PENGARUH PENINGKATAN EFEK GAS RUMAH KACA TERHADAP PERUBAHAN IKLIM
Faisal Widodo Bancin 151 12 052
Fakultas Ilmu & Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung [email protected]
ABSTRAK
Perubahan iklim adalah perubahan kondisi fisik atmosfer bumi yang terjadi dalam kurun waktu yang panjang. Fenomena ini disebabkan oleh peningkatan suhu bumi yang kemudian mempengaruhi kondisi unsur-unsur iklim, dipicu oleh peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK). Dalam jangka panjang, bumi harus melepaskan energi dengan laju yang sama ketika energi diterima sehingga memaksa sistem iklim menyesuaikan diri untuk mengembalikan keseimbangan antara input dan output energi yang secara berantai mengakibatkan pemanasan global.
Dalam konteks perubahan iklim, diperlukan komitmen dan koordinasi dari semua sektor pembangunan untuk mengurangi jumlah emisi CO2, untuk kemudian memelihara suhu bumi di bawah 2⁰C. Namun demikian, seberapa pun besarnya dunia mengurangi emisi karbon, perubahan iklim akan berlanjut sehingga perlu dilakukan adaptasi untuk memastikan semua sektor yang rentan terkena dampak perubahan iklim lebih siap dan tahan.
DEFINISI PERUBAHAN IKLIM
Perubahan iklim adalah berubahnya kondisi fisik atmosfer bumi, antara lain suhu dan distribusi curah hujan, yang membawa dampak luas terhadap berbagai sektor kehidupan manusia (Kementerian Lingkungan Hidup dalam Putri, 2001). Perubahan ini tidak hanya terjadi sesaat namun dapat terjadi dalam kurun waktu yang panjang. Lebih lanjut, perubahan iklim merupakan sesuatu yang sulit untuk dihindari dan berdampak besar dalam berbagai sektor kehidupan.
EFEK GAS RUMAH KACA
Atmosfer pada 4,6 miliar tahun lalu terdiri dari hidrogen & helium. Melalui proses outgassing, banyak gas-gas lain terinjeksi ke atmosfer, seperti uap air, karbon dioksida, nitrogen dan lain-lain, yang berlangsung selama jutaan tahun membentuk kondisi terkini atmosfer. Beberapa gas yang ada di atmosfer saat ini berkontribusi dalam mengurangi laju hilangnya panas ke ruang angkasa sehingga menaikkan suhu global. Gas-gas tersebut disebut gas rumah kaca (GRK), yang penting untuk mempertahankan suhu bumi, dimana tanpa gas-gas tersebut bumi tidak akan bisa dihuni. Meski demikian, jumlah yang terlalu banyak akan menaikkan suhu bumi ke tahap yang tidak bisa dihuni. Adapun jenis gas rumah kaca utama yaitu:
proses pernafasan dan digunakan oleh tanaman selama fotosintesis. Volume konsentrasi rata-rata global saat ini mendekati 383 ppm. Gas ini merupakan gas rumah kaca yang penting karena mentransmisikan cahaya tampak namun menyerap inframerah.
2. Metana. Metana merupakan komponen utama gas alam yang berpotensi sangat tinggi dalam pemanasan global. Di atmosfer metana selanjutnya akan teroksidasi membentuk karbon dioksida dan air. Terdapat metana dengan jumlah yang sangat besar di dasar laut yang dapat dilepaskan oleh pemanasan global dan secara berantai akan meningkatkan suhu global. 3. Nitro oksida. Meski konsentrasinya kecil di atmosfer, gas ini merupakan kontributor terbesar
keempat dalam peningkatan suhu bumi. Gas ini diemisikan oleh bakteri yang ada pada tanah dan laut. Agrikultur merupakan sumber utama penghasil gas ini dikarenakan penggunaan pupuk nitrogen dan pengelolaan limbah hewani yang tidak optimal.
4. Klorofluorokarbon (CFC). Gas ini dulunya banyak digunakan dalam industri seperti refrigerant, propellant, dan larutan pemutih. Paruh waktu CFC berkisar pada 50 – 100 tahun, sehingga hidup lama sekali di atmosfer. Satu molekul CFC dapat mendegradasi 10.000 molekul ozon.
5. Ozon (O3).
Efek siklus yang ditimbulkan oleh gas rumah kaca tersebut berperan besar dalam peningkatan suhu bumi. Peningkatan suhu tersebut pada akhirnya mempengaruhi kondisi unsur-unsur iklim seperti curah hujan, suhu, kelembapan, angin dan lain-lain, sehingga pada akhirnya menyebabkan perubahan iklim.
