• Tidak ada hasil yang ditemukan

EFEKTIFITAS METODE MNEMONIK DALAM MENINGKATKAN DAYA INGAT SISWA KELAS IX SMP NEGERI 2 SATU ATAP SLUKE PADA MATA PELAJARAN SEJARAH TAHUN PELAJARAN 2012 2013

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "EFEKTIFITAS METODE MNEMONIK DALAM MENINGKATKAN DAYA INGAT SISWA KELAS IX SMP NEGERI 2 SATU ATAP SLUKE PADA MATA PELAJARAN SEJARAH TAHUN PELAJARAN 2012 2013"

Copied!
165
0
0

Teks penuh

(1)

EFEKTIFITAS METODE MNEMONIK

DALAM MENINGKATKAN DAYA INGAT SISWA KELAS IX

SMP NEGERI 2 SATU ATAP SLUKE

PADA MATA PELAJARAN SEJARAH

TAHUN PELAJARAN 2012/2013

SKRIPSI

Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Sejarah

Oleh Kartika Asmarani NIM 3101407003

JURUSAN SEJARAH

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

(2)

ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh Pembimbing untuk diajukan ke Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang pada:

Hari : Selasa

Tanggal : 12 Februari 2013

Pembimbing I Pembimbing II

Prof. Dr. Wasino, M. Hum. Drs. Ba‟in, M. Hum.

NIP. 19640805 198901 1 011 NIP. 19730131 199903 1 002

Mengetahui, Ketua Jurusan Sejarah

(3)

iii

PENGESAHAN KELULUSAN

Skripsi ini telah dipertahankan di depan Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang pada :

Hari : Rabu

Tanggal : 20 Februari 2013

Penguji Utama

Drs. Abdul Muntholib, M. Hum. NIP. 19541012 198901 1 001

Penguji I Penguji II

Prof. Dr. Wasino, M. Hum. Drs. Ba‟in, M. Hum.

NIP. 19640805 198901 1 011 NIP. 19730131 199903 1 002

Mengetahui Dekan

(4)

iv

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis dalam skripsi ini benar-benar karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya orang lain, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang, Januari 2013

(5)

v

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Motto:

 Jadilah yang terbaik walaupun bukan yang terbaik.

Persembahan:

Saya persembahkan karya ini untuk : 1. Allah SWT atas rahmat dan hidayahNYA 2. Ayah dan Ibuku yang selalu mendukung

dan mendoakanku setiap waktu. 3. Mbah rayi terima kasih atas doanya.

4. Teman-teman angkatan 2007 terima kasih

atas kebersamaanya selama ini.

5. Untuk siswa kelas IX A dan IX B serta guru

(6)

vi

RAKATA

Dengan penuh rasa syukur atas kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan Judul “Efektifitas Metode Mnemonik dalam Meningkatkan Daya Ingat Siswa Kelas IX SMP Negeri 2 Satu Atap Sluke pada Mata Pelajaran Sejarah

Tahun Pelajaran 2012/2013”. Skripsi ini merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi guna memperoleh gelar sarjana pada program S1 Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Sudijono Sastroatmojo, M.Si, Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kemudahan administrasi.

2. Drs. Subagyo, M. Pd, Dekan Fakultas Ilmu Sosial yang telah memberikan izin penelitian.

3. Arif Purnomo, S.Pd.,S.S.,M.Pd, Ketua Jurusan Sejarah yang telah memberikan ijin mengikuti ujian skripsi.

4. Prof. Dr. Wasino, M. Hum, selaku pembimbing I yang telah memberikan arahan dan bimbingan dalam penyusunan skripsi ini.

5. Drs. Ba‟in, M. Hum, selaku pembimbing II yang telah memberikan arahan dan bimbingan dalam penyusunan skripsi ini.

(7)

vii

7. Handhy Setyawan Haryanto, S.Pd, selaku guru IPS SMP Negeri 2 Satu Atap Sluke yang telah membantu dalam penelitian ini.

8. Segenap guru dan karyawan serta siswa kelas IX A dan IX B SMP Negeri 2 Satu Atap Sluke yang telah membantu dalam penelitian ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan karena keterbatasan kemampuan, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari siapa saja untuk perbaikan selanjutnya. Semoga segala bantuan dan kebaikan tersebut mendapat limpahan balasan dari Allah SWT.

Akhirnya besar harapan penulis semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan perkembangan pendidikan selanjutnya.

Semarang, Januari 2013

(8)

viii

SARI

Asmarani, Kartika. 2013. Efektifitas Metode Mnemonik Dalam Meningkatkan Daya Ingat Siswa Kelas IX SMP Negeri 2 Satu Atap Sluke Pada Mata Pelajaran Sejarah Tahun Pelajaran 2012/2013. Jurusan Sejarah. Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Semarang. 149 Halaman.

Kata kunci : mnemonik, daya ingat

Mata pelajaran sejarah hanya dianggap sebatas dongeng. Guru sebagai pendongeng dan peserta didik menyimak, begitu seterusnya. Kenyataan di atas menjadikan mata pelajaran sejarah sebagai mata pelajaran yang kurang diminati. Metode pengajaran yang monoton menjadikan siswa tidak memiliki intensitas perhatian yang optimal. Penyebab inti dari itu semua adalah kesulitan siswa untuk menghapalkan sederet peristiwa dan fakta yang harus dihafal, hal inilah yang membuat siswa menjadi sulit untuk mendapatkan nilai yang optimal. Daya ingat memiliki peran yang penting dalam proses pendidikan, sebab dari daya ingatlah prestasi siswa ditentukan. Daya ingat yang rendah akan mengganggu siswa dalam belajar, terutama pada mata pelajaran sejarah yang menuntut siswa untuk mengingat fakta-fakta historis. Mnemonik sebagai strategi pembelajaran dimana metode mnemonik dapat membantu memperkuat daya ingat siswa.

Penelitian ini bertujuan: (1) mengetahui tingkat daya ingat siswa kelompok perlakuan pada mata pelajaran sejarah yang diujikan setelah perlakuan (2) mengetahui tingkat daya ingat siswa kelompok kontrol pada mata pelajaran sejarah yang diujikan setelah perlakuan (3) menemukan efektifitas metode mnemonik dalam meningkatkan kemampuan mengingat mata pelajaran sejarah.

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian eksperimen. Sampel yang digunakan adalah kelas IX A sebagai kelas eksperimen dan kelas IX B sebagai kelas kontrol. Dengan menggunakan data pre test dilakukan uji normalitas, homogenitas, dan uji kesamaan rata-rata sebelum kelas tersebut mendapatkan perlakuan, dilanjutkan dengan pembelajaran diakhiri dengan pos test. Pada analisis data tahap awal setelah dilakukan uji kesamaan dua rata-rata dua pihak diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa kemampuan awal siswa relatif sama.

Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh rata-rata pos test kelas eksperimen adalah 80,56 dan rata-rata kelas kontrol adalah 71,85. Kedua kelas berdistribusi normal dan mempunyai dua varians yang sama. Dengan tingkat kepercayaan = 95% atau ( ) = 0,05. banyaknya siswa pada kelas eksperimen =24 dan banyaknya siswa pada kelas kontrol = 30 diperoleh ttabel= 2,033. Berdasarkan hasil

perhitungan uji t diperoleh nilai thitung= 3.737 > 2,033. jadi H1 diterima jadi

(9)

ix

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL... i

PERSETUJUAN PEMBIMBING... ii

PENGESAHAN KELULUSAN... ... iii

PERNYATAAN... iv

2.3.3 Tahap Belajar dalam Mnemonik ... 12

2.3.4 Bentuk-Bentuk Teknik dalam Metode Mnemonik... 14

2.4 Daya ingat ... 22

(10)

x

2.4.2 Hal-Hal yang Membantu Daya Ingat ... 26

2.4.3 Faktor yang menghambat ingatan ... 29

2.4.4 Proses Mengingat ... 31

2.4.5 Cara Meningkatkan Daya Ingat... 35

2.4.6 Pengukuran ingatan... ... 36

2.4.7 Lupa... ... 37

2.5 Hubungaan Mnemonik dengan Kemampuan Mengingat ... 40

2.6 Kerangka Berpikir ... 41

2.7 Hipotesis ... 43

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Pendekatan Penelitian ... 44

