• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bahasa kepemimpinan nabi Muhammad SAW

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Bahasa kepemimpinan nabi Muhammad SAW"

Copied!
98
0
0

Teks penuh

(1)

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Theologi Islam (S.Th.I)

Oleh:

Hurinʻin AM

NIM: 1110034000007

PROGRAM STUDI TAFSIR-HADIS

FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

(2)

ii

نيزيزعلا َيَدلاو إ ةصاخ ةلاسرلا ذ يد أ

ها امهظفح

ىلع

تاعيجشتلاو تايهستلا عيم

.

ةيفاعلاو ةحصلاب امهعتَ نأ ها لأسأ

ةرخآاو ايندلا ِ ءازاا نسحأ امهيز نأو

.

اه عف ي نأ ها نم وجرأو

اضريو ّب ام إ ا لو يدهيو اهيف كرابيو

Karya ini kupersembahkan untuk kedua orangtuaku

tersayang, Abah dan Ibu, yang dengan penuh cinta

membimbing, menasehati, mendo’akan dan memenuhi

segala kebutuhan.

Matur sembah nuwun kulo haturaken, nyuwun

tambahipun pangestu mugi dalem pinaring manfaat lan

(3)

iii

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa:

1. Skripsi yang berjudul “Bahasa Kepemimpinan Nabi Muhammad Saw.”

ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah

satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya

cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta.

3. Jika kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau

merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia

menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Ciputat, 18 September 2014

(4)
(5)
(6)

vi

Transliterasi yang dipakai dalam penyusunan skripsi ini berpedoman pada

Romanisasi Standar Bahasa Arab (Romanization of Arabic) yang pertama kali

diterbitkan tahun 1991 dari American Library Association (ALA) dan Library

Congress (LC).

A. Konsonan Tunggal dan Vokal

Arab Indonesia Inggris Arab Indonesia Inggris

ا

A A

ط

Ṭ Ṭ

ب

B B

ظ

Ẓ Ẓ

ت

T T

ع

‘ ʻ

ث

Ts Th

غ

Gh Gh

ج

J J

ف

F F

ح

Ḥ Ḥ

ق

Q Q

خ

Kh Kh

ك

K K

د

D D

ل

L L

ذ

Dz Dh

م

M M

ر

R R

ن

N N

ز

Z Z

و

W W

س

S S

ق

H H

ش

Sy Sh

ء

’ ’

ص

Ṣ Ṣ

ي

Y Y

ض

Ḍ Ḍ

ة

H H

Vokal

َا

Ā Ā

ْوُأ

Ū Ū

ْيِإ

Ī Ī

ْوَأ

Aw Aw
(7)

vii

ةَسَسَؤُم

ةَد دَعَِتُم

Mutaʻaddidah

C. Tā’ Marbūṭah (

ة

)

ةاص

alāh Bila dimatikan

نامزلا ةآرم

Mir’āt al-zamān Bila iḍafah

D. Singkatan

Swt : Subḥānahu wa-taʻālá

Saw : alla Allāh ʻalayh wa-sallam ra : Raḍiya Allāh ʻanhu

M : Masehi

H : Hijriyah

QS : al-Qur’an: Surat

HR : Hadis Riwayat

(8)

viii Hurinʻin AM.

Bahasa Kepemimpinan Nabi Muhammad Saw.

Skripsi ini bersifat afirmatif terhadap beberapa penelitian terdahulu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Nabi Saw. adalah seorang pemimpin dengan bisa dibuktikan melalui bahasa yang digunakan. Bahasa kepemimpinan yang ditemukan dalam bahasa Nabi Saw. lebih dominan ketika menggunakan bahasa dalam memberikan penghargaan (reward) dan ketentuan peraturan (legitimate) yang dibuat.

Bahasa kepemimpinan Nabi Saw. bisa dilihat dengan menggunakan lima teori bahasa John R. P. French, Jr., dan Bertram Raven. Teori ini mampu menginvestigasikan keserasian antara kepemimpinan dalam Islam dengan beberapa teori kepemimpinan modern, sehingga memberikan kontribusi pemahaman tentang bahasa kepemimpinan yang digunakan oleh Nabi Saw.

Penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian pustaka dengan menggunakan pendekatan gaya bahasa dalam dua hal. Pertama, pendekatan ilmu gaya bahasa kepemimpinan dalam skripsi ini digunakan untuk menelusuri bahasa kepemimpinan Nabi Saw. Kedua, untuk melihat dan menilai hadis qawlī dalam

Ṣaḥīḥ al-Bukhārī yang teridentifikasi dalam bahasa kepemimpinan.

Sumber data dalam penelitian ini adalah hadis qawlī yang terdapat dalam kitab al-Jāmiʻ al-Ṣaghīr karya Jalāl al-Dīn al-Suyūṭī. Kemudian dari hadis-hadis

(9)

ix

taufiq-Nya penulisan berjudul “Bahasa Kepemimpinan Nabi Muhammad Saw.”

ini dapat terselesaikan. Demikian juga, ṣalawat serta salam semoga selalu

tercurahkan kepada Baginda Rasūlullāh Saw. keluarga, sahabat dan pengikutnya

hingga akhir zaman.

Terselesainya penulisan skripsi ini, tentu masih terdapat banyak kekurangan

dan kesalahan. Segala kesalahan tersebut adalah bukti keterbatasan saya di dalam

melakukan penelitian ini. Penelitian ini juga tak luput dari keterlibatan beberapa

pihak yang memberikan kontribusi dalam terselesainya penulisan ini, baik itu

berupa motivasi, bantuan pikiran, material dan moral serta spiritual. Untuk itu

ucapan terimaksih sedalam-dalamnya saya sampaikan kepada:

1. Segenap civitas akademika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Prof. Dr.

Komaruddin Hidayat (Rektor), Prof. Dr. Masri Mansoer (Dekan Fakultas

Ushuluddin), Dr. Lilik Ummi Kaltsum (Ketua Jurusan Tafsir-Hadis), Jauhar

Azizy, MA (Sekjur Tafsir-Hadis). (Jazāhumullāh aḥsan al-jazā‟).

2. Rifqi Muhammad Fatkhi, MA selaku pembimbing yang telah banyak

membantu, membimbing dan mengarahkan penulisan skripsi ini.

(Jazāhullāh aḥsan al-jazā‟ wa-nafaʻanā bi-„ulūmihim fī al-dārayn).

3. Segenap dosen Fakultas Ushuluddin, khususnya dosen-dosen di jurusan

Tafsir-Hadis yang telah banyak berbagi ilmu kepada saya, sehingga saya

mendapatkan setetes air dari samudera ilmu pengetahuan. (Jazāhumullāh

(10)

x

masa depan. (Allāhumma irḥamhumā kamā rabbayānī ṣaghīrā, wa-ṭawwil

„umūrahumā fī ṭāʻatik).

5. Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA.; khādim maʻḥad Darus-Sunnah,

selaku orangtua kedua saya yang telah mendidik dengan penuh kesabaran

dan ikhlas. (Jazāhullāh wa-ḥafiẓahu wa-nafaʻanā bi-„ulūmih).

6. Kakak dan adik saya tersayang (Ahmad Baha’uddin & Qurratul A’yuni)

yang selalu senantiasa mendengar keluh kesah serta memberi semangat di

kala suka maupun duka. (Allāhumma allif baynanā fī khayr dunyānā wa

-ukhrānā).

7. Keluargaku di Pamulang (Abah, Umi, Teteh, mbak Nea, dan dek Aal) yang

telah banyak memberikan pelajaran serta dukungan. (Jazāhumullāh Aḥsan

al-Jazā‟).

8. Segenap keluarga besar Darus-Sunnah International Institute For Hadith

Sciences, mahasantri, berikut alumninya, khususnya sahabat-sahabat

ANTABENA. (Allāhumma allif baynanā fī khayr dunyānā wa-ukhrānā).

9. Seluruh mahasiswa Tafsir-Hadis angkatan 2010, khususnya kelas TH-A

(terima kasih untuk kebersamaannya), sahabat seperjuangan (Fifin, Fera,

Ida, Halimah, Mbak Nurul, dll). (Allāhumma allif baynanā fī khayr dunyānā

wa-ukhrānā).

10. Keluarga besar HIMABI yang telah memberikan pelajaran berharga dan

telah menyempatkan waktunya untuk membedah skripsi ini. (Allāhumma

(11)

xi

terima kasih yang tak terhingga, serta do’a; semoga amal kebaikan kita

semua dibalas dan diterima oleh Allāh SWT. Jazākumullāh aḥsan al-jazā‟,

mīn…!

