Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Theologi Islam (S.Th.I)
Oleh:
Hurinʻin AM
NIM: 1110034000007
PROGRAM STUDI TAFSIR-HADIS
FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
ii
نيزيزعلا َيَدلاو إ ةصاخ ةلاسرلا ذ يد أ
–
ها امهظفح
ىلع
تاعيجشتلاو تايهستلا عيم
.
ةيفاعلاو ةحصلاب امهعتَ نأ ها لأسأ
ةرخآاو ايندلا ِ ءازاا نسحأ امهيز نأو
.
اه عف ي نأ ها نم وجرأو
اضريو ّب ام إ ا لو يدهيو اهيف كرابيو
Karya ini kupersembahkan untuk kedua orangtuaku
tersayang, Abah dan Ibu, yang dengan penuh cinta
membimbing, menasehati, mendo’akan dan memenuhi
segala kebutuhan.
Matur sembah nuwun kulo haturaken, nyuwun
tambahipun pangestu mugi dalem pinaring manfaat lan
iii
Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa:
1. Skripsi yang berjudul “Bahasa Kepemimpinan Nabi Muhammad Saw.”
ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah
satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya
cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
3. Jika kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau
merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia
menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Ciputat, 18 September 2014
vi
Transliterasi yang dipakai dalam penyusunan skripsi ini berpedoman pada
Romanisasi Standar Bahasa Arab (Romanization of Arabic) yang pertama kali
diterbitkan tahun 1991 dari American Library Association (ALA) dan Library
Congress (LC).
A. Konsonan Tunggal dan Vokal
Arab Indonesia Inggris Arab Indonesia Inggris
ا
A Aط
Ṭ Ṭب
B Bظ
Ẓ Ẓت
T Tع
‘ ʻث
Ts Thغ
Gh Ghج
J Jف
F Fح
Ḥ Ḥق
Q Qخ
Kh Khك
K Kد
D Dل
L Lذ
Dz Dhم
M Mر
R Rن
N Nز
Z Zو
W Wس
S Sق
H Hش
Sy Shء
’ ’ص
Ṣ Ṣي
Y Yض
Ḍ Ḍة
H HVokal
َا
Ā Āْوُأ
Ū Ūْيِإ
Ī Īْوَأ
Aw Awvii
ةَسَسَؤُم
ةَد دَعَِتُم
MutaʻaddidahC. Tā’ Marbūṭah (
ة
)ةاص
alāh Bila dimatikanنامزلا ةآرم
Mir’āt al-zamān Bila iḍafahD. Singkatan
Swt : Subḥānahu wa-taʻālá
Saw : alla Allāh ʻalayh wa-sallam ra : Raḍiya Allāh ʻanhu
M : Masehi
H : Hijriyah
QS : al-Qur’an: Surat
HR : Hadis Riwayat
viii Hurinʻin AM.
Bahasa Kepemimpinan Nabi Muhammad Saw.
Skripsi ini bersifat afirmatif terhadap beberapa penelitian terdahulu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Nabi Saw. adalah seorang pemimpin dengan bisa dibuktikan melalui bahasa yang digunakan. Bahasa kepemimpinan yang ditemukan dalam bahasa Nabi Saw. lebih dominan ketika menggunakan bahasa dalam memberikan penghargaan (reward) dan ketentuan peraturan (legitimate) yang dibuat.
Bahasa kepemimpinan Nabi Saw. bisa dilihat dengan menggunakan lima teori bahasa John R. P. French, Jr., dan Bertram Raven. Teori ini mampu menginvestigasikan keserasian antara kepemimpinan dalam Islam dengan beberapa teori kepemimpinan modern, sehingga memberikan kontribusi pemahaman tentang bahasa kepemimpinan yang digunakan oleh Nabi Saw.
Penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian pustaka dengan menggunakan pendekatan gaya bahasa dalam dua hal. Pertama, pendekatan ilmu gaya bahasa kepemimpinan dalam skripsi ini digunakan untuk menelusuri bahasa kepemimpinan Nabi Saw. Kedua, untuk melihat dan menilai hadis qawlī dalam
Ṣaḥīḥ al-Bukhārī yang teridentifikasi dalam bahasa kepemimpinan.
Sumber data dalam penelitian ini adalah hadis qawlī yang terdapat dalam kitab al-Jāmiʻ al-Ṣaghīr karya Jalāl al-Dīn al-Suyūṭī. Kemudian dari hadis-hadis
ix
taufiq-Nya penulisan berjudul “Bahasa Kepemimpinan Nabi Muhammad Saw.”
ini dapat terselesaikan. Demikian juga, ṣalawat serta salam semoga selalu
tercurahkan kepada Baginda Rasūlullāh Saw. keluarga, sahabat dan pengikutnya
hingga akhir zaman.
Terselesainya penulisan skripsi ini, tentu masih terdapat banyak kekurangan
dan kesalahan. Segala kesalahan tersebut adalah bukti keterbatasan saya di dalam
melakukan penelitian ini. Penelitian ini juga tak luput dari keterlibatan beberapa
pihak yang memberikan kontribusi dalam terselesainya penulisan ini, baik itu
berupa motivasi, bantuan pikiran, material dan moral serta spiritual. Untuk itu
ucapan terimaksih sedalam-dalamnya saya sampaikan kepada:
1. Segenap civitas akademika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Prof. Dr.
Komaruddin Hidayat (Rektor), Prof. Dr. Masri Mansoer (Dekan Fakultas
Ushuluddin), Dr. Lilik Ummi Kaltsum (Ketua Jurusan Tafsir-Hadis), Jauhar
Azizy, MA (Sekjur Tafsir-Hadis). (Jazāhumullāh aḥsan al-jazā‟).
2. Rifqi Muhammad Fatkhi, MA selaku pembimbing yang telah banyak
membantu, membimbing dan mengarahkan penulisan skripsi ini.
(Jazāhullāh aḥsan al-jazā‟ wa-nafaʻanā bi-„ulūmihim fī al-dārayn).
3. Segenap dosen Fakultas Ushuluddin, khususnya dosen-dosen di jurusan
Tafsir-Hadis yang telah banyak berbagi ilmu kepada saya, sehingga saya
mendapatkan setetes air dari samudera ilmu pengetahuan. (Jazāhumullāh
x
masa depan. (Allāhumma irḥamhumā kamā rabbayānī ṣaghīrā, wa-ṭawwil
„umūrahumā fī ṭāʻatik).
5. Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA.; khādim maʻḥad Darus-Sunnah,
selaku orangtua kedua saya yang telah mendidik dengan penuh kesabaran
dan ikhlas. (Jazāhullāh wa-ḥafiẓahu wa-nafaʻanā bi-„ulūmih).
6. Kakak dan adik saya tersayang (Ahmad Baha’uddin & Qurratul A’yuni)
yang selalu senantiasa mendengar keluh kesah serta memberi semangat di
kala suka maupun duka. (Allāhumma allif baynanā fī khayr dunyānā wa
-ukhrānā).
7. Keluargaku di Pamulang (Abah, Umi, Teteh, mbak Nea, dan dek Aal) yang
telah banyak memberikan pelajaran serta dukungan. (Jazāhumullāh Aḥsan
al-Jazā‟).
8. Segenap keluarga besar Darus-Sunnah International Institute For Hadith
Sciences, mahasantri, berikut alumninya, khususnya sahabat-sahabat
ANTABENA. (Allāhumma allif baynanā fī khayr dunyānā wa-ukhrānā).
9. Seluruh mahasiswa Tafsir-Hadis angkatan 2010, khususnya kelas TH-A
(terima kasih untuk kebersamaannya), sahabat seperjuangan (Fifin, Fera,
Ida, Halimah, Mbak Nurul, dll). (Allāhumma allif baynanā fī khayr dunyānā
wa-ukhrānā).
10. Keluarga besar HIMABI yang telah memberikan pelajaran berharga dan
telah menyempatkan waktunya untuk membedah skripsi ini. (Allāhumma
xi
terima kasih yang tak terhingga, serta do’a; semoga amal kebaikan kita
semua dibalas dan diterima oleh Allāh SWT. Jazākumullāh aḥsan al-jazā‟,
mīn…!