KAITANNYA DENGAN PEMANASAN GLOBAL
Terdapat selubung alami gas rumah kaca di atmosfer yang berperan menjaga suhu bumi. Selubung alami tersebut pada awalnya menghalangi radiasi inframerah agar tidak kembali ke angkasa untuk menjaga sehingga kehidupan di bumi dapat berlangsung dengan cara menghangatkan suhu bumi ke dalam tahap yang dapat dihuni. Namun sejak dimulainya revolusi industri sekitar 250 tahun yang lalu, emisi GRK semakin meningkat dan menebalkan selubung GRK di atmosfer dengan laju peningkatan yang sangat signifikan sehingga merubah komposisi atmosfer. Hal yang menyebabkan emisi GRK menjadi masalah besar adalah karena dalam jangka panjang, bumi harus melepaskan energi dengan laju yang sama ketika energi diterima. Karena selubung GRK semakin tebal, sistem iklim akan menyesuaikan diri untuk mengembalikan keseimbangan antara input dan output energi. Fenomena inilah yang disebut pemanasan global.
BERBAGAI DAMPAK YANG DITIMBULKAN
1. Meningkatnya suhu bumi. Suhu rata-rata global naik sebesar 0,74⁰C selama abad ke-20, dimana pemanasan lebih dirasakan pada daerah daratan dibanding lautan.
2. Jumlah gas CO2 yang meningkat di atmosfer. Gas CO2 merupakan faktor dominan yang menyebabkan perubahan iklim saat ini.
3. Jumlah air yang semakin banyak, namun penyebarannya tidak merata. Terjadi peningkatan presipitasi di beberapa tempat, sementara di tempat lain terjadi penurunan yang menyebabkan kekeringan yang lebih kuat dan lama.
4. Sea level rise. Pada abad ke-20, kenaikan dilaporkan sebesar 0.17 m.
SOLUSI YANG DITAWARKAN & TINJAUAN LEBIH JAUH
Tanpa tanggapan dari pemerintah setempat, jumlah enam emisi GRK utama akan tetap meningkat. Namun dengan penerapan kebijakan ketat mengenai perubahan iklim, tren emisi GRK dapat diperlambat dan diturunkan sehingga pada akhirnya tingkat kandungan GRK di atmosfer dapat distabilkan. Tindakan ini, dalam konteks perubahan iklim, disebut sebagai mitigasi, yang bertujuan untuk mengintervensi kegiatan manusia dalam mengurangi sumber atau penambah GRK. Efek dari penerapan proses mitigasi ini akan dirasakan lebih dari dua hingga tiga dekade mendatang.
Juli 2015 tercatat sebagai waktu dimana suhu bumi paling panas dalam sejarah modern manusia. Saat ini suhu bumi sudah mencapai sekitar 0,85⁰C. Para ahli mengatakan bahwa jika suhu bumi melebihi batas 2⁰C maka perubahan iklim akan sulit dibendung dan menimbulkan bencana skala besar.
Dalam konteks perubahan iklim, tidak ada satu solusi tunggal yang mampu mengatasinya, sehingga diperlukan koordinasi dari semua sektor pembangunan. Untuk mencapai tujuan tersebut, Negara-negara peserta Intergovernmental Panel on Climate Change perlu berkomitmen untuk mengurangi bahkan menghentikan emisi CO2 secepat mungkin. Panas matahari yang terperangkap dalam gas rumah kaca di atmosfer bumi menyebabkan bumi terus memanas. Satu-satunya cara untuk memelihara suhu bumi di bawah 2⁰C adalah dengan memangkas emisi karbon dioksida setidaknya 70% pada tahun 2050. Untuk itu kesepakatan Paris pada tahun 2015 dalam konferensi COP XXI dimaksudkan untuk menghentikan suhu pemanasan bumi agar tidak melebihi 2⁰C.
Setiap negara dapat melakukan mitigasi dengan mengelola sektor transportasi, energi, pertanian, kehutanan dan perumahan, sehingga mereka bisa mengurangi emisi karbon dioksida.
Para ahli mengatakan seberapa pun besarnya dunia mengurangi emisi karbon, perubahan iklim akan berlanjut yang berarti dunia harus siap sedia. Bagian kedua dari INDC setiap negara adalah adaptasi (bagaimana menghadapi dampak perubahan iklim). Melalui INDC setiap negara berjanji membuat program untuk memastikan semua sektor yang rentan terkena dampak perubahan iklim lebih siap dan tahan.
REFERENSI
Putri, F. A. (2012). Strategi Adaptasi Perubahan Iklim Terhadap Sektor Pertanian Tembakau. Tugas Akhir, Universitas Sebelas Maret.
Dupe, Z. L. (2015). Materi Kuliah Perubahan Iklim. Program Studi Meteorologi ITB. Bandung. Murniningtyas, E. (2011). Presentasi Kebijakan Nasional Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim. Jakarta.