3.1.1 Tahap Pra Lapangan ... 45

3.1.2 Tahap Pelaksanaan Penelitian ... 45

3.1.3 Tahap Pelaksanaan Tes Hasil Belajar ... 46

3.1.4 Tahap Analisis Data ... 46

3.1.5 Membuat Simpulan ... 46

3.2 Populasi dan Sampel... ... 46

3.3 Tempat dan Waktu Penelitian... 47

3.4 Variabel Penelitian ... 47

3.5 Alat Pengumpulan Data ... 48

3.5.1 Uji Validitas ... 48

3.5.2 Analisis Reliabilitas... 51

3.5.3 Analisis Tingkat Kesukaran ... 51

(11)

xi

3.7.2.2 Uji Kesamaan Dua Varians... 61

3.7.2.3 Uji Perbedaan Dua Rata-Rata ... 62

3.7.2.4 Uji Peningkatan Hasil Belajar... 64

3.7.2.5 Kategori Efektifitas Daya Ingat Siswa... 65

3.8 Indikator Keberhasilan ... 65

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian ... 66

4.1.1 Letak Lokasi Penelitian ... 66

4.1.2 Kondisi Sekolah ... 66

4.2 Pelaksanaan Penelitian ... 67

4.2.1 Pada Pelaksanaan ... 67

4.3 Deskriptif Tahap Awal Hasil Penelitian ... 68

4.3.1 Hasil Analisis Data ... 68

4.3.1.1 Uji Normalitas... 69

4.3.1.2 Uji Kesamaan Dua Varians... 70

4.3.1.3 Uji Perbedaan Dua Rata-Rata ... 70

4.4 Hasil Analisis Tahap Akhir ... 72

4.4.1 Uji Normalitas ... 73

4.4.2 Uji Kesamaan Dua Varians ... 73

4.4.3 Uji Perbedaan Dua Rata-Rata data posttest antara kelas eksperimen dan kelas kontrol (uji Hipotesis 1) ... 74

4.4.4 Peningkatan Hasil Belajar Siswa... 75

4.4.5 Daya Ingat Kelas Eksperimen ... 76

4.4.6 Daya Ingat Kelas Kontrol ... 76

4.4.7 Efektifitas Metode Mnemonik ... 76

(12)

xii BAB V PENUTUP

5.1 Simpulan ... 81 5.2 Saran ... 82

(13)

xiii

DAFTAR BAGAN

Bagan 1 Teori Dual Memory Model... 34 Bagan 2 Alur Kerja Memori... 35 Bagan 3 Kerangka Berpikir Penggunaan Metode Mnemonik

(14)

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Rancangan Eksperimen ... 45

Tabel 3.2 Uji Validitas Soal ... 50

Tabel 3.3Rekapitulasi Hasil Analisis tingkat kesukaran ... 53

Tabel 3.4 Rekapitulasi Hasil Analisis Daya Pembeda ... 56

Tabel 4.5 Gambaran Umum Hasil Pre Test ... 69

Tabel 4.6 Hasil Perhitungan Uji Normalitas Data Pre Test ... 69

Tabel 4.7 Hasil Perhitungan Uji Kesamaan Dua Varians Data Pre Test 70

Tabel 4.8 Hasil Perhitungan Uji Perbedaan Dua Rata-Rata Data Pre Test ... 70

Tabel 4.9 Gambaran Umum Hasil Kognitif Post Test ... 72

Tabel 4.10 Hasil Perhitungan Uji Normalitas Data Post Test... 73

Tabel 4.11 Perhitungan Uji Kesamaan Dua Varians Data Post Test ... 73

Tabel 4.12 Hasil Perhitungan Uji Perbedaan Dua Rata-Rata Data Post Test ... 74

Tabel 4.13 Peningkatan Hasil Belajar Siswa ... 75

Tabel 4.14 Hasil Belajar Kelas Eksperimen ... 76

Tabel 4.15 Hasil Belajar Kelas Kontrol ... 76

(15)

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Izin Penelitian ... 85

Lampiran 2 Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian ... 86

Lampiran 3 Daftar Nama Siswa Kelas Uji Coba ... 87

Lampiran 4 Silabus ... 88

Lampiran 5 Soal Uji Coba ... 89

Lampiran 6 Kunci Jawaban Soal Uji Coba ... 94

Lampiran 7 Validitas, Daya Beda, Tingkat Kesukaran dan Reliabilitas 95 Lampiran 8 PerhitunganValiditas, Daya Beda,Tingkat Kesukaran dan Reliabilitas ... 100

Lampiran 9 Daftar Nama Siswa Kelas Eksperimen... 103

Lampiran 10 Daftar Nama Siswa Kelas Kontrol ... 104

Lampiran 11 RPP Kelas Eksperimen ... 105

Lampiran 12 RPP Kelas Kontrol ... 109

Lampiran 13 Modul Pengajaran Kelas Eksperimen ... 113

Lampiran 14 Modul Pengajaran Kelas Kontrol... 116

Lampiran 15 Soal Pre Test/Post Test ... 121

Lampiran 16 Kunci Jawaban Pre Test/Post Test ... 125

Lampiran 17 Daftar Nilai Pre Test dan Post Test Kelas Eksperimen .... 126

Lampiran 18 Daftar Nilai Pre Test dan Post Test Kelas Kontrol ... 127

Lampiran 19 Hasil Analisis Uji Homogenitas Pre Test ... 129

Lampiran 20 Hasil Analisis Uji Normalitas Pre Test Eksperimen ... 131

Lampiran 21 Hasil Analisis Uji Normalitas Pre Test Kontrol ... 132

Lampiran 22 Hasil Uji Perbedaan Dua Rata-Rata Pre Test Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 133

Lampiran 23 Hasil Uji Homogenitas Post Test ... 135

Lampiran 24 Hasil Uji Normalitas Post Test Eksperimen ... 137

Lampiran 25 Hasil Uji Normalitas Post Test Kontrol... 139

(16)

xvi

Lampiran 27 Persentase Ketuntasan Belajar Kelas Eksperimen

dan Kelas Kontrol ... 143 Lampiran 28 Peningkatan Hasil Belajar Kelas Eksperimen

(17)

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Dari hasil observasi dan wawancara pra penelitian di SMP Negeri 2 Satu Atap Sluke, terekam bahwa peserta didik mengeluhkan mata pelajaran sejarah yang mereka dapat selama ini. Mata pelajaran sejarah hanya dianggap sebatas dongeng. Guru sebagai pendongeng dan peserta didik menyimak, begitu seterusnya. Kenyataan di atas menjadikan mata pelajaran sejarah sebagai mata pelajaran yang kurang diminati.

Ada dua hal yang membuat mata pelajaran sejarah tidak diminati oleh peserta didik yaitu pada materi dan metode pengajarannya. Pelajaran sejarah sering disajikan hanya dalam rangkaian angka, tahun, pelaku, tempat kejadian dan tidak mengherankan bila pelajaran sejarah dianggap membosankan (Widiastono, 2003).

Problematika di atas, pendidik dituntut untuk lebih kreatif seiring dengan dinamika perkembangan sejarah itu sendiri. Hal yang menjadi penyebab eksternal serta yang melatarbelakangi rendahnya kualitas nilai mata pelajaran sejarah adalah kesulitan siswa untuk menghapalkan sederet peristiwa dan fakta. Kesulitan yang dihadapi oleh peserta didik ini hendaknya disadari sejak awal.

(18)

mendapat penerimaan yang kurang disukai, hanya dianggap sebagai pelajaran pelengkap, bahkan yang lebih parah lagi pelajaran sejarah diberikan secara tumpang tindih dan diulang-ulang.

Alasan kedua terletak pada aspek metode pengajarannya. (Bireun, 2002:14) masih memandang metode pengajaran konvensional sebagai penyebab pelajaran sejarah menjadi objek keluhan siswa. Anhar Gonggong (dalam Bireun, 2002:15) menyebutkan bahwa selama ini pelajaran sejarah diajarkan dalam metodologi pengajaran yang kurang tepat seperti indoktrinasi dan banyak fakta sejarah tidak disampaikan secara baik oleh para guru. Metode pengajaran yang monoton terlihat pada penekanan hafalan sebagai satu-satunya cara yang paling dianggap efektif. Hafalan yang ada pada pelajaran sejarah tampak rumit, sebab siswa perlu menghafalkan nama-nama tokoh, tempat kejadian, serta waktu kejadiannya.

Metode pengajaran yang menjemukan tersebut menjadikan siswa tidak memiliki intensitas perhatian yang optimal. Penyebab inti dari itu semua adalah kesulitan siswa untuk menghapalkan sederet peristiwa dan fakta yang harus dihafal, hal inilah yang membuat siswa menjadi sulit untuk mendapatkan nilai yang optimal. Upaya untuk menyelesaikan permasalahan tersebut salah satunya menggunakan metode mnemonik (Buzan, 2002:56).

(19)

pelajaran sejarah bahkan fakta yang perlu diingat, begitu juga dengan asosiasi yang menghubungkan fakta yang hendak diingat dengan fakta yang sudah dia kenal sebelumnya.

Hal ini kemudian diperkuat oleh (Higbee, 2003:41) yang menyatakan bahwa kemampuan untuk mengingat sesungguhnya tergantung pada metode yang digunakan, serta bagaimana latihan yang dilakukan dengan metode tersebut. Metode mnemonik memiliki teknik yang bervariasi untuk menyelesaikan problem ingatan seperti untuk mengingat barang-barang yang banyak bisa digunakan teknik pancang, untuk menghapal pidato bisa dibantu dengan teknik loci. Metode ini telah dirasakan manfaatnya dalam rangka mengoptimalkan daya ingat, seperti yang dilakukan oleh para orator Yunani untuk menghapalkan teks orasinya dengan cara menggunakan teknik loci.