Jakarta, 30 September 2014
xii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... ii
LEMBAR PERNYATAAN ... iii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iv
PENGESAHAN PENGUJI ... v
PEDOMAN TRANSLITERASI ... vi
ABSTRAK ... viii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR TABEL DAN DIAGRAM ... xii
BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1
B. Identifikasi, Pembatasan dan Rumusan Masalah ... 8
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 10
D. Studi Terdahulu yang Relevan ... 11
E. Metodologi Penelitian ... 13
F. Sistematika Penulisan ... 16
BAB II : KEPEMIMPINAN NABI SAW A. Kepemimpinan dalam Kamus Para Tokoh ... 18
B. Gaya dan Kriteria Pemimpin... 29
BAB III : TEORI DAN DASAR KEKUASAAN PEMIMPIN A. Tipologi Kekuasaan ... 39
B. Al-Qur’an dan Teori Kekuasaan ... 44
BAB IV : BAHASA KEPEMIMPINAN NABI SAW A. Bahasa Penghargaan ... 51
B. Bahasa Hukuman ... 55
C. Bahasa Legitimasi ... 59
D. Bahasa Ahli ... 63
E. Bahasa Rujukan ... 66
BAB V : PENUTUP A. Kesimpulan ... 72
B. Rekomendasi ... 73
DAFTAR PUSTAKA ... 74
xiii
2. Tabel 2 Komponen Calon Pemimpin ... 27
3. Tabel 3 Kategorisasi Kekuasaan Menurut French dan Raven ... 44
DAFTAR DIAGRAM
1. Diagram 1 Karakter Kepemimpinan Nabi Saw ... 35
[image:13.595.114.512.228.617.2]1
A. Latar Belakang Masalah
Para sarjana Muslim mengompilasi kumpulan besar ucapan (hadis) dan
kebiasaan (sunah) Nabi Saw. sebagai landasan hukum Islam. Sejarawan Muslim
yang pertama mulai menuliskan riwayat hidup Nabi Saw. yaitu: Muḥammad ibn
Isḥ q (767 H), Muḥammad ibn „Umar al-W qidī (820 H), Muḥammad ibn Saʻd
(845 H) dan Ibn Jarīr al- abarī (310 H).1 Para sejarawan ini tidak sekedar
mengandalkan ingatan dan kesan-kesan mereka sendiri, melainkan sedang
mengupayakan rekonstruksi sejarah yang serius. Semua ini tidak lain adalah
karena peran dan posisi Nabi Saw. yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan
umat Islam di saat Nabi Saw. sebagai individu maupun sebagai seorang
pemimpin.
R. Marston Speight mengkaji tentang beberapa komponen yang terkait
dengan ucapan Nabi Saw. melalui pendekatan rumus (a formulaic approach) yang
dia sebut dengan structural formula. Rumus ini merupakan sebuah struktur
sintaksis yang terus diulang dan selalu mempunyai tujuan yang sama. Ada
beberapa keseragaman ucapan dalam penggunaan rumus tersebut. Dari sini dia
1
mengklasifikasi menjadi tiga tipe: pernyataan (declaratory)2, adanya kekuasaan
(imperative)3, dan cerita (narrative)4. Prosedur ini merupakan tahapan terhadap
sebuah analisis retorika.5
Bahasa Nabi Saw. berbeda dengan para penyair atau penulis (sebelum
kelahiran beliau), yang seringkali menuliskan karyanya dengan kalimat-kalimat
rancu dan dibuat-buat sehingga maknanya sulit dimengerti. Dengan adanya hadis
Nabi Saw. maka para penyair merujuk kepada ucapan Nabi Saw. sehingga
syairnya tidak sulit untuk dipahami. Hal ini menjadikan hadis Nabi Saw. sebagai
sekolah tinggi bahasa dan sastra kedua setelah al-Qur‟an yang dapat mendidik
untuk menjadi penyair, penulis atau orator.6
Muhammad Faiz al-Math mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang
lebih fasih dari Nabi Saw. Allah Swt. mengaruniainya cara-cara berbicara dan
mengajarkannya bahasa-bahasa dan dialek bangsa Arab, padahal beliau sendiri
belum pernah bergaul dengan mereka seluruhnya. Hal ini disebabkan Allah akan
menjadikannya guru, pembimbing, dan imam untuk semua umat manusia.7
Oleh karenanya, salah satu aspek yang harus diperhatikan adalah
menyangkut eksistensi Nabi Saw. dalam berbagai posisi dan fungsinya.
Adakalanya sebagai manusia biasa, sebagai pribadi, suami, utusan Allah, kepala
Negara, pemimpin masyarakat, panglima perang dan sebagai hakim pemutus
perkara. Keberadaan ini menjadi acuan pemahaman hadis berkaitan dengan posisi
2
Rumus deklaratif yang dimaksud adalah sebuah bentuk penegasan sederhana baik secara harfiah maupun kiasan.
3
Rumus ini terdiri dari pernyataan yang mengandung sebuah perintah atau larangan. 4
Rumus ini menekankan bahwa hadis merupakan cerita kehidupan Nabi Saw. yang menjadi teladan bagi kehidupan masyarakat.
5R. Marston Speight, “Oral Traditions of the Prophet Muḥammad a Formulaic Approach,”
Oral Tradition IV, no.1-2 (Januari 1989): h. 31. 6
Muḥammad Faiz al-Math, Min Muʻjizāt al-Islām (Amman: D r al-Baṣīr, 1990), h. 36. 7
dan peran apa yang sedang Nabi Saw. “mainkan”. Oleh karenanya penting sekali
mendudukkan pemahaman hadis pada tempat yang proporsional, kapan dipahami
secara tekstual, konteksual, universal, temporal, situasional maupun lokal.
Bagaimanapun pemahaman yang kaku dan statis akan menutup eksistensi Islam
yang ṣaliḥ li-kulli zamān wa-makān.
Syuhudi Ismail (1996 M) mengatakan bahwa tiap ucapan dan perbuatan
nabi (hadis) yang merupakan sumber kedua agama Islam mengandung ajaran
yang bersifat universal, temporal, dan lokal.8 Sebagaimana al-Qarr fī (684 H)
menyebutkan bahwa ucapan dan perbuatan Nabi Saw. memiliki fungsi sesuai
kondisinya, antara beliau sebagai pemimpin, hakim, dan pemberi fatwa atau
penyampai ajaran dari Allah Swt.9 Hal ini berpengaruh pada keumuman hukum
dan kekhususannya serta universalnya atau temporernya.
Lain halnya dengan W. Montgomory Watt10 (2006 M) dan Ramakrishna
Rao11 (seorang filosof Hindu terkemuka), mereka membedakan fungsi diri Nabi
Saw. sebagai seorang Nabi, pejuang, negarawan, orator, pembaru, penolong anak
yatim, pelindung budak, pembebas kaum perempuan, hakim yang adil, dan
manusia suci. Sebagaimana catatan sejarah, Nabi Saw. berperan dalam banyak
fungsi, antara lain sebagai Rasulullah, kepala negara, panglima perang, hakim,12
tokoh masyarakat, suami dan pribadi hingga sebagai model (teladan) yang
sempurna bagi kehidupan manusia. Bahkan Ramakrishna Rao menyimpulkan
8
Syuhudi Ismail, Hadis Nabi yang Tekstual dan Kontekstual Telaah Ma’ani al-Hadis Tentang Ajaran Islam yang Universal, Temporal dan Lokal (Jakarta: Bulan Bintang, 2009), h. 4.
9Syih b al
-Dīn Aḥmad ibn Idrīs ibn „Abdurraḥm n al-Sanhaji al-Qarr fī, Kitāb al-Furūq
atau Anwār al-Burūq fī Anwā’ al-Furūq(Kairo: D r al-Sal m, 2008), h. 346. 10
Baca selengkapnya W. Montgomory Watt, Muhammad Prophet and Statesmen (London: Oxford University Press, 1969).
11
Ramakrishna Rao, Muhammad: The Prophet of Islam (Inggris: Wipe, 1989), h. 32. 12
bahwa dalam sosok Nabi Saw. dunia telah menyaksikan fenomena paling langka
di muka bumi, fenomena yang berwujud sosok hidup dan nyata.
Pemimpin yang sangat unik, inspiratif dan luar biasa serta perlu dikaji
adalah Nabi Saw. yang menempati peringkat Nomor Satu menurut Michel Hart.13
Alasan Hart menempatkan Nabi Saw. di posisi teratas dalam daftar orang paling
berpengaruh di dunia dikarenakan Nabi Saw. adalah satu-satunya orang di dunia
yang sangat berhasil baik pada tataran agama maupun sekuler. Sebagaimana hasil
review dari beberapa sumber klasik yang dilakukan oleh Marc H. Applebaum
menyatakan bahwa teladan yang memiliki karakter terbaik di seluruh wilayah
kehidupan adalah Nabi Saw. termasuk dalam hal kepemimpinan.14
Thomas Carlyle (1881 M), salah seorang pemikir terkemuka abad XIX
mengatakan bahwa Nabi Saw. adalah pria yang jujur dan taat, jujur dalam
perbuatan, perkataan dan pikiran. Seorang pria yang agak pendiam, diam ketika
tidak ada yang perlu dikatakan tapi tegas, bijak, tulus ketika berbicara, selalu
memberi pencerahan atas persoalan.15
Keagungan kepemimpinan Nabi Saw. merupakan sumber inspirasi bagi
berbagai tipe orang yang berpengaruh baik itu negarawan, raja, komandan militer,
pemimpin politik, pemimpin agama maupun CEO bisnis. Dalam sejarah manusia,
sangat jarang dijumpai seorang manusia sempurna yang menunjukkan sifat-sifat
maupun ciri-ciri yang menjadi tolok ukur kepemimpinan.16
13
Michel Hart, The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History (New York: Hart Publishing Company, 1978), h. 33. Hart dikenal sebagai sejarawan, matematikawan, dan ahli astronomi Amerika.