Jakarta, 30 September 2014

(12)

xii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... ii

LEMBAR PERNYATAAN ... iii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iv

PENGESAHAN PENGUJI ... v

PEDOMAN TRANSLITERASI ... vi

ABSTRAK ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL DAN DIAGRAM ... xii

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Identifikasi, Pembatasan dan Rumusan Masalah ... 8

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 10

D. Studi Terdahulu yang Relevan ... 11

E. Metodologi Penelitian ... 13

F. Sistematika Penulisan ... 16

BAB II : KEPEMIMPINAN NABI SAW A. Kepemimpinan dalam Kamus Para Tokoh ... 18

B. Gaya dan Kriteria Pemimpin... 29

BAB III : TEORI DAN DASAR KEKUASAAN PEMIMPIN A. Tipologi Kekuasaan ... 39

B. Al-Qur’an dan Teori Kekuasaan ... 44

BAB IV : BAHASA KEPEMIMPINAN NABI SAW A. Bahasa Penghargaan ... 51

B. Bahasa Hukuman ... 55

C. Bahasa Legitimasi ... 59

D. Bahasa Ahli ... 63

E. Bahasa Rujukan ... 66

BAB V : PENUTUP A. Kesimpulan ... 72

B. Rekomendasi ... 73

DAFTAR PUSTAKA ... 74

(13)

xiii

2. Tabel 2 Komponen Calon Pemimpin ... 27

3. Tabel 3 Kategorisasi Kekuasaan Menurut French dan Raven ... 44

DAFTAR DIAGRAM

1. Diagram 1 Karakter Kepemimpinan Nabi Saw ... 35

[image:13.595.114.512.228.617.2]
(14)

1

A. Latar Belakang Masalah

Para sarjana Muslim mengompilasi kumpulan besar ucapan (hadis) dan

kebiasaan (sunah) Nabi Saw. sebagai landasan hukum Islam. Sejarawan Muslim

yang pertama mulai menuliskan riwayat hidup Nabi Saw. yaitu: Muḥammad ibn

Isḥ q (767 H), Muḥammad ibn „Umar al-W qidī (820 H), Muḥammad ibn Saʻd

(845 H) dan Ibn Jarīr al- abarī (310 H).1 Para sejarawan ini tidak sekedar

mengandalkan ingatan dan kesan-kesan mereka sendiri, melainkan sedang

mengupayakan rekonstruksi sejarah yang serius. Semua ini tidak lain adalah

karena peran dan posisi Nabi Saw. yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan

umat Islam di saat Nabi Saw. sebagai individu maupun sebagai seorang

pemimpin.

R. Marston Speight mengkaji tentang beberapa komponen yang terkait

dengan ucapan Nabi Saw. melalui pendekatan rumus (a formulaic approach) yang

dia sebut dengan structural formula. Rumus ini merupakan sebuah struktur

sintaksis yang terus diulang dan selalu mempunyai tujuan yang sama. Ada

beberapa keseragaman ucapan dalam penggunaan rumus tersebut. Dari sini dia

1

(15)

mengklasifikasi menjadi tiga tipe: pernyataan (declaratory)2, adanya kekuasaan

(imperative)3, dan cerita (narrative)4. Prosedur ini merupakan tahapan terhadap

sebuah analisis retorika.5

Bahasa Nabi Saw. berbeda dengan para penyair atau penulis (sebelum

kelahiran beliau), yang seringkali menuliskan karyanya dengan kalimat-kalimat

rancu dan dibuat-buat sehingga maknanya sulit dimengerti. Dengan adanya hadis

Nabi Saw. maka para penyair merujuk kepada ucapan Nabi Saw. sehingga

syairnya tidak sulit untuk dipahami. Hal ini menjadikan hadis Nabi Saw. sebagai

sekolah tinggi bahasa dan sastra kedua setelah al-Qur‟an yang dapat mendidik

untuk menjadi penyair, penulis atau orator.6

Muhammad Faiz al-Math mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang

lebih fasih dari Nabi Saw. Allah Swt. mengaruniainya cara-cara berbicara dan

mengajarkannya bahasa-bahasa dan dialek bangsa Arab, padahal beliau sendiri

belum pernah bergaul dengan mereka seluruhnya. Hal ini disebabkan Allah akan

menjadikannya guru, pembimbing, dan imam untuk semua umat manusia.7

Oleh karenanya, salah satu aspek yang harus diperhatikan adalah

menyangkut eksistensi Nabi Saw. dalam berbagai posisi dan fungsinya.

Adakalanya sebagai manusia biasa, sebagai pribadi, suami, utusan Allah, kepala

Negara, pemimpin masyarakat, panglima perang dan sebagai hakim pemutus

perkara. Keberadaan ini menjadi acuan pemahaman hadis berkaitan dengan posisi

2

Rumus deklaratif yang dimaksud adalah sebuah bentuk penegasan sederhana baik secara harfiah maupun kiasan.

3

Rumus ini terdiri dari pernyataan yang mengandung sebuah perintah atau larangan. 4

Rumus ini menekankan bahwa hadis merupakan cerita kehidupan Nabi Saw. yang menjadi teladan bagi kehidupan masyarakat.

5R. Marston Speight, “Oral Traditions of the Prophet Muḥammad a Formulaic Approach,”

Oral Tradition IV, no.1-2 (Januari 1989): h. 31. 6

Muḥammad Faiz al-Math, Min Muʻjizāt al-Islām (Amman: D r al-Baṣīr, 1990), h. 36. 7

(16)

dan peran apa yang sedang Nabi Saw. “mainkan”. Oleh karenanya penting sekali

mendudukkan pemahaman hadis pada tempat yang proporsional, kapan dipahami

secara tekstual, konteksual, universal, temporal, situasional maupun lokal.

Bagaimanapun pemahaman yang kaku dan statis akan menutup eksistensi Islam

yang ṣaliḥ li-kulli zamān wa-makān.

Syuhudi Ismail (1996 M) mengatakan bahwa tiap ucapan dan perbuatan

nabi (hadis) yang merupakan sumber kedua agama Islam mengandung ajaran

yang bersifat universal, temporal, dan lokal.8 Sebagaimana al-Qarr fī (684 H)

menyebutkan bahwa ucapan dan perbuatan Nabi Saw. memiliki fungsi sesuai

kondisinya, antara beliau sebagai pemimpin, hakim, dan pemberi fatwa atau

penyampai ajaran dari Allah Swt.9 Hal ini berpengaruh pada keumuman hukum

dan kekhususannya serta universalnya atau temporernya.

Lain halnya dengan W. Montgomory Watt10 (2006 M) dan Ramakrishna

Rao11 (seorang filosof Hindu terkemuka), mereka membedakan fungsi diri Nabi

Saw. sebagai seorang Nabi, pejuang, negarawan, orator, pembaru, penolong anak

yatim, pelindung budak, pembebas kaum perempuan, hakim yang adil, dan

manusia suci. Sebagaimana catatan sejarah, Nabi Saw. berperan dalam banyak

fungsi, antara lain sebagai Rasulullah, kepala negara, panglima perang, hakim,12

tokoh masyarakat, suami dan pribadi hingga sebagai model (teladan) yang

sempurna bagi kehidupan manusia. Bahkan Ramakrishna Rao menyimpulkan

8

Syuhudi Ismail, Hadis Nabi yang Tekstual dan Kontekstual Telaah Ma’ani al-Hadis Tentang Ajaran Islam yang Universal, Temporal dan Lokal (Jakarta: Bulan Bintang, 2009), h. 4.

9Syih b al

-Dīn Aḥmad ibn Idrīs ibn „Abdurraḥm n al-Sanhaji al-Qarr fī, Kitāb al-Furūq

atau Anwār al-Burūq fī Anwā’ al-Furūq(Kairo: D r al-Sal m, 2008), h. 346. 10

Baca selengkapnya W. Montgomory Watt, Muhammad Prophet and Statesmen (London: Oxford University Press, 1969).

11

Ramakrishna Rao, Muhammad: The Prophet of Islam (Inggris: Wipe, 1989), h. 32. 12

(17)

bahwa dalam sosok Nabi Saw. dunia telah menyaksikan fenomena paling langka

di muka bumi, fenomena yang berwujud sosok hidup dan nyata.

Pemimpin yang sangat unik, inspiratif dan luar biasa serta perlu dikaji

adalah Nabi Saw. yang menempati peringkat Nomor Satu menurut Michel Hart.13

Alasan Hart menempatkan Nabi Saw. di posisi teratas dalam daftar orang paling

berpengaruh di dunia dikarenakan Nabi Saw. adalah satu-satunya orang di dunia

yang sangat berhasil baik pada tataran agama maupun sekuler. Sebagaimana hasil

review dari beberapa sumber klasik yang dilakukan oleh Marc H. Applebaum

menyatakan bahwa teladan yang memiliki karakter terbaik di seluruh wilayah

kehidupan adalah Nabi Saw. termasuk dalam hal kepemimpinan.14

Thomas Carlyle (1881 M), salah seorang pemikir terkemuka abad XIX

mengatakan bahwa Nabi Saw. adalah pria yang jujur dan taat, jujur dalam

perbuatan, perkataan dan pikiran. Seorang pria yang agak pendiam, diam ketika

tidak ada yang perlu dikatakan tapi tegas, bijak, tulus ketika berbicara, selalu

memberi pencerahan atas persoalan.15

Keagungan kepemimpinan Nabi Saw. merupakan sumber inspirasi bagi

berbagai tipe orang yang berpengaruh baik itu negarawan, raja, komandan militer,

pemimpin politik, pemimpin agama maupun CEO bisnis. Dalam sejarah manusia,

sangat jarang dijumpai seorang manusia sempurna yang menunjukkan sifat-sifat

maupun ciri-ciri yang menjadi tolok ukur kepemimpinan.16

13

Michel Hart, The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History (New York: Hart Publishing Company, 1978), h. 33. Hart dikenal sebagai sejarawan, matematikawan, dan ahli astronomi Amerika.

