan
dengan proses urbanisasi (Rusmin Tumanggor dalam Mulyanto Sumardi dan Hans
Dieter Evers, 1982:273).
Permukiman masyarakat yang dibangun secara liar dapat mempengaruhi
keadaan lingkungan sekitar. Salah satunya adalah kebersihan lingkungan. Rumah
yang berhimpitan, pola perilaku yang tidak sehat, dan sarana kebersihan yang
2.2. Kecamatan Medan Timur
Kecamatan Medan Timur adalah salah satu kecamatan di Kota Medan
yang terdiri dari 11 kelurahan dengan luas wilayah 7,76 km2. Batas-batas
Kecamatan Medan Timur adalah sebagai berikut:
Sebelah Utara : berbatasan dengan Kecamatan Medan Deli
Sebelah Timur : berbatasan dengan Kecamatan Medan Perjuangan
Sebelah Selatan : berbatasan dengan Kecamatan Medan Kota
Sebelah Barat : berbatasan dengan Kecamatan Medan Barat
Kecamatan Medan Timur adalah salah satu pusat perkantoran,
perdagangan, dan jasa di Kota Medan dengan penduduknya berjumlah 112.108
jiwa (2006). Di Kecamatan Medan Timur ini terdapat Stasiun Kereta Api Medan
yang dikenal dengan "stasiun besar" sebagai salah satu sarana transportasi darat
antarkota dan antardaerah dari dan ke Kota Medan. Walaupun bukan sebagai
daerah pusat industri, di Kecamatan Medan Timur ini juga banyak terdapat
usaha-usaha industri kecil seperti Moulding dan komponen bahan bangunan (kusen),
bengkel kenderaan bermotor, bengkel bubut, show room serta usaha perdagangan
dan jasa. Sebagai informasi bagi investor dan masyarakat di Kecamatan Medan
Timur ini terdapat:
• Pusat Perbelanjaan Macan Yaohan di Jl. Merak Jingga
• Yuki Supermarket di Jl. Prof. HM. Yamin, SH
• Hotel Angkasa di Jl. Perintis Kemerdekaan
• Kolam Renang Deli dan Gelanggang Remaja di Jl. Sutomo Ujung
• RSU Pirngadi di Jl. Prof. HM. Yamin, SH
• Kantor Telkom di Jl. Prof. HM. Yamin, SH
• Indosat di Jl. Perintis Kemerdekaan.
2.3. Kelurahan Durian
Kelurahan Durian adalah salah satu kelurahan yang berada di Kecamatan
Medan Timur Kota Medan. Batas-batas wilayah Kelurahan Durian adalah sebagai
berikut :
Sebelah Utara : berbatasan dengan Kelurahan Glugur Darat II
Sebelah Timur : berbatasan dengan Kelurahan Sidorame Barat II
Sebelah Selatan : berbatasan dengan Kelurahan Gaharu
Sebelah Barat : berbatasan dengan Kelurahan Silalas dan Kelurahan
Glugur Kota
2.3.1. Keadaan Demografi Penduduk Kelurahan Durian
Masyarakat yang tinggal di Kelurahan Durian terdiri dari warga
pribumi, keturunan asing, dan warga negara asing. Sebanyak 71,76 %
warga pribumi; 28,21 % keturunan asing, dan sisanya warga negara asing.
[image:44.595.106.550.587.732.2]Hal ini dapat dilihat pada tabel:
Tabel 2.2. Distribusi Penduduk Berdasarkan Status Kewarganegaraan dan Jenis Kelamin di Kelurahan Durian Kecamatan Medan Timur Tahun 2010
No. Status Kewarganegaraan Laki-laki Perempuan Jumlah % 1. Warga Negara Indonesia Pribumi 4.254 4.193 8.447 71,76
2. Warga Negara Indonesia
Keturunan Asing 1.604 1.717 3.321 28,21
3. Warga Negara Asing 1 3 4 0,03
Jumlah 5.859 5.913 11.772 100,00
Mayoritas agama masyarakat Kelurahan Durian adalah Islam yakni sebesar 51,15 %. Terbesar kedua adalah Budha sebesar 26,56 % dan
diikuti Kristen Protestan sebesar 20,04 %. Untuk lebih jelasnya dapat
[image:45.595.150.514.192.374.2]dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2.3. Distribusi Penduduk Berdasarkan Agama dan Jumlah (orang) di Kelurahan Durian Kecamatan Medan Timur Tahun 2010
No. Agama Jumlah (orang) %
1. Islam 6.021 51,15
2. Kristen Protestan 2.359 20,04
3. Kristen Katolik 214 1,82
4. Budha 3.127 26,56
5. Hindu 41 0,35
6. Sikh 20 0,17
Jumlah 11.772 100,00
Sumber: Laporan Kependudukan Kelurahan Durian Kecamatan Medan Timur Tahun 2010
Penduduk Kelurahan Durian terdiri dari banyak suku bangsa.