Metode ini cukup mudah untuk diaplikasikan. Metodenya yang menantang akan membuat peserta didik tertarik untuk belajar. Metode mnemonik bekerja mengikuti cara kerja otak, sehingga memungkinkan akan mampu maksimal hasil yang akan dicapai peserta didik dalam menguasai mata pelajaran sejarah. Sedangkan materi kelas IX semester I yang penuh dengan hafalan adalah Liga Bangsa Bangsa, dengan kompetensi dasar Perang Dunia ke II.

(20)

ATAP SLUKE PADA MATA PELAJARAN SEJARAH TAHUN PELAJARAN 2012/2013”.

1.2 Rumusan Masalah

Dalam penelitian ini dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut.

1) Bagaimana tingkat daya ingat kelompok eksperimen pada mata pelajaran sejarah setelah perlakuan?

2) Bagaimana tingkat daya ingat kelompok kontrol pada mata pelajaran sejarah setelah perlakuan?

3) Bagaimana efektifitas metode mnemonik dalam meningkatkan daya ingat siswa pada mata pelajaran sejarah?

1.3 Tujuan Penelitian

Secara operasional, tujuan penelitian ini yaitu:

1) Mengetahui tingkat daya ingat siswa kelompok eksperimen pada mata pelajaran sejarah yang diujikan setelah perlakuan.

2) Mengetahui tingkat daya ingat siswa kelompok kontrol pada mata pelajaran sejarah yang diujikan setelah perlakuan.

(21)

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat, baik secara teoritis maupun praktis.

1) Manfaat Teoritis

Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan konseptual bagi perkembangan dunia pengajaran sejarah, khususnya mengenai eksperimen metode mnemonik pada mata pelajaran sejarah.

2) Manfaat Praktis

a) Manfaat Bagi Siswa

Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar sajarah dan memberi intervensi positif terhadap minat siswa untuk mempelajari sejarah. b) Manfaat Bagi Guru

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan pilihan metode pembelajaran yang kreatif. Selain itu juga mengajak guru untuk berpikir kritis dan meramu materi khususnya materi pelajaran sejarah yang semula konservatif menjadi lebih inovatif.

c) Manfaat Bagi Sekolah

(22)

6

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Efektifitas

Suatu pekerjaan dikatakan efektif ialah kalau pekerjaan itu memberi hasil yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan semula, dengan kata lain kalau pekerjaan itu sudah mampu merealisasikan tujuan organisasi dalam aspek yang dikerjakan itu (Pidarta, 2004 dalam Nailis Sa‟adah). Sedangkan menurut Mulyasa (2007:82), efektifitas berkaitan dengan terlaksananya semua tugas pokok, tercapainya tujuan, ketepatan waktu, dan adanya partisipasi aktif dari anggota.

Menurut Carpenter dalam Pidarta (2007:271), mengemukakan prinsip umum menilai efektifitas sebagai berikut :

1. Menilai efektifitas adalah berkaitan dengan problem tujuan dan alat memproses input untuk menjadi output.

2. Sistem yang dibandingkan harus sama, kecuali alat problem. 3. Mempertimbangkan semua output utama.

4. Korelasi dihararapkan bersifat kausalitas.

(23)

mendidik yang paling tepat mencapai tujuan adalah yang paling efektif. Maka alat dan memproses inilah yang dipilih (Pidarta, 2007:271).

2.2 Metode Pembelajaran

Metode mengajar adalah cara-cara untuk menyampaikan materi kepada siswa. Metode pembelajaran digunakan dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran (Arikunto, 2006:300). Metode merupakan cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan (Djamarah dan Zain, 2006:46). Setiap tujuan yang dirumuskan menghendaki penggunaan metode yang sesuai. Satu tujuan yang akan dicapai tidak selamanya cukup dengan menggunakan satu metode saja, melainkan mungkin harus dengan mengkombinasikannya dengan metode lain yang sesuai. Apalagi jika tujuannya lebih dari satu, akan sangat mungkin untuk dilakukan penggabungan beberapa metode. Strategi mengajar dengan memakai beberapa metode yang saling melengkapi akan menghasilkan hasil pengajaran yang lebih baik dari pada penggunaan satu metode karena kekurangan metode yang satu dapat ditutupi oleh metode yang lain.

(24)

digunakan dalam proses pembelajaran (Djamarah dan Zain, 2006:46). Penggunanan metode pembelajaran yang tidak tepat dalam menyampaiakan materi pelajaran dapat menyebabkan tidak terjadinya interaksi belajar mengajar antara guru dan siswa sehingga kegiatan pembelajaran cenderung terjadi hanya satu arah saja.

Dalam proses belajar mengajar, metode memegang kedudukan yang sangat penting. Djamarah dan Zain (2006:72-74) mengungkapkan kedudukan metode dalam kegiatan belajar-mengajar meliputi :

1) Metode sebagai alat motivasi

Motivasi menurut Sardiman, A.M dalam Djamarah dan Zain (2006:72) adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang sehingga metode berfungsi sebagai alat penampung dari luar yang dapat membangkitkan belajar seseorang. Akhirnya dapat dipahami bahwa penggunaan metode yang tepat dan bervariasi akan dapat dijadikan sebagai alat motivasi dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah.

2) Metode sebagai strategi pengajaran

(25)

3) Metode sebagai alat untuk mencapai tujuan

Tujuan adalah cita-cita yang akan dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. Tujuan dari kegiatan belajar mengajar tidak akan pernah tercapai selama komponen-komponen lainnya tidak diperlukan. Salah satunya adalah komponen-komponen metode. Metode adalah suatu cara untuk mencapai tujuan. Guru akan mampu mencapai tujuan pengajaran apabila memanfaatkan secara tepat dan akurat.

2.3 Mnemonik

2.3.1 Definisi Mnemonik

Mnemonik menurut Wojowasito dan Wasito (1980:2) berasal dari kata Mne‟monics yang berarti kepandaian menghapalkan. Inti dari metode ini adalah

imajinasi dan asosiasi. Sederhananya, metode menurut Stine (2002:23) tidak lebih dari kemampuan pikiran untuk mengasosiasikan kata-kata gagasan atau ide dengan gambaran. Higbee (2003:4) mendefinisikan mnemonik sebagai metode untuk membantu memori.

(26)

Lebih jauh lagi tentang asosiasi, James (Higbee, 2003:4) menjelaskan peran asosiasi dalam ingatan dengan mengatakan “semakin fakta yang berkaitan dengan sesuatu hal

atau materi dalam fikiran kita, semakin kuat materi tersebut tertanam dalam fikiran kita. Setiap fakta yang berkaitan dengan materi tersebut menjadi semacam pancing bila materi tenggelam dibawah alam fikiran kita.

Metode mnemonik cukup efektif membantu seseorang untuk mengingat. Kemampuan ini sering dimanfaatkan oleh senator Romawi dan Yunani untuk mencari perhatian para politikus dan masyarakat dengan kekuatan belajar dan daya hapalnya. Metode ini membuat orang Romawi mampu mengingat berbagai fakta tentang kerajaan tanpa kesalahan.

(27)

2.3.2 Tujuan Mnemonik

Mnemonic memiliki tujuan untuk:

1. Mempermudah orang dalam mengingat pengetahuan baik itu tempat, orang, tanggal, dengan cara menghubungkan dan mengasosiasikannya dengan suatu kejadian yang ada hubungannya atau dekat dengan dirinya.

2. Mempermudah orang dalam mengambil kembali pengetahuan yang sudah lama sehingga dapat diungkap kembali, apabila diperlukan.

3. Mengefektifkan informasi dari short-term memory (memori jangka pendek) menjadi long-term memory (memori jangka panjang) dengan berbagai cara yang terdapat didalamnya.

Informasi yang disimpan dalam short-term memory (memori jangka pendek) akan mudah hilang dalam ingatan atau terlupakan, dikarenakan dalam mengingat hanya menggunakan otak kiri saja yang salah satu fungsinya menjalankan memori jangka pendek sebagaimana diungkapkan oleh Roger Sperry dalam Mr.SGM (2008:5) yang menyatakan bahwa „kita memiliki sebuah otak yang terbagi ke dalam dua bagian fisiologis otak kiri dan kanan, yang masing-masing berkaitan dengan fungsi-fungsi mental yang berbeda.‟

(28)

tersimpan dalam memori jangka panjang (long term-memory).

2.3.3 Tahapan Belajar dalam Mnemonik

Joyce (2009:223) dalam buku Models of Teaching mengungkapkan beberapa tahap yang dapat meningkatkan daya ingat dalam mnemonic. Tahapan-tahapan tersebut adalah:

Phase one : Attending to the material

Use techniques of underlining, listing, reflecting Phase two : Developing connections

Make material familiar and develop connection using keyword, subtitutes word and link word system tecniques Phase three : Ekspanding sensori image

Use techniques of redicolus association and exageneration resvise image

Phase four : Practicing recall

Practice recalling the material intil it is completely learned.