14

Marc H. Applebaum, “A Phenomenological Psychological Study of Muslim Leaders Attitudes Toward Connection with The Prophet Muhammad,” (Dissertation of Doctor in Faculty of Psychology, Saybrook Graduate School and Research Center San Fransisco, 2009), h. 16.

15

Thomas Carlyle, The Hero as Prophet (Maynard: Merrill & Company, 1882), h. 76. 16

(18)

Zakiyyah Wajihah El Amin mengutip perkataan Jules Massermen, seorang

psikoanalis dan professor di Universitas Chicago Amerika Serikat yang

meletakkan tiga standar objektif untuk menilai kebesaran para pemimpin, dia

berkata bahwa pemimpin harus memenuhi tiga fungsi: Pertama, pemimpin harus

menyediakan kesejahteraan bagi orang-orang yang dipimpinnya. Kedua,

pemimpin atau calon pemimpin harus menyediakan suatu organisasi sosial yang

orang-orang merasa nyaman di dalamnya. Ketiga, pemimpin harus menyediakan

suatu keyakinan/nilai bagi pengikutnya. Dalam analisis dan penelitiannya tentang

tokoh-tokoh hebat dalam sejarah, Masserman menyimpulkan bahwa pemimpin

yang terbesar sepanjang waktu adalah Nabi Saw. yang mengombinasikan ketiga

fungsi tersebut.17

Penilaian yang berbeda muncul dari kalangan orientalis yang distortif secara

umum berawal akhir abad XVIII dan awal abad XIX. Sebagaimana Washington

Irving18 (1859 M) yang menganggap Nabi Saw. mempunyai penyakit ayan dan

mengalami gangguan kejiwaan. Ia juga menuduhnya sebagai manusia yang hiper

sex, bernafsu ganas, selalu mengejar kenikmatan seks belaka. Seorang manusia

yang tidak puas beristri satu dan oleh karena itu ia mempunyai istri lebih dari

sepuluh.19 Tuduhan miring terhadap Nabi Saw. juga dilakukan Jean Damascene

yang menganggap Nabi Saw. sebagai perampok, yang selalu merampas unta-unta

17

Zakiyyah Wajihah El Amin, “The Leadership of Muhammad the Prophet of Islam: An Integral Analysis,” (Dissertation of Doctor in Faculty of Human Development, Fielding Graduate University United States, 2008), h. 107.

18

Dia adalah penulis terkemuka kebanggaan Amerika yang hidup pada abad XIX, yang menulis sejarah hidup Nabi Saw. dengan retorika penulisan yang begitu mengagumkan. Meskipun dalam penulisannya terlihat sedikit kejujuran tapi masih banyak penilaiannya yang penuh prasangka dan tidak toleran. Baca selengkapnya Washington Irving, Mohammed (London: Wordsworth Editions, 2007).

19

(19)

di waktu peperangan.20 Tuduhan ini menyatakan bahwa Nabi Saw. bukanlah

seorang pemimpin, teladan apalagi seorang Nabi yang diagungkan.

Begitu juga dengan Robert Spencer21 yang menyatakan bahwa Nabi Saw.

merupakan pendiri agama paling tidak toleran di dunia. Dalam bukunya dikatakan

bahwa Nabi Saw. merupakan seorang Nabi pedofil, seorang pembenci wanita dan

penuh dengan kekerasan. Bahkan dia mengatakan bahwa perkataan dan perbuatan

Nabi Saw. telah menggerakkan orang-orang Muslim untuk melakukan kekerasan

selama 1400 tahun.22

Tuduhan-tuduhan orientalis terhadap Nabi Saw. membuat umat Islam

menjadi resah. Hal ini dikarenakan umat Islam menganggap Nabi Saw. sebagai

panutan dan pemimpin spiritual tertinggi mereka yang nyaris sempurna. Meskipun

tidak dianggap sebagai Tuhan, Nabi Saw. ditempatkan dalam penghormatan yang

setinggi mungkin. Dia tidak boleh digambar, dan bagi orang-orang yang saleh,

menyebut namanya akan menjamin limpahan rahmat Ilahi bagi diri yang berdo‟a.

Istri-istrinya disebut sebagai ibu-ibu orang yang beriman. Setiap rincian riwayat

hidupnya telah terpelihara senantiasa di dalam hadis-hadis.23

Dengan berbagai tuduhan-tuduhan di atas bisa mengakibatkan keraguan

mengenai posisi Nabi Saw. sebagai seorang pemimpin yang ideal.

Hal yang menjadi permasalahan adalah posisi Nabi Saw. yang berkaitan

dengan maksud perkataan (bahasa) Nabi Saw. sebagai pemimpin sangat

20

Shabir Akhtar, Mengungkap Kelicikan Barat Sekuler Dengan Kasus Ayat-ayat Setan Salman Rushdie. Penerjemah Usman Efendi (Jakarta: CV. Firdaus, 1992), h. 8.

21

Seorang pengarang dan narablog Amerika Serikat yang dikenal karena kritiknya terhadap Islam dan penelitian tentang terorisme Islam dan jihad. Ia telah menerbitkan dua belas buku, dengan karya terkenalnya The Truth About Muhammad: Founder of the World’s Most Intolerant Religion (2006).

22

Robert Spencer, The Truth About Muhammad: Founder of the World’s Most Intolerant Religion (United States: Regnery Publishing, 2006), h. 172.

23

(20)

memengaruhi pemahaman suatu hadis. Segi-segi yang berkaitan erat dengan diri

Nabi Saw. dan suasana yang melatarbelakangi ataupun menyebabkan terjadinya

hadis tersebut mempunyai kedudukan penting dalam pemahaman suatu hadis.

Bisa saja suatu hadis tertentu lebih tepat dipahami secara tekstual, sedang hadis

tertentu lainnya lebih tepat dipahami secara kontekstual.

Tentu, perbedaan posisi Nabi Saw. tersebut sangat berpengaruh terhadap

pemahaman sebuah hadis. Hal ini karena intensitas posisi Nabi Saw. sebagai

seorang pemimpin memiliki berbagai motif ketika bersabda. Hal ini juga

dikarenakan bahwa ucapan atau perkataan Nabi Saw. telah diakui dan sangat

bernilai tinggi. Semua ini tampak ketika beliau berkomunikasi dengan para

sahabat seperti persoalan mengenai hubungan serta tanggungjawab sosial terhadap

seseorang. Sebagaimana sikap Nabi Saw. dalam memberikan larangan, perintah,

anjuran serta penghargaan yang tersirat dari gaya bahasa beliau sebagai seorang

pemimpin.

Pentingnya posisi Nabi Saw. ini membuat para ulama khususnya ahli Ilmu

Kalam, Ushul Fiqh dan Hadis merumuskan konsep pemilahan posisi Nabi Saw.

Kelompok ahli hadis memfokuskan hal ini pada pemahaman hadis, sedangkan ahli

Ushul Fiqh lebih mengulasnya pada perbuatan Nabi Saw.24 Perhatian yang ekstra

terhadap posisi Nabi Saw. ini tampaknya dilatarbelakangi oleh upaya menjaga

kemurnian ajaran agama (syarīʻah) karena sebagian dari perbuatan Nabi Saw.

adalah tabligh dan fatwa.

Pernyataan ini menunjukkan masalah yang terjadi dalam matan hadis.

Ketika dilihat dari bentuk matannya, hadis Nabi Saw. ada yang berupa jawāmiʻ

24

(21)

al-kalim (ungkapan yang singkat, namun padat maknanya), tamsīl

(perumpamaan), bahasa simbolik (ramzi), bahasa percakapan (dialog), ungkapan

analogi (qiyāsi), dan lain-lain.25 Klasifikasi yang terlepas dari keadaan yang

tumpang tindih memang sering sulit dihindari dalam pembagian hadis dilihat dari

segi-segi tertentu. Pembagian ini diperlukan dengan maksud menjelaskan

kekhususan yang dimiliki oleh hadis Nabi Saw.

Oleh karena itu, kajian ini akan difokuskan pada kepemimpinan Nabi Saw.

serta bahasa yang digunakan. Lewat kajian matan hadis saya akan menganalisa

gaya bahasa kepemimpinan Nabi Saw.

B. Permasalahan

1.) Identifikasi Masalah

Bila diidentifikasi maka masalah yang muncul dari topik di atas mempunyai

beberapa pertanyaan, yaitu:

a. Bagaimana memisahkan makna ketika Nabi Saw. sebagai seorang Nabi dan

sebagai manusia biasa?

b. Apakah Nabi Saw. seorang pemimpin?

c. Apa indikator yang menunjukkan bahwa Nabi Saw. seorang pemimpin?

d. Bagaimana kapasitas Nabi Saw. ketika menjadi seorang pemimpin dalam

bersabda?

e. Apa yang menjadi sifat dan motif Nabi Saw. dalam bersabda?

f. Apakah Nabi Saw. mempunyai kriteria khusus ketika berada dalam

penempatan suatu posisi?

25

(22)

g. Bagaimana implikasi hukum dari posisi Nabi Saw. yang beragam?

h. Bagaimana bentuk bahasa Nabi Saw. ketika memberikan perintah atau

larangan?

i. Apakah ada sebuah teori khusus yang membuktikan bahwa itu adalah

bahasa Nabi Saw.?

j. Faktor apa saja yang bersinggungan dari bahasa Nabi yang positif maupun

yang negatif ketika menjadi seorang pemimpin?