Warga Tionghoa merupakan penduduk yang paling banyak di kelurahan
tersebut yakni sebesar 26,63%, meskipun hanya terpaut 5 % dari suku
Tapanuli yang menduduki jumlah kedua. Warga Matras merupakan
penduduk minoritas di Kelurahan Durian. Hal ini dapat dilihat pada tabel
berikut:
Tabel 2.4. Distribusi Penduduk Berdasarkan Suku Bangsa dan Jumlah (orang) di Kelurahan Durian Kecamatan Medan Timur Tahun 2010
No. Suku Bangsa Jumlah (orang) %
1. Tionghoa 3.135 26.63
2. Tapanuli 2.576 21.88
3. Minang 1.611 13.68
4. Simalungun 1.477 12.54
5. Jawa 1.286 10.92
[image:45.595.148.504.571.745.2]9. Nias 178 1.51
10. Aceh 154 1.30
11. Matras 70 0.59
Jumlah 11.772 100,00
Sumber: Laporan Kependudukan Kelurahan Durian Kecamatan Medan Timur Tahun 2010
Pada umumnya, penduduk Kelurahan Durian berpendidikan
tamatan SMA. Terbanyak kedua tamatan SLTP dan hanya sedikit yang
mempunyai tamatan perguruan tinggi atau sarjana. Hal ini dapat dilihat
[image:46.595.148.510.87.165.2]pada tabel berikut:
Tabel 2.5. Distribusi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan dan Jumlah (orang) di Kelurahan Durian Kecamatan Medan Timur Tahun 2010
No. Tingkat Pendidikan Jumlah (orang) %
1. Belum Sekolah 1.242 10.55
2. Tidak tamat SD 2.322 19.72
3. Tamat SD/ Sederajat 2.473 21.01
4. Tamat SLTP/ Sederajat 2.447 20.79
5. Tamat SLTA/ Sederajat 2.466 20.95
6. Tamat Akademi 531 4.51
7. Perguruan Tinggi/ Sarjana 286 2.43
Jumlah 11.772 100,00
Sumber: Laporan Kependudukan Kelurahan Durian Kecamatan Medan Timur Tahun 2010
Jenis pekerjaan yang paling dominan penduduk Kelurahan Durian
adalah wirasawasta yakni sebesar 22,55 %, sedangkan jenis pekerjaan
penduduk yang paling sedikit yaitu nelayan dan bertani. Masing-masing
sebanyak 3 orang atau 0,03 %. Hal ini dapat dilihat pada tabel di bawah
Tabel 2.6. Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Pekerjaan dan Jumlah (orang) di Kelurahan Durian Kecamatan Medan Timur Tahun 2010
No. Jenis Pekerjaan Jumlah (orang) %
1. Wiraswasta 2.654 22.55
2. Pegawai Swasta 1.579 13.41
3. Pensiunan 475 4.03
4. Pegawai Negeri Sipil 408 3.47
5. ABRI 64 0.54
6. Pegawai BUMN 60 0.51
7. Supir 59 0.50
8. Nelayan 3 0.03
9. Tani 3 0.03
Jumlah 11.772 100,00
Sumber: Laporan Kependudukan Kelurahan Durian Kecamatan Medan Timur Tahun 2010
2.3.2. Fasilitas Umum yang Terdapat di Kelurahan Durian
Tempat ibadah merupakan salah satu fasilitas umum yang ada di
Kelurahan Durian. Tempat ibadah yang banyak ditemui di Kelurahan
Durian yaitu masjid dan langgar (mushola) yakni masing-masing ada 4
buah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 2.7. Distribusi Tempat Ibadah Berdasarkan Tempat Ibadah dan Jumlah Unit di Kelurahan Durian Kecamatan Medan Timur Tahun 2010
No. Tempat Ibadah Jumlah Unit
1. Masjid 4
2. Mushola/ Langgar 4
3. Gereja Kristen Protestan 1
4. Gereja Kristen Katholik -
5. Wihara 2
6. Pura -
Jumlah 11
Sumber: Laporan Kependudukan Kelurahan Durian Kecamatan Medan Timur Tahun 2010
[image:47.595.156.498.481.636.2]mengenai jumlah masing-masing fasilitas kesehatan tersebut dapat dilihat