(29)

Windura (2009:89) dalam buku Memory Champion menguatkan tahapan belajar di atas dengan merinci proses atau mekanisme mengingat yaitu bahwa :

“...sebenarnya terjadi beberapa tahap sebelum sebuah informasi dapat Anda ingat. Kegagalan Anda dalam mengingat bisa disebabkan oleh ketidakberesan pada satu atau beberapa tahap. Ada empat tahap yang membuat timbulnya suatu ingatan, yaitu : (a) Registration (Pendaftaran), (b) Encoding (Pemahaman), (c) Storage (Penyimpanan), (d) Retrieval ( Pengeluaran)”

Sebuah informasi akan bisa diingat jika sudah “didaftarkan” di otak

terlebih dahulu melalui pancaindra. Setelah didaftarkan, informasi baru tersebut dikaitkan dengan database lama yang ada di otak seseorang, proses ini disebut sebagai proses encoding. Setelah itu baru proses penyimpanan (storage) dilakukan dengan memastikan kerapian susunan dan sistematikanya agar informasi tersebut mudah untuk diingat kembali. Tahap berikutnya, ketika ingin mengeluarkan informasi yang pernah disimpan (retrieval), keberhasilannya sangat dipengaruhi oleh kuat tidaknya asosiasi dalam database otak untuk “menjangkau” informasi tersebut.

(30)

2.3.4 Bentuk-Bentuk Teknik dalam Metode Mnemonik 2.3.4.1Akronim

Akronim adalah suatu gabungan huruf yang disusun membentuk sebuah kata. Teknik ini berguna untuk mengingat kata-kata spesifik, sebagai contoh PSSI merupakan akronim dari Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia. Metode ini dipakai untuk menghapal nama-nama yang berurutan (DePorter dan Hernacki, 2002:45) seperti untuk menghapalkan nama-nama planet yang terdiri dari Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, dan Pluto dengan cara mengambil satu huruf pertama dari setiap planet kemudian membentuknya menjadi kalimat yang kreatif seperti Memainkan Violin Bisa Memunculkan Jalinan Suara Unik Namun Pasti.

Pendek kata, akronim adalah metode singkatan, selain contoh di atas, metode akronim dapat dipakai untuk menghapal nama tempat seperti menghapal enam danau besar di Amerika yang terdiri dari Huron, Ontario, Michigan, Superior dapat dilakukan dengan cara menyingkatnya menjadi HOMES. Ada beberapa akronim yang telah akrab di telinga kita namun justru membuat nama aslinya terlupakan, seperti akronim laser yang berasal dari light amplication by simulated of radiation.

(31)

IPMAT, tingkatan pembagian sel; interphase, prophase, metaphase, anaphase, telephase.

Meski teknik ini memiliki banyak keuntungan, tapi ada beberapa catatan yang perlu diingat diantaranya metode ini cukup baik untuk menghapal informasi yang tidak banyak membutuhkan pemahaman yang rumit seperti menghapalkan runtutan kejadian suatu peristiwa dan tempatnya.

2.3.4.2Akrostik

Kata lain dari teknik akrostik adalah metode kalimat. Cara teknik ini adalah mengambil beberapa hurup pertama dari kata yang akan dihapal kemudian dirangkaikan menjadi untaian kata yang menarik seperti Kings Phil Came Over For The Genes Special (Kingdom, Phylum, Class, Order, Genus, Species). Seperti halnya akronim, teknik akrostik akrostik tidak bermanfaat untuk menghapalkan informasi yang rumit.

2.3.4.3Teknik Loci

(32)

Teknik loci ini menurut Buzan (2002:22) erat kaitannya dengan penggunaan cortex bagian kiri dan kanan, dengan kata lain, metode ini menggabungkan kekuatan

imajinasi dan sensualitas yang merupakan kekuatan fungsi otak kanan dengan pengurutan tempat yang akurat sebagai fungsi dari kekuatan otak kiri. Penting untuk dicatat. Penting untuk dicatat bahwa tempat yang hendak digunakan untuk teknik loci hendaknya sudah familiar terlebih dahulu.

Urutan yang akan dipakai dalam teknik loci dapat dilihat dari contoh Stine (2002:12) sebagai berikut: pilihlah tempat yang selalu diingat sehari-hari seperti ruangan tamu yang terdiri dari sofa, pesawat televisi, lampu dan lukisan dinding. Setelah itu pilihlah fakta yang akan diingat, selanjutnya pilih elemen-elemen yang berkaitan dengan kelima tempat di ruangan tersebut dan kemudian ciptakan gambaran visual yang menghubungkan informasi dengan barang-barang dari ruangan tamu tersebut. Setelah itu munculkan gambaran-gambaran tersebut beberapa kali sehari selama tiga atau empat hari.

Contohnya, kita baru saja berkenalan dengan seorang wanita yang bernama Ashland yang tingginya semampai. Bayangkan, karena badannya yang tinggi, kepalanya terbentur kusen tembok. Setelah itu bayangkan lagi dalam televisi terjadi kebakaran hutan yang hebat, sehingga pepohonan menjadi abu (Ash). Setelah itu lihat pula lukisan pemandangan (lanscape) yang sangat indah.

(33)

ke pintu lokasi dan melihat selembar uang dollar di pintu, ketika anda membuka pintu Jefferson sedang berbaring di sofa dan Nixon sedang makan tanpa alat pendingin. Teknik ini memerlukan patokan arah secara jelas ke lokasi objek-objek untuk memudahkan objek-objek tersebut ditemukan kembali.

Teknik loci menurut Lapp (2003:34) memiliki beberapa aturan main untuk mempermudah proses ingatan. Aturan tersebut meliputi :

1. Jangan mengambil dua benda yang serupa.

2. Jangan meletakkan benda-benda tersebut secara zigzag.

3. Keyakinan akan kemampuan diri untuk memvisualisasikan rumah sendiri akan membantu mempermudah ingatan dengan metode loci.

2.3.4.4Pancang (Peg Word)

Teknik pancang adalah cara untuk melatih daya ingat dengan cara membuat kata-kata pancang dan membayangkannya secara visual. Teknik ini menurut Turkington (2005:56) dikembangkan oleh Henry Herkson pada tahun 1600 dengan menghubungkan satu digit angka tersebut dengan barang-barang yang menyerupai angka tersebut. Seperti angka satu dengan lilin, angka tiga dengan trisula. Prinsip dari teknik ini adalah menggantungkan fakta yang akan diingat kepada kata pancang yang telah dibuat.

(34)

Teknik pancang menurut Turkington (2005:57) adalah teknik untuk melatih daya ingat dengan cara mempelajari satu daftar kata-kata pancang dengan membayangkannya secara visual.

Ada dua prinsip utama dalam menghapal, yaitu asosiasi dan imajinasi (Buzan, 2002:15), maksudnya dari asosiasi adalah mengikatkan materi yang akan diingat dengan kata pancang, sedangkan imajinasi adalah mengimajinasikan ikatan materi yang telah dijalin dengan kata pancang. Berikut ini adalah beberapa kata pancang yang sering dipakai: (a) Sun, (b) Shoe, (3) Tree, (4) Door, (5) Hive, (6) Stick, (7) Heaven, (8) Gate, (9) Wine, (10) Hen.

Cara menghapalkannya dapat dilakukan sebagai berikut : Contohnya ada 3 informasi yang akan dihapal, yaitu kuda, korden, dan pintu. Langkah selanjutnya adalah mengasosiasikan 3 informasi tersebut dengan kata pancang yang terdiri dari Sun, Shoe, dan Tree, yaitu membayangkan kuda sedang berada dibawah terik matahari, sepatu yang terbuat dari kain korden dan terakhir adalah membayangkan kalau ada pohon yang berpintu. Setelah menggabungkan, maka bisa dipastikan kita akan mampu mengingatnya secara berurutan.

(35)

membutuhkan pemahaman dan perenungan. Bisa jadi kelemahan ini perlu ditutupi pemahaman yang jelas tentang suatu peristiwa.

2.3.4.5Imajery Visual

Suharman (2005:45) berpendapat bahwa teknik imajery visual adalah teknik yang paling efektif dibandingkan dengan metode yang lain. Teknik ini mendorong subjek untuk menghadirkan gambaran objek yang akan dihapal ke dalam fikirannya. Teknik ini cukup baik dalam menghadapi informasi deskriptif yang saling berhubungan. Meski demikian, teknik ini malah bermasalah ketika berhadapan dengan informasi yang tidak saling terkait.

Teknik ini tampaknya perlu perangkat untuk membangkitkan imajinasi, baik dengan cerita maupun dengan memakai alat peraga yang dapat mendekatkan pada kenyataan.

2.3.4.6Teknik Cerita

Teknik cerita merupakan metode yang menyenangkan untuk menghapalkan informasi yang tidak saling berhubungan ataupun yang berhubungan dengan informasi dalam jumlah yang banyak. Bahkan menurut DePorter dan Hernacki (2002:226) teknik ini cukup baik untuk menghapalkan daftar-daftar istilah atau pola-pola geografis.