2.) Pembatasan Masalah

Berpijak dari identifikasi di atas, pembahasan dalam penelitian ini akan

difokuskan pada kajian tentang gaya bahasa Nabi Saw. sebagai pemimpin. Oleh

karenanya dari pertanyaan-pertanyaan di atas dibatasi pada pertanyaan yang

terkait dengan gaya bahasa Nabi Saw. yakni: Bagaimana bentuk bahasa

kepemimpinan Nabi Saw?

Pembatasan ini didasarkan pada asumsi bahwa posisi Nabi Saw. sebagai

seorang pemimpin dapat dilihat dari bahasa yang digunakan. Dalam hal ini, saya

akan berupaya menelusuri dan menganalisa bahasa Nabi Saw. sebagai seorang

pemimpin. Sedangkan pembatasan posisi Nabi Saw. sebagai pemimpin dibatasi

karena ingin membantah pandangan orientalis yang menyatakan bahwa Nabi Saw.

bukan seorang pemimpin. Pertanyaan-pertanyaan yang tidak saya pilih

dikarenakan sudah dibahas pada kajian sebelum-sebelumnya.26

26

(23)

3.) Rumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka saya merumuskan satu

pertanyaan utama, yaitu: Bagaimana gaya bahasa Nabi Saw. ketika menjadi

seorang pemimpin?

Pertanyaan ini saya pilih karena untuk melihat bagaimana pola bahasa yang

digunakan ketika Nabi Saw. berada di posisi pemimpin. Dengan demikian,

penelusuran ini terkait dengan kajian bahasa kepemimpinan Nabi Saw. yaitu

tentang aqwāl Nabi Saw. melalui kajian matan hadis.

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Sebagaimana yang tertuang dalam rumusan masalah sebelumnya, maka

tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah:

1. Menjelaskan gaya bahasa kepemimpinan yang digunakan Nabi Saw.

2. Menjelaskan bahwa Nabi Saw. adalah seorang pemimpin melalui bahasa

yang digunakan Nabi Saw.

3. Memberikan penjelasan serta sanggahan terhadap orientalis yang

menganggap bahwa Nabi Saw. bukan seorang pemimpin.

Terkait dengan tujuan yang terealisasi, diharapkan hasil penelitian ini dapat

memberikan manfaat ke dalam dua kategori, yaitu bersifat akademis dan praktis:

1. Manfaat akademis:

a. Mengetahui bahasa kepemimpinan Nabi Saw.

(24)

b. Membuktikan bahwa Nabi Saw. seorang pemimpin melalui bahasa yang

digunakan Nabi Saw.

c. Mengetahui kepemimpinan Nabi Saw.

2. Manfaat praktisnya:

a. Memberikan konstribusi pemahaman bahasa kepemimpinan Nabi Saw.

yang nantinya dapat dikembangkan dan dijadikan acuan untuk

penelitian lebih lanjut.

b. Secara umum diharapkan dapat bermanfaat bagi khazanah ilmu

pengetahuan, serta terhadap konsep-konsep aktual terutama mengenai

masalah-masalah yang menyangkut bahasa Nabi Saw.

D. Studi Terdahulu yang Relevan

Beberapa studi terdahulu yang dianggap relevan dengan kajian ini antara

lain adalah artikel tentang bahasa manajerial yang ditulis oleh beberapa

mahasiswa akademi Islam dari University of Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia

(Majid Daneshgar, Faiṣal ibn Aḥmad Syah, Zulkifli ibn Mohd Yusof, Gholamreza

Nuei, Mus af ibn „Abdullah dan Jilani ibn Touhami Meftah) yang juga

bekerjasama dengan Azar Mirzaei yang merupakan peneliti pusat studi al-Qur‟an

di University of Malaya pada tahun 2012. Artikel ini berjudul A Study on

Managerial Language of Islam. Dalam artikel ini dibahas mengenai tipologi

manajerial yang sesuai dengan bahasa manajerial dalam Islam yang dalam hal ini

menggunakan tipologi French and Raven (1959) dan teori powernya Naderi

(25)

tiga sudut pandang yaitu al-Qur‟an, Hadis dan ijtihad ulama.27 Terlebih, artikel ini

menginvestigasi keserasian antara bahasa manajerial dalam Islam dengan

beberapa teori manajerial modern dan mempertanyakan bagaimana Islam

mengajarkan cara berbicara antara seseorang dengan lainnya. Artikel ini belum

secara spesifik membahas tentang bahasa manajerial, hanya pengenalan serta

pemaparan dari basis tipologi dalam berinteraksi.

Kajian lain juga pernah dilakukan oleh R. Marston Speight dalam salah satu

proyek penelitiannya. Artikel yang ia tulis berjudul Oral Traditions of the Prophet

Muḥammad a Formulaic Approach.28

Ia mengkaji tentang beberapa komponen

yang terkait dengan ucapan Nabi Saw. melalui pendekatan rumus (a formulaic

approach) yang dia sebut dengan structural formula. Pendekatan melalui rumus

ini dalam kajian hadis memungkinkan untuk menemukan atau memastikan

keaslian teks yang berasal langsung dari Nabi Saw. Prosedur ini merupakan

tahapan terhadap sebuah analisis retorika.29 Artikel ini memiliki kemiripan dengan

masalah yang saya angkat. Hanya saja, dalam artikel ini hanya dijelaskan

penggunaan rumus-rumus yang mengidentifikasikan bahwa ucapan tersebut

berasal langsung dari Nabi Saw.

Penelitian yang masih dalam satu tema juga telah diteliti Marc H.

Applebaum dalam disertasi doktoralnya di Saybrook Graduate School and

Research Center San Fransisco, California, 2009 yang berjudul A

Phenomenological Psychological Study of Muslim Leaders Attitudes Toward

27Majid Danesghar, dkk., “

A Study on Managerial Language of Islam,” Procedia Social and Behavioral Sciences, no. 70 (Januari 2013): h. 501-507.

28Speight, Oral Traditions of the Prophet Muḥammad a Formulaic Approach, h. 27-37. 29

(26)

Connection with The Prophet Muhammad.30 Disertasi ini menyelidiki tentang

sikap pemimpin Muslim yang dihubungkan dengan Nabi Saw. Kontribusi dari

disertasi ini adalah memberikan pemahaman psikologi Nabi Saw. untuk seorang

pemimpin dan cara berhubungan dengan lainnya.

Kajian lain tentang kepemimpinan Nabi Saw. juga pernah dilakukan oleh

Zakiyyah Wajihah dalam disertasinya yang membahas tentang The Leadership of

Muhammad Prophet of Islam: An Integral Analysis.31 Disertasi yang diselesaikan

pada tahun 2008 ini fokus pada kajian analisis integral seorang pemimpin.

Berdasarkan pengamatan pada karya-karya di atas, penelitian ini mengenai

bahasa kepemimpinan. Oleh karenanya penelitian ini akan menjelaskan tentang

bahasa kepemimpinan Nabi Saw.

E. Metodologi Penelitian

1. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini adalah hadis qawlī yang terdapat dalam

kitab al-Jāmiʻ al- aghīr karya Jal l al-Dīn al-Suyū ī. Kitab ini dipilih karena

merupakan kitab kumpulan hadis-hadis qawlī. Pemilihan hadis qawlī ini bertujuan

memfokuskan pembahasan pada ucapan Nabi Saw. sehingga mempermudah untuk

menelusuri secara langsung pola bahasa Nabi Saw. Kemudian dari hadis-hadis

qawlī tersebut dibatasi hanya pada kitab aḥīḥ al-Bukhārī yang terkait dengan

kriteria Nabi Saw. sebagai seorang pemimpin. Pembatasan ini dikarenakan

hadis-hadis yang terdapat dalam kitab aḥīḥ al-Bukhārī sudah mendapatkan legitimasi

30

Disertasi ini kemudian diterbitkan oleh UMI Microform ProQuest LLC pada tahun 2009. 31

(27)

dari para ulama‟ hadis bahwa hadis tersebut ṣaḥīḥ terhindar dari cacat dan

muttaṣil sampai ke Nabi Saw.

Kemudian sebuah buku untuk pembahasan mengenai tipe-tipe bahasa

seorang pemimpin menggunakan buku yang berjudul Politic Leadership yang

ditulis oleh Barbara Kellermen pada tahun 1986. Barbara, memasukkan satu

pembahasan khusus pada bab The Bases of Social Power mengenai landasan atau

dasar utama menjadi seorang pemegang kekuasaan (pemimpin) yang ditulis oleh

John R. P. French, Jr., dan Bertram Raven. French dan Raven mengatakan bahwa

seorang pemimpin harus memiliki lima basis kekuasaan, yaitu reward, coercive,

legitimate, referent, dan expert. Tipe ini merupakan lima landasan terkuat dan

terbaik dari seorang pemimpin kekuasaan.32 Selain itu, lima landasan ini

merupakan teori tertua yang telah disepakati bersama dan dijadikan tolak ukur

dalam bidang kepemimpinan. Oleh karenanya, buku ini menjadi rujukan utama

untuk menentukan beberapa faktor yang dimiliki oleh seorang pemimpin.