[image:48.595.159.509.139.316.2]pada tabel berikut:
Tabel 2.8. Distribusi Fasilitas Kesehatan Berdasarkan Jenis Fasilitas Kesehatan dan Jumlah Unit di Kelurahan Durian Kecamatan Medan Timur Tahun 2010
No. Jenis Fasilitas Kesehatan Jumlah Unit
1. Rumah Sakit Umum -
2. Puskesmas -
3. Puskesmas Pembantu -
4. Poliklinik/ Balai Pengobatan 1
5. Apotek 6
6. Posyandu 9
7. Praktek Dokter 5
Jumlah 21
Sumber: Laporan Kependudukan Kelurahan Durian Kecamatan Medan Timur Tahun 2010
Fasilitas pendidikan yang ada di Kelurahan Durian hanya Taman
Kanak-kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD). Hal ini disebabkan sebagian
besar wilayah Kelurahan Durian adalah pusat pertokoan. Untuk lebih jelas
dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:
Tabel 2.9. Distribusi Fasilitas Pendidikan Berdasarkan Jenis Fasilitas Pendidikan dan Jumlah Unit di Kelurahan Durian Kecamatan Medan Timur Tahun 2010
No. Jenis Fasilitas Pendidikan Jumlah
1. Perguruan Tinggi -
2. SLTA/ Sederajat -
3. SLTP/ Sederajat -
4. SD/ Sederajat 1
5. Taman Kanak-kanak 2
Jumlah 3
[image:48.595.155.507.478.635.2]2. 4. Gambaran Umum Masyarakat di Bantaran Rel Kereta Api 2.4.1. Sejarah Pemukiman
Menurut cerita sebagian warga pemukiman di rel kereta api ini berdiri
sekitar tahun 1970-an. Yang pertama kali mendirikan rumah disini adalah
orang-orang Batak perantauan di Kota Medan yang sudah memiliki istri. Awalnya
sebelum menikah mereka tidaklah tinggal disini melainkan menyewa di rumah
kontrakan, setelah menikah maka otomatis tempat tinggal yang dibutuhkan pun
akan semakin besar, untuk itu diperlukan tempat baru. Biasanya mereka hanyalah
buruh-buruh kasar atau sopir angkot dengan gaji pas-pasan. Sebenarnya mereka
hanya mengikuti jejak orang yang mendirikan rumah di bantaran rel kereta api
lainnya sebelum mereka.
Pada awalnya rumah-rumah disini adalah hunian-hunian darurat yang
terbuat dari papan bekas atau kardus yang mereka didirikan secara mandiri,
namun lama kelamaan rumah-rumah yang mereka huni ini kondisinya semakin
baik, bahkan sudah ada yang menjadi rumah permanen dengan dinding dan
lantainya seluruhnya terbuat dari semen.
Lokasi penelitian ini terbentang dari Jalan Bambu II sampai Jalan
Karantina, berrikut adalah batas-batas nya:
• Sebelah Utara berbatasan dengan Jalan Karantina Kelurahan Glugur
Darat I
• Sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Sidorame Barat II
• Sebelah Selatan berbatasan dengan Jalan Sutomo Ujung Kelurahan
Secara administratif daerah ini termasuk dalam Kelurahan Durian dan
Kelurahan Glugur Kota, namun demikian secara data mereka ini termasuk warga
Kelurahan Durian, walaupun secara geografis sebagian tanah yang ditempatinya
adalah daerah administratif Kelurahan Glugur Kota. Ini disebabkan karena
masyarakat yang tinggal disini pada umumnya mengurus masalah KTP dan
masalah administrasi lainnya adalah di Kantor Kelurahan Durian. Alasan mereka
mendaftar sebagai warga Kelurahan Durian adalah masalah jarak, dimana Kantor
Lurah Durian lebih dekat dari pada Kantor Lurah Glugur Kota.