14
Marc H. Applebaum, “A Phenomenological Psychological Study of Muslim Leaders Attitudes Toward Connection with The Prophet Muhammad,” (Dissertation of Doctor in Faculty of Psychology, Saybrook Graduate School and Research Center San Fransisco, 2009), h. 16.
15
Thomas Carlyle, The Hero as Prophet (Maynard: Merrill & Company, 1882), h. 76. 16
Zakiyyah Wajihah El Amin mengutip perkataan Jules Massermen, seorang
psikoanalis dan professor di Universitas Chicago Amerika Serikat yang
meletakkan tiga standar objektif untuk menilai kebesaran para pemimpin, dia
berkata bahwa pemimpin harus memenuhi tiga fungsi: Pertama, pemimpin harus
menyediakan kesejahteraan bagi orang-orang yang dipimpinnya. Kedua,
pemimpin atau calon pemimpin harus menyediakan suatu organisasi sosial yang
orang-orang merasa nyaman di dalamnya. Ketiga, pemimpin harus menyediakan
suatu keyakinan/nilai bagi pengikutnya. Dalam analisis dan penelitiannya tentang
tokoh-tokoh hebat dalam sejarah, Masserman menyimpulkan bahwa pemimpin
yang terbesar sepanjang waktu adalah Nabi Saw. yang mengombinasikan ketiga
fungsi tersebut.17
Penilaian yang berbeda muncul dari kalangan orientalis yang distortif secara
umum berawal akhir abad XVIII dan awal abad XIX. Sebagaimana Washington
Irving18 (1859 M) yang menganggap Nabi Saw. mempunyai penyakit ayan dan
mengalami gangguan kejiwaan. Ia juga menuduhnya sebagai manusia yang hiper
sex, bernafsu ganas, selalu mengejar kenikmatan seks belaka. Seorang manusia
yang tidak puas beristri satu dan oleh karena itu ia mempunyai istri lebih dari
sepuluh.19 Tuduhan miring terhadap Nabi Saw. juga dilakukan Jean Damascene
yang menganggap Nabi Saw. sebagai perampok, yang selalu merampas unta-unta
17
Zakiyyah Wajihah El Amin, “The Leadership of Muhammad the Prophet of Islam: An Integral Analysis,” (Dissertation of Doctor in Faculty of Human Development, Fielding Graduate University United States, 2008), h. 107.
18
Dia adalah penulis terkemuka kebanggaan Amerika yang hidup pada abad XIX, yang menulis sejarah hidup Nabi Saw. dengan retorika penulisan yang begitu mengagumkan. Meskipun dalam penulisannya terlihat sedikit kejujuran tapi masih banyak penilaiannya yang penuh prasangka dan tidak toleran. Baca selengkapnya Washington Irving, Mohammed (London: Wordsworth Editions, 2007).
19
di waktu peperangan.20 Tuduhan ini menyatakan bahwa Nabi Saw. bukanlah
seorang pemimpin, teladan apalagi seorang Nabi yang diagungkan.
Begitu juga dengan Robert Spencer21 yang menyatakan bahwa Nabi Saw.
merupakan pendiri agama paling tidak toleran di dunia. Dalam bukunya dikatakan
bahwa Nabi Saw. merupakan seorang Nabi pedofil, seorang pembenci wanita dan
penuh dengan kekerasan. Bahkan dia mengatakan bahwa perkataan dan perbuatan
Nabi Saw. telah menggerakkan orang-orang Muslim untuk melakukan kekerasan
selama 1400 tahun.22
Tuduhan-tuduhan orientalis terhadap Nabi Saw. membuat umat Islam
menjadi resah. Hal ini dikarenakan umat Islam menganggap Nabi Saw. sebagai
panutan dan pemimpin spiritual tertinggi mereka yang nyaris sempurna. Meskipun
tidak dianggap sebagai Tuhan, Nabi Saw. ditempatkan dalam penghormatan yang
setinggi mungkin. Dia tidak boleh digambar, dan bagi orang-orang yang saleh,
menyebut namanya akan menjamin limpahan rahmat Ilahi bagi diri yang berdo‟a.
Istri-istrinya disebut sebagai ibu-ibu orang yang beriman. Setiap rincian riwayat
hidupnya telah terpelihara senantiasa di dalam hadis-hadis.23
Dengan berbagai tuduhan-tuduhan di atas bisa mengakibatkan keraguan
mengenai posisi Nabi Saw. sebagai seorang pemimpin yang ideal.
Hal yang menjadi permasalahan adalah posisi Nabi Saw. yang berkaitan
dengan maksud perkataan (bahasa) Nabi Saw. sebagai pemimpin sangat
20
Shabir Akhtar, Mengungkap Kelicikan Barat Sekuler Dengan Kasus Ayat-ayat Setan Salman Rushdie. Penerjemah Usman Efendi (Jakarta: CV. Firdaus, 1992), h. 8.
21
Seorang pengarang dan narablog Amerika Serikat yang dikenal karena kritiknya terhadap Islam dan penelitian tentang terorisme Islam dan jihad. Ia telah menerbitkan dua belas buku, dengan karya terkenalnya The Truth About Muhammad: Founder of the World’s Most Intolerant Religion (2006).
22
Robert Spencer, The Truth About Muhammad: Founder of the World’s Most Intolerant Religion (United States: Regnery Publishing, 2006), h. 172.
23
memengaruhi pemahaman suatu hadis. Segi-segi yang berkaitan erat dengan diri
Nabi Saw. dan suasana yang melatarbelakangi ataupun menyebabkan terjadinya
hadis tersebut mempunyai kedudukan penting dalam pemahaman suatu hadis.
Bisa saja suatu hadis tertentu lebih tepat dipahami secara tekstual, sedang hadis
tertentu lainnya lebih tepat dipahami secara kontekstual.
Tentu, perbedaan posisi Nabi Saw. tersebut sangat berpengaruh terhadap
pemahaman sebuah hadis. Hal ini karena intensitas posisi Nabi Saw. sebagai
seorang pemimpin memiliki berbagai motif ketika bersabda. Hal ini juga
dikarenakan bahwa ucapan atau perkataan Nabi Saw. telah diakui dan sangat
bernilai tinggi. Semua ini tampak ketika beliau berkomunikasi dengan para
sahabat seperti persoalan mengenai hubungan serta tanggungjawab sosial terhadap
seseorang. Sebagaimana sikap Nabi Saw. dalam memberikan larangan, perintah,
anjuran serta penghargaan yang tersirat dari gaya bahasa beliau sebagai seorang
pemimpin.
Pentingnya posisi Nabi Saw. ini membuat para ulama khususnya ahli Ilmu
Kalam, Ushul Fiqh dan Hadis merumuskan konsep pemilahan posisi Nabi Saw.
Kelompok ahli hadis memfokuskan hal ini pada pemahaman hadis, sedangkan ahli
Ushul Fiqh lebih mengulasnya pada perbuatan Nabi Saw.24 Perhatian yang ekstra
terhadap posisi Nabi Saw. ini tampaknya dilatarbelakangi oleh upaya menjaga
kemurnian ajaran agama (syarīʻah) karena sebagian dari perbuatan Nabi Saw.
adalah tabligh dan fatwa.
Pernyataan ini menunjukkan masalah yang terjadi dalam matan hadis.
Ketika dilihat dari bentuk matannya, hadis Nabi Saw. ada yang berupa jawāmiʻ
24
al-kalim (ungkapan yang singkat, namun padat maknanya), tamsīl
(perumpamaan), bahasa simbolik (ramzi), bahasa percakapan (dialog), ungkapan
analogi (qiyāsi), dan lain-lain.25 Klasifikasi yang terlepas dari keadaan yang
tumpang tindih memang sering sulit dihindari dalam pembagian hadis dilihat dari
segi-segi tertentu. Pembagian ini diperlukan dengan maksud menjelaskan
kekhususan yang dimiliki oleh hadis Nabi Saw.
Oleh karena itu, kajian ini akan difokuskan pada kepemimpinan Nabi Saw.
serta bahasa yang digunakan. Lewat kajian matan hadis saya akan menganalisa
gaya bahasa kepemimpinan Nabi Saw.
B. Permasalahan
1.) Identifikasi Masalah
Bila diidentifikasi maka masalah yang muncul dari topik di atas mempunyai
beberapa pertanyaan, yaitu:
a. Bagaimana memisahkan makna ketika Nabi Saw. sebagai seorang Nabi dan
sebagai manusia biasa?
b. Apakah Nabi Saw. seorang pemimpin?
c. Apa indikator yang menunjukkan bahwa Nabi Saw. seorang pemimpin?
d. Bagaimana kapasitas Nabi Saw. ketika menjadi seorang pemimpin dalam
bersabda?
e. Apa yang menjadi sifat dan motif Nabi Saw. dalam bersabda?
f. Apakah Nabi Saw. mempunyai kriteria khusus ketika berada dalam
penempatan suatu posisi?
25
g. Bagaimana implikasi hukum dari posisi Nabi Saw. yang beragam?
h. Bagaimana bentuk bahasa Nabi Saw. ketika memberikan perintah atau
larangan?
i. Apakah ada sebuah teori khusus yang membuktikan bahwa itu adalah
bahasa Nabi Saw.?
j. Faktor apa saja yang bersinggungan dari bahasa Nabi yang positif maupun
yang negatif ketika menjadi seorang pemimpin?