Sedangkan sumber lainnya didapatkan dari beberapa dokumen,

tulisan-tulisan yang telah dipublikasikan dalam bentuk buku, jurnal, ataupun artikel dari

internet yang menguraikan pembahasan berkaitan dengan yang diteliti. Dalam hal

ini menggunakan sebuah artikel A Study on Managerial Language of Islam.

Kemudian untuk pembahasan mengenai bahasa Nabi Saw. menggunakan disertasi

seperti A Phenomenological Psychological Study of Muslim Leaders Attitudes

Toward Connection with The Prophet Muhammad karya Marc H. Applebaum dan

The Leadership of Muhammad Prophet of Islam: An Integral Analysis karya

Zakiyyah Wajihah. Serta sebuah artikel yang berjudul Oral Traditions of The

32

(28)

Prophet Muḥammad: A Formulaic Approach karya R. Marston Speight. Dari

data-data itulah dijadikan bahan dalam mengelola dan mengkaji penelitian ini.

2. Metode Pengumpulan Data

Dalam hal pengumpulan data, saya mengumpulkan hadis qawlī dalam kitab

al-Jāmiʻ al- aghīr yang berjumlah 29.025 hadis. Kemudian dari ribuan hadis ini

diperoleh sebanyak 815 hadis yang terdapat dalam kitab aḥīḥ al-Bukhārī.

Terakhir, hadis tersebut didapat hanya 159 hadis yang dinilai menggunakan gaya

bahasa kepemimpinan.

Indikator dari bahasa seorang pemimpin sendiri bisa dilihat ketika memberi

perintah dan larangan. Bahasa perintah di sini bisa dideteksi dengan melihat

bentuk lafal yang digunakan, dalam hal ini menggunakan fiʻil ʻamr. Sedangkan

dalam bentuk bahasa larangan bisa dideteksi dengan melihat adanya penggunaan

lam nahī.

Hadis ini akan dianalisa menggunakan teori manajerial bahasa John R. P.

French, Jr., dan Bertram Raven tentang manajerial bahasa yang berjudul The

Bases of Social Power.33 Tulisan ini bertujuan untuk mengenali tipe-tipe

kekuasaan seorang pemimpin secara umum dan sistematika yang digunakan.

Karya ini merupakan pengenalan serta pemaparan dari basis tipologi kekuasaan

dalam berinteraksi. Teori tipologi ini digunakan karena merupakan teori tertua dan

populer dikalangan sarjana, sebagaimana yang dikatakan oleh Jerald G. Bachman

seorang professor penelitian di Universitas Michigan yang meneliti tentang

Psikologi Sosial.

33

(29)

3. Metode Penulisan

Dalam hal teknik penulisan, saya mengacu kepada Pedoman Akademik

Program Strata 1 2013/2014 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dan menggunakan

pedoman transliterasi Romanisasi Standar Bahasa Arab (Romanization of Arabic)

yang pertama kali diterbitkan tahun 1991 dari American Library Association

(ALA) dan Library Congress (LC).

F. Sistematika Penulisan

Pembahasan dalam skripsi ini akan disusun secara keseluruhan terdiri dari

lima bab, sebuah bab pendahuluan dan tiga bab isi, kemudian ditutup dengan

sebuah bab penutup yang memuat kesimpulan penelitian ini.

Bab pertama adalah pendahuluan yang berisi perdebatan akademik seputar

posisi Nabi Saw. sebagai seorang pemimpin. Permasalahan yang menjadi konsen

utama penelitian ini adalah seputar pola bahasa kepemimpinan Nabi Saw. Dengan

disertakan studi terdahulu yang relevan bertujuan untuk memposisikan studi ini di

antara studi-studi terkait lainnya yang pernah dilakukan atau searah dengan

penelitian ini. Kemudian diuraikan metode penelitian yang akan saya pakai untuk

menyelesaikan penelitian ini. Dan pembahasan terakhir penjelasan mengenai

sistematika pembahasannya. Pada bab ini menguraikan secara umum alur tulisan

dengan batasan-batasannya.

Bab kedua merupakan pemaparan teori untuk melacak kriteria seorang

pemimpin. Metode penjelasan dalam bab ini yakni memaparkan teori-teori

kepemimpinan. Tujuannya untuk membatasi ruang lingkup kajian dan

(30)

Bab ketiga merupakan teori untuk melacak gaya bahasa seorang pemimpin.

Pada bab ini memberikan penjelasan tentang teori kekuasaan pemimpin yang

disertai dengan pengaplikasiannya dalam al-Qur‟an. Dengan tujuan untuk

mengetahui ciri bahasa yang digunakan oleh pemimpin.

Bab keempat merupakan bab analisis. Bagian ini difokuskan pada analisa

hadis-hadis qawlī dalam kitab aḥīḥ al-Bukhārī dengan menggunakan teori

bahasa seorang pemimpin. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui bahasa

kepemimpinan Nabi Saw.

Bab kelima merupakan penutup yang terdiri dari kesimpulan jawaban dari

rumusan masalah dalam penelitian ini, serta menemukan apa saja yang bisa

(31)

18

Pada bab ini, saya bermaksud memaparkan teori-teori kepemimpinan dari

segi ciri, perilaku pribadi dan sifat. Hal ini saya lakukan dengan cara menelusuri

kajian dalam literatur kepemimpinan sehingga akan didapatkan data berupa

definisi yang dirancang oleh para pengkaji kepemimpinan. Penelusuran ini

diharapkan dapat memunculkan suatu gambaran yang jelas tentang kriteria dan

gaya kepemimpinan Nabi Saw. dalam mengatur serta memimpin umatnya.

Dengan demikian akan diketahui gaya kepemimpinan Nabi Saw.

A. Kepemimpinan dalam Kamus Para Tokoh

Kepemimpinan berasal dari bahasa Inggris leadership yang berasal dari kata

leader. Kata leader muncul pada tahun 1300-an sedangkan kata leadership

muncul kemudian, yaitu sekitar tahun 1700-an.1 Ada banyak definisi pemimpin,

salah satunya Henry Pratt Fairchild2 (1880-1956) mendefinisikan pemimpin

sebagai seorang yang memimpin dengan jalan memprakarsai tingkah laku sosial

dengan mengatur, mengarahkan, mengorganisir, atau mengontrol usaha/upaya

orang lain, kekuasaan atau posisi. Sedangkan dalam pengertian sempit yakni

1

Veithzal Rivai dan Deddy Mulyadi, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi (Jakarta: Rajawali Press, 2012), h. 6.

2

(32)

seorang yang membimbing, memimpin dengan bantuan kualitas-kualitas

persuasifnya, dan akseptensi (penerimaan) secara sukarela oleh pengikutnya.3

Sebagaimana Nabi Saw. dalam memimpin serta membimbing umatnya.

Nabi Saw. dikirim sebagai rahmat untuk menunjukkan kepada umatnya jalan yang

lurus serta mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya, keimanan dan

pengetahuan. Hal ini telah disampaikan dalam al-Qur‟an:









 

Artinya:

“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk

(menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiyā‟: 107).

Ayat tersebut secara definitif (pasti) menyatakan bahwa Nabi Saw. diutus

Allah Swt. sebagai rahmat bukan hanya kepada manusia melainkan untuk seluruh

makhluk di muka bumi. Kasih sayang Nabi Saw. bukan hanya kepada manusia,

melainkan untuk seluruh makhluk hidup di dunia.

Di sisi lain definisi pemimpin pun tidak mudah dirumuskan. Gary Yukl

mengemukakan bahwa definisi pemimpin dapat digolongkan ke dalam enam

jenis4 seperti tampak pada Tabel 1 berikut ini.

3

Syamsul Arifin, Leadership Ilmu dan Seni Kepemimpinan (Jakarta: Mitra Wacana Media, 2012), h. 1.

4

(33)
[image:33.595.110.510.89.626.2]

Tabel 1.

Definisi Kepemimpinan Menurut Yukl

Konsep yang Luas Konsep yang Terbatas

1. Seseorang yang memengaruhi

anggota kelompok.

2. Seseorang yang memengaruhi

anggota kelompok dalam segala hal.

3. Seseorang yang memengaruhi

anggota-anggota kelompok agar menaati kehendaknya, baik secara sukarela maupun tidak.

1. Seseorang yang pengaruhnya kuat terhadap anggota

kelompok lain (kepemimpinan terarah).

2. Seseorang yang secara sistematis memengaruhi perilaku anggota ke arah pencapaian tujuan kelompok.

3. Seseorang yang mendapatkan

komitmen yang antusias dari anggota kelompok untuk melaksanakan kehendaknya.

Sedangkan kepemimpinan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah

suatu bentuk dari cara memimpin.5 Bisa diartikan dengan keseluruhan tindakan

atau kemampuan untuk memengaruhi atau mengajak orang lain sebagai pengikut

dalam usaha bersama mencapai tujuan. Menurut Ordway Tead (1973 M)

kepemimpinan adalah aktivitas memengaruhi orang-orang untuk bekerja sama

menuju kepada kesesuaian tujuan yang mereka inginkan. Tidak jauh berbeda

dengan H. Goidhamer dan E.A. Shils, mereka mengatakan bahwa kepemimpinan

adalah tindakan perilaku yang dapat memengaruhi tingkah laku orang-orang lain

yang dipimpinnya.6

Pada pengertian kepemimpinan di atas disebutkan istilah pengaruh.