(36)

Pakistan, India dan kepulauan dari Samudera Hindia. Cara menghapal negara-negara tersebut dapat dilakukan dengan cara menggabungkan negara-negara dan kemudian dibuat cerita menarik, seperti pada hari Sabtu saya sedang duduk di restoran sedang makan spagetti (Italia). Tiba-tiba ada seorang wanita lewat dan saya menyapanya “hei makanlah disini, restoran ini milik Mbakyu Nani (Yunani), lalu tukang masak yang berasal dari negara Turki ini mendengar dan kemudian memanggil dua pelayan kembarnya yang bernama Irak dan Iran, keduanya adalah anak dari PakIstan (Pakistan), ia pun menyuruh mereka untuk membuat martabak India yang merupakan makanan khas dari Samudera Hindia.

2.3.4.7Kata kunci

Teknik kunci digunakan untuk mengingat kata inti dari informasi yang akan diingat, misalnya untuk mengingat informasi tentang tugas Dewan Keamanan Liga Bangsa-bangsa (Matroji, 2004:34) yang terdiri dari:

1. Menyelesaikan perselisihan-perselisihan internasional.

2. Menjaga negara-negara anggota terhadap serangan negara-negara lainnya. 3. Pengurangan senjata.

4. Membela dan melindungi Liga Bangsa-Bangsa.

(37)

2.3.4.8Organisasi

Kesulitan apa yang dapat dirasakan seseorang jika dihadapkan pada 12 nomer yang harus dihafal seperti 89021299432, dapat dipastikan akan mengalami kesulitan, namun berbeda halnya jika diorganisasi dengan memilahnya kepada beberapa pilihan seperti 890 212 989 432. Teknik organisasi mirip dengan sistem katalog yang ada diperpustakaan, buku-buku disimpan sesuai dengan kategorinya masing-masing.

Teknik organisasi ini cukup bermanfaat untuk membantu dalam mengingat beberapa informasi yang dapat dikategorikan seperti susunan organisasi dan program kerja atau membantu untuk mengingat barang yang akan dibeli dipasar seperti pisang, apel, biskuit, roti tawar, ayam, sapi. Pengkategoriannya adalah kategori buah-buahan terdiri dari apel dan pisang, kategori daging adalah ayam dan sapi, kategori kue terdiri roti dan biskuit, dan yang dapat diurutkan seperti nama-nama kota dan provinsinya.

(38)

kejadiannya, dengan cara tersebut akan lebih diingat daripada mengingatnya secara acak.

2.4 Daya Ingat

2.4.1 Memori (Daya Ingat)

Memori berasal dari bahasa Inggris, memory. Menurut Wojowasito dan Wasito (1980:34) memory artinya ingatan, kenang-kenangan. Bruno (Syah, 2001:45) mendefinisikan memori sebagai proses mental yang melibatkan penyandian (encoding), penyimpanan (storage) dan pemanggilan kembali (retrieval) informasi dan pengetahuan yang semuanya terpusat di otak.

Teori awal mengenai memori menurut Wirawan (tanpa tahun) dikenal sebagai association model (model asosiasi). Menurut model ini, memori merupakan hasil koneksi mental antara ide dengan konsep. Tokoh yang terkenal mendukung teori ini antara lain Ebbinghaus yang melakukan beberapa penelitian, antara lain mengenai fungsi lupa serta savings.

Pembicaraan tentang daya ingat ini berarti membicarakan tentang potensi otak dengan segala kelebihannya. Isaac Asimov (Stine, 2002:27) menjelaskan bahwa otak memiliki kekuatan yang luar biasa, sebab selain memiliki 200 milyar sel juga memiliki 100 trilyun koneksi antar dendrit yang dengan itu otak mampu menampung sekitar 100 milyar bit informasi.

(39)

pendek. Beberapa diantara kita merasa bahwa seseorang telah diberi kelebihan untuk mampu mengingat dengan cepat. Higbee (2003:46) secara tegas menjelaskan bahwa kebanyakan bukan pada faktor cerdas dan tidak cerdas, namun lebih kepada teknik yang digunakan untuk mengingat, dan pada latihannya dengan teknik tersebut.

Terdapat perbedaan arti antara memori dan daya ingat. Porter dan Hernacki (2002:234) memandang bahwa memori hanya menyimpan apa saja yang dianggap perlu dan berarti, sedangkan daya ingat adalah kemampuan untuk mengingat kembali fakta, informasi dan kejadian yang telah diketahui sebelumnya.

Bruno (Syah, 2001:16) mendefinisikan memori sebagai proses mental yang melibatkan penyandian (encoding) penyimpanan (storage) dan pemanggilan kembali (retrieval) informasi dan pengetahuan yang semuanya terpusat di otak. Definisi Bruno tampaknya tidak begitu mempersoalkan perbedaan antara daya ingat dan memori, sebab memori menurutnya memori sudah mencakup daya ingat. Senada dengan itu, pakar psikologi tidak ada perselisihan dalam elemen ingatan yang terdiri dari penyandian (encoding) penyimpanan (storage) dan pemanggilan kembali (retrieval) itu. Proses sebelum penyandian melibatkan perhatian dan seleksi, dalam proses penyimpanan melibatkan ingatan jangka pendek dan jangka panjang, sedangkan dalam proses pengingatan kembali melibatkan peluruhan atau lupa, jika lupa maka informasi yang diingat itu menjadi luruh dan sulit untuk diingat kembali.

(40)

Kesulitan dalam mengingat kembali informasi yang telah diingat disebabkan karena informasi tersebut tidak disimpan dan dipelihara dengan baik.

Kemampuan seseorang untuk mempertahankan memori tergantung pada teknik dan kemampuannya itu sendiri. Beberapa orang memiliki kemampuan photografic memory (Higbee, 2003:9). Photografic memory adalah kemampuan untuk menghadirkan memori yang pernah dilihatnya secara akurat dan detail, seperti kemampuan untuk mengingat satu lembar untaian puisi hanya dengan sekali melihat saja. Higbee melihat hal ini justru terkadang menjadi beban bagi yang memilikinya. Namun pendapat ini tidak seluruhnya benar, karena beberapa penghapal Qur‟an yang

punya kemampuan ini ternyata juga tidak merasakan beban.

Dilihat dari jangka waktunya, menurut Atkinson (tanpa tahun) memori terbagi menjadi dua tingkatan yaitu ingatan jangka pendek (short term memory) dan ingatan jangka panjang (long term memory). Memori jangka pendek adalah memori yang dapat mengingat fakta hanya untuk beberapa saat saja, dan beberapa jam kemudian, kita mengalami kesulitan untuk mengingatnya. Memori jangka pendek memiliki kapasitas yang terbatas, namun menurut Solso (1991:56) keterbatasan ini dapat diatasi dengan teknik Chunking.

(41)

atau lupa jadwal rapat, itu sebenarnya adalah bakat alami dari memori jangka panjang.

Buzan (2002:45) menjelaskan perbedaan antara memori jangka pendek dan memori jangka panjang, menurutnya memori jangka pendek adalah informasi yang belum terkodifikasi, sebaliknya memori jangka panjang adalah memori yang sudah terkodifikasi dan tersimpan secara menyeluruh dalam otak, lebih dari itu memori jangka panjang bertindak sebagai hard drive yang menjadi tempat penyimpanan pengalaman yang telah lalu di daerah otak yang disebut cerebral cortex (kulit luar otak). Cortex merupakan rumah bagi belukar 100 miliar neuron yang tampangnya mirip tumbuhan merambat. Komunikasi antar sel terjadi lewat pancaran impuls-impuls kimia dan listrik. Setiap kita merasakan sesuatu – pandangan, suara, ide- impuls unik dari sebagian sel-sel saraf tersebut langsung aktif. Ada yang lalu kembali ke bentuk asalnya karena mereka memperkuat koneksi satu dengan yang lainnya.

(42)

Memori menurut Pasiak (2003:23), juga dapat dikategorikan dalam dua tipe, yaitu tipe deklaratif dan tipe prosedural. Memori deklaratif adalah pengetahuan tentang sesuatu yang ada, kejadian, fakta seperti ingatan tentang ulang tahun dan nama-nama orang, sedangkan ingatan prosedural berkaitan dengan keterampilan motorik seperti mengendarai mobil, bermain bulu tangkis. Langkah kongkrit dalam melatih daya ingat secara sistematis menurut Gie (1984:37) meliputi 3 hal yaitu (1) recall; mengingat informasi di luar kepala, (2) recognition; pengenalan kembali

informasi yang telah dia alami baik melalui pendengaran maupun melalui penglihatan, dan (3) relearning; mempelajari kembali informasi yang telah dia masukkan ke dalam memorinya.

2.4.2 Hal-Hal yang Membantu Daya Ingat

2.4.2.1Perhatian dan Pemilihan

Proses yang mengawali memori adalah perhatian. Perhatian menurut Stern (Suryabrata, 1993:33) adalah pemusatan energi psikis terhadap suatu objek. Banyak sekali informasi yang berada di sekeliling kita, namun secara alamiah kita memilih informasi yang menarik perhatian kita.