2.) Pembatasan Masalah
Berpijak dari identifikasi di atas, pembahasan dalam penelitian ini akan
difokuskan pada kajian tentang gaya bahasa Nabi Saw. sebagai pemimpin. Oleh
karenanya dari pertanyaan-pertanyaan di atas dibatasi pada pertanyaan yang
terkait dengan gaya bahasa Nabi Saw. yakni: Bagaimana bentuk bahasa
kepemimpinan Nabi Saw?
Pembatasan ini didasarkan pada asumsi bahwa posisi Nabi Saw. sebagai
seorang pemimpin dapat dilihat dari bahasa yang digunakan. Dalam hal ini, saya
akan berupaya menelusuri dan menganalisa bahasa Nabi Saw. sebagai seorang
pemimpin. Sedangkan pembatasan posisi Nabi Saw. sebagai pemimpin dibatasi
karena ingin membantah pandangan orientalis yang menyatakan bahwa Nabi Saw.
bukan seorang pemimpin. Pertanyaan-pertanyaan yang tidak saya pilih
dikarenakan sudah dibahas pada kajian sebelum-sebelumnya.26
26
3.) Rumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka saya merumuskan satu
pertanyaan utama, yaitu: Bagaimana gaya bahasa Nabi Saw. ketika menjadi
seorang pemimpin?
Pertanyaan ini saya pilih karena untuk melihat bagaimana pola bahasa yang
digunakan ketika Nabi Saw. berada di posisi pemimpin. Dengan demikian,
penelusuran ini terkait dengan kajian bahasa kepemimpinan Nabi Saw. yaitu
tentang aqwāl Nabi Saw. melalui kajian matan hadis.
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Sebagaimana yang tertuang dalam rumusan masalah sebelumnya, maka
tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah:
1. Menjelaskan gaya bahasa kepemimpinan yang digunakan Nabi Saw.
2. Menjelaskan bahwa Nabi Saw. adalah seorang pemimpin melalui bahasa
yang digunakan Nabi Saw.
3. Memberikan penjelasan serta sanggahan terhadap orientalis yang
menganggap bahwa Nabi Saw. bukan seorang pemimpin.
Terkait dengan tujuan yang terealisasi, diharapkan hasil penelitian ini dapat
memberikan manfaat ke dalam dua kategori, yaitu bersifat akademis dan praktis:
1. Manfaat akademis:
a. Mengetahui bahasa kepemimpinan Nabi Saw.
b. Membuktikan bahwa Nabi Saw. seorang pemimpin melalui bahasa yang
digunakan Nabi Saw.
c. Mengetahui kepemimpinan Nabi Saw.
2. Manfaat praktisnya:
a. Memberikan konstribusi pemahaman bahasa kepemimpinan Nabi Saw.
yang nantinya dapat dikembangkan dan dijadikan acuan untuk
penelitian lebih lanjut.
b. Secara umum diharapkan dapat bermanfaat bagi khazanah ilmu
pengetahuan, serta terhadap konsep-konsep aktual terutama mengenai
masalah-masalah yang menyangkut bahasa Nabi Saw.
D. Studi Terdahulu yang Relevan
Beberapa studi terdahulu yang dianggap relevan dengan kajian ini antara
lain adalah artikel tentang bahasa manajerial yang ditulis oleh beberapa
mahasiswa akademi Islam dari University of Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia
(Majid Daneshgar, Faiṣal ibn Aḥmad Syah, Zulkifli ibn Mohd Yusof, Gholamreza
Nuei, Mus af ibn „Abdullah dan Jilani ibn Touhami Meftah) yang juga
bekerjasama dengan Azar Mirzaei yang merupakan peneliti pusat studi al-Qur‟an
di University of Malaya pada tahun 2012. Artikel ini berjudul A Study on
Managerial Language of Islam. Dalam artikel ini dibahas mengenai tipologi
manajerial yang sesuai dengan bahasa manajerial dalam Islam yang dalam hal ini
menggunakan tipologi French and Raven (1959) dan teori powernya Naderi
tiga sudut pandang yaitu al-Qur‟an, Hadis dan ijtihad ulama.27 Terlebih, artikel ini
menginvestigasi keserasian antara bahasa manajerial dalam Islam dengan
beberapa teori manajerial modern dan mempertanyakan bagaimana Islam
mengajarkan cara berbicara antara seseorang dengan lainnya. Artikel ini belum
secara spesifik membahas tentang bahasa manajerial, hanya pengenalan serta
pemaparan dari basis tipologi dalam berinteraksi.
Kajian lain juga pernah dilakukan oleh R. Marston Speight dalam salah satu
proyek penelitiannya. Artikel yang ia tulis berjudul Oral Traditions of the Prophet
Muḥammad a Formulaic Approach.28
Ia mengkaji tentang beberapa komponen
yang terkait dengan ucapan Nabi Saw. melalui pendekatan rumus (a formulaic
approach) yang dia sebut dengan structural formula. Pendekatan melalui rumus
ini dalam kajian hadis memungkinkan untuk menemukan atau memastikan
keaslian teks yang berasal langsung dari Nabi Saw. Prosedur ini merupakan
tahapan terhadap sebuah analisis retorika.29 Artikel ini memiliki kemiripan dengan
masalah yang saya angkat. Hanya saja, dalam artikel ini hanya dijelaskan
penggunaan rumus-rumus yang mengidentifikasikan bahwa ucapan tersebut
berasal langsung dari Nabi Saw.
Penelitian yang masih dalam satu tema juga telah diteliti Marc H.
Applebaum dalam disertasi doktoralnya di Saybrook Graduate School and
Research Center San Fransisco, California, 2009 yang berjudul A
Phenomenological Psychological Study of Muslim Leaders Attitudes Toward
27Majid Danesghar, dkk., “
A Study on Managerial Language of Islam,” Procedia Social and Behavioral Sciences, no. 70 (Januari 2013): h. 501-507.
28Speight, Oral Traditions of the Prophet Muḥammad a Formulaic Approach, h. 27-37. 29
Connection with The Prophet Muhammad.30 Disertasi ini menyelidiki tentang
sikap pemimpin Muslim yang dihubungkan dengan Nabi Saw. Kontribusi dari
disertasi ini adalah memberikan pemahaman psikologi Nabi Saw. untuk seorang
pemimpin dan cara berhubungan dengan lainnya.
Kajian lain tentang kepemimpinan Nabi Saw. juga pernah dilakukan oleh
Zakiyyah Wajihah dalam disertasinya yang membahas tentang The Leadership of
Muhammad Prophet of Islam: An Integral Analysis.31 Disertasi yang diselesaikan
pada tahun 2008 ini fokus pada kajian analisis integral seorang pemimpin.
Berdasarkan pengamatan pada karya-karya di atas, penelitian ini mengenai
bahasa kepemimpinan. Oleh karenanya penelitian ini akan menjelaskan tentang
bahasa kepemimpinan Nabi Saw.
E. Metodologi Penelitian
1. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah hadis qawlī yang terdapat dalam
kitab al-Jāmiʻ al- aghīr karya Jal l al-Dīn al-Suyū ī. Kitab ini dipilih karena
merupakan kitab kumpulan hadis-hadis qawlī. Pemilihan hadis qawlī ini bertujuan
memfokuskan pembahasan pada ucapan Nabi Saw. sehingga mempermudah untuk
menelusuri secara langsung pola bahasa Nabi Saw. Kemudian dari hadis-hadis
qawlī tersebut dibatasi hanya pada kitab aḥīḥ al-Bukhārī yang terkait dengan
kriteria Nabi Saw. sebagai seorang pemimpin. Pembatasan ini dikarenakan
hadis-hadis yang terdapat dalam kitab aḥīḥ al-Bukhārī sudah mendapatkan legitimasi
30
Disertasi ini kemudian diterbitkan oleh UMI Microform ProQuest LLC pada tahun 2009. 31
dari para ulama‟ hadis bahwa hadis tersebut ṣaḥīḥ terhindar dari cacat dan
muttaṣil sampai ke Nabi Saw.
Kemudian sebuah buku untuk pembahasan mengenai tipe-tipe bahasa
seorang pemimpin menggunakan buku yang berjudul Politic Leadership yang
ditulis oleh Barbara Kellermen pada tahun 1986. Barbara, memasukkan satu
pembahasan khusus pada bab The Bases of Social Power mengenai landasan atau
dasar utama menjadi seorang pemegang kekuasaan (pemimpin) yang ditulis oleh
John R. P. French, Jr., dan Bertram Raven. French dan Raven mengatakan bahwa
seorang pemimpin harus memiliki lima basis kekuasaan, yaitu reward, coercive,
legitimate, referent, dan expert. Tipe ini merupakan lima landasan terkuat dan
terbaik dari seorang pemimpin kekuasaan.32 Selain itu, lima landasan ini
merupakan teori tertua yang telah disepakati bersama dan dijadikan tolak ukur
dalam bidang kepemimpinan. Oleh karenanya, buku ini menjadi rujukan utama
untuk menentukan beberapa faktor yang dimiliki oleh seorang pemimpin.