Pengertian pengaruh di sini adalah daya yang ada atau yang timbul dari seseorang

yang ikut membentuk watak dan kepercayaan orang lain atas perbuatan seseorang

tersebut. Kemudian ada pula pengaruh yang bersifat karismatik, yaitu daya pikat

5

Tim Penyusun Kamus Bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008), h. 612.

6

(34)

atau pesona yang diilhami oleh Ilahi yang terekspresi pada pola pikir, keyakinan,

sikap, perilaku, tindakan, gerak-gerik, karya, dan penampilan diri.

Hal ini terlihat dalam kepemimpinan Nabi Saw. yang berhasil memberi

pengaruh kepada umatnya sehingga meningkatkan kualitas hubungan di antara

umat dan membangun rasa persaudaraan di dalamnya. Selain itu, Nabi Saw.

membuktikan bahwa seorang pemimpin yang baik adalah yang mendorong para

pengikutnya agar melayani orang lain untuk bisa unggul dalam kehidupan. Seperti

terlihat dalam hadis:

ي لا لاق

:

«

ْمِهِتَلَخَو ،ْمِهِتَجاَح َنوُد َبَجَتْحاَف َ ِمِلْسُمْلا ِرْمَأ ْنِم اًئْيَش َلَجَو َزَع َُللا ُ َاَو ْنَم

ِِرْقَِفَو ،ِِتَلَخَو ِِتَجاَح َنوُد َُْع َُللا َبَجَتْحا ،ْمِِرْقَِفَو

دواد ِأ اور

.

7

Artinya:

“Nabi Saw. bersabda: Barangsiapa yang Allah Swt. serahkan kepadanya sebagian urusan orang muslim kemudian ia menutup diri dari melayani kebutuhan mereka dan keperluan mereka, maka Allah menutup diri darinya dan

tidak melayani kebutuhannya, serta keperluannya.”(HR. Abū Dāwud).

Untuk memahami definisi kepemimpinan secara lebih dalam, ada beberapa

definisi kepemimpinan yang dikemukakan oleh para ahli, yaitu:

a. Stephen P. Robbins mengatakan, kepemimpinan adalah kemampuan untuk

memengaruhi suatu kelompok ke arah tercapainya tujuan.8

b. Richard L. Daft mengatakan, kepemimpinan adalah kemampuan

memengaruhi orang yang mengarah kepada pencapaian tujuan.9

c. G. R. Terry memberikan definisi: Kepemimpinan adalah usaha

memengaruhi seseorang untuk mencapai tujuan bersama.10

7Abū Dāwud Sulaymā

n ibn al-Asyʻats ibn Isḥāq ibn Basyīr ibn Syaddād ibn ʻAmr al-Azdī al-Sijistānī, Sunan Abī Dāwud, Muḥaqqiq: Muḥammad Muḥyi al-Dīn ʻAbd al- amīd, vol. III (Beirut: al-Maktabah al-ʻAṣriyah, t.t), h. 135.

8

Stephen P. Robbins, Perilaku Organisasi. Penerjemah Tim Indeks (Jakarta: Indeks, 2003), h. 50.

9

(35)

d. Ricky W. Griffin mengatakan, pemimpin adalah individu yang mampu

memengaruhi orang lain tanpa harus mengandalkan kekerasan; pemimpin

adalah individu yang diterima oleh orang lain sebagai pemimpin.11

Dalam surveinya mengenai teori dan penelitian kepemimpinan, Ralph M.

Stogdill mengemukakan bahwa terdapat definisi mengenai kepemimpinan yang

berbeda hampir sebanyak orang berusaha mendefinisikan konsep tersebut.12 James

A.F Stoner mendefinisikan kepemimpinan manajerial sebagai proses

mengarahkan dan memengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan tugas dari

anggota kelompok.13

Ada empat implikasi penting dalam definisi ini. Pertama, kepemimpinan

melibatkan orang lain –karyawan atau pengikut. Dengan kemauan mereka

menerima pengarahan dari pemimpin, angggota kelompok membantu

mendefinisikan status pemimpin dan membuat proses kepemimpinan menjadi

mungkin; tanpa orang yang dipimpin, semua mutu kepemimpinan dari seorang

manajer menjadi tidak relevan.

Kedua, kepemimpinan melibatkan distribusi kekuasaan yang tidak merata

antara pemimpin dan anggota kelompok. Anggota kelompok bukannya tanpa

kekuasaan; mereka dapat dan membentuk aktivitas kelompok dengan berbagai

cara. Sekalipun demikian, pemimpin biasanya mempunyai kekuasaan yang lebih

besar.

10

Brantas, Dasar-dasar Manajemen (Bandung: Alfabeta, 2009), h. 125. 11

Ricky W. Griffin, Manajemen. Penerjemah Gina Gania (Jakarta: Erlangga, 2003), h. 68. 12

Ralph M. Stogdill, Bass & Stogdill‟s Handbook of Leadership: Theory, Research& Managerial Application (Binghamton: Free Press, 1990), h. 37.

13

(36)

Jadi, aspek ketiga dari kepemimpinan adalah kemampuan menggunakan

berbagai bentuk kekuasaan untuk memengaruhi tingkah laku pengikut dengan

berbagai cara. Sebenarnya, pemimpin telah memengaruhi karyawan untuk

melakukan pengorbanan pribadi demi kebaikan perusahaan. Kekuasaan ini

membawa kita ke aspek keempat dari kepemimpinan.

Aspek keempat dari kepemimpinan menggabungkan tiga aspek pertama dan

mengakui bahwa kepemimpinan adalah mengenai nilai. James McGregor Burns

mengatakan bahwa pemimpin yang mengabaikan komponen moral kepemimpinan

mungkin dalam sejarah dikenang sebagai penjahat, atau lebih jelek lagi.

Kepemimpinan moral menyangkut nilai-nilai dan persyaratan bahwa para

pengikut diberi cukup pengetahuan mengenai alternatif agar dapat membuat

pilihan yang telah dipertimbangkan kalau tiba saatnya memberikan respons pada

usulan pemimpin untuk memimpin.14

Kepemimpinan ini adalah kepemimpinan tingkat manajemen. Manajemen

adalah suatu proses kegiatan fungsi-fungsi manajemen itu, yaitu: fungsi

perencanaan (planning), fungsi pengorganisasian (organizing), fungsi staf

(staffing), pengarahan (directing) dan pengawasan (controlling).

Dilihat dari fungsi ini maka kepemimpinan manajemen adalah pemimpin

yang mengordinir semua fungsi ini, yang menentukan kebijaksanaan (policy) dan

penanggungjawab dari semua proses dan kegiatan suatu organisasi atau satuan

rumah tangga.

Kepemimpinan manajerial tidak berhadapan langsung pada lapangan

operasional dan tidak memimpin langsung di lapangan. Kepemimpinan manajerial

14

(37)

ini adalah orang yang menentukan perencanaan, penggunaan, staf, menentukan

arah kerja dan sasaran operasional. Tetapi pemimpin manajerial itu

merencanakan, mengarahkan pemimpin-pemimpin lapangan dan mengawasi

(controlling) semua kegiatan yang dilakukan para pemimpin operasi.

Kepemimpinan manajerial menentukan perencanaan, memiliki dan

mempergunakan staf, memberi pengarahan pada semua kegiatan terutama pada

pemimpin-pemimpin operatif, melakukan pengawasan dan merupakan

tanggungjawab tertingi di dalam organisasi di tingkatnya dan meminta

pertanggungjawaban dari pemimpin bawahan dan pemimpin operatif.15

Dari uraian di atas perlu dicatat bahwa walaupun kepemimpinan berkaitan

amat erat dengan dan penting bagi manajemen, kepemimpinan dan manajemen

bukan konsep yang sama. Untuk memperjelas perbedaan ini, pengarang

kepemimpinan Warren Bennis mengatakan bahwa kebanyakan organisasi terlalu

banyak dikelola (overmanaged) dan terlalu sedikit dipimpin (underled)16.

Seseorang dapat menjadi manajer yang efektif tetapi kurang dalam keterampilan

membangkitkan motivasi dari seorang pemimpin. Orang lain dapat menjadi

pemimpin yang efektif tetapi kurang dalam keterampilan manajerial untuk

menyalurkan energi yang mereka timbulkan dalam diri orang lain. Dengan

tantangan keterlibatan dinamis dalam dunia organisasi masa kini, banyak

organisasi memberi hadiah kepada manajer yang juga mempunyai keterampilan

memimpin.

Penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa kepemimpinan berarti proses

pemberian bimbingan dan teladan, proses pemberian tugas dan fasilitas untuk

15

Mochtar Effendy, Kepemimpinan Menurut Ajaran Islam (Palembang: al-Mukhtar, 1997), h. 40.

16

(38)

pekerjaan-pekerjaan orang-orang yang terorganisasi guna mencapai tujuan yang

telah ditetapkan. Dengan ringkas dapat disimpulkan, kepemimpinan adalah usaha

untuk mencapai tujuan dengan menggunakan daya pengaruh, potensi yang ada –

baik yang memimpin maupun yang dipimpin- secara bersama-sama, dinamis, dan

harmonis.