Sebenarnya lahan yang mereka tempati ini adalah kawasan hijau yang
harus bebas dari pemukiman dan lahan yang mereka tempati ini adalah milik PT
Kereta Api Indonesia. Menurut cerita masyarakat, orang yang pertama kali
membuat pemukiman disini adalah komunitas perantau orang Batak Toba. Namun
walaupun begitu lahan-lahan yang kosong disini masih banyak dijumpai, tapi
bukan berarti itu bebas untuk ditinggali, biasanya lahan kosong itu sudah ada
pemiliknya yaitu orang yang sudah pindah dari sini. Jadi, jika ingin memakai
tanah tersebut haruslah minta izin kepada pemilik sebelumnya yang biasanya
harus disewakan.
2.4.2. Kepadatan Penduduk
Pemukiman-pemukiman marginal yang tinggal di bantaran sungai, rel
kereta api atau di bawah jembatan biasanya adalah pemukiman yang sangat
padat. Ini disebabkan kondisi tanah yang mereka tempati sangat terbatas dan
biasanya adalah tanah ilegal (bukan milik sendiri). Kepadatan penduduk di
bantaran kereta api ini pun sangat terlihat jelas, dimana jarak antar rumah terlihat
lainnya hanya dibatasi oleh dinding saja dengan kondisi rumah yang juga sangat
kecil dan sederhana. Tiap-tiap rumah rata-rata dihuni oleh 5 orang dengan ukuran
BAB III
AKTIVITAS DAN KONDISI SOSIAL MASYARAKAT
3.1. Karakteristik Penduduk
Pada umumnya, orang-orang yang tinggal dalam suatu komunitas kota
adalah masyarakat yang heterogen, yakni terdiri dari berbagai suku bangsa,
agama, tingkat pendidikan, pendapatan, dan pekerjaan. Demikian pula halnya
dengan mereka yang tinggal di bantaran rel kereta api di Jalan Bambu II sampai
Jalan Karantina. Mereka adalah orang-orang yang terdiri dari berbagai macam
suku bangsa, agama, pekerjaan dan tingkat pendidikan.
a. Agama
Kalau berbicara komposisi agama di Kelurahan Durian, maka
Islam adalah agama yang dominan dianut oleh masyarakatnya. Namun,
kalau berbicara di bantaran rel kereta apinya, maka agama yang dominan
dianut masyarakatnya adalah agama Kristen Protestan. Mungkin ini adalah
pengaruh sejarah terbentuknya pemukiman di bantaran rel kereta api,
dimana orang Batak adalah orang yang pertama kali mendirikan tempat
hunian di bantaran rel ini, karena pada umumnya orang Batak adalah
beragama Kristen Protestan. Namun demikian, sebagian masyarakatnya
ada juga yang beragama Islam walaupun hanya sebagian kecil saja.
Biasanya mereka yang beragam Islam adalah suku-suku non Batak Toba
seperti Suku Karo, Jawa, Melayu, Dairi, dan Mandailing.
Sesuai dengan pernyataan sebelumnya, pada umumnya masyarakat
di bantaran rel ini berasal dari suku Batak Toba, sebagian kecil suku Karo,
Jawa, Melayu, dan Mandailing. Mereka pada umumnya adalah pendatang
yang merantau dari kampung khususnya dari tanah Batak yang ada di
Tapanuli Utara.
c. Tingkat Pendidikan
Menurut Bapak Armaya (Kepling, 42 tahun), pada umumnya
mereka yang sudah menikah adalah tamatan SMA, SMP, dan SD, bahkan
ada juga yang tidak sampai tamat SD. Sedangkan pada mereka yang
berusia remaja umumnya adalah tamatan SMU sederajat. Sangat jarang
sekali diantara mereka yang sampai tamat Diploma atau Sarjana. Jika
adapun yang sampai tamat dari perguruan tinggi, maka ia sudah pindah