Sedangkan sumber lainnya didapatkan dari beberapa dokumen,
tulisan-tulisan yang telah dipublikasikan dalam bentuk buku, jurnal, ataupun artikel dari
internet yang menguraikan pembahasan berkaitan dengan yang diteliti. Dalam hal
ini menggunakan sebuah artikel A Study on Managerial Language of Islam.
Kemudian untuk pembahasan mengenai bahasa Nabi Saw. menggunakan disertasi
seperti A Phenomenological Psychological Study of Muslim Leaders Attitudes
Toward Connection with The Prophet Muhammad karya Marc H. Applebaum dan
The Leadership of Muhammad Prophet of Islam: An Integral Analysis karya
Zakiyyah Wajihah. Serta sebuah artikel yang berjudul Oral Traditions of The
32
Prophet Muḥammad: A Formulaic Approach karya R. Marston Speight. Dari
data-data itulah dijadikan bahan dalam mengelola dan mengkaji penelitian ini.
2. Metode Pengumpulan Data
Dalam hal pengumpulan data, saya mengumpulkan hadis qawlī dalam kitab
al-Jāmiʻ al- aghīr yang berjumlah 29.025 hadis. Kemudian dari ribuan hadis ini
diperoleh sebanyak 815 hadis yang terdapat dalam kitab aḥīḥ al-Bukhārī.
Terakhir, hadis tersebut didapat hanya 159 hadis yang dinilai menggunakan gaya
bahasa kepemimpinan.
Indikator dari bahasa seorang pemimpin sendiri bisa dilihat ketika memberi
perintah dan larangan. Bahasa perintah di sini bisa dideteksi dengan melihat
bentuk lafal yang digunakan, dalam hal ini menggunakan fiʻil ʻamr. Sedangkan
dalam bentuk bahasa larangan bisa dideteksi dengan melihat adanya penggunaan
lam nahī.
Hadis ini akan dianalisa menggunakan teori manajerial bahasa John R. P.
French, Jr., dan Bertram Raven tentang manajerial bahasa yang berjudul The
Bases of Social Power.33 Tulisan ini bertujuan untuk mengenali tipe-tipe
kekuasaan seorang pemimpin secara umum dan sistematika yang digunakan.
Karya ini merupakan pengenalan serta pemaparan dari basis tipologi kekuasaan
dalam berinteraksi. Teori tipologi ini digunakan karena merupakan teori tertua dan
populer dikalangan sarjana, sebagaimana yang dikatakan oleh Jerald G. Bachman
seorang professor penelitian di Universitas Michigan yang meneliti tentang
Psikologi Sosial.
33
3. Metode Penulisan
Dalam hal teknik penulisan, saya mengacu kepada Pedoman Akademik
Program Strata 1 2013/2014 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dan menggunakan
pedoman transliterasi Romanisasi Standar Bahasa Arab (Romanization of Arabic)
yang pertama kali diterbitkan tahun 1991 dari American Library Association
(ALA) dan Library Congress (LC).
F. Sistematika Penulisan
Pembahasan dalam skripsi ini akan disusun secara keseluruhan terdiri dari
lima bab, sebuah bab pendahuluan dan tiga bab isi, kemudian ditutup dengan
sebuah bab penutup yang memuat kesimpulan penelitian ini.
Bab pertama adalah pendahuluan yang berisi perdebatan akademik seputar
posisi Nabi Saw. sebagai seorang pemimpin. Permasalahan yang menjadi konsen
utama penelitian ini adalah seputar pola bahasa kepemimpinan Nabi Saw. Dengan
disertakan studi terdahulu yang relevan bertujuan untuk memposisikan studi ini di
antara studi-studi terkait lainnya yang pernah dilakukan atau searah dengan
penelitian ini. Kemudian diuraikan metode penelitian yang akan saya pakai untuk
menyelesaikan penelitian ini. Dan pembahasan terakhir penjelasan mengenai
sistematika pembahasannya. Pada bab ini menguraikan secara umum alur tulisan
dengan batasan-batasannya.
Bab kedua merupakan pemaparan teori untuk melacak kriteria seorang
pemimpin. Metode penjelasan dalam bab ini yakni memaparkan teori-teori
kepemimpinan. Tujuannya untuk membatasi ruang lingkup kajian dan
Bab ketiga merupakan teori untuk melacak gaya bahasa seorang pemimpin.
Pada bab ini memberikan penjelasan tentang teori kekuasaan pemimpin yang
disertai dengan pengaplikasiannya dalam al-Qur‟an. Dengan tujuan untuk
mengetahui ciri bahasa yang digunakan oleh pemimpin.
Bab keempat merupakan bab analisis. Bagian ini difokuskan pada analisa
hadis-hadis qawlī dalam kitab aḥīḥ al-Bukhārī dengan menggunakan teori
bahasa seorang pemimpin. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui bahasa
kepemimpinan Nabi Saw.
Bab kelima merupakan penutup yang terdiri dari kesimpulan jawaban dari
rumusan masalah dalam penelitian ini, serta menemukan apa saja yang bisa
18
Pada bab ini, saya bermaksud memaparkan teori-teori kepemimpinan dari
segi ciri, perilaku pribadi dan sifat. Hal ini saya lakukan dengan cara menelusuri
kajian dalam literatur kepemimpinan sehingga akan didapatkan data berupa
definisi yang dirancang oleh para pengkaji kepemimpinan. Penelusuran ini
diharapkan dapat memunculkan suatu gambaran yang jelas tentang kriteria dan
gaya kepemimpinan Nabi Saw. dalam mengatur serta memimpin umatnya.
Dengan demikian akan diketahui gaya kepemimpinan Nabi Saw.
A. Kepemimpinan dalam Kamus Para Tokoh
Kepemimpinan berasal dari bahasa Inggris leadership yang berasal dari kata
leader. Kata leader muncul pada tahun 1300-an sedangkan kata leadership
muncul kemudian, yaitu sekitar tahun 1700-an.1 Ada banyak definisi pemimpin,
salah satunya Henry Pratt Fairchild2 (1880-1956) mendefinisikan pemimpin
sebagai seorang yang memimpin dengan jalan memprakarsai tingkah laku sosial
dengan mengatur, mengarahkan, mengorganisir, atau mengontrol usaha/upaya
orang lain, kekuasaan atau posisi. Sedangkan dalam pengertian sempit yakni
1
Veithzal Rivai dan Deddy Mulyadi, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi (Jakarta: Rajawali Press, 2012), h. 6.
2
seorang yang membimbing, memimpin dengan bantuan kualitas-kualitas
persuasifnya, dan akseptensi (penerimaan) secara sukarela oleh pengikutnya.3
Sebagaimana Nabi Saw. dalam memimpin serta membimbing umatnya.
Nabi Saw. dikirim sebagai rahmat untuk menunjukkan kepada umatnya jalan yang
lurus serta mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya, keimanan dan
pengetahuan. Hal ini telah disampaikan dalam al-Qur‟an:
Artinya:
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk
(menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiyā‟: 107).
Ayat tersebut secara definitif (pasti) menyatakan bahwa Nabi Saw. diutus
Allah Swt. sebagai rahmat bukan hanya kepada manusia melainkan untuk seluruh
makhluk di muka bumi. Kasih sayang Nabi Saw. bukan hanya kepada manusia,
melainkan untuk seluruh makhluk hidup di dunia.
Di sisi lain definisi pemimpin pun tidak mudah dirumuskan. Gary Yukl
mengemukakan bahwa definisi pemimpin dapat digolongkan ke dalam enam
jenis4 seperti tampak pada Tabel 1 berikut ini.
3
Syamsul Arifin, Leadership Ilmu dan Seni Kepemimpinan (Jakarta: Mitra Wacana Media, 2012), h. 1.
4
Tabel 1.
Definisi Kepemimpinan Menurut Yukl
Konsep yang Luas Konsep yang Terbatas
1. Seseorang yang memengaruhi
anggota kelompok.
2. Seseorang yang memengaruhi
anggota kelompok dalam segala hal.
3. Seseorang yang memengaruhi
anggota-anggota kelompok agar menaati kehendaknya, baik secara sukarela maupun tidak.
1. Seseorang yang pengaruhnya kuat terhadap anggota
kelompok lain (kepemimpinan terarah).
2. Seseorang yang secara sistematis memengaruhi perilaku anggota ke arah pencapaian tujuan kelompok.
3. Seseorang yang mendapatkan
komitmen yang antusias dari anggota kelompok untuk melaksanakan kehendaknya.
Sedangkan kepemimpinan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah
suatu bentuk dari cara memimpin.5 Bisa diartikan dengan keseluruhan tindakan
atau kemampuan untuk memengaruhi atau mengajak orang lain sebagai pengikut
dalam usaha bersama mencapai tujuan. Menurut Ordway Tead (1973 M)
kepemimpinan adalah aktivitas memengaruhi orang-orang untuk bekerja sama
menuju kepada kesesuaian tujuan yang mereka inginkan. Tidak jauh berbeda
dengan H. Goidhamer dan E.A. Shils, mereka mengatakan bahwa kepemimpinan
adalah tindakan perilaku yang dapat memengaruhi tingkah laku orang-orang lain
yang dipimpinnya.6
Pada pengertian kepemimpinan di atas disebutkan istilah pengaruh.