Pemimpin dan kepemimpinan adalah ibarat sekeping mata uang logam yang

tidak bisa dipisahkan, dalam artian bisa dikaji secara terpisah namun harus dilihat

sebagai satu kesatuan. Seorang pemimpin harus memiliki jiwa kepemimpinan,

dan jiwa kepemimpinan yang dimiliki dari seorang pemimpin tidak bisa diperoleh

dengan cepat dan segera namun sebuah proses yang terbentuk dari waktu ke

waktu hingga akhirnya mengkristal dalam sebuah karakteristik. Dalam artian ada

sebagian orang yang memiliki sifat kepemimpinan namun dengan usahanya yang

gigih mampu membantu lahirnya penegasan sikap kepemimpinan pada dirinya

tersebut.17

Dapat kita pahami bahwa seorang pemimpin dengan kualitas kepemimpinan

yang dimilikinya bukan hanya sekedar berusaha untuk melaksanakan tugas dan

berbagai rutinitas pekerjaan saja, namun lebih dari itu merupakan simbol dari

organisasinya. Dan bagi banyak pihak, simbol tersebut telah berubah secara lebih

jauh menjadi kekuatan positif yang menggerakkan organisasi tersebut untuk

meraih tujuan yang dicita-citakan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Aan

Komariah18 bahwa, “kepemimpinan merupakan satu aspek penting dalam

organisasi yang merupakan faktor penggerak organisasi melalui penanganan

perubahan dan manajemen yang dilakukannya, sehingga keberadaan pemimpin

17

Irham Fahmi, Manajemen Teori, Kasus dan Sosial (Bandung: Alfabeta, 2012), h. 58. 18

(39)

bukan hanya sebagai simbol yang ada atau tidaknya menjadi masalah, tetapi

keberadaannya memberi dampak positif bagi perkembangan organisasi”.

Berpijak dari beberapa definisi, kita bisa melihat bahwa pada diri Nabi

Saw. terdapat faktor seorang pemimpin yang disebutkan dari beberapa tokoh

kepemimpinan di atas. Kesuksesan beliau sebagai pemimpin diri sendiri,

pemimpin keluarga, pemimpin organisasi, pemimpin sosial, pemimpin agama,

pemimpin umat, pemimpin para nabi dan rasul-Nya, dan pemimpin seluruh alam

telah mengeluarkan bangsa Arab khususnya dan manusia pada umumnya dari

jeratan kebodohan akidah dan syariʻat ketuhanan. Kecerdasan, spiritualitas, serta

potensi-potensi dirinya tidak hanya diakui oleh kalangan umat Islam saja, tetapi

juga datang dari banyak ilmuwan Barat, seperti Michael H. Hart yang

menempatkan Nabi Saw. pada urutan pertama di antara seratus tokoh yang paling

berpengaruh dalam sejarah kehidupan umat manusia.19

Hal yang paling dominan pada diri kepemimpinan Nabi Saw. adalah bentuk

kepemimpinan dengan keteladanan (leadership by example). Pada kepemimpinan

beliau terpadu tiga komponen yang mutlak dibutuhkan oleh para calon pemimpin:

[image:39.595.114.515.302.727.2]

vision, value, dan vitality.20

Tabel 2.

Komponen Calon Pemimpin

VISION VALUE VITALITY

Mampu menjelaskan arah dan tujuan serta alasannya. Memiliki kemampuan untuk berpikir secara divergen (mencari alternatif) dan mengartikulasikan sesuatu yang bersifat

Memimpin dengan cinta. Menggerakkan orang lain dengan keteladanan. Memiliki prinsip-prinsip nilai (integrity).

Memiliki daya vitalitas atau energi yang sangat kuat sehingga mampu menggerakkan orang lain. Memiliki daya tahan secara fisik maupun mental.

19

Rachmat Ramadhana al-Banjari, Prophetic Leadership (Bandung: Diva Press, t.t.), h. 116. 20

(40)

abstrak menjadi jelas dan aktual (abstract thinking).

Nabi Saw. selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan sekaligus

menjaga harkat dan martabat manusia dan tidak pernah memaksakan kehendaknya

kepada orang lain. Bukti-bukti yang terkait telah dikumpulkan oleh Rifqi

Muhammad Fatkhi melalui sejumlah riwayat hadis yang terkait.21 Salah satu di

antaranya sebagaimana riwayat Abū Dāwūd (275 H) dari ʻAbdullāh ibn ʻAbbās

(68 H) bahwa ada seorang perempuan yang tidak memiliki anak, kemudian ia

bersumpah jika di kemudian hari ia dikaruniai seorang anak, maka ia akan

menjadikan anaknya menganut agama Yahudi, setelah beberapa waktu kemudian

para sahabat bertanya kepada Nabi Saw. berkenaan dengan anak-anak dan saudara

mereka yang masih beragama Yahudi, Nabi pun terdiam, kemudian turunlah ayat

lā ikrāha fī al-dīn (al-Baqarah: 256) lalu Nabi Saw. menjawab: “Biarkan keluarga

kalian memilih, jika mereka memilih kalian, maka mereka termasuk kalian

(Islam). Jika mereka memilih tetap, maka mereka bagian dari mereka (Yahudi).22

Beliau dapat meyakinkan pengikutnya agar mau dengan suka rela untuk

mengikuti perintahnya. Namun demikian beliau adalah pemimpin yang tegas,

tidak kompromi terhadap kebatilan dan selalu menegakkan kebenaran. Ketegasan

di dalam menegakkan yang benar dan melawan kebatilan tercermin di dalam

peristiwa sewaktu menolak untuk memberikan kekuasaan pemerintah pada dua

orang dari Kabilah al-Asyʻarī, sebaliknya beliau memberikan jabatan

21Rifqi Muhammad Fatkhi, “Interaksi Nabi Muhammad dengan Yahudi dan Kristen,” Refleksi Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin XII, no. 3 (April, 2012): h. 248.

22Abū Dāwūd, Sunan Abī Dāwūd

(41)

pemerintahan kepada Abū Mūsā al-Asyʻarī dan Muʻādz ibn Jabal, sebagaimana

yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abū Burdah, Nabi Saw. bersabda:

َلاَقَِف

:

«

وَأ ،ىَسوُم اَبَأ اَي َتْنَأ ْبَْذا ِنِكَلَو ،َُداَرَأ ْنَم اَِلَمَع ىَلَع ُلِمْعَِتْسَن َا ْوَأ ،ْنَل

ِها َدْبَع اَي

ٍسْيَِق َنْب

»

.

(

ةدرب ِأ نع ملسم اور

).

23

Artinya:

“Kemudian beliau bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya saya tidak akan

memberikan jabatan kepada orang yang justru menginginkannya, sekarang pergilah kamu wahai Abū Mūsā atau „Abdullāh ibn Qays!” (HR. Muslim).

Hadis ini menunjukkan betapa tegas Nabi Saw. untuk menegakkan

kebenaran sehingga beliau menolak dua orang untuk minta diangkat menjadi

pemimpin di Yaman karena disangsikan keteguhan imannya dan kemampuannya.

Justru beliau mengangkat dua orang sahabat dari golongan Anshar yang

mempunyai ilmu tentang Islam yang luas dan terjamin imannya.

Dari beberapa bukti tentang kepemimpinan Nabi Saw. di atas, telah

menyatakan bahwa kepemimpinan yang didefinisikan oleh para tokoh tercakup

dalam kepribadian Nabi Saw. bahkan memberikan pemahaman bahwa Nabi Saw.

adalah seorang pemimpin yang sangat berpengaruh bagi manusia.

Tidak disangsikan lagi bahwa Nabi Saw. adalah model pemimpin umat yang

paling agung sepanjang sejarah kehidupan manusia. Karisma kepemimpinannya

bukan hanya karena keperkasaan, kecerdasan, akhlak karimah, keimanan,

keislaman, keihsanan, ketauhidan dan ketakwaan yang dimilikinya, melainkan

juga karena memang anugrah Allah yang menjadikannya manusia pilihan

(al-Mu ṭafá) dan manusia sempurna (insān kamīl).

23

Muslim ibn al- ajjāj Abū al- asan al-Qusyairīy al-Naisābūrīy, aḥīḥ Muslim, vol. III

(42)

B. Gaya dan Kriteria Pemimpin

Pemimpin yang berhasil hendaknya memiliki beberapa kriteria. Kriteria apa

saja tergantung pada sudut pandang atau pendekatan yang digunakan apakah itu

sifat kepribadiannya, keterampilannya, bakatnya, sifat-sifatnya atau kewenangan

yang dimilikinya.