(43)

Hal tersebut senada dengan yang diungkapkan oleh Ros dan Nichole (2003:46) yang secara detail mengatakan bahwa penetapan tujuan yang jelas dengan kepercayaan yang kuat untuk mencapai itu berperan sangat signifikan untuk memperoleh hasil yang signifikan dari belajar. Kegagalan mengingat sesuatu boleh jadi diawali dari kegagalan dalam memberi perhatian secara maksimal. Fenomena seperti ini dinamakan sebagai absent minded atau pikiran kosong.

Dalam proses belajar mengajar, materi yang akan menjadi pusat perhatian adalah materi yang unik dan yang berbeda dari lingkungan sekitar baik dari segi warna maupun bentuk. Begitu juga dengan informasi yang menarik dalam informasi unik yang dapat mempengaruhi psikologis manusia, oleh sebab itu dalam pembelajaran tampaknya pengajar perlu menyajikan bahan yang menyentuh aspek kebutuhan dan dramatis.

2.4.2.2Emosi

Faktor emosi dapat mempengaruhi ingatan manusia, sebab otak akan memberi perhatian yang lebih besar pada peristiwa yang emosional ketimbang peristiwa datar. Sebagai contoh, bagi sebagian orang yang sudah menikah, kemungkinan besar mereka masih ingat peristiwa pernikahan mereka.

(44)

Pertanyaannya kemudian adalah apa yang membuat ingatan menjadi kuat setelah berasosiasi dengan emosi? James McGaugh (Rose, 2003:57) menjelaskan bahwa otak memanfaatkan zat kimia yang dilepaskan selama stres dan emosi-emosi kuat untuk mengatur kekuatan peyimpanan memori.

Flash bulb merupakan rekaman yang relatif permanen tentang situasi di mana

kita mempelajari peristiwa yang penting dan bermuatan emosi, seperti menyaksikan peristiwa pembunuhan Presiden Amerika, Ronald Reagan, bisa jadi orang yang menyaksikan peristiwa ini masih menyimpan flash bulb memory tentang peristiwa tersebut.

Tentu saja pengkondisian emosi yang positif selama proses belajar mengajar tersebut menjadi penting peranannya supaya materi yang telah dijelaskan oleh guru benar-benar tercerap secara optimal dalam memori jangka panjang. Pengkondisian emosi yang positif dapat dilakukan dengan menghadirkan suasanan yang menyenangkan dalam kelas. Hal ini senada dengan konsep pollyanna princples yang menjelaskan bahwa satuan informasi yang secara emosi menyenangkan akan diproses secara lebih efisien daripada informasi yang mengandung kesedihan.

2.4.2.3Asosiasi

(45)

Eropa lainnya, sebab bentuk negara Italia memiliki bentuk yang hampir mirip dengan sepatu.

Lapp (2003:34) mendefinisikan asosiasi sebagai bentuk hubungan berganda yang menghubungakan antara segala hal yang diinginkan untuk diingat. William James (Higbee, 2003:55) menjelaskan peran asosiasi dalam ingatan dengan mengatakan “semakin fakta yang berkaitan dengan sesuatu hal atau materi dalam

fikiran kita, semakin kuat materi tersebut tertanam dalam ingatan kita. Setiap fakta yang berkaitan dengan materi tersebut menjadi semacam pancing bila materi tenggelam di alam bawah pikiran kita”.

2.4.2.4Kebermaknaan

Materi yang bisa kita pahami maknanya akan lebih mudah diingat dibandingkan materi yang tidak dipahami maknanya, oleh sebab itu tulisan yang gramatikalnya tidak benar akan lebih sulit dipahami dibandingkan dengan tulisan yang gramatikalnya benar.

2.4.3 Faktor yang Menghambat Ingatan

(46)

a. Informasi Tersebut Tidak Penting

Pada prinsipnya otak akan menyimpan informasi penting saja, oleh karena itu, informasi yang dianggap kurang penting akan membuat otak menyimpan informasi tersebut dalam memori jangka pendek.

b. Interferensi atau Gangguan

Interferensi akan mengganggu hapalan. Interferensi terjadi bilamana informasi yang tidak diperlukan masuk dan bercampur aduk dengan informasi yang dibutuhkan, contohnya pada saat kita menghapalkan puisi dan pada saat yang sama kita mendengarkan suara nyanyian dari tetangga yang cukup nyaring, secara tidak sadar lantunan lagu itu akan masuk dalam memori dan bercampur aduk dengan puisi yang sedang dihapalkan.

c. Tidak Fokus dan Tidak Konsentrasi

Konsentrasi merupakan pintu utama belajar. Otak akan mengalami kesulitan jika dua aktivitas dilakukan pada saat yang sama. Misalnya pada saat belajar diiringi dengan khayalan.

d. Stress

(47)

e. Fisik yang Lelah

Fisik yang lelah biasanya disebabkan oleh kerja fisik yang berat. Jika fisik sudah lelah biasanya seseorang mudah mengantuk dan tidur, sebab oksigen yang masuk ke dalam otak berkurang. Belajar dalam jangka waktu yang lama alam membuat fisik menjadi mudah lelah. Solusi untuk memperkuat ketahanan fisik adalah olahraga, sebab dengan olahraga akan mendorong jantung memompa dan otot bergerak.

Tidur yang cukup juga dapat menjadi solusi ketika fisik sedang dilanda keletihan. Kurang tidur akan mengganggu informasi yang telah kita simpan, sebab di saat tidur, proses penggalian informasi dalam otak dilakukan.

f. Pengaruh Zat Kimia

Kebiasaan mengkonsumsi minuman yang beralkohol, merokok merupakan kebiasaan yang dapat merusak otak. Bahkan beberapa zat psikotropika akan membunuh beberapa sel otak, lebih jauh dari itu bisa juga menghambat proses generatif pertumbuhan otak, akibatnya otak tidak dapat memperbaharui diri lagi (generatif).

g. Gaya Hidup

(48)

2.4.4 Proses Mengingat

Daya ingat bukan kemampuan untuk berdiri sendiri, namun daya ingat adalah kemampuan yang terdiri dari beberapa tahap. Melton (Atikinson, tanpa tahun) membagi tahapan memori kepada tiga tahap yaitu penyandian (encoding) penyimpanan (storage) dan pemanggilan kembali (retrieval).

2.4.4.1Penyandian (Encoding)

Inti dari penyandian adalah penterjemahan informasi yang masuk ke dalam gambaran mental dalam bentuk kode-kode. Informasi yang dihapalkan masuk ke dalam kotak memori setelah informasi tersebut dikodefikasi. Strategi paling populer untuk menghapal adalah pengulangan, seperti kita akan menghapal nomor hp teman kita, maka kita akan menyebut nomor tersebut secara berulang-ulang (rehersial) dengan suara yang keras.

Ada juga cara lain supaya informasi itu dapat dihapal, cara tersebut menurut Suryabrata (1987:35) disebut dengan mneumochink (teknik mnemonik). Pandangan Suryabrata di atas secara tegas menjelaskan bahwa teknik mnemonik berada pada tahapan penyandian.

(49)

secara semantik, kita akan hapal sekaligus bisa menjelaskan informasi yang kita hapal tersebut.

Proses penyandian memiliki peranan yang cukup strategis yang dapat menentukan ingatan itu akan tersimpan dalam memori jangka pendek atau akan tersimpan dalam memori jangka panjang.Proses penyandian yang melibatkan emosi akan mendorong informasi yang kita hapal menjadi ingatan jangka panjang, sementara kodifikasi untuk informasi yang tidak penting akan disimpan dalam memori jangka pendek yang kemudian akan dilupakan dalam waktu yang cepat.

2.4.4.2Penyimpanan (Storage)

Penyimpanan adalah proses meletakan informasi dalam memori kita. Pada penyimpanan informasi, perbedaan memori jangka pendek dan jangka panjang menjadi jelas, sifat dari memori jangka pendek akan pendek dan singkat, sebagai contoh, bila kita akan menelpon, maka kita akan melihat nomor telepon yang akan kita tuju kemudian kita berkomat-kamit untuk menghapalkan nomor telepon tersebut dan selanjutnya kita tekan nomor yang dituju. Pada saat itu barangkali kita masih ingat nomor tersebut, namun beberapa hari kemudian kemungkinan besar, nomor telepon tersebut sudah tidak ada lagi di kepala kita. Dalam kasus ini, nomer telepon tersebut disimpan dalam memori jangka pendek. Supaya nomor telepon itu masih bisa diingat, maka nomor telepon itu harus disimpan dalam memori jangka panjang.

(50)

dalam memori jangka panjang, dengan kata lain informasi yang masuk ke dalam memori jangka pendek dan dipertahankan melalui pengulangan-pengulangan, pengulangan ini membuat informasi tersebut masuk ke dalam memori jangka panjang. Sedangkan informasi yang tidak diulang-ulang akan luruh karena digeser oleh memori yang baru dan kemudian dilupakan.

Teori yang membahas tentang ini dinamakan sebagai teori dual memory model. Gambaran singkat dari teori ini dapat dilihat di bawah ini.

Bagan 1 Teori Dual Memory Model

Kapasitas memori jangka pendek yang sedikit cukup menguntung kita, bisa dibayangkan bagaimana kesulitan kita jika informasi yang penting dan yang tidak penting tetap berada dalam memori jangka pendek, akibatnya kemudian seseorang akan merasa kebingungan.