Pengertian pengaruh di sini adalah daya yang ada atau yang timbul dari seseorang
yang ikut membentuk watak dan kepercayaan orang lain atas perbuatan seseorang
tersebut. Kemudian ada pula pengaruh yang bersifat karismatik, yaitu daya pikat
5
Tim Penyusun Kamus Bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008), h. 612.
6
atau pesona yang diilhami oleh Ilahi yang terekspresi pada pola pikir, keyakinan,
sikap, perilaku, tindakan, gerak-gerik, karya, dan penampilan diri.
Hal ini terlihat dalam kepemimpinan Nabi Saw. yang berhasil memberi
pengaruh kepada umatnya sehingga meningkatkan kualitas hubungan di antara
umat dan membangun rasa persaudaraan di dalamnya. Selain itu, Nabi Saw.
membuktikan bahwa seorang pemimpin yang baik adalah yang mendorong para
pengikutnya agar melayani orang lain untuk bisa unggul dalam kehidupan. Seperti
terlihat dalam hadis:
ي لا لاق
ﷺ
:
«
ْمِهِتَلَخَو ،ْمِهِتَجاَح َنوُد َبَجَتْحاَف َ ِمِلْسُمْلا ِرْمَأ ْنِم اًئْيَش َلَجَو َزَع َُللا ُ َاَو ْنَم
ِِرْقَِفَو ،ِِتَلَخَو ِِتَجاَح َنوُد َُْع َُللا َبَجَتْحا ،ْمِِرْقَِفَو
.»
دواد ِأ اور
.
7
Artinya:
“Nabi Saw. bersabda: Barangsiapa yang Allah Swt. serahkan kepadanya sebagian urusan orang muslim kemudian ia menutup diri dari melayani kebutuhan mereka dan keperluan mereka, maka Allah menutup diri darinya dan
tidak melayani kebutuhannya, serta keperluannya.”(HR. Abū Dāwud).
Untuk memahami definisi kepemimpinan secara lebih dalam, ada beberapa
definisi kepemimpinan yang dikemukakan oleh para ahli, yaitu:
a. Stephen P. Robbins mengatakan, kepemimpinan adalah kemampuan untuk
memengaruhi suatu kelompok ke arah tercapainya tujuan.8
b. Richard L. Daft mengatakan, kepemimpinan adalah kemampuan
memengaruhi orang yang mengarah kepada pencapaian tujuan.9
c. G. R. Terry memberikan definisi: Kepemimpinan adalah usaha
memengaruhi seseorang untuk mencapai tujuan bersama.10
7Abū Dāwud Sulaymā
n ibn al-Asyʻats ibn Isḥāq ibn Basyīr ibn Syaddād ibn ʻAmr al-Azdī al-Sijistānī, Sunan Abī Dāwud, Muḥaqqiq: Muḥammad Muḥyi al-Dīn ʻAbd al- amīd, vol. III (Beirut: al-Maktabah al-ʻAṣriyah, t.t), h. 135.
8
Stephen P. Robbins, Perilaku Organisasi. Penerjemah Tim Indeks (Jakarta: Indeks, 2003), h. 50.
9
d. Ricky W. Griffin mengatakan, pemimpin adalah individu yang mampu
memengaruhi orang lain tanpa harus mengandalkan kekerasan; pemimpin
adalah individu yang diterima oleh orang lain sebagai pemimpin.11
Dalam surveinya mengenai teori dan penelitian kepemimpinan, Ralph M.
Stogdill mengemukakan bahwa terdapat definisi mengenai kepemimpinan yang
berbeda hampir sebanyak orang berusaha mendefinisikan konsep tersebut.12 James
A.F Stoner mendefinisikan kepemimpinan manajerial sebagai proses
mengarahkan dan memengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan tugas dari
anggota kelompok.13
Ada empat implikasi penting dalam definisi ini. Pertama, kepemimpinan
melibatkan orang lain –karyawan atau pengikut. Dengan kemauan mereka
menerima pengarahan dari pemimpin, angggota kelompok membantu
mendefinisikan status pemimpin dan membuat proses kepemimpinan menjadi
mungkin; tanpa orang yang dipimpin, semua mutu kepemimpinan dari seorang
manajer menjadi tidak relevan.
Kedua, kepemimpinan melibatkan distribusi kekuasaan yang tidak merata
antara pemimpin dan anggota kelompok. Anggota kelompok bukannya tanpa
kekuasaan; mereka dapat dan membentuk aktivitas kelompok dengan berbagai
cara. Sekalipun demikian, pemimpin biasanya mempunyai kekuasaan yang lebih
besar.
10
Brantas, Dasar-dasar Manajemen (Bandung: Alfabeta, 2009), h. 125. 11
Ricky W. Griffin, Manajemen. Penerjemah Gina Gania (Jakarta: Erlangga, 2003), h. 68. 12
Ralph M. Stogdill, Bass & Stogdill‟s Handbook of Leadership: Theory, Research& Managerial Application (Binghamton: Free Press, 1990), h. 37.
13
Jadi, aspek ketiga dari kepemimpinan adalah kemampuan menggunakan
berbagai bentuk kekuasaan untuk memengaruhi tingkah laku pengikut dengan
berbagai cara. Sebenarnya, pemimpin telah memengaruhi karyawan untuk
melakukan pengorbanan pribadi demi kebaikan perusahaan. Kekuasaan ini
membawa kita ke aspek keempat dari kepemimpinan.
Aspek keempat dari kepemimpinan menggabungkan tiga aspek pertama dan
mengakui bahwa kepemimpinan adalah mengenai nilai. James McGregor Burns
mengatakan bahwa pemimpin yang mengabaikan komponen moral kepemimpinan
mungkin dalam sejarah dikenang sebagai penjahat, atau lebih jelek lagi.
Kepemimpinan moral menyangkut nilai-nilai dan persyaratan bahwa para
pengikut diberi cukup pengetahuan mengenai alternatif agar dapat membuat
pilihan yang telah dipertimbangkan kalau tiba saatnya memberikan respons pada
usulan pemimpin untuk memimpin.14
Kepemimpinan ini adalah kepemimpinan tingkat manajemen. Manajemen
adalah suatu proses kegiatan fungsi-fungsi manajemen itu, yaitu: fungsi
perencanaan (planning), fungsi pengorganisasian (organizing), fungsi staf
(staffing), pengarahan (directing) dan pengawasan (controlling).
Dilihat dari fungsi ini maka kepemimpinan manajemen adalah pemimpin
yang mengordinir semua fungsi ini, yang menentukan kebijaksanaan (policy) dan
penanggungjawab dari semua proses dan kegiatan suatu organisasi atau satuan
rumah tangga.
Kepemimpinan manajerial tidak berhadapan langsung pada lapangan
operasional dan tidak memimpin langsung di lapangan. Kepemimpinan manajerial
14
ini adalah orang yang menentukan perencanaan, penggunaan, staf, menentukan
arah kerja dan sasaran operasional. Tetapi pemimpin manajerial itu
merencanakan, mengarahkan pemimpin-pemimpin lapangan dan mengawasi
(controlling) semua kegiatan yang dilakukan para pemimpin operasi.
Kepemimpinan manajerial menentukan perencanaan, memiliki dan
mempergunakan staf, memberi pengarahan pada semua kegiatan terutama pada
pemimpin-pemimpin operatif, melakukan pengawasan dan merupakan
tanggungjawab tertingi di dalam organisasi di tingkatnya dan meminta
pertanggungjawaban dari pemimpin bawahan dan pemimpin operatif.15
Dari uraian di atas perlu dicatat bahwa walaupun kepemimpinan berkaitan
amat erat dengan dan penting bagi manajemen, kepemimpinan dan manajemen
bukan konsep yang sama. Untuk memperjelas perbedaan ini, pengarang
kepemimpinan Warren Bennis mengatakan bahwa kebanyakan organisasi terlalu
banyak dikelola (overmanaged) dan terlalu sedikit dipimpin (underled)16.
Seseorang dapat menjadi manajer yang efektif tetapi kurang dalam keterampilan
membangkitkan motivasi dari seorang pemimpin. Orang lain dapat menjadi
pemimpin yang efektif tetapi kurang dalam keterampilan manajerial untuk
menyalurkan energi yang mereka timbulkan dalam diri orang lain. Dengan
tantangan keterlibatan dinamis dalam dunia organisasi masa kini, banyak
organisasi memberi hadiah kepada manajer yang juga mempunyai keterampilan
memimpin.
Penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa kepemimpinan berarti proses
pemberian bimbingan dan teladan, proses pemberian tugas dan fasilitas untuk
15
Mochtar Effendy, Kepemimpinan Menurut Ajaran Islam (Palembang: al-Mukhtar, 1997), h. 40.