Deddy Mulyadi mengatakan bahwa pemimpin memiliki sifat kepribadian

seperti vitalitas dan stamina fisik, kecerdasan dan kearifan dalam bertindak,

kemauan menerima tanggung jawab, kompeten dalam menjalankan tugas,

memahami kebutuhan pengikutnya, memiliki keterampilan dalam berhubungan

dengan orang lain, kebutuhan untuk berprestasi, mampu memotivasi dan memberi

semangat, meyakinkan, memiliki pengaruh, mampu beradaptasi atau memiliki

fleksibilitas.24

Sebagaimana Nabi Saw. dalam memimpin umatnya. Beliau terlibat dalam

sistem perencanaan, pemberian motivasi, pengorganisasian, perencanaan,

pengarahan operasi, dan pengawasan sehingga segala sesuatunya tidak lepas

kendali. Hal ini terlihat dalam sabdanya:

ي لا لاق

:

ْمُتََِْذ اَذِإَو َةَلِْتِقْلا اوُِسْحَأَف ْمُتْلَِتَِق اَذِإَف ،ٍءْيَش لُك ىَلَع َناَسْحِإْا َبَتَك َها َنِإ

َُتَحْيِبَذ ْحُِرْلَو َُتَرْفَش ْمُكُدَحَأ َدِحُيْلَو َةَِْ ذلا اوُِسْحَأَف

.

(

ملسم اور

)

25

“Nabi Saw. bersabda: Allah telah memerintahkan agar segala sesuatunya

dilakukan dengan cara yang lebih baik. Kemudian ketika kalian membunuh dalam

peperangan, lakukanlah dengan cara yang baik; dan ketika menyembelih

(binatang) untuk korban, lakukanlah dengan cara yang baik. Kalian harus

24

Rivai dan Mulyadi, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, h. 19. 25

(43)

menajamkan pisau, lalu sembelihlah binatang itu agar mati dengan tidak terlalu

sakit.” (HR. Muslim).

Dari beragam sifat yang disebutkan mengandung pengertian bahwa seorang

pemimpin adalah seorang yang dapat dijadikan suri teladan yang baik untuk

menuju perubahan dalam suatu organisasi. Hal ini telah disebutkan dalam firman

Allah dalam surah al-Aḥzāb ayat 21:

                          Artinya:

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari

Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Aḥzāb: 21).

Usaha sistematis pertama yang dilakukan oleh ahli psikologi dan para

peneliti lain untuk memahami kepemimpinan adalah usaha untuk mengenali sifat

pribadi pemimpin. Kebanyakan penelitian gagal untuk mengungkapkan sifat yang

jelas dan konsisten membedakan pemimpin dari pengikut. Memang benar bahwa

kelompok pemimpin lebih cerah, lebih terbuka, dan lebih percaya diri daripada

bukan pemimpin. Mereka juga cenderung untuk lebih tinggi. Tetapi walaupun

jutaan orang memiliki sifat-sifat ini, kebanyakan mereka tidak pernah mencapai

posisi pemimpin.26

Dalam mengenali sifat dan ciri seorang pemimpin, Marston memberikan

tiga rumus untuk mengenali bahasa yang digunakan oleh seorang pemimpin.

Pertama, definisi atau klarifikasi. Hal ini bisa dilihat ketika dia memberikan

contoh dalam bentuk pernyataan negatif yang biasanya digunakan untuk partikel

pengecualian: “tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan

26

(44)

Allah”. Kedua, kekuasaan. Rumus ini terdiri dari pernyataan yang mengandung

sebuah perintah dan larangan. Seperti dalam contoh: “jangan berdusta atas

namaku”. Ketiga, berbentuk cerita. Rumus ini menekankan bahwa hadis

merupakan cerita kehidupan Nabi Saw. yang menjadi teladan bagi kehidupan

masyarakat.

Dengan melihat hal ini bisa dikatakan bahwa walaupun pengukuran

kepribadian mungkin suatu hari cukup akurat untuk mengisolasi sifat-sifat

pemimpin, bukti sejauh ini mengatakan bahwa orang yang tampil sebagai

pemimpin tidak mempunyai kumpulan sifat-sifat yang jelas membedakannya dari

bukan pemimpin.

Dari penjelasan definisi di atas bisa saya ambil kesimpulan bahwa

pemimpin yang dapat dikatakan sebagai pemimpin setidaknya memenuhi

beberapa kriteria, yaitu:

1.) Pengaruh: seorang pemimpin adalah seorang yang memiliki orang-orang

yang mendukungnya yang turut membesarkan nama sang pemimpin.

Pengaruh ini menjadikan sang pemimpin diikuti dan membuat orang lain

tunduk pada apa yang dikatakan sang pemimpin. John C. Maxwell, penulis

buku-buku kepemimpinan pernah berkata: Leadership is influence

(Kepemimpinan adalah soal pengaruh).

2.) Kekuasaan/power: seorang pemimpin umumnya diikuti oleh orang lain

karena dia memiliki kekuasaan/power yang membuat orang lain menghargai

keberadaannya. Tanpa kekuasaan atau kekuatan yang dimiliki sang

pemimpin, tentunya tidak ada yang mau menjadi pendukungnya.

(45)

lain akan tergantung pada apa yang dimiliki sang pemimpin, tanpa itu

mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Hubungan ini menjadikan hubungan

yang bersifat simbiosis mutualisme, dimana kedua belah pihak sama-sama

saling diuntungkan.

3.) Wewenang: wewenang di sini dapat diartikan sebagai hak yang diberikan

kepada pemimpin untuk menetapkan sebuah keputusan dalam melaksanakan

suatu hal/kebijakan. Wewenang di sini juga dapat dialihkan kepada bawahan

oleh pemimpin apabila sang pemimpin percaya bahwa bawahan tersebut

mampu melaksanakan tugas dan tanggungjawab dengan baik, sehingga

bawahan diberi kepercayaan untuk melaksanakan tanpa perlu campur tangan

dari sang pemimpin.

4.) Pengikut: seorang pemimpin yang memiliki pengaruh, kekuasaan/power,

dan wewenang tidak dapat dikatakan sebagai pemimpin apabila dia tidak

memiliki pengikut yang berada di belakangnya yang memberi dukungan dan

mengikuti apa yang dikatakan sang pemimpin. Tanpa adanya pengikut maka

pemimpin tidak akan ada. Pemimpin dan pengikut adalah dua hal yang tidak

dapat dipisahkan dan tidak dapat berdiri sendiri.

Kepemimpinan melibatkan proses memengaruhi orang untuk

mentransformasikan pandangan hidup mereka, kadang melalui tindakan afirmatif

untuk mencapai kondisi yang lebih baik. Perubahan ke arah yang lebih baik bisa

dicapai dengan cara mengubah perilaku seseorang, situasi seseorang atau

lingkungan seseorang. Hal ini disebut dengan kepemimpinan altruistis.27

27

(46)

Altruisme merupakan prinsip hidup yang menghargai dan berbuat demi

kebaikan orang lain, menunjukkan kasih sayang serta perhatian terhadap

kesejahteraan orang lain terutama umat. Prinsip ini menunjukkan suatu sikap

menyayangi dan berbagi, sikap peduli dan tidak egois atas kesejahteraan yang

lain, menjaga perasaan orang lain di sekitar kita, memerhatikan kebutuhan

mereka, dan selalu berusaha menciptakan solusi saling menguntungkan atas

apapun yang dikerjakan bersama.28

Alasan yang mendasari konsep manajemen altruistis adalah bahwa jika kita

berbuat baik kepada orang lain, jika kita menghargai orang lain, jika kita

memerhatikan kebutuhan dan persoalan mereka, kita juga akan mendapat

tanggapan serupa dari mereka dalam interaksi kita dengan mereka.

Nabi Saw. membuktikan bahwa seorang pemimpin yang baik adalah yang

mendorong para pengikutnya agar melayani orang lain untuk bisa unggul dalam

kehidupan. Sebagai seorang pemimpin, seseorang terikat oleh kedudukan yang

dipercayakan Allah Swt. agar bertanggung jawab dan bisa

dipertanggungjawabkan dalam menegakkan keadilan, kesetaraan, dan

kesepahaman dalam segala urusan dunia.29

Seorang pemimpin bisa jadi adalah seorang ayah, seorang imam, seorang

administrator, seorang manajer, seorang supervisor, atau bahkan seorang pekerja

yang berpengaruh. Nabi Saw. menegaskan bahwa setiap orang diberi kepercayaan

oleh Allah Swt. untuk menjadi khalifah. Sebagaimana firman Allah:

28

Ismail Noor, Manajemen Kepemimpinan Muhammad (Jakarta: PT Mizan Pustaka, 2011), h. 33.

29

Hal ini bisa dilihat dari hadis Nabi Saw. yang menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan dan posisi pemimpin yang adil dihadapan Allah Swt. Sebagaimana riwayat Abū Saʻīd ra. Bahwa Nabi Saw. pernah bersabda: “Dari semua orang yang paling dekat dan dikasihi Allah pada hari kiamat adalah pemimpin yang adil, dan yang paling buruk di mata Allah dan paling jauh dari-Nya

(47)

               Artinya:

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan

menjadikan mereka berkuasa di muka bumi.” (QS. Al-Nūr: 55).

Begitu juga dalam riwayat Ibn „Umar meriwayatkan bahwa Nabi Saw.

bersabda:

نَع

َلاَق َمَلَسَو ِْيَلَع ُها ىَلَص ِيَلا ِن�

Gambar

Tabel 3 Kategorisasi Kekuasaan Menurut French dan Raven  .................. 44
Tabel 1. Definisi Kepemimpinan Menurut Yukl
Tabel 2. Komponen Calon Pemimpin
Tabel 3. Kategorisasi Kekuasaan Menurut French dan Raven
+5

Referensi

Dokumen terkait