P

engi

nga

ta

n

Memori Jangka Pendek

Input Data Transfer Memori Jangka Panjang

(51)

2.4.4.3Pemanggilan Kembali (Retrieval)

Pengambilan banyak terkait dengan peyimpanan informasi. Kenyataannya informasi yang telah disimpan sebenarnya bisa diambil kembali. Namun yang menjadi masalah adalah cara pengambilannya, dengan demikian sebenarnya informasi yang masuk ke dalam memori jangka panjang bukan hilang, namun cara pengambilannya yang tidak tepat membuat informasi tersebut menjadi sulit untuk diingat.

Analogi yang tepat untuk hal ini dapat dianalogikan dengan penyimpanan barang. Bila barang tersebut terkodifikasi dengan baik dan disimpan di tempat yang sesuai kodenya, tentu untuk mecarinya tidak perlu melihat semua barang, tapi cukup dengan melihat kodenya saja. Kesimpulan dari jalur masuknya informasi menjadi memori dapat dilihat sebagai berikut.

Attention Encoding Storage Retrieval

Bagan 2 Alur Kerja Memori

2.4.5 Cara Meningkatkan Daya Ingat

(52)

Berikut ini adalah orang-orang yang memiliki kemampuan memori yang tinggi; Steve Faloon yang dapat mengingat deretan angka yang panjang; John Conrad yang dapat mengingat pesanan makanan di restoran dengan sangat baik, Rajan dapat meningat angka phi.

Metode untuk meningkatkan daya ingat yang sistematik adalah metode mnemonik. Suharnan (2005:15) mendefinisikan metode mnemonik sebagai strategi yang dipelajari untuk mengoptimalkan kinerja ingatan melalui latihan-latihan. Suharnan memandang bahwa untuk mempelajari metode ini perlu banyak latihan untuk menguasainya. Metode mnemonik sendiri memiliki beberapa teknik seperti teknik loci, teknik kata kunci, teknik imajery visual dan teknik organiasasi.

2.4.6 Pengukuran Ingatan

(53)

menggunakan tahapan – tahapan belajar sebagai acuan. Tes ini misalnya tes pengetahuan konseptual, leksikan, perseptual dan pengetahuan prosedural.

Azwar (2005:37) membagi prosedur skoring ke dalam dua tipe yaitu tipe objektif dan tipe esai. Tipe objektif merupakan yang memiliki satu jawaban yang terbaik dengan memberikan jawaban (Recall) maupun dengan memilih jawaban (recognize), sedangkan tipe esai menghendaki siswa untuk memilih jawabannya

dengan kata-kata sendiri.

2.4.7 Lupa

Mudah lupa terjadi bilamana informasi yang diterima berhasil melalui proses normal dan akhirnya tersimpan di dalam memori jangka panjang. Sayangnya sukar diambil atau diingat kembali saat dibutuhkan. Mudah lupa masih tergolong normal. Meskipun begitu tidak jarang hal ini merupakan tanda – tanda keadaan abnormal.

Mudah lupa dapat terkait dengan penambahan usia yang sering dihubungkan dengan inefisiensi proses memori, seperti proses berpikir menjadi lamban, kurang menggunakan strategi memori yang baik, kesulitan memusatkan perhatian dan mengabaikan distraktor, membutuhkan waktu lebih lama untuk mempelajari sesuatu yang baru, dan lebih banyak dibutuhkan isyarat untuk mengingat kembali informasi yang telah tersimpan. Mudah lupa akan semakin berat jika menyerang manula dan disebut sebagai age-associated memory impairment (AAMI).

(54)

patologis. Namun, perhatian terhadap informsi yang masuk, mengingat kembali informasi yang sudah lama, fungsi kognisi, bahasa, dan kepribadian masih berjalan dengan normal. Hanya proses penerusan informasi dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang yang gagal sehingga informasi baru tersebut tidak dapat diingat kembali.

Lupa menurut Solso (Suharnan, 2005:40) adalah kegagalan dalam mengingat kembali informasi yang telah disimpan dalam gudang ingatan, Giuffre dan DiGeronimo (1995:51) berpendapat bahwa pelupaan setidaknya disebabkan oleh dua hal, yaitu:

a) Sistem pencarian kembali yang rapuh dari ingatan jangka panjang sangat rentan terhadap gangguan atau keadaan emosi.

b) Dapat dipengaruhi oleh substansi yang memberi makan otak pada suatu saat. Para ahli berbeda pendapat tentang pelupaan. Hal ini terjadi karena pelupaan merupakan masalah yang melibatkan banyak variabel.

Ada tiga teori utama yang membahas lupa, yaitu interfence theory (teori halangan), decay theory (teori kerusakan), dan cuedependent forgetting (teori ketergantungan pada isyarat).

a) Interference Theory (teori halangan)

(55)

menghalangi ini dibagi menjadi dua bagian yaitu retroactive inhibition dan proactive inhibition.

Retroactive inhibition terjadi jika ada informasi baru menghalangi informasi

lama yang telah tersimpan. Sebaliknya proactive inhibition terjadi karena adanya informasi lama yang menghalangi pengingatan informasi baru.

b) Decay Theory (teori Kerusakan)

Teori ini memandang bahwa peristiwa lupa terjadi karena informasi yang ada rusak akibat tidak pernah diulang atau diingat kembali, seperti lupa nama teman SD dulu.

c) Cue-Dependent Forgetting (Teori Ketergantungan pada Isyarat)

Teori ketergantungan pada isyarat berasal dari pendekatan proses informasi. Menurut teori ini, peristiwa lupa terjadi karena terlalu lemahnya isyarat sesuatu yang ingin diingat, bukan karena kerusakan informasi atau terhalang oleh informasi lain. Pelupaan akibat isyarat yang lemah ini tidak hanya terjadi pada informasi yang lama saja, namun berlaku juga pada informasi yang baru. Sebagai contoh kita akan mengalami kesulitan dalam mengingat nomor telepon kantor lama kita, sementara nomor telepon kantor baru belum diingat betul.

(56)

informasi harus bermodalkan KAMU, “Konsentrasi, Atensi, Motivasi, Upaya” tambahnya. Dengan menjalankan LUPA sejak usia muda, otak manusia akan lebih tahan lama menyimpan informasi karena informasi yang diterimanya tersimpan di ingatan jangka panjang.

Analogi kelupaan cukup menarik dijelaskan oleh Higbee (2003:47). Informasi yang masuk ke otak lalu masuk ke memori jangka panjang seperti proses pembuatan surat yang terlebih dahulu diketik kemudian diarsipkan dalam brangkas dengan kode – kode tertentu untuk mempermudah pencarian kembali. Proses lupa terjadi bukan karena datanya tidak ada, namun penyimpanan surat yang salah sehingga harus membongkar seluruh isi brangkas dan hal tersebut perlu waktu yang lama.

2.5 Hubungan Mnemonik dengan Kemampuan Mengingat

(57)

diperoleh melalui ujian pra, ujian pasca, soal observasi dan wawancara berstruktur. Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Kwun menunjukkan hasil yang signifikan.

2.6 Kerangka Berpikir

Ada dua hal yang membuat mata pelajaran sejarah kurang diminati oleh peserta didik yaitu pada materi dan metode pengajarannya. Pelajaran sejarah sering disajikan hanya dalam rangkaian angka, tahun, pelaku, tempat kejadian dan tidak mengherankan bila pelajaran sejarah dianggap membosankan. Pendidik dituntut untuk lebih kreatif seiring dengan dinamika perkembangan sejarah itu sendiri. Hal yang menjadi penyebab eksternal serta yang melatarbelakangi rendahnya kualitas nilai mata pelajaran sejarah adalah kesulitan siswa untuk menghapalkan sederet peristiwa dan fakta. Kesulitan yang dihadapi oleh peserta didik ini hendaknya disadari sejak awal.

(58)

Dengan demikian sudah saatnya kita melakukan perubahan sistem pembelajaran dari cara konvensional menjadi metode pembelajaran. Metode mnemonik memiliki kelebihan dibandingkan dengan metode ceramah. Apabila dalam metode ceramah hanya terjadi interaksi satu arah saja, dengan menggunakan metode mnemonik para siswa lebih astusias mengikuti pelajaran hal ini dikarenakan dalam metode ini siswa mendapatkan lebih banyak kesempatan untuk berimajinasi, dan berasosiasi. Dengan adanya keterlibatan kedua prinsip tersebut maka akan memudahkan siswa untuk mengoptimalkan daya ingatnya.

(59)

2.7 Hipotesis

(60)

44

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian eksperimen. Eksperimen dapat diartikan sebagai penelitian yang memanipulasi suatu keadaan terhadap objek atau sampel penelitian dengan tujuan untuk menyelidiki ada tidaknya hubungan sebab akibat serta seberapa besar hubungan sebab akibat tersebut melalui cara memberikan perlakuan-perlakuan tertentu.