16
pekerjaan-pekerjaan orang-orang yang terorganisasi guna mencapai tujuan yang
telah ditetapkan. Dengan ringkas dapat disimpulkan, kepemimpinan adalah usaha
untuk mencapai tujuan dengan menggunakan daya pengaruh, potensi yang ada –
baik yang memimpin maupun yang dipimpin- secara bersama-sama, dinamis, dan
harmonis.
Pemimpin dan kepemimpinan adalah ibarat sekeping mata uang logam yang
tidak bisa dipisahkan, dalam artian bisa dikaji secara terpisah namun harus dilihat
sebagai satu kesatuan. Seorang pemimpin harus memiliki jiwa kepemimpinan,
dan jiwa kepemimpinan yang dimiliki dari seorang pemimpin tidak bisa diperoleh
dengan cepat dan segera namun sebuah proses yang terbentuk dari waktu ke
waktu hingga akhirnya mengkristal dalam sebuah karakteristik. Dalam artian ada
sebagian orang yang memiliki sifat kepemimpinan namun dengan usahanya yang
gigih mampu membantu lahirnya penegasan sikap kepemimpinan pada dirinya
tersebut.17
Dapat kita pahami bahwa seorang pemimpin dengan kualitas kepemimpinan
yang dimilikinya bukan hanya sekedar berusaha untuk melaksanakan tugas dan
berbagai rutinitas pekerjaan saja, namun lebih dari itu merupakan simbol dari
organisasinya. Dan bagi banyak pihak, simbol tersebut telah berubah secara lebih
jauh menjadi kekuatan positif yang menggerakkan organisasi tersebut untuk
meraih tujuan yang dicita-citakan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Aan
Komariah18 bahwa, “kepemimpinan merupakan satu aspek penting dalam
organisasi yang merupakan faktor penggerak organisasi melalui penanganan
perubahan dan manajemen yang dilakukannya, sehingga keberadaan pemimpin
17
Irham Fahmi, Manajemen Teori, Kasus dan Sosial (Bandung: Alfabeta, 2012), h. 58. 18
bukan hanya sebagai simbol yang ada atau tidaknya menjadi masalah, tetapi
keberadaannya memberi dampak positif bagi perkembangan organisasi”.
Berpijak dari beberapa definisi, kita bisa melihat bahwa pada diri Nabi
Saw. terdapat faktor seorang pemimpin yang disebutkan dari beberapa tokoh
kepemimpinan di atas. Kesuksesan beliau sebagai pemimpin diri sendiri,
pemimpin keluarga, pemimpin organisasi, pemimpin sosial, pemimpin agama,
pemimpin umat, pemimpin para nabi dan rasul-Nya, dan pemimpin seluruh alam
telah mengeluarkan bangsa Arab khususnya dan manusia pada umumnya dari
jeratan kebodohan akidah dan syariʻat ketuhanan. Kecerdasan, spiritualitas, serta
potensi-potensi dirinya tidak hanya diakui oleh kalangan umat Islam saja, tetapi
juga datang dari banyak ilmuwan Barat, seperti Michael H. Hart yang
menempatkan Nabi Saw. pada urutan pertama di antara seratus tokoh yang paling
berpengaruh dalam sejarah kehidupan umat manusia.19
Hal yang paling dominan pada diri kepemimpinan Nabi Saw. adalah bentuk
kepemimpinan dengan keteladanan (leadership by example). Pada kepemimpinan
beliau terpadu tiga komponen yang mutlak dibutuhkan oleh para calon pemimpin:
[image:39.595.114.515.302.727.2]vision, value, dan vitality.20
Tabel 2.
Komponen Calon Pemimpin
VISION VALUE VITALITY
Mampu menjelaskan arah dan tujuan serta alasannya. Memiliki kemampuan untuk berpikir secara divergen (mencari alternatif) dan mengartikulasikan sesuatu yang bersifat
Memimpin dengan cinta. Menggerakkan orang lain dengan keteladanan. Memiliki prinsip-prinsip nilai (integrity).
Memiliki daya vitalitas atau energi yang sangat kuat sehingga mampu menggerakkan orang lain. Memiliki daya tahan secara fisik maupun mental.
19
Rachmat Ramadhana al-Banjari, Prophetic Leadership (Bandung: Diva Press, t.t.), h. 116. 20
abstrak menjadi jelas dan aktual (abstract thinking).
Nabi Saw. selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan sekaligus
menjaga harkat dan martabat manusia dan tidak pernah memaksakan kehendaknya
kepada orang lain. Bukti-bukti yang terkait telah dikumpulkan oleh Rifqi
Muhammad Fatkhi melalui sejumlah riwayat hadis yang terkait.21 Salah satu di
antaranya sebagaimana riwayat Abū Dāwūd (275 H) dari ʻAbdullāh ibn ʻAbbās
(68 H) bahwa ada seorang perempuan yang tidak memiliki anak, kemudian ia
bersumpah jika di kemudian hari ia dikaruniai seorang anak, maka ia akan
menjadikan anaknya menganut agama Yahudi, setelah beberapa waktu kemudian
para sahabat bertanya kepada Nabi Saw. berkenaan dengan anak-anak dan saudara
mereka yang masih beragama Yahudi, Nabi pun terdiam, kemudian turunlah ayat
lā ikrāha fī al-dīn (al-Baqarah: 256) lalu Nabi Saw. menjawab: “Biarkan keluarga
kalian memilih, jika mereka memilih kalian, maka mereka termasuk kalian
(Islam). Jika mereka memilih tetap, maka mereka bagian dari mereka (Yahudi).22
Beliau dapat meyakinkan pengikutnya agar mau dengan suka rela untuk
mengikuti perintahnya. Namun demikian beliau adalah pemimpin yang tegas,
tidak kompromi terhadap kebatilan dan selalu menegakkan kebenaran. Ketegasan
di dalam menegakkan yang benar dan melawan kebatilan tercermin di dalam
peristiwa sewaktu menolak untuk memberikan kekuasaan pemerintah pada dua
orang dari Kabilah al-Asyʻarī, sebaliknya beliau memberikan jabatan
21Rifqi Muhammad Fatkhi, “Interaksi Nabi Muhammad dengan Yahudi dan Kristen,” Refleksi Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin XII, no. 3 (April, 2012): h. 248.
22Abū Dāwūd, Sunan Abī Dāwūd
pemerintahan kepada Abū Mūsā al-Asyʻarī dan Muʻādz ibn Jabal, sebagaimana
yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abū Burdah, Nabi Saw. bersabda:
َلاَقَِف
:
«
وَأ ،ىَسوُم اَبَأ اَي َتْنَأ ْبَْذا ِنِكَلَو ،َُداَرَأ ْنَم اَِلَمَع ىَلَع ُلِمْعَِتْسَن َا ْوَأ ،ْنَل
ِها َدْبَع اَي
ٍسْيَِق َنْب
»
.
(
ةدرب ِأ نع ملسم اور
).
23
Artinya:
“Kemudian beliau bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya saya tidak akan
memberikan jabatan kepada orang yang justru menginginkannya, sekarang pergilah kamu wahai Abū Mūsā atau „Abdullāh ibn Qays!” (HR. Muslim).
Hadis ini menunjukkan betapa tegas Nabi Saw. untuk menegakkan
kebenaran sehingga beliau menolak dua orang untuk minta diangkat menjadi
pemimpin di Yaman karena disangsikan keteguhan imannya dan kemampuannya.
Justru beliau mengangkat dua orang sahabat dari golongan Anshar yang
mempunyai ilmu tentang Islam yang luas dan terjamin imannya.
Dari beberapa bukti tentang kepemimpinan Nabi Saw. di atas, telah
menyatakan bahwa kepemimpinan yang didefinisikan oleh para tokoh tercakup
dalam kepribadian Nabi Saw. bahkan memberikan pemahaman bahwa Nabi Saw.
adalah seorang pemimpin yang sangat berpengaruh bagi manusia.
Tidak disangsikan lagi bahwa Nabi Saw. adalah model pemimpin umat yang
paling agung sepanjang sejarah kehidupan manusia. Karisma kepemimpinannya
bukan hanya karena keperkasaan, kecerdasan, akhlak karimah, keimanan,
keislaman, keihsanan, ketauhidan dan ketakwaan yang dimilikinya, melainkan
juga karena memang anugrah Allah yang menjadikannya manusia pilihan
(al-Mu ṭafá) dan manusia sempurna (insān kamīl).
23
Muslim ibn al- ajjāj Abū al- asan al-Qusyairīy al-Naisābūrīy, aḥīḥ Muslim, vol. III
B. Gaya dan Kriteria Pemimpin
Pemimpin yang berhasil hendaknya memiliki beberapa kriteria. Kriteria apa
saja tergantung pada sudut pandang atau pendekatan yang digunakan apakah itu
sifat kepribadiannya, keterampilannya, bakatnya, sifat-sifatnya atau kewenangan
yang dimilikinya.