Dalam penelitian eksperimen diperlukan dua kelompok sasaran penelitian. Dimana satu kelompok diberikan perlakuan khusus dan satu kelompok lagi dikendalikan pada satu keadaan yang pengaruhnya dijadikan sebagai pembanding. Oleh karena itu, kelompok kedua ini dinamakan kelompok kendali atau kelompok kontrol.

(61)

Metode eksperimen yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pola sebagai berikut:

Tabel 3.1 Rancangan Eksperimen

Kelas Pre test Perlakuan Post test

Eksperimen Xe Metode mnemonik Xe

Kontrol Xk Metode ceramah Xk

Penelitian eksperimen menggunakan suatu percobaan yang dirancang secara khusus guna memperoleh data yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan penelitian. Dalam penelitian ini beberapa tahapan penelitian yang dilakukan peneliti adalah:

3.1.1 Tahap pra lapangan

Tahap ini meliputi susunan rancangan penelitian, memilih lapangan penelitian, mengurus surat izin, dan menyiapkan perlengkapan penelitian. Perlengkapan penelitian yang diperlukan meliputi rencana pembelajaran yakni silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran, modul pengajaran dan soal.

3.1.2 Tahap pelaksanaan penelitian

(62)

perlakuan dengan pembelajaran metode mnemonik sedang kelompok kontrol diberi perlakuan pembelajaran dengan model pembelajaran ceramah.

3.1.3 Tahap pelaksanaan tes hasil belajar

Setelah semua materi pembelajaran disampaikan kepada siswa dan pembelajaran dengan metode mnemonik telah dilaksanakan oleh siswa dan telah dievaluasi oleh peneliti, maka langkah selanjutnya adalah pengukuran hasil tes belajar melalui post-test.

3.1.4 Tahap analisis data

Analisis data dilakukan untuk menguji hipotesis apakah terdapat perbedaan hasil belajar antara kelas yang diberi pembelajaran dengan menggunakan metode mnemonik dan pembelajaran ceramah.

3.1.5 Membuat simpulan

Tahapan ini merupakan tahapan terakhir, yaitu menyimpulkan hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan. Simpulan hasil penelitian merupakan jawaban dari rumusan masalah dan tujuan dari penelitian yang telah diilakukan.

3.2 Populasi dan Sampel

(63)

orang, kelas IX C dengan jumlah siswa 24 orang. Pengambilan sampel dipilih kelas IX A sebagai kelas eksperimen dan kelas IX B sebagai kelas kontrol.

3.3 Tempat dan waktu penelitian

1. Tempat penelitian

Tempat pelaksanaan penelitian ini adalah SMP Negeri 2 Satu Atap Sluke. Desa Bendo, Kecamatan Sluke, Kabupaten Rembang.

2. Waktu penelitian

Penelitian di SMP Negeri 2 Satu Atap Sluke dilaksanakan pada semester I Tahun Ajaran 2012/2013 sebanyak 2 kali pertemuan.

3.4 Variabel Penelitian

(64)

Dalam penelitian ini terdapat dua jenis variabel, yakni variabel bebas dan variabel terikat. Dalam penelitian ini variabel penelitiannya adalah :

1. Variabel bebas

Variabel Bebas adalah variabel yang mempengaruhi variabel terikat (Arikunto, 2006:119). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah

a. Metode pembelajaran mnemonik. b. Metode pembelajaran ceramah. 2. Variabel terikat

Variabel terikat adalah variabel akibat adanya variabel bebas (Arikunto, 2006:119). Variabel terikat dari penelitian ini adalah daya ingat siswa. Diukur dari kemampuan dalam menjawab pertanyaan.

3.5 Alat Pengumpulan Data

Alat yang digunakan untuk mengambil data dalam penelitian ini adalah analisis tes. Perangkat tes yang telah disusun dan digunakan dalam penelitian ini diuji cobakan pada 24 siswa dari kelas IX C, yang telah mendapatkan materi tersebut dengan tujuan untuk mengetahui butir-butir soal yang diuji cobakan sudah memenuhi syarat tes yang baik atau tidak.

3.5.1 Uji Validitas

(65)

mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat (Arikunto, 2006:168). Untuk validitas butir soal dihitung dengan menggunakan rumus korelasi product-moment yaitu:

(Arikunto, 2006:72) keterangan:

rxy : koefisien korelasi antara X dan Y

X : skor tiap butir soal

Y : skor total yang benar dari tiap subjek N : jumlah peserta tes

Kemudian harga rxy yang diperoleh dibandingkan dengan rtabel product-moment

dengan taraf signifikan 5%. Jika harga rhitung > rtabel, maka butir soal yang diuji

(66)
(67)

3.5.2 Analisis Reliabilitas

Suatu tes dikatakan reliabel jika tes tersebut dipercaya dan konsisten. Untuk mengetahui reliabilitas tes obyektif dihitung menggunakan rumus K-R 20 yaitu:

(Arikunto, 2006:100) keterangan:

r11 : reliabilitas tes secara keseluruhan

p : proporsi subjek yang menjawab item dengan benar

q : proporsi subjek yang menjawab item dengan salah (q = p - 1) n : banyaknya item

S : standar deviasi dari tes (akar dari varians)

Harga r11 tersebut selanjutnya dibandingkan dengan harga rtabel dengan taraf

signifikansi 5%, jika harga rhitung > rtabel maka dapat disimpulkan bahwa soal tersebut

adalah soal yang reliabel. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai rhitung = 0,830 > rtabel. Jadi dapat disimpulkan angket penelitian reliabel.

3.5.3 Analisis Tingkat Kesukaran

(68)

mempunyai semangat untuk memecahkannya. Tingkat kesukaran soal ditentukan dengan rumus:

(Arikunto, 2006:210) keterangan:

P : Indeks kesukaran

B : Banyaknya siswa yang menjawab itu dengan betul JS : Jumlah seluruh peserta tes

Kriteria yang menunjukkan tingkat kesukaran soal adalah:

(69)

Rekapitulasi hasil analisis tingkat kesukaran pada uji coba instrumen dapat dilihat dalam tabel 3.3.

Tabel 3.3 Rekapitulasi Hasil Analisis Tingkat Kesukaran

(70)

Kriteria Nomor soal Jumlah

Mudah 22 1

Sedang 1, 2, 3, 4, 5, 7, 9, 10, 11, 12, 13, 15, 16, 17, 18,

19, 20, 21, 23, 24, 25 21

Sukar 6, 8, 14 3

Hasil analisis tingkat kesukaran soal pada uji coba soal diperoleh 3 soal dikaterogrikan sukar, 21 soal dikategorikan sedang dan 1 soal dikategorikan mudah.

3.5.4 Analisis Daya Pembeda

Daya pembeda soal adalah kemampuan soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks diskriminasi, disingkat D. Rumus untuk menentukan indeks diskriminasi adalah:

dengan

keterangan:

D : daya beda soal (indeks diskriminasi).

PA : proposi peserta didik kelompok atas yang menjawab benar.

PB : proposi peserta didik kelompok bawah yang menjawab benar.

JA : banyaknya peserta kelompok atas.

(71)

BA : banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal dengan benar.

BB : banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal dengan benar.

Kriteria soal-soal yang dipakai sebagai instrumen berdasarkan daya pembedanya diklasifikasikan sebagai berikut:

0,00 < D ≤ 0,20 maka daya pembedanya jelek. 0,20 < D ≤ 0,40 maka daya pembedanya cukup. 0,40 < D ≤ 0,70 maka daya pembedanya baik. 0,70 < D ≤ 1,00 maka daya pembedanya baik sekali.

(72)

Rekapitulasi hasil analisis daya pembeda pada uji coba instrumen dapat dilihat dalam tabel 3.4.

Tabel 3.4 Rekapitulasi Hasil Analisis Daya Pembeda

(73)

Kriteria Nomor soal Jumlah Baik 1, 2, 4, 6, 8, 14, 17, 20, 21, 22, 24, 25 12

Cukup 10, 11, 12, 15, 18, 19 6

Jelek 7, 9, 13, 16, 23 5

3.6 Teknik Pengumpulan Data

Mengumpulkan data adalah aktifitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang di ajukan (Sanjaya, 2007:205). Untuk memperoleh data dalam penelitian ini dapat diperlukan alat yang dapat dipergunakan untuk mengumpulkan data (Dewanto dan Tarsis, 1995:5). Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Dokumentasi

Metode ini digunakan untuk mengambil data nama-nama siswa yang menjadi kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dan hasilnya peneliti mementukan kelas IX A sebagai kelas eksperimen sedangkan kelas IX B sebagi kelas kontrol. Selain itu digunakan untuk mendapatkan data-data hasil belajar siswa kelas IX. Dokumen dalam penelitian ini adalah hasil pre test dan pos test.

2. Tes

Gambar

Tabel 3.1 Rancangan Eksperimen
Tabel 3.2 Uji Validitas Soal
Tabel 3.3 Rekapitulasi Hasil Analisis Tingkat Kesukaran
Tabel 3.4 Rekapitulasi Hasil Analisis Daya Pembeda
+7

Referensi

Dokumen terkait