Deddy Mulyadi mengatakan bahwa pemimpin memiliki sifat kepribadian
seperti vitalitas dan stamina fisik, kecerdasan dan kearifan dalam bertindak,
kemauan menerima tanggung jawab, kompeten dalam menjalankan tugas,
memahami kebutuhan pengikutnya, memiliki keterampilan dalam berhubungan
dengan orang lain, kebutuhan untuk berprestasi, mampu memotivasi dan memberi
semangat, meyakinkan, memiliki pengaruh, mampu beradaptasi atau memiliki
fleksibilitas.24
Sebagaimana Nabi Saw. dalam memimpin umatnya. Beliau terlibat dalam
sistem perencanaan, pemberian motivasi, pengorganisasian, perencanaan,
pengarahan operasi, dan pengawasan sehingga segala sesuatunya tidak lepas
kendali. Hal ini terlihat dalam sabdanya:
ي لا لاق
ﷺ
:
ْمُتََِْذ اَذِإَو َةَلِْتِقْلا اوُِسْحَأَف ْمُتْلَِتَِق اَذِإَف ،ٍءْيَش لُك ىَلَع َناَسْحِإْا َبَتَك َها َنِإ
َُتَحْيِبَذ ْحُِرْلَو َُتَرْفَش ْمُكُدَحَأ َدِحُيْلَو َةَِْ ذلا اوُِسْحَأَف
.
(
ملسم اور
)
25
“Nabi Saw. bersabda: Allah telah memerintahkan agar segala sesuatunya
dilakukan dengan cara yang lebih baik. Kemudian ketika kalian membunuh dalam
peperangan, lakukanlah dengan cara yang baik; dan ketika menyembelih
(binatang) untuk korban, lakukanlah dengan cara yang baik. Kalian harus
24
Rivai dan Mulyadi, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, h. 19. 25
menajamkan pisau, lalu sembelihlah binatang itu agar mati dengan tidak terlalu
sakit.” (HR. Muslim).
Dari beragam sifat yang disebutkan mengandung pengertian bahwa seorang
pemimpin adalah seorang yang dapat dijadikan suri teladan yang baik untuk
menuju perubahan dalam suatu organisasi. Hal ini telah disebutkan dalam firman
Allah dalam surah al-Aḥzāb ayat 21:
Artinya:
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari
Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Aḥzāb: 21).
Usaha sistematis pertama yang dilakukan oleh ahli psikologi dan para
peneliti lain untuk memahami kepemimpinan adalah usaha untuk mengenali sifat
pribadi pemimpin. Kebanyakan penelitian gagal untuk mengungkapkan sifat yang
jelas dan konsisten membedakan pemimpin dari pengikut. Memang benar bahwa
kelompok pemimpin lebih cerah, lebih terbuka, dan lebih percaya diri daripada
bukan pemimpin. Mereka juga cenderung untuk lebih tinggi. Tetapi walaupun
jutaan orang memiliki sifat-sifat ini, kebanyakan mereka tidak pernah mencapai
posisi pemimpin.26
Dalam mengenali sifat dan ciri seorang pemimpin, Marston memberikan
tiga rumus untuk mengenali bahasa yang digunakan oleh seorang pemimpin.
Pertama, definisi atau klarifikasi. Hal ini bisa dilihat ketika dia memberikan
contoh dalam bentuk pernyataan negatif yang biasanya digunakan untuk partikel
pengecualian: “tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan
26
Allah”. Kedua, kekuasaan. Rumus ini terdiri dari pernyataan yang mengandung
sebuah perintah dan larangan. Seperti dalam contoh: “jangan berdusta atas
namaku”. Ketiga, berbentuk cerita. Rumus ini menekankan bahwa hadis
merupakan cerita kehidupan Nabi Saw. yang menjadi teladan bagi kehidupan
masyarakat.
Dengan melihat hal ini bisa dikatakan bahwa walaupun pengukuran
kepribadian mungkin suatu hari cukup akurat untuk mengisolasi sifat-sifat
pemimpin, bukti sejauh ini mengatakan bahwa orang yang tampil sebagai
pemimpin tidak mempunyai kumpulan sifat-sifat yang jelas membedakannya dari
bukan pemimpin.
Dari penjelasan definisi di atas bisa saya ambil kesimpulan bahwa
pemimpin yang dapat dikatakan sebagai pemimpin setidaknya memenuhi
beberapa kriteria, yaitu:
1.) Pengaruh: seorang pemimpin adalah seorang yang memiliki orang-orang
yang mendukungnya yang turut membesarkan nama sang pemimpin.
Pengaruh ini menjadikan sang pemimpin diikuti dan membuat orang lain
tunduk pada apa yang dikatakan sang pemimpin. John C. Maxwell, penulis
buku-buku kepemimpinan pernah berkata: Leadership is influence
(Kepemimpinan adalah soal pengaruh).
2.) Kekuasaan/power: seorang pemimpin umumnya diikuti oleh orang lain
karena dia memiliki kekuasaan/power yang membuat orang lain menghargai
keberadaannya. Tanpa kekuasaan atau kekuatan yang dimiliki sang
pemimpin, tentunya tidak ada yang mau menjadi pendukungnya.
lain akan tergantung pada apa yang dimiliki sang pemimpin, tanpa itu
mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Hubungan ini menjadikan hubungan
yang bersifat simbiosis mutualisme, dimana kedua belah pihak sama-sama
saling diuntungkan.
3.) Wewenang: wewenang di sini dapat diartikan sebagai hak yang diberikan
kepada pemimpin untuk menetapkan sebuah keputusan dalam melaksanakan
suatu hal/kebijakan. Wewenang di sini juga dapat dialihkan kepada bawahan
oleh pemimpin apabila sang pemimpin percaya bahwa bawahan tersebut
mampu melaksanakan tugas dan tanggungjawab dengan baik, sehingga
bawahan diberi kepercayaan untuk melaksanakan tanpa perlu campur tangan
dari sang pemimpin.
4.) Pengikut: seorang pemimpin yang memiliki pengaruh, kekuasaan/power,
dan wewenang tidak dapat dikatakan sebagai pemimpin apabila dia tidak
memiliki pengikut yang berada di belakangnya yang memberi dukungan dan
mengikuti apa yang dikatakan sang pemimpin. Tanpa adanya pengikut maka
pemimpin tidak akan ada. Pemimpin dan pengikut adalah dua hal yang tidak
dapat dipisahkan dan tidak dapat berdiri sendiri.
Kepemimpinan melibatkan proses memengaruhi orang untuk
mentransformasikan pandangan hidup mereka, kadang melalui tindakan afirmatif
untuk mencapai kondisi yang lebih baik. Perubahan ke arah yang lebih baik bisa
dicapai dengan cara mengubah perilaku seseorang, situasi seseorang atau
lingkungan seseorang. Hal ini disebut dengan kepemimpinan altruistis.27
27
Altruisme merupakan prinsip hidup yang menghargai dan berbuat demi
kebaikan orang lain, menunjukkan kasih sayang serta perhatian terhadap
kesejahteraan orang lain terutama umat. Prinsip ini menunjukkan suatu sikap
menyayangi dan berbagi, sikap peduli dan tidak egois atas kesejahteraan yang
lain, menjaga perasaan orang lain di sekitar kita, memerhatikan kebutuhan
mereka, dan selalu berusaha menciptakan solusi saling menguntungkan atas
apapun yang dikerjakan bersama.28
Alasan yang mendasari konsep manajemen altruistis adalah bahwa jika kita
berbuat baik kepada orang lain, jika kita menghargai orang lain, jika kita
memerhatikan kebutuhan dan persoalan mereka, kita juga akan mendapat
tanggapan serupa dari mereka dalam interaksi kita dengan mereka.
Nabi Saw. membuktikan bahwa seorang pemimpin yang baik adalah yang
mendorong para pengikutnya agar melayani orang lain untuk bisa unggul dalam
kehidupan. Sebagai seorang pemimpin, seseorang terikat oleh kedudukan yang
dipercayakan Allah Swt. agar bertanggung jawab dan bisa
dipertanggungjawabkan dalam menegakkan keadilan, kesetaraan, dan
kesepahaman dalam segala urusan dunia.29
Seorang pemimpin bisa jadi adalah seorang ayah, seorang imam, seorang
administrator, seorang manajer, seorang supervisor, atau bahkan seorang pekerja
yang berpengaruh. Nabi Saw. menegaskan bahwa setiap orang diberi kepercayaan
oleh Allah Swt. untuk menjadi khalifah. Sebagaimana firman Allah:
28
Ismail Noor, Manajemen Kepemimpinan Muhammad (Jakarta: PT Mizan Pustaka, 2011), h. 33.
29
Hal ini bisa dilihat dari hadis Nabi Saw. yang menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan dan posisi pemimpin yang adil dihadapan Allah Swt. Sebagaimana riwayat Abū Saʻīd ra. Bahwa Nabi Saw. pernah bersabda: “Dari semua orang yang paling dekat dan dikasihi Allah pada hari kiamat adalah pemimpin yang adil, dan yang paling buruk di mata Allah dan paling jauh dari-Nya
Artinya:
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan
menjadikan mereka berkuasa di muka bumi.” (QS. Al-Nūr: 55).
Begitu juga dalam riwayat Ibn „Umar meriwayatkan bahwa Nabi Saw.
bersabda:
نَع
َلاَق َمَلَسَو ِْيَلَع ُها ىَلَص ِيَلا